Anda di halaman 1dari 41

TANDA KOREKSI

Tanda-tanda koreksi digunakan untuk memperbaiki kesalahan


dari pekerjaaan surat. Bentuk tanda koreksi bermacam-macam
disesuakan dengan kebutuhan.
Bentu-bentuk tanda koreksi dan kegunaannya.
. PFELTGT = dapat digunakan untuk memperbaiki kesalahan/menyisipkan
bagian yang kurang
      Contoh :
Pesanan kami meliputi kertas HVS, pensil warna,  
v  Dengan sangat mnyesal   kepada Saudara bahwa pesanan Saudara
tidak dapat kami penuh,  
v  Pesanan Saudara akan kami kirimkan    pembayaran dilunasi.   
= tukar tempat
contoh :
v        Siapa  jawaban surat tersebut?
v  Demikianlah surat referensi ini kami berikan tanpa ada suatu
ika  kepada kami.
uruf  besar
Contoh :
                                                    Atas perhatian , kami ucapkan terima kasih

                                                   nona Ria rosalina tidak dapat masuk kerja hari ini

                     pindah ke kanan
 Contoh :
1.       Jl. Kakap Raya 16 Rawamangun Jakarta Timur.
2.           Agar pesann dapat segera kami lakukan       Kami mohon
Saudara segera mengirimkan brosur dan daftar harga.
e.  Koreksi tidak jadi (coretan dibatalkan)
                Contoh ;:
1.              Setelah kami coba ternyata  sabun cuci dan sabun mandi cap
segi tiga cukup baik.
2.             Kami hara barang-barang terebut kami terima pada  bulan yang
akan datang.
f.   = Sisipkan                                = Paragraf Baru
                Contoh ;

E. LIPATAN SURAT
1.           Lipatan tunggal (Single fold)
Caranya    : Kertas di bagi dua bagaian sama besar, lalu dilipat. 
                                                                                                          
                                                        
2.     Lipatan Baku (Standar Fold)
Caranya : Keras di bagi tiga bagian sama besar, lalu dilipat sehingga AB
tepat di EF, lalu ketas dilipat dengan sumbu EF.
 
3.        Lipatan Baku Rendah  (Low Standar Fold)
Caranya : Kertas dibagi tiga bagian (± 90,90 dan 74 mm), lalu dilipat
sehingga AB tepat pada EF, kemudia ketas dilipat dengan sumbu
lipat EF
 
4.    Lipatan Akordion (accordion Fold)
Caranya   : Kertas di bagi tiga bagian sama besar. Dengan sumbu CD
tepi kertas AB dilipat ke arah atas tepat padaEF, dan dengan
sumbu EF kertas dilipat ke arah bawah sehingga GH tepat pada
CD.
          
5.    Lipatan Akordion Rendah (Low Accordion Fold)
Caranya         : Kertas dibagi tiga bagaian (dua bagian lebih kecil).
Kertas dilipat dengan sumbu EF ke arah atas dan dengan sumbu
CD ke arah bawah.
6.    Lipatan Perancis (French Fold)
    Caranya       : Kertas dibagi dua bagian. Dengan sumbu CD kerktas dilipat
sehingga AB berhimpit dengan EF, dan dengan sumbu GH kertas
dilipat ke arah kiri.
      
7.    Lipatan Baron (Baronial Fold)
       Caranya    : Kertas dibagi dua sama besar dan dilipat dengan CD
sebagai sumbu. Lalu kertas dibagi tiga bagaian sama, dan
dengan sumbu Ij kertas dilipat ke arah kiri, serta dengan sumbu
Gh ke arah kanan.
     
8.  Lipatan Sejajar Ganda (Parallel Double Fold)

     Caranya       :           Kertas dibagi dua bagian sama besar lalu


dilipat, dan dibagi dua      bagian sama, lalu lipat lagi.
MAKALAH ANALISIS TEKS, MATA KULIAH BAHASA
INDONESIA
1.1  Belakang
Membaca  merupakan satu dari keempat keterampilan berbahasa yang dapat
menunjang pelajar dalam memahami teks. Dewasa ini berbagi informasi dapat di peroleh
dengan mudah dan baik melalui media cetak , media elektronik, atau internet. Informasi
yang di peroleh tidak hanya dalam bahasa Indonesia melainkan juga dalam bahasa asing.
Pemahaman teks merupakan suatu proses yang memiliki tahapan sistematis dalam
dalam rangka mamahami informasi menyeluruh dari suatu sumber bacaan, informasi dari
segi linguistik maupun ekstra linguistiknya. Seringkali pembaca dalam hal ini pelajar
mengalami kesulitan dalam memahami suatu teks dikarenakan kurangnya pengetahuan
dasar tentang bahasa sumber (langue du depart), pokok pembahasan teks(sujet du texte),
latar belakang panulisan teks dan pemahaman kontek budaya.
Dalam hal memahami teks diharapkan para pelajar mampu menganalisis teks secara
sistematis, memahami tidak hanya konteks bahasanya saja tetapi juga konteks budaya
yang terdapat pada teks dan mengungkapkan kembali isi teks secara lisan dan tertulis
berupa ringkasan (resume).

1.2  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini rumusan makalah yang  dikaji adalah:
a. Bagaimana cara mengoreksi kesalahan ejaan?
b. Bagaimana cara mengoreksi kesalahan alinea?
c. Bagaimana cara mengoreksi kesalahan kalimat?
d. Bagaimana cara membuat ringkasan teks?

1.3  Tujuan dan kegunaan penuliasan


1. 3.1 Tujuan penulisan diantaranya
      a. Untuk mengetahui pengertian analisis teks .
      b. Untuk memahami dan mengoreksi kesalahan ejaan .
      c. Untuk memahami dan mengetahui cara mengoreksi kesalahan alinea.
      d. Supaya mampu membuat ringkasan teks .

1. 3.2 Kegunaan penulisan.


      a. Sebagai referensi untuk kajian yang berkaitan dengan analisis teks.
      b. sebagai mediator dalam pembelajaran.

1.4  Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini meliputi:
- Diawali cover
- Kata Pengantar
- Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
      - Latar Belakang
      - Rumusan masalah
      - Tujuan dan kegunaan penulisan
      - Sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN
      - Koreksi kesalahan ejaan
      - Koreksi kesalahan alinea
      - Koreksi kesalahan kalimat
      - Cara membuat ringkasan teks
BAB III PENUTUP
      - Kesimpulan
      - Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II PEMBAHASAN
KOREKSI KESALAHAN EJAAN

a.. Koreksi Kesalahan Ejaan

Di dalam kenyataan penggunaan bahasa, masih banyak kesalahan yang disebabkan


oleh kesalahan penerapan ejaan, terutama tanda baca. Penyebabnya, antara lain ialah
adanya perbedaan konsepsi pengertian tanda baca di dalam ejaan sebelumnya yaitu tanda
baca diartikan sebagai tanda bagaimana seharusnya membaca tulisan. Misalnya, tanda
koma merupakan tempat perhentian sebentar (jeda) dan tanda tanya menandakan intonasi
naik.

Di dalam konsep pengertian lama tanda baca berhubungan dengan bagaimana


melisankan bahasa tulis, sedangkan dalam ejaan sekarang tanda baca berhubungan dengan
bagaimana memahami tulisan (bagi pembaca) atau bagaimana memperjelas isi pikiran
(bagi penulis) dalam ragam bahasa tulis. Jadi, bagi pembaca, tanda baca berfungsi untuk
membantu pembaca dalam memahami jalan pemikiran penulis; sedangkan bagi penulis,
tanda baca berfungsi untuk membantu menjelaskan jalan bagi penulis supaya tulisannya
(karangannya) dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca. Beberapa kesalahan bahasa
yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan tanda baca, khususnya tanda koma.

1. Tanda Koma di antara Subjek dan Predikat

Ada kecenderungan penulis menggunakan tanda koma di antara subyek dan predikat
kalimat, jika nomina subjek mempunyai keterangan yang panjang. Penggunaan tanda koma
itu tidak benar karena subjek tidak dipisahkan oleh tanda koma dari predikat, kecuali
pasangan tanda koma yang mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
Contoh : Rudi Hartono, yang pernah menjuarai All England delapan kali, menjadi pelatih
PBSI. Penggunaan tanda koma dalam contoh-contoh berikut tidak benar :
a. Mahasiswa yang akan mengikuti ujian negara, diharapkan mendaftarkan diri di
sekretariat.
b. Kesediaan negara itu untuk membeli gas alam cair (LNG) Indonesia sebesar dua juta
ton setiap tahun, tentu merupakan suatu penambahan baru yang tidak sedikit artinya
dalam penerimaan devisa negara.

Unsur kalimat yang mendahului tanda koma dalam kedua contoh di atas adalah subyek, dan
unsur kalimat yang mengiringi tanda koma itu (secara berturut-turut diharapkan,
merupakan) adalah predikat. Oleh karena itu, penggunaan tanda koma itu tidak benar.
Kedua kalimat itu dapat diperbaiki dengan menghilangkan tanda koma itu.

2. Tanda Koma di antara Keterangan dan Subyek

Selain subyek, keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal
juga sering dipisahkan oleh tanda koma dari subyek kalimat. Padahal, meskipun panjang,
keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu, pemakaian tanda koma seperti itu juga
tidak benar.
Contoh:

a. Dalam rangka peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, kita akan mengadakan


sayembara mengarang tingkat SMA.
b. Dengan kemenangan yang gemilang itu, pemain andalan kita dapat memboyong piala
kembali ke Tanah Air.

Unsur kalimat yang mendahului tanda koma itu adalah keterangan yang bukan
merupakan anak kalimat meskipun panjang. Oleh karena itu, tanda koma tersebut
dihilangkan, kecuali jika penghilangan tanda koma itu akan menimbulkan ketidakjelasan
batas antara keterangan dan subyek.Contoh:

Dalam pemecahan masalah kenakalan anak kita memerlukan data dari berbagai pihak,
antara lain dari pihak orangtua, sekolah, dan masyarakat tempat tinggalnya.

3. Tanda Koma di antara Predikat dan Objek

Objek yang berupa anak kalimat juga sering dipisahkan dengan tanda koma dari
predikat. Pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar karena obyek tidak dipisahkan
dengan tanda koma dari predikat.
Contoh:
a. Ibu tidak menceritakan, bagaimana si Kancil keluar dari sumur jebakan itu
b. Kami belum mengetahui, kapan penelitian itu akan membuahkan hasil.

Di antara obyek dan predikat tidak digunakan tanda koma, kecuali tanda koma yang
mengapit keterangan yang berupa anak kalimat atau tanda koma yang memisahkan
kutipan dari predikat induk kalimat.
Contoh:

a. Pejabat itu menegaskan, ketika menjawab pertanyaan wartawan, bahwa kenaikan harga
sembilan bahan pokok akan ditekan serendah-rendahnya.
b. Seorang pedagang mengatakan, sambil melayani pelanggannya, bahwa naiknya harga
barang-barang sudah dari agennya.

Penggunaan tanda koma tidak dibenarkan jika obyek kalimat itu bukan kutipan langsung,
seperti dalam contoh berikut. Contoh:

Tokoh tiga zaman itu menegaskan, perkembangan teknologi melaju terlalu cepat
dalam dua dasawarsa terakhir ini.

b.Analisis Ketidaksatuan Ejaan


  
    Bentuk salah           Bentuk benar               Alasan 
1. oleh karena itu         oleh karena itu,            kata penghubung antar kalimat   
diakhiri dengan tanda koma. (Bab V, pasal B. ayat 4)
2. non bank                 nonbank                      penulisan non dirangkaikan dengan  
                                                                  kata yang mengikutinya (Bab III ,
                                                                        pasal B ayat 4)
3. Nopember               November                   penalaran fonem V tetap V (Bab
IV)
4. Rp.                          Rp                               Tanda titk digunakan di belakang 
                                                                        mata uang
5. “Perlakuan               “pelakuan                   
  Akutansi                  Akutansi
  Selisih Kurs             selisih kurs
  Terhadap                 Terhadap                    
  penerimaan              penerimaan                  - penulisan judul tidak di Akhiri
  Hasil pada               Hasil pada                     dengan tanda titk (Bab V Pasal A   
  PT. Telesindo          PT. Telesindo                ayat 7)
  Lestari”.                  Lestari”                       - Penulisa PT tidak di akhiri tanda
                                                                           titik
6. Diatas                      di atas                          kata depan di terpisah dari kata         
                                                                      tempat yang mengikutinya
7. Dihasilkan, di          Dihasilkan                   ?                     
  harapkan                  diharapkan

1. Huruf  “ f, “ v “, dan “ p “

sering kita melihat penulisan kata yang hurufnya bertukar-tukar . Maksudnya, kata
yang seharusnya ditulis dengan huruf F dan V ditulis dengan p atau kata yang seharusnya
ditulis V ditulis dengan F.
Kesalahan penuisan seperti itu tentu saja terjadi karena orang tak tahu pasti dengan
huruf mana seharusnya digunakan. Ada juga orang menggunakan huruf P ditulis dengan P
bukan dengan F atau V yang bisa digunakan untuk menuliskan kata Asing saja.

Dalam ejaan baru, huruf F,V sudah masuk dalam sistem ejaan kita, maksudnya, huruf-
huruf itu tidak lagi dianggap sebagai huruf asing
misalnya :

Coordinasi                   menjadi           koordinasi


Standardization           menjadi           standardisasi

2. Bentuk “Efektivitas“ yang dipermasalahkan

Pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia orang mempermasalahkan bentuk-


bentuk seperti fakultet, fakulteit, fakulti yang dipertanyakan ialah mana bentuk yang betul
diantara bentuk itu.

Dalam bahasa belanda, ada kata fakulteit. Dalam bahasa belanda semuanya berakhir
dengan teit misalnya : faculteit,  univerteit, ativiteit. Dalam bahasa inggris, kata-kata yang
sama berakhiran ty : university, faculty, activity
 Jika kita mnyerap kepada bahasa Asalnya kita akan menjadikan kata-kata itu universiteit,
fakulteit, aktiviteit.

Namun karena bahasa indonesia yang berasal dari bahasa melayu itu tidak ada bunyi ei,
maka bunyi kata akhiran itu di ubah menjadi tet, timbulah bentuk fakultet disamping ada
fakulti.

Seorang guru besar ketika itu berpengaruh mengusulkan agar bentuk itu sebaiknya
mengacu kepada asal kata-kata itu dalam bahasa lain, bunyi akhiran tas, fakultas dan
universitas, usulan itu diterima lalu jadilah usulan itu dengan akhiran tas, Fakultas,
universitas, realitas, aktivitas. Bentuk-bentuk lain yang berakhiran teit harus dijadikan
akhiran tas, bukan teit, tet, tit atau ta.

3. Mana yang betul ?


    “ Istri “ atau “ Isteri “ ?
  
            Yang akan kita bicarakan disini ialah ada yang menulis Istri, namun ada yang
menulis Isteri Dalam suku kata bahasa melayu tidak ada suku kata tra, sla, kla, sta, kra,
pra. Dalam bahasa sangsakerta kita pungut kata stri kata ini diberikan tambahan i
didepannya sehingga menjadi istri. Kemudian diantaranya t dan r di sisipkan e sehingga
menjadi isteri.kalau dipenggal atas sukunya menjadi  is – te – ri. Menurut EYD ditetapkan
bahwa kata asing tak usah disisipi huruf e.          

KOREKSI KESALAHAN ALINEA


Ada satu kecenderungan jelek di dunia pendidikan, yaitu menganggap kesalahan
sebagi sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Selama dua puluh dua tahun pertama
dalam hidupnya, setiap orang diajarkan bahwa kesalahan adalah hal yang memalukan dan
harus dihindari. Padahal, kesalahan sebenarnya merupakan pedoman untuk tidak
mengulangi kesalahan yang sama. Winston Churchil, mantan Perdana Mentri Inggris,
pernah berkata: “All men make mistakes, but only wise men learn from their mistakes.”
Pernyataan ini mengungkapkan bahwa kesalahan merupakan kesempatan untuk membuat
sesuatu yang lebih baik. James Joyce, penulis kenamaan Irlandia, menegaskan: “Mistakes
are the portals of discovery.” Jadi, semakin banyak kesalahan yang bisa diidentifikasi
seseorang (termasuk kesalahan orang lain) semakin banyak dia belajar dan semakin besar
pula kesempatan baginya membuat sesuatu yang lebih berkualitas pada kesempatan
berikutnya.
Paradigma bahwa kesalahan adalah pedoman untuk melakukan sesuatu lebih baik ini
sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam penulisan karya ilmiah. Berdasarkan
pengalaman penulis dalam membimbing penulisan makalah, artikel, dan skripsi oleh
mahasiswa dan dalam mengedit tulisan ilmiah, terdapat empat kelompok kesalahan yang
sering dilakukan para penulis (pemula): bagaimana membuat alinea yang efektif,
bagaimana membuat tulisan mudah dipahami, bagaimana cara mengutip dengan benar,
dan bagaimana cara menuliskan referensi. Diharapkan, pemahaman kita akan keempat
macam kesalahan tersebut akan memampukan kita menghasilkan karya ilmiah yang lebih
baik.
A. Alinea Yang Efektif

Pada dasarnya setiap karya tulis merupakan sekumpulan alinea yang membahas suatu
permasalahan. Oleh karena itu, kemampuan menulis alinea yang baik adalah persyaratan
yang sangat penting dalam menulis karya ilmiah. Berikut ini merupakan konsep-konsep
mendasar yang perlu dikuasai dalam rangka mengembangkan kemampuan menulis alinea
yang efektif.
Alinea pada hakikatnya merupakan perpaduan sekelompok kalimat yang membahas
satu ide pokok. Seluruh kalimat itu harus memiliki hubungan logis. Kalimat yang tidak
berhubungan logis (atau tidak relevan dengan ide) pokok harus dihapus dari alinea. Kalimat
yang bersifat pengulangan juga harus dihilangkan.
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan tentang alinea adalah: Berapa jumlah
kalimat yang diperlukan untuk membuat sebuah alinea? Tidak ada jawaban yang pasti
untuk pertanyaan ini. Yang perlu dipedomani adalah bahwa sebuah alinea tidak boleh
terlalu pendek sehingga ide pokoknya tidak dikembangkan secara memadai, atau terlalu
panjang sehingga ide pokoknya berkembang sangat luas hingga perlu dikembangkan dalam
beberapa alinea terpisah.
Dilihat dari fungsinya, kalimat-kalimat pembangun sebuah alinea dapat dibedakan ke
dalam tiga jenis: kalimat topik, kalimat pendukung, dan kalimat kesimpulan. Kalimat topik
berfungsi menyatakan ide pokok atau mengungkapkan apa yang akan dibahas dalam alinea
tersebut. Kalimat pendukung berfungsi menghadirkan bukti, fakta, argumen, atau
penjelasan lain untuk memperjelas ide pokok. Sedangkan kalimat kesimpulan digunakan
untuk merangkum isi alinea atau menunjukkan transisi ke alinea berikutnya. Tidak semua
alinea membutuhkan kalimat kesimpulan. Oleh karena itu, jenis kalimat yang harus ada
dalam sebuah alinea adalah kalimat topik dan pendukung. Tampilan sebuah alinea dapat
digambarkan seperti dalam gambar 2 berikut.

Gambar 1: Tampilan Sebuah Alinea

    
(Kalimat topik) …………………………………………………………………………………
….. (Kalimat
pendukung) ............................................................................................................             .....
....... (Kalimat pendukung) ……………………………
……………......... .............. ............... ............ …… (Kalimat
pendukung) .............................................................. ................................. ............ ...........
……… (Kalimat pendukung)  ……………………… …………………… ………
…… ........... ........ ..... ……… (Kalimat simpulan).…
……………………………………………………………………………

  
1.    Kalimat Topik

Dalam tulisan ilmiah, kalimat topik dapat ditempatkan di awal atau di akhir alinea,
tergantung pola berpikir yang digunakan. Jika penulis menggunakan pola berpikir deduktif,
kalimat topik diposisikan di awal alinea, jika induktif, di akhir. Untuk penulis pemula,
menempatkan kalimat topik di awal alinea lebih disarankan, karena mendukung suatu ide
yang lebih umum dengan menghadirkan detil-detil yang spesifik (deduktif) biasanya lebih
mudah dilakukan daripada menyimpulkan beberapa detil spesifik  menjadi sebuah ide yang
lebih umum.
Selain itu, perlu diingat bahwa setiap kalimat topik harus mengandung tiga unsur:
subjek, verba, dan ide pengendali (controlling idea). Subjek dalam kalimat topik berperan
sebagai topik alinea, sedangkan ide pengendali merupakan sebuah kata atau frasa yang
mengendalikan informasi-informasi dalam kalimat-kalimat lain dalam alinea tersebut.
Subjek bisa diletakkan di awal kalimat topik (sebelum verba) atau di akhir (sesudah verba).
Lihat contoh 1 berikut.

Contoh 1

1.    Karya ilmiah memiliki empat ciri khas.


                S            V                IP
2.    Terdapat empat ciri khas yang dimiliki oleh karya ilmiah.
                   IP                                   V                         S

Berdasarkan penjelasan dia atas, terungkap bahwa bahwa sebuah kalimat topik harus
memenuhi tiga persyaratan. Pertama, kalimat topik harus berbentuk kalimat lengkap
(complete). Dalam kalimat itu harus terdapat unsur subjek, predikat, dan objek (ide
pengendali). Kedua, cakupan ide pengendali harus terbatas (limited), dalam arti tidak lebih
dari satu ide karena sebuah alinea hanya dapat membahas sebuah ide secara tuntas.
Ketiga, ide pengendali harus spesifik (specific). Hal ini berarti ide tersebut harus relevan
dan secara langsung berhubungan dengan topik.
Untuk memahami ketiga persyaratan kalimat topik ini secara lebih jelas, lihat contoh-
contoh dan penjelasan dalam contoh 2 berikut.

Contoh 2

1.a Kemampuan menulis yang baik


.
1.b Kemampuan menulis yang baik memberikan banyak keuntungan.
.
2.a Pulau Bali terkenal dengan berbagai pemandangan yang indah.
.
2.b Pulau Bali terkenal dengan berbagai pemandangan yang indah dan
. penduduknya yang ramah.
3.a Kenaikan harga kebutuhan pokok menimbulkan masalah yang serius.
.
3.b Kenaikan harga kebutuhan pokok menimbulkan masalah yang serius bagi
. kalangan berpenghasilan rendah.

Kalimat (1.a.) di atas bukan kalimat topik yang baik karena tidak memiliki unsur
subyek, verba, dan ide pengendali. Sedangkan kalimat (1.b.) adalah kalimat topik yang baik
karena adanya unsur subyek, verba, dan ide pengendali. Kalimat (2.a.) merupakan kalimat
topik yang baik karena ide pengendalinya hanya satu, yakni “berbagai pemandangan yang
indah”. Kalimat (2.a.) bukan kalimat topik yang baik karena ide pengendalinya lebih dari
satu. Kalimat (3.a.) bukan merupakan kalimat topik yang baik karena ide pengendalinya
tidak spesifik—bagi siapa masalah yang serius tersebut timbul? Kalimat (3.b.) merupakan
kalimat topik yang baik karena ide pengendalinya secara spesifik menyatakan masalah yang
serius tersebut dialami kalangan berpenghasilan rendah.
  
2.  Kalimat Pendukung

Kalimat pendukung dibedakan ke dalam dua jenis. Pertama, kalimat pendukung mayor,
yaitu kalimat-kalimat yang secara langsung digunakan untuk menjelaskan ide pokok dalam
yang dinyatakan dalam kalimat topik. Penjelasan tersebut bisa dilakukan dengan cara
menghadirkan bukti, fakta, argumen, kutipan atau penjelasan lain. Kedua, kalimat
pendukung minor, yaitu kalimat-kalimat yang fungsinya memberikan keterangan yang lebih
terperinci terhadap penjelasan dalam suatu kalimat pendukung mayor. Keberadaan satu
atau lebih kalimat pendukung mayor dalam sebuah alinea adalah keharusan. Sedangkan
keberadaan kalimat pendukung minor sangat tergantung pada apakah penjelasan dalam
suatu kalimat pendukung mayor masih perlu diberikan penjelasan yang lebih terperinci atau
tidak.  Dengan kata lain, tidak semua alinea memiliki kalimat pendukung minor. Lihat
contoh 3 berikut.

Contoh 3

(1) Penggunaan bahasa sebagai media komunikasi telah menjalani empat tahapan evolusi yang sesuai dengan
perkembangan kebutuhan manusia. (2) Penelitian antropologis mengungkapkan bahasa mulai dikembangkan masyarakat
manusia sebagai sarana komunikasi antar individu dalam kelompok kecil sekitar 200.000 tahun lalu (Gianella dan Hopkins,
2006: 12). (3) Pada waktu itu, bahasa digunakan hanya untuk berbagi informasi dan perasaan mengenai kehidupan sehari-hari.
(4) Sekitar tahun 30.000 sebelum masehi, kebutuhan untuk berkomunikasi dengan individu lain  dari kelompok dan generasi
berbeda mendorong manusia menciptakan bahasa tertulis. (5) Petroglif, piktogram, dan ideogram di dinding gua, seperti
Chauvet Cave di Prancis Selatan, adalah contoh upaya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan kelompok dan
generasi berbeda (Moore, 2005: 20). (6) Perkembangan ini kemudian diikuti oleh penemuan sistem tulisan sekitar 4000 tahun
SM, yang memungkinkan pendokumentasian peristiwa dan data dalam bentuk yang lebih permanen. (7) Perkembangan
teknologi informasi, yang dimulai dengan penemuan telegraf pada tahun 1837, telefon (1871), dan internet pada abad ke-20
membuat komunikasi dengan bahasa dapat dilakukan tanpa batasan ruang dan waktu.  

Dalam alinea di atas, kalimat (1) adalah kalimat topik (KT). Kalimat (2) merupakan
kalimat pendukung mayor pertama (KPM1) yang secara langsung menjelaskan tahapan
evolusi bahasa sebagai media komunikasi dengan menghadirkan tahapan awal
perkembangan bahasa. Kalimat (3) adalah kalimat pendukung minor (KPm) yang
menyajikan penjelasan lebih detil kepada informasi dalam KPM1. Kalimat (4) merupakan
kalimat pendukung mayor kedua (KPM2) yang secara langsung menjelaskan tahapan kedua
evolusi bahasa. Kalimat (5) adalah kalimat pendukung minor (KPm) yang menyajikan
penjelasan lebih detil kepada informasi dalam KPM2. Kalimat (6) merupakan kalimat
pendukung mayor ketiga (KPM3) yang secara langsung menjelaskan tahapan ketiga evolusi
bahasa. Kalimat (6) merupakan kalimat pendukung mayor keempat (KPM4) yang secara
langsung menjelaskan tahapan keempat evolusi bahasa.
Hubungan antara kalimat topik (KT) dan kalimat-kalimat pendukung mayor (KPM)
serta kalimat-kalimat pendukung minor dalam alinea contoh di atas dapat digambarkan
dalam grafik di sebelah kanan ini.
3.  Kalimat Simpulan

Pada bagian akhir berbagai alinea penulis juga bisa meletakkan kalimat kesimpulan,
yakni kalimat yang merangkum informasi pada kalimat-kalimat sebelumnya atau menarik
kesimpulan berdasarkan informasi tersebut. Secara umum, dapat dikatakan bahwa kalimat
kesimpulan merupakan penegasan ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat topik. Lihat
contoh 4 berikut.

Contoh 4

(1) Masyarakat Indonesia menjadikan Universitas Kristen Indonesia (UKI) sebagai pilihan pertama untuk menimba ilmu
karena beberapa alasan. (2) Pertama, UKI merupakan salah satu universitas tertua di Indonesia yang berpengalaman
mengelola pendidikan tinggi dalam rangka menghasilkan lulusan berkualitas. (3) Survai terhadap 5678 alumni yang
dilaksanakan baru-baru ini mengungkapkan 95% responden tidak mengalami kesulitan memperoleh kerja atau menerapkan ilmu
yang diperolehnya selama kuliah di UKI untuk berwiraswasta. (4) Selain itu, kampus UKI terletak di salah satu lokasi paling
strategis di Indonesia. (5) Hal ini membuat mahasiswa tidak mengalami kesulitan mencapai kampus. (6) Ketiga, dosen-dosen di
UKI berkualitas tinggi dan memiliki jiwa kepelayanan yang tinggi. (7) Ketiga faktor diatas mendorong masyarakat menjadikan
UKI pilihan utama untuk kuliah.

Dalam alinea di atas, kalimat (7) adalah kalimat kesimpulan (KK). Kalimat ini
merangkum informasi yang tersaji pada kalimat (2) hingga kalimat (6). KK ini juga
mengungkapkan ide pokok yang telah dinyatakan di kalimat topik, meskipun dengan cara
yang tidak sama persis.
Selain penggunaan kalimat topik, pendukung dan kesimpulan yang tepat, sebuah alinea
juga harus memenuhi unsur koherensi (coherence) dan kohesi. Yang dimaksud dengan
koherensi adalah kesatuan isi atau kepaduan maksud. Koherensi tercipta bila seluruh
kalimat pendukung membahas hanya satu hal, yakni topik, dan jika peristiwa, waktu,
ruang, dan proses diurutkan secara logis. Kohesi mengandung arti hubungan yang erat;
perpaduan yang kokoh dan kohesif berarti padu. Kohesi alinea tercipta bila seluruh kalimat
yang membangunnya dipadu dengan erat dan kokoh dengan menggunakan konjungsi,
pronominal, repetisi, sinonim, hiponim, paralelisme, dan elipsasi dengan tepat.

B. Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami

Tujuan utama pembuatan setiap karya tulis, termasuk karya ilmiah, adalah
mengkomunikasikan informasi, ide, atau konsep kepada pembaca agar dapat dipahami,
dimanfaatkan, dan dikembangkan. Akan tetapi, ada “sekelompok” tertentu yang cenderung
menganggap bahwa tolok ukur keilmiahan sebuah tulisan adalah kerumitan tulisan itu:
semakin sulit, semakin ilmiah. Bagi mereka, moto ”Kalau bisa ditulis secara rumit mengapa
harus dibuat sederhana?” terkesan lebih pas daripada antitesisnya, “Kalau bisa ditulis
sederhana, jangan dibuat rumit.” Padahal, keilmiahan sebuah karya tulis pada hakikatnya
berhubungan dengan faktor kesistematisan, kelogisan, kebahasaan, dan keteraturan dalam
berpikir. Jika semua faktor itu dipenuhi dengan baik, karya tulis itu akan mudah dipahami.
Kelompok yang menganggap keilmiahan identik dengan kerumitan cenderung menulis
karya ilmiah dengan empat karakteristik berikut. Pertama, menggunakan kalimat-kalimat
yang panjang. Kelompok ini kelihatannya menganggap bahwa kalimat kalimat pendek yang
mudah dipahami hanya cocok untuk tulisan anak-anak atau orang awam.  Oleh karena itu
mereka menyusun kalimat-kalimat yang mengandung banyak frasa dan klausa dengan
‘alasan’ semakin panjang kalimat, semakin mendalam pembahasan. Padahal kalimat yang
sangat panjang akan menimbulkan masalah pemahaman karena  tidak jelas mana subjek,
mana predikat, dan mana objek kalimat itu. Kecenderungan seperti ini sebaiknya dicegah.
Jika tidak terpaksa, jangan gunakan kalimat-kalimat panjang dan kompleks. Kalimat pendek
dan efektif akan membuat pemahaman lebih mudah. Bandingkan kedua kalimat contoh
berikut. Mana yang lebih mudah dipahami?

Contoh 5

a.       Analisis kesalahan merupakan suatu teknik kajian dalam pengajaran bahasa yang dilakukan oleh guru dalam lima langkah
terhadap siswanya untuk mengetahui penguasaannya akan kompetensi bahasa tertentu dengan cara mengidentifikasi
kesalahan apa yang dilakukan secara sistematis, seperti slip, keseleo, salah omong, alias lapses  dalam pembelajaran speaking,
melihat seberapa sering dia melakukan kesalahan, diikuti dengan penentuan dan pengklasifikasian jenis kesalahan, kemudian
menginterpretasikan apa penyebab kesalahan tersebut, dan, berdasarkan teori-teori dan prosedur-prosedur linguistik, diakhiri
dengan mengadakan perbaikan terhadap kesalahan itu.

b.       Analisis kesalahan merupakan suatu teknik kajian dalam pengajaran bahasa yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui
penguasaan siswanya akan kompetensi bahasa tertentu. Analisis ini dilakukan dalam lima langkah: satu, mengidentifikasi
kesalahan yang dilakukan secara sistematis, seperti salah omong dalam pembelajaran berbicara; dua, melihat seberapa sering
kesalahan dilakukan; tiga, menentukan dan mengklasifikasikan jenis kesalahan; empat, menginterpretasikan penyebab
kesalahan; dan terakhir, mengadakan perbaikan terhadap kesalahan itu berdasarkan teori-teori dan prosedur-prosedur linguistik.

Kecenderungan kedua yang sering dilakukan kelompok yang menganggap keilmiahan


identik dengan kerumitan adalah memuat sebanyak mungkin istilah asing. Contoh 6 di
bawah ini memperlihatkan fenomena ini dengan cukup baik. Anda dapat memahaminya?

Contoh 6
Sekarang, aplikasikan sebuah sistem kalkulus proposional. Akumulasikan pada sistem itu sebuah logika modal yang
lemah yang di dalamnya kondisional yang eksisting dan anteseden yang dibutuhkan mengakibatkan konsekuensi yang
dibutuhkan (aksioma Godel) dan kebutuhan akan teorema juga merupakan teorema. Jika dikatakan bahwa semua kebenaran
dapat diketahui maka hal ini dapat dirumuskan ‘Jika p maka mungkin (‘’) diketahui p’ dapat diketahui, p_Kp:

Harus diakui bahwa sebagai bahasa yang sedang berkembang bahasa Indonesia tidak
memiliki padanan yang pas untuk semua istilah teknis yang lazim terdapat dalam  karya
tulis ilmiah. Permasalahan ini sebenarnya terjadi juga dalam bahasa lain. Tidak ada satu
bahasa pun yang memiliki kosa kata lengkap hingga tidak lagi memerlukan ungkapan untuk
gagasan, temuan, atau konsep baru. Solusi terhadap permasalahan apakah istilah-istilah
asing tersebut harus diterjemahkan, dibiarkan, atau dikombinasikan dengan istilah
Indonesia sebenarnya sudah dirumuskan oleh Pusat Bahasa (2007). Jadi, untuk
menghasilkan tulisan ilmiah yang baik, menerapkan pedoman pembentukan istilah tersebut
merupakan keharusan.
Sebagai pedoman praktis, terdapat empat kiat untuk menghasilkan tulisan yang
efektif. Pertama, gunakan kata yang pendek dan lazim. Sebagai contoh, kalimat “Tiga ahli
di bidang migrasi hadir di seminar itu.” jauh lebih efektif daripada “Tiga tokoh
berpengetahuan spesifik dalam bidang perpindahan penduduk hadir di seminar itu”,
meskipun keduanya mengungkapkan ide yang sama.  Kedua, cegah kata-kata yang
berlebihan (redundant). Kalimat “Tono berteriak dengan suara keras” menggunakan kata
yang berlebihan, karena suara orang yang berteriak pasti keras. Sebaiknya kalimat itu
diganti menjadi ““Tono berteriak” saja. Ketiga, kunakan kalimat yang efektif (pendek dan
sederhana). Keempat, urutkan ide secara logis. Tono berteriak.

C. Pengutipan

1. Hakikat Kutipan

Dalam penulisan karya ilmiah seringkali digunakan berbagai kutipan—pinjaman


pendapat atau ucapan seseorang—untuk mendukung, menjelaskan, membuktikan, atau
menegaskan ide-ide tertentu. merupakan suatu hal yang wajar dan bahkan sangat efektif
untuk menghemat waktu. Adalah suatu pemborosan waktu bila seorang penulis harus
menyelediki kembali suatu kebenaran yang telah diteliti, dibuktikan dan dimuat secara luas
dalam sebuah buku, majalah, dan lain-lain, untuk tiba pada kesimpulan yang sama. Jadi,
untuk mendukung tulisannya, penulis bisa mengutip pendapat yang sudah teruji dengan
menyebutkan sumbernya agar pembaca dapat mencocokkan kutipan itu dengan sumber
aslinya.
Meskipun penggunaan kutipan pendapat ahli merupakan suatu hal yang wajar, hal itu
tidak  berarti bawa sebuah tulisan dapat terdiri dari kutipan-kutipan saja. Membuat tulisan
dengan menggunakan terlalu banyak kutipan dapat menimbulkan kesan bahwa karya itu
hanya suatu koleksi kutipan belaka. Sebagai patokan, panjang kutipan tidak boleh melebihi
sepertiga panjang tulisan. Secara ilmiah, ide-ide pokok dan kesimpulan-kesimpulan harus
merupakan pendapat penulis. Kutipan-kutipan hanya berfungsi sebagai bukti-bukti
pendukung pendapat penulis tersebut.
Menuliskan sumber kutipan dalam tulisan dapat dilakukan dengan bermacam cara
sesuai dengan standar yang digunakan oleh lembaga atau media tempat tulisan diterbitkan.
Karena rumpun ilmu-ilmu sosial biasanya menganut sistem American Psychological
Association (APA), sangat disarankan untuk menguasai sistem ini dan menggunakannya
secara konsisten. Berikut ini adalah pedoman pokok yang diadaptasi dari Suryana dkk.
(2007).
Pada dasarnya, kutipan dalam karya ilmiah dibagi atas dua jenis, yaitu kutipan
langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung merupakan pendapat para ahli yang
dipinjam secara utuh atau lengkap, baik berupa frase atau kalimat. Kutipan langsung dapat
dibedakan pula atas kutipan langsung yang kurang atau sama dengan empat baris dan
kutipan langsung yang lebih dari empat baris. Kutipan tidak langsung adalah pendapat para
ahli yang dikutip dengan menggunakan parafrase, yaitu menuliskan kembali apa yang
dinyatakan oleh sumber rujukan dalam bahasa sendiri. Diantara kedua jenis kutipan itu,
yang paling disarankan untuk digunakan adalah kutipan tidak langsung. Teknik kutipan
langsung digunakan hanya jika (1) ungkapan yang dikutip memang sudah selaras dengan
bagian lain tulisan; (2) ungkapan yang dikutip sudah sangat populer, atau  (3) ungkapan
yang dikutip sangat sulit diparafrase.

2.  Teknik Pengutipan

a.    Kutipan Langsung

Kutipan langsung yang kurang atau sama dengan empat baris dapat dilakukan dengan
cara-cara berikut: (i) kutipan ditulis inklusif dengan teks; (ii) memakai tanda petik dua di
awal dan di akhir kutipan; (iii) awal kutipan memakai huruf kapital; (iv) diikuti nama akhir
pengarang (marga), tahun terbit buku, halaman buku;  penulisan ini dapat disajikan di awal
atau di akhir kutipan.

Kutipan langsung yang lebih dari empat baris dapat dilakukan dengan cara-cara berikut: (i)
ditulis eksklusif (terpisah) dari teks 2,5 spasi; (ii) ditulis dalam satu spasi; (iii) memakai
tanda petik dua atau pun tidak (opsional); (iv) semua kutipan dimulai dari 7—10 ketukan
dari sebelah kiri teks; (v) Awal kutipan memakai hurup kapital; (vi) diikuti nama akhir
pengarang (marga), tahun terbit buku, halaman buku; penulisan ini dapat disajikan di awal
atau di akhir kutipan.

b.    Kutipan Tidak Langsung


Pengutipan ini dilakukan dengan cara-cara berikut: (i) kutipan disatukan (inklusif) dengan
teks; (ii) tidak memakai tanda petik dua; (iii) Menggunakan
ungkapan mengatakan bahwa, menyatakan bahwa, mengemukakan bahwa, berpenda
pat bahwa dll;  (iv) Mencantumkan nama akhir pengarang (marga), tahun, dan halaman.

3.  Prinsip-Prinsip Dasar

Prinsip-prinsip dasar dalam pengutipan adalah sebagai berikut.


a.    Dalam kutipan tidak dibenarkan mencantumkan judul buku.
b.    Nama orang dan identitas tahun terbit dan halaman buku selalu berdekatan
Contoh:
Norman (2004: 56) menyatakan bahwa ……………………
c.    Kutipan tidak dibenarkan dicetak tebal atau dihitamkan.
d.   Penulis tidak diperkenankan untuk mengadakan perubahan (katakata) dalam kutipan.
Apabila ingin mengadakan perubahan, harus disertai dengan enjelasan.
e.    Apabila ada kesalahan dalam penulisan baik EYD atau pun ketatabahasaan, tidak
diperkenankan mengadakan perubahan. Namun penulis boleh memberikan pendapat atau
komentarnya mengenai kesalahan atau ketidaksetujuannya dalam tanda kurung segi empat
[...]. Jika penulis menemukan kesalahan ejaan pada kata-kata tertentu, dia hanya
diperkenankan memberikan catatan terhadap kesalahan tersebut dengan menambahkan
kata [sic!] dibelakang kata itu. Kata ini menunjukkan bahwa penulis tidak
bertanggungjawab atas kesalahan itu. Dia hanya sekedar mengutip sesuai dengan apa yang
ada dalam naskah aslinya. Kemudian, jika penulis memandang perlu untuk memberikan
penekanan dengan cara merubah teknik penulisan, seperti menggarisbawahi, mencetak
miring, atau mencetak tebal, hal itu harus dijelaskan dalam tanda kurung segi empat [...].

Contoh:
Setiawan (2001: 30) menegaskan bahwa: “Semakin dini [huruf miring dari saya, Penulis] seseorang mulai belajar bahasa
Inggeris [sic!]  akan semakin baik hasilnya dan semakin banyak waktu belajar bahasa Inggeris [ sic!] maka taraf penguasaan
pembelajar terhadap bahasa itu akan semakin baik.”

f.       Kutipan dalam bahasa asing atau bahasa daerah harus dicetak miring.
g.      Kutipan langsung selalu memakai tanda petik dua dan diawali dengan huruf kapital.
Contoh:
Suazo (2001: 30) berpendapat bahwa “ Emotional intelligence is …”
h.      Kutipan dapat ditempatkan sesuai dengan kebutuhan baik di awal, tengah, atau akhir teks.
i.        Jika pengarang ada dua, nama akhir (marga) kedua pengarang itu ditulis.
Contoh:
Pardede dan Simanjuntak (2007: 34) berpendapat ……
j.        Jika pengarang ada tiga atau lebih, nama akhir pengarang pertama yang ditulis dan diikuti
dkk.
Contoh:
Pardede dkk. (2007: 34) menyatakan ……
k.      Jika dalam dalam tulisan yang sama digunakan beberapa kutipan dari sumber berbeda
yang ditulis orang atau lembaga yang sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama juga,
data tahun penerbitan diikuti lambang huruf a, b, c, dst. berdasarkan abjad judul buku-
buku tersebut.
Contoh:
Garcia (2009a: 34) menjelaskan ……
l.        Jika kutipan diperoleh dari majalah atau koran tanpa identitas penulis, nama majalah atau
koran tersebut dituliskan sebagai sumber.
Contoh:
Kompas (2009: 34) menyatakan ……
m.    Jika kutipan diperoleh dari dokumen yang diterbitkan oleh suatu lembaga, nama lembaga
tersebut dituliskan sebagai sumber.
Contoh:
Pusat Bahasa (2007: 25) menjelaskan ……
n.      Jika kutipan diperoleh dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan  tanpa identitas
penulis, judul atau nama majalah atau koran tersebut dituliskan sebagai sumber
Contoh:
Undang-Undang Republik Indonesia No 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2004) menyatakan ……
o.      Kutipan dalam bentuk catatan kaki sudah tidak dipakai lagi dalam penulisan karya ilmiah
karena dirasakan tidak efektif.
p.      Kutipan yang berasal dari ragam bahasa lisan seperti pidato pejabat jarang dipakai
sebagai sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah karena kebenarannya sulit dipercaya
karena harus diketahui oleh orang yang bersangkutan (rawan kesalahan kutipan). Jika
terpaksa menggunakannya, kutipan seperti itu harus dibuatkan dulu ke dalam transkrip dan
diminta pengesahannya oleh pembicara.
q.      Pengutipan pendapat orang lain sebaiknya dilakukan secara variatif (jangan monoton).
Padukanlah kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.
r.     Apabila kutipan itu dirasakan terlalu panjang, penulis boleh mengambil bagian intinya saja
dengan teknik memakai tiga tanda titik […], tetapi tidak boleh mengubah atau
menggeserkan makna atau pesannya.
Contoh:
Tylor (1991: 62) menegaskan: “It is, ..., not possible to have action without character and character is also defined by plot.”
s.       Jika mengutip pendapat ahli yang berasal dari kutipan karya ilmiah orang lain, bentuk
penyajiannya adalah.
Contoh:
Menurut Chomsky (dalam Purba, 2009: 56), makna ujaran adalah …
t.     Penulisan kutipan dari artikel dari internet mengikuti aturan yang sama dengan sumber
bahan tertulis, bila data tentang nama penulis, judul artikel, dan nomor halaman tersedia.
Jika nomor halaman tidak tersedia, sebutkan dari alinea berapa kutipan tersebut diambil.
Contoh:
Menurut Nazara (2009: alinea 5), sumber kekuatan utama seorang pria adalah ...
KOREKSI KESALAHAN KALIMAT

1. Kesalahan kalimat

a. Kesalahan intrernal

Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam
kalimat. Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama
adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis
sebagaimana tampak pada contoh berikut:

1.Dengan pemakaian pupuk urera pil dapat menyuburkan tanaman dan


 meningkatkan produksi pertanian.
2.Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket dan        
catatan kegiatan.

Kedua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk membuktikan itu
dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap kalimat itu.Pada kalimat (1)
jika dipertanyakan dengan kalimat Apa yang menyuburkan tanaman?, jawaban tidak dapat
dicari dalam kalimat itu. Barulah jawaban dapat ditemukan jika frasa dengan pemakaian
dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan
meningkatkan produksi pertanian.Pada kalimat (2) jika dipertanyakan dengan kalimat siapa
yang mendapatkan dua macam instrumen? Maka jawaban tidak dapat dicari, jawaban
terhadap kalimat itu baru dapat diarahkan ke semua informan jika kalimat di ubah menjadi
Semua informan mendapatkan dua macam instumen, yaitu angket dan catatan kegiatan.

b.Kesalahan Eksternal

Kesalahan eksternal adalah kesalahan yang diukur dari unsur luar kalimat yang
bersangkutan. Di sini kesalahan eksternal di ukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi
konteks atau lingkungannya.Contoh :

Proyek lembah Dieng terletak di dukuh Sumberejo, desa Kalisungo yang termasuk dalam
daerah Kabupaten Malang.Daerah Malang yang sejuk terdiri dari pegunungan-pegunungan
kecil.

Dua buah kalimat paragraf tersebut benar secara internal, tetapi salah secara eksternal,
karena tidak membentuk satu gagasan yang utuh dan padu dalam paragraf.

2. Membetulkan kesalahan kalimat

Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat :

a. Kalimat tanpa subjek


Dalam menyusun sebuah kalimat, sering kali dengan kata depan atau preposisi, lalu
verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan me- baik dengan atau tanpa akhiran –
kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini.

1.Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.


2.Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat
pedesaan.

Untuk membetulkan kalimat di atas dapat dilakukan dengan


1.menghilangkan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2.mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.
Jadi kemugkinan pembetulan kalimat di atas adalah :

1. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.


2. Beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Dalam pembetulan kalimat di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu berturut-turut
adalah yang merasa kehilangan buku tersebut dan beredarnya koran masuk desa.

b.Kalimat dengan objek berkata depan

Kesalahan pemakaian kata depan juga sering ditemui pada objek.Sebagai contoh:

1.Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya
barang itu.
2.Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosannya mendiskusikan tentang dampak
positif pembuatan waduk itu.

Dua kalimat di atas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada
kalimat (1) dan tentang pada kalimat (2).Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia
terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan,
misalnya:Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar
dari, sesuai dengan serupa dengan.

c.Konstruksi pemilik kata depan

Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa : termilik
+ pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan
hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada,
misalnya :

Kebersihan lingungkungan adalah kebutuhan dari warga.


Buku-buku daripada perpustakaan perlu ditambah.                                                        

Kontruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada
perpustakaan, ini sering kita dengar perlahan dalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks),
misalnya :

Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada harga-harga barang elektronik.

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku sepeti di atas hendaknya
dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit.

d.. Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian

Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya
satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam
pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua
‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan.Contoh :

1.Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya.


2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan sampai
berjam-jam

Dalam kalimat (1) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu dia dan
orang lain, misalnya Joni. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan
Joni.Demikian pula kalimat (2), di samping pelaku dia diperlukan hadirnya pelaku lain
sebagai mitra diskusi, misalnya para pakar, sehingga kalimat (2) menjadi :Dalam seminar
itu, dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan dengan para pakar.

e. Penempatan yang salah kata aspek pada kalimat pasif berpronomina

Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomian + verba


dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronominal. Kesalahan yang sering terjadi
adalah penempatan aspek diantara pronominal dengan verba atau dalam pola : “pronominal
+ aspek + verba dasar”. Contoh :

Saya sudah katakan bahwa…

Bentuk seperti contoh di atas dapat dibentulkan dengan memindahkan kata aspek ke depan
pronominal menjadi :

sudah saya katakan bahwa…

f. Kesalahan pemakaian kata sarana


Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa
kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan,
dan kata penghubung pada umumnya terdapat pada kalimat mejemuk baik yang setara
maupun yang bertingkat. Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada
pemakaian kata depan di, pada dan dalam, ketiga kata depan tersebut sering dikacaukan,
misalnya:

Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani (pada saat)


Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru (ke dalam)
Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI (di)

Adapun kesalahan pemakaian kata penghubung umumnya terjadi karena ketidaksesuaian


antara pemakaian kata penghubung dan makna hubungan antar klausanya,

Rapat hari ini ditunda karena peserta tidak memenuhi kuorum


Rapat hari ini ditunda sebab perserta tidak memnuhi kuorum

 MEMBUAT RINGKASAN TEKS

a.Cara membuat ringkasan teks

Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah dalam yang
berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian,
tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan
teks terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuatan ringkasan.
Berikut ini bebrapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan
teratur :

1. Membaca naskah asli. Bacalah naskah asli agar dapat mengetahui kesan umum
tentang karangan tersebut secara menyeluruh.
2. Mencatat gagasan utama
3. Mengadakan reproduksi yaitu urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi
kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus
menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya.

Selain melakukan tiga hal diatas, juga terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan juga
agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a) Menyusun kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b) Meringkas kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Dan mengganti rangkaian gagasan
yang panjang menjadi gagasan yang sentral.
c) Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada.
d) Mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah.

b.Menentukan panjang ringkasan.

Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah
dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yangn harus
ditulisnya.Contoh ringkasan teks.

Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus betul-betul
menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari separuh calon pemudik
diperkirakan akan terangkut oleh bus.Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari
Jakarta dan sekitarnya diperkirakan menggunakan jasa KA.

teks diatas dapat dirigkas menjadi.

Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus betul-betul
menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari separuh calon pemudik
diperkirakan akan terangkut oleh bus. Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari
Jakarta.
pengertian ucapan, ejaan, kata dan jenis
tanda baca
Posted on November 13, 2014 by wisnuwardhana10

Pemahaman ejaan merupakan suatu aspek penting dalam mendukung penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Ejaan
yang dimuat dalam pembahsan ini telah disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan.
Ejaan adalah keseluruhan peraturan melambangkan bunyi ujaran, pemisahan dan penggabungan kata, penulisan kata,
huruf, dan tanda baca. Perkembangan ejaan di Indonesia diawali dengan ejaan Van Ophuijsen. Ejaan Van Ophuijesen
ditetapkan sebagai ejaan bahasa Melayu pada 1901.

Ejaan dan tanda baca ini sangat perlu diperhatikan terutama sekali pada kegiatan menulis. Berkaitan dengan pemakaian
ejaan, yang perlu dicermati adalah penulisan huruf dalam kata atau kalimat, sedangkan yang terkait dengan tanda baca
adalah penggunaan enam belas tanda baca dalam bahasa indonesia.

1. Ucapan
Bahasa Indonesia bagi sebagian besar penuturnya adalah bahasa kedua. Para penutur yang berbahasa Indonesia, bahasa
Indonesia mereka terpengaruh oleh bahasa daerah yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengaruh itu dapat berkenaan
dengan semua aspek ketatabahasaan. Pengaruh yang sangat jelas ialah dalam bidang ucapan. Pengaruh dalam ucapan itu
sulit dihindarkan dan menjadi ciri yang membedakan ucapan penutur bahasa Indonesia dari daerah satu dengan daerah
yang lain. Sering dengan mudah kita dapat menentukan daerah asal seorang penutur berdasarkan ucapan bahasa
Indonesianya.

1. Ejaan
Ejaan penting sekali artinya dalam  kaitannya dengan penggunaan bahasa Indonesia produktif tulis. Dalam tulis-menulis
orang tidak hanya dituntut untuk dapat menyusun kalimat dengan baik, memilih kata yang tepat, melainkan juga mengeja
kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku. Dalam surat-surat pribadi dan kalimat catatan harian
misalnya, ketaatan dalam EYD tidak mutlak. Dalam karangan ilmiah, dalam makalah, dan dalam surat-surat perjanjian,
kaidah ejaan harus betul-betul ditaati.

Sebelum, EYD diumumkan, dalam tulis menulis dipergunakan Ejaan Soewandi atau ejaan Republik. Ejaan tersebut
diumumkan berlakunya terhitung mulai 19 maret 1947. sebelum ejaan Soewandi berlaku Ejaan Van Ophuysen yang
ketentuannya dimuat dalam Kitab Logat Melajoe yang disusun dengan bantuan Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’Mur dan
Muhammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan  ini dinyatakan mulai berlaku sejak tahun 1901, sebelum ejaan Van Ophuysen
berlaku dalam tulis menulis  dalam bahasa Melayu, digunakan huruf   2 Jawi atau Arab Melayu dan juga dengan huruf
Latin dengan ejaan yang tidak teratur.

1. Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda baca/pungtuasi, seperti :

1. titik (.),
2. koma (,),
3. titik koma (;),
4. titik dua (: ),
5. dan petik (“..”)
1. a) TANDA TITIK (.)
Sudah kita ketahui tanda titik dipakai untuk menandai berakhirnya kalimat. Di samping itu tanda titik juga digunakan
sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab. Penomoran bab  atau subbab yang menggunakan system
persepuluh pada angka terakhir tidak disertai titik untuk menghemat tempat.

Singkatannya yang terdiri dari huruf-huruf kapital, seperti SMP, SMA, ABRI tidak menggunakan titik. Singkatan dengan
huruf kapital yang merupakan gelar yang diletakkan di belakang nama tetap menggunakan titik di belakang tanda koma
tersebut.

Contoh: Dr. Dharma Tintri, Izzati Amperaningrum SE. MM singkatan yang

menggunakan huruf kecil menggunakan titik. Misalnya:

atas nama  a.n.

untuk beliau  u.b.

dan sebagainya dsb.

Yang perlu diperhatikan adalah kapan seharusnya titik tidak digunakan. Kesalahan yang sering terjadi ialah digunakan
titik pada tempat yang seharusnya tidak menggunakan titik. Judul bab atau judul bagian subbab perlu menggunakan titik
apabila judul itu langsung diikuti uraian yang dimulai dengan baris yang sama dengan judul subbab atau judul bagian
subbab tersebut.

Alamat surat, baik alamat pengirim ataupun alamat yang dituju, juga tidak menggunakan titik karena alamat tersebut tidak
merupakan kalimat. Tanda titik juga tidak dipakai pada singkatan-singkatan yang berkenaan dengan ukuran atau
timbangan, seperti  Rp (rupiah), kg (kilo gram), m (meter), lt (liter) dan sebagainya. Tanda titik juga digunakan  dalam
daftar pustaka yang rujukanya menggunakan sistem rujukan tahun dan halaman. Karangan yang menggunakan rujukan
pengarang atau penyuting, antara judul buku dan kota penerbit.

Contoh: Alisyahbana, Sutan Takdir. 1949. Tata Bahasa Baru Indonesia.

Jakarta: Pustaka Rakyat.

b). TANDA KOMA (,)

Koma digunakan untuk menandai adanya jeda atau kesenyapan antara dalam suatu kalimat. Tanda koma sering digunakan
setelah seruan, seperti: ah, wah, aduh, ya, hai, dan sebagainya.  Juga sesudah kata-kata seperti  meskipun begitu, jadi,
namun demikian, oleh karena itu, maka dari itu. Tanda koma juga digunakan dalam kalimat majemuk yang anak
kalimatnya mendahului induk kalimatnya.

Contoh:

Meskipun hujan, ia pergi juga ke kantor,

Karena sakit, ia tidak jadi pergi ke Jakarta


Tanda koma digunakan juga untuk memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata  tetapi, atau,
melainkan.

Contoh:

Orang itu kaya, tetapi tidak kikir

Yang sudah lulus bukan dia, melainkan adiknya

Tanda koma juga digunakan untuk membatasi unsur-unsur dalam suatu perincian.

Contoh:

Jurusan-jurusan dalam Fakultas Ekonomi Universitas

Gunadarma ialah Jurusan Akuntansi, dan Jurusan Manajemen.

Yang harus diperhatikan ialah sebelum dan masih digunakan tanda koma. Tanda koma juga digunakan dalam  rujukan
kurung atau dalam rujukan tahun dan halaman, untuk membatasi nama akhir pengarang dengan tahun penerbit.

Contoh:

Kalimat ialah satuan kumpulan yang mengandung arti penuh (Alisyahbana, 1953 :20)

Tanda koma juga digunakan untuk membatasi kata-kata dalam kalimat petikan langsung.

Contoh:

Ibu berkata, “Ayahmu belum pulang”.

“Saya gembira sekali”, kata Pak lurah, “desa kita menjadi juara pertama”.

Tanda koma sering digunakan untuk mengapit atau menyisipkan keterangan tambahan.

Contoh:

pemuda itu, yang bertahun-tahun merantau, sudah pulang kedesanya.

Tanda koma juga dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, dan di antara nama tempat dan wilayah suatu
negara yang ditulis secara beruntun.

Contoh:

Yth. DR. Aries Budi Setyawan. Dosen Fakultas Ekonomi,Universitas Gunadarma,   Jakarta
Seperti yang sudah disebutkan di atas, maka koma juga digunakan untuk membatasi nama dan gelar yang terletak di
belakang nama, jumlah rupiah, ketip dan sen, antara satuan dan persepuluh.

Contoh:

Prof. Dr. Dali S. Naga.

Rp1.250,50   10

Nilainya 7,5

c). TITIK KOMA (;)

Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Contoh:

Semua murid diperlakukan sama; tidak ada murid yang dianak emaskan.

Tanda titik koma juga digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.

Contoh:

Di toko swalayan itu Amin membeli kemeja, sepatu, sapu tangan, dan kaos kaki; Ali membeli ikat pinggang, topi, dasi dan
kaca mata; sedang Amat membeli buku tulis, pulpen, penggaris, dan minyak rambut.

Tanda titik koma digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian.

Contoh:

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih  yang     sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak DR. Aries Budi Setyawan  dan Ibu Masodah SE. MM sebagai pembimbing 1 dan pembimbing 2, yang
dengan penuh kesabaran telah memberikan petunjuk dan nasihat-nasihatnya;
2. Ibu Izzati Amperaningrum SE. MM , dosen wali penulis yang telah banyak memberikan bimbingan selama
penulis belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma;
3. Ir. Arjuna, pacar penulis yang dengan setia mendampingi penulis menyelesaikan skripsi ini.
Dalam surat-surat keputusan tanda titik koma banyak digunakan untuk membatasi kalimat-kalimat yang merupakan bagian
dari konsideransi dan bagian dari isi putusan itu sendiri.

Contoh:

Mengingat bahwa

1……………….;
2……………….;

3……………….;   11

Membimbing

1……………….;

2……………….;

3……………….;

Memutuskan

1……………….;

2……………….;

3……………….;

1. d) TITIK DUA (:)


Tanda titik dua dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan diikuti oleh

rangkaian atau perincian.

Contoh :

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma mempunyai dua jurusan: Jurusan Akuntansi dan Jurusan Manajemen.

Titik dua juga digunakan pada kata-kata misalnya, contohnya, dan sebagai berikut yang diikuti perinciaan. Tanda titik dua
juga digunakan untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi sebagai berikut:

Ketua                 :   Meilani

Sekretaris           :   Lies Handrijaningsih

Bendahara         :  Sri Kurniasih Agustin

Juga dalam surat- surat undangan yang menyebutkan hari/tanggal, pukul, tempat, dan cara dalam bentuk  formula berikut:

Dengan Hormat,

Kami mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara dalam suatu rapat pengurus

Yang akan kita selenggarakan pada:


Hari/tanggal        :  Senin, 25 Juli 2005

Pukul                  :  10.30

Tempat               :  Di Gedung 5 Lantai 1 Depok

Jl. Margonda Raya 100 Pondok Cina -Depok .

Dengan acara      :  Penyusunan Rencana Kegiatan Akademis.   12

Apabila uraian diatas tidak disusun dengan formula seperti tersebut diatas, tanda titik dua tidak perlu dipergunakan.

Contoh :

Organisasi itu diketuai oleh Meiliani, dengan sekretaris, Lies Handrijaningsih, dan bendahara Sri Kurniasih Agustin. Rapat
itu diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2005, pukul 10.30  diruang sidang Gedung 5 Lantai 1 Depok.

Tanda titik dua juga digunakan untuk membatasi judul karangan dengan subjudulnya, di antara surat dan ayat dalam kitab
suci, diantara tahun dan halaman dalam rujukan kurung antara nama kota dan nama penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh:

Ekonomi dan Koperasi: Suatu Pengantar Singkat (Ramlan, 1982 :12)

1. e) TANDA PETIK (“- “ )


Di atas disebutkan bahwa yang ditulis dengan tanda petik dalam tulisan atau ketikan biasanya dicetak dengan huruf
miring. Penggunaan tanda petik dalam petikan langsung tidak dicetak dengan  huruf miring, melainkan tetap dicetak
dengan suatu majalah pun tanda petik  itu tetap digunakan. Dalam karangan tercetak tanda petik juga digunakan untuk
menandai kata-kata yang tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Misalnya : Itu dia “pahlawan” kita datang.

1. f) TANDA HUBUNG (-)


Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang seperti meja-meja , berjalan-jalan, buah-buahan.
Tanda hubung digunakan apabila huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan, huruf kecil, atau huruf kecil yang
dirangkaikan dengan huruf kapital.

Contoh:

Abad ke-20

Tuhan selalu melindungi hamba-nya

Ijazah SMA-nya hilang.

Tanda hubung juga digunakan untuk membatasi tanggal, bulan, dan tahun apabila semuanya ditulis dengan angka.

Contoh:
Jakarta, 27-11-2005   13

Tanda hubung juga digunakan untuk menghubungkan awalan atau akhiran dalam bahasa Indonesia yang dirangkaikan
dengan kata dasar asing.

Contoh:

Di-smash , pen-tackle-an

Tanda hubung juga digunakan untuk mendai hubungan kata-kata dalam kelompok kata agar tidak menimbulkan tafsiran
yang tidak dikehendaki.

Contoh:

Istri pejabat yang nakal itu.

Untuk menjelaskan bahwa yang nakal itu  adalah istri pejabat maka antara istri dan pejabat perlu diberi tanda hubung .
Kalau yang nakal itu pejabat maka yang diberi tanda hubung antara yang nakal dan pejabat . (istri-pejabat yang nakal itu.
Istri pejabat-yang nakal itu)

7. TANDA-TANDA BACA YANG LAIN


Tanda–tanda baca yang lain ialah tanda pisah (-), tanda elipsis (…), tanda tanya

(?), tanda seru  (!), tanda kurung  ( ),  tanda kurung siku ([ ]), tanda garis miring

(/)  dan tanda penyingkat/apostrof  (‘)

Contoh:

Kemerdekaan bangsa itu- saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

Rangkaian temuan ini – evolusi, teori kenisbian, dan kini juga  pembelahan atom – telah mengubah konsepsi  kita tentang
alam semesta.

Tanda pisah juga digunakan dalam arti”sampai dengan”.

Contoh :

1950–2005

Tanggal 18—Mei 2005

Pukul 09.30—11.00

Semarang – Jakarta
Tanda elips (…) digunakan untuk menandai tuturan yang terputus-putus.

Contoh :

Kalau engkau tidak mau ….yah…, biarlah saya pulang saja.

Tanda elips yang digunakan dalam suatu kutipan menunjukan bahwa ada kata-kata yang tidak dikutip dalam kutipan
tersebut.

Contoh :

“Morfem ialah ….bentuk bebas yang terkecil”   14

Tanda tanya digunakan untuk menandai kalimat tanya dan diletakan diakhir kalimat.

Contoh :  Di mana rumahmu?

Tanda tanya yang ditaruh di antara tanda kurung digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau kesangsian

Contoh :

Ia dilahirkan pada tahun 1896 (?)

Uangnya sebanyak sepuluh juta rupiah(?) telah hilang

Tanda seru digunakan untuk menandai seruan/perintah/panggilan Tanda kurung juga digunakan untuk mengapit
penjelasan atau keterangan

Contoh:

Bagian perencanaan sudah selesai merencanakan DIK (Daftar Isi Kerja) kantor ini.

Tanda kurung juga untuk  mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian yang pokok dari
pembicaraan.

Contoh :

keterangan ini )lihat tabel 10) menunjukan arus perkembangan baru dalam pemasaran dalam negeri. Selanjutnya  tanda
kurung juga dipergunakan untuk mengapit angka atau

huruf yang memerinci keterangan.

Contoh:

Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam , (b) tenaga kerja dan (c) modal.
Tanda kurung siku digunakan sebagai  tanda koreksi bahwa dalam naskah itu terdapat huruf , kata, atau kelompok kata
yang ditulis di antara tanda kurung siku tersebut.

Contoh:

Si Bintang Men[d]engar bunyi gemerisik.

Tanda kurung siku di gunakan juga untuk memberi tanda kurung di dalambagian kalimat yang sudah menggunakan tanda
kurung.

Contoh:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab 11 [lihat halaman 25 –38] tidak dibicarakan ) perlu
dibentangkan di sini

Tanda garis miring digunakan dalam penomoran surat.

Contoh;

NO :7/TP09/k/91

Dalam alamat untuk membatasi antara gang dengan nomor.   15

Contoh:  Jl. Erlangga 7/19

Untuk menunjukkan tahun anggaran atau tahun kuliah.

Contoh :  2003/2004

Garis miring berarti juga tiap-tiap atau per.

Contoh :

Rp2500/orang

Tanda penyingkat atau apostrof (‘) digunakan untuk menunjukan adanya bagian

–bagian yang dilesapkan.

Contoh :

Istana yang megah ‘kan ku dirikan (kan=akan)

Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)


Januari’05 (‘05=2005)

1. Pengertian
Kata secara sederhana adalah sekumpulan huruf yang mempunyai arti. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki
arti tersendiri, yaitu kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan
perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. kata juga mengandung arti, sederetan huruf yang diapit dua
spasi dan mempunyai arti.

Diksi adalah ketepatan pilihan kata untuk menyatakan sesuatu. Diksi atau pilihan kata pada dasarnya adalah hasil upaya
memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alinea, atau wacana. Diksi atau pilihan kata merupakan satu unsur
yang sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari.
Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau
Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana
membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling
baik digunakan dalam suatu situasi.

Dalam perkembangan tata bahasa Indonesia, terdapat banyak rumusan tentang kelas kata oleh para
ahli bahasa.Namun secara umum, kelas kata terbagi menjadi berikut ini.
1.  Kata kerja (verba)
2.  Kata sifat (adjektiva)
3.  Kata keterangan (adverbia)
4.  Kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
5.  Kelompok kata tugas ialah :
 Kata Sandang (artikel)
 Kata Depan (preposisi)
 Kata Hubung (konjungsi)
 Partikel
 Kata Seru (interjeksi)
1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atautindakan, proses, dan keadaan yang bukan
merupakan sifat.Kata kerja pada umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri kata kerja:
1. Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah
Contoh: akan mandi, akan tidur, sedang makan, telah pulang
2. Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh: tidak makan, tidak tidur.
3. Dapat diikuti oleh gabungan kata dengan + KB/KS
Contoh: Pergi dengan adik, menulis dengan cepat.
Macam-macam kata kerja (verba):
a. Verba dasar bebas, seperti: duduk, makan, mandi, minum, pergi, pulang, tidur
b. Verba turunan, terdiri atas:
1. Verba berafiks:
Contoh: ajari, bernyanyi, bertaburan.

2. Verba bereduplikasi:
Contoh: bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan, marah-marah.
c. Verba berproses gabung:
Contoh:  bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, makan-makan.
d. Verba majemuk :
Contoh:  cuci mata, campur tangan, unjuk gigi.
e. Verba transitif (kata kerja yang membutuhkan objek)
Contoh :  –  Saya menulis surat.
S         P           O
–   Adik membeli balon.
S           P          O
f. Verba intransitif (kata kerja yang tak memerlukan objek)
Contoh :   –  Mereka duduk di taman.
S           P               K
–  Anak-anak itu bersepeda di sepanjang pantai.
S                       P                    K
–   Adik sedang mandi.
S               P
2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat atau adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan watak, dan tabiat
orang/binatang/ benda.Kata sifat umumnya berfungsi sebagai predikat, objek dan penjelas subjek.
Ciri-ciri kata sifat:
1. Dapat diberi keterangan pembanding lebih, kurang, dan paling
Contoh:  lebih indah, kurang bagus, paling kaya.
2. Dapat diberi keterangan penguat: sangat, amat, benar, terlalu, dan sekali
Contoh: sangat senang, amat keras, mahal benar, terlalu berat, sedikit sekali.
3. Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh: tidak benar, tidak halus, tidak sehat, dan sebagainya.
Macam-macam adjektiva:
a.  Ajektiva dasar, seperti  adil, afdol, bangga, baru, cemas, disiplin, anggun, bengkak.
b. Adjektiva turunan terdiri atas:
1. adjektiva berafiks
contoh: terhormat, terindah, kesakitan, kesepian, keinggris-inggrisan.
2. adjektiva bereduplikasi
contoh:  muda-muda, elok-elok, cantik-cantik.
3. adjektiva berafiks –i, -wi, -iah
contoh:  abadi, duniawi, insani, ilmiah, rohaniah, surgawi.
Adjektiva deverbalisasi, misalnya:  melengking, terkejut, menggembirakan, meluap.
Adjektiva denominalisasi, misalnya: berapi-api, berbudi, budiman, kesatria, berbusa.

Adjektiva de-adverbialisasi, misalnya : bersungguh-sungguh, berkurang, bertambah.

Adjektiva denumeralia, misalnya: manunggal, mendua, menyeluruh.

1. Adjektiva de-interjeksi, misalnya: aduhai, sip, asoy.


2. Adjektiva majemuk, misalnya: panjang tangan, buta huruf, lupa daratan, tinggi hati.
3. Adjektiva eksesif (berlebih-lebihan), misalnya :alangkah gagahnya, bukan main kuatnya, Maha kuasa.3. Kata
Keterangan (Adverbia)
4. Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan
5. pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.
6. Kata Keterangan (Adverbia)
Macam-macam adverbia:
Adverbia dasar bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya, tidak, paling,

pernah, pula, saja, saling.


b.  Adverbia turunan terbagi atas:
1.  Adverbia reduplikasi, misalnya: agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih,paling-paling.
2.  Adverbia gabungan, misalnya: belum boleh, belum pernah, atau tidak mungkin.
3.  Adverbia  yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau, agaknya, harusnya,
sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.

4.  Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
a.  Kata Benda (Nomina)
Kata benda atau nomina adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak).Kata benda berfungsi
sebagai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan.
Ciri-ciri kata benda:
1. Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh : bukan gula, bukan rumah, bukan mimpi, bukan pengetahuan.
2. Dapat diikuti dengan gabungan kata yang + KS (kata sifat) atau yang sangat + KS
Contoh : buku yang mahal, pengetahuan yang sangat penting, orang yang baik.
Macam-macam nomina:
 Nomina bernyawa, misalnya: Umar, Abdullah, nenek, nona, ayah, kerbau, ayam.
 Nomina tak bernyawa, misalnya: nama lembaga, hari, waktu, daerah, bahasa.
 Nomina terbilang, misalnya: kantor, rumah, orang, buku.
 Nomina tak terbilang, misalnya: udara, kebersihan, kemanusiaan.
 Nomina kolektif, misalnya: cairan, asinan, buah-buahan, kelompok.
 Nomina ukuran, misalnya: pucuk, genggam, batang, kilogram, inci.
 Nomina dari   proses nominalisasi, misalnya: keadilan, kenaikan, pembicara, pemotong, anjuran, simpulan,
pengumuman, pemberontakan.
 Nominalisasi dengan  si dan  sang, misalnya: si kecil, si manis, sang kancil, sang dewi.
 Nominalisasi dengan  yang, misalnya: yang lari, yang berbaju, yang cantik.
1. Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacupada nomina lain.  Pronomina berfungsi
untuk mengganti kata benda ataunomina.
Macam-macam pronomina:
Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia, yakni (1)  pronominal persona, (2)  pronomina penunjuk 
(3)  pronomina penanya.
1. Pronomina Persona
 Pronomina reduplikasi, misalnya: kita-kita, dia-dia, dan beliau-beliau.
 Pronomina berbentuk frasa, misalnya: kamu sekalian, aku ini, dia itu.
 Pronomina takrif, terbatas pada pronomina persona (orang) misalnya:
 Pronomina persona I (kata ganti orang I) : saya, aku (tunggal),
 dan kami, kita (jamak)
 Pronomina persona II (kata ganti orang II) : kamu, engkau, Anda (tunggal), dan kalian, Anda sekalian (jamak)
 Pronomina persona III (kata ganti orang III) : ia, dia, beliau (tunggal), dan mereka (jamak)
 Pronomina tak takrif, tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu, misalnya : sesuatu, seseorang, barang
siapa, siapa, apa-apa, anu, dan masing-masing sendiri.

2. Pronomina Penunjuk
Pronomina Penunjuk dalam bahasa Indonesia ada tiga macam.
 Pronomina penunjuk umum: ini, itu, dan anu.
 Pronomina penunjuk tempat: sini, situ, atau sana.
 Pronomina penunjuk ihwal: begini dan begitu.
Pronomina Penanya :
Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan.Contoh:  siapa, apa, mana, mengapa,
kapan, dimana, bagaimana, dan berapa.

1. Kata Bilangan (Numeralia)


Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Numeralia utama (kardinal), terdiri atas:
 Bilangan penuh, misalnya: satu, dua, tiga, puluh, ribu, juta.
 Bilangan pecahan, misalnya: sepertiga, duapertiga, lima perenam.
 Bilangan gugus, misalnya: selikur (21), lusin, gros, kodi, atau ton.
 Numeralia tingkat, yaitu numeralia yang menunjukkan urutan atau struktur
Misalnya:  pertama, kesatu, kedua, keempat, ketiga belas.
Numeralia kolektif, numeralia yang terbentuk oleh afiksasi, misalnya :  ketiga (ke + Num),
ribuan, ratusan (Num + -an), beratus-ratus, dan bertahun-tahun (ber- + Num)

5.  Kelompok Kata Tugas


Kata tugas terdiri atas:
a. Kata Sandang (Artikel)
Kata sandang atau artikel adalah kata yang mendampingi kata benda atau yang
membatasi makna jumlah orang atau benda.
Macam-macam artikel:
a). Artikula/artikel bermakna tunggal, misalnya: sang guru, sang suami, sang juara.
b). Artikula/artikel bermakna jamak, misalnya: para petani, para guru, para ilmuwan.
c). Artikula/artikel bermakna netral, misalnya: si hitam manis, si dia, si terhukum.
d).Artikula/artikel bermakna khusus, misalnya: Sri Baginda, Sri Ratu, Sri Paus (gelar
kehormatan),  Hang Tuah, dan Dang Halimah (panggilan pria dan wanita dalam sastra
lama)
b. Kata Depan (Preposisi)
Kata depan atau preposisi adalah kata yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat, atau kata kerja untuk membentuk
gabungan kata depan(frasa preposisional).
Macam-macam preposisi:
a). Preposisi dasar, misalnya:  di , ke, dari, akan, antara, kecuali, bagi, dalam, daripada, tentang, pada, tanpa, untuk, demi,
atas, depan, dekat.
b). Preposisi turunan, terdiri atas:
(a). gabungan preposisi dan preposisi, misalnya : di depan, ke belakang, dari muka.
(b). gabungan  preposisi + preposisi +  non-preposisi, misalnya : di atas rumah, dari
tengah-tengah kerumunan.
(c). gabungan preposisi + kelas kata + preposisi + kelas kata, misalnya dari rumah ke
jalan, dari Bogor sampai Jakarta, dari pagi hingga petang.
(d).  Preposisi yang menunjukkan ruang lingkup, misalnya sekeliling, sekitar, sepanjang,
seputar.
1. Kata Hubung (Konjungsi)
Kata hubung atau konjungsi adalah kata yang  berfungsi menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
Macam-macam konjungsi:
 Konjungsi penambahan, misalnya: dan, dan lagi, tambahan lagi, lagi pula.
 Konjungsi urutan, misalnya: lalu, lantas, kemudian, setelah itu.
 Konjungsi pilihan, misalnya: atau
 Konjungsi perlawanan, misalnya:  tetapi, sedangkan, namun, sebaliknya, padahal.
 Konjungsi menyatakan waktu, misalnya: ketika, sejak, saat, dan lain-lain
 Konjungsi sebab-akibat, misalnya: sebab, karena, karena itu, akibatnya dan lain-lain
 Konjungsi persyaratan, misalnya: asalkan, jikalau, kalau, dan lain-lain
 Konjungsi pengandaian, misalnya: andaikata, andaikan, seandainya, seumpamanya.
 Konjungsi harapan/tujuan, misalnya: agar, supaya, hingga.
 Konjungsi perluasan, misalnya: yang
 Konjungsi pengantar objek, misalnya: bahwa
 Konjungsi penegasan, misalnya: bahkan dan malahan
 Konjungsi pengantar wacana, misalnya: adapun, maka, jadi.
1. Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai,mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat
dalam komunikasi.
Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah dan pernyataan (berita).
Macam-macam partikel:
a).  kah, misalnya: Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
b).  kan, misalnya: Tadi kan sudah dikasih tahu!
c).  deh, misalnya: Makan deh, jangan malu-malu.
d).  lah, misalnya: Tidurlah hari sudah malam!
e).  dong, misalnya: Bagi dong kuenya.
f).  kek, misalnya: cepetan kek, lama sekali.
g).  pun, misalnya:  Membaca pun ia tak bisa.
h).  toh, misalnya: Saya toh tidak merasa bersalah. – See more at: http://deden-
arpega.blogspot.com/2013/09/jenis-jenis-kata-dalam-bahasa-indonesia.html#sthash.kRoy1yAm.dpuf
Tanda-tanda Koreksi

Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali
untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan, tatabahasa atau pengetikan.
Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian
yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik
halaman tersebut diketik kembali.

Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu,


sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik
tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan
langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda
perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus
ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya dipisahkan dengan
sebuah tanda diagonal atau garis miring.

Tanda-tanda koreksi yang biasa dipakai untuk maksud di atas adalah:


Demikian beberapa tanda koreksi yang biasa dipergunakan dalam memperbaiki naskah-naskah,
entah naskah tersebut diserahkan langsung ke percetakan atau diserahkan kepada seorang
pembimbing skripsi.

Perhatikanlah contoh koreksi di bawah ini.


teks asli:                           DUNIA REMAJA BERGOLAK 

    Huru-hara di dunia mahasiswa Perancis baru-baru ini, yang telah didahului oleh gejala-gejala
serupa itu di Jerman Barat dan Polandia, lalu disusul oleh gelombang-gelombang di tengah-tengah
mahasiswa di Brussel dan Stockholm, semuanya ini menunjukkan adanya suatu pola umum dalam
perkembangan generasi muda di dunia. Dan dalam hubungan ini patutlah kita ingat juga akan
peranan aksi-aksi pemuda mahasiswa pada bulan Pebruari/Maret 1966 dan seterusnya. Ragi
apakah yang kini menghayati generasi muda ini?
    Majalah Time dalam edisinya tanggal 6 Januari 1967 telah memproklamirkan kaum muda sedunia
sebagai "Man of the Year 1966", dan selama empat tahun terakhir ini telah 200 kali menyajikan
sebuah karangan mengenai masalah dunia remaja. Cukup bukti betapa luas pengaruhnya kaum
muda terhadap kebudayaan dunia modern.
    Limabelas tahun yang lampau majalah yang sama pernah menamakan kaum muda di Amerika
Serikat "the silent generation". Tetapi kini angkatan tersebut sama sekali bukan "silent". Di mana-
mana saja, dari San Fransisco sampai ke Moskwa, dari Paris sampai ke Jakarta, kaum muda
bergolak dan tampil ke muka. Dan manifes yang pernah dikeluarkan oleh salah satu rombongan
pemuda, "the Monkees", dapat kita pandang sebagai slogan mereka: "Kami adalah generasi baru
dan kami ingin mengatakan sesuatu".

Latihan
1. Buatlah sebuah halaman judul skripsi berdasarkan data-data berikut: Seorang mahasiswa
Fakultas Teknik Universitas Indonesia diwajibkan membuat sebuah skripsi dengan judul
"Tenaga Atom, manfaatnya dalam tujuan-