Anda di halaman 1dari 3

3.

3 Berbagai Teori Belajar Sosial (Social Learning)


1. Teori Belajar Sosial dan Tiruan dari N.E. Miller dan J. Dollard
Pandangan N.E. Miller dan J. Dollard bertitik-tolak dari teori Hull yang
kemudian dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa
tingkah laku manusia merupakan hasil belajar. Oleh karena itu, untuk memahami
tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsip-prinsip
psikologi belajar. Prinsip-prinsip belajar ini terdiri dari 4, yakni dorongan (drive),
isyarat (cue), tingkah laku balas (response), dan ganjaran (reward). Keempat
prinsip ini saling mengait satu sama lain dan saling dipertukarkan, yaitu dorongan
menjadi isyarat, isyarat menjadi ganjaran, dan seterusnya.
Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme
(manusia) untuk bertingkah laku. Stimulus-stimulus ini disebut dorongan primer
yang menjadi dasar utama untuk motivasi. Menurut N.E. Mille dan J. Dollard,
semua tingkah laku (termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-
dorongan primer ini.
Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu
respons akan timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan
diskriminatif. Di dalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku
orang lain, baik yang langsung ditujukan kepada orang tertentu maupun yang
tidak, misalnya: anggukan kepala merupakan isyarat untuk berjabatan tangan.
Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa
tingkah laku balas itu adalah hierarki bawaan tingkah laku-tingkah laku. Pada saat
manusia dihadapkan untuk pertama kali kepada suatu rangsang tertentu, maka
respons (tingkah laku balas) yang timbul didasarkan pada hierarki bawaan
tersebut. Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman, maka timbul
tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut. Tingkah
laku yang disesuaikan dengan faktor-faktor penguat tersebut disusun menjadi
hierarki resultan (resultan hierarecy of response).
Ganjaran adalah rangsangan yang menetapkan apakah tingkah laku balas
diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard, ada
dua reward atau ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi dorongan
primer. Lebih lanjut mereka membedakan adanya 3 macam mekanisme tingkah
laku tiruan.
a. Tingkah laku sama (Same behaviour)
Tingkah laku ini terjadi apabila dua orang yang bertingkah laku balas (berespons)
sama terhadap rangsangan atau isyarat yang sama.
b. Tingkah laku tergantung (Matched dependent behaviour)
Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara dua pihak. Salah satu pihak
mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua dan sebagainya) dari
pihak lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak yang kurang tersebut akan
menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan tergantung (depent) pada pihak yang
lebih.
c. Tingkah laku Salinan (Copying behaviour)
Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan peniru bertingkah atas
dasar isyarat yang berupa tingkah laku yang diberikan oleh model. Pengaruh
ganjaran hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.
Perbedaannya dalam tingkah laku tergantung peniru hanya bertingkah laku
terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja, sedangkan pada
tingkah laku Salinan si peniru memperhatikan juga tingkah laku model masa yang
lalu maupun yang dilakukan di waktu mendatang.
2. Teori Belajar Sosial dari A. Bandura dan R.H. Walter
Teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Bandura dan Walter disebut
teori proses pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah
suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat
(reinforcement) memang memperkuat tingkah laku balas (response), tetapi dalam
proses belajar sosial hal ini tidak terlalu penting. Menurut A. Bandura dan R.H.
Walter, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan
menjadi tiga macam.
a. Efek modeling (modeling effect), yaitu peniru melakukan tingkah laku-tingkah
laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
b. Efek penghambat (inhibition) dan penghapus hambatan (disinhibition) yaitu
tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku
yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambantannya sehingga
timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
c. Efek kemudahan (facilitation effects), yaitu tingkah laku-tingkah laku yang
sudah pernah dipelajari oleh peniru, lebih mudah muncul kembali dengan
mengamati tingkah laku model.
Akhirnya A. Bandura dan R.H. Walter menyatakan bahwa teori proses
pengganti ini dapat pula menerapkan gejala timbulnya emosi pada peniru dengan
emosi yang ada pada model.