Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

TINGTUR KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii)

Disusun Oleh :
Nama : Meiliza Handayani
NIM : 1833079
Tanggal Laporan : 17 Juni 2020

PROGRAM STUDI FARMASI


INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
PEMBUATAN TINGTUR KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii)

A. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan tingtur kayu manis (Cinnamomum
burmannii)

B. Prinsip Percobaan
Menarik zat aktif dari kayu manis (Cinnamomum burmannii) menggunakan metode
maserasi atau perkolasi dengan menggunakan pelarut yang sesuai.

C. Landasan Teori
Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi
simplisia dalam pelarut yang tertera pada masing-masing monografi. Kecuali dinyatakan
lain, tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10% zat berkhasiat keras.
Dalam literatur yang lain, tingtur disebutkan sebagai sari (ekstrak) simplisia nabati atau
hewani yang kering, dengan zat cair yang mengandung etanol. Protein yang terdapat
dalam simplisia tidak larut dalam cairan yang mengandung etanol, sehingga sediaan
menjadi stabil dan tidak akan busuk. Di dalam sediaan ini juga tidak terjadi proses
pemeraman (fermentasi), karena enzim tidak bekerja di dalam cairan yang mengandung
etanol dengan jumlah yang tertera dalam tingtur.
Tingtur umumnya dibuat dengan cara perkolasi atau maserasi. Cara pembuatan
menggunakan metode perkolasi yaitu kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut:
basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok
dengan 2,5-5,0 bagian cairan penyari, masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-
kurangnya selama 3 jam. Pindahkan massa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator
sambil tiap kali ditekan hati-hati, tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan
mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup
perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml/menit,
tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis
cairan penyari di atas simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras massa,
campurkan cairan perasan ke dalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya
hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam bejana, tutup, biarkan selama 2 hari di
tempat sejuk, terlindung dari cahaya. Enap tuangkan atau saring. Jika dalam monografi
tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80 bagian perkolat, tetapkan kadarnya. Atur
kadar hingga memenuhi syarat, jika perlu encerkan dengan penyari secukupnya. Di
dalam Ned. Ph. V, tingtur-tingtur yang dibuat dengan cara perkolasi umumnya
digunakan untuk simplisia yang berkhasiat keras, yang diatur dalam Konvensi dan diberi
simbol F.I. Sebagai perkecualian adalah Tingtur Opii, yang dibuat dengan cara maserasi.
Untuk cara pembuatan menggunakan metode maserasi yaitu Kecuali dinyatakan
lain, lakukan sebagai berikut : masukkan 10 bagian simplisia atau campuran simplisia
dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan
penyari, tutup, biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, serkai,
peras, cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian.
Pindahkan dalam bejana tertutup, biarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama
2 hari. Enap tuangkan atau saring. Di dalam Ned. Ph. V, tingtur-tingtur yang dibuat
dengan cara maserasi umumnya digunakan untuk simplisia yang tidak berkhasiat keras.
Sebagai perkecualian adalah Tingtur Chinae dan Tingtur Cinnamomi yang dibuat dengan
cara perkolasi.
Adapun simplisia yang akan dipakai yaitu kayu manis (Cinnamomum burmannii)
dengan klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum burmannii (Nees &Th. Nees)
Tinggi tanaman kayu manis berkisar antara 5 – 15 m, kulit pohon berwarna abu-
abu tua berbau khas, kayunya berwarna merah coklat muda. Daun tunggal, kaku seperti
kulit, letak berseling, panjang tangkai daun 0,5 – 1,5 cm, dengan 3 buah tulang daun
yang tumbuh melengkung. Bentuk daun elips memanjang, panjang 4,00 – 14,00 cm,
lebar 1,50 – 6,00 cm, ujung runcing, tepi rata, permukaan atas licin warnanya hijau,
permukaan bawah bertepung warnanya keabu-abuan. Daun muda berwarna merah pucat.
Bunganya berkelamin dua atau bunga sempurna dengan warna kuning. Ukurannya kecil.
Kelopak bunga berjumlah 6 helai dalam dua rangkaian. Bunga ini tidak bertajuk bunga.
Benang sarinya berjumlah 12 helai yang terangkai dalam empat kelompok, kotak sarinya
beruang empat. Persarian berlangsung dengan bantuan serangga. Buahnya buah buni
berbiji satu dan berdaging. Bentuknya bulat memanjang. Warna buah muda hijau tua dan
buah tua ungu tua. Panjang buah sekitar 1,30 – 1,60 cm, dan diameter 0,35 – 0,75 cm.
Panjang biji 0,84 – 1,32 cm dan diameter 0,59 - ,68 cm.
Menurut Farmakope Indonesia edisi III cara pembuatan tingtur kayu manis yaitu
dibuat dari 20 bagian serbuk kulit kayu manis dengan etanol encer hingga diperoleh 100
bagian tingtur. Metode yang akan digunakan yaitu adalah maserasi. Maserasi merupakan
cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk
dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya
perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dengan yang diluar sel, maka
larutan yang terekat terdesak keluar. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang
mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat
yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandug benzoin, stirak dan
lain-lain. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol atau pelarut
lain. Pada penyarian maserasi ini, perlu dilakukan pengadukan. Pengadukan diperlukan
untuk meratakan konsentrasi larutan diluar butir serbuk simplisia, sehingga dengan
pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sekecil-
kecilnya antara larutan didalam sel dengan larutan diluar sel.
D. Gambar Rangkaian Alat

E. Alat dan Bahan


Alat :
1. Baker Glass
2. Batang Pengaduk
3. Gelas Ukur
4. Pipet Tetes
5. Corong Gelas
6. Aluminium Foil

Bahan :
1. Serbuk Kayu Manis
2. Etanol 70%

F. Cara Kerja Pembuatan Tingtur Kayu Manis


1. Timbang serbuk kayu manis dengan menggunakan neraca analitik. Masukkan ke
dalam baker glass.
2. Larutkan dengan sedikit etanol 70% aduk hingga basahnya merata, kemudian
tambahkan sedikit demi sedikit etanol 70% tersebut dan aduk hingga benar-benar
merata.
3. Diamkan selama ±1-2 jam.
4. Semua pengerjaan harus ditutup dengan aluminium foil.
5. Kemudian saring dengan kertas saring dan didapatkan tingtur kayu manis.
G. Hasil dan Pembahasan
Pembuatan tingtur kayu manis yaitu dibuat dari 20 bagian serbuk kulit kayu manis
dengan etanol encer hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Metode yang digunakan yaitu
adalah maserasi dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan
penyari yang digunakan yaitu etanol 70% dan didiamkan selama ± 3jam. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Khasanah, L.U, dkk (2018), ekstraksi oleoresin
daun kayu manis dengan etanol 70% dengan pendiaman dan tanpa pendiaman
menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan ekstraksi oleoresin daun kayu
manis dengan etanol 95% dengan pendiaman dan tanpa pendiaman, begitu juga dengan
kulit batang kayu manis rendemen paling tinggi dihasilkan dengan kombinasi perlakuan
tanpa pendiaman pada suhu ruang selama 12 jam dengan konsentrasi pelarut etanol 70%
(24,130%). Hal ini terjadi karena etanol dengan konsentrasi 70 % memiliki kandungan
air yang lebih tinggi daripada etanol 95%. Air yang bersifat polar akan meningkatkan
polaritas etanol sehingga air akan bercampur dengan pati yang terdapat pada bahan (Jos
dkk., 2011).
Perbedaan konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi hasil rendemen oleoresin.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Kurniasari dkk. (2017), semakin tinggi
konsentrasi etanol akan menurunkan rendemen oleoresin. Hal ini disebabkan karena
dengan meningkatnya konsentrasi etanol akan menurunkan tingkat kepolaran etanol yang
merupakan campuran etanol dengan air. Sehingga dengan konsentrasi lebih rendah akan
memiliki tingkat kepolaran yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan kemampuan
pelarut mengekstrak kandungan oleoresin yang bersifat polar.
Pada praktikum kali ini dilakukan pendiaman selama ±3jam karena berdasarkan
teori perlakuan pendiaman dapat meningkatkan rendemen. Hal ini disebabkan karena
adanya pendiaman dapat memperpanjang waktu kontak bahan dengan pelarut. Semakin
lama kontak pelarut dengan bahan menyebabkan laju difusi pelarut ke dalam padatan
semakin besar sehingga akan meningkatkan rendemen yang didapatkan (Ariyani, 2008).
Akan tetapi pada penelitian yang dilakukan oleh Khasanah, L.U, dkk (2018) terdapat
ketidaksesuaian hasil dengan teori untuk ekstraksi dengan konsentrasi etanol 70%, yaitu
pada konsentrasi tersebut didapatkan rendemen oleoresin hasil pendiaman lebih rendah
jika dibandingkan perlakuan tanpa pendiaman. Hal tersebut dikarenakan kayu manis
dapat mengalami penggumpalan apabila kontak dengan pelarut terlalu lama (Guenther,
1987).
Kayu manis mudah menggumpal antar partikelnya sehingga dapat mengurangi
rendemen (Eikani et al., 2013). Penurunan rendemen yang terjadi pada pelarut
konsentrasi 70% dan tidak terjadi pada konsentrasi 95% disebabkan karena pada
konsentrasi 70% lebih polar dibandingkan 95% sehingga lebih melarutkan senyawa
dalam kayu manis karena sebagian besar bersifat senyawa polimer polar (Jos, 2011).
Oleh sebab itu, dengan menggunakan konsentrasi 70% akan melarutkan lebih banyak
senyawa aktif beserta kandungan polisakarida yang terdapat pada kayu manis (Saifudin,
2012). Dengan jumlah polisakarida yang terlarut lebih banyak pada konsentrasi 70% ini,
dapat menyebabkan cepat terjadinya penggumpalan dan menjadi lengket selama
ekstraksi dengan panas dan menyebabkan pelarut sulit untuk dipisahkan dengan bahan
saat penyaringan sehingga mampu menurunkan rendemen yang dihasilkan (Koswara,
2006). Hal ini tidak terjadi pada konsentrasi 95% karena tidak melarutkan polisakarida
dalam jumlah yang banyak.

H. Kesimpulan
Pembuatan tingtur kayu manis yaitu dibuat dari 20 bagian serbuk kulit kayu manis
dengan etanol encer hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Metode yang digunakan yaitu
adalah maserasi dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan
penyari yang digunakan yaitu etanol 70% dan didiamkan selama ± 3jam.
Perbedaan konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi hasil rendemen dimana
semakin tinggi konsentrasi etanol akan menurunkan rendemen maka dari itu lebih baik
menggunakan etanol 70% dibanding etanol 96%.
Dilakukan pendiaman selama ±3jam karena perlakuan pendiaman dapat
meningkatkan rendemen. Hal ini disebabkan karena adanya pendiaman dapat
memperpanjang waktu kontak bahan dengan pelarut. Semakin lama kontak pelarut
dengan bahan menyebabkan laju difusi pelarut ke dalam padatan semakin besar sehingga
akan meningkatkan rendemen yang didapatkan.

I. Daftar Pustaka
Khasanah, L. U., dkk. 2018. Pengaruh Perlakuan Pendiaman dan Konsentrasi Etanol
terhadap Oleoresin Daun dan Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii).
Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
Armando, R. 2009. Memproduksi 15 Jenis Minyak Atsiri Berkualitas. Penebar Swadaya
: Jakarta.
Hidayat, M.A, dan Kuswandi B. Modul 1, Obat Sintetik dan Obat Herbal. Kimia
Farmasi.
Jos, B., Bambang P., dan Aprianto. 2011. Ekstraksi Oleoresin Dari Kayu Manis
Berbantu Ultrasonik Dengan Menggunakan Pelarut Alkohol.

Anda mungkin juga menyukai