Anda di halaman 1dari 20

KEPERAWATAN JIWA

“ETIK LEGAL KEPERAWATAN JIWA”

OLEH

1. EKA WAHYU RIFANI MEILIA DEWI (04)


2. NI KOMANG SRI ARDINA (05)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


PROGRAM STUDI PROFESI NERS

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah
Keperawatan Jiwa yang berjudul “Etik Legal Keperawatan Jiwa”.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang sudah terkait dalam penyusunan tugas makalah ini karena telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk penyusunan makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi penampilan
maupun dari segi kualitas penulisan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang dapat membangun jika terdapat kesalahan, kekurangan, dan kata – kata
yang kurang berkenan dalam makalah ini, dan tentu saja dengan kebaikan bersama
dan untuk bersama.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak dan pembaca.

Denpasar, 29 Juni 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................2
C. Tujuan Penulisan................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
A. Etik Legal Keperawatan Jiwa............................................................................3
1. Definisi.........................................................................................................3
2. Hak dan Tanggung Jawab Perawat Jiwa......................................................5
3. Aspek Legal Untuk Kesehatan Mental Psikiatri..........................................7
4. Aspek Etik dalam Keperawatan Jiwa.........................................................10
5. Peran Legal Perawat...................................................................................13
6. Masalah Legal Dalam Praktek Keperawatan.............................................14
7. Pertanggungjawaban Pidana Terkait Dengan Kondisi Jiwa Seseorang.....14
BAB III PENUTUP...............................................................................................15
A. Simpulan..........................................................................................................15
B. Saran.................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawat merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan
kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori
keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah
mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat
diimplementasikan kepada masyarakat langsung.
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk
implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada
individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan
dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitasi. Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara
langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada
saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja
maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik
pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan. 
Etika merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etika
berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban
moral. Etika merupakan metode penyelidikan yang membantu orang memahami
moralitas perilaku manusia (yaitu ilmu yang mempelajari moralitas), praktik atau
keyakinan kelompok tertentu (misalnya, kedokteran, keperawatan, dll), dan standar
perilaku moral yang diharapkan dari kelompok tertentu sesuai dalam kode etik
profesi kelompok tersebut (Kozier, B : 2010).

1
Pelayanan kepada umat manusia merupakan fungsi utama perawat dan dasar
adanya profesi keperawatan. Kebutuhan pelayanan keperawatan adalah universal.
Pelayanan profesional berdasarkan kebutuhan manusia- karena itu tidak membedakan
kebangsaan, warna kulit, politik, status sosial dan lain-lain.Keperawatan adalah
pelayanan vital terhadap manusia yang menggunakan manusia juga, yaitu perawat.
Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa perawat akan berbuat hal yang benar,
hal yang diperlukan, dan hal yang mnguntungkan pasien dan kesehatannya. Oleh
karena manusia dalam interaksi bertingkah laku berbeda-beda maka diperlukan
pedoman untuk mengarahkan bagaimana harus bertindak. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah “Bagaimanakah
etik legal dalam keperawatan jiwa?”

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui etik legal dalam
keperawatan jiwa.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Etik Legal Keperawatan Jiwa


1. Definisi
Pengertian Etika keperawatan (nursing ethic) merupakan bentuk ekspresi
bagaimana perawat seharusnya mengatur diri sendiri, dan etika keperawatan di atur
dalam kode etik keperawatan. Aspek Legal Etik Keperawatan adalah Aspek aturan
Keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan
tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya
yang diatur dalam undang-undang keperawatan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun
sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Perawat sebagai profesi dan
bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja membutuhkan kesabaran.
Etik adalah cabang filosofi yang berkaitan dengan nilai nilai berdasarkan
suatu standar moral dari kelompok atau profesi (Shives, 2012).  Etik adalah seluruh
pernyataan tentang benar atau salah dan apa yang seharusnya dilakukan. Etik
mengatur bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana mereka melakukan
hubungan dengan orang lain. 
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa etik berhubungan dengan
bagaimana seseorang bertingkah laku dan bertindak yang seharusnya dengan
menghormati diri sendiri, orang  lain dan lingkungan. Etik dapat mengendalikan atau
mengatur individu dan keluarga, kelompok dan masyarakat dalam bertindak. Etik
berkembang dari nilai-nilai yang mendasarinya.

3
1. Nilai-Nilai Yang Melandasi Etika Keperawatan
Nilai-nilai yang melandasi etika keperawatan yang mengacu pada Canadian
Nurses Association 1997 ( Yani, dkk 2002 ) antara lain :
a. Health and well being
Perawat menghargai nilai sehat, sejahtera dan memberikan bantuan terhadap
keluarga dalam rangka mencapai derajat sehat yang optimal dalam kondisi sehat,
sakit atau proses kematian secara wajar.
b. Choise
Perawat menghormati dan mendorong agar keluarga memiliki otonomi serta
membantu mereka untuk mengekspresikan kebutuhan kesehatannya maupun
nilai-nilai sehat serta memperoleh informasi dari pelayanan kesehatan.
c. Dignity
Perawat menghargai dan melakukan advokasi terhadap kemulian atau martabat
keluarga
d. Confidentiality
Perawat melindungi kepercayaan klien mengenai informasi yang diperolehnya
dalam hubungan profesional untuk tidak dibahas diluar tim kesehatan, kecuali
jika seizin keluarga.
e. Fairness
Perawat menerapkan prinsip keadilan dan keterbukaan dalam rangka membantu
klien menerima pengobatan dan pelayanan kesehatan secara objektif dan
proposional sesuai kebutuhan dasar klien.
f. Accountability
Perawat bertindak sedemikian rupa konsisten dengan tanggung jawab profesinya
serta standar praktek keperawatan.
g. Practice environments conducive to safe, competent and ethical care.
Perawat melakukan advokasi terhadap lingkungan prakteknya yang dapat
menciptakan suatu sistem yang terorganisasi dengan baik dan memberi dukungan
secara manusiawi serta menetapkan alokasi sumber dana dan daya yang

4
diperlukan dalam rangka pemberian pelayanan keperawatan yang aman,
kompeten dan etis
Selain nilai-nilai yang melandasi etik, berbagai prinsip yang melandasi etik
perlu diketahui oleh perawat mental psikiatri yakni :
a. Otonomi
Otonomi adalah kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi klien. Klien yang
memiliki otonomi akan menghargai orang lain tanpa adanya keterikatan atau
mengharapkan keuntungan dari orang lain.
b. Benefisence
Benefisence merupakan wujud perbuatan baik atau menguntungkankan orang lain
c. Nonmalefisience
Nonmalefisience adalah prinsip melakukan tindakan tanpa bahaya, tidak
menambah penderitaan, tidak membunuh dan tidak mengurangi kebebasan orang
lain.
d. Veracity
Perawat dituntut bicara jujur untuk menyampaikan hal yang sebenarnya dan
terkait dengan konsep bahwa seseorang harus mengatakan secara meneyeluruh
secara benar
e. Justice
Memperlakukan orang lain secara adil tanpa membedakan status sosial, ras,
agama dan sebagainya.
f. Fidelity
Mempertahankan komitmen atau janji.

2. Hak dan Tanggung Jawab Perawat Jiwa


Perawat psikiatri mempunyai hak dan tanggung jawab membantu tiga peran
legal yaitu: perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat sebagai pegawai,
dan perawat sebagai warga negara. Perawat mungkin akan mengalami konflik antara
ketiga hak dan tanggung jawabnya. Penilaian keperawatan profesional memerlukan
pemeriksaan yang teliti dalam konteks asuhan keperawatan, konsekuensi yang

5
mungkin terjadi akibat tindakan seseorang, dan alternatif tindakan yang mungkin
dilakukannya (Stuart & Sundeen, 1995).
Keterampilan utama  yang harus dimiliki oleh perawat psikiatri dalam praktiknya 
menurut Robert (2002) dalam Stuart & Laraia ( 2005), yaitu:
a. Mampu untuk mengenali pertimbangan etik dalam praktik psikiatri, meliputi
bekerja dengan pengetahuan mengenai konsep etik sebagai dasar aplikasi dalam
memberikan pelayanan pada penyakit mental
b. Mampu menyadari mengenai nilai-nilai diri sendiri, kekuatan, dan
penyimpangan-penyimpangan sebagaimana aplikasi dalam merawat pasien,
meliputi kemampuan untuk mengenal rasa ketidaknyamanan dirinya sendiri
sebagai satu indikator dari potensial masalah etik.
c. Mampu untuk mengidentifikasi keterbatasan keterampilan dan kompetensi klinik
yang dimilikinya
d. Mampu untuk mengantisipasi secara spesifik adanya dilema etik dalam perawatan
e. Mampu untuk mengkaji sumber-sumber etik di klinik, untuk memperoleh
konsultasi etik, dan untuk mengkaji supervisi berkelanjutan untuk kasus sulit
f. Mampu untuk mengenal perlindungan tambahan dalam perawatan klinik pasien
dan memonitor keefektifannya.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Stuart & Laraia (2005) bahwa langkah-langkah
dalam penyelesaian dilema etik dan pengambilan keputusan etik, dapat digambarkan
sebagai berikut:
a. Langkah pertama dapatkan informasi yang menjadi latar belakang terjadinya
masalah untuk memperoleh kejelasan gambaran masalah
b. Langkah selanjutnya adalah identifikasi komponen dari etik atau asal dari dilema,
seperti kebebasan berlawanan dengan paksaan atau tindakan perawatan
berlawanan dengan penerimaan hak untuk menolak tindakan
c. Langkah ketiga adalah klarifikasi mengenai hak dan tanggung jawab terkait
dengan semua agen etik atau yang meliputi pengambilan keputusan

6
d. Semua pilihan yang mungkin harus diekplorasi dengan kejelasan mengenai
tanggung jawabnya pada setiap orang, dengan tujuan dan kemungkinan yang
timbul dari setiap pilihan yang ada
e. Perawat kemudian terlibat dalam aplikasi prinsip, dengan berdasar dari falsafah
keperawatan, pengetahuan keilmuan, dan teori etik. Ada empat pendekatan yang
dapat dilakukan, yaitu:
1) Utilitarianism, yang berfokus pada konsep tindakan
2) Egoism merupakan posisi yang mana individu mencari solusi yang terbaik
secara personal
3) Formalism, pertimbangan dari asal tindakan itu sendiri dan prinsip yang ada
4) Fairness merupakan dasar dari konsep keadilan, dan manfaat terkait dengan
keuntungan sesuai dengan norma yang menjadi dasar masyarakat dalam
pengambilan keputusan
f. Langkah terakhir, yaitu resolusi dalam tindakan. Berhubungan dengan konteks
harapan sosial dan kebutuhan legal, keputusan perawat dengan tujuan dan metode
yang diimplementasikan. 

3. Aspek Legal Untuk Kesehatan Mental Psikiatri


Aspek legal untuk kesehatan mental psikiatri menurut Townsend (2005),
meliputi: confidentiality and right to privacy (kerahasiaan dan hak atas privacy),
informed consent, restrain and seclusion. Menurut Hamid (2000) prinsip etik dalam
kesehatan jiwa terkait dengan hak klien, adalah:
a. Self determination; menolak tritmen, mencari saran/pendapat,
memilih bentuk tritmen lain
b. Informed concent
c. Least restrictive environment/pengekangan seminimal
mungkin
d. Tidak bersalah karena gangguan jiwa
e. Hukum dan sistem perlindungan klien gangguan jiwa

7
f. Keputusan berorientasi pada peningkatan kualitas kehidupan
klien 
Menurut Townsend (2005), peranan perawat dalam penerapan informed
concent adalah biasanya digambarkan sebagai agen pengambil kebijakan. Seorang
perawat menandatangani format persetujuan sebagai saksi bagi tandatangan klien.
Perawat bertindak sebagai advocat bagi klien untuk memastikan bahwa ada tiga
elemen utama yang harus ada dalam informed concent, yaitu:
1. Pengetahuan bahwa klien memiliki penerimaan informasi yang adekuat
dengan dasar keputusan dari klien sendiri
2. Kompetensi bahwa kognitif klien tidaklah terganggu secara menyeluruh yang 
bertentangan dengan pengambilan keputusan atau jika demikian, bahwa individu
memiliki hak secara legal
3. Kemauan bebas bahwa individu diberikan persetujuan secara sukarela tanpa
adanya tekanan atau paksaan dari orang lain.
Berdasarkan fungsi kode etik yang sangat penting tersebut Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI) menyusun kode etik keperawatan di Indonesia. Kode etik
keperawatan di Indonesia terdiri atas 5 (lima) pokok etik yaitu :
a. Perawat dan klien.
1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai
harkat dan martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh
pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran
politik dan agama yang dianut serta kedudukan sosial.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa
memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat
istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien.
3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang
membutuhkan asuhan keperawatan.
4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan
oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

8
b. Perawat dan praktek
1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang
keperawatan melalui belajar terus menerus.
2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang
tinggi disertai kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan serta
keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang
akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila
melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang
lain.
4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan
dengan selalu menunjukkan perilaku profesional.
c. Perawat dan masyarakat
Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk
memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan
kesehatan masyarakat.
d. Perawat dan teman sejawat.
1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun
dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh.
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal
e. Perawat dan profesi.
1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan
pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan
pendidikan keperawatan.
2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi
keperawatan.

9
3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan
memelihara kondisi kerja yang kondusif  demi terwujudnya asuhan keperawatan
yang bermutu tinggi. 

4. Aspek Etik dalam Keperawatan Jiwa


Etika berasal dari Bahasa Yunani ethos yang berarti karakter, watak
kesusilaan, atau adat kebiasaan yang etika tersebut berhubungan erat dengan konsep
individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu
yang telah dilakukan. Penerapan aspek etik dalam keperawatan jiwa sangat terkait
dengan pemberian diagnosis, perlakuan atau cara merawat, hak pasien, stigma
masyarakat, serta peraturan atau hukum yang berlaku. Pemberian Diagnosis
Seseorang yang telah didiagnosis gangguan jiwa, misal skizofrenia, maka dia akan
dianggap sebagai orang yang mengalami pecah kepribadian (schizo = kepribadian,
phren = pecah). Beberapa kriteria diagnosis menyebutkan gangguan jiwa adalah
ketidakmampuan seseorang dalam mengadakan relasi dan pembatasan terhadap orang
lain dan lingkungan. Dengan demikian, seseorang yang telah didiagnosis gangguan
jiwa, berarti dia sudah tidak mampu lagi menjalin hubungan dengan lingkungan.
Apabila mampu, dia tidak bisa membatasi apa yang harus atau tidak untuk dilakukan.
Ia telah mengalami gangguan perilaku, peran, dan fungsi dalam melakukan aktivitas
rutin harian (Yusuf.dkk, 2015).

Dari kriteria diagnosis ini akan menimbulkan stigma di masyarakat bahwa


gangguan jiwa adalah orang gila. Padahal, setelah dipelajari ternyata gangguan jiwa
sangat luas spektrumnya. Inti adalah ada gangguan jiwa ringan dan gangguan jiwa
berat. Gangguan jiwa ringan merupakan adanya masalah pada aspek psikososial
(cemas dan gangguan respons kehilangan atau berduka). Setiap orang mengalami
masalah psikososial karena merupakan tantangan dalam kehidupan agar manusia
lebih maju dan berkembang. Gangguan jiwa berat memang merupakan gangguan
perilaku kronis, yang sebenarnya merupakan gangguan perilaku yang telah lama
diabaikan. Di sinilah pelanggaran etika terjadi, bergantung pada diagnosis yang

10
dialami pasien. Olah karenanya, untuk mendiagnosis gangguan jiwa berat
(skizofrenia) harus menggunakan kriteria waktu bahwa gangguan yang dialami
pasien telah terjadi dalam waktu yang lama (seperti pada PPDGJ).

Cara merawat pasien gangguan jiwa juga sangat erat dengan pelanggaran
etika. Beberapa keluarga pasien malah melakukan “pasung” terhadap pasien. Jika di
rumah sakit, diikat harus menggunakan seragam khusus dengan berbagai ketentuan
khusus. Keadaan ini membuat pasien diperlakukan berbeda dengan pasien fisik
umumnya. Secara teoretis dan filosofis, perawatan pasien gangguan jiwa harus tetap
memperhatikan aspek etika sesuai diagnosis yang muncul dan falsafah dalam
keperawatan kesehatan jiwa(Yusuf.dkk, 2015).

a. Hak Pasien

Beberapa aturan di Indonesia sering mendiskreditkan pasien gangguan jiwa,


yaitu seseorang yang mengalami gangguan jiwa tanda tangannya tidak sah. Ada tiga
jenis proses penerimaan pasien yang masuk ke rumah sakit jiwa, yaitu masuk secara
informal, sukarela, atau masuk dengan paksaan. Beberapa ketentuan di atas mungkin
tidak berlaku di Indonesia, tetapi perlu diperhatikan hak pasien sebagai warga negara
setelah pasien menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Hak pasien sangat
bergantung pada peraturan perundangan(Yusuf.dkk, 2015).

Menurut UndangUndang Kesehatan Pasal 144 mengatakan, “Menjamin


setiap orang dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan,
tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa”. Beberapa hak
pasien yang telah diadopsi oleh banyak Negara Bagian di Amerika antara lain sebagai
berikut

1) Hak untuk berkomunikasi dengan orang di luar rumah sakit. Pasien bebas
untuk mengunjungi dan berbicara melalui telepon secara leluasa dan
mengirim surat tertutup kepada siapapun yang dipilihnya.

11
2) Hak terhadap barang pribadi. Pasien berhak untuk membawa sejumlah
terbatas barang pribadi bersamanya. Namun, bukan menjadi tanggung jawab
rumah sakit untuk keamanan dan tidak membebaskan staf rumah sakit tentang
jaminan keamanan pasien.

3) Hak menjalankan keinginan. Kemampuan seseorang untuk menyatakan


keinginannya yang dikenal sebagai “surat wasiat”. Pasien dapat membuat
wasiat yang apsah jika ia (1) mengetahui bahwa ia membuat surat wasiat, (2)
mengetahui sifat dan besar miliknya, dan (3) mengetahui siapa teman dan
keluarganya serta hubungannya dengan mereka. Tiap kriteria ini harus
dipenuhi dan didokumentasikan agar surat wasiat tersebut dapat dianggap
apsah.
4) Hak terhadap “Habeas Corpus”. Semua pasien mempunyai hak, yang
memperkenankan pengadilan hukum, untuk mensyaratkan pelepasan
secepatnya bagi tiap individu yang dapat menunjukkan bahwa ia sedang
kehilangan kebebasannya dan ditahan secara tidak legal.
5) Hak terhadap pemeriksaan psikiatrik yang mandiri. Pasien boleh menuntut
suatu pemeriksaan psikiatri oleh dokter yang dipilihnya sendiri. Jika dokter
tersebut menentukan bahwa pasien tidak menderita gangguan jiwa, maka
pasien harus dilepaskan.
6) Hak terhadap keleluasaan pribadi. Individu boleh merahasiakan beberapa
informasi tentang dirinya dari orang lain. “Kerahasiaan” membolehkan
pemberian informasi tertentu kepada orang lain, tetapi sangat terbatas pada
orang yang diberi kewenangan saja. “Komunikasi dengan hak istimewa”
merupakan suatu pernyataan legal yang hanya dapat digunakan dalam proses
yang berkaitan dengan pengadilan. Ini berarti bahwa pendengar tidak dapat
memberikan informasi yang diperoleh dari seseorang kecuali pembicara
memberikan izin. Komunikasi dengan hak istimewa tidak termasuk
menggunakan catatan rumah sakit, serta sebagian besar negara tidak
memberikan hak istimewa komunikasi antara perawat dan pasien. Selain itu,

12
terapis bertanggung jawab terhadap pelanggaran kerahasiaan hubungan untuk
memperingatkan individu yang potensial menjadi korban tindak kekerasan
yang disebabkan oleh pasien.

7) Hak persetujuan tindakan (informed consent). Dokter harus menjelaskan


tentang pengobatan kepada pasien, termasuk potensial komplikasi, efek
samping, dan risiko. Dokter harus mendapatkan persetujuan pasien, yang
harus kompeten, dipahami, dan tanpa paksaan.
8) Hak pengobatan. Kriteria untuk pengobatan yang adekuat didefinisikan dalam
tiga area, yaitu (1) lingkungan fisik dan psikologis manusia, (2) staf yang
berkualitas dan jumlah anggota yang mencukupi untuk memberikan
pengobatan, serta (3) rencana pengobatan yang bersifat individual.
9) Hak untuk menolak pengobatan. Pasien dapat menolak pengobatan kecuali
jika ia secara legal telah ditetapkan sebagai tidak berkemampuan.
“Ketidakmampuan” menunjukkan bahwa orang yang mengalami gangguan
jiwa dapat menyebabkan ketidakmampuannya untuk memutuskan dan
gangguan ini membuat ia tidak mampu untuk mengatasi sendiri masalahnya.
Ketidakmampuan hanya dapat dipulihkan melalui sidang pengadilan lain

5. Peran Legal Perawat


Perawat jiwa memiliki hak dan tanggung jawab dalam tiga peran legal:
a. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
b. Perawat sebagai pekerja
c. Perawat sebagai warga Negara.
Perawat mungkin mengalami konflik kepentingan antara hak dan tanggung jawab
ini. Penilaian keperawatan propsesinal memerlukan pemeriksaan yang teliti dalam
konteks asuhan keperawatan, kemungkinan konsekuensi tindakan keperawatan, dan
alternative yang mungkin dilakukan perawat.

13
6. Masalah Legal Dalam Praktek Keperawatan
a. Dapat terjadi bila tidak tersedia tenaga keperawatan yg memadai tidak tersedia
standar praktek dan tidak ada kontrak kerja.
b. Perawat profesional perlu memahami aspek legal untuk melindungi diri,
melindungi hak-hak pasien dan memahami batas legal yang mempengaruhi
praktek keperawatan.
c. Pedoman legal Undang-undang praktek, peraturan Kep Men Kes No 1239 dan
Hukum adat.

7. Pertanggungjawaban Pidana Terkait Dengan Kondisi Jiwa Seseorang


a. Tindakan kriminal yang dilakukan oleh seseorang yang diduga memiliki kelainan
jiwa perlu mendapatkan penyelididkan dari seorang ahli kesehatan jiwa ( Visum
et repertum psikiatrikum; VER)
b. Argumen yang menyebutkan bahwa seseorang yang didakwa melakukan tindakan
kriminal dianggap tidak bersalah karena orang tersebut tidak bisa mengontrol
perbuatannya atau tidak mengerti perbedaan antara benar dan salah yang dikenal
sebagai Peraturan M’Naghten.
c. Saat orang tersebut memenuhi kriteria, dia dapat dinyatakan tidak bersalah karena
mengalami gangguan jiwa.

14
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Aspek etik dan legal ini digunakan dengan memperhatikan dan menghormati
hak-hak dan kewajiban individu/ klien sebagai bagian dari sistem baik keluarga,
kelompok maupun komunitas dalam menjawab permasalahan dan dilema etik yang
muncul dalam terapi komunitas. Dalam upaya penanganan masalah kesehatan jiwa
salah satu terapi spesialis yang dapat diberikan pada klien dengan gangguan jiwa

B. Saran
Dengan berpedoman pada aturan perundang-undangan dan standar
keperawatan serta etik, diharapkan pelaksanaan terapi komunitas mampu
memfasilitasi klien dan komunitas mencapai tingkat kesehatan jiwa secara optimal.
Dengan demikian terapi komunitas yang diberikan dapat dilandasi oleh aspek etik
dan legal yang menghormati hak-hak individu dan keluarga sebagai penerima asuhan
kperawatan dalam ikut berpartisipasi dan menentukan asuhan keperawatan yang
komprehensif. 

15
DAFTAR PUSTAKA

Boyd, M.A. (1998). Psychiatric nursing: contemporary practice. Philadelphia:


Lippincott

Ellis, J.R. (1998). Nursing in today’s world: challenges, issues, and trend. (6th ed).
Philadelphia: Lippincott

Hamid, Achir Yani. 2000. Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan
Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kozier. (2010). Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Edisi 5. Jakarta : EGC
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2000). Kode etik
keperawatan, lambang, panji PPNI, dan ikrar keperawatan. Jakarta

Shives, L.R. (1998). Basic concept psychiatric – mental health nursing. (4th ed).
Philadelphia: Lippincolt.

————— (2012). Basic concept psychiatric – mental health nursing. (8th ed).
Philadelphia: Lippincolt.

Staunton, P. & Whyburn, B. (2000). Nursing and the law. (4th ed). Philadelphia:
Harcourt

Stuart, G.W. (2012). Principles and practice of psychiatric nursing. (7th edition).
St.Louis : Mosby

Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2001). Principles and practice of psychiatric nursing.
(7th edition). St.Louis : Mosby

Stuart, G.W. & Sundeen, S.J. (1995). Buku saku keperawatan jiwa: pocket guide to
psychiatric nursing. alih bahasa: Achir Yani S.Hamid.(ed.3). Jakarta: EGC

Stuart & Laraia. (2005). Principles and Practice of Psichiatrik Nursing. St.Louis : The
Mosby year Book.

16
Townsend, M.C. (2005). Essentials of psychiatric mental health nursing. (3rd ed.)
Philadelphia: F.A.Davis Company

Yusuf, Firtyasari Rizky, Endang Hanik.2015.Buku Ajar Keperawatan Jiwa.Jakarta:


Salemba Medika

17