Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH FTS SOLIDA

PREFORMULASI TABLET INDOMETHACIN

Disusun Oleh :
Nama : Esi Riskiyah
Kelas : Farmasi 5A
NIM 180105029

PRODI FAKULTAS KESEHATAN SARJANA FARMASI


UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga
kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Farmakognosi pada Program Studi Farmasi. Kami berterimakasih kepada
dosen pembimbing dari mata kuliah FTS Solida yaitu Apt. Desy Nawangsari, M.Farm. kami
mengharapkan ada ide, kritik dan saran yang membangun untuk dapat menyempurnakan
makalah ini agar dapat menjadi makalah yang baik serta dapat lebih menambah
wawasan,semoga dengan memebaca makalah ini pembaca lebih mudah untuk memahami perihal
Preformulasi Tablet Indomethacin.

Kami sadar makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami mengharapkan
adanya kritik dan saran yang membangun untuk dapat menyempurnakan makalah ini agar dapat
menjadi makalah yang baik serta dapat lebih menambah wawasan, semoga dengan memebaca
makalah ini pembaca lebih mudah memahami Preformulasi Tablet Indomethacin.

Bumiayu, 08 Juni 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...........................................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................2
C. Tujuan......................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
A. Pengertian Preformulasi...........................................................................................3
B. Tujuan Preformulasi.................................................................................................3
C. Pertimbangan Umum Preformulasi..........................................................................4
D. Jenis-Jenis Bahan Obat dan Bahan Tambahan Obat................................................6
E. Keuntungan dan Kerugian Pemakaian Obat dari Sediaan Padat.............................7
F. Hal-Hal yang Mempengaruhi Khasiat Obat............................................................7
G. Preformulasi Obat Indomethacin.............................................................................9
BAB III PENUTUP.................................................................................................................17
A. Kesimpulan............................................................................................................17
B. Saran......................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri farmasi merupakan salah satu elemen yang berperan penting dalam
mewujudkan kesehatan nasional melalui aktivitasnya dalam bidang manufacturing
obat. Tingginya kebutuhan akan obat dalam dunia kesehatan dan vitalnya aktivitas
obat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh manusia melahirkan sebuah tuntutan
terhadap industri farmasi agar mampu memproduksi obat yang berkualitas. Oleh
karena itu, semua industri farmasi harus benar-benar berupaya agar dapat
menghasilkan produk obat yang memenuhi standard kualitas yang dipersyaratkan.
Studi preformulasi adalah tahap pertama dalam pembentukan tablet atau
aktivitas formulasi dengan pertimbangan yang hati-hati dari data preformulasi..
Pengkajian preformulasi ini berpusat pada sifat – sifat fisika kimia zat aktif serta
bahan tambahan obat yang dapat mempengaruhi penampilan obat dan perkembangan
suatu bentuk sediaan farmasi (Lieberman, 1990).
Indomethacin merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) yang
digunakan untuk mengobati nyeri ringan sampai sedang dan membantu meringankan
gejala arthritis misalnya, osteoarthritis dan rheumatoid arthritis atau asam urat seperti
peradangan, kekakuan, bengkak dan nyeri sendi. Obat ini juga dapat digunakan
untuk mengobati nyeri bahu yang disebabkan oleh bursitis atau tendinitis.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian Preformulasi ?
2. Bagaimana Tujuan Preformulasi ?
3. Bagaimana Pertimbangan Umum Preformulasi ?
4. Bagaimana Jenis-Jenis Bahan Obat dan Bahan Tambahan Obat ?
5. Bagaimana Keuntungan dan Kerugian Pemakaian Obat dari Sediaan Padat ?
6. Apa Hal-Hal yang Mempengaruhi Khasiat Obat ?
7. Bagaimana Preformulasi Obat Indomethacin ?
C. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui Pengertian Preformulasi
2. Mahasiswa mengetahui Tujuan Preformulasi
3. Mahasiswa mengetahui Pertimbangan Umum Preformulasi
4. Mahasiswa mengetahui Jenis-Jenis Bahan Obat dan Bahan Tambahan Obat
5. Mahasiswa mengetahui Keuntungan dan Kerugian Pemakaian Obat dari
Sediaan Padat
6. Mahasiswa mengetahui Hal-Hal yang Mempengaruhi Khasiat Obat
7. Mahasiswa mengetahui Preformulasi Obat Indomethacin
BAB II
PEMBAHASAN

A. Preformulasi
Studi preformulasi adalah tahap pertama dalam pembentukan tablet atau aktivitas
formulasi dengan pertimbangan yang hati-hati dari data preformulasi. Pengkajian
preformulasi ini berpusat pada sifat – sifat fisika kimia zat aktif serta bahan
tambahan obat yang dapat mempengaruhi penampilan obat dan perkembangan
suatu bentuk sediaan farmasi (Lieberman, 1990).
Preformulasi dapat dideskripsikan sebagai tahap perkembangan yang mana ahli
farmasi mengkategorikan sifat fisika kimia dari bahan obat dalam pernyataan yang
mana dianggap penting dalam formulasi yang stabil, efektif dan bentik yang aman.
Beberapa parameter seperti ukuran kristal dan bentuk, sifat pH, solubility, sifat ph
stabilitas, polymorphisin, efek pembagian, permeabilitas obat dan disolusi
dievaluasi salama evaluasi tersebut tidak mungkin saja terjadi. Interaksi dengan
berbagai bahan- bahan inert yang dimaksudkan untuk penggunaan dalam bentuk
akhir, yang mana diketahui. Data yang didapat dari evaluasi ini berhubungan
dengan data yang didapat dari pendahuluan farmakologi dan studi biokimia dan
memberikan ahli farmasi informasi yang mengizinkan pemilihan dari dosis yang
optimum mengandung bahan- bahan inert yang paling diamati perkembangannya
dalam perkembangan (Gennaro, 1998).
B. Tujuan Preformulasi
Tujuan dasar dari aktivitas preformulasi adalah untuk menyiapkan dasar rasional
untuk metode preformulasi, untuk memaksimalkan kesempatan dalam
mengoptimalkan sebuahproduk obat dan penampilannya. Dari sudut pandang
seorang formulator tablet, informasi preformulasi yang paling pentingadalah studi
kestabilan zat tambahan obat. Pertanyaan berikutnya, untuk obat baru. Sebuah obat
dimana formulasinyamemiliki pengalaman yang kurang adalah untuk memilih
bahan zat tambahan yang mana baik secara kimia-fisika cocok denganobatnya
(Lieberman, 1990).
Penerangan formula menggunakan pengalaman dan pengetahuan mengetahui
bahan tambahan untuk menjaga ukuran tablet ini seminimal mungkin tanpa
mengorbankan bagian-bagian yang perlu. Formulasi dari tablet membutuhkan
pertimbangan antara lain (Lieberman, 1990) :
1. Ukuran dari dosis atau kuantias dari bahan aktif
2. Stabilitas dari bahan aktif
3. Kelarutan dari bahan aktif
4. Kerapatan dari bahan aktif
5. Kemampuan pengampaan dari bahan aktif
6. Penyeleksian bahan tambahan
7. Metode dari granulasi
8. Karakter dari granulasi
9. Kempa tablet, tipe, ukuran, dan kapasitas
10. Stabilitas dari produk obat
11. Ketersediaan
C. Pertimbangan Umum Preformulasi
Sebelum membuat formula sediaan obat, beberapa hal yang harus
dipertimbangkan yaitu (Ansel, 1989) :
1. Bentuk sediaan yang akan dibuat.
a. Ada beberapa pilihan bentuk sediaan farmasi yaitu bentuk padat (puyer, tablet,
kapsul, suppositoria ), bentuk setengah padat ( salep, pasta, krim ) dan bentuk
cair ( larutan, suspensi, emulsi )
b. Pemilihan bentuk sediaan obat tergantung pada :
1) Sifat-sifat fisika-kimia zat aktif yang digunakan, yakni kelarutan, ukuran
partikel, sifat higroskopis, reaksi-reaksi kimia dll.
2) Kerja obat yang diinginkan, secara lokal ataukah sistemik. Untuk kerja
lokal dipilih sediaan salep, krim, lotion, serbuk tabur. Untuk kerja sistemik
( diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah ) dipilih sediaan tablet, kapsul,
pulveres/puyer dan sirup.
3) Umur si pemakai. Untuk bayi dan anak-anak lebih disukai bentuk pulveres
dan sirup. Untuk dewasa umumnya dibuat dalam bentuk tablet, kapsul.
2. Bahan tambahan obat yang akan digunakan
Bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi harus kompatibel (dapat
tercampurkan) dengan bahan obat utama (zat aktif ) dan bahan tambahan yang
lain. Bahan tambahan diperlukan untuk :
a. Mendapatkan bentuk sediaan yang diinginkan (bentuk tablet, larutan, dll).
1) Sebagai contoh : pada sediaan tablet selain zat aktif, digunakan bahan
tambahan berupa bahan pengisi untuk memperbesar volume tablet, bahan
pengikat untuk merekatkan serbuk bahan obat, bahan penghancur untuk
mempercepat pecahnya tablet di dalam lambung, dan bahan penyalut
yang digunakan untuk memperbaiki kestabilan, mengontrol
penghancuran dan mempercantik penampilan tablet.
2) Pada sediaan larutan digunakan bahan tambahan berupa pelarut untuk
melarutkan bahan obat, dapat juga ditambahkan bahan penstabil untuk
mencegah peruraian bahan obat, bahan pengawet untuk mencegah
pertumbuhan mikroba, bahan pemberi warna dan rasa untuk
memperbaiki rasa dan penampilan produk. Demikian juga untuk sediaan
salep, pasta, krim dan lain-lain.
b. Menjaga kestabilan sediaan obat (misal : pengawet, pensuspensi,pengemulsi)
c. Menjaga kestabilan zat aktif (misal : antioksidan)
3. Kenyamanan saat penggunaan
a. Kenyamanan saat digunakan penting untuk diperhatikan karena akan
mempengaruhi kepatuhan si pemakai obat. Jika obat berasa tidak enak maka
orang akan enggan mengkonsumsinya
b. Rasa yang tidak enak dari obat dapat ditutupi dengan penambahan corrigens
saporis, bau yang tidak enak ditutupi dengan corrigens odoris, dan warna yang
kurang menarik ditutupi dengan corrigens coloris
c. Rasa pahit dari obat-obat tertentu misal Ampisilin dan Amoksisilin dapat
diatasi dengan penggunaan bentuk garamnya yaitu Ampisilin trihidrat dan
Amoksisilin trihidrat yang tidak pahit.
d. Sediaan setengah padat harus memenuhi persyaratan yaitu : halus, mudah
dioleskan, tidak terlalu lengket dan tidak meninggalkan bekas noda pada
pakaian.
4. Kestabilan sediaan obat.
a. Selama penyimpanan, sediaan obat harus tetap dalam keadaan yang stabil,
tidak menampakkan tanda-tanda kerusakan. Tanda-tanda kerusakan yang
umum ditemui pada sediaan obat misalnya: terjadi perubahan warna, bau, rasa,
timbulnya kristal pada permukaan tablet/kaplet, memisahnya air dan minyak
pada sediaan krim / emulsi.
b. Untuk menjaga kestabilan sediaan obat perlu dilakukan penambahan bahan
tambahan tertentu ( misalnya : pengawet ), pengemasan yang tepat, pemberian
petunjuk tentang cara penyimpanan yang benar.
5. Khasiat obat
Untuk menjaga khasiat obat, perlu diperhatikan :
a. Pemilihan bentuk sediaan. Sebagai contoh, jika zat aktif tidak stabil dalam
media air, maka tidak diformulasi dalam bentuk cair.
b. Bahan-bahan tambahan yang digunakan tidak boleh mengurangi khasiat zat
aktifnya.
c. Pemberian petunjuk cara penggunaan yang benar.

D. Jenis-jenis Bahan Obat dan Bahan Tambahan Obat


1. Formula Tablet
A. Bahan obat aktif : 1% - 50%
B. Bahan tambahan obat : 50% - 90%, terdiri dari :
1) Pengisi 5) Pengikat
2) Penghancur 6) Pelicin
3) Pelumas 7) Pemberi warna
4) Perasa 8) Penyalut
2. Formula salep
A. Bahan obat aktif : 1% - 10%
B. Bahan tambahan obat : 90% - 99%, terdiri dari Dasar salep, pengawet,
pewarna.
3. Formula krim
A. Bahan obat aktif : 1% - 10%
B. Bahan tambahan obat : 90% - 99% terdiri dari Dasar krim, pewangi,
pengawet, pewarna.
4. Formula suspensi
A. Bahan obat aktif : 1% - 10%
B. Bahan tambahan obat : 90% - 99% terdiri dari Pembawa/pelarut, pensuspensi,
perasa, pengawet.
5. Formula injeksi
A. Bahan obat aktif : 1% - 20%
B. Bahan tambahan obat : 80% - 99% terdiri dari Pembawa, pengisotoni,
pengawet (Anwar, 2009).
E. Keuntungan dan Kerugian Pemakaian Obat dari Sediaan Padat
1. Keuntungan
a) Besar kecilnya dosis dapat ditentukan oleh dokter sesuai dengan keadaan
penderita.
b) Sangat sesuai untuk bahan obat yang tidak stabil dalam bentuk cair,
misalnya golongan Antibiotik (contoh : Ampisilin, Amoksisilin,
Chloramphenicol, dll). Obat golongan Antibiotik selalu diproduksi dalam
bentuk padat, yaitu tablet, kaplet, kapsul dan serbuk / sirup kering.
c) Lebih stabil dibandingkan bentuk sediaan cair (Ansel, 2008).
2. Kerugian
a) Selama penyimpanannya kadang-kadang serbuk menjadi
lembab/lengket.
b) Tidak tertutupinya rasa tidak enak dari beberapa bahan obat, misal
pahit, sepat (meskipun bisa dikurangi dengan penambahan pemanis)
(Ansel,2008)
F. Hal-Hal yang Mempengaruhi Khasiat Obat
Khasiat obat atau efek terapi obat adalah respon yang dialami oleh tubuh setelah
penggunaan obat. Hal-hal yang mempengaruhi khasiat obat (Anderson dan Banker,
1986) :
1. Dosis obat yang digunakan.
Dosis obat (zat aktif) yang digunakan harus mampu menimbulkan efek
terapi bagi si pemakai. Dosis tersebut disebut dosis terapi.
2. Absorpsi obat.
Agar suatu obat dapat menghasilkan efek terapi / khasiat, obat tersebut
harus larut, kemudian diasbsorpsi/menembus membran biologis dan dibawa
oleh darah ke seluruh jaringan dan organ-organ tubuh
3. Cara pemberian obat
Cara pemberian obat akan berpengaruh pada kecepatan absorpsi zat aktif.
Cara pemberian obat dikelompokkan dalam :
a. Secara oral, yaitu penggunaan obat melalui mulut. Obat paling sering
digunakan dengan cara oral karena alami, tidak sulit dan aman dalam
penggunaan. Tetapi efek terapi obat lebih lambat dibandingkan
pemakaian secara parenteral.
b. Secara Topikal, yaitu penggunaan obat melalui permukaan kulit dan
menghasilkan efek lokal dan sebagian dapat diabsorbsi kedalam
jaringan dibawah kulit.
c. Secara rektal, yaitu penggunaan obat melalui anus / rektum. Beberapa
obat sering diberikan secara rektal untuk memperoleh efek lokal. Tetapi
bisa juga untuk efek sistemik, seperti obat-obat analgesik. Obat
diabsorpsi melalui rectum, tidak melalui metabolisme di hati. Efek
terapi yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan secara oral.
d. Secara parenteral, yaitu penggunaan obat melalui penyuntikan dengan
alat jarum suntik (intravena, intramuscular, subcutan). Efek terapi yang
dihasilkan paling cepat dibandingkan dengan bentuk sediaan lain,
terutama yang secara intravena karena langsung masuk dalam darah.
4. Bentuk sediaan.
Untuk mengetahui pengaruh bentuk sediaan obat terhadap khasiat obat
telah dilakukan penelitian uji klinis berupa pengukuran kadar obat dalam
darah setelah pemberian obat. Penelitian tersebut digunakan untuk
membandingkan absorpsi obat dari berbagai bentuk sediaan, khususnya
sediaan obat untuk
pemakaian oral. Sediaan tablet memerlukan waktu untuk hancur terlebih dulu,
sebelum akhirnya larut dan diabsorpsi
G. Preformulasi Obat Indomethacin
1. Sifat Fisika Kimia Zat Aktif
A. Deskripsi
1. Nama Generik : Indomethacin
2. Nama IUPAC : 2-{1-[(4-Chlorophenyl)carbonyl]-5-methoxy-
2-methyl-1H indol-3-yl}acetic acid
3. Rumus Struktur : C19H16ClNO4
4. Gambar Struktur :

B. Sifat Kimia
1. BM : 357,79
2. Titik Lebur : 151º C
3. Kelarutan Air : 0.937 mg/L (at 25º C)
4. Log P : 4,27
5. pKa : 4,5
C. Sifat Fisika
1. Kandungan : Indomethacin mengandung tidak kurang dari
98,5 % C19H16ClNO4, dihitung terhadap zat
yang telah dikeringkan.
2. Pemerian : Serbuk hablur, polimorf kuning pucat hingga
kuning kecoklatan, tidak berbau atau hampir
tidak mempunyai rasa. Peka terhadap cahaya,
meleleh pada suhu lebih kurang 158° C-
162°C
3. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut
dalam etanol, dalam kloroform dan dalam
eter.
4. Wadah dan Penyimpanan : Simpan dalam wadah tidak tembus cahaya
D. Sifat Farmakologis
1. Ikatan Protein : 99%
2. Half-life : 2,6-11,2 jam (dewasa) dan 12-28 jam (bayi)
3. Toksisitas
Indometasin memiliki toksisitas akut yang tinggi baik untuk hewan
(tikus dalam 12 mg / kg) dan bagi manusia. Data manusia yang tepat
tidak ada, tetapi beberapa kasus manusia yang fatal, terutama pada anak-
anak dan remaja yang telah terlihat. Umumnya,
overdosis pada manusia menyebabkan kantuk, pusing,
sakit kepala parah, kebingungan mental, paresthesia, mati rasa anggota
badan, mual dan muntah. Perdarahan gastrointestinal yang parah juga
mungkin terjadi. Edema serebral, dan serangan jantung dengan hasil yang
fatal bias juga terjadi pada anak-anak . Perawatan yang simtomatik dan
sebagian besar sama dengan diklofenak.
Namun, kemungkinan gejala saluran pencernaan yang parah harus sangat
diperhatikan.Risiko overdosis setelah pengobatan lokal berlebihan dengan
gel atau semprot sangat terbatas
4. Mekanisme Kerja :
Indomethacin sebagai obat antiradang menghalangi sintesis
prostaglandin dengan cara menghambatkerja enzim siklooksigenase
(COX) 1 dan 2. Gugus karboksil dari indomethacin akan berikatan
denganresidu Tyrosine 355 (membentuk ikatan hidrogen) dan Arginine
120 (membentuk ikatan ionik) yangmerupakan bagian dari enzim
siklooksigenase. Kedua
tempat tersebut sama seperti tempat dari guguskarboksil asam arakidonat
terikat, sehingga apabila gugus karboksil dari indomethacin terikat
padatempat-tempat tersebut, maka sintesis prostaglandin dari asam
arakidonat oleh enzim siklooksigenase tidak dapat dilakukan.
5. Indikasi
Penggunaannya dianjurkan hanya bila penggunaan NSAID lain kurang
berhasil misalnya pada spondilitis ankilosa, artritis pirai akut, osteoartritis
tungkai. Indometasin tidak berguna pada pengobatan penyakit pirai kronik
karena tidak berefek urikosurik.
6. Kontra Indikasi :
Tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak, wanita hamil, pasien
dengan gangguan psikiatri dan pasien dengan penyakit lambung.
7. Efek Samping
Efek samping ini biasanya ringan, dapat terjadi sakit perut, gangguan
pencernaan, perut terasa panas dan mata terasa pedas, mengantuk, pusing,
sakit kepala, diare. Gagal ginjal akut, reaksi kulit dan kenaikan jumlah
enzim hati kadang-kadang terjadi. Pada penggunaan jangka panjang,
mungkin terjadi anemia sekunder, retensi cairan dan kenaikan tekanan
darah
8. Interaksi Obat
a. Aminoglikosida : meningkatkan resiko toksisitas aminoglikosida karena
peningkatan kadar plasma
b. Depresan sumsum tulang belakang : dapat meningkatkan efek
leukopenia dan trombositopenia dari senyawa ini
c. Probenesid : memperlama waktu paro indometasin sehingga
meningkatkan toksisitas indometasin
d. Zidovudin : pemakaian bersama keduanya meningkatkan efek samping
keduanya
e. Litium : meningkatkan kadar plasma dan toksisitas litium
f. Inhibitor agregasi platelet : meningkatkan resiko iritasi saluran cerna
dan perdarahan
g. Diflunisal : meningkatkan kadar plasma dan toksisitas indometasin.
9. Peringatan : Indometasin termasuk golongan obat keras. Sehingga pada
peringatannya adalah “HARUS DENGAN RESEP DOKTER”
10. Dosis Pemberian Obat : Penggunaan 2-3 kali dalam sehari. Dosis
maksimum 200 mg perhari.
E. Farmakodinamika
Pemberian per oral absorbsinya cukup baik; 92-99% terikat pada protein plasma.
Indometasin cepat dan hampir sempurna diabsorbsi dari saluran cerna bagian atas
setelah pemberian per-oral. Dimetabolisme oleh hati. Diekskresikan ke dalam empedu
dan urine dalam bentuk tidak berubah dan dalam bentuk metabolit. Waktu paruh dalam
plasma kira-kira 2-4 jam.
F. Rancangan Formulasi
1. Bahan Aktif : Indomethacin
2. Bahan Pengikat : Amylum Solani
3. Bahan Pengisi : Lactosa
4. Bahan Penghancur : Gelatinum
5. Bahan Pelicin : Talk
Contoh obat dalam pasaran yaitu tablet “Nusametasin”
G. Alasan Pemilihan Bahan
1. Amylum solani
a. Nama resmi : AMYLUM SOLANI
b. Nama lain : Pati kentang
c. Rumus struktur :

d. Pemerian : Tidak berbau, tidak berasa, serbuk putih halus


e. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol
f. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
g. Kestabilan : Pati kering stabil jika dilindungi dari kelembaban tinggi.
Pati adalah dianggap kimia dan mikrobiologis lembam di
bawah tidak stabil dan mudah dimetabolisme oleh
mikroorganisme, mereka Oleh karena itu harus baru
disiapkan bila digunakan untuk granulasi basah.
h. Inkompabilitas : Dengan zat pengoksida kuat dan iodin
i. Kegunaan : Bahan Pengikat
Alasan Amylum Solanum digunakan sebagai bahan pengikat adalah karena
pati adalah bahan tambahan yang digunakan sebagai bahan pengisi pada
sediaan tablet. Tepung yang dapat diperoleh dari jagung dapat digunakan
sebagai pengisi tablet. Yang umum digunakan adalah pati.
2. Lactosa
a. Nama resmi : Lactosum
b. Nama lain : laktosa, lakctosum, gula susu, milk sugar, saccaharum
laktis, melk suiker
c. Nama kimia : O-b-D-Galactopyranosyl-(1!4)-b-D-glucopyranose [63-42-
3]
d. Rumus molekul : C12H22O11
e. Rumus struktur :

f. Berat molekul : 342.30


g. Pemerian : serbuk atau massa hablur, putih, atau krem. Tidak berbau
dan rasa sedikit manis. Stabil di udara tapi mudah menyerap
bau.
h. Kelarutan : mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air
mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam
kloroform dan dalam eter.
i. Stabilitas : Pertumbuhan jamur dapat terjadi pada kondisi lembab (80%
RH dan di atas). Laktosa dapat mengembangkan warna
coklat pada penyimpanan, reaksi yang dipercepat oleh
hangat, kondisi lembab; Pada 808C dan 80% RH, tablet
yang mengandung laktosa anhidrat telah terbukti untuk
memperluas 1,2 kali setelah satu hari. Anhidrat laktosa
harus disimpan dalam wadah yang tertutup ditempat yang
sejuk dan kering.
j. Penyimpanan : Simpan pada wadah tertutup baik.
k. Inkompabilitas : Anhidrat laktosa tidak kompatibel dengan oksidasi kuat.
Kapan campuran yang mengandung leukotrien antagonis
dan hidrofobik laktosa anhidrat atau laktosa monohidrat
disimpan selama enam minggu di 408C dan 75% RH,
campuran yang mengandung anhidrat laktosa menunjukkan
penyerapan kelembaban yang lebih besar dan degradasi
obat.
l. Kegunaan : Bahan Pengisi
Alasan Lactosa digunakan sebagau bahan pelican adalah karena laktosa
merupakan bahan pengisi yang paling umum digunakan dalam formulasi
obat/tablet. Laktosa ini menunjukkan stabilitas yang paling bagus dalam
kombinasi hasil paling banyak obat.
3. Gelatin
a. Nama resmi : Gelatinum
b. Nama lain : Byco, gelatin, gelatin, Instagel, kolatin, solugel
c. Pemerian : Lembaran, keping atau potongan atau serbuk kasar sampai
halus. Kuning lemah atau coklat terang, warna bervariasi
tergantung ukuran partikel. Larutannya berbau seperti
kaldu.
d. Kelarutan : Tidak larut dalam air dingin, larut dalam air panas gliserin
dalam asam aseta 6 N dan air, tidak larut dalam etanol
dalam kloroform, minyak lemak, dan minyak menguap.
e. Stabilitas : Gelatin kering stabil di udara. Solusi gelatin berair juga
stabil untuk waktu yang lama jika disimpan dalam kondisi
dingin tapi mereka tunduk degradasi bakteri. Pada suhu di
atas sekitar 508C, solusi gelatin berair dapat mengalami
depolimerisasi lambat dan penurunan kekuatan gel dapat
terjadi pada ulang. Depolimerisasi menjadi lebih cepat pada
suhu di atas 658C, dan gel Kekuatan dapat dikurangi
setengahnya ketika solusi dipanaskan pada 808C selama 1
jam. Tingkat dan luasnya depolimerisasi tergantung pada
berat molekul gelatin, dengan rendah berat molekul bahan
membusuk lebih cepat.
f. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik dan di tempat kering
g. Inkompabilitas : Gelatin merupakan bahan amfoter dan akan bereaksi dengan
kedua asam dan basa. Hal ini juga protein dan dengan
demikian menunjukkan sifat kimia karakteristik bahan-
bahan tersebut, misalnya, gelatin mungkin dihidrolisis oleh
kebanyakan sistem proteolitik untuk menghasilkan asam
amino komponen.
h. Kegunaan : Bahan Penghancur
Alasan Gelatin digunakan sebagai bahan penghancur adalah gelatinum lebih
konsisten daripada kedua gom alam lebih mudah dipersiapkan dalam bentuk
larutan dan tablet yang terbentuk kerasnya sama dengan bila memakai akasia
atau tragakan.
4. Talk
a. Nama resmi : Talkum
b. Nama lain : Talk, talcum talcum venetum, speksteenpeder
c. Pemerian : Serbuk hablur sangat halus licin, mudah melekat pada kulit,
bebas dari butiran warna putih atau kelabu.
d. Kelarutan : Tidak larut dalam hamper semua pelarut
e. Range : 1,0-10,00 (glidart dan lubricant)
f. Stabilitas : Talk merupakan bahan yang stabil dan dapat disterilkan
dengan pemanasan pada 1608o C selama tidak kurang dari 1
jam. Hal ini juga dapat disterilkan oleh paparan etilen
oksida atau radiasi gamma.
g. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
h. Inkompabilitas : Tidak kompatibel dengan senyawa surfaktan
i. Kegunaan : Bahan Pelicin
Alasan Talk digunakan sebagai bahan pelican adalah karena talk
mengurangi gesekan logam (stempel di dalam ruang cetakan) dan gesekan
tablet (atau massa yang dibatasi). Memudahkan pengeluaran tablet.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Studi preformulasi adalah tahap pertama dalam pembentukan tablet atau aktivitas
formulasi dengan pertimbangan yang hati-hati dari data preformulasi.. Pengkajian
preformulasi ini berpusat pada sifat – sifat fisika kimia zat aktif serta bahan tambahan
obat yang dapat mempengaruhi penampilan obat dan perkembangan suatu bentuk
sediaan farmasi (Lieberman, 1990).
Indomethacin merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) yang digunakan
untuk mengobati nyeri ringan sampai sedang dan membantu meringankan gejala
arthritis misalnya, osteoarthritis dan rheumatoid arthritis atau asam urat seperti
peradangan, kekakuan, bengkak dan nyeri sendi. Obat ini juga dapat digunakan untuk
mengobati nyeri bahu yang disebabkan oleh bursitis atau tendinitis.

B. Saran
Diharapkan dalam penulisan makalah selanjutnya dapat melakukan kerja sama
yang baik untuk menghasilkan hasil yang baik pula.
DAFTAR PUSTAKA

Aulton, M. (2007). Aulton's Pharmaceutics:The Design and Manufacture of Medicines. London:


Elsevier .

Ansel, H. C, 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim,
Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi IV. Jakarta UI Press.

Ansel. H. C, 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat. Jakarta UI Press.

Anwar, Effionora. 2009. Eksipien Dalam Sediaan Farmasi . Jakarta : Penerbit Dian

Rakyat.

Banker, G. S., dan Anderson, N. R., 1986., Tablet, dalam Lachman, L., Lieberman, H. A., dan
Kanig, J. L., Teori dan Praktek Farmasi Industri, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, Edisi
III, Jilid II. Jakarta.UI Press.

Gennaro, A.R.2000. “Remington’s Pharmaceutical Science 20th Edition”. Mack Publishing


Company : Philadelphia.

Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th edition, 2009, Edited by. Raymond C Rowe BPharm,
PhD, DSC, FRPharmS, FRSC, CPhys, MInstP. Chief Scientist, UK : Pharmaceutical
Press American Pharmacist

Lachman, L., Lieberman, H.A., dan Kaning J.L. (1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press.
Lamba, J., Lin, Y., & Thummel, K. (2002). Genetic contribution to variable human CYP3A-
mediated metabolism. Advance Drug Delivery 54, 1271-1294.
Neal, M. J. (2005). Medical Pharmacology at a Glance Fifth Edition. Jakarta: Erlangga.