Anda di halaman 1dari 16

9 9

   

Kelenjar paratiroid adalah kelenjar sangat kecil yang terletak pada setiap
lobus bagian posterior dan tiroid. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon
paratiroid (parathyroid hormone, PTH) atau parahormon. Fungsi utama hormon
paratiroid adalah mengatur kadar kalsium fosfat dalam darah. Tidak seimbangnya
kalsium dan fosfat dalam darah akan mengakibatkan gangguan transmisi impuls
saraf, kerusakan jaringan tulang, gangguan pertumbuhan tulang, dan tetani otot.

Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat
dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di
kutub inferiornya. Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat
cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di
mediastinum.Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3
milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak
coklat kehitaman.

Kelenjar paratiroid sulit untuk ditemukan selama operasi tiroid karena kelenjar
paratiroid sering tampak sebagai lobulus yang lain dari kelenjar tiroid. Dengan
alasan ini, sebelum manfaat dari kelenjar ini diketahui, pada tiroidektomi total atau
subtotals sering berakhir dengan pengangkatan kelenjar paratiroid juga.
Pengangkatan setengah bagian kelenjr paratiroid biasanya menyebabkan sedikit
kelainan fisiologik. Akan tetapi, pengangkatan pengangkatan tiga atau empat
kelenjar normal biasanya akan menyebabkan hipoparatiroidisme sementara. Tetapi
bahkan sejumlah kecil dari jaringan paratiroid yang tinggal biasanya sudah mampu
mengalami hipertrofi dengan cukup memuaskan sehingga dapat melakukan fungsi
semua kelenjar. Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung

c    ›

sel utama (chief cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus
retikulum endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi
hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar
mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya.
Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel
ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagian besar binatang dan manusia muda,
sel oksifil ini tidak ditemukan. Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini
mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi
sejumlah hormon. Sel darah merah Sel oksifil Sel utama (chief cell).

Hormon paratiroid (PTH) manusia adalah suatu polipeptida linear dengan berat
molekul 9500 yang mengandung 84 residu asam amino. Strukturnya sangat mirip
dengan PTH sapi dan babi. PTH disintesis sebagai bagian dari suatu molekul yang
lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (prapo-PTH). Setelah prapo-
PTH masuk ke dalam retikulum endoplasma, maka leader sequence yang terdiri dari
25 residu asam amino dikeluarkan dari terminal N untuk membentuk polipeptida
pro-PTH yang terdiri dari 90 asam amino. Enam residu asam amino lainnya juga
dikeluarkan dari terminal N pro-PTH di apparatus Golgi, dan produk sekretorik
utama chief cells adalah polipeptida PTH yang terdiri dari 84 asam amino. Kadar
normal PTH utuh dalam plasma adalah 10-55 pg/mL. Waktu paruh PTH kurang dari
20 menit, dan polipeptida yang disekresikan ini cepat diuraikan oleh sel-sel Kupffer
di hati menjadi 2 polipeptida, sebuah fragmen terminal C yang tidak aktif secara
biologis dengan berat molekul 2500.

c    ^



c    0

9 9




EFEK HORMON PARATIROID

Hormon paratiroid bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan


resorpsi tulang dan memobilisasi Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan
menurunkan fosfat plasma, PTH meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek
fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal.
PTH juga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+
biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme karena terjadi peningkatan jumlah
yang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH juga meningkatkan pembentukan
1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang secara fisiologis aktif.
Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini tampaknya
disebabkan hanya akibat stimulasi pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol.
Efek hormon paratiroid terhadap konsentrasi kalsium dan fosfat dalam cairan
ekstraselular
Naiknya konsentrasi kalsium terutama disebabkan oleh dua efek berikut ini: (1) efek
hormon paratiroid yang menyebabkan terjadinya absorpsi kalsium dan fosfat dari
tulang, dan (2) efek yang cepat dari hormon paratiroid dalam mengurangi ekskresi
kalsium oleh ginjal. Sebaliknya berkurangnya konsentrasi fosfat disebabkan oleh
efek yang sangat kuat dari hormon paratiroid terhadap ginjal dalam menyebabkan
timbulnya ekskresi fosfat dari ginjal secara berlebihan, yang merupakan suatu efek
yang cukup besar untuk mengatasi peningkatan absorpsi fosfat dri tulang.

Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari tulang yang disebabkan oleh hormon paratiroid.
Hormon paratiroid mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi
kalsium dan fosfat. Pertama merupakan suatu tahap cepat yang dimulai dalam

c    è

waktu beberapa menit dan meningkat secara progresif dalam beberapa jam. Tahap
ini diyakini disebabkan oleh aktivasi sel-sel tulang yang sudah ada (terutama
osteosit) untuk meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang kedua adalah
tahap yang lebih lambat, dan membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan
beberapa minggu untuk menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh
adanya proses proliferasi osteoklas, yang diikuti dengan sangat meningkatnya
reabsorpsi osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat
kalsium dari tulang. Fase cepat absorpsi kalsium dan fosfat (osteolisis) Bila
disuntikan sejumlah besar hormon paratiroid, maka dalam waktu beberapa menit
konsentrasi ion kalsium dalam darah akan meningkat, jauh sebelum setiap sel tulang
yang baru dapat terbentuk. Hormon paratiroid dapat menyebabkan pemindahan
garam-garam tulang dari dua tempat didalam tulang:

(1) dari matriks tulang disekitar osteosit yang terletak didalam tulangnya sendiri dan

(2) disekitar osteoblas yang terletak disepanjang permukaan tulang.

Pada membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein reseptor untuk mengikat
hormon paratiroid. Hormon paratiroid dapan mengaktifkan pompa kalsium dengan
kuat, sehingga menyebabkan pemindahan garam-garam kalsium fosfat dengan cepat
dari kristal tulang amorf yang terletak dekat dengan sel. Hormon paratiroid diyakini
merangsang pompa ini dengan meningkatkan permeabilitas ion kalsium pada sisi
cairan tulang dari membran osteositik, sehingga mempermudah difusi ion kalsium
ke dalam membran sel cairan tulang. Selanjutnya pompa kalsium di sisi lain dari
membran sel memindahkan ion kalsium yang tersisa tadi kedalam cairan
ekstraselular.

Fase lambat absorpsi tulang dan pelepasan kalsium dan fofat (aktivasi osteoklas)
Suatu efek hormon paratiroid yang lebih banyak dikenal dan yang penjelasannya

c    £

lebih baik adalah aktivasi hormon paratiroid terhadap osteoklas. Namun osteoklas
sendiri tidak memiliki protein reseptor membran untuk hormon paratiroid.
Sebaliknya diyakini bahwa osteoblas dan osteosit teraktivasi mengirimkan suatu
sinyal sekunder tetapi tidak dikenali ke osteoklas, menyebabkan osteoklas memulai
kerjanya yang biasa, yaitu melahap tulang dalam waktu berminggu-minggu atau
berbulan-bulan. Aktivasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap yaitu:

(1) aktivasi yang berlangsung dari semua osteoklas yang sudah terbentuk

(2) pembentukan osteoklas yang baru.

Kelebihan hormon paratiroid selama beberapa hari biasanya menyebabkan sistem


osteoklastikberkembang dengan baik, tetapikarena pengaruh rangsangan hormon
paratiroid yang kuat, pertumbuhan ini berlangsung terus selama berbulan-bulan.
Setelah beberapa bulan, resorpsi osteoklastik tulang dapat menyebabkan lemahnya
tulang dan menyebabkan rangsangan sekunder pada osteoblas yang mencoba
memperbaiki keadaan tulang yang lemah. Oleh karena itu, efek yang terakhir dari
hormon paratiroid yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan aktivitas dari
osteoblastik dan osteoklastik. Namun, bahkan pada tahap akhir, masih terjadi lebih
banyak absorpsi tulang daripada pengendapan tulang dengan adanya kelebihan
hormon paratiroid yang terus menerus. Bila dibandingkan dengan jumlah total
kalsium dalam cairan ekstraselular (yang besarnya kira-kira 1000 kali), ternyata
tulang mengandung banyak sekali kalsium, bahkan bila hormon paratiroid
menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium yang sangat besar dalam cairan
ekstraselular, tidaklah mungkin untuk memperhatikan adanya efek yang
berlangsung dengan segera pada tulang. Pemberian atau sekresi hormon paratiroid
yang diperlama (dalam waktu beberapa bulan atau tahun) akhirnya menyebabkan
absorpsi seluruh tulang yang sangat nyata dengan disertai pembentukan rongga-
rongga yang besar yang terisi dengan osteoklas besar berinti banyak.


c   


Efek hormon paratiroid terhadap ekskresi fosfat dan kalsium oleh ginjal Pemberian
hormon paratiroid menyebabkan pelepasan fosfat dengan segera dan cepat masuk
kedalam urin karena efek dari hormon paratiroid yng menyebabkan berkurangnya
reabsorpsi ion fosfat pada tubulus proksimal. Hormon paratiroid juga meningkatkan
reabsorpsi tubulus terhadap kalsium pada waktu yang sama dengan berkurangnya
reabsorpsi fosfat oleh hormon paratiroid. Selain itu, hormon ini juga menyebabkan
meningkatnya kecepatan reabsorpsi ion magnesium dan ion hydrogen, sewaktu
hormon ini mengurangi reabsorpsi ion natrium, kalium dan asam amino dengan cara
yang sangat mirip seperti hormon paratiroid mempengaruhi fosfat. Peningkatan
absorpsi kalsium terutama terjadi di bagian akhir tubulus distal, duktus koligentes,
dan bagian awal duktus koligentes. Bila bukn oleh karena efek hormon paratiroid
pada ginjal yang meningkatkan reabsorpsi kalsium, pelepasan kalsium yang
berlangsung terus menerus pada akhirnya akan menghabiskan mineral tulang ini
dari cairan ekstraselular dan tulang. Efek hormon paratiroid pada absorpsi kalsium
dan fosfat dalm usus Hormon paratiroid sangat berperan dalam meningktkan
absorpsi kalsium dan fosfat dari usus dengan cara meningkatkan pembentikan 1,25
dihidroksikolekalsiferol dari vitamin D. Efek vitamin D pada tulang serta
hubungannya dengan aktivitas hormon paratiroid Vitamin D memegang peranan
penting pada absorpsi tulang dan pengendapan tulang. Pemberian vitamin D yang
banyak sekali menyebabkan absorpsitulang yang sangat mirip dengan pemberian
hormo paratiroid. Juga, bila tidak ada vitamin D, maka efek hormon paratiroid
dalam menyebabkan absorpsi tulang sangat berkurang atau malahan dihambat.
Mekanisme kerja vitamin D ini belum diketahui, tetapi diyakini merupakan hasil
dari efek 1,25 dihidroksikalsiferol (yang merupakan produk utama dari vitamin D)
dalam meningkatkan pengangkutan kalsium melewati membran sel. Vitamin D
dalam jumlah yang lebih kecil meningkatkan kalsifikasi tulang. Salah satu cara yang
dapat dipakai untuk meningkatkan kalsifikasi adalah dengan cara meningkatkan
absorpsi kalsium dan fosfat dari usus. Akan tetapi, bahkan bila tidak ada

c    å

peningkatan, absorpsi akan tetap meningkatkan proses mineralisasi tulang. Sekali
lagi, mekanisme terjadinya efek ini tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh
kemampuan 1,25 dihidroksikolekalsiferol untuk menyebabkan timbulnya
pengangkutan ion kalsium melewati membran sel. Sebagian besar efek hormon
paratiroid pada organ sasarannya diperentarai oleh siklik adenosin monofosfat
(cAMP) yang bekerja sebagai mekanisme second messenger. Dalam waktu
beberapa menit setelah pemberian hormon paratiroid, konsentrasi cAMP di dalam
osteosit, osteoklas, dan sel-sel sasaran lainnya meningkat. Selanjutnya, cAMP
mungkin bertanggung jawab terhadap beberapa fungsi osteoklas seperti sekresi
enzim dan asam-asam sehingga terjadi reabsorpsi tulang, pembentukan 1,25
dihidroksikolekalsiferol di dalam ginjal dan sebagainya. Mungkin masih ada efek-
efek langsung lain dari hormon paratiroid yang efeknya tidak bergantung pada
mekanisme second messenger.

Pengaturan sekresi paratiroid oleh konsentrasi ion kalsium Bahkan penurunan


konsentrasi ion kalsium yang paling sedikit pun dalm cairan ekstraselular akan
menyebabkan kelenjar paratiroid meningkatkan kecepatan sekresinya dalam waktu
beberapa menit; bila penurunak konsentrasi ion kalsium menetap, kelenjar
paratiroid akan menjadi hipertrofi, sering lim kali atau lebih. Contohnya, kelenjar
paratiroid akan menjadi sangat besar pada Rikets, dimana kadar kalsium biasanya
hanya tertekan sedikit; juga, kelenjar akan menjadi sangat besar saat hamil,
walaupun penurunan konsentrasi ion kalsium pada cairan ekstraselular ibu sangat
sulit diukur; dan kelenjar sangat membesar selama laktasi karena kalsium digunakan
untuk pembentukan air susu ibu. Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan
konsentrasi ion kalsium diatas nilai normal akan menyebabkan berkurangnya
aktivitas dan ukuran kelenjar paratiroid. Beberapa keadaan tersebut meliputi:

(1) jumlah kalsium yang berlebihan dalam diet

Ñ
c   


(2) meningkatnya vitamin D dalam diet

(3) absorpsi tulang yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan
hormon paratiroid (contohnya absorpsi tulang yang disebabkan oleh tidak
digunakannya tulang itu).

Kontrol dari hormon Paratiroid. Sekresi dari hormon paratiroid tergantung dari
suatu negative feed-back mechanism yang diatur oleh kadar ion kalsium dalam
plasma. Juga ada hormon lain yang ikut mengatur kadar kalsium dalam serum yaitu
calcitonin atau thyrocalcitonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid.
Beberapa observasi menunjukan bahwa ada hubungan antara paratiroid dengan
kelenjar-kelenjar endokrin lain. Umpamanya pernah didapat hiperplasia kelenjar
paratiroid pada akromegali, sindrom Cushing, dan penyakit Addison. Hipofisektomi
(pada binatang) menyebabkan involutiodari kelenjar-kelenjar paratiroid, sedangkan
pemberian hormon pertumbuhan (GH), adrenokortikotropin (ACTH), ekstrak lobus
anterior hipofisis dan steroid-steroid adrenal mengakibatkan hiperplasia dari
kelenjar-kelenjar paratiroid. Tetapi mungkin pula bahwa perubahan kelenjar-
kelenjar paratiroid adalah sekunder akibat perubahan kadar fosfat dalam serum yang
disebabkan oleh hormon-hormon tersebut. Hiperplasia dari kelenjar-kelenjar
paratiroid terdapat dalam keadaan-keadaan dimana ada tendens dari ion kalsium
untuk menurun, umpamanya pada penyakit Rachitis (atau Osteomalacia),
kehamilan, hilangnya kalsium dalam darah dan insufisiensi ginjal yang disertai
retensi fosfor.

Menentukan jumlah hormon paratiroid dalamdarah dukar sekali. Karena itu


aktivitas dari paratiroid dihitung dengn memeriksa perubahan-perubahan
metabolisme dari zat-zat yang dipengaruhinya, yang terpenting adalah kalsium,
fosfat dan fosfatase alkali.

Œ
c   


1)| Percobaan Sulkowitch: Dengan memakai reagens dari Sulkowitch kita dapat
memeriksa apakah jumlah kalsium dalam urin berubah. Pemeriksaan kuantitas
ini penting untuk mengevaluasi sekresi kalsium oleh urin dan dengan demikian
aktivitas dari paratiroid.
Jika pada percobaan Sulkowitch:

a) Tidak terdapat endapan maka kadar kalsium dalam plasma diperkirakan


antara 5-7,5 mgr%.

b) Endapan yang sedikit (menyerupai fine white cloud) menunjukan bahwa


kadar kalsium dalam darah normal.

c) Endapan yang banyak menunjukan adanya hiperkalsemia.

2) Percobaan Ellsworth-Howard: Percobaan ini berdasarkan diuresis fosfor yang


dipengaruhi oleh hormon paratiroid (baik yang endogen maupun yang eksogen)
serta mekanisme reabsorpsi fosfor dalam tubuli ginjal. Pada percobaan ini hormon
paratiroid disuntikan intravena dan kemudian diperiksa diuresis fosfat. Evaluasi
adalah sebagai berikut:

a) Hipoparatiroidisme: Diuresis fosfat bertambah sampai 5-6 kali biasa.

b) Pseudohipoparatiroidisme: Diuresis fosfat bertambah hanya sedikit, paling


banyak sampai 2 kali biasa. Ini disebabkan karena tubuli ginjal refrakter terhadap
hormon paratiroid.

c) Hiperparatiroidisme: Diuresis fosfat tidak nyata bertambah.

›
c   


3) Percobaan kalsium intravena: Berdasarkan anggapan bahwa bertambahnya kadar
kalsium serum mensupresi pembuatan hormon paratiroid. Evaluasi adalah sebagai
berikut:

a) Normal: Kalsium serum meninggi dan diuresis kalsium berkurang.

b) Hipoparatiroidisme: Kalsium serum hampir tidak berubah tetapi diuresis kalsium


bertambah.

c) Hiperparatiroidisme: Kalsium seru dan diuresis kalsium tidak berubah.

4) Indeks aktivitas paratiroid: Prinsip indeks ini berdasarkan reabsorpsi tubuler dari
fosfat anorganik yang diatur oleh hormon paratiroid. Karena itu rasio reabsorpsi
tubuler dan filtrasi glomerulus dari fosfat akan menghasilkan suatu indeks dari
aktivitas paratiroid.

  
Jika konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraseluler turun sampai dibawah
normal, kembalikan sampai normal kembali. Dalam hubungannya dengan
peningkatan konsentrasi kalsium, konsentrasi ion fosfat dalam darah
akanditurunkan. Hormon paratiroid menunjukkan kerjanya sebagai stimulasi dengan
tiga proses :
    : Pada mekanisme yang tak jelas, efek hormon
tiroid adalah menstimulasi osteoclast terhadap reabsorpsi mineral pada tulang,
liberasi kalsium dalam darah.

       : Terfasilitasnya absorpsi kalsium


dari usus halus akan meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Hormon paratiroid
menstimulasi proses ini, tetapi secara tidak langsung melalui stimulasi produksi
senyawa aktif yaitu vitamin D dalam ginjal. Vitamin D menginduksi sintesis ikatan

››
c   


kalsium-protein dalam sel epitel usus halus dan yang memberikan fasilitas absorpsi
yang efisien terhadap kalsium ke dalam darah.

        : Sebagai tambahan adanya


stimulasi yang terus-menerus kalsium ke dalam darah dari tulang dan usus halus,
hormon paratiroid merusak ekskresi kalsium dalam urin, selanjutnya akan menahan
kalsium dalam darah. Efek ini diantarai oleh stimulasi reabsorpsi tubuler kalsium.
Efek lain dari hormon paratiroid pada ginjal yaitu menstimulasi ion fosfat dalam
urin.

Sebagai informasi tambahan tentang bagaimana hormon paratiroid dan vitamin D


dalam mengontrol kesetimbangan kalsium dapat diemukan dalam bab Pengontrolan
endokrin terhadap kalsium homeostasis.
 
 
Pelepasan hormon tiroid sebagai respon terhadap menurunnya konsentrasi kalsium
bebas dalam ekstraseluler. Perubahan konsentrasi fosfat dalam darah dapat
dinyatakan pula sebagai sekresi hormon paratiroid, tetapi hal ini muncul karena efek
yang tidak langsung dan tidak nyata bedanya sebagai pengatur hormon ini.
Ketika kadar kalsium turun sampai di bawah normal, pada tahap ini terjadi
peningkatan sekresi hormon paratiroid. Berkurangnya kadar hormon akan
menyebakna kadar kalsium darah akan naik. Gambar A menjelaskan tentang
pelepasan hormon paratiroid dari kultur sel secara in vitro pada perbedaan kadar
kalsium.

c    ›^

u    
    
Gambar B menjelaskan akan sel paratiroid dalam memonitor kadar kalsium bebas
dalam ekstraseluler melalui bentuk integral protein membran yng fungsinya
sebagai !"#
$ " .

u9 !"#
$ " 
$  
Hormon Paratiroid dan Hormon Paratiroid-hubungan protein (PTHrP) merupakan
hormon yang mengontrol kesetimbangan kalsium dan fosfor. Reseptor untuk kedua
hormon tersebut sudah dilakukan penelitian, karena adanya pengembangan fasilitas
terhadap antagonis untuk perlakuan dalam membahas tentang penyakit, seperti
osteoporesis, dan hiperkalsemia yang dihubungkan dengan beberapa tipe tentang
kanker.
Dua reseptor telah diidentifikasi bentuk ikatan hormon paratiroid dn yang satunya
adalah ikatan PTHrP.
%        : Ikatan kedua hormon paratiroid dan gugus
amino terminal senyawa peptida PTHrP. Molekul ini adalah G protein-reseptor
coupled dengan tujuh segmen transmembran. Bagian ekstraseluler mempunyai
enam residu sistein.

c    ›0

Ikatan ligan untuk reseptor ini aktivitasnya oleh adenylyl cyclase dan ssistem
phospholipase C, diturunkan oleh sinyal protein kinase A dan protein kinase C.
Jalur cyclic AMP / protein kinase A adalah lebih dominan.
Kemungkinan pernyataan akan aksi hormon paratiroid, penandaan mRNA sebagai
reseptor tipe I dengan penyebarannya yang luas dalam tulang dan ginjal. Senyawa
mRNA juga dinyatakan pada kadar yang rendahy dalam banyak jaringan,
kemungkinannya digunakan pada reseptor untuk PTHrP.
%        : Ikatan hormon paratiroid, ditunjukkan
sebagai bentuk yang sangat lambat untuk PTHrP. Molekul ini diekspresikan hanya
dalam jumlah yang kecil dari jaringan-jaingan, dan bentuknya atau sifat
fisiologiknya berbda nyata walau[pun dengan karakteristik yang kecil. Seperti pada
reseptor tipe I, juga berada dalam bentuk ikatan dengan adenylyl cyclace dan
induksi ikatan ligan yang meningkat konsentrasi intraseluler untuk siklik AMP.
Mutasi pada reseptor tipe I telah dinyatakan dengan penyakit pada manusia yang
jarang. Jansen¶s methaphyseal chondroplasia adalah sindroma yang pendek dari
kekerdilan hasil dari mutsi aktivitas reseptor. Blomstrand¶s chondroplasia
dihasilkan dari mutasi inaktivasi pada gene reseptor, penyakit yang disebabkannya
akan segera timbul proses kematian engan tertahannya pendewasaan tulang, sangat
sama pada tikus dengan target pelepasan gene PTHrP.

c    ݏ

9 9

%

3.1 Kesimpulan

1.| Jadi kesimpulan dari makalah ini adalah kelenjar tiroid itu:
î| mengkatalisasi reaksi oksidasi dan kec metabolisme
î| Dihasilkan oleh kelenjar tiroid
î| Sintesa tergantung intake iodium dan receptor tyrosin pada tiroglobulin
î| Plasma dalam bentuk T3 dan T4
î| Terikat dalam Thyroxin binding globulin, thyroxin binding prealbumin,
î| albumin
î| Hormon aktif : Free T4 dan Free T3
2.| Sedangkan hormon paratiroid itu:

Fungsi utama: ikut mempertahankan kadarCa++ dlm cairan ekstrasel agar tetap
stabil. Berbagai mekanisme yg dipengaruhi a.l: absorpsi Ca++ melalui saluran
cerna, penyimpanan dlm tulang dan mobilisasinya, serta ekskresi Ca++ melalui
urin, feses, keringat dan air susu.

3.| Kerja hormon paratiroid:


î| Secara langsung pada tulang dan ginjal
î| Secara tidak langsung pada usus, efek sintesis vit D3

c    ݣ

3.2 Daftar Pustaka

1. Buku Pengantar Kuliah Obstetri Karangan Prof.dr.I.B.G.Manuaba, Sp.OG(K),


dr.I.A.Candranita Manuaba, Sp.OG, dr.I.B.G.Fajar Manuaba, Sp.OG (hal.585)
2. Buku Saku Patofisiologi karangan Elizabeth J.Corwin (hal.329)
3. Buku Patofisiologi karangan Dr. Jan Tambayong (hak.34)
4.http://www.scribd.com/doc/21707524/KELENJAR-PARATIROID(8/1/2011
23.10WIB)
5. http://d4him.files.wordpress.com/2009/02/fister-tiroid.pdf (8/1/2011 22.10WIB)

c    ›