Anda di halaman 1dari 32

STEP 1:

1. Nyeri Tarik Auricula: Nyeri saat daun teliga ditekan atau ditarik
2. Nyeri tekan Tragus : Nyeri saat bagian tragus ditekan , bagian tragus merupakan tonjolan
didepan lubang telinga
3. Nyeri Ketok Retro Auricula: Nyeri saat bagian retroauricula diketok ; retro auricula berada
dibelakang pinna
4. Pemeriksaan Otoskopi : Pemeriksaan telinga dengan lensa pembesar,dapat melihat telinga
dalam sampai tengah .
5. Debris berwarna putih : benda atau partikel asing yang berwarna putih.

STEP 2:

1. Jelaskan mengenai Anatomi Organ Telinga Luar, Tengah , dan Dalam !


2. Bagaimana Fisiologi dari Sistem Pendengaran ?
3. Mengapa didapatkan Nyeri Telinga pada keluhan pasien ?
4. Mengapa pasien mengalami Penurunan Pendengaran ?
5. Apa Interpretasi hasil yang didapatkan dari pemeriksaan otoskopi !
6. Apa hubungan dari pasien membersihkan telinga dengan cotton bud dan jari dengan keluhan
pasien ?
7. Apa penyebab pasien mengalami keluhan tersebut ?Apa hubungan pekerjaan pasien sebagai
atlet renang dengan keluhan yang dialami ?
8. Bagaimana pedoman diagnosis dari kasus diatas ?
9. Apa diagnosis dan diagnosis banding dari Nyeri Telinga !
10. Apa etiologi dari penurunan pendengaran ?
11. Apa Diagnosis banding dari penurunan pendengaran ?
12. Apa tatalaksana dan edukasi yang diberikan kepada pasien ?
13. Apa Komplikasi yang dapat terjadi ?

STEP 3:

1. Jelaskan mengenai Anatomi Organ Telinga Luar, Tengah , dan Dalam !


 Telinga Luar : Terdiri dari daun telinga,MAE, dan membra timpani
Daun telinga terdiri dari tulang rawan , bentuknya seperti huruf S
Bagian kulit telinga terdapat banyak serumen
CAE 1/3 Bagian Luar : lebih kelenjar seruminosa ( modifikasi dari kelenjar sudorifera) ,
kelenjar sebasea dan folikel rambut, kulit lebih tebal ( sbg anti bakteri) dari kelenjar
tersebut mengeluarkan secret serumen yang terbentuk keratinosit, lemak jenuh,lisozim, dan
bersifat asam .
CAE 2/3 : tdk mengandung folikel rambut , tipis
Membran Timpani membatasi antara telinga luar dan Telinga Tengah
 Telinga Tengah ( bisa disebut rongga timpani) : Tuba Eustachius ( menghubungkan telinga
tengah dengan Nasofaring) , dan ada 3 Tulag Pendengaran (Malleus,Incus,Stapes)
Mengahantarkan rangsang pendengaran di oval window
 Telinga dalam : Coclea : berbentuk vestibular , organ of corti merupakan reseptor saluran
pendengaran . Vestibulum : untuk posisi kepala , Canalis Semisirkularis: untuk rotasi
kepala Vestibulum dan canalis semisirkularis sebagai penyeimbang tubuh
2. Bagaimana Fisiologi dari Sistem Pendengaran ?
Telinga Luar :
Pinna ( Daun telinga) Mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkan gelombang
MAE  Terdapat rambut rambut halus dan serumen yang mencegah partikel di udara supaya
tidak sampai ke saluran telinga
Membran Timpani : Bergetar ketika ada gelombang suara
 Telinga Tengah :
3 Tulang Malleus,Incus,Stapes
Tekanan udara tinggi akan membuka tuba eustachii , selain itu bisa karena menguap
 Telinga Dalam :
Coclea : Mengandung reseptor untuk merubah gelombang mnjd impuls saraf , terdapat cairan ,
skala media, vestibular, skala timpani
Apparatus Vestibularis :untuk keseimbangan
Fisiologi Mendengar :
Ada suara yang ditangkap oleh daun telinga  Lewatliang telinga  Menggetarkan membrane
timpani  3 Tulang pendengaran  Meneruskan/ Menggerakan perilimfe sehingga skala
vestibuli bergetar  membrana reissner  mendorong endolimfa  gerakan membrane
tektorial  pelepasan ion Na K  pelepasan ion Na mnjd Depolarisasi  potensial aksi 
diteruskan di korteks pendengaran  Lobus..
Mana Korteks yang menangkap suara untuk mendefinisikan suara
Frekuensi yang bisa didengar dari 20-20.000 Hz
3. Mengapa didapatkan Nyeri Telinga pada keluhan pasien ?
 Dari scenario : Pasien sering membersihkan telinga dengan cotton bud  bisa terbentuk
lapisan asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang menghambat pertumbuhan bakteri
danjamur . Pembentukan serumen sebenarnya sebagai protektif di MAE  karena zat
protektif nya berkurang  Suhu dan Kelembapan Meningkat  MAE yang lembab,hangat
dan kotor sbg tempat pertumbuhan kuman dan mikroorganisme yang baik  tumbuh 
ada mediator inflamasi  histamin , prostaglandin  Hiperemi Lokal ke area tersebut 
suhu lebi tinggi , kebocoran kapiler dapat terjadi sehingga menjadi edem dan nyeri
 4,7pH terjadi perubahan pH  Serumen terganggu  juga menjadi salah satu factor
tempat perkembang biakan dari bakteri .
Selain Serumen sering diambil bisa juga malah semakin terdorong kedalam  dekat
membrane timpani  Ada saluran yang dapat mengakibatka serumen lebih mengendap dan
keras  Pendengaran berkurang
4. Mengapa pasien mengalami Penurunan Pendengaran ?
 Selain Serumen sering diambil bisa juga malah semakin terdorong kedalam  dekat
membrane timpani  Ada saluran yang dapat mengakibatka serumen lebih mengendap dan
keras  Pendengaran berkurang
 Penurunan Pendengaran  hubungannya dengan kebiasaan membersihkan dengan cotton
bud , dapat lebih masuk sampai sebelum ke gendang telinga , lembab bisa terinfeksi
jamur  muncul hifa  mengganggu penghantaran pendengaran
 Gangguan Telinga Konduktif  SUmbatan pada saluran luar – Tengah karena ada
sumbatan , tdk menimbulkan tuli total
Gangguan telinga Saraf  suara yang ditangkap menjadi tidak jelas
Gangguan telinga Campuran  gabungan antara kedua gangguan

5. Apa Interpretasi hasil yang didapatkan dari pemeriksaan otoskopi !


Px otoskopi : CAE Dextra ampak edem dan sempit  Adanya rx Inflamasi
Debris putih hifa +  Kemungkinan Infeksi Jamur
Membran Timpani tdk terlihat  Ada pembengkakan dari CAE jadi tidak terlihat
CAE Sinistra : N
6. Apa hubungan dari pasien membersihkan telinga dengan cotton bud dan jari dengan keluhan
pasien ?
 Dari scenario : Pasien sering membersihkan telinga dengan cotton bud  bisa terbentuk
lapisan asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang menghambat pertumbuhan bakteri
danjamur . Pembentukan serumen sebenarnya sebagai protektif di MAE  karena zat
protektif nya berkurang  Suhu dan Kelembapan Meningkat  MAE yang lembab,hangat
dan kotor sbg tempat pertumbuhan kuman dan mikroorganisme yang baik  tumbuh 
ada mediator inflamasi  histamin , prostaglandin  Hiperemi Lokal ke area tersebut 
suhu lebi tinggi , kebocoran kapiler dapat terjadi sehingga menjadi edem dan nyeri
7. Apa penyebab pasien mengalami keluhan tersebut ?
Hifa + : Aspergillus dan Candida , Aspergillus PH 5,7 suhu maks 37 C jika ada peradangan dia
semakin tumbuh dengan baik
Jika membersihkan telinga tidak tau seberapa dalam  bisa menyebabka gesekan di CAE 
Timbul rx Inflamasi  Nyeri
8. Apa hubungan pekerjaan pasien sebagai atlet renang dengan keluhan yang dialami ?
Saat Berenang / Membersihkan telinga dengan air  bisa membawa serumen keluar dari
telinga , Air juga membawa banyak bakteri/mikroorganisme  berkurangnya jumlah serumen
 menyebabkan tidak adanya proteksi pada CAE nya  sehingga dapat menjadi tempat
berkembang biak bagi mikroorganisme contohnya Jamur  Hifa +
Kultur Serumen diambil  dieramkan sampai 1 minggu
 Berenang Terpapar air terus menerus dan serumen keluar  CAE Kering  mudah tergesek
 Rx Inflamasi
9. Bagaimana pedoman diagnosis dari kasus diatas ?
 Anamnesis :
Keluhan Utama :
 telinga Sakit ( Sejak kapan , awal gimana ) Otitis Externa ,, Otitis Media Akut dan
mastoiditis
 Penurunan Pendengaran ; Kel Kongenital,Anatomi, Trauma , Otitis Eksterna
 Telinga Berdengung  Otitis Externa, Otitis media akut dan kronis
 Keluar Cairan : infeksi Otitis Media granulasi dan polip
 Pemeriksaan : Inspeksi telinga (lihat kulit, gendang telinga, palpasi telinga ,Auskultasi
Test Bisik ( Screening gangguan pendengaran untuk membedakan Tuli hantaran dan
sensori )
test garpu tala
Kultur
10. Apa diagnosis dan diagnosis banding dari Nyeri Telinga !
 1. Otitis EKstrena : Peradangan pada liang telinga , kelembapan, penyumbatan , dan Trauma,
ditemukan nyeri tekan Tragus atau edema atau hiperemis pada meatus austicus.
 2. Otitis Media Akut : Bisa terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu , sumbatan
pada tuba eustachius ( ada 5 stadium Oklusi Tuba Eustachius, Hiperemis , Stadium SUpurasi
dan perforasi , Resolusi ) nyeri dan gangguan pendengaran pada OMA
 3. Otitis Media SUpuratif Kronik :Nyeri, disertai keluar cairan , jangka waktu lama

11. Apa etiologi dari penurunan pendengaran ?


12. Apa Diagnosis banding dari penurunan pendengaran ?
13. Apa tatalaksana dan edukasi yang diberikan kepada pasien ?
14. Apa Komplikasi yang dapat terjadi ?

STEP 4 MAPPING
Otitis Media SUpuratif
Kronik

Otitis Media AKut


STEP 7:

1. Jelaskan mengenai Anatomi Organ Telinga Luar, Tengah , dan Dalam !

Jelaskan mengenai Anatomi Organ Telinga Luar, Tengah , dan Dalam !

a. Telinga luar

Sumber: Sherwood

Terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membrane timpani. 1/3 lateral kartilago dan
2/3 medial tulang. Dilapisi kulit dan kelenjar seruminase (modifikasi kelenjar keringat).
Struktur :
a. Auricular  terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit.
b. Meatus Acuticus Externus, terdiri dari :
 Pars cartilage : 1 cm
 Pars ossea : 2 cm
Persarafan telinga luar :
a. Nervus auriculotemporalis
b. Nervus occipitalis minor
c. Nervus auricularis major
d. Ramus auricularis nervi vagi
e. Nervus facialis
Perdarahan telinga luar :
a. Arteri temporalis superficial
b. Ramus auricularis profundus arteri maxillaries
c. Arteri auricularis posterior
A. Telinga tengah
Dipisahkan dengan telinga luar oleh membrane tympani.
Batas-batas :
a. Batas luar : membrane tympani
b. Batas depan : tuba eustachii
c. Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)
d. Batas belakang : aditus ad antrum (lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan
antrum mastoid), kanalis fasialis pars vertikalis
e. Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)
f. Batas dalam : dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis,
tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan
promontorium.
Organ-organ yang terdapat di telinga tengah :
a. Membrane tympani
Memisahkan cavum tympani dengan meatus acisticus externum (m.a.e)
 Membrane tipis, semitransparan, oval, kedudukan miring caudomedial, 50 derajat
terhadap m.a.e.
 Terdiri dari pars flaccid/membrane Shrapnell (superior) dan pars tensa/membrane
propria (inferior)
 Dilekati oleh manubrium malei pada permukaan medialnya.

 Bayangan penonjolan bagian bawah maleus disebut Umbo.


 Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light) kearah bawah, yaitu pukul 7
untuk membrane timpani kiri dan pukul 5 untuk membrane timpani kanan.
 Reflex cahaya adalah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membrane timpani, yaitu
serabut sirkuler dan radier. Secara klinis reflex ini dapat dinilai, misalnya bila reflex
cahaya mendatar, berarti terdapat gangguan pada tuba eustachii.
 Membrane timpani dibagi menjadi 4 kuadran :
o Antero-superior
o Postero-superior
Untuk menyatakan letak perforasi
o Antero-inferior
o Postero-inferior
Bila melakukan miringotomi atau parasentesis, dibuat insisi di bagian postero-inferior,
sesuai dengan arah serabut
b. Cavum tympani
Rongga berisi udara di dalam pars petrosa ossis temporalis.
Struktur : memiliki 4 dinding, atap dan dasar.
DINDING
Terdiri dari dinding lateral, medial, anterior dan posterior
Dinding lateral
Terisi membrane tympani dan cincin tulang tempat perlekatan membrane tympani, pars
squamosa os temporalis.
Terdapat bangunan chorda tympani, yang menyilang pars flaccid
Dinding medial
Memisahkan cavum tympani dengan telinga dalam, terdapat beberapa bangunan :
 Fenestra vestibule, menuju telinga dalam
o Lateral : basis stapedius
o Medial : perilymphe vestibuli
 Fenestra cochlearis, medial, perilymphe dari ujung saluran cochlea
 Promontorium : dibentuk dari tonjolan bagian cochlea dan mengandung serabut
saraf dari plexus tympanicus.
 Tonjolan dari canalis nervus facialis.
Dinding anterior
Terdapat bangunan :
 Tuba auditiva (eustachii), fungsi untuk menyamakan tekanan telinga tengah dan
faring
 Canalis untuk M. tensor tympanicus
 Cabang-cabang arteri carotis interna
Dinding posterior
Terdapat bangunan :
 Aditus dan antrum mastoideum
 Eminentia pyramidalis (M. stapedius)
ATAP
Tegmen tympani (bagian dari os petrosum), memisahkan cavum tympany dengan fosa
crania media
DASAR
Memisahkan cavum tympany dari A. carotis interna dan V. jugularis interna
Dibentuk oleh :
 Lamina tympanica (os petrosum)
 Fossa jugulare
 Canalis caroticus
 Nervus Jacobsen (cabang tympanica N.IX)

c. Ossicula auditiva
Malleus
Bagian-bagian :
 Caput : bersendi dengan incus
 Leher (collum mallei)
 Manubrium
o Tempat insertion M. tensor tympanicum
o Melekat pada membrane tympani
 Processus anterior : berhubungan dengan fissure petrotympanicum
 Processus lateralis : berhubungan dengan bagian atas membrane tympani
Incus
Bagian-bagian :
 Corpus : bersendi dengan caput mallei
 Crus longum : bersendi dengan caput stapedii
 Crus brevis : berhubungan dengan recessus epitympanicus
Stapes
 Caput : bersendi dengan incus
 Collum : tempat insertion M. stapedius
 Crus : menghubungkan collum dengan basis
 Basis : melekat pada fenestra ovalis
Persendian ossicula auditiva : articulation synovial
Fungsi : menghantarkan getaran suara ke telinga dalam

B. Telinga dalam
TELINGA DALAM
Berfungsi untuk pendengaran dan keseimbangan.
LABYRINTH OSSEA
Struktur ini letaknya di dalam pars petrosa ossis temporalis, dilapisi periosteum dan
mengandung cairan perilymphe. Didalamnya terdapat labyrinth membranaceae yang terdiri dari
3 bagian :
Vestibulum
 Letaknya diantara cochlea (depan) dan canalis semicircularis (belakang).
 Isi
o Sacculus
o Utriculus
o Sebagian dari ductus endolymphaticus
Cochlea
Berfungsi dalam proses pendengaran dan keseimbangan
 Berbentuk konus (seperti rumah keong)
 Modiolus adalah tulang pusat, sebagai sumbu dimana cochlea melingkar seperti spiralis
 Isinya ductus cochlearis
 Membrane basilaris membagi saluran didalam cochlea menjadi dua (scala tympani dan
scala vestibuli) dan saling berhubungan di apeksnya
 Membrane vestibularis
Diantara membrane vestibularis dan membrane basilaris terdapat spiral organ atau
organ dari Corti.
Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfe skala timpani dan
skala vestibuli. Koklea terdiri dari:
i. Skala vestibuli: berisi perilimfe
ii. Skala media : berisi endolimfe
iii. Skala timpani: berisi perilimfe

Canalis semicircularis
Berfungsi dalam keseimbangan kinetic
Terdiri dari 3 buah canalis
 Anterior
 Posterior
 Lateral
 Semua canalis ini saling tegak lurus 90 derajat dan saling tegak lurus satu dengan lain,
dan terletak 45 derajat thd bidang sagital
 Semua canalis berbentuk 2/3 lingkaran
Pada satu ujungnya melebar membentuk ampula
2. Bagaimana Fisiologi dari Sistem Pendengaran ?
Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk
gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea,12 Proses mendengar melalui tiga
tahapan yaitu tahap pemindahan energi fisik berupa stimulus bunyi ke organ pendengaran,
tahap konversi atau tranduksi yaitu pengubahan energi fisik stimulasi tersebut ke organ
penerima dan tahap penghantaran impuls saraf ke kortek pendengaran.

Pendengaran merupakan salah satu organ yang penting dalam tubuh kita. Organ ini dapat
mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Proses mendengar adalah proses yang tidak
sederhana, agar dapat mendengar manusia harus memiliki organ pendengaran dan fungsi
pendengaran yang baik. Sistem organ pendengaran dibagi menjadi perifer dan sentral.
Pendengaran perifer dimulai dengan adanya sumber bunyi yang ditangkap aurikula dan
dilanjutkan ke saluran meatus akustikus eksternus kemudian terjadi getaran pada membran
timpani, membran timpani ini yang memiliki hubungan dengan tulang pendengaran akan
menggerakkan rangkaian tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes yang
menempel pada foramen ovale. Gerakan stapes pada foramen ovale akan menggerakkkan
cairan yang ada dalam organ koklea, akibatnya terjadi potensial listrik mengakibatkan
terjadinya perubahan energi mekanik menjadi energi listrik yang diteruskan oleh saraf
auditori ke batang otak (disinilah batas sistem organ pendengaran perifer dan sentral)
kemudian energi listrik dilanjutkan ke kortek terletak pada bagian girus temporalis superior.
Kortek serebri membuat manusia mampu mendeteksi dan menginterpretasikan pengalaman
auditori, Sehingga pendengaran merupakan salah satu indera yang sangat penting bagi manusia.

ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN PERIFER Puguh Setyo Nugroho, HMS Wiyadi; Jurnal
THT-KL.Vol.2,No.2, Mei – Agustus 2009, hlm 76 - 85

Mana Korteks yang menangkap suara untuk mendefinisikan suara


Mana Korteks yang menangkap suara untuk mendefinisikan suara
Korteks AUditorik : Bidang superotemporal gyrus temporalis superior meluas sampai sisi lateral
lobus Temporalis pada korteks insularis dan sampai ke bagian lateral operculum parietalis
Ada 2 korteks : Auditorik Primer dan Asosiasi Auditorik ( Sekunder)
-Korteks Auditori Primer  Secara langsung dirangsang oleh Korpus Genikolatum Medial
-Korteks Auditori Sekunder  DIrangsang oleh Korteks Primer dan daerah asosiasi di thalamus

PRESEPSI BUNYI pada korteks AUDITORI PRIMER


 terdapat 6 peta tonotopic pada koteks auditori primer dan sekunder bunyi yg berfrekuensi
tinggi rendah disususn dari poste ke anterior
 Korteks sekunder memiliki banyak neuron : mengasosiasikan bunyi bunyi

MEMBEDAKAN POLA BUNYI OLEH KORTEKS AUDITORI SEKUNDER

-Korteks Sekunder lebih berfungsi untuk membedakan tinggi rendahnya bunyi dna pola bunyi

PENENTUAN ARAH SUMBER BUNYI :


-DIlakukan oleh Nukleus Olivarius Superior ( di batang otak)  Nukleus ini teridiri dari 2 ada yang medial
dan lateral , nucleus lateral berfungsi untuk mendeteksi arah sumber bunyi , perbedaan intensitas
bunyi , nucleus medial berfungsi untuk mendeteksi jeda waktu sinyal sinyal yang memasuki kedua
telinga

SUmber: Guyton n Hall Hal 633-635 ed 2016

Korteks Auditori Primer Korteks AUditori Sekunder  Area Wernick  Area Broca

Ada Korelasi juga dengan Lob. Frontal, dan Kognitif , Peran Memori (Hipothalamus )
3. Mengapa didapatkan Nyeri Telinga pada keluhan pasien ?
 Dari scenario : Pasien sering membersihkan telinga dengan cotton bud  bisa terbentuk
lapisan asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang menghambat pertumbuhan bakteri
danjamur . Pembentukan serumen sebenarnya sebagai protektif di MAE  karena zat
protektif nya berkurang  Suhu dan Kelembapan Meningkat  MAE yang lembab,hangat
dan kotor sbg tempat pertumbuhan kuman dan mikroorganisme yang baik  tumbuh 
ada mediator inflamasi  histamin , prostaglandin  Hiperemi Lokal ke area tersebut 
suhu lebi tinggi , kebocoran kapiler dapat terjadi sehingga menjadi edem dan nyeri
 4,7pH terjadi perubahan pH  Serumen terganggu  juga menjadi salah satu factor
tempat perkembang biakan dari bakteri .
Selain Serumen sering diambil bisa juga malah semakin terdorong kedalam  dekat
membrane timpani  Ada saluran yang dapat mengakibatka serumen lebih mengendap dan
keras  Pendengaran berkurang

terlalu sering membersihkan telinga mengakibatkan serumen (serumen membentuk lapisan


asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur)
yang berfungsi sebagai pertahanan kulit meatus akustikus eksterna berkurang, protective lipid
layer dan acid mantle berkurang. Hal ini menyebabkan kelembaban dan suhu di meatus
akustikus eksterna meningkat. Meatus akustikus ekterna yang lembab, hangat, dan kotor
merupakan media pertumbuhan kuman yang baik. Sehingga apabila ada akumulasi bakteri/
kuman menyebabkan reaksi inflamasi yg mengakibatkan dikeluarkannya mediator kimia
(histamine, kinin, dan prostaglandin) yang mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah dan
menyebabkan terjadinya hyperemia local (meningkatnya aliran darah ke area tersebut) sehingga
area tersebut tampak hiperemis dan suhunya lebih tinggi daripada area sekitar. Selain itu
pembentukan mediator kimia dapat meningkatkan permeabilitas kapiler yang menyebabkan
kebocoran cairan kapiler sehingga terjadi kebocoran protein dalam jumlah banyak di rongga
jaringan yang dapat mengakibatkan edema dan rasa sakit pada area tersebut.
Rasa sakit bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak sedikit, perasaan penuh di
dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat, serta berdenyut. Hal ini
terjadi karena kulit dari liang telinga luar tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, dan
langsung berhubungan dengan periostium (lapisan membran fibrosa tebal yang meliputi hampir
seluruh permukaan tulang) dan perikondrium (selubung jaringan ikat padat yang mengelilingi
tulang rawan), sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit.
Lagipula kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan
daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan ke kulit dan
tulang rawan liang telinga luar dan mengakibatkan rasa sakit, seperti saat membuka mulut
(sendi temporomandibula)
Mula-mula timbul infiltrat dijaringan subkutis, udem yang terjadi meluas ke lumen dan
menyebabkan lumen menjadi sempit. Karena jaringan subkutis ini melekat erat dengan
perikondrium, maka sulit untuk meregang, sehingga bila terjadi udem menyebabkan rasa nyeri
yang hebat.

Sel-sel kulit yang mati, termasuk serumen, akan dibersihkan dan dikeluarkan dari gendang
telinga melalui liang telinga. Cotton bud (pembersih kapas telinga) dapat mengganggu
mekanisme pembersihan tersebut, sehingga sel-sel kulit mati menumpuk. Masalah ini juga
diperberat 12 oleh adanya susunan anatomis berupa lekukan pada liang telinga (Oghalai,
JS.,2013). Auditoris eksternal memiliki beberapa pertahanan khusus, serumen membentuk
lapisan asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang menghambat pertumbuhan bakteri
dan jamur. Serumen yang berlebihan atau telalu kental dapat menyebabkan penyumbatan,
retensi air dan kotoran, serta infeksi (Murtaza, et.al,2015). Kulit yang basah, lembab, hangat,
dan gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan jamur.
Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan berkurangnya lapisan protektif
yang menimbulkan edema epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang
memudahkan bakteri masuk melalui kulit, terjadi inflamasi dan cairan eksudat. Rasa gatal
memicu terjadinya iritasi, setelah timbul infeksi dan terjadi pembengkakan yang akhirnya
menimbulkan rasa nyeri pada telinga.
Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu kemudian menimbulkan perubahan rasa tidak
nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi akan mengeluarkan cairan / nanah yang bisa
menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus eksterna) sehingga hantaran suara akan
terhalang dan terjadilah penurunan pendengaran (Oghalai, JS.,2013).
Nyeri Telinga
Otalgia atau sakit telinga adalah nyeri pada telinga. Otalgia primer adalah nyeri telinga yang
berasal di dalam telinga. Otalgia sekunder adalah nyeri telinga yang berasal dari luar telinga.
Otalgia tidak selalu terkait dengan penyakit telinga. Ini mungkin disebabkan oleh beberapa
kondisi lain, seperti sakit gigi, penyakit sinus, radang tonsil, infeksi di hidung dan faring, kanker
tenggorokan, dan kadang-kadang sebagai gejala sensorik awal dari migrain.
Mediator inflamasi dalam proses peradangan dan infeksi serta edem dapat menekan dan
mensensitasi serabut saraf sensoris lalu dibawa koteks somatosensory dan dipersepsi sebagai
nyeri ataupun gatal.
Sumber : Liston SL. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam : Boies, BukuAjar
Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, ed 6. Alih Bahasa Dr. CarolineWijaya, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC, Jakarta., 1994: 27 - 33.

4. Mengapa pasien mengalami Penurunan Pendengaran ?


 Selain Serumen sering diambil bisa juga malah semakin terdorong kedalam  dekat
membrane timpani  Ada saluran yang dapat mengakibatka serumen lebih mengendap dan
keras  Pendengaran berkurang
 Penurunan Pendengaran  hubungannya dengan kebiasaan membersihkan dengan cotton
bud , dapat lebih masuk sampai sebelum ke gendang telinga , lembab bisa terinfeksi
jamur  muncul hifa  mengganggu penghantaran pendengaran
 Gangguan Telinga Konduktif  SUmbatan pada saluran luar – Tengah karena ada
sumbatan , tdk menimbulkan tuli total
Gangguan telinga Saraf  suara yang ditangkap menjadi tidak jelas
Gangguan telinga Campuran  gabungan antara kedua gangguan

 Tuli Konduktif (Conductive Hearing Loss)


Terjadi akibat adanya gangguan pendengaran karena masalah dengan
saluran telinga, gendang telinga, atau telinga tengah dan tulang yang kecil
(maleus, inkus, dan stapes).
 Tuli Sensorineural (Sensorineural Hearing Loss)
Disebabkan oleh kerusakan pada koklea atupun retrokoklea. Tuli
sensorineural dapat bersifat akut (acute sensorineural deafness) yakni tuli
sensorineural yang terjadi tiba-tiba dimana penyebab tidak diketahui
dengan pasti dan sensorineural kronik deafness merupakan tuli
sensorineural yang terjadi secara perlahan.
 Tuli Campuran (Mixed Hearing Loss)
Gangguan ini mengacu pada kombinasi dari gangguan pendengaran
konduktif dan sensorineural. Ini berarti bahwa mungkin ada kerusakan di
telinga luar atau tengah dan di telinga bagian dalam (koklea) atau saraf
pendengaran. Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua
komponen gejala gangguan pendengaran jenis konduktif dan sensorineural.

Pada pasien penurunan pendengaran dikarenakan adanya sumbatan pada


telinga luar. Edema kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen,
penebalankulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama sering
menyumbat lumenkanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif
dikarenakan penghantaran bunyi ke telinga tengah terganggu karena
adanya sumbatan di telinga luar.
Sumber : Liston SL. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam :
Boies, BukuAjar Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, ed 6. Alih Bahasa
Dr. CarolineWijaya, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta., 1994: 27 - 33.
Fisiologi Gangguan Pendengaran
Gangguan pada telinga luar, tengah, dan dalam dapat menyebabkan ketulian. Tuli dibagi
atas tuli konduktif, tuli sensorineural, dan tuli campur. Tuli konduktif terjadi akibat
kelainan telinga luar, seperti infeksi, serumen atau kelainan telinga tengah seperti otitis
media atau otosklerosis (Kliegman, Behrman, Jenson, dan Stanton, 2004).
Tuli sensorineural melibatkan kerusakan koklea atau saraf vestibulokoklear. Salah satu
penyebabnya adalah pemakaian obat-obat ototoksik seperti streptomisin yang dapat
merusak stria vaskularis. Selain tuli konduksi dan sensorineural, dapat juga terjadi tuli
campuran. Tuli campuran adalah tuli baik konduktif maupun sensorineural akibat
disfungsi konduksi udara maupun konduksi tulang (Lassman, Levine dan Greenfield,
1997).

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21550/4/Chapter%20II.pdf

5. Apa Interpretasi hasil yang didapatkan dari pemeriksaan otoskopi !


Px otoskopi : CAE Dextra ampak edem dan sempit  Adanya rx Inflamasi
Debris putih hifa +  Kemungkinan Infeksi Jamur
Membran Timpani tdk terlihat  Ada pembengkakan dari CAE jadi tidak terlihat
CAE Sinistra : N

CAE  hiperemis, edema  reaksi inflamasi.


Debris berwarna putih dengan hifa (+)  infeksi telinga karena jamur.
6. Apa hubungan dari pasien membersihkan telinga dengan cotton bud dan jari dengan keluhan
pasien ?
 Dari scenario : Pasien sering membersihkan telinga dengan cotton bud  bisa terbentuk
lapisan asam yang mengandung lisozim dan zat lain yang menghambat pertumbuhan bakteri
danjamur . Pembentukan serumen sebenarnya sebagai protektif di MAE  karena zat
protektif nya berkurang  Suhu dan Kelembapan Meningkat  MAE yang lembab,hangat
dan kotor sbg tempat pertumbuhan kuman dan mikroorganisme yang baik  tumbuh 
ada mediator inflamasi  histamin , prostaglandin  Hiperemi Lokal ke area tersebut 
suhu lebi tinggi , kebocoran kapiler dapat terjadi sehingga menjadi edem dan nyeri

Keadaan lingkungan dan kondisi tubuh manusia sebagai inang merupakan bagian dari faktor
predisposisi terjadinya otomikosis. Faktor predisposisi tersebut dapat meliputi ketiadaan
serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperatur dan trauma lokal yang biasanya
sering disebabkan oleh kapas telinga (cotton buds) dan alat bantu dengar. Serumen sendiri
memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan jamur.
Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan ini oleh
karena paparan ulang dengan air yang menyebabkan keluarnya serumen dan keringnya kanalis
auditorius eksternus. Bisa juga disebabkan oleh adanya prosedur invasif pada telinga seperti pada
saat membersihkan telinga (Ahmad A, 1991).

7. Apa penyebab pasien mengalami keluhan tersebut ?


Hifa + : Aspergillus dan Candida , Aspergillus PH 5,7 suhu maks 37 C jika ada peradangan dia
semakin tumbuh dengan baik
Jika membersihkan telinga tidak tau seberapa dalam  bisa menyebabka gesekan di CAE 
Timbul rx Inflamasi  Nyeri

Rasa sakit di dalam telinga (otalgia) bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak
enak sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang
hebat serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan ini
juga sering merupakan gejala mengelirukan. Rasa sakit bisa tidak sebanding dengan derajat
peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar
langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3
luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang
sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan dari liang telinga luar
dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis
eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit
yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa
penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta.

Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna. Edema
kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen, penebalan kulit yang progresif pada otitis
eksterna yang lama sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif.
Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat -obatan yang digunakan kedalam
telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.

Sumber :Jurnal Kesehatan, Volume VI, Nomor 2, Oktober 2015, hlm 201-210

8. Apa hubungan pekerjaan pasien sebagai atlet renang dengan keluhan yang dialami ?
Saat Berenang / Membersihkan telinga dengan air  bisa membawa serumen keluar dari
telinga , Air juga membawa banyak bakteri/mikroorganisme  berkurangnya jumlah serumen
 menyebabkan tidak adanya proteksi pada CAE nya  sehingga dapat menjadi tempat
berkembang biak bagi mikroorganisme contohnya Jamur  Hifa +
Kultur Serumen diambil  dieramkan sampai 1 minggu
 Berenang Terpapar air terus menerus dan serumen keluar  CAE Kering  mudah tergesek
 Rx Inflamasi
Keadaan lingkungan dan kondisi tubuh manusia sebagai inang merupakan bagian dari faktor
predisposisi terjadinya otomikosis. Faktor predisposisi tersebut dapat meliputi ketiadaan
serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperatur dan trauma lokal yang biasanya
sering disebabkan oleh kapas telinga (cotton buds) dan alat bantu dengar. Serumen sendiri
memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan
jamur. Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan
keadaan ini oleh karena paparan ulang dengan air yang menyebabkan keluarnya serumen
dan keringnya kanalis auditorius eksternus. Bisa juga disebabkan oleh adanya prosedur
invasif pada telinga seperti pada saat membersihkan telinga (Ahmad A, 1991).
Pada kelembaban yang relatif di atas 80%, lapisan tanduk epitel dapat mengabsorpsi air dari
udara dalam jumlah banyak. Pertambahan isi cairan keratin di dalam dan sekitar unit
pilosebaseus menyebabkan pembengkakan dan obstruksi orilisium dengan demikian
mengurangi pengeluaran zat lipoid ke permukaan kulit yang mengakibatkan hilangnya atau
berkurangnya pembentukan serumen. Pada suhu yang meninggi, produksi keringat menjadi
berlebihan dan menyebabkan reaksi bergeser kearah alkalis sehingga pembentukan
serumen yang memerlukan pH antara 4,7 sampai 7,5 terganggu. Tidak adanya serumen yang
bersifat bakterisid dan fungisid berarti hilangnya proteksi kulit meatus terhadap kuman dan
jamur. Aspergillus memiliki rentang pH optimum 5,7 dan tingkat pertumbuhan maksimum
pada suhu 37°C dan ini adalah cocok untuk semua jenis Aspergillus. Jamur tidak
mendapatkan asupan makanan yang banyak di luar KAE, hal inilah yang membuat
kecenderungan otomikosis terjadi pada sepertiga dalam KAE (Viswanatha dkk 2011,
Moghadam 2003)

Pembilasan liang telinga dengan air sering terjadi waktu berenang dan menyelam dapat
mengangkat lapisan pelindung dari liang telinga secara mekanis, ini akan mempermudah
timbulnya infeksi oleh bermacam-macam mikroorganisme. Mencuci liang telinga dengan air
dan sabun dapat menyebabkan tertinggalnya selapis tipis zat alkalis pada liang telinga yang
sudah menimbulkan kontaminasi oleh jamur, apabila spora jamur terdapat bebas di atmosir
dan dapat masuk kedalam liang telinga dan tetap tinggal disini.

9. Bagaimana pedoman diagnosis dari kasus diatas ?


 Anamnesis :
Keluhan Utama :
 telinga Sakit ( Sejak kapan , awal gimana ) Otitis Externa ,, Otitis Media Akut dan
mastoiditis
 Penurunan Pendengaran ; Kel Kongenital,Anatomi, Trauma , Otitis Eksterna
 Telinga Berdengung  Otitis Externa, Otitis media akut dan kronis
 Keluar Cairan : infeksi Otitis Media granulasi dan polip
 Pemeriksaan : Inspeksi telinga (lihat kulit, gendang telinga, palpasi telinga ,Auskultasi
Test Bisik ( Screening gangguan pendengaran untuk membedakan Tuli hantaran dan
sensori )
test garpu tala
Kultur

1.
Ketulian : Pemeriksaan dan Penyebabnya Setyo Wahyu Wibowo dr.MKes Jur.PLB-FIP UPI

10. Apa diagnosis dan diagnosis banding dari Nyeri Telinga !


 1. Otitis EKstrena : Peradangan pada liang telinga , kelembapan, penyumbatan , dan Trauma,
ditemukan nyeri tekan Tragus atau edema atau hiperemis pada meatus austicus.
 2. Otitis Media Akut : Bisa terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu , sumbatan
pada tuba eustachius ( ada 5 stadium Oklusi Tuba Eustachius, Hiperemis , Stadium SUpurasi
dan perforasi , Resolusi ) nyeri dan gangguan pendengaran pada OMA
 3. Otitis Media SUpuratif Kronik :Nyeri, disertai keluar cairan , jangka waktu lama

1.

 Otitis Eksterna
OTITIS EXTERNA IN 23 YEARS OLD WOMEN Fatrianda Putri Cyninthia Kennedy Faculty
of Medicine, Universitas Lampung. J Agromed Unila | Volume 2 Nomor 1 | Februari 2015

Otitis Eksterna
Radang liang telinga akut maupun kronik yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus.
Faktor yang mempermudah radang telinga luar ialah perubahan ph di liang telinga, yang
biasanya normal atau asam. Bila ph menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun. Pada
keadaan udara yang hangat, lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh.
Predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan ketika mengorek telinga.
Otitis Eksterna Akut
Ada 2 kemungkinan
 Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul)
Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit,
seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen maka di tempat itu dapat
terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel.
Kumam penyebab biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus.
Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini
disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar di bawahnya,
sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul
spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat
juga gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.
Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi
secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk
salep, seperti Polymixin B atau bacitracin atau antiseptic (asam asetat 2-5% dalam
alcohol).
Kalau dinding furunkel tebal, dilakukan insisi, kemudian dipasang salir (drain)
untuk mengalirkan nanahnya.
Biasanya tidak perlu diberikan antibiotika secara sistemik, hanya diberikan obat
simtomatik seperti analgetik dan obat penenang.
 Otitis eksterna difus
Biasanya mengenai kulit liang telinga dua pertiga dalam. Tampak kulit liang
telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya.
Kuman penyebab biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat sebagai
penyebab ialah Staphylococcus albus, eschericia coli dan sebagainya. Otitis eksterna
difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.
Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang
kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri tekan, terdapat secret yang berbau.
Sekret ini tidak mengandung lender (musin) seperti secret yang keluar dari cavum
timpani pada otitis media.
Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang
mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat
dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika sistemik.
BUKU AJAR ILMU KESEHATAN. TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA & LEHER. EDISI
KETUJUH. BADAN PENERBIT FK UI
Otitis eksterna
Radang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur, virus.
Faktor yang mempengaruhi radang telinga luar  perubahan PH yang biasanya normal atau
asam. Bila basa, proteksi infeksi menurun. Pada keadaan udara hangat, lembab  kuman, jamur
mudah tumbuh.
Predisposisi otitis eksterna  trauma ringan ketika mengorek telinga.

Otitis eksterna akut


Otitis eksterna sirkumskripta
Mengenai kulit di sepertiga luar liang telinga.
Gejala  rasa nyeri hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Nyeri dapat timbul spontan
pada waktu membuka mulut, gangguan pendengaran bila furunkel besar dan
menyumbat liang telinga.
Kuman penyebab  Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus.

Otitis eksterna difus


Mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam, kulit liang telinga hiperemis dan edema
tidak jelas batasnya.
Gejala  nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang KGB regional
membesar dan nyeri tekan, sekret berbau.
Kuman penyebab  Staphylococcus albus, escherichia coli.

Otitis media akut


Faktor utama  sumbatan tuba eustachius  karena fungsinya terganggu  pencegahan invasi
kuman ke dalam liang telinga tengah terganggu  kuman masuk ke dalam liang telinga 
peradangan.

Stadium :
 stadium oklusi tuba eustachius :
retraksi timpani, kadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh
pucat.

 stadium hiperemis :
tampak pembuluh darah melebar di membran timpani atau seluruh membran
timpanitampak hiperemis disertai edem. Sekret telah terbentuk masih bersifat
eksudat yang serosa sehingga sukar dilihat.

 stadium supurasi :
terbetuknya eksudat purulen di cavum timpani  membran timpani menonjol
(bulging) ke arah liang telinga luar.

 stadium perforasi :
dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari liang
telinga tengah ke liang telinga luar.

 stadium resolusi :
Otitis media supuratif kronik
Infeksi kronis liang telinga dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari liang
telinga terus menerus atau hilang timbul. Sekret bisa encer/kental, bening/nanah.
Perforasi membran timpani : di sentral (perforasi pars tensa), marginal, atik (perforasi di pars
flaksida).

OMSK tipe aman/tipe mukosa/tipe benigna  peradangan pada mukosa, biasanya tidak
mengenai tulang, jarang menimbulkan komplikasi berbahaya, tidak terdapat kolesteatoma.
OMSK tipe bahaya/tepi tulang/tipe maligna  mengenai tulang, letaknya marginal atau atik,
disertai kolesteatoma.

11. Apa etiologi dari penurunan pendengaran ?


1.
Penyebab tuli konduksi
1. Pada meatus akustikus eksterna : cairan (sekret, air) dan benda asing, polip telinga).
2. Kerusakan membrana timpani : perforasi, ruptura, sikatriks.
3. Dalam kavum timpani : kekurangan udara pada oklusio tuba, cairan (darah atau
hematotimpanum karena trauma kepala, sekret pada otitis media baik yang akut maupun yang
kronis), tumor.
4. Pada osikula : gerakannya terganggu oleh sikatriks, mengalami destruksi karena otitis media,
oleh ankilosis stapes pada otosklerosis, adanya perlekatan-perlekatan dan luksasi karena trauma
maupun infeksi, atau bawaan karena tak terbentuk salah satu osikula.

Penyebab tuli persepsi


• Periode prenatal
1. Oleh faktor genetik
2. Bukan oleh faktor genetik.
— Terutama penyakit-penyakit yang diderita ibu pada kehamilan trimester pertama (minggu ke 6
s/d 12) yaitu pada saat pembentukan organ telinga pada fetus. Penyakitpenyakit itu ialah rubela,
morbili, diabetes melitus, nefritis, toksemia dan penyakit-penyakit virus yang lain. — Obat-obat
yang dipergunakan waktu ibu mengandung seperti salisilat, kinin, talidomid, streptomisin dan
obatobat untuk menggugurkan kandungan.
• Periode perinata
Penyebab ketulian disini terjadi diwaktu ibu sedang melahirkan.Misalnya trauma kelahiran
dengan memakai forceps, vakum ekstraktor, letak-letak bayi yang tak normal, partus lama. Juga
pada ibu yang mengalami toksemia gravidarum. Sebab yang lain ialah prematuritas, penyakit
hemolitik dan kern ikterus.
• Periode postnatal
1. Penyebab pada periode ini dapat berupa faktor genetik atau keturunan, misalnya pada penyakit
familiar perception deafness.
2. Penyebab yang bukan berupa faktor genetik atau keturunan:
 Pada Anak-anak :
a. Penyakit-penyakit infeksi pada otak misalnya meningitis dan ensefalitis.
b. Penyakit-penyakit infeksi umum : morbilli, varisela, parotitis (mumps), influenza, deman
skarlatina, demam tipoid, pneumonia, pertusis, difteri dan demam yang tak diketahui sebabnya.
c. Pemakaian obat-obat ototoksik pada anak-anak.
 Pada orang dewasa :
a. Gangguan pada pembuluh-pembuluh darah koklea, dalam bentuk perdarahan, spasme
(iskemia), emboli dan trombosis. Gangguan ini terdapat pada hipertensi dan penyakit jantung.
b. Kolesterol yang tinggi : Oleh Kopetzky dibuktikan bahwa penderita-penderita tuli persepsi
rata-rata mempunyai kadar kolesterol yang tinggi dalam darahnya.
c. Diabetes Melitus : Seringkali penderita diabetes melitus tak mengeluh adanya kekurangan
pendengaran walaupun kalua diperiksa secara audiometris sudah jelas adanya kekurang
pendengaran. Sebab ketulian disini diperkirakan sebagai berikut :
 Suatu neuropati N VIII.
 Suatu mikroangiopati pada telinga dalam (inner ear).
 Obat-obat ototoksik. Penderita diabetes sering terkena infeksi dan lalu sering
menggunakan antibiotika yang ototoksik
d. Penyakit-penyakit ginjal : Bergstrom menjumpai 91 kasus tuli persepsi diantara 224 penderita
penyakit ginjal. Diperkirakan penyebabnya ialah obat ototoksik, sebab penderita penyakit ginjal
mengalami gangguan ekskresi obatobat yang dipakainya.
e. Influenza oleh virus. Oleh Lindsay dibuktikan bahwa sudden deafness pada orang dewasa
biasanya terjadi bersama-sama dengan infeksi traktus respiratorius yang disebabkan oleh
virus.
f. Obat-obat ototoksik : Diberitakan bahwa bermacam-macam obat menyebabkan ketulian,
misalnya : dihidrostreptomisin, salisilat, kinin, neomisin, gentamisin, arsenik, antipirin,
atropin, barbiturat, librium.
g. Defisiensi vitamin. Disebut dalam beberapa karangan, bahwa defisiensi vitamin A, B1, B
kompleks dan vitamin C dapat menyebabkan ketulian.
h. Faktor alergi. Diduga terjadi suatu gangguan pembuluh darah pada koklea.
i. Trauma akustik : letusan born, letusan senjata api, tuli karena suara bising.
j. Presbiakusis : tuli karena usia lanjut.
k. Tumor : Akustik neurinoma.
l. Penyakit Meniere
m. Trauma kapitis.
• Psikogen
Ketulian psikogen dapat :
 simulated (malingering)
 fungsional (histeri)
• Tak diketahui sebabnya (unknown)
Prosentasi bervariasi antara 20-40% kejadian ketulian.
Sumber : American Speech-Language Hearing Association (ASHA). Type, Degree, and Configuration of
Hearing Loss. Audiology Information Series. ASHA; 2011.

12. Apa Diagnosis banding dari penurunan pendengaran ?


Daun Telinga : Herpes Zooster
CAE: Peradagangan :Diffuse ,benda asing ,

 Tuli Konduktif (Conductive Hearing Loss)


Terjadi akibat adanya gangguan pendengaran karena masalah dengan
saluran telinga, gendang telinga, atau telinga tengah dan tulang yang kecil
(maleus, inkus, dan stapes).
 Tuli Sensorineural (Sensorineural Hearing Loss)
Disebabkan oleh kerusakan pada koklea atupun retrokoklea. Tuli
sensorineural dapat bersifat akut (acute sensorineural deafness) yakni tuli
sensorineural yang terjadi tiba-tiba dimana penyebab tidak diketahui
dengan pasti dan sensorineural kronik deafness merupakan tuli
sensorineural yang terjadi secara perlahan.
 Tuli Campuran (Mixed Hearing Loss)
Gangguan ini mengacu pada kombinasi dari gangguan pendengaran
konduktif dan sensorineural. Ini berarti bahwa mungkin ada kerusakan di
telinga luar atau tengah dan di telinga bagian dalam (koklea) atau saraf
pendengaran. Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua
komponen gejala gangguan pendengaran jenis konduktif dan sensorineural.

Pada pasien penurunan pendengaran dikarenakan adanya sumbatan pada


telinga luar. Edema kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen,
penebalankulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama sering
menyumbat lumenkanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif
dikarenakan penghantaran bunyi ke telinga tengah terganggu karena
adanya sumbatan di telinga luar.
Sumber : Liston SL. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam :
Boies, BukuAjar Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, ed 6. Alih Bahasa
Dr. CarolineWijaya, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta., 1994: 27 - 33.

13. Apa tatalaksana dan edukasi yang diberikan kepada pasien ?


OTITIS EXTERNA MIKOTIKA (OTOMIKOSIS)

tatalaksana pada otitis eksterna, untuk firstline dapat diberikan antibiotik topikal dengan atau
tanpa steroid topikal untuk 7-10 hari, dan penghilang nyeri sistemik.
Hui CPS. Acute otitis externa. Paediatric Child Health. 2013; 18(2):96-8.

Penanganan awal otitis eksterna adalah penanganan nyeri, membersihkan debris dari kanalis
auditorius eksternal dengan cara menggunakan kapas aplikator ataupun irigasi, pemberian obat
topikal untuk mengontrol edema, kortikosteroid diberikan dengan tujuan untuk menurunkan
inflamasi (Waitzman, AA.,2017).
a. Penanganan otitis eksterna sirkumskrsipta
Terapi lokal diberikan antibiotik berupa salep, seperti polymixin B atau bacitracin, atau
antiseptik (asam asetat 2-5% dalam alkohol). Jika dinding furunkel tebal dapat dilakukan
insisi, kemudian dipasang salir (drain) untuk mengeluarkan nanahnya. Hanya diberikan obat
simptomatik seperti analgetik dan pemberian antibiotik sistemik (Helmi, et.al,2007).
b. Otitis eksterna difus
Membersihkan liang telinga dari sekret. Setelahnya pemasangan tampon ke liang telinga
agar terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang
diperlukan antibiotik sistemik (Helmi, et.al,2007).
c. Otomikosis
Membersihkan liang telinga dengan cara memberikan larutan asam asetat 2% dalam
alkohol, larutan iodium povidon 5% atau tetes telinga yang mengandung campuran
antibiotik dan steroid yang diteteskan ke liang telinga. Obat anti jamur yang mengandung
nystatin klotrimazol sebagai salep kadang diperlukan yang diberikan secara topikal (Helmi,
et.al,2007).
d. Infeksi kronis liang telinga
Pengobatannya memerlukan operasi rekontruksi liang telinga (Helmi, et.al,2007).
e. Keratosis obturans dan Kolesteatoma eksterna
Debris dibersihkan secara berkala setelah gumpalan keratin dikeluarkan, sedangkan pada
kolesteatoma perlu dilakukan operasi agar kolesteatoma dan tulang nekrotik bisa diangkat
sempurna (Helmi, et.al,2007).
f. Otitis eksterna maligna
Pengobatan harus cepat diberikan, sesuai dengan hasil kultur dan resistensi kuman
mengingat kuman penyebab tersering adalah Pseudomonas aeroginosa, diberikan
anatibiotik dosis tinggi yang sesuai dengan kuman penyebab. Sementara menunggu hasil
kultur dan resistensi, bisa diberikan golongan fluoroquinolone (ciprofloxasin) dosis tinggi
secara oral. Pada keadaan yang lebih berat diberikan antibiotik golongan aminoglikosida
selama 6-8 minggu. Antibiotik yang sering digunakan seperti golongan ciprofloxasin,
ticarcilin-clavulanat, piperacilin (dikombinasi dengan aminoglikosida), ceftriaxone,
ceftazidine, cefepime (maxipime), tombramicin (kombinasi dengan aminoglikosida),
gentamicin (kombinasi dengan golongan penicillin). Sering kali diperlukan tindakan
membersihkan luka (debrideman) secara radikal (Helmi, et.al,2007).

14. Apa Komplikasi yang dapat terjadi ?

 Perikondritis
Radang pada tulang rawan daun telinga yang terjadi apabila suatu trauma atau radang
menyebabkan efusi serum atau pus di antara lapisan perikondrium dan kartilago telinga luar.
Umumnya trauma berupa laserasi atau akibat kerusakan yang tidak disengajakan pada
pembedahan telinga. Adakalanya perikondritis terjadi setelah suatu memar tanpa adanya
hematoma. Dalam stage awal infeksi, pinna dapat menjadi merah dan kenyal. Ini diikuti oleh
pembengkakan yang general dan membentuk abses subperikondrial dengan pus terkumpul di
antara perikondrium dan tulang rawan dibawahnya
 Selulitis
Peradangan pada kulit dan jaringan subkutan yang dihasilkan dari infeksi umum,
biasanya dengan bakteri Staphylococcus atau Streptococcus. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat
dari trauma kulit atau infeksi bakteri sekunder dari luka terbuka, seperti luka tekanan, atau
mungkin terkait dengan trauma kulit. Hal ini paling sering terjadi pada ekstremitas, terutama
kaki bagian bawah.

Sumber : Kunarto. Otitis Eksterna di Poliklinik THT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado periode Januari 2007- Desember 2010. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
2011.

KOMPLIKASI HZ
- Merot  Facial palsy

KOMPLIKASI OMA/OMK
OMSA (Otitis Media Supuratif Akut)  Meningitis
OMSK ( Otitis Media Supuratif Kronik )  Lebih meningkatkan resiko Meningitis ,
Abses Serebri , Mastoiditis  PALING SERING KARENA BAKTERI