Anda di halaman 1dari 66

HUBUNGAN WAKTU TANGGAP PERAWAT DENGAN COMPLAINT

HANDLING DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS

TIGA JUHAR KECAMATAN STM HULU KABUPATEN DELI

SERDANG 2020

PROPOSAL

OLEH:

FITRI YANI BR PERANGIN ANGIN


16.11.067

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA

FAKULTAS KEPERAWATAN

INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA DELITUA

TAHUN 2020
LEMBAR PERSETUJUAN

PENGARUH SENAM HIPERTENSI TERHADAP PENURUNAN

TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS SIBIRU-BIRU KABUPATEN

DELI SERDANG TAHUN 2020

Yang dipersiapkan dan diseminarkan oleh :

EVI RISMAWANI DAMANIK

NPM : 16.11.057

Skripsi Ini Telah Diperiksa Dan Disetujui Untuk Diseminarkan Dihadapan

Penguji Seminar Program sarjana keperawatan fakultas keperawatan

INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA DELITUA

Oleh :

Dosen Pembimbing Skripsi

Ns.MEGAWATI SINAMBELA,S.Kep,M.Kes

NPP :19621116.2.002
LEMBAR PERSETUJUAN PELAKSANAAN SIDANG PROPOSAL

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA FAKULTAS

KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN

DELI HUSADA DELITUA

Nama Mahasiswa: Evi Rismawani Damanik

Npm : 16.11.057

Judul Proposal : Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Penurunan Tekanan

Darah Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sibiru-biru

Kabupaten Deli Serdang Tahun 2020

Dengan ini dinyatakan telah mendapat izin dari pembimbing untuk pelaksanaan

siding proposal

Dosen Pembimbing Skripsi

Ns.MEGAWATISINAMBELA,S.Kep,M.Kes
NPP :19621116.2.002
Dekan Ketua Jurusan

Dra.Ns.Megawati Sinambela.SST,M.Kes Ns.Herri NovitaTarigan.M.Kep


NPP:1298098727.6.7566 NPP.19801019.200609.2.002
LEMBAR PERSETUJUAN

PENGARUH SENAM HIPERTENSI TERHADAP PENURUNAN

TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS SIBIRU-BIRU KABUPATEN

DELI SERDANG TAHUN 2020

Yang dipersiapkan,dan dipertahan kan oleh:

EVI RISMAWANI DAMANIK

NPM : 16.11.057

Telah diuji dan dipertahankan dihadapan tim penguji proposal

Penguji I

Ns.MEGAWATISINAMBELA,S.Kep,M.Kes
NPP :19621116.2.002
Penguji II Penguji III

Mengesahkan

Dekan Fakultas Keperawatan Ka. Jurusan Program Studi Sarjana


Delihusada Delitua Keperawatan Deli Husada Delitua

Dra.Ns.Megawati Sinambela.SST,M.Kes Ns.Herri Novita Tarigan.M.Kep


NPP.19801019.200609.2.002
NPP:1298098727.6.7566
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat rahmat dan karunia Nya penulis masih bisa menyelesaikan penulisan

skripsi ini.Adapun judul pada skripsi ini adalah “Pengaruh Senam Hipertensi

Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia Di Wilayah Kerja

Puskesmas Sibiru-Biru Tahun 2020” merupakan salah satu persyaratan

kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan di Institut Kesehatan

Delihusada Delitua Fakultas Keperawatan, Program Study Sarjana Keperawatan

Penulis menyadari penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak ,baik secara moril maupun materil.Oleh karena itu

pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada :

1. Terulin S. Meliala AMKeb, SKM, M.Kes selaku Ketua Yayasan Rumah

Sakit Umum Sembiring Delitua

2. Drs. Johanes Sembiring M.pd, M.Kes sebagai Rektor Institute Kesehatan

Delihusada Delitua

3. Ns.Megawati Sinanambela,S.Kep,M.Kes sebagai Dekan Fakultas

Keperawatan Institut Kesehatan Delihusada Delitua dan sebagai Dosen

pembimbing saya yang telah banyak meluangkan waktunya untuk

memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

4. Ns Heri Novita Tarigan M.Kep Sebagai Ketua Jurusan Keperawatan Institut

Kesehatan Delihusada Delitua

i
5. Ns. Siti Marlina,S.Kep,M.Kes sebagai Walitingkat PSIK 4 Angkatan ke 15

yang telah sabar membimbing seluruh mahasiswa PSIK 4.

6. Kepada seluruh staff dosen Insititut Kesehatan Delihusada Delitua yang

telah banyak membimbing dan mendidik penulis dalam upaya pencapaian

pendidikan dari awal hingga akhirnya .Terimaksih untuk semua

motivasi,dukungan ,dan segala cinta kasih yang telah tercurah selama proses

pendidikan sehingga peneliti dapat sampai pada penyusunan skripsi ini .

7. Kepala Upt Puskesmas Sibiru-Biru Yang Telah Memberikan Izin Untuk

Melakukan Studi Pendahuluan Dan Bersedia Menjadi Tempat Penelitian

8. Seluruh Staf Dan Karyawan Di Upt Puskesmas Sibiru-Biru Dan Para Kader

Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Deli Tua Yang Telah

Memberikan Bantuan Dan Dukungan Dalam Proses Penyusunan Proposal.

9. Teristimewa kepada Kedua Orangtua Saya , Bapak PIPIN DAMANIK dan

Ibu tercinta SINTAULI SARAGIH yang telah berjuang dan bekerja keras

untuk pendidikan saya yang tak pernah putus asa dalam

mendidik,membimbing dan mendukung baik secara moral maupun materi

serta doa yang tidak terhinggga kepada saya sehingga saya dapat

menyelesaikan pendidikan sarjana Keperawatan Di Institut Kesehatan Deli

Husada Delitua

10. Terimakasih kepada keluarga saya, adik saya Wita Sari Damanik , Dearson

Natanael Damanik dan Ras Encari Damanik yang sudah banyak

memberikan Doa, dukungan,dan semangat tinggi dalam proses pembuatan

skripsi ini.

ii
11. Seluruh Teman-teman Program Study Ilmu Keperawatan Angkatan XV dan

terkhusus untuk sahabat saya keluarga Jawabatakkaro

(Fadillah,Fitriyani,Ismayanti,) dan Rainbow house (Loly C,Rehmaulina

,Asneli dan Lilis ) yang menjadi keluarga kedua di rantau untuk bersama-

sama meraih Sarjana Keperawatan

12. Petugas perpustakaan yang dengan sabar melayani, dan memberikan

fasilitas perpustakaan sehingga memudahkan penulis dalam penyusunan

skripsi ini.

13. Terimakasih kepada Ricky Horas Pardosi S.Pd , Kak Erna Yulita S.Kep

,Kak Agustina S.Kep ,Sri Ningsih Rambe dan Ririn Anzeri yang telah

memberikan dukungan dan semangat kepada saya baik secara moril maupun

materil dalam penyelesaian penelitian ini. Terimakasih untuk semua orang

yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat peneliti

sebutkan satu persatu.

Disadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna,

oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun

untuk penyempurnaan penulisan atau pembuatan skripsi saya.Akhir kata, semoga

segala bantuan yang yang telah diberikan mendapat balasan dari Tuhan Yang

maha esa dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihah khususnya

bagi penulis dan pembaca.

Delitua, Maret 2020

Peneliti

iii
Evi Rismawani
NPM:16.11.057

iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS

Nama : Evi Rismawani Damanik

Tempat Tanggal Lahir : Siambaton, 12 Agustus 1997

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Kristen Protestan

Anak Ke : 1 Dari 4 Bersaudara

Nama Ayah : Pipin Damanik

Nama Ibu : Sintauli Saragih

Alamat :Siambaton, Kel.Pariksabungan,

Kec.Dolok Pardamean, Kab Simalungun.

II. PENDIDIKAN

2004-2010 : SDN 091495 Sipintuangin

Tamat Berijazah

2010-2013 : SMP N1 Dolok Pardamean

Tamat Berijazah

2013-2016 : SMK Plus Kesehatan Efarina Saribu Dolok

Tamat Berijazah

2016-2020 : Mengikuti Pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan

Program Sarjana Fakultas Keperawatan Institut

Kesehatan Deli Husada Delitua

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................

DAFTAR RIWAYAT HIDUP.......................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

DAFTAR TABEL...........................................................................................

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................

1.1 Latar Belakang............................................................................................

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................

1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................

1.3.1 Tujuan Umum....................................................................................

1.3.2 Tujuan Khusus..................................................................................

1.4 Manfaat Penelitian......................................................................................

1.4.1 Bagi Peneliti.........................................................................................

1.4.2 Bagi Lansia..........................................................................................

1.4.3 Bagi Pelayanan Kesehatan...................................................................

1.4.4 Bagi Pendidikan Keperawatan.............................................................

1.4.5 Bagi Peneliti Selanjutnya.....................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................

2.1 Konsep lanjut usia....................................................................................

2.1.1 Defenisi lanjut usia..............................................................................

2.1.2 Batasan-batasan Usia...........................................................................

ii
2.1.3 Proses Menua.......................................................................................

2.1.4 Teori-teori Proses Menua....................................................................

2.1.Hipertensi Pada Lansia...........................................................................

2.2 Konsep Hipertensi....................................................................................

2.2.1 Pengertian Hipertensi...........................................................................

2.2.2 Faktor-faktor Hipertensi.......................................................................

2.2.3 Patofisiologi..........................................................................................

2.2.4 Manifestasi Klinis.................................................................................

2.2.5 Klasikasi Hipertensi..............................................................................

2.2.6 Penataksanaan Hipertensi.....................................................................

2.3 Konsep Senam Hipertensi........................................................................

2.3.1 Pengertian Senam Hipertensi...............................................................

2.3.2 Manfaat Senam Hipertensi..................................................................

2.3.3 Teknik atau Cara melakukan Senam...................................................

2.4 Kerangka Teori.........................................................................................

2.5 Kerangka Konsep.....................................................................................

2.6 Hipotesis.....................................................................................................

BAB III METODE PENELITIAN................................................................

3.1 Jenis Penelitian..........................................................................................

3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian..................................................................

3.2.1 Lokasi penelitian...................................................................................

3.2.2 Waktu Penelitian...................................................................................

3.3 Populasi,Sampel dan Sampling...............................................................

3.3.1 Populasi.................................................................................................

iii
3.3.2 Sampel..................................................................................................

3.3.3 Teknik Sampling...................................................................................

3.4 Variabel dan Defenisi Operasional........................................................

3.4.1 Variabel Penelitian................................................................................

3.4.1.1 Variabel Dependen............................................................................

3.4.1.2 Variabel Independen..........................................................................

3.4.2 Defenisi Operasional..............................................................................

3.4.2.1 Senam Hipertensi..............................................................................

3.4.2.2 Penurunan Tekanan Darah................................................................

3.4.3 Aspek Pengukuran variabel .................................................................

3.5 Instrumen Penelitian Dan Aspek Pengukuran.....................................

3.5.1 Instrumen Penelitian................................................................................

3.6 Metode Pengumpulan...............................................................................

3.6.1 Teknik Pengumpulan Data`.....................................................................

3.7 Prosedur Penelitian..................................................................................

3.8 Kode Etik Penelitian.................................................................................

3.9 Proses Pengolahan Data...........................................................................

3.10 Metode Analisis Data..............................................................................

3.10.1 Analisis Univariat.............................................................................

3.10.2 Analisis Bivariat................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori.............................................................................

Gambar 2.2 Kerangka Konsep..........................................................................

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah menurut WHO.........................................

Tabel 2 .2 Klasifikasi tekanan darah menurut Joint National Comitee............

Tabel 3.1 Definisi Operasional.........................................................................

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran1 Lembar Permohonan Menjadi Responden Penelitian....................

Lampiran 2 Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden.................................

Lampiran 3 Lembar Observasi.........................................................................

Lampiran 4 Lembar Standar Operasional Prosedur..........................................

Lampiran 5 Izin Survei Awal dari INKES DELIHUSADA DeliTua...............

Lampiran 6 Balasan Izin Survei Awal .............................................................

Lampiran 7 Berita Acara Seminar Proposal.....................................................

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup berbahaya

di seluruh dunia karena hipertensi merupakan faktor resiko utama yang mengarah

kepada penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung ,gagal jantung ,stroke

dan penyakit ginjal yang mana pada tahun 2016 penyakit jantung iskemik dan

stroke menjadi dua penyebab kematian utama di dunia(WHO 2018).Hipertensi

atau biasa disebut tekanan darah tinggi merupakan keadaan peningkatan tekanan

darah sistolik dan diastolik diatas batas normal yaitu lebih dari 140 mmHg dan

tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg(Ferri,2017).

Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang

menyebabkan kenaikan darah diatas nilai normal dan dapat menyerang hampir

semua golongan masyarakat di seluruh dunia dan jumlah penderita hipertensi dari

tahun ke tahun semakin meningkat. Berdasarkan data dari World Health

Organization (WHO) menyebutkan bahwa hipertensi di dunia diperkirakan 1

milyar atau sekitar seperempat dari seluruh populasi orang dewasa di dunia

mengalami hipertensi dan jumlah ini cenderung mengalami peningkatan setiap

tahunnya. Jumlah hipertensi ,33,3 % berada di Negara maju dan 66,7 % berada di

Negara berkembang.

Prevalensi hipertensi yang tinggi tidak hanya terjadi di Negara maju tetapi

juga di Negara berkembang seperti Indonesia .Berdasarkan hasil Riset Kesehatan

Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan angka prevalensi hipertensi hasil

pengukuran mencapai 34,1 % meningkat tajam dari 25 ,8 % pada tahun 2013,

1
2

dengan angka prevalensi tertinggi di provinsi Kalimantan selatan sebesar 44,1 %

dan terendah di provinsi papua sebesar 22,2 %.Provinsi Gorontalo sendiri pada

Riskedas 2013 mencapai 29,0% dan pada Riskedas tahun 2018 menjadi 31,0 %

dan berada pada urutan ke 20 dari 34 provinsi (Kemenkes RI,2018)

Berdasarkan data epidemologi hipertensi di negara maju masih

merupakan masalah global yang menjadi masalah kesehatan, di Amerika Serikat

prevalensi Hipertensi menempati urutan pertama penyebab kematian pada

kelompok usia > 60 tahun yang berhubungan dengan penyakit degeneratif

sebesar 4 juta orang setiap tahun .Adapun di Rusia hipertensi pada kelompok

usia > 60 tahun sebesar 1-2 juta orang setiap tahun dan di Jepang hipertensi

merupakan penyebab utama gangguan jantung koroner pada > 60

tahun(Rihiantoro dan Muji ,2017).

Prevelensi hipertensi di provinsi sumatera utara mencapai 6,7 % dari

jumlah penduduk disumatera untuk, berdasarkan data badan Litabangkes

Kementerian kesehatan, ini berarti bahwa jumlah penduduk sumatera utara yang

menderita hipertensi mencapai 12,42 juta siswa tersebar di beberapa kabupaten

(Kemenkes, 2013 ) Kabupaten Karo salah satu jumlah hipertensi yang

terbanyak, menyusul kabupaten deli serdang tahun 2016 jumlah penderita

hipertensi di kabupaten karo sebesar 12.608 orang. Prevelensi ini lebih tinggi

pada jenis kelamin perempuan (52 % ) laki –laki ( 48 % ) terbesar pada

kelompok umur 55-59 tahun ( Simbolon, 2016).

Data dari dinas kesehatan provinsi sumatera utara, tercatat 50. 162 orang

yang menderita hipertensi. Data tersebut tercatat paling banyak menderita

hipertensi adalah wanita dengan jumlah 27.021 usia yang paling banyak
3

menderita adalah diatas 55 tahun dengan jumlah 22. 618, kemudian usia 18

sampai 44 tahun dengan jumlah 14.984 dan usia 45 sampai 55 tahun dengan

jumlah 12.560 Tahun 2015, tercatat penderita di sumut pada januari – oktober

2015 mencapai 15.1939 penderita terbanyak adalah wanita dengan jumlah 87774

. Usia penderita paling banyak terlihat pada data itu juga usia diatas 55 tahun

dengan jumlah 85254, disusul usia 45 sampai 55 tahun dengan jumlah 44909

dan usia 18 tahun sampai 44 tahun dengan jumlah 21776 (Sumut Pos , 2016)

Menurut Azhari (2017) dalam hasil penelitianya menyebutkan

karakteristik pasien hipertensi adalah masuk dalam kelompok usia lansia akhir

jenis kelamin perempuan, tid ak patuh minum obat, tidak mengalami obesitas ,

tidak memiliki keluarga dengan riwayat hipertensi, tidak memiliki kebiasaan

merokok, kebiasaan olahraga tidak teratur. Menua (menjadi tua ) adalah suatu

proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki

diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya

sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejak memperbaiki kerusakan yang

menyebabkan penyakit degenerative misalnya hipertensi , arteriokleorosis ,

diabetes militus dan kanker ( Nurhmani, 2012)

Meningkatnya penduduk lanjut usia yang di butuhkan perhatian dari

semua aspek yang dapat mengantisipasi berbagai permasalahan yang ada,

penuaan penduduk membawa berbagai implikasi baik dari aspek social,

ekonomis hukum, politik dan terutama kesehatan (Komnas Lansia 2010).Seiring

dengan bertambahnya usia harapan hidup, jumlah lansia di dunia cenderung

meningkat diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun diperkirakan

pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar .Di Indonesia, jumlah penduduk
4

lansia pada tahun 2010 adalah 23.992.553 jiwa (9,77 %).Pada tahun 2020

diprediksi jumlah lansia mencapai 28.822.879 jiwa (11,34%).

Hipertensi merupakan salah satu contoh penyakit degeneratif. Tingginya

angka kejadian hipertensi pada lansia menuntut peran tenaga kesehatan untuk

melakukan pencegahan dan upaya promosi kesehatan .Ada beberapa cara

pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit hipertensi

diantaranya adalah aktif berolahraga (senam), mengatur diet (rendah garam

,rendah kolestrol dan lemak jenuh), serta mengupayakan perubahan kondisi

(menghindari stress dan mengobati penyakit lain).

Menurut Sherwood (2005) Olahraga seperti senam hipertensi mampu

mendorong jantung bekerja dengan optimal. Latihan fisik seperti senam yang

teratur membantu mencegah penyakit kronis seperti hipertensi. Olahraga atau

senam hipertensi adalah usaha untuk mengurangi berat badan dan mengelola

stress, dua faktor yang mempertinggi resiko hipertensi(Vitahealth,2004:57).

Olahraga senam hipertensi juga merupakan salah satu terapi non farmakologis

yang dapat diterapkan pada penderita hipertensi untuk mengurangi

ketergantungan obat anti hipertensi pada penderita hipertensi(Setiawan, 2013).

Penelitian terdahulu yang dilakukan Totok Hernawan mengenai senam

hipertensi terhadap pengendalian tekanan darah menunjukan hasil adanya

pengaruh senam hipertensi dengan tekanan darah dan didapatkan hasil tekanan

darah sebelum pemberian intervensi sebagian besar adalah

prehypertension(39%) dan setelah pemberian intervensi senam hipertensi

sebagian besar tekanan darah adalah normal (56%) dengan jumlah responden

sebanyak 28 responden.
5

Menurut data Puskesmas Sibiru –biru Kabupaten Deli Serdang Bulan

Januari tahun 2020 penderita hipertensi sebanyak 745 Orang dengan Kualifikasi

usia 18 tahun ke atas. Jumlah Lansia yang mengalami Hipertensi Pada

Rekapitulasi Data Januari 2020 sebanyak 125 Orang. Berdasarkan uraian diatas

maka dilakukan kegiatan yang mendukung sesuai dengan usia sasaran yang

menderita hipertensi. Bentuk kegiatan yang ada yaitu Senam dan Pendidikan

Kesehatan yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Hasil Survey awal penelitian di Puskesmas Sibiru – biru di dapat

sejumlah 30 orang penderita hipertensi mengikuti program PROLANIS yang ada

di puskesmas Sibiru-biru, yang mana program tersebut bertujuan untuk

pengelola penyakit kronis, salah satunya adalah hipertensi. Berdasarkan uraian

diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada pengaruh senam

hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja

Puskesmas Sibiru - biru tahun 2020. Penelitian ini bertujuan diketahuinya

pengaruh senam hipertensi pada lansia dengan hipertensi.

1.2. Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan tekanan

darah pada lansia yang mengalami hipertensi di wilayah Kerja Puskesmas

Sibiru-biru Tahun 2020?


6

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk menganalisis pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan

tekanan darah pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sibiru-biru tahun 2020.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengidentikasi tekanan darah sebelum (Pre ) melakukan senam

hipertensi

b. Untuk mengidentifikasi tekanan darah sesudah (Post ) melakukan senam

hipertensi

c. Untuk menganalisis pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan

tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi di Wilayah kerja

puskesmas Sibiru-biru.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan tentang pengaruh senam hipertensi terhadap

penurunan tekanan darah pada lansia .

1.4.2 Bagi Lansia

Penelitian ini diharapakan lansia dapat mengetahui informasi terkait

senam hipertensi dan dapat menjadi acuan untuk menerapkan terapi senam

hipertensi dalam menurunkan tekanan darah pada lansia

1.4.3 Pelayanan Kesehatan (Puskesmas )

Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pelayanan kesehatan

khususnya di Puskesmas dalam meningkatkan pelayanan kesehatan untuk


7

memberikan intervensi selain farmakologi kepada penderita hipertensi dengan

melakukan senam hipertensi.

1.4.4 Bagi Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini diharapkan dapat memotivasi calon perawat dalam

meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta sebagai penambah informasi

sebagai bahan bacaan yang dapat dipergunakan seperlunya .

1.4.5 Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam meningkatkan

pengetahuan tentang penurunan Hipertensi dan dapat bermanfaat bagi peneliti

yang lain dalam meningkatkan ilmu pengetahuan tentang pengaruh senam

hipertensi lansia terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dan sebagai

informasi tambahan serta bahan referensi untuk penelitian keperawatan yang

akan datang dalam ruang lingkup yang sama.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Lanjut Usia

2.1.1. Definisi Lanjut Usia

Lanjut usia merupakan bagian dari proses tumbuh kembang .Manusia

tidak secara tiba-tiba menjadi tua namun melalui proses perkembangan dari

mulai bayi ,anak-anak,dewasa dan akhirnya menjadi tua.Lansia merupakan suatu

proses alami yang akan dialami oleh seluruh manusia dan merupakan akhir dari

kehidupan. (Azizah ,2011).Lansia adalah seorang yang telah mencapai usia 60

tahun keatas .

Menua bukanlah suatu penyakit ,tetapi merupakan proses yang berangsur

–angsur mengakibatkan perubahan kumulatif ,merupakan proses menurunnya

daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh dan

berakhir dengan kematian(Padila, 2013). Lanjut usia merupakan sekelompok

manusia yang telah memasuki tahap akhir kehidupannya. Undang-undang No 13

tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan nasional

yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila

dan Undang –undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi social masyarakat

yang makin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat ,sehingga jumlah

lanjut usia makin bertambah. Banyak diantara lanjut usia yang masih produktif

dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat ,berbangsa dan

bernegara .
9

Upaya Peningkatan kesejahteraan social lanjut usia pada hakikatnya

merupakan pelestarian nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa. Menurut

Undang –undang RI No 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 19 ayat 1 bahwa

manusia lanjut usia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan

biologis ,fisik ,kejiwaan dan social .Perubahan ini akan memberikan pengaruh

pada seluruh aspek kehidupan.Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang

terjadi di dalam kehidupan manusia.Proses menua merupakan proses sepanjang

hidup ,tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu,tetapi dimulai sejak

permulaan kehidupan .Menjadi Tua merupakan proses dimana hilangnya

kemampuan jaringan secara perlahan untuk mengganti dan mempertahankan

fungsi normalnya sehingga pada usia sangat rentan terhadap infeksi (Mujahidullah

dalam Rahman ,2017).

2.1.2. Batasan-batasan lansia

Menurut WHO menggolongkan lanjut usia kronologis/biologis menjadi 4

kelompok yaitu usia pertengahan (Middle age ) antara usia 45 sampai 59 tahun

,Lanjut usia (Erderly) berusia antara 60 tahun sampai 74 tahun ,Lanjut usia tua

(Old) usia 75 -90 tahun ,dan usia sangat tua (Very old ) diatas 90 tahun

.Sedangkan Fadila (2013) menyimpulkan pembagian umur berdasarkan pendapat

beberapa ahli ,Bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang telah berumur 60

-65 tahun keatas.

Menurut Depkes RI batasan lansia terbagi empat kelompok yaitu

pertengahan umur usia lanjut (viritas )yaitu masa persiapan usia lanjut yang

menampakkan keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 45 sampai 54

tahun,usia lanjut dini (prasenium ) yaitu kelompok yang mulai memasuki usia
10

lanjut antara 55 sampai 64 tahun,Kelompok usia lanjut (senium ) usia 65 tahun ke

atas dan usia lanjut dengan resiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari

70 tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri ,terpencil ,tinggal dip

anti ,menderita penyakit berat atau cacat . Menurut UU No.13 tahun 1998 dalam

bab 1 pasal 1 ayat II yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai

usia 60 tahun keatas.

2.1.3. Proses Menua

Proses menua (Ageing process ) adalah suatu proses menghilangnya

secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri /mengganti

dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap

infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes,1994 ;Darmojo

2004 ). Ini merupakan proses yang terus menerus (berlanjut ) secara alami .Ini

dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup .

Proses menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses

berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam

maupun dari luar tubuhyang berakhir dengan kematian (Padila ,2013 ).Walaupun

demikian ,memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering

menghinggapi kaum lanjut usia,Proses menua sudah mulai berlangsung sejak

seseorang mencapai usia dewasa ,misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan

otot ,Susunan syaraf dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
11

2.1.4. Teori-teori Proses Menua

Ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses penuaan yaitu :

1. Teori Biologis

a. Teori Genetik dan mutasi (Somatic mutatie Theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies –

spesies tertentu.Menua Terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang di

program oleh molekul-molekul /DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami

mutasi.Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel- sel kelamin (terjadi

penurunan kemampuan fungsional sel ).Teori sebab akibat menjelaskan bahwa

penuaan terutama di pengaruhi oleh pembentukan gen dan dampak lingkungan

pada pemebentukan kode genetic .Menurut teori genetika adalah suatu proses

yang secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu ke waktu mengubah

sel atau struktur jaringan .Dengan kata lain ,Perubahan rentang hidup dan panjang

usia ditentukan sebelumnya (Stanley &Beare ,2006 dalam putrid ,2013 ).

b. Teori DNA repaired

Teori ini dikemukakan oleh Hart dan Setlow .Mereka menununjukan

bahwa adanya perbedaan pola laju perbaikan (Repair) kerusakan DNA yang

diinduksi oleh sinar Ultraviolet (UV) pada berbagai fibroblas yang di kultur

.Fibroblas pada spesies yang mempunyai umur maksimum terpanjang

menunjukan laju DNA repair terbesar dan korelasi ini dapat ditunjukan pada

berbagai mamalia dan primate (Setiati et al.,2009 ).

c. Teori Wear-and –tear

Teori Wear-and –tear (dipakai dan rusak ) mengusulkan bahwa

akumulasi sampah metabolic atau zat nutrisi dapat merusak sintetis DNA
12

,sehingga mendorong malfungsi organ tubuh .Pendukung teori ini percaya bahwa

tubuh akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal .Sebagai contoh

adalah radikal bebas ,radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh sistem enzim

pelindung pada kondisi normal (Stanley & Beare ,2006 dalam putrid ,2013 )

d. Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto immune Theory )

Didalam proses metabolisme tubuh ,suatu saat diproduksi suatu zat

khusus .Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut

sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit .Teori imunitas berhubungan

dengan langsung dengan proses penuaan .Selama proses penuaaan ,sistem imun

juga akan mengalami kemunduran dalam pertahanan terhadap organisme asing

yang masuk kedalam tubuh sehingga pada lansia akan sangat mudah mengalami

infeksi dan kanker.Perubahan sistem ini diakibatkan perubahan pada jaringan

limpoid sehingga tidak adanya keseimbangan dalam sel T untuk memproduksi

antibody dan kekebalan tubuh menurun.Pada sistem imun akan terbentuk

autoimun tubuh.Perubahan yang terjadi merupakan pengalihan integritas sistem

tubuh untuk melawan sistem imun itu sendiri.

e. Teori Imunology Slow Virus

Sistem imun ini menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan

masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Menurut Potter & Perry (2006 ) (dalam Martha 2012) penurunan atau perubahan

dalam keefektifan sistem imun berperan dalam penuaan.Tubuh kehilangan

kemampuan untuk membedakan protrinya sendiri dengan protein asing sehingga

sistem imun menyerang dan menghancurkan jaringanya sendiri pada kecepatan

yang meningkat secara bertahap.Disfungsi sistem imun ini menjadi factor dalam
13

perkembangan penyakit kronis seperti kanker,diabetes,dan penyakit

kardiovaskuler serta infeksi.

f. Teori Stres

Menua terjadi akibat hilangnyasel –sel yang biasa digunakan tubuh

.Regenerasi jaringan ini tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan

internal,Kelebihan usaha dan stress mnyebabkan sel-sel tubuh lelah .

g. Teori Radikal bebas

Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi electron tidak

berpasangan .Karena elektronya tidak berpasangan, secara kimia radikal bebas

akan mencari pasangan electron lain dengan bereaksi dengan substansi lain

terutama protein dan lemak tidak jenuh .Sebagi contoh ,karena membrane sel

mengandung sejumlah lemak ,dia dapat bereaksi dengan radikal bebas. Sehingga

membrane sel mengalami perubahan .Akibat perubahan pada struktur membrane

tersebut membrane sel menjadi lebih permiabel terhadap beberapa substansi dan

memungkinkan substansi tersebut melewati membrane secara bebas .Struktur di

dalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh membrane yang

mengandung lemak ,sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas (Setiati

et.al.,2009 ).

h. Teori Rantai silang

Sel-sel yang tua atau using ,rekasi kimianya menyebabkan ikatan yang

kuat,khususnyajaringan kolagen .Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastic

,kekacauan dan hilangnya fungsi .Teori Cross-link dan jaringan ikat menyatakan

bahwa molekul kolagen dan elastin, komponen jaringan ikat ,membentuk senyawa

yang lama meningkatkan rigiditas sel ,cross linkage diperkirakan akibat reaksi
14

kimia yang menimbulkan senyawa antara molekul –molekul yang normalnya

terpisah (Ebersole &Hess ,1994 dalam Potter & Perry ,2005 ).

2. Teori Psikologis

Pada usia lanjut ,proses penuaan terjadi secara alamiah seiring dengan

penambahan usia.Perubahan psikologis yang terjadi secara alamiah seiring dengan

penambahan usia.Perubahan psikologis yang terdi dapat dihubungkan pulak

dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif .

Kemampuan yang kognitif dapat dikaitkan dengan penurunan fisiologis

organ otak.Namun untuk fungsi positif yang dapat dikaji ternyata mempunyai

fungsi lebih lanjut .kemampuan member alasan secara abstrak dan melakukan

perhitungan .Memori adalah kemampuan daya ingat lansia terhadap suatu

kejadiaan /peristiwa baik jangka pendek maupun jangka panjang .

3. Teori Sosial

a. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)

Teori ini menjelaskan bahwa lansia mengalami penurunan jumlah

kegiatan yang dapat dilakukannya.Teori ini menyatakan bahwa lansia yang sukses

adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan social .Teori ini

menegaskan bahwa kelanjutan aktivitas dewasa tengah penting untuk keberhasilan

penuaan .Menurut Lemon et all (1972) dalam (Martha, 2012 ) Orangtua yang aktif

secara social lebih cenderung menyesuaikan diri terhadap penuaan yang baik.

b. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory )

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lansia .Teori ini

merupakan gabungan dari teori diatas .Pada teori ini menyatakan bahwa
15

perubahan yang terjadi pada seseorang lansia sangat dipengaruhi oleh tipe

personality yang dimiliki .

c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory )

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia ,seseorang secara

berangsur –angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya .Keadaan ini

meningkatkan interaksi social lanjut usia menurun ,Baik Secara kualitas maupun

kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda (triple loss)yakni :

1) Kehilangan Peran

2) Hambatan Kontak social

3) Berkurangnya Kontak Komitmen

Teori Disengagement (Teori pemutusan hubungan ),Menggambarkan

proses penarikan diri oleh lansia dari peran masyarakat dan tanggung jawabnya

.Proses penarikan diri dapat diprediksi ,sistematis ,tidak dapat dihindari dan

penting untuk fungsi yang tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh .Lansia

dikatakan bahagia apabila kontak social berkurang dan tanggung jawab telah

diambil oleh generasi lebih muda.(Stanley &Beare ,2006 dalam Putri ,2013.)

4. Teori Spritual

Komponen spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada pengertian

hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi individu tentang arti

kehidupan .

2.1.5. Hipertensi Pada Lansia

Peningkatan jumlah lansia memberikan suatu perhatikan khusus pada

lansia yang mengalami suatu proses menua.Permasalahan-permasalahan yang

perlu perhatian khusus untuk lansia berkaitan dengan berlangsungnya proses


16

menjadi tua ,yang berakibat timbulnya perubahan fisik ,kognitif ,perasaan

,social ,dan seksual (Azizah ,2011 )

Prevalensi hipertensi yang tinggi tidak hanya terjadi di Negara maju tetapi

juga di Negara berkembang seperti Indonesia .Berdasarkan hasil Riset Kesehatan

Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan angka prevalensi hipertensi hasil

pengukuran mencapai 34,1 % meningkat tajam dari 25 ,8 % pada tahun 2013

,dengan angka prevalensi tertinggi di provinsi Kalimantan selatan sebesar 44,1 %

dan terendah di provinsi papua sebesar 22,2 %.Provinsi Gorontalo sendiri pada

Riskedas 2013 mencapai 29,0% dan pada Riskedas tahun 2018 menjadi 31,0 %

dan berada pada urutan ke 20 dari 34 provinsi (Kemenkes RI,2018)

2.2. Konsep hipertensi

2.2.1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka

kesakitan (morbilitas) dan angka kematian /mortalitas .Tekanan darah 140/90

mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik

140 menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolic

90 menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung.

Menurut WHO,batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah

kurang dari 130 /85 mmHg, sedangkan bila lebih dari 140 /90 mmHg dinyatakan

sebagai hipertensi ; dan di antara nilai tersebut disebut sebagai normal-tinggi .

(batasan tersebut diperuntukkan bagi individu dewasa diatas 18 tahun ). Batas

tekanan darah yang dianggap masih normal adalah kurang dari 130/85 mmHg.
17

WHO menyebutkan ,40 persen Negara ekonomi berkembang memiliki

penderita hipertensi,sedangkan Negara maju hanya 35 persen . kawasan afrika

memegang posisi puncak penderita hipertensi sebanyak 46 persen .sementara

kawasan amerika menempati posisi tertinggi dengan 35 persen. Di kawasan Asia

Tenggara, 36 persen orang dewasa menderita hipertensi (Rosmha, 2013 ).

Hipertensi /tekanan darah tinggi adalah tekanan sistolik lebih dari 140

mmHg dan tekanan darah sistolik lebih dari 90 mmHg .Hipertensi merupakan

penyakit multifactor yang muncul karena interaksi berbagai factor. Peningkatan

umur akan menyebabkan beberapa perubahan fisiologis ,pada usia lanjut terjadi

peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpatik .terapi dengan obat bisa

dilakukan dengan pemberiaan obat antihipertensi,sedangkan untuk terapi tanpa

obat bisa dilakukan dengan berolahraga secara teratur , dari berbagai macam

olahraga yang ada ,salah satu olahraga yang dapat dilakukan yaitu olahraga senam

hipertensi.

Hipertensi adalah tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah

diastolic lebih dari 90 mmHg ,Hipertensi merupakan penyakit ,multifactor yang

muncul oleh karena interaksi berbagai factor .Tekanan darah akan meningkat

setelah umur 45 – 55 tahun ,dinding arteri akan mengalami penebalan oleh adanya

penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehimgga pembuluh darah akan

berangsur –angsur menyempit menjadi kaku .peningkatan umur akan menyebakan

beberapa perubahan fisiologis ,pada usia lanjut terjadi peningkatan resistensi

perifer dan aktivitas simpatik


18

2.2.2. Faktor-faktor Hipertensi

Suiraika (2012 ) mengutarakan faktor –faktor resiko pemicu timbulnya

hipertensi ada dua ,yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat

dimodifikasi.

Tidak dapat dimodifikasi:

a. Jenis kelamin

Hipertensi berkaitan dengan jenis kelamin laki –laki dan usia .Namun pada

usia tua resiko hipertensi meningkat tajam pada perempuan disbanding laki-

laki.Hipertensi berkaitan dengan IMT.Laki-laki obesitas lebih mempunyai resiko

hipertensi dibandingkan perempuan obesitas dengan berat badan sama.

b. Usia

Jumlah penduduk berusia diatas 65 tahun meningkat dengan secara cepat

dan kurang dari 30 tahun satu dari lima orang di amerika serikat berusia diatas 65

tahun(spillman dan lubitz,2000).Tekanan darah sistolik meningkat progresif

sesuai usia dan orang lansia dengan Hipertensi merupakan resiko besar untuk

penyakit kardiovaskular.

c. Genetik

Hipertensi pada orang yang mempunyai riwayat hipertensi dalam

keluarga sekitar 15-35%.suatu penelitian pada orang kembar, Hipertensi terjadi

pada 60% laki-laki dan 30-40% perempuan.Hipertensi dibawah usia 55 tahun

terjadi 3,8 kali lebih sering pada orang dengan riwayat hipertensi dalam

keluarga.Hipertensi dapat disebabkan mutasi gen tunggal .Diturunkan berdasarkan

hukum mendel.Walaupun jarang kondisii ini memberikan pengetahuan penting

tentang regulasi tekanan darah dan mungkin dasar genetik hipertensi esensial.
19

d. Ras

Resiko hipertensi lebih tinggi pada kulit hitam menunjukkan bahwa

perhatian lebih besar harus diberikan walaupun derajat hipertensi lebih rendah

pada kelompok ini .Tetapi hal ini tidak cukup untuk menggunakan criteria

berbeda untuk menggunakan kriteria berbeda untuk mendiagnosis hipertensi

pada kulit hitam .

Dapat dimodifikasi :

a. Pendidikan

Hipertensi berhubungan terbalik dengan tingkat edukasi ,orang

berpendidikan tinggi mempunyai informasi kesehatan termasuk hipertensi dan

lebih mudah menerima gaya hidup sehat seperti diet sehat ,olahraga dan

memelihara berat badan ideal.

Sebanyak 66 juta orang amerika mengalami peningkatan tekanan darah

(tekanan darah sistolik>140 mmHg atau tekanan darah diastolic >90 mmHg )

;dimana 72 % menyadari penyakit mereka tetapi 61 % mendapat pengobatan dan

hanya 35 % yang terkontrol dibawah 140/90 mmHg.

b. Kontrasepsi oral

Peningkatan tekanan darah terjadi pada kebanyakan perempuan yang

menggunakan kontrasepsi oral,Tetapi peningkatan besar jarang terjadi .Hal ini

disebabkan ekspansi volume karena peningkatan sintetis hepatic substrat renin dan

aktivasi sistem renin –angiotensin –aldosteron.

c. Diet Garam(Natrium)

Natrium intraseluler meningkat dalam sel darah dan jaringan lain pada

hipertensi primer (esensial).Hal ini dapat disebabkan abnormalitas pertukaran Na


20

K dan mekanisme transport Na lain.Peningkatan Na intraseluler dapat

menyebabkan peningkatan Ca intraseluler sebagai hasil pertukaran yang

difasilitasi dan dapat menjelaskan peningkatan tekanan otot polos vaskuler yang

karakteristiknya pada hipertensi.

d. Obesitas

Obesitas terjadi pada 64 % pasien hipertensi .Lemak badan

mempengaruhi kenaikan tekanan darah dan hipertensi .Penurunan berat badan

menurunkan tekanan darah pada pasien dan memberikan efek menguntungkan

pada factor resiko terkait seperti ,Resistensi insulin ,Diabetes militus

,Hiperlipedemia ,dan Hipertrofi ventrikel kiri .insiden obesitas lebih tinggi

perempuan 34,4 % dibandingkan pada laki-laki 28,6 %.

e. Alkohol

Konsumsi Alkohol akan meningkatkan resiko hipeetensi ,Namun

mekanismenya belum jelas mungkin akibat meningkatnya transport kalsium

kedalam sel otot polos dan melalui peningkatan katekolamin plasma .Terjadinya

hipertensi lebih tinggi pada peminum alkohol berat akibat dari aktivitas

simpatetik.

f. Rokok

Rokok menghasilkan nikotin dan karbon Monoksida suatu vasokontriktor poten

menyebabkan hipertensi .Merokok meningkatkan tekanan darah juga melalui

peningkatan noreepinefrin plasma darah simpatetik .

Merokok menyebkan simpatetik ,Stress Oksidatif ,dan efek Vasopresor

akut yang dihubungkan dengan peningkatan marker inflamasi ,yang akan

mengakibatkan disfungsi endotel .Cedera pembuluh darah dan meningkatnya


21

kekakuan pembuluh darah .Setiap batang rokok dapat meningkatkan tekanan

darah 7/4 mmHg.Perokok pasif dapat meningkat 30 % resiko penyakit

kardiovarkuler dibandingkan dengan peningkatan 80 % pada perokok aktif.

g. Stress

Stress adalah salah satu kemungkinan penyebab tekana darah tinggi

,tetapi bukanlah satu-satunya penyebab dan bahkan bukanlah penyebab yang

sering ditemukan .Walaupun dampak stress jangka pendek pada tekana darah

telah diketahui ,hanya ada sedikit bukti bahwa stress yang kronis bisa

menyebabkan tekana darah tinggi kronis.

2.2.3. Patofisiologi

Sharif La Ode (2012) mengatakan bahwa mekanisme terjadinya yang

mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor

pada medulla oblongata di otak dimana dari vasomotor ini mulai saraf simpatik

yang berlanjut ke bawah korda soinalis dan keluar dari kolomna medulla ke

ganglia simpatis di torax dan abdomen ,rangsangan pusat vasomotor yang

dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui saraf

simpatis .pada titik ganglipn ini neuron prebanglion ke pembuluh darah ,dimana

dengan melepaskankannya nere frineprine mengakibatkan kontriksi pembuluh

darah.

Peningkatan curah jantung dapat melalui dua mekanisme yaitu melalui

peningkatan vome cairan (Preload ) atau melalui peningkatan kontraklitas karena

rangsangan neural jantung .Meskipun factor peningkatan curah jantung terlibat

dalam permulaan timbulnya hipertensi ,namun temuan –temuan pada penderita


22

hipertensi kronis menunjukan adanya hemodinamik yang khas yaitu adanya

peningkatan resistensi prefer dengan curah jantung yang normal.

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa

cara yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan

pada setiap detiknya ,arteri kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga

mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri

tersebut .darah pada setiap pembuluh darah yang sempit dari pada biasanya dan

menyebabkan naiknya tekanan.Inilah yang terjadi pada usia lanjut ,dimana

dingding arterinya telah menebal dan kaku karena arterioskalierosis .

Dengan cara yang sama ,tekana darah juga meningkat pada saat terjadi

vasokontriksi ,yaitu jika arteri kecil untuk sementara waktu mengkerut karena

perangsangan saraf atau hormone di dalam darah.Bertambahnya cairan dalam

sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah .Hal ini terjadi jika

terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam

dan air dalam tubuh .Volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekana darah

juga meningkat.

Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang arteri mengalami

pelebaran ,banyak cairan keluar dari sirkulasi maka tekanan darah akan

menurun.Penyesuaian terhadap factor –faktor tersebut dilaksanakan oleh

perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom .Ginjal mengendalikan

telanan darah melalui beberapa cara :Jika tekanan darah meningkat ,ginjal akan

menambah pengeluaran garam dan air ,yang akan meneyebabkan berkurangnya

volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.


23

Jika tekanan darah menurun ginjal akan mengurangi pembuangan garam

dan air ,sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali normal

.Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang

disebut renin ,yang memicu pembentukan hormone angiotensin ,yang selanjutnya

akan memicu pelepasan hormone aldosteron.Ginjal merupakan organ penting

dalam mengendalikan tekanan darah ; karena itu berbagai penyakit dan kelainan

pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.Misalnya

penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (Stenosis Arteri Renalis) bisa

menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi (Hipertensi).Peradangan dan cidera

pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.

Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang

untuk sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah selama respon fight –or

flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar ); meningkatkan kecepatan

dan kekuatan denyut jantung ; dan juga mempersempit sebagian besar arteriola

,tetapi memperlebar aeteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka yang

memerlukan pasokan darah yang lebih banyak ); mengurangi pembuangan air dan

garam oleh ginjal ,sehingga akan meningkatkan volume darah dalam

tubuh;melepaskan hormone epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin

(noradrenalin) ,yang merangsang jantung dan pembuluh darah .Faktor Stress

merupakan satu factor pencetus terjadinya peningkatan tekanan darah dengan

proses pelepasan hormone epinefrin dan norepinefrin.

2.2.4. Manifestasi Klinik

Hipertensi dapat menyerang siapa saja ,dari berbagai kelompok umur dan

status social ekonomi .Secara umum hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa
24

gejala ,Dimana tekanan darah yang tinggi di dalam arteri menyebabkan

meningkatnya resiko terhadap penyakit – penyakit yang berhubungan dengan

kardiovaskuler seperti Stroke ,Gagal jantung ,dan Kerusakan ginjal .Walapun

penyakit ini dianggap tidak memiliki gejala awal ,Sebenarnya ada beberapa gejala

yang tidak terlalu tampak sehingga sering tidak dihiraukan oleh penderita .Gejala

tersebut mulai bisa dirasakan penderita hipertensi dengan tekanan darah lebih

besar dari 140 /90 mmHg .Gejala –gejala yang dirasakan penderita hipertensi

antara lain :

1. Pusing

2. Mudah marah

3. Telinga berdengung

4. Sukar tidur

5. Sesak nafas

6. Ras berat di tengkuk mudah lelah

7. Mata berkunang-kunang

8. Muka pucat

9. Suhu tubuh rendah

2.2.5. Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi hipertensi dapat dilihat berdasarkan tekanan darah sistolik

dan tekanan darah diastolic dalam satuan mmHg dibagi menjadi beberapa

stadium .

Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah menurut WHO,kriteria hipertensi

adalah sebagai berikut :

Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg )


25

Optimal <120 < 80


Normal < 130 < 85
Tingkat1(hipertensi 140 -159 90 -99

ringan )
Sub grup :perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 (hipertensi 160-179 100-109

sedang )
Tingkat 3 (hipertensi >180 >110

berat )
Hipertensi sistol >140 < 90

terisolasi
Sub grup :perbatasan 140 -149 < 90

Tabel 2.2 Klasifikasi tekanan darah menurut Joint National Comitee (JNCT),Kriteria

hipertensi adalah sebagai berikut :

Kategori Sistol (mmHg) Diastole (mmHg)


Normal < 120 <80
Pre hipertensi 120-139 80 -89
Hipertensi tahap 1 140- 159 90-99
Hipertensi tahap 2 >160 >100
Jika angka sistolik (atas ) dan diastolic (bawah ) berada dalam rentang salah satu

kategori diatas normal , Secara keseluruhan seorang pasien termasuk dalam

kategori tersebut .
26

2.2.6. Penatalaksanaan Hipertensi

Pengetahuan tentang perjalanan penyakit dan factor –faktor yang

mempengaruhi berguna untuk menemukan strategi pencegahan penyakit yang

efektif.Pencegahan penyakit adalah tindakan yang ditujukan untuk mencegah

,menunda ,mengurangi ,membasmi ,mengeliminasi penyakit dan kecacatan

,dengan menerapkan sebuah atau sejumlah intervensi yang telah dibuktikan efektif

1. Tahap primer

Pencegahan primer adalah upaya memodifikasi factor resiko atau

mencegah berkembangnya factor resiko ,sebelum dimulainya perubahan patologis

dengan tujuan mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit .Tahap

primer penatalaksanaan penyakit hipertensi merupakan upaya awal pencegahan

sebelum seseorang menderita hipertensi melalui program penyuluhan dan

pengendalian factor –faktor resiko kepada masyarakat luas dengan

memprioritaskan pada kelompok resiko tinggi .Tujuan pencegahan primer adalah

untuk mengurangi insidensi penyakit hipertensi dengan cara mengendalikan factor

–faktor resiko agar tidak terjadi penyakit hipertensi .Contoh kegiatan yang dapat

dilakukan adalah pengaturan diet ,perubahan diet ,perubahan gaya hidup

,manajemen Stres dan lainya

Modifikasi gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk

menjaga kesehatan dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan

hipertensi .Semua pasien hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup

.Disamping menurun tekanan darah pada pasien-pasien dengan hipertensi

,Modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya tekanan darah ke

hipertensi pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi .


27

Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan merupakan strategi utama

dalam pencegahan tahap primer .Tujuan pendidikan kesehatan dan promosi

kesehatan dimaksudkan untuk perubahan perilaku seseorang dalam mencegah

terjadinya kesakitan.Notoatmojo mengungkapkan bahwa pengetahuan ,sikap dan

perilaku pencegahan penyakit yang dilakukan selama satu tahun dengan

pendekatan model peer group didapatkan adanya perbedaan yang bermakna

terkait pengetahuan ,sikap ,dan perilaku atara sebelum dan sesudah perlakuan

pendidikan kesehatan.

Pendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum

penambahan obat-obatan hipertensi ,di samping perlu diperhatikan oleh seseorang

yang sedang dalam terapi obat .Pada pasien hipertensi yang terkontrol ,pendekatan

nonfarmakologis ini dapat membantu pengurangan dosis obat pada sebagian

penderita .

Upaya pencegahan primer yang bisa dilakukan untuk mencegah

terjadinya hipertensi adalah dengan cara merubah factor resiko yang ada pada

kelompok resiko yang ada pada kelompok beresiko .Upaya –upaya yang

dilakukan dalm pencegahan primer terhadap penyakit hipertensi antara lain :

a. Diet rendah garam

Pembatasan mengkomsumsi garam sangat penting bagi penderita

hipertensi ,maksimal 2 gram garam dapur untuk diet setiap hari .Diet Rendah

garam dan air dalam jaringan tubuh dapat menurunkan tekanan darah pada

penderita hipertensi .Syarat diet ini adalah cukup protein ,kalori ,vitamin dan

mineral ,jumlah natrium yang diperbolehkan harus sesuai dengan berat tidaknya

retensi garam dan air.


28

b. Menghindari kegemukan (Obesitas)

Menghindari kegemukan dengan menjaga berat badan normal

.Pembatasan mengkomsumsi kalori dapat menurunkan tekanan darah dan hal ini

sebaiknya dianjurkan bagi semua penderita hipertensi.

c. Membatasi komsumsi lemak

Membatasi komsumsi lemak sangat penting bagi penderita hipertensi

karena kadar kolestrol yang tinggi dapat menyebabkan bertambahnya endapan

kolestrol ,hal ini akan menyumbat pembuluh nadi dan mengganggu peredaran

darah.Dengan demikian , akan memperberat kerja jantung dan memperparah

hipertensi.

d. Olahraga Teratur

Olahraga teratur dapat menyerap atau menghilangkan endapan kolestrol

dalam darah . Olahraga yang dimaksud adalah menggerakkan semua sendi dan

otot tubuh seperti aerobik ,jalan santai ,lari ,bersepeda ,senam hipertensi dll.

Olahraga dapat membuat perasaan menjadi santai dan dapat menurunkan berat

badan sehingga dapat menurunkan tekanan darah .

e. Banyak makan buah dan sayur –sayuran

Buah dan sayur banyak mengandung vitamin dan mineral .Buah yang

banyak mengandung mineral dan kalium dapat menurunkan tekanan darah.

f. Tidak merokok dan tidak minum alkohol

Merokok dan minum alcohol dapat menyebabkan peningkatan tekanan

darah ,maka dari itu penderita hipertensi harus menghindari rokok dan alcohol.
29

2. Tahap Sekunder

Penanganan tahap sekunder yaitu upaya pencegahan hipertensi yang

sudah pernah terjadi akibat serangan berulang atau untuk mencegah menjadi berat

terhadap timbulnya gejala- gejalanya penyakit secara klinis melalui deteksi dini

(early detection).Pencegahan ditujukan untuk mengobati para penderita dan

mengurangi akibat yang lebih serius dari penyakit ,yaitu melalui diagnosis dini

dan pemberian pengobatan .jika deteksi tidak diakukan dini dan terapi tidak

diberikan segra maka akan terjadi gejala klinis yang merugikan.

a. Diagnosis Hipertensi

Data yang diperlukan untuk diagnosis diperoleh dengan cara

anamnesis ,pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang .Anamnesis

yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya ,riwayat dan

gejala- gejala penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner ,penyakit

serebro vaskuler dan lainya,apakah terdapat riwayat penyakit dan keluarga ,gejala

yang berkaitan dengan penyakit hipertensi ,perubahan aktivitas atau kebiasaan

(seperti merokok,konsumsi makanan, riwayat dan factor psikososial lingkungan

keluarga pekerjaan dan lain-lain.Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran

tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak menit ,kemudian diperiksa ulang .

b. Pengobatan Hipertensi

Selain cara pengobatan nonfarmakologis ,penataksanaan utama hipertensi

primer adalah dengan obat antihipertensi berdasarkan beberapa factor seperti

derajat peninggikan tekanan darah ,terdapatnya kerusakan organ target dan

terdapatnya manifestasi klinis penyakit kardiovaskuler atau factor resiko lain

.pengobatan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip untuk menurunkan tekanan


30

darah .Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahuluan pengobatan penyebab

hipertensi .Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan

darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya

komplikasi.Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat

anti hipertensi .Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang ,bahkan

kemungkinan seumur hidup.

Terapi farmakologis diakukan dengan pemeberian obat –obatan seperti

berikut dibawah ini :

1) Golongan Diuretik

Diuretic thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk

mengobati hipertensi .Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air ,yang

akan mengurangi volume cairan diseluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan

darah.Diuretik juga menyebakan hilangnya kalium melalui air kemih ,sehingga

kadang diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium .Diuretik sangat

efektif pada : orang kulit hitam ,lanjut usia ,Kegemukan ,penderita gagal jantung

atau penyakit ginjal menahun.

2) Penghambat Andrenergik

Penghambat Andrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari

alfa-bloker ,beta-bloker dan alfa-beta –bloker labetalol ,yang menghambat efek

sistem saraf simpatis.Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera

akan memberikan respon terhadap stress ,,dengan cara meningkatkan tekanan

darah .yang paling sering digunakan adalah beta –bloker ,yang efektif diberikan

kepada :penderita usia muda ,penderita gagal jantung atau penyakit ginjal

menahun.
31

3) ACE-inhibitor

Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan

penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri .Obat ini efektif

diberikan kepada :orang kulit ,usia muda ,penderita gagal jantung ,penderita

dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal

menahun atau penyakit ginjal diabetic ,pria yang menderita impotensi sebagai

efek samping dari obat yang lain.

4) Angiotensin –II-bloker

Angiotensin –II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan

suatu mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor Antagonis kalsium

menyebabkan melebarnya pembuluh darahdengan mekanisme yang benar-benar

berbeda.Sangat efektif diberikan pada orang yang kulit hitam ,lanjut usia

,penderita angina pectoris (Nyeri dada).

5) Penghambat saluran kalsium

Penghambat saluran kalsium juga dikenal sebagai antagonis kalsium

yang bekerja dengan cara menghambat kerja kalsium di dalam otot halus pada

dingding arteriol. Penyempitan otot halus yang sebagian disebabkan oleh kalsium

dapat mempersempit pembuluh darah sehingga meneyebabkan terjadinya

hipertensi .Dengan menghambat kerja kalsium dapat membuka pembuluh darah

dan menurunkan tekanan darah

3. Tahap Tersier

Penatalaksanan tahap tersier yaitu upaya mencegah terjadinya komplikasi

yang lebih berat atau kematian.Pencegahan adalah upaya pencegahan penyakit ke

arah berbagai penyakit yang lebih buruk,dengan tujuan memperbaiki kualitas


32

hidup pasien.Pencegahan tersier difokuskan pada rehabilitasi dan pemulihan

setelah terjadi sakit untuk meminimalkan kesakitan,kecacatan ,dan meminimalkan

kesakitan ,kecacatan ,dan meningkatkan kualitas hidup. Pencegahan tersier

biasanya dilakukan oleh para dokter dan sejumlah profesi kesehatan lainya.Upaya

yang dilakukan pada pencegahan tersier ini yaitu menurunkan tekanan darah

sampai batas yang aman dan mengobati penyakit yang dapat memperberat

hipertensi .pencegahan dengan follow –up penderita hipertensi yang mendapat

terapi dan rehabilitasi .Follow up ditujukan untuk menentukan kemungkinan

dilakukannya pengurangan atau penambahan dosis obat.

2.3. Konsep Senam Hipertensi

2.3.1 Pengertian Senam Hipertensi

Senam Hipertensi adalah bagian dari usaha untuk mengurangi berat

badan dan mengelola stress yang merupakan dua factor yang mempertinggi resiko

hipertensi (Vitahealth ,2004 ). Olahraga senam hipertensi juga merupakan salah

satu terapi non farmakologis yang dapat diterapkan pada penderita hipertensi

untuk mengurangi ketergantungan obat anti hipertensi pada penderita

hipertensi(Setiawan, 2013).Senam hipertensi merupakan olahraga yang salah

satunya bertujuan untuk meningkatkan aliran darah dan pasokan oksigen kedalam

otot-otot dan rangka yang aktif khususnya terhadap otot jantung.

Senam Hipertensi dilakukan sebanyak 4 kali dan dalam setiap pertemuan

berdurasi selama 30 menit.Pengukuran tekanan darah pada responden 1 jam

sebelum senam hipertensi dengan menggunakan sphygmomanometer. Kemudian

mengisi hasil pada lembar pengukuran pada lembar observasi (Pre). Setelah itu
33

melakukan pengukuran tekanan darah 30 menit setelah senam hipertensi dengan

mengunakan sphygmomanometer.Kemudian mengisi hasil pada lembar

pengukuran pada lembar observasi(Post)

Mahardani (2010) mengatakan dengan senam atau berolahraga

kebutuhan oksigen dalam sel akan meningkat untuk proses pemebentukan

energy ,sehingga terjadi peningkatan denyut jantung ,sehingga curah jantung dan

isi sekuncup bertambah .Dengan demikian tekanan darah akan meningkat.Setelah

beristirahat pembuluh darah akan berdilatasi atau meregang ,dan aliran darah

akan turun sementara waktu ,sekitar 30 menit kemudian akan kembali pada

tekanan darah sebelum senam.

Jika melakukan olahraga secara rutin dan terus menerus ,maka penurunan

tekanan darah akan berlangsung lebih lama dan pembuluh darah akan lebih elastis

.Mekanisme penurunan tekanan darah setelah berolah raga adalah karena olahraga

dapat merilekskan pembuluh-pembuluh darah .Sehingga dengan melebarnya

pembuluh darah tekanan darah akan turun.

2.3.1 Manfaat Senam Hipertensi

Olahraga seperti senam hipertensi mampu mendorong jantung bekerja

secara optimal ,dimana olahraga mampu meningkatkan kebutuhan energy sel

,jaringan dan organ tubuh ,dimana akibatnya dapat meningkatkan kebutuhan

energy sel ,jaringan dan organ tubuh ,dimana akibatnya dapat meningkatkan aliran

balik vena sehingga menyebabkan volume sekuncup yang akan lansung

meningkatkan curah jantung sehingga menyebabkan tekanan darah arteri

meningkat ,setelah tekanan darah arteri meningkat akan terlebih dahulu,dampak

dari fase ini mampu menurunkan aktivitas pernafasan dan otot rangka yang
34

menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun ,setelah itu akan menyebabkan

kecepatan denyut jantung menurun.

2.3.1 Teknik atau cara melakukan hipertensi

a) Gerakan Pemanasan

1) Teknik kepala ke samping ,lalu tahan dengan tahan dengan tangan pada

sisi yang sama dengan arah kepala.Tahan dengan 8 – 10 ,lalu bergantian

dengan sisi lain.

2) Tautkan jari –jari kedua tangan dan angkat lurus ke atas kepala dengan

posisi kedua kaki dibuka selebar bahu.Tahan dengan 8- 10 hitungan.

Rasakan tarikan bahu dan punggung

b) Gerakan inti

1) Lakukan gerakan seperti jalan di tempat dengan lambaikan kedua tangan

searah dengan sisi kaki yang diangkat.Lakukan perlahan dan hindari hentakan
35

2) Buka kedua tangan dengan jemari mengepal dan kaki dibuka selebar

bahu .Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi gerakan semampunya sambil

mengatur napas

3) Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong .Sisi kaki yang

searah dengan tangan sedikit ditekuk .Tangan diletakkan di pinggang dan

kepala searah dengan gerakan tangan .Tahan 8-10 hitungan lalu ganti dengan

sisi lainya.

4) Gerakan hampir sama dengan sebelumnya ,tapi jari mengepal dan kedua

tangan diangkat keatas .Lakukan bergantian secara perlahan dan Semampunya.


36

5) Hampir sama dengan gerakan inti 1 ,tapi kaki dibuang ke samping .Kedua

tangan dengan jemari mengepal kea rah yang berlawanan .Ulangi dengan sisi

bergantian

6) Kedua kaki dibuka lebar dari bahu ,satu lutut agak ditekuk dan tangan yang

searah lutut di pinggang .Tangan sisi yang lain lurus kearah lutut yang ditekuk.

Ulangi gerakan kearah sebaliknya dan lakukan semampunya.

c) Pendinginan

1) Kedua kaki dibuka selebar bahu ,lingkarkan satu tangan ke leher dan tahan

dengan tangan lainnya .Hitungan 8 -10 kali dan lakukan pada sisi lainya
37

2) Posisi tetap ,tautkan kedua tangan lalu gerakan kesamping dengan gerakan

setengah putaran .Tahan dengan 8-10 hitungan lalu arahkan tangan ke sisi

lainya dan tahan dengan hitungan yang sama.


38

2.4. KERANGKA TEORI

Teori lansia

a. Teori biologis
b. Teori psikososial
Faktor-faktor c. Teori psikologis Penatalaksanaan
\\penyebab tekanan
d. Teori Sosial farmakologi
darah tinggi pada a. Diuretik tiazide
lansia. b. Penghambat
adrenegenic
Tekanan darah
1. Curah jantung c. ACE inhibitor
2. Tahanan d. Angiotensin-II-
perifer Blocker
3. Volume darah Penatalaksanaan non
e. Angiotensin
4. Viskositas farmakologi
kalsium
5. Elastisitas 1. Diet hipertensi
2. Olahraga
hipertensi
3. Terapi nutrisi
4. Terapi musik

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Azizah (2011),Hawari(2008),Potter & Perry (2005),Sodoyo (2009),Sagiran (2012)


39

2.5. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah formulasi simlifikasi dari kerangka teori atau

teori –teori yang mendukung penelitian tersebut (Notoadmodjo,2012 ).Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Penurunan

Tekanan Darah Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sibiru-Biru tahun 2020.

Variabel Independen Variabel Dependen

Senam Hipertensi Penurunan tekanan


darah pada lansia

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Penurunan


Tekanan Darah Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sibiru-Biru tahun 2020.
2.6 Hipotesis

Hipotesis penelitian merupakan dugaan sementara atas penelitian yang

akan dilakukan terkait dengan variabel –variabel yang akan di teliti dalam

penelitian. Hipotesis dalam penelitian di susun untuk memberikan arah yang jelas

dalam pelaksanaan penelitian (Notoadmodjo,2012 ). Hipotesis dalam penelitian

ini adalah :

1. Apabila p <0,05 maka Ha diterima berarti ada pengaruh senam hipertensi

terhadap penurunan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja puskesmas

Sibiru-biru tahun 2020.

2. Apabila p > 0,05 maka H0 diterima berarti tidak ada pengaruh senam

hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja

puskesmas Sibiru-biru tahun 2020.


40

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu

pengetahuan dan pemecahan masalah dan pada dasarnya menggunakan metode

ilmiah (Notoatmodjo,2010). Pada bab ini akan menguraikan tentang jenis

penelitian ,rancangan penelitian ,waktu dan tempat penelitian ,populasi dan

sampel dan sampling ,kerangka teori ,kerangka konsep ,defenisi operasional

,pengumpulan data dan analisa data dan etika penelitian.

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian

Quasi Experimental dan menggunakan desain penelitian One Group Pre-Post

Test yaitu melakukan intervensi atau tindakan pada satu kelompok objek.

Kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian

diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam, 2017).

01 X 02

Pre test Senam Hipertensi Post test

Gambar 3.1 One Grup Pre-Post Test Design

Keterangan:

01 : Observasi tekanan darah sebelum diberikan senam hipertensi

02 : Observasi tekanan darah sesudah diberikan senam hipertensi

X : Perlakuan berupa senam hipertensi


41

3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sibiru-biru

Kabupaten Deli Serdang.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai dari perencanaan (Penyusunan proposal )

sampai dengan Penyusunan laporan akhir sejak Desember sampai Mei 2020.

3.3. Populasi ,Sampel dan Sampling

3.3.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek yang tertarik untuk diteliti oleh peneliti.

Peneliti yang menentukan karakteristik yang membatasi populasi penelitian melalui

kriteria kelayakan, populasi tidak terbatas pada manusia (Creswell,2009). Dalam

penelitian ini populasinya adalah semua Lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja

Puskesmas Sibiru-Biru yang berjumlah 75 orang

3.3.2. Sampel

Sampel merupakan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh

populasi tersebut (Notoadmodjo, 2015).Dalam menetukan jumlah sampel

,peneliti menggunakan Rumus .Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebagian

lansia yang memenuhi karakteristik yang dinginkan dalam penelitian yaitu

sejumlah 30 orang lansia

3.3.3. Teknik Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat

mewakili populasi. Teknik sampling yang digunakan yaitu Non Probability

Sampling dengan pendekatan teknik Purposive Sampling yaitu teknik penetapan


42

sampel dengan memilih sampel dari populasi sesuai dengan yang diinginkan

peneliti (tujuan atau masalah penelitian), sehingga sampel tersebut dapat memberi

karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2016).

Adapun teknik samping tersebut dilakukan pembatasan dengan kriteria

inklusi dan eksklusi,kriterianya adalah sebagai berikut :

a. Kriteria Inklusi

 Lansia yang mengalami Hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Sibiru-biru.

 Lansia yang bersedia menjadi responden

 Lansia dengan usia 45-60 tahun

b. Kriteria Eksklusi

 Lansia yang mempunyai penyakit penyerta (asma,cacat fisik,penyakit

jantung ,psikotik,osteoporosis,dll )

 Tidak bersedia menjadi Responden

3.4. Variabel dan Defenisi Operasional

3.4.1. Variabel Penelitian

a. Variabel Independen

Variabel Independen merupakan suatu variabel yang mempengaruhi atau

menyebabkan timbulnya suatu masalah efek akibat tertentu pada suatu variabel

dependen (Notoatmojo ,2012).Variabel Independen dalam proposal ini adalah

Senam Hipertensi.

b. Variabel dependen

Variabel dependen merupakan suatu variabel terikat.Variabel ini

merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen sehingga


43

menimbulkan efek (Notoatmodjo ,2012 ).Variabel dependen dalam proposal ini

adalah Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas

Sibiru-Biru tahun 2020.

3.4.2. Defenisi Operasional

Defenisi operasional adalah defenisi berdasarkan karakteristik yang

diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam,2017). Defenisi

Operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan

karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan

observasi atau pengukuran secara cermat terhadapa suatu objek atau

fenomena(Aziz alimul H,2015).Defenisi operasional pada penelitian ini adalah

sebagai berikut :

No Variabel Defenisi Alat ukur Hasil Skala


Operasional ukur

1 Independent Pemberian Lembar Observasi 1:Sebelum Interval


senam senam dan SOP dilakukan
hipertensi hipertensi Senam
dengan cara 2:Setelah
menggerakan Dilakukan
seluruh tubuh Senam
dengan
melakukan
pemanasan
,materi serta
pendinginan
2 Dependent Suatu keadaan Stetoskop dan 1:Tekanan Interval
Penurunan apabila tekanan sphygnomanometer darah
tekanan darah menurun
darah mengalami 2:Tekanan
penurunan dari darah
tekanan darah tidak
yang semula Menurun
Tabel 3.1 Defenisi Operasional Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Penurunan

Tekanan darah pada lansia di Wilayah Kerja Sibiru-biru tahun 2020


44

3.5. Instrumen Penelitian dan Aspek Pengukuran

3.5.1. Instrumen Penelitian

Di dalam pengumpulan data selalu diperlukan suatu alat yang disebut

“Instrumen pengumpulan data “Jenis instrument penelitian yang dapat

dipergunakan dapat diklasifikasikan menjadi 5 bagian meliputi pengukuran

biofisiologis ,observasi ,wawancara ,kuesioner dan skala. Metode observasi

merupakan suatu cara pengukuran pada penelitian yang akan dilakukan secara

langsung kepada subjek penelitian untuk mencari fakta yang nyata dan akurat

maupun hal- hal lainya terkait penelitian sehingga memudahkan dalam membuat

suatu kesimpulan (Nursalam,2013). Instrumen penelitian yang akan digunakan

pada penelitian ini adalah lembar observasi pengukuran tekanan darah.

a. Lembar Observasi Daftar Kegiatan Penelitian

Lembar observasi daftar kegiatan ini berguna untuk melihat tingkat

pemanfatkan responden terhadap senam hipertensi. Lembar Observasi Tekanan

Darah Pre dan Post pemberian senam hipertensi .Hasil Pengukuran Tekanan pre

dan post senam hipertensi disajikan dalam bentuk lembar observasi dengan satuan

mmHg dengan tujuan untuk melihat hasil pelaksanaan senam hipertensi terhadap

penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.

b. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengukur

tekanan darah (Sphymomanometer),Stetoskop ,Lembar Pengukur Tekanan

Darah,Tape Recorder/DVD,dan loudspeaker menjadi perlengkapan untuk

pelaksanaan Senam Hipertensi .


45

3.6. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan lembar observasi

dengan pengisian dilakukan oleh responden .Sebelum responden mengisi

,responden diminta kesediaanya untuk menyatakan persetujuannya menjadi

responden dalam penelitian ini dengan cara mengisi lembar persetujuan.

Setelah data terkumpul ,maka diakukan dengan empat langkah yaitu

Editing (Penyuntingan data ),Coding (Membuat lembar code) ,Entry data

(Memasukan data), dan Tabulating (Tabulasi data).Data yang sudah ada

kemudian diproses lagi mengunakan komputerisasi

3.7. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh

seorang peneliti secara teratur dan sistematis untuk mencapai tujuan –tujuan

penelitian. Pengumpulan data ini di kumpulkan di Wilayah Kerja Puskesmas

Sibiru-biru .Proses Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan langkah-

langkah sebagai berikut :

a. Mengajukan surat permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada Kajur

Program Studi Ilmu keperawatan Institut Kesehatan Delihusada Delitua

b. Mengajukan surat permohonan izin kepada penanggungjawab Puskesmas

Sibiru-biru untuk melakukan pendekatan kepada calon responden dengan

menjelaskan tujuan ,manfaat ,serta proses pengumpulan data

c. Peneliti memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan

,prosedur dan manfaat penelitian serta meminta persetujuan untuk

berpartisipasi dalam penelitian ini .


46

d. Memberikan Informed Consent kepada responden

e. Menjelaskankan jadwal kontak kegiatan senam Hipertensi

f. Memantau Responden dalam melakukan Senam hipertensi selama

penelitian

g. Peneliti mengukur Tekanan darah responden (pre test) selanjutnya di

ukur kembali setelah dilakukan intervensi (post test).Kemudian hasil

pemeriksaan tekanan darah dicatat di lembar observasi tekanan darah .

h. Mengumpulkan data dan selanjutnya data diolah dan dianalisis

i. Peneliti memberikan Reinforcement positif kepada semua responden atas

keterlibatannya dalam penelitian.

3.8. Kode Etik Penelitian

Masalah Etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian mengingat penelitian keperawatan akan berhubungan

langsung dengan manusia ,maka segi etika penelitian harus diperhatikan karena

manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian (Nursalam ,2010)

Masalah etika dalam penelitian ini dapat meliputi :

3.8.1. Informed Consent

Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian

dengan memberikan lembar persetujuan .Informed Consent tersebut diberikan

sebelum peneilitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk

menjadi responden .Tujuan Informed Consent ini adalah agar subjek mengerti

maksud dan tujuan penelitian,mengetahui dampaknya ,jika subjek bersedia maka


47

mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak

bersedia maka penelitian harus menghormati hak pasien.

3.8.2. Anonimity (Tanpa nama)

Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan tidak

hanya memberikan nama responden pada lembar alat ukur hanya menuliskan

kode pada lembar pemgumpulan data.

3.8.3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh penelitian ,hanya kelompok

data tertentu yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.

3.9. Proses Pengolahan Data

Proses pengolahan data penelitian terdapat langkah –langkah yang harus

dialului untuk memastikan dan memeriksa kelengkapan data dalam penelitian.

Adapun proses pengolahan data pada rancangan penelitian menurut Notoatmodjo

(2012) adalah :

3.9.1. Editing

Editing merupakan hasil wawancara ,Angket atau pengamatan dari

lapangan harus dijadikan penyuntingan (editing )terlebih dahulu .Secara umum

editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau

kuesioner.

3.9.2. Coding

Coding merupakan kegiatan mengubah data bentuk huruf menjadi data

bentuk angka atau bilangan .Kegunaan Coding adalah untuk memudahkan pada

saat analisa data.


48

3.9.3. Processing

Processing diakukan dengan cara mengentri data dari lembar observasi

dengan cara pengelolahan komputer.

3.9.4. Cleaning

Cleaning merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di

entry untuk melihat apakah ada kesalahan atau tidak.Setelah proses Cleaning atau

pembersih data selanjutnya akan dilakukan proses analisis data yang akan

dilakukan oleh pakar program komputer.

3.10. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan salah satu komponen terpenting dalam penelitian

untuk mencapai tujuan pokok penelitian ,yaitu menjawab pertanyaan -pertanyaaan

penelitian yang mengungkapkan kebenaran .Teknik analisa data juga sangat

dibutuhkan untuk mengolah dan penelitian menjadi sebuah informasi .Dalam

tujuan untuk mendapat informasi terlebih dahulu dilakukan pengolahan data

penelitian yang sangat besar menjadi informasi sederhana melalui uji statistik

yang akan di interpretasikan dengan benar .

3.10.1. Data Univariat

Analisi univariat bertujuan menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik populasi dan hasil deskriptif melalui frekuensi distribusi dari

variabel dependen dan independen(Notoatmodjo,2014). Bentuk analisa univariat

tergantung dari jenis datanya yang meliputi umur,jenis kelamin ,tingkat

pendidikan dan tekanan darah pre dan post pemberian senam hipertensi yang
49

disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi .Pada analisis univariat yang di

uji yaitu Senam Hipertensi dan Penurunan Tekanan darah pada lansia.

3.10.2. Data Bivariat

Analisa data bivariat merupakan analisa yang dilakukan terhadap dua

variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi .Maka data dianalisa dengan

mengunakan uji T Independent ,Dengan menguji hasil tekanan darah sebelum

intervensi dilakukan dan tekanan darah setelah intervensi dilakukan dan tekanan

darah setelah intervensi dilakukan pada lansia penderita hipertensi di Puskesmas

Sibiru-biru .
DAFTAR PUSTAKA

Azhari, Isroul.2017.Gambaran Karakteristik pasien hipertensi di puskesmas

Gamping I Sleman Yogyakarta.Yogyakarta.

Azizah.2011.Keperawatan Lanjut Usia.Yogyakarta :Graha Ilmu

Batlibangkes .Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Internet.2018cited

2018Nov16Availablefrom:http:www.depkes.go.id/article/view/18110200

03/potret-sehat-indonesia-dari-riskesdas-2018.html.

Hernawan ,Totok Dan Nur Rosyid,Fahrun.2017.Pengaruh Senam Hipertensi

Lansia Terhadap Penurunan Tekanan Darah Lansia Dengan Hipertensi Di

Pantai Werdha Darma Bhakti Kelurahan Pajang Surakarta.Jurnal

Kesehatan.ISSN 79-7621,Vol.10.1. Juni 2017.Surakarta:Universitas

Muhammadiyah Surakarta.

Kemenkes RI,2013,Buletin Jendela Data Dan Informasi Kesehatan ,Kemenkes

RI,Jakarta.

Kemenkes RI.2013.Riset Kesehatan Dasar :Riskesdas 2013.Jakarta:Kementerian

Kesehatan RI.

Komnas Lansia.2010.Profil Penduduk Lanjut Usia 2009.Jakarta.

Notoatmodjo ,Soekidjo.2012.Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:Rineka

Cipta.

Nursalam.2011.Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan

Edisi 3.Jakarta:Salemba Medika


Padilla.2013.Buku Ajar Keperawatan Gerontik Dilengkapi Aplikasi Kasus

Asuhan Keperawatan Gerontik, Terapi Modalitas Dan Sesuai Kompetensi

Standar.Yogyakarta :Nuha Medika

Pos,S.2016.SumutPos.OnlineAvailableat:http://sumutpos.co/2016/11/15/penderi

ta-hipertensi-di-sumut-mencapai-50-ribu-lebih/Accessed22Desember

Retnaningsih,Dwi .2019.Buku Referensi Keperawatan Gerontik.Bogor.In Media.

Riset Kesehatan Dasar (RISKEDAS).2018.Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan.Jakarta:Kementrian Kesehatan RI

Setiawan G.W.2013.Pengaruh Senam Bugar Lanjut Usia Terhadap Kualitas

Hidup Penderita Hipertensi .Manado:Fakultas Kedokteran,Universitas

Sam Ratulangi Manado

Sherwood,L.,2005,Fisiologi Kedokteran :dari Sel ke Sistem ,EGC,Jakarta.

Simbolon ,C.A.,2016.Prevalensi Penderita Hipertensi Pada Lansia Di Kabupaten

Karo Tahun 2016.Tesis,Medan :Universitas Sumatera Utara,Fakultas

Kesehatan Masyarakat.

Stanley,Mickey dkk.2007.Buku Ajar Keperawatan Gerontik .Edisi 2.Jakarta:EGC

Triyanto E,Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi SecaraTerpadu.

Yogyakarta:Graha Ilmu;2014.

Udjianti W.J.Keperawatan Kardiovaskuler.Salemba Medika.Jakarta.2011

Vitahealth.2004.Hipertensi (Informasi Lengkap Untuk Keluarga Dan

Penderitanya).Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.

WHO,2013. A global Brief Hypertension,Switzerland:World Health Organization.

WHO.2018.Global Health Estimates 2016:Deaths by Cause,Age,Sex,By Country

and by Region,2000-2016.Geneva:World Health Organization