Anda di halaman 1dari 9

PANDUAN PELAYANAN BEDAH MENGENAI TEPAT LOKASI,

TEPAT PROSEDUR DAN TEPAT PASIEN ( SIDE MARKING )

BAB I

DEFINISI

Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang


menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh
yang akan ditangani (R. Sjamsuhidajat & Wim de jong, 2005). Proses operasi
merupakan pembukaan bagian tubuh untuk dilakukan perbaikan yang diakhiri
dengan penutupan dan penjahitan luka. Tindakan invasif tersebut dapat
dilakukan di dalam maupun di luar area Instalasi bedah sentral. Area
pelaksanaan tindakan invasif di luar area Instalasi Bedah Sentral seperti di
IGD, Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap.
Pembedahan merupakan cabang dari ilmu medis yang ikut perberan
terhadap kesembuhan dari luka atau penyakit melalui prosedur manual atau
melalui operasi dengan tangan. Hal ini memiliki sinonim yang sama dengan
kata “Chirurgar” ( dibaca; KI-PUR-JIA). Dalam bahasa Yunani “Cheir”
artinya tangan; dan “ergon” artinya kerja. Bedah atau operasi merupakan
tindakan pembedahan cara dokter untuk mengobati kondisi yang sulit atau
tidak mungkin disembunyikan hanya dengan obat – obatan sederhana (Potter,
2006). Perkembangan baru juga terjadi pada pengaturan tempat untuk
dilaksanakan prosedur operasi. Bedah sehari (ambulatory surgery) kadangkala
disebut pembedahan tanpa rawat inap ( outpatient surgery ) atau pembedahan
sehari ( one-day surgery)
A. Jenis pembedahan
1. Bedah Minor
Bedah Minor merupakan pembedahan dimana secara relatif
dilakukan secara sederhana, tidak memiliki resiko terhadap
senyawa pasien dan tidak memerlukan bantuan asisten untuk
melakukannya, seperti : membuka abses super ficial,
pembersihan luka, superfisial neuroktomi dan tenotomi.
2. Bedah Mayor
Bedah Mayor merupakan pembedahan dimana secara relative
lebih sulit untuk dilakukan dari pada pembedahan minor,
membutuhkan waktu, melibatkan resiko terhadap nyawa pasien
dan memerlukan bantuan asisten seperti : bedah Caesar,
mammektomi, bedah torak, bedah otak.
3. Bedah Antiseptik
Bedah Antiseptik merupakan pembedahan yang berhubungan
terhadap penggunaan agen atiseptik untuk mengontrol
kontaminasi bakterial.
4. Bedah Konservatif
Bedah konservatif merupakan pembedahan dimana dilakukan
berbagai cara untuk melakukan perbaikan terhadap bagian tubuh
yang diasumsikan tidak dapat mengalami perbaikan, dari pada
melakukan amputasi. Seperti koreksi dan imobilisasi dari fraktur
pada kaki dari pada melakukan amputasi pada kaki.
5. Bedah Radikal
Bedah radikal merupakan pembedahan dimana akar penyebab
atau sumber dari penyakit tersebut dibuang,seperti: pembedahan
radikal untuk neoplasma, pembedahan untuk hernia.
6. Pembedahan Rekonstruksi
Pembedahan rekonstruksi merupakan pembedahan yang
dilakukan untuk melakukan koreksi terhadap pembedahan yang
telah dilakukan pada deformitas atau malformasi seperti:
pembedahan terhadap langit-langit mulut yang terbelah, tendon
yang mengalami kontraksi
7. Bedah Plastik
Bedah plastik merupakan pembedahan dimana dilakukan untuk
memperbaiki defek atau deformitas, baik dengan jaringan
setempat atau dengan transfer jaringan dari bagian tubuh
lainnya.

B. Sifat Operasi/ Tindakan


1. Efektif
Bedah/Tindakan elektif merupakan pembedahan atau tindakan
dimana dapat dilakukan penundaan tanpa membahayakan nyawa
pasien
2. Emergensi
Bedah/Tindakan emergensi merupakan pembedahan atau
tindakan yang dilakukan dalam keadaan sangat mendadak untuk
menghindari komplikasi lanjut dari proses penyakit atau untuk
menyelamatkan jiwa pasien.
BAB II
RUANG LINGKUP

Panduan ini diterapkan kepada seluruh tindakan invasif yang dilakukan


dari persiapan, tindakan operasi dan setelah selesai operasi di dalam kamar
operasi maupun diluar kamar operasi. Tindakan invasif diluar kamar operasi
terdiri dari Instalasi Rawat Inap seperti pengobatan gigi (dental), dan
poliklinik bedah.
Prinsip pelayanan bedah tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien
operasi, yaitu :
1. Sebelum tindakan, petugas melakukan pengecekan ulang seluruh
identifikasi pasien dan kelengkapan berkas penunjang sebelum
dilakukan tindakan operasi.
2. Sebelum tindakan dilakukan, petugas melakukan penandaan area yang
akan dilakukan operasi.
3. Dalam pelaksanaan tindakan operasi, petugas melakukan tindakan
berdasarkan atas SPO yang berlaku.

Kewajiban dan tanggung jawab:

1. Petugas/Perawat Instalasi Bedah Sentral


a. Memahami dan mengimplementasikan seluruh prosedur yang ada
b. Memastikan ketepatan pasien dan penandaan area yang akan
dilakukan tindakan operasi
c. Melaporkan jika tejadi kesalahan dalam identifikasi ataupun
marking area

2. Kepala Instalasi Bedah Sentral


a. Memastikan dan memantau petugas telah melaksanakan panduan
tindakan preoperatif, intra operatif dan post pperatif dengan baik
b. Melakukan penyelidikan jika telah terjadi kesalahan dalam
melakukan tindakan operasi

3. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit


a. Melakukan pemantauan atas tata kelola panduan tindakan operasi
bersamadengan Kepala Instalasi Bedah Sentral
b. Melakukan verifikasi dan penyelidikan jika terjadi kesalahan dalam
melakukan tindakan operasi
BAB III
TATA LAKSANA

Rumah sakit wajib mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan


tepat-lokasi, tepat-prosedur, dan tepat- pasien. Prosedur Salah-lokasi, salah-
prosedur, salah pasien pada operasi adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan
tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi
yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak
melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada
prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu pula asessmen pasien yang
tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak
mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang
berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan
pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering
terjadi.

Rumah sakit mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif


di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga
praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist
dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal
Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery.
Tahap “Sebelum insisi” (Time out) memungkinkan semua pertanyaan atau
kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan di tempat dimana tindakan akan
dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi.
Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan secara ringkas,
denganmenggunakan ceklist.
TEKNIK PENANDAAN LOKASI OPERASI (SIDE MARKING)
Dilakukan sebelum tindakan invasif dikamar operasi dan di luar kamar operasi
Berikut merupakan teknik yang dilakukan dalam penandaan lokasi operasi:
a. Pasien diberikan diberikan penandaan lokasi operasi saat informed
concent telah dilakukan
b. Penandaan dilakukan sebelum pasien berada di kamar operasi

c. Pasien harus dalam keadaan sadar saat dilakukan penandaan lokasi


operasi
d. Tanda yang digunakan dapat berupa : →●

e. Penandaan dilakukan sedekat mungkin dengan lokasi operasi

f. Penandaan dilakukan dengan spidol hitam (anti luntur, anti air) dan
tetap terlihat walau sudah diberi desinfektan
Penandaan lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi
(laterality), multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multipel level
(tulang belakang).
Anjuran penandaan lokasi operasi:
a. Gunakan tanda yang telah disepakati, yaitu dengan mengunakan
tanda →●
b. Tandai pada atau dekat daerah insisi
c. Gunakan tanda yang tidak ambigu (contoh tanda “X” merupakan
tanda ambigu)
d. Daerah yang tidak dioperasi jangan ditandai, kecuali sangat
diperlukan.
e. Penandaan dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar. Jika
memungkinkan dan harus terlihat sampai saat akan di insisi.
Yang berhak melakukan penandaan lokasi operasi :
a. Operator (dokter bedah, obgyn)
b. Asisten operator
Jenis tindakan operasi yang tidak perlu dilakukan penandaan :
a. Prosedur endoskopi
b. Cateterisasi Jantung
c. Prosedur yang mendekati atau melalui garis midline tubuh : SC,
Histerektomi, Tyroidektomi, laparatomi
d. Pencabutan gigi
e. Operasi pada membrane mukosa
f. Perineum
g. Kulit yang rusak
h. Operasi pada Bayi dan neonates
i. Lokasi intra organ seperti mata dan organ THT maka penandaan
dilakukan pada daerah yang mendekati organ berupa →●

Pasien yang tidak dilakukan penandaan (site marking) dapat


diverifikasi pada saat time out.
Khusus untuk gigi dan organ maxillaries, mandibularis penandaan
menggunakan photo panoramic atau dental dengan melakukan
penandaan “X” pada area gigiatau organ maxillaries yang akan
diobati.
Side marking dilakukan sebelum pasien masuk ke kamar operasi.
BAB IV
DOKUMENTASI

1. SPO PENANDAAN LOKASI PRA PEMBEDAHAN ( SITE MARKING)


2. FORM PENANDAAN