Anda di halaman 1dari 11

BAB II

KONSEP DASAR

A. Definsi
1. Kehamilan Mola Hidatidosa adalah Suatu kondisi tidak normal dari
plasenta akibat kesalahan pertemuan ovum dan sperma sewaktu fertilisasi.
2. Kehamilan Molahidatidosa adalah kelahiran abnormal dengan ciri-ciri
stoma vilus kapilaris langka vaskularisasi dan edematous. Janin biasanya
meninggal tapi vilus-vilusnya membesar dan mengalami udematus, tetap
hidup dan tumbuh terus. Vilus- vilus ini digambarkan dalam bentuk
gugusan anggur, jaringan trofoblas vilus kadang-kadang berploriferasi
ringan, kadang-kadang keras dan mengeluarkan hormone HCG dalam
jumlah yang sangat besar dari kehamilan biasa.
3. Mola Hidatidosa adalah jonjot korion tumbuh berganda menyerupai
gelembung kecil mengandung banyak cairan dan bentuknya menyerupai
bentuk anggur atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas
yang jinak (benigna)
Mola Hidatosa sebagai berikut;
1. Mola Hidatosa Komplit
Tidak berisi jaringan fetus (90 % biasanya terdiri dari kaviotipe 46 XX dan
10 % 46 XY). Villi khorialisnya memiliki ciri seperti buah anggur terdapat
trofoblastik hiperplasia.
2. Mola Hidatosa Parsial
Terdapat jaringan fetus, eritrosit fetus dan pembuluh darah villi khorialis
sering didapatkan

B. Etiologi
Penyebab terjadinya molahidatidosa adalah pembengkakan pada vili
(degenerasi pada hidrofik) dan proliferasi trofoblas. Factor yang dapat
menyebabkan mola antara lain:

1. Factor ovum: ovum memang sudah patologik sehingga mati dan terlambat
dikeluarkan
2. Imunoselektif dari trofoblas
3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
4. Paritas tinggi
5. Kekurangan protein
6. Infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas
Faktor resiko
Semua wanita usia reproduktif beresiko untuk kehamilan mola
hidatosa,namun wanita yang lebih muda (<16 tahun ) atau yang lebih tua
(< 40 tahun) beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan wanita usia 16-
39 tahun.Faktor lain yang mempengaruhi wanita untuk kehamilan mola
hidatosa yaitu berkaitan dengan genetika dan riwayat reproduksi.
Berikut faktor resiko untuk kehamilan mola hidatosa adalah :
a. Etnis Asia
Ada insiden yang lebih tinggi untuk angka kejadian kehamilan mola
hidatosa dikawasan Asia. Perempuan dari etnis Asia beresiko dua kali
lipat lebih tinggi dari pada wanita non-etnis Asia.
b. Riwayat kehamilan mola hidatosa sebelumnya
Wanita yang pernah mengalami kehamilan mola hidatosa memiliki
risiko 2 kali lipat dibandingkan dengan yang belum pernah mengalami
kehamilan mola hidatosa.
c. Riwayat Genetik
Terdapat penelitian yang membuktikan bahwa kehamilan mola
hidatosa memiliki penyebab genetik terkait dengan mutasi gen pada
kromosom 19
d. Faktor makanan
Asupan rendah karotene dan rendah lemak hewani dikaitkan dengan
peningkatan resiko kehamilan mola hidatosa sempurna,termasuk juga
kekurangan vitamin A.

C. Patofisiologi
Jonjot- jonjot korion iumbuli berganda dan mengandung cairan merupakan
kista kista kecil seperti anggur. Biasanya didalamnya tidak berisi embrio.
Secara histopatologik kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta
dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah satu janin
tumbuh dan satu janin lagi menjadi mola hidatosa. Gelembung Mola besarnya
bervariasi mulai dari kecil sampai berdiameter lebih dari 1 cm. Mola parsialis
adalah bila dijumpai janin dan gelembung-gelembung mola.
Secara mikroskopik terlihat trias :

1. Proliferasi dari trofoblas.


2. Degenerasi hidrotopik dari stroma villi dan kesembaban
3. Terlambat atau hilangnya pembuluh darah dan stroma

Sel-sel langerhans tampak seperti sel polidral dengan inti terang dan adanya
sel sinsisial giantik. Pada kasus mola banyak kita jumpai ovarium dengan kista
lutein ganda berdiameter 10 cm atau lebih. Kista lutein akan berangsur-angsur
mengecil dan kemudian hilang setelah mola hidatosa sembuh.

(Pudiastuti 2012)
D. Pathway
Faktor Ovum

Mengalami keterlambatan dalam pengeluaran

Kematian ovum di dalam tubuh

Mengalami degenerasi

Jongot-jongot korion yang tumbuh berganda dan mengandung cairan

Kista-kista kecil seperti anggur

Molahidatosa

Tindakan Invasif

Kuretase Jaringan terdapat ulkus Kurang informasi

Perdarahan Bakteri mudah masuk Kurangpengetahuan

Cemas
Hipovolemik Resiko jaringan ulkus

Resiko tinggi Resiko Infeksi


kekurangan
volume cairan
Gangguan rasa
Menstimulasi respon nyeri
nyaman nyeri
E. Manifestasi Klinis
a. Nyeri akut
b. Muka pucat/ kekuning-kuningan (mofa face)
c. Perdarahan tidak teratur
d. Keluar jaringan mola
e. Keluar secret pervaginam
f. Muntah-muntah
g. Pembesaran uterus dan uterus lembek
h. Balotemen tidak teraba
i. Fundus uteri lebih tinggi dari kehamilan normal
j. Gerakan janin tidak terasa
k. Terdengar bunyi dan bising yang khas
l. Penurunan berat badan yang berlebihan

Manifestasi lain pada kehamilan Mola Hidatosa antara lain :

1. Gejala hamil mirip orang hamil :


a. Tanda awal persis kehamilan biasa,misalnya terlambat haid,keluhan
mual,muntah dengan keluhan lebih hebat.
b. Tes kehamilan hasilnya positif
c. Tanda-tanda lainnya adalah
 Tidak ada gerakan janin
 Uterus nampak lebih besar dari umur kehamilan misalnya
terlambat 2 bulan uterus nampak seperti hamil 4 bulan.
 Keluar gelembung cairan mirip buah anggur bersamaan dengan
perdarahan
2. Pada Mola Hidatosa komplet,terdapat tanda-tanda gejala klasik yaitu :
a. Perdarahan pervagina merupakan gejala klinik yang paling sering pada
mola komplet. Jaringan mola terpisah dari desidua, menyebabkan
perdarahan yang dapat menimbulkan anemia, syok atau kematian.
Uterus membesar oleh karena jumlah darah yang banyak dan caairan
gelap bisa mengalir melalui vagina.
b. Hiperemesis
Penderita mengeluhkan mual dan muntah yang berat. Hal ini
merupakan akibat dari peningkatan hormon Beta HCG
c. Hipertiroid
Gejala meliputi takikardia,tremor kulit yang hangat,demam, banyak
keringat.
d. Pada pemeriksaan fisik ditemukan umur kehamilan tidak sesuai
dengan besarnya uterus (tinggi fundus uteri), disebabkan oleh
pertumbuhan trofoblastik yang eksesif dan tertahannya darah dalam
uterus.
e. Tidak adanya gerakan janin melainkan keluarnya versikel-versikel
seperti anggur yang keluarnya sekret yang kontinue dan intermitten.
f. Ditemukan gejala preeklampsia (27% kasus) dengan karakteristik
gejala tekanan darah tinggi dan edema dengan hiperefleksia.
g. Kista theca lutein,yaitu kista ovarium yang diameternya berukuran >6
cm yang diikuti oleh pembesaran ovarium.
3. Pada Mola parsial penderita biasanya mengeluhkan gejala seperti abortus
inkomplet seperti adanya perdarahan pervaginam dan tidak adanya denyut
jantung janin. ( Yulianingsih,2009)

F. Penatalaksanaan
1. Terapi

Jika perdarahan banyak dan keluar jaringan mola atasi syok dan perbaiki
keadaan umum dengan pemberian cairan dan transfusi darah. Tindakan
pertama adalah melakukan manual digital untuk pengeluaran sebanyak
mungkin jaringan dan bekuan darah barulah dengan kuretase.

2. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis.


3. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di
mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik
dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak
teratur atau spotting, pembesaran abnormal uterus, pelunakan serviks dan
korpus uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pastikan
tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan
perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson.
4.  Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera.
5. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi
uterus).
6. Periksa Ulang ( Follow up)
Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Selain dari
penanganan di atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang
dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa, yaitu : Segera lakukan
evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung
berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan
kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap
perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus
secara tepat). Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari
kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan
peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian
hingga pengosongan kavum uteri selesai. Kenali dan tangani komplikasi
seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah
prosedur evakuasi. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600
mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi. Kadar hCG diatas 100.000
IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar
uterus atau invasif), berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta
besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Selama pemantauan,
pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila
masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi.

G. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rontgen: tidak ditemukan kerangka bayi.
b. HCG: meningkat dari biasa
c. USG: tidak ada gambaran janin dan denyut jantung janin
d. Uji sonde: tidak ada tahanan.

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Anamnese
a. Identitas klien
Biodata: mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi;
nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat.
b. Keluhan utama, kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya
perdarahan pervaginam berulang.
c. Riwayat kesehatan dahulu
d. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas:
 Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi
ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan
pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari
usia kehamilan.
   Riwayat kesehatan masa lalu: kaji adanya kehamilan
molahidatidosa sebelumnya, apa tindakan yang dilakukan, kondisi
klien pada saat itu.
 Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah
dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di
mana tindakan tersebut berlangsung.
 Riwayat kesehatan reproduksi: kaji tentang menorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan
adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala
serta keluhan yang menyertainya.
 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana
keadaan kesehatan anaknya.
 Riwayat seksual: kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya.
e. Data psikologis
f. Data psikospiritual
g. Data sosial dan ekonomi
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Pada abdomen besar seperti kehamilan biasanya.Pembesaran uterus
tidak sesuai lebih besar dengan kehamilan sebenarnya. Pada Genetalia
eksternal dilakukan pemeriksaan genetalia eksternal menggunakan
speculum terlihat adanya pengeluaran darah pervaginam dan terlihat
gelembung gelembung mola seperti buah anggur serta terdapat
perdarahan yang sedikit atau banyak tidak teratur warna tengguli tua
atau kecoklatan seperti bumbu rujak.
b. Palpasi
Pemeriksaan Leopold I : terasa bulat,lebar, Leopold II : tidak teraba
bolotemen, Leopold III dan IV : tidak dilakukan.
c. Auskultasi
DJJ : Tidak terdengar denyut jantung

3. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Mansjoer dkk (2005) pemeriksaan diagnostik pada Mola
hidatidosa antara lain:
a. Pada tes Acosta Sison dapat dikeluarkan jaringan Mola,
b. Pada tes Hanifa Sonde dapat masuk tanpa tahanan dan diputar 360 0
dengan deviasi sonde kurang dari 100,
c. Peningkatan kadar beta Hcg darah atau urin,
d. Ultrasonografi menunjukkan gambaran badai salju (snow flake
pattern),
e. Foto toraks pada gambaran emboli udara,
f. Pemeriksaan T3 dan T4  bila ada gejala tirotoksikosis.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran uterus
2. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya
perdarahan
3. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahun tentang prosedur
4. Resiko infeksi berhubungan dengan histerektomi

C. Perencanaan

Nyeri akut NOC: NIC:


a. Pain level a. Kaji nyeri secara
b. Comfort level komprehensif termasuk
Kriteria Hasil: lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan
a. Mampu mengontrol nyeri faktor presipitasi
b. Melaporkan bahwa nyeri b. Kaji kultur yang
berkurang mempengaruhi respon
c. Mampu mengenali skala nyeri
nyeri c. Kurangi faktor presipitasi
d. Menyatakan rasa nyaman nyeri
setelah nyeri berkurang d. Tingkatkan istirahat
e. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
f. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
g. Kolaborasi dengan dokter
jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
h. Evaluasi keefektivan
kontrol nyeri
Kekurangan NIC: NOC:
volume a. Fluid balance a. Monitor status hidrasi
cairan b. Nutritional status: food and (kelembaban membran
fluid intake mukosa, nadi adekuat,
Kriteria Hasil: tekanan darah ortostatik)
b. Monitor vital sign
a. Mempertahankan urine c. Monitor masukan
output makanan/cairan dan hitung
b. Tekanan darah, nadi, suhu intake kalori harian
tubuh dalam batas normal d. Berikan cairan IV
c. Tidak ada tanda tanda e. Dorong masukan oral
dehidrasi, elastisitas turgor f. Berikan penggantian
kulit baik, membran nasogatrik sesuai output
mukosa lembab, tidak ada g. Tawarkan snack
rasa haus yang berlebih. h. Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
i. Kolaborasi degnan dokter
Resiko tinggi NOC: NIC:
infeksi Tissue Integrity: Skin and a. Monitor kulit dan
Mucous kemerahan
Kriteria Hasil: b. Hindari kerutan pada
a. Integritas kulit yang baik tempat tidur
bisa dipertahankan c. Jaga kebersihan kulit agar
(sensansi, elastisitas, tetap bersih dan kering
temperatur, hidrasi, d. Oleskan lotion atau
pigmentasi) minyak/ baby oil pada kulit
b. Tidak ada lesi pada kulit e. Mandi dengan sabun dan
c. Perfusi jaringan baik air hangat
d. Mampu melindungi kulit
dan mempertahankan
kelembaban kulita dan
perawatan alami