Anda di halaman 1dari 3

Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menajubkan.

Tidak seperti jaringan


lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang
reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur merupakan dasar untuk
mengobati fragmen fraktur. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang
mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai tejadi konsolidasi.
Factor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam
penyembuhan, selain factor biologis yang juga merupakan suatu factor yang sangat essential dalam
penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur berbeda pada tulang kortikal pada tulang
panjang serta tulang kanselosa pada metafisis tulang panjang atau tulang pendek, sehingga kedua
jenis penyembuhan tulang ini harus dibedakan.

Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut :

Reactive Phase

Fracture and inflammatory phase

Granulation tissue formation

Reparative Phase

Callus formation

Lamellar bone deposition

Remodeling Phase

Remodeling to original bone contour

Tahapan penyembuhan tulang terdiri dari: inflamasi, proliferasi sel, pembentukan kalus, penulangan
kalus (osifikasi), dan remodeling.

Tahap Hematoma dan Inflamasi

Apabila tejadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli
dalam system haversian mengalami robekan dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma
diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan
terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi
ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak.

Osteosit dengan lakunannya yang terletak beberapa millimeter dari daerah fraktur akan kehilangan
darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskular tulang yang mati pada sisi –
sisi fraktur segera setelah trauma. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 –
3 minggu.

Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan
nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah
tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat
cidera kemudian akan diinvasi oleh magrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan
daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama  bila ada cedera di tempat lain
dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma
pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya
pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang
akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan, dan nyeri. Tahap inflmasi
berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.

Tahap Pembentukan Kalus.

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah 
sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan,
dan tulang serat matur.

Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari
osteoblast dan kemudian pada kondroblast membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki
oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam – garam kalsium
pembentuk suatu tulang yang imatur.

Bentuk kalus dan volume dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan
dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar
fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis fargmen tulang
tidak bisa lagi digerakkan.

Bentuk tulang ini disebut moven bone. Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau woven bone sudah
terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.

Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi).

Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan – lahan diubah menjadi tulang yang
lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di
resorpsi secara bertahap.

Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 – 8 dan berakhir pada minggu ke 8 – 12 setelah
terjadinya fraktur.

Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu  patah tulang,
melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan
memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-
benar telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif.

5.      Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling). 

Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru
ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun
– tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang
melibatkan tulang kompak dan kanselus – stres fungsional pada tulang.

Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru akan membentuk bagian yang meyerupai
bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini perlahan –
lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus
eksterna secara perlahan – lahan menghilang. Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang
kompak dan berisi system haversian  dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk
membentuk susmsum.

Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 8 – 12 dan berakhir sampai beberapa tahun dari
terjadinya fraktur.

Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal


kompak, khususnya pada titik kontak langsung.

Selama pertumbuhan memanjang tulang, maka daerah metafisis


mengalami remodeling (pembentukan) dan pada saat yang bersamaan epifisis menjauhi batang
tulang secara progresif. Remodeling tulang terjadi sebagai hasil proses antara deposisi dan resorpsi
osteoblastik tulang secara bersamaan. Proses remodeling tulang berlangsung sepanjang hidup,
dimana pada anak-anak dalam masa pertumbuhan terjadi keseimbangan (balance) yang positif,
sedangkan pada orang dewasa terjadi keseimbangan yang negative. Remodeling juga terjadi setelah
penyembuhan suatu fraktur. (Rasjad. C, 1998)

Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru
ke susunan struktural sebelumnya. Remodelling memerlukan waktu berbulan-bulan samapai
bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada
kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus , stress fungsional pada tulang. Tulang kanselus
mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat dari pada tulang kortikal kompak, khususnya
pada titik kontak langsung. Ketika remodeling telah sempurna, muatan permukaan patah tulang
tidak lagi bermuatan negatif.