Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP IV: KELUARGA


DENGAN ANAK USIA SEKOLAH

Disusun Sebagai Acuan Untuk Melaksanakan Asuhan Keperawatan Keluarga


Dosen pembimbing: Thomas Aquino Erjinyuare Amigo, S. Kep., Ns. M. Kep.,
Sp. Kep. Kom

Disusun oleh :

NI KETUT NIK SANTI


19160099

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2020
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan yang berjudul “Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Tahap


IV: Keluarga Dengan Anak Usia Sekolah” Pada keluarga Tn.G

Disusun Oleh :
Nama : Ni Ketut Nik Santi
NIM : 19160099

Telah disetujui dan disahkan pada tanggal .................................

Pemimbing Stase Gerontik


Thomas Aquino Erjinyuare A, M. Kep, Ns. Sp. Kep. Kom (...............................)
NIK. 450309008

Mengetahui,
Ketua Program Studi Profesi Ners

Deden Iwan Setiawan, S. Kep, Ns, M. Kep


NIK. 450309004
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Makalah Asuhan Keperawatan Keluarga Tahap 4
Pada Keluarga Tn. G”. Penulis menyadari bahwa dengan bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah
mendukung proses penulisan makalah ini sehingga membawa hasil yang
diharapkan. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Bapak Ns. Thomas Aquino Erjinyuare Amigo, S.Kep., M.Kep.,
Sp.Kep.Kom sebagai dosen pengampu “Makalah Asuhan Keperawatan
Keluarga Tahap 4 Pada Keluarga Tn. S” yang telah memberikan masukan
serta bimbingan dalam proses pembuatan makalah ini,
2. Bapak Muflih, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Kom selaku dosen koordinator
dalam stase keperawatan keluarga yang telah memberikan arahan dan
masukan serta bimbingan dalam proses stase keperawatan keluarga
3. Kepada keluarga Tn.S yang bersedia untuk menjadi responden dalam
pemberian asuhan keperawatan keluarga
4. Dan seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu
kritik dan saran dari pembaca sangat dibutuhkan. Namun penulis tetap berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, 17 Juni 2020

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .......................................................................................i


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................1
A. Latar Belakang ........................................................................................
B. Tujuan .......................................................................................................
1. Tujuan Umum ..................................................................................
2. Tujuan Khusus .................................................................................
C. Rumusan Masalah Keperawatan ...........................................................
BAB II TINJAUAN TEORI ..............................................................................
A. Konsep Keluarga ...................................................................................
B. Tahap Tumbuh Kembang Keluarga Tahap 4 ....................................
C. Tugas Perkembangan Keluarga Tahap 4 ...........................................
D. Permasalah Kesehatan tahap 4 & tugas perkembangan keluarga ...
E. Asuhan Keperawatan Keluarga Teoritis ............................................
BAB IV TINJAUAN KASUS ............................................................................
A. Pengkajian ...............................................................................................
B. Diagnosa Keperawatan Keluarga..........................................................
C. Prioritas Diagnosa...................................................................................
D. Rencana Keperawatan ...........................................................................
E. Implementasi ...........................................................................................
F. Evaluasi ...................................................................................................
BAB V PEMBAHASAN......................................................................................
A. Gambaran teknis pemberian intervensi kepada keluarga .................
B. Perubahan/perbedaan data subjektif dan sobjektif atau kondisi
keluarga antara sebelum dan setelah diberikan asuhan keperawatan
C. Dasar teori yang digunakan dalam menentukan intervensi asuhan
keperawatan ............................................................................................
D. Bukti ilmiah lain yang mendukung keputusan penggunaan intervensi
E. Hambatan dan kelemahan aplikasi intervnsi berdasarkan kondisi dan
situasi yang dihadapi ..............................................................................
BAB VI PENUTUP..............................................................................................
A. Kesimpulan ...........................................................................................
B. Saran ......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
LAMPIRAN ........................................................................................................

A. NIC dan NOC teori yang dicantumkan di bab 2


B. SOP NIC yang digunakan
C. Lembar ukur indikator NOC
D. Bukti Dokumentasi
E. Resume askep dalam bentuk draf artikel ilmia
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menurut hasil estimasi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 sebesar
273,523,615 jiwa. Dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 137,717,861 jiwa dan
jumlah penduduk perempuan 135,805,760 jiwa (Worldometer, 2020). Dimana dari data
tersebut sudah mencakup jumlah kepala keluarga di Indonesia pada tahun 2020. Keluarga
sendiri merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan
anggota keluarga [ CITATION Fri10 \l 1057 ]. Di Bali sendiri ada sekitar 4380.80 jiwa
penduduk (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2020). Adapun jumlah kepala keluarga di
Bali
Yogyakarta Semester I pada tahun 2017 ada sekitar 1.203.840 kepala keluarga dengan
jumlah kepala keluarga tiap Kabupaten adalah sebagai berikut Kulon Progo (149.172
kepala keluarga), Bantul (317.813 kepala keluarga), Gunung Kidul (243.512 kepala
keluarga), Sleman (359.844 kepala keluarga), dan Kota Yogyakarta (133.499 kepala
keluarga). Sedangkan menurut jenis kelamin, jumlah kepala keluarga pada semester I
tahun 2017 di Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut: jumlah kepala keluarga laki-laki
(291.230 kepala keluarga) dan jumlah kepala keluarga perempuan (68.614 kepala
keluarga) [ CITATION Kep17 \l 1057 ].

Jumlah kepala keluarga tersebut terdiri atas beberapa kepala keluarga yang sedang
dalam tahap tumbuh kembang keluarga yang berbeda-beda. Dimana setiap keluarga tidak
dapat lepas dari masalah-masalah terkait tahap tumbuh kembang keluarga. Masalah-
masalah yang berkaitan dengan tahap tumbuh kembang keluarga salah satu contohnya
adalah masalah kesehatan. Adapun tugas tumbuh kembang keluarga tahap 4 (usia anak
sekolah) adalah sebagai berikut: menyosialisasikan anak - anak, termasuk meningkatkan
prestasi sekolah dan membantu hubungan anak-anak yang sehat dengan teman sebaya,
mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan dan memenuhi kebutuhan
kesehatan fisik anggota keluarga [ CITATION Fri10 \l 1057 ].
Untuk itu, penting bagi perawat terutama perawat keluarga dan komunitas untuk
mengetahui dan memahami terkait asuhan keperawatan pada keluarga dengan tahap
tumbuh kembang sesuai dengan tahap tumbuh kembang keluarga yang tengah dikelola
agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik dan benar.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum: mengetahui dan memahami konsep dasar serta asuhan
keperawatan pada keluarga tahap tumbuh kembang 4 (anak usia sekolah)
2. Tujuan khusus:
a. Mengetahui pengkajian keperawatan keluarga sesuai tahap tumbuh
kembang keluarga,
b. Mengetahui diagnosa keperawatan keluarga sesuai tahap tumbuh kembang
keluarga,
c. Mengetahui intervensi keperawatan keluarga sesuai tahap tumbuh
kembang keluarga,
d. Mengetahui evaluasi keperawatan keluarga sesuai tahap tumbuh kembang
keluarga.

C. RUMUSAN MASALAH KEPERAWATAN


BAB 2
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP KELUARGA
Menurut Bozzet (1987) dalam Friedman (2010), siapa yang disebut keluarga oleh
pasien itulah yang disebut keluarga.
U.S. Bureau of The Census mendefinisikan keluarga yang berorientasi tradisional
yaitu keluarga terdiri atas individu yang bergabung bersama oleh ikatan pernikahan,
darah, atau adopsi dan tinggal dalam suatu rumah tangga yang sama [ CITATION Fri10 \l
1057 ].
Menurut Hanson (2005) dalam Kaakinen, Gedaly-Duff, Coehlo & Hanson (2010),
keluarga mengacu pada dua orang individu atau lebih yang bergantung satu sama lain
baik dari segi emosi, fisik dan dukungan ekonomi dan semua orang dalam keluarga itu
merupakan anggota keluarga itu sendiri.
Keluarga menurut ilmu sosiologi adalah sebuah grup yang terdiri dari dua atau lebih
yang terikat oleh hubungan darah, pernikahan atau adopsi yang tinggal bersama
[ CITATION Bed10 \l 1057 ].
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang yang terdiri dari
dua orang atau lebih yang terikat oleh hubungan darah, pernikahan, adopsi atau dianggap
keluarga dan saling bergantung satu sama lain baik dari segi emosi, fisik dan dukungan
ekonomi yang tinggal di rumah yang sama atau di tempat yang berbeda.
Adapun tipe keluarga menurut bentuknya [ CITATION Fri10 \l 1057 ] adalah sebagai berikut:
1. Keluarga inti (nucler family): keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan
anak. Adapun jenis keluarga inti dibagi atas 2 jenis yaiut dual-earner family (kedua
pasangan bekerja) dan keluarga tanpa anak,
2. Keluarga adopsi: satu atau lebih anggota keluarga merupakan hasil
pengangkatan/adopsi dan telah disahkan secara hukum,
3. Keluarga asuh: dimana seorang anak akan diasuh oleh keluarga lain dikarenakan
orang tua dianggap tidak mampu atau tidak layak untuk mengasuh anak tersebut,
4. Extended family: dalam satu rumah ditinggali oleh keluarga inti dan orang lain
namun masih terikat hubungan darah, pernikahan atau kekeluargaan,
5. Keluarga orang tua tunggal: keluarga yang hanya terdiri atas satu orang tua bisa ayah
bisa ibu,
6. Keluarga orang tua tiri: merupakan bentuk keluarga yang salah satu atau lebih
anggotanya tidak berhubungan darah tapi hanya pernikahan,
7. Keluarga binuklir: keluarga yang terbentuk setelah perceraian,
8. Cohabiting family: keluarga yang terdiri dari sepasang laki-laki dan perempuan yang
memutuskan untuk tinggal bersama namun tidak terikat oleh hubungan darah
maupun pernikahan,
9. Keluarga homoseksual: keluarga yang terdiri atas dua atau lebih pasangan sesama
jenis yang memutuskan tinggal bersama dan memiliki ikatan satu sama lain lebih dari
sekedar teman tinggal.

B. TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA TAHAP 4 (USIA ANAK SEKOLAH)


1. Pengertian
Keluarga dengan anak sekolah yaitu suatu keluarga yang anak tertuanya telah
memasuki masuk sekolah mulai dari anak tertua memasuki usia 5 tahun sampai anak
tersebut mencapai usia pubertas yaitu 13 tahun [ CITATION Fri10 \l 1057 ].
2. Tugas Perkembangan
Adapun tugas perkembangan keluarga pada tahap 4 (usia anak sekolah) [ CITATION
Fri10 \l 1057 ] adalah sebagai berikut:
a. Menyosialisasikan anak-anak
Pada tahap ini orang tua harus mampu dan memberikan kesempatan pada anak
untuk bergaul dan bersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di luar
sekolah.
b. Meningkatkan prestasi sekolah
Orang tua mampu membimbing anak dalam meningkatkan prestasi,membimbing
anak dalam belajar dan membiarkan anak untuk mempelajari apa yang ingin dia
ketahui, mengenalkan anak dengan hal-hal yang baru yang mendidik.
c. Menjaga hubungan pernikahan
Pada tahap ini kedua orang tua mampu menjaga keharmonisan keluarganya dan
bersama-sama merawat anak-anaknya, menjaga komunikasi yang baik antara
orang tua dan anak agar anak lebih percaya dan dekat dengan orang tuanya.
d. Meningkatkan komunikasi terbuka
Pada tahap ini meningkatkan komunikasi terbuka sangatlah penting, orang tua
harus mampu berkomunikasi dengan anak agar anak mau terbuka dengan kedua
orang tuanya, dan anak merasa nyaman dengan orang tuanya.
C. PERMASALAH KESEHATAN TAHAP 4 (USIA ANAK SEKOLAH)
Sama halnya dengan tahap perkembangan keluarga yang lain, pada tahap
perkembangan keluarga tahap 4 (usia anak sekolah) juga rawat muncul masalah terutama
masalah kesehatan [ CITATION Fri10 \l 1057 ]. Adapun masalah yang dapat muncul pada
tahap perkembangan keluarga tahap 4 (usia anak sekolah) adalah sebagai berikut:
1. Kesehatan gigi
Pada anak sekolah rentan mengalami masalah kesehatan gigi sehingga orang
tua dan guru perlu melakukan pengawasan dan pemeriksaan gigi pada anak dengan
bantuan tenaga medis (contoh: penyuluhan bisa dilakukan dengan menggosok gigi
bersama–sama di sekolah dan pentingnya menggosok gigi pada malam hari) untuk
melakukan penyuluhan di sekolah–sekolah agar anak dapat mengetahui jika
kesehatan gigi sangat penting dan terhindar dari gigi berlubang dan masalah
kesehatan gigi lain. Ketika tenaga kesehatan sudah memberikan penyuluhan tentang
pentingnya kesehatan gigi pada anak, guru juga harus menyampaikan kepada orang
tua untuk mengawasi anak agar rajin merawat giginya.
2. Penganiayaan dan pengabaian anak
Pada beberapa anak dengan keluarga yang tidak sempurna rentan terjadi
penganiayaan dan pengabaian terhadap anak baik yang berlangsung sementara
maupun tetap.
3. Penyakit kronik
Pada tahap ini jika anak memiliki penyakit kronik peran orang tua dan guru di
sekolah sangat penting untuk memperhatikan anak dengan penyakit kronik, jika
penyakit anak kambuh guru bisa menghubungi tenaga medis dan orang tua untuk di
bawa ke pelayanan kesehatan.
4. Masalah perilaku
Seperti penggunaan peran orang tua dan guru sangat penting pada masalah ini
karna anak ingin tahu dan ingin mencoba hal – hal yang belum pernah di lakukan,
peran sebagai guru di sekolah sangat penting untuk memberikan nasehat dan
pendidikan moral serta peran orang tua tetap menjaga dan mengawasi pergaulan
anak–anak agar terhindar dari obat–obatan, minum–minuman alkohol dan mulai
menggunakan rokok sebagai alat bergaul.
5. Praktik kesehatan yang baik (misal: tidur, nutrisi, olahraga)
Dalam hal ini orang tua sangat berperan dalam mengawasi anak – anak pada
tahap ini anak – anak biasanya susah untuk makan dan untuk tidur siang. Di sini
peran orang tua untuk memodifikasi makanan agar terlihat menarik dan anak –anak
menyukai tidak lupa untuk memberikan nutrisi yang anak sukai dan bergizi
seimbang. Pola tidur juga harus di jaga karna pada usia sekolah anak cenderung lebih
suka bermain dari pada tidur siang.

D. TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA


1. Tugas Keluarga
Setiap keluarga yang terbentuk akan memiliki tugas tumbuh kembang
keluarga masing-masing sesuai dengan tahap perkembangan yang tengah dijalani
oleh keluarga tersebut.
a. Tugas perkembangan Keluarga Pasangan baru
1) Membentuk pernikahan yang memuaskan bagi satu sama lain
2) Secara harmonis berhubungan sanak saudara
3) Perencanaan keluarga (keputusan tentang menjadi orang tua)
b. Tugas perkembangan keluarga Childbearing Family
1) Membentuk keluarga muda sebagai suatu unit yang stabil (menggabungkan
bayi baru dalam keluarga)
2) Memperbaiki hubungan setelah terjadinya konflik mengenai tugas
perkembangan dan kebutuhan berbagai anggota keluarga
3) Mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan
4) Memperluas hubungan dengan keluarga besar dengan menambah peran
menjadi orang tua dan menjadi kakek/ nenek
c. Tugas perkembangan keluarga dengan anak prasekolah
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga akan rumah, ruang, privasi dan
keamanan yang memadai
2) Mensosialisasikan anak
3) Mengintegrasikan anak kecil sebagai anggota keluarga baru sementara tetap
memenuhi kebutuhan anak lain
4) Mempertahankan hubungan yang sehat di dalam keluarga (hubungan
pernikahan dan hubungan orang tua - anak) dan di luar keluarga (hubungan
dengan keluarga besar dan komunitas)

d. Tugas perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah


1) Menyosialisasikan anak - anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan
membantu hubungan anak-anak yang sehat dengan teman sebaya
2) Mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan
3) Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga
e. Tugas perkembangan keluarga anak remaja
1) Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab pada saat anak remaja
telah dewasa dan semakin otonomi
2) Memfokuskan kembali hubungan pernikahan
3) Berkomunikasi secara terbuka antar orang tua dan anak
f. Tugas perkembangan keluarga melepaskan anak dewasa muda
1) Memperluas lingkaran keluarga terhadap anak dewasa muda, termasuk
memasukan anggota keluarga baru
2) Melanjutkan untuk memperbarui dan menyesuaikan kembali hubungan
pernikahan
3) Membantu orang tua suami dan istri yang sudah menua dan sakit
g. Tugas perkembangan keluarga orang tua paruh baya
1) Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan
2) Mempertahankan kepuasan dan hubungan yang bermakna antara orang tua
yang telah menua dan anak mereka
3) Memperkuat hubungan pernikahan
h. Tugas perkembangan keluarga lansia dan pensiunan
1) Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan
2) Menyesuaikan terhadap penghasilan yang berkurang
3) Mempertahankan hubungan pernikahan
4) Menyesuaikan terhadap kehilangan pasangan
5) Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi
6) Melanjutkan untuk merasionalisasikan kehilangan keberadaan anggota
keluarga (peninjauan dan integrasi kehidupan)
[ CITATION Fri10 \l 1057 ]

2. Fungsi Keluarga
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang
merupakan basis kekuatan keluarga. Dimana fungsi ini berguna untuk
pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif
tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap
anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat
dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga.
Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh
anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang
perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif [ CITATION
Fri10 \l 1057 ]:
1) Saling mengasuh: cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling
mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan
dukungan dari anggota yang lain. Maka kemampuannya untuk memberikan
kasih sayang akan meningkat, yang pada akhirnya tercipta hubungan yang
hangat dan saling mendukung. Hubungan intim di dalam keluarga
merupakan modal dasar dalam memberikan hubungan dengan orang lain di
luar keluarga/ masyarakat [ CITATION Fri10 \l 1057 ].
2) Saling menghargai: Bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui
keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan
iklim yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai.
3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat
memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui
proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota
keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang positif
sehingga anak-anak dapat meniru tingkah laku yang positif dari kedua orang
tuanya.
b. Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu,
yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan
sosial. Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat
individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan
menatap ayah, ibu, dan orang-orang yang ada di sekitarnya Kemudian beranjak
balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun
demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan
perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan
antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktik asuhan
kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau
merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan
asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan
keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas
kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas
kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan
i. Fungsi Reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya
manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk
memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga
adalah untuk meneruskan keturunan.
j. Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian,
dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan
yang tidak seimbang antara suami dan istri, hal ini menjadikan permasalahan
yang berujung pada perceraian.
[ CITATION Fri10 \l 1057 ]

E. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Menurut Friedman, Bowden & Jones (2010) proses pengkajian keluarga
ditandai dengan pengumpulan informasi terus menerus dan keputusan profesional
yang mengandung arti terhadap informasi yang dikumpulkan. Dengan kata lain, data
dikumpulkan secara sistematik menggunakan alat pengkajian keluarga, kemudian
diklasifikasikan dan dianalisis untuk menginterpretasikan artinya. Sumber data
pengkajian keluarga didapatkan melalui wawancara klien dengan peristiwa yang lalu
dan saat ini, temuan objektif, penilaian subjektif, informasi tertulis dan lisan dari
rujukan, berbagai agensi yang bekerja dengan keluarga dan anggota tim kesehatan
yang lain.
Untuk mendapatkan data yang lengkap dan mendalam perlu adanya hubungan
saling percaya antara keluarga dengan perawat. Selain membina hubungan saling
percaya, saling menghargai, terbuka, percaya diri, dan komunikasi yang jujur karena
hubungan saling percaya saja belum cukup untuk dapat melakukan intervensi sampai
evaluasi. Adapun pengkajian keluarga menurut Friedman, Bowden & Jones (2010):
a. Mengidentifikasi data
Data-data dasar yang menggambarkan keluarga dalam hal-hal dasar
dicantumkan dalam bagian ini yaitu nama keluarga, alamat dan telepon,
komposisi keluarga (genogram), tipe bentuk keluarga, latar belakang
kebudayaan, identifikasi religius, status kelas sosial, dan mobilitas kelas sosial
[ CITATION Fri10 \l 1057 ]. Data ini bisa diperoleh dari hasil wawancara dengan
anggota keluarga, informasi tertulis dari kartu keluarga dan temuan objektif saat
wawancara.
b. Tahap perkembangan dan riwayat keluarga
Tahap perkembangan saat ini berada pada tahap perkembangan 4 dimana anak
dengan usia sekolah, tugas penting orang tua adalah mempertahankan hubungan
memuaskan guna meningkatkan komunikasi dan bagaimana orang tua dalam
mensosialisasi untuk meningkatkan prestasi belajar. Seperti bagaimana riwayat
kesehatan keluarga bagaimana keterkaitan keluarga asal kelahiran anggota
keluarga [ CITATION Fri10 \l 1057 ]. Selain itu, pada bagian ini sangat perlu dikaji
mengenai kegagalan tumbuh kembang keluarga ataupun tumbuh kembang yang
belum dapat dicapai oleh keluarga.
Kegagalan perkembangan tahap 4 yang biasa terjadi seperti keluarga tidak
mampu memenuhi kebutuhan keluarga seperti tempat tinggal, privasi dan rasa
aman, tidak mampu memenuhi kebutuhan anak dalam bersosialisasi, tidak
mampu memenuhi kebutuhan keluarga dalam bersosialisasi, keluarga tidak
mampu membagi waktu antara individu, pasangan maupun anak, keluarga tidak
mampu mengestimasi waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak, keluarga
tidak mampu membagi tanggung jawab keluarga dan biasanya sepenuhnya
tanggung jawab dipegang penuh kepada orang tua dan anak tertua.
c. Data lingkungan
Data lingkungan keluarga meliputi seluruh alam kehidupan keluarga mulai
dari pertimbangan area yang terkecil sepeti aspek dalam rumah hingga
komunitas yang lebih besar tempat keluarga tinggal. Karakteristik, tipe, jenis,
kondisi, kebersihan dan kesehatan rumah yang ditinggali serta ruangan-ruangan
yang ada di rumah tersebut. Kondisi lingkungan luar rumah juga memiliki andil
besar bagi keluarga karena kebersihan, keamanan dan kesehatan lingkungan
dapat mempengaruhi kondisi keluarga. Selain kondisi lingkungan tempat tinggal.
Apakah mendukung dengan tahap perkembangan keluarga tahap 4 dimana anak
usia sekolah yang banyak belajar untuk bersosialisasi. Dimana orang tua
berperan penting dalam pengajaran sosialisasi kepada anaknya terhadap
lingkungan sekolah maupun tempat tinggal, apabila orang tua gagal dalam
pengajaran sosialisasi maka tahap perkembangan anak akan mengalami
kegagalan dan tidak mampu bersosialisasi dengan mudah dengan masyarakat
ataupun teman sebayanya.
Perlu juga dikaji mengenai bagaimana lokasi tempat tinggal keluarga, tipe
hunian, fasilitas umum apa saja yang dapat diakses dan riwayat mobilitas
geografis keluarga [ CITATION Fri10 \l 1057 ].
d. Struktur keluarga
Dalam komunikasi keluarga pemberian umpan dan respons berjalan dengan
baik tidak ada yang menjadi penghalang dalam cara dan sistem komunikasi.
Emosi yang terdapat dalam pola komunikasi tersampaikan dengan tepat. Faktor
ekonomi, agama, kebudayaan yang beragam tidak mempengaruhi pola
komunikasi yang terdapat dalam keluarga. Peran dalam keluarga, ayah sebagai
kepala keluarga, ibu sebagai ibu keluarga dan anak. Nilai yang dianut keluarga
tidak dapat membebani atau mengubah dari struktur keluarga, begitupun dengan
budaya, kelas sosial, agama dan letak geografis tempat tinggal asal slah satu
anggota keluarga. Dalam perkembangan keluarga tahap 4 struktur keluarga
paling tinggi adalah orang tua dengan pengambil keputusan adalah kepala
keluarga ayah atau ibu sedangkan anak usia sekolah biasanya masih menuruti
keputusan yang diambil kepala keluarga. [ CITATION Fri10 \l 1057 ]. Pada tahap ini,
kedua orang tua bertindak sebagai pengambil keputusan sepenuhnya semua
persoalan yang dihadapi oleh anak. Namun, pada akhir masa tahap usia sekolah
orang tua akan sedikit demi sedikit membebani anak dengan tanggung jawab
mengambil keputusan ringan seperti setelah lulus SMP mau SMA dimana.
e. Fungsi keluarga
Pengkajian fungsi keluarga terdiri atas beberapa komponen yang seperti fungsi
afektif, fungsi sosialisasi keluarga maupun fungsi perawatan kesehatan keluarga.
Dimana fungsi-fungsi tadi berorientasi pada fungsi keluarga secara umum dan
tahap perkembangan keluarga pada tahap yang tengah dijalani oleh keluarga.
Dalam tahap perkembangan keluarga tahap 4 fungsi keluarga di pegang penuh
oleh orang tua. [ CITATION Fri10 \l 1057 ]. Pada tahap ini, secara perlahan kedua
orang tua akan mengajarkan fungsi sosialisasi dan fungsi afektif kepada anak.
Hal ini dilakukan sebagai bekal untuk anak menghadapi masa peralihan nanti.
f. Stres dan strategi koping keluarga
Pengkajian ini bertujuan untuk mengkaji apa saja faktor stresor di keluarga
baik dari individu maupun dari sudut pandang keluarga. Dalam hal ini, persepsi
anggota keluarga memiliki andil yang sangat penting karena antar individu bisa
saja memiliki persepsi yang berbeda terkait masalah yang tengah mereka hadapi.
Sedangkan koping keluarga akan menunjukkan bagaimana respons keluarga
untuk memecahkan masalah yang terjadi di dalam keluarga, apakah keluarga
akan menunjukkan koping adaptif atau justru respons maladaptif. Dalam anak
usia sekolah biasanya permasalahan yang dihadapi keluarga adalah pendidikan
anak dan bagaimana orang tua dalam menghadapi permasalahan tersebut serta
bagaimana anak dalam menanggapi masalahnya sendiri. [ CITATION Fri10 \l
1057 ].
Pada tahap ini, anak sudah mulai berpikir lebih kompleks daripada tahap
sebelumnya. Akibatnya kadang hanya karena masalah seperti orang tua tidak
memperbolehkan anak untuk bermain bersama temannya dengan alasan yang
menurut anak tidak logis dampaknya anak bisa saja merespons hal itu dengan
respons maladaptif. Atau bisa saja karena salah satu anggota keluarga lebih
diperhatikan maka anak tersebut merasa tidak diinginkan atau kurang kasih
sayang. Sehingga pada tahap ini apabila dalam sebuah keluarga memiliki anak
lebih dari satu maka kedua orang tua harus mampu membagi perhatian dan kasih
sayang yang adil pada semua anak mereka.
Selain keenam pengkajian tersebut masih ada juga tahap pengkajian keluarga lain
namun pada tahap-tahap tersebut lebih berfokus pada individu dalam keluarga salah
satunya adalah pengkajian fisik pada tiap individu di keluarga [ CITATION Fri10 \l
1057 ].

2. Diagnosa Keperawatan Keluarga


a. Ketidakmampuan menjadi orang tua
b. Gangguan proses keluarga
c. Ketidakefektifan manajemen kesehatan keluarga
d. Risiko gangguan perlekatan
e. Ketidakefektifan hubungan
[ CITATION Her151 \l 1057 ]
3. Rencana Tndakan
Diagnosis keperawatan NOC NIC
Data
Kode Diagnosa Kode Hasil Kode Intervensi
Data pendukung masalah kesehatan keluarga
 Keterlambatan dalam 00223 Ketidakefektifan Keluarga mampu Keluarga mampu mengenal
memenuhi tujuan hubungan mengenal masalah: masalah:
perkembangan yang tepat 0108 a. Perkembangan 5240 a. Konseling
untuk tahap siklus hidup anak: Usia anak 5230 b. Peningkatan koping
keluarga pertengahan
 Ketidakpuasan dengan 2208 b. Stressor bagi
berbagi ide di antara Care-Giver
pasangan 1212 c. Tingkat stress.
 Ketidakpuasan dengan 1300 d. Penerimaan:
berbagai informasi di Status kesehatan
antara pasangan Keluarga mampu Keluarga mampu mengambil
 Ketidakpuasan dengan mengambil keputusan:
hubungan komplementer keputusan: 5240 a. Konseling
di antara pasangan 2204 a. Hubungan
 Ketidakpuasan dengan Caregiver-Pasien
pemenuhan kebutuhan 1501 b. Penampilan
fisik di antara pasangan peran
 Ketidakpuasan dengan 2202 c. Kesiapan care
pemenuhan kebutuhan giver untuk
emosi di antara pasangan melakukan
 Ketidakseimbangan perawatan di
rumah
 Akselerasi gejala penyakit 0080 Ketidakefektifan Keluarga mampu Keluarga mampu mengenal
seseorang anggota Manajemen mengenal masalah : masalah :
keluarga Kesehatan 1602 a. Pengetahuan : 5606 a. Pengajaran : Individu
 Kegagalan melakukan Keluarga Proses Penyakit 5604 b. Pengajaran : Kelompok
tindakan mengurangi 1808 b. Pengetahuan : 5510 c. Pengajaran : Proses Penyakit
faktor resiko Pengobatan 5616 d. Pengajaran : Peresepan obat-
 Kesulitan dengan regimen 1814 c. Pengetahuan : obatan
yang ditetapkan Prosedur 5250 e. Keluarga mampu
 Ketidaktepatan aktivitas Penanganan memutuskan
keluarga untuk memenuhi 1803 d. Pengetahuan : 5310 f. Dukungan pengambilan
tujuan kesehatan Manajemen keputusan
 Kurang perhatian kepada stroke 5270 g. Inspirasi harapan
penyakit 1804 e. Pengetahuan : 5543 h. Dukungan emosional
Pencegahan
stroke
1606 f. Keluarga mampu
memutuskan :
Partisipan dalam
keputusan
perawatan
kesehatan

Keluarga mampu Keluarga mampu merawat :


merawat : 5616 a. Pengajaran : Peresepan obat-
1623 a. Perilaku patuh : obatan
Pengobatan yang 2304 b. Pemberian obat : Oral
disarankan 0180 c. Manajemen energi
1502 b. Keterampilan 1850 d. Peningkatan tidur
interaksi sosial 7110 e. Peningkatan keterlibatan
c. Pengaturan keluarga
psikososial :
1305 Perubahan hidup
Keluarga mampu Keluarga mampu memodifikasi
memodifikasi lingkungannya :
lingkungan : 4920 a. Mendengar aktif
0902 a. Komunikasi 5020 b. Mediasi konflik
0906 b. Pembuatan
keputusan
0907 c. Memproses
informasi
 Gagal melakukan 00188 Perilaku Keluarga mampu Keluarga mampu mengenal
tindakan mencegah kesehatan mengenal masalah: masalah:
masalah kesehatan cenderung 2013 a. Keseimbangan 5602 a. Pengajaran : proses penyakit
 Gagal mencapai beresiko gaya hidup 5240 b. Konseling
pengendalian optimal 0907 b. Memproses 5510 c. Pendidikan kesehatan
 Meminimalkan perubahan informasi
status kesehatan 1701 c. Kepercayaan
 Tidak menerima mengenai
perubahan kesehatan :
merasakan
maupun
melakukan
1703 d. Kepercayaan
mengenai
kesehatan
:sumber-sumber
yang di terima
e. Adaptasi anak
1301 terhadap
perawatan di
rumah sakit
Keluarga mampu Keluarga mampu mengambil
mengambil keputusan:
keputusan: 4480 a. Dukunggan pengambilan
1602 a. Perilaku promosi keputusan
kesehatan
1702 b. Kepercayaan
mengenai
kesehatan :
control yang di
terima
1602 c. Partisipasi dalam
keputusan
perawatan
kesehatan
Modifikasi
lingkungan:
3007 b. Kepuasan klien :
lingkungan fisik
1902 c. Kontrol resiko

Memanfaatkan Memanfaatkan fasilitas


fasilitas kesehatan: kesehatan:
1603 a. Perilaku 7400 a. Panduan sistem pelayanan
pencarian kesehatan
kesehatan
 Pernyataan menyalahkan 00060 Gangguan 2602 b. Keluarga mampu Keluarga mampu mengenal
anggota keluarga pada proses keluarga mengenal masalah :
munculnya masalah masalah : Fungsi 5520 Fasilitasi Pembelajaran
kesehatan dalam keluarga. Keluarga 5606 Pengajaran Individu
 Menghindari merawat 2640 c. Normalisai 5604 Pengajaran Kelompok
Keluarga
anggota keluarga. 2602 d. Partisipasi
 Ketidakmampuan untuk Keluarga Dalam
menerima bantuan. Perawatan
 Ketidakmampuan Profesional
beradaptasi dengan 1606 Keluarga mampu Keluarga mampu mengambil
perubahan. mengambil keputusan :
 Ketidakmampuan untuk keputusan: 5250 Dukung Pengambilan Keputusan
memenuhi keutuhan Partisipasi Dalam
emosi anggota keluarga. Keputusan
 Ketidakmampuan untuk Perawatan
memnuhi kebutuhan Kesehatan
keamanan anggota
keluarga. Keluarga mampu Keluarga mampu merawat :
 Perubahan dalam tugas merawat : 7140 a. Dukungan Keluarga
ketersediaan untuk 2602 Fungsi Keluarga 7150 b. Terapi Keluarga
dukungan emosi. 2604 Integritas Keluarga 5020 c. Mediasi Konflik
 Perubahan dalam pola Normalisasi 7130 d. Pemeliharaan Proses
komunikasi. Keluarga Keluarga
 Perubahan ketersediaan 4360 e. Modifikasi Perilaku
untuk menunjukkan 7100 f. Peningkatan Integritas
respon kasih sayang. Keluarga
 Mengurangi kontak fisik. 4350 g. Manajemen Perilaku
5400 h. Peningkatan Harga Diri
7110 i. Peningkatan Keterlibatan
Keluarga
7040 j. Dukungan Perawatan
7120 k. Mobilisasi Keluarga
7170 l. Fasilitasi Kehadiran
Keluarga
 Gangguan fungsi 00056 Ketidakmampua Keluarga mampu Keluarga mampu mengenal
social. n Menjadi mengenal masalah : masalah :
 Gangguan perilaku Orang Tua 0108 a. Perkembangan 5400 c. Peningkatan Harga Diri
(misalnya deficit Anak : Usia 8274 d. Peningkatan Perkembangan :
perhatian Anak Anak
penyimpngan oposisi. 2602 Pertengahan 7140 e. Dukungan Keluarga
 Kegagalan tumbuh b. Fungsi Keluarga 4350 f. Manajemen Prilaku
kembang.
 Keterlambatan 1502 Keluarga mampu Keluarga mampu mengambil
perkembangan mengambil keputusan :
kognitif. keputusan : 5440 a. Peningkatan Sistem
 Performa akademik Keterampilan 7140 Dukungan
rendah. Interaksi Sosial b. Dukungan Keluarga
 Riwayat
penganiayaan.
 Riwayat trauma.
 Asuhan tidak
konsisten.
 Bicara negative
tentang anak.
 Frustasi dengan anak.
 Menghukum.
 Kurang interksi antara
orang tua dan anak.
 Menolak anak.
 Lingkunganrumah
tidaj aman.
 Merasa tidak mampu
memnuhi kebutuhan
anak.
 Penelantaran.
 Pengabaian kebutuhan
anak.
 Penurunan
Keluarga mampu Keluarga mampu merawat :
merawat : 7110 a. Peningkatan Keterlibatan
2211 a. Kinerja Keluarga
2905 Pengasuhan 8274 b. Peningkatan
b. Kinerja Perkembangan Anak
Pengasuhan : 5566 c. Pendidikan Orang Tua :
Anak Usia Keluarga Yang
Pertengahan Membesarkan Anak
8300 d. Peningkatan Pengasuhan
7140 e. Dukungan Keluarga
7150 f. Terapi Keluarga
DAFTAR PUSTAKA

Bedworth, D. A., & Bedworth, A. E. (2010). The Dictionary of Health Education. New York:
Oxford University Perss.
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing
Interventions Classification (NIC) (Keenam ed.). (I. Nurjannah, & R. D. Tumanggor,
Penerj.) Indonesia: ELSEVIER.
Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga:
Riset, Teori dan Praktik (5 ed.). (A. Y. Hamid, A. Sutama, N. B. Subekti, D. Yulianti,
& N. Herdina, Penerj.) Jakarta: EGC.
Herdmaan, T. H., & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi
2015-2017 (Kesepuluh ed.). (B. A. Keliat, H. D. Windarwati, & M. A. Subu, Penerj.)
Jakarta: EGC.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcome
Classifications (NOC) (Kelima ed.). (I. Nurjannah, & R. D. Tumanggor, Penerj.)
Indonesia: ELSEVIER.