Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

Th 2006-2007
1. Laba bersih merupakan hasil dari operasi perusahaan sebesar Rp 172.209.
2. Kenaikan hutang dagang merupakan operasi perusahaan yaitu sebesar Rp 263.463
3. Kenaikan Current Maturity of Long Term Debt sebesar Rp 2.336
4. Kenaikan hutang jangka panjang dan kenaikan minority interest in subsidiaries
merupakan sumber pendanaan perusahaan masing-masing sebesar Rp 523.234 dan Rp
1.383
5. Kenaikan piutang dagang dan persediaan serta penurunan hutang pajak merupakan
kegiatan operasi perusahaan namun mengurangi sumber kas perusahaan, masing –
masing sebesar Rp 68.755, Rp 87.119, dan Rp 5.235
6. Penjualan paid up capital dan paid up capital in excess of par value sebesar Rp 145.688
dan Rp 1.570.512 merupakan kegiatan pendanaan perusahaan
7. Pembelian aktiva tetap, pembelian investasi, dan pembelian other assets merupakan
kegiatan investasi/penggunaan kas sebesar Rp 1.543.039 , Rp 167.920, Rp 42.977.

Dari laporan diatas dapat diketahui bahwa perubahan signifikan yang terjadi pada sumber kas
yaitu pada kenaikan hutang jangka panjang sebesar Rp523.234 dan perubahan signifikan yang
terjadi di penggunaan kas yaitu pada pembelian aktiva tetap sebesar Rp1.543.039.
Kesimpulannya adalah untuk tahun 2007 perusahaan ini cukup sehat karena mampu
memanfaatkan hutang jangka panjang untuk investasi pada aktiva tetap, yang berarti perusahaan
melakukan ekspansi. Kenaikan kas sebesar Rp 599.883.
Th 2007-2008
1. Laba bersih merupakan hasil dari operasi perusahaan sebesar Rp 84.805.
2. Kenaikan hutang dagang merupakan operasi perusahaan yaitu sebesar Rp 46.027.
3. Kenaikan hutang jangka panjang merupakan sumber pendanaan perusahaan yaitu sebesar
253.162.
4. Penurunan piutang dagang dan persediaan merupakan kegiatan operasi perusahaan
sebesar Rp 106.497 dan Rp 5.625.
5. Penjualan paid up capital dan paid up capital in excess of par value sebesar Rp 12 dan
Rp 156 merupakan kegiatan pendanaan perusahaan. Perubahannya tidak cukup
signifikan.
6. Pembelian aktiva tetap, pembelian investasi, dan pembelian other assets merupakan
kegiatan investasi/penggunaan kas sebesar Rp 330.335 , Rp 401.179, Rp 323.524.

Dari laporan diatas dapat diketahui bahwa perubahan signifikan yang terjadi pada sumber kas
yaitu pada kenaikan non current liabilities sebesar Rp253.162 dan perubahan signifikan yang
terjadi di penggunaan kas yaitu pada pembelian aktiva tetap sebesar Rp330.335.
Kesimpulannnya adalah penurunan kas untuk periode yang berakhir 31 Desember 2008,
sebesar Rp 568.797.
ANALISIS BREAK EVEN POINT
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

Tahun 2006 :

FC FC = 713.147
BEP unit=
P per unit - VC per VC per
unit unit= 11,69

Harga (P)
=
10.640,76 unit per unit= 78,71

FC FC= 713.147
BEP rupiah=
VC VC= 175.317
1-
Penjualan Penjualan= 1.180.622
8
= 37.514 rupiah

Dimisalkan unit yang terjual 15.000 unit


Analisis dalam unit kurang valid maka digunakan analisis BEP dalam Rupiah yakni sebesar Rp
837.514.
Pembuktian antara perbandingan HPP dan Operating Expenses terhadap Penjualan Bersih yaitu
sebesar 75,3% dan untuk BEP/Net Sales sebesar 70,9%. Terdapat selisih sebesar 4,32%.

Margin of Safety perusahaan sebesar 29,1%.


Tahun 2007 :

BEP
FC FC = 955.267
unit=
P per unit - VC per unit VC per unit= 12,70

Harga (P)
=
12.387,51 unit per unit= 89,82

9
BEP FC FC= 55.267
rupiah= 2
VC VC= 22.271
1-
1.5
Penjualan Penjualan= 71.789
1.112.
= 603 rupiah

Dimisalkan unit yang terjual meningkat menjadi 17.500 unit


Analisis dalam unit kurang valid maka digunakan analisis BEP dalam Rupiah yakni sebesar Rp
1.112.603.
Pembuktian antara perbandingan HPP dan Operating Expenses terhadap Penjualan Bersih yaitu
sebesar 74,9% dan untuk BEP/Net Sales sebesar 70,8%. Terdapat selisih sebesar 4,13%.

Margin of Safety perusahaan sebesar 29,2%. Meningkat 0,1% dari tahun sebelumnya.
Tahun 2008:

BEP
FC FC = 1.336.070
unit=
P per unit - VC per unit VC per unit= 18,29

Harga (P) per


=
13.187,30 unit unit= 119,60

1.336
BEP FC FC= .070
rupiah= 347
VC VC= .436
1-
2.272
Penjualan Penjualan= .418
1.577.2
= 14 rupiah

Dimisalkan unit yang terjual meningkat menjadi 19.000 unit


Analisis dalam unit kurang valid maka digunakan analisis BEP dalam Rupiah yakni sebesar Rp
1.577.214.
Pembuktian antara perbandingan HPP dan Operating Expenses terhadap Penjualan Bersih yaitu
sebesar 74,1% dan untuk BEP/Net Sales sebesar 69,4%. Terdapat selisih sebesar 4,68%.
Margin of Safety perusahaan sebesar 30,6 %.

ANALISIS PERUBAHAN LABA KOTOR, ROA, DAN ROE


PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

Tahun 2006-2007:
Perubahan Laba Kotor :
- Kenaikan laba kotor karena perubahan Harga Jual yaitu sebesar Rp 194.396.
- Kenaikan laba kotor karena perubahan kuantitas penjualan yaitu sebesar Rp 196.770.
- Kenaikan laba kotor karena perubahan Harga Pokok yaitu sebesar Rp 133.471.
- Kenaikan laba kotor karena perubahan kuantitas harga pokok yaitu sebesar Rp 128.280.
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.
Laporan Perubahan Laba Kotor
Akhir tahun 2007 dengan 2006

Kenaikan penjualan yang


disebabkan
Kenaikan harga jual 194.396
Kenaikan kuantitas penjualan 196.770
391.167
Kenaikan harga pokok
penjualan disebabkan:
Kenaikan harga pokok per
satuan produk 133.471
Kenaikan kuantitas harga
pokok penjualan 128.280
261.751
Kenaikan Laba Kotor 129.415

Untuk Analisis ROA dan ROE:


2006 2007 2008
ROA 5,83% 5,61% 4,53%
Profit Margin 15% 11% 6%
Tingkat Perputaran Aset
Operasi 0,40 0,53 0,77
ROA 5,83% 5,61% 4,53%

ROE (%) 2006 2007 2008

26,91 8,66 7,03

Tahun 2007-2008
Perubahan Laba Kotor :
- Kenaikan laba kotor karena perubahan Harga Jual yaitu sebesar Rp 565.904.
- Kenaikan laba kotor karena perubahan kuantitas penjualan yaitu sebesar Rp 134.725.
- Kenaikan laba kotor karena perubahan Harga Pokok yaitu sebesar Rp 360.313.
- Kenaikan laba kotor karena perubahan kuantitas harga pokok yaitu sebesar Rp 88.408.
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.
Laporan Perubahan Laba Kotor
Akhir tahun 2008 dengan 2007

Kenaikan penjualan yang


disebabkan
Kenaikan harga jual 565.904
Kenaikan kuantitas penjualan 134.725
700.629
Kenaikan harga pokok
penjualan disebabkan:
Kenaikan harga pokok per
satuan produk 360.313
Kenaikan kuantitas harga pokok
penjualan 88.408
448.721
Kenaikan Laba Kotor 251.908

Untuk Analisis ROA dan ROE:


2006 2007 2008
ROA 5,83% 5,61% 4,53%
Profit Margin 15% 11% 6%
Tingkat Perputaran Aset
Operasi 0,40 0,53 0,77
ROA 5,83% 5,61% 4,53%

26,91 8,66 7,03

ANALISIS KREDIT
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

Analisis Kredit
Tujuan utama analisis premohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah
mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara tertib, baik
pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan dengan bank.hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian kredit nasabah, terlebih dahulu harus terpenuhinya
Prinsip 5 C’s Analysis, yaitu sebagai berikut:

1. Character

Character adalah keadaan watak dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam
lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui
sampai sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willingness to pay)
sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.

Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah tersebut, dapat
ditempuh melalui upaya antara lain:

a. Meneliti riwayat hidup calon nasabah;

b. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usahanya;


c. Meminta bank to bank information (Sistem Informasi Debitur);

d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana calon nasabah berada;

e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi;

f. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya.

2. Capital

Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar
modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam
menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit. Modal
sendiri juga diperlukan bank sebagai alat kesungguhan dan tangung jawab nasabah dalam
menjalankan usahanya karena ikut menanngung resiko terhadap gagalnya usaha.dalam praktik,
kemampuan capital ini dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban untuk menyediakan self-
financing, yang sebaiknya jumlahnya lebih besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank.

3. Capacity

Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna
memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui sampai
sejauh mana calon nasabah mampu untuk mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara
tepat waktu dari usaha yang diperolehnya.

Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan berikut ini:

a. Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah menunjukkan perkembangan


dari waktu ke waktu.

b. Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus

c. Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah mempunyai kapasitas untuk
mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank.

d. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan keterampilan nasabah
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan.

e. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon nasabah mengelola
faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan-peralatan , administrasi
dan keuangan, industrial relation sampai pada kemampuan merebut pasar.

4. Collateral

Collateral adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang
diterimanya. Collateral tersebut harus dinilai oleh bank untuk mengetahui sejauh mana resiko
kewajiban finansial nasabah kepada bank. Pada hakikatnya bentuk collateral tidak hanya
berbentuk kebendaan tetapi juga collateral yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi
(borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi dan avalis.

5. Condition of Economy

Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi politik , sosial, ekonomi , budaya yeng
mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya memengaruhi
kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gambaran mengenai hal tersebut, perlu
diadakan penelitian mengenai hal-hal antara lain:

a. Keadaan konjungtur

b. Peraturan-peraturan pemerintah

c. Situasi, politik dan perekonomian dunia

d. Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran