Anda di halaman 1dari 39

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batu saluran kemih yang disingkat BSK adalah terbentuknya batu yang
disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat dalam air kemih yang
jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang mempengaruhi daya larut
substansi.1 Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologis
terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada
seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari
tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di
sekitarnya. Penyakit batu saluran kemih (BSK) pada saat sekarang ini memang telah
menjadi masalah kesehatan di dunia.2
Batu saluran kemih (BSK) merupakan penyakit ketiga terbanyak di bidang
urologi setelah infeksi saluran kencing dan pembesaran prostat jinak. Prevalensi
BSK makin meningkat di seluruh dunia maupun di Indonesia. Di Indonesia BSK
masih menempati porsi terbesar dari seluruh pasien di klinik urologi.1
Batu saluran kencing terdapat pada 7-10 dari 1000 pasien yang masuk ke rumah
sakit. BSK pada laki-laki 3-4 kali lebih banyak daripada wanita dengan umur puncak
awal kejadian 20–40 tahun. Hal ini mungkin karena kadar kalsium air kemih sebagai
bahan utama pembentuk batu pada wanita lebih rendah daripada laki-laki dan kadar
sitrat air kemih sebagai bahan penghambat terjadinya batu (inhibitor) pada wanita
lebih tinggi daripada laki-laki. Batu saluran kemih banyak dijumpai pada orang
dewasa antara umur 30-60 tahun dengan rata-rata umur 42 tahun (pria rerata 43
tahun dan wanita rerata 40 tahun). Umur terbanyak penderita batu di negara-negara
Barat 20-50 tahun dan di Indonesia antara 30-60 tahun.3
Prevalensi sepanjang hidup BSK diperkirakan 1 - 15%, dengan kemungkinan
mendapat suatu batu berbeda-beda berdasarkan usia, jenis kelamin, ras dan lokasi
geografi. Sebagian BSK memiliki dasar genetik, tetapi sebagian lagi sangat
tergantung pada faktor lingkungan atau faktor gizi seperti diet tinggi protein.

1
Berdasarkan lokasi, BSK dibagi menjadi: (1) batu ginjal 27,1% (2) batu ureter 51,8%
(3) batu buli 18,1% (4) dan batu urethra 3% . Gejala klinis batu saluran kencing bisa
mulai dari tanpa gejala (asimptomatis), bergejala sampai gagal ginjal. Gejala klinis
simptomatis bisa berupa gejala klasik dan atau gejala komplikasi. Gejala klasik dapat
berupa sakit pinggang (kolik atau non kolik), dan gejala komplikasi seperti buang air
kecil berdarah (hematuria), keluar batu saluran kencing spontan, deman bahkan
sampai gagal ginjal.3

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Traktus Urinarius


a. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk  seperti kacang, terdapat
sepasang (masing-masing satu di sebelah kanan dan kiri vertebra) dan
posisinya retroperitoneal. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah (kurang
lebih 1 cm) dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan adanya hati yang
mendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga 11
(vertebra T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga 11
atau iga 12. Adapun kutub bawah ginjal kiri adalah processus transversus
vertebra L2 (kira-kira 5 cm dari krista iliaka) sedangkan kutub bawah ginjal
kanan adalah pertengahan vertebra L3. Dari batas-batas tersebut dapat terlihat
bahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah dibandingkan ginjal kiri.
Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:
 Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari korpus
renalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus
proksimal dan tubulus kontortus distalis.
 Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus
rektus, lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent).
 Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal
 Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah
korteks
 Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf
atau duktus memasuki/meninggalkan ginjal.
 Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpul
dan calix minor.
 Calix minor, yaitu percabangan dari calix major.
 Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis.

3
 Pelvis renalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan
antara calix major dan ureter.
 Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria.

Gambar 1 Anatomi Struktur Internal dari ginjal dan Perjalanan Ureter

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpus


renalis/ Malpighi (yaitu glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus
proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal yang bermuara pada
tubulus pengumpul. Ginjal diperdarahi oleh a/v renalis. A. renalis
merupakan percabangan dari aorta abdominal, sedangkan v.renalis akan
bermuara pada vena cava inferior
Ginjal memiliki persarafan simpatis dan parasimpatis. Untuk
persarafan simpatis ginjal melalui segmen T10-L1 atau L2, melalui
n.splanchnicus major, n.splanchnicus imus dan n.lumbalis. Saraf ini berperan
untuk vasomotorik dan aferen viseral. Sedangkan persarafan simpatis melalui
n.vagus.3,4,5

b. Ureter

4
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil
penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju
vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal,
masing-masing satu untuk setiap ginjal.
Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan
m.psoas major, lalu menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis.
Ureter berjalan secara postero-inferior di dinding lateral pelvis, lalu
melengkung secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria. Adanya
katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung
kemih. Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan
yaitu peralihan pelvis renalis-ureter, fleksura marginalis serta muara ureter ke
dalam vesica urinaria. Tempat-tempat seperti ini sering terbentuk
batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis,
a.iliaca communis, a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan
persarafan ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis,
pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior dan inferior.

c. Vesica urinaria
Vesica urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli,
merupakan tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal
melalui ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan
eksternal tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria
terletak di lantai pelvis (pelvic floor), bersama-sama dengan organ lain
seperti rektum, organ reproduksi, bagian usus halus, serta pembuluh-
pembuluh darah, limfatik dan saraf.

Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior.


Namun pada perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis.
Sedangkan persarafan pada vesica urinaria terdiri atas persarafan simpatis
dan parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor,
n.splanchnicus imus, dan n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun
persarafan parasimpatis melalui n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang
berperan sebagai sensorik dan motorik.

5
d. Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica
urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada
pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga
berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat),
sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria
memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari
m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars
membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki
m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat
volunter).3,4,5

2.2 Definisi Batu saluran kemih (BSK)

Batu saluran kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras
seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas
(ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang dapat
menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Proses
pembentukan batu disebut urolitiasis. Batu ini terbentuk dari pengendapan garam
kalsium, magnesium, asam urat atau sistein.5

BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur. Batu
yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya dapat keluar
bersama dengan urine ketika berkemih. Batu yang berada di saluran kemih atas
(ginjal dan ureter) menimbulkan kolik dan jika batu berada di saluran kemih bagian
bawah (kandung kemih dan uretra) dapat menghambat buang air kecil.5

2.3 Epidemiologi

Saat ini angka kejadian batu saluran kemih mengalami peningkatan yang
dapat mempengaruhi 10-12% populasi di negara maju dengan insiden tertinggi
terjadi di usia 20-40 tahun. Setiap individu memiliki resiko Sekitar 5-10% terkena
batu saluran kemih (BSK) sepanjang hidupnya. Angka kekambuhan penyakit BSK
sekitar 50 % setelah 5 tahun dan 80-90% setelah 10 tahun. Prevalensi tertinggi di

6
Indonesia yaitu Di Yogyakarta (1,2%), diikuti Aceh (0,9%), Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Sulawesi Tengah masing-masing (0,8%).7

Dikatakan 5%-15% orang Amerika Serikat memiliki penyakit ini. Usia yang
biasa terkena adalah 30 sampai 60 tahun. Jenis kelamin yang lebih sering terkena
adalah pria dengan perbandingan dengan wanita 3-4:1. Angka kejadian meningkat
pada keadaan geografis yang panas dan kering. Pekerjaan juga meningkatkan angka
kejadian apabila lingkungan kerja tersebut terpapar dengan panas dan cenderung
membuat dehidrasi. Perilaku yang meningkatkan angka kejadian adalah kurang
asupan cairan per hari.8

2.4 Etiologi dan faktor resiko

Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan
aliran urin (fimosis, BPH, refluks vesicouretra), gangguan metabolik (hiperkalsuria,
hiperuremia), infeksi saluran kemih, benda asing (kateter), dehidrasi dan keadaan-
keadaan lain yang belum terungkap (idiopatik).

Faktor Resiko

Secara epidemiologis terdapat 2 faktor yang dapat memepengaruhi terjadinya


pembentukan batu, yaitu:

1. Faktor intrinsik: faktor yang berasal dari tubuh


 Jenis kelamin : pasien laki-laki : perempuan = 3-4: 1 disebabkan oleh:
- anatomis saluran kemih pada laki-laki yang lebih panjang
- secara alamiah didalam air kemih laki-laki kadar kalsium lebih
tinggi dan pada air kemih perempuan kadar sitrat (inhibitor)
lebih tinggi
- laki-laki memiliki testosterone yang meningkatkan produksi
oksalat endogen di hati
- estrogen pada perempuan yang mampu mencegah agregasi
garam kalsium.
 Umur: terbanyak penderita BSK di negara Barat adalah 20-50 tahun,
di Indonesia umur 30-60 tahun. Penyebab pastinya belum diketahui,

7
kemungkinan disebabkan perbedaan faktor sosial ekonomi, budaya,
dan diet.
 Herediter: belum diketahui pasti. Penyakit ini diduga diturunkan oleh
orang tuanya.

2. Faktor ekstrinsik: faktor yang berasal dari lingkungan sekitar. geografi,


iklim, gaya hidup.
 Geografi : banyak diderita masyarakat daerah pegunungan.
disebabkan sumber air bersih yang dikonsumsi banyak mengandung
mineral phospor, kalsium, magnesium, dsb. Pada beberapa daerah
menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi
dari daerah lain sehingga dikenal dengan daerah stone belt (sabuk
batu). Contoh daerah stone belt seperti india, Thailand, Indonesia. Di
afrika selatan jarang.
 Faktor Iklim dan Cuaca : Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh
langsung, namun kejadiannya banyak ditemukan di daerah bersuhu
tinggi. Temperatur yang tinggi meningkatkan jumlah keringat dan
meningkatkan konsentrasi air kemih. Konsentrasi air kemih yang
meningkat menyebabkan pembentukan kristal air kemih.
 Asupan air : Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral
kalsium pada air yang dikonsumsi dapat meningkatkan angka
kejadian batu kemih.
 Diet/Pola makan: misal diet tinggi purine, oksalat, kalsium
 Pekerjaan: lebih banyak terjadi pada orang yang banyak duduk dalam
pekerjaannya.
 Kebiasaan menahan BAK: akan menimbulkan statis air kemih yang
berakibat timbulnya ISK. ISK yang disebabkan kuman pemecah urea
menyebabkan terbentuknya batu struvit.2,6

2.5 Klasifikasi Batu

Urolithiasis dapat di klasifikasikan berdasarkan lokasi batu, karakteristik x-


ray, etiologi proses pembuatan batu dan komposisi batu. Klasifikasi ini penting

8
dalam menatalakasanakan pasien karena dapat mempengaruhi terapi dan juga
prognosis. 2,9
1. Lokasi batu
 Nefrolithiasis: Batu yang terbentuk pada pielum, tubuli hingga calyx ginjal.
 Ureterolithiasis: Batu yang terdapat pada ureter.
 Cystolithiasis: Batu yang terdapat pada vasika urinaria.
 Urethrolithiasis: Batu pada saluran uretra

2. Karakteristik radiologi
 Radiopaque: kalsium oksalat dihidrat, kalsium oksalat monohidrat, kalsium
fosfat.
 Poor radiopaque: magnesium ammonium fosfat, apatit, sistein.
 Radiolucent: asam urat, ammonium urat, xantin, 2,8 dihidroxy-adenine.
3. Etiologi
 Non-infeksi: kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat.
 Infeksi: magnesium ammonium fosfat, apatit, ammonium urat.
 Genetik: sistein, xantin, 2,8 dihidroksiadenin.
4. Komposisi
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat atau
kalsium fosfat 75%, asam urat %, magnesium-amonium-fosfat 15%, sistin, silikat
dan senyawa lain 1%.2,9

a. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK yaitu
sekitar 70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam
bentuk murni atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium
oksalat, batu kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya
batu tersebut diperkirakan terkait dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urin
atau darah dan akibat dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda,
yaitu:
 Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/ hitam
dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi pada air kemih.

9
 Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu batu
berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite.

Gambar 2 Gambaran bentuk batu kalsium oksalat

b. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)


Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah :Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan
sekitar 15-20% pada penderita BSK
Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi
saluran kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH air kemih >7.
Pada batu struvit volume air kemih yang banyak sangat penting untuk membilas
bakteri dan menurunkan supersaturasi dari fosfat.

Gambar 3 Gambaran bentuk batu struvit

c. Batu asam urat


Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat. Pasien
biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh asam urat.

10
Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang lebih
besar menderita penyakit BSK, karena keadaan tersebut dapat meningkatkan
ekskresi asam urat sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu asam urat
bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga membentuk
staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah
dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan berhasil dengan terapi kemolisis.

Gambar 4 Gambaran bentuk batu asam urat

d. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal.
Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%.
Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan
batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urin yang asam. Selain
karena urin yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu
yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena
imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan
pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani
yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.2,9

11
Gambar 5 Gambaran bentuk batu sistin

2.6 Patofisiologi

Terdapat 2 mekanisme pembentukan batu yaitu supersaturasi atau infeksi. Batu


yang dihasilkannyapun dapat berbeda, pada supersaturasi (free stone formation) batu
yang terbentuk biasanya adalah batu asam urat dan sistein. Pada infeksi batu yang
terbentuk adalah hasil dari metabolisme bakteri. Sedangkan formasi batu yang
frekuensinya paling banyak, kalkulus yang mengandung kalsium, lebih kompleks
masih belum dapat jelas dimengerti.10
Batu terdiri dari bahan-bahan organik maupun anorganik yang terlarut dalam
urin. Kristal-kristal tersebut tetap berada dalam keadaan metastable dalam urin jika
tidak ada keadaan keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal.
Kristal yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu yang kemudian
akan mengadakan agregasi dan menarik bahan bahan lain sehingga menjadi Kristal
yang lebih besar. Kristal tersebut bersifat rapuh dan belum cukup membuntukan
saluran kemih. Maka dari itu agregat Kristal menempel pada epitel saluran kemih
dan membentuk retensi kristal. dengan mekanisme inilah bahan bahan lain
diendapkan pada agregat tersebut hingga membentuk batu yang cukup besar untuk
menyumbat saluran kemih.
Kondisi metastable dapat dipengaruhi oleh suhu, pH larutan, adanya koloid di
dalam urin, konsentrasi solute di dalam urin, laju aliran urin di dalam saluran kemih,
atau adanya korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu.
Batu asam urat lebih mudah terbentuk dalam suasana asam, sedangkan magnesium
ammonium fosfat cenderung terformasi dalam keadaan basa. Lebih dari 80% batu

12
saluran kemih terdiri atas batu kalsium. Kalsium dapat berikatan dengan oksalat,
fosfat membentuk batu kalsium fosfat dan kalsium oksalat.
Ada beberapa zat yang dapat bertindak sebagai inhibitor pembentukan batu.
Ion magnesium dapat menghambat pembentukan batu kalsium oksalat dengan cara
berikatan dengan oksalat. Demikian pula sitrat jika berikatan dengan ion kalsium
akan membentuk garam kalsium sitrat sehingga dapat mengurangi formasi batu yang
berkomponen kalsium. Beberapa proteinpun dapat bertindak sebagai inhibitor
dengan cara menghambat pertumbuhan kristal, menghambat agregasi kristal maupu
menghambat retensi kristal. senyawa itu antara lain adalah: glikosaminoglikan,
protein Tamm Horsfall, nefrokalsin dan osteopontin. 10

2.7 Gejala klinis


Gejala klinis pada batu ginjal berbeda tergantung lokasi batu, ukuran dan
penyulit yang telah terjadi:
 Nefrolithiasis : Nyeri pinggang non kolik akibat peregangan kapsul ginjal
karena hidronefrosis ataupun infeksi pada ginjal. Pemeriksaan ketuk CVA
positif. Jika ginjal telah mengalami hidronefrosis maka ginjal akan teraba
pada pemeriksaan ballottement. Jika ginjal mengalami infeksi pasien, demam
dapat ditemukan.
 Ureterolithiasis : Nyeri kolik pada pinggang yang dilewati batu. Nyeri kolik
ini disebabkan karena peningkatan tekanan intralumen karena usaha gerakan
peristaltik ureter ataupun sistem kalises. Nyeri dapat menjalar ke
selangkangan. Dapat terjadi hematuria karena trauma pada mukosa saluran
kemih yang disebabkan oleh batu.
 Cystolithiasis : Kesulitan memulai BAK jika batu menutupi sphincter, BAK
yang tersendat dan lancar jika mengubah posisi badan, dapat terjadi
hematuria. Penderita juga dapat merasakan sensasi keluarnya pasir saat
berkemih. Pasien juga dapat merasakan perasaan tidak enak saat BAK,
frekuensi BAK yang meningkat karena pengecilan ruangan vesika, pada anak
dapat ditemukan enuresis nokturna, dan sering menarik penis ataupun
menggosok vulva.

13
Jika terjadi komplikasi seperti hidronefrosis ataupun infeksi maka gejala
obstruksi saluran kemih bagian atas seperti demam dan mual muntahpun dapat
dirasakan oleh pasien,2,3

2.8 Diagnosis

Anamnesis
Keluhan yang disampaikan oleh pasien tergantung pada: posisi atau letak
batu, besar batu, dan penyulit yang telah terjadi. Keluhan yang paling dirasakan oleh
pasien adalah nyeri pada pinggang. Nyeri ini mungkin bisa berupa nyeri kolik
ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena aktivitas peristaltik otot polos sistem
kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu dari saluran
kemih. Peningkatan peristaltik itu menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat
sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri.
Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi hidronefrosis
atau infeksi pada ginjal.

Batu yang terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien sebagai nyeri
pada saat kencing atau sering kencing. Batu dengan ukuran kecil mungkin dapat
keluar spontan setelah melalui hambatan pada perbatasan uretero-pelvik, saat ureter
menyilang vasa iliaka, dan saat ureter masuk ke dalam buli-buli. Hematuria sering
kali dikeluhkan oleh pasien akibat trauma pada mukosa saluran kemih yang
disebabkan oleh batu. Kadang-kadang hematuria didapatkan dari pemeriksaan
urinalisis berupa hematuria mikroskopik.

Jika didapatkan demam harus dicurigai suatu urosepsis dan ini merupakan
kedaruratan di bidang urologi. Dalam hal ini harus secepatnya ditentukan letak
kelainan anatomik pada saluran kemih yang mendasari timbulnya urosepsi dan
segera dilakukan terapi berupa drainase dan pemberian antibiotika.2,3

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai dari tanpa
kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat, tergantung pada letak batu dan penyulit
yang ditimbulkan. Pada pemeriksaan fiisk khusus urologi dapat dijumpai :3

 Sudut kosto vertebra : Nyeri tekan, nyeri ketok dan pembesaran ginjal

14
 Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh
 Genitalia eksterna : teraba batu di uretra
 Colok dubur : teraba batu pada buli-buli pada saan melakukan palpasi
bimanual.

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium
 Batu yang tidak bergejala, diketahui secara tidak sengaja pada urin rutin
(pH, BJ, sedimen) untuk menentukan hematuri, leukosituri, kristaluria
 Lab darah : darah rutin (hb, ht, leukosit, trombosit) kadar kalsium, sistin,
asam urat
 Kultur urin : menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea
 Faal ginjal : mencari kemungkinan penurunan fungsi ginjal dan persiapan
IVP
 Kadar elektrolit : mencari faktor penyebab timbulnya BSK

2. Radiografi
 Sinar X abdomen : melihat batu di ginjal, ureter dan kandung kemih.
dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi dan membedakan klasifikasi
batu yaitu dengan: densitas tinggi menunjukan batu kalsium oksalat dan
kalsium fosfat, densitas semiopak menunjukan batu struvit, sistin dan
campuran, densitas lusen menunjukan batu asam urat, xanthin, triamteren.
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan batu di dalam maupun diluar
ginjal.
 USG : menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan adanya obstruksi.
diperlukan pada wanita hamil dan pasien yang alergi kontras radiologi.
Keterbatasannya adalah kesulitan menunjukan batu ureter, dan tidak
dapat membedakan batu klasifikasi dan radiolusen.
 IVP : menilai anatomi dan fungsi ginjal. Jika IVP belum dapat
menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akibat penurunan fungsi
ginjal, penggantinya adalah pielografi retrograd. Kontraindikasi pada
alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita
hamil.

15
 Urogram : deteksi batu lusen sebagai filling defect (batu asam urat,
xanthin), lokasi batu dalam system kolectikus, menunjukan kelainan
anatomis.
 Analisa urin mikroskopik untuk adanya eritrosit yang banyak, terjadi
infeksi (leukositosis, hematuria, bakteriuria, nitrit urine (+). pH urine :
batu sistin dan asam urat terbentuk jika pH < 6,0. batu fosfat dan struvit
pada pH urine > 7,2.
 CT scan : menghasilkan gambar yang lebih jelas tentang ukuran dan
lokasi batu.2,6

2.9 Penatalaksanaan

Terapi Konservatif

Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter <5 mm. Seperti disebutkan
sebelumnya, batu ureter <5 mm bisa keluar spontan. Terapi bertujuan untuk
mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretikum, berupa:

• Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari


• α – blocker
• NSAID

Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu


syarat lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya
infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan observasi
bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-
pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal)
tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan
intervensi.3,6

16
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)

ESWL merupakan alat pemecah batu ginjal dengan menggunakan gelombang


kejut antara 15-22 kilowatt. Meskipun hampir semua jenis dan ukuran batu ginjal
dapat dipecahkan oleh ESWL, efektivitas dan efisiensi dari alat ini masih perlu
ditinjau lebih lanjut. Indikasi ESWL : a) Batu saluran kemih dengan diameter 5-30
mm, b) fungsi ginjal masih baik, dan c) batu terletak di ginjal dan ureter. Hal lain
yang perlu diperhatikan adalah jenis batu apakah bisa dipecahkan oleh ESWL atau
tidak. Batu yang keras (misalnya kalsium oksalat monohidrat) sulit pecah dan perlu
beberapa kali tindakan.

Dengan ESWL sebagian besar pasien tidak perlu dibius, hanya diberi obat
penangkal nyeri. Pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator
shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan
dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe
(dengan ultrasound atau fluoroscopy), agar shock wave yang ditembakan tepat
mengenai sasaran. Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-
miss-shot device yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu,
sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat
bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal atau ureter akibat salah
tembak. Jadi, begitu lokasi batu sudah ditemukan, dokter hanya menekan tombol dan
ESWL di ruang operasi akan bergerak. Posisi pasien sendiri bisa telentang atau
telungkup sesuai posisi batu ginjal. Batu ginjal yang sudah pecah akan keluar
bersama air seni. Biasanya pasien tidak perlu dirawat dan dapat langsung pulang.

Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan anak-anak
juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada kemungkinan terjadi
kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang valid, untuk wanita di
bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya. ESWL tidak boleh
digunakan oleh penderita darah tinggi, kencing manis, gangguan pembekuan darah
dan fungsi ginjal, wanita hamil dan anak-anak, serta berat badan berlebih
(obesitas).3,6,8,11

Endourologi

17
Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan
batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya
dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih.
Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan).
Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai energi
hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi laser.

Beberapa tindakan endourologi antara lain:

 PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy)


Yaitu mengeluarkan batu yang berada di dalam saluran ginjal dengan
cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada kulit.
Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-
fragmen kecil. PNL yang berkembang sejak dekade 1980-an secara teoritis
dapat digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Tapi dalam prakteknya
sebagian besar telah diambil alih oleh URS dan ESWL. Meskipun demikian
untuk batu ureter proksimal yang besar dan melekat masih ada tempat untuk
PNL.
Prinsip dari PNL adalah membuat akses ke kalik atau pielum secara
perkutan. Kemudian melalui akses tersebut kita masukkan nefroskop rigid
atau fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil secara
utuh atau dipecah dulu.
Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti dapat diambil
atau dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa dilihat
dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan segera dapat diketahui
berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL perlu keterampilan khusus
bagi ahli urologi. Sebagian besar pusat pendidikan lebih banyak menekankan
pada URS dan ESWL dibanding PNL.

 Litotripsi
Untuk memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan
alat pemecah batu/litotriptor ke dalam buli-buli.
 Ureteroskopi atau uretero-renoskopi

18
Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung batu
ureter yang besar, sehingga perlu alat pemecah batu seperti yang disebutkan
di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis pemecah batu tertentu, tergantung
pada pengalaman masing-masing operator dan ketersediaan alat tersebut.
 Ekstraksi Dormia
Mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang
Dormia.6,8,11

Tindakan Operasi (Bedah Terbuka)


 Nefrolitotomi : operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di dalam
ginjal
 Ureterolitotomi : operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di ureter
 Sistolitomi : operasi tebuka untuk mengambil batu yang berada di vesica
urinearia (section alta) dengan melakukan insisi pfannenstiel Indikasi : batu
buli > 2,5 cm pada dewasa dan semua ukuran pada anak, batu keras,
keluarkan benda asing di kandung kemih, terapi perdarahan kandung kemih
yang hebat yang tak bisa ditangani dengan transurethtal.
 Uretrolitotomi : operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di uretra.
 Pielolitotomi : operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di pielum.

Indikasi operasi:

 Batu > 20 mm
 Obstruksi sedang / berat
 Batu di saluran kemih proksimal
 tidak tersedia alat litotripsor, ESWL
 batu ginjal di kaliks bila sudah hidrokaliks
 gangguan fungsi ginjal
 batu pelvis yang menyebabkan hidronefrosis, infeksi, nyeri hebat
 konservatif tidak berhasil (6-8 minggu).6,8,11

19
Gambar 6 Bedah terbuka. A. Nefrolitotomi; B. Pielolitotomi; C.
Ureterolitotomi

Gambar 7 Algoritme penatalaksanaan non medika mentosa pada urolithiasis

20
Gambar 8 Algoritma tatalaksana pada batu ureter (jika terdapat indikasi untuk
pengeluaran batu)

2.10 Komplikasi

Batu yang menyumbat pada saluran kemih dapat menyebabkan komplikasi


terhadap organ superior terhadap penyumbatan. Beberapa komplikasi urolithiasis
adalah obstruksi ureter yang dapat menyebabkan hidroureter hingga hidronefrosis. Urin
yang statis karena penyumbatan ginjalpun dapat menjadi media yang baik untuk
berkembangnya bakteri hingga dapat menyebabkan infeksi hingga urosepsis. Pada
keadaan tertentu pyonefrosis juga dapat terjadi pada batu saluran kemih bagian atas.
Perjalan pengeluaran batu juga dapat menimbulkan trauma pada ureter hingga dapat
membetuk striktur ureter.Dalam jangka waktu yang lama batu dapat mengiritasi
mukosa vesika urinaria secara kronis, hingga dapat menyebabkan komplikasi
karsinoma sel skuamosa.4,11

2.11 Prognosis
Prognosis BSK tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan adanya
infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu, makin buruk prognosisnya.

21
Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi.
Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi akan dapat
menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Pada pasien dengan batu yang ditangani dengan
ESWL, 60% dinyatakan bebas dari batu, sisanya masih memerlukan perawatan ulang
karena masih ada sisa fragmen batu dalam saluran kemihnya. Pada pasien yang
ditangani dengan PNL, 80% dinyatakan bebas dari batu, namun hasil yang baik
ditentukan pula oleh pengalaman operator.8

22
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Tn. AY
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki - Laki
No. CM : 002441
Alamat : Garot, Kab.Pidie
Suku : Aceh
Pekerjaan : Wiraswasta
Tgl masuk RS : 13/3/2020

3.2 Anamnesa

3.1.1 Keluhan Utama

Nyeri pinggang

3.1.2 Keluhan Tambahan

BAK berdarah

3.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien laki-laki, usia 64 tahun datang dengan keluhan nyeri di pinggang kanan
sejak 1 bulan yang lalu dan memberat 3 hari SMRS. Nyeri yang dirasakan hilang
timbul, menjalar ke selangkangan dan perut. Keluhan tidak membaik dengan mengubah
posisi. Nyeri timbul sewaktu-waktu bisa pada saat tidur ataupun sedang duduk. Nyeri
dari 1 bulan sampai sekarang dirasakan pasien semakin bertambah, sehingga
menyulitkan pasien untuk melakukan pekerjaannya.

23
Pasien juga mengeluhkan BAKnya berdarah sejak 3 minggu ini. Pasien mengaku
nyeri saat berkemih, aliran urine pada saat berkemih lancar, tidak terhambat ditengah-
tengah, tidak ada urine menetes saat berkemih, tidak pernah mengeluarkan batu kecil
ataupun pasir saat BAK. Pasien tidak ada mengalami keringat dingin ataupun
menggigil saat nyeri timbul, mual (+), muntah (-), pola BAB lancar konsistensi lunak.
Riwayat trauma yang mencederai perut disangkal, riwayat pernah terkena batu saluran
kemih disangkal, riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal. Pasien
memiliki kebiasaan sedikit minum air putih serta tidak diimbangi dengan kegiatan olah
raga rutin. Pasien juga sering duduk dalam waktu yang lama. Pasien mengaku tidak
pernah mengonsumsi minuman beralkohol.

3.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Keluhan serupa : Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama
Riwayat Hipertensi : Tidak ada
Riwayat DM : Tidak ada
Riwayat asam urat : Ada
3.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Keluhan serupa : Tidak ada
Riwayat Hipertensi : Tidak ada
Riwayat DM : Tidak ada

3.2.6 Riwayat Penggunaan Obat


Pasien sering mengkonsumsi obat paracetamol dan allopurinol yang dibeli dari
apotek

3.2.7 Riwayat Kebiasaan Sosial

 Pasien sering duduk dalam waktu yang lama

 Pasien memiliki kebiasaan sedikit minum air putih serta tidak diimbangi
dengan kegiatan olah raga rutin.

 Pasien seorang perokok

24
3.3 Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital :
 Tekanan Darah : 130/80 mmHg
 Frekuensi Nadi : 86 x/menit
 Frekuensi Pernapasan: 22 x/menit
 Suhu : 36.5˚ C

Status Generalis

Pemeriksaan Hasil
Kepala Normocephali, rambut hitam,
Mata Konjungtiva anemis -/-, refleks cahaya langsung +/+,
refleks cahaya tidak langsung +/+, sclera ikterik -/-
Telinga Normotia, liang telinga lapang +/+, membran timpani
intak +/+
Hidung Deformitas -, sekret -, mukosa hiperemis -
Mulut & tenggorokan Bibir tidak kering, oral hygiene cukup, tonsil T1/T1,
hiperemis -
Leher KGB tidak teraba membesar
Paru Normochest, bentuk dan gerak simetris
Stemfremitus kiri = kanan; ves (+/+), rh (-/-) ; wh (-/-)
Jantung S1S2 reguler, murmur -, gallop -
Abdomen Bentuk simetris, bising usus + normal,shifting dullnes -,
undulasi (-), nyeri tekan (+), Hepar tidak teraba
membesar, Lien tidak teraba membesar
Ekstremitas Akral hangat +, CRT < 2”, oedem -

Status Lokalis

Ginjal pada region costovertebral

 Inspeksi : dalam batas normal

25
 Palpasi : ballotement (-); nyeri tekan (+)
 Perkusi : nyeri ketuk (+)
Ureter pada region suprapubik
 Palpasi : nyeri tekan (-)
Vesica urinaria pada region suprapubik
 Inspeksi : dalam batas normal
 Palpasi : tidak teraba buli, nyeri tekan (-)
 Perkusi : nyeri ketuk (-)

3.4 Pemeriksaan Penunjang


3.4.1 Laboratorium (13/3/2020)

HEMATOLOGI

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

WBC 7.6 4.0-10.0 x103/ ul

LYM 2.3 1.2-3.2 x103/ ul

MON 0.6 0.3-0,8 x103/ ul

GRA 4.6 1.2-6.8 x103/ ul

RBC 4.75 4.00-6.00 x106/ ul

HGB 15.1 12.0-18.0 gr/dl

HCT 43.8 37.0-54.0 %

MCV 92.2 80.0-97.0 fL

MCH 31.6 26.0-34.0 pg

PLT 230 150-406 x103/ ul

KIMIA KLINIK

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Gula Darah 143 <199 mg/dl

26
Sewaktu

Ureum 22 15-45 mg/dl

Kreatinin* 1,6 0,7-1.2 mg/dl

Asam Urat* 9,0 3,4-7,0 mg/dl

Cholesterol Total 199 <200 mg/dl

Trigliserida 183 <200 mg/dl

URINALISA

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Warna Kuning Keruh

PH 6,0 4,6-7,2

Berat Jenis 1.015 1.015-1.025

Protein - (-) Negatif

Glukosa - (-) Negatif

Bilirubin - (-) Negatif

Keton - (-) Negatif

Urobilinogen - (-) Negatif

Nitrit - (-) Negatif

Leukosit - (-) Negatif

Blood* +3 (-) Negatif

Sedimen

 Eritrosit* 60-70 0-1 /LBP

 Leukosit* 10-15 0-5 /LBP

 Epitel 0-1

3.4.2 Foto BNO (13/3/2020)

27
3.4.3 USG Urologi dan Abdomen (16/3/2020)

28
29
Kesan:

 Liver, gallbladder, pancreas, splen normal

 Right kidney: ectasis sedang pcs dan proximal ureter

 Left kidney: ectasis ringan pcs dan proximal ureter

Kesimpulan:

 Ureterolithiasis dextra 1/3 proximal yang menyebabkan hidronefrosis sedang

 Ureterolithiasis sinistra 1/3 distal yang menyebabkan hidronefrosis ringan

3.5 Diagnosa Banding

1. Ureterolithiasis
2. Nefrolithiasis
3. ISK

3.6 Diagnosa kerja

Ureterolithiasis DS

30
3.7 Terapi :

Farmakologis :

- IVFD Rl 20 tts/menit
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Inj. Ranitidine 1A/12 jam
- Inj. Kalnex 1A/8 jam
- Inj. Ketorolac 1A/8 jam
Rencana :
Uretherolitotomi (17/3/2020)

3.8 Prognosis
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

31
FOLLOW UP PASIEN

Hari, Subjek, Objective, Planning


Tanggal Assesment

Sabtu, S/ nyeri pinggang (+) Th/


14/3/2020 Nyeri perut (+) - IVFD Rl 20 tts/menit
BAK berdarah (+) - Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
O/ KU: sakit sedang - Inj. Ranitidine 1A/12 jam
E4V5M6 - Inj. Kalnex 1A/8 jam
TD: 130/80 mmHg - Inj. Ketorolac 1A/8 jam
N: 84 x/i
RR: 22 x/i
T: 36,5oC
A/ Ureterolithiasis DS
Minggu, S/ Nyeri pinggang (+) Th/
15/3/2020 Nyeri perut (+) - IVFD Rl 20 tts/menit
BAK berdarah (+) - Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
O/ KU: Sedang E4V5M6 - Inj. Ranitidine 1A/12 jam
TD: 130/80 mmHg - Inj. Kalnex 1A/8 jam
N: 78 x/i - Inj. Ketorolac 1A/8 jam
RR: 22 x/i Rencana USG urologi abdomen Senin,
T: 36,1 oC 16/3/2020
A/ Ureterolithiasis DS
Senin, S/ Nyeri pinggang dan Th/
16/3/2020 perut berkurang - IVFD Rl 20 tts/menit
BAk berdarah sesekali - Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
O/ KU: Sedang E4V5M6 - Inj. Ranitidine 1A/12 jam
TD: 140/80 mmHg - Inj. Kalnex 1A/8 jam
N: 80 x/i - Inj. Ketorolac 1A/8 jam
RR: 22 x/i T: 36,5oC Rencana ureterolitotomi selasa,
A/ Ureterolithiasis DS 17/3/2020
Selasa, S/ Nyeri pinggang dan Th/

32
17/3/2020 perut berkurang - IVFD Rl 20 tts/menit
BAk berdarah sesekali - Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
O/ KU: Sedang E4V5M6 - Inj. Ranitidine 1A/12 jam
TD: 120/80 mmHg - Inj. Kalnex 1A/8 jam
N: 80 x/i - Inj. Ketorolac 1A/8 jam
RR: 22 x/i Dilakukan operasi terbuka
T: 37,1oC (ureterolitotomi)
A/ Ureterolithiasis DS Pasang drain

Pasang Kateter

Rabu, S/ Nyeri pada luka Th/


18/3/2020 operasi(+) - IVFD Rl 20 tts/menit
Pusing (+) - Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
O/ KU: baik E4V5M6 - Inj. Ranitidine 1A/12 jam
TD: 110/80 mmHg - Inj. Kalnex 1A/8 jam
N: 86 x/i - Inj. Ketorolac 1A/8 jam
RR: 22 x/i
T: 37,0oC
A/ Post ureterolitotomi
Kamis, S/ Nyeri pada luka operasi Th/
19/3/2020 berkurang - IVFD Rl 20 tts/menit
Nyeri pinggang (-) - Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
O/ KU: baik E4V5M6 - Inj. Ranitidine 1A/12 jam
TD: 120/80 mmHg - Inj. Kalnex 1A/8 jam
N: 80 x/i - Inj. Ketorolac 1A/8 jam
RR: 22 x/i
T: 36,9oC AFF drain
A/ Post ureterolitotomi
Jumat, S/ Nyeri pada luka operasi Th/
20/3/2020 berkurang - Cefixime 2x100 mg
Perut kembung (+) - Sistenol 3x1
O/ KU: baik E4V5M6 - Kalnex 3x1

33
TD: 130/80 mmHg - Lansoprazole 2x1
N: 84 x/i
RR: 22 x/i AFF infus dan kateter
T: 36,6oC
A/ Post ureterolitotomi
Sabtu, S/ Nyeri pada luka operasi Th/
21/3/2020 berkurang - Cefixime 2x100 mg
O/ KU: baik E4V5M6 - Sistenol 3x1
TD: 120/70 mmHg - Kalnex 3x1
N: 82 x/i - Lansoprazole 2x1
RR: 22 x/i
T: 36,8oC Os boleh berobat jalan dan Kontrol poli
A/ Post ureterolitotomi urologi

BAB IV

PEMBAHASAN

34
TEORI KASUS

 Batu saluran kemih (BSK) adalah  Pasien ini didiagnosa dengan


penyakit dimana didapatkan masa keras Batu Ureter Proximal (D)
seperti batu yang terbentuk di dan batu ureter distal (S) +
sepanjang saluran kemih baik saluran hidronefrosis
kemih atas (ginjal dan ureter) dan
saluran kemih bawah (kandung kemih
dan uretra), yang dapat menyebabkan
nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran
kemih dan infeksi.

 Secara faktor resiko terdapat faktor  Pada kasus ini pasien laki-
instrinsik dan faktor ekstrinsik yang laki dengan usia 60 tahun
mempermudah terjadinya batu, seperti dan bertempat tinggal di
keturunan, usia 30-60 tahun, jenis iklim tropis. Mempunyai
kelamin laki-laki lebih banyak daripada kebiasaan duduk dalam
perempuan. Secara geografi lebih waktu yang lama dan sedikit
banyak terdapat pada iklim panas, minum air putih.
kering, tandus, padang pasir dan daerah
tropis, lebih banyak pada musim panas,
dan pada orang yang asupan airnya
kurang. Batu ginjal juga sering pada
orang yang mempunyai pekerjaan
dengan mobilitas rendah.

 Untuk mendiagnosis batu ureter


ditegakkan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.

35
Pada anamnesis didapatkan :
 Gejala klinis didapatkan nyeri kolik  Pada kasus, didapatkan
pada pinggang yang dilewati batu. anamnesis :
Nyeri kolik ini disebabkan karena Nyeri pinggang, nyeri
peningkatan tekanan intralumen karena bersifat hilang timbul dan
usaha gerakan peristaltik ureter ataupun menjalar ke selangkangan
sistem kalises. Nyeri dapat menjalar ke dan perut. Nyeri tidak
selangkangan. Dapat terjadi hematuria berkurang dengan perubahan
karena trauma pada mukosa saluran posisi. BAK berdarah (+),
kemih yang disebabkan oleh batu. mual (+).
 Pada anamnesis juga ditanyakan
riwayat dan faktor resiko pasien.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
 Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK  Pada pemeriksaan fisik
dapat bervariasi mulai dari tanpa didapatkan :
kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit Nyeri ketok (+).
berat, tergantung pada letak batu dan Pemeriksaan ballottement (-)
penyulit yang ditimbulkan.
Pada Pemeriksaan penunjang didapatkan :
 Pemeriksaan darah lengkap,  Pada pemeriksaan penunjang
pemeriksaan ureum dan kreatinin didapatkan :
(didapatkan meningkat jika fungsi - Laboratorium
ginjalnya terganggu), pemeriksaan urin, Hb/RBC/WBC/PLT :
pemeriksaan radiologi (BNO/IVP) (15.1/4.75/7.600/280.000)
(terdapat gambaran radioopak pada Ur/Cr : 22/1,6
foto), USG (didapatkan acoustic Asam urat: 9,0 mg/dl
shadow atau hidronefrosis jika terjadi Pemeriksaan urin: blood +3,
obstruksi), CT scan (didapatkan eritrosit60-70/LBP, Leukosit
gambaran hiperdens). 10-15/LBP
- Foto BNO: batu radioopak

36
- USG radiologi: Batu Ureter
Proximal (D) dan batu ureter
distal (s) + hidronefrosis

 Penatalaksanaan, berujuan:  Pasien ini didiagnosa dengan


a) Menghilangkan batu untuk Batu Ureter Proximal (D)
mempertahankan fungsi ginjal dan batu ureter distal (s) +
b) Mengetahui etiologi untuk mencegah hidronefrosis, dilakukan
kekambuhan tindakan ureterolitotomi
Batu yang sudah menimbulkan masalah untuk mengeluarkan batu di
pada saluran kemih secepatnya harus ureter.
dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit
yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan
tindakan/terapi pada batu saluran kemih adalah
jika batu telah menimbulkan obstruksi, infeksi,
atau harus diambil karena suatu indikasi sosial.
Obstruksi karena batu saluran kemih yang telah
menimbulkan hidroureter atau hidronefrosis
dan batu yang sudah menyebabkan infeksi
saluran kemih harus segera dikeluarkan.

BAB V

KESIMPULAN

37
Urolithiasis adalah keadaan dimana adanya batu pada saluran kemih dimulai dari
ginjal, ureter, vesika urinaria hingga uretra. Penyakit batu saluran kemih menempati
posisi ketiga paling sering ditemukan pada urologi dengan seiringnya waktu karena
perubahan pola hidup dan diet masyarakat. Ada beberapa jenis batu yang dapat
terakumulasi pada saluran kemih, batu kalsium oksalat, kalsium fosfat, batu urat, batu
struvit dan batu campuran. Gejala yang ditimbulkan pada penyakit ini bergantung pada
lokasi ataupun obstruksi yang ditimbulkan oleh batu tersebut.
Komplikasi batu saluran kemih yang sering tejadi adalah penyumbatan total dari
saluran sehingga menyebabkan flow back pada urin. Efek dari flow back dari urin adalah
dapat terjadinya hidroureter hingga hidronefrosis. Pada kasus tertentu urosepsis dapat
terjadi pada pasien. Gejala yang terdapat pada urolithiasis adalah antara lain Obstructive
Lower Urinary Track Syndrome, mual muntah, demam, nyeri kolik pada pinggang,
hematuria dan sensasi keluarnya pasir saat berkemih.
Penatalaksanaan urolithiasis antara lain adalah dengan medika mentosa ataupun
intervensi bedah. Tindakan bedah yang dilakukan dapat bersifat invasive dan non invasiv.
Tindakan invasiv seperti litotripsi, PNL, bedah laparoskopi. Tindakan non-invasiv antara
lain ESWL. Pasien dapat mencegah terjadinya batu dengan cara mengatasi infeksi saluran
kemih yang dialaminya, mengontrol kadar zat dalam darahnya dan hidrasi yang cukup.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Farizal J. Hubungan kebiasaan lama duduk terhadap proses terbentuknya


Kristal urin pada penjahit di wilayah kota Bengkulu. Jurnal kesehatan
Kemenkes Bengkulu. 2018 April;6(1):36-40.
2. Aulia FN. Batu Saluran Kemih. Batam: Fakultas Kedokteran Universitas
Batam; 2016.
3. Zamzami Z. Penatalaksanaan Terkini Batu Saluran Kencing di RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru, Indonesia. Jurnal Kesehatan Melayu. 2018 April;1(2):60-
66.
4. Purnomo B. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ketiga. Jakarta: Sagung Seto; 2014.
5. Meiliasari T. Batu Saluran Kemih. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta; 2015.
6. Indasari M. Pielolithiasis. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta; 2013.
7. Nisa U, Peristiwa R. Pasien laki-laki usia 29 tahun dengan urolithiasis di
Klinik Saintifikasi Jamu: Sudi kasus. Jurnal Sains dan Kesehatan. 2020
November;2(3):171-173.
8. Risgiantini N. Ureterolithiasis. Bekasi: Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi;
2014.
9. Suryanto F, Agung A. Gambaran Hasil Analisis Batu Saluran Kemih Di
Laboratorium Patologi Klinis RSUP Sanglah Denpasar Periode November
2013- Oktober 2014. E-Jurnal Medika. 2017 Januari;6(1):1-4.
10. Dave C. 2017. Nephrolithiasis. Medscape. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/437096-overview [accessed 16 Januari
2018]
11. Fauzi A, Manza M. Nefrolitiasis. Jurnal Majority.2016 April;5(2):69-73.

39