Anda di halaman 1dari 17

BAB II

KONSEP DASAR
A. Pengertian FAM
Fibroadenoma Mammae merupakan neoplasma jinak yang terutama
terdapat pada wanita muda, dan jarang ditemukan setelah menopause.
Fibroadenoma adalah kelainan pada perkembangan payudara normal dimana
ada pertumbuhan berlebih dan tidak normal pada jaringan payudara dan
pertumbuhan yang berlebih dari sel-sel yang melapisi saluran air susu di
payudara.Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mammae yang paling
banyak ditemukan, dan merupakan tumor primer yang paling banyak ditemukan
pada kelompok umur muda.
Fibroadenoma merupakan benjolan jinak payudara yang disebabkan oleh
pertumbuhan berlebih pada salah satu lobus payudara. (Grace dan Borlay,2006)
Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang
meliputi kelenjar dan stoma jaringan ikat (Jitowiyono dan Kristiyanasari,2012)
Dari pengertian – pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa FAM
(Fibroadenoma Mammae) adalah suatu tumor jinak yang terdapat pada
mammae dan biasanya menyerang pada wanita muda.

B. Klasifikasi FAM
Secara sederhana fibroadenoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam:
1. Common Fibroadenoma
Common fibroadenoma memiliki ukuran 1-3 cm, disebut juga dengan
simpelfibroadenoma. Sering ditemukan pada wanita kelompok umur muda
antara 21-25 tahun. Ketika fibroadenoma dapat dirasakan sebagai
benjolan, benjolan itu biasanya berbentuk oval atau bulat, halus, tegas, dan
bergerak sangat bebas. Sekitar 80% dari seluruh kasus fibroadenoma yang
terjadi adalah fibroadenoma tunggal.
2. Giant Fibroadenoma
Giant fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang memiliki ukuran
dengan diameter lebih dari 5 cm. Secara keseluruhan insiden giant
fibroadenoma sekitar 4% dari seluruh kasus fibroadenoma. Giant
fibroadenoma biasanya ditemui pada wanita hamil dan menyusui.Giant
fibroadenoma ditandai dengan ukuran yang besar dan pembesaran massa
enkapsulasi payudara yang cepat. Giant fibroadenoma dapat merusak
bentuk payudara dan menyebabkan tidak simetris karena ukurannya yang
besar, sehingga perlu dilakukan pemotongan dan pengangkatan terhadap
tumor ini.17
3. Juvenile Fibroadenoma
Juvenile fibroadenoma biasa terjadi pada remaja perempuan, dengan
insiden 0,5-2% dari seluruh kasus fibroadenoma. Sekitar 10-25% pasien
dengan juvenile fibroadenoma memiliki lesi yang multiple atau
bilateral.Tumor jenis ini lebih banyak ditemukan pada orang Afrika dan
India Barat dibandingkan pada orang Kaukasia.
Fibroadenoma mammae juga dapat dibedakan secara histologi antara lain:
1. Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau
beberapa lapis.
2. Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar
berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau
menghilang. Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran
sedikit dan pada saat menopause terjadi regresi.

C. Etiologi FAM
Sampai saat ini penyebab FAM masih belum diketahui secara pasti, namun
berdasarkan hasil penelitian ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi
timbulnya tumor ini antara lain:
1. Umur
Umur merupakan faktor penting yang menentukan insiden atau frekuensi
terjadinya FAM. Fibroadenoma biasanya terjadi pada wanita usia muda <
30 tahun terutama terjadi pada wanita dengan usia antara 15-25 tahun.
Berdasarkan data dari penelitian di Depatemen Patologi Rumah Sakit
Komofo Anyoke Teaching di Ghana (Bewtra, 2009) dilaporkan bahwa
rata-rata umur pasien yang menderita fibroadenoma adalah 23 tahun
dengan rentang usia 14-49 tahun.
2. Riwayat Perkawinan
Riwayat perkawinan dihubungkan dengan status perkawinan dan usia
perkawinan, paritas dan riwayat menyusui anak. Berdasarkan penelitian
Bidgoli, et all (2011) di Iran menyatakan bahwa tidak menikah
meningkatkan risiko kejadian FAM (OR=6.64, CI 95% 2.56-16.31) artinya
penderita FAM kemungkinan 6,64 kali adalah wanita yang tidak menikah.
Hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa menikah < 21 tahun
meningkatkan risiko kejadian FAM (OR=2.84, CI 95% 1.23-6.53) artinya
penderita FAM kemungkinan 2,84 kali adalah wanita yang menikah pada
usia < 21 tahun
3. Paritas dan Riwayat Menyusui Anak
Penurunan paritas meningkatkan insiden terjadinya FAM, terutama
meningkat pada kelompok wanita nullipara. Pengalaman menyusui
memiliki peran yang penting dalam perlindungan terhadap risiko kejadian
FAM.
4. Penggunaan Hormon
Diperkirakan bahwa fibroadenoma mammae terjadi karena kepekaan
terhadap peningkatan hormon estrogen. Penggunaan kontrasepsi yang
komponen utamanya adalah estrogen merupakan faktor risiko yang
meningkatkan kejadian FAM. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di
Department of Surgery, University of Oklahoma Health Sciences Center
(Organ, 1983), dilaporkan proporsi penderita FAM yang menggunakan
kontrasepsi dengan komponen utama estrogen adalah sekitar 60%.
5. Obesitas
Berat badan yang berlebihan (obesitas) dan IMT yang lebih dari normal
merupakan faktor risiko terjadinya FAM. Berdasarkan penelitian Bidgoli,
et all diketahui bahwa IMT > 30 kg/m2 meningkatkan risiko kejadian FAM
(OR=2.45,CI 95% 1.04-3.03) artinya wanita dengan IMT > 30 kg/m 2
memiliki risiko 2,45 kali menderita FAM dibandingkan wanita dengan
IMT < 30 kg/m2.
6. Riwayat Keluarga
Tidak ada faktor genetik diketahui mempengaruhi risiko fibroadenoma.
Namun, riwayat keluarga kanker payudara pada keluarga tingkat pertama
dilaporkan oleh beberapa peneliti berhubungan dengan peningkatan risiko
tumor ini. Dari beberapa penelitian menunjukkan adanya risiko menderita
FAM pada wanita yang ibu dan saudara perempuan mengalami penyakit
payudara. Dilaporkan 27 % dari penderita FAM memiliki riwayat keluarga
menderita penyakit pada payudara (Organ, 1983). Tidak seperti penderita
dengan fibroadenoma tunggal, penderita multiple fibroadenoma memiliki
riwayat penyakit keluarga yang kuat menderita penyakit pada payudara.
7. Stress
Stress berat dapat meningkatkan produksi hormon endogen estrogen yang
juga akan meningkatkan insiden FAM. Berdasarkan penelitian Bidgoli, et
all diketahui orang yang mengalami stress memiliki risiko lebih tinggi
menderita FAM (OR=1.43 CI 95%1.16-1.76) artinya orang yang
mengalami stress memiliki risiko 1,43 kali menderita FAM dibandingkan
dengan orang yang tidak stress.
8. Faktor Lingkungan
Tinggal di dekat pabrik yang memproduksi Polycyclic aromatic
hydrocarbons (PAHs) juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya FAM.
Berdasarkan penelitian Bidgoli, et all pada tahun 2011 di Iran dilaporkan
38% dari penderita FAM memiliki riwayat tinggal di dekat pabrik yang
memproduksi PAHs. Penelitian tersebut menggunakan desain case control
dimana diketahui OR=3.7,CI95%1.61-7.94 yang artinya orang yang
tinggal didekat pabrik yang memproduksi zat PAHs memiliki risiko 3,7
kali menderita FAM. PAHs adalah salah satu pencemar organik yang
paling luas. PAHs dibentuk oleh pembakaran tidak sempurna dari karbon
yang mengandung bahan bakar seperti kayu, batu bara, diesel, lemak,
tembakau, dan dupa. Banyak senyawa-senyawa aromatik, termasuk PAHs,
yang bersifat karsinogenik. Hal ini berdasarkan sifatnya yang hidrofobik
(tidak suka akan air), dan tidak memiliki gugus metil atau gugus reaktif
lainnya untuk dapat diubah menjadi senyawa yang lebih polar. Akibatnya
senyawa PAHs sangat sulit diekskresi dari dalam tubuh dan biasanya
terakumulasi pada jaringan hati, ginjal, maupun adiposa atau lemak tubuh.
Dengan struktur molekul yang menyerupai basa nukleat (adenosin, timin,
guanin, dan sitosin), molekul PAHs dapat dengan mudah menyisipkan diri
pada untaian DNA. Akibatnya fungsi DNA akan terganggu dan apabila
kerusakan ini tidak dapat diperbaiki dalam sel, maka akan menimbulkan
penyakit kanker.

D. Patofisiologi FAM
Pathway Terlampir
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan
pada masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu
akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap hormon
estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia.
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus
yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di
sekitarnya.Fibroadenoma mammae biasanya tidak menimbulkan gejala dan
ditemukan secara kebetulan. Fibroadenoma biasanya ditemukan sebagai
benjolan tunggal, tetapi sekitar 10%-15% wanita yang menderita
fibroadenoma memiliki beberapa benjolan pada kedua payudara.
Penyebab munculnya beberapa fibroadenoma pada payudara belum
diketahui secara jelas dan pasti. Hubungan antara munculnya beberapa
fibroadenoma dengan penggunaan kontrasepsi oral belum dapat dilaporkan
dengan pasti. Selain itu adanya kemungkinan patogenesis yang berhubungan
dengan hipersensitivitas jaringan payudara lokal terhadap estrogen, faktor
makanan dan faktor riwayat keluarga atau keturunan. Kemungkinan lain
adalah bahwa tingkat fisiologi estrogen penderita tidak meningkat tetapi
sebaliknya jumlah reseptor estrogen meningkat. Peningkatan kepekaan
terhadap estrogen dapat menyebabkan hyperplasia kelenjar susu dan akan
berkembang menjadi karsinoma.
Fibroadenoma sensitif terhadap perubahan hormon. Fibroadenoma
bervariasi selama siklus menstruasi, kadang dapat terlihat menonjol, dan dapat
membesar selama masa kehamilan dan menyusui. Akan tetapi tidak
menggangu kemampuan seorang wanita untuk menyusui. Diperkirakan bahwa
sepertiga dari kasus fibroadenoma jika dibiarkan ukurannya akan berkurang
bahkan hilang sepenuhnya. Namun yang paling sering terjadi, jika dibiarkan
ukuran fibroadenoma akan tetap. Tumor ini biasanya bersifat kenyal dan
berbatas tegas dan tidak sulit untuk diraba. Apabila benjolan didorong atau
diraba akan terasa seperti bergerak-gerak sehingga beberapa orang menyebut
fibroadenoma sebagai “breast mouse”. Biasanya fibroadenoma tidak terasa
sakit, namun kadang kala akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan sangat
sensitif apabila disentuh.

E. Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae adalah
adanya bagian yang menonjol pada permukaan payudara, benjolan memiliki
batas yang tegas dengan konsistensi padat dan kenyal. Ukuran diameter
benjolan yang sering terjadi sekitar 1-4 cm, namun kadang dapat tumbuh dan
berkembang dengan cepat dengan ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5
cm. Benjolan yang tumbuh dapat diraba dan digerakkan dengan bebas.
Umumnya fibroadenoma tidak menimbulkan rasa nyeri atau tidak sakit.
Perubahan fibroadenoma menjadi ganas dalam komponen epitel
fibroadenoma umumnya dianggap langka. Fibroadenoma secara signifikan
tidak meningkatkan risiko berkembang menjadi kanker payudara. Insiden
karsinoma berkembang dalam suatu fibroadenoma dilaporkan hanya
20/10.000 sampai 125/10.000 orang yang berisiko. Sekitar 50% dari tumor ini
adalah lobular carcinoma in situ (LCIS), 20% infiltrasi karsinoma lobular,
20% adalah karsinoma duktal in situ (DCIS), dan 10% sisanya infiltrasi
karsinoma duktal. Berdasarkan pemeriksaan klinis ultrasonografi dan
mammografi biasanya ditemukan fibroadenoma jinak dan perubahan menjadi
ganas ditemukan hanya jika fibroadenoma tersebut dipotong.Fibroadenoma
yang dibiarkan selama bertahun-tahun akan berubah menjadi ganas, dikenal
dengan istilah progresi dan persentase kemungkinannya hanya 0,5% - 1%.

F. Penatalaksanaan
Terapi untuk fibroadenoma tergantung dari beberapa hal sebagai berikut:
1. Ukuran
2. Terdapat rasa nyeri atau tidak
3. Usia pasien
4. Hasil biopsi
Karena fibroadenoma mammae adalah tumor jinak maka pengobatan yang
dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu diperhatikan
adalah bentuk dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae harus
memperhatikan beberapa faktor yaitu faktor fisik dan psikologi pasien.
Apabila ukuran dan lokasi tumor tersebut menyebabkan rasa sakit dan tidak
nyaman pada pasien maka diperlukan pengangkatan.
Terapi pengangkatan tumor ini disebut dengan biopsi eksisi yaitu pembedahan
dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat
disekitarnya Terapi dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak akan
merubah bentuk payudara tetapi hanya akan meninggalkan jaringan parut yang
akan digantikan jaringan normal secara perlahan.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Fibroadenoma dapat didiagnosa dengan tiga cara, yaitu dengan pemeriksaan
fisik (phisycal examination), pemeriksaan radiologi (dengan foto thorax dan
mammografi atau ultrasonografi), dengan Fine Needle Aspiration Cytology
(FNAC).
1. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik penderita diperiksa dengan sikap tubuh duduk
tegak atau berbaring atau kedua-duanya. Kemudian diperhatikan bentuk
kedua payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, adanya kulit berbintik,
seperti kulit jeruk, ulkus, dan benjolan. Kemudian dilakukan palpasi
dengan telapak jari tangan yang digerakkan perlahan-lahan tanpa tekanan
pada setiap kuadran payudara. Palpasi dilakukan untuk mengetahui
ukuran, jumlah, dapat bergerak-gerak, kenyal atau keras dari benjolan
yang ditemukan. Dilakukan pemijatan halus pada puting susu untuk
mengetahui pengeluaran cairan, darah atau nanah dari kedua puting susu.
Cairan yang keluar dari puting susu harus dibandingkan. Pengeluaran
cairan diluar masa laktasi dapat disebabkan oleh berbagai kelainan seperti
fibroadenoma atau bahkan karsinoma.
2. Mammografi
Pemeriksaan mammografi terutama berperan pada payudara yang
mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglanduler
yang relatif sedikit. Pada mammografi, keganasan dapat memberikan
tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif,
comet sign (Stelata), adanya perbedaan yang nyata antara ukuran klinis
dan radiologis, adanya mikroklasifikasi, adanya spikulae, dan ditensi pada
struktur payudara. Tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit,
bertambahnya vaskularisasi, keadaan daerah tumor dan jaringan
fibroglandular tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang
mamma dan adanya metastatis ke kelenjar (gambaran ini tidak khas).
Mammografi digunakan untuk mendiagnosa wanita dengan usia tua sekitar
60-70 tahun.
3. Ultrasonografi (USG)
Untuk mendeteksi luka-luka pada daerah padat payudara usia muda karena
fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik
jika menggunakan mammografi. Pemeriksaan ini hanya membedakan
antara lesi atau tumor yang solid dan kistik. Pemeriksaan gabungan antara
USG dan mammografi memberikan ketepatan diagnosa yang tinggi.
4. Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC)
Dengan FNAC diperoleh diagnosis tumor apakah jinak atau ganas, tanpa
harus melakukan sayatan atau mengiris jaringan. Pada FNAC diambil sel
dari fibroadenoma dengan menggunakan penghisap berupa sebuah jarum
yang dimasukkan pada suntikan. Dari alat tersebut dapat diperoleh sel
yang terdapat pada fibroadenoma, lalu hasil pengambilan tersebut dikirim
ke laboratorium patologi untuk diperiksa di bawah mikroskop. Di bawah
mikroskop tumor tersebut tampak seperti berikut :
a. Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat
fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-
lobus.
b. Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang
berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler).
c. Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar
pendek

H. Pencegahan
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Konsep
dasar dari pencegahan primer adalah untuk menurunkan insiden penyakit.
Cara yang dilakukan adalah dengan menghindari faktor-faktor tertentu yang
dapat merangsang pertumbuhan sel-sel tumor antara lain:
1. Mencegah terpaparnya dengan zat atau bahan yang dapat memicu
berkembangnya sel-sel tumor fibroadenoma, seperti mengkonsumsi
makanan yang terkontaminasi dengan bahan atau zat-zat hormonal,
menghindari pemakaian pil kontrasepsi dengan komponen utama estrogen.
Penggunaan zat tersebut jika dipakai terus menerus akan menyebabkan
terjadinya perubahan jaringan pada payudara yang meningkatkan angka
kejadian FAM. Selain itu menghindari terpapar dengan zat Polycyclic
aromatic hydrocarbons (PAHs) yang bersifat karsinogenik.
2. Menggunakan atau mengkonsumsi zat dan bahan yang dapat menurunkan
kejadian FAM antara lain dengan mengkonsumsi buah dan sayuran.
Penggunaan alat kontrasepsi oral juga dapat menurunkan risiko terjadinya
FAM.
3. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Pemeriksaan terhadap payudara sendiri dilakukan setiap bulan secara
teratur. Dengan melakukan pemeriksaan sendiri secara teratur maka
kesempatan untuk menemukan tumor dalam ukuran kecil lebih besar,
sehingga dapat dengan cepat dilakukan tindakan pengobatan. SADARI
dapat dilakukan dengan cara:
a. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal,
ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan
perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada
puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari
puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut.
b. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di
belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi
seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil
akibat tumor. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara,
terutama pada payudara bagian bawah.
c. Kedua tangan diletakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah
cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan
ukuran dan kontur payudara.
d. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan,
telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar
(membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi
luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu.
Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah
kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara
mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri.
Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.
e. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan
dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri
dan kanan.
f. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri
dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan
menggunakan jari-jari tangan kanan. Payudara akan mendatar dan
memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal yang sama terhadap payudara
kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan
mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh
jari-jari tangan kiri.
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data Subyektif

a. Biodata: biasanya terjadi pada perempuan yang berumur < 30 tahun


dengan pekerjaan yang memiliki tingkat stress tinggi seperti pegawai
bank, mahasiswa, dan lainnya.

b. Alasan datang dan keluhan utama: pasien biasanya datang dengan


keluhan ada massa pada daerah payudara yang berbentuk bulat atau
oval, bertekstur kenyal atau padat, biasanya nyeri dna dapat bergerak
(mobile).

c. Riwayat menstruasi: biasanya terjadi pada wanita yang menarche pada


usia yang lebih muda.

d. Riwayat perkawinan: biasanya terjadi pada wanita yang terlambat


memiliki anak. Hal ini menyangkut pada usia berapa pasien menikah.

e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas terdahulu:

1) Riwayat KB

2) Riwayat Laktasi: apakah ibu menyusui atau tidak.

3) Riwayat gynekologi: pernah atau tidak menderita FAM


sebelumnya.

4) Riwayat penyakit ibu dan keluarga: adakah keturunan dari keluarga


yang memiliki FAM

5) Riwayat Bio-Psiko-Sosial-Spiritual:
a) Biologis: jenis makanan yang sering dikonsumsi ibu, apakah
yang berlemak tinggi, mengandung banyak MSG, makanan
cepat saji, atau yang lainnya.

b) Pola aktifitas: apa aktifitas pasien, apakah ada gangguan


dengan aktifitasnya setelah mengalami gangguan pada
payudaranya.

c) Psiko: apakah ibu sering mengalami stress atau tidak.

2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan umum: Keadaan Umum (Tekanan Darah,Nadi,
Suhu,Respirasi dan Berat Badan).
b. Pemeriksaan fisik :
Dada dan Axila: dilakukan pemeriksaan fisik dengan palpasi pada
payudara. Pada palpasi diraba apakah ada massa atau tidak, padat atau
kenyal, apakah bergerak, nyeri atau tidak.

B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang muncul pada FAM yaitu :
1. Nyeri b/d agen injuri biologi
2. Gangguan citra tubuh b/d perubahan bentuk pada payudara
3. Resiko infeksi b/d adanya luka insisi post pembedahan
4. Cemas b/d kurangnya pengetahuan mengenai proses penyakitnya
5. Kurang pengetahuan b/d kurangnya terpapar informasi mengenai penyakit
C. Perencanaan
Diagnosa NOC NIC
1. Nyeri b/d agen injuri Setelah dilakukan tindakan Pain Management
biologi keperawatan selama 3 x 24 jam, 1. Lakukan pengkajian nyeri
nyeri berkurang dengan secara komprehensif
Kriteria Hasil : termasuk lokasi,
1. Mampu mengontrol nyeri karakteristik, durasi,
(tahu penyebab nyeri, frekuensi, kualitas, dan
mampu menggunakan faktor presipitasi
tehnik nonfarmakologi 2. Observasi raksi nonvebal
untuk mengurangi nyeri) dari ketidaknyamanan
2. Mampu mengenali nyeri 3. Gunakan tehnik komunikasi
(skala, intensitas, frekuensi terapeutik untuk mengetahui
dan tanda nyeri) pengalaman nyeri pasien
3. Melaporkan bahwa nyeri 4. Ajarkan tehnik
berkurang dengan nonfarmakologi untuk
menggunakan manjemen mengontrol nyeri seperti
nyeri tarik napas dalam atau
4. Menyatakan rasa nyaman distraksi
setelah nyeri berkurang 5. Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
6. Kolaborasi dengan dokter
apabila nyeri tidak
berkurang
2. Gangguan citra tubuh b/d Setelah dilakukan tindakan Body Image Enhancement
perubahan bentuk pada keperawatan selama 3 x 24 jam, 1. Kaji secara verbal dan non
payudara body image klien positif verbal respon klien terhadap
dengan Kriteria Hasil : tubuhnya
1. Mampu mengidentifikasi 2. Jelaskan tentang
kekuatan personal pengobatan, perawatan,
2. Mendiskripsikan secara kemajuan dan prognosis
faktual fungsi tubuh penyakit
3. Dorong klien
mengungkapkan
perasaannya

3. Resiko infeksi b/d adanya Setelah dilakukan tindakan Infection Control


luka insisi post keperawatan selama 3 x 24 jam, 1. Monitor tanda dan gejala
pembedahan klien terbebas dari resiko infeksi sistemik dan lokal
infeksi dengan Kriteria Hasil : 2. Cuci tangan sebelum dan
1. Klien terbebas dari tanda sesudah tindakan
dan gejala infeksi keperawatan
2. Jumlah leukosit dalam batas 3. Pertahankan lingkungan
normal aseptik selama pemasangan
alat
4. Monitor WBC
5. Berikan terapi antibiotik bila
perlu

4. Cemas b/d kurangnya Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan teknik


pengetahuan mengenai keperawatan selama 3 x 24 jam, mendengarkan aktif
proses penyakitnya rasa cemas klien berkurang 2. Kenalkan pasien dengan
dengan Kriteria Hasil : sumber support system
1. Klien mampu 3. Berikan kesempatan agar
mengidentifikasi dan pasien menggungkapkan
mengungkapkan gejala perasaannya
cemas 4. Jalin hubungan saling
2. Mengidentifikasi, percaya antara klien dan
mengungkapkan dan perawat
menunjukkan tehnik untuk 5. Waspadai terhadap tanda-
mengontrol cemas tanda depresi
3. Postur tubuh, ekspresi
wajah bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya
kecemasan

5. Kurang pengetahuan b/d Setelah dilakukan tindakan Teaching : Disease Process


kurangnya terpapar keperawatan selama 3 x 24 jam, 1. Berikan penilaian tentang
informasi mengenai klien mengetahui mengenai tingkat pengetahuan pasien
penyakit proses penyakit dengan Kriteria tentang proses penyakit
Hasil : yang spesifik
1. Pasien dan keluarga 2. Jelaskan patofisiologi dari
menyatakan pemahaman penyakit dan bagaimana hal
tentang penyakit, kondisi, ini berhubungan dengan
prognosis dan program anatomi, dan fisiologi,
pengobatan dengan cara yang tepat
2. Pasien dan keluarga mampu 3. Gambarkan tandadan gejala
melaksanakan prosedur yang biasa muncul pada
yang dijelaskan secara penyakit
benar 4. Gambarkan proses penyakit
3. Pasien dan keluarga mampu dengan cara yang tepat
menjelaskan kembali apa 5. Identifikasi kemungkinan
yang dijelaskan perawat / penyebab dengan cara yang
tim kesehatan lainnya tepat
6. Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi
dengan cara yang tepat
Pathway

Faktor Resiko (umur, stress, obesitas, hormon, riwayat keluarga, dan faktor
lingkungan)

Meningkatkan sensitivitas jaringan yang berlebih terhadap hormon estrogen

Hiperplasia pada sel payudara

Nyeri Terbentuk massa / benjolan disekitar payudara

Perubahan bentuk payudara Dilakukan tindakan operativ

Nyeri
Gangguan citra Teradapat luka insisi
tubuh

Resiko Infeksi

Kurang Pengetahuan

Cemas