Anda di halaman 1dari 9

“FINAL TEST SEMESTER 8 (GENAP)”

Mata Kuliah Reformasi Administrasi Negara


Dosen Pembimbing : Djayeng Turano Gunade, S.Sos., M.AP

Curiculum Vitae
MUHAMMAD ROYDINNOR
(NPM.16.18.05311)
Lokal 8C Regular Plus (eksekutif)
Nomor Absen: 23

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI AMUNTAI


(STIA AMUNTAI)
2020
SOAL.
1) Jelaskan secara singkat bagaimana awal munculnya reformasi administrasi
negara?
2) Menurut Anda, bagaimana reformasi birokrasi yang ada di Indonesia pada
masa sekarang? Sudah maksimal? Jelaskan dan berikan contohnya
3) Kita ketahui pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap tingkat
perekonomian diwilayah kita, maka perlu reformasi administrasi negara
yang tepat untuk meningkatkan PAD diwilayah kita. Gunakan metode
analisa SWOT, untuk mencari sumber-sumber baru PAD (Pendapatan Asli
Daerah) pada salahsatu Kecamatan diwilayah anda?

JAWABAN.

1) Reformasi administrasi dilakukan sebagai respons terhadap persepsi dan


pandangan negative banyak pihak terhadap system administrasi yang selama ini
terkesan lamban, berbelit-belit, tidak professional, dan tidak bersih/tidak
akuntabel. Seperti halnya birokrasi yang menurut Webwe merupakan bentuk
aktivitas yang menuntut koordinasi ketat terhadap kegiatan sejumlah besar
orang, dan melibatkan keahlian khusus yang memerlukan strukturasi dalam
organisasi administrasi publicpun merupakan merupakan bagian dari birokrasi
yang berhubungan dengan konsep-konsep pencatatanj, pembuatan peraturan dan
kebijakan,n serta administrasi pelayanan public. Menurut Philip J. Cooper
(1998) menyebutkan banyaknya tantangan yang dihadapi dari administrasi
public seperti : keberagaman (diversity), akuntabilitas (accountability),
masyarakat sipil (civil society), privatisasi, birokratisasi, demokrasi, pengayaan
kembali (re-engineering), pemberdayaan akibat pesatnya perkembangan
teknologi dan ototnomi daerah. Owen Hughes (1998) juga menambahnkan
bahwa krisis manajemen, kondisi budaya administrasi, pengembangan sumber
daya manusia, dan sebagainya juga menjadi dorongan sekaligus tantangan bagi
system administrasi untuk menjadi lebih baik. Perubahan bagi system
administrasi public yang telah ada tidak saja ditekankan pada teknik-teknik
administrasi dan ptraktik-praktik administrasi, melainkan pada semua elemen
seperti sumber daya manusia, kepemimpinan, pola piker, orientasi, struktur
birokrasi, perangkat yang digunakan dan sebagainya. Itulah sebabnya konsep-
konsep pemberdayaan, pengembangan, pengayaan, dan lain-lain menjadi kunci
utama bagi perubahan atau reformasi administrasi.

Kita ketahui bahwa tujuan dari reformasi administrasi sendiri sebenarnya ada
tiga hal, yakni (1) perbaikan tatanan yang dianggap sebagai sifat instrinsik
pemerintah dalam masyarakat tradisional dan modern, (2) perbaikan metode atau
pembaharuan teknik administrasi perlu juga dilakukan, (3) tujuan reformasi
administrasi adalah untuk perbaikan kinerja atau reformasi programatik.
Reformasi administrasi adalah (1) restrukturisasi, struktur yang awalnya
menghambat dan berbelit-belit, harus diubah menjadi struktur yang lebih
ramping tetapi efisien dan efektif, (2) partisipasi dari semua unsure pelaksana
dan pembuat kebijakan administrasi public perlu dilibatkan, (3) sumber daya
manusia yang diperlukan adalah yang lebih professional dan lebih cekatan, (4)
akuntabilitas administrasi diperlukan bagi terciptanya system yang bertanggung
jawab dan transparan, (5) kemitraan antara pemerintah dan swasta, sehingga
tidak ada lagi segregasi yanglebih kuat sehingga gep keduanya semakin besar
yang ahirnya merugikan kedu belah pihak. Karena itu reformasi administrasi
diarahkan pada perwujudan 10 prinsip bagi kebaikan system
administrasi/birokrasi. Menurut mereka, reformasi administrasi haruslah
menghasilkan pemerintahan yang bersifat antara lain : katalistik, milik rakyat,
kompetitif, digerakkan oleh misi, berorientasi hasil, berorientasi pada pelanggan,
wirausaha, antisipatif, desentralisasi, dan berorientasi pasar. Jika 10 prinsip ini
dimiliki dan dijalankan dalam reformasi administrasi, maka tujuan yang
diharapkan akan bisa berhasil guna dengan baik.

Administrasi public dapat berperan positif dalam mengawal proses


demokratisasi sampai pada tujuan yang dicita-citakan, karena pada dasarnya
administrasi public berurusan dengan persoalan bagaimana menentukan. Dengan
kata yang berbeda, administrasi public bukan saja berurusan dengan cara-cara
yang efisien untuk melakukan proses demokratisasi, melainkan juga mempunyai
kemampuan dalam menentukan tujuan proses demokratisasi itu sendiri, terutama
dalam bentuk penyelenggaraan pelayanan  public  secara  efektif  sebagai wujud
dari penjaminan hak-hak konstitusional seluruh warga Negara. Kita melihat
kecenderungan administrasi public yang berkembang saat ini dan telah
mendukung proses demokratisasi, karena sudah tidak terlalu kirarkisndan
parochial, tetapi lebih mirip sebuah jaringan. Kecenderungan ini mempunyai
implikasi yang sangat penting dan positif terhadap perkembangan demokrasi,
termasuk tanggungjawab yang berubah terhadap kepentingan public, terhadap
pemenuhan prefensi public, dan terhadap perluasan liberalisasi politik,
kewarganegaraan, dan tingkat kepercayaan public. Administrasi public yang
berbentuk jaringan dapat mengatasi hambatan nenuju pengelolaan yang
demokratik dan dapat membuka kemungkinan untuk memperkuat pemerintahan
yang bergantung kepada nilai-nilai dan tindakan-tindakan administrasi pub
Reformasi administrasi dilakukan sebagai respons terhadap persepsi dan
pandangan negative banyak pihak terhadap system administrasi yang selama ini
terkesan lamban, berbelit-belit, tidak professional, dan tidak bersih/tidak
akuntabel. Seperti halnya birokrasi yang menurut Webwe merupakan bentuk
aktivitas yang menuntut koordinasi ketat terhadap kegiatan sejumlah besar
orang, dan melibatkan keahlian khusus yang memerlukan strukturasi dalam
organisasi administrasi publicpun merupakan merupakan bagian dari birokrasi
yang berhubungan dengan konsep-konsep pencatatanj, pembuatan peraturan dan
kebijakan,n serta administrasi pelayanan public.
2) Birokrasi pemerintah sejatinya merupakan mesin penggerak pembagunan dan
pelayanan publik. Sehingga reformasi birokrasi sangat penting dalam
mewujudkan pembangunan dan pelayanan publik yang prima. Namun, di
Indonesia masih terdapat permasalahan yang menyebabkan reformasi birokrasi
belum optimal, seperti pola pikir birokrat dan komitmen pemimpin. Seperti yang
dikemukakan oleh Dwiyanto (2004) bahwa pola pikir birokrat sebagian besar
ditempatkan sebagai penguasa bukan pelayan publik sehingga perubahan sulit
dilakukan demi meningkatkan kualitas pelayanan publik. Oleh karena itu,
muncullah berbagai macam permasalahan yang sering kita temukan dan secara
langsung maupun tidak langsung merugikan masyarakat, seperti adanya
pungutan liar. Selain itu, kurang profesionalnya birokrat dalam menjalankan
tugas dan kewajibannya, seperti sikap yang kurang baik kepada masyarakat
dalam hal melayani dan budaya afiliasi yang melekat sehingga mendorong pada
praktik KKN.

Faktor lain penyebab sulitnya pelaksanaan reformasi birokrasi adalah komitmen


pemimpin. Hal ini berkaitan juga dengan faktor yang pertama, yakni anggapan
bahwa birokrat bahkan pemimpin merupakan penguasa bukan pelayan publik.
Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gap antara pemerintah dengan
masyarakat atau hubungan antara pemerintah dengan masyarakat yang masih
belum setara. Padahal, di era demokrasi ini, partisipasi masyarakat sebagai
pelaksanaan hak menjadi penting dalam penyelenggaraan negara dan pelayanan
publik. Oleh karena itu, diperlukan sosok pemimpin yang kredibel, berintegritas
tinggi, memiliki visi masa depan yang baik, dan menjadi panutan. Selain itu,
pemimpin harus memiliki komitmen dalam melakukan modernisasi birokrasi
(inovator) bagi reformasi birokrasi serta berkomitmen dalam menegakkan
hukum untuk mencegah maladministrasi dan KKN. Oleh karena itu, dalam
mewujudkan reformasi birokrasi bukan hanya pola pikir birokrat dan komitmen
pemimpin yang menjadi poin penting, akan tetapi masyarakat pun perlu
dilibatkan dengan menciptakan transparansi dan partisipasi publik dalam
penyelenggaraan pemerintahan. Sehingga timbullah kesetaraan hubungan serta
check and balance antara pemerintah dengan masyarakat.

Reformasi dalam Pelayanan Publik

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa reformasi birokrasi akan


berpengaruh dan memberikan dampak positif pada pelayanan publik. Dengan
kata lain, reformasi birokrasi akan sejalan pula dengan reformasi pelayanan
publik. Mengapa demikian? Karena setiap penyelenggaraan negara sebenarnya
akan bermuara pada pemberian pelayanan publik. Pada mulanya, transformasi
pelayanan publik merupakan adopsi dari nilai-nilai pada sektor privat.
Akibatnya, pelayanan yang diberikan berorientasi pada keuntungan sehingga
masyarakat sulit untuk mendapat pelayanan, khususnya pelayanan dasar, seperti
contoh pada bidang kesehatan dan pendidikan dengan adanya rumah sakit
swasta, sekolah swasta, dan sebagainya. Namun, seiring dengan berjalannya
waktu, pelayanan publik yang notabene dominan pada nilai-nilai sektor privat
tersebut dapat beriringan dengan pelayanan yang menerapkan nilai-nilai pada
sektor publik. Sehingga keduanya dapat memenuhi kebutuhan barang dan hak
dasar masyarakat, meskipun harus tetap ada komitmen, peraturan perundang-
undangan, dan pengawasan. Harapannya adalah dapat mewujudkan pelayanan
publik yang terintegrasi antar keduanya. Kemudian, masyarakat juga dapat
mengakses pelayanan publik tersebut serta mendapat perlindungan terhadap
kepentingannya.

Pada dasarnya reformasi pelayanan publik yang telah dilakukan oleh pemerintah
adalah debirokratisasi, privatisasi, dan desentralisasi. Adapun debirokratisasi
dilakukan untuk mendorong birokrasi pemerintah kembali kepada misi
utamanya. Kemudian, privatisasi berfungsi untuk menstimulus pemerintah agar
meningkatkan daya saing dan kualitas pelayanan, seperti sektor privat, kemudian
berdampingan dengan sektor privat dalam menyediakan pelayanan publik
sehingga pemerintah dapat fokus terhadap pemenuhan kebutuhan pelayanan
dasar yang strategis. Sedangkan desentralisasi yang notabene kerap
menimbulkan polemik karena kelemahannya menimbulkan gap antar daerah.
Meskipun demikian, terdapat kelebihan, yakni fokus pelayanan yang semakin
dekat dengan masyarakat sehingga pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan pelayanan publik menjadi lebih optimal. Adapun strategi dalam
menyelesaikan permasalahan kaitannya dengan desentralisasi yang dapat
dilakukan oleh pemerintah adalah kebijakan dan standar pelayanan yang tidak
membatasi inovasi dan kreativitas setiap daerah, pengawasan kebijakan dan
standar pelayanan oleh pemerintah pusat, kebijakan dan standar pelayanan yang
bertujuan untuk melindungi hak masyarakat, dan kebijakan serta standar
nasional untuk memperkecil ketimpangan kualitas dan kuantitas pelayanan
publik antar daerah. Sehingga reformasi pelayanan publik dapat berjalan dengan
baik.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa dalam reformasi birokrasi akan


berpengaruh pula pada reformasi pelayanan publik. Maka, untuk
menyeimbangkan kedua hal tersebut seperti yang tertera pada UU Nomor
25/2009 bahwa partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik
menjadi sangat penting. Alasannya, karena selama ini kita selalu berfokus pada
kewajiban pemerintah sebagai penyelenggara negara dalam; mewujudkan
pelayanan publik yang prima. Namun, kita kerap lupa terhadap hak masyarakat,
yaitu partisipasi. Padahal, partisipasi masyarakat dapat membantu pemerintah
dalam merumuskan pelayanan publik pun kebijakan serta perumusan standar
pelayanan. Berdasarkan UU tersebut pula telah diatur tentang peran Ombudsman
Republik Indonesia dalam menampung aspirasi maupun keluhan masyarakat
terhadap pelayanan publik dan sebagai pengawas dalam pelaksanaan pelayanan
publik di Indonesia, baik di pusat maupun daerah. Sehingga nantinya diharapkan
ada keseimbangan antara hak masyarakat dan kewajiban penyelenggara dalam
pelayanan publik. Kemudian, dapat terwujud pula sinergitas dan reformasi yang
dicita-citakan, baik pada aspek birokrasi maupun pelayanan publik.
3) Identifikasi Faktor Strategis Yang Mempengaruhi

Untuk dapat merumuskan strategi yang mungkin dilakukan oleh Pemkab


Barito Timur dalam pemungutan retribusi pelayanan pasar, diperlukan identifikasi
faktor-faktor strategis baik yang berasal dari internal maupun faktor eksternal
yang mempengaruhinya. Faktor internal dikelompokkan dalam srength dan
weakness. Faktor-faktor internal yang mendukung terwujudnya peningkatan
pemungutan retribusi dimasukkan sebagai Strength, sedangkan faktor internal
yang kurang mendukung dimasukkan sebagai weakness. Batas atau boundary
entitas untuk internal ini adalah Pemkab Barito Timur dan semua petugas di
bawahnya baik PNS maupun tenaga kontrak yang direkrut dalam rangka
pemungutan retribusi pasar. Sedangkan faktor di luar internal tersebut,
dikelompokkan dalam Identifikasi Faktor Strategis Yang Mempengaruhi.Untuk
dapat merumuskan strategi yang mungkin dilakukan oleh Pemkab Barito Timur
dalam pemungutan retribusi pelayanan pasar, diperlukan identifikasi faktor-faktor
strategis baik yang berasal dari internal maupun faktor eksternal yang
mempengaruhinya. Faktor internal dikelompokkan dalam srength dan weakness.
Faktor-faktor internal yang mendukung terwujudnya peningkatan pemungutan
retribusi dimasukkan sebagai Strength, sedangkan faktor internal yang kurang
mendukung dimasukkan sebagai weakness. Batas atau boundary entitas untuk
internal ini adalah Pemkab Barito Timur dan semua petugas di bawahnya baik
PNS maupun tenaga kontrak yang direkrut dalam rangka pemungutan retribusi
pasar.

1. Strenght (Kekuatan)
Yang menjadi kekuatan pertama untuk peningkatan pemungutan retribusi
pasar adalah pada adanya kesiapan aspek kelembagaan, terutama pada komitmen
dan keseriusan Disdagkopukm dalam peningkatan penerimaan retribusi. Dari
kesiapan kelembagaan Disdagkopukm Kabupaten Barito Timur khususnya dalam
Pengelolaan Pasar dalam meningkatkan penerimaan retribusi pelayanan pasar
telah memiliki komitmen dan keseriusan untuk mecapai target penerimaan
retribusi tahun selanjutnya. Dalam pencapaian target ini juga dibantu UPTD pasar
yang ada di beberapa wilayah kecamatan. Hal ini akan mempermudah
Disdagkopukm dalam memberikan bantuan pelayanan dan koordinasi terhadap
para petugas pengelola, pemungut retribusi pelayanan pasar, dan para pedagang
pasar.
Strength kedua adalah kerjasama dengan instansi lain yang telah cukup
baik. Pengelolaan retribusi pelayanan pasar memang tidak dapat dilakukan secara
mutually exclusive oleh Disdagkopukm Kabupaten Barito Timur, namun
diperlukan kerjasama dan saling koordinasi antara Disdagkopukm dengan OPD
lainnya, diantaranya Inspektorat, Badan Keuangan daerah dan Badan Lingkungan
Hidup.
Strength ketiga adalah telah diterapkannya e-retribusi (mulai 2020).
Dengan diterapkannya e-retribusi pada tahun 2020 diharapkan dapat
mengefektifkan penerimaan retribusi pasar karena dapat menghilangkan adanya
penyerahan uang secara langsung kepada petugas yang rawan akan terjadinya
kebocoran. Untuk itu dalam pelaksanaan e-retribusi juga perlu diterapkan sistem
pengawasan khusus dalam pelaksanaanya sehingga dapat mencapai hasil yang
diharapkan.

2. Weaknes (Kelemahan)
Yang menjadi kelemahan pertama dalam pemungutan retribusi pelayanan
pasar yang harus diperbaiki untuk mengurangi kemungkinan potensi penerimaan
yang hilang adalah kekurang lengkapan dan kurang akuratnya data pedagang,
terutama pedagang oprokan. Kekuranglengkapan data pedagang pasar ini sering
menjadi masalah apabila terjadi pemindahan pedagang saat terjadi revitalisasi
pasar. Begitu juga tidak tersedianya data pedagang oprokan. Belum terdatanya
pedagang oprokan yang menjadi wajib retribusi oprokan, dapat menjadi penyebab
vital tidak maksimalnya retribusi pasar, karena mengakibatkan tidak dapat
ditentukan target minimal perolehan retribusi oprokan dari pedagang oprokan
yang seharusnya diterima oleh Pemerintah daerah. Hal ini menjadi penyebab vital
hilangnya potensi penerimaan retribusi pasar dari jenis retribusi oprokan.
Retribusi oprokan, adalah jenis retribusi untuk pedagang di sekitar pasar yang
tidak menetap.
Kedua adalah kurangnya jumlah dan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) pengelola retribusi pasar. Kurangnya tenaga manusia dan kemampuan
dalam pengelolaan pasar dan pemungutan retribusi pasar, dapat menyebabkan
retribusi pasar tidak sepenuhnya terpungut dan terkelola dengan baik.
Ketiga adalah kurang baiknya pengelolaan dan penataan pasar. Penataan
pasar yang kurang rapi selain dapat menjadi penyebab minimnya pengunjung
pasar yang berakibat sepinya omset bagi pedagang, juga dapat menjadi penyebab
tidak maksimalnya pengisian daya tampung pasar.

3. Opportunities (Peluang)
Opportunity pertama adalah Ketergantungan Masyarakat dengan pasar.
Masyarakat Kabupaten Barito Timur mayoritas masih sangat bergantung kepada
pasar sebagai tempat berbelanja dalam memenuhi kebutuhan pokok dan
pelengkap sehari-hari.
Opportunitas kedua adalah ketertiban pedagang dalam pemenuhan
retribusi. Ketertiban Pedagang dalam membayar retribusi pelayanan pasar
ditunjukkan oleh bukti bahwa belum pernah terbitnya surat teguran maupun
peringatan kepada pedagang.

4. Threat (Ancaman)
Yang menjadi ancaman dari pengelolaan retribusi pelayanan pasar yang
harus dicarikan solusi yang pertama adalah lesunya kondisi perekonomian.
Dengan lesunya kondisi perekonomian, maka akan menurunkan tingkat daya beli
masyarakat yang akan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat yang juga
akan rendah. Jika konsumsi masyakat rendah, akan sediit jumlah masyarakat yang
berbelanja di pasar. Jika masyarakat yang berbelanja sedikit, maka banyak
pedagang yang akan mengalami penurunan pendapatannya bahkan dapat
bangkrut. Penurunan pendapatan pedagang akan mengurangi kemampuannya
membayar retribusi pelayanan pasar atau bahkan banyaknya pedagang yang
bangkrut akan langsung mengurangi potensi hasil pemungutan retribusi
pelayanan pasar.
Kedua adalah menjamurnya minimarket. Keberadaan minimarket yang
menjamur sampai ketingkat kecamatan dapat mengancam keberadaan Pedagang
dipasar kerana prilaku Konsumen yang mulai memilih minimarket daripada pasar
untuk melengkapi kebutuhannya.

Untuk merumuskan strategi yang tepat yang dapat dilakukan Pemkab


Barito Timur, dari identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal, kemudian
dilakukan analisis SWOT dan dirumuskan strategi yang tepat dari pasangan yang
memungkinan dari kondisi internal dan eksternalnya. Strategi yang dapat
dirumuskan ada 4 jenis yaitu: 1) Strategi SO yaitu strategi yang memaksimalkan
strength dengan memanfaatkan opporunitas yang ada; 2) Strategi ST, yaitu
strategi yang memaksimalkan strength untuk meminimasi ancaman yang ada; 3)
Strategi WO, yaitu strategi yang mengatasi kelemahan yang ada dengan
memanfaatkan peluang yang ada; dan 4) Strategi WT, yaitu strategi mengatasi
kelemahan yang ada dengan menghindari ancaman yang ada. Tabel berikut
merupakan ringkasan dari analisis SWOT yang dilakukan untuk merumuskan
strategi yang dapat dilakukan Pemkab Barito Timur dalam peningkatan hasil
pemungutan retribusi pasar untuk mendukung peningkatan PAD.
Tabel 4. Hasil Analisis SWOT untuk Perumusan Strategi Peningkatan
Pemungutan Retribusi Pelayanan Pasar di Kabupaten Barito Timur
Internal Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1. kesiapan aspek kelembagaan 1. kekuranglengkapan dan kurang akuratnya
2. kerjasama dengan instansi lain data pedagang
3. telah diterapkannya e-retribusi (mulai 2. kurangnya jumlah dan kualitas SDM
2018) 3. kurang baiknya pengelolaan dan penataan
4. adanya program revitalisasi pasar pasar
4. minimnya petunjuk teknis terkait
Eksternal pemungutan retribusi
Peluang (O) Strategi SO Strategi WO

1. Ketergantungan Masyarakat 1. Optimalisasi pemungutan retribusi 1. Peningkatan jumlah & kualitas SDM
pada pasar pelayanan pasar dengan tarif baru. pengelola pasar & pemungutan retribusi
2. ketertiban pedagang dalam 2. Optimalisasi penerimaan retribusi 2. Pendataan & updating data wajib retribusi
pemenuhan retribusi. melalui e-retribusi diseluruh pasar. periodik
3. adanya Peraturan Daerah 3. Penjaringan pedagang baru setelah 3. Penyusunan manual yg lebih teknis terkait
tentang kenaikan tarif revitalisasi sesuai manual penempatan pasar dan pungutan retribusinya
4. Kerjasama dengan dinas lain untuk 4. Peningkatan sistem pengawasan pengelolaan
mempromosikan pasar. pasar dan pemungutan retribusi pasar
Ancaman (T) Strategi ST Staretegi WT

1. lesunya kondisi 1. promosi pemanfaatan pasar 1. Promosi pemanfaatan pasar tradisional


perekonomian tradisional setelah revitalisasi. 2. Penataan pasar yang lebih menarik
2. menjamurnya minimarket, 2. Kerjasama antar dinas dalam pengunjung pasar.
pengendalian minimarket. 3. Pemberian petunjuk teknis fleksibel bagi
3. Peningkatan Sosialisasi program petugas pasar (pada berbagaii kondisi
revitalisasi pasar modern ekonomi)

Anda mungkin juga menyukai