Anda di halaman 1dari 26

Keperawatan Anak 2

Askep pada anak dengan AIDS

Disusun Oleh Kelompok 7

1. Stelamaris Gimbo (201901160)


2. Ni Kadek Nuriyanti ( 201901149)
3. Rani N.A Basso (201901152)

Dosen Mata Kuliah : Ns. Katrina Feby Lestari, MPH

Program Studi Ners

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Nusantara Palu

Tahun 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
pertolongan dan pimpinanNnya sehingga Makalah Keperawatan Anak 2 yang
berjudul “askep pada anak dengan AIDS”, dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Kami dalam penulisan makalah ini menyadari masih banyak kekurangan


dalam menyusun makalah ini dan kami menerima dengan baik semua saran dan
kritikan demi perbaikan penulisan makalah ini.

Kiranya makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan dibidang


pendidikan khususnya di lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya
Nusantara Palu.

Palu, 16 Maret 2020

Kelompok 7

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .....................................................................................i

KATA PENGANTAR .................................................................................ii

DAFTAR ISI ...............................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang..................................................................................1
B. Tujuan ..............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Gangguan Jiwa : Defisit Perawatan Diri ..........................................4


B. Gangguan Jiwa : Resiko Bunuh Diri...............................................12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................................17
B. Saran ..............................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................18

4
BAB I
PENDAHULUAN 

A.  Latar Belakang
Infeksi HIV/AIDS ( Human immuno Deficiency Virus / Acquired Immune
Deficiency Syndrom ) pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada
orang dewasa homoseksual, sedangkan pada anak tahun 1983. enam tahun
kemudian ( 1989 ), AIDS sudah termasuk penyakit yang mengancam anak di
amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan kematian pada lebih dari 8000
orang setiap hari saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik, karena itu infeksi
HIV dianggap sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu jenis agen
infeksius.
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubbinstein dan
Amman pada tahun 1983 di Amerika serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada
anak di Amerika makin lama makin meningkat. Pada bulan Desember di Amerika
dilaporkan 1995 maupun pada anak yang berumur kurang dari 13 tahun menderita
HIV dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4480 kasus. Jumlah ini merupakan 1,5
% dan seluruh jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di Eropa sampai
tahun 1988 terdapat 356 anak dengan AIDS. Kasus infeksi HIV terbanyak pada
orang dewasa maupun pada anak – anak tertinggi didunia adalah di Afrika.
Sejak dimulainya epidemi HIV/ AIDS, telah mematikan lebih dan 25 juta
orang, lebih dan 14 juta anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya
karena AIDS. Setiap tahun juga diperkirakan 3 juta orang meninggal karena
AIDS, 500 000 diantaranya adalah anak usia dibawah 15 tahun. Setiap tahun pula
terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang atau
berkembang, dengan angka transmisi sebesar ini maka dari 37,8 juta orang
pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2,1 juta anak- anak
dibawah 15 tahun.

5
B. TUJUAN
1. Mengetahui dan mempelajari tentang AIDS
2. Mengetahui Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada anak yang
menderita AIDS.

6
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. TINJAUAN TEORI

1. Defenisi

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus


yang artinya adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia,
sehingga system kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam
bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali.

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency


Syndrome yang berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang
timbul karena menurunnya atau rusaknya system kekebalan tubuh
seseorang.

Rata-rata perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah 2 –


10 tahun. Dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya
sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini
pada setiap orang bervariasi. Faktor yang mempengaruhinya adalah
daya tahan tubuh untuk melawan HIV (seperti fungsi kekebalan
tubuh) dari orang yang terinfeksi).

7
2. Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human
immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada
tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di
Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2
dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-
1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Resiko HIV utama pada anak-anak yaitu:
a. Air susu ibu yang merupakan sarana transmisi
b. Pemakaian obat oleh ibunya
c. Pasangan sexual dari ibunya yang memakai obat intravena
d. Daerah asal ibunya yang tingkat infeksi HIV nya tinggi
3. Patofisiologi

Virus AIDS menyerang sel darah putih ( limfosit T4 ) yang


merupakan sumber kekebalan tubuh untuk menangkal berbagai
penyakit infeksi. Dengan memasuki sel T4 , virus memaksa limfosit
T4 untuk memperbanyak dirinya sehingga akhirnya menurun,
sehingga menyebabkan tubuh mudah terserang infeksi dari luar (baik
virus lain, bakteri, jamur atau parasit). Hal ini menyebabkan kematian
pada orang yang terjangkit HIV / AIDS. Selain menyerang limfosit
T4, virus AIDS juga memasuki sel tubuh yang lain, organ yang sering
terkena adalah otak dan susunan saraf lainnya. AIDS diliputi oleh
selaput pembungkus yang sifatnya toksik ( racun ) terhadap sel,
khususnya sel otak dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang
dapat menyebabkan kematian sel otak. Masa inkubasi dan virus ini
berkisar antara 6 bulan sampai dengan 5 tahun, ada yang mencapai 11
tahun, tetapi yang terbanyak kurang dari 11 tahun.

8
Pembagian stadium pada hiv/aids
Secara umum kronologis perjalanan infeksi HIV dan AIDS
terbagi menjadi 4 stadium :
a.  Stadium HIV
Dimulai dengan masuknya HIV yang diikuti terjadinya
perubahan serologik ketika antibodi terhadap virus tersebut dan
negatif menjadi positif. Waktu masuknya HIV kedalam tubuh
hingga HIV positif selama 1-3 bulan atau bisa sampai 6 bulan
( window period )
b.  Stadium Asimptomatis ( tanpa gejala )
Menunjukkan didalam organ tubuh terdapat HIV tetapi
belum menunjukan gejala dan adaptasi berlangsung 5 - 10 tahun.
c. Stadium Pembesaran Kelenjar Limfe
Menunjukan adanya pembesaran kelenjar limfe secara
menetap dan merata ( persistent generalized lymphadenophaty ) dan
berlangsung kurang lebih 1 bulan
d. Stadium AIDS
Merupakan tahap akhir infeksi HIV. Keadaan ini disertai
bermacam - macam penyakit infeksi sekunder
Cara penularan
HIV menular dengan beberapa cara yaitu :
a. Hubungan seksual dengan penderita AIDS
Penularan dapat terjadi melalui hubungan tanpa alat pelindung
dengan penderita HIV. Air mani, cairan vagina dan darah dapat
mengenai selaput lendir sehinggga HIV yang ada dalam cairan
tersebut masuk kedalam cairan darah. Selain itu juga melalui lesi
mikro pada di dinding alat tersebut yang terjadi saat hubungan
seksual.
b. Darah dan produk darah yang tercemar HIV / AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena langsung masuk kedalam
pembuluh darah dan menyebar keseluruh tubuh
c.  Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril.

9
Alat pemeriksa kandungan dan alat-alat lain yang menyentuh
darah, cairan vagina atau mani yang terinveksi HIV yang
digunakan ke orang lain tanpa disterilkan dulu.
d.  Alat-alat untuk menoreh kulit
Jarum, silet, alat tato, pemotong rambut.
e.  Menggunakan jarum suntik yang bergantian
Jarum suntik pada fasilitas kesehatan, pengguna narkoba sangat
berpotensi terjangkit HIV.
4. Manifestasi Klinis
Masa antara terinfeksi HIV dan timbul gejala-gejala penyakit
adalah 6 bulan-10 tahun. Rata-rata masa inkubasi 21 bulan pada anak-
anak dan 60 bulan/5tahun pada orang dewasa. Tanda-tanda yang di
temui pada penderita AIDS antara lain:
a. Gejala yang muncul setelah 2 sampai 6 minggu sesudah virus
masuk ke dalam tubuh: sindrom mononukleosida yaitu demam
dengan suhu badan 38 C sampai 40 C dengan pembesaran kelenjar
getah benih di leher dan di ketiak, disertai dengan timbulnya
bercak kemerahan pada kulit.
b. Gejala dan tanda yang muncul setelah 6 bulan sampai 5 tahun
setelah infeksi, dapat muncul gejala-gejala kronis : sindrom
limfodenopati kronis yaitu pembesaran getah bening yang terus
membesar lebih luas misalnya di leher, ketiak dan lipat paha.
Kemudian sering keluar keringat malam tanpa penyebab yang
jelas. Selanjutnya timbul rasa lemas, penurunan berat badan
sampai kurang 5 kg setiap bulan, batuk kering, diare, bercak-
bercak di kulit, timbul tukak (ulceration), perdarahan, sesak nafas,
kelumpuhan, gangguan penglihatan, kejiwaan terganggu. Gejala
ini di indikasi adanya kerusakan sistem kekebalan tubuh.

10
c. Pada tahap akhir, orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya
rusak akan menderita AIDS. Pada tahap ini penderita sering di
serang penyakit berbahaya seperti kelainan otak, meningitis,
kanker kulit, luka bertukak, infeksi yang menyebar, tuberkulosis
paru (TBC), diare kronik, candidiasis mulut dan pnemonia.

Menurut Cecily L Betz, anak-anak dengan infeksi HIV yang


didapat pada masa perinatal tampak normal pada saat lahir dan mulai
tim bul gejala pada 2 tahun pertama kehidupan. Manifestasi klinisnya
antara lain:
a. Berat badan lahir rendah
b. Gagal tumbuh
c. Limfadenopati umum
d. Hepatosplenomegali
e. Sinusitis
f. Infeksi saluran pernapasan atas berulang
g. Parotitis
h. Diare kronik atau kambuhan
i. Infeksi bakteri dan virus kambuhan
j. Infeksi virus Epstein-Barr persisten
k. Sariawan orofarings
l. Trombositopenia
m. Infeksi bakteri seperti meningitis
n. Pneumonia interstisial kronik

5. Pemeriksaan penunjang

11
6. Penatalaksanaan

Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan


adalah pencegahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi
apabila terinfeksi HIV maka terapinya yaitu :
a. Pengendalian infeksi oportunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi
oportuniti, nosokomial, atau sepsis, tindakan ini harus
dipertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan yang kritis.
b. Terapi AZT (Azitomidin)
Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan menghambat
enzim pembalik transcriptase.
c.  Terapi antiviral baru
Untuk meningkatkan aktivitas sistem immun dengan menghambat
replikasi virus atau memutuskan rantai reproduksi virus pada
prosesnya. Obat-obatan ini adalah: didanosina, ribavirin,
diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
d. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah
interveron
e. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T
dan mempercepat replikasi HIV.
f.  Rehabilitasi bertujuan untuk memberi dukungan mental-
psikologis, membantu megubah perilaku resiko tinggi menjadi
perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara
hidup sehat dan mempertahankan kondisi hidup sehat.
g. Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan
makanan yang sehat, hindari sters, gizi yang kurang, obat-obatan
yang mengganggu fungsi imun. Edukasi ini juga bertujuan untuk
mendidik keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan
ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari
masyarakat.

12
7. Komplikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang
merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk
didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.
a. Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan
infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat
dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C
1) Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang
simptomatik.
2) Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent
Generalized Limpanodenophaty )
3) Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut
dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
b. Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
1) Angiomatosis Baksilaris
2) Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen /
responnya jelek terhadap terapi
3) Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
4) Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih
dari 1 bulan.
5) Leukoplakial yang berambut
6) Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi
pada lebih dari satu dermaton saraf.
7) Idiopatik Trombositopenik Purpura
8) Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
c. Kategori Klinis C

13
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup:
1) Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus
2) Kanker serviks inpasif
3) Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
4) Kriptokokosis ekstrapulmoner
5) Kriptosporidosis internal kronis
6) Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
7) Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
8) Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency
Virus (HIV)
9) Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis /
esofagitis )
10) Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
11) Isoproasis intestinal yang kronis
12) Sarkoma Kaposi
13) Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
14) Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata /
ekstrapulmoner
15) M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
16) Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
17) Pneumonia Pneumocystic Cranii
18) Pneumonia Rekuren
19) Leukoenselophaty multifokal progresiva
20) Septikemia salmonella yang rekuren
21) Toksoplamosis otak
22) Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus
( HIV)

B. Tinjauan Asuhan Keperawatan

14
1. Pengkajian
Pada pengkajian anak HIV positif atau AIDS pada anak rata-
rata dimasa perinatal sekitar usia 9 –17 tahun.
a. Keluhan utama dapat berupa :
1) Demam dan diare yang berkepanjangan
2) Tachipnae
3) Batuk
4) Sesak nafas
5) Hipoksia
Kemudian diikuti dengan adanya perubahan :
1) Berat badan dan tinggi badan yang tidak naik
2) Diare lebih dan satu bulan
3) Demam lebih dan satu bulan
4) Mulut dan faring dijumpai bercak putih
5) Limfadenopati yang menyeluruh
6) Infeksi yang berulang (otitis media, faringitis )
7) Batuk yang menetap ( > 1 bulan )
8) Dermatitis yang mnyeluruh
Pada riwayat penyakit dahulu adanya riwayat transfusi
darah ( dari orang yang terinfeksi HIV / AIDS ). Pada ibu atau
hubungan seksual. Kemudian pada riwayat penyakit keluarga
dapat dimungkinkan :
1) Adanya orang tua yang terinfeksi HIV / AIDS atau
penyalahgunaan obat
2) Adanya riwayat ibu selama hamil terinfeksi HIV (50 %
TERTULAR )
3) Adanya penularan terjadi pada minggu ke 9 hingga minggu ke
20 dari kehamilan
4) Adanya penularan pada proses melahirkan

15
5) Terjadinya kontak darah dan bayi.
6) Adanya penularan setelah lahir dapat terjadi melalui ASI
7) Adanya kejanggalan pertumbuhan (failure to thrife )
b. Gambaran klinis pada anak nonspesifik seperti :
1) Gagal tumbuh
2) Berat badan menurun
3) Anemia
4) Panas berulang
5) Limpadenopati
6) Hepatosplenomegali
7) Adanya infeksi oportunitis yang merupakan infeksi oleh
kuman, parasit, jamur atau protozoa yang menurunkan fungsi
immun pada immunitas selular seperti adanya kandidiasis pada
mulut yang dapat menyebar ke esofagus, adanya keradangan
paru, encelofati dll.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan Mata
a)   Adanya cotton wool spot ( bercak katun wol ) pada retina
b) Retinitis sitomegalovirus
c)   Khoroiditis toksoplasma
d) Perivaskulitis pada retina
e) Infeksi pada tepi kelopak mata.
f) Mata merah, perih, gatal, berair, banyak sekret, serta
berkerak
g) Lesi pada retina dengan gambaran bercak / eksudat
kekuningan, tunggal / multiple
2) Pemeriksaan Mulut
 

a) Adanya stomatitis gangrenosa


b)   Peridontitis

16
c) Sarkoma kaposi pada mulut dimulai sebagai bercak merah
datar kemudian menjadi biru dan sering pada platum
(Bates Barbara 1998 )

3) Pemeriksaan Telinga
a)  Adanya otitis media
b) Adanya nyeri
c)  Kehilangan pendengaran
d) Sistem pernafasan
e) Adanya batuk yang lama dengan atau tanpa sputum
f)  Sesak nafas
g) Tachipnea
h) Hipoksia
i) Nyeri dada
j) Nafas pendek waktu istirahat
k) Gagal nafas
4)  Pemeriksaan Sistem Pencernaan
a)  Berat badan menurun
b) Anoreksia
c) Nyeri pada saat menelan
d) Kesulitan menelan
e) Bercak putih kekuningan pada mukosa mulut
f)  Faringitis
g) Kandidiasis esofagus
h) Kandidiasis mulut
i) Selaput lendir kering
j) Hepatomegali
k) Mual dan muntah
l)  Kolitis akibat dan diare kronis
m) Pembesaran limfa
5)  Pemeriksaan Sistem Kardiovaskular
a)  Suhu tubuh meningkat
b) Nadi cepat, tekanan darah meningkat

17
c) Gejala gagal jantung kongestiv sekuder akibat
kardiomiopatikarena HIV
6)  Pemeriksaan Sistem Integumen
a)  Adanya varicela ( lesi yang sangat luas vesikel yang besar)
b) Haemorargie
c)  Herpes zoster
d)  Nyeri panas serta malaise
e) Aczematoid gingrenosum
f) Skabies
7) Pemeriksaan sistem perkemihan
a)  Didapatkan air seni yang berkurang
b) Annuria
c) Proteinuria
d) Adanya pembesaran kelenjar parotis
e) Limfadenopati
f) Pemeriksaan Sistem Neurologi
g)  Adanya sakit kepala
h) Somnolen
i) Sukar berkonsentrasi
j) Perubahan perilaku
k)  Nyeri otot
l)  Kejang-kejang
m) Encelopati
n) Gangguan psikomotor
o) Penururnan kesadaran
p)  Delirium
q) Meningitis
r)  Keterlambatan perkembangan

8) Pemeriksaan Sistem Muskuluskeletal
a)  Nyeri persendian
b)  Letih, gangguan gerak

18
c) Nyeri otot
d. Pemeriksaan Laboratorium
Kemudian pada pemeriksaan diagnostik atau laboratorium
didapatkan adanya anemia, leukositopenia, trombositopenia, jumlah
sel T4 menurun bila T4 dibawah 200, fase AIDS normal 1000-2000
permikrositer., tes anti body anti-HIV ( tes Ellisa ) menunjukan
terinfeksi HIV atau tidak, atau dengan menguji antibodi anti HIV.
Tes ini meliputi tes Elisa, Lateks, Agglutination,dan western blot.
Penilaian elisa dan latex menunjukan orang terinfeksi HIV atau
tidak, apabila dikatakan positif harus dibuktikan dengan tes western
blot.
Tes lain adalah dengan menguji antigen HIV yaitu tes antigen
P24 ( dengan polymerase chain reaction - PCR ). Kulit dideteksi
dengan tes antibody ( biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu
terjangkit HIV ).

19
2. Pathway

20
3. Diagnosa Keperawatan

21
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang
berlebih
b. Resiko terhadap infeksi b.d imunodefisiensi

4. Intervensi Dan Rasional


Diagnosa 1 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output
yang berlebih
Tujuan : Mempertahankan hidrasi cairan yang dibuktikan oleh
normalnya kadar elektrolit
Kriteria hasil : - Terpenuhinya kebutuhan cairan secara adekuat
- defekasi kembali normal, maksimal 2x sehari

Intervensi Rasional
Mandiri

1. kaji turgor kulit, 1. indicator tidak langsung


membrane mukosa, dan dari status cairan
rasa haus
2. pantau masukan oral dan 2. mempertahan keseimbangan
memasukkan cairan cairan, mengurangi rasa haus,
sedikitnya 2500 ml/hari melembabkan mukosa
3. hilangkan makanan yang 3. mungkin dapat mengurangi
potensial menyebabkan diare
diare, yakni yang
pedas/makanan berkadar
lemak tinggi, kacang,
kubis, susu
4. berikan makanan yang 4. meningkatkan asupan
membuat pasien berselera nutrisi secara adekuat

22
kolaborasi

1. berikan obat-obatan sesuai 1. mengurangi insiden


indikasi, antiemetikum, muntah, menurunkan
anti diare atau jumlah keenceran feses
antispasmodic mengurangi kejang usus
dan peristaltic.
2. pantau hasil pemeriksaan 2. Mewaspadai adanya
laboratorium gangguan elektrolit dan
menentukan kebutuhan
elektrolit

3. berikan cairan/elektrolit
3. Tidak Diperlukan untuk
melalui selang makanan
mendukung volume
atau IV
sirkulasi, terutama jika
pemasukan oral tidak
adekuat.

Diagnosa 2 : Resiko terhadap infeksi b.d imunodefisiensi

Tujuan : - mengurangi resiko terjadinya infeksi

- Mempertahankan daya tahan tubuh


Kriteria hasil : - infeksi berkurang
- Daya tahan tubuh meningkat

Intervensi Rasional
Mandiri
1. Pantau adanya infeksi, 1. Deteksi dini terhadap

23
demam, menggigil, infeksi penting untuk
diaphoresis, batuk, nafas melakukan tindakan segera.
pendek, nyeri oral atau Infeksi lama dan berkurang
nyeri menelan memperberat kelemahan
pasien
2. Ajarkan pasien atau 2. Berikan deteksi dini
pemberian perawatan terhadap infeksi
tentang perlunya
melaporkan kemungkinan
infeksi
3. Peningkatan SDP dikaitkan
3. Pantau jumlah sel darah
dengan infeksi
putih dan diferensial
4. Memberikan informasi data
4. Pantau tanda-tanda vital
dasar, peningkatan suhu
termasuk suhu
secara berulang-ulang dari
demam yang terjadi untuk
menunjukkan bahwa tubuh
bereaksi pada proses infeksi
yang baru dimana obat tidak
lagi dapat secara efektif
mengontrol infeksi yang
tidak dapat disembuhkan
5. Awasi pembuangan jarum 5. Mencegah inokulasi yang
dan mata pisau secara tak disengaja dari
ketat dengan pemberian perawatan
menggunakan wadah
tersendiri

24
Kolaborasi

1. Berikan antibiotic atau 1. Menghambat proses infeksi.


agen antimikroba, missal Beberapa obat-obatan
trimetroprim (Bactrim atau ditargetkan untuk
septra) , nistasin, organisme tertentu, obat-
pentamidin, retrovid obatan lainnya ditargetkan
untuk meningkatkan fungsi
imun.

25
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang
berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang timbul karena menurunnya
atau rusaknya system kekebalan tubuh seseorang.
Rata-rata perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah 2 – 10 tahun. Dan
rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun
demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang bervariasi. Faktor
yang mempengaruhinya adalah daya tahan tubuh untuk melawan HIV (seperti
fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi).
B. SARAN
Penulis sangat mengharapkan agar makalah ini dapat menjadi acuan dalam
mempelajari tentang Asuhan Keperawatan pada Anak dengan AIDS. Dan
harapan penulis makalah ini tidak hanya berguna bagi penulis tetapi juga berguna
bagi semua pembaca. Terakhir dari penulis walaupun makalah ini kurang
sempurna penulis mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di kemudian
hari.

26
DAFTAR PUSTAKA

Hasdianah, dkk. 2014. Imunologi Diagnosis dan Tekhnik Biologi Molekuler. Nuha
Medika: Yogyakarta

Wulandari Ning, dkk. 2016. Asuhan Keperawatan pada ODHA (Orang Dengan
HIV/AIDS). KTD: Blitar.

Herman T.H and Komitsuru. S. 2014. Nanda Internasional Nursing Diagnosis,.


Definition and Clasification 2015-2017. EGC: Jakarta.

Riyawan,EY. 2013. Asuhan Keperawatan Anak dengn Kasus HIV IDS.


http://www.riyawan.com/2013/05/asuhan-keperawatan-anak-dengan-
kasus.html Di buka tanggal 10 Oktober 2016.

27