Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Frekuensi Diare Dan Konsistensi Feses sebelum diberikan madu pada

Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan

Tabel 4.1. Frekuensi Diare Dan Konsistensi Feses sebelum diberikan


madu pada Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan
Frekuensi diare N Mean Media Std. deviasi Min Max
n
Sebelum 10 5.30 5.00 0.674 4 6
Sesudah 10 2.30 2.00 0.483 2 3

Berdasarkan tabel 4.1. di atas maka dapat diketahui bahwa

frekuensi diare balita di Puskesmas Tlogosari Wetan sebelum diberikan

madu mempunyai rata-rata/mean 5.30 dengan median 5.00, std.deviasi

0.674, dan frekuensi diare terendah 4 kali dan tertinggi 6 kali dan setelah

diberikan madu mempunyai rata-rata/mean 2.30 dengan median 2.00,

std.deviasi 0.483, dan frekuensi diare terendah 2 kali dan tertinggi 3 kali. .

2. Frekuensi Diare Dan Konsistensi Feses sesudah diberikan madu pada

Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan

Tabel 4.2. Frekuensi Diare Dan Konsistensi Feses sesudah diberikan


madu pada Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan
Konsistensi feses N Mean Median Std. deviasi Min Max
Sebelum 10 1.10 1.00 0.316 1 2
Sesudah 10 2.20 2.00 0.421 2 3

Berdasarkan tabel 4.2. di atas maka dapat diketahui bahwa

konsistensi feses balita di Puskesmas Tlogosari Wetan sebelum diberikan

57
58

madu mempunyai rata-rata/mean 1.10 dengan median 1, std.deviasi 0.316,

dan konsistensi feses terendah 1 dan tertinggi 2 dan setelah diberikan madu

mempunyai rata-rata/mean 2.20 dengan median 2, std.deviasi 0.421, dan

konsistensi feses terendah 2 dan tertinggi 3.

3. Pengaruh pemberian Madu terhadap Frekuensi Diare dan

Konsistensi Feses pada Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan

Sebelum dilakukan analisa bivariat terlebih dahulu dilakukan uji

normalitas untuk menentukan alat ukur yang akan digunakan dalam

analisa bivariat. Hasil uji normalitas frekuensi diare dan konsistensi feses

sebelum dan sesudah diberikan madu didapatkan nilai p value sebelum

0,015 sesudah 0,000, dan konsistensi feses sebelum 0,000 sesudah 0.000 <

0,05 sehingga data disimpulkan terdistribusi tidak normal sehingga

menggunakan uji korelasi Wilcoxon Signed Ranks Test dengan hasil

sebagai berikut :

Tabel 4.3. Analisa Pengaruh pemberian Madu terhadap Frekuensi


Diare dan Konsistensi Feses pada Balita Di Puskesmas
Tlogosari Wetan

Median p_value
Frekuensi Diare sebelum diberikan madu pada Balita 5.00
0,003
Frekuensi Diare sesudah diberikan madu pada Balita 2.00
Konsistensi Feses sebelum diberikan madu pada Balita 1.00
0.005
Konsistensi Feses sesudah diberikan madu pada Balita 2.00

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji korelasi

Wilcoxon Signed Ranks Test maka didapatkan hasil p value frekuensi

diare sebesar 0,003 dan konsistensi fese 0.005 < 0,05 maka dapat
59

disimpulkan ada Pengaruh pemberian Madu terhadap Frekuensi Diare dan

Konsistensi Feses pada Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan

B. Pembahasan

1. Frekuensi Diare Dan Konsistensi Feses sebelum diberikan madu pada

Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa frekuensi

diare balita di Puskesmas Tlogosari Wetan sebelum diberikan madu

mempunyai rata-rata/mean 5.30, balita terlihat lemas, hanya berbaring

ditempat tidur saja, disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada anak,

setiap makan dan minum balita bab dengan konsistensi encer dan setelah

diberikan madu frekuensi diare rata-rata/mean 2.30, dengan keadaan anak

terlihat segar, dengan asupan gizi yang dapat dicerna secara normal,

sehingga balita tidak kelihatan pucat dan lemas, balita dapat beraktivitas

seperti bermain.

Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair,

bahkan dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya

(tiga kali atau lebih) dalam satu hari.16 Diare adalah buang air besar

pada balita lebih dari 3 kali sehari disertai perubahan konsistensi tinja

menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang

dari satu minggu.17

Salah satu faktor resiko terjadinya diare adalah pada rentan usia

anak-anak khusunya pada usia balita, hal ini dapat disebabkan karena
60

dalam usia balita anak-anak akan dengan mudah memakan makanan yang

terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen penyebab diare.39 Menurut

Asritadda Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan

penyebab utama diare pada anak, ini meliputi infeksi bakteri (E.coli,

Salmonella, Vibrio cholera), virus (enterovirus, adenovirus, rotavirus),

parasit (cacing, protozoa). Infeksi parenteral yaitu infeksi yang berasal dari

bagian tubuh yang lain diluar alat pencernaan, seperti otitis media akut

(OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumoni.40.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rika Herawati : Pengaruh

Pemberian Madu Terhadap Penurunan Frekuensi Diare Pada Anak Balita

Di Rumah Sakit Umum (RSUD) Rokan Hulu. Hasil penelitian rata-rata

frekuensi diare awal sebelum diberikan madu (pre-test) pada

kelompok kasus adalah 7.5 kali dengan SD 2.6 kali, dan SE 0.9 kali serta

frekuensi diare terendah 5 kali dan frekuensi diare tertinggi 12 kali.

Sedangkan rata-rata frekuensi diare awal sebelum diberikan madu (pre-

test) pada kelompok kontrol adalah 7.5 kali dengan SD 0.9 kali, dan SE 0.3

kali serta frekuensi diare terendah 6 kali dan frekuensi diare tertinggi 9

kali.42

2. Frekuensi Diare Dan Konsistensi Feses sesudah diberikan madu pada

Balita

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa

konsistensi feses balita di Puskesmas Tlogosari Wetan sebelum diberikan


61

madu mempunyai rata-rata/mean 1.10 etelah diberikan madu mempunyai

rata-rata/mean 2.20.

Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair,

bahkan dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya

(tiga kali atau lebih) dalam satu hari.18 Diare adalah buang air besar

pada balita lebih dari 3 kali sehari disertai perubahan konsistensi tinja

menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang

dari satu minggu.19

Madu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya

sebagai antibakteri, antioksidan, dan mengandung banyak vitamin

diantaranya Thiamin, Riboflavin, dan Niacin. Madu bahkan digunakan

untuk melancarkan gangguan sistem gastrointestinal seperti konstipasi, dan

obesitas. Daya anti bakteri madu disebabkan oleh karena madu

mengandung flavonoid dan memiliki mekanisme antibakteri yang terdiri

dari tekanan osmosis madu, keasaman, dan adanya senyawa inhibine.

Madu terutama mengandung gula dan air. Kadar gula yang terkandung

dalam madu mencapai 95-99% terdiri dari fruktosa (38, 2%), glukosa (31,

3%) dan jenis gula lain seperti maltosa, sukrosa, isomaltosa, dan beberapa

oligosakarida. Di samping itu, terdapat juga zat lain dalam jumlah yang

sedikit yaitu asam amino, resin, protein, garam, dan mineral. 43 Dari studi

laboratorium dan uji klinis, madu murni memiliki aktivitas bakterisidal

yang dapat melawan beberapa organisme enteropathogenic, termasuk

diantaranya spesies dari Salmonella, Shigella dan Escherichia Coli.44


62

Madu dapat memperbaiki mukosa usus yang rusak, merangsang

pertumbuhan jaringan baru dan bekerja sebagai agen anti-inflamasi,

Pertumbuhan spesies bakteri yang menyebabkan infeksi lambung,

seperti C. Frundii, P. Shigelloides, dan E. Coli, juga dapat dihambat

oleh ekstrak madu.44

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rika Herawati : Pengaruh

Pemberian Madu Terhadap Penurunan Frekuensi Diare Pada Anak Balita

Di Rumah Sakit Umum (RSUD) Rokan Hulu. Hasil penelitian Rata-rata

frekuensi diare akhir setelah diberikan madu (post - test) pada kelompok

kasus adalah 2.1 kali dengan SD 1.4 kali, dan SE 0.5 kali serta frekuensi

diare terendah 1 kali dan frekuensi diare tertinggi 5 kali. Sedangkan rata-

rata frekuensi diare akhir setelah diberikan madu (post-test) pada

kelompok kontrol adalah 3.2 kali dengan SD 0.4 kali, dan SE 0.1 kali serta

frekuensi diare terendah 3 kali dan frekuensi diare tertinggi 4 kali.42

3. Pengaruh pemberian Madu terhadap Frekuensi Diare dan

Konsistensi Feses pada Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji korelasi

Wilcoxon Signed Ranks Test maka didapatkan hasil p value frekuensi

diare sebesar 0,003 dan konsistensi feses 0.005 < 0,05 maka dapat

disimpulkan ada Pengaruh Frekuensi Diare dan Konsistensi Feses sebelum

dan sesudah diberikan Madu pada Balita Di Puskesmas Tlogosari Wetan.

Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada

anak di Negara berkembang. Diare disebabkan berbagai keterbatasan


63

yang ada. Kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat yang masih rendah,

serta rendahnya tingkat pengetahuan tentang kesehatan, dan akses

terhadap layanan kesehatan yang sulit dijangkau baik dari sisi jarak

maupun kemampuan membayar. Penyebab utama kematian akibat diare

adalah dehidrasi, akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui feses.45

Penanganan diare pada balita 3-5 tahun dapat dilakukan dengan

terapi farmakologi dan non farmakologi. Terapi farmakologi

menggunakan attapulgite suspensi yaitu obat yang bekerja dengan cara

memperlambat pergerakan usus besar sehingga membuat usus mampu

menyerap air dan feses akan menjadi lebih padat, dosis attapulgeti

suspensi adalah 300 mg, setiap setelah buang air besar. Dosis harian

maksimalnya adalah 2100 mg /hari ( 24 jam ). Pemberian Zinc 20 mg

dengan dosis 1 tablet/hari yaitu salah satu cara yang dimanfaatkan untuk

membantu mengatasi diare pada balita, bersama dengan pemberian cairan

untuk dehidrasi serta memenuhi kebutuhan mineral yang hilang akibat

diare. Sedangkan oralit biasanya diberikan pada anak ketika mengalami

diare atau muntah yang parah untuk menggantikan cairan yang hilang

yaitu dengan dosis 125 hingga 250 ml setiap 4 – 6 jam. Kemudian terapi

non formakoligi yaitu salah satunya dengan cara pemberian madu.

Pengaruh madu terhadap organ pencernaan sebagai unsur

pembersih, yaitu tidak membiarkan pertumbuhan dan perkembang biakan

kuman-kuman didalam organ pencernaan, madu dapat menurunkan kadar

asam lambung, dimana madu mengandung zat-zat antibodi yang


64

berfungsi dalam saluran pencernaan. Madu juga mengandung unsur-unsur

mineral, garam, sodium, potassium, kalsium dan magnesium serta

berbagai macam vitamin. Semua unsur ini menormalkan kerja saluran

pencernaan, menciptakan keseimbangan dalam gerakan dorong menuju

usus dan mengatur arah pergerakannya.46 Kandungan madu yang lebih

berperan dalam frekuensi diare dan konsistensi feses yaitu flavonoid,

polipthaenol dimana kandungan ini berperan dalam memperbaiki absorbsi

cairan dan elektrolit yang dapat mengurangi frekuensi diare dan

konsistensi feses.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Rika Herawati 2017: Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan

Frekuensi Diare Pada Anak Balita Di Rumah Sakit Umum (RSUD) Rokan

Hulu sada terdapat pengaruh penurunan frekuensi diare sebelum dan

sesudah diberikan madu.42

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh

Puspitayani pada tahun 2014 tentang pengaruh pemberian madu terhadap

penurunan frekuensi diare anak balita di Desa Ngumpul, Jogoroto,

Jombang dengan jumlah sampel 40 yang dibagi menjadi 2 kelompok

yaitu 20 kelompok kasus dan 20 kelompok kontrolmenyatakan bahwa

pada kelompok kasus penurunan frekuensi diare sebagian besar cepat

(65%), sedangkan pada kelompok kontrol penurunan frekuensi diare

sebagian besar lambat (40%). Hasil penelitian ada perbedaan lama


65

Penurunan Frekuensi Diare antara kelompok yang menggunakan madu

dan kelompok yang tidak menggunakan madu.44

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

1. Frekuensi diare balita di Puskesmas Tlogosari Wetan sebelum diberikan

madu mempunyai rata-rata/mean 5.30 dengan median 5.00, std.deviasi

0.674, dan frekuensi diare terendah 4 kali dan tertinggi 6 kali dan setelah

diberikan madu mempunyai rata-rata/mean 2.30 dengan median 2.00,

std.deviasi 0.483, dan frekuensi diare terendah 2 kali dan tertinggi 3 kali. .

2. Konsistensi feses balita di Puskesmas Tlogosari Wetan sebelum diberikan

madu mempunyai rata-rata/mean 1.10 dengan median 1, std.deviasi 0.316,

dan konsistensi feses terendah 1 dan tertinggi 2 dan setelah diberikan

madu mempunyai rata-rata/mean 2.20 dengan median 2, std.deviasi 0.421,

dan konsistensi feses terendah 2 dan tertinggi 3.


66

3. Hasil p value frekuensi diare sebesar 0,003 dan konsistensi feses 0.005 <

0,05 maka dapat disimpulkan ada Pengaruh Frekuensi Diare dan

Konsistensi Feses sebelum dan sesudah diberikan Madu pada Balita Di

Puskesmas Tlogosari Wetan.

B. Saran

1. Bagi ibu balita

Hasil penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan tentang penanganan diare

bagi ibu yang anaknya mengalami diare sehingga dapat menangani secara

non farmakologi yaitu dengan memberikan madu.

2. Bagi tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan untuk dapat mengaplikasikan didunia kesehatan serta

dapat memberikan masukan bagi ibu balita yang mempunyai anak

mengalami diare dengan memberikan terapi non farmakologi dengan

memberikan madu .

3. Bagi Puskesmas

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberi informasi bagi pihak

puskesmas bahwa madu dapat mengurangi frekuensi diare pada anak

balita dan dapat dijadikan sebagai terapi alternative.


67

4. Bagi Peneliti yang Akan Datang

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi

yang dapat menambah pengetahuan mahasiswa untuk peneliti lain yang

akan melakukan penelitian di masa yang akan datang.