Anda di halaman 1dari 32

Teori Biaya

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bisnis adalah kegiatan memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan konsumen dan
pihak terkait lainnya, dalam rangka mencari laba. Dengan demikian, bisnis yang layak
dilakukan adalah bisnis yang menghasilkan laba.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, ditemukan bahwa setiap usaha atau bisnis
menyimpan tiga kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu: pertama laba, kedua impas, dan
ketiga rugi. Semua pelaku bisnis mengharapkan kemungkinan yang pertama, namun peluang
untuk timbulnya kemungkinan yang kedua dan ketiga selalu terbuka. Bila dua hal terakhir
yang terjadi maka disebut dengan risiko bisnis.
Perusahaan untuk mencapai tujuannya (mendapatkan laba), perlu melakukan aktivitas
produksi yang berakibat timbulnya biaya. Dari sisi ini terlihat bahwa di satu sisi biaya
merupakan akibat dari kegiatan produksi, sedangkan disisi lain biaya juga berpengaruh
terbalik pada keuntungan. Dengan demikian maka untuk mendapatkan laba optimal,
diperlukan juga biaya yang optimal. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pemahaman
mengenai biaya (sifat dan jenisnya) sangat diperlukan dalam menjalankan usaha.
1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka permasalahan yang diangkat dalam makalah ini,
antara lain:
1.     Apa yang disebut dengan Konsep Biaya?
2.     Apa definisi dari Teori Biaya?
3.     Apa saja Jenis-jenis dari Biaya?
4.     Bagaimana Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka Pendek (Short Run Cost)?
5.     Bagaimana Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka Panjang (Long Run Cost)?
6.     Apa yang disebut Skala Ekonomi?
1.3  Tujuan
1.     Untuk mengetahui Konsep Biaya.
2.     Untuk mengetahui Teori Biaya.
3.     Untuk mengetahui Jenis-jenis dari Biaya.
4.     Untuk mengetahui Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka Pendek (Short Run Cost).
5.     Untuk mengetahui Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka Panjang (Long Run Cost).
6.     Untuk mengetahui Skala Ekonomi.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1  Konsep Biaya
Setiap peusahaan pasti memiliki sejumlah informasi tentang biaya yang akan atau telah
menjadi tanggungan perusahaan. Informasi yang akurat mengenai biaya produk maupun jasa
merupakan hal yang penting dalam setiap tahap fungsi manajemen, yaitu manajemen
strategik, perencanaan dan pengambilan keputusan, pengendalian manajemen dan
pengendalian operasional, dan pembuatan laporan keuangan termasuk analisis biaya.
Sebelum melakukan analisis biaya, terlebih dahulu perlu dipahami pengertian, dan beberapa
konsep tentang biaya. Kalau ditinjau dari sudut biaya, ada beberapa defenisi tentang biaya
yang diuraikan sebagai berikut :
1.     Biaya dalam ekonomi manajerial mencerminkan efisiensi sistem produksi, sehingga konsep
biaya juga mengacu pada konsep produksi, tetapi apabila pada konsep produksi kita
membicarakan penggunaan input secara fisik dalam menghasilkan output produksi, maka
dalam konsep biaya kita menghitung penggunaan input itu dalam nilai ekonomi yang disebut
biaya.(Gaspersz, 2003)
2.     Biaya adalah harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk
memperoleh pendapatan. (Sunarto, 2003)
3.     Biaya merupakan pengorbanan sacrifice yang bertujuan untuk memproduksi atau
memperoleh suatu komoditi. Pengorbanan yang tidak bertujuan disebut pemborosan dan
bukan termasuk biaya. (Gani , 1990)
4.     Biaya juga sering diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk memperoleh suatu output
tertentu. Pengorbanan itu dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun kesempatan.
Dalam analisis ekonomi nilai kesempatan (untuk memperoleh sesuatu) yang hilang karena
melakukan sesuatu kegiatan lain juga dihitung sebagai biaya, yang disebut biaya
kesempatan/opportunity cost. (Maidin, 2003)
5.     Bagi seorang Akuntan, biaya adalah total uang yang dikeluarkan untuk memperoleh atau
menghasilkan sesuatu (Rahardja & Manurung, 2002)
Sehingga, dalam pengertian tentang biaya tersebut di atas, ternyata terdapat 4 unsur pokok,
yaitu :
       Biaya merupakan harga pokok atau bagiannya untuk memperoleh pendapatan
       Biaya mencerminkan efisiensi sistem produksi
       Biaya merupakan pengorbanan untuk suatu tujuan tertentu
       Pengorbanan dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun kesempatan
Dalam konsep biaya, menurut Noor (2007) biaya adalah pengeluaran yang tidak dapat
dielakkan (unavoidable expenses) dalam melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, secara
konsep, maka pengertian biaya adalah sebagai berikut:
a.      Biaya (cost) tidak sama dengan pengeluaran (expenses)
b.     Biaya (cost) harus menggambarkan kegiatan
c.      Biaya (cost)  harus relevan dengan kegiatan yang dilakukan
Berdasarkan definisi biaya sebagai cost dan sebagai expense diatas umumya mempunyai
kesamaan makna, yaitu:
a.      Cost merupakan pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang terjadi
atau secara potensial akan terjadi dan pengorbanan tersebut untuk tujuan tetentu.
b.     Expense merupakan cost dari orang dan jasa telah menjadi beban (expired) karena berlalunya
waktu baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dalam proses untuk memperoleh
pendapatan. 
Oleh karena itu ketepatan pembebanan biaya menghasilkan informasi yang lebih bermutu
yang kemudian dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik. Agar biaya dapat
dibebankan dengan mudah dan akurat, maka perlu adanya penelusuran biaya yaitu
pembebanan aktual dari biaya ke objek biaya dengan menggunakan ukuran yang dapat
diamati pada konsumsi sumber daya oleh objek biaya.
Definisi tentang konsep biaya sangat penting, karena dalam ilmu akuntansi terdapat dua
istilah biaya, yaitu biaya sebagai cost dan expense. Tentu saja kedua istilah tersebut
mempunyai pengertian yang berbeda. Dalam buku “Activity Based Cost Sistem : Sistem
Informasi Biaya Untuk Pengurangan Biaya” definisi Biaya adalah: “Biaya (cost) adalah kas
atau nilai setra kas yang dikorbankan untuk memperoleh barang dan jasa yang diharapkan
akan membawa manfaat sekarang atau di masa depan bagi organisasi.” (Mulyadi, 2003:4).
Dalam buku yang sama, biaya sebagai expense didefinisikan sebagai berikut: “Biaya
(expense) adalah kas sumber daya yang telah atau akan dikorbankan untuk mewujudkan
tujuan tertentu. (Mulyadi, 2003:4).
Berdasarkan pengertian di atas dapat diambil kesimpulan  bahwa biaya adalah sebagai
sumber daya yang di ukur dengan uang yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan
biaya juga merupakan kas sumber daya yang dikorbankan untuk memperoleh barang dan jasa
dan untuk mendapatkan manfaat sekarang atau dimasa yang akan data. Manajemen
perusahaan harus merencanakan dan mengendalikan dengan baik penentuan biaya untuk
menghasilkan manfaat saat ini dan di masa depan, maka karena informasi biaya memberikan
kerangka berpikir untuk mengelola masukan agar nilai masukan yang dikorbankan lebih
rendah dari nilai keluaran yang diperoleh oleh perusahaan. Sehingga dapat diketahui
bagaimana biaya dan kecenderungannya. Dengan memahami biaya berarti telah mengetahui
berapa biaya yang harus dikorbankan untuk membuat suatu produk.
Dalam biaya  ada yang namanya obyek biaya, obyek biaya adalah segala hal seperti
produk, pelanggan, departemen, proyek, kegiatan dan yang lain dimana biaya-biaya diukur
dan dibebankan. Misalnya, bila ingin menentukan berapa biaya untuk membuat pisang
goreng, maka obyek biaya adalah pisang goreng. Bila ingin menentukan biaya operasi sebuah
program studi dalam sebuah Universitas maka obyek biaya adalah program studi. Bila
tujuannya adalah menentukan biaya proyek pengembangan produk maka obyek biaya adalah 
proyek pengembangan produk baru. Demikian penjelesan tentang konsep dan pengertian
biaya, pemahaman mengenai biaya sangat diperlukan dalam menjalankan usaha.

2.2  Teori Biaya
1.     Pengertian Biaya
Menurut Noor (2007) teori biaya dikembangkan berdasarkan teori produksi, yaitu
bagaimana mendapatkan formulasi input (biaya) yang paling efisien untuk menghasilkan
output (produksi) tertentu. Dengan demikian, maka teori biaya digunakan untuk:
a.      Menentukan tingkat output (produksi) yang optimum dengan biaya minimum.
          Biaya = fungsi (Produksi)
b.     Analisis terhadap faktor-faktor ekonomi dan teknologi yang menunjang produksi untuk
mendapatkan “teknologi yang tepat, dan yang cocok dengan kondisi perusahaan”, dengan
biaya minimum.
Untuk memahami arti biaya, seseorang harus memahami proses yang digunakan dalam
menentukan biaya. Memperbaiki penentuan biaya akan merupakan faktor kunci dalam
pengembangan dalama bidang manajemen biaya.
Biaya adalah kas atau nilai yang setara kas yang dikorbankan untuk produk yang
diharapkan dapat membawa keuntungan masa kini dan masa yang akan datang bagi
organisasi. Disebut “setara dengan kas” karena asset non-kas dapat ditukar dengan produk
yang diinginkan. Biaya dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat dalam bentuk pendapatan di
masa kini maupun di masa datang.  Dengan demikian biaya digunakan untuk menghasilkan
manfaat pendapatan disebut beban. Oleh karenanya Setiap periode, beban tersebut
dikurangkan dari pendapatan pada laporan Laba Rugi. Kerugian adalah biaya yang
kedaluarsa tanpa menghasilkan manfaat pendapatan pada satu periode. Misalnya Persediaan
yang rusak akibat kebakaran dan tidak diasuransikan dapat diklasifikasikan sebagai kerugian
dalam Laporan Laba Rugi. Sementara Biaya yang tidak kedaluarsa dalam suatu periode
tertentu dikelompokkan sebagai aktiva dan muncul pada Neraca.  Misalnya Mesin dan
komputer adalah contoh aktiva yang berumur lebih dari satu periode. Prinsip utama dalam
pembedaan antara biaya sebagai beban atau sebagai aktiva adalah soal penentuan waktu,
yakni apakah biaya tersebut digunakan dalam satu periode atau lebih dari satu periode.
2.     Pengertian Biaya menurut para ahli, adalah sebagai berikut:
Menurut Supriyono (2000;16), Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau
digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue yang akan dipakai sebagai
pengurang penghasilan.
Menurut Henry Simamora (2002;36), Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang
dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di
masa mendatang bagi organisasi.
Menurut Mulyadi (2001;8), Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis  yang diukur
dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi
untuk tujuan tertentu.
Menurut Masiyah Kholmi, Biaya adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen
kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi
manfaat di saat sekarang atau di masa yang akan datang bagi perusahaan.

2.3  Jenis Biaya
1.     Menurut Realitas (Realisasi) Pembayarannya
            Berdasarkan realitas pembayarannya, biaya dikelompokkan menjadi:
a)     Biaya pengorbanan (Opportunity Cost)
Dalam Alam (2013) ada beberapa pengertian opportunity cost menurut para ahli. Antara
lain:
1)     N. Gregory Mankiw mengatakan bahwa opportunity cost adalah segala sesuatu yang harus
Anda korbankan untuk memperoleh sesuatu.
2)     Robert B. Ekelund, Jr. dan Robert D. Tollison mengatakan bahwa opportunity cost adalah
biaya dari penggunaan sumber daya ekonomi untuk tujuan tertentu, yang diukur dalam
ukuran keuntungan yang tidak jadi didapat karena tidak memilih alternatif itu dibandingkan
dengan komoditi yang didapat sebagai gantinya karena memilih suatu alternatif.
3)     Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus mengatakan bahwa keputusan
memilihopportunity cost, karena memilih satu hal dalam dunia kelangkaan berarti
menyerahkan sesuatu yang lain. Biaya peluang adalah nilai barang atau jasa yang paling
berharga yang hilang.
Menurut Noor (2007:171) opportunity cost adalah biaya yang timbul karena
mengorbankan kesempatan tertentu. Dalam praktiknya biaya ini tidak pernah dibayarkan.
Misalnya seorang pemilik perusahaan yang bekerja untuk perusahaannya sendiri. Penggunaan
lahan pertanian yang subur digunakan untuk membangun sarana publik dan sebagainya.
Opportunity cost merupakan penghasilan atau penghematan biaya yang dikorbankan
karena dipilihnya satu alternative tertentu, sehingga penghasilan atau penghematan tersebut
perlu diperhitungkan sebagai biaya pada alternative tertentu tersebut (Supriyono, 1999:360).
Contoh : sebagian ruangan toko dapat disewakan atau digunakan sendiri. Jika ruangan
tersebut digunakan sendiri, maka hasil penyewaan yang seharusnya diperoleh akan
menjadi opportunity cost bagi kegiatan tersebut.
b)     Biaya sebenarnya (Real Cost)
Adalah biaya yang benar-benar dibayarkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Misalnya:
biaya upah dan gaji, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan sebagainya.
2.     Menurut Konsep Pencatatan
Berdasarkan konsep pencatatan, atau akuntansi, biaya dapat dikelompokkan menjadi:
a.     Biaya akuntansi (accouting cost) adalah biaya yang didasarkan pada pencatatan akuntansi,
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Misalnya biaya bahan baku, biaya gaji / upah,
biaya komunikasi dan sebagainya. Dalam praktiknya tidak semua biaya menurut akuntansi ini
dibayarkan.
b.     Biaya ekonomis (economic cost) adalah biaya-biaya yang benar-benra dibayarkan sesuai
dengan aktivitas yang dilakukan. Pada biaya ekonomis ini, hamper semua dicatat, namun
masih ada biaya yang tidak dibayarkan, karena memang tidak dicatat. Misalnya seorang yang
bekerja pada perusahaannya sendiri, atau pekerja keluarga sering tidak dibayar dan juga tidak
dicatat.
3.     Menurut Periode atau Waktu
Berdasarkan Periode atau Waktu, biaya dapat dikelompokkan menjadi:
a.     Biaya jangka pendek (short run cost) adalah periode dimana
masih ada kelompok dari biaya tetap dan biaya variable. Untuk jangka  
pendek , biaya terdiri dari biaya tetap (TFC) dan biaya variable (TVC)
TC    = TFC  + TVC
ATC  =  AFC  + AVC
b.     Biaya Jangka Panjang (long run cost) adalah periode dimana seluruh biaya berubah
(variabel). Dalam jangka panjang semua biaya adalah biaya variable (tidak ada biaya tetap).
Cost = f (Q, W, i) → Q = Output, W = Upah dan Gaji, i = Biaya Modal
→ TC = αQβ Wτ iδ (Model Cobb - Douglas)
4.     Menurut Karakteristik Jumlahnya
Berdasarkan Karakteristik Jumlahnya biaya dapat dikelompokkan menjadi:
a.     Biaya Tetap
      Biaya tetap adalah biaya yg jumlah totalnya tetap (fixed), tidak dipengaruhi oleh besar
kecilnya output. Pengertian biaya tetap ini hanya berlaku untuk analisis dalam waktu yang
relatif pendek. Yaitu sepanjang kapasitas produksi atau kapasitas produksi belum berubah
(Noor, 2008 :172).
Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah (konstan), terlepas
dari perubahan tingkat aktivitas dalam kisaran relevan (relevant range) tertentu (simamora,
2002:147). Besar kecilnya biaya tetap dipengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang,
teknologi dan metode serta strategi manajemen.
Dengan kata lain biaya tetap adalah biaya yang didalam jarak kapasitas tertentu totalnya
tetap, meskipun volume kegiatan perusahaan berubahubah. Jarak kapasitas adalah
serangkaian tingkat volume kegiatan perusahaan yang dapat dicapai tanpa menambah
kapasitas. Contoh biaya tetap adalah biaya sewa periodik, biaya penyusutan aktiva tetap,
biaya gaji manajer.
b.  Biaya Variabel  (Variabel Cost)
Menurut  Garrison  dan  Noreen  yang  diterjemahkan  oleh  A.Torok  Budi
Santoso (2000)  menjelaskan,"Biaya  variabel  adalah  biaya  yang
berubah  secara   proporsi dengan   perubahan  aktivitas.".
Aktivitas  tersebut   dapat   diwujudkan   dengan
berbagai bentuk seperti unit yangdiproduksi, unit yang dijual,  kilometer,  jam  kerja, dan seb
againya.  Contoh yang  menggambarkanbiaya  variable  adalah  biaya bahan   langsung.   Biay
a   bahan   langsung  yang   digunakan  selama  satu   periode   akan bervariasi sesuai dengan ti
ngkat unit yang dihasilkan. Biaya variabel merupakan biaya yang berubah sesuai perubahan
output.
Ada   beberapa  contoh  yang   menunjukan  bahwa  biaya  akan   berubah-ubah  sesuai
dengan  produk  dan   jasa    yang   dapat   dihasilkan  oleh    perusahaan.   Dalam  perusahaan
dagang, biayavariabel meliputi harga  pokok penjualan, komisi penjualan, dan  biaya
tagihan.
Biaya variable atau total variable cost, TVC adalah biaya yang jumlahnya berubah
(variabel) sesuai dengan perubahan tingkat atau volume produksi. Contoh biaya bahan baku,
biaya energi, komisi penjualan, upah tenaga kerja (Noor, 2008 :172).
TVC= f (Q) →  TVC adalah fungsi dari output
1)     TVC: Total Variabel Cost → Berubah sesuai dengan perubahan dari output
2)     AVC: Variabel Cost/Unit → Tetap, sepanjang skala/kapasitas produksi dan harga      input
tidak berubah.
Penggunaan konsep biaya tetap dan biaya variable ini sangat penting bagi perusahaan,
khususnya untuk perencanaan produksi seperti analisisi pulang pokok (Break Event point),
dan perencanaan laba perusahaan t ermasuk kebijakan memberhentikan (shut-down) operasi.
5.     Menurut Karakteristik Satuannya
Berdasarkan karakteristik satuannya biaya dapat dikelompokkan menjadi:
a.     Biaya total (total cost/ TC) adalah jumlah dari  keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk
menghasilkan output. → TC = TFC + TVC
Karena biaya variabel merupakan unsur biaya total, maka biaya total memiliki sifat
sebagaimana yang juga dimiliki oleh biaya variabel, yakni bahwa besarnya biaya total itu
berubah-ubah relatif perubahan jumlah output yang dihasilkan. Namun, fixed cost yang juga
bagian dari biaya total, nilai eksistensinya tetap tidak berubah.
b.     Biaya rata-rata perunit output (Average Total Cost / ATC) adalah jumlah dari keseluruhan
biaya yang dikeluarkan dibagi dengan jumlah output. Untuk mencapai keuntungan, biaya
rata-rata per unit produksi ini berguna sebagai informasi dasar untuk menentukan produksi
yang paling efisien. Perusahaan akan berproduksi pada tingkat biaya rata-rata per unit output
(ATC) yang paling rendah .
ATC = TC/Q = TFC/Q + TVC/Q →  ATC = AFC + AVC
AFC : Biaya tetap rata-rata per unit (Avarage Fixed Cost)
AVC: Biaya variable rata-rata per unit (Avarage Variabel Cost)
c.       Biaya Marginal (Marginal Cost / MC) adalah tambahan biaya yang dikelurkan karena ada
tambahan satu unit output (MCi = TCi –TCi-1)
6.   Menurut Relevansinya
Berdasarkan relevansinya dengan pengambilan keputusan oleh manajemen, biaya dapat
dikelompokkan menjadi:
a.     Biaya Relevan
Menurut Ahmad (2005:115), biaya relevan adalah biaya yang dapat dihindari atau biaya
yang dapat dielakan dan harus dipertimbangkan oleh setiap pengambil keputusan dalam
berbagai alternatif yang dihadapi.
Pengertian biaya relevan menurut RA. Supriyono (2002:389), biaya relevan adalah
meliputi semua biaya yang akan terpengaruh oleh suatu pengambilan keputusan, karena itu
biaya tersebut harus dipertimbangkan di dalam pengambilan keputusan tertentu tersebut.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa biaya relevan dimaksud adalah
semua biaya yang bisa dihindari bila menghadapi berbagai alternatif yang dihadapi dan dapat
berpengaruh dalam mengambil keputusan seorang manajer. Biaya relevan memiliki
karakteristik yakni sebagai berikut:
1)     Biaya yang benar-benar akan terjadi dan mengingat biaya masa lalu yang tidak relevan.
2)     Biaya harus benar-benar akan memberikan hasil berbeda jika memilih alternatif.
Biaya relevan adalah seluruh jenis biaya dengan karakteristik seperti di atas: Total Fix
Cost, Total Variable Cost, Total Cost, Average Fix Cost, Average Variable Cost, Average
Total Cost dan Marginal Cost.
b.     Biaya Irrelevan
Adalah jenis biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan, namun tidak relevan dengan
pengambilan keputusan dalam bisnis. Biaya tidak relevan ini dikenal juga dengan
istilah Sunk Cost. Sunk Cost adalah biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan, namun tidak
relevan digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan oleh manajemen. Sunk costs adalah
biaya yang terjadi di masa lalu dimana tidak ada yang dapat mengubah apa yang telah
dikeluarkan mauun apa yang telah terjadi. Oleh karena itu, sunk costsmerupakan informasi
yang tidak relevan dalam pembuatan keputusan.

2.4  Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka pendek (Short Run Cost)


Untuk jangka pendek biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap (TFC) dan biaya
variabel (TVC). → TC = TFC + TVC → yang perlu diperkirakan adalah  TVC dan AVC.
a.     Model Persamaan Regresi untuk TVC adalah: TVc = AVC (Q)
→ Kurva berbentuk S
→ TVC = a + bQ + c Q2 (Q) → TVC =  a + bQ + c Q2  + c Q3 → a,c > 0      dan b < 0
b.     Model Persamaan Regresi untuk AVC adalah fungsi kuadarat, karena kurva
berbentuk parabola → AVC = a + bQ + c Q2 → a,c > 0 dan b < 0
Contoh:
Berikut ini disajikan data output (Q) dalam unit dan data biaya variabel rata-rata (AVC)
dalam ribuan rupiah dari suatu jenis indutri setelah dihilangkan pengaruh inflasi.
Bulan ke Output (000 unit) AVC (Rp. 1000)
1. 30 36
2. 10 37
3. 15 27
4. 25 27
5. 40 45
6. 20 31
7. 35 42
8. 45 55
9. 50 62
Berdasarkan data diatas didapat perkiraan koefisien regresi untuk fungsi biaya variabel rata-
rata (AVC), sebagai berikut
Dependent Variable F Ratio : 51.404
Observation  : 9 R-square : 0,9449
Variable Parameter Estimate Standar Error
Intercept 44,35 6,170
Q -1,44 0,460
Q2 +0,04 0,008

Dari hasil perhitungan di atas didapat persamaan fungsi AVC.


AVC = 44,35 – 1,44Q+0,04Q2
Untuk meyakinkan, fungi diatas dilakukan tes secara statistik apakah hubungan antara Q
dengan AVC cukup signifikan secara statistik.
R2 = 0,9449 → R = 0,9720 → Perubahan AVC 97,2% dapat diterangkan oleh perubahan
Q (output). Artinya hubungan antara AVC dengan Q cukup signifika secara statistik.
Untuk meyakinkan, fungsi di atas dilakukan test secara statistik apakah fungsi tersebut
mengikuti sifat-sifat fungsi biaya → a,c > 0 dan b < 0
→ Test terhadap koefisien regresi fungsi biaya
AVC = 44,35 – 1,44Q+0,04Q2
a → ta = a/σa = (44,35)/6,17 = 7,19
b → tb = a/σb = (– 1,44)/0,460 = -3,13
b → tb = a/σc = (0,04)/ 0,08= 5,00
Dengan derajat kebebasan atau Degree of Freedom (DOF = 6) → n : jumlah variabel, atau 9 -
3 (a,b,c) dan tingkat kepercayaan, atau Confidence Interval (CI) 95% didapat : ta = 2,447.
Maka didapat a > 0, b < 0, dan c > 0 signifikan secara statistik.
c.      Fungsi Biaya Variabel Total
Model persamaan Regresi untuk TVC adalah : TVC = AVC (Q) → Kurva berbentuk S.
→ TVC = a + bQ + c Q2 (Q) → TVC =  a + bQ + c Q2  + c Q3
→ (a = 44,35, b = -1,44, c = 0,04) → TVC = 44,35Q - 1,44Q2 + 0,04Q3
d.     Fungsi Biaya Marginal → MC = δ/dq TC
→ MC δ/dq TVC → MC = 44,35 – 2,88Q + 0,12Q2
AVC minimum tercapai pada saat Q = -b/2C → b = -1,44 dan C = 0,04
→ AVC minimum pada Q = 18
Periksa Q = 18.000 → AVC = 44,35 - 1,44(18) + 0,04(18)2
= 44,35 – 25,92 + 12,96 = 31,39
Q = 15.000 → AVC = 44,35 - 1,44(15) + 0,04(15)2
 
= 44,35 – 21,60 + 9,00 = 31,75
Q = 20.000 → AVC = 44,35 - 1,44(20) + 0,04(20)2
 
= 44,35 – 28,80 + 16,00 = 31,55
Total Cost (TC) = TFC + TVC  → TC = TFC + TVC (Q)
Q = 18.000 → TC = TFC + 31,39 (18.000) = TFC + Rp. 565.020.000
Q = 15.000 → TC = TFC + 31,75 (15.000) = TFC + Rp. 476.250.000
Q = 20.000 → TC = TFC + 31,55 (20.000) = TFC + Rp. 631.000.000
e.     Kurva Biaya Jangka Pendek
Kurva biaya jangka pendek ini dapat menunjukkan karakteristik atau perilaku masing-
masing jenis biaya, yang dapat digunakan manajemen sebagai bahan pengambilan keputusan.
Seperti terlihat pada gambar berikut ini :

Dari gambar diatas dapat disimpulkan hal-hal berikut ini: 


1.     Kurva biaya rata-rata (ATC), adalah berbentuk U, artinya, pertama kali berproduksi,
biaya rata-rata cukup tinggi, kemudian secara bertahap turun, sesuai dengan peningkatan
produksi, namun sampai suatu titik, sesuai dengan penigkatan produksi, namun sampai suatu
titik berhenti turunnya, kemudian naik lagi sesuai dengan kenaikan peroduksi. Titik Q*
adalah tingkat optimum produksi optimal dengan biaya produksi rata-rata paling kecil
(minimum). 
2.     Kurva biaya marginal (MC) pertama kali berproduksi berada di bawah ATC, kemudian
secara bertahap naik, sesuai dengan penigkatan produksi, dan memotong ATC, pada tingkat
produksi dengan ATC minimum (Q*). Selanjutnya MC berada diatas (lebih tinggi dari) ATC.
Titik Q* adalah tingkat produksi optimal dengan biaya produksi rata-rata paling kecil
(minimum). 

2.4  Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka Panjang (Long Run Cost)


Dalam jangka panjang semua biaya adalah variabel (tidak ada biaya tetap).
a.     Rumus umum fungsi biaya → Cost = f (Q, W, i)
Q = Output, W = Upah dan Gaji, I = Biaya uang atau modal (Cost of money, or cost of
fund)
b.     Model persamaan regresi untuk biaya jangka panjang, yang paling cocok adalah model
Cobb – Douglas.
→ TC = αQβ Wτ iδ
Jika model di atas digunakan sebagai model biaya jangka panjang, maka: bila harga input
naik 2 X lipat, sedangkan output sama, maka TCN = 2TC
TCN : Total cost setelah biaya input naik
TC :  Total cost sebelum biaya input naik
TCN = αQβ (2 W)τ  (2 i)δ = αQβ 2τ Wτ  2δ iδ = 2 (τ + δ) αQβ Wτ  iδ
TCN = 2 (τ + δ) TC → bila TCN = 2 TC → (τ + δ) = 1 → τ = 1 – δ

Sehingga fungsi biaya jangka panjang dapat diubah menjadi:


TC = αQβ 2τ Wτ  i(1-τ) → TC = αQβ 2τ Wτ 

TC = αQβ (W / i)τ i → TC = TC = αQβ (W / i)τ i
Syarat : α, β > 0, dan 0 < τ < 1
c.      Menyusun fungsi biaya jangka panjang
Untuk menyusun fungsi biaya jangka panjang, dibutuhkan empat variabel yaitu: TC
(Total Cost), Q (Output), W (Upah tenaga kerja), dan i (biaya modal)
→ TC = K (i) + L (w)
d.     Kriteria efisiensi produksi dari fungsi produksi jangka panjang adalah : (MP L) / (MPK)
= (Wi) / (i)
MPL = δQ / δL, sedangkan, MPK = δQ / δK, dan, Q = τ Kα Lβ
MPL = δQ / δL = δ/ δL (τ Kα Lβ) = α δ L (α-1) Kβ = α δ Lα Kβ / L = β (Q/L)
MPK = δQ / δK = δ/ δK (τ Kα Lβ)  =  α δ K(α-1) Lβ = α δ Kα Lβ / K = α (Q/K)
(MPL)/(MPK) = β (Q/L) / α (Q/K) = K/Q α/β Q/L = K/ αβ /L = β/α K/L
Dengan demikian, maka kriteria efisiensi produksi jangka panjang, adalah : β/α (K/L) =
W/I, atau β/α (K/L) - W/I = 0, oleh karena itu, maka:
1.     Bila β/α (K/L) > W/I → Sistem Produksi adalah padat modal (capital intensive)
2.     Bila β/α (K/L) < W/I → Sistem Produksi adalah padat karya (labor intensive)
e.     Elastisitas Total Cost (Total Cost Elasticity)
Untuk memperkirakan fungsi TC, fungsi biaya tersebut dikonversikan kedalam fungsi
logaritma, sehingga: Log TC = log a + b log Q + t log (w/i) + log i → agar a, b, dan t, bisa
diperkirakan, maka pada rumusan diatas secara matematika a = 1, sehingga:
Log (TC/ i) = log a + b log Q + t log (w/i) → b : Elastisitas TC
Sehingga : b > 1 → Long Run AVC Increasing (diseconomic of scale)
                    b = 1 → Long Run AVC Constant (constant of scale)
                    b < 1 → Long Run AVC Decreasing (economic of scale)

2.6  Skala Ekonomis
Skala ekonomis adalah rentang produksi dimana penambahan output (peningkatan
volume produksi, Q) menghasilkan biaya rata-ta per unit (ATC), yang menurun. Seperti
terlihat pada gambar berikut ini, penurunan ATC terjadi sampai sauatu titik dan kemudian
naik kembali, sebanding dengan naiknya volume produksi.

BAB 3
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.     Biaya adalah pengeluaran yang tidak dapat dielakkan (unavoidable expenses) dalam
melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, secara konsep, maka pengertian biaya adalah
sebagai berikut:
a.      Biaya (cost) tidak sama dengan pengeluaran (expenses)
b.     Biaya (cost) harus menggambarkan kegiatan
c.      Biaya (cost)  harus relevan dengan kegiatan yang dilakukan
2.     Teori biaya dikembangkan berdasarkan teori produksi, yaitu bagaimana mendapatkan
formulasi input (biaya) yang paling efisien untuk menghasilkan output (produksi) tertentu.
Dengan demikian, maka teori biaya digunakan untuk:
Menentukan tingkat output (produksi) yang optimum dengan biaya minimum.
          Biaya = fungsi (Produksi)
Analisis terhadap faktor-faktor ekonomi dan teknologi yang menunjang produksi untuk
mendapatkan “teknologi yang tepat, dan yang cocok dengan kondisi perusahaan”, dengan
biaya minimum.
3.     Jenis biaya dikelompokkan menjadi:
a.      Menurut Realitas (Realisasi) Pembayarannya
1)     Biaya pengorbanan (Opportunity Cost)
2)     Biaya sebenarnya (Real Cost)
b.     Menurut Konsep Pencatatan
1)     Biaya akuntansi (accouting cost)
2)     Biaya ekonomis (economic cost)
c.      Menurut Periode atau Waktu
1)     Biaya jangka pendek (short run cost)
2)     Biaya Jangka Panjang (long run cost)
d.     Menurut Karakteristik Jumlahnya
1)     Biaya Tetap
2)   Biaya Variabel  (Variabel Cost)
e.      Menurut Karakteristik Satuannya
1)     Biaya total (total cost/ TC)
2)     Biaya rata-rata perunit output (Average Total Cost / ATC)
3)     Biaya Marginal (Marginal Cost / MC)
f.    Menurut Relevansinya
1)     Biaya Relevan
2)     Biaya Irrelevan
4.     Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka pendek (Short Run Cost)
Untuk jangka pendek biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap (TFC) dan biaya
variabel (TVC). → TC = TFC + TVC → yang perlu diperkirakan adalah  TVC dan AVC.
5.     Memperkirakan Fungsi Biaya Jangka Panjang (Long Run Cost)
Untuk jangka pendek biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap (TFC) dan biaya
variabel (TVC). → TC = TFC + TVC → yang perlu diperkirakan adalah  TVC dan AVC.
6.     Skala ekonomis adalah rentang produksi dimana penambahan output (peningkatan volume
produksi, Q) menghasilkan biaya rata-ta per unit (ATC) yang menurun.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Kamaruddin. 2005. Akuntansi Manajemen. Bandung: Alfabeta
Alam S. 2013. Ekonomi. Jakarta: Esis
Arsyad, Lincolin. 2008. Ekonomi Manajerial – Ekonomi Mikro Terapan Untuk Manajemen
Bisnis Edisi 4. Yogyakarta : BPFE
Garrison, Ray H,  Eric W. Noreen, 2002. Akuntansi Manajerial. Jakarta : Salemba Empat
Hansen Don R, Maryanne M. Mowen. (2000). Akuntansi Manajemen. Edisi Kedua.(Diterjemahkan
oleh: A. Hermawan). Penerbit Erlangga. Jakarta.
Henry Simamora.2002. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.
http://ekonomiplanner.blogspot.com/2014/06/dasar-dasar-akuntansi-manajemen.html
http://kuliahgratis.net/makalah-pengertian-konsep-dan-jenis-biaya/
http://liam-tjandra.blogspot.com/2011/05/biaya-menurut-para-ahli.html
https://sites.google.com/site/pekembia/konsep-dan-pengertian-biaya
Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya,edisi ke-6. Yogyakarta: STIE YKPN
Noor, Henri Faizal, 2008. Ekonomi Manjerial. RajaGrafindo Perasada. Jakarta.
Simamora, Hendri, 2002. Akuntansi Manajemen, Edisi kedua. Yogyakarta: UPP AM YKPN.
Supriyono, R.A. 2002. Akuntansi Biaya : Perencanaan dan Pengendalian Biaya, Serta Pembuatan
Keputusan. Yogyakarta : Liberty.
Supriyono. 2000. Akuntansi Biaya, Buku 1, edisi dua. Yogyakarta: BPFE
Diposkan oleh Iyal Assagaf di 22:16:00 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Biaya Produksi merupakan Faktor penting yang harus diperhatikan ketika suatu
perusahaan akan menghasilkan suatu produksi. Hal ini dikarenakan setiap perusahaan tentu
menginginkankeuntungan yang besar dalam setiap usaha produksinya. Oleh karena itu,
diperlukannya suatu pemahaman tentang teori-teori biaya produksi agar suatu perusahaan
dapat memperhitungkan biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu output
barang.
Ongkos atau biaya sumber daya produksi bagi sebuah perusahaan adalah sama dengan
nilai sumber-sumber produksi tersebut di dalam penggunaan alternatifnya yang
terbaik. Pembahasan tentang perilaku produksi inilah yang kemudian diangkat sebagai tema
untuk melihat sejauh mana sebuah perusahaan dalam memproduksi kebutuhan konsumen-
konsumennya. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang teori produksi dalam ilmu
ekonomi mikro.
1.2  Rumusan Masalah
a.      Apakah pengertian biaya produksi dan bagaimana hubungan antara produksi, produktivitas,
dan biaya?
b.      Bagaimanakah konsep biaya produksi jangka pendek dan jangka panjang?
1.3  Tujuan
a.      Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah.
b. Mengetahui pengertian biaya produksi dan hubungan antara produksi, produktivitas, dan
biaya.
c.       Mengetahui teori biaya produksi jangka pendek dan jangka panjang.
1.4 Manfaat
Diharapkan manfaat dari penulisan makalah ini baik penulis maupun pembaca bisa
menambah pemahaman dan pengetahuan  serta menambah wawasan kita bersama
terhadap teori biaya produksi.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biaya Produksi


Biaya dalam pengertian Produksi ialah semua “beban” yang harus
ditanggung oleh produsen untuk menghasilkan suatu produksi. Biaya produksi adalah semua
pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan
bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang
diproduksikan perusahaan tersebut. Semua faktor-faktor produksi yang dipakai adalah
merupakan pengorbanan dari proses produksi dan juga berfungsi sebagai ukuran untuk
menentukan harga pokok barang. Input yang digunakan untuk memproduksi output tersebut
sering disebut biaya oportunis. Biaya oportunis sendiri merupakan biaya suatu faktor
produksi yang memiliki nilai maksimum yang menghasilkan output dalam suatu penggunaan
alternatif.
Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut: bahan baku atau bahan
dasar termasuk bahan setengah jadi, bahan-bahan pembantu atau penolong, upah tenaga kerja
dari tenaga kerja kuli hingga direktur, penyusutan peralatan produksi, uang modal, sewa,
biaya penunjang seperti (biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya
keamanan dan asuransi), biaya pemasaran seperti biaya iklan dan pajak
Biaya produksi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Biaya Eksplisit
Biaya Eksplisit ialah biaya yang nyata-nyata dikeluarkan dalam memperoleh faktor
produksi (nilai dan semua input yang dibeli untuk produksi). Pembayarannya berupa uang
untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan
perusahaan. Contoh: biaya tenaga kerja, sewa gedung, dll.
2.      Biaya Implisit
Biaya implisit disebut juga imputed cost (ongkos tersembunyi), ialah taksiran biaya
atas faktor produksi yang dimiliki sendiri oleh perusahaan dan ikut digunakan dalam proses
produksi yang dimiliki oleh perusahaan. Contoh: Penggunaan gedung milik perusahaan
sendiri.

2.2    Produksi, Produktivitas, dan Biaya


Keputusan tingkat produksi senantiasa berkaitan dengan tingkat produktivitas factor –
factor produksi yang digunakan. Produktivitas yang tinggi menyebabkan tingkat produksi
yang sama dapat dicapai dengan biaya yang lebih rendah. Dengan kata lain, produktivitas dan
biaya mempunyai hubungan terbalik. Jika produktivitas makin tinggi, biaya produksi akan
semakin rendah. Begitu juga sebaliknya. Perilaku biaya juga berhubungan dengan periode
produksi. Dalam jangka pendek ada factor produksi tetap yang menimbulkan biaya tetap,
yaitu biaya produksi yang besarnya tidak tergantung pada tingkat produksi. Dalam jangka
panjang, karena semua factor produksi adalah variable, biaya juga variable. Artinya, besarnya
biaya produksi dapat disesuaikan dengan tingkat produksi.
Dalam jangka panjang, perusahaan akan lebih mudah meningkatkan produktivitas
disbanding dalam jangka pendek. Itu sebabnya ada perusahaan yang mampu menekan biaya
produksi, sehingga setiap tahun biaya produksi per unit makin rendah. Pola pergerakan biaya
rata-rata ini berkaitan dengan karakter fungsi produksi jangka panjang. Untuk perusahaan
yang ber”skala hasil menarik” (Increasing return to scale atau IRS), penambahan tingkat
produksi justru menurunkan biaya produksi. Sebaliknya dengan perusahaan yang ber”skala
hasil menurun” (decreasing return to scale  atau DRS).

2.3    Biaya Produksi Jangka Pendek


Biaya produksi jangka pendek adalah jangka waktu dimana perusahaan telah dapat
menambah faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses prooduksi. Dalam biaya
produksi jangka pendek ditinjau dari hubungannnya dengan produksi, maka dapat dibagi
menjadi 2 yaitu:
1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:
a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung
pada suatu proses tertentu ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya bahan baku
langsung dan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu juga dengan supervise,
listrik, dan biaya overhead lainnya yang dapat langsung ditelusuri pada departemen tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara
langsung pada suatu proses tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu penerangan
dan Air Conditioning pada suatu fasilitas.
2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:
a.  Biaya Tetap Total (Total Fixed Cost / TFC)
Biaya Tetap Total adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan walaupun perusahaan
tidak berproduksi. Biaya tetap merupakan biaya setiap unit waktu untuk pembelian input
tetap. Misalnya: gaji pegawai, biaya pembuatan gedung, pembelian mesin-mesin, sewa tanah
dan lain-lain. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan
rumus menghitung biaya total. Penurunan rumus tersebut, adalah:
TC = FC + VC                                   FC = TC – VC
Keterangan:     TC = Biaya Total (Total Cost)
                                    FC = Biaya Tetap (Fixed Cost)
                                    VC = Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya tetap (FC) adalah biaya yang besarnya tidak berubah seiring dengan
berubahnya jumlah produksi (Q). Berapapun jumlah produksi apakah mengalami kenaikan
atau penurunan, maka jumlah biaya (P) yang dikeluarkan adalah tetap.

b.  Biaya Variabel Total (Total Variable Cost / VC)


Biaya Variabel Total adalah biaya yang dikeluarkan apabila berproduksi dan besar
kecilnya tergantung pada banyak sedikitnya barang yang diproduksi. Semakin banyak barang
yang diproduksi biaya variabelnya semakin besar, begitu juga sebaliknya. Biaya variabel
rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
VC = TC – FC
Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besarnya berubah searah dengan berubahnya jumlah
produksi. Itulah sebabnya kurva VC ini mengarah ke kanan atas.

c.  Biaya Total (Total Cost / TC)


Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Dengan kata lain, biaya total
adalah jumlah biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
TC = FC + VC
Biaya variabel merupakan unsur biaya total karena biaya total memiliki sifat yang juga
dimiliki oleh biaya variabel, yaitu bahwa besarnya biaya total itu berubah-ubah seiring
dengan berubah-ubahnya jumlah output yang dihasilkan.

Biaya Total (TC) adalah penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel. Kurva TC memiliki
bentuk yang persis sama dengan bentuk kurva Biaya Variabel (VC), serta antara keduanya
terpisah oleh suatu jarak vertikal yang selalu sama.       
d.  Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost / AFC)
Biaya Tetap Rata-Rata  adalah hasil bagi antara biaya tetap total dan jumlah barang
yang dihasilkan. Rumus  :
AFC =  FC / Q
Keterangan:     FC = Biaya Tetap Total
                                    Q   = Kuantitas

e.   Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost / AVC)


Biaya variabel rata-rata adalah biaya variable satuan unit produksi.
Rumusnya:    
AVC = VC/Q
keterangan:      VC = Biaya Variabel Total
                                    Q   = Kuantitas

f.   Biaya Total Rata-Rata (Average Cost / AC)


Average Cost adalah biaya total rata-rata yang dapat dihitung dari Total Cost dibagi
banyaknya jumlah barang tertentu (Q). Nilainya dihitung menggunakan rumus di bawah ini:
AC = TC /Q  atau  (VC+FC)/Q
AC = AVC + AFC
           

2.3. Biaya Produksi Jangka Panjang


Dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor produksi atau input
yang akan digunakan. Oleh karena itu, biaya produksi tidak perlu lagi dibedakan dengan
biaya tetap dan biaya berubah. Dalam jangka panjang semua biaya adalah variabel. Karena
itu biaya yang relevan dalam jangka panjang adalah biaya total, biaya variabel, biaya rata-rata
dan biaya marjinal. Perubahan biaya total adalah sama dengan perubahan biaya variabel dan
sama dengan biaya marjinal.
Cara meminimumkan biaya dalam jangka panjang dapat memperluas kapasitas
produksinya, ia harus menentukan besarnya kapasitas pabrik (plan size) yang akan
meminimumkan biaya produksi dalam analisis ekonomi kapasitas pabrik dapat digambarkan
kurva biaya rata-rata (AC). Sehinggas analisis mengenai bagaimana produsen menganalisis
kegiatan produksinya dalam usaha meminimumkan biaya dapat dilakukan dengan
memperhatikan kurva AC untuk kapasitas yang berbeda-beda.
Faktor yang akan menentukan kapasitas produksi yang digunakan yaitu tingkat
produksi yang akan dicapai serta sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia.
a)      Biaya Rata-rata Jangka Panjang (Long-run Average Cost/ LAC)
Biaya total rata-rata jangka panjang adalah biaya total dibagi jumlah output.
LAC = LTC/Q
Keterangan :    LAC = Biaya rata-rata jangka panjang
                                    Q = Jumlah output
b)      Biaya Marginal Jangka Panjang (Long-run Marginal Cost/LMC)
Biaya marginal jangka panjang adalah tambahan biaya karena menambah produksi
sebanyak satu unit. Perubahan biaya total adalah sama dengan perubahan biaya variabel.
Biaya marginal jangka panjang dapat dihitung dengan rumus:
LMC = ∆LTC / ∆Q
Keterangan:     LMC   = Biaya marginal jangka panjang
                                    ∆LTC = Perubahan biaya total jangka panjang
                                    ∆Q       = Perubahan output.

c)      Biaya Total Jangka Panjang (Long-run Total Cost/LTC)


Biaya total jangka panjang adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi seluruh output
dan semuanya bersifat variabel. Biaya total jagka panjang dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
LTC = LVC
Keterangan:     LTC = Biaya total jangka panjang
                                    LVC = Biaya Variabel jangka panjang

     
            Dalam jangka panjang titik terendah dari suatu AC tidak menggambarkan biaya yang paling minimum untuk
memproduksikan suatu tingkat produksi. Terdapat kapasitas produksi lain (AC lain) yang dapat
meminimumkan biaya. Sebagai buktinya perhatikanlah AC 1  dan AC2. Titik A1 adalah titik ttterendah dari AC 1.
Dengan demikian dalam jangka pendek, produksi sebesar Q A  dapat di produksikan dengan biaya yang lebih
rendah dari titik manapun pada AC1.Tetapi dalam jangka panjang biaya itu belum merupakan biaya yang
paling minimum, karena apabila kapasitas produksi yang berikut digunakan (AC 2), produksi sebesar QA  akan
mengeluarkan biaya sebesar seperti yang ditunjukkan oleh titik A pada AC 2. Dari contoh ini dapat disimpulkan
bahwa kurva LRAC, walaupun tidakmenghubungkan setiap titik terendah dari AC, menggambarkan biaya
minimum perusahaan dalam jangka panjang.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk
memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk
menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut. Untuk menghasilkan
barang atau jasa diperlukan faktor-faktor produksi seperti bahan baku, tenaga kerja, modal,
dan keahlian pengusaha. Semua faktor-faktor produksi yang dipakai adalah merupakan
pengorbanan dari proses produksi dan juga berfungsi sebagai ukuran untuk menentukan
harga pokok barang.
Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur seperti: bahan baku atau bahan dasar
termasuk bahan setengah jadi, bahan-bahan pembantu atau penolong, upah tenaga kerja dari
tenaga kerja kuli hingga direktur, penyusutan peralatan produksi, uang modal / sewa,biaya
penunjang seperti (biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya
keamanan dan asuransi), biaya pemasaran seperti biaya iklan dan pajak.
Biaya produksi jangka pendek adalah jangka waktu dimana perusahaan telah dapat
menambah faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses prooduksi. Sedangkan dalam
biaya produksijangka panjang semua biaya adalah variabel.

3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini tentunya sangat jauh sekali dari kata sempurna dan
sangat dekat dengan banyaknya kesalahan dan kekurangan. Untuk itu demi untuk perbaikan
di masa yang akan datang dan sebagai koreksi, kritik dan saran sangat di perlukan demi
kebaikan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pindyck, Robert S dan Rubinfeld, Daniel L. 2009. Mikroekonomi Edisi Keenam Jilid 1. Jakarta: PT
Indeks.
Diposkan oleh Supi Yandi di 02.16 
BIAYA PRODUKSI

1.    Pengertian Biaya Produksi

Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh
faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-
barang yang diproduksikan perusahaan tersebut.

Biaya dalam pengertian Ekonomi ialah semua “ beban “ yang harus ditanggung untuk menyediakan
suatu barang agar siap dipakai oleh konsumen. 
Biaya dalam pengertian Produksi ialah Semua “beban” yang harus ditanggung oleh Produsen untuk
menghasilkan suatu Produksi.

Biaya produksi adalah beban yang harus ditanggung oleh produsen dalam bentuk uang untuk
menghasilkan suatu barang / jasa. Menetapkan biaya produksi berdasarkan pengertian tersebut
memerlukan kecermatan karena ada yang mudah diidentifikasikan, tetapi ada juga yang sulit
diidentifikasikan.

Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut:

a.    Bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi.

b.    Bahan-bahan pembantu atau penolong

c.    Upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur.

d.   Penyusutan peralatan produksi.

e.    Uang modal, sewa.

f.     Biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya
keamanan dan asuransi

g.    Biaya pemasaran seperti biaya iklan

h.    Pajak

Pandangan akuntan mengenai biaya menekankan pada biaya-biaya langsung, biaya-biaya


historis, dan biaya-biaya lainnya. Maka devinisi biaya menurut ahli ekonomi setiap sumberdaya
adalah pembayaran yang diperlukan supaya sumber-sumber daya tersebut pada penggunaannya
yang sekarang. Dengan kata lain biaya ekonomi suatu sumber dayatersebut pada alternative
kesempatan penggunaannya yang terbaik (walter,1991). 

2.    Jenis-jenis Biaya Produksi

Biaya produksi membentuk harga pokok produksi yang digunakan untuk menghitung harga pokok
produk jadi dan harga pokok produk pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Biaya
produksi digolongkan dalam tiga jenis yang juga merupakan elemen-elemen utama dari biaya
produksi, meliputi:
a.    Biaya bahan baku (direct material cost)

Merupakan bahan secara langsung digunakan dalam produksi untuk mewujudkan suatu macam
produk jadi yang siap untuk dipasarkan.

b.    Biaya tenaga kerja langsung (direct labour cost)

Merupakan biaya-biaya bagi para tenaga kerja langsung ditempatkan dan didayagunakan dalam
menangani kegiatan-kegiatan proses produk jadi secara langsung diterjunkan dalam kegiatan
produksi menangani segala peralatan produksi dan usaha itu dapat terwujud.

c.    Biaya overhead pabrik (factory overhead cost) 

Umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan biaya pabrik
lainnya, seperti ; biaya pemeliharaan pabrik, yang tidak secara mudah didefinisikan atau dibebankan
pada suatu pekerjaan.

Biaya produksi yang di keluarkan setiap perusahaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

·      Biaya Eksplisit : Semua pengeluaran untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan input lain
yang dibayar melalui pasaran (pembayaran berupa uang)

·     Biaya Implisit : Biaya Implisit daah biaya yang tidak terlihat secara langsung, misalnya biaya
penyusutan barang modal.

Teori Biaya produksi menurut jangka waktunya, dibedakan menjadi 2 yakni:

1.    Jangka Waktu Pendek

Dalam jangka pendek perusahan adalah jangka waktu di mana sebagian faktor produksi tidak dapat
di tambah jumlahnya. Teori – teori biaya produksi dalam jangka pendek, yakni:

a.    Biaya Total dan Jenis-jenis Biaya Total 

-       Biaya total (Total Cost/TC) yaitu biaya yang meliputi keseluruhan jumlah biaya produksi yang
dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendanai aktivitas produksi.

Rumus : TC=TFC+TVC

-       Biaya tetap total (Total Vixed Cost/TFC) yaitu biaya yang meliputi perbelanjaan untuk
memperoleh faktor-faktor produksi yang tetap jumlahnya, artinya biaya ini besarnya tidak
dipengaruhi oleh jumlah Output yang dihasilkan. Contoh: biayatelepon, Biaya Pemeliharaan
Bangunan, biaya penyusutan, adalah contoh dari faktor produksi yang dianggap tidak mengalami
perubahan dalam jangka pendek

TFC = TC-TVC

-       Biaya berubah total (Total Variabel Cost/TVC) yaitu keseluruhan biaya yang dikeluarkan
perusahaan dalam faktor produksi dan bersifat Variabel atau dapat berubah – ubah sesuai dengan
hasil produksi yang akan dihasilkan. Semakin banyak produk yang dhasilkan, maka semakin besar
pula biaya yang harus dikeluarkan. Contoh : Biaya bahan baku , upah tenaga kerja, bahan bakar,dll.

TVC = TC-TFC
Tabel 1.1 Biaya Total (Ribuan Rupiah)

Jumlah Jumlah TFC TVC TC


pekerj produksi (Q)
a

0 0 50 0 50

1 2 50 50 100

2 6 50 100 150

3 12 50 150 200

4 20 50 200 250

5 27 50 250 300

6 33 50 300 350

7 38 50 350 400

8 42 50 400 450

9 45 50 450 500

10 47 50 500 550

Biaya total produksi  atau lebih di kenal total cost (TC) merupakan keseluruhan biaya yang harus
dikeluarkan oleh produsen yang berkaitan dengan proses produksi, sebagai aktivitas utama untuk
menghasilkan suatu produk. Dalam jangka pendek, total cost sangat di tentukan oleh input- input
produksi baik secara kuantitas maupun kualitas. Dimana input – input produksi tersebut dapat
memberikan konsekuensi pembiayaaan bersifat tetap dan bersifat variabel.

Pembiaayaan bersifat tetap di sebut biaya tetap atau total fixed cost (TFC) Biaya
tetap total (total fixsed cost/TFC) dapat di katakan biaya yang sifatnya wajib di keluarkan oleh
produsen dimana ada atau tidak ada aktivitas produksi. Jika biaya tetap tersebut  tidak di keluarkan,
maka konsekuensinya dapat menghambat jalannya proses produksi yang lainnya. Membeli  mesin,
mendirikan bangunan pabrik adalah contoh dari faktor produksi yang dianggap tidak mengalami
perubahan dalam jangka pendek.

Sedangkan biaya variabel (variable cost) merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan ketika
ada aktivitas proses produksi. Oleh sebab itu biaya berubah biasanya merupakan perbelanjaan untuk
membayar tenaga kerja yang digunakan. 

Jadi besar kecilnya biaya veriabel yang dikeluarka produsen sesuai dan tergantung pada skala proses
produksi yang di lakukan. Dengan kata lain semakin besar skala proses produksi, biaya variabel
semakin besar. Tetapi jika skala proses produksi relatif kecil maka biaya varibel yang di keluarkan
menjadi relatif kecil juga.

a.    Biaya Rata-rata Dan Marjinal     


-       Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost/AFC) biaya tetap yang dibelanjakan untuk
menghasilkan setiap unit produksi

 AFC = 

-       Biaya berubah rata- rata (Average Variabel Cost/AVC) biaya variabel yang dibelanjakan untuk
menghasilkan setiap unit produksi

AVC = 

-       Biaya total rata-rata (Average Cost/AC) keseluruhan biaya yang digunakan untuk menghasilkan


setiap unit produksi.

ATC =  

Q = total Output

-       Biaya Marginal (Marginal Cost / MC) Kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk
menambah satu unit output.

MCn = TCn – TCn-1

Dimana MCn adalah biaya marjinal produksi ke-n;

TCn  adalah biaya total pada waktu jumlah produksi n;

TCn-1 adalah biayatotal pada waktu jumlah produksi n-1.

Atau dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

MCn =  ∆TC/∆Q

Dimana MCn adalah biaya marjinal produksi ke-n;

∆TC adalah pertambahan jumlah biaya total;

∆Q adalah pertambahan jumlah produksi.

Akan tetapi pada umumnya pertambahan satu unit faktor produksi akan menambah beberapa unit
produksi, sebagai contoh, perhatikan tabel 1.2
Tabel 1.2

Biaya Rata-Rata (Ribuan Rupiah)”

Jumlah Jumlah TFC TVC TC AFC AVC ATC MC


pekerja produksi
(Q)

0 0 50 0 50 - - - -

1 2 50 50 100 25 25 50 25

2 6 50 100 150 12.5 16.7 25 12.5

3 12 50 150 200 8.3 12.5 16.7 8.3

4 20 50 200 250 6.25 10 12.5 6.25

5 27 50 250 300 7.1 9.3 11.1 7.1

6 33 50 300 350 8.3 9.1 10.6 8.3

7 38 50 350 400 10.0 9.2 10.5 10.0

8 42 50 400 450 12.5 9.5 10.7 12.5

9 45 50 450 500 16.7 10 11.1 16.7

10 47 50 500 550 25 10.6 11.7 25

TABEL RUMUS

Jenis Biaya Rumus

Biaya Total (TC) Biaya Tetap Total+Biaya Berubah TFC+TVC


Total

Biaya Marginal (MC) biaya totaln-biaya totaln-1    atau TCn-TCn-1

jumlah produksin-jumlah produksin-1 Qn-Qn-1

Biaya Tetap Rata-rata Biaya tetp total/jumlah produksi TFC/Q


(AFC)

Biaya berubah rata-rata Biaya berubah/jumlah produksi TVC/Q


(avc)

Biaya total rata-rata Biaya total/jumlah produksi TC/Q


(AC)
1.    Jangka Waktu Panjang

Dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor produksi atau input yang akan
digunakannya. Oleh karena itu, biaya produksi tidak perlu lagi dibedakan antara biaya tetap dan
biaya berubah. Di dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap,semua jenis biaya yang dikeluarkan
merupakan biaya berubah. Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan bukan saja dapat menambah
tenaga kerja tetapi juga dapat menambah jumlah mesin dan peralatan produksi lainnya, luas tanah
yang digunakan (terutama dalam kegiatan pertanian) dan luasnya bangunan/pabrik yang digunakan.
Sebagai akibatnya, dalam jangka panjang terdapat banyak kurva jangka pendek yang dapat
dilukiskan.

Jangka waktu panjang merupakan segala faktor produksi yang masih dapat berubah – ubah. Jadi
dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor froduksi atau infut yang akan
digunakannya.

Teori – teori biaya jangka panjang diantaranya ialah :

a.       Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan seluruh output dan bersifat Variabel.
Biaya total sama dengan perubahan biaya Variabel

LTC=∆LVC

LTC= biaya total jangka panjang (Long Run Total Cost)

∆LVC= Perubahan Biaya Variabel jangka panjang

b.      Biaya Marjinal jangka panjang 

Tambahan biaya karena menambah produksi sebanyak 1 unit. Perubahan biaya total sama dengan
perubahan biaya variable. Maka, LMC=∆LTC/∆Q

Dengan LMC= Biaya marjinal jangka panjang (Long Run Marjinal Cost)

∆LTC= Perubahan Biaya Total jangka Panjang

∆Q= Perubahan Output

c.       Biaya Rata – rata 

Biaya total dibagi Jumlah Output

LRAC=LTC/Q

Dengan LRAC=Biaya Rata – Rata Jangka panjang (Long Run Average Cost)

Q = Jumlah output

1.    Faktor- faktor Produksi

Faktor produksi adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa. Faktor
produksi yang bisa digunakan dalam proses produksi yaitu :

a.    Sumber Daya Alam


Sumberdaya alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat dimanfaatkan
manusia/ persahaan untuk memenuhi kebutuhannya. Sumberdaya alam di sini meliputi segala
sesuatu yang ada di dalam bumi.

b.    Sumber Daya Manusia (Tenaga Kerja Manusia)

Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia baik jasmani maupun rohani yang dicurahkan
dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jas.

c.    Sumber Daya Modal

Modal menurut pengertian ekonomi adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk
menghasilkan produk lebih lanjut.

d.   Sumberdaya Pengusaha

Sumberdaya ini disebut juga kewirausahaan. Pengusaha berperan mengatur dan mengkombinasikan
faktor-faktor produksi dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif dan
efisien.

Faktor yang akan menentukan kapasitas produksi yang digunaan adalah tingkat produksi yang ingin
dicapai.

2.    Cara Meminimumkan Biaya

Dalam analisis ekonomi kapasitas pabrik digambarkan oleh kurva biaya total rata-rata atau Average


Cost (AC). Peminimuman biaya jangka panjang tergantung kepada 2 faktor berikut :

a.       Tingkat produksi yang ingin dicapai

b.      Sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia

Faktor yang akan menentukan kapasitas produksi yang digunaan adalah tingkat produksi yang ingin
dicapai.
Pengertian Biaya Produksi

Biaya dalam pengertian Produksi ialah semua “beban” yang harus ditanggung oleh produsen untuk
menghasilkan suatu produksi. Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh
perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan
digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut. Semua
faktor-faktor produksi yang dipakai adalah merupakan pengorbanan dari proses produksi dan juga
berfungsi sebagai ukuran untuk menentukan harga pokok barang. Input yang digunakan untuk
memproduksi output tersebut sering disebut biaya oportunis. Biaya oportunis sendiri merupakan
biaya suatu faktor produksi yang memiliki nilai maksimum yang menghasilkan output dalam suatu
penggunaan alternatif.

Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut: bahan baku atau bahan dasar termasuk
bahan setengah jadi, bahan-bahan pembantu atau penolong, upah tenaga kerja dari tenaga kerja
kuli hingga direktur, penyusutan peralatan produksi, uang modal, sewa, biaya penunjang seperti
(biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya keamanan dan asuransi), biaya
pemasaran seperti biaya iklan dan pajak

Biaya produksi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1.      Biaya Eksplisit

Biaya Eksplisit ialah biaya yang nyata-nyata dikeluarkan dalam memperoleh faktor produksi (nilai
dan semua input yang dibeli untuk produksi). Pembayarannya berupa uang untuk mendapatkan
faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan perusahaan. Contoh: biaya tenaga kerja,
sewa gedung, dll.

2.      Biaya Implisit

Biaya implisit disebut juga imputed cost (ongkos tersembunyi), ialah taksiran biaya atas faktor
produksi yang dimiliki sendiri oleh perusahaan dan ikut digunakan dalam proses produksi yang
dimiliki oleh perusahaan. Contoh: Penggunaan gedung milik perusahaan sendiri.

2.2    Produksi, Produktivitas, dan Biaya

Keputusan tingkat produksi senantiasa berkaitan dengan tingkat produktivitas factor – factor
produksi yang digunakan. Produktivitas yang tinggi menyebabkan tingkat produksi yang sama dapat
dicapai dengan biaya yang lebih rendah. Dengan kata lain, produktivitas dan biaya mempunyai
hubungan terbalik. Jika produktivitas makin tinggi, biaya produksi akan semakin rendah. Begitu juga
sebaliknya. Perilaku biaya juga berhubungan dengan periode produksi. Dalam jangka pendek ada
factor produksi tetap yang menimbulkan biaya tetap, yaitu biaya produksi yang besarnya tidak
tergantung pada tingkat produksi. Dalam jangka panjang, karena semua factor produksi adalah
variable, biaya juga variable. Artinya, besarnya biaya produksi dapat disesuaikan dengan tingkat
produksi.

Dalam jangka panjang, perusahaan akan lebih mudah meningkatkan produktivitas disbanding dalam
jangka pendek. Itu sebabnya ada perusahaan yang mampu menekan biaya produksi, sehingga setiap
tahun biaya produksi per unit makin rendah. Pola pergerakan biaya rata-rata ini berkaitan dengan
karakter fungsi produksi jangka panjang. Untuk perusahaan yang ber”skala hasil menarik”
(Increasing return to scale  atau IRS), penambahan tingkat produksi justru menurunkan biaya
produksi. Sebaliknya dengan perusahaan yang ber”skala hasil menurun” (decreasing return to
scale   atau DRS).
2.3    Biaya Produksi Jangka Pendek

Biaya produksi jangka pendek adalah jangka waktu dimana perusahaan telah dapat menambah
faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses prooduksi. Dalam biaya produksi jangka pendek
ditinjau dari hubungannnya dengan produksi, maka dapat dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:

a. Biaya Langsung (Direct Cost)

Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung pada suatu proses
tertentu ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya bahan baku langsung dan tenaga
kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu juga dengan supervise, listrik, dan
biaya overhead lainnya yang dapat langsung ditelusuri pada departemen tertentu.

b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)

Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara langsung pada
suatu proses tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu penerangan dan Air
Conditioning pada suatu fasilitas.

2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:

a.  Biaya Tetap Total (Total  Fixed Cost / TFC)

Biaya Tetap Total adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan walaupun perusahaan tidak
berproduksi. Biaya tetap merupakan biaya setiap unit waktu untuk pembelian input tetap. Misalnya:
gaji pegawai, biaya pembuatan gedung, pembelian mesin-mesin, sewa tanah dan lain-lain. Biaya
tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya
total. Penurunan rumus tersebut, adalah:

TC = FC + VC                                   FC = TC – VC

Keterangan:     TC = Biaya Total (Total Cost)

                                    FC = Biaya Tetap (Fixed Cost)

                                    VC = Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya tetap (FC) adalah biaya yang besarnya tidak berubah seiring dengan berubahnya jumlah
produksi (Q). Berapapun jumlah produksi apakah mengalami kenaikan atau penurunan, maka jumlah
biaya (P) yang dikeluarkan adalah tetap.

b.  Biaya Variabel Total (Total Variable Cost / VC)

Biaya Variabel Total adalah biaya yang dikeluarkan apabila berproduksi dan besar kecilnya
tergantung pada banyak sedikitnya barang yang diproduksi. Semakin banyak barang yang diproduksi
biaya variabelnya semakin besar, begitu juga sebaliknya. Biaya variabel rata-rata dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:

VC = TC – FC
Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besarnya berubah searah dengan berubahnya jumlah produksi.
Itulah sebabnya kurva VC ini mengarah ke kanan atas.

c.  Biaya Total (Total Cost / TC)

Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan yang terdiri
dari biaya tetap dan biaya variabel. Dengan kata lain, biaya total adalah jumlah biaya tetap dan biaya
variabel.

Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

TC = FC + VC

Biaya variabel merupakan unsur biaya total karena biaya total memiliki sifat yang juga dimiliki oleh
biaya variabel, yaitu bahwa besarnya biaya total itu berubah-ubah seiring dengan berubah-ubahnya
jumlah output yang dihasilkan.

Biaya Total (TC) adalah penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel. Kurva TC memiliki bentuk yang
persis sama dengan bentuk kurva Biaya Variabel (VC), serta antara keduanya terpisah oleh suatu
jarak vertikal yang selalu sama.       

d.  Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost / AFC)

Biaya Tetap Rata-Rata  adalah hasil bagi antara biaya tetap total dan jumlah barang yang dihasilkan.
Rumus  :

AFC =  FC / Q
Keterangan:     FC = Biaya Tetap Total

                                    Q   = Kuantitas

e.   Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost / AVC)

Biaya variabel rata-rata adalah biaya variable satuan unit produksi.

Rumusnya:    

AVC = VC/Q

keterangan:      VC = Biaya Variabel Total

                                    Q   = Kuantitas

f.   Biaya Total Rata-Rata (Average Cost / AC)

Average Cost adalah biaya total rata-rata yang dapat dihitung dari Total Cost dibagi banyaknya
jumlah barang tertentu (Q). Nilainya dihitung menggunakan rumus di bawah ini:

AC = TC /Q  atau  (VC+FC)/Q

AC = AVC + AFC

           

2.3. Biaya Produksi Jangka Panjang

Dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor produksi atau input yang akan
digunakan. Oleh karena itu, biaya produksi tidak perlu lagi dibedakan dengan biaya tetap dan biaya
berubah. Dalam jangka panjang semua biaya adalah variabel. Karena itu biaya yang relevan dalam
jangka panjang adalah biaya total, biaya variabel, biaya rata-rata dan biaya marjinal. Perubahan
biaya total adalah sama dengan perubahan biaya variabel dan sama dengan biaya marjinal.

Cara meminimumkan biaya dalam jangka panjang dapat memperluas kapasitas produksinya, ia harus
menentukan besarnya kapasitas pabrik (plan size) yang akan meminimumkan biaya produksi dalam
analisis ekonomi kapasitas pabrik dapat digambarkan kurva biaya rata-rata (AC). Sehinggas analisis
mengenai bagaimana produsen menganalisis kegiatan produksinya dalam usaha meminimumkan
biaya dapat dilakukan dengan memperhatikan kurva AC untuk kapasitas yang berbeda-beda.

Faktor yang akan menentukan kapasitas produksi yang digunakan yaitu tingkat produksi yang akan
dicapai serta sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia.

a)      Biaya Rata-rata Jangka Panjang (Long-run Average Cost/ LAC)

Biaya total rata-rata jangka panjang adalah biaya total dibagi jumlah output.

LAC = LTC/Q

Keterangan :    LAC = Biaya rata-rata jangka panjang

                                    Q = Jumlah output

b)      Biaya Marginal Jangka Panjang (Long-run Marginal Cost/LMC)

Biaya marginal jangka panjang adalah tambahan biaya karena menambah produksi sebanyak satu
unit. Perubahan biaya total adalah sama dengan perubahan biaya variabel. Biaya marginal jangka
panjang dapat dihitung dengan rumus:

LMC = ∆LTC / ∆Q

Keterangan:     LMC   = Biaya marginal jangka panjang

                                    ∆LTC = Perubahan biaya total jangka panjang

                                    ∆Q       = Perubahan output.

c)      Biaya Total Jangka Panjang (Long-run Total Cost/LTC)

Biaya total jangka panjang adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi seluruh output dan
semuanya bersifat variabel. Biaya total jagka panjang dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

LTC = LVC

Keterangan:     LTC = Biaya total jangka panjang

                                    LVC = Biaya Variabel jangka panjang


     

            Dalam jangka panjang titik terendah dari suatu AC tidak menggambarkan biaya yang paling
minimum untuk memproduksikan suatu tingkat produksi. Terdapat kapasitas produksi lain (AC lain)
yang dapat meminimumkan biaya. Sebagai buktinya perhatikanlah AC 1  dan AC2. Titik A1  adalah titik
ttterendah dari AC1. Dengan demikian dalam jangka pendek, produksi sebesar Q A  dapat di
produksikan dengan biaya yang lebih rendah dari titik manapun pada AC 1.Tetapi dalam jangka
panjang biaya itu belum merupakan biaya yang paling minimum, karena apabila kapasitas produksi
yang berikut digunakan (AC2), produksi sebesar QA  akan mengeluarkan biaya sebesar seperti yang
ditunjukkan oleh titik A pada AC2. Dari contoh ini dapat disimpulkan bahwa kurva LRAC, walaupun
tidakmenghubungkan setiap titik terendah dari AC, menggambarkan biaya minimum perusahaan
dalam jangka panjang.

Anda mungkin juga menyukai