Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ca Serviks
A. Definisi Ca Serviks
Kanker rahim adalah penyakit kanker yang menyerang rahim dengan
pembelahan selyang tidak terkendali dankemampuan sel-sel tersebut
unntukmenyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan
langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau engan migrasi sel ke
tempat yang jauh (metastase) (Wuto, 2008).
Kanker leher rahim sering juga disebut dengan kanker mulut rahim,
merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak terjadi pada wanita
(Edianto, 2006).
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim
sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan
merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

B. Etiologi Ca Serviks
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor
resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan
hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin
pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus.
Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat
karsinoma serviks.
3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti
pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks
ini.
4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus
kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks.
5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah
mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan
kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah
umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi
imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita
yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non
sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan
smegma.
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan
pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari
adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa
radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya
kanker serviks.

C. Klasifikasi Pertumbuhan Ca Serviks


Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis.
Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat
dibedakan dengan karsinoma insitu.
2. Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan
epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang
tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel
cadangan endoserviks.
3. Stadium karsionoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat
pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana
basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana
basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada
skrining kanker.
4. Stadium karsinoma invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol
besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea
bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu
jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan
korpus uteri.
5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina
dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam
vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh
progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan
parametrium.
Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang
lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.
Markroskopis
1. Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
3. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti
ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

D. Klasifikasi Klinis Ca Serviks


Stage 0 : ca.pre invasif
Stage 1 : ca.terbatas pada serviks
Stage Ia : disertai inbasi dari stroma yang hanya di ketahui secara
histopatologis
Stage Ib : semua kasus lainya dari stage I
Stage II : sudah menjalar keluar servisk tapi belum sampai
kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak
melebihi dua pertiga bagian proksimal
Stage III : sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian
bawah vagina
Stage IIIb : sudah mengenai organ-organ lain.

E. Manifestasi Klinis Ca Serviks


1. Perdarahan
Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang
perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal
perdarahan terjadi lambat.
2. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada
perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih
banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.

F. Patofisiologi Ca Serviks
Di lembar selanjutnya.
Perilaku Lingkungan Pelayanan Kesehatan Genetika

( Sex aktif, (Polusi, (Deteksi dini penyakit, (Keluarga


paritas, onkogenik laboraorium, Penanganan yang
personal agent,virus, menderita Ca)
kasus P. Kelamin penyuluhan
hygiene
radiasi) pencegahan Ca. Serviks)
buruk)

Kanker Serviks

- Kelemahan jaringan/ dinding menjadi rapuh  perdarahan masif 


anemia  ketidakefektifan perfusi jaringan
- Peningkatan kadar leukosit / kerusakan nonreseptor/ penekanan pada
dinding serviks  Nyeri
- Gangguan peran sebagai istri dan gangguan gambaran diri  Gangguan
citra tubuh
- Gejala tidak nyata  adanya berbagai macam tindakan untuk menegakkan
diagnose terdiagnose Ca  ansietas
G. Pemeriksaan Diagnostic Ca Serviks
1. Sitologi/Pap Smear
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak
mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma
yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma
tidak berwarna.
3. Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan
lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga
mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio,
sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak
terlihat.
4. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali
5. Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
6. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan
epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi
meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

H. Penatalaksanaan Untuk Ca Serviks


1. Irradiasi
Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks
2. Operasi
Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal
3. Kombinasi (Irradiasi dan pembedahan)
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan
bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi
berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula,
disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran
darah.
4. Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio
resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi,
diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
Asuhan Keperawatan Keperawatan pada Pasien Dengan Ca Serviks
A. Pengkajian
1. Identitas klien
2. Keluhan utama : perdarahan dan keputihan
3. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan
yang berbau tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau
keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan
hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk
memberi perawatan atau membawa ke rumah sakit dengan segera, serta
kurangnya pengetahuan keluarga.
4. Riwayat penyakit terdahulu
Tanyakan pernahkah pasien menderita kanker sebelumnya atau selain
kanker pada serviks.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah hal
yang demikian dan perlu juga apakah pasien pernah menderita penyakit.
6. Infeksi
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit
seperti ini atau penyakit menular lain
7. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah
dan bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker servisk
8. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : perdarahan, keputihan
Palpasi : nyeri abdomen, nyeri punggung bawah

B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan
2. Nyeri
3. Gangguan citra tubuh
4. Ansietas

C. Rencana Keperawatan
N Diagnosa NOC NIC
O
1. Ketidakefektifan  Tissue perfusion  Monitor adanya tromboplebitis
perfungsi kriteria hasil :  Monitor tekanan darah
jaringan perifer Mendemonstrasikan status  Bericairan secara cepat
sirkulasi yang di tandai dengan:  Kolaborasi pemberian infuse
 Tekanan systole dan diastole
 Pantau dan atur kec infus
dalam rentang yang
diharapkan
 Tingkat kesadaran baik

2. Nyeri akut  Pain control Pain management


 Comfort level  Lakukan pengkajian nyeri secara
kriteria hasil : komprehesif termasuk lokasi,
 Mampu mengenali nyeri karakteristik, durasi, frekuensi,
(skala,intensitas,frekuensi dan kualitas dan factor presipitasi
tanda nyeri)  Observasi reaksi nonverbal dari
 Menyatakan rasa nyaman ketidaknyamanan
setelah nyeri berkurang  Kaji kultur yang mengetahui respon
Melaporkan bahwa nyeri nyeri
berkurang dengan  Ajarkan tentang teknik
menggunakan manajemen nonfamakologi
nyeri  Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
 Tingkatkan istirahat
3. Gangguan citra  Body image  Kaji secara verbal dan nonverbal
tubuh kriteria hasil: respon klien terhadap tubuhnya
 Mendiskripsikan secara  Jelaskan tentang pengobatan,
factual perubahan fungsi perawatan, kemajuan dan prognosis
tubuh penyakit
 Body image positif  Dorong klien mengungkapkan
perasaanya
 Ajarkan keluarga untuk mendukung
keadaan klien dan memotivasi klien
untuk menerima keadaannya.
4. Ansietas  Anxiety self-control Anxiety reduction (penurunan kecemasan)
kriteria hasil:  Gunakan pendekatan yang
 Clien mampu menyenangkan
mengidentifikasi dan mampu  Pahami prespektif pasien terhadap
mengungkapkan gejala situasi stress
cemas  Temani pasien untuk memberikan
 Mengidentifikasi, keamanan dan mengurangi takut
mengungkapkan dan  Lakukan back/neck rub
menunjukkan tehnik untuk  berikan obat untuk mengurangi
mengontrol cemas cemas
 Postur tubuh, ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan tingkat
aktifitas menunjukan
berkurangnya kecemasan
Histerektomi

A. Definisi Histerektomi
Istilah histerektomi berasal dari bahasa latin histeria yang berarti kandungan,
rahim, atau uterus, dan ectomi yang berarti memotong, jadi histerektomi
adalah suatu prosedur pembedahan mengangkat rahim yang dilakukan oleh
ahli kandungan. Histerektomi merupakan suatu prosedur operatif dimana
seluruh organ dari uterus diangkat.
Histerektomi biasanya disarankan oleh dokter untuk dilakukan karena
berbagai alasan. Alasan utamanya dilakukan histerektomi adalah kanker
mulut rahim atau kanker rahim.
(Rasjidi, 2008).
Histerektomi obstetrik adalah pengangkatan rahim atas indikasi obstetrik
(rekomendasi bidan/ dr.sp.OG). Namun di Amerika Serikat histerektomi
merupakan suatu prosedur non obstetrik untuk wanita, karna bertujuan agar
setelah menjalani ini dia tidak bisa lagi hamil dan mempunyai anak.
(Leveno, 2009).

B. Indikasi Histerektomi
1. Ruptur uteri
2. Perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan cara-cara yang ada,
misalnya pada :
a. Atonia uteri
b. Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia pada solusio plasenta dan
lainnya.
c. Couvelaire uterus tanpa kontraksi.
d. Arteri uterina terputus.
e. Plasenta inkreta dan perkreta.
f. Hematoma yang luas pada rahim.
3. Infeksi intrapartal berat.
4. Uterus miomatosus yang besar.
5. Kematian janin dalam rahim dan missed abortion dengan kelainan darah.
6. Kanker leher rahim

C. Kontraindikasi Histerektomi
1. Atelektasis
2. Luka infeksi
3. Infeksi saluran kencing
4. Tromoflebitis
5. Embolisme paru-paru.
6. Terdapat jaringan parut, inflamasi, atau perubahan endometrial pada
adneksa
7. Riwayat laparotomi sebelumnya (termasuk perforasi appendix) dan abses
pada cul-de-sac Douglas karenadiduga terjadi pembentukan perlekatan.
D. Macam Histerektomi
1. Histerektomi parsial (subtotal)
Pada histerektomi jenis ini, rahimn diangkat, tetapi mulut rahim (serviks)
tetap dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena kanker
mulut rahim sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan
leher rahim) secara rutin.
2. Histerektomi total
Berbeda dengan histerektomi sebagian, pada histerektomi total seluruh
bagian rahim termasuk mulut rahim (serviks) diangkat. Selain itu,
terkadang histerektomi total juga disertai dengan pengangkatan beberapa
organ reproduksi lainnya secara bersamaan. Misalnya, jika organ yang
diangkat itu adalah kedua saluran telur (tuba falopii) maka tindakan itu
disebut salpingo. Jika organ yang diangkat adalah kedua ovarium atau
indung telur maka tindakan itu disebut oophor. Jadi, yang disebut
histerektomi bilateral salpingo-oophorektomi adalah pengangkatan rahim
bersama kedua saluran telur dan kedua indung telur. Pada tindakan
histerektomi ini, terkadang juga dilakukan tindakan pengangkatan bagian
atas vagina dan beberapa simpul (nodus) dari saluran kelenjar getah
bening, atau yang disebut sebagai histerektomi radikal (radical
hysterectomy).
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral
Histerektomi ini mengangkat uterus, mulut rahim, kedua tuba falopii, dan
kedua ovarium. Pengangkatan ovarium menyebabkan keadaan penderita
seperti menopause meskipun usianya masih muda.
4. Histerektomi radikal
Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina, jaringan dan kelenjar
limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa
jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa penderita.

E. Patofisiologi
(dilembar selanjutnya)
Ca Serviks

Histerektomi

Luka operasi Adaptasi post operasi

Perdarahan trauma jaringan tempat invasi fisiologis psikologis


Kuman
Nyeri Hilangnya uterus

Kekurangan Resiko infeksi Disfungsi Gangguan


gambarandiri
volume seksual
cairan
Gangguan
citra tubuh
Asuhan Keperawatan pada Pasien Post Histerektomi

A. Pengkajian
1. Identitas pasien
2. Riwayat keperewatan
a. Riwayat kesehatan saat ini, yaitu keluhan utama yang
menyebabkan klien pergi ke rumah sakit, misalnya perdarahan
pervagina diluar siklus haid, berdarah pascakoitus, nyeri abdomen,
amenorrhoe dan hipermenorrhoe,dan pengeluaran cairan vagina
yang berwarna serta berbau.
b. Riwayat kesehatan keluarga, yakni riwayat anggota keluarga yang
pernah penderita penyakit yang sama dengan penyakit yang
dialami klien saat ini.
c. Riwayat tumbuh kembang klien, meliputi usia menarche, lama dan
siklus haid, usia saat pertama kali klien melakukan hubungan
seksual, banyak kehamilan dan persalinan, adanya pasangan yang
lebih dari satu, berapa kali klien menikah, dan kondisi
perkembangan fisik klien saat ini.
d. Riwayat psikososial klien, mencakup kemampuan klien untuk
menerima penyakitnya serta harapan terhadap pengobatan
yangakan dijalani, hubungan klen terhdap suami maupun orang
lain, respon suami/ keluarga terhadap klien diliht dari segi
keuangan keluarga.
e. Konsep diri klien meliputi gambaran dirinya yang berkaitan
dengan kehilangan system reproduksi akibat histerektomi. Sebagai
wanita klien mersa tidak berguna lagi akibat kehilangan fungsi
reproduksinya.
f. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : adakah perdarahan pascakoitus dan pengeluaran
secretmelalui vagina
B. Diagnose Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan
2. Nyeri
3. Resiko infeksi
4. Disfungsi seksual
5. Gangguan citra tubuh

C. Rencana Keperawatan
N Diagnosa NOC NIC
O
A Resiko  fluid balance Fluid management
1. kekurangan  hydration  timbang popok/pembalut
volume  nutrition status : food and fluid jika diperlukan
cairan intake  pertahankan catatan
kriteria hasil: intake dan output yang
 mempertahankan urine output akurat
sesuai sengan usia,bb,bj urine  tawarkan snack(jus
normal,ht normal buah,buah segar)
 tekanan darah,nadi, suhu tubuh  monitor respon pasien
dalam batas normal terhadap penambahan
 tidak ada tanda tanda dehidrasi, cairan
flastisitas turgor kulit baik,  monitor adanya gagal
membran mukosa lembab, ginjal
tidak ada rasa haus berlebihan
2 2. Nyeri akut  Pain control Pain management
 Comfort level  Lakukan pengkajian
kriteria hasil : nyeri secara komprehesif
 Mampu mengenali nyeri termasuk lokasi,
(skala,intensitas,frekuensi dan karakteristik, durasi,
tanda nyeri) frekuensi, kualitas dan
 Menyatakan rasa nyaman factor presipitasi
setelah nyeri berkurang  Observasi reaksi
Melaporkan bahwa nyeri nonverbal dari
berkurang dengan ketidaknyamanan
menggunakan manajemen  Kaji kultur yang
nyeri mengetahui respon
nyeri
 Ajarkan tentang teknik
nonfamakologi
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
 Tingkatkan istirahat
3. 3. Resiko Immune status Infection control
infeksi Knowledge : infection control  Instruksikan pada
Risk control pengunjun untuk
mencuci tangan saat
Kriteria hasil : bekunjung dan setelah
 Klien bebas dari tanda dan berkunjung
gejala infksi mennggalkan pasien.
 Mendkripsikan pross  Monitor tanda dan gejala
peularan penyakit, factor infksi sistemik dan local.
yang mempengaruhi  Tingkatkan intake nutrisi
penularan erta  Monitor kerentanan
penatalaksanaanya. infeksi
 Menunjukan kemampuan  Batasi pengunjung
untuk mencegah timbulnya  Ajarkan pasien tentang
infeksi tanda dan gejala infksi
 Jumlah leukosit dalam  Ajaran cara menghindari
batas normal. infeksi
 Menunjukan prilaku hidup  Laporkan kecurigaan
sehat infeksi
4. Disfungsi  Tidak adanya irama kontraksi  Kaji infomasi pasien dan
seksual uterus orang terdekat tentang
Kriteria hasil anatomi/ fungsi sex dan
 Pasien mengatakan pengaruh prosedur
pemahaman perubahan pembedahan.
anatomi fungsi seksual  Bantu pasien untuk
menyadari/ menerima
perubahan pada dirinya
         
5. Gangguan  Body image  Kaji secara verbal dan
citra tubuh kriteria hasil: nonverbal respon klien
 Mendiskripsikan secara factual terhadap tubuhnya
perubahan fungsi tubuh  Jelaskan tentang
 Body image positif pengobatan, perawatan,
kemajuan dan prognosis
penyakit
 Dorong klien
mengungkapkan
perasaanya
 Ajarkan keluarga untuk
mendukung keadaan
klien dan memotivasi
klien untuk menerima
keadaannya.