Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan oral berupa sediaan padat, kompak, dibuat
secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau
cembung, mengandung satu jenis atau lebih bahan obat atau dengan atau tanpa zat tambahan
(Departemen Kesehatan RI, 1979). Bentuk sediaan tablet mempunyai keuntungan yang meliputi
ketepatan dosis, praktis dalam penyajian, biaya produksi yang murah, mudah dikemas, tahan
dalam penyimpanan, mudah dibawa, serta bentuk yang memikat (Lachman, Lieberman, dan
Kanig, 1994). Sediaan tablet secara umum terdiri dari bahan aktif dan eksipien.
Tablet merupakan sediaan padat yang biasanya dibuat secara kempa cetak, berbentuk rata
dan atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis bahan obat atau lebih
dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai.
Tablet harus melepaskan zat berkhasiat ke dalam tubuh dalam jumlah yang tepat dan
menimbulkan efek yang diinginkan. Tablet hanya memberikan efek yang diinginkan jika
memiliki mutu yang baik. Untuk menghasilkan tablet dengan mutu yang baik dan memenuhi
persyaratan, pemilihan dan kombinasi bahan pembantu memegang peranan yang sangat penting
dalam proses pembuatannya.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui cara pembuatan tablet dengan baik sesuai prosedur.


2. Untuk mengetahui cara uji evaluasi tablet INH
3. Untuk mengetahui apakah tablet yang dibuat telah memenuhi persyaratan atau tidak.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Sediaan
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
(FI V, 2004).
Tablet adalah sediaan padat kompak yang dibuat secara kempa cetak dalam tabung pipih
atau serkuler, kedua permukaannya rata atau cembung mengandung satu jenis bahan obat atau
lebih dengan atau bahan tambahan.
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan
penambahan bahan tambahan yang sesuai, tablet dapat berbeda ukuran, bentuk, berat,
kekerasan, dan ketebalan, daya hancurnya dan aspek lain yang tergantung dengan pemakaian
tablet dan cara pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian secara oral.
Kebanyakan tablet dibuat dengan penambahan zat warna dan zat pemberi rasa. Tablet lain
yang penggunaanya dapat cara sublingual, bukal, atau melalui vagina.
Bentuk luar tablet sangat mempengaruhi keutuhan tablet saat transportasi dan
penyimpanan.Jenis tablet dan penggunaannya : Tablet peroral, tablet oral, meliputi tablet
hisap, sublingual dan buchal, tablet parenteral, meliputi tablet injeksi dan tablet
implantasi. Serta tablet untuk penggunaan luar meliputi tablet larut, mata, vaginal, dental
resorpsi kerja lokal dipermukaan tubuh dan lubang-lubang tubuh. (Voiqt,1984)

2.2 Persyaratan Tablet Menurut Farmakope Indonesia Edisi V (2014),


Tablet harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Keseragaman tablet : Tablet harus memenuhi uji keseragaman sediaan untuk
menjamin keseragaman sediaan tiap tablet yang dibuat. Tablet yang bobotnya seragam
diharapkan memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga mempunyai efek
terapi yang sama.
b) Kekerasan : Tablet harus memiliki kekuatan atau kekerasan agar dapat bertahan
terhadap berbagai guncangan pada saat pengepakan dan pengangkutan. Uji ini
dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Hardness Tester. Pengujian
dilakukan dengan meletakkan tablet diantara alat penekan punch dan dijepit dengan

2
memutar sekrup pengatur sampai tanda lampu menyala, lalu ditekan tombol sehingga
tablet pecah. Tekanan ditunjukkan pada skala yang tertera. Umumnya kekuatan tablet
berkisar 4 – 8 kg.
c) Kerenyahan : Uji ini dilakukan untuk mengetahui kerenyahan tablet. Tablet yang
rapuh akan mengurangi kandungan zat berkhasiatnya sehingga mempengaruhi efek
terapi. Kerenyahan ditandai dengan massa partikel yang berjatuhan dari tablet. Uji ini
dilakukan menggunakan alat yang disebut Roche Fribilator yang terdiri dari sebuah
tabung yang berputar ke arah radial disambungkan sebuah bilah lengkung. Tablet
dimasukkan ke dalam wadah tersebut, saat wadah berputar tablet akan bergulir jatuh
sampai pada putaran berikutnya dipegang kembali oleh bilah. Pemutaran dilakukan
100 kali dengan persyaratan tablet tidak boleh kehilangan berat lebih dari 0,8%.
d) Waktu hancur : Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian batas waktu hancur
yang tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa
tablet dirancang untuk pelepasan obat terkendali dan diperlambat. Uji waktu hancur
tidak menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Interval waktu
hancur yaitu 5 – 30 menit. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila tidak ada sisa
sediaan yang tidak larut tertinggal pada kasa.
e) Penetapan kadar zat berkhasiat : Penetapan kadar ini dilakukan untuk mengetahui
apakah tablet memenuhi persyaratan kadar sesuai dengan etiket. Bila kadar obat
tersebut tidak memenuhi persyaratan, berarti obat tersebut tidak memiliki efek terapi
yang baik dan tidak layak dikonsumsi. Penetapan kadar dilakukan dengan
menggunakan cara-cara yang sesuai tertera pada monografi antara lain di Farmakope
Indonesia.
f) Disolusi : Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat ke dalam
larutan suatu medium. Uji disolusi digunakan untuk mengetahui persyaratan disolusi
yang tertera dalam monografi pada sediaan tablet, kecuali pada etiket dinyatakan
bahwa tablet harus dikunyah atau tidak memerlukan uji disolusi. Uji ini juga bertujuan
untuk mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dan memberi efek terapi di dalam
tubuh. Pengujian dilakukan untuk menjamin keseragaman satu batch, menjamin bahwa
obat akan memberikan efek terapi yang diinginkan, dan diperlukan dalam rangka
pengembangan suatu obat baru. Obat yang telah memenuhi persyaratan keseragaman

3
sediaan, kekerasan, kerenyahan, waktu hancur dan penetapan kadar zat berkhasiat
belum dapat menjamin bahwa suatu obat memenuhi efek terapi, karena itu uji disolusi
harus dilakukan pada setiap produksi tablet (Ditjen POM, 1995).

2.3 Kriteria Tablet :


1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan
7. Bebas dari kerusakan fisik
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu
10. Tablet memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku.

2.4 Komponen Tablet


Dalam pembuatan tablet harus terdiri dari beberapa komponen agar dapat dihasilkan tablet
yang baik. Komponennya terdiri dari :
1. Zat Aktif (Isoniazid)
Kebanyakan zat aktif tidak dapat dikempa langsung menjadi tablet karena tidak punya
daya ikat yang cukup yang perlu untuk membuat suatu tablet, disamping itu tidak semua
zat aktif mempunyai sifat alir yang baik.
2. Zat Tambahan
Eksipien atau zat tambahan adalah zat inert yang tidak aktif secara farmakologi berfungsi
sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk membentuk tablet dan untuk
mempermudah teknik pembuatan tablet. Dalam pemilihan bahan tambahan untuk
pembuatan tablet harus diperhatikan sifat fisika dan sifat kimianya, begitu juga dengan
stabilitas dan zat tambahan yang digunakan.

4
Bahan tambahan tablet antara lain adalah :
a. Zat pengisi,
zat inert secara farmakologi yang dapat ditambahkan dalam sebuah formulasi tablet
untuk penyesuaian bobot dan ukuran tablet sesuai dengan yang ditetapkan, jika
jumlah bahan aktif kecil, juga untuk mempermudah pembuatan tablet walaupun
pengisi adalah zat yang inert secara farmakologi, zat tersebut masih dapat
mempengaruhi sifat fisika, kimia dan biofarmasi dari sedian tablet. Contoh, interaksi
basa atau garam - garam amin dengan laktosa dan alkali basa yang menyebabkan
terjadinya perubahan warna coklat sampai hitam. Laktosa tidak bercampur dengan
asam askorbat dan salisilamide. Penggunaan dari pengisi tergantung dari volume atau
berat tablet yang diingan. Bahan pengisi yang sering digunakan: laktosa USP, lactose
anhydrous, spray dried lactose. Amylim : maydis, oryzae, meranthae, solany,
mannitol, sukrosa dan lain- lain.
b. Bahan pengikat, adalah zat inert secara farmakologi yang ditambahkan kedalam
formulasi tablet untuk meningkatkan kohesifitas antara partikel-partikel serbuk dalam
masa tablet yang diperlukan untuk pembentukkan granul dan kemudian untuk
pembentukan massa menjadi kompak dan padat yang disebut tablet.
c. Bahan Penghancur
Zat inert secara farmakologi yang ditambahkan pada massa untuk membantu
mempercepat waktu hancur tablet dalam saluran cerna, zat disintegran dapat
ditambahkan sebagai fasa dalam yang disebut sebagai fasa dalam yang disebut
sebagai bahan internal dan sebagai fasa luar yang disebut bahan eksternal.
Mekanisme kerja dari bahan penghancur adalah :
 Jika kontak dengan air akan mengembang sehingga volume tablet membesar
dan akhirnya pecah,contoh : golongan selulosa.
 Memecah ikatan partikel tablet sehingga akan pecah.
 Membentuk kapiler,contoh : golongan amilum dan selulosa.
 Membentuk gas : asam sitrat dan bikarbonat.
 Membentuk lelehan, contoh : oleum cacao.

5
d. Bahan Pelicin (Lubricant)
Bahan pelicin (lubricant) dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan (matrys).
Biasanya digunakan talcum 5%, Magnesii Stearas, Acidum Stearicum. (Anief, M.,
2005)
e. Bahan Pelincir (Glidant)
Adalah bahan yang digunakan untuk memudahkan agar tablet dapat masuk ke mesin
tablet sewaktu proses pencetakan. Salah satu contoh bahan pelincir yaitu magnesium
stearat.

2.5 Metode pembuatan granul dan tablet


Tablet dibuat dengan 3 cara umum yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa
langsung. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran atau
kemampuan kempa. Dalam pembuatan tablet, zat berkhasiat, zat-zat lain, kecuali zat pelicin
dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan tablet dengan
baik, maka dibuat granul agar mudah mengalir (free flowing) mengisi cetakan serta menjaga
agar tablet tidak retak (capping) (Anief, M., 2005).
Cara pembuatan granul ada 2 macam :
1. Cara Basah
Zat berkhasiat, zat pengisi dan zat penghancur dicampur baik-baik, lalu dibasahi dengan
larutan  bahan pengikat, bila perlu ditambah bahan pewarna. Setelah itu diayak menjadi
granul dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 40⁰-50⁰. Setelah kering diayak
lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan
pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet.
2. Cara Kering
Dikerjakan sebagai berikut: Zat berkhasiat, zat pengisi, zat penghancur, bila perlu zat
pengikat dan zat pelicin dicampur dan dibuat dengan cara kempa cetak menjadi tablet
yang besar(sugging,setelah itu tablet yang terjadi dipecah menjadi granul lalu
diayak, akhirnya dikempa cetak menjadi tablet yang dikehendaki dengan mesin tablet.
(Anief,Moh.,IMO,1988)

6
Dengan metode pembuatan tablet yang manapun, tablet yang dihasilkan harus mempunyai
sifat-sifat yang baik, yaitu :
1. Cukup kuat dan resisten terhadap gesekan selama proses pembuatan, pengemasan,
transportasi dan sewaktu di tangan konsumen. Sifat ini diuji dengan uji kekerasan dan uji
friabilitas.
2. Zat aktif dalam tablet harus dapat tersedia dalam tubuh. Sifat ini dilihat dari uji waktu
hancur dan uji disolusi.
3. Tablet harus mempunyai keseragaman bobot dan keseragaman kandungan (untuk zat
aktif kurang dari 50 ml). Parameter ini diuji dengan variasi bobot dan uji keseragaman
kandungan.
4. Tablet berpenampilan baik dan mempunyai karakteristik warna, bentuk dan tanda lain
yang menunjukkan identitas produk.
5. Tablet harus menunjukkan stabilitas fisik dan kimia serta efikasi yang konsisiten
(Anonim, 2005)

2.6 Keuntungan Sediaan Tablet


Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan,  yaitu :
1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih
2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis
3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga
memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan;
4. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil.

2.7 Kerugian Sediaan Tablet


Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunyai beberapa kerugian, antara lain:
1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak sadar/pingsan)
2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
 Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat amorfnya,
flokulasi, atau rendahnya berat jenis

7
 Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup besar atau
tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat
tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa)
 Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi, atau zat aktif
yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan
enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik
daripada tablet.

2.8 Langkah Mendesain Tablet


Mengubah bahan menjadi suatu sediaan (transformasi) memerlukan pengetahuan,
teknologi, keterampilan dan sikap yang tidak mudah. Pengetahuan diperlukan untuk
mendukung dan mempermudah penerapannya melalui teknologi menggunakan keterampilan
yang tinggi dan dengan suatu sikap atau kesadaran mendalam tentang bagaimana pentingnya
barang farmasi digunakan dalam bidang kesehatan. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dapat merubah bahan menjadi bentuk sediaan farmasi adalah ilmu farmasetika dan teknologi
farmasi.
Satu hal yang penting diingat adalah bahwa desain sediaan harus dilakukan dengan
sistematis berdasarkan pertimbangan kriteria atau syarat sediaan, informasi mengenai bahan
yang ada, sarana/prasarana yang tersedia, dan pertimbangan ekonomi.
Tahap desain sediaan padat yang umum dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian kelayakan bisnis
Langkah ini pada dasarnya adalah untuk menganalisa apakah secara bisnis/ekonomi
pembuatan tablet ini dapat memberikan nilai ekonomis bagi produsennya. Berbagai cara
dilakukan untuk melaksanakan pengkajian kelayakan bisnis, termasuk kondisi pasar dan
pemasaran yang ada dan berhubungan dengan produk tablet sejenis.
2. Pengkajian praformulasi bahan aktif
Merupakan upaya untuk mengenal secara baik bahan yang akan dipakai, untuk
mempersiapkan formula, proses pembuatan dan sekaligus untuk memberikan arahan apa
yang harus dilakukan untuk menegakkan mutu dan pengawasannya.

8
3. Pengkajian user/organ target
Tahapan ini adalah tahapan untuk memastikan bahwa obat yang akan dirancang adalah
untuk pemakaian dengan kelompok umur berapa, untuk jenis kelamin apa, dan untuk
pemakaian di organ tubuh yang mana.
4. Pengkajian dasar sediaan, sediaan dasar, sediaan jadi
Tahapan ini diperlukan untuk mempertimbangkan selain bahan aktif, bahan
dasar/pengisi apa yang diperlukan untuk memperoleh sediaan yang baik, atau sediaan
serbuk seperti atau untuk karakteristik apa yang akan dibuat sehingga memudahkan
untuk mengempa menjadi tablet sebagai sediaan jadi. Dalam hal ini perlu
dipertimbangkan dan diperhatikan sifat granul yang baik untuk pembuatan tablet.
5. Praformulasi – formulasi – pascaformulasi
Tahapan ini adalah menghubungkan antara tahapan praformulasi diatas, dengan keadaan
dilapangan pada saat formulasi, misalnya apakah tersedia kapasitas mesin, ruangan, atau
alat uji mutu. Demikian juga apakah prosedur yang dirancang sudah
mempertimbangkan apakah pembuatan skala besar dapat dilaksanakan. Pada tahap ini
juga perlu dipikirkan kegiatan apa saja yang harus dilakukan pada saat produk jadi
(tablet) sudah selesai dikemas dan siap didistribusikan. Misalnya apakah diadakan
pengujian stabilitas selama proses distribusi atau apakah perlu dilakukan monitoring
terhadap pengguna tablet setelah beberapa tahun dimasyarakat.
6. Uji kaji – stability test
Tahapan ini pada dasarnya adalah kegiatan untuk memastikan apakah semua bahan dan
peralatan, metode, proses dan hasil setiap tahap sudah dilakukan dengan baik dan benar.
Pengujian dilakukan beberapa kali sedemikian rupa sehingga hasil percobaan dalam
skala laboratorium dapat diimplementasikan dalam skala produksi. Disamping itu juga
dilakukan uji stabilitas, untuk mengetahui apakah karakteristik/mutu tablet yang
dihasilkan tidak berubah selama dalam kondisi penyimpanan, pendistribusian maupun
jelang dipakai konsumen. Pengujian dilakukan dengan mengamati perubahan
karakteristik yang terjadi dalam kondisi temperatur tertentu, tekanan fisik, pemaparan
terhadap cahaya ataupun kelembaban. Untuk mengetahui apakah dalam waktu yang
lama (misal 3 tahun) tablet dihasilkan stabil, tentunya terlalu lama waktu pengamatan
yang dibutuhkan. Biasanya dilakukan pengujian yang dipercepat, antara lain dengan

9
melakukan pengujian dalam temperature yang ditingkatkan, misalnya 45 – 50°C.
Dengan suhu penyimpanan tersebut selama 3 bulan dapat meramalkan kondisi 2 – 3
tahun kedepan.
7. Uji kaji – test pasar
Pengujian sediaan atau produk jadi dipasar, terutama dilakukan untuk mengamati
apakah dokter, apoteker maupun tenaga kesehatan lain serta masyarakat dapat menerima
kehadiran produk tablet tersebut. Tahapan ini biasa dilakukan dengan teknik penelitian
khusus yang disebut.

2.9 Langkah Membuat Tablet


Berikut ini disampaikan tahapan pembuatan granul basah:

Granulasibasah 1 Granulasi basah 2


Pemeriksaan Bahan baku zat aktif Pemeriksaan Bahan baku zat aktif meliputi :
meliputi :
 Kadar air
 Kadar air  Sudut henti
 Sudut henti  Tap density
 Tap density  Bulk density
 Bulk density  DUP
 DUP
Penimbangan Penimbangan
Penghalusan Penghalusan
Pencampuran padat Pencampuran padat
Pembuatan larutan pengikat Penambahan larutan pengikat
Pencampuran hasil 3 & 4 Granulasi (mesh 6 – 12)
Granulasi (mesh 6 – 12) Pengeringan
Pengeringan Granulasi (mesh 14 – 20 )
Granulasi (mesh 14 – 20 ) Pencampuran/lubrikasi pengempaan
Pencampuran/lubrikasi pengempaan

10
2.10 Langkah Evaluasi Granul dan Tablet
a. Pengawasan mutu sebelum proses ( in coming process)
- Bahan aktif, yang dievaluasi mencakup kadar, identifikasi cemaran, sifat fisik, dan
sifat kimia.
- Bahan tambahan, yang dievaluasi mencakup sifat fisik, sifat kimia, dan
ketercampuran.
b. Pengawasan mutu dalam proses (in process control)
- Granul, yang dievaluasi mencakup homogenitas, distribusi ukuran partikel, kadar air
atau kelembaban, kompresibilitas, dan sifat aliran.
- Tablet, yang dievaluasi mencakup bobot rata-rata, kekerasan, stabilitas fisik dan
waktu hancur.
c. Pengawasan mutu setelah proses ( end process control)

Dasar Untuk Evaluasi Agar Memenuhi Syarat


a. Kriteria/syarat yang ada dalam definisi Farmakope
Contoh :
Tablet harus memenuhi syarat : sediaan padat, kompak, bentuk tertentu, mengandung
bahan aktif yang seragam, bahan aktif dapat dilepaskan dari sediaan.
b. Ketentuan tentang sediaan, khususnya tablet yang ada dalam Farmakope
Contoh :
Keragaman bobot, keseragaman kandunganb, waktu hancur, laju disolusi, keseragaman
bobot, ukuran, kekerasan, dan friabilitas.
c. Ketentuan tentang sediaan, khususnya tablet yang ada di masing – masing industry.
Disamping memenuhi syarat Farmakope, biasanya industry juga menambahkan
persyaratan lain seperti : warna, aroma, rasa, dan tanda/logo yang ada pada tablet

Evaluasi tablet dilakukan untuk mengetahui apakah tablet yang dihasilkan telah memenuhi
kriteria atau belum. Diperlukan beberapa pengujian, diantaranya adalah :
1. Uji Penampilan
Tablet diamati secara visual meliputi : warna (homogenitas), bentuk (bundar, permukaan
rata/cembung), cetakan (garis patah, tanda, logo, pabrik), dll.
2. Uji Keseragaman Ukuran
11
Uji keseragaman ukuran dilakukan dengan cara 10 tablet diukur keseragaman ukuran satu
per satu, mengukur diameter menggunakan jangka sorong dan mengukur ketebalan
menggunakan mikrometer sekrup. Kecuali dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh
lebih dari 3x dan tidak kurang dari 11/3 tebal tablet. Uji diameter dan ketebalan tablet ini
dilakukan terhadap 20 tablet.
3. Uji Kekerasan Tablet
Dilakukan dengan cara 20 tablet secara acak diuji satu per satu menggunakan hardness
tester dinyatakan dalam kg/cm2.
Syarat kekerasan tablet :
      Tablet kecil      : 3 – 5 kg/cm2
      Tablet besar     : 5 – 10 kg/cm2
      Tablet umum   : 4 – 8 kg/cm2
      Tablet kunyah  : 4 – 7 kg/cm2
      Tablet hisap     : 4 – 12 kg/cm2
4. Uji keseragaman Bobot
Uji ini dilakukan terhadap 20 tablet dengan cara menimbang satu persatu.
Persyaratan : tidak boleh 2 tablet yang bobot rata-ratanya menyimpang dari bobot rata-
rata tablet lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satupun yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata kolom B.
5. Uji Waktu Hancur
Uji waktu hancur menggunakan alat disintegrator tester menggunakan 6 tablet.
Persyaratan dalam Farmakope Indonesia jilid 3 : kecuali dinyatakan lain semua tablet
harus hancur tidak lebih dari 15 menit (untuk tablet tidak bersalut) dan tidak lebih dari
dari 60 menit untuk tablet salut gula atau tablet salut selaput.

2.11 Cara Pembuatan Obat yang Baik


Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) adalah system yang memastikan produk dibuat
dan dikontrol secara konsisten sesuai kualitas standar. Dibuat untuk meminimalkan resika
pada produk farmasi yang tidak dapat disingkirkan lagi saat produk diuji saat sudah jadi.
Resiko utama adalah kontaminasi, menyebabkan gangguan kesehatan bahkan kematian, label

12
yang tidak benar, bahan aktif yang terlalu sedikit atau banyak, berakibat pengobatan tidak
efektif atau menimbulkan efek samping.
CPOB meliputi semua proses produksi mulai dari bahan awal, tempat, dan alat sampai
pelatihan dan kebersihan dari pekerja. Prosedur tertulis dari tiap proses produksi adalah
komponen penting yang dapat mempengaruhi kualitas akhir dari produk.

Hasil pengkajian Praformulasi


No Masalah Pengkajian Rekomendasi Keputusan
1 Susut pengeringan Mudah teroksidasi Ditambahkan zat Untuk
kecil oleh cahaya, sehingga tambahan yaitu zat memperpanjang
dapat merubah warna pengikat (methyl waktu hancur
dari isoniazid selulosa)
2 Distribusi ukuran Lakukan granulasi / Ditambahkan zat Dapat mengalami
partikel terlalu tambahkan bahan tambahan yaitu zat deformasi yang plastis
kecil tambahan yang besar pengisi (amylum) di dalam pencetakan
sehingga
penggunaannya
sebagai bahan pengisi
tablet sangat
menguntungkan,
selain itu memiliki
sifat alir yang baik
3 Sifat INH yang Dibuat dengan Dengan Karena zat aktif ini
mudah yang menggunakan menambahkan zat terurai perlahan-lahan
mudah larut dalam granulasi basah tambahan yaitu zat oleh udara dan cahaya
air pelincir (Mg maka digunakan
Stearat) granulasi basah

Zat aktif
a. Zat aktif

13
Isoniazid (Dirjen POM. 1979 : 320)
 Nama Resmi : Isoniazum
 Nama Lain : Isoniazid, INH, Isonicotinic Acid Hydrazide, INAH
 RM/BM : C6H7N3O / 137,14
 Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak
berbau, rasa agak pahit, terurai perlahan oleh udara
cahaya.
 Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
(95%P) sukar larut dalam klororom, dan dalam eter P.
 Kegunaan : Tuberkulostatik (zat aktif)
 Khasiat : Anti Tuberkulosa
 Dosis : 10 mg / kg
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
 Indikasi : Terapi penyembuhan Tuberkulosa dalam kombinasi
dengan obat Tuberkulosa lain. (MIMS. 2010 : 247).
 Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap INH, penyakit hati, hepatitis,
neuritis perifer.
 Incompatibility : Direkomendasikan seperti gula : Glukosa, fruktosa,
sukrosa, tidak digunakan dalam Isoniazid syrup.
(Martindale 36.2009:288)
 Stabilitas : Pada suhu 20 – 30oC, ditempatkan umumnya pada suhu
<15oC.

 Bentuk senyawa zat aktif :


Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang sering disingkat INH adalah suatu
antituberkulosis yang bekerja bakterisid terhadap bakteri intra seluler serta ekstraseluler
dengan mengganggu biosintesa asam mikolat dari sel bakteri pada rute pemberian
peroral. Isoniazid dapat diberikan tunggal atau dikombinasikan dengan rifampisin (Obat
Generik,2013:81). Isoniazid, derivate asam isonikotinat ini berkhasiat tuberkulostatik

14
paling kuat terhadap M. Tuberculosis (dalam fase istirahat) dan bersifat bakterisid
terhadap basil yang sedang tumbuh pesat. Aktif terhadap kuman yang berada
intraselular dalam makrofag maupun di luar sel (ekstraselular). Obat ini praktis tidak
aktif terhadap bakteri lain. Mekanisme kerjanya berdasarkan terganggunya sintesa
mycolic acid, yang diperlukan untuk membangun dinding bakteri (Tjay dan Rahardja,
2002). Isoniazid langsung diserap dalam saluran cerna. Pemberian dosis oral sebesar
300 mg (5 mg/kg untuk anak- anak) menghasilkan konsentrasi plasma puncak 3 – 5
µg/ml dalam 1 – 2 jam (Shargel, 1988).
 Efek farmakologi dan mekanisme kerja dalam tubuh :
Isoniazid adalah suatu antituberkulosis yang bekerja bakterisid terhadap bakteri
intraseluler serta ekstraseluler dengan mengganggu biosintesa asam mikolat dari
dinding sel bakteri. Obat ini dapat dengan mudah diabsorbsi pada pemberian peroral.
Isoniazid dapat diberikan tunggal atau kombinasi dengan rifampisin, Streptomisin dan
etambutol.
 Mekanisme aksi:
Tidak diketahui, namun diperkirakan terjadi penghambatan sintesis asam mikolat
yang menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri.
 Nasib obat dalam tubuh/Farmakokinetik
Absorpsi : cepat dan lengkap; kecepatan absorpsi dapat berkurang dengan adanya
makanan ; Distribusi : terdistribusi pada semua jaringan tubuh dan cairan tubuh termasuk
cairan serebrospinal; menembus plasenta; masuk ke dalam air susu ;Ikatan protein : 10%-
50%; Metabolisme : Melalui hati dengan penurunan kecepatan metabolisme tergantung
pada tipe asetilator ; Eliminasi : asetilator cepat : 30-100 menit ; asetilator lambat : 2-5
jam; terjadi perpanjangan pada pasien dengan kerusakan hati dan ginjal yang berat;
Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: 1- 2 jam ; Ekskresi : urin ( 75% sampai
95%); melalui feses dan saliva; Rentang terapeutik : 1-7 mcg/ml (SI : 7-51 mol/L);
Toxic ; 20-710 mcg/mL (SI: 146-5176 mol/L.

Bahan tambahan

1) Methyl Selulosa
 Rumus Struktur : [CH3{CH2}56COO]2Mg

15
 Nama resmi : Methylcellulose
 Nama lain : metil selulosa, methycellulosum,benzen
 Kegunaan : sebagai pengikat,pengemulsi dan sebagai penghancur
 Range : sebagai bahan pengikat 1,0-5,0 %
 Stabilitas :  pH 3-11 di suhu kamar
 Inkompatibilitas :  terhadap/ bersama hidrocloride, chloro
cresol, mercuri, fenol, asam tannin, metal paraben, propel
paraben, dan butilparaben
 Pemerian                     :  serbuk putih,granul,berserat

2) Amylum
Amylum Maydis  (Exipient.2006:685)
 Nama lain                   : Amylum,Kanji,Maydis Amylum
 Rumus Molekul : C6H10O5
 Stabilitas  : kanji kering stabil jika dilindungi oleh kelembaban
yang tinggi.kanji dapat memacu factor kimia dan mikrobiologi di
bawah penyimpanan normal. Kanji yang padat tidak cocok untuk
ditumbuhi mikroorganisme. Kanji harus dalam keadaan segar atau
baru jika digunakan pada permukaan granulasi basah.
 Range : Pengisi, 3-10%
 Kelarutan                    : Larut dalam air
 Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat

3) Avicell
Avicel ph (exipient,129)
 Nama resmi                 : Cellulosum Microcristalinum
 Nama lain                    : Avicel pH
 Rumus Molekul          : (C6H10O5)n
 Berat Molekul             : ± 36.000

16
 Pemerian               :  Serbuk selulosa berbentuk putih atau
hampir putih, merupakan serbuk tak berbau dan tak berasa
dengan ukuran  partikel yang bervariasi dengan aliran yang
baik atau serbuk granul tebal,  kasar, halus.
 Kelarutan                    : Praktis tidak larut dalam air, larut di dalam asam
 Kegunaan                    : Bahan pengikat, penghancur,   peluncur, pengisi
 Penyimpanan               : Dalam wadah tertutup baik
 Incomp                        : Tidak menyatu dengan oksidator kuat
 Stabilitas                     : Di tempat sejuk dan kering.

4) Magnesium Stearat
 Rumus Struktur : [CH3{CH2}56COO]2Mg
 Fungsi : Lubrikan ( Pelicir)
 Pemerian : Serbuk sangat halus, agak putih,
memiliki bau dan rasa seperti asam stearat. Serbuk
mudah melekat di kulit.
 Aplikasi : Magnesium stearat digunakan
secara luas pada formulasi kosmetik, makanan dan
farmasi. Penggunaan utamanya sebagai lubrikan pada
pembuatan kapsul dan tablet pada konsentrasi antara 0.25
% - 5 % b/b. Magnesium stearat juga digunakan pada
krim pelindung.

17
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3. 1 Formulasi Tablet
Metode : Granulasi basah
Besarnya Batch : 500 batch
Bobot per tablet : 0,5g
Pemakaian Bahan
No. Nama Bahan Kegunaan
Lazim (%) Per Tablet Per Batch
1 Isoniazidum Zat aktif (Anti TBC) 300 mg / hari 300 mg 150.000 mg
2 Avicell Penghancur 5-10% 35 mg 17.500 mg
3 Metyl selulosa Pengikat 1-5% 25 mg 12.500 mg
4 Magnesium Stearat Pelincir 0.2-5% 5 mg 2.500 mg
5 Amylum Pengisi 135 mg 67.500 mg
Jumlah : 500 mg 250.000 mg

3. 2 Alat dan bahan


Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
1. Timbangan gram 9. Gelas ukur 100 ml
2. Mixer 10. Jangka sorong
3. Granulator 11. Alat penetapan kadar
4. Mesin Kempa Tablet 12. Friabilator Roche
5. Mortir 13. Disintegration tester
6. Sieving Analyzer 14. Oven
7. Alat ukur sudut henti / sifat aliran 15. Hardness Tester
8. Alat ukur kadar air
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Isoniazidum
18
2. Avicell
3. Metyl selulosa
4. Magnesium stearat
5. amylum

3. 3 Instruksi kerja pembuatan tablet Isoniazid


I. Persiapan
1. Meja praktikum dibersihkan
2. Alat dan wadah dipersiapkan, kemudian dibersihkan
3. Memakai masker dan sarung tangan

II. Kegiatan produksi


1. Penimbangan bahan-bahan
- Timbang isoniazid sebanyak 150.000 mg
- Timbang avicell sebanyak 17.500 mg
- Timbang metyl selulosa sebanyak 12.500 mg
- Timbang magnesium stearat sebanyak 2.500 mg
- Timbang amylum sebanyak 67.500 mg
2. Penghalusan bahan aktif
- Alat dan bahan dipersiapkan
- Isoniazid ditimbang
- Isoniazid digerus halus di dalam lumpang sampai homogen
3. Pembuatan larutan pengikat
- Metyl selulosa dimasukkan ke dalam lumpang
- Ditambahkan air panas ke dalam lumpang secukupnya
- Kemudian gerus sampai homogen

4. Proses granulasi
- Isoniazid, amylum, dan avicell diayak dengan ayakan mesh nomer 30
- Ketiga bahan tersebut dituang ke dalam baskom

19
- Diaduk sampai homogen
- Larutan pengikat (metyl selulosa) ditambahkan sedikit demi sedikit sampai
terbentuk massa yang kompak
- Massa granulasi basah diayak dengan ayakan mesh nomer 8
- Kemudian bahan granulasi basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 37ᴼC
sampai kering
5. Pencampuran akhir
- Granulat yang telah kering diayak dengan ayakan mesh nomer 18
- Lalu ditambahkan dengan fase luar (avicell dan mg.stearat) diaduk sampai
homogen
- Kemudian dilakukan evaluasi granul
- Tablet di cetak dengan mesin cetak
- Kemudian tablet di lakukan evaluasi

3. 4 Instruksi kerja pengkajian mutu / In process control serbuk isoniazid


(Evaluasi granul)
1. Bulk Density
- Timbang seksama 50 gram serbuk
- Masukkan ke dalam gelas ukur, ratakan permukaannya
- Catat volume serbuk yang ada
2. Tap Density
- Setelah melewati pengukuran bulk density, ketukan gelas ukur sebenyak 150 kali
- Catat kembali volume serbuk
- Hitung rasio hausner dan kompresibilitas
3. Susut pengeringan
- Timbang botol timbang dengan seksama
- Masukkan 2 gram serbuk ke dalam botol timbang, lalu timbang kembali
- Masukkan botol timbang dalam keadaan tutup terbuka ke dalam oven dengan
suhu 105ᴼC ± 45 menit
- Setelah itu, botol timbang diambil, kemudian diamkan sampai dingin
- Botol timbang yang berisi serbuk ditimbang kembali

20
4. Sifat alir
- Masukkan granulat ke dalam alat sifar alir dengan bagian bawah tertutup
- Ikuti cara pengukuran sifat alir sesuai petunjuk yang ada
- Amati dan catat
5. Distribusi ukuran partikel
- Timbang serbuk dengan seksama
- Masukkan serbuk ke dalam sieving analyzer
- Jalankan sieving analyzer dengan petunjuk yang ada
- Timbang masing-masing ayakan dan masing-masing serbuk yang terdapat pada
setiap lapisan ayakan

3. 5 Instruksi kerja pengkajian mutu tablet isoniazid


(Evaluasi tablet)
1. Pemeriksaan organoleptik
- Ambil sejumlah tablet, lihat bentuk tablet yang ada
- Ambil sejumlah tablet, cium bau tablet yang ada
- Ambil sejumlah tablet, dan rasakan tablet yang ada
- Ambil sejumlah tablet, amati warna tablet yang ada
2. Uji keseragaman bobot
- Ambil tablet sebanyak 20 tablet
- Masing-masing bobot tablet ditimbang
- Bobot tablet dihitung rata-ratanya
3. Uji kekerasan tablet
- Ambil tablet sebanyak 10 tablet
- Masing-masing tablet diukur kekerasannya dengan alat pengukuran tablet
(hardness tester)
- Amati dan catat hasil kekerasan setiap tablet
4. Uji kerapuhan
- Alat friabilator dipersiapkan
- Ambil tablet yang akan diuji sebanyak 10 tablet, kemudian di timbang
- Tablet di masukkan ke dalam friabilator, dan diputar selama 15 menit

21
- Setelah selesai, tablet dikeluarkan
- Lalu tablet ditimbang kembali
- Hitung presentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan

5. Waktu hancur
- Alat disintegration dipersiapkan
- Ambil tablet yang akan diuji sebanyak 3 tablet
- Tablet dimasukkan ke setiap tube
- Kemudian ditutup dengan penutup dan dinaik turunkan keranjang tersebut dalam
medium air dengan suhu 37ᴼC selama 15 menit
6. Keseragaman ukuran
- Ambil tablet sebanyak 6 tablet
- Kemudian diameter dan tebal tablet diukur menggunakan jangka sorong
- Amati dan catat hasilnya

BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
4.1 Hasil
 Berikut tabel hasil dari evaluasi granul :
22
Pengujian/Perhitungan Hasil
Bulk Density

BD = = 0,649 g/ml = 0,650 g/ml


Bulk Density =

Tap Density

TD = = 0,819 g/ml = 0,82 g/ml


Tap Density =

Rasio Hausner

Rasio Hausner (RH) = RH = = = 1,26

Kompresibilitas

Rumus = x 100% Kompresibilitas = x 100 % = 20,73%

Susut pengeringan dan Kadar air

= 2,38 %

= 2,33%

Sifat alir
Tan = = =
Tan =
Tan = 0,8
a = 38,65o

Distribusi Ukuran partikel Berat Awal


- Mesh 12 = 222,89 g
Perhitungan= x100% - Mesh 14 = 202,24 g
- Mesh 16 = 201,87 g
- Mesh 18 = 198,27 g
- Mesh 20 = 200,86 g

Berat Akhir
- Mesh 12 = 225,83 g

23
- Mesh 14 = 205,33 g
- Mesh 16 = 207,85 g
- Mesh 18 = 207,50 g
- Mesh 20 = 216,36 g

Berat Serbuk
- Mesh 12 = 2,94 g
- Mesh 14 = 3,09 g
- Mesh 16 = 5,98 g
- Mesh 18 = 9,28 g
- Mesh 20 = 15,5 g

Perhitungan

- Mesh 12 = x 100% = 1,635%

- Mesh 14 = x 100% = 1,719%

- Mesh 16 = x 100% = 3,327%

- Mesh 18 = x100% = 5,163%

- Mesh 20 = x100% = 8,623%

 Hasil evaluasi tablet


Pengujian/Perhitungan Hasil

24
Pemeriksaan organoleptis tablet Pemeriksaan organoleptis tablet
 Bentuk  Bentuk : Bulat pipih
 Bau  Bau : Khas
 Rasa  Rasa : Pahit
 Warna  Warna : Kuning kecoklatan
Keseragaman bobot :
Syarat : bobot yang baik ≥ 300 Hasil bobot rata-rata tablet 500 mg
mg
*(Untuk perhitungan bisa dilihat
pada lampiran jurnal)
Kekerasan tablet :
Syarat : tablet yang baik 4-10
kg
/cm2 Hasil rata-rata kekerasan tablet 3,5 kg/cm2

*(Untuk perhitungan bisa dilihat


pada lampiran jurnal)
Uji Kerapuhan
Syarat : tablet yang baik 0,8 – 1 Hasil rata-rata kerapuhan tablet 35,68 %
%
*(Untuk perhitungan bisa dilihat
pada lampiran jurnal)
Waktu Hancur Hasil waktu hancur setiap tablet:
Syarat : tablet yang baik ≤ 15  Tablet 1 → 13,47 menit
menit  Tablet 2 → 14,50 menit
 Tablet 3 → 14,26 menit
Keseragaman Ukuran Hasil keseragaman ukuran
Syarat keseragaman ukuran yang  Diameter tablet → 1,1 cm
baik:  Tebal tablet → 0,3 cm

Diameter tablet ± < Tebal

tablet ± 3x
= 1,1 cm

25
= 0,3 cm

= 0,3 x 3 = 0,9 cm

4.2 Pembahasan
Pembuatan sediaan farmasi terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pengkajian
praformulasi, formulasi sediaan, produksi atau pembuatan dan evaluasi sediaan. Pembuatan
sediaan tablet dimulai dengan pengkajian praformulasi bahan baku. Pengkajian praformulasi ini
penting dilakukan dalam formulasi sediaan karena melihat sifat fisikokimia bahan,
ketercampuran dengan bahan tambahan, sifat farmakologi, farmakokinetika, farmakodinamika
dan hal lainnya yang akan mempengaruhi kualitas produk akhir dari segi penampilan, efikasi,
dan keamanannya.
Untuk mengetahui karakteristik suatu sediaan tablet maka diperlukan serangkaian
evaluasi atau  pengujian terhadap sediaan tersebut.  Karena sebagian besar diantara kita tidak
mengetahui karakteristik tablet yang kita gunakan.  Untuk itu beberapa parameter-parameter uji
sediaan tablet perlu untuk diketahui. Beberapa parameter uji sediaan tablet diantaranya adalah uji
organoleptis, uji keseragaman bobot,uji keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji kerapuhan
(friabilitas), dan uji waktu hancur.
Pada praktikum kali ini kelompok kami melakukan praktek pembuatan tabet isoniazid
dengan metode granulasi basah, dikarenakan zat aktif isoniazid ini merupakan serbuk hablur
yang mudah larut dalam air sehingga cocok untuk metode granulasi basah. Pada pembuatan
granulasi basah ini dilakukan dengan pencampuran zat aktif, penghancur, pengisi yang kemudian
dibasahi dengan larutan pengikat. Setelah itu diayak hingga terbentuk granul, lalu ditambah zat
pelincir kemudian dicetak.Pada saat dilakukan evaluasi tablet, hasil evaluasi pada pemeriksaan
organoleptis menyatakan bentuk, bau, rasa dan warna tablet seperti apa yang diharapkan. Bentuk
bulat pipih, bau khas, rasa pahit dan warna kuning kecoklatan.
Pada uji Keseragaman Bobot ditimbang 20 tablet INH dan dihitung bobot rata-ratanya
Dari percobaan didapatkan rata-rata bobot tablet yaitu 500mg. Syarat dari keseragaman bobot
suatu tablet menurut FI III adalah jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang
masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang

26
ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-
ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B.
Penyimpangan bobot rata-rata
Bobot rata-rata dalam %
A B
25 mg atau kurang 15 % 30 %
26 mg sampai dengan 150 mg 10 % 20 %
151 mg sampai dengan 300 mg 7,5 % 15 %
Lebih dari 300 mg 5% 10 %

Dari data yang didapatkan tablet INH yang memenuhi syarat pada kolom A karena tidak
lebih dari 5% dan memenuhi syarat juga untuk kolom B karena tidak lebih dari 10 %.Untuk hasil
evaluasi keseragaman bobot persyaratan keseragaman bobot yang baik adalah ≥ 300 mg.
Uji kekerasan tablet dilakukan untuk mengatahui ketahanan tablet dalam melawan
tekanan mekanik seperti goncangan,tekanan,dan kemungkinan terjadinya keretakan tablet pada
saat pembungkusan,pengangkutan,dan penyimpanan. Tablet yang baik mempunyai kekerasan
antara 4-8 kg (Parrot,1971).Hasil evaluasi kekerasan tablet, tablet kami tidak memenuhi
persyaratan kekerasan tablet karena kurangnya larutan pengikat pada saat pembuatan formulasi
sediaan, sehingga tablet yang kami dapatkan tidak memenuhi persyaratan, hasil rata-rata
evaluasi kekerasan tablet yang kami dapatkan adalah 3,5 kg/cm2.
Pada saat dilakukan evaluasi tablet keseragaman ukuran, ukuran tablet yang kami peroleh
untuk rata-rata diameter didapatkan 1,1 cm dan untuk rata-rata tebal tablet 0,3cm dan setelah
dikalikan 3x ukuran yang dihasilkan tidak melebihi ukuran tebal dan diameter tablet sehingga
memenuhi syarat. dimana syarat tersebut adalah “kecuali dikatakan lain, diameter tablet tidak

lebih dari 3x dan tidak kurang dari tebal tablet” . Selanjutnya evaluasi uji kerapuhan.

Kerapuhan yaitu parameter lain dari ketahanan tablet terhadap goncangan dan pengikisan. Untuk
menguji Kerapuhan tablet digunakan alat Abrasive dan Friability tester tetapi yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah Friability tester. Nilai kerapuhan yang baik menurut Parrot (1971)
yaitu tidak boleh lebih dari 1%. Tablet INH yang dievaluasi tidak memenuhi persyaratan karena

27
kerapuhan yang didapatkan 35,68 % untuk friability tester, hal ini disebabkan karena kurangnya
zat pengikat pada sediaan dan kompatibilitas yang tidak baik.
Uji waktu hancur adalah uji yang dilakukan untuk mengatahui waktu hancurnya tablet
dalam media yang sesuai,sehimgga tidak ada lagi tablet yang tertinggal di atas kasa. Percobaan
uji waktu hancur tablet dilakukan dengan alat disintegration tester pada suhu 36-380 celcius .
Dalam percobaan didapatkan waktu yang diperlukan tablet INH untuk dapat hancur adalah tablet
1=13,47menit, tablet 2= 14,50, dan tablet 3=14,26 menit, ini berarti tablet INH tersebut masih
memenuhi standart waktu hancur tablet karena menurut FI,waktu yang diperlukan untuk
menghancurkan tablet tidak bersalut adalah 15 menit.

28
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan pada praktikum kali ini adalah:

1. Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. Pembuatan tablet dapat dilakukan dengan 3 cara umum yaitu granulasi
basah, granulasi kering dan kempa langsung. Dalam pembuatannya, tablet yang baik harus
memenuhi persyaratan yang tertera pada literature seperti Farmakope Indonesia.

2. Evaluasi yang dilakukan pada percobaan adalah : uji organoleptis, uji keseragaman
bobot,uji keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji kerapuhan, dan uji waktu hancur.

3. Tablet INH yang diuji masih memenuhi persyaratan uji organoleptis, uji keseragaman
bobot, uji keseragaman ukuran, waktu hancur sedangkan kerapuhan dan uji kekerasan tidak
memenuhi persyaratan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 2005, Manajemen Farmasi.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1979. Farmakope Indonesia III. Jakarta.Indonesia

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1995.Farmakope Indonesia IV. Jakarta. Indonesia.

Parrot, E.L., 1971. Pharmaceutical Technology. Bruger Publishing Company, Minncapolis, 85.

Voigt. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani Noeroto S.,UGM

Press, Yogyakarta. Hal: 337-338

30