Anda di halaman 1dari 10

Nama : EVITA ZEVANYA

NIM : 41180243
WORKPLAN PARASITOLOGI
PEMERIKSAAN FESES DAN ANAL SWAB
Dr. Christiane M.Sooai, M. Biomed

1. Pemeriksaan Feses Kualitatif


- Metode : Natif
- Tujuan : Mengetahui ada tidaknya eritrosit, leukosit, sel-sel epitel, telur cacing, kista, trofozoit,
dan cacing dalam feses yang diperiksa.
- Prinsip : Menggunakan larutan Lugol atau Eosin 2% dan NaCl. Penggunaan Eosin untuk
membedakan telur cacing dengan kotoran disekitarnya (melihat morfologi), karena Eosin
memberi latar belakang merah sehingga telur cacing berwarna kuning. NaCl untuk melihat
motilitas parasit jika tinja segar.
- Bahan :
a. Lugol/Eosin 2%
b. NaCl fisiologis
c. Feses
- Alat :
a. Object glass. e. Label
b. Deck glass f. Bolpoin
c. Stik aplicator (lidi). g. Tisu
d. Pipet h. Mikroskop
- Cara Kerja :
Teteskan 1 tetes Lugol
Persiapkann alat dan Berilah label identitas pada ujung kanan dan 1
bahan pasien pada object glass tetes NaCl pada ujung kiri
object glass

Ambil feses dengan stik Ambillah feses


Campurlah stik aplikator
aplikator baru, campurkan dengan menggunakan
pertama feses pada Lugol,
dengan NaCi, lalu buanglah stik aplikator
lalu buanglah stik tersebut
stik tersebut

Amati preparat dengan Tutuplah masing-masing


Jika menemukan parasit, mikroskop menggunakan campuran dengan deck
amati dengan perbesaran perbesaran 100x dengan glass (jangan ada
400x, catatlah hasilnya. metode zigzag gelembung)
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243
2. Pemeriksaan Feses Kuantitatif
- Metode : Kato Katz
- Tujuan : Mengetahui ada tidaknya infeksi cacing tambang Ancylostoma lumbricoides,
Trichuris trichiura, hookworm, dan Schiastosoma spp. Pada feses yang diperiksa
- Prinsip : Malachite green digunakan untuk memberikan latar belakang hijau sehingga terlihat
telur atau cacing pada sediaan.
- Bahan :
a. Feses
b. Malachite green
c. Cellophane strip (direndam dalam Methylene Blue 24 jam)
- Alat :
a. Kertas/form g. Saringan kawat/plastik
b. Bolpoin h. Alat hitung/counter
c. Spatula plastik kecil i. Mikroskop
d. Cetakan standar Kato Katz j. Forcep
e. Object glass k. Stik aplikator
f. Aluminium foil
- Cara Kerja :
Sebelum pemakaian, pita selophane dimasukkan dalam larutan Melachite Green selama 24 jam.

Taruhlah cetakan standar


Persiapkan alat Beri label identitas
Kato Katz diatas object glass
dan bahan pasien pada object
(dibagian tengah)
glass

Feses di aplikasikan diatas


Ambillah feses yang Homogenkan feses, lalu
kertas (30 mg), pasanglah
telah tersaring dengan ambil dengan stik
saringan diatas feses, lalu
spatula, lalu cetaklah aplikator
tekanlah hingga keluar feses
pada cetakan Kato
yang telah tersaring
Katz, angkat cetakan

Periksalah preparat
Ambillah Cellophane Ratakan bagian spesimen dengan meletakkannya
strip dengan forcep, dengan menekan dengan diatas tulisan, jika
lalu pasanglah diatas object glass, setelah rata, tulisan dapat terbaca
object glass hingga biarkan pada suhu berarti preparat sudah
menutupi spesimen ruangan selama 1 jam tipis dan siap digunakan.

Amati dengan mikroskop dan catatlah hasilnya (Hookworm harus dibaca


dalam waktu 30 menit, STH dapat dibaca hingga beberapa bulan)
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243

- Cara menghitung telur cacing


Pemeriksaan kuantitatif dilakukan untuk mengetahui intensitas infeksi atau berat ringannya
penyakit melalui jumlah telur cacing per gram tinja (egg per gram/EPG) pada setiap jenis cacing
:

R merupakan berat feses sesuai ukuran lubang karton(mg), untuk program cacingan = 40 mg.
- Klasifikasi intensitas infeksi
Klasifikasi intensitas infeksi merupakan angka serangan dari masing-masing jenis cacing, yang
digolongkan sebagai berikut :
o Infeksi sangat ringan 1-9 (15-149 butir telur)
o Infeksi ringan 10-24 (150-375 butir telur)
o Infeksi sedang 25-49 (375-574 butir telur)
o Infeksi berat 50 (750 butir telur)
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243

3. Pemeriksaan Anal Swab


- Tujuan : Mengetahui ada tidaknya telur Enterobius vermicularis pada feses yang diperiksa.
- Prinsip : Telur Enterobius vermicularis (cacing kremi) biasanya diambil (terutama pada anak-
anak) dari lipatan-lipatan anus, karena telur jarang terdapat dalam feses, pada malam hari
(nocturnal migration) cacing betina akan bermigrasi ke sekitar untuk telur, dan biasanya cacing
dewasa berada pada kolon dan caecum.
- Bahan :
a. Kapas
b. Plester selofan
- Alat :
a. Mikroskop
b. Object glass
c. Sendok/spatula kayu
- Cara Kerja :

Buka plester perlahan


Pasang plester selofan (sisi Tempelkan spatula kayu
dari object glass dan
perekat hadap kebawah) berhadaoan dengan sisi
putar plester hingga
pada object glass bawah object glass
melingkari ujung spatula

Buka lipatan pada kulit antar bokong dengan Pegang swab plaster yang sudahh
tangan kiri, tekan ujung spatula yang jadi dengan tangan kanan sambil
terbungkus plester pada beberapa tempat menekan object glass pada
dikulit sekitar anus sendok dengan mantap

Angkat object glass dan lipat kembali plester Periksa dibawah mikroskop
seperti semula, sisi perekat menghadap dengan pembesaran objektif
kebawah, pastikan plester merekat dengan 10x. Carilah telur Enterobius
benar pada kaca objek dengan cara menekan vermicularis.
dengan kapas
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243
Laporan Praktikum Parasitologi
Pemeriksaan Tinja dan Anal Swab
“Metode Kuantitatif : Kato Katz”

A. Pendahuluan
Kecacingan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sering ditemukan di
negara berkembang termasuk Indonesia. Kecacingan adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh parasit, yaitu cacing. Berdasarkan data Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2015, cacing
yang banyak menginfeksi anak-anak di Indonesia antara lain Ascaris lumbricoides, Ancylostoma
duodenale, Necator americanus, dan Trichuris trichiura. Cacing-cacing tersebut tergolong dalam
soil-transmitted helminth. Faktor risiko terjadinya infeksi STH ialah faktor biologis, sosial, tingkah
laku, dan faktor lingkungan seperti kemiskinan, sanitasi, dan hygiene yang buruk. Cacing-cacing
ini di transmisikan melalui rute oral-fecal, oleh karena itu untuk mendeteksi keberadaan cacing
dalam tubuh, dilakukanlah pemeriksaan feses.

Pemeriksaan feses diindikasikan jika terjadi diare dan konstipasi, adanya lendir atau darah pada
tinja, ikterus, mengalami gangguan pencernaan, dan dilakukan pada suspect penyakit
gastrointestinal. Pemeriksaan feses juga dilakukan untuk mendiagnosis kecacingan, pemeriksaan
laboratorium ini juga penting untuk menentukan tingkat atau stadium infeksi kecacingan. Metode
pemeriksaan feses berkaitan dengan kecacingan antara lain metode kualitatif dan metode
kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk menentukan positif atau negatif cacingan dan
metode kuantitatif digunakan untuk menentukan intensitas infeksi atau berat ringannya kecacingan
berdasarkan jumlah telur cacing per gram tinja. Pada laporan ini, akan dijelaskan mengenai metode
kuantitatif Kato Katz. Dasar teori dari pemeriksaan Kato-Katz ialah dengan penambahan melachite
green untuk memberi latar belakang hijau akan memperlihatkan telur cacing dengan jelas dibawah
mikroskop.

Metode Kato Katz dikembang kan oleh dr, Kan Kato dan dr. Momoshige Miura pada tahun
1954 di Jepang. Metode ini menyajikan teknik baru “cellophane thick-smear” menggunakan direct
fecal sampling. Setelah mengalami berbagai perbaikan dan evaluasi, metode ini digunakan dalam
program pengendalian kecacingan di Jepang. Pada saat itu, metode Kato dianggap paling efektif
dan praktis untuk mendeteksi dan mengetahui tingkat infeksi kecacingan. Banyak publikasi
mengatakan bahwa teknik ini memiliki sensitivitas yang baik dan biaya yang minimal sehingga
dianggap efektif dalam survei epidemiologi. Studi kuantitatif dengan menggunakan metode Kato
dilakukan pada tahun 1968 oleh Martin dan Beaver untuk mendeteksi telur cacing tertentu. Ketika
ditambahkan sejumlah telur Scistosoma mansoni dalam tinja manusia, metode Kato-Katz
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243
menunjukkan hasil yang sangat baik. Studo ini membuktikan bahwa metode Kato sangat sensitif,
memiliki variasi minimal antar sampel, dan sederhana untuk dilakukan dalam studi lapangan.
Metode Kato-Katz kemudian dimodifikasi pada penggunaan di lapangan tahun 1972 oleh
sebuah tim parasitologi dari Brazil dan kemudian disebut sebagai Naftale Katz. Metode modifikasi
ini dicanangkan WHO sebagai gold standard untuk berbagai infeksi cacing. WHO mengadopsi
metode ini untuk mendiagnosis secara kualitatif dan kuantitatif infeksi intestinal akibat cacing,
seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, hookworm, dan Schistosoma mansoni, terutama
dalam pengendalian kasus kecacingan. Metode Kato-Katz dikonfirmasi telah digunakan oleh
banyak laboratorium di berbagai belahan dunia untuk mediagnosis kecacingan.

B. Tujuan Pemilihan Metode Kato-Katz


Pada referensi dikatakan bahwa penggunaan metode Kato-Katz dalam penelitian atau diagnosis
dikarenakan metode ini sering ditemukan pada pemeriksaan feses diberbagai laboratorium , bersifat
sederhana, memiliki sensitivitas tinggi, mudah, dan murah untuk dilakukan.
Tujuan digunakannya metode Kato-Katz ialah untuk mendeteksi keberadaan telur cacing
parasit, mendiagnosis infeksi cacing parasit, dan menentukan berat ringannya infeksi cacing. Secara
spesifik, metode ini digunakan untuk mendeteksi telur cacing soil-transmitted helmith (STH) dan
Schistosoma mansoni.

C. Alat dan Bahan yang Digunakan pada Metode Kato-Katz

Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan feses dengan metode Kato-Katz (bahan ini berupa
larutan untuk memulas selophane) :
- Aquadest (6%) 1oo cc
- Giserin 100 cc
- Larutan Melachite Green 3% 1 cc
- Sampel tinja

Alat yang digunakan dalam pemeriksaan feses dengan metode Kato-Katz :


- Stik aplikator gepeng, terbuat dari kayu.
- Penyaring, terbuat dari logam tahan karat, nilon, atau plastik dengan 60-105 lubang (kawat
saring).
- Cetakan, terbuat dari logam tahan karat, plastik, atau kardus.
- Selofan, tebal 40-50 mikrometer, dengan strip berukuran 25 mm x 30 mm atau 25 mm x 35
mm.
- Secarik kertas (misalnya kertas koran).
- Baskom plastik.
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243
- Karton berlubang.
- Kertas toilet atau tissue menyerap cairan.
- Stoples beralas datar.
- Pinset.
- Mikroskop.
- Object glass.
- Sarung tangan karet (handscoon)
- Counter

D. Cara Kerja (Pemeriksaan Feses dengan Metode Kato-Katz)

1. Cara Pengambilan Tinja (bisa defekasi alami atau rectal touche)


(a) Lakukan wawancara mengenai pengetahuan tentang kecacingan dan kebiasaan hidup sehat
dengan kuisoner.
(b) Bagikan pot tinja yang dengan kuisioner.
(c) Jumlah tinja yang diambil kurang lebih 100 mg (sebesar kelereng atau ibu jari tangan).
(d) Spesimen harus diperiksa segera 30-50 menit setelah pengambilan atau jika dilakukan
penundaan pemeriksaan, spesimen dapat diletakkan pada lemari es (suhu 2-8 derajat
Celcius) atau diberi Formalin 5-10% hingga terendam. Jika tidak demikian telur cacing
tambang dapat rusak atau menetas menjadi larva.

2. Cara Membuat Larutan Kato


Yang dimaksud dengan larutan kato ialah cairan yang digunakan untuk merendam atau
memulas selofan dalam pemeriksaan.
(a) Campur dengan perbandingan : aquadest 100 bagian, gliserin 100 bagian, dan larutan
Melachite Green 3% 1 bagian.
(b) Timbang Melachite Green sebanyak 3 gram lalu masukkan dalam botol/beker glass dan
tambahkan 100 cc aquadest sedikit demi sedikit lalu aduk/kocok hingga homogen, maka
diperolehlah larutan Malchite Green 3%.
(c) Masukkan 100 cc aquadest ke dalam baskom plastik kecil, lalu tambahkan 100 cc gliserin
sedikit demi sedikit, kemudian tambahkan 1 cc larutan Malachite Green 3%. Setelah itu
aduk hingga homogen dan didapatkah larutan Kato 201 cc.

3. Cara Merendam/Memulas Selofan


(a) Buatlah bingkai kayu segi empat sesuai dengan ukuran waskom plastik kecil.
(b) Lilitkan selofan pada bingkai tersebut.
(c) Rendam selama kurang lebih 18 jam dalam larutak Kato.
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243
(d) Sebelum pemakaian, gunting selofan yang telah direndam sepanjang 3 cm.

4. Cara Pemeriksaan Kualitatif (modifikasi teknik Kato)


A. Cara membuat preparat :
(a) Gunakan handscoon untuk mengurangi kemungkinan infeksi.
(b) Berilah label pada object glass sesuai yang tertulis pada pot tinja.
(c) Ambillah tinja dengan lidi sebesar kacang hijau dan diletakkan pada object glass.
(d) Tutup dengan selofan yang telah direndam dengan larutan Kato, lalu ratakan tinja
dibawah selofan dengan object glass.
(e) Biarkan sediaan selama 20-30 menit.
(f) Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100x atau jika diperlukan 400x.
(g) Tentukan hasil pemeriksaan positif atau negatif telur cacing.
B. Cara menghitung prevalensi :
- Prevalensi seluruh cacing = jumlah spesimen positif telur cacing minimal satu jenis
cacing x 100% jumlah spesimen yang diperiksa
-Prevalensi cacing (gelang/cambuk/tambang) = jumlah spesimen positif telur cacing
(gelang/cambuk/tambang) x 100% jumlah spesimen yang diperiksa

5. Cara Pemeriksaan Kuantitatif


A. Cara membuat preparat :
(a) Saringlah tinja dengan menggunakan kawat saring.
(b) Letakkan karton berlubang diatas slide kemudian masukkan tinja dengan selofan
yang sudah direndam dalam larutan Kato.
(c) Ambillah karton berlubang dan tutuplah tinja dengan selofan yang sudah direndam
dalam larutan Kato.
(d) Ratakan dengan object glass hinngga merata, biarkan kurang lebih 20-30 menit.
(e) Amati dibawah mikroskop dan hitunglah jumlah telur yang ada pada sediaan
tersebut.
B. Cara menghitung telur cacing, hasil pemeriksaan tinja secara kuantitatif menunjukkan
intensitas infeksi yaitu jumlah telur cacing per gram tinja (egg per gram/EPG) tiap jenis
cacing. R = berat tinja sesuai ukuran lubang karton (mg), program cacing = 40 mg.
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243
Klasifikasi intensitas infeksi merupakan angka serangan dari masing-masing cacing
yang digolongkan menjadi ringan, sedang, dan berat.

6. Pembuangan Limbah Laboratorium


(a) Wadah dari kertas, plastik, stik.lidi diberi desinfektan (sodium hipoklorit), kemudian
dibakar.
(b) Wadah dari gelas/kaca atau metal ditambah Formalin 10%, lalu didiamkan selama 1
jam atau lebih kemudian cuci dengan air bersih.
(c) Object glass bekas direndam dalam larutan yang diberi desinfektan selama kurang lebih
1 jam, kemudian cuci dengan air bersih. Untuk melepas kaca penutup, gunakan lidi.
(d) Handscoon dibuang ke tempat sampah limbah medis.

E. Pembahasan : Kekurangan dan Kelebihan Metode Kato-Katz


- Kelebihan dari metode Kato-Katz :
(a) teknik pemeriksaan sederhana jika digunakan dalam penggunaan studi lapangan sehingga
cocok untuk digunakan dalam pemeriksaan massal
(b) biaya lebih murah
(c) metode ini mudah dan murah karena tidak menggunakan deck glass yang digantikan oleh
selofan
(d) morfologi telur cacing terlihat jelas dibawah mikroskop, hal ini sangat penting untuk
kebutuhan diagnosis
(e) sensitivitas yang tinggi untuk mendeteksi Schistosoma mansonia, A. lumbricoides, dan T.
trichiura.
- Kekurangan dari metode Kato-Katz :
(a) membutuhkan sampel feses dalam jumlah yang cukup banyak
(b) tidak mampu mendeteksi adanya larva atau kista protozoa
(c) sensitivitas rendah jika intensitas infeksinya rendah
(d) kapasitas yang rendah dalam mendiagnosis infeksi cacing tambang
(e) berpotensi menginfeksi pemeriksa jika tidak dilakukan dengan prosedur APD yang benar
(f) ada kemungkinan kesalahan dalam menghitung telur cacing jika jumlah telur sangat
banyak/bertumpuk-tumpuk
Nama : EVITA ZEVANYA
NIM : 41180243

Referensi :
-J. Richardson, Dennis; Gross, Jeanette; Smith, Michael C. (July 2008). "Comparison of Kato–Katz
Direct Smear and Sodium Nitrate Flotation for Detection of Geohelminth Infections".
Comparative Parasitology.
-Chairlan, & Lestari, E. (2004). Pedoman Teknik Dasar untuk Laboratorium Kesehatan Edisi 2. Jakarta:
EGC.

-Gandahusada, dkk. 2000. Mikrobiologi dan Kedokteran FK UI. Jakarta.

-Brown, H. 1969. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta : Gramedia.

-Genchi, M., Potters, I., Kaminsky, R. G., Montresor, A., & Magnino, S. (2019). Bench aids for the
diagnosis of intestinal parasites second edition. Geneve: World Health Organization 2019.

-Mejia, R., Weatherhead, J., & Hotez, P. J. (2020). Intestinal Nematodes (Roundworms). In J. E.
Bennet, R. Dolin, & M. J. Blaser, Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of
Infectious Diseases Ninth Edition (pp. 3436-3442). Philadelphia: Elsevier.

-Komiya Y, Kobayashi A. 1966. Evaluation of Kato’s thick smear technique with a cellophane cover
for helminth eggs in feces. Jpn J Med Sci Biol.

Anda mungkin juga menyukai