Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

Sistem Integumen (Luka Bakar)

Disusun untuk memenuhi tugas Klinik KMB


Oleh :
Israwati
70300117036

PRESEPTOR LAHAN PRESEPTOR INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN & ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2020
BAB I

KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi
( Rembulan, 2017).

Sumber: http://kabarotomatis.blogspot.com/2017/06/gambaran-kesan-melecur-di-badan-arwah.html?m=1
Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi
yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut
(Nugroho, 2012).
B. Klasifikasi
Menurut Majid & Prayogi (2013), Klasifikasi derajat luka bakar berbeda-beda untuk
masing-masing negara, oleh karena itu sangat bergantung terhadap management terapi
atau pengobatan yang digunakan oleh negara tersebut. Klasifikasi luka bakar yang lama
diperkenalkan oleh dupuitrent yaitu mengklasifikasikan derajat luka bakar kedalam enam
kategori yaitu:
1. Luka bakar derajat 1
Luka bakar yang diakibatkan oleh jilatan api, benda panas, dan cairan panas yang
suhunya tidak mencapai titik didih, atau akibat cairan kimia. Biasanya bentuk
luka bakar berupa kemerahaan dan proses penyembuhan terjadi tanpa
meninggalkan perut. Waktu penyembuhan antara beberap jam samapi beberapa
hari.
2. Luka bakar derajat 2
Luka bakar yang diakibatkan terkena benda panas atau cairan panas yang suhuya
mencapai titik didih atau lebih tinggi. Lapisan kulit supervisial hanya sedikit
yang rusak dan penyembuhannya tanpa meninggalakan jaringan perut. Pada
awalnya terdapat vesikel yang kemudian akan terasa sakit dan warnanya menjadi
hitam
3. Luka bakar derajat 3
Luka bakar ini adalah akibat cairan yang suhunya diatas titik didih pada keadaan
ini laisan supervisial kulit seluruhnya rusak sehingga pada penyembuhan akan
meninggalkan jaringan perut. Ujung persyarafan juga terbakar sehingga
mengakibatkan rasanyaa nyeri yang berat. Pada proses penyembuhan dapat
terjadi jaringan perut yang mengandung semua elemen kulit, sehingg atidak
menimbulkan kontraktur.
4. Luka bakar derajat 4
Luka bakar yang menimbulakn kerusakan pada seluruh jaringan kulit ujung saraf
juga ikut rusak, sehingga pada luka bakar ini rasa nyeri tidak ada. Pada proses
penyembuhan akan membentuk jaringan perut yang akan mengalami kontraksi
dan deformitas.luka terkelupas pada hari kelima atau keenam dan proses
penyembuhan akan berjalan lambat
5. Luka bakar derajat 5
Luka bakar pada keadaan ini timbul kerusakan fasia otot dan hampir selalu
menimbulkan deformitas
6. Luka bakar derajat 6
Pada luka bakar derajat ini biasanya fatal, pasien tidak meninggal maka bisanya
mengakibatkan kerusakan anggota tubuh.

Klasifikasi luka bakar pada saat sekarang dibedakan berdasasrkan kedalamaan,


luas, lokasi da berat ringan luka bakar
1. Berdasarkan kedalamanya luka bakar dibagi menjadi:
a. Luka bakar derajat 1
Karakteristik luka bakar derajat 1:
1) Kedalaman: Luka derajat satu hanya mengenai epidermis luar, kulit kering dan
secara klinis tampak sebagai daerah hiperemia eritema.
2) Luka tampak berwarna pink cerah sampai merah ( eritema ringan sampai berat)
3) Kulit nampak memucat bila ditekan
4) Edema minimal tidak ada plester
5) Kulit hangat /kering
6) Terasa nyeri/hyperethetic, dan nyeri berkurang dengan pendinginan
7) Dapat sembuh spontan kurang lebih 3-7 hari
b. Luka bakar derajat 2
Karakteristik luka bakar derajat 2 :
1) Kedalaman: Luka derajat dua mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam dan
mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel yang tersisa, seperti
sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut.
2) Penyebabnya: kontak dengan bahan air atau bahan padat, jilatan apai pada
pakaian, jilatan langsung ada kimiawi,atau ultra violet
3) Penampilan : terdapat gelembung (blister/bula) besar dan lembab dan ukuranya
bertambah besar dan pucat bial ditekan dengan ujung jari, serta apabila tekanan
dilepas akan berisi kembali. Timbul gelembung-gelembung berisi cairan berwarna
jernihtetapi kental, rasa nyeri atai sakit yang mengganggu , dan bila gelembung
tersebut pecah akan terlihat kulit yang berwarna kemerah-merahan
4) Warna: berbintik-bintik yang kurang jelas, putih, coklat,pink, atau merah coklat
5) Perasaan: sangat nyeri
6) Waktu penyembuhan: pada superficial partial thicknes dapat sembuh kurang lebih
14-21 hari, sedangkan pada deep partial thickness dapat sembuh kurang lebih 21-
28 hari. Apabilaa kerusaka mengenai kelenjar keringat, kelenjar lemak, atau akar
rambut maka proses penyembuhaan menjadi lebih lama lagi sekitar 2-3 minggu
serta berpotensi menimbulkan cacat pada kulit
c. Luka bakar derajat 3
Karakteristik luka bakar derajat 3:
1) Kedalamanya : mengenai semua lapisan kulit, lemak subkutan dan dapat juga
mengenaai permukaan otot, persarafan, dan pembuluh darah, serta tulang
2) Penyebabnya: kontak dengan bahan cair atau padat, jilatan apai, bahan kimia,
maupun dengan kontak dengan arus listrik
3) Penampilan: luka bakar tampak kering disertai kulit mengelupas dengan tekstur
kasar atau keras, pembuluh darah seperti arang yang terlihat dibawah kulit yang
mengelupas, jarang ada gelembung, dinding sangat tipis, tidak membesar, dan
tidak pucat bila dditekan. Luka tabmapak bervariasi dari berwarna putih, merah
sampai dengan coklat atau hitam dan terdapat edema.
4) Sensasi nyeri : sedikit nyeri atau bahkan tidak terasa nyeri karena serabu-serabut
sarafnay telah rusak, dan rambut mudah lepas bila dicabut
5) Waktu penyembuhan : sulit terjadi penyembuhan luka secara spontan, dengan
waktu penyembuhan sekita 3-5 bulan serta memerlukan transplantasi kulit untuk
memperbaiki jaringan kulit yang hilang
2. Klasifikasi berdasarkan luasnya luka bakar
Luka bakar juga bisa diklasifikasikan berdasrkan luasnya luka bakar, yaitu
dengan menghitung seberapa luas luka bakar tersebut. Beberapa ahli membuat
suatu metode yang digunakan untuk menetukan luasnya luka bakar. Beberapa
metode yang digunakan untuk menentukan luasnya luka bakar adalah metode rule
of nine; Lund dan Browder serta hand palm. Ukuran luka bakar dapat ditentukan
dengan menggunakan salah satu dari metode tersebut. Untuk mengetahui ukuran
lukabakar ditentukan dengan menghitung presentase dari permukaan tubuh yang
terkena luka bakar. Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang
digunakan dalam menentukan luas luka bakar.
Metode rule of nine merupakan suatu metde yang dapat digunakan dalam
menghitung perkiraan luas luka bakar secara cepat. Dasar dari metode ini dalah
bahwa tubuh dibagi kedalaam bagianbagian anatomik, dimana setiap bagian
mewakili sembilan persen (9%) kecuali pada daerah genitalia yaitu ( 1%). Metode
ini dikembangkan oleh wallace, dimana membagi tubuh manusia menjadi 9%
atau kelipatan 9 yang terkenal dengan naama ‘Rule Of Nine’ atau Rule Of
Wallace
Rumus ‘Rule Of Nine atau Rule Of Wallace pada orang dewasa adalah
sebagai berikut:
a) Kepala dan Leher :9%
b) Lengan masing-masing 9% :18%
c) Badan depan 18% badan belakang 18% :36%
d) Tungkai masing-masing :36%
e) Genitalia/perineum :1%
Total : 100%
Sedangkan rumus Rule Of Nine atau Rule Of Wallace pada anak yaitu:
a) Kepala dan lehe :18%
b) Lengan masing-masing 9% :18%
c) Badan depaan 18% badan belakang 18% :36%
d) Tungkai masing-masing 13,5% :27%
e) Genitalia/perineum :1%
Total : 100%
Metode lund dan Browder, merupakan modifikasi dari persentasi bagian–
bagian tubuh berdasarkan usia pasien, yang dapat memberikan yang lebih akurat
tentang luas luka bakar. Selain dari kedua tersebut diatas, dapat juga digunakan
cara lainya yaity menggunakan metode hand palm metode ini adalah suatu
metode untuk menetukan luas atau persentasi luka bakar dengan menggunakan
telapak tangan luas luka bakar sebesar telapak tangan dihitung 1% dari
permukaan tubuh yang mengalami luka bakar
3. Lokasi luka bakar
Berat ringan luka bakar tergantung pula oleh lokasi atau temapat luka bakar.
Luka bakar yang mengenai kepala, leher, dan dada sring kali berkaitan dengan
komplikasi pada paru-paru (pulmoner). Luka bakar yang mengenai wajah dapat
menyebabkan abrasi kornea, sedangkan luka bakar mengenai wajah dapar
menyebabkan abrasi kornea, sedangkan luka bakar yang mengenai lengan dan
persendian seringkali menimbulkian gangguan aktivis fisik, sehingga
membutuhkan terapi fisik dan okupasi serta dapat menimbuljan implikasi terhadap
kehilangan waktu bekerja dan atau ketidakmampuan untuk bekerja secara
permanen.apabila luka bakar mengenai daerah merineum mudah terkontaminais
oleh urine atau faces sehingga mudah terjadi radang atau infeksi pada luka bakar
tersebut. Luka bakar mengenai daerah dada dapat meyebaabkan tidak adekuatnya
ekspansindinding dada sehingga pasien mengalami sesak napas dan terjadinya
insufisiensi pulmoner
4. Berat ringannya luka bakar
Beberapa pertimbangan untuk mengetahui berat ringanya luka bakar adalah
sebagai berikut:
a. Presentasi area atau luasnya luka bakar pada permukaan tubuh
b. Kedalaman luka bakar
c. Anatomi luka bakar
d. Usia pasien
e. Riwayat pengobatan yang lalu dan
f. Trauma yang menyertai
Menurut American Burn Asociaton (ABA), yaitu perkumpulan luka bakar di
amerika serikat, mengklasifikasi berat ringanya luka bakar kedalam 3 kategori,
yaitu:
a. Luka bakar berat
1) 25% pada orang dewasa
2) 25% pada anak dengan usia kurang dari 10 tahun
3) 20% pada anak orang dewasa dengan usia lebih dari 40 tahun
4) Luka bakar mengenai wajah,mata, telinga, lengan, kaki, dan perineum yang
mengakibatklan gangguan funsional, kosmetik atau menimbulkan disabilitas
5) Luka bakar karena listrik tegangan tinggi
6) Semua luka bakar yang disertai cidera inhalasi atau trauma yang berat
b. Luka bakar sedang
1) 15-25 % mengenai orang dewasa
2) 10-20 % pada anak usia kurang dari 10 tahun
3) 10-20 % pada orang dewasa usia lebih dari 40 tahun
c. Luka bakar ringan
1) Luka bakar dengan luas kurang dari 10 %
2) Tidak ada resiko gangguan kosnetik, fungsional atau disabiliti
Sedangkan menurut American college of surgeon, berat ringanya luka
bakar dibagi kedalam tiga kategori yaitu:
a. Parah-kritis
1) Luka bakar derajat 2, dengan luas bakar 30 % atau lebih
2) Luka bakar derajat 3, dengan luas luka bakar 10 % atau lebih
3) Luka bakar derajat 3 pada tangan, kaki dan wajah denagn adanya komplikasi
pernafasan, jantung fraktur, dan jaringan lunak yang luas
b. Sedang- moderate
1) Luka bakar derajat 2, dengan luas luka bakar 15-30 %
2) Luka bakar derajat e3, dengan luas luka bakar 1-10%
c. Ringan-minor
1) Luka bakar derajat 2, dengan luas luka bakar kurang dari 15%
2) Luka bakar derajat 3, dengan luas luka bakar kurang dari 1%
C. Etiologi
Ada beberapa penyebab dari terjadinya luka bakar, diantaranya adalah:
1. Luka Bakar karena Suhu Tinggi (Thermal Burn)
Luka bakar karena panas (Suhu tinggi) merupakan luka bakar yang
disebabkan karena terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau objek-objek
panas lainnya seperti gas dan bahan padat: gas, cairan, bahan padat (solid).
2. Luka Bakar karena Bahan Kimia (Chemical Burn)
Luka bakar kimia disebabkan oleh adanya kontak jaringfan kulit dengan asam
atau basa kuat (zat kimia). Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya
jaringan yang terpapar menentukan luasnya cidera karena zat kimia. Luka bakar
kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih untuk
keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang
industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25 000 produk zat kimia diketahui dapat
menyebabkan luka bakar kimia
3. Sengatan listrik (electrical Burn)
Luka bakar yang disebabkana oleh karen adanya kontak antara tubuh
manusia dengan energi listrik. Berat ringanya luka dipengaruhi oleh luka
lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik samapai
mengenai tubuh
4. Radiasi (Radiation Injury)
Luka bakar radiasi disebabkan oleh karena tubuh manusia yang terpapar
dengan sumber radioaktif. Tipe cidera ini seringkali berhubungan dengan
penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi untuk keperluan
terapeutik pada dunia kedokteran. Contoh lain adalah terpaparnya tubuh
manusia yang terlalu lama oleh sinar matahari juga merupakan salah satu tipe
luka bakar radiasi.
D. Patofisiologi
Pada dasarnnya luka bakar itu terjadi akibat paparan suhu yang tinggi, akibatnya
akan merusak kulit dan pembuluh darah tepi maupun pembuluh darah besar dan akibat
kerusakan pembuluh darah ini mengakibatkan cairan plasma sel darah, protein dan
albumin, mengalami gangguan fisiologi. Akibanya terjadilah kehilangan cairan yang
massif, terganggunya cairan didalam lumen pembuluh darah. Suhu tinggi juga merusak
pembuluh darah yang mengakibatkan sumbatan pembuluh darah sehingga beberapa jam
setelah terjadi reaksi tersebut bisa mengakibatkan radang sistemik, maupun kerusakan
jaingan lainya. Dari kilasan diatas maka pada luka bakar juga dapar terjadi sok
hipovolemik (burn syok).
1. Fase akut
Fase akut luka bakar disebut juga sebagai fase awal atau fase syok. Dalam
fase akut ini penderita akan mengalami ancaman gangguan airway( jalan
nafas), breathing (mekanisme bernafas), dan circulation ( sirkulasi). Gangguan
jalan nafas tidak hanya terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar,
namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cidera inhalasi
dalam 48-72 jam pasca trauma. Cidera inhalasi adalah penyebab kematian
utama penderita luka bakar pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cidera karena panas yang
berdampak pada sistemik
2. Fase subakut
Fase subakut berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi
adalah adanya kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan
sumber panas. Luka yang terjadi akan menyebabkan:
a) Proses imflamasi dan infeksi
b) Permasalahaan pada penutupan lukan dengan fokus perhatian pada luka yang terbuka,
jaringan epitel dan atau pada struktur organ fungsional
3. Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung sempai terjadinya jaringan parut akibat luka
dan permulihaan fungsi organ-organ fungsional. Permasalahan yang muncul
pada fase ini adalah adanya penyulit berupa parut yang hipertropik, keloid,
gangguan pigmentasi, deformitas, dan kontraktur.
E. Manifestasi Klinis
Berat ringanya luka luka bakar tergantung pada jumlah jaringan yang terkena dan
kedalaman luka bakar,
1. Luka bakar derajat 1
Merupakan luka bakar yang paling ringan. Kulit yang terbakar menjadi merah,
nyeri, sangat sensitif terhadap sentuhan dan lembab atau memebengkak. Jika
ditekan, darah yang terbakar akan memutih dan belum terbentuk bula
2. Luka bakar derajat 2
Menyebebkan kerusakan yang lebih dalam. Kulit melepuh, dasarnya nampak
merah atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yang jernih. Jika disentuh
warnannya berubah menjadi putih dan terasa nyeri.
3. Luka bakar derajat 3
Menyebabkan kerusakan yang paling dalam. Permukaan bisa berwarna putih dan
lembut atau berwarna hitam, hangus, dan kasar. Kerusakan sel darah merah pada
daerah yang terbakar bisa menyebabkan luka bakar berwarna merah terang.
Kadang daerah yang terbakar melepuh dan rambut/bulu ditempat tersebut mudah
tercabut dari akarnya. Jika disentuh, tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf
pada kulit telah mengalami kerusakan. Jaringan yang terbakar bisa mati. Jika
jaringan mengalami kerusakan akibat luka bakar, maka cairan akan merembes
dari pembuluh darah dan menyebabkan pembengkakan. Pada luka bakar yang
luas, kehilangan jumlah besar cairan karena perembesan tersebut bisa
menyebabkan terjadinya syok. Tekanan darah rendah sehungga darah yang
mengalir keotak dan organ lainya sangat sedikit.
F. Pemeriksaan Penunjang (Diagnostik)
1. Laboratorium : Hb, Ht, Leucosit, Trhobosit, Gula darah, Elektrolit, Kreatinin,
Ureum, Protein, Albumin, Hapusan luka, Urine lengkap, AGD ( bila diperlukan ),
dll.
2. Rontgen : foto thorax, dan lain-lain
3. EKG
4. CVP : Untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka bakar lebih
dari 30 % dewasa dan lebih dari 20 % pada anak
G. Komplikasi
1. Hipertrofi jaringan parut
Terbentuk hiperptrofi jaringan parut dipengaruhi oleh
a. kedalam luka bakar
b. sifat kulit
c. Usia klien
d. lamanya waktu penutupan

Jaringan parut terbentuk secara aktif pada 6 bulan post luka bakar dengan warna
awal merah mudah dan menimbulkan rasa gatal. Pembentukan jaringan parut terus
berlansun dan barna berubah merah, merah tua dan sampai coklat muda dan terasa lebih
lembut.

2. Kontraktur
Kontraktur merupakan kompilakasi yang sering menyertai luka bakar serta
menimbulkan gangguang pungsi pergerakan. Beberapa hal yang dapat mencegah
atau mengurangi terjadinya kontraktor antara lain;
a. Pemberian posisi yang baik dan benar sejak dini
b. Latihan rom baik pasif maupun aktif
c. Pressure gamen yaitu pakaian yang dapat memberikan tekanan yang bertujuan
menekan timbulnya hifertrofi scar
3. Systemic inflammatory response syndrome atau sirs terdiri dari rankaian kejadian
sistemik yang terjadi sebagai bentuk respons inflamasi. Respon yang trjadi pada sirs
merupakan respons selular yang menginisasi sejumlah mediator-induced respons
pada inflamasi dan imun (Buns M. & Chulay, 20006). SIRS (Systemtic Inflammatory
Response Syndrome) adalah respon klinis terhadap ransangn ( insult) spefisik dan
non spesifik
4. Multiple Organ Dysfunction Syndrome(MODS) didefinisikan sebgai adanya fungsi
organ yang berubah pada pasin yang sakit akut, sehingga homeostatis tidak dapat
diepertahankan lagi tanpa intervensi. Disfungsi dalam MODS mengakibatkan >2
sistem organ
H. Penatalaksanaan
Menurut Rizal (2009), secara umum penatalaksanaan luka bakar secara sistematik
dapat dilakukan dengan menggunakan rumus 6C, yaitu clothing cooling,
cleaning,chemoprophylaxis, covering, and comforting. Pada pertolongan pertama dapat
dilkukan langkah clothing dan cooling dan selanjutnya dilaakukan pada fasilitas
kesehatan
1. Clothing
Yaitu suatu upaya untuk menyingkirkan semua pakaian yang Panas atau
terbakar. Apabila bahan pakaian yang menempel dan tidak dapat dilepaskan maka
dibiarkan untuk sampai paada fase pembersihan (cleaning)
2. Cooling
Yaitu suatu upaya untuk mendinginkan daerah yang terkena luka bakar
dengan menggunakan air yang mengalir selama 20 menit. Harus dihindari
terjadinya hipotermia (penurunan suhu dibawah normal, terutama anak dan orang
tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar, kompres
dengan air dingin ( air sering diganti agar efektif tetap membersihkan rasa dingin)
yang berfungsi untuk menghilangkan rasa nyeri pada luka yang terlokalisasi.
Jangan mengompres denga menggunakan es karena dapat menyebabkan
pembuluh darah mengkerut ( vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat
derajat luka dan risiko hipertemia. Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka
bakar didalam daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyalk selama 15
menit atau lebih bila penyebabnya luka bakar berupa bubuk maka singkirkan
terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir
3. Cleaning
Adalah upaya untuk membersihkan luka dengan bantuan obat anastesi untuk
mengurangi rasa nyeri dengan membuang jaringan yang sudah mati atau
dilakukan proses debridemen, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko
infeksi berkurang.
4. Chemoprophylaxis
Yaitu memberikan agen antui tetanus yang dapat diberikan pada luka yang
lebih dalam dari superficial partial-thickness. Pemberian krim silver sulfadiazim
untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali [pada luka bakar superficial.
Krim silver sulfadiazim tidak boleh diberikan pada luka bakar yang mengenai
wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir dan ibu menyusui
dengan bayi kurang dari 2 bulan
5. Covering
Yaitu upaya penutupan luka bakar dengan kasa, yang disesuaikan denga
derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau
bahan lainya. Pembalutan luka( yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan
untuk engurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit
akibat luka bakar. Jangan diberikan mentega, minyak, oli atau larutan lainya, karena
dapat menghambat proses penyembuhan dan peningkatan resiko infeksi
6. Comforting
Yaitu memberika rasa nyaman pada klien dengan memberikan obat penurunan
rasa nyeri (analgetik).faktor fisiologis yang dapat mempengruhi nyeri meliputi
kedalaman luka, luas dan tahapan penyembuhan luka. Untuk tipe luka bakar partial
ini thickness akan terasa sangat nyeri akibat simulasi pada ujung saraf. Berbeda
dengan luka bakar full thickness yang tidak mengalami rasa nyeri karena ujung-
ujung saraf telah mengalami kerusakan. Namun demikian ujung-ujung saraf yang
terletak pada bagian tepi luka akan sangat sensitif. Faktor-faktor psikologis yang
dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap nyeri adalah kecemasan,
ketakutan dan kemampuan klien untuk menggunakan kopingnya. Sedangkan
faktor-faktor sosial meliputi pengalaman masa lalu tentang nyeri, kepribadian,
latarbelakang keluarga, dan perpisahan keluarga dan rumah. persepsi nyeri dan
respon terhadap rangsang nyeri bersifat individual oleh karena itu maka rencana
penanganan perawatan dilakukan bersifat individual.
Penatalaksanaaan luka bakar
1. Fase gawat darurat(fase resusitasi)
Fase gawat darurat diawali pada saat terjadi luka bakar dan diakhiri saat
membaiknya permiabilitas kapiler, yang biasanya terjadi pada 48-72 jam setelah
luka bakar. Tujuan utama pemulihan selama fase ini adalah untuk mencegah shock
hipovolemik dan memelihara fungsi dari organ vital. Penatalaksaanaan pada fase
gawat darurat diantaranya meliputi perawatan sebelum di rumah sakit, penanganan
instalasi gawat darurat(IGD) dan periode resusitasi.
2. Perawatan sebelum dirumah sakit (pre- hospital care)
Perawatan sebelum klien dibawah ke rumah sakit dimulai pada tempat kejadian
luka bakar dan berakhir ketika sampai di institusi pelayanan instalasi gawat darurat.
Pre-hospital care dimulai dengan memindahkan atau menghindarkan klien ddari
sumber penyebab luka bakar atau menghilangkan sumber panas .
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan pada fase pra rumah sakit diantaranya
adalah:
a. Jauhkan penderita dari sumber luka bakar
b. Padamkan pakaian yang terbakar
c. Hilangakn zat kimia penyebab luka bakar
d. Siram dengan air sebanyak-banyaknya bila karena zat kimia
e. Matiakn listrik atau jauhakn dari sumber listrik dengan menggunakan objek yang kering
ddan tidak menghantarkan arus(nonconductive).
f. Kaji ABC(Airway,Breathing, Circulation): perhatikan jalan nafas ( Airway) pastikan
pernafasan adekuat dan kaji sirkulasi
g. Kaji adanya trauma yang lain
h. Pertahankan suhu tubuh
i. Perhatikan kebutuhan untuk pemberian cairan intravena
j. Segera bawa kerumah sakit
3. Penatalaksanaan luka bakar di instalasi gawat darurat(IGD)
Penatalaksaan luka bakar di IGD merupakan kelanjutan dari tindakan yang
sudah diberikan pada waktu kejadian. Jika pengkajian dan atau penanganan yang
dilakukan tidak adekuat, maka penaangana pra rumah sakit diberikan di IGD
Langkah-langkah pentalaksanaan luka bakar di IGD:
a. Gunakan sarung tangan steril bila melakukan pemeriksaan penderita
b. Bebaskan dari pakaian yang terbakar
c. Lakukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk memastikan adanya trauma lain
yang menyertai
d. Bebaskan jalaan nafas, dan bila terjadi distress jakan nafas dapat dipasangkan endotrakheal
tube (ETT), sedangkan trakheostomi dilakukan hanya bila ada indikasi
e. Pasang intravenous kateter (IV line ) yang cukup besar dan berikan cairan ringer lktat
dengan jumlah 30-50 cc/jam untuk dewasa dan 20-30 cc/ jam untuk anak-anak diatas 2
tahun serta 1 cc/kg/jam untuk anak dibawah 2 tahun
f. Lakukan pemasangan foley kateter untuk monitor jumlah produksi urin. Catat jumlah urine
setiap jam
g. Lakukan pemasangan nasogastrik tube (NGT) untuk melakukan dekompresi lambung
dengan penghisapan secara intermiten
h. Berikan morfin intravena dan hindari penggunaan secara intramuscular untuk
menghilangkan rasa nyeri hebat
i. Timbang berat badan
j. Berikan tetanus toksoid bila duperlukan (1500 unit untuk dewasa) pemberian tetanus toksoid
booster bila penderita tidak mendapatkanya dalam 5 tahun terakhir
k. Pencucian luka dilakukan dikamar operasi dengan generaal anestesi.luka dicuci, debridemen
dan didesinfeksi dengan salvon 1:30 setelah bersih tutup dengan tulle kemudian olesi
denga silver sulfadiazine sampai tebal.luka dirawat secara tertutup dan dibalut dengan kasa
steril yang tebal pada hari ke 5 kasa dibuka dengan dan korban dimandikan dengan air
dicampur salvon 1:30
l. Lakukan eskaratomi, yaitu suatu prosedur yang dilakukan untuk membuang jaringan yang
mati ( eskar) dengan tehnik eksisi tangensial berupa eksisi lapis demi lapis jaringan nekrotik
sampai didapatkan permukaan yang berdarah. Fasiatomi dilakukan pada luka bakar yang
mengenai kaki dan tangan melingkar, agar bagian distal tidak nekrose karena
pembendungan.
Selain itu, Penatalaksanaan luka bakar juga dapat dilakukan dengan alternatif
pengobatan lain seperti madu dan gel eksttrak daun cina. Hal ini terbukti dari banyaknya
penelitin yang telah dilakukan.
1. Madu
Madu telah digunakan sebagai obat sejak jaman kuno. Ayurveda (pengobatan India)
mendefinisikan madu sebagai sari kehidupan dan merekomendasikan penggunaannya
sebagai pengobatan. Papyrus dari mesir kuno menyebutkan pengobatan luka bakar
dengan menggunakan madu. Tentara rusia dan tentara Cina juga menggunakan madu
untuk mengobati luka pada Perang Dunia I. Literatur lain juga menunjukan bahwa madu
dapat mengurangi tingkat infeksi.
Dunia kedokteran saat ini telah banyak membuktikan madu sebagai obat yang
unggul. Sebuah laporan menunjukkan luka yang dibalut dengan madu menutup pada 90
% kasus. Ada beberapa hasil penelitian yang melaporkan bahwa madu sangat efektif
digunakan sebagai terapi topikal pada luka melalui peningkatan jaringan granulasi dan
kolagen serta periode epitelisasi secara signifikan.
2. Ekstrak daun petai cina
Daun petai cina (Leucaena glauca, Benth) mengandung senyawa golongan
flavonoid, Saponin, dan tanin. Berdasarkan penelitian sebelumnya telah terbukti bahwa
golongan senyawa tersebut mempunyai aktivitas sebagai penyembuh luka bakar.
flavonoid merupakan senyawa aktif yang dapat berperan dalam proses penyembuhan
luka bakar karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada jaringan hidup (Harris,
2011), meningkatkan jumlah fibroblast (Sumartiningsih, 2009) dan meningkatkan
produksi IL-2 dan proliferasi (Titisanti, 2005; Nopitasari, 2006).
I. Prognosis
Tingkat mortalitas untuk pasien yang dirawat di unit luka bakar secara global adalah
sekitar 2-4%
Gambar: kontraktur otot leher paska luka bakar menyebabkan terjadinya deformitas
mandibular
Sumber: https://www.alomedika.com/penyakit/bedah-plastik/luka-bakar/prognosis
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan data baik data subjektif maupun data objektif. Data subjektif diperoleh
berdasarkan hasil wawancara baik dengan klien maupun orang lain. Sedangkan Data
Objektif diperoleh berdasarkan hasil observasi dan pemeriksaan fisik.
Pengkajian data merupakan tanggung jawab yang sangat penting bagi tim. Kepada
klien atau yang lainnya perlu ditanyakan tentang kejadian tentang kecelakaan luka bakar
tersebut. Informasi yang diperlukan meliputi waktu injuri, tingkat kesadaran pada waktu
kejadian, apakah ketika injuri terjadi klien berada di ruangan tertutup atau terbuka,
adakah trauma lainnya, dan bagaimana mekanisme injurinya. Jika klien terbakar karena
zat kimia, tanyakan tentang zat kimia apa yang menjadi penyebabnya, konsentrasinya,
lamanya terpapar dan apakah dilakukan irigasi segera setelah injuri. Sedangkan jika klien
menderita luka bakar karena elektrik, maka perlu di tanyakan sumbernya, tipe arus dan
voltagenya yang dapat di gunakan untuk menentukan luasnya injuri. Informasi lain yang
di perlukan tentang riwayat kesehatan klien masa lalu seperti kesehatan umum klien.
Informasi yang lebih khusus, adalah berkaitan dengan penyakit-penyakit jantung,
pulmoner, endokrin, dan penyakit ginjal karena itu semua mempunyai implikasi terhadap
tindakan yang akan di lakukan. Di samping itu perlu pula di ketahui tentang riwayat
alergi klien, baik terhadap obat maupun yang lainya.
Adapun pengkajian keperawatan pada klien luka bakar adalah sebagai berikut:
1. Data boigrafi
Langkah awal adalah melakukan pengkajian terhadap data biografi klien yang
meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, ras, dan lain-lain.
2. Luas luka bakar
Untuk menentukan luias luka bakar dapat digunakan salah satu metode yang
ada,yaitu metode “rule of nine”.
3. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar dapat di kelompokkan menjadi tiga macam yaitu luka
bakar derajat 1, derajat 2, dan derajad 3.
4. Lokasi atau area luka
Luka bakar yang mengenai tempat-tempat tertentu memerlukan perhatian
khusus, oleh karena akibatnya yang dapat menimbulkan berbagai masalah.
Seperti, jika luka bakar mengenai area wajah, leher dan dada dapat mengganggu
jalan nafas dan ekspansi dada yang diantaranya disebabkan karena edema pada
laring. Sedangkan jika mengenai ekstermitas maka dapat menyebabkan
penurunan sirkulasi ke daerah ekstermitas karena terbentuknya edema dan
jaringan skar. Oleh karena itu pengkajian terhadap jalan nafas (airway) dan
pernafasan (breathing) serta sirkulasi (sirculation) sangat diperlukan. Luka bakar
yang mengenai mata dapat menyebabkan terjadinya laserasi kornea, kerusakan
retina dan menurunnya tajam penglihatan.
5. Masalah kesehatan lain
Adanya masalah kesehatan yang lain yang dialami oleh klien perlu dikaji.
Masalah kesehatan tersebut mungkin masalah yang dialami oleh klien sebelum
terjadi luka bakar seperti diabetes melitus, atau penyakit pembuluh perifer dan
lainnya yang akan menghambat penyembuhan luka. Disamping itu perlu pula
diwaspadai adanya injuri lain yang terjadi pada saat peristriwa luka bakar terjadi
seperti fraktur atau trauma lainnya. Riwayat alergi perlu diketahui baik alergi
terhadap makanan, obat-obatan ataupun yang lainnya, serta riwayat pemberian
imunisasi yang lalu.
6. Data penunjang
a) Sel Darah Merah (RBC) : dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood Cell)
karena kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya
produksi sel darah merah karena depresi sumsum tulang.
b) Sel Darah Putih (WBC) : dapat terjadi leukositosis (Peningkatan sel darah putih (White
Blood Cell)) sebagai respon inflamasi terhadap injuri.
c) Gas Darah Arteri (ABG) : hal yang penting pula diketahui adalah nilai gas darah arteri
terutama jika terjadi injuri inhalasi. Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2.
d) Karboksihemoglobin (COHb) : kadar COHb (Karboksihemoglobin) dapat meningkat
lebih dari 15% yang mengindikasikan keracungan karbonmonoksida.
e) Serum elektrolit :
1) Potasium (K) pada permukaan akan meningkat karena injuri jaringan atau
kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal; hipoklemia dapat
terjadi ketika diuresis di mulai; magnesium mungkin mengalami penurunan.
2) Sodium (Na) pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari
tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia.
f) Sodium urine : jika leboh besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan resusitasi
caiiran, sedamgkan jika kurang dari 10 mEq/L menunjukkan tidak adekuatnya resusitasi
cairan.
g) Alkaline pospatase : meningkat akibat berpindah caitran interstietitial/kerusakan pompa
sodium.
h) Glukosa serum : meningkat sebagai refleksi respon terhadap stress.
i) BUN/kreatinin : meningkat yang merefleksikan menurunnya perfusi atau fungsi renal,
namun demikian kreatinin mungkin meningkat karena injuri jaringan.
j) Urine : adanya albumin, Hb, dan meoglobin dalam urine mengindikasikan kerusakan
jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna urine merah kehitaman
menunjukkan adanya mioglobin.
k) Rontgen dada : untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri inhalasi.
l) Bronhoskopi : untuk mendiagnosa luasnya injuri inhalasi. Mungkin dapat ditemukan
adanya edema, perdarahan dan atau ulserasi pada saluran anafas bagian atas.
m) ECG : untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka bakar karena elektrit.
n) Foto luka : sebagai dokumentasi untuk membangdingkan perkembangan penyembuhan
luka bakar
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d saraf yang terbuka, kesembuhan luka dan penanganan luka bakar
2. Ketidakefektifan pola nafas b.d deformitas dinding dada, keletihan otot-otot
pernafasan, hiperventilasi
3. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (evaporasi akibat luka bakar)
4. Kerusakan integritas kulit b.d luka bakar terbuka
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipermetabolisme dan
kebutuhan bagi kesembuhan luka
6. Resiko infeksi b.d hilangnya barier kulit dan terganggunya respon imun
7. Gangguan citra tubuh b.d perubahan pada penampilan tubuh (trauma)
8. Ansietas b.d perubahan pada status kesehatan dan pola interaksi
9. Defisiensi pengetahuan b.d proses penanganan luka bakar
C. Intervensi Keperawatan

DX TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

1 Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor TD, nadi, suhu dan 1. mengetahui kondisi
keperawatan selama respirasi. pasien
selama ....x24 jam diharapkan 2. Identifikasi adanya 2. mengetahui TTV
nyeri berkurang. perubahan TTV. pasien
3. Cek secara periodik TTV 3. mengetahui keadaan
Kriteria hasil:
pasien. pasien
a. nyeri berkurang 4. Kaji secara komprehensif 4. mengetahui nyeri
b. mengontrol nyeri tentang nyeri, meliputi : yang dirasakan
c. TTV normal lokasi, karakteristik, dan
d. mampu onset, durasi, frekuensi,
mengekspresikan nyeri kualitas, intensitas / beratnya
nyeri, dan factor- factor
predisposisi.
5. Observasi isyarat –isyarat 5. mengetahui nyeri
non verbal dari yang dirasakan
ketidaknyamanan ,
khususnya dalam
ketidakmampuan untuk
berkomunikasi secara 6. memudahkan dalam
efektif. berkomunikasi
6. Gunakan komunikasi
terapeutik agar pasien dapat 7. mengurangi nyeri
mengekspresikan nyeri yang dirasakan
7. Anjurkan penggunaan
tekhnik non farmakologi (ex:
relaksasi, guided imagery,
terapi musik, 8. mengurangi nyeri
distraksi,aplikasi panas-
dingin, masase, dll). 9. agar nyeri tidak
8. Berikan anelgetik untuk bertambah
mengurangi nyeri . 10. agar dapat
9. Cegah tindakan yang tidak mengurangi nyeri
dibutuhkan.
10. Posisikan pasien pada posisi
yang nyaman.
2 Setelah diberikan asuhan 1. Kaji reflek menelan, perhatikan 1. Dugaan cedera inhalasi
keperawatan ..x24jam pengaliran air liur 2. Takipnea, penggunaan
diharapkan pola nafas klien akan 2. Awasi frekuensi nafas. Irama, otot bantu, sianosis
efektif. Kriteria hasil: kedalaman, perhatikan adanya menunjukkan distress
pucat/sianosis pernafasan
a. Suara nafas bersih
3. Auskultasi paru;perhatikan 3. Obstruksi jalan nafas
b. Respirasi rate:16-24 kali/mnt
adanya stridor dapat terjadi sangat
c. Tidak ada dispnea
4. Tinggikan kepala tempat cepat (48 jam pertama)
d. Tidak ada sianosis.
tidur;hindari menggunakan 4. Meningkatkan ekspansi
kepala dibawah kepala paru
5. Ajarkan klien un-tuk batuk 5. Mempermudah dalam
efektif dan ber-nafas dalam member-sihkan saluran
setiap 1-2 jam selama 24 jam, nafas bagian atas,
kemudian se-tiap 2-4 jam, dan memobilisasi sekret.
perubahan posisi. 6. mendorong klien untuk
6. Letakan peralatan suction oral member-sihkan sendiri
dalam jangkaun klien un-tuk sekresi oral dan sputum.
digunakan sen-diri oleh klien. 7. Menghilangkan sekresi
7. Lakukan endotra-cheal suction dari sa-luran nafas bagi-
jika diperlukan, dan monitor an atas. Warna,
serta doku-mentasikan karak- konsistensi, bau dan
teristik sputumnya. banyaknya dapat
8. Kolaborasi mengindi-kasikan
adanya infeksi.
 berikan O2(masker) 8. O2 memperbaiki
 Awasi GDA hipoksemia/asidosis.
Data dasar untuk status
pernafasan. PaO2 , dari
50; PaCO2 >50 dan
penurunan PH
menunjukkan inhalasi
asap.
9. Berikan bantuan
9. Membantu mengalirkan
spirometri/fisioterapi dada
area dependen,
spirometri dilakukan
untuk memperbaiki
ekspansi paru

3 Setelah diberikan asuhan 1. Pertahankan catatan intake 1. agar cairan tetap


keperawatan selama ....x24 jam dan output yang akurat. adekuat
diharapkan volume cairan 2. Monitor status hidrasi 2. agar tidak terjadi
adekuat. (kelembaban membran kekurangan cairan
mukosa, nadi adekuat, tekanan
KriteriaHasil :
darah ortostatik). 3. mampu mengontrol
a. Menunjukkanperbaikankesei 3. Monitor TTV. tingkat cairan
mbangancairandibuktikanole
hhaluaran urine individu, 4. Jaga keakuratan pemasukan 4. mengetahui cairan
b. tanda-tanda vital stabil, dan pengeluaran. masuk dan keluar
c. membrane mukosa lembab. 5. Kolaborasipemberiancairan IV. 5. memaksimalkan
d. turgor kulit baik
masukan cairan

4 Setelah diberikan asuhan 1. Kaji, catat ukuran, warna, 1. Memberikan informasi


keperawatan selama ....x24 jam kedalaman luka, perhatikan dasar
diharapkan kerusakan integritas jaringan nekrotik
kulit minimal Kriteria hasil: 2. Berikan perawatan luka bakar
2. Menyiapkan jaringan
yg tepat dan tindakan kontrol
a. menunjukkan pnyembuhan untuk penanaman dan
infeksi
luka tepat waktunya menurunkan risiko

b. menunjukkan regenerasi infeksi

jaringan

3. Tinggikan area graft bila 3. Menurunkan edema,ris


mungkin pembekakan graft

4. Pertahankan balutan diatas area 4. Area mungkin ditutupi


graft baru oleh bahan dg
permukaan tembus
pandang
5. Kolaborasi:
5. mempercepat
siapkan prosedur bedah /
penyembuhan
balutan biologis
5. Setelah diberikan asuhan 1. Kaji berat badan sebelum luka 1. Kebutuhan kalori
keperawatan selama ....x24 jam bakar didasarkan pada berat
diharapkan pasien dapat badan pre luka baka
mempertahankan 85-90% berat 2. Konsulkan pada ahli diet 2. Untuk melakukan kajian
badan sebelum luka bakar. nutrisi.
3. Sebagai data dasar
Criteria hasil :
3. Kaji pola makan, kesukaan, pengkajian status nutrisi
a. mampu mengidentifikasi alergi makanan dalam 72 jam
kebutuhan nutrisi setelah makan.
4. Data kuantitatif intake
b. tidak ada tanda malnutrisi kalori
4. Catat intake kalori (jumlah
c. tidak menunjukkan
kalori)
penurunan berat badan yang
5. Ukur berat badan setiap hari 5. Berat badan akan stabil
berarti
untuk mengikuti kecende- jika intake kaloti

rungan be at badan (kecuali: jika terpenuhi

pro-sedur operasi me-merlukan


pemba-tasan pergerakan).
6. Lakukan oral higiene setiap 6. Mencegah stoma-titis &
shift/jika dibutuhkan. meningkat kan selera
7. Sediakan waktu istirahat makan
sebelum jam makan jika klien 7. Nyeri menurun-kan
mengalami nyeri karena selera makan
prosedur atau treatmen.
8. Sediakan alat bantu untuk
mempermudah makan. 8. Mempermudah

9. Dorong klien/keluarga unttk perawatan diri

membawa makanan kesukaan


dari rumah. 9. Klien akan selera

10. Berikan nutrisi suplemen dengan makanan yang

diantara jam makan. disukai.

11. Berikan motivasi positif untuk 10. Kebutuhan kalori

makan. seringkali perlu


ditingkatkan
11. Klien anoreksia meyakini
bahwa makan tidaklah
bermanfaat

6 Setelah diberikan asuhan 1. Bersihkan lingkungan dengan 1. agar tidak ada sumber
keperawatan selama ....x24 jam benar setelah digunakan infeksi yang masuk
diharapkan tidak terjadi infeksi pasien. 2. memberkan
pada pasien. 2. Ajarkan pasien cara mencuci pengetahuan pasien
tangan yang baik dan benar. dan terhindar dari
Kriteria hasil: kotoran dari tangan
3. Ajarkan kepada pasien dan 3. memberikan
a. Mengidentifikasi faktor yang
keluarga tanda dan gejala pengetahuan pada
dapat menimbulkan resiko
infeksi dan kapan harus pasien dan keluarga
b. menjelaskan kembali tanda
melaporkannya ke pihak
dan gejala yang
pelayanan kesehatan. 4. mempertahankan
mengidikasi resiko infeksi.
4. Pertahankan tehnik isolasi jika kebersihan luka
c. Menggunakan sumber dan
diperlukan.
pelayanan kesehatan untuk
5. agar tidak menanbah
mendapatka informasi.
5. Batasi pengunjung jika sumber infeksi yang
diperlukan. masuk

7 Setelah diberikan asuhan 1. Kaji makna 1. Episode traumatik


keperawatan selama .. x24 jam kehilangan/perubahan pada mengakibatkan
diharapkan dapat menerima pasien perubahan tiba-tiba dan
keadaan diri Kriteria hasil: memerlukan dukungan
2. Terima dan akui ekspresi 2. Penerimaan perasaan
a. mentakan penerimaan
frustasi, marah, menarik diri membantu perbaikan
situasi diri
3. Meningkatkan
b. bicara dg keluargatentang
3. Bersikap realistis dan positif kepercayaan antara
perubahan yg terjadi
selama pengobatan perawat dg pasien
c. membuat tujuan untuk
masa depan
4. Kata-kata penguatan dpt
4. Berikan penguatan positif thd mendukung terjadinya
kemajuan dan dorong usaha perilaku koping positif
untuk mengikuti rahabilitasi 5. Mempertahankan garis
komunikasi dan
5. Dorong interaksi keluarga memberikan dukungan
kepada pasien
8 Setelah diberikan asuhan 1. Lakukan pendekatan dengan 1. Pendekatan yang

keperawatan selama ...x24 jam pasien menggunakan teknik dilakuakan dengan

diharapkan rasa cemas dan komunikasi terapieutik pasien dapat


khawatir yang dirasakan pasien mengurangi beban

berkurang 2. Beri kesempatan pada pasien kecemasan pasien


untuk mengungkapkan dalam menghadapi
kriteria hasil:
perasaanya. operasi.
a. Pasien mengatakan bahwa 3. Jelaskan tentang prosedur 2. Dengan
cemasnya berkurang. pembedahan sesuai jenis mengungkapkan
b. Pasien tampak rileks. operasi. perasaan pasien
4. Instruksikan pasien ketegangan dan
menggunakan teknik relaksasi. kehawatiran yang
dirasakan dapat
berkurang.
3. Pasien yang
teradapatasi dengan
prosedur pembedahan
yang akan dilaluinya
akan merasa lebih
nyaman.
4. Dengan melakukan
teknik relaksasi pasien
dapat mengurangi
tingkat tegangan dan
kecemasannya.
9 Setelah diberikan asuhan 1. Kaji pengetahuan pasien 1. Memberikan dasar
keperawatan selama ....x24 jam tentang prognosis penyakit pengetahuan dimana
diharapkan pengetahuan pasien 2. Kaji ulang perawatan luka bakar, pasien dpt membuat
bertambah. Kriteria hasil: skin graf pilihan berdasarkan
3. Diskusikan perawatan informasi
a. pasien menyatakan
kulit,contoh memakai pelembab 2. Meningkatkan
pemahaman kondisi,
4. Jelaskan proses jaringan parut kemampuan perawatan
prognosis,pengobatan
dan perlunya penggunaan diri stlh pulang
b. berpartisipasi dalam program
pakaian penekan yg tepat 3. Gatal, lepuh, dan
pengobatan
5. Identifikasi tanda gejala yg sensitivitas luka yg
memerlukan evaluasi medik: sembuh dpt diharapkan
inflamasi, demam, peningkatan dlm waktu yg lama
drainase luka 4. Meningkatkan
pertumbuhan kulit agar
kembali normal
5. Deteksi dini trjadinya
komplikasi

Phatway

Bahan Kimia Termis Radiasi Listrik/petir

Biologis LUKA BAKAR Psikologis Masalah


Keperawatan:
Sumber: https://id.scribd.com/document/372621078/293225176-Laporan-Pendahuluan-Luka-Bakar
DAFTAR PUSTAKA
Majid, Abdul & Agus. 2013. “Perawatan Pasien Luka Bakar”. Yogyakarta: Gosyen Publishing
Kristanti, Paula dkk. 2013. “Asuhan Keperawatan Gawat Darurat”. Jakarta: Trans Info Media
Musliha. 2010. “Keperawatan Gawat Darurat”. Yogyakarta: Nuha Medika
Nurarif A.H. dan Kusuma H. 2015. “APLIKASI Asuhan Keperawatan
berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC”. Jogjakarta : MediAction
Rembulan, Vidianka. (2015). “Potency of Honey in Treatment of Burn Wounds”.
2015, Vol.4 No.1
Sari, S., Safitri, W & Utami, R. (2018). “Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan
Metode Demonstrasi terhadap Praktik Pertolongan Pertama Luka Bakar
pada Ibu Rumah Tangga di Garen RT.01/RW.04 Pandean Ngemplak
Boyolali”. 2018
Dewantari, Dwi & Sugihartini, Nining. (2015). "Formulasi dan Uji Aktivitas Gel
Ekstrak Daun Petai Cina (Leucaena Glauca, Benth) sebagai sediaan Obat
Luka Bakar". 2015, Vol.2 No.5
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. “Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia”. Edisi
1. Jakarta: DPP PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. “Standar Intervensi Keperawatan Indonesia”. Edisi
1. Cetakan 2. Jakarta: DPP PPNI