Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi wanita terdiri dari indung telur (ovarium), rahim

(uterus), vagina, dan alat genitalia luar. Organ reproduksi wanita terbagi

dalam dua kelompok yakni organ genitalia wanita bagian dalam dan organ

genitalia wanita bagian luar. Sebagian besar alat reproduksi wanita berada di

dalam rongga panggul di luar rongga perut atau rongga peritoneal. (8)

Gambar 1. Anatomi Organ Genitalia Eksterna(9)

6
Gambar 2. Anatomi Organ Genitalia Interna(9)

Ovarium berfunsgi sebagai penghasil sel telur (ovum), menghasilkan

hormon-hormon, dan ikut serta mengatur haid. Wanita memiliki 2 buah

ovarium di bagian kanan dan kiri yang kemudian berikatan erat dengan tuba

uterine atau tuba falopi yang berfungsi mengambil ovum saat ovulasi serta

sebagai tempat fertilisasi. Tuba falopi adalah saluran yang memiliki panjang

sekitar 12 – 13 cm dan diameter 3 – 8 cm, bagian luarnya diliputi oleh

peritoneum viseral dan bagian dalamnya dilapisi oleh silia yang berfungsi

untuk menyalurkan telur hasil konsepsi agar dapat menuju uterus. Uterus

atau rahim adalah suatu struktur otot yang cukup kuat, bagian luarnya

ditutupi oleh peritoneum sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa

rahim. Besarnya rahim berbeda-beda, bergantung pada usia dan sudah

pernah melahirkan atau belum. Pada nulipara ukurannya 5,5 – 8 cm x 3,5 – 4

7
cm x 2 – 2,5 cm; multipara 9 – 9,5 cm x 5,5 – 6 cm x 3 – 3,5 cm dengan

berat pada nulipara 40 – 50 gram dan 60 – 70 gram pada multipara. Vagina

adalah saluran yang berfungsi sebagai penghubung vulva dengan rahim.

Ukuran panjang dinding depan 8 cm dan dinding belakang 10 cm. Dinding

vagina terdiri dari lapisan mukosa, lapisan otot, dan lapisan jaringan ikat.

Vagina berfungsi sebagai saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dan

sekret lain dari rahim, alat untuk bersenggama, dan juga jalan lahir sewaktu

persalinan Di bagian bawah uterus terdapat serviks, menonjol ke dalam

vagina dan memiliki satu pembukaan kecil yang disebut kanalis servikalis.(10)

Organ genitalia wanita eksterna secara kolektif disebut dengan vulva

dan terdiri terdiri dari lubang vagina yang terletak di daerah perineum, di

antara lubang uretra di anterior dan lubang anus di posterior. Struktur ini

ditutupi oleh suatu membrane tipis bernama himen. Lubang uretra dan

vagina dikelilingi di lateral oleh dua pasang lipatan kulit, labia minora dan

labia mayora. Labia minora yang lebih kecil terletak di sebelah media

daripada labia mayora yang lebih menonjol. Bagian klitoris, yaitu suatu

struktur erotik kecil yang terdiri dari jaringan serupa dengan yang ada di

penis terletak pada ujung anterior lipatan labia minora.(11)

8
B. Proses Menstruasi

1. Pengertian menstruasi

Menstruasi adalah pegeluaran, secara berkala, dan fisiologis,

darah dan jaringan mukosa melalui vagina dari uterus yang tidak hamil;

proses ini berada dibawah kendali hormon dan secara normal berulang,

biasanya dengan interval sekitar empat minggu, dan disebut juga puncak

dari siklus haid.(12)

Pada siklus haid, mukosa rahim dipersiapkan secara teratur untuk

menerima ovum yang dibuahi setelah terjadinya ovulasi, keadaan ini

diatur oleh hormon. Jika tidak terjadi proses pembuahan maka dinding

rahim kemudian akan meluruh dan terjadilah proses menstruasi. Haid

yang pertama kali terjadi disebut menarche dan setelah masa reproduksi,

wanita masuk dalam masa klimakterium yang terjadi secara berangsur-

angsur dimana haid akan menjadi tidak teratur, lalu akhirnya berhenti

sama sekali sesuai dengan lanjutnya usia. (13)

2. Fisiologi siklus menstruasi

9
Siklus menstruasi terdiri dari dari tiga fase, yaitu(14)

2.1. Fase folikular

Setiap saat selama siklus, sebagian folikel-folikel

primer mulai berkembang. Salah satu folikel, atau folikel

dominan biasanya tumbuh lebih cepat daripada yang lain dan

berkembang menjadi folikel matang atau biasa juga disebut

folikel Graaf dalam waktu sekitar 14 hari setelah dimulainya

pembentukan folikel. Folikel dominan yang berkembang

menjadi folikel dewasa umumnya dipenuhi reseptor FSH dan

karena itu menjadi yang paling responsif terhadap stimulasi

hormon.

2.2. Fase ovulasi

Folikel matang yang telah sangat membesar ini

menonjol dari permukaan ovarium, menciptakan suatu daerah

tipis yang kemudian pecah untuk membebaskan oosit pada

ovulasi. Fase ovulasi berlangsung selama 16 – 32 jam, berakhir

setelah pelepasan ovum.

2.3. Fase luteal

10
Fase luteal berlangsung selama kurang lebih 7 - 14 hari

setelah fase ovulasi dan berakhir sesaat sebelum menstruasi

terjadi. Sesudah proses pelepasan ovum, folikel yang pecah

mengalami perubahan-perubahan dan membentuk korpus

luteum. Sel-sel folikel yang berubah menjadi sel luteal ini

membesar dan berubah menjadi jaringan yang sangat aktif

menghasilkan hormone steroid. Korpus luteum menyekresi

progesterone ke darah dalam jumlah yang banyak, bersamaan

dengan sedikit estrogen. Sekresi estrogen pada fase folikular

diikuti oleh sekresi progesterone pada fase luteal penting untuk

mempersiapkan uterus untuk implantasi ovum yang dibuahi.

Jika ovum yang dibebaskan tidak dibuahi dan tidak

berimplantasi, korpus luteum akan berdegenerasi dalam waktu sekitar

14 hari setelah pembentukannya. Sel – sel luteal berdegerasi dan

difagositosis, jaringan ikat segera masuk untuk membentuk masa

jaringan fibrosa yang dikenal sebagai korpus albikans. Dengan

berakhirnya fase luteal maka satu siklus ovarium telah selesai.

3. Regulasi neuroendokrin saat menstruasi

11
Ovarium memiliki dua unit endokrin yang berkaitan, yakni

folikel sebagai penghasil estrogen selama paruh pertama siklus dan

korpus luteum sebagai penghasil progesteron dan estrogen selama paruh

terakhir siklus. Fungsi gonad pada wanita dikontrol secara langsung

oleh hormon-hormon gonadotropik hipofisis anterior, yaitu FSH

(follicle-stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). Kedua

hormon ini diatur oleh GnRH (gonadotropin-releasing hormone).

Kontrol gonad wanita diperumit oleh sifat fungsi ovarium yang siklik.

Gambar 3. Siklus Menstruasi(14)

12
Berawal dengan fase folikular dimana estrogen, FSH dan LH

semuanya dibutuhkan. Pembentukan antrum diinduksi oleh FSH. FSH

dan LH diperlukan untuk sintesis dan sekresi estrogen oleh folikel,

namun kedua hormon ini bekerja pada sel yang berbeda dan pada tahap

yang berbeda dalam jalur pembentukan estrogen. Estrogen yang

dikeluarkan, selain bekerja pada jaringan spesifik seks misalnya uterus,

juga menghambat hipotalamus dan hipofisis anterior secara umpan balik

negatif. Kadar estrogen yang meningkat sedang merupakan tanda fase

folikular sedang berlangsung dan adanya estrogen menurunkan

kepekaan sel yang menghasilkan hormon-hormon gonadotropik,

khususnya penghasil FSH. Penurunan kadar FSH menyebabkan atresia

semua folikel yang sedang berkembang kecuali satu yang paling

matang. Berbeda dari FSH, sekresi LH terus meningkat perlahan selama

fase folikular. Kemudian pada awal fase ovulasi terjadilah lonjakan dari

LH, yang memicu perkembangan korpus luteum dan merangsang korpus

luteum untuk mengeluarkan hormon steroid, terutama progesteron.

Progesteron yang mendominasi fase luteal, dengan kuat menghambat

sekresi FSH dan LH. Proses inhibisi progesteron ini bertujuan untuk

mengambat pertumbuhan foikel baru sehingga sistem reproduksi

dipersiapkan untuk menunjang ovum yang baru lepas. Jika tidak terjadi

pembuahan maka korpus luteum akan mengalami regresi dan

menyebabkan turunnya juga kadar progesteron. Dengan menurunnya

13
kadar progesteron maka hilang juga efek inhibisi dari hormon FSH dan

LH sehingga sekresi kedua hormon ini kembali meningkat dan dibawah

pengaruh kedua hormon ini, sekelompok folikel baru kembali

mengalami proses pematangan.(14)

C. Dismenore

1. Pengertian dismenore

Dismenore atau rasa nyeri saat menstruasi biasanya didefinisikan

dengan keadaan nyeri dan bahkan keram di perut bagian bawah dan

biasanya disertai dengan gejala lainnya yakni pusing, mual, muntah,

gemetar, yang muncul baik sebelum dan selama periode menstruasi.(15)

Dismenore atau algomenorea berarti haid yang sukar, atau dalam

praktek dinyatakan sebagai nyeri ketika haid atau haid yang berkaitan

dengan nyeri seperti kejang atau kolik.(16)

Dismenore merupakan salah satu bagian dari penyakit di rongga

pelvis yang bermanifestasi berupa rasa nyeri selama menstruasi yang

kemudian diidentifikasi menjadi dua bentuk, yakni dismenore primer

dan dismenore sekunder. Dismenore primer merupkan rasa nyeri yang

timbul saat menstruasi yang ditimbulkan karena faktor intrinsik uterus

tanpa adanya patologi atau kelainan organik dalam pelvis, biasanya

14
mulai terjadi setelah 6 sampai 12 bulan pasca menearche dan dapat

berlangsung hingga menopouse. Sedangkan dismenore sekunder terjadi

karena adanya patologi atau kelainan oranik dalam rongga pelvis seperti

endometriosis atau kista ovarium.(16,17)

2. Patofisiologi dismenore

Dismenore bukanlah merupakan gejala yang terjadi hanya

karena satu penyebab saja melainkan disebabkan oleh berbagai macam

penyebab yang saling berkaitan satu sama lain.

Gambar 4. Patofisiologi dismenore(29)

Namun beberapa penelitian telah mengungkapkan beberapa hal

yang berperan dalam kejadian dismenore, yaitu :

2.1. Prostaglandin

Prostaglandin adalah asam lemak alami yang terdapat

di banyak jaringan, dan berfungsi dalam respon radang,

pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus, dan motilitas

gastrointestinal. Penyerapan prostaglandin ke dalam peredaran

darah uterus ketika endometrium terlepas merupakan penyebab

15
timbulnya gejala dismenore karena banyaknya reseptor

prostaglandin di uterus, khususnya di sekitaran pembuluh

darah.(16)

Menurut penelitian, bahwa kadar PGE2 dan PGF2α

sangat meningkat dalam endometrium dan darah haid wanita

yang mengalami dismenore. Selain itu PGF2α juga ditemukan

dalam jumlah besar di miometrium pada wanita yang

mengalami dismenore. PGE2 atau prostaglandin E2 merupakan

vasodilator poten yang bisa meningkatkan kemungkinan

terjadinya edema dan berkontribusi terhadap rasa nyeri saat

menstruasi. PGF2α atau prostaglandin F2α menyebabkan

kontraksi di myometrium dan vasokonstriksi pada arteri di

uterus.(30,31)

Tingginya kadar PGE2 dan PGF2α pada akhirnya

menyebabkan rangsangan myometrium yang kuat, kepekaan

dari serabut-serabut saraf terminal rangsang nyeri meningkat,

vasokonstriksi pembuluh darah yang menimbulkan iskemik di

beberapa jaringan uterus kemudian berakumulasi menyebabkan

kontraksi uterus. Kontraksi uterus biasanya berlangsung dalam

beberapa menit dan bisa menimbulkan tekanan di uterus

meningkat > 60 mmHg sedangkan tekanan uterus normal

adalah 15 – 20 mmHg. Kontraksi uterus ini kemudian

16
menyebabkan nyeri spasmodik yang merupakan gejala khas

dari dismenore. (30,31)

2.2. Hormon steroid seks

Masih berhubungan dengan prostaglandin, menurut

penelitian bahwa sekresi dari prostaglandin juga dipengaruhi

oleh regulasi hormon steroid seks yakni estrogen dan

progesteron. Kedua hormon tersebut juga mempengaruhi

pemecahan prostaglandin di uterus. Progesteron dikemukakan

berperan juga dalam menimbulkan transien hipoksia di

miometrium oleh karena konstriksi dari arteri spiral yang

muncul setelah terjadi umpan balik progesteron. Selain itu,

teori mengatakan bahwa kadar estradiol (salah satu jenis

estrogen) wanita yang mengalami dismenore lebih tinggi

dibandingkan wanita normal. Estradiol yang tinggi diduga

menyebabkan produksi prostaglandin yang berlebihan oleh

endometrium. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kadar

estradiol yang tinggi dalam vena uterine dan vena ovarika

disertai dengan kadar PGF2α yang juga tinggi dalam

endometrium.(16, 32)

17
2.3. Vasopresin

Menurut penelitian didapatkan bahwa wanita dengan

dismenore ternyata memiliki kadar vasopressin yang sangat

tinggi. Vasopresin dapat menyebabkan meningkatkatnya

kontraksi uterus dan menurunkan aliran darah ke uterus.

Walaupun telah diketahui bahwa hormone hipofisis posterior

atau oksitosin juga secara fisiologis berperan dalam

merangsang aktivitas uterus, namun vasopressin memiliki

kekuatan yang lebih besar disbanding oksitosin dalam

merangsang kontraksi uterus terutama pada awal terjadinya

haid. (16)

3. Epidemiologi Dismenore

Dismenore dinyatakan sebagai masalah yang paling sering

terjadi pada wanita di usia produktif dibandingkan penyakit ginekologi

yang lain di beberapa negara berkembang dan menjadi penyebab

seorang wanita tidak dapat bekerja atau masuk sekolah. International

Association for Study of Pain mengestimasi bahwa nyeri saat menstruasi

menyebabkan 10%-15% wanita yang mengalami dismenore tidak dapat

bekerja dan bersekolah selama 1 sampai 3 hari. Prevalensi dismenore

yang dilaporkan oleh beberapa literatur sangat bervariasi, dengan

18
estimasi 67%-90% wanita di umur 17 – 24 tahun mengalami dismenore.
(18,19)

Di Indonesia angka kejadian dismenore terdiri dari 54,89%

dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder. Berdasarkan hasil

penelitian, angka kejadian dismenore di Jawa Barat cukup tinggi, hasil

penelitian didapatkan kejadian sebanyak 54,9% wanita mengalami

dismenore, terdiri dari 24,5% mengalami dismenore ringan, 21,28%

mengalami dismenore sedang dan 9,36% mengalami dismenore berat(4)

4. Faktor Risiko Dismenore

Beberapa faktor risiko dari dismenore antara lain :

4.1. Usia menarche

Menarche adalah menstruasi pertama yang dialami

seorang wanita, yang umumnya terjadi pada usia 12 – 13

tahun.(20) Menarche yang terjadi pada usia yang lebih awal dari

normal, dimana alat reproduksi belum sempurna dan belum

siap untuk mengalami perubahan dan masih terjadi

penyempitan pada leher rahim, maka akan timbul rasa sakit

saat menstruasi.(21) Hasil penelitian Tina Gustina pada tahun

2015 diketahuai responden dengan usia menarche ≤ 12 tahun

atau lebih cepat dan mengalami dismenore primer memiliki

19
presentase yang lebih besar yaitu sebanyak 89 siswi (89 %),

dibandingkan dengan usia menarche > 12 tahun dan tidak

mengalami dismenore primer, yaitu sebanyak 11 siswi (11 %).


(22)

4.2. Siklus menstruasi yang tidak teratur

Siklus menstruasi yang tidak teratur yang disebabkan

oleh stress ataupun kelelahan merupakan hal yang normal

terjadi dan biasanya tidak disertai dengan rasa nyeri, namun

siklus menstruasi yang tidak teratur apabila disebabkan oleh

kista, polip ataupun adanya keganasan dapat merupakan salah

satu penyebab timbulnya rasa sakit saat menstruasi karena

perubahan vaskularisasi yang terjadi pada endometrium.(16)

4.3. Menorrhagia

Menorrhagia adalah pengeluaran darah yang terlalu

banyak (>80 mL darah) dan/atau durasi yang bertambah lama

(> 7hari) dan biasanya disertai dengan bekuan darah sewaktu

menstruasi.(4, 24)
Menurut penelitian Smith, et al. pada tahun

2007 bahwa wanita dengan keadaan menorrhagia atau heavy

menstrual blood flow menunjukan terjadinya peningkatan dari

kadar PGE2 yang kita ketahui merupakan mediator inflamasi

dan juga menyebabkan timbulnya vasokontriksi dari pembuluh

20
darah di uterus yang kemudian dapat bermanifestasi sebagai

rasa nyeri yang dialami saat menstruasi.(24)

4.4. Riwayat dismenore dalam keluarga

Ada hubungan antara riwayat dismenore dalam

keluarga dengan kejadian dismenore pada keturunan

berikutnya. Menurut penelitian, hal ini berhubungan dengan

kelainan polimorfik dari gen CYP2D6 dan GSTM1. Gen

CYP2D6 dan GSTM1 merupakan gen yang berhubungan

dengan proses metabolisme hormon reproduksi khususnya

progesteron yang secara patofisiologi mempengaruhi miotonik

dan vasospastik terhadap arteriol miometrium dan

endometrium sehingga menimbulkan kontraksi dari uterus.

Menurut penelitian Di Wu pada tahun 2000 menunjukkan

bahwa wanita dengan kelainan polimorfik gen CYP2D6 dan

GSTM1, mengalami dismenore dan memiliki riwayat

dismenore pada keluarga.(25)

4.5. Kebiasaan olahraga

Kegiatan olahraga atau exercise diketahui dapat

menyebabkan dilatasi dari pembuluh darah sehingga terjadi

peningkatan aliran darah dan oksigen. Kebiasaan berolahraga

21
yang rutin dapat memberikan banyak manfaat kepada tubuh

kita, salah satunya adalah mengurangi gejala dari dismenore.

Seperti yang kita ketahui bahwa dismenore terjadi karena

adanya iskemik atau keadaan kekurangan oksigen di jaringan,

maka dengan rutin berolahraga kemungkinan timbulnya

iskemik pada uterus yang dapat menimbulkan nyeri akan

berkurang.(26)

Selain itu, olahraga dapat meningkatkan sekresi dari

endorphin dalam darah. Endorpin merupakan suatu

neuropeptid, terdapat 3 macam yakni endorphin alfa, beta, dan

gamma yang semuanya dapat berikatan dengan resptor opioid

dalam otak dan aaktivitas analgesiknya sangat kuat. Endorpin

beta terdapat dalam adenohipofisis, hipotalamus dan salah satu

fungsinya berupa mediasi persepsi nyeri.(7)

4.6. Indeks masa tubuh

Salah satu penyebab utama terjadinya dismenore adalah

sekresi kadar prostaglandin yang meningkat pada saat

menstruasi, menurut penelitian ditemukan bahwa wanita

dengan obesitas memiliki kecendrungan mengalami dismenore.

Hal ini dihubungkan dengan adanya hipotesis bahwa obesitas

22
juga dapat menyebabkan kadar prostaglandin yang meningkat.
(27)

Namun tidak hanya obesitas, menurut penelitian

Chauhan pada tahun 2012 wanita dengan indeks masa tubuh <

16,5 mengalami dismenore yang lebih parah dibandingkan

dengan wanita dengan indeks masa tubuh yang normal. Hal ini

berkaitan dengan kurangnya nutrisi seseorang dapat

menyebabkan terganggunya juga fungsi reproduksi.(28)

5. Penegakan daignosis dismenore

Diagnosis dismenore dapat ditegakkan berdasarkan penapisan

bertahap setelah memperhatikan gejala-gejala spesifik yang dialami

oleh seorang pasien. Pada umumnya dismenore memiliki gejala nyeri

di bagian suprapubic yang muncul beberapa jam sebelum menstruasi

dimulai dan berlanjut hingga beberapa jam setelah menstruasi

berlangsung, namun biasanya tidak berlangsung lebih dari 72 jam.

Rasa nyeri yang dirasakan juga biasanya dapat menyebar hingga ke

paha, pinggang dan punggung. Pada beberapa wanita gejala sistemik

juga bias muncul seperti diare, mual, muntah, sakit kepala bahkan

sinkop. Selain anamnesis mengenai gejala, kita juga harus mengetahui

23
riwayat menstruasi pasien seperti usia menarche, lama menstruasi dan

banyaknya menstruasi.(29, 33)

Onset timbulnya keluhan juga merupakan hal yang penting

untuk ditanyakan, dilanjutkan dengan bagaimana tingkat keparahannya

dan penanganan apa yang sudah pasien lakukan untuk mengurangi

gejala. Perlu ditanyakan juga mengenai kegiatan seksualnya, ada

tidaknya dyspareunia dan penggunaan kontrasepsi untuk

menyingkirkan diagnosa banding penyakit menular seksual dan infeksi

di rongga pelvis yang memilki manifestasi klinis cukup mirip dengan

dismenore. (29)

Setelah anamnesis mengenai gejala, riwayat menstruasi, dan

riwayat terdahulu yang dimiliki selesai dilakukan, kita kemudian harus

menyingkirkan kelainan organic genitalia interna dengan melakukan

pemeriksaan ginekologis. Pada umumnya wanita yang mengalami

dismenore primer tidak menunjukkan kelainan pada pemeriksaan

ginekologisnya. Pemeriksaan laboratorium biasanya dilakukan untuk

mengetahui etiologi dari dismenore yaitu dilakukan pemeriksaan kadar

estrogen dan progesteron. Pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi

pelvis dan pemeriksaan imaging hanya dilakukan apabila ada

kecurigaan bahwa nyeri perut saat menstruasi yang dialami pasien

disebabkan karena adanya kelainan organik dalam rongga pelvis.(16,29)

24
6. Tatalaksana dismenore

6.1. Terapi farmakologi :(16)

6.1.1. NSAIDs

Obat NSAID bekerja melalui khasiat analgesic dan

hambatan sintesis prostaglandin. Saat jaringan

endometrium luruh, prostaglandin yang memasuki

sirkulasi sistemik tidak dapat dicegah, oleh karena itu

efektivitas obat tersebut akan lebih tinggi bila

diberikan 1-2 hari sebelum haid dan diteruskan

sampai hari ke-2 atau ke-3 setelah menstruasi.

6.1.2. Terapi hormonal

Terapi hormonal telah banyak digunakan dalam

pengobatan dismenore primer. Tujuannya semula agar

menimbulkan siklus haid anovulatorik, sehingga nyeri

ketika haid dapat dikurangi atau sama sekali

dihilangkan. Pemberian progesterone mengurangi

kadar prostaglandin endometrium dan untuk kurun

waktu tertentu menghasilkan endometrium yang

relative atrofik. Endometrium yang mengalami

25
desidualisasi ini akan menghasilkan prostaglandin

yang rendah sehingga nyeri tidak terjadi.

6.2. Terapi non-farmakologi :(29)

6.2.1. Olahraga

Seperti yang sudah dijelaskan pada faktor risiko dari

dismenore, olahraga dapat memperlancar aliran darah

dan perfusi oksigen ke jaringan di uterus sehingga

olahraga yang teratur dapat mengurangi risiko

terjadinya iskemik jaringan yang dapat menyebabkan

dismenore.

6.2.2. Edukasi

Mengedukasi pasien untuk tidur cukup, menghindari

konsumsi minuman yang mengandung kafein karena

dapat meningkatkan sekresi dari prostaglandin,

menghindari stress, melakukan diet rendah garam,

mengatur intake nutrisi agar seimbang, dan

meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta air

putih.

26
Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep pada penelitian analisis faktor risiko dismenore pada

mahasiswi Faklutas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia adalah sebagai

berikut :

Mahasiswi FK UKI

Kejadian dismenore

Usia Menarche Variabel dependen


Siklus Menstruasi
Lama menstruasi
Banyaknya
menstruasi
Riwayat keluarga
IMT
Kebiasaan olahraga

Variabel independen

27