Anda di halaman 1dari 26

PENYUSUNAN ANGGARAN BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG

TENAGA kerja langsung adalah tenaga manusia yang bekerja langsung mengolah
produk. Seperti: tukang potong rotan, tukang ukur kursi rotan, tukang rakit kursi rotan,
tukang ketam (pelicin) kursi rotan, tukang warna kursi rotan, adapun tenaga kerja tak
langsung adalah tenaga kerja manusia yang ikut membantu menyelesaikan produk, seperti:
mandor, manajer produksi, penyelia, dan lain-lain.

Upah untuk tenaga kerja langsung disebut biaya tenaga langsung (BTKL), sedangkan
upah untuk tenaga kerja tak langsung disebut biaya tenaga kerja tak langsung (BTKTL).
Biaya tenaga kerja tak langsung merupakan salah satu unsur dari biaya overhead pabrik
(BOP). Upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang memelihara alat produksi (seperti:
montir, mekanik) termasuk unsur biaya pemeliharaan pabrik. Biaya pemeliharaan pabrik
termasuk salah satu unsur biaya overhead pabrik (BOP).

Anggaran biaya tenaga kerja langsung meliputi taksiran keperluan tenaga kerja yang
diperlukan untuk memproduksi jenis dan kuantitas produk yang direncanakan dalam
anggaran produk. Anggaran biaya tenaga kerja langsung merupakan salah satu unsur dari
harga pokok produk. Harga pokok produk adalah semua biaya yang berkaitan
penghargapokokan produk per unit. Penghargapokokan produk per unit sangat penting dalam
penentuan harga jual. Disamping itu dengan disusunnya angggaran biaya tenaga kerja
langsung dapat diperlukan keperluan kas untuk biaya tenaga kerja langsung.

Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar per Unit Produk

Biaya tenaga kerja langsung standar per unit produk terdiri dari jam tenaga kerja langsung
dan tariff upah standar tenaga kerja langsung.

Jam standar tenaga kerja langsung (JSTKL) adalah produk taksiran sejumlah jam tenaga kerja
langsung yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk tertentu. Jam standar tenaga
kerja langsung dapat ditentukan dengan cara:

a. Menghitung rata-rata jam kerja yang dikunsumsi dalam suatu pekerjaan dari kartu
harga pokok periode yang lalu.
b. Mencoba jalan operasi produksi di bawah keadaan normal yang diharapkan.
c. Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu.
d. Mengadakan taksiran yang wajar.
e. Memperhitungkan kelonggaran waktu untuk istirahat, penundaan kerja yang tak bias
dihindari, dan factor kelelahan.

Tarig upah standar tenaga kerja langsung (TUSt) adalah taksiran tariff upah per jam
tenaga kerja langsung. Tariff upah standar tenaga kerja langsung (TUSt) dapat ditentukan
atas dasar: (a) perjanjian dengan organisasi karyawan, (b) data upah masa lalu yang dihitung
secara rata-rata, dan (c) perhitungan tariff upah dalam operasi normal.

Misalkan jam standar tenaga kerja langsung ditentukan untuk membuat satu botol kecap
diperlukan waktu 0,1 jam, dan tarif upah standar tenaga kerja langsung (TSt) ditentukan per
jam Rp 500. Dengan demikian biaya tenaga kerja langsung standar per unit produk
(BTKLSP) untuk membuat satu botol kecap = 0,1 jam @ Rp 500 = Rp 50.

Setelah jam standar tenaga kerja langsung (JSTKL) ditetapkan, kemudian disusun jam kerja
standar tenaga kerja langsung terpakai.

Jam Kerja Standar Tenaga Kerja Langsung Terpakai

Untuk menyusun jam kerja standar tenaga kerja langsung terpakai (JKSt) diperlukan data
anggaran produk dan jam standar tenaga kerja langsung (JSTKL).

Misalkan anggaran produk jadi dari perusahaan kecap asli selama tahun 2016 sebagai berikut.

Triwulan Kecap Sedang Kecap Manis Kecap Asin Total


I 22 botol 13 botol 9 botol 44 botol
II 23 botol 13 botol 10 botol 46 botol
III 24 botol 14 botol 9 botol 47 botol
IV 26 botol 14 botol 10 botol 50 botol
Setahun 95 botol 54 botol 38 botol 187 botol

Jam standar tenaga kerja langsung (JSTKL) untuk membuat satu botol kecap diperlukan
waktu 0,1 jam.

Rumus yang dapat digunakan dalam menyusun jam kerja standar tenaga kerja langsung
terpakai (JKSt) adalah sebagai berikut.

JKSt = P × JSTKL
JKST = Jam kerja standar tenaga kerja langsung terpakai

P = Unit ekuivalen produk

JSTKL = Jam standar tenafa kerja langsung


Bila tidak terdapat produk dalam proses, maka unit ekuivalen produk sama dengan produk
jadi dihasilkan periode tersebut. Anggaran produk pada perusahaan kecap asli dalam contoh
tersebut tidak terdapat sediaan produk dalam proses, sehingga unit ekuivalen produk sama
dengan produk jadi.

Dari data tersebut di atas dapat disusun jam kerja standar tenaga kerja langsung terpakai
(JKSt) seperti Tabel 9.1.

Perusahaan kecap asli

Jam kerja standar tenaga kerja langsung terpakai

Tiap triwulan pada tahun 2016

Triwulan Kecap Sedang Kecap Manis Kecap Asin Total


I 2,2 jam 1,3 jam 0,9 jam 4,4 jam
II 2,3 jam 1,3 jam 1,0 jam 4,6 jam
III 2,4 jam 1,4 jam 0,9 jam 4,7 jam
IV 2,6 jam 1,4 jam 1,0 jam 5,0 jam
Setahun 9,5 jam 5,4 jam 3,8 jam 18,7 jam
Pada tabel 9.1 tampak triwulan I produk kecap sedang sebanyak 22 botol (P) × JSTKL (jam
standar tenaga kerja langsung) 0,1 sehingga jam kerja standar tenaga kerja langsung terpakai
(JKSt) sebanyak 2,2 jam.

Setelah disusun jam keja standar tenaga kerja langsung terpakai, kemudian disusun anggaran
biaya tenaga kerja langsung.

Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Rumus yang dapat digunakan dalam menyusun anggaran biaya tenaga kerja langsung
(BTKL) atau biaya tenaga kerja langsung standar (BTKLSt) sebagai berikut.

Anggaran BTKL = JKSt × TUSt atau P × BTKLSP


Misalkan dari data pada Tabel 9.1 dan data upah standar tenaga kerja langsung (TUSt) per
jam Rp 500, maka dapatlah disusun anggaran biaya tenaga kerja langsung seperti Tabel 9.2.

Pada Tabel 9.2 anggaran biaya tenaga kerja langsung untuk kecap sebesar Rp 1.100 dihitung
dengan cara JKSt × TUSt, yaitu 2,2 jam × Rp 500 = Rp 1.100 atau P × BTKLSP, yaitu 22
botol × Rp 50 = Rp 1.1000.

Anggaran biaya tenaga kerja langsung setahun untuk:

Kecap Sedang = 9,5 jam × Rp 500 = Rp 4.750


Kecap Manis = 5,4 jam × Rp 500 = Rp 2.700

Kecap Asin = 3,8 jam × Rp 500 = Rp 1.900

Total = Rp 9.350

Perusahaan kecap asli

Anggaran biaya tenaga kerja langsung

Tiap triwulan pada tahun 2016

Triwulan Kecap Sedang Kecap Manis Kecap Asin Total


I Rp 1.100 Rp 650 Rp 450 Rp 2.200
II Rp 1.150 Rp 650 Rp 500 Rp 2.300
III Rp 1.200 Rp 700 Rp 450 Rp 2.350
IV Rp 1.300 Rp 700 Rp 500 Rp 2.500
Setahun Rp 4.750 Rp 2.700 Rp 1.900 Rp 9.350

PENYUSUNAN ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

BIAYA bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung terjadi untuk membiayai
produksi, artinya bila perusahaan tidak melakukan kegiatan produksi maka biaya tersebut
tidak terjadi. Besar kecilnya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung bergantung
pada tingkat produksi. Oleh karena itu biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
termasuk unsur biaya variable. Biaya tenaga kerja langsung termasuk biaya variable bila
sistem upah yang digunakan sistem upah tetap, seperti upah harian, upah bulanan, maka biaya
tenaga kerja langsung termasuk biaya tetap.

Biaya overhead pabrik (BOP) ada biaya pabrik selain bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung, biaya pabrik adalah biaya yang terjadi di pabrik periode ini meliputi biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung , dan biaya overhead pabrik. Dalam biaya overhead
pabrik terdapat biaya variable dan biaya tetap.

Biaya overhead pabrik variable adalah biaya overhead pabrik yang dipengaruhi oleh
besar kecilnya volume kegiatan produksi, sedangkan biaya overhead pabrik tetap adalah
biaya overhead pabrik yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya volume
kegiatan produksi.

Ilustrasi Penyusunan Anggaran Biaya Overhead Pabrik


Misalnya perusahaan kecap asli pada tahun 2016 menyusun anggaran biaya overhead
pabrik pada kapasitas produksi normal setahun 200 botol dengan waktu 20 jam kerja
langsung. Atas dasar unti produk dan atas dasar jam kerja langsung dapat dibuat pembebanan
biaya overhead pabrik yang dianggarkan seperti Tabel 9.2.

Dari Tabel 9.3 terlihat yang merupakan BOP variable penuh seperti biaya bahan
pembantu dan biaya Pernik pabrik.

Prusahaan kecap asli

Anggaran biaya overhead pabrik (BOP)

Atas dasar kapasitas normal 200 atau 20 jam kerja langsung

Tahun berkahir 31 dessember 2016

(dalam Rp)

Unsur biaya overhead Total BOP BOP BOP Variable BOP Tetap
Pabrik (BOP) BOP Tetap Variabel Per unit Per jam Per unit Per jam
Bahan pembantu 4.000 - 4.000 20 200 - -
Pernik pabrik 1.000 - 1.000 5 50 - -
Tenaga kerja tak langsung 7.000 1.000 6.000 30 300 5 50
Pemeliharaan pabrik 1.000 200 800 4 40 1 10
Listrik pabrik 3.000 2.000 1.000 5 50 10 100
Depresiasi pabrik 2.000 2.000 - - - 10 100
Asuransi pabrik 1.000 600 400 2 20 3 30
Lain-lain pabrik 1.000 600 400 2 20 3 30
20.0000 9.400 13.600 68 680 32 320
Jumlah
Semivariabel pada Tabel 9.3 terlihat jumlah BOP variable per unit (botol) sebesar Rp 68,
sedangkan jumlah BOP variable per jam sebesar Rp 680.

Dengan demikian BOP variable standar per botol kecap memerlukan waktu

Rp 68
¿ =0,1 jam
Rp 680

Pada Tabel 9.3 terlihat jumlah BOP tetap standar per unit sebesar Rp 32 dan jumah BOP
tetap per jam sebesar Rp 320.

Dengan demikian BOP tetap per botol kecap memerlukan waktu

Rp 32
¿ =0,1 jam
Rp 320
Dari perhitungan tersebut diatas, dapat dibuat biaya overhead pabrik standar per botol kecap
sebagai berikut.

BOP variable 0,1 jam @ Ro 680 = Rp 68

BOP tetap 0,1 jam @ Rp 320 = Rp 32

BOP per botol kecap = Rp 100

Bila kita gabungkan biaya bahan baku standar per unit produk dengan biaya tenaga kerja
langsung standar per unit produk dan biaya overhead pabrik stanar per unit produk, maka
dapatlah disusun harga pokok standar per botol produk jjadi berupa kecap seperti Tabel 9.4.

Perusahaan kecap asli

Harga produk standar per botol kecap sedang

Tahun berakhir 31 desember 2016

Unsur harga pokok produk Pengharga- Pengharga-


Pokokan penuh Pokokan variabel
BBB kedelai 2 ons @ Rp 100 Rp 200 Rp 200
Gula merah 0,5 ons @ Rp 240 Rp 120 + Rp 120 +

Rp 320 Rp 320
BTKL 0,1 jam @ Rp 500 Rp 50 Rp 50
BOP variabel 0,1 jam @ Rp 680 Rp 68 Rp 68
BOP tetap 0,1 jam @ Rp 320 Rp 32 -

Harga pokok standar per botol kecap Rp 470 Rp 438

Pada Tabel 9.4 tampak harga pokok standar per unit produk dalam hal ini harga pokok
standar per botol kecap sedang dengan metode penghargapokokan penuh (full costing) Rp
470 dan dengan metode penghargapokokan variable (variable costing) Rp 438.

Dengan dibuatnya harga pokok standar per botol kecap sedang, maka dapat ditentukan harga
jual per botol kecap sedang. Misalnya perusahaan menetapkan margin kontribusi per botol
kecap Rp 262, berarti harga jual per botol kecap sedang sebesar Rp 262 + Rp 438 = Rp 700.
Dengan demikian margin kontribusi yang diinginkan oleh perusahaan sebesar 262 : 700 =
37%.

Bila harga jual per botol Rp 700, berarti kenaikan 59,82% dari harga pokok variable per botol
kecap.
Harga pokok variable per botol kecap = Rp 438

Kenaikan 59,82% × Rp 438 = Rp 262

Harga jual per botol kecap = Rp 700

PENYUSUNAN ANGGARAN BEBAN USAHA

BEBAN usaha (operating expense) adalah beban kegiatan pokok perusahaan yang tidak
terjadi di pabrik, selain harga pokok jualan (cost of sales). Beban usaha terdiri dari: beban
penjualan, beban administrasi dan umum.

Beban penjualan adalah beban yang terjadi untuk kepentingan penjualan produk utama.
Beban penjualan ada yang bersifat tetap, tetapi ada juga yang bersifat variable.

Beban penjualan variable contohnya beban komisi penjualan, beban penghapusan pituang,
dan beban Pernik penjualan. Beban penjualan variable besar kecilnya dipengaruhi oleh
kegiatan penjualan.

Beban administrasi dan umum adalah beban yang umumnya terjadi pada bagian personalia,
bagian keuangan, dan bagian umum, seperti: beban gaji pemimpin dan staf, beban depresiasi
peralatan kantor, beban Pernik kantor, beban pemeliharaan kantor, dan beban umum lainnya.
Beban administrasi dan umum biasanya bersifat tetap.

Ilustrasi Penyusunan Anggaran Beban Usaha

Sebagai ilustrasi misalkan perusahaan kecap asli akan menyusun anggaran beban usaha
selama tahun 2016 dengan data sebagai berikut:

a. Mempunyai asset tetap yang terdiri atas: bagian penjualan senilai Rp 100.000 dan
bagian umum senilai Rp 50.000. asset tetap disusut dengan metode garis lurus 12%
setahun atau 3% tiap triwulan.
b. Jualan direncanakan triwulan: I Rp 24.400, II Ro 25.500, III Rp 26.750, dan IV Rp
26.950.
c. Komisi penjualan 5% dari penjualan dan penghapusan piutang ditaksir 2% dari jualan.
d. Gaji penjualan dan pemeliharaan alat penjualan tiap triwulan masing-masing Rp
1.000 dan Rp 700.
e. Pernik (supplies) penjualan ditaksir triwulan: I Rp 200, II Rp 210, III Rp 250, dan IV
Rp 250
f. Beban turunan harga triwulan I dan II masing-masing 1% dari jualan, triwulan III dan
IV masing-masing 2% dari jualan.
g. Beban penjualan lainnya pada triwulan I dan II masing-mainng Rp 150, triwulan III
dan IV masing-masing Rp 200.
h. Beban administrasi ditaksir tiap triwulan terdiri atas: gaji pemimpin dan staf kantor
Rp 300, asuransi alat kantor Rp 100, Pernik kantor Rp 50, pemeliharaan kantor Rp
125, dan lainnya Rp 75.

Dari data tersebut disusunlah anggaran beban usaha seperti Tabel 9.5. Pada Tabel 9.5
triwulan I komisi penjualan sebesar Rp 1.220 dengan perhitungan komisi penjualan tiap
triwulan 5% dari jualan pada triwulan bersangkutan, yaitu 5% × Rp 24.400 = Rp 1.220.

Perusahaan kecap asli

Anggaran beban usaha

Tiap triwulan pada tahun 2016

(dalam Rp)

Unsur beban usaha I II III IV Setahun


1. Beban penjualan
Komisi penjualan 1.220 1.275 1.338 1.338 5.171
Penghapusan piutang 488 510 535 539 2.072
Gaji penjualan 1.000 1.000 1.000 1.000 4.000
Pemeliharaan alat 700 700 700 700 2.800
Depresiasi alat 3.000 3.000 3.000 3.000 12.000
Turun harga 244 255 535 539 1.573
Pernik jualan 200 210 250 250 910
Lainnya 150 150 200 200 700
Jumlah 1 7.002 7.100 7.558 7.566 29.226
2. Beban administrasi
Gaji pemimpin/staf 300 300 300 300 1.200
Depresiasi staf 1.500 1.500 1.500 1.500 6.000
Asuransi alat 100 100 100 100 400
Pernik kantor 50 50 50 50 200
Pemeliharaan alat 125 125 125 125 500
Lainnya 75 75 75 75 300
Jumlah 2 2.150 2.150 2.150 2.150 8.600
3. Beban usaha (1+2) 9.152 9.250 9.708 9.716 37.826
Perhitungan beban penghapusan piutang tiap triwulan 2% dari jualan pada triwulan
bersangkutan, misalnya pada triwulan I = 2% × Rp 24.400 = Rp 488. Perhitungan beban
depresiasi alat penjualan tiap triwulan = 3% × Rp 100.000 = Rp 3.000. perhitungan beban
turun harga pada triwulan I = 1% × Rp 24.400 = Rp 244. Triwulan II = 1% × Rp 25.500 = Rp
255. Triwulan III = 2% × Rp 26.750 = Rp 535. Triwulan IV = 2% × Rp 26.950 = Rp 539.
Perhitungan depresiasi alat kantor tiap triwulan = 3% × Rp 50.000 = Rp 1.500.

Menyusun Anggaran Laba Rugi

Sebagai ilustrasi penyusunan anggaran laba rugi digunakan data dari perusahaan kecap asli
pada tahun 2016 sebagai berikut:

1. Sediaan produk dalam proses (PDP) awal 10 botol dengan tingkat penyelesaian BBB
80%, BTKL 30%, dan BOP 40%.
2. Anggaran sediaan produk dalam proses (PDP) akhir sebanyak 18 botol dengan tingkat
penyelesaian BBB 100%, BTKL 50% dan BOP 50%.
3. Prroduk terjual dengan tahun ini 148 botol dengan harga jual per botol Rp 700 = Rp
103.600. sediaan produk jadi awal 15 botol.
4. Anggaran produk jadi periode ini 182 botol.
5. Harga pokok standar produk kecap per botol seperti terdapat pada Tabel 9.4.
6. Beban usaha dianggarkan setahun Rp 37.826 terdiri atas beban usaha tetap Rp 28.100
dan beban usaha variable usaha variable Rp 9.726.

Berdasarkan data tersebut dibuat perhitungan untuk menyusun anggaran laba rugi.

Langkah pertama, menghitung sediaan produk jadi akhir sebagai berikut.

Jualan 148 botol

Sediaan produk jadi akhir ? botol +

Produk siap dijual 197 botol

Sediaan produk jadi awal 15 botol

Produk jadi 182 botol -

Sediaan produk dalam proses (PDP) akhir 18 botol +

Produk dihasilkan/produk diproses 200 botol


Sediaan produk dalam proses (PDP) awal 10 botol -

Produk masuk produksi periode ini 190 botol

Tampak pada perhitungan tersebut sediaan produk jadi akhir belum diketahui. Sediaan
produk jadi dapat diketahui sebanyak 49 botol dengan cara mengurangi produk siap dijual
197 botol dengan jualan 148 botol.

Langkah kedua, menghitung unit ekuivalen produk dengan metode masuk pertama keluar
pertama (MPKP) sebagai berikut.

Produk jadi + ekuivalen PDP akhir – ekuivalen PDP awal

BBB = 182 + (18 × 100%) – (10 × 80%) = 192 botol

BTKL = 182 + (18 × 50%) – (10 × 30%) = 188 botol

BBB = 182 + (18 × 50%) – (10 × 40%) = 187 botol

Langkah ketiga, menghitung biaya pabrik variable sebagai berikut.

BBB = 192 botol + Rp 320 = Rp 61.440

BTKL = 188 botol + Rp 50 = Rp 9.400

BBB = 187 botol + Rp 68 = Rp 12.716

Biaya pabrik variable = Rp 83.556

Langkah keempat, menghitung sediaan dengan metode penghargapokokan penuh (PP) dan
penghargapokokan variable (PV) sebagai berikut.

Sediaan produk awal

PP = 15 botol × Rp 470 = Rp 7.050

PV = 15 botol × Rp 438 = Rp 6.570

Sediaan produk akhir

PP = 49 botol × Rp 470 = Rp 23.030

PV = 49 botol × Rp 438 = Rp 21.462

Sediaan produk dalam proses awal


PP PV

BBB = 10 × 80% × Rp 320 = Rp 2.560 Rp 2.560

BTKL = 10 × 30% × Rp 50 = Rp 150 Rp 150

BOPV = 10 × 80% × Rp 320 = Rp 272 Rp 272

BOPT = 10 × 80% × Rp 320 = Rp 128 Rp -

Rp 3.110 Rp 2.982

Sediaan produk dalam proses akhir

PP PV

BBB = 18 × 100% × Rp 320 = Rp 5.760 Rp 5.760

BTKL = 18 × 50% × Rp 50 = Rp 450 Rp 450

BOPV = 18 × 50% × Rp 68 = Rp 612 Rp 612

BOPT = 18 × 50% × Rp 32 = Rp 288 Rp -

Rp 7.110 Rp 6.822

Langkah kelima, menyusun anggaran laba rugi seperti Tabel 9.6.

Perusahaan kecap asli

Anggaran laba rugi

Tahun berakhir 31 desember 2016

Keterangan Penghargapokokan
Penuh Variable
1. Jualan Rp 103.600 Rp 103.600
2. Biaya pabrik variable Rp 83.556 Rp 83.556
3. Biaya overhead pabrik Rp 6.400 -
4. Biaya pabrik Rp 89.956 -
5. Sediaan produk dalam proses awal Rp 3.110 Rp 2.982
6. Biaya produksi Rp 93.066 Rp 86.538
7. Sediaan produk dalam proses akhir Rp 7.110 Rp 6.822
8. Harga pokok produk jadi Rp 85.956 Rp 79.716
9. sediaan produk jadi awal Rp 7.050 Rp 6.570
10. produk siap dijual Rp 93.006 Rp 86.286
11. Sediaan produk jadi akhir Rp 23.030 Rp 21.462
12. Harga pokok produk jadi akhir Rp 69.976 Rp 64.824
13. Laba kotor/margin kontribui kotor Rp 33.624 Rp 38.776
14. Beban usaha variable Rp 9.726 Rp 9.726
15. Margin kontribusi bersih - Rp 29.050
16. Beban usaha tetap Rp 28.100 Rp 28.100
17. Biaya overhead pabrik tetap - Rp 6.400
18. Biaya tetap - Rp 34.500
19. Rugi (Rp 4.202) (Rp 5.450)
Tampak pada Tabel 9.6 terdapat selisih rugi Rp 1.248, yaitu Rp 4.202 – Rp 5.450. Penyebab
selisih rugi Rp 1.248 tersebut adalah selisih sediaan antara metode penghargapokokan penuh
dan metode penghargapokokan variable dengan perhitungan sebagai berikut.

Sediaan metode penghargapokokan penuh:

Sediaan produk dalam proses awal Rp 3.110

Sediaan produk jadi awal Rp 7.050

Sediaan awal Rp 10.160

Sediaan produk dalam transaksi Rp 7.110

Sediaan produk jadi akhir Rp 23.030

Sediaan akhir Rp 30.140

Selisih sediaan penghargapokokan penuh Rp 19.980

Sediaan metode penghargapokokan variable:

Sediaan produk dalam proses awal Rp 2.982

Sediaan produk jadi awal Rp 6.570

Sediaan awal Rp 9.552

Sediaan produk dalam transaksi Rp 6.822

Sediaan produk jadi akhir Rp 21.462

Sediaan akhir Rp 28.284

Selisih sediaan penghargapokokan variable Rp 18.732

Selisih sediaan Rp 1.248


Anggaran laba rugi metode penghargapokokan variable seperti tampak pada Tabel 9.6 dapat
dibuat dalam bentuk singkat seperti Tabel 9.7.

Perusahaan kecap asli

Anggaran laba rugi

Tahun berakhir 31 desember 2016

Jualan 148 botol Rp 700 = Rp 103.600

Biaya variable 148 botol × Rp? = Rp ?

Margin kontribusi = Rp 29.050

Biaya tetap = Rp 34.500

Rugi Rp 5.450

pada Tabel 9.7 tampak jumlah biaya variable dan biaya variable per botol belum diketahui.
Jumlah biaya variable Rp 74.550 dapat diketahui dengan cara jualan Rp 103.600 dikurangi
margin kontribusi Rp 29.050. dengan demikian biaya variable per botol = Rp 74.550 : 148
botol = Rp 503,71622.

Biaya variable per botol dapat juga dihitung sebagai berikut.

Harga pokok per botol (Tabel 9.4) = Rp 438,00000

Beban usaha variable Rp 9.726 ÷ 148 botol = Rp 65,71622 +

Biaya variable per botol = Rp 503,71622

Anggaran laba rugi dapat dilengkapi dengan anggaran biaya produksi untuk
penghargapokokan penuh (PP) dan penghargapokokan variable (PV) seperti Tabel 9.8.

Pada Tabel 9.8 biaya penyelesaian produk dalam proses awal 10 botol sebesar Rp 1.590
untuk metode penghargapokokan penuh (PP) dan sebesar Rp 1.398 untuk penghargapokokan
variable (PV) dengan perhitungan sebagai berikut.

Perusahaan kecap asli

Anggaran biaya produksi


Tahun berakhir 31 desember 2016

I. Data produksi
Sediaan produk dalam proses awal …………………………. 10 botol
Produk masuk produksi periode ini ………………………… 190 botol
Produk diproses ………………………………………………………... 200 botol
Produk jadi ………………………………………………….. 182 botol
Sediaan produk dalam proses akhir ………………………… 18 botol
Produk dihasilkan ……………………………………………………… 200 botol
II. Biaya produksi dibebankan

Biaya Unit ekuivalen/ Biaya pabrik Harga pokok produk


kapasitas normal Per botol
PP PV PP PV
BBB 192 botol Rp 61.440 Rp 61.440 Rp 320 Rp 320
BTKL 188 botol Rp 9.400 Rp 9.400 Rp 50 Rp 50
BOPV 187 botol Rp 12.716 Rp 12.716 Rp 68 Rp 68
BOPT 200 botol Rp 6.400 - Rp 32 -
Jumlah biaya pabrik Rp 89.956 Rp 83.556 Rp 470 Rp 438
Sediaan produk dalam proses awal Rp 3.110 Rp 2.982
Biaya produksi Rp 93.066 Rp 86.538
III. Biaya produksi diperhitungkan PP PV
Sediaan produk dalam proses awal 10 botol Rp 3.110 Rp 2.982
Biaya penyelesaian produk dalam proses awal Rp 1.590 Rp 1.398
Harga pokok produk jadi 10 botol Rp 4.700 Rp 4.380
Harga pokok produk jadi 172 botol Rp 81.256 Rp 75.336
Harga pokok produk jadi 182 botol Rp 85.956 Rp 79.716
Sediaan produk dalam proses akhir Rp 7.110 Rp 6.822
Biaya produksi Rp 93.066 Rp 86,538

BBB 20% × 10 botol × Rp 320 Rp 640 Rp 640

BTKL 70% × 10 botol × Rp 50 Rp 350 Rp 350

BOPV 60% × 10 botol × Rp 68 Rp 408 Rp 408

BOPT 60% × 10 botol × Rp 32 Rp 192 -


Rp 1.590 Rp 1.398

Harga pokok produk jadi 172 botol metode penghargapokokan variable (PV) sebesar Rp
75.336 dan metode penghargapokokan penuh (PP) sebesar Rp 81.256 dihitung sebagai
berikut.

Kapasitas normal = 200 botol

Unit ekuivalen sediaan produk dalam proses

Akhir = 18 botol × 50% = 9 botol

Akhir = 10 botol × 40% = 4 botol

= 5 botol

= 195 botol

Sediaan produk dalam proses awal = 10 botol

= 185 botol

Tarif biaya overhead pabrik tetap (BOPT) = Rp 32×

= Rp 5.920

Harga pokok produk jadi metode PV = 172 botol×Rp 438 = Rp 75.336

Harga pokok produk jadi metode PP = 172 botol = Rp 81.256

PELATIHAN

Soal 9.1

Berikut ini data anggaran produk PT galuh banjar tahun 2010 dan data lainnya.

PT galuh banjar

Anggaran produk

Tahun 2010

(dalam unit)
Keterangan Produk A Produk B Produk C Jumlah
Jualan 15.000 10.000 25.000 50.000
Sediaan akhir + 3.000 5.000 7.000 15.000
Produk siap dijual 18.000 15.000 32.000 65.000
Sedian awal - 3.000 4.000 7.000 14.000
Produk jadi 15.000 11.000 25.000 51.000

Jam standar tenaga kerja langsung

Jenis produk Departemen 1 Departemen 2 Departemen 3


Produk A 2 jam kerja 1 jam kerja 4 jam kerja
Produk B 2 jam kerja 1 jam kerja 2 jam kerja
Produk C 1 jam kerja 2 jam kerja 3 jam kerja

Tarif upah standar tenaga kerja langsung per jam:

Departemen 1 = Rp 600

Departemen 2 = Rp 200

Departemen 3 = Rp 500

Berdasarkan data tersebut, buatlah anggaran biaya tenaga kerja langsung.

Soal 9.2

Perusahaan selama sebulan menjual produknya sebanyaj 100 unit, sediaan produk jadi awal 5
unit, dan sediaan produk jadi akhir 8 unit. Terdapat sediaan produk dalam proses awal 10 unit
dengan tingkat penyelesaian BTKL (biaya tenaga kerja langsung) 70%, dan sediaan produk
dalam proses akhir 15 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 40%. Jam standar tenaga kerja
langsung untuk membuat 1 unit produk diperlukan waktu 2 jam, dan tarif upah standar tenaga
kerja langsung per jam Rp 200. Berapakah biaya tenaga kerja langsung sebulan?

Jawaban Pelatihan

Jawaban soal 9.1

PT galuh banjar

Anggaran biaya tenaga kerja langsung

Tahun 2010

(dalam unit)
Keterangan Departemen Jumlah
1 2 3
Produk A: 15.000 × 2 jam 30.000 jam - - -
15.000 × 1 jam - 15.000 jam - -
15.000 × 4 jam - - 60.000 jam 105.000 jam
Produk B: 11.000 × 2 jam 22.000 jam - - -
11.000 × 1 jam - 11.000 jam - -
11.000 × 2 jam - - 22.000 jam 55.000 jam
Produk C: 25.000 × 1 jam 25.000 jam - - -
25.000 × 2 jam - 50.000 jam - -
25.000 × 3 jam - - 75.000 jam 150.000 jam
JKSt tenaga kerja langsung 77.000 jam 76.000 jam 157.000 jam 310.000 jam
terpakai
Tarif upah standar (TUSt) Rp 600 Rp 200 Rp 500
Biaya tenaga kerja langsung Rp 46.200.000 Rp 15.200.000 Rp 78.500.000 Rp 139.900.000

Jawaban soal 9.2

Jualan sebulan 100 unit

Sediaan produk jadi akhir 8 unit

Produk siap dijual 108 unit

Sediaan produk jadi awal 5 unit

Produk jadi 103 unit

Sediaan produk dalam proses akhir 15 unit × 40% = 6 unit

109 unit

Sediaan produk dalam proses awal 10 unit × 70% = 7 unit

Unit ekuivalen produk 116 unit

Jam kerja standar (JKSt) tenaga kerja langsung terpakai sebulan = 116 unit × 2 jam = 232
jam. Biaya tenaga kerja langsung (BTKL) sebulan = 232 jam × Rp 200 = Rp 46.400.

TES FORMATIF

1. (B) Tukang sorter


2. (A) Tukan sol
3. (C) Biaya angkut bulan baku
4. (C) Biaya pemeliharaan pabrik
5. (A) Biaya bahan pembantu
6. (C) Bebab bunga
7. (D) Beban ditangguhkan
8. (B) Rp 2.100
9. (D) Beban komisi penjualan Rp 11.000 dan beban turun harga Rp 3.520
10. (C) Beban sewa toko
11. (D) Beban distribusi
12. (B) Kerugian penghapusan piutang usaha
13. (D) Beban komisi penjualan
14. (C) Bidang produksi
15. (A) Beban bunga
16. (A) Anggaran kas
17. (C) Rp 600
18. (D) Manajer umum

TUGAS

Tugas 9.1

Perusahaan dodol kandangan memproduksi satu jenis produk dengan harga pokok standar per
kg dodol sebagai berrikut.

Biaya bahan baku 2 kg @ Rp 100 = Rp 200

Biaya tenaga kerja langsung 3 jam @ Rp 50 = Rp 150

Biaya overhead pabrik variable 3 jam @ Rp 20 = Rp 60

Biaya overhead pabrik tetap 3 jam @ Rp 10 = Rp 30

Harga pokok standar per kg dodol Rp 440

Kapasitas normal setahun 35.000 jam kerja langsung. Biaya depresiasi pabrik tiap triwulan
Rp 50.000. selama tahun 2009 perusahaan menganggarkan produk jadi sebagai barikut.

Triwulan I 10.000 kg

II 11.000 kg

III 12.000 kg
IV 13.000 kg

Berdasarkan data tersebut, susunlah tiap triwulan:

1. Jam kerja standar tenaga kerja langsung terpakai dan anggaran biaya tenaga kerja
langsung.
2. Anggaran biaya overhead pabrik disertai anggaran biaya overhead pabrik tunai.

Tugas 9.2

Anggaran jualan selama triwulan I tahun 2009 dari perusahaan wajik amandit sebagai
berikut.

Januari 5.000 kg @ Rp 1.000 = Rp 5.000.000

Februari 5.500 kg @ Rp 1.000 = Rp 5.500.000

Maret 6.000 kg @ Rp 1.000 = Rp 6.000.000

Taksiran beban tiap bulan sebagai berikut:

Komisi penjualan 10% dari jualan bulan bersangkutan, angkutan penjualan 5% dari jualan
bulan bersangkutan, administrasi penjualan Rp 100.000, administrasi dan umum tunai Rp
200.000, depresiasi ala penjualan Rp 20.000, depresiasi alat kantor Rp 30.000.

Berdasarkan data tersebut, susunlah anggaran beban penjulan, anggaran beban administrasi
dan umum, serta anggaran beban usaha tunai tiap bulan.

Jawaban

Jawaban Tugas 9.1

1. Anggaran biaya tenaga kerja langsung triwulan I Rp 1.500.000, triwulan II Rp


1.650.000, triwulan III Rp 1.800.000, dan triwulan IV Rp 1.950.000.
2. Anggaran biaya overhead pabrik triwulan I Rp 1.000.000, triwulan II Rp 1.060.000,
triwulan III Rp 1.120.000, dan triwulan IV Rp 1.180.000. anggaran biaya overhead
pabrik tunai triwulan I Rp 950.000, triwulan Rp 1.010.000, dan setahun Rp 4.160.000.

Jawaban Tugas 9.2

Beban penjualan bulan januari Rp 870.000, februari Rp 945.000, dan maret Rp1.020.000.
Beban administrasi dan umum tiap bulan Rp 230.000. Beban usaha bulan januari Rp
1.100.000, februari Rp 1.175.000, dan maret Rp 1.250.000.
PERTEMUAN VI

LATIHAN SOAL ANGGRAN PRODUKSI DAN ANGGARAN BAHAN BAKU

SOAL I

Perusahaan Kecap Lezat-A hanya memproduksi satu jenis kecap dan merencanakan
penjualan tahun 2020 tiap triwulan sbb :

TW I = 430 botol, TW II = 450 botol, TW III = 470 botol, TW IV = 470 botol dan setahun
1820 botol.

Direncanakan persediaan awal kecap Lezat-A 130 botol dan persediaan akhir 150 botol.

Dari data tersebut anda diminta menyusun Anggaran Produksi tiap Triwulan dengan
mengutamakan stabilitas produksi.

SOAL II

PT Caplin bergerak dalam bidang pembuatan boneka Teletubis akan menyususn Anggaran
produksi untuk tahun 2020 dengan data-data sbb :

1. Kebijakan Produksi yang dipakai yaitu produksi “STABIL”


2. Rencana penjualan tahun 2020 sebanyak 600.000 buah boneka
3. Kebijakan Persediaan: persediaan akhir tahun 2019 sebanyak 50.000 buah boneka,
tingkat persediaan akhir 2020 yang diinginkan 20.000 buah boneka
4. Rencana index pejualan tiap bulan dan kuartal adalah sbb :
Januari 6% kuartal I ....%

Februari 4% kuartal III 25%

Maret 10% kuartal IV 20 %

April 5% kuartal IV 30%

Diminta :

1. Menghitung tingkat produksi untuk sepanjang tahun 2020


2. Menyusun Anggaran Produksi dan Anggran barang jadi tahun 2020

SOAL III

Chandra chemical, Inc memproduksi dua jenis produk, yaitu Produk Cwity dan chemplon
dengan data2 sbb :

1. Rencana penjualan (unit)


Produk Cwity Produk Cemplon

Triwulan I 30.000 35.000

Triwulan II 40.000 45.000

Triwukan III 50.000 50.000

Triwulan IV 55.000 50.000

2. Persediaan Produk jadi yang dikehendaki :


Persediaan Awal : Cwity 10.000 unit

Chemplon 20.000 unit

Persediaan Akhir : Cwity 15.000 unit

Chemplon 5.000 unit

3. Setiap unit produk Cwity memerlukan bahan baku-X 2 unit dan bahan baku-Y 3 unit.
Setiap unit produk Chemplon memerlukan bahan baku-X 4 unit dan bahan baku-Y 5
unit.

4. Harga beli bahan baku-X adalah Rp 10.000,- dan harga beli bahan baku-Y adalah Rp
20.000,-
5. Kebijakan persediaan Awal bahan baku-X dan bahan baku-Y adalah setengah
kebutuhan bahan baku untuk produksi yang bersangkutan.

6. Persediaan Akhir bahan baku-X adalah 15.000 unit


Persediaan Akhir bahan baku-Y adalah 20.000 unit

Diminta :

1. Menghitung Rencana Produksi masing2 Cwity dan Chemplon per Triwulan untuk
tahun 2020
2. Membuat anggran kebutuhan Pemakaian Bahan Baku-X dan –Y untuk masing2
produk di tahun 2020
3. Membuat Anggaran Pembelian bahan baku untuk Cwity dan Cheplon bahan baku di
tahun 2020
4. Membuat Anggaran Biaya bahan baku masing2 produk dan bahan baku di tahun 2020

Jawaban

1.

Produk jadi dihasilkan 1820 botol

Sediaan produk jadi akhir 150 botol +

Produk siap dijual 1970 botol

Sediaan produk jadi awal 130 botol –

Produk jadi periode ini 1840 botol

Anggaran produk tiap triwulan = 1840 botol / 4 = 460 botol.

Perusahaan Kecap Lezat-A

Anggaran produk
Tahun berakhir 31 Desember 2020

(dalam botol)

Keterangan Triwulan Setahun


I II III IV
1. Jualan 430 450 470 470 1820

2. Sediaan akhir + 160 170 160 150 150


3. Produk siap dijual 590 620 630 620 1970

4. Sediaan awal – 130 160 170 160 130


5. Produk jadi 460 460 460 460 1840

2.
 Anggaran produksi 2020
- Jumlah setahun = 600.000
- Produk jadi akhir = 50.000
______ +
- Produk siap dijual = 650.000
- Produk jadi awal = 20.000
______ -
- Produk jadi periode ini = 630.000 : 4 = 157.500

Triwulan
Keterangan Setahun
I II III IV
1. Juml 150.000 150.000 120.000 180.000 60.000
ah
2. Sediaan 27.500 35.000 72.500 50.000 50.000
Akhir
3.Siap jual 185.000 185.000 192.500 230.000 650.000
4.Sediaan 27.500 27.500 35.000 72.500 20.000
awal
5.Produk 157.500 157.500 157.500 157.500 630.000
jadi

 Tingkat produksi 2020


Tingkaat produksi pada triwulan 5 sd triwulan 6 mengalami peningkatan yang
berkala.

3. Rencana produksi PT Cwity


Rencana penjualan 175.000
Persediaan akhir 15.000 +
Jumlah barang yang tersedia 190.000
Persediaan awal 10.000 –
Rencana produksi 180.000

Rencana produksi PT. Chemplon


Rencana penjualan 180.000
Persediaan akhir 5.000 +
Jumlah barang yang tersedia 185.000
Persediaan awal 20.000 -
Rencana produksi 165.000

PT Cwity
Anggaran Kebutuhan Pemakaian Bahan Baku

Bahan Baku
Barang Produk
Setiap Unit Produk Kebutuhan
X 10.000 2 5.000
Y 20.000 3 7.500
Jumlah 12.500

PT Chemplon
Anggaran Kebutuhan Pemakaian Bahan Baku

Bahan Baku
Barang Produk
Setiap Unit Produk Kebutuhan
X 10.000 4 10.000
Y 20.000 5 2.500
Jumlah 12.500

PT Cwity
Anggaran Biaya Bahan Baku

Produk BB Kebut. BB/ Hrg. Beli/ Biaya Biaya BB/


Unit unit bahan unit
X Triwulan I 5 10.000 30.000 30.000
Triwulan II 5 10.000 40.000 40.000
Triwulan 5 10.000 50.000 50.000
III
Triwulan 5 10.000 55.000 55.000
IV
Total 175.000

PT Chemplon
Anggaran Biaya Bahan Baku

Produk BB Kebut. BB/ Hrg. Beli/ Biaya Biaya BB/


Unit unit bahan unit
X Triwulan I 9 20.000 30.000 30.000
Triwulan II 9 20.000 40.000 40.000
Triwulan 9 20.000 50.000 50.000
III
Triwulan 9 20.000 55.000 55.000
IV
Total 180.000