Anda di halaman 1dari 46

KARYA TULIS ILMIAH

“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS


TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”

Disusun Oleh :

HENI ARLITA
NIM : 2017.49.024

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


TAHUN 2019/2020
“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS
TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan Sebagian Salah Satu Syarat Mendapat Gelar Ahli Madya Keperawatan Di
Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Disusun Oleh :
HENI ARLITA
NIM : 2017.49.024

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


TAHUN 2019/2020
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Heni Arlita


NIM : 2017.49.024
Tempat, tanggal lahir : Kediri ,16 Juli 1997
Institusi : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Bahwa Karya Tulis llmiah (KTI) yang Berjudul “Tindakan Keperawatan


Batuk Efektif Pada Kasus Tuberkulosis Paru (TBC) dengan Masalah
Keperawatan Bersihan Jalan nafas tidak Efektif” adalah bukan Karya Tulis
Ilmiah (KTI) orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dan bentuk
kutipan yang telah disebutkan sumbernya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya dan apabila
pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapatkan sanksi.

Kediri, 23 Desember 2019


Yang Menyatakan,

Heni Arlita
HALAMAN PERSETUJUAN

KARYA TULIS ILMIAH YANG BERJUDUL


“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS
TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”
DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
UNTUK DILAKSANAKAN UJI PROPOSAL
DI HADAPAN TIM PENGUJI

Pada Tanggal :
19 Desember 2019

Pembimbing I Pembimbing II

Hengky Irawan S.Pd,S.Kep.,Ns. ,M.Kes Sucipto, S.Kep.,Ns.,M.Kes


NIDN. 0711027601 NIDN. 0704027401
HALAMAN PENGESAHAN

KARYA TULIS ILMIAH YANG BERJUDUL


“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS
TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”

TELAH DIREVISI SESUAI REKOMENDASI UJI PROPOSAL

Pada Tanggal :
23 Desember 2019

Pembimbing I

Hengky Irawan S.Pd,S.Kep.,Ns. ,M.Kes


NIDN. 0711027601
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan
Hidayah-Nya, kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan dengan tepat
penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah yang berjudul : “Tindakan keperawatan
batuk efektif pada Tuberkulosis Paru (TBC) dengan masalah keperawatan bersihan
jalan nafas tidak efektif”.
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai prasyarat menyelesaikan
Pendidikan Diploma III Keperawatan Akper Dharma Husada Kediri. Dalam
penyusunan ini penulis banyak mendapatkan pengarahan, bimbingan, dukungan dan
sasaran dari berbagai pihak. Oleh karena itu mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Heny Kristanto S.Kp., M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Dharma
Husada Kediri yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan.
2. Bapak Hengky Irawan S.Pd,S.Kep.,Ns. ,M.Kes selaku pembimbing I yang telah
banyak meluangkan waktu, bimbingan, pengarahan, dan saran pengetahuan dalam
menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Bapak Sucipto, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku pembimbing 2 yang telah banyak
meluangkan waktu, bimbingan, pengarahan, dan saran pengetahuan dalam
menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Seluruh Dosen dan Tenaga Kependidikan Akademi Keperawatan Dharma Husada
Kediri yang telah membantu dalam menyelesaikan Proposal Karya Ilmiah ini.
5. Ke responden
6. Kedua Orang Tua yang telah banyak memberikan dukungan berupa moral dan
material serta memberikan semangat demi terselesainya Proposal Karya Tulis Ilmiah
ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh
dari sempurna, masih banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang sangat penulis
harapkan.
Akhirnya penulis berharap semoga Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat
bagi penulis khususnya yang akan digunakan untuk penelitian yang akan dilakukan.

Kediri, 23 Desember 2019


Penulis

Heni Arlita
NIM : 201749024
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Standar Operasional Prosedur


Lampiran 2: Evaluasi Tindakan
Lampiran 3: Kriteria Pasien
Lampiran 4: Surat Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 5: Jadwal Penyusunan KTI
Lampiran 6 : Surat Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 7: Format Pengkajian
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) Paru merupakan salah satu penyakit infeksi saluran
pernafasan. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang menyerang parenkim
paru-paru. Penyakit ini dapat menyebar kebagian tubuh lain seperti meningen, ginjal,
tulang dan nodus limfe [ CITATION Irm12 \l 14345 ] . Reaksi infeksi membentuk
kavasitas dan merusak parenkim paru yang menyebabkan edema trekeat atau
faringeal dan meningkatnya produksi sekret,pecahnya pembuluh darah jalan nafas
yang berakibat munculnya batuk produktif , batuk yang disertai darah, dan penurunan
kemampuan batuk efektif sehingga mengakibatkan ketidakefektifan bersihan jalan
nafas. [ CITATION Mus18 \l 14345 ]
Menurut Kemenkes RI (2011) mengatakan di Indonesia sekarang berada pada
ranking kedua negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Pada tahun 2014
ditemukan jumlah kasus baru BTA positif sebanyak 176.677 kasus, menurun bila
dibandingkan kasus BTA positif pada tahun 2013 sebesar 196.310 kasus. Estimasi
prevelensi TB semua kasus adalah sebesar 272 per 100.000 penduduk dengan
estimasi 2 berjumlah 183 per 100.000 penduduk. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 25 per 100.000 kematian[ CITATION Mus18 \l 14345 ]. Berdasarkan data
yang diperoleh dari Profil Kesehatan Kota Kediri, pada tahun 2015 data yang berhasil
dikumpulkan yaitu kasus baru TB paru BTA (+) sebanyak 167 orang. Jumlah
keseluruhan kasus TB paru 273 kasus, BTA (+) yang diobati sejumlah 140 orang
(83%), sedangkan angka kesembuhan untuk kasus TB paru BTA (+) yang ditemukan
pada tahun 2015 adalah 109 orang (76%). [ CITATION Ris18 \l 14345 ]
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dan merupakan
penyakit yang dapat menular. Mekanisme penularan TB paru dimulai dengan
penderita Paru BTA (+) mengeluarkan dahak yang mengandung kuman TB ke
lingkungan udara sebagai aerosol (partikel yang sangat kecil). Partikel aerosol ini
terhirup melalui saluran pernafasan mulai dari hidung menuju paru-paru tepatnya ke
alveoli paru. Pada alveoli kuman TB paru mengalami pertumbuhan dan
perkembangbiakan yang akan mengakibatkan terjadinya destruksi paru. Bagian paru
yang telah rusak atau dihancurkan ini akan berupa jaringan /sel-sel mati yang oleh
karenanya akan diupayakan oleh paru untuk dikeluarkan dengan reflek batuk. Oleh
karena itu , pada umumnya penderita akan mengalami batuk karena TB adalah
produktif, artinya berdahak. Selain batuk , penderita TB paru akan mengalami tanda
dan gejala lain seperti demam,badan terasa lemas,tidak nafsu makan dan sesak nafas
disertai bunyi ronkhi basah atau kering. Suara ronki ini menujukan adanya halangan
pada saluran udara yang lebih besar oleh sekresi,sehingga muncul masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif. [ CITATION Mus18 \l 14345 ]
Intervensi untuk mencegah terjadinya bersihan jalan nafas tidak efektif pada
penderita TB paru dapat dengan melakukan minum air hangat dengan tepat agar
mudah mengeluarkan dahak, melakukan fisioterapi dada juga merupakan strategi
untuk mengeluarkan sekret dan juga dapat melakukan batuk secara efektif dengan
menarik nafas dalam beberapa kali,keluarkan perlahan dan batukkan diakhir
ekhalasi(penghembusan), kemudian auskultasi suara paru setelah dilakukan
penanganan untuk menentukkan hasilnya. Dari sekian banyak kasus Tuberkulosis
Paru dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif penanganan yang diperlukan
dengan cara mudah adalah melakukan batuk efektif untuk memelihara kepatenan
jalan napas untuk membersihkan sekret atau dahak yang berlebih. Sehingga penulis
tertarik untuk mengambil judul “Tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru (TBC) dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak
efektif”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “
Bagaimana tindakan keperawatan batuk efektif pada Tuberkulosis Paru (TBC)
dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari dan melakukan tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan persiapan tindakan keperawatan batuk efektif pada dengan
masalah Tuberkulosis Paru keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
b. Mampu melakukan pelaksanaan tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak
efektif.
c. Mampu mengevaluasi hasil tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak
efektif.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar
tentang keperawatan medikal bedah dengan Tindakan keperawatan batuk
efektif pada tuberkulosis paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan
nafas tidak efektif.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi profesi keperawatan
Memberikan wawasan pada perawat untuk dapat menerapkan tindakan
keperawatan untuk melakukan batuk efektif pada kasus Tuberkulosis Paru
dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
b. Bagi Institusi pendidikan
Dapat memberikan masukan mengenai indikasi tentang tindakan
keperawatan batuk efektif pada kasus Tuberkulosis Paru dengan masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
c. Bagi keluarga
Memberi pengetahuan dan keterampilan pada keluarga tentang tindakan
keperawatan batuk efektif pada pada kasus Tuberkulosis Paru dengan
masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
d. Bagi Klien
Hasil studi kasus ini dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan
serta wawasan dalam mengatasi atau mengurangi perawatan diri pada
pasien.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Tuberkulosis Paru


1. Pengertian
Tuberkulosis merupakan infeksi bakterikronik yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini merupakan penyakit yang menular
dan menyerang paru-paru dan hampir seluruh organ tubuh lainnya seperti
tulang belakang,kelenjar getah bening, kulit ,ginjal dan selaput otak. B
Bakteri ini dapat masuk melalui saluran pernafasan dan pencernaan dan
luka terbuka pada kulit. Tetapi paling banyak melalui droplet yang berasal
dari orang yang terinfeksi bakteri tersebut.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

2. Etilogi
Tubekulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil
mycobacterium tuberculosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk
batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Tergolong
dalam kuman Myobacterium tuberculosae complex adalah :
a. M. Tuberculosae
b. `Varian Asian
c. Varian African I
d. Varian African II
e. M. Bovis
Sebagian kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang akan
membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut
bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia
dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan
dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena
kuman bersifat dormant, tertidur lama selama bertahun-tahun dan dapat
bangkit kembali menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Di dalam jaringan, kuman
hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag. Magrofag
yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak
mengandung lipid. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan
bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.
Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian
lainnya,sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit
tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran
pernafasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk ke dalam jaringan paru
melalui saluran nafas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadinya
infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat
dan terbentuklah primer kompleks (ranke), keduanya dinamakan tuberkulosis
primer yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami proses
penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh
mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis
yang kebanyakan didapatkan pada usia 1-3 tahun, sedangkan yang disebut
tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh
karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan
spesifik terhadap basil tersebut.
[ CITATION Mus18 \l 14345 ]

3. Patofisiologi
Tempat masuk kuman microbacterium tuberkulosis adalah saluran
pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit, kebanyakan
infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne) ,yaitu melalui inhalasi
droppet yang mengandung kuman-kuman basil turberkel yang berasal dari
orang yang terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi
terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung
tertahan disaluran hidung dan cabang besar bronkus yang tidak menyebabkan
penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus
atau paru-paru ,atau dibagian atas lobus bawah. Basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada
tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh tidak
membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit
diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi
dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh
dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat
juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam
sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening
regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan
sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit, yang dikelilingi
fosil. Reaksi ini bisa membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]
4. Proses Penularan
Tuberkulosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet
nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif.
Setiap kali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei.
Penularan umumnya terjadi dalam ruangan, dimana droplet nuclei dapat
tinggal dalam waktu lebih lama. Dibawah sinar matahari langsung basil
tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruangan yang gelap dan lembab dapat
bertahan beberapa jam. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan
Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara
dan panjang waktu individu bernafas dalam udara yang terkontaminasi
tersebut di samping daya tahan tubuh bersangkutan.
Kemudian penularan melalui saluran pernafasan (paling sering),
M.tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan
dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang).
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]
5. Klasifikasi Tuberculosis
a. Pembagian secara patologis :
1) Tuberculosis primer
2) Tuberculosis post primer
b. Pembagian secara aktivitas radiologi tuberculosis paru aktif, non aktif
dan quiescent (bentuk aktif yang mulai menyembuh )
c. Pembagian secara radiologis (luas lesi).
1) Tuberculosis minimal
Terdapat sebagian kecil infiltrat nonkavitas pada satu paru maupun
kedua paru, tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
2) Moderately advanced tuberculosis
Ada kavasitas dengan diameter tidak lebih dari 4cm. jumlah infiltrat
bayangan halus tidak lebih dari 1 bagian paru. Bila bayangan kasar
tidak lebih dari sepertiga bagian 1 paru.
3) Far advanced tuberculosis
Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada
moderately advanced tuberculosis.
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik
,radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting
karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi
terapi.
Sesuai dengan progam Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagi
berikut :
a. TB paru BTA Positif dengan kriteria :
1) Dengan atau tanpa gejala klinik
2) BTA positif : mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali
disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1
kali.
3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria :
1) Gejala klinik dan gambaran radiologik sesuai dengan TB Paru
aktif.
2) BTA negatif , biarkan negatif tapi radiologik positif.
c. Bekas TB Paru dengan kriteria :
1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif.
2) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.
3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjuk
kan serial foto yang tidak berubah.
4) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

6. Manifestasi Klinik
Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit
yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang jiga
memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita
gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang
asimtomatik.
Gambaran klinik TB Paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala
respiratorik dan gejala sistemik :
a. Gejala respiratorik, meliputi :
1) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini. Gejala ini banyak ditemukan.
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini
diperlukan untuk produk-produk radang keluar. Sifat batuk
dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif (menghasilkan spuntum) ini terjadi
lebih dari 3 minggu. Keadaan yang lanjut adalah batuk darah
(hemaptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
2) Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin
tampak berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah
atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah
terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk
darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang
pecah.
Gejala klinis Hemaptoe:
Kita harus memastikan bahwa pendarahan dari nasofaring
dengan cara membedakan ciri-ciri sebagai berikut :
a) Batuk darah
a. Darah yang dibatukkan dengan rasa panas di
tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negatif.
b) Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual.
b. Darah bercampur sisa makanan.
c. Darah berwarna hitam karena bercampur dengan
asam lambung.
d. Darah bersifat asam.
e. Anemia sering terjadi
f. Benzidin test positif

c) Epiktaksis
a. Darah menetes dari hidung.
b. Batuk pelan kadang keluar.
c. Darah berwarna merah segar.
d. Darah bersifat alkalis.
e. Anemia jarang terjadi.

3) Sesak nafas
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah
lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian dari paru-
paru.
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru
sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti
efusi pleura, pneumothoraks ,anemia dan lain-lain.

4) Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang
ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura
terkena.

b. Gejala sistemik, meliputi :


1) Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tapi
kadang-kadang panas bahkan dapat mencapai 40-41̊ C.
Keadaan ini sangat dipengaruhi daya tahan tubuh penderita
dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
2) Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia,
penurunan berat badan serta malaise ( Gejala melaise sering
ditemukan berupa : tidak ada nafsu makan, sakit kepala ,
meriang , nyeri otot, dll).
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-
bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk,panas,
sesak nafas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai
gejala pneumonia.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

7. Komplikasi
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :
a. Hemomtisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan nafas.
b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
c. Bronkiektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosis
(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada
paru.
d. Pneumotorax (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps
spontan karena kerusakan jaringan paru.
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak,tulang,persendian,ginjal
dan sebagainnya.
f. Insufiensi kardio pulmoner ( Cardio Pulmonary Insufficiency).
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tuberkulosis paru ada tiga bagian , yaitu pencegahan,
pengobatan ,dan penemuan penderita (active case finding).
Pencegahan Tuberkulosis Paru
a. Pemeriksaan kontak,yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul
erat dengan penderita tuberkulosis paru BTA positif. Pemeriksaan
meliputi tes tuberkulin,klinis, dan radiologis. Bila tes tuberkulin
positif, maka pemeriksaan radiologis foto thoraks diulang pada 6 dan
12 bulan mendatang. Bila masih negatif, diberikan BCG vaksinasi.
Bila positif, berarti terjadi konversil hasil tes tuberkulin dan diberikan
kemoprofilaksis.
b. Mass chest X-ray ,yaitu pemeriksaan masal terhadap kelompok-
kelompok populasi tertentu misalnya :
1) Karyawan rumah sakitt/puskesmas/balai pengobatan
2) Penghuni rumah tahanan
3) Siswa siswi pesantren.
c. Vaksinasi BCG
d. Kemoprofilaksis dengan menggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-12
bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri
yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis primer atau utama ialah
bayi yang menyusu pada ibu dengan BTA positif, sedangkan
kemoprofilaksis sekunder diperlukan bagi kelompok berikut :
1) Bayi dibawah 5 tahun dengan hasil tes tuberkulin positif karena
risiko timbulnya TB milier dan miningitis TB.
2) Anak remaja dibawah 20 tahun dengan hasil tes tuberkulin positif
yang bergaul erat dengan penderita TB yang menular.
3) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin dari
negatif menjadi positif.
4) Penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat
imunosupresif jangka panjang.
5) Penderita diabetes melitus.

e. Komunikasi, informasi ,dan edukasi (KIE) tentang penyakit


tuberkulosis kepada masyarakat tingkat puskesmas, rumah sakit dan
lembaga lainnya.
Pengobatan Tuberkulosis Paru
1. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian,kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan
dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
2. Prinsip pengobatan
a. Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
b. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan
gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis
Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
c. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO).
d. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
1) Tahap awal (intensif)
Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2
minggu.
3) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.
4) Tahap Lanjutan
a) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit,
namun dalam jangka waktu yang lebih lama
b) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
5) Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
a. Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:
1) Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
2) Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan
(HRZE)

b. Kategori Anak: 2HRZ/4HR


1) Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam
bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT- KDT),
sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam
bentuk OAT kombipak.
2) Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis
obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat
badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu
pasien.
3) Paket Kombipak
a) Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket,
yaitu Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol.
Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi
pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
b) Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket,
dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan
menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan
sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien
dalam satu (1) masa pengobatan.
c) KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam
pengobatan TB:
1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan
sehingga menjamin efektifitas obat mengurangi
efek dan samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga
menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda
dan mengurangi kesalahan penulisan resep
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit
sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan
meningkatkan kepatuhan pasien.
[ CITATION Mus18 \l 14345 ]
B. Konsep Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
1. Definisi Operasional Bersihan Jalan Tidak Efektif : Ketidakmampuan
membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan
nafas tetap paten.[ CITATION Tim17 \l 14345 ]
2. Penyebab
a. (Fisiologis)
1) Spasme jalan nafas
2) Hipersekresi jalan nafas
3) Disfungsi neuromuskuler
4) Benda asing dalam jalan nafas
5) Adanya jalan nafas buatan
6) Sekresi yang tertahan
7) Hiperplasia dinding jalan nafas
8) Proses infeksi
9) Respon alergi
10) Efek Agen farmakologis (mis. Anastesi)
b. (Situasional)
1) Merokok aktif
2) Merokok pasif
3) Terpajan polutan.[ CITATION Tim17 \l 14345 ]

3. Gejala dan Tanda Mayor


a. Subjektif
( Tidak tersedia)
b. Objektif
1) Batuk tidak efektif
2) Tidak mampu batuk
3) Spuntum berlebih
4) Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
5) Mekonium dijalan nafas ( pada neonatus)
4. Gejala dan Tanda Minor
a. Subjektif
1) Dispnea
2) Sulit bicara
3) Orthopnea
b. Objektif :
1) Gelisah
2) Sianosis bunyi napas menurun
3) Frekuensi nafas berubah
4) Pola nafas berubah
5. Kondisi Klinis Terkait
a. Gullian barre syndrome
b. Sklerosis multipel
c. Myasthenia gravis
d. Prosedur diagnostik (mis. Bronkoskopi, transesophageal echocardiography
(TEE))
e. Depresi sistem sarap pusat
f. Cedera kepala
g. Stroke
h. Kuadriplegia
i. Sindrom aspirasi mekonium
j. Infeksi saluran nafas
6. Luaran
a. Definisi : Kemampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas
untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten.[ CITATION SLK19 \l 14345 ]
b. Espektasi : Meningkat
c. Kriteria Hasil
Tabel 2.1 Kriteria Hasil Bersihan Jalan nafas tidak Efektif
Menurun Cukup Menurun Sedang Cukup Meningkat
meningkat
Batuk Efektif 1 2 3 4 5

Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


meningkat menurun
Produksi spuntum 1 2 3 4 5
Mengi 1 2 3 4 5

Wheezing 1 2 3 4 5

Mekonium (pada
neonatus) 1 2 3 4 5
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
Memburuk membaik
Dispnea 1 2 3 4 5

Ortopnea 1 2 3 4 5

Sulit bicara 1 2 3 4 5

Sianosis 1 2 3 4 5

Gelisah 1 2 3 4 5

Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik


Memburuk Membaik
Frekuensi nafas 1 2 3 4 5

Pola nafas 1 2 3 4 5
C. Konsep Tindakan Keperawatan
1. Batuk Efektif
Batuk merupakan mekanisme reflek yang sangat penting untuk
menjaga jalan nafas tetap ternuka (paten) dengan cara menyingkirkan lendir
yang menumpuk pada jalan nafas. Batuk diakibatkan oleh iritasi membran
mukosa dalam saluran pernapasan. Stimulus yang menghasilkan batuk dapat
timbul dari suatu proses infeksi atau iritan yang dibawa oleh udara seperti
debu, asap, gas ,dan kabut. Batuk adalah proteksi utama pasien terhadap
akumulasi sekret dalam bronki dan bronkiolus (Pranowo, 2012) (Hendi
Setiawan, 2018)
Batuk efektif merupakan salah satu tindakan non farmakologi untuk
pasien dengan gangguan pernapasan akut dan kronik. Peran perawat dalam hal
ini sangatlah penting yaitu melatih pasien untuk melakukan batuk efektif yang
bertujuan untuk menambah pengetahuan pasien tentang pentingnya
pengeluaran dahak. Batuk efektif dapat diberikan pada pasien dengan cara
mengatur posisi yang benar agar dahak keluar dengan lancar (Sudoyo, 2006)
(Hendi Setiawan, 2018)
2. Indikasi : COPD ( Chronic Obstructive Pulmonary Disease )
3. Kontrra Indikasi : Pneumotoraks, Hemoptisis, gangguan sistem
Kardiovaskuler, Edema Paru ,Efusi Pleura.
4. Intervensi Keperawatan
a. Observasi :
1) Identifikasi kemampuan batuk
2) Monitor adanya retensi sputum
3) Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas
4) Monitor input dan output cairan (mis. Jumlah dan karakteristik).
[ CITATION Tim171 \l 14345 ]
b. Terapeutik :
1) Atur posisi semi fowler atau fowler
2) Pasang perlak dan bengkok dipangkuan pasien
3) Buang sekret pada tempat spuntum
c. Edukasi
1) Jelaskan tujuan prosedur batuk efektif
2) Anjurkan tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik ,ditahan
selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mecucu
(dibulatkan) selama 8 detik.
3) Anjurkan mengulangi tarik nafas dalam hingga 3 kali
4) Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang
ke3
d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran , jika perlu.

5. Evaluasi keperawatan
Tabel 3.1 evaluasi keperawatan
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun meningkat
Batuk Efektif

Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


meningkat menurun
Produksi
spuntum
Mengi
Wheezing
Mekonium
(pada neonatus)
BAB III

LAPORAN HASIL DAN PEMBAHASAN


A. LAPORAN HASIL
1. Deskripsi Gambaran Tempat Study Kasus

Pada bagian ini akan menjelaskan tempat penelitian yang telah dilakukan
pada tanggal 30 Desember - 5 Januari 2020. Study Kasus dengan judul
Tindakan keperawatan batuk efektif pada Tuberkulosis Paru (TBC) dengan
masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif” yang telah di
laksanakan di RSUD Kabupaten Kediri.
Studi Kasus ini dilaksanakan di Ruang Melati RSUD Kabupaten Kediri.
Ruang Melati merupakan salah satu ruangan yang ada di RSUD Kabupaten
Kediri yang merupakan unit penyakit dalam untuk pasien rawat inap kelas 3.
2. Deskripsi Study Kasus

Deskripsi kasus penelitian merupakan gambaran singkat tentang kondisi


pasien. Berikut gambaran singkat masing-masing kasus :

Tabel 3.1 Deskripsi Kasus

Deskripsi Kasus 1 Deskripsi Kasus2


Tn. S Usia 51 tahun, saat Ny. M Usia 68 tahun , saat
dilakukan pengkajian pasien dilakukan pengkajian pasien
mengatakan sakit perut bagian kiri mengatakan sejak tanggal 28
atas,disertai mual muntah. Pasien desember pasien sering merasa
tidak nafsu makan sejak 2 minggu sesak nafas, batuk pada malam dan
terakhir.Pasien juga mengeluh pagi hari disertai dahak kuning
batuk yang disertai dahak yang kehijauan dan demam 38̊ C.
kental dan kekuningan pada setiap Kemudian pasien dibawa langsung
malam hari sejak 2018 yang lalu ke RSUD Kab. Kediri oleh
karena TB paru yang diderita nya. keluarganya untuk dilakukan
Kemudian pasien dibawa ke pemeriksaan. Pasien memiliki
puskesmas oleh istri nya dan oleh riwayat penyakit hipertensi.Pada
pihak puskesmas dirujuk ke RSUD saat dilakukan pengkajian pasien
Kab. Kediri untuk dilakukan terlihat memakai masker dan sering
pemeriksaan lebih lanjut. Pada saat batuk. Ketika batuk pasien terlihat
pengkajian ,pasien terlihat slealu sangat sulit mengeluarkan
menggunakan masker dan sering dahaknya.
batuk-batuk. Pasien juga mengeluh
kesulitan mengeluarkan dahaknya

Perbedaan pada Tabel 3.1 Deskripsi Kasus


 Keluhan utama
Kasus 1 : Pada kasus 1 Pasien mengeluh sakit perut bagian kiri
atas yang disertai mual muntah dan tidak nafsu makan. Serta
batuk-batuk yang disertai dahak kental yang berwarna kekuning-
kuningan.
Kasus 2 : Pada kasus 2 Pasien mengeluh sesak nafas, demam dan
batuk yang disertai dahak kental yang berwarna kuning kehijauan.
 Riwayat penyakit sekarang
Kasus 1 : Pasien ini merupakan pasien Tuberculosis Paru.
Kasus 2 : Pasien ini merupakan pasien Gastritis yang disertai
dengan penyakit Tuberkulosis Paru.

3. Hasil Study Kasus


a. Persiapan Tindakan
Tabel 3.2 Persiapan Tindakan Batuk Efektif

Aspek yang dinilai Dilakukan

Klie hasil Klien hasil


ya tida ya tidak
n1 2
k
Persiapan alat
1. Bantal penyangga √ √
2. Air minum hangat √ √
3. Tissue √ √
4. spuntum pot √ √
5. Sarung tangan bersih √ √
6. Bengkok √ √
7. Perlak/handuk kecil √ √

Persiapan Perawat dan Pasien


Perawat
1. Mempersiapkan diri √ √
2.Mempersiapkan pengalaman
dan pengetahuan √ √
3. Meminta persetujuan Pasien √ √

Kien
1. Klien mau dan mampu √ √
melakukan

Persiapan Lingkungan
1. Jaga privasi pasien √ √
(Tutup pintu/sketsel)
2. Nyalakan Lampu jika √ √
ruangan gelap

Perbedaan dari table 3.2

Dari hasil table 3.2 persiapan tindakan batuk efektif diatas ada
perbedaan pada kasus 1 penjelasan dilakukan kepada klien sendiri, sedangkan
pada kasus 2 penjelasan kepada anak klien.
b. Pelaksanaan Tindakan
Table 3.3 pelaksanaan tindakan batuk efektif

No Tahap Klien 1 Klien 2


ya tidak Ya tidak
.
1. Tahap Orientasi
 Memperkenalkan diri √ √
 Menanyakan kondisi klien √ √

 Memvalidasi kemampuan yang √ √

dimiliki kien
 menjelaskan prosedur singkat √ √

tindakan yang akan dilakukan


 menjelaskan tujuan tindakan yang √ √

akan dilakukan
2. Prosedur Pelaksanaan
1. Mencuci tangan √ √
2. Memakai sarung tangan bersih √ √
3. Berikan posisi nyaman √ √
(semifowler/fowler)
4. Pasang perlak di pangkuan pasien √ √
5. Pasang handuk kecil didada pasien √ √
6. Berikan klien air minum hangat √ √
7. Meminta klien untuk meletakkan
kedua telapak tangan di atas √ √
abdomen sisi bawah iga
8. Anjurkan klien untuk menarik nafas
dalam perlaha-lahan melalui hidung √ √
dan mengeluarkan melalui hidung
dan mengeluarkannya melalui mulut
(lakukan sebanyak 3 kali )
9. Anjurkan klien untuk menahan nafas √ √
selama 2-3 detik setelah napas
dalam terakhir.
10. Anjurkan klien untuk batuk dengan
kuat menggunakan perut dan otot √ √
bantu pernafasan
11. Siapkan spuntum pot, anjurkan klien
untuk membuang sputum pada √ √
tempat yang disediakan ,bersihkan
mulut klien dengan tissue
12. Anjurkan klien istirahat sebentar √ √
13. Anjurkan klien untuk mengulangi √ √
prosedur 4 s.d 7 ( lakukan kurang
lebih 3x)
14. Bila prosedur telah selesai,berikan √ √
minum hangat pada klien
15. Rapikan alat dan pasien √ √
16. Lepaskan sarung tangan √ √
17. Cuci tangan √ √

Dokumentasi (Jumlah,warna,kekentalan
dan bau sekret,nama perawat,tanggal dan √ √
jam pelaksanaan prosedur) [ CITATION
Kho13 \l 14345 ].

Perbedaan table 3.3


Dari hasil table 3.3 pelaksanaan tindakan batuk efektif diatas pada
kasus 1 sudah sesuai dengan SOP yang terlampir,sedangkan pada pasien 2
pasien menolak membuang spuntum kedalam spuntum pot dan lebih memilih
menggunakan tisu bersih untuk membuang dahaknya,karena pasien merasa
lebih nyaman.

c. Evaluasi
1) Evalusi proses
Table 3.4 Evaluasi proses
a) Klien 1

b) Menurun Cukup Sedang Cukup Meningka


Menurun meningkat t
Batuk Efektif √
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun
meningkat menurun
Produksi spuntum √
Mengi √

Wheezing √

Mekonium (pada
neonatus)
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
Memburuk membaik
Dispnea √

Ortopnea √

Sulit bicara √

Sianosis √

Gelisah √

Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik


Memburuk Membaik
Frekuensi nafas √

Pola nafas √
b) Klien 2

a) Menurun Cukup Sedang Cukup Meningka


Menurun meningkat t
Batuk Efektif √
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun
meningkat menurun
Produksi spuntum √
Mengi √

Wheezing √

Mekonium (pada
neonatus)
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
Memburuk membaik
Dispnea √

Ortopnea √

Sulit bicara √

Sianosis √

Gelisah √

Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik


Memburuk Membaik
Frekuensi nafas √

Pola nafas √

Dari hasil table 4.4 Evaluasi proses terdapat perbedaan antara klien 1 dan 2 ,pada
klien 1 respon batuk efektif cukup meningkat dan pengeluaran spuntum juga cukup
meningkat ,sedangkan untuk klien 2 respon batuk efektif meningkat dan produksi spuntum
yang keluar juga meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Respirasi2013JakartaCV.Trans Info Media

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


pernafasan2012MakasarSalemba Medika

Asuhan Keperawatan Pada Klien Tuberkulosis Dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak
Efektif20181-78

Prosedur Praktik Keperawatan,Jilid 12013jakartatime

Riskedes2018Kementrian Kesehatan RI1-82

SLKI DPP PPNI2019Standar Luaran Keperawatan IndonesiaJakartaDewan pengurus pusat


persatuan indonesia

Tim Pokja SDKI DPP2017Standar Diagnose Keperawatan Indonesia Definisi Dan Indikator
DiagnosticJakartaDewan Pengurus PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI2017Standar Intervensi Keperawatan IndonesiaJakarta


SelatanDewan Persatuan Perawat Indonesia
Lampiran 1

LAMPIRAN PROSEDUR PELAKSANAAN

STANDAR
OPERASIONAL TINDAKAN BATUK EFEKTIF TIDAK
PROSEDUR DILAKUKAN DILAKU
KAN
PENGERTIAN Batuk merupakan mekanisme reflek
yang sangat penting untuk menjaga
jalan nafas tetap ternuka (paten) dengan
cara menyingkirkan lendir yang
menumpuk pada jalan nafas.
TUJUAN 1. Meningkatkan kemampuan batuk
efektif
2. Mengeluarkan dahak atau spuntum
secara spontan
3. Meningkatkan frekuensi nafas agar
tetap membaik
KEBIJAKAN 1. Pasien yang mengalami kesulitan
mengeluarkan sekret
2. Pasien yang mengalami
penyempitan jalan nafas
Perawat
1. Mempersiapkan diri
PERSIAPAN 2. Mmempersiapkan pengalaman dan
PASIEN DAN pengetahuan
PERAWAT
Kien
1. Klien mau dan mampu melakukan
LINGKUNGAN 1. Jaga privasi pasien
PERALATAN 1. Bantal penyangga
2. Air minum hangat
3. Tissue
4. spuntum pot
5. Sarung tangan bersih
6. Bengkok
7. Perlak/handuk kecil
PROSEDUR 18. Mencuci tangan
PELAKSANAA 19. Memakai sarung tangan bersih
N 20. Berikan posisi nyaman
(semifowler/fowler)
21. Pasang perlak di pangkuan pasien
22. Pasang handuk kecil didada pasien
23. Berikan klien air minum hangat
24. Meminta klien untuk meletakkan
kedua telapak tangan di atas
abdomen sisi bawah iga
25. Anjurkan klien untuk menarik nafas
dalam perlaha-lahan melalui hidung
dan mengeluarkan melalui hidung
dan mengeluarkannya melalui
mulut (lakukan sebanyak 3 kali )
26. Anjurkan klien untuk menahan
nafas selama 2-3 detik setelah
napas dalam terakhir.
27. Anjurkan klien untuk batuk dengan
kuat menggunakan perut dan otot
bantu pernafasan
28. Siapkan spuntum pot, anjurkan
klien untuk membuang sputum pada
tempat yang disediakan ,bersihkan
mulut klien dengan tissue
29. Anjurkan klien istirahat sebentar
30. Anjurkan klien untuk mengulangi
prosedur 4 s.d 7 ( lakukan kurang
lebih 3x)
31. Bila prosedur telah selesai,berikan
minum hangat pada klien
32. Rapikan alat dan pasien
33. Lepaskan sarung tangan
34. Cuci tangan
35. Dokumentasi
(Jumlah,warna,kekentalan dan bau
sekret,nama perawat,tanggal dan
jam pelaksanaan prosedur)
[ CITATION Kho13 \l 14345 ].

Lampiran 2

EVALUASI TINDAKAN
A. Evaluasi Proses

Klien 1 Klien 2
No. Tindakan
1 2 3 1 2 3
a. Klien mampu mengatur posisi
semi fowler atau fowler
ditempat tidur
b. Klien mampu bernafas pelan
2-3 kali melalui hidung dan
kemudian mengeluarkan
melalui mulut (lewat mulut
,bibir seperti meniup)
c. Klien mampu minum air
hangat
d. Klien mampu menarik nafas
dalam dan ditahan 1-3 detik
kemudian membatukkannya
dengan kuat menggunakan
otot abdominal
e. Klien mampu membuang
spuntum pada spuntum pot
f. Klien mampu membersihkan
area mulut

Lampiran 3
KRITERIA PASIEN

1. Lama perawatan pasien TB paru minimal 2-3 hari.


2. Pasien memiliki gejala (Batuk,Demam,Sesak nafas).
3. Usia pasien lebih dari 40 tahun (max.70tahun).
4. Pasien tidak memiliki riwayat Hemaptoe (Batuk darah).
5. Pasien rutin mengkonsumsi obat.
6. Pasien mempunyai keluhan tidak dapat mengeluarkan seckret.

Lampiran 4

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Saya yang bertandatangan dibawah ini:
Nama :
Umur/ Tgllahir : (L/P)
Alamat :
Telp :
Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya sendiri/ *sebagai orang tua/ *Suami/
*Anak/ *Walidari :
Nama :
Umur/ Tgl lahir : (L/P)
Dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk dilakukan Tindakan
Keperawatan Berupa ……………………………………………..Dari penjelasan
yang diberikan telah saya mengerti segala hal yang terhubung dengan penyaki
ttersebut. Serta tindakan Keperawatan yang akan dilakukan dan kemungkinan setelah
tindakan yang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan.

Kediri, Desember 2019


Pelaksana Yang Membuat pernyataan

HENI ARLITA ( )

Saksi/Keluarga

( )

Lampiran 5

JADWAL PENYUSUNAN KTI


NO. Tahapan / Kegiatan Jadwal
1 Sosialisasi tahapan kegiatan dan pedoman 29, November 2019
2 Penyusunan Proposal 02-14 Desember 2019
3 Ujian Proposal KTI 16-20 Desember 2019
4 Pengambilan Kasus KTI di Lapangan 23, Desember - 4 Januari
2020
5 Penyusunan Laporan KTI dan Proses Januari - Mei 2020
bimbingan penyusunan Laporan
6 Pengumpulan KTI Siap uji sidang 12, Mei 2020
7 Uji sidang KTI 14-20 Mei 2020
8 Revisi KTI 18-22 Mei 2020
9 Pengumpulan KTI Siap Jilid 22, Mei 2020

Lampiran 6

INFORMASI STUDI KASUS


Oleh :
HENI ARLITA
Saya adalah mahasiswa program Diploma III Akademi keperawatan Dharma
Husada Kediri. Studi kasus ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam
menyelesaikan tugas akhir program diploma III Akademi Keperawatan Dharma
Husada Kediri
Tujuan studi kasus ini adalah menerapkan Tindakan Keperawatan Batuk Efektif
pada Pasien Tuberkulosis Paru dengan Masalah Keperawatan Bersihan jalan Nafas
Tidak Efektif . Kami menjamin kerahasiaan pendapat dan identitas anda Informasi
yang anda berikan hanya akan dipergunakan untuk ilmu keperawatan dan tidak
dipergunakan untuk maksud lain. Partisipasi pasien dalam penelitian ini bersifat
volunter (bebas) tanpa adanya paksaan.

Kediri, Desember 2019

HENI ARLITA
NIM : 201749024