Anda di halaman 1dari 52

PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

PENCEGAHAN TINDAK PIDANA


PERDAGANGAN ORANG

Libby SinlaEloE & Paul SinlaEloE

Rumah Perempuan Kupang


Didukung oleh
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Republik Indonesia
2017
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Oleh : Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Penyunting: Tim Rumah Perempuan


Desain sampul dan isi: Ragil Sukriwul
Ilustrasi Isi: Buang Sine

Cetakan pertama, Desember 2017


Ukuran : 14 x 18,5 cm
Jumlah Halaman: 50 hal.

Diterbitkan oleh Rumah Perempuan Kupang


Dengan dukungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak Republik Indonesia

ISBN: 978-602-50912-1-6

© Hak Cipta pada Penulis dan Penerbit


Hak Cipta dilindungi undang-undang. Diperbolehkan mengutip atau
menggandakan sebagian isi buku selama tidak untuk kepentingan komersial.
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Pengantar

Upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO),


merupakan kewajiban bersama antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah, masyarakat, dan keluarga. Itulah amanat dalam Pasal 57 ayat
(1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007,
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
(UUPTPPO).
Dalam Pasal 60 ayat (1) UUPTPPO, ditegaskan juga bahwa
masyarakat diharapkan untuk membantu dan berperanserta dalam
upaya pencegahan TPPO. Itu berarti, secara yuridis pencegahan
TPPO adalah tanggungjawab Negara. Karenanya, untuk tujuan
pencegahan TPPO, pemerintah wajib membuka akses seluas-luasnya
bagi peran serta masyarakat, baik nasional maupun internasional
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, hukum,
dan kebiasaan internasional yang berlaku (Pasal 61 UUPTPPO).
Berpijak pada logika pikir yang demikian dan mengingat bahwa saat
ini TPPO sudah sangat meluas serta bersifat sistemik dan telah
membahayakan tatanan kehidupan dan mengancam sendi-sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Rumah Perempuan yang
merupakan lembaga non profit dan bekerja untuk isu-isu terkait
perempuan diantaranya penanganan korban TPPO serta pencega-
han TPPO, telah mendesain konsep pencegahan TPPO berbasis
masyarakat dan menuangkannya dalam buku yang berjudul “Pence-
Gahan Tindak Pidana Perdagangan Orang” ini.
Buku ini terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu: Pertama, Memahami Tindak
Pidana Perdagangan Orang; Kedua, Pencegahan Tindak Pidana Per-
dagangan Orang Versi UU NO. 21 Tahun 2007; dan Ketiga, Pence-
gahan Tindak Pidana Perdagangan Orang Berbasis Masyarakat.

5
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Materi buku Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang, ditulis


dengan kerangka 5W dan 1H (What/Apa, Who/Siapa, Why/Mengapa,
Where/Dimana, When/Kapan, How/Bagaimana) dan diuraikan dalam
bentuk tanya jawab, agar substansinya dapat dengan mudah
dipahami oleh setiap orang yang ingin melakukan kerja-kerja
pencegahan TPPO berbasis masyarakat.
Hadirnya buku Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang, tidak
dapat dipisahkan dari andil teman-teman di Rumah Perempuan, yakni:
Imelda Daly, Rahmawaty Bagang, Nurkasrih Umar, Hofni Tefbana,
Magda Suciati Taneo, Sepriana Tapehe dan Helena Korang yang
selalu bersedia memberikan masukan dalam hal teknis maupun
substansi. Untuk itu, patut mendapatkan ucapkan terima kasih.
Ucapan terimakasih juga disampaikan secara khusus pada pihak
Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Republik Indonesia yang telah mendukung dalam segala hal, hingga
terbitnya buku ini.
Pada akhirnya, buku ini diharpkan dapat bermanfaat dan menjadi
rujukan bagi mereka yang sementara dan akan melakukan kerja-
kerja pencegahan TPPO.

Kupang, Desember 2017

Libby SinlaEloE
Direktur Rumah Perempuan

6
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ~ 5
DAFTAR ISI ~ 7

BAGIAN I MEMAHAMI TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG ~ 9


 Apa itu perdagangan orang? ~ 10
 Apa itu tindak pidana perdagangan orang? ~ 11
 Siapa pelaku tindak pidana perdagangan orang? ~ 14
 Apa sanksi bagi pelaku tindak pidana perdagangan orang? ~ 16
 Siapa yang disebut sebagai korban tindak pidana
perdagangan orang? ~ 17
 Apa penyebab terjadinya tindak pidana perdagangan orang? ~ 17

BAGIAN II PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG


VERSI UU NO. 21 TAHUN 2007 ~ 19
 Mengapa tindak pidana perdagangan orang harus dicegah? ~ 20
 Apa tujuan pencegahan tindak pidana perdagangan orang? ~ 21
 Siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan
tindak pidana perdagangan orang? ~ 22
 Apa tindakan yang harus dilakukan oleh pemerintah terkait
pencegahan tindak pidana perdagangan orang? ~ 22

7
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

BAGIAN III PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG


BERBASIS MASYARAKAT ~ 25
 Apa itu pencegahan tindak pidana perdagangan orang
berbasis masyarakat? ~ 26
 Mengapa masyarakat harus berperan serta dalam
pencegahan tindak pidana perdagangan orang? ~ 26
 Bagaimana wujud peran serta dalam pencegahan tindak
pidana perdagangan orang? ~ 27
 Elemen apa saja yang harus terlibat dalam pencegahan tindak
pidana perdagangan orang berbasis masyarakat? ~ 28
 Apa prinsip pencegahan tindak pidana perdagangan orang
berbasis masyarakat? ~ 29
 Bagaimana masyarakat melakukan pencegahan tindak pidana
perdagangan orang berbasis masyarakat? ~ 31

DAFTAR BACAAN ~ 35
TENTANG PENULIS ~ 38
LAMPIRAN-LAMPIRAN ~ 41

8
Bagian I
MEMAHAMI TINDAK PIDANA
PERDAGANGAN ORANG
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Apa itu perdagangan orang?

Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pe-


ngangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau
penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan,
penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemal-
suan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi
rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau
manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang
yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik
yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara,
untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang
tereksploitasi (Pasal 1 angka 1 UUPTPPO).

Apa itu tindak pidana perdagangan orang?

Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) adalah setiap


tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi un-
sur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam UUPTPPO
(Pasal 1 angka 2 UUPTPPO). Tindakan-tindakan yang
dimaksud dalam undang-undang ini telah dirumuskan dan
dijabarkan sebagai berikut:
1. Memasukkan orang ke wilayah negara Republik
Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di
wilayah Negara Republik Indonesia atau dieksploitasi
di negara lain (Pasal 3 UUPTPPO).

10
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

2. Melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan,


pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang
dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan,
penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, pe-
nyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjera-
tan utang atau memberi bayaran atau manfaat,
sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang
dilakukan di dalam negara maupun antar negara,
untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang
tereksploitasi (Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 2 ayat (2)
UUPTPPO).

11
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

3. Membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah


Negara Republik Indonesia dengan maksud untuk
dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia
(Pasal 4 UUPTPPO).
4. Melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan
sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud
untuk dieksploitasi (Pasal 5 UUPTPPO).
5. Melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar ne-
geri dengan cara apa pun yang mengakibatkan anak
tersebut tereksploitasi (Pasal 6 UUPTPPO).
6. Penyalahgunaan kekuasaan oleh setiap penyeleng-
gara negara mengakibatkan terjadinya TPPO (Pasal 8
UUPTPPO).
7. Berusaha menggerakkan orang lain supaya melaku-
kan TPPO, dan tindak pidana itu tidak terjadi (Pasal 9
UUPTPPO).
8. Membantu melakukan percobaan untuk melakukan
TPPO (Pasal 10 UUPTPPO).
9. Merencanakan atau melakukan permufakatan jahat
untuk melakukan TPPO (Pasal 11 UUPTPPO).
10. Menggunakan atau memanfaatkan korban TPPO de-
ngan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan
cabul lainnya dengan korban TPPO, mempekerjakan
korban TPPO untuk meneruskan praktik eksploitasi,

12
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

atau mengambil keuntungan dari hasil TPPO (Pasal 12


UUPTPPO).
11. Memberikan atau memasukkan keterangan palsu pa-
da dokumen negara atau dokumen lain atau memal-
sukan dokumen negara atau dokumen lain, untuk
mempermudah terjadinya TPPO (Pasal 19 UUPTPPO).
12. Memberikan kesaksian palsu, menyampaikan alat
bukti palsu atau barang bukti palsu, atau mem-
pengaruhi saksi secara melawan hukum di sidang
pengadilan TPPO (Pasal 20 UUPTPPO).
13. Melakukan penyerangan fisik terhadap saksi atau
petugas di persidangan dalam perkara TPPO (Pasal 21
ayat (1) UUPTPPO).
14. Sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan
secara langsung atau tidak langsung penyidikan, pe-
nuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan ter-
hadap tersangka, terdakwa, atau saksi dalam perkara
TPPO (Pasal 22 UUPTPPO).
15. Membantu pelarian pelaku TPPO dari proses peradilan
pidana (Pasal 23 UUPTPPO).
16. Memberitahukan identitas saksi atau korban padahal
kepadanya telah diberitahukan bahwa identitas saksi
atau korban tersebut harus dirahasiakan (Pasal 24
UUPTPPO).

13
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Siapa pelaku tindak pidana perdagangan orang?


Pelaku dalam konteks UUPTPPO dapat dipahami sebagai
pihak atau subjek hukum yang melakukan TPPO. Ruang
lingkup pelaku ini, meliputi:
1. Orang perseorangan, yang mencakup setiap individu/
perorangan yang melakukan TPPO (Pasal 1 angka 4
UUPTPPO)
2. Kelompok terorganisasi, yakni kelompok terstruktur
yang terdiri dari 3 orang atau lebih, yang eksistensinya
untuk waktu tertentu, dan bertindak dengan tujuan

14
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

melakukan satu atau lebih TPPO dengan tujuan


memperoleh keuntungan materiil atau finansial baik
langsung maupun tidak langsung (Penjelasan Pasal 16
UUPTPPO).
3. Korporasi, yaitu kumpulan orang dan/atau kekayaan
yang terorganisasi, baik merupakan badan hukum
maupun bukan badan hukum yang dalam kerja-
kerjanya tidak sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku sehingga terjadi TPPO (Pasal 1
angka 6 UUPTPPO).
4. Penyelenggara negara, yakni pegawai negeri atau
pejabat pemerintah (NB: termasuk anggota Tentara
Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara
Republik Indonesia, aparat keamanan, penegak hukum
atau pejabat publik) yang menyalahgunakan kekua-
saannya untuk melakukan TPPO atau mempermudah
terjadinya TPPO (Penjelasan Pasal 8 Ayat (1)
UUPTPPO).

15
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Apa sanksi bagi pelaku tindak pidana perdagangan


orang?

Sanksi dalam ilmu hukum dapat dipahami sebagai huku-


man yang akan dijatuhkan oleh pengadilan pada sese-
orang yang tidak mentaati norma-norma yang berlaku.
Artinya, sanksi merupakan konsekwensi logis dari suatu
perbuatan yang dilakukan. Dalam UUPTPPO, terdapat 3
jenis sanksi yang dapat dikenakan bagi pelaku TPPO, yakni
(1) sanksi pidana pokok (pidana penjara dan pidana
denda), (2) sanksi pidana tambahan, dan (3) Sanksi
pidana pengganti (berupa kurungan). Untuk uraian lebih
jelas terkait sanksi-sanksi dalam UUPTPPO dapat dibaca
dalam lembar lampiran.

16
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Siapa yang disebut sebagai korban tindak pidana


perdagangan orang?

Korban TPPO berdasarkan Pasal 1 angka 3 UUPTPPO,


dipahami sebagai seseorang yang mengalami pende-
ritaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi, dan/atau
sosial, yang diakibatkan TPPO. Dengan pengertian yang
seperti ini, maka siapa saja bisa menjadi korban TPPO, baik
itu laki-laki maupun perempuan, orang dewasa ataupun
anak-anak (belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan).

Apa penyebab terjadinya tindak pidana perdagangan


orang?

A. Faktor Utama:
1. Faktor Ekonomi. Masih tingginya angka kemiskinan,
pengangguran dan jeratan utang, serta terbatas-
nya lapangan pekerjaan.
2. Faktor Pendidikan. Rendahnya pendidikan telah
mengakibatkan sebagaian masyarakat jadi mudah
terjebak dalam setiap tindakan yang berkaitan
dengan praktek perdagangan orang, baik dalam
kapasitasnya sebagai pelaku maupun korban.

17
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

3. Faktor Hukum. Kesadaran dan pemahaman hukum


terkait UUPTPPO yang belum memadai, baik itu
dilevel eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun pada
tataran masyarakat kebanyakan.

B. Faktor Pendukung:
1. Meningkatnya permintaan tenaga kerja dari
Indonesia di pasar Internasional, sementara
keterampilan sumber daya manusianya belum
disiapkan dengan baik sesuai dengan pangsa
pasar.
2. Daya tarik bekerja ke luar negeri yang begitu besar
dengan pelbagai impiannya, bisa hidup enak dan
nyaman di negeri orang, dapat gaji besar, dsb.

18
Bagian II
PENCEGAHAN TINDAK PIDANA
PERDAGANGAN ORANG VERSI
UU NO. 21 TAHUN 2007
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Mengapa tindak pidana perdagangan orang harus


dicegah?

Secara yuridis ada sejumlah landasan pemikiran yang


mendasari mengapa pencegahan TPPO harus dilakukan.
Antara lain:
1. Tindak Pidana Perdagangan orang adalah bentuk
modern dari perbudakan manusia dan merupakan
salah satu bentuk perlakuan terburuk dari pelang-
garan harkat dan martabat manusia (Penjelasan
Umum UUPTPPO).
2. Hak untuk tidak diperbudak adalah hak asasi ma-
nusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun dan oleh siapapun (Pasal 28 I ayat (1) UUD
1945, Amandamen ke-2, tanggal 18 Agustus 2000
Jo. Pasal 4 UU No. 39 tahun 1999, Tentang Hak
Asasi Manusia).
3. Perbudakan merupakan salah satu kejahatan ter-
hadap kemanusiaan (Pasal 9 UU No. 26 Tahun
2000, Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia).
4. Tindak Pidana Perdagangan orang telah meluas ke
dalam bentuk jaringan kejahatan yang terorgani-
sasi dan tidak terorganisasi, baik bersifat antar
negara maupun dalam negeri, sehingga menjadi
ancaman terhadap masyarakat, bangsa, dan nega-
ra, serta terhadap norma-norma kehidupan yang

20
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

dilandasi penghormatan terhadap hak asasi ma-


nusia (Konsideran Menimbang Poin c UUPTPPO).
Apa tujuan pencegahan tindak pidana perdagangan
orang?

Dalam UUPTPPO, ditegaskan bahwa pencegahan TPPO


pada dasarnya bertujuan mencegah sedini mungkin
terjadinya TPPO (Pasal 56 UUPTPPO).

21
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan


pencegahan tindak pidana perdagangan orang?

Pasal 57 ayat (1) UUPTPPO mengamanatkan agar Peme-


rintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan keluarga,
wajib mencegah terjadinya TPPO.
Apa tindakan yang harus dilakukan pemerintah
terkait pencegahan tindak pidana perdagangan
orang?

Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah


untuk melakukan pencegahan TPPO, sebagi berikut:
1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mem-
buat kebijakan, program, kegiatan, dan mengalo-
kasikan anggaran untuk melaksanakan pencega-
han dan penanganan masalah perdagangan orang
(Pasal 57 ayat (2) UUPTPPO).
2. UUPTPPO juga mewajibkan Pemerintah dan Peme-
rintah Daerah untuk mengambil langkah-langkah
pencegahan dan penanganan TPPO dalam rangka
melaksanakan pemberantasan TPPO (Pasal 58
ayat (1) UUPTPPO).
3. Demi mengefektifkan dan menjamin pelaksanaan
langkah-langkah untuk pencegahan dan pena-
nganan TPPO, Pemerintah dan Pemerintah Daerah
dimandatkan untuk membentuk gugus tugas yang

22
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah mau-


pun Pemerintah Daerah, penegak hukum, organi-
sasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat,
organisasi profesi, dan peneliti/akademisi (Ban-
dingkan dengan Pasal 58 ayat (2) dan ayat (3)
UUPTPPO).

4. Dalam Pasal 58 ayat (4) UUPTPPO, ditegaskan


bahwa gugus tugas yang dibentuk oleh Pemerin-
tah atau Pemerintah Daerah ini, merupakan lemba-
ga koordinatif yang bertugas: Pertama, mengkoor-

23
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

dinasikan upaya pencegahan dan penanganan


TPPO; Kedua, melaksanakan advokasi, sosialisasi,
pelatihan, dan kerja sama; Ketiga, memantau per-
kembangan pelaksanaan perlindungan korban
meliputi rehabilitasi, pemulangan, dan reintegrasi
sosial; Keempat, memantau perkembangan pelak-
sanaan penegakan hukum; Kelima, melaksanakan
pelaporan dan evaluasi.
5. Untuk mengefektifkan penyelenggaraan pencega-
han dan pemberantasan tindak pidana perdaga-
ngan orang, Pemerintah Republik Indonesia wajib
melaksanakan kerja sama internasional, baik yang
bersifat bilateral, regional, maupun multilateral. Dan
kerjasama ini dapat dilakukan dalam bentuk per-
janjian bantuan timbal balik dalam masalah pidana
dan/atau kerja sama teknis lainnya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal
59 ayat (1) & (2) UUPTPPO).

24
Bagian III
PENCEGAHAN TINDAK PIDANA
PERDAGANGAN ORANG
BERBASIS MASYARAKAT
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Apa itu pencegahan tindak pidana perdagangan


orang berbasis masyarakat?

Pencegahan TPPO dengan pendekatan berbasis masya-


rakat (community based approach), dapat dipahami se-
bagai segala upaya yang dilakukan melalui pendidikan dan
pemberdayaan masyarakat dalam mencegah terjadinya
TPPO.
Mengapa masyarakat harus berperan serta dalam
pencegahan tindak pidana perdagangan orang?

Selain tanggung jawab kemanusian, Pasal 60 ayat (1)


UUPTPPO mengamanatkan bahwa dalam upaya pencega-
han TPPO, masyarakat diharapkan untuk membantu dan
berperanserta. Karenanya, untuk tujuan pencegahan
TPPO, pemerintah wajib membuka akses seluas-luasnya
bagi peran serta masyarakat, baik nasional maupun inter-
nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, hukum, dan kebiasaan internasional yang
berlaku (Pasal 61 UUPTPPO). Pentingnya keterlibatan
masyarakat dalam upaya pencegahan TPPO, bukan hanya
untuk kepentingan memperluas dukungan/keterlibatan
untuk gerakan pencegahan, tetapi dalam rangka hak dan
demokrasi. Hal ini menjadi penting sebab masyarakat ada-
lah “pilar” terdepan yang langsung berhadapan dengan
kebijakan kriminal (criminal policy) terkait pencegahan
TPPO.

26
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Bagaimana wujud peran serta masyarakat dalam


pencegahan tindak pidana perdagangan orang?

Peran serta masyarakat dalam pencegahan TPPO, diwu-


judkan dengan tindakan memberikan informasi dan/atau
melaporkan adanya TPPO kepada penegak hukum atau
pihak yang berwajib (Pasal 60 ayat (2) UUPTPPO). Dalam
melaksanakan peran sertanya, masyarakat berhak untuk
memperoleh perlindungan hukum (Pasal 62 UUPTPPO).
Untuk itu, peran serta masyarakat harus dilaksanakan
secara bertanggung jawab (Pasal 63 UUPTPPO).

27
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Elemen apa saja yang harus terlibat dalam pencega-


han tindak pidana perdagangan orang berbasis
masyarakat?

Elemen-elemen yang seharusnya berperan dalam pence-


gahan TPPO adalah:
1. Negara yang terdiri dari eksekutif, legislatif, yudikatif,
dan lembaga koordinatif (Gugus Tugas TPPO di Pusat
dan Daerah) yang memiliki kepentingan perlindungan
bagi korban.
2. Masyarakat dan Komunitas dalam hal ini individu dan
kelompok sosial yang memiliki visi dan misi sama

28
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

dalam memberantas TPPO misalnya Lembaga Keaga-


maan, Lembaga Adat, Media, Lembaga Sosial (tinggal
di wilayah administratif yang sama atau antar wilayah
dan antar negara).
3. Pendamping adalah seseorang dan/atau kelompok
yang melakukan segala upaya dan tindakan berupa
identifikasi dan pendokumentasian kasus, konseling,
terapi psikologis, advokasi, dan bimbingan rohani,
guna penguatan diri saksi dan/atau korban TPPO yang
memberi rasa aman dan nyaman untuk menyelesai-
kan permasalahan yang dihadapi.
4. Korban adalah seseorang yang mengalami penderita-
an psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi, dan/atau
sosial, yang diakibatkan atau diduga diakibatkan TPPO.
Apa prinsip pencegahan tindak pidana perdagangan
orang berbasis masyarakat?

Pencegahan TPPO dengan pendekatan berbasis masya-


rakat harus merupakan suatu gerakan yang terorganisir
dan terlembaga. Pada tataran implementasi, pencegahan
TPPO dengan pendekatan berbasis masyarakat harus
berpegang teguh pada prinsip-prinsip, sebagai berikut:
1. Independensi, artinya semua elemen yang melakukan
kerja-kerja pencegahan TPPO harus memiliki suatu
sikap yang netral, tidak memihak atau berpihak
kepada yang lain dan bebas dari pengaruh.

29
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

2. Imparsialitas, artinya semua elemen wajib mendapat


dan memberikan perlakuan yang adil dalam kerja-
kerja pencegahan TPPO.

3. Sinergitas, artinya semua elemen harus sama-sama


bekerja dan bekerja sama untuk terwujudnya tujuan
pencegahan TPPO.
4. Partisipatif, artinya semua elemen yang terkait harus
terlibat dan dilibatkan dalam merencanakan dan me-
laksanakan upaya pencegahan TPPO.

30
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

5. Transparansi, artinya semua elemen memperoleh


informasi yang cukup dan dilakukan secara terbuka
dan mudah diakses terkait pencegahan TPPO
6. Akuntabilitas, artinya semua elemen memiliki ke-
mampuan untuk menjelaskan kondisi yang dialami
termasuk di dalamnya keputusan yang diambil dan
berbagai aktivitas yang dilakukan terkait dengan
upaya pencegahan TPPO.
7. Kesetaraan, artinya semua elemen dalam melakukan
kerja-kerja pencegahan TPPO harus memiliki kedudu-
kan yang sama tanpa membedakan identitas yang
menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau
kesukuan, golongan maupun jenis kelamin.
Bagaimana masyarakat melakukan pencegahan
tindak pidana perdagangan orang berbasis
masyarakat?

Ada sejumlah aktivitas yang dapat dilakukan oleh


masyarakat dalam konteks pencegahan TPPO dengan
pendekatan berbasis masyarakat, diantaranya:
1. Membentuk Lembaga Anti Perdagangan Orang pada
level desa, guna menggagalkan setiap pengiriman
tenaga kerja ke luar negeri maupun dalam negeri
secara ilegal/non prosedural (pemalsuan umur dan
dokumen lainnya). Lembaga Anti Perdagangan Orang
ini harus bersinergi dengan pihak terkait seperti

31
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

lembaga keagamaan, pemerintah desa setempat,


LSM/NGO, institusi penegak hukum dan gugus tugas
trafficking;
2. Melakukan pertemuan rutin dan pelatihan secara
berkala untuk meningkatkan kapasitas dari Lembaga
Anti Perdagangan Orang dalam menangani/advokasi
kasus-kasus terkait TPPO;

3. Melakukan deteksi dini terhadap kesiapan mental dan


ketrampilan dari warga yang ingin/akan bermigrasi,
dengan cara pendokumentasian (pencatatan) setiap
warga yang akan bermigrasi. Pendokumentasian ini

32
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

terkait dengan: identitas penduduk yang bermigrasi,


fakta kebenaran kelengkapan dokumen, pengalaman
pendidikan dan pelatihan yang dimiliki oleh calon
pekerja migran serta dukungan keluarga;
4. Melakukan pengumpulan data dan pendokumentasian
kasus-kasus korban TPPO. Pendokumentasian kasus
korban TPPO terkait: identitas dan kondisi korban, fak-
ta dan informasi yang berhubungan dengan terjadi-
nya TPPO, pengalaman dan harapan korban, serta
kondisi korban sejak berangkat sampai dinyatakan
sebagai korban TPPO. Dalam pengumpulan data ini
harus juga dibuat profil dari para pelaku, sekaligus
melakukan pemetaan jaringan pelaku beserta dengan
modus-modus yang dipergunakannya;
5. Melakukan kajian dan pendidikan masyarakat sebagai
dasar melakukan advokasi dan sosialisasi untuk pe-
ningkatan kesadaran publik tentang TPPO, kepada
kelompok-kelompok masyarakat;
6. Melakukan advokasi yang mendorong/merevisi terbit-
nya kebijakan (PERDA/PERDES) tentang TPPO dan
mekanisme layanan bagi korban;
7. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan penguatan
kelembagaan tentang perlindungan terhadap korban
TPPO (terutama perempuan dan anak);

33
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

8. Melakukan penyuluhan hukum terkait pemberantasan


TPPO yang melibatkan Kepolisian dan/atau Kejaksaan
Negeri;
9. Membangun dan memperkuat jaringan masyarakat
sipil, khususnya pada kalangan perempuan yang
termarjinalkan melalui pendidikan kritis, pengorgani-
sasian dan konsolidasi;
10. Melakukan pelatihan ketrampilan bagi para calon/
pekerja migran tentang manajemen keuangan agar
mampu mengelola keuangan secara tepat.

34
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Daftar Bacaan

BUKU/MAKALAH/ARTIKEL:

1. Farhana, Aspek Hukum Perdagangan Orang di


Indonesia, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2012.
2. Henny Nuraeny, Tindak Pidana Perdagnagn Orang
(Kebijakan Hukum Pidana dan Pencegahannya),
Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2013.
3. Libby SinlaEloE, Buruh Migran dan Perdagnagn
Orang, Makalah, disampaikan dalam Pelatihan:
“Pencatatan dan Pendokumentasian Kasus Buruh
Migran”, yang dilaksanakan atas kerjasama Rumah
Perempuan dan TIFA, di Hotel Gajah Mada, Kota
Kupang, pada tanggal 19-22 Januari 2010.
4. Libby SinlaEloE, Perlindungan Korban Trafficking
dan Urgrnsi Pelaksanaannya, Makalah,
disampaikan dalam diskusi publik:“Implementasi
Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan
Orang, Antara Tantangan dan Harapan”, yang
dilaksanakan oleh Rumah Perempuan, di Hotel
Astiti, Kota Kupang, pada tanggal 21 Oktober
2008.
5. Paul SinlaEloE, Tindak Pidana Perdagangan Orang,
Penerbit Setara Press, Malang, 2017.

35
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

6. Paul SinlaEloE, Instrumen Melawan Perdagangan


Orang, Artikel, dipublikasikan dalam
http://www.zonalinenews.com/2017/09/instrume
n-melawan-perdagangan-orang/ pada tanggal 27
September 2017.
7. Paul SinlaEloE, Peranan Masyarakat dalam
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang, makalah, dipresentasikan dalam diskusi
komunitas: “Menggagas Keterlibatan Masyarakat
dalam Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang”, yang dilaksanakan oleh Panitia HUT
Wilayah (Mata Jemaat) Bileno, di Gedung Gereja
(GMIT) Imanuel Taitnama, Desa Kuanheum, Kec.
Amabi Oefeto, Kab. Kupang, pada tanggal 9 Juli
2016.
8. Sarah Lery Mboeik, Advokasi Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam
Prespektif Hak Asasi Manusia, Makalah,
disampaikan dalam Workshop:“Perumusan
strategi advokasi untuk Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang”, yang dilaksanakan
oleh Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan
Advokasi Rakyat (PIAR NTT), di Hotel Joniar, Kota
Kupang, pada tanggal 20 Februari 2012.

36
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

PRODUK HUKUM:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39
tahun 1999, Tentang Hak Asasi Manusia.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26
Tahun 2000, Tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21
Tahun 2007, Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang.
5. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia Nomor 09 Tahun 2011, Tentang
Kewaspadaan Dini Tindak Pidana Perdagangan
Orang.
6. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia Nomor 10 Tahun 2012, Tentang Panduan
Pembentukan Dan Penguatan Gugus Tugas
Pencegahan Dan Penanganan Tindak Pidana
Perdagangan Orang.
7. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Tentang Panduan
Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana
Perdagangan Orang Berbasis Masyarakat dan
Komunitas.

37
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Tentang Penulis

W. S. Libby SinlaEloE, lahir di Kupang, Nusa


Tenggara Timur, pada tanggal 5 Agustus
1971. Menyelesaikan study S1 di Fakultas
Peternakan Univesitas Negeri Nusa
Cendana, Kupang, tahun 1996.
Terlibat dalam memperjuangkan hak-hak
perempuan sejak menjadi relawan di
Rumah Perempuan pada tahun 2000.
Selama bergabung di Rumah Perempuan, pernah bertugas
sebagai Staf Divisi Publikasi dan Informasi Tahun 2001-2002,
Koordinator Divisi Penguatan Kapasitas periode 2003-2004,
Koordinator Divisi Publikasi dan Informasi periode 2004-2005,
Staf Pendam-pingan Korban Tahun 2005-2006, Koordinator
Pendampingan Korban periode 2006-2009 dan sejak tahun
2009 sampai dengan sekarang dipercayakan untuk menjabat
sebagai Koor-dinator Umum Rumah Perempuan. Selain itu,
pernah menjadi Koordinator Blok Politik Masyarakat Sipil Kota
Kupang Periode 2008-2010, Anggota Panwaslu Kota Kupang
dalam Pemilihan Legislatif DPR, DPRD, DPD tahun 2008-2009.
Aktivitas lain yang sering dilakukan adalah menjadi pembicara
dan fasilitator dalam berbagai seminar, workshop, lokakarya,
pelatihan yang berkaitan dengan isu perempuan, Kekerasan
Dalam Rumah Tangga, Kekerasan Terhadap Anak, Traffikcing
dan Buruh Migran baik pada level nasional maupun lokal.

38
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Pada tahun 2010, bersama rekan-rekan di Rumah Perempuan


menulis buku berjudul, “Setetes Air di Tengah Kegersangan”,
yang di terbitkan tahun 2010 oleh Rumah Perempuan dengan
dukungan Brot Fur die Welt dan American Friend Service
Commite. Pada tahun 2011, bersama-sama dengan Paul
SinlaEloE dan Tri M. Soekirman, menulis buku tentang
penyelesaian alternatif kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(KDRT) yang diterbitkan oleh Rumah Perempuan dengan judul,
“Jalan Panjang Menuju Keharmonisan Rumah Tangga”.

Marthen Luther Johannis Paul SinlaEloE, la-


hir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada
tanggal 31 Oktober 1973. Menyelesaikan
pendidikan S1 pada Program Study Ilmu
Hukum di Fakultas Hukum Universitas
Kristen Artha Wacana, pada tahun 2003.
Sejak tahun 2004 sampai sekarang, ber-
gabung dengan Perkumpulan Pengemba-
ngan Inisiatif Advokasi Rakyat (PIAR-NTT, sebagai Staf Div.
Advokasi (Community Organizer & Penanggung Jawab Wila-
yah di Kab. Kupang untuk Kec. Amfoang Selatan, Kec. Takari
dan Kec. Fatuleu) periode 2004/2005, Staf Div. Advokasi
(Community Organizer & Penanggung Jawab Wilayah untuk
Kab. Rote Ndao) periode 2005/2006 dan sejak Maret 2006
sampai Sakarang menjadi Staf Div. Advokasi (Pengembangan
Jaringan Anti Korupsi & Pemantauan Korupsi).
Aktifitas yang senantiasa dilakukan sejak kuliah hingga seka-
rang, yaitu: Pertama, aktif dalam berbagai berbagai kegiatan
kemahasiswaan maupun kemasyarakatan. Kedua, aktif mela-
kukan pengorganisiran terhadap masyarakat miskin dan
kelompok marjinal lainnya; melakukan advokasi/pendampingan

39
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

terhadap masyarakat untuk menolak berbagai kebijakan yang


tidak pro rakyat; melakukan advokasi untuk mendorong
lahirnya kebijakan yang pro rakyat; melakukan analsis dan
mengkritisi APBD serta investigasi dan advokasi berbagai
kasus korupsi di NTT. Ketiga, aktif mengikuti diskusi di pelbagai
forum/pertemuan, baik itu sebagai narasumber maupun
peserta. Keempat, aktif menulis artikel di berbagai media
massa cetak maupun online.
Pada tahun 2011, bersama-sama dengan aktifis Rumah
Perempuan, yakni: Libby SinlaEloE dan Tri M. Soekirman,
menulis buku tentang penyelesaian alternatif bagi kasus
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diterbitkan oleh
Rumah Perempuan dengan judul, “Jalan Panjang Menuju Kehar-
monisan Rumah Tangga”. Di tahun 2015 menulis buku berjudul,
“Memahami Surat Dakwaan”, diterbitkan oleh PIAR-NTT. Kemu-
dian di pertengahan tahun 2017, terbit lagi buku terbarunya
yang berjudul “Tindak Pidana Perdagangan Orang”, diterbitkan
oleh Setara Press, Malang-Jatim.

40
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Lampiran 1
Sanksi bagi Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam Undang-undang Tindak Pidana Perdagangan Orang
SANKSI
PASAL TINDAK PIDANA Pidana Penjara Pidana Denda Pidana Tambahan Pidana
Pengganti
Minimum Maksimum Minimum Maksimum
2 Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Ayat penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan
(1) seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan
kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan
utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun
memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali
atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang
tersebut di wilayah negara Republik Indonesia.
2 Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, pe- 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Ayat nampungan, pengiriman, pemin-dahan, atau penerimaan
(2) seseo-rang dengan ancaman kekera-san, penggunaan
kekerasan, penculikan, penyekapan, pemal-suan, penipuan,
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan
utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun
memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali
atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi dan
tereksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik
Indonesia.
3 Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di
wilayah negara Republik Indonesia atau dieksploitasi di
Negara.
4 Setiap orang yang membawa warga negara Indonesia ke luar 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk
dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia.
5 Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan
maksud untuk dieksploitasi.

41
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

6 Setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
ke luar negeri dengan cara apa pun yang mengakibatkan
anak tersebut tereksploitasi.
7 Setiap Orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana 4 Tahun 20 Tahun Rp. 140.000.000 Rp. 800.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Ayat dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5,
(1) dan Pasal 6 mengakibatkan korban menderita luka berat,
gangguan jiwa berat, penyakit menular lainnya yang
membahayakan jiwanya, kehamilan,atau terganggu atau
hilangnya fungsi reproduksinya, maka ancaman pidananya
ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2
ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.
7 Setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana 5 Tahun Seumur Rp. Rp 5.000.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Ayat dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Hidup 200.000.000
(2) dan Pasal 6 mengakibatkan matinya korban.
8 Setiap penyelenggara negara yang menyalahgunakan 4 Tahun 20 Tahun Rp. 140.000.000 Rp. 800.000.000 Pemberhentian Tidak Ada
kekuasaan yang mengakibatkan terjadinya TPPO dengan tidak hormat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,Pasal 3, Pasal 4, Pasal dari jabatan
5, dan Pasal 6.
9 Setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain 1 Tahun 6 Tahun Rp. 40.000.000 Rp. 240.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
supaya melakukan TPPO, dan tindak pidana itu tidak terjadi.
10 Setiap orang yang membantu atau melakukan percobaan 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
untuk melakukan TPPO.
11 Setiap orang yang merencanakan atau melakukan 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
permufakatan jahat untuk melakukan TPPO.
12 Setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
korban TPPO dengan cara melakukan persetubuhan atau
perbuatan cabul lainnya dengan korban TPPO,
mempekerjakan korban TPPO untuk meneruskan praktik
eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil TPPO.
15 Setiap TPPO dilakukan oleh suatu korporasi. 3 Tahun 15 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Untuk korporasi Tidak Ada
(Pengurus (Pengurus (Pengurus) (Pengurus) dikenakan:
) ) (1).Pencabutan izin
Rp. 360.000.000 Rp 1.800.000.000 usaha;
(Korporasi) (Korporasi) (2). Perampasan
kekayaan hasil tindak
pidana;
(3). Pencabutan

42
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

status badan hukum.


Sedangkan untuk
pengurus dikenakan:
(1). Pemecatan
pengurus; dan/atau
(2). Pelarangan
kepada pengurus
tersebut untuk
mendirikan korporasi
dalam bidang usaha
yang sama.
16 Setiap TPPO dilakukan oleh kelompok yang terorganisasi. 4 Tahun 20 Tahun Rp. 140.000.000 Rp. 800.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
17 Setiap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, 4 Tahun 20 Tahun Rp. 140.000.000 Rp. 800.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Pasal 3,dan Pasal 4 dilakukan terhadap anak.
18 Korban yang melakukan tindak pidana karena dipaksa oleh Tidak Tidak Tidak Dipidana Tidak Dipidana Tidak Dipidana Tidak
pelaku TPPO. Dipidana Dipidana Dipidana
SUMBER: Diadopsi dari Paul SinlaEloE, Tindak Pidana Perdagangan Orang, Penerbit Setara Press, Malang, 2017, Hal. 95-100.

Lampiran 2
Sanksi Tindak Pidana Lain yang Berkaitan Tindak Pidana Perdagangan Orang
dalam Undang-undang Tindak Pidana Perdagangan Orang
SANKSI
Pidana Penjara Pidana Denda Pidana Pidana
PASAL TINDAK PIDANA
Minimum Maksimu Minimum Maksimum Tambahan Pengganti
m
19 Setiap orang yang memberikan atau memasukkan keterangan palsu pada 1 Tahun 7 Tahun Rp. 40.000.000 Rp. 280.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
dokumen negara atau dokumen lain atau memalsukan dokumen negara
atau dokumen lain, untuk mempermudahterjadinya TPPO.
20 Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu, menyampaikan alat bukti 1 Tahun 7 Tahun Rp. 40.000.000 Rp. 280.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
palsu atau barang bukti palsu, atau mempengaruhi saksi secara melawan
hukum di sidang pengadilan TPPO.
21 Setiap orang yang melakukan penyerangan fisik terhadap saksi atau 1 Tahun 5 Tahun Rp. 40.000.000 Rp. 200.000.000 Tidak Ada Tidak Ada

43
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

Ayat petugas di persidangan dalam perkara TPPO.


(1)
21 Setiap orang yang melakukan penyerangan fisik terhadap saksi atau 2 Tahun 10 Tahun Rp. 80.000.000 Rp. 400.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Ayat petugas di persidangan dalam perkara TPPO dan mengakibatkan saksi
(2) atau petugas di persidangan luka berat.
21 Setiap orang yang melakukan penyerangan fisik terhadap saksi atau 3 Tahun 15 tahun Rp. 120.000.000 Rp. 600.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
Ayat petugas di persidangan dalam perkara TPPO dan mengakibatkan saksi
(3) atau petugas di persidangan mati.
22 Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau 1 Tahun 5 Tahun Rp. 40.000.000 Rp. 200.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka,
terdakwa, atau saksi dalam perkara perdagangan orang
23 Setiap orang yang membantu pelarian pelaku TPPO dari proses peradilan 1 Tahun 5 Tahun Rp. 40.000.000 Rp. 200.000.000 Tidak Ada Tidak Ada
pidana dengan: (a). Memberikan atau meminjamkan uang, barang, atau
harta kekayaan lainnya kepada pelaku; (b). Menyediakan tempat tinggal
bagi pelaku; (c). Menyembunyikan pelaku; atau (d). Menyembunyikan
informasi keberadaan pelaku.
24 Setiap orang yang memberitahukan identitas saksi atau korban TPPO 3 Tahun 7 Tahun Rp. 120.000.000 Rp. 280.000.000 Tidak Ada Kurungan
& padahal kepadanya telah diberitahukan, bahwa identitas saksi atau 1 Tahun
25 korban tersebut harus dirahasiakan
50 Pelaku TPPO yang tidak mampu membayar restitusi Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Kurungan
ayat 1 Tahun
(4)
SUMBER: Diadoopsi dari Paul SinlaEloE, Tindak Pidana Perdagangan Orang, Penerbit Setara Press, Malang, 2017, Hal. 105-107.

44
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Lampiran 3

Profil Rumah Perempuan Kupang

Latar Belakang
Pada tanggal 15 September 2000 Yayasan Sanggar Suara
Perempuan (SSP) yang berkantor di Soe, Kabupaten Timor
Tengah Selatan (TTS) mendirikan Rumah Perempuan di Kota
Kupang, sebagai Women Crisis Centre (WCC) dan bersifat
organisasi nirlaba. Pembentukan Rumah Perempuan Kupang
dilatar belakangi adanya ketidakadilan gender dalam ranah
keluarga, masyarakat dan negara yang melahirkan berbagai
persoalan. Persoalan lebih banyak dialami oleh perempuan,
anak dan masyarakat miskin seperti: tingginya kekerasan
terhadap perempuan, kematian ibu hamil melahirkan, busung
lapar, gizi buruk, buta huruf, penggangguran dan lain-lain.
Hal ini yang kemudian membawa beberapa individu yang
memiliki kepedulian terhadap persoalan ketidakadilan gender
sehingga mendirikan Rumah Perempuan Kupang. Berbeda
dengan organisasi induknya yang beroperasi di Kabupaten
TTS. Rumah Perempuan Kupang lebih memfokuskan area

45
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

kerjanya di wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Pen-


dirian Rumah Perempuan Kupang bertujuan untuk merespon
berbagai tindak kriminal yang terjadi di Kota Kupang dengan
memberikan pelayanan dan pendampingan langsung terhadap
perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan.
Pertengahan tahun 2005 Rumah Perempuan Kupang melaku-
kan perencanaan strategis lembaga untuk melihat kembali
posisinya terhadap berbagai persoalan sosial kemasyarakatan
di Kota Kupang. Melalui perencanaan strategis, Rumah
Perempuan Kupang memutuskan untuk tidak lagi jadi Women
Crisis Centre (WCC) walaupun isu kekerasan terhadap
perempuan dan anak korban kekerasan tetap menjadi salah
satu isu yang dikerjakan Rumah Perempuan Kupang. Isu lain
yang menjadi fokus perhatian Rumah Perempuan Kupang
adalah persoalan kesehatan ibu dan anak serta isu trafficking.
Visi
Terciptanya lembaga yang memiliki sumber daya yang
profesional, eksis dan konsisten terhadap perjuangan
keadilan gender sehingga tercapainya relasi laki-laki dan
perempuan yang adil, demokratis, damai dan sejahtera pada
semua level.
Misi
1. Mewujudkan pendampingan dan pelayanan terhadap
perempuan dan anak korban kekerasan secara terpadu
dan prima yang didukung oleh sarana prasarana yang
memadai sesuai dengan kebutuhan korban.
2. Meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kapasitas
perempuan dan laki-laki tentang isu hak asasi manusia,
kesehatan reproduksi, kekerasan terhadap perempuan
memiliki akses dan kontrol terhadap berbagai program

46
Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

pembangunan dan posisi strategis baik dalam lembaga


formal maupun nonformal.
3. Mengembangkan dan mempromosikan pangan lokal seba-
gai komoditas unggulan sebagai salah satu upaya pening-
katan pendapatan masyarakat dampingan melalui berbagai
usaha tani dan usaha produktif lainnya dengan mitra pada
pihak lain.
4. Memperjuangkan adanya komitmen pemerintah, swasta
dan LSM serta semua pihak untuk memiliki kepedulian
terhadap masalah kekerasan terhadap perempuan dan
anak, termasuk buruh migran dalam melakukan perubahan
dan pembuatan kebijakan yang tidak diskriminatif serta
melestarikan nilai-nilai budaya yang berpihak pada keadilan
gender dalam rangka mengimbangi budaya luar yang
merugikan masyarakat.
5. Meningkatkan kapasitas staf terkait dengan bidang-bidang
yang digeluti SSP/RP dan merekrut staf yang sesuai de-
ngan latar belakang pendidikan dan keahlian yang dibutuh-
kan oleh lembaga serta mengupayakan peluang-peluang
kemitraan dengan pihak pemerintah, swasta, NGO dan
pihak lainnya yang tidak mengikat termasuk Fundraising
mandiri lembaga demi mendukung tersedianya sarana
prasarana yang memadai untuk melaksanakan pelayanan
yang optimal dan berkelanjutan.
Isu Strategis
1. Bagaimana meminimalisir eksploitasi dan tindak kekerasan
terhadap perempuan dan anak melalui penguatan hak-hak
perempuan dan anak yang mengalami tindak kekerasan
dan eksploitasi.
2. Bagaimana memperkuat ekonomi perempuan dan masya-
rakat miskin melalui pemberdayaan ekonomi.

47
Libby SinlaEloE dan Paul SinlaEloE

3. Bagaimana memperbesar akses masyarakat miskin, pe-


rempuan dan anak pada layanan kesehatan dasar.
4. Bagaimana memperkuat kapasitas lembaga melalui kerja
jaringan ditingkat lokal, regional dan nasional.
Struktur Organisasi
 Direktur :
Libby Ratuarat-SinlaEloE
 Koordinator Divisi Pendampingan dan Advokasi:
Rahmawaty Bagang
 Koordinator Divisi Penguatan Kapasitas :
Imelda Dally
 Koordinator Div. Publikasi & Informasi :
Nurkasrih Umar
 Koordinator Admin dan Keuangan :
Magdalena Taneo
 Staf Admin :
Helena Korang
 Staf Div. Pendampingan :
Sepi Tapehe & Hofni Tefbana

48
Catatan: