Anda di halaman 1dari 26

Oleh

HASRI SALWAN

Milik Pribadi
TIDAK UNTUK DIPUBLIKASIKAN
18 Mei 2007
 REVISI 1 Januari 2010
2010

PALEMBANG 2010
Yang menjadi pertimbangan pemberian jumlah dan jenis cairan:

1. Susunan cairan intraseluler dan ekstraseluler yang utama (mEq/l)


Na+ K+ Ca+ Glc Cl- bnat Lain-lain
Plasma Ektrasel 142 4-5 2,4-
2,4-5
5 90 103 28 Mg 3, Prot 16, As Org 6, HPO 4 2, SO4 1
Plasma Intrasel 10 140 0,0 <20 4 10
2. Distribusi cairan tubuh (%tase terhadap berat badan)
BBLR Neonatus
Neonatu s 6 bln Anak
Anak 2th Dewasa
CIS (cairan intraseluler) 30% 35% 35% 40-45%
CES (cairan ekstraseluler) 50% 35-40% 30% 15-20%
Interstitial/
Interstitial/ Intravaskuler 15%/5%
Total cairan tubuh 80%=0,8  70-75%=0,7-0,75  72% 65%=0,65  55-65%=0,6
3. Zat yang larut dalam lemak hampir tidak mempengaruhi tekanan osmotik/onkotik (contoh ivelip),
berbeda dengan zat yang larut dalam air. Tetapi air sendiri merupakan zat yang bebas keluar masuk sel
(tidak mempengaruhi tekanan osmotik).
4. Pergerakan cairan antara plasma (intravaskuler), intertitiel, dan intraseluler dipengaruhi oleh tekanan
osmotik dan hidrostatik. Tekananan osmotik terutama dipengaruhi oleh Na (cairan ekstraseluler), K
(cairan intraseluler), dan albumin (cairan intravaskuler).
5. Pemberian cairan melalui IV berarti melalui plasma yang kemudian bebas keluar masuk ke intra dan ekstraseluler.
Tekanan osmotik cairan ekstraseluler terutama dipengaruhi oleh ion Na, jadi ion Na diperlukan untuk
memperta
mempertahank
hankan
an ECF. Albumi
Albuminn diperluka
diperlukann untuk mempertahankan
mempertahank an tekanan osmotik cairan intravaskuler
intravask uler
6. Keseimbangan air dan elektrolit dipertahankan melalui integrasi dan fungsi: ginjal, hormonal, saraf.
Mekanisme keseimbangan ini menjaga osmolaritas cairan tubuh tetap 282 ± 5. Dengan gambaran:
SSP Mediator2 jantung 
Frekeunsi jantung
Kontraktilitas jantung 

Plasma protein
ACE
Juxta gl Apperatus Renin

Tekanan  Angiotensinogen Angiotensin I Angiotensin II

Cardiac output  Adrenal kortek Aldosteron

Vol darah  Venous return  Reabs Na & sekresi K Retensi vaskuler 


oleh Tubulus ginjal (Vasokontriksi)
Vol darah   TD
 TD 
Dinding atrium ANP Retensi Na Tekanan osmotic 

Cardiac output  Pusat Haus


Reabsorpsi air (GIT) Minum
Osmoresepter
Retensi air Reabsorpsi air (ginjal) ADH Di hipotalamus &
Hipofise anterior
Ket: memacu = . Gagal ginjal   hipon
 hiponatr
atremi
emia,
a, hiper
hiperkal
kalemi
emia,a, hiperpospatemia, hiperuresemia,
kongesti vaskuler, ovelload cairan, asidosis metabolic, dll
Menekan  ANP = Atrial
Atrial Natiuretic
Natiuretic Peptides
7. Kebutuhan cairan (= kebutuhan kalori) maintenance pada anak perhari disesuaikan berat badan.
0–10 kg = 100 ml/kgBB/hari atau 4 ml/kgBB/jam  96 ml/kgBB/hari
>10-20 kg = 1000 ml + (BB-10kg) x 50 ml/kgBB/hr atau + 2 ml/kgBB/jam  48 ml/kgBB/hari x (BB-10kg) + 960 ml
>20 kg = 1500 ml + (BB-20kg) x 20 ml/kgBB/hr atau + 1 ml/kgBB/jam  24 ml/kgBB/hari x (BB-20kg) + 1440 ml
 Nb:
 Nb: Sebe
Sebela
lahh kiri
kiri menu
menuru
rutt Amen
Amentt ME,
ME, 1993
1993.. Maki
Makin
n besa
besarr anak
anak maka
maka kebu
kebutu
tuha
han
n cair
cairan
anny
nya
a maki
makin
n rela
relati
tiff lebi
lebih kecill .100
h keci 100 ml/kgBB/hari
= 100/96 tetes/kgBB/menit  1 tetes/kgBB/menit . BB yang disesuaikan dengan kebutuhan cairan dapat juga diterapkan pada
kebutuhan cairan lainnya, misalnya syok. Anak dengan BB 30 kg dianggap BB nya 17 kg akan membutuhan 17 x 20 ml / secepatnya.
8. Jenis cairan IVFD dapat dibagi menjadi: kristaloid (isotonik: RL, NaCl 0,9%, efektif mengisi ruang
intertitiel, tetapi hanya sebentar di ruang intravaskuler) dan koloid (contoh: albumin 5%, fresh frozen
plasma, hetastarch, dextran 40, dextran 70, lebih bertahan lama di ruang intravaskuler)
9. Adanya hiperpireksia, tachypneu menyebabkan peningkatan kebutuhan cairan. Demam tinggi: +12% setiap
o
kenaikan 1 C, hiperventilasi: + 20-40%, keringat berlebih: + 10-20%, hipermetabolik: + 25-75%, terapi sinar
pada bayi: + 25%. Dan lain-lain.

2
TABEL 1. OSMOLARITAS CAIRAN TUBUH, DIARE, DAN CAIRAN

CAIRAN KATION ORGAN ANION Keterangan tambahan osm


Na+ K+ Ca+ Dex Glc Cl- Lact Aset bnat
Plasma Ektrasel 142 4-5 2,4-5 90 103 28 Mg3,Prot16,AsOrg6,HPO42,SO41 282±5
Plasma Intrasel 10 140 0,0 <20 4 10
Kbutuhan /kg/hr 2,5- 4 1 - 2,5 0,2- 1 1,5-4,3 Mg0,7-1 Posfat 0,2-0,8
Kbutuhan /kg/hr (Ament,93) 3- 4 2 -3 0,5 - 1 2-4 Mg0,25-0,5 Posfat 2
Kbutuhan term /kg/hr 2,5- 3,5 2,5- 3,5 1,2 -1,5 1-15g 5 Mg 0,6 Posfat 1-1,5
Kbutuhn preterm/kg/hr 3-4 2-4 1,5-2 11-15g 3,5-4,5 Mg 0,4 Posfat 1,1-1,3
Cairan Lambung pH r endah 10-30 5 - 40 80-150 0
Cairan Lambung pH tinggi 70-140 5- 40 55 – 95 5 - 20
Empedu 131-164 2,6-12 89-117 40
Sekresi usus 82-148 2,3-8 43-137 31
Urin (bervariasi) 185 90 20 200 17 Mg20,HPO-326,SO4-20, As organic50
D5% 10:4 51,3 10,7 50 62 402
Diare Kolera 101 27 92 32
Diare non kolera 56 25 55 14
Renalyte 75 20 20 65 Citrat 10 mEq
Pedialyte 45 20 25 35 Citrat 30 mEq
Oralit lama/baru(kf) 90/75 20/20 20/13,5 80/65 30/- - / Citrat 10 311/245
Amiparen 2 120 Amino acid 100g, nitrogen 15,7g
Mg10,Malat15, sarbitol50,Xylol50,Kal KH 400
Aminofusin L600 40 30 - 14 10 1100
Aminofusin Paed 30 25 10 10 5 Mg5, As.amino 50g/l 600
Primine 5% 7,8 As.amino 50g/l 400
Darrow 122 35 104 53 314
DG aa 61 17,5 25 52 26 320
NaCl 0,9% 154 154 = 30 ml NaCl 15% dlm 470mlH2O 308
NaCl 3,0% 513 513 1026
D10% 10:4:7 65,3 10,7 100 62 14 706,5
D5% 10:4:7  KAEN 3A 65,3 10,7 50 62 14 428,5
RL wida 131 5 4 112 28 280
RL otsuka 130 4 3 109 28 273
Asering 130 4 3 109 28 273
RD 5% 147 4 4,4 50 156 586
Asering 5 130 4 3 50 109 28 551
RL D5% 130 4 3 50 109 28 551
Ringer Otsuka 147 4 4,5 156 310
Perisolution 140 4 15 102 43,5 Mg 1,5 372
KAEN 1A 77 25 77 293
KAEN 1B 38,5 37,5 38,5 285
KAEN 2A 60 25 23,5 49 25 Mg ++ 2, HPO4- 13 305
KAEN 2B 77,5 30 14,5 59 48,5 297
KAEN 3A 60 10 27 50 20 290
KAEN 3B 50 20 27 50 20 290
KAEN 4A Paed 30 0 40 20 10 282
KAEN 4B Paed 30 8 37,5 28 10 284
KAEN MG3 50 20 100 50 20 695
3A 106 16,7 51 55 305
2A=AA / D5% 1:1 77 25/50 77 293/432
D5% 4:1  KAEN 4A 30,7 50 30,7 339
D5% 3:1  KAEN 1B 38,5 50 38,5 355
D5% 3:2 61,4 50 61,4 401
D5% 2:1 51,3 50 51,3 380
D5% 50 278
D10% 100 556
D7,5%+6mlNaCl15% 30,7 75 30,7 478
D10%+6mlNaCl15% 30,7 100 30,7 617
Fima Hes 200 138 4 3 125 20 HES 6% BM 200.000 280
Expafusin 138 4 3 125 20 HES 6% BM 40.000 290
Keterangan : Lact = Laktat, Aset = Asetat, b.nat = Natrium bicarbonat, Osm = Osmolaritas,Organ = zat organik. Satuan Anion dan
Kation : mEq/L. Satuan Glukosa/Dektrosa : gram/L = 1000mg/180mg = 5,5 mEq/L.Satuan osmolaritas : mOsm/L

3
TABEL 1. OSMOLARITAS CAIRAN TUBUH, DIARE, DAN CAIRAN

KATION ORGAN ANION


CAIRAN Keterangan tambahan Osm
Na+ K+ Ca+ Dex Glc Cl- Lact Aset bnat
Plasma Ektrasel 142 4-5 2,4-5 90 103 28 Mg3,Prot16,AsOrg6,HPO42,SO41 282±5
Plasma Intrasel 10 140 0,0 <20 4 10
Kbutuhan /kg/hr 2,5- 4 1- 2,5 0,2- 1 1,5-4,3 Mg0,7-1 Posfat 0,2-0,8
Kbutuhan term /kg/hr 2,5- 3,5 2,5- 3,5 1,2 -1,5 1-15g 5 Mg 0,6 Posfat 1-1,5
Kbutuhn preterm/kg/hr 3-4 2-4 1,5-2 11-15g 3,5-4,5 Mg 0,4 Posfat 1,1-1,3
½ Darrow 61 18 50 ? 52 27 436
NaCl 3,0% 513 513 1026
NaCl 15% 2567 2567 5133
D20% 200 1112

Infusan D5 + ½ NS 77 50 77 = D5% 1:1 432


Infusan D5 + ¼ NS 38,5 50 38,5 = D5% 3:1 355
Infusan-NS 154 154 308
Infusan-D5 50 278
Infusan Ring-As
Infusan R+D 147 4 4,4 50 156 586
Infumal 10% Maltose 100 gram 284

KAEN 1A 77 25 77 293
KAEN 1B 38,5 37,5 38,5 285
KAEN 2A 60 25 23,5 49 25 Mg ++ 2, HPO4- 13 305
KAEN 2B 77,5 30 14,5 59 48,5 297
KAEN 3A 60 10 27 50 20 290
KAEN 3B 50 20 27 50 20 290
KAEN MG3 50 20 100 50 20 695
KAEN 4A Paed 30 0 40 20 10 282
KAEN 4B Paed 30 8 37,5 28 10 284
RL otsuka 130 4 3 109 28 273
Asering 130 4 3 109 28 273
RD 5% 147 4 4,4 50 156 586
Asering 5 130 4 3 50 109 28 551
Keterangan : D5% 3:1 ( = D5% ¼ NS) berarti perbandingan D5% dengan NaCl 0,9% adalah 3:1 atau didapat
dari D5% 500 ml + NaCl 0,9% 167 ml atau D5% ml 375 ml + NaCl 0,9% 125 ml. D10% 10:4:7
berarti dalam D10% 500 ml dimasukan cairan NaCl 15% 10 ml + KCl 10% 4 ml + Natrium
Bicarbonat 8,48% 7 ml

PEMBERIAN JENIS DAN JUMLAH CAIRAN MAINTENANCE


Terdapat banyak pendapat/perbedaan jenis dan jumlah cairan maintenance pada anak.
Beberapa pendapat:
1. Menggunakan kadar Na yang cukup tinggi (D5% atau 10% 1/2NS), bahkan pada keadaan setelah
resusitasi teratasi dapat mengunakan RL.
2. Menggunakan kadar Na yang rendah untuk semua golongan umur. Di RSCM/FKUI tahun 2007
menggunakan KAEN 1B + KCl 7,48% 10 ml.
3. Mengunakan kebutuhan peroral dari Na dan K, yakni dengan Na 3-4 mEq/kgBB/hari dan K 1-2
mEq/kgBB/hari. Nb: RL dapat digunakan pada keadaan dehidrasi atau ada ancaman dehidrasi
Mengunakan kebutuhan peroral
Contoh Kasus 1: Anak 4 kg: jenis dan jumlah cairan maintenance ? 
Jumlah cairan perhari: 4 x 100 ml/kgBB/hari = 400 ml/hari = 4 tetes makro/menit = 16 tetes mikro/menit
 Nb: 1ml/menit = 15 tetes makro/menit = 60 tetes mikro/menit.
Jenis cairan: Kebutuhan Na 3-4 mEq/kgBB = 12-16 mEq, K 1-2,5 mEq/kgBB = 4-10 mEq  Jenis
cairan yang tepat adalah Na 12-16 mEq dan K 4-10 mEq dalam 400 ml D5% atau 10% ATAU Na 35-40
mEq/liter, K 10-25 mEq/liter Cairan didapat dari D5% atau 10% 500 ml + NaCl 15% 6,9 ml + KCl
7,46% 5-12,5 ml.  Cairan yang sesuai adalah cairan D5% atau 10% 500ml 3:1 +KCl 7,46% 5-12,5 ml
atau KAEN 1B + KCl 7,46% 5-12,5 ml

4
Contoh Kasus 2: Anak 30 kg: jenis dan jumlah cairan maintenance ? 
Jumlah cairan perhari: 1700 ml/hari = 17 tetes makro/menit
Jenis cairan: Kebutuhan Na 3-4 mEq/kgBB = 90-120 mEq, K 1-2,5 mEq/kgBB = 30-75 mEq  Jenis
cairan yang tepat adalah Na 90-120 mEq dan K 30-75 mEq dalam 1700 ml D5% atau 10% ATAU Na
52,9-70,5 mEq/liter, K 17,6-44,1 mEq/liter
Cairan didapat dari D5% atau 10% 500ml + NaCl 15% 10,4-13,8 ml + KCl 7,46% 8,8-22 ml  Cairan
yang sesuai adalah cairan D5% atau 10% 500ml 2:1 + KCl 7,46% 8,8-22 ml atau KAEN 3A + KCl
7,46% 3,8-7,5 ml atau KAEN 3B + NaCl 15% 1,1-8 ml  yang paling sesuai adalah KAEN 3B ( jika
batas bawah kebutuhan Na 2,5 mEq/kgBB maka KAEN 3 B tidak perlu lagi ditambah NaCl 15% )
Contoh Kasus 3: Anak 10 kg: jenis dan jumlah cairan maintenance  lihat tabel 2
Tabel 2 memperlihatkan hubungan antara berat badan dengan jumlah kebutuhan cairan serta
kebutuhan natrium dan kalium.
Tabel 2. DAFTAR PERKIRAAN PEMAKAIAN JENIS CAIRAN MAINTENANCE
BERDASARKAN BERAT BADAN
B umlah 3:1 = 1:1
2:1 KAEN 3A KAEN 3B
Kg Cairan KAEN IB 2A
(ml) Na K Na K Na K Na K Na K
Kebutuhan 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5
3 300 11,5
9-12 3-7,5
4 400 15,4
12-16 4-10
10 1000 38,5 51,3 60 10 50 20
30-40 10-25 30-40 10-25 30-40 10-25 30-40 10-25
15 1250 48,125 64,125 75 12,5 62,5 25
45-60 15-37,5 45-60 15-37,5 45-60 15-37,5 45-60 15-37,5
16 1300 50,05 66,69 78 13 65 26
48-64 16-40 48-64 16-40 48-64 16-40 48-64 16-40
17 1350 51,975 69,255 81 13,5 67,5 27
51-68 17-42,5 51-68 17-42,5 51-68 17-42,5 51-68 17-42,5
18 1400 53,9 71,82 84 14 70 28
54-72 18-45 54-72 18-45 54-72 18-45 54-72 18-45
19 1450 55,825 74,385 87 14,5 72,5 29
57-76 19-47,5 57-76 19-47,5 57-76 19-47,5 57-76 19-47,5
20 1500 57,75 76,95 90 15 75 30 115,5
60-80 20-50 60-80 20-50 60-80 20-50 60-80 20-50 60-80
24 1580 60,8 81 94,8 79 31,6 121,3
72-96 24-60 72-96 24-60 72-96 24-60 72-96 24-60 72-96 24-60
25 1600 61,6 82,08 96 16 80 32 123,2
75-100 25-62,5 75-100 25-62,5 75-100 25-62,5 75-100 25-62,5 75-100 25-62,5
30 1700 65,45 87,47 114 17 85 34 130,9
90-120 30-75 90-120 30-75 90-120 30-75 90-120 30-75 90-120 30-75
35 1800 69,3 92,3 108 18 90 36 138,6
105-140 35-87,5 105-140 35-87,5 105-140 35-87,5 105-140 5-87,5 105-140 35-87,5
40 1900 73,5 97,47 114 19 95 38 146,3
120-160 40-100 120-160 40-100 120-160 40-100 120-160 40-100 120-160 40-100
Dws 1500-2500 58-96 77-128 90-150 15-25 75-125 30-50 116-193
170 40-140 170 40-140 170 40-140 170 40-140 170 40-140

Keterangan tabel 2 dan 3


Sesuai kebutuhan Na 3 – 4 mEq/Kg,
Batas bawah kebutuhan Na 2,5 mEq/L  Kebutuhan 2,5 – 4 mEq/Kg,
Batas bawah kebutuhan Na 2 mEq/L  Kebutuhan 2 – 4 mEq/Kg,
51,97 Batas atas/bawah kebuthan Na 3 – 4 mEq/Kg,

5
Kebutuhan tersebut di atas hanya mempertimbangkan kebutuhan cairan dan 2 Eletrolit utama
yakni Na dan K. Kebutuhan Na dan K harus dicukupi karena pergantiannya setiap hari meliputi
1/50-1/100 dari jumlah total. Berlainan dengan Ca, Mg, dan P yang hanya 1/1000- 1/2000.
Kebutuhan kalori berdasarkan cairan tersebut tidak mencukupi. Kebutuhan kalori cukup jika
memakai D29,41% (osmolaritas 1635, tidak dapat diberikan melalui vena). Kemampuan vena
perifer menerima beban osmotic hanya sebesar 2 sampai 3 kali beban osmotic normal. Pada
nutrisi parenteral, kebutuhan kalori juga harus didapat dari pemberian lemak dan protein, dan jika
berlangsung lama elektrolit lainnya (Ca, Mg, P, dll) juga diberikan.  Nb: 1 ml KCl 7,46% = 1
mEq/L, 1 ml KCl 10% = 1,33 mEq/L, 10 ml D10% = 1 gram dekstrose = 3,4 kalori
Kesimpulan (JENIS dan JUMLAH CAIRAN MAINTENANCE menurut kebutuhan peroral):
- Pada anak dibawah 17 kg (3 kg - bisa sampai 20 kg) diberikan cairan 3:1 (D5 atau 10% ¼ NS) atau
KAEN 1B. Kekurangan K dapat diberikan dengan penambahan 5 mEq perkolf (5 ml KCl 7,46% atau
3,7 ml KCl 10%) yang memberikan K sebanyak 3 mEq/L pada anak 3 kg dan 10 mEq pada anak 10
kg. Pada anak 10-20 kg dapat ditambahkan 10 mEq perkolf (10 ml KCl 7,46% atau 7,5 ml KCl 10%)
yang memberikan K sebanyak 21 mEq/L pada anak 11 kg dan 30 mEq/L pada anak 20 kg.
- Pada anak diatas 17 kg diberikan cairan 2:1 (D5 atau 10% 1/3 NS) (dari 18 kg – bisa sampai 40 kg)
atau KAEN 3B (dari 17 kg – bisa sampai  35 kg). Kekurangan K cairan 2:1 dapat diberikan KCl 10
mEq perkolf (10ml KCl 7,46% atau 7,5 ml KCl 10%) yang memberikan K sebanyak 28 mEq/L pada
anak 18 kg, 34 mEq anak 30 kg, dan 38 mEq/L anak 40 kg.
- KAEN 3A diberikan pada anak 24 kg ke atas. KAEN 3A diberikan pada maintenance  anak diare
dengan gagal URO yang mungkin menimbulkan dehidrasi ringan-sedang (perhari membutuhkan cairan
200 ml/kgBB), dimana kebutuhan cairan menjadi 2 x lipat [2xBB(kg) tetes/menit], tetapi pada kasus
hipokalemia maka KAEN 3B lebih sesuai kebutuhan.
- Pada anak dengan BB 35 kg atau lebih, jenis cairan dapat diberikan sesuai orang dewasa yakni 2A
(perbandingan D5% atau 10% dengan NaCl 15% = 1:1) + KCl 7,46% 10 ml.
- Pada penderita kurang gizi (KEP) terjadi perubahan keseimbangan ion Na dan K, dimana sebagian ion
Na bergeser ke intraseluler dan ion K ke ektraseluler. Kebutuhan K menjadi lebih tinggi yakni 2,5
mEq/kgBB/hari dan kebutuhan Na menjadi lebih rendah yakni 2,5 mEq/kgBB/hari.
- Pada neonatus dapat digunakan cairan 4 : 1, untuk bayi berat dibawah 2000 gram mengunakan D7,5%,
untuk bayi dengan berat 2000 gram keatas mengunakan D10%. Pada bayi yang belum dapat minum
ditambahkan Calsium
- PRAKTISNYA: Jenis cairan yang dipakai : Neonatus memakai 4:1, anak dengan berat badan
sampai 20 kg mengunakan D5/10% 3: 1 (1/4NS) + KCl 5-10 mEq/kolf atau KAEN 1B + KCl 5-10
mEq/kolf, anak diatas 20 kg mengunakan D5/10% 2: 1 (1/3NS) + KCl 10 mEq/kolf atau KAEN
3A atau KAEN 3B, anak di atas 35 kg dapat disamakan seperti orang dewasa. Pada keadaan
dehidrasi (misalnya diare), setelah resusitasi (misalnya setelah operasi), atau ada ancaman
kekurangan cairan plasma (misalnya DBD) maka cairan dengan kandungan Na yang tinggi
(terutama RL) dapat digunakan.
Pada penyakit-penyakit tertentu dimana pemberian cairan maintenance mengakibatkan beban volume
(dekompensasi kordis, BP, bronkiolitis,dan lain-lain) dan tekanan intrakranial meningkat (ensefalitis,
meningitis) maka jumlah cairan yang diberikan sebanyak ¾ maintenance. Nb: pada kasus ensefalitis dan
meningitis, karena anak sebelumnya sudah mengalami low intake maka pemberian cairan dapat diberikan
penuh. Pada keadaan overweight maka yang dipakai berat badan ideal, malnutrisi: berat badan faktual, ada
udem : berat badan ideal.
 Pada kasus intake ketat cairan (3/4 maintenace) pertimbangkan intake ketat Natrium. Pada decomp
kordis kebutuhan Na  0,5 gram/hari (8,5 mEq), ginjal dengan overload cairan Na 0,5-1 gram/hari (8,5-17
mEq). Jumlah cairan yang digunakan pada kelainan ginjal umumnya berdasarkan jumlah IWL dan jumlah
urin yang ditampung sebelumnya (biasanya perhari).
Tabel 3 memperlihatkan jumlah kebutuhan cairan ¾ maintenance dengan jumlah kebutuhan Na dan K
yang masih tetap sesuai kebutuhan (untuk Na 3-4 mEq/kgBB dan K 1-1,5 mEq/kgBB)

6
Tabel 3. DAFTAR PERKIRAAN JUMLAH CAIRAN ¾ MAINTENANCE BERDASARKAN BERAT BADAN
BB
Jumlah 3:1 = KAEN IB 2:1 KAEN 3A KAEN 3B 1:1, 2A
Kg
Cairan(ml)
Na K Na K Na K Na K Na K
¾ Kebutuhan 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5 3-4 1-2,5
3 225 8,6 11,5 2,3 11,3 4,5
9-12 3-7,5 9-12 3-7,5 9-12 3-7,5 9-12 3-7,5 9-12 3-7,5
10 750 28,9 38,5 45 7,5 37,5 15
30-40 10-25 30-40 10-25 30-40 10-25 30-40 10-25
14 900 34,7 46,2 54 9 45 18 69,3
42-56 14-35 42-56 14-35 42-56 14-35 42-56 14-35 42-56 14-35
16 975 37,5 50 58,5 9,8 48,8 19,5
48-64 16-40 48-64 16-40 48-64 16-40 48-64 16-40 48-64 16-40
17 1013 39 59,4 60,8 10,1 50,6 20,3
51-68 17-42,5 51-68 17-42,5 51-68 17-42,5 51-68 17-42,5 51-68 17-42,5
18 1050 44,2 53,9 63 10,5 52,5 21
54-72 18-45 54-72 18-45 54-72 18-45 54-72 18-45 54-72 18-45
19 1088 41,9 55,8 65,3 10,9 54,4 21,8 83,8
57-76 19-47,5 57-76 19-47,5 57-76 19-47,5 57-76 19-47,5 57-76 19-47,5
20 1125 43,3 57,7 67,5 11,3 56,3 22,5 86,6
60-80 20-50 60-80 20-50 60-80 20-50 60-80 20-50 60-80
23 1170 45 60 70,2 11,7 58,5 23,4 90,1
69-92 23-57,5 69-92 23-57,5 69-92 23-57,5 69-92 23-57,5 69-92 23-57,5
25 1200 46,2 61,6 72 12 60 24 92,4
75-100 25-62,5 75-100 25-62,5 75-100 25-62,5 75-100 25-62,5 75-100 25-62,5
30 1275 49,1 65,6 85,5 63,8 25,5 98,2
90-120 30-75 90-120 30-75 90-120 30-75 90-120 30-75 90-120 30-75
35 1350 69,2 81 67,5 104
105-140 35-87,5 105-140 35-87,5 105-140 35-87,5 105-140 35-87,5 105-140 35-87,5
40 1425 85,5 28,5 109,7
120-160 40-100 120-160 40-100 120-160 40-100 120-160 40-100 120-160 40-100

JENIS CAIRAN PADA KASUS GASTROENTERITIS


Pada kasus GEH, penting mendahulukan peroral dibandingkan parenteral. Tabel 4 memperlihatkan komposisi
cairan tubuh yang jika kehilangan melalui muntah atau BAB dapat digantikan dengan cairan yang sesuai.
Tabel 4. Komposisi Caitan Tubuh dan Jenis Cairan yang Setara
KATION ORGAN ANION Osm
+ + + -
Na K Ca Dex Glc Cl Lact Aset bnat
Cairan Lambung pH r ndah 10-30 5 - 40 80-150 0
Cairan Lambung pH tinggi 70-140 5 - 40 55 – 95 5 - 20
Empedu 131-164 2,6-12 89-117 40
Diare Kolera / nonkolera 101/56 27/25 92/55 32/14
D5% 10:4 51,3 10,7 50 62 402
Renalyte / Pedialyte 75/45 20/20 -/25 20/- 65/35 Citrat 10/30
Oralit lama/baru(kf) 90/75 20/20 20/13,5 80/65 30/- - / Citrat 10 311/245
Darrow 122 35 104 53 314
DG aa 61 17,5 25 52 26 320
D10% 10:4:7 65,3 10,7 100 62 14 706,5
D5% 10:4:7  KAEN 3A 65,3 10,7 50 62 14 428,5
RL otsuka 130 4 3 109 28 273
RD 5% 147 4 4,4 50 156 586
Ringer Otsuka 147 4 4,5 156 310
KAEN 3A 60 10 27 50 20 290
KAEN 3B 50 20 27 50 20 290
KAEN MG3 50 20 100 50 20 695
3A 106 16,7 51 55 305
2A=AA / D5% 1:1 77 25/50 77 293/432
D5% 4:1  KAEN 4A 30,7 50 30,7 339
D5% 3:1  KAEN 1B 38,5 50 38,5 355
D5% 2:1 51,3 50 51,3 380

7
1. Kasus muntah :
• Pada kasus dengan muntah asam ( pH rendah)  Peroral: cairan rumah tangga. IVFD: D5% 4:1
(+ KCl 7,46% 5-10ml perkolf), KAEN 4A (+ KCl 7,46% 5-10ml perkolf), D5% 3:1 (+ KCl 7,46%
5-10ml perkolf), KAEN 1B (+ KCl 7,46% 5-10ml perkolf).
• Pada kasus dengan muntah tidak berbau asam, atau yang bercampur empedu (pH tinggi) 
Peroral: Renalite, Oralit. IVFD: D5% 10:4:7 , KAEN 3A, KAEN 3B.
• Pada kasus yang me ragukan: D5% 10:4. Pada kasus dengan mekanisme muntah lengkap
(nausea/preejeksi, retching, dan ekspulsi   = muntah pH tinggi)
Pada kasus muntah yang perlu diperhatikan:
1.  Jika banyak kehilangan Kalium menyebabkan hipokalemia, kehilangan HCl menyebabkan metabolic
alkalosis, dan kehilangan air dan Natrium menyebabkan dehidrasi.
2. Pada dehidrasi: pada keadaan
- muntah dengan pH tinggi atau muntah hijau, jenis dan jumlah cairan disesuaikan dengan SP Diare
derajat dehidrasi ringan-sedang dan dehidrasi berat.
- muntah dengan pH rendah (keadaan asam) dapat diberikan cairan yang tidak mengandung
bikarbonat/laktat/asetat, Yakni NaCl 0,9%
3. Untuk mencegah dehidrasi, jenis dan jumlah cairan yang dipakai diperhitungkan dengan jenis dan
 jumlah cairan maintenance dan pengganti muntah (jumlah cairan sesuai dengan derajat dehidrasi
 yang akan muncul). Lihat contoh kasus pada halaman 8 
-  M untah dengan pH tinggi atau muntah hijau digunakan oralit (peroral), KAEN 3A atau KAEN 3B
(parenteral-Pemakaian KAEN 3B tetesan cepat dapat mengakibatkan hiperkalemia)
-  M untah dengan pH rendah digunakani cairan rumah tangga (peroral), ataupun KAEN 1B dan
KAEN 4A yang ditambahkan KCl 7,46% 5-10 ml perkolf (KAEN 1B dapat dipakai pada semua
tingkat umur/berat badan)
4.  Koreksi yang paling tepat adalah berdasarkan pemeriksaan analisis gas darah, serum Na dan K
Tabel 5 dan 6 memperlihatkan jenis dan jumlah cairan yang dapat digunakan pada kasus
muntah-muntah sehingga dehidrasi dapat dicegah.

2. Kasus diare:
•Pada kasus tanpa dehidrasi baik disertai muntah maupun tidak: cairan rumah tangga, pedialyte,
oralit/renalyte yang disertai banyak minum. IVFD (pada kasus diare dengan gagal upaya rehidrasi
oral yang diperkirakan dapat menyebabkan dehidrasi): [D5% 10:4:7, KAEN 3A dengan tetesan 2x BB
(kg)/menit (200ml/kgBB/hari) jika diperkirakan menyebabkan dehidrasi ringan-sedang dalam 24
 jam mendatang dan 2,5x BB(kg)/menit (250ml/kgBB/hari) jika diperkirakan akan menyebabkan
dehidrasi berat], KAEN 3B (kasus hipokalemia). Pada anak di atas 10 kg, jumlah cairan yang
dipakai disesuaikan dengan kelipatan maintenance atau kehilangan cairan sesuai berat badan (lihat
table 9). Apabila K diberikan dengan kecepatan sebanding Na akan menyebabkan hiperkalemia.
Pemberian jumlah tetesan KAEN 3B seharusnya tidak melebihi tetesan 2x BB (kg) tetes/menit .
•Pada kasus dehidrasi ringan sedang: oralit/renalyte, IVFD (kasus gagal URO): RL
•Pada kasus dehidrasi berat: IVFD: RL
•Pada kasus sudah ter-rehidrasi (pernah mengalami dehidrasi): oralit/renalyte yang disertai banyak
minum. IVFD: D5% 10:4:7 , KAEN 3A, KAEN 3B (jika hipokalemia).
Tabel 7 dan 8 memperlihatkan jenis dan jumlah cairan yang dapat digunakan pada kasus
diare sehingga terjadinya dehidrasi dapat dicegah.
Walaupun pada kedua tabel tersebut KAEN 3B lebih banyak sesuai dengan komposisi cairan
 yang hilang, tetapi KAEN 3A lebih baik dipakai dibandingkan dengan KAEN 3B .
 Nb: Renalyte dan oralit lebih ditujukan untuk rehidrasi, pedialyte untuk mencegah dehidrasi

8
Contoh Kasus: Anak 10 kg, muntah2 (pH rendah) 2 x dalam10 jam (@ 10ml/kgbb/kali), tidak mau minum,
 jumlah kebutuhan dan jenis cairan ?. Perkiraan muntah dalam 24 jam mendatang adalah 5 x (@ 10 ml/kg/kali)
Jawab: jumlah dan jenis cairan maintenance 1000 ml dengan Na 30-40 mEq dan K 10-25 mEq. Ditambahkan
CWL 500 ml (10 ml/kg x 10 kg x 5) dengan Na 5-15 mEq dan K 2,5-20 mEq. Sehingga jumlah total cairan
yang diperlukan 1500 ml dengan Na 35-55 mEq dan K 12,5-45 mEq. Perliter Na 23,3-36,7 meq/l dan K 8,3-
30 meq/l  sesuai dengan cairan KAEN 4A atau 1B + KCl 7,46% 5-10 ml/kolf diberikan 15 tetes/menit.
Tabel 5. Perkiraan Kebutuhan dan Jenis Cairan pada Keadaan Muntah Berdasarkan Frekuensi Muntah
Jumlah muntah dengan pH rendah Jumlah muntah dengan pH tinggi/bercampur empedu
BB
Jumlah 5 kali Jumlah 10 kali Jumlah 5 kali Jumlah 10 kali
(kg)
Cairan(ml) @ 10 ml/kali airan(ml) @ 10 ml/kali airan(ml) @ 10 ml/kali airan(ml) @ 10 ml/kali
Na (mEq/l) K(mEq/l) Na(mEq/l) K(mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l)
3 300 9-12 3-7,5 300 9-12 3-7,5 300 9-12 3-7,5 300 9-12 3-7,5
150 1,5-4,5 0,75-6 300 3-9 1,5-12 150 10,5-21 0,75-6 300 21-42 1,5-12
450 10,5-16,5 3,75-17,5 600 12-21 4,5-19,5 450 19,5-33 3,75-13,5 600 30-54 4,5-19,5
perliter 23,3-36,7 8,3-30 perliter 20-35 7,5-32,5 perliter 43,3-73,3 8,3-30 perliter 50-90 7,5-32,5
cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B + KCl cairan KAEN 3A/3B cairan KAEN 3A/3B
10 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25
 500 5-15 2,5-20 1000 10-30 5-40 500 35-70 2,5-20 1000 70-140 5-40
1500 35-45 12,5-45 2000 40-70 15-65 1500 65-110 12,5-45 2000 100-180 15-65
 perliter 23,3-36,7 8,3-30 perliter 20-35 7,5-32,5 perliter 43,3-73,3 8,3-30 perliter 50-90 7,5-32,5
 cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A/3B cairan KAEN 3A/3B
15 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45
750 7,5-22,5 3,75-37,5 1500 15-45 7,5-75 750 52.5-105 3,75-37,5 1500 105-210 7,5-75
2000 52,5-88,5 18,75-82,5 2750 60-105 22,5-120 2000 97,5-165 18,75-82,5 2750 150-270 22,5-120
26,5-44,3 9,75-41,3 21,8-38,2 11,3-43,6 48,8-82,5 9,75-41,3 54,5-98,2 11,3-43,6
cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A/3B cairan KAEN 3A
20 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50
1000 10-30 5-40 2000 20-60 10-80 1000 70-140 5-40 2000 140-280 10-80
2500 70-110 25-90 3500 80-140 30-130 2500 130-220 25-90 3500 200-360 30-180
perliter 28-44 10-36 perliter 22,8-40 0,95-3,7 perliter 52-88 10-36 perliter 57-102 0,95-3,7
cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A/3B cairan KAEN 3A
30 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75
1500 15-45 7,5-60 3000 30-90 15-120 1500 105-210 7,5-60 3000 210-420 15-120
3200 105-165 37,5-135 4700 120-210 45-195 3200 195-330 37,5-135 4700 300-540 45-195
perliter 32,8-51,6 10,5-42,5 perliter 25,5-44,6 14-60,9 perliter 60,9-103 10,5-42,2 perliter 63,8-114 14—60,9
cairan KAEN (4A/1B+KCl), 3B cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A cairan KAEN 3A

Tabel 6. Perkiraan Kebutuhan dan Jenis Cairan pada Keadaan Muntah Berdasarkan Cairan Maintenance
Jumlah muntah dengan pH rendah Jumlah muntah dengan pH tinggi/bercampur empedu
BB
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
(kg) 2 kali Maintenance 2,5 kali Maintenance 2 kali Maintenance 2,5 kali Maintenance
Cairan(ml) airan(ml) airan(ml) airan(ml)
Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l)
10 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25
1000 10-30 5-40 1500 15-45 7,5-60 1000 70-140 5-40 1500 105-210 7,5-60
2000 40-70 15--65 2500 45-95 17,5-85 2000 100-180 15--65 2500 135-250 17,5-85
perliter 20-35 7,5-32,5 perliter 18-38 7-34 perliter 50-90 7,5-32,5 perliter 54-100 7-34
cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A/3B cairan KAEN 3A/3B
15 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45
1250 12,5-37,5 6,25-50 1875 18,8-56,4 9,4—75 1250 87,5-175 6,25-50 1875 131,3-262,5 9,4—75
2500 57,5-97,5 21,3-95 3125 63,8-116,4 24,4-120 2500 132,5-235 21,3-95 3125 176-323 24,4-120
perliter 23-39 8,5-38 perliter 20,4—37,2 7,8-38,4 perliter 53-94 8,5-38 perliter 56,3-103,4 7,8-38,4
cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A cairan KAEN 3A
20 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50
1500 15-45 7,5-60 2250 22,5-67,5 11,3-90 1500 105-210 7,5-60 2250 158-315 11,3-90
3000 75-125 27,5-110 3750 82,5-147,5 31,3-140 3000 165-290 27,5-110 3750 218-395 31,3-140
perliter 25-41,7 9,2-36,7 perliter 22-39,3 8,3—37,3 perliter 55-96,7 9,2-36,7 perliter 58-105 8,3—37,3
cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A cairan KAEN 3A
30 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75
1700 17-51 8,5-68 2550 25,5-76,5 12,8-102 1700 119-238 8,5-68 2550 179-357 12,8-102
3400 107-171 38,5-143 4250 115,5-196,5 42,8-177 3400 209-358 38,5-143 4250 269-477 42,8-177
perliter 31,5-50,3 11,3-42,1 perliter 27,2-46,2 10,1-41,6 perliter 61,2-105,3 11,3-42,1 perliter 63,3-112 10,1-41,6
cairan KAEN (4A/1B+KCl), 3B cairan KAEN 4A/1B+KCl cairan KAEN 3A cairan KAEN 3A

9
Tabel 7. Perkiraan Kebutuhan dan Jenis Cairan pada Keadaan Diare Berdasarkan Frekuensi BAB
Jumlah Diare Non Kolera Jumlah Diare Kolera
BB Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
5 kali 10 kali 5 kali 10 kali
(kg) Cairan Cairan Cairan Cairan
@ 10 ml/kali @ 10 ml/kali @ 10 ml/kali @ 10 ml/kali
(ml) (ml) (ml) (ml)
Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l)
3 300 9-12 3-7,5 300 9-12 3-7,5 300 9-12 3-7,5 300 9-12 3-7,5
150 8,4 3,75 300 16,8 7,5 150 15 4 300 30 8
450 17,4-20,4 6,75-11,3 600 25,8-28,8 10,5-15 450 24-27 7-11,5 600 39-42 11-15,5
Perliter 38,7-45,3 15-25 Perliter 43-48 17,5-25 Perliter 53,3-60 15,5-25,5 Perliter 65-70 18,3-25,8
Jenis KAEN 1B Jenis KAEN 1B Jenis Jenis
KAEN 3A/3B KAEN 3A
cairan +KCl 10 Meq cairan +KCl 10 Meq cairan cairan
10 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25
500 28 12,5 1000 56 25 500 50,5 13,5 1000 101 27
1500 58-68 22,5-37,5 2000 86-96 35-50 1500 80,5-90,5 23,5-38,5 2000 131-141 37-52
Perliter 38,7-45,3 15-25 Perliter 43-48 17,5-25 Perliter 53,7-60,3 15,7-25,7 Perliter 65,5-70,5 18,5-26
Jenis KAEN 1B Jenis Jenis Jenis
KAEN 3B KAEN 3A/3B KAEN 3A
cairan +KCl 105 Meq cairan cairan cairan
15 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45
750 42 18,8 1500 84 37,5 750 75,8 20,3 1500 151,5 40,5
2000 87-102 33,8-63,8 2750 129-144 52,5-82,5 2000 120,8-135,8 35,3-65,3 2750 196,5-201,5 55,5-85,5
Perliter 43,5-51 16,9-31,9 Perliter 46,9-52,4 19,1-30 Perliter 60,4-67,9 17,7-32,7 Perliter 71,5-73,3 20,2-31,1
Jenis Jenis Jenis Jenis
KAEN 3B KAEN 3B KAEN 3A KAEN 3A/
cairan cairan cairan cairan
20 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50
1000 56 25 2000 112 50 1000 101 27 2000 202 54
2500 116-136 45-75 3500 182-192 70-100 2500 161-181 47-77 3500 262-282 74-104
Perliter 46,4-54,4 18-30 Perliter 52-54,9 20-28,5 Perliter 64,4-72,4 18,8-30,8 Perliter 74,9-80,6 21,1-29,7
Jenis Jenis Jenis Jenis
KAEN 3B/3A KAEN 3B/3A KAEN 3A 2A+KCl
cairan cairan cairan cairan
30 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75
1500 84 37,5 3000 168 75 1500 151,5 40,5 3000 303 81
3200 174-204 67,5-112,5 4700 258-288 105-150 3200 241,5-271,5 70,5-115,5 4700 393-423 111-156
Perliter 54,4-63,8 21-35,1 Perliter 54,9-61,3 22,3-31,9 Perliter 75,5-84,8 22-36,1 Perliter 83,6-90 23,6-33,2
Jenis Jenis Jenis Jenis
KAEN 3A KAEN 3A 2A+KCl 2A+KCl
cairan cairan cairan cairan

Tabel 8. Perkiraan Kebutuhan dan Jenis Cairan pada Diare akut Berdasarkan Cairan Maintenance
Jumlah BAB Cair non Kolera Jumlah BAB Cair Kolera
BB Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
(kg) Cairan 2 kali Maintenance Cairan 2,5 kali Maintenance Cairan 2 kali Maintenance Cairan 2,5 kali Maintenance
(ml) (ml) (ml) (ml)
Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l) Na (mEq/l) K (mEq/l)
10 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25 1000 30-40 10-25
1000 56 25 1500 84 37,5 1000 101 27 1500 151,5 40,5
2000 86-96 35-50 2500 114-124 47,5-62,5 2000 131-141 37-52 2500 182-192 50,5-65,5
43-48 17,5-25 45,6-49,6 19-25 65,5-70,5 18,5-26 72,8-76,8 20,2-26,2
Cairan KAEN 3B Cairan KAEN 3B Cairan KAEN 3A Cairan 2A+KCl
15 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45 1250 45-60 15-45
1250 70 31,3 1875 105 46,9 1250 126,3 33,8 1875 189,4 50,6
2500 115-130 46,3-76,3 3125 150-165 61,9-91,9 2500 171,3-186,3 48,8-78,8 3125 234-249 65,6-95,6
46-52 18,5-30,5 48-52,8 19,8-29,4 68,574,5 19,5-31,5 74,9-79,8 21-30,6
Cairan KAEN 3B Cairan KAEN 3B Cairan KAEN 3A Cairan 2A+KCl
20 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50 1500 60-80 20-50
1500 84 37,5 2250 126 56,3 1500 151,5 40,5 2250 227,3 60,8
3000 144-164 57,5-87,5 3750 186-206 76,3-106,3 3000 212-232 60,5-90,5 3750 287,3-307,3 80,8-110,8
48-54,7 19,2-29,2 49,6-54,9 20,3-28,3 70,7-77,2 20,2-30,2 76,6-82 21,5-29,5
Cairan KAEN 3A/3B Cairan KAEN 3A/3B Cairan KAEN 3A Cairan 2A+KCl
30 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75 1700 90-120 30-75
1700 95,2 42,5 2550 126 63,8 1700 171,7 45,9 2550 258 69
3400 185-215 72,5-117,5 4250 216-246 93,8-108,8 3400 262-292 75,9-120,9 4250 348-378 99-144
54,4-63,3 21,3-34,6 50,8-57,9 22,1-25,6 77,1-85,8 22,3-35,5 81,8-89 23,3-33,9
Cairan KAEN 3A/3B Cairan KAEN 3A/3B Cairan 2A+KCl Cairan 2A+KCl

10
 KAEN 3A lebih baik dipakai dibandingkan dengan KAEN 3B , karena:
- SP Diare: Ttatalaksana Diare bermasalah memakai D5% 10:4:7 yang setara dengan KAEN 3A
- KAEN 3B dapat menimbulkan hiperkalemia jika dipakai pada tetesan cepat
- KAEN 3B tidak dapat diberikani 2 kali tetesan maintenance (kecepatan pemberian kalium 4
mEq/kg/hari), karena batas pemberian K secara IVFD 3 mEq/kgBB/hari akan terlampaui.
Kecepatan maksimal pemberian K pada ketiga cairan (RL, KAEN 3A, KEAN 3B) dalam mengatasi
diare dengan derajat dehidrasi berat dapat dibandingkan, sebagai berikut
- RL : 120 ml/kgbb/4 jam = 4 mEq/lx7,5 tetes/kg/menit = 0,12 mEq/kg/jam
- KAEN 3A: 250 ml/kgbb/24jam = 10 mEq/l x 2,5 tetes/kg/menit = 0,1 mEq/kg/jam = 2,5 mEq/kg/hari
- KAEN 3B: 250 ml/kgbb/24jam = 20 mEq/l x 2,5 tetes/kg/menit = 0,2 mEqkg//jam =  5,0 mEq/kg/hari
- Kalium intraseluler dapat dianggap sebagai pool Kalium tubuh. Kehilangan K yang banyak saat
diare dapat dikompensasi tubuh, walaupun pada beberapa penelitian dapat terjadi penurunan
Kalium ektraseluler. Hadi (1999) mendapatkan kadar K plasma saat diare akut dengan dehidrasi
 berat pada penderita dengan gizi baik: 3,90 ± 0,63 mEq/L dengan gizi kurang 3,60 ± 0,69 mEq/L,
setelah rehidrasi dengan RL selama 4 jam pada gizi baik 3,28 ± 0,52 mEq/l dan gizi kurang 2,69 ±
0,52 mEq/l. Beberapa penelitian melaporkan hasil K plasma setelah rehidrasi dengan RL pada
dehidrasi Berat: Mahalanabis dkk (1972) rerata 3,1 mEq/l (kasus non kolera),  Hermawan (1978)
 rerata 4,7 mEq/L, Jonardi (1990): rerata 3,41 mEq/L [ 76,2% normokalemia, 4,8% hiperkalemia,
dan 20,0% hipokalemia]. Depkes / WHO / SP Diare tetap memberikan RL pada diare akut
dehidrasi ringan-sedang (hanya yang gagal URO) dan berat. RL hanya mengandung K 4 mEq/l,
bandingkan dengan KAEN 3B yang mengandung 20 mEq/l..
Dalam menangani diare, beberapa kasus terjadi gagal upaya rehidrasi oral, sehingga diperlukan IVFD.
Kehilangan sejumlah cairan yang sedang/akan berlangsung (CWL) dapat diberikan parenteral dengan
menambahkann pada cairan maintenance. Kehilangan CWL dapat dihitung dengan perkiraan frekuensi
BAB yang akan terjadi dalam 24 jam mendatang (10-20 ml/kgBB/kali BAB cair). Tabel 9
memperlihatkan jumlah cairan yang hilang selama diare pada anak (PWL+CWL+IWL) yang disesuaikan
berat badan selama 24 jam. Tabel ini dapat dipakai dalam memperkirakan.jumlah kebutuhan cairan
penderita diare yang gagal URO (Perkiraan CWL 24 jam mendatang berdasarkan table 9).
Tabel 9. Jumlah Cairan yang Hilang Selama Diare pada Anak yang Disesuaikan Berat Badan Per24jam.
3 – 10 kg 10-15 kg 15 – 25 kg
Derajat Dehidrasi
PWL NWL /hari PWL NWL /hari PWL NWL /hari
Ringan 50 100 175 30 80 135 25 65 115
Sedang 75 100 200 50 80 155 50 65 140
Berat 125 100 250 80 80 185 80 65 170
 Nb: Satuan ml/kgBB, dengan CWL 25 ml/kgBB/hari
Beberapa penulis mengajukan PWL untuk anak di atas 10 kg: ringan 30, sedang 60, dan berat 90 ml/kgBB
Anak yang diare yang diperkirakan mengalami dehidrasi per 24 jam nya, akan membutuhkan cairan:
15 kg, dehidrasi ringan sedang: 2325 ml (table 15), 2475 ml (PWL 60), dan 2500 ml (2 x maintenance)
Dehidrasi berat : 2775 ml (table 15), 2925 ml (PWL 90), dan 3125 ml (2,5 x maintenance)
20 kg, dehidrasi ringan sedang: 2800 ml (table 15), 3000 ml (PWL 60), dan 3000 ml (2 x maintenance)
Dehidrasi berat : 3400 ml (table 15), 3600 ml (PWL 90), dan 3750 ml (2,5 x maintenance)
25 kg, dehidrasi ringan sedang: 3500 ml (table 15), 3750 ml (PWL 60), dan 3200 ml (2 x maintenance)
Dehidrasi berat : 4250 ml (table 15), 4500 ml (PWL 90), dan 4000 ml (2,5 x maintenance)
Kebutuhan cairan yang merupakan kelipatan dari kebutuhan maintenance juga dapat diterapkan pada
penyakit lainnya, misalnya DBD: kebutuhan 3-5 ml/kgBB/jam (rerata 4 ml/kgBB/jam) = 1 x kebutuhan
maintenance, 6-7 ml/kgBB/jam = 1,5 x maintenance, dan 10 ml/kgBB/jam = 2,5 x maintenance. Atau BB
factual dikonversi dulu ke kebutuhan cairan. Misal BB 40 kg (BB factual) akan setara dengan 19 kg, jika
menderita DBD I akan membutuhan cairan 19 x 4 ml/jam atau 19 tetes/menit.
KESIMPULAN Jenis cairan IVFD penderita GE (Utamakan melalui oral !!!)
1. Pada kasus yang bisa diberikan peroral, cairan maintenance dan CWL diberikan peroral.
2. Pada kasus muntah, tidak bisa peroral
- Terjadi dehidrasi, pH tinggi/bercampur empedu : RL

11
- Terjadi dehidrasi, pH rendah: dapat dipertimbangkan NaCl 0,9% (untuk rehidrasi cepat) atau KAEN
1B + KCl 7,46% 5 ml (untuk rehidrasi lambat)
- Mencegah dehidrasi, pH tinggi/bercampur empedu : KAEN 3A
- Mencegah dehidrasi, pH rendah: KAEN 1B + KCl 7,46% 5 ml.
3. Pada kasus diare, tidak bisa peroral
- Terjadi dehidrasi (semua kasus) : RL
- Mencegah dehidrasi ringan sedang : jika BAB  5 x/hari dan berat badan 10 kg berikan KAEN 1B
(anak tidak dapat minum peroral) , selain dari itu: KAEN 3A. KAEN 3B tidak dapat diberikan
dengan tetesean 2 x kgBB selama 24 jam.
- Mencegah dehidrasi berat : KAEN 3A. Pada kasus kolera pada anak > 20 kg perlu cairan lainnya
(misalnya 2A+KCl ataupun RL).
- Pada kasus dengan BAB cair profus yang dengan tetesan 2,5 x kgBB masih terjadi dehidrasi, maka
dilakukan rehidrasi ulangan. Pada kolera: BAB cair profus hanya terjadi dalam 12 jam pertama
selanjutnya 6 jam kemudian berkurang, dan hilang dalam rerata 3 hari.
4. Jika cairan maintenance dapat diberikan peroral, dan cairan penganti muntah atau BAB tidak dapat
diberikan peroral maka : (jika sekali muntah/BAB kehilangan cairan 10 ml/kgBB   maka tetesannya
adalah setiap muntah/BAB tetesan bertambah 1 tetes/kgBB/menit)
- Pada kasus muntah : pH rendah/asam berikan KAEN 1B + KCl, pH tinggi/bercampur empedu: KAEN 3A
- Pada kasus diare: berikan KAEN 3A

PENCAMPURAN CAIRAN
Rumus-Rumus:
VtNt = V1N1 + V2N2 + VnNn
Jika untuk mengencerkan cairan maka berlaku rumus
VtNt = V1N1 atau V1N1 = V2N2`
Larutan 4:1  D5% 400 ml + NaCl 0,9% 100 ml . Didapat :
- Ideal : D5% 500 ml, dikeluarkan 100 ml  kemudian dimasukan larutan NaCl 0,9% 100 ml
- Atau : D 5% 500 ml, ditambahkan NaCl 15% 6 ml. Didapat dari : NaCl 0,9% 100 ml terdapat NaCl
sebanyak 0,9 gram  jadi harus memasukkan 0,9 gram NaCl yang berasal dari NaCl 15%. Tiap 1 ml
NaCl 15% mengandung 0,15 gram, jadi jika diperlukan 0,9 gram maka diperlukan 0,9 gr : 0,15 gr x
1 ml = 6 ml.
- Atau pakai rumus V1N1 = V2N2. V1 = jumlah cairan awal = yang dicari, N1 = Osmolaritas cairan
awal = 15%, V2= Jumlah cairan akhir yang diperlukan = 100 ml, dan N 2 = osmolaritas cairan akhir
= 0,9%  maka V1 = 6 ml
Larutan D5% 500ml akan dijadikan D7,5%.  Didapat dari :
- Idealnya : memasukkan dektrose sebanyak 2,5% x 500ml = 12,5 gram dektrose.
- Preparat yang tersedia adalah dektrose 40%. 1 ml dektrose 40% mengandung 0,4 gram dektrose.
Maka untuk mengasilkan 12,5 gram dektrose maka diperlukan dektrose 40% sebanyak 12,5 gr : 0,4
gram x 1 ml = 31,25 ml.
- Atau pakai rumus V1N1 = V2N2. V1 = jumlah cairan awal = yang dicari, N1 = Osmolaritas cairan
awal = 40%, V2= Jumlah cairan akhir = 500 ml, dan N 2 = osmolaritas cairan akhir = 2,5%  maka
V1 = 31,25 ml
- Tetapi karena cairan yang ditambahkan sudah cukup banyak sehingga kadar akhirnya kurang dari
7,5% (yakni D 7,06%).
- Untuk mendapatkan hasil yang tepat adalah dengan menghitung kosentrasi larutan yakni jumlah
gram total (larutan yang sudah ditambahkan) dibagi jumlah volume total. D5% 500 ml mengandung
25 gram dektrose, jika ditambahkan D40% maka volume bertambah cukup signifikan. Untuk
menjadikan D7,5% maka didapatkan dari [ Jumlah gram dektrose D5% 500 ml (25 gram) + jumlah
gram dektrose dari D40% yang ditambahkan (misalnya x gram) ] dibagi [ jumlah volume dektose
awal (500 ml) + jumlah volume dektrose dari D40% (misalnya y ml)] = 7,5%. Karena didapat dari
Dektrose 40% berarti x = 0,4y. Maka persamaan tersebut diatas menjadi [25 gr + 0,4y] dibagi [500 ml
+ y] = 7,5 dibagi 100.  y = 38,46 ml.

12
- Atau pakai rumus VtNt = V 1N1 + V2N2  (500+V2) 7,5% = 500.5% + V2.40%  3750% + 7,5%
V2 = 2500% + 40% V2  32,5%V2 = 1250%  V2 = 38,46 ml.
Larutan D5% 500ml akan dijadikan D10%.  Didapat dari
- Idealnya : memasukkan dektrose sebanyak 5% x 500ml = 25 gram dektrose.
- Preparat yang tersedia adalah dektrose 40%. 1 ml dektrose 40% mengandung 0,4 gram dektrose.
Maka untuk mengasilkan 25 gram dektrose maka diperlukan dektrose 40% sebanyak 25 gr : 0,4
gram x 1 ml = 62,5 ml.
- Atau pakai rumus V1N1 = V2N2. V1 = jumlah cairan awal = yang dicari, N1 = Osmolaritas cairan
awal = 40%, V2= Jumlah cairan akhir = 500 ml, dan N 2 = osmolaritas cairan akhir = 5%  maka
V1 = 62,5 ml (25gr)
- Tetapi karena cairan yang ditambahkan sudah cukup banyak sehingga kadar akhirnya kurang dari
10% (yakni D 8,9%).
- Untuk mendapatkan hasil yang tepat adalah dengan menghitung kosentrasi larutan yakni jumlah
gram total (larutan yang sudah ditambahkan) dibagi jumlah volume total. D5% 500 ml mengandung
25 gram dektrose. Jika ditambahkan D40% maka volume bertambah cukup signifikan. Untuk
dijadikan D10%, maka didapatkan dari [Jumlah gram dektrose awal (25 gram) + jumlah gram
dektrose dari D40% yang ditambahkan (misalnya x gram) ] dibagi [ jumlah volume dektose awal
(500 ml) + jumlah volume dektrose dari D40% (misalnya y ml) ] = 10%. Karena didapat dari
Dektrose 40% berarti x = 0,4y. Maka persamaan tersebut diatas menjadi [25 gr + 0,4y] dibagi [500
ml + y] = 10 dibagi 100.  y = 83,33 ml.
- Atau pakai rumus VtNt = V1N1 + V2N2  (500+V2) 10% = 500.5% + V2.40%  V2 = 83,33 ml.
Larutan Lainnya :
- RL + D5% dengan cara: RL ditambahkan D40% 38,46 ml  osmolaritas menjadi  551-558 Meq
- D10% 500 ml + NaCl 0,9% 100 ml  D 8,3% 5:1
- D10% 4:1 =
1) D10% 500 ml + NaCl 15 % 6 ml
2) D10% 458 ml + D40% 42 ml + NaCl 0,9% 125 ml hasil campuran menjadi D10% 4:1.
3) D10% 500 ml + NaCl 0,9% 125 ml, hasil campuran menjadi D8% 4:1

PENULISAN RESEP SEDERHANA


Prinsip dasar
1. Prinsip dasar ”Anak bukanlah miniature orang dewasa” dapat diterapkan pada kebutuhan cairan, tetapi
pada dosis obat tidak.
2. Untuk mengetahui jumlah dan frekuensi pemberian obat pada anak dapat dipakai patokan jumlah
dan frekuensi pemberian obat pada orang dewasa
3. Kebanyakan dosis obat untuk anak adalah jumlah gram obat per 1 kgBB merupakan 1/30, 1/40, 1/50,
dan 1/60 jumlah gram orang dewasa.
4. Kebanyakan dosis obat simptomatik  pada anak mengikuti aturan: jumlah gram obat per kgBB
merupakan 1/40  jumlah gram orang dewasa. Misalnya: Parasetamol pada orang dewasa adalah 3
sampai 5 kali sehari (minimal interval waktunya 4 jam) 500 mg perkali, maka pada anak dengan berat
badan 10 kg adalah 3 sampai 5 kali sehari 125 mg perkali ( didapat dari 10/40 x 500 mg ).
5. Obat antimikroba  juga dapat dipakai angka 1/40. Tetapi mengingat antimikroba mempunyai beberapa
mekanisme kerja yang berlainan (misalnya: berdasarkan dosis maksimum, batas hambat minimal,
ataupun dosis maksimal waktu kontak dengan mikroorganisme) maka kaidah jumlah gram obat per
kgBB merupakan 1/30 jumlah gram orang dewasa lebih aman dipakai.
6. Hal yang perlu diperhatikan/diingat:
- Dosis anak tidak pernah melebihi dosis orang dewasa.
- Pada overwight, udema: berat badan yang dipakai adalah BB ideal. Pada malnutrisi: BB faktual
- Beberapa obat memiliki kaidah jumlah gram obat per kgBB merupakan 1/60  jumlah gram orang
dewasa, misalnya dektrometorpan, ambroksol, pseudoefedrin (alco/disudrin/tremenza), dan obat-obat
antimalaria.

13
- Beberapa obat yang harus diingat dosisnya adalah efedrin, kodein, extrabeladona dengan dosis
1mg/tahun/kali.
- Beberapa obat simptomatis yang dengan dosis terapi mempunyai efek samping yang lebih besar
dapat dikurangi dosisnya, misalnya CTM. Beberapa obat simptomatis yang diharapkan efek
maksimalnya dapat dinaikkan dosisnya.
- Beberapa obat tidak dapat diberikan pada anak. Misalnya pada anak < 8 tahun tidak boleh diberikan
NSAID (kecuali ibuprofen), ciproflokzazin, dan tetrasiklin. Anak < 2 bulan tidak boleh diberikan
golongan Sulfa (kotrimokzasol, Trisulfa, Sulfadoksin-piremetamin).
- Walaupun hampir seluruh obat tidak mengikuti prinsip dasar ”ANAK BUKANLAH MINIATURE
ORANG DEWASA”, yang dapat diterapkan pada kebutuhan cairan, tetapi pada anak dengan berat
badan diatas 10 kg terutama yang di atas 20 kg, distribusi obat dalam plasma (bukan seluruh badan,
yang diwakili BB) perlu dipertimbangkan (sejajar dengan kebutuhan cairan). MAKIN BERAT
ANAK : JUMLAH. OBAT RELATIF LEBIH KECIL.
Penerapannya:
Pada kebanyakan obat simptomatik berlaku :Kaidah 1/40. Pada anak dengan BB 10 kg  10/40 = ¼ 
4/15. 4/15 untuk 10 kg, berarti setiap kenaikan 1/15 adalah untuk setiap kenaikan 2,5 kg.
Pada kebanyakan obat antimikroba berlaku :Kaidah 1/30. Pada anak dengan BB 10 kg  10/30 = 1/3 =
5/15. 5/15 untuk 10 kg, berarti setiap kenaikan 1/15 adalah untuk setiap kenaikan 2 kg
Beberapa obat berlaku :Kaidah 1/60. Pada anak dengan BB 10 kg  10/60 = 1/6 = 2,5/15. 2,5/15 untuk 10
kg, berarti setiap kenaikan 1/15 adalah untuk setiap kenaikan 4 kg
 Nb: Peresepan diberikan sebanyak 15 bungkus (Mf la pulv dtd no XV) dengan dosis 3 x sehari 1 bungkus (   3 dd
 pulv I), berarti lama pemberian obat diberikan selama 5 hari.
Contoh penulisan resep BB 10 kg: ATAU (dalam per 15) Resep tersebut berarti
Parasetamol 500mg ¼ (dari 10/40) Parasetamol 500mg 4/15 Parasetamol 125 mg
Salbutamol 2 mg ¼ (dari 10/40) Salbutamol 2 mg 4/15 Salbutamol 0,53 mg
Deksametason 0,5 mg ¼ (dari 10/40) Deksametason 0,5 mg 4/15 Deksametason 0,13 mg
Ambroksol 30 mg 1/6 (dari 10/60) Ambroksol 30 mg 2,5/15 Ambroksol 5 mg
Amoksisilin 500 mg 1/3 (dari 10/30) Amoksisilin 500 mg 5/15 Amoksisilin 167 mg
Mf la pulv dtd no XV Mf la pulv dtd no XV Mf la pulv dtd no XV
 3 dd pulv I  3 dd pulv I  3 dd pulv I
 Arti Parasetamol 500mg 4/15: parasetamol 500mg merupakan dosis dewasa, dosis anak 10 kg adalah
4/15x500= 125 mg.Untuk anak dengan BB 10 kg, CTM dapat diberikan juga 4/15 (masih dalam batas
range dosis), tetapi karena pada dosis tersebut banyak efek samping yang muncul tidak diharapkan,
maka jika CTM ingin dipakai dosisnya dikurangi atau tidak dipakai sama sekali.
15 kg  Parasetamol 500mg 6/15
Salbutamol 2 mg 6/15
CTM 4 mg 4/15  dosis dikurangi untuk meminimalkan efek samping
Ambroksol 30 mg 4/15
Amoksisilin 500 mg 8/15
Mf la pulv dtd no XV
 3 dd pulv I
15 kg  Klorokuin tablet 250 mg, hari pertama 1 tablet, hari kedua 1 tablet, hari ketiga ½ tablet
Sulfadoksin Pirimetamin 3/4 tablet sekaligus
Contoh lain, anak dengan berat badan 8 kg
Parasetamol 500mg 1/5 (dari 8/40) Parasetamol 500mg 3/15
 Nb: untuk obat-obat
Salbutamol 2 mg 1/5 (dari 8/40) Salbutamol 2 mg 3/15
simptomatik, dosisnya
Ambroksol 30 mg 2/15 (dari 8/60) Ambroksol 30 mg 2/15
dapat sedikit diturunkan
Amoksisilin 500 mg ¼ (dari 8/30) Amoksisilin 500 mg 4/15 atau dinaikkan sesuai
Mf la pulv dtd no XV Mf la pulv dtd no XV gejala klinis
 3 dd pulv I 3 dd ulv I

14
Contoh anak dengan BB 30 kg BB. Penurunan dosis berdasarkan pengalaman dokter
Parasetamol 500mg 3/4 (dari 30/40)  2/3
Salbutamol 2 mg 3/4 (dari 30/40)  ½-2/3 Parasetamol 500mg 12/15  10/15
Ambroksol 30 mg 1/2 (dari 30/60)  2/5 – 1/2 Salbutamol 2 mg 12/15   8-10/15
Amoksisilin 500 mg 1 (dari 30/30)  2/3 – 4/5 Ambroksol 30 mg 7,5/15  6-7,5/15
Mf la pulv dtd no XV Amoksisilin 500 mg 15/15  10-12/15
 3 dd pulv I Mf la pulv dtd no XV
3 dd ulv I
TABEL 11. HUBUNGAN BERAT BADAN DENGAN DOSIS OBAT
BB 1/30 1/40 Adaptasi 1/60 Adaptasi
Contoh obat Antibiotika Simptomatik ambroksol
2 kg   1/15
2,5 kg   1/15
4 kg   1/15
5 kg 2,5/15 5/40 = 1/8 = 2/15 1/15
7,5 kg 4/15 7,5/40 = 3/15 2/15
10 kg 5/15 10/40 = ¼ = 4/15 2,5/15
12,5 kg 6/15 12,5/40 =1/3= 5/15 3/15
15 kg 8/15 15/40 =3/8= 6/15 4/15
17,5 kg 9/15 17,5/40 = 7/15 4,5/15
20 kg 10/15 20/40 =1/3= 8/15 5/15
25 kg 13/15 25/40=5/8= 10/158-9/15 6/15 5-6/15
30 kg 15/15 30/40=¾= 12/15 10-11/15 7,5/15 6-7,5/15
40 kg 20/15 40/40=1 = 16/15 10/15
Nb:
- Spiramisin dosisnya adalah 50-100 mg/kgBB/hari, kaidah 1/30 (dari 500 mg) 3 kali sehari berarti
memakai dosis 50 mg/kgBB/hari. Dosis dewasanya adalah 3 x 500 mg.
- Cefiksim dosisnya adalah 5-10 mg/kgBB/hari, kaidah 1/30 (dari 100mg) 3 kali sehari berarti memakai
dosis 10 mg/kgBB/hari. Dosis dewasanya adalah 2 x 50 sampai 100 mg.
- Aminofilin dosisnya adalah 3-6 mg/kgBB/kali 3 x sehari, kaidah 1/40 (dari 200 mg) 3 kali sehari berarti
memakai dosis 5,3 mg/kgBB/kali. Hati-hati pemakaian aminofilin, mengingat range dosis
toksik/letalnya sangat sempit (± 2 kali dosis terapi) dan pemakaian dengan salbutamol mempunyai efek
senergis. Jadi sebaiknya dosis Aminofilin diturunkan.
- Kebanyakan sedian obat lainnya yang meliputi nama dagang, gabungan beberapa macam obat, obat
injeksi juga berlaku kaidah-kaidah di atas, terutama kaidah 1/40. Contoh: Kaidah 1/40: Isoprinosine tab
500 mg, paratusin tab, disudrin tab, omeperazole tab, furosemid tab 40 mg, propanolol tab 40 mg, dll.
- Jika ingin dimasukan dalan sirup, patokan di atas tetap dapat dipakai dengan menghilangkan /15 dan
ditambahkan sirup ad 75 ml. Pemberian racikan obat ke dalam sirup harus mengikuti kaidah-kaidah
farmasi, diantaranya campuran tersebut harus homogen.
Contoh: BB 10 kg  Atau
Parasetamol 500mg 4 tab Parasetamol 500mg 3 tab
Salbutamol 2 mg 4 tab Salbutamol 2 mg 3 tab
Deksametason 0,5 mg 4 tab Deksametason 0,5 mg 3 tab
Ambroksol 30 mg 2,5 tab Ambroksol 30 mg 2 tab
Sirup ad 75 ml Sirup ad 60 ml
 3 dd cth I  3 dd cth I

15
HIPONATREMIA
Kadar Na <130 mEq/L atau <135 mEq/L
Sangat ringan 120-130 mEq/L: gejala klinik tidak ada,
ringan 105-120 mEq/L : Haus, mukosa kering,
sedang 90-104 mEq/L : sakit kepala, mual, vertigo, tacikardi, dan hipotensi.
sangat berat < 90 mEq/L : Apatis, koma, dan hipotermi
Penyebab :
- Ginjal: diuretic, salt losing nephritis, RTA
-  Non Ginjal: muntah/diare,kelebihan keringat, pankreatitis akut, SIADH, intake air berlebih
-  Hiponatremia isovolemia: intoksikasi air, polidipsi psikogenik, SIADH, hipotiroidsm, gagal ginjal.
-  Hiponatremia hipovolemia: diuretika, muntah, diare, tachypnue, keringat banyak.
Dosis yang digunakan :
Kekurangan Na = 0,6 x (N-n) x BB (kg)
Dengan N= kadar Na yang diinginkan
n = kadar Na sekarang
Jika terapi perlu waktu 12-36 jam ditambahkan kebutuhan Na
 Nb: untuk dipertimbangkan bahwa 0,6 merupakan komposisi cairan total tubuh, sementara Natrium
merupakan komponen utama hanya dalam cairan ektraseluler (0,3). Angka 0,6 dipakai karena selain
untuk mengganti kekurangan Na cairan ektraseluler, juga ditujukan untuk ekspansi cairan ektraseluler
dan mengganti kehilangan Na pada tempat penimbunannya (misalnya kortek tulang)
Catatan:
1. Lama pemberian  :
- Simptomatik, diberikan dalam 2 – 3 jam.
- Asimptomatik, diberikan 12-36 jam  ditambahkan kebutuhan Na perhari (3-4 mEq/L).
2. Jenis cairan :
- Pada kasus ringan dapat dipakai cairan rumatan ditambah NaCl 15%, jika tidak tersedia dapat
dipakai NaCl 0,9% (mengandung Na 154 mEq/L). Juga dapat dipakai cairan 2A (mengandung Na
77 mEq/L).
- Pada kasus sedang – berat: dipakai NaCl 3% (mengandung Na 513 mEq/L, dengan osmolaritas
1026). Pada kasus hiponatremia hipervolemik dengan intoksikasi air/odematous diberikan NaCl
3% dan obat-obatan (diuretika, declomycin). Kecepatan NaCl 3% 1 sampai 12 ml/kgBB/menit.
3. Penatalaksanaan
- Dalam diagnosis dan terapi: pertimbangkan keadaan volume cairan tubuh (hipovolemik,
normovolemik, atau hipervolemik/odematous)
- Pada kasus diare yang menimbulkan dehidrasi ( hiponatremia hipovolemik) terapi sesuai SP
diare, yakni memakai RL (mengandung Na 130 mEq/L) atau NaCl 0,9% (mengandung Na 154
mEq/l)
- Pada kasus hiponatremia normovolemia dipakai cairan rumatan ditambah NaCl 15%, jika tidak
tersedia dapat dipakai NaCl 3%ml, NaCl 0,9% atau cairan 2A .
- Koreksi cepat dan praktis dapat dipakai NaCl 3% dalam 2 jam. Jumlahnya adalah 2 x 0,6 x (135
mEq/l [130 mEq/l]– kadar Na penderita).
- Pada kasus hiponatremia hipervolemia, kebutuhan cairan berdasarkan :
Kebutuhan air = kebutuhan air normal – kelebihan air.
Jenis cairan: NaCl 3%.
Serum Na
Kelebihan air (liter) = 0,6 x BB x 1- 140
Obat-obatan:
1. Na 125 mEq/l: pacu diuresis dengan diuretika
2. Na 120-125 mEq/l: batasi air
3. Kurangi pelepasan ADH dengan Lithium karbonat, demeclocycline

16
- Kada kasus yang berat merupakan keadaan gawat darurat, karena jika berlangsung lama
menimbulkan kerusakan serebral yang irreversibel  PICU.
SP PICU:
Hiponatremia akut (<72 jam) dapat dikoreksi lebih cepat dengan target meningkatkan Na 1-2
mEq/l/jam sampai simptom mereda. Diberikan NaCl 0,9% atau 3%
Hiponatremia kronis yang berat (<115 mEq/l) dikoreksi lebih lambat dengan target <0,5
mEq/l/jam dan < 12 mEq/l/hari.
Obat yang digunakan: Furosemid (1-2 mg/kgBB), Declomysin (mempengaruhi ADH, dosis 300-
600mg peroral).
 Hati-hati dengan pemakaian furosemide karena obat ini bekerja dengan cara menghambat
absorpsi / meningkatkan sekresi Na,K, dan Cl di tubulus distal

Hubungan antara dosis permenit, BB, kecepatan tetesan cairan, dan jumlah yang digunakan:
6 X BB (kg) x dosis (microgram/menit)
= Jumlah yang diberikan (mg/100 ml)
Kecepatan (ml/ am)
BB (kg) x dosis ( mEq/l/kg/jam)
= Jumlah yang diberikan (mEg/l/kgBB) untuk setiap 1 ml
Kecepatan (ml/jam)

Contoh soal:
Anak 20 kg, dengan kadar Na 110 mEq/l. Bagaimana koreksi hiponatremia anak tersebut, jika:
1. Mengalami diare akut dengan derajat dehidrasi ringan-sedang (hipovolemia)
2. normovolemia asimptomatik
3. normovolemia simptomatik
4. Hiponatremia hipervolemik
Jawab:
Defisit Natrium = 0,6 x 20 x (140 mEq/l – 110 mEq/l) = 360 mEq
Maintenance Natrium 3-4 mEq/kgBB x 20 kg = 60 – 80 mEq / 24 jam  2,5 -3,3 mEq/jam
1. Pada kasus diare akut seharusnya kadar Na diperiksa setelah rehidrasi. PWL 75 ml/kgBB dalam
4jam, diganti dengan RL 75 ml/kgBB x 20 kg = 1500 ml/ dalam 4 jam. Setelah 4 jam Natrium
yang telah digunakan adalah 1500 : 1000 x 130 = 195 mEq. Dikontrol ulang kadar Natrium darah,
terapi disesuaikan dengan hasil kadar Natrium yang baru. Jika yang terjadi dehidrasi isotonik
maka sebagai perkiraan dapat diberikan Natrium sebanyak 360 – 195 + 60 = 230 mEq. Jumlah
cairan yang digunakan 1500 ml yang ditambahkan 90 ml NaCl 15% atau 30 ml NaCl 15%
setiap 500 ml. Atau memakai NaCl 0,9% (154 mEq/l atau 77 mEq/kolf) sebanyak (230 : 77) 3
kolf atau 1500 ml.
PADA KASUS DEHIDRASI, KADAR NATRIUM SEHARUSNYA DIPERIKSA
SETELAH REHIDRASI.
2. Jumlah Na yang akan dimasukkan 360 mEq + maintenance Na 60 mEq/hari, yang dapat
diberikan dalam 12 – 36 jam. Karena Na yang diberikan cukup banyak, maka dapat diberikan
dalam kira-kira 36 jam, yakni 2250 ml  dibulatkan 2500 ml D5%. Dapat diberikan D5%
500 ml + NaCl 15% [(360 + 1,5 x 60) : 2,55 : 5] 35 ml. Atau memakai NaCl 0,9% sebanyak
2338 ml (360:154x1000 ml) ditambah maintenance Na 93,5 mEq (2338 : 1500 x 60) yang
terdapat pada 620 ml NaCl 0,9%, dengan total NaCl yang digunakan menjadi 2958 ml (2338 + 620).
3. Target NaCl 3% yang digunakan sebanyak 702 ml (360 : 513 x 1000 ml), tetapi tidak dipakai
seluruhnya hanya digunakan sampai symptom mereda. Setelah symptom mereda selanjutnya
diterapi sesuai hiponatremia asimptomatik. Atau secara praktisnya memakai NaCl 3%
sebanyak 720 ml (2 x 360 mEq)
4. Dari rumus didapatkan kelebihan cairan 2571 ml (0,6 x 20 x 30 : 140), yang berarti sudah
melebihi kebutuhan cairan 1500 ml. Maka diberikan obat-obatan.
PADA KASUS KOREKSI NATRIUM, KADAR NATRIUM SEHARUSNYA DIPERIKSA
MINIMAL PERHARI

17
Pada ketiga jenis cairan tersebut diatas kecepatan peningkatan kadar Na, tidak melebihi dari
target. Perinciannya adalah sebagai berikut:
1. D5% 500 ml + NaCl 15% 35 ml, gtt 15/menit (60 ml/jam)
BB (kg) x dosis ( mEq/l/kg/jam)
= Jumlah yang diberikan (mEg/l) untuk setiap 1 ml
Kecepatan (ml/jam)
60 x 35 x 2,55
= dosis (mEq/l/kg/jam) = 0,54 mEq/l/kg/jam
20 x 500
2. NaCl 0,9%
60 x 77
= dosis (mEq/l/kg/jam) = 0,46 mEq/l/kg/jam
20 x 500
3. NaCl 3%
60 x 256,5
= dosis (mEq/l/kg/jam) = 1,54 mEq/l/kg/jam
20 x 500

HIPERNATREMIA
Kadar Na >145 mEq/l atau >150 mEq/L.
Proporsi Na lebih besar dan proporsi air lebih sedikit (penting untuk terapi, karena pada kasus tidak ada
insufisiensi ginjal, penatalaksanaannya : menambah cairan)
Gejala
Na >160 mEq/L: iritabel, depresi sensorium, letargi, dan kejang (Na >165 mEq/L)
Na >180 mEq/L: Bingung, koma, perdarahan intrakranial (pada anak), meninggal
Penyebab: intake air kurang, intake garam berlebihan, diare, keringat berlebih, tachypnue, pemberian
oksigen tanpa pelembab, DM: ketoasidosis diabetika, terjadi diuresis osmotic dengan
osmolalitas 300mOsm/l, DI: pengeluaran air > Na, osmolalitas urine <150 mOsm/l.
Terapi mengunakan cairan 2A dengan jumlah cairan memakai rumus

Defisit cairan (liter) = 0,6 x BB x Serum


- 1 Na - 1
140
Diberikan selama 2 hari (48 jam) dengan ditambah kebutuhan cairan sesuai berat badan
 Nb: 0,6 merupakan komposisi cairan total tubuh pada orang dewasa, untuk anak   2 tahun memakai
0,65, neonatus 0,75, lihat di halaman 2. Terapi diberikan 2 hari, agar tidak terjadi udem otak.
Pada dehidrasi hipertonik memakai cairan RL dan DG atau D5% 10:4:7 atau KAEN 3A. Pada dehidrasi
(hipertonik) berat, target cairan 250 ml/kgBB/hari dengan pemberian sebagai berikut:
Tabel 10. Jumlah dan Jenis Cairan yang Diberikan pada Diare Hipertonik Derajat Dehidrasi Berat
Jenis cairan
Jumlah Jumlah Ca
Waktu Yang diberikan sesuai
Cairan Tetesan Glukonas
 jam ke- Frekuensi nadi
Ml/kgBB tts/kgBB/men 10%
120 120-140 140-160 >160 Filiformis
60 1 3¾ DG RL RL RL RL 5-10 ml
2 3¾ DG DG RL RL RL
3 3¾ DG DG DG RL RL
4 3¾ DG DG DG DG RL
190 5-24 2 3/8 DG DG DG DG DG Jam ke9: 5-10ml
Jam ke17: 5-10ml

Selama rehidrasi hipernatremia dapat terjadi hipocalsemia, yang dapat dicegah dengan pemberian Ca
atau K yang cukup.

18
 Hipernatremia yang terjadi selama fungsi ginjal normal merupakan keadaan hipovolemia (lihat skema
 pada halaman 2). Hipernatremia yang disertai gagal ginjal perlu penatalaksanaan khusus   SP Ginjal.
Jika hipernatremia symptomatic  PICU:
SP PICU :
• Hipernatremia akut (terjadi <48 jam) dapat dikoreksi secara cepat 1-2 mEq/jam
• Hati-hati menggunakan cairan jika terdapat hiperglikemia (DM). Penggunaan insulin membantu koreksi.
• Obat-obat yang meningkatkan ekresi Na: HCT (2-3 mg/kgBB/hari, dosis terbagi), desmopresin (3 bln-
12 tahun: 5 – 30 mcg/hari, intranasal)
Darlan Darwis:
- Pengobatan hipernatremia hipervolemik: obati penyakit utama, tingkatkan pengeluaran Na dengan
diuretika furosemid dan pengantian air dengan dektrose 5%.
- Pada DI tipe sentral (CDI), efektif diterapi dengan vasopressin (menyebabkan osmolalitas urine
meningkat). Berlainan dengan DI nefrogenik (NDI), tidak berespon terhadap vasopressin. Terapi
lainnya dari CDI: ADH, vasopressin, lysine vasopressin, demospressin.
Contoh Soal
Anak dengan BB 20 kg, dengan kadar Na 160 mEq/L, bagaimana koreksinya ?
Jawab :
Tentukan fungsi ginjal, jika normal maka diterapi sebagai berikut:
Kekurangan cairan (liter) = 0,6 x 20 x [(160:140)-1] = 1,714 liter = 1.714 ml
Maintenance cairan untuk 2 hari = 2 x 1500 ml = 3000 ml
Jumlah cairan yang digunakan dalam 2 hari = 3000 + 1714 = 4714 ml
Jadi koreksinya memakai larutan 2A dengan jumlah 2357 ml perhari selama 2 hari
 Nb: penurunan Na dilakukan secara perlahan 0,5-1 mEq/l/jam.

HIPOKALEMIA
(sebagian tulisan diambil dari kuliah Dr Akhirul Bakri SpAK)
Kadar K serum < 3,5 mEq/L
Kejadian hipokalemia lebih sering dari pada hiperkalemia.
Gambaran EKG : gelombang T merendah, gelombang U, interval PR memanjang,
Pada hipokalemia yang berat depresi segmen ST dengan gelombang T datar dan
gelombang U.
Penyebab :
- Depresi Kalium (diet rendah K, laksansia, diuretika, muntah, diare, poliuria, keringat berlebih)
- Masuk ke dalam intra sel misalnya pada alkalosis dimana pada pH > 7,4 setiap kenaikan pH 0,1 (di atas
pH 7,4) maka terjadi penurunan nilai K 0,6 Meq (masuk intrasel). Keadaan ini juga terjadi pada terapi
ketosidosis dengan insulin.
Penurunan Kalium (depresi kalium) dibagi menjadi :
- Ringan, biasanya dapat ditoleransi oleh tubuh sehingga asmptomatik.
- Sedang
- Berat
Gejala klinis, biasanya dihubungkan dengan fungsi neuromuskuler: letargi, parestesi tungkai, nyeri otot,
fatiq, ileus paralitik, meteorismus, mual, anokreksia, dan nafas dangkal.
Kekurangan Kalium sulit dinilai karena Kalium cairan ektraseluler tidak mencerminkan Kalium
keseluruhan. Sebagai patokan :
- Setiap pemberian Kalium yang menyebabkan kenaikan 1 Meq/liter maka akan menambah 10-30%
 jumlah total Kalium tubuh
- Jumlah Kalium tubuh adalah 50 mmol/kgBB (lean body mass)
- Maka setiap usaha untuk menaikkan 1 Meq K ektraseluler diperlukan 5 – 15 mmol/kgBB (tiap
kenaikan 1 Meq  10-30% x 50 mmol/kgBB)

19
- Rumus :  mEq yang diperlukan = (kadar K yang diingini – kadar K sekarang) x (5 sampai 15 mEq)
 x BB (kg)
- Pada yang sedang - berat dibuat sedian yang mengandung 20 mEq KCl dalam 100ml NaCl fisiologis
 yang diberikan selama 1 jam. Pada yang berat (misalnya kadar K < 1,5 mEq/Lt, jika diperlukan
kecepatan > 20 mEq/jam (dapat maksimal sampai 40mEq/jam) tidak boleh memakai vena sentral
karena resiko adanya hiperkalemia pada jantung kanan, pada keadaan ini dapat diberikan pada 2
 jalur vena perifer.
Pada keadaan sangat berat (PICU)
Dapat diberikan dengan cepat dengan monitor tanda vital (EKG) di PICU
Cara:
Hitung jumlah kekurangan dengan rumus
K (Meq) yang dibutuhkan = Kekurangan K (Meq/L) x BB (kg) x 0,3
Diberikan dengan kecepatan maksimal/tidak boleh melebihi 0,3 sampai 1 Meq/kgBB/jam. 
Dilakukan pemantauan ketat kadar K plasma. Koreksi dilakukan sampai symptom mereda/ tidak
sampai kadar K normal
-  Jika hipokalemia refrakter setelah diberikan terapi, lakukan pemeriksaan kadar magnesium.
Penurunan kadar magnesium menyebabkan kehilangan Kalium di urin.
-  Batas IVFD Kalium: kosentrasi    40 mEq/L, kecepatan    10 mEq/jam, jumlah < 100 mEq/hari
(3mEq/kgBB/24 jam), urin > 0,5 ml/kgBB/jam.  
  pantau ketat EKG dan periksa kadar K serum.
Pemberian IVFD dengan kosentrasi 40 mEq/L pada anak dengan berat badan di bawah 10 kg,
dengan kebutuhan cairan maintenance akan memberikan jumlah K sebesar 4 mEq/kgBB/24 jam, jadi
harus hati-hati.
Cara pemberian :
- Ringan : diberikan peroral. Dosis 1-4 mEq/kgBB/hari. Pemberian preparat oral mempertimbangan
asupan kalium dari makanan sehari-hari. Jika asupan kalium cukup, untuk koreksi dapat diberikan
kalium 1-2 mEq/kgBB/hari (75-150 mg/kgBB/hari, karena 1 mEq KCl mengandung 74,8 mg) dalam
dosis terbagi Diberikan selama 3 sampai 5 hari.
- Sedang : diberikan IV pelan (tidak boleh melebihi 40 Meq/L)  maksimal 20 ml KCl 7,46% dalam 1
kolf . Kecepatan maksimal 0,125 mEq/kgBB/jam.
- Berat (dengan tanda-tanda kelainan jantung, aritmia yang serius, asending paralise) : diberikan perjam
0,3 – 1,0 Meq/KgBB/jam.  PICU
Cara lainnya yakni dengan koreksi buta, dengan rumus:
Jumlah mEq yang dibutuhkan perhari = 3 sampai 4 mEq x berat badan (kg)
 Nb: dilakukan pemantauan K setiap harinya dan diberikan sampai K mencapai nilai normal. Koreksi
dapat diberikan sampai 3 – 5 hari atau [(1,25-5,0) x deficit K] hari.
Contoh soal:
Seorang penderita dengan BB 23 kg dengan kadar kalium serum 2 mmol/l. Penderita tidak menunjukkan
tanda dan gejala klinis penurunan kalium darah. Berapa kalium yang diperlukan untuk mengatasinya ?
Jawab:
Cara pertama :
Kekurangan Kalium penderita adalah 3,5 mmol/L - 2 mmol/L = 1,5 mmol/L (Meq)
Jadi perkiraan penurunan kalium tubuh total adalah 1,5 Meq x 10% sampai 30%  15% sampai 45%
Kalium tubuh. Jika dipakai perkiraan minimal (15%) maka dibutuhkan sebanyak 15% x 50
mmol/kgBB x 23 kg = 172,5 Meq Kalium. Maksimal 45%  517,5 Meq.
Atau K (Meq) yang diperlukan = (3,5 – 2,0) x (5 sampai 15) x 23 = 172,5 sampai 517,5 Meq.
Jika tidak ada gejala-gejala akut sebaiknya diberikan 2 hari, karena kalium perlu waktu yang lama
untuk masuk intra selluler (walaupun membran sel permeable terhadap ion kalium) untuk menghindari
perubahan membran potensial yang mendadak yang menyebabkan gangguan hantaran sehingga dapat
menyebabkan Cardiac Arest.

20
Kebutuhan cairan selama 2 hari 3080 ml ( 2 x 1540 ml). Perkolf (500ml) diberikan K sebanyak 28
mEq. Tetapi karena kadar K maksimalnya 20mEq/kolf, maka hanya diberikan 20 mEq/kolf. Jadi
koreksi dapat dicapai selama 2 hari 19 jam.
Cara kedua (koreksi buta) :
K (Meq) yang diperlukan = 69 -92 mEq/hari (3 sampai 4 Meq x 23 kg) dalam 1540 ml. sehingga
didapatkan 22 – 30 mEq/kolf. Karena kadar K maksimalnya 20mEq/kolf, maka hanya diberikan 20
mEq/kolf. Diperlukan beberapa hari untuk mencapai kadar K ektrasel normal. Sehingga cara koreksi
mirip dengan cara di atas.
Catatan :
- Salah satu cara untuk mengatasi hipokalemia adalah dengan pemberian kalium koreksi buta yakni 3
sampai 4 Meq / kgBB yang umumnya dilakukan dalam 24 jam setelahnya dilakukan pengukuran
kadar kalium, jika masih hipokalemia maka dilakukan koreksi dengan cara yang sama  3 sampai 4
Meg x kgBB. Koreksi dapat diberikan hingga 3 sampai 5 hari.
- Koreksi yang sangat mudah adalah dengan memberikan KCl sebanyak 20 mEq/l per kolf (500ml)
tanpa memandang umur dan berat (koreksi buta-butaan)
- Dengan cara tersebut di atas (dr Akhirul B SpAK) maka didapatkan koreksi kalium adalah 5 sampai
15 Meq/kgBB x defisit Kalium x kgBB.
- Hasil perpaduan rumus di atas dapat memperkirakan lama pemberian koreksi hipokalemia dengan
cara koreksi buta, yakni :
(5 sampai 15 mEq) x defisit K (mEq) x BB (kg)
Lama koreksi (hari) =
(3 sampai 4 mEq) x BB (kg)
Lama koreksi minimal (hari) = 5 : 4 x defisit K = 1,25 x defisit K
Lama koreksi maksimal (hari) = 15 ; 3 x defisit K = 5 x defisit K
Jadi lama koreksi hipokalemi dengan cara koreksi buta (hari) = 1,25 sampai 5 x defisit K
- Preparat Kalium yang tersedia adalah KCL 7,46% (1 ml mengandung 1 meq) dan KCl 10% (1 ml
mengandung 1,333 meq)

HIPERKALEMIA
Kadar K serum > 5,0 mEq/l
- Pada kadar > 5,5 mEq/L serius, > 6 mEq/l darurat medik, dan > 7 mEq/l mengancam kehidupan
- Jarang disebabkan karena asupan yang berlebihan (baik peroral maupun parenteral)
- Dapat disebabkan K keluar dari dalam sel (misalnya: trauma, luka baker, hemolisis, lisis sel tumor,
nekrosis, dan lain-lain)
- Pada sampel darah dalam tabung dengan leukositosis (>50.000/mm 3) dan trombositosis > 1 juta/mm 3)
dapat terjadi pseudohiperkalemia.
- Asidosis menyebabkan hiperkalemia karena adanya pelepasan oleh sel dan pengurangan ekresi K di
urin. Pada Asidosis, hiperkalemia dapat diatasi dengan mengatasi asidosis.
- Myonekrosis, dan latian yang berat dapat menyebabkan hiperkalemia, tetapi akan cepat dikembalikan
ke batas normal dengan waktu paruh 25 detik.
- Obat-obat dapat menyebabkan hiperkalemia, contohnya ACE inhibitors (captopril), beta bloker,
cyclosporin, digitalis, diuretik (K-sparing), heparin, NSAIDS, pentamidine, potasium penisillin,
THAM, kotrimoksazol, dan succinylcholine.
- Insufisiensi/gagal ginjal (penyebab tersering) , insufisiensi adrenal, transfusi yang masif
menyebabkan hiperkalemia
- Gejala klinis: sering tidak jelas: ileus, parestesi, kelemahan otot, capek, dan mual.
- Pada EKG : Awalnya gelombang T runcing (tinggi dan tajam) dan simetris (terutama pada V2 dan
V3), penurunan amplitudo gelombang P, perpanjangan interval PR, gelombang P menghilang, durasi
QRS memanjang, bradikardi, fibrilasi ventrikel, dan terakhir ventikuler asistol.
Terapi :
EKG untuk memantau pengobatan, obati etiologi, dan hentikan intake kalium.

21
1. Kondisi: Kadar plasma 5-6,5 mEq/L  Diuretika, Natrium Bicarbonat 4,8% 1-3 ml/kgBB selama 5-
20 menit, Calsium glukonas 10% 0,2-0,5 ml/kgBB selama 2-10 menit (hentikan jika ada bradikardi,
melawan efek K terhadap otot jantung dan menurunkan fibrilasi ventrikel), Kayekselate 0,2 gr/kgBB
dicampur dengan air/sirup 3-4 ml/gram kayeksalate (dosis rectal: 1g/kgBB), Glukosa-Insulin.
Glukosa 3 gram/ 1 Unit insulin (oral/IV), insulin 0,25 U/kgBB SC atau 0,1 U/kgBB IV.  Nb: saat
 pemakaian diuretika dapat diberikan cairan yang berlebih.
2. Kondisi: terdapat perubahan EKG atau kadar K serum > 7 mEq/L  Calsium glukonas 10%: 10 mL
IV dalam 3 menit, dapat diulang dalam 5 menit. Ulangan ketiga tidak diperlukan kalau sebelumnya
tidak responsif. Respon hanya berlangsung dalam 20 – 30 menit. Tidak dibenarkan memberikan
bikarbonat setelah Calsium. Nb: Dosis Ca Glukonas 10% 1-2 ml/kgBB yang dapat diberikan selama
10 menit
3. Kondisi: perubahan EKG dan sirkulasi dapat mengatasinya  Calsium klorida 10% 10ml dalam 3
menit (CaCl2 mengandung Ca 3x > Ca glukonas). Calsium secara langsung melawan aksi membran
dari Kalium
4. AV blok yang refrakter terhadap terapi Ca  1. 10 U Reguler Insulin dalam 500 ml dektrose 20%
IVFD selama 1 jam 2. Transvenous pacemaker. Insulin dan dektrose menurunkan kadar K sebesar 1
mEq/L selama 1 sampai 2 jam. Insulin dan dektrose memiliki efek sementara dengan cara
meningkatkan pemasukan ion K ke sel-sel otot. Natrium bikarbonat juga dapat meningkatkan
pemasukan ion K ke dalam sel terutama pada keadaan asidosis. Bikarbonat dapat mengikat Ca karena
itu tidak dapat diberikan setelah terapi Ca. Bikarbonat hanya sedikit menurunkan kadar K. Setelah
pemberian insulin- dektrose dapat diberikan forosemid.
5. Kondisi: toksisitas digitalis  Magnesium sulfat 2g IV bollus dan jika diperlukan antibodi spesifik
digitalis. Hati-hati menggunakan Ca pada kondisi ini, karena akan menambah toksisitas pada jantung
dari digitalis. Jika hiperkalemia bukan karena manifestasi tosisitas digitalis, IVFD Ca glukonas dapat
diberikan dalam 100 ml garam fisiologis selama 20 – 30 menit.
6. Kondisi: setelah fase akut atau tidak ada perubahan EKG  kayexalate: dosis oral 30 g dalam 50 ml
sarbitol 20% atau dosis rectal 50 g dalam 200 ml sarbitol 20%. Kayexalate merupakan cation
exchange resin yang menyebabkan peningkatan klerence K melewati mukosa GIT (gastrointestinal
dialisis). Setiap 1 mEq K keluar terjadi penambahan Na 2-3 mEq, karena itu furosemid selayaknya
ditambahkan.
7. Pada gagal ginjal tindakan yang paling efektif adalah hemodialisis atau peritoneal dialisis.

CALSIUM dan POSFAT


Funsi Ca: pada: koagulasi darah, transmisi neuromuskuler, kontaksi otot polos
Fungsi fosfat: produksi energi aerobik.

HIPOKALSEMIA
Kadar kalsium serum <8,7 mEq/L.
Gambaran EKG: pemanjangan repolarisai ventrikel, pemanjangan interval QTc/QoTc
IONIZED HYPOCALSEMIA
Penyebab: alkalosis (meningkatkan ikatan Ca dg albumin), transfusi darah, obat (aminoglikosid,
cimetidin, heparin, teofilin), emboli lemak, deplesi Mg (menghambat sekresi hormon paratiroid dan
mengurangi resposifitas target organ terhadap hormon tersebut), pankreatitis, insufisiensi renal dan sepsis.
Terapi:
• IVFD Ca hanya diindikasikan pada penderita dengan hipocalsemia simptomatik atau kadar calsium ion
< 0,65 mmol/L, dengan dosis Ca Glukonas 10%: 0,1-0,2 gram/kgBB IV ( kira-kira 1 sampai 2 ml/kgBB
Ca Glukonas 10%) perlahan-lahan dengan memonitor EKG.
Ca glukonas 10% mengandung 9 mg (0,46 mEq)/ml dengan osmolaritas 680 mOsm/L   jadi dapat
digunakan vena perifer. Perhatian infus Ca dapat menyebabkan vasokontriksi dan iskemi pada organ-
organ vital, lethal cell injury  (terutama pada penderita syok sirkulasi).
200 mg elemental Ca (22,2 ml Ca glukonas 10%) dalam salin isotonik diberikan lebih dari 10 menit,
akan meningkatkan kadar Ca 1 mg/dL, tetapi hanya bertahan selama 30 menit. Karena itu perlu dosis

22
maintenance IVFD 1-2 mg Ca elemental (0,11 - 0,22 ml Ca glukonas 10%) /kgBB/jam.selama paling
tidak 6 jam. Dilanjutkan maintenace peroral 2-4 gram perhari pada dewasa.
• Pada kasus yang kronis atau asimptomatik diberikan Ca peroral. Calcitriol: dosis initial 15
mg/kgBB/hari, maintenance 5-40 mg/kgBB/hari

HIPERKALSEMIA
Kadar kalsium serum >10,4 mEq/L Gambaran EKG: interval QTc/QoTc memendek
Terapi: rehidrasi cairan intravena, perbaiki hipokalemia jika terjadi bersamaan hipokalemia, dialysis.

HIPOMAGNESEMIA
Kadar Magnesium serum <1,8 mEq/L
Terapi: Magnesium Sulfat 50% 1-2 ml intramuskuler tiap 6-12 jam, atau Magnesium sulfat 0,5%
dicampur dengan glukosa 5% intravena terus menerus.

HIPERMAGNESEMIA
Kadar Magnesium serum >2,5 mEq/L
Terapi: Dialisis, sambil menunggu dapat diberikan Ca Glukonas intravena untuk efek antagonis
cardiovaskuler.

ALBUMIN
Diberikan jika : kadar albumin < 1,5 g/dL.
Dosis : 0,25 – 1 gram / kgBB
Atau :

Jumlah Albumin (gram) = (D-A) x BB (kg) x 10 x 1/12,5


Atau pakai albumin 25%: Jumlah Albumin 25% (ml) = (D-A) x BB (kg) x 3,2
Atau pakai albumin 20%: Jumlah Albumin 20% (ml) = (D-A) x BB (kg) x 4
Keterangan :
D = Desired Albumin = kadar albumin yang diiginkan (g/dL) .
A = ActualAlbumin = kadar albumin saat pemeriksaan (g/dL)
10 = angka perkalian dari g/dL  g/L, untuk mendapatkan g/kgBB jika BJ = 1
1/12,5 = perkiraan jumlah plasma
Jadi Setiap penambahan dosis 1 gram/kgBB akan menaikan kadar albumin darah kira-kira 1,25 g/dL
Albumin 5% (5 g/dl) memiliki tekanan osmotik yang sama dengan plasma (nilai normal kadar albumin
plasma untuk anak umur 1-3 tahun: 3,4 - 4,2 g/dl, 4-6 tahun : 3,2-5,2 g/dl, 7-19 tahun: 3,7 – 5,6 g/dl),
sehingga dapat digunakan sebagai infus intravena untuk meningkatkan volume sirkulasi darah. Dosis
untuk mengatasi syok hipovolemik dan septic : 0,5-1,0 gram albumin 5% /kgBB)

23
Mol Atom = Berat yang ada (satuan gram) dibagi
Berat Atom (BA, satuannya gram)
Mol molekul = jumlah berat zat yang ada (satuan
gram) dibagi berat molekul (jumlah BA-BA
yang menyusunya, satuannya gram)
1 mol = 1000 mmol (millimol)

Contoh :
0,15 gram Na, berapa mol?
0,15 g dibagi 22,98 gram (BA Na) = 0,00653
mol = 6,53 mmol
0,15 gram NaCl, berapa mol?
0,15 g dibagi [22,98 gram (BA Na) + 35,45
gram (BA Cl)] = 0,15/58,43 mol = 0.00257
mol = 2,57 mmol

Jika NaCl dilarutkan dalam air akan ada 2


pengertian yakni osmolalitas  dan osmolaritas
1 osmol zat yang terlarut yang melarut dalam 1
kilogram air dikatakan mempunyai osmolalitas 1
osmol perkilogram. Jadi osmolalitas adalah jumlah
mol zat yang terlarut per 1 kg pelarut.
Osmolaritas adalah osmol perliter larutan. Jadi
nilai osmolalitas akan lebih kecil dibandingkan
osmolaritas, tetapi untuk larutan yang sangat encer,
misalnya larutan dalam tubuh maka osmolalitas
sama/mirip dengan osmolaritas. Tekanan
onkotik/osmotic dipengaruhi oleh osmolalitas,
bukan osmolaritas.
1 mol NaCl  dalam air akan terurai menjadi 1
+ -
mol ion Na  + 1 mol ion Cl  (menjadi 2 mol)
0,15 gram NaCl (2,57 mmol) dalam cairan
osmolaritasnya (=osmolalitas) akan menjadi
51,4 mEq.
mEq = mg zat x valensi / BA
mEq/L = mg zat dalam 1000 ml larutan x
valensi / BA
1Eq = 1000 mEq
1 0sm = 1000 mosm
NaCl 0,9% dalam 1000 ml larutan terdapat
NaCl 9 gram atau 9000 mg atau 154 mol
(9000 mg/ 58,43 gram) NaCl  terurai
menjadi 154 mEq/l ion Na dan 154 mEq/l ion
Cl  osmolaritas (=osmolalitas) menjadi 308
mEq/l (308 mosm/l)
1 mol CaCl2  1 mol Ca+ + 2 mol Cl-(jadi
terurai menjadi 3 mol)
Zat organic tetap, tidak terurai. Misalnya: 1
mmol glukosa dalam larutan tetap 1 mmol
(tetap 1mEq = 1 mosm)

24
25
26