Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR GENETIKA
ACARA V
PERISTIWA XENIA

Disusun oleh :
Nama : Bhenika Bayu Aji
NIM : 09/288817/PN/11867
Golongan : A1
Partner : 1. Riza Luthfiah (11595/PN)
2. Fahmi Ardianto (11642/PN)
3. Ghani Pradita (11673/PN)
Asisten : 1. Latifah
2. Nurrochman
3. Sayid

LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
ACARA V
PERISTIWA XENIA

I. INTISARI
Praktikum Acara V yang berjudul Peristiwa Xenia bertujuan utuk melihat
peristiwa xenia pada tanaman jagung (Zea mays). Percobaan ini menggunakan Metode
Tassel Bag, dimana bunga jantan dan bunga betina dibungkus sebelum mekar
menggunakan kantong kertas coklat dan kertas minyak. . Malai bunga jantan yang keluar
dari pucuk tanaman dikerondong mengggunakan kantong kertas coklat. Untuk bunga
betina (tongkol), dikerondong sebelum kepala putik (rambut jagung) keluar dengan kertas
minyak. Hari berikutnya tongkol diperiksa untuk melihat laju keluarnya rambut jagung.
Rambut jagung yang sudah keluar dipotong menggunakan gunting sepanjang ± 1-2 cm
dari permukaan ujung klobot. Malai bunga jantan yang telah dikerondong dikumpulkan
serbuk sarinya untuk digunakan sebagai tetua jantan. Penyerbukan buatan dilakukan
dengan cara menaburkan serbuk sari/pollen yang telah terkumpul tersebut di atas
permukaan potongan rambut jagung. Dari hasil percobaan tersebut diatas, didapatkan 4
macam hasil persilangan. Selfing atau kontrol sebanyak 2 kali (bunga betina malai putih x
bunga jantan malai putih), dengan hasil percobaan 100% jagung berwarna putih. Xenia
(bunga betina malai putih x bunga jantan malai kuning), dengan hasil 90,85% biji jagung
berwarna putih dan 9,15% biji jagung berwarna kuning. Resiprok (bunga betina malai
kuning x bunga jantan malai putih), dengan hasil 97,26% biji jagung berwarna putih dan
2,74% biji jagung berwarna kuning. Kesimpulan, jagung malai kuning (♂) apabila
disilangkan dengan jagung malai putih (♀) akan menghasilkan F1 berwarna kuning
seperti pejantannya. Hal ini sudah dibuktikan dengan hasil pengamatan proses
persilangan Xenia, jagung malai kuning (♂) x jagung malai putih(♀). Xenia dapat
mempengaruhi serbuk sari pada warna endosperma butir jagung. Xenia dipengaruhi oleh
gamet jantan yang diekspresikan secara dini pada gamet betina atau keturunannya.
Faktor dalam (genetis) dan luar ( lingkungan) mempengaruhi hasil persilangan.

II. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Xenia (dari akar bahasa Yunani, "xenos" yang berarti 'tamu' atau 'orang asing')
merupakan gejala genetik berupa pengaruh langsung serbuk sari (pollen) pada fenotipe biji
dan buah yang dihasilkan tetua betina. Pada kajian pewarisan sifat, ekspresi dari gen yang
dibawa tetua jantan dan tetua betina diasumsikan baru diekspresikan pada generasi
berikutnya. Dengan adanya xenia, ekspresi gen yang dibawa tetua jantan secara dini sudah
diekspresikan pada organ tetua betina (buah) atau generasi berikut selagi masih belum
mandiri (embrio dan/atau endospermia). Xenia yang mempengaruhi fenotipe buah juga
disebut metaxenia.
Xenia merupakan gejala genetik berupa pengaruh gamet jantan atau ayah pada
endosperm tanaman induk. Ekspresi gen yang dibawa tetua jantan secara dini sudah
diekspresikan pada organ betina (buah) atau generasi berikut ketika masih belum mandiri
(embrio/endosperm). Xenia bukan penyimpangan Hukum Pewarisan Mendel, melainkan
pengaruh langsung dari pembuahan berganda (double fertilization) yang terjadi pada
tumbuhan berbunga dan proses perkembangan embrio tumbuhan hingga biji masak.
Embrio dan endosperm merupakan hasil penyatuan dua gamet (jantan dan betina) dan pada
tahap perkembangan embrio sejumlah gen pada embrio dan endosperm bereaksi dan
mempengaruhi penampilan biji, bulir serta buah. Xenia telah dimanfaatkan sebagai
teknologi untuk menghasilkan jagung dengan kadar minyak yang tinggi. Contoh xenia
yang paling sering dipakai adalah pengaruh serbuk sari pada warna endospermia butir
jagung. Meskipun demikian, xenia dilaporkan juga teramati pada sawo manila, kelapa, biji
kapas, bunga matahari, apel, kurma, serta pir. Gejala xenia tidak hanya mempengaruhi
warna tetapi juga bentuk, kadar gula, kadar minyak, bentuk buah, dan waktu pemasakan.

B. Tujuan
Menujukkan peristiwa xenia pada tanaman jagung (Zea mays)

III. TINJAUAN PUSTAKA


Jagung merupakan sumber bahan pangan, bahan pakan ternak dan bahan untuk
mendukung pengembangan industri produktivitas rata-rata jagung di Indonesia masih
tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara penghasil jagung. Rendahnya
produktivitas tersebut antara lain disebabkan masih kurangnya varietas unggul dan
pengelolaan tanaman dengan lingkungan belum di laksanakan secara intensif sesuai
teknologi yang tersedia ( Subandi et al., 1988).
Jagung merupakan salah satu tanaman yang dapat melakukan penyerbukan silang
tetapi juga dapat melakukan penyerbukan sendiri. Darwin membuktikan bahwa
penyerbukan sendiri pada jagung akan menghasilkan produksi yang rendah dan tanaman
tidak dapat tumbuh tinggi, padahal penyerbukan sendiri memiliki vigor yang normal
(Sinnot et al., 1958).
Tepung sari suatu kultivar dapat berpengaruh terhadap beberapa sifat biji kultivar
lain; kondisi ini dikenal sebagai xenia. Contohnya, tepung sari jagung biji yang membuahi
jagung manis akan menghasilkan biji jagung manis yang kandungan patinya tinggi dan
juga mempengaruhi warna biji (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Penampilan pertumbuhan yang berbeda antara varietas jagung dikarenakan adanya
perbedaan kecepatan pembelahan, perbanyakan, dan perbesaran sel, sehingga pada umur
yang sama pada V1 dapat tumbuh lebih tinggi, mempunyai daya lebih banyak dan indeks
luas daun yang lebih besar, begitu pula pada V4 dan V5 mempunyai indeks luas daun yang
lebih besar dibanding dari V2 dan V3, yang berarti mermpunyai daun lebih lebar dan
panjang serta jumlahnya lebih banyak. Kondisi demikian menunjukkan adanya perbedaan
faktor genetik yang dimiliki oleh masing-masing varietas jagung komplek adaptasinya
(Ainon, 1975).
Di daerah beriklim dingin (temperate) ukuran bunga jantan (malai) merupakan
karakyter yang pating dalam hubungannya dengan efisiensi penggunaan energi pad
tanaman jagung. Beberapa laporan menyatakan tentang perlunya seleksi untuk ukuran
malai yang lebih kecil untuk meningkatkan hasil biji, meningkatkan ketenggangan
terhadap jarak tanam, dan mengurangi tongkol hampa (Duncan dkk, 1967).
Heritabilitas, kemajuan genetik respon (respon seleksi) dan kemajuan genetik rata-
rata pada masing-masing lokasi menunjukkan bahwa K3 nilai parameter ini cenderung
meningkat searah dengan nilai tengah parameter masing-masing lokasi. Nilai heritabilitas
yang tinggi pada tanaman jagung ditemui pada kadar tinggi tanaman dan umur keluar
rambut (Vargas et, al., 1994)
Hasil tanaman jagung manis ditentukan oleh bobot segar tongkol pertanaman.
Semakin tinggi pula hasil yang akan didapatkan, selain itu juga ditentukan oleh ukuran
tongkol dan kandungan gulanya. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi dan
kualitas tanaman jagung manis tersebut adalah dengan penambahan pupuk kalium (K)
( Lingga, 1986).
Budidaya jagung manis merupakan alternatif yang dapat dipilih oleh petani karena
selain nilai ekonomi yang tinggi,juga berpeluang memasarkannya lebih terbuka. Upaya
peningkatan produksi jagung manis salah satunya dengan pemupukan nitrogen merupakan
salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil-hasiljagung manis untuk mencapai hasil
yang maksimal ( Nihayati dan Damhuri, 1996).
IV. METODOLOGI
Praktikum Dasar-Dasar Genetika Acara V dengan judul Peristiwa Xenia
dilaksanakan di kebun Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, pada hari Senin, 18 Oktober
2010 dan 23 Oktober 2010. Alat yang diperlukan yaitu perlengkapan polinasi berupa
kantong kertas coklat, kantong kertas minyak, gunting, label, benang, stapler, dan pensil.
Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah populasi tanaman jagung malai kuning dan
populasi tanaman jagung malai putih.
Pada praktikum ini digunakan Tassel Bag Method. Pertama, bunga jantan maupun
betina dibungkus sebelum mekar menggunakan kantong kertas. Malai bunga jantan yang
keluar dari pucuk tanaman dikerodong menggunakan kantong kertas coklat. Untuk bunga
betina, dikerodong sebelum kepala putik (rambut jagung) keluar menggunakan kertas
minyak. Sekitar 5 hari berikutnya tongkol diperiksa untuk melihat laju keluarnya rambut
jagung. Rambut jagung yang sudah keluar dipotong menggunakan gunting setinggi ± 1-2
cm di atas permukaan ujung klobot. Pemotongan ini dimaksudkan untuk mencegah rambut
tongkol keluar dari kantong sehingga terjadi penyerbukan dengan pollen yang tidak
dikehendaki. Pemotongan dapat dilakukan 2-3 kali sampai seluruh rambut tongkol telah
keluar. Tongkol yang seluruh rambutnya telah keluar dari kelobot menunjukkan bahwa
telah siap untuk diserbuki. Malai bunga jantan yang telah dikerodong dikumpulkan serbuk
sarinya untuk digunakan sebagai tetua jantan. Penyerbukan buatan dilakukan dengan cara
menaburkan serbuk sari/pollen yang telah terkumpul tersebut di atas permukaan potongan
rambut jagung. Prosedur ini dapat dilakukan 2-3 kali (menggunakan pollen dari tetua yang
sama) untuk meyakinkan seluruh putik telah diserbuki. Tanda-tanda bahwa bunga jantan
siap menyerbuki adalah adanya serbuk sari yang melekat pada kantong pembungkus.
Persilangan yang dilakukan adalah:
♀ jagung putih X ♂ jagung putih (selfing), ♀ jagung putih X ♂ jagung putih (selfing),
♀ jagung putih X ♂ jagung kuning (xenia), ♀ jagung kuning X ♂ jagung putih (resiprok).
V. HASIL PENGAMATAN
A. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan peristiwa xenia pada 4 tongkol tanaman jagung hasil
persilangan

Tipe Persilangan Warna Endosperm Biji


No. Putih Kuning Jumlah
(♀/♂) Kuantum % Kuantum % Kuantum %
1. Putih x Kuning 90,85 9,15
129 13 142 100%
(Xenia) % %
2. Kuning x Putih 2,74
319 97,26% 9 328 100%
(Resiprok) %
3. Putih x Putih
249 100% 0% 0% 249 100%
(Selfing 1)
4. Putih x Putih
78 100% 0% 0% 78 100%
(Selfing 2)

B. Pembahasan
Peristiwa xenia umumnya dapat ditemukan pada tanaman serealia karena memiliki
biji tanaman dengan massa yang relatif cukup besar. Pengaruh-pengaruh dari fenomena
tersebut dapat secara visual diamati melalui karakter-karakter tanaman diantaranya bentuk
buah, warna dan rasa, serta karakter lain. Xenia disebabkan oleh pengaruh gamet jantan
pada endosperm tanaman induk. Jagung digunakan sebagai bahan pengamatan karena
selain mudah disilangkan, hasilnya juga mudah diamati dalam waktu yang relatif tidak
terlalu lama.
Praktikum ini dilaksanakan sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 18 Oktober 2010
dan 23 Oktober 2010. Pada hari pertama dilakukan pemilihan tanaman jagung yang akan
disilangkan serta pengerodongan malai jagung dan tongkol jagung yang akan disilangkan
juga. Selanjutnya praktikum dilaksanakan 5 hari kemudian yatu tanggal 23 Oktober 2010
dengan melakukan polinasi atau penyilangan terhadap jagung-jagung yang telah disiapkan
pada hari sebelumnya. Dibutuhkan waktu sekitar 5 hari karena dalam keadaan sebenarnya,
malai jagung tumbuh terlebih dahulu dibandingkan tongkol jagungnya sehingga
diasumsikan dalam waktu 5 hari malai jagung dan tongkol jagung sudah tumbuh semua
dan siap untuk disilangkan.
Dalam praktikum ini peristiwa xenia ditunjukkan dengan menyilangkan jagung
kuning ♂ X jagung putih ♀. Dari percobaan Xenia dihasilkan 142 biji jagung, dengan
pembagian 129 biji jagung berwarna putih (90,85%) dan 13 biji jagung berwarna kuning
(9,15%). Peristiwa resiprok dilakukan dengan menyilangkan jagung kuning ♀ X jagung
putih ♂, dihasilkan 328 biji jagung dengan pembagian 319 biji jagung berwarna putih
(97,26%) dan 9 biji jagung berwarna kuning (2,74%). Peristiwa selfing dengan
pengulangan sebanyak 2 kali dilakukan dengan menyilangkan jagung putih ♀ X jagung
putih ♂ menghasilkan 249 biji berwarna putih pada peristiwa selfing 1 dan sebanyak 78
biji berwarna putih pada peristiwa selfing 2.
Untuk membandingkan antara selfing dan penyerbukan yang dilakukan (xenia atau
resiprok) menggunakan karakter warna biji (kuning atau putih). Keberhasilan persilangan
sangat dipengaruhi oleh proses penyerbukan dan jangka waktu tumbuh tanaman sampai
masa panen. Pada kelompok kami, biji jagung pada peristiwa resiprok dan selfing 1 dapat
tumbuh dengan normal. Tetapi jagung pada peristiwa xenia dan selfing 2 ada beberapa biji
jagung yang tidak tumbuh sehingga tongkol jagung nampak kosong di beberapa bagian.
Jika dilihat dari warna jagung yang dihasilkan, pada peristiwa xenia dan resiprok jagung
berwarna putih dengan variasi beberapa warna kuning, sedangkan peristiwa selfing
semuanya berwarna putih. Padahal menurut teori yang ada, seharusnya jagung hasil
peristiwa xenia dan resiprok berwarna kuning semua karena jagung warna kuning memiliki
sifat yang lebih dominan dibandingkan jagung berwarna putih. Hal tersebut disebabkan
karena penyerbukan yang dilakukan tidak sempurna, misalnya pollen tidak merata dan
penyerbukan hanya dilakukan 1 kali sehingga hasilnya tidak maksimal.
Keberhasilan persilangan Xenia juga dapat dipengaruhi oleh adanya faktor iklim
yang suhunya tinggi (panas), sehingga kelembabannya rendah serta tidak mengakibatkan
adanya pembusukan pada biji jagung dan adanya suhu lingkungan yang optimal sehingga
pembuahan dan pertumbuhan tanaman jagung menjadi baik. Selain itu, jagung dikerodong
dengan sungkup secara rapat untuk mengurangi penguapan yang berlebih sehingga
kelembaban jagung terjaga. Hasil persilangan xenia yang telah dilakukan memang kurang
sempurna. Dugaan awal pada persilangan xenia mengalami penyerbukan yang tidak
sempurna pada awal penyilangannya. Hal ini dapat dikarenakan kantong kertas minyak
yang digunakan untuk mengerondong bunga jantan sedikit basah, sehingga sebagian
serbuk sari menempel pada kantong kertas minyak. Karena pada saat penyilangan dimulai
pada awal musim hujan. Kemudian penyerbukan yang dilakukan hanya 1 kali saja. Selain
itu juga, dalam pelaksanaan praktikum ini seharusnya setelah dilakukan penyerbukan,
tanaman jagung harus sering diamati dan dirawat seperti pemotongan rambut jagung yang
semakin panjang dan dapat menyobek kertas pembungkusnya. Hal lain yag menjadi
hambatan paling mendesak adalah adanya bencana erupsi merapi yang membuat tongkol
jagung dan tanaman jagung tertutup abu vulkanik yang dapat menghabat perumbuhan
jagung-jagung tersebut. Selain bencana abu vulkanik, tanaman jagung juga terserang hama
ulat sehingga biji jagung ada yang dimakan ulat.
VI. KESIMPULAN
1. Peristiwa xenia pada tanaman jagung terjadi karena pengaruh gamet jantan atau ayah
pada endosperm tanaman induk,
2. Peristiwa xenia pada jagung ditunjukkan dengan karakter warna pada anakan yang
didominasi oleh sifat induk jantan
3. Keberhasilan pada persilangan xenia dipengaruhi oleh proses penyerbukan yang
dilakukan, selain itu juga disebabkan karena faktor iklim yang suhunya tinggi (panas).
4. Persilangan xenia menghasilkan F1 jagung putih dengan 9,15% berwarna kuning,
5. Persilangan resiprok menghasilkan keturunan F1 jagung putih dengan 2,74% berwarna
kuning,
6. Persilangan selfing menghasilkan F1 jagung putih semua,
DAFTAR PUSTAKA

Anion, I. 1975. Mineral Nutricion of Maize. International Potash Ins, Bern. Warblanfen.

Duncan, W. G., W. A. Williams, dan R. S Loowis. 1976. Tassels and the Productivity of
Maize. Crop Science 7 : 37-39.

Rubatzky,E.V, Yamaguchi.M. 1997. World Vegetables: Principles, production, and


nutritive values. 2nd ed. Thomson Publishing Inc, USA.

Lingga, P. 1989. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Nihayati dan Damhury S. 1996. Pengaruh Proporsi dan Waktu Pemberian Urea Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis Varietas SD-2. Agrivita (2) : 51-56.

Sinnot, E.W., L. C. Dunn and T. Dobzhansky. 1958. Principles of Genetics. Mc Graw-Hill


Book Company Inc. New York.

Sustyanti, Nasrullah, dan W. Mangoendidjojo. 2001. Uji Daya Gabung Galur S6 Tanaman
Jagung dengan Persilangan Dialel Parsial. Ilmu Pertanian 8: 1-5.

Vargas, J. D., S. Pandey, G. Granados, H. Ceballos, and E. B. Knapp. 1994. Inheritance to


Soil Adivity in Tropical Maize. Crop Science 37 : 50-54.
LAMPIRAN

Keterangan:

1 = Xenia
2 = Resiprok
3 = Selfing 1
4 = Selfing 2

312 4

Resiprok
Xenia

Selfing 2
Selfing 1