Anda di halaman 1dari 14

Megatruh

1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu, Margane suka basuki, Dimen luwar kang kinayun, Kalis ing
panggawe sisip, Ingkang taberi prihatos.

Janganlah berhenti, selalu berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan, keselamatan serta
tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

Ketika seseorang sudah menyadari akan keterbatasan usia di dunia, hendaklah ia selalu berdaya upaya
dalam berbuat kebajikan pada sesama. Kebajikan yang ditebarkan, tidaklah secara spesifik terjutu pada
satu person atau satu golongan tertentu, tapi kebajikan yang ditebarkan secara menyeluruh; menjadi
rahmat sekalian alam.

Dengan menebarkan kebajikan, ia akan mendapatkan kegembiraan. Ketulusan dari laku kebajikan akan
membuahkan sebuah rasa senang dari si pemberi dan si penerima. Perasaan tersebut sedemikian
kuatnya hingga tak kan ternilai dengan hal-hal yang sifatnya material. Ia tak terlukiskan dengan kata-
kata atau apa pun. Kegembiraan hakiki.

Perbuatan baik dapat membawa kita pada keselamatan. Dalam falsafah Jawa kita mengenal pepatah
“sapa nandhur bakal ngunduh”, siapa yang menanam akan menuai. Ketika kita menanam kebaikan,
maka yang kita tuai adalah kebaikan juga. Dan dalam kebaikan yang kita tanam itu akan memberi efek
baik pula pada lingkungan sekitarnya. Hal itu dapat menghindarkan kita dari keinginan untuk berbuat
buruk serta dapat memproteksi kita dari keburukan yang akan menimpa kita.

Ketika kebaikan sudah berbuah kebaikan dan dapat menepis keburukan yang ada, ia akan memuluskan
jalan kita pada tujuan yang kita harapkan. Ia akan memotivasi kita agar tetap pada jalan yang akan
membawa kita pada tujuan. Untuk lebih memudahkan pencapaian tujuan tersebut, hendaklah kita
selalu dalam laku prihatin, artinya selalu memproteksi diri pada hal-hal selain yang mengarah pada
tujuan, yaitu selalu berada pada jalan keilahian. Laku prihatin dapat juga diartikan sebagai suluk.

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh, Galedehan kang sayekti, Talitinen awya kleru, Larasen
sajroning ati, Tumanggap dimen tumanggon.
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama segala sesuatu sebagaimana adanya. Telitilah
jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mampu menangkap dan menempatkan.

Dalam menjalankan laku prihatin ini, hendaklah kita selalu membaca. Membaca tanda, membaca rupa,
membaca gejala. Pembacaan tersebut hendaklah sedemikian teliti, hinga tak kan meninggalkan sekecil
apa pun hal yang terlewatkan. Hal itu disebabkan karena dari hal-hal yang kecil itulah sebuah hakikat
dari sesuatu biasa akan menampakkan dirinya. Karena hakikat selalu tersembunyi pada hal-hal yang
kelihatannya remeh; pada hal-hal yang tak terduga.

Tidak sekadar membaca. Kita juga diharapkan mempu untuk memilah, menyaring, untuk kemudian
mengambilnya sebagai hikmah. Dalam memilah kita menggunakan potensi akal, sedangkan dalam
menyaring kita menggunakan hati. Istilah yang dipakai dalam syair di atas, kita harus mampu
mengendapkannya di dalam hati, artinya hati haruslah dijadikan pertimbangan utama dalam setiap
langkah yang kita ambil.

Segala sesuatu yang telah dianalisa oleh akal, haruslah melalui pengendapan di dalam hati sebelum kita
mengambilnya sebagai sebuah ilmu. Kedua proses inilah yang menjadi landasan kita dalam menangkap
realitas untuk kemudian menyikapinya. Dengan mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya serta
melalui pengendapan di dalam hati, akan mempermudah kita di dalam menyikapi segalas sesuatu, serta
mempunyai kebijakan di dalam menempatkannya dalam segala situasi dan kondisi. “Anggon mongso”,
pandai membaca situasi dan kondisi.

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, Angayomi ing tyas wening, Eninging ati kang suwung,
Nanging sejatining isi, Isine cipta sayektos.

Cara menempatkannya adalah dengan senantiasa menyelaraskan dengan keindahan, melindungi di


dalam kejernihan hati. Kejernihan hati yang kosong, namun sebenarnya berisi. Isinya adalah cipta yang
sejati.

Hendaklah kita selalu menempatkan diri pada keindahan. Baik keindahan di dalam maupun keindahan di
luar. Keindahan di dalam adalah keselarasan atau keharmonisan yang ada di dalam jiwa kita, sedangkan
keindahan di luar adalah keindahan yang berada di luar diri kita. Keindahan di luar meliputi; keindahan
warna, keindahan bentuk, keindahan suara, dan keindahan rupa. Dalam laku spiritual, kita harus berada
dan meliputi keindahan, karena Tuhan menciptakan segala sesuatu itu indah.
Endapkanlah setiap pikiran dalam memproteksi diri. Setiap pikiran, seliar apa pun, haruslah diendapkan
dulu di dalam hati, sebelum kita menyikapi realitas yang tertangkap. Dengan cara seperti itu, setiap
pikiran yang muncul akan terkendalikan, karena selalu melelui proses pengendapan. Endapan pikiran
itulah yang kemudian “angayomi ing tyas wening” memproteksi di dalam hati yang jernih.

Hendaklah kita mengosongkan hati kita dari segala sesuatu, bahkan kosong dari kedirian kita sendiri.
Kita harus dapat menghancurkan ego kita, karena Hakikat Keindahan tidak akan menerima dualitas. Dia
adalah Maha Pencemburu, tak rela bila diduakan. Tiada tempat bagi aku dan engkau. Yang ada hanyalah
Dia. Itulah makna dari “suwung sejatining isi”, kosong tapi hakikatnya berisi. Dan isi dari kekosongan itu
adalah “cipta sayektos”, Realitas Sejati.

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu, Lamun obah niniwasi, Kasusupan setan gundhul, Ambebidung
nggawa kendhi, Isine rupiah kethon.

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran hati. Sebab jika bergeser (dari hidup yang
penuh kebajikan) akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, yang menggoda membawa
kendi berisi uang banyak.

Segala bentuk laku, harus kita jalankan dengan penuh kesabaran hati. Kesabaran di sini adalah sebentuk
ketegaran dari tiap godaan yang mungkin timbul dalam laku spiritual. Kita harus mampu memfokuskan
tiap daya, cipta, dan rasa kita pada satu titik tujuan, yaitu Kebenaran. Dan kita haruslah
meneguhkannya, jangan sampai bergeser sedikitpun pada tujuan tersebut.

Kebergeseran dari tujuan, akan membawa kita pada penderitaan, bahkan kehancuran. Penderitaan di
sini bukanlah kekurangan akan gemerlapnya harta dunia, tapi penderitaan akibat keterpisahan dari Sang
Kekasih; keberjarakan antara pecinta dan Kekasih. Keterpisahan akan menyebabkan kerinduan, dan
kerinduan itulah yang dimaksudkan dengan penderitaan. Apabila kerinduan akibat keterpisahan itu
berlarut, itulah kehancuran yang sesungguhnya. Si pencinta selalu terpisah dari Sang Tercinta.

Idiom setan gundul dalam syair ini bukan hanya mengacu pada bentuk, tapi juga tabiat dari setan gundul
itu sendiri. Wujud Setan gundul adalah sebentuk anak kecil dengan kepala gundul, tanpa sehelai pun
bulu yang menempel di tubuhnya, baik di wajah ataupun di bagian mana pun dari tubuhnya. Ia licin dan
lucu. Apabila tidak terbentuk suatu image tentang setan gundul yang menggelikan, kita akan merasa
tergoda untuk bercanda bahkan berkawan dengan dia. Lucu dan menggemaskan.
Kebiasaan setan gundul adalah mencuri uang. Ia akan mempersembahkan hasil curiannya pada majikan
yang dipertuannya. Dalam syair di atas setan gundul yang menggoda membawa kendi yang penuh berisi
uang. Sebentuk godaan duniawi yang sangat menggiurkan. Tidak membawa kendi berisi uang pun, setan
gundul sudah identik dengan penghasil uang, apalagi bila ia membawa kendi yang penuh berisi uang.
Jadi, idiom setan gundul digunakan oleh Ki Pujangga sebagai bentuk godaan akan gemerlapnya harta
dunia.

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu, Dadi panggonaning iblis, Mlebu mring alam pakewuh,
Ewuh mring pananing ati, Temah wuru kabesturon.

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa
mendapatkan kesulitas-kesulitan, mamasuki alam kecanggungan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati
yang baik, hingga jiwanya menjadi terganggu.

Apabila kita tergoda pada perbuatan yang tidak mengarah pada tujuan hidup kita, sudah pasti hati kita
akan menjadi sarang iblis. Iblis adalah makhluk yang selalu mengajak kita pada segala sesuatu yang
dapat membelokkan hati kita pada jalan keilahian. Sebuah kenaifan apabila kita menempatkannya di
dalam hati kita, kita akan selalu dibawanya pada jalan yang akan menjauhkan kita pada Kebenaran.

Seseorang yang hatinya menjadi sarang iblis akan senantiasa mendapatkan kesulitan dan kerepotan.
Kesulitan dan kerepotan di sini bukanlah kesulitan dan kerepotan dalam hal keduniawian. Bisa saja dia
tercukupi kebutuhan hidupnya. Kesulitan di sini adalah kesulitan dalam menemukan jalan kebenaran,
jalan keilahiahan. Karena iblis akan selalu berusaha menutupi, bahkan membelokkan.

Kebenaran akan semakin terhijab. Ia akan menjadi orang yang serba canggung; berbuat ini salah, itu
salah, hingga tidak ada keberanian untuk melakukan sesuatu karena selalu dihantui pada kesalahan-
kesalahan. Hal itu terjadi karena dalam tiap tindakannya tidak didasari pada pengendapan atau
penyaringan di dalam hati. Ketakutan yang menghantui dirinya, pada titik tertentu akan menbuat
jiwanya menjadi terganggu. Ia tidak akan bisa berpikir secara jernih, apalagi menggunakan hatinya
sebagai penyaring. Hatinya akan mati, ia akan menjadi orang yang tanpa perasaan.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu, Hayuning tyas sipat kuping, Kinepung panggawe rusuh,
Lali pasihaning Gusti, Ginuntingan dening Hyang Manon

Bila sudah terlanjur demikian, tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala
yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan
cinta kasih Tuhan. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping dari dirinya.

Orang yang sudah terlanjur terganggu kejiwaannya akibat hatinya telah menjadi sarang iblis, ia tidak
akan tertarik pada perbuatan yang dapat membawanya kepada kebajikan. Hatinya telah dikuasai oleh
iblis, dan hati adalah sentral dari seluruh organ tubuh. Jadi seluruh organ tubuhnya akan senantiasa
dikendalikan oleh iblis. Sinonim dari iblis adalah kesesatan dalam pembangkangan.

Segala kebajikan akan menjauh darinya, karena iblis akan selalu membawanya menjauh dari kebajikan
tersebut. Jiwa dan raganya sudah dikuasai oleh kekuatan keburukan, ia akan menolak segala kebaikan
yang mendekatinya.

Kesadaran akan keberadaan ketuhanan sudah terlupakan, bahkan hilang sama sekali dari dalam dirinya.
Ia tidak lagi menyadari cinta kasih Tuhan yang selalu mencintai dan mengasihinya. Sedemikian kuat iblis
menguasai hati seseorang hingga mampu menolak kesadaran akan cinta kasih Tuhan.

Semua ajaran yang pernah diterimanya tentang Tuhan, sudah musnah dari dirinya. Ia menjadi serpihan
yang tak kan bisa tersusun lagi menjadi sebuah bentuk. Semua jalan yang pernah ia kenal dalam menuju
ke kehadirat Ilahi, sudah terlupakan, bahkan hilang sama sekali.

7. Parandene kabeh kang samya andulu, Ulap kalilipen wedhi, Akeh ingkang padha sujut, Kinira yen
Jabaranil, Kautus dening Hyang Manon.

Namun demikian yang telah “melihat”, matanya bagai kemasukan pasir, banyak yang menyerah pada
keadaan, menganggap bahwa Jabaranil adalah utusan Tuhan.

Bagi orang yang “melihat” kebaikan dan keburukan di muka bumi, ia masih tidak mampu untuk
membedakannya. Tidak mampu memilah; mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang nyata dan
mana yang semu. Karena demikian tipis bedanya. Orang yang melihat bagaikan matanya kemasukan
pasir. Ia tidak akam mampu mengamati dengan teliti karena terhalang oleh keragu-raguan pada dirinya.

Tak sedikit mereka yang menyerah pada keadaan. Yang terjadi biarlah terjadi, dan tidak berusaha untuk
peduli. Ia hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Dengan kata lain, ia hanya memperhatikan
keindahan di dalam, tanpa memperhatikan keindahan di luar. Ia tidak sadar, keindahan di luar juga
sangat berpengaruh di dalam spiritualitas seseorang. Ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar akan
memunculkan egoisme, kedirian. Dan ego tidak akan mungkin dapat mendekat pada Kebenaran.

Jabaranil adalah satu sosok person yang penuh misteri. Dia berwujud sesosok manusia yang mengaku
mendapatkan wahyu keilahiahan dan mendapat wewenang untuk membimbing manusia ke jalan “yang
benar”. Ia pandai merayu dengan iming-iming gemerlapnya harta dunia bahkan kebahagiaan di akhirat
kelak. Ia juga pandai memutarbalikkan fakta, hingga tiada lagi batas antara kesesatan dan kebenaran;
dia sesat dan menyesatkan. Itulah kenapa saya tetap menggunakan bahasa aslinya, tidak mencoba
untuk menterjemahkannya. Angapan bahwa Jabaranil adalah utusan Tuhan, bermula dari
ketidakmampuan dalam pemilahan, hingga yang semu dianggap nyata. Fenomena ini di kemudian hari
kita kenal dengan istilah “nabi palsu”.

Kunci dari syair ini adalah pada kata “andulu”. Andulu secara harfiah bermakna melihat. Tapi dapat juga
dipakai untuk maksud mendeteksi dengan indera. Jadi, syair ini adalah salah satu bentuk kritisisasi
terhadap keterbatasan indera. Indera hanya mampu menangkap realitas dengan batas-batas tertentu
saja. Ia tidak mempunyai kemampuan untuk memaknai, apalagi memahamkan.

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh, Kewuhan sajroning ati, Yen tiniru ora urus, Uripe kaesi-
esi, Yen niruwa dadi asor

Namun bagi yang

menyadari akan hakikat perintah, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut.
Bila diikuti hidupnya akan tercela, akan disia-siakan, akhirnya menjadi sengsara.

Bagi yang menyadari akan keberadaan Realitas Sejati, ia juga akan mengerti tentang apa yang
sebenarnya diinginkanNya. Namun ia juga tidak luput dari kebingungan di dalam dirinya. Ia akan
mengalami kesulitan di dalam mengungkapkan pengalaman-pengalaman spiritualnya. Keinginan untuk
menyampaikan kebenaran terhalang oleh minimnya bahasa untuk menjelaskannya.
Pengalaman spiritual yang dialaminya sendiri, sangatlah berbeda dengan realitas yang tampak di dunia.
Dan apabila dia sudah tidak mampu lagi membendung “kebenaran” tersebut, maka kebenaran itu
dengan sendirinya akan keluar dari dalam dirinya, baik melalui ucapan ataupun melalui perbuatan. Baik
hal itu disadari ataupun tidak. Kebenaran akan keluar.

Ketidaksiapan orang-orang di sekitarnya dalam menerima kebenaran tersebut, akan menyebabkan ia


dikucilkan dari masyarakat. Dianggap gila, tidak waras, bahkan dianggap sesat. Ia akan disia-siakan oleh
masyarakat. Hal itulah yang membuatnya mengalami penderitaan di dunia.

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, Anggelar sakalir-kalir, Kalamun temen tinemu,
Kabegjane anekani, Kamurahane Hyang Manon.

Tidak percaya kepada kegaiban Ilahi, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan
setekun-tekunnya dalam menemukan kebenaran, ia akan memegang keberuntungan. Semua itu karena
kemurahhatian Tuhan.

Itulah hukuman bagi orang yang tidak mampu menyimpan rahasia Ilahi. Ia mengungkapkan kebenaran
tidak pada tempatnya. Ia tidak menyadari, kebenaran yang diperolehnya adalah hadiah yang disematkan
untuk dirinya sendiri. Agar dia selalu terbimbing di dalam jalan keilahiahan. Tuhanlah yang menitahkan
bumi dan langit, dan Dia berkuasa penuh atasnya. Hanya Dialah yang mampu menyingkapkan
kebenaran, karena Dia adalah Kebenaran itu sendiri.

Siapa pun yang dengan segala daya dan upaya berusaha dalam menemukan Kebenaran, ia akan
menemukannya. Dan dia akan memegang Kebenaran tersebut dengan kuat, tak ingin melepaskannya
lagi.

Itulah orang-orang yang beruntung; yaitu orang yang telah menemukan Kebenaran dan memegangnya.
Ia menjadikan Kebenaran sebagai pegangan dalam tiap langkah yang diambilnya dalam menapaki
kehidupan di dunia. Semua itu ia dapatkan karena kemurahhatianNya. Tidak lain.

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun, Yen temen-temen sayekti, Dewa aparing pitulung, Nora
kurang sandhang bukti, Saciptanira kelakon
Selalu memenuhi permohonan bagi yang meminta, bila dilakukan dengan setulus hati. Tuhan akan selalu
memberi pertolongan, tidak kurang bukti-bukti yang tampak, sekehendaknya akan tercapai.

Tuhan akan mengabulkan setiap permintaan apabila itu dilakukan dengan kesungguhan. Kesungguhan di
sini bukan hanya dari segi pengucapan ataupun niatnya saja, tapi haruslah dibarengi dengan ketulusan
dalam tindakan. Ia haruslah berusaha sekuat tenaga meraih apa yang menjadi idam-idamannya. Itulah
makna dari “sayekti”. Dan Tuhan akan selalu memberikan pertolongannya pada orang yang “sayekti”.

Sudah banyak bukti yang tergelar di hadapan kita tentang pertolongan Tuhan tersebut. Orang yang
dengan kuat memegang Kebenaran, apa yang diinginkannya akan tercapai. Karena dia sudah lebur di
dalam Kebenaran itu sendiri, hingga sudah tidak ada lagi dia, yang ada adalah Dia, dengan D besar. Maka
tidaklah dia melempar ketika dia melempar, tapi Dia yang melempar. Tidaklah dia berkehendak ketika
dia berkehendak, tapi Dialah yang berkehendak.

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur, Saka pengunahing Widi, Ambuka warananipun, Aling-aling
kang ngalingi, Angilang satemah katon

Sambil memberi petuah, Ki Pujangga dengan izin Tuhan akan membuka selubung yang menjadi rahasia
Tuhan. Selubung yang menutupi sebuah rahasia, sehingga dapat diketahui.

Dengan seizin Tuhan, Ki Pujangga selain memberikan petuah-petuah tentang kesempurnaan hidup, juga
akan membuka sebuah selubung yang selama ini menjadi rahasia Tuhan. Ia akan berusaha membukanya
hingga tidak ada lagi yang menutupinya. Membuka rahasia yang selama ini tertutupi dan
menyingkapkannya kepada khalayak.

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh, Sudranira andadi, Rahurune saya ndarung, Keh tyas mirong
murang margi, Kasekten wus nora katon

Manusia-manusia yang hidup didalam zaman canggung, cenderung merusak. Kerusakan yang
ditimbulkannya makin menjadi-jadi. Banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas rel kebenaran,
kasekten sudah tidak tampak.
Syair ini menggambarkan bagaimana terjadinya zamam “pakewuh”, Zaman Canggung; zaman serba
salah. Zaman ini dicirikan dengan kecenderungan pada manusia yang hidup di zaman itu untuk
melakukan pengrusakan di mana-mana. Dan kerusakan yang ditimbulkannya sedemikian hebat hingga
tidak mungkin lagi untuk ditanggulangi.

Dalam zaman “pakewuh”, banyak pikiran orang-orang yang sudah tidak berjalan lagi pada rel kebenaran.
Mereka sudah dirasuki oleh nafsu angkara, hingga tak sedikit pun kebenaran terbersit di dalam dirinya.
Kebenaran seolah-olah sudah lenyap dari muka bumi.

Kasekten sudah tidak Nampak di muka bumi. Sengaja saya tidak berusaha menterjemahkan kata
kasekten, karana takut memberikan pemahanam yang keliru pada kata tersebut. Secara harfiah,
kasekten diterjemahkan sebagai kesaktian. Dalam kata kesaktian, kita akan terbawa pada suatu sosok
yang penuh dengan daya magis hingga mempu melakukan perbuatan yang tidak masuk akal. Tapi
keterangan ini juga masih rancu, terutama bila dibandingakan dengan ahli klenik dan ahli magis.

Kasekten biasanya didapat dari sebuah laku. Dalam laku tersebut, seseorang haruslah mampu melewati
tahap-tahap tertentu dalam olah jiwa dan raga. Kasekten adalah hasil maksimal yang diperoleh sang
tapa dalam laku. Dengan kasekten yang diperolehnya, ia akan menjadi orang yang bijak, mampu
memaksimalkan kekuatan fisik sekaligus kekuatan batinnya.

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh, Kenyaming sasmita sayekti, Sanityasa tyas malatkunt,
Kongas welase kepati, Sulaking jaman prihatos

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin dalam diri orang yang mempunyai kasekten,
merasakan sasmita tersebut, senantiasa merenung. Angkara murka sudah mengalahkan cinta kasih.
Zaman penuh keprihatinan tersebut.

Melihat tanda-tanda yang diberikan Sang Waktu, para bijak semakin prihatin. Ia makin tenggelam dalam
perenungan. Kekacauan, kejahatan, dan pengrusakan sudah mencapai puncaknya.
Angkara murka sudah merasuk dalam diri manusia yang hidup pada zaman itu. Tak ada lagi cinta kasih
tercermin dalam perbuatan manusia. Tanda-tanda zaman jelas-jelas memprihatinkan.

14. Waluyane benjang lamun ana wiku, Memuji ngesthi sawiji, Sabuk tebu lir majenum, Galibedan
tudang tuding, Anacahken sakehing wong

Zaman Canggung itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877 (Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8,
Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945). Ada orang yang berikat pinggang tebu
perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, seolah menghitung banyaknya
orang.

Ki Pujangga meramalkan berakhirnya Zaman Canggung itu adalah pada tahun saka 1877, yang
bertepatan dengan tahun 1945 masehi. Hal itu sudah terbukti dengan diproklamasikannya kemerdekaan
Indonesia pada tahun tersebut.

“Wiku memuji ngesti sawiji”, selain menunjukkan suatu angka tahun, juga merupakan kalimat yang
mengandung suatu makna. Wiku berarti pertapa; memuji berarti memuja atau mengagungkan; ngesti
berarti memproteksi diri demi satu tujuan mulia; sawiji berarti manunggal. Jadi wiku memuji ngesti
sawiji dapat diartikan sebagai seorang pertapa yang mengagungkan nama Tuhan dengan suatu laku agar
dia dapat manunggal dalam keilahian.

Ia juga meramalkan munculnya seorang tokoh yang berikat pinggang tebu. Idiom tebu biasa digunakan
oleh orang-orang Jawa untuk menggambarkan seseorang yang mempunyai kebulatan tekat. Tebu
berasal dari kata “anteping kalbu”, kebulatan batin. Orang yang berikat pinggang tebu adalah orang
yang mampu menyatukan segala daya dan upayanya untuk satu tujuan demi keluhuran jiwa. Ikat
pinggang biasa digunakan untuk melambangkan orang yang bisa menyatukan massa; menyatukan
orang-orang, untuk satu tujuan. Dalam konteks ini adalah kemerdekaan Indonesia.

Tokoh tersebut digambarkan seperti orang gila. Idiom orang gila biasa digunakan untuk orang yang
terobsesi oleh idealimenya. Ia demikian terhegemoni hingga semua ucapan dan tingkah lakunya
mengarah pada tujuannya tersebut. Dalam syair ini Ki Pujangga menggunakan kata Majnun, sebuah
nama yang tidak asing lagi di dunia tasawuf. Majnun adalah tokoh yang tergila-gila pada Laila; seorang
lelaki pemuja wanita. Kalau mau kita artikan lebih dalam, Majnun dapat pula kita maknai sebagai
seseorang yang terobsesi oleh kegelapan; terpesona oleh “gaibing Hyang Agung”.
Sang tokoh juga digambarkan selalu hilir-mudik menunjuk kian kemari, seolah menghitung banyaknya
orang. Ini menggambarkan seorang orator ulung yang dalam tiap orasinya selalu mendapatkan
sambutan massa. Dari sini saya mulai mencurigai seorang tokoh yang kharismanya sama persis dengan
tokoh yang digambarkan dalam syair tersebut. Dia adalah bapak proklamator kita, Soekarno. Besar
kemungkinan Beliaulah yang diramalkan sebagai Majnun oleh Ki Pujangga.

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu, Kala Suba kang gumanti, Wong cilik bisa gumuyu, Nora kurang
sandhang bukti, Sedyane kabeh kelakon

Disitulah baru mereda Zaman Kala Bendu. Diganti dengan Zaman Kala Suba. Rakyat kecil bersuka ria,
inilah tanda-tanda sebagai bukti bermulanya suatu zaman. Tercapai satu tujuan bersama.

Pada saat berakhirnya Zaman Canggung, maka mulai meredalah zaman “Kala Bendu”. Zaman kala bendu
adalah zaman yang digambarkan dengan kekacauan dan pengrusakan yang demikian dahsyat, lebih
dahsyat dari yang terjadi pada Zaman Canggung. Kedahsyatan Zaman Kala Bendu sering digambarkan
dengan “bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap”, bumi mengalami kegoncangan yang dahsyat hingga
langit menjadi tergetar.

Meredanya Zaman Kala Bendu adalah pertanda mulainya Zaman Kala Suba. Zaman Kala Suba
digambarkan dengan kesuka-riaan rakyat kecil karena sudah terbebas dari penindasan. Mereka mulai
menjalankan aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan damai. Roda
perekonomian mulai terbangun. Kebutuhan akan sandang dan pangan tercukupi. Bukti inilah yang
menguatkan tercapainya satu tujuan bersama, yaitu kemerdekaan. Bermulanya suatu babak baru,
keterbebasan dari penjajahan.

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput, Mulur lir benang tinarik, Nanging kaseranging ngumur,
Andungkap kasidan jati, Mulih mring jatining enggon

Sayang sekali “penglihatan” Ki Pujangga belum sampai tuntas, bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
Syair ini menggambarkan suatu penyesalan dari Ki Pujangga, karena Beliau tidak sempat “melihat”
tanda-tanda hingga tuntas karena keterbatasan umur. Ia tidak sempat menarik benang hingga tuntas
dari ikatannya. Masih ada rahasia yang belum sempat ia ungkapkan; sebuah mesteri.

Beliau sudah melihat batas akhir dari hidupnya di dunia melalui mata batinnya, “kasidan jati”, tanda-
tanda yang jelas; tidak ada keraguan di dalamnya. Ia harus berpulang ke haribaan Hyang Agung.

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu, Tamating pati patitis, Wus katon neng lokil makpul, Angumpul
ing madya ari, Amerengi Sri Budha Pon.

Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah ditentukan waktunya. Jelas tertulis di Laufil Magfuz.
Kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

Batas akhir hidup Ki Pujangga tinggal delapan hari lagi sejak syair ini digubah. Akhir hayat seseorang
sudah ditentukan. Ia tidak bisa mengelak atau menangguhkan. Ia harus menghadap pada waktu yang
telah ditentukan.

Seluruh catatan tentang perjalanan hidup seseorang sudah jelas tertulis di Laufil Magfuz. Tidak ada satu
pun kejadian yang terlewatkan dari catatan tersebut. Seluruh makhluk masing-masing mempunyai
catatan di sana, tak terkecuali.

Dari sasmita yang diterima, Ki Pujangga mengetahui bahwa ia harus menghadap Tuhannya tepat pada
hari Rabu Pon.

18. Tanggal kaping lima antarane luhur, Selaning tahun Jimakir, Taluhu marjayeng janggur, Sengara
winduning pati, Netepi ngumpul sak enggon

Tanggal 5 bulan Sela tahun Jimakir Wuku Tolu, Windu Sengara, kira-kira waktu Lohor. Ketika matahari
tepat di tengah-tengah. Tiada mungkin mengangguhkan kematian. Itulah saat yang ditentukan Ki
Pujangga menyatu dalam Ketunggalan.
Waktu yang ditentukan itu adalah tanggal 5 Bulan Sela (Dulkangidah) Tahun Jimakir Wuku Tolu Sindu
Senggara dalam perhitungan Tahun Saka, bertepatan dengan tanggal 24 Desember tahun 1873 Masehi,
kira-kira pada tengah hari (waktu Lohor).

“Netepi kumpul sak enggon”, dapat juga diartikan dengan “Manunggal”. Dari sini jelas bahwa kematian
bagi Ki Pujangga adalah saat yang sangat dinanti-nantikannya, karena ia akan menyatu dengan Hyang
Agung. Saat kekasih menyatu dengan Sang Kekasih.

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur, Sawal ing tahun Jimakir, Candraning warsa pinetung, Sembah
mekswa pejangga ji, Ki Pujangga pamit layoti

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802. Ki Pujangga pamit pada jasad.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1, bertepatan dengan tahun masehi 1873).

Karya ini ditulis sebagai bentuk permohonan pamit Ki Pujangga sebelum Beliau berpulang ke haribaan
Hyang Agung. Ditulis pada hari rabu, tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802, bertepatan dengan tanggal 27
Oktober tahun 1873 Masehi.

Dalam menulis angka tahun, Ki Pujangga menggunakan kalimat “Sembah mekswa pejangga ji”. Sembah
dapat diartikan sebagai penghormatan yang setinggi-tingginya; mekswa berasal dari kata muswa,
kembali kepada kesucian, kekosongan; pejangga dari kata pujangga yang makna harfiahnya adalah ular.
Kata pujangga biasa digunakan untuk orang yang mempunyai kebijaksanaan yang demikian panjang dan
lentur dalam menyikapi setiap permasalahan, ia bijak dalam membaca situasi dan kondisi, dan tahu
bagaimana dan dimana menempatkan kebijakan yang ada padanya. Biasanya kata pujangga digunakan
untuk merujuk pada orang bijak bestari. Kata ji berasal dari kata sawiji yang merujuk pada ketunggalan.
Jadi, kalimat tersebut kira-kira berarti “penghormatan yang setinggi-tingginya dari Ki Pujangga untuk
seluruh makhluk yang akan ditinggalkannya di dunia. Dia sendiri sudah memasuki alam kehampaan, di
mana kediriannya sudah musnah dan melebur dalam Ketunggalan. Ia akan berpulang ke haribaan Sang
Pujangga”.

“Pamit layoti” adalah sebentuk ucapan perpisahan pada jasad yang akan ditinggalkan. Kalimat ini
ditujukan Ki Pujangga pada jasad yang selama ini telah menampung “diri” dan dengan setia
menemaninya selama hidup di dunia. Ada kesan Ki Pujangga memberikan penghargaan dan terimakasih
sedalam-dalamnya pada jasad yang telah menampungnya. Hal itu menandakan bahwa ia menjaga
keharmonisan antara lahiriah dan batiniah; keindahan di dalam sekaligus keindahan di luar, syarat
utama dalam laku spiritual.

Selamat berbahagia dalam “Penyatuan” Ki Pujangga, Sabdojatimu menjadi suluh dalam gelapku