Anda di halaman 1dari 36

“TINDAKAN KEPERAWATAN FISIOTERAPI DADA

DENGAN MASALAH KETIDAKFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS


PADA KLIEN TBC”

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

OLEH :

SHANIA ANGELYA SULISTIANA


NIM. 2017.49.059

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


TINDAKAN KEPERAWATAN FISIOTERAPI DADA DENGAN MASALAH
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF PADA KLIEN TBC

(Studi Kasus Di RSUD Kabupaten Kediri)

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Keperawatan
di Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

OLEH :
SHANIA ANGELYA SULISTIANA
NIM : 2017-49-059

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


TAHUN AKADEMIK 2019/2020

i
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Shania Angelya Sulistiana

NIM : 2017.49.059
Tempat, tanggal lahir : Kediri, 18 Maret 1999

Institusi : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “Tindakan Keperawatan
Fisioterapi Dada dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Pada Klien
TBC” memang benar merupakan karya original yang dibuat sendiri oleh penulis,
bukan Karya Tulis Ilmiah dari orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali
kutipan yang sudah disebutkan sumbernya.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar benarnya dan apabila
pernyataan ini tidak benar maka kami siap untuk menerima sanksi sebagai bentuk
tanggung jawab kami.

Kediri, Desember 2019

Yang menyatakan

Shania Angelya S
NIM. 2017.49.059

ii
HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH YANG BERJUDUL

TINDAKAN KEPERAWATAN FISIOTERAPI DADA DENGAN MASALAH


BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF PADA KLIEN TBC

TELAH DIREVISI SESUAI REKOMENDASI UJI PROPOSAL

Pada tanggal : 27 Desember 2019

Pembimbing

Ns. NOVITA SETYOWATI.,S.Kep.,M.Kep


NIDN. 0724118501

iii
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya kepada penulis sehingga laporan
tugas akhir yang berjudul “Tindakan Keperawatan Fisioterapi Dada dengan
Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Pada Klien TBC” ini dapat
terselesaikan dengan baik dan lancar. Laporan tugas akhir ini disusun sebagai syarat
untuk menyelesaikan pendidikan Ahli Madya Keperawatan. Dalam penyusunan
proposal dan laporan tugas akhir ini tidak lepas dari segala bimbingan dan bantuan
berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Heny Kristanto, S.Kp, M.Kes selaku koordinator pengelola prodi D3


Keperawatan Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri yang
memberikan izin kepada penulis sehingga penulis dapat melakukan laporan
kasus ini dengan lancar.
2. Ibu Ns. Novita Setyowati, S.Kep, M.Kep selaku pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga laporan tugas
akhir ini dapat tersusun dengan baik.
3. Ibu Ns. Dyah Ika Krisnawati, S.Kep, Msi, P.hD selaku pembimbing yang
telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga laporan
tugas akhir ini dapat tersusun dengan baik.
4. Seluruh dosen dan tenaga kependidikan Akademi Keperawatan Dharma
Husada Kediri yang telah membantu dalam menyelesaikan Proposal Karya
Tulis Ilmiah.
5. Orang tua dan adikku yang telah memberi semangat dan memberikan
dukungan baik secara materi, moral, maupun spiritual demi terselesaikannya
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Teman-temanku mahasiswa Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri
satu angkatan serta semua pihak yang telah ikut membantu secara langsung

iv
maupun tidak langsung dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini
yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Kediri, Desember 2019


Penyusun

Shania Angelya Sulistiana


NIM. 2017.49.059

v
DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN......................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN.....................................................................................iii
KATA PENGANTAR.................................................................................................iv
DAFTAR ISI...............................................................................................................vi
DAFTAR TABEL.....................................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................................ix
BAB I............................................................................................................................1
PENDAHULUAN........................................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................3
C. Tujuan Penelitian...................................................................................................3
D. Manfaat Penelitian.................................................................................................4
BAB II..........................................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................5
A. Konsep Medis : TBC.............................................................................................5
1. Definisi TBC..................................................................................................5
2. Manifestasi Klinis..........................................................................................5
3. Penatalaksanaan.............................................................................................7
B. Konsep Masalah Keperawatan : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif.................11
1. Definisi.........................................................................................................11
2. Penyebab......................................................................................................11
3. Batasan Karakteristik...................................................................................12
4. Gejala dan Tanda Mayor..............................................................................12
5. Gejala dan Tanda Minor..............................................................................12
6. Kondisi Klinis Terkait..................................................................................13
7. Luaran Utama...............................................................................................13
C. Konsep Tindakan Keperawatan : Fisioterapi Dada.............................................14
1. Definisi.........................................................................................................14
2. Tujuan..........................................................................................................14

vi
3. Intervensi Keperawatan................................................................................15
D. Prosedur Pelaksanaan Fisioterapi Dada...............................................................16
E. Konsep Evaluasi..................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................18

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Luaran Utama


Table 2.2 Prosedur Pelaksanaan Fisioterapi Dada
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Informed Consent


Lampiran 2 : Pengkajian Keperawatan
Lampiran 3 : Lembar Evaluasi Tindakan
Lampiran 4 : Lembar Evaluasi Hasil
Lampiran 5 : Jadwal Penyusunan KTI
Lampiran 6 : Lembar Konsultasi Pembimbing 1
Lampiran 7 : Lembar Konsultasi Pembimbing 2

ix
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada klien TBC produksi mukus yang berlebihan menyebabkan proses
pembersihan tidak berjalan secara adekuat, sehingga mukus banyak tertimbun
dan bersihan jalan nafas tidak efektif (Magee et al., 2017). Hal ini yang dapat
memunculkan diagnosa keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan penumpukan sekret. Bersihan jalan nafas tidak efektif
adalah ketidakmampuan membersihakan sekresi atau obstruksi dari saluran
nafas untuk mempertahankan bersihan jalan nafas (Herdman, 2015- 2017),
berdasarkan gejala utama pada pasien TBC adalah batuk berdahak selama 2-3
minggu atau lebih dan sesak nafas. Batuk yang dilakukan pada penderita TBC
merupakan batuk yang inefisien dan membahayakan (Kristiani, 2016). Batuk
terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk diperlukan untuk membuang
produk-produk radang keluar. Batuk dimulai dari batuk kering/non produktif
kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan
sputum) ini terjadi lebih dari tiga minggu (Abd. Wahid, 2013).
Jumlah kasus baru TBC di Indonesia tahun 2013 sebanyak 460.000
dan sekitar 140.000 kematian di Indonesia setiap tahunnya disebabkan oleh
TBC (WHO,2013). Data di provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 yang
menderita TBC mencapai 42.222 klien. Di kota Kediri pada tahun 2013
penderita TB mencapai ± 1.600 klien, sedangkan data di RSUD Gambiran
pada tahun 2012 jumlah penderita sebanyak 81 klien, pada tahun 2013
sebanyak 98 klien, pada tahun 2014 sebanyak 164 klien total keseluruhan
selama tiga tahun terakhir adalah sebanyak 343 klien. Data tersebut
mengalami peningkatan sebesar 3,4% dari 100% keseluruhan penderita TBC
(Rekam Medik RSUD Gambiran, 2014). Berdasarkan data yang diambil dari
rekam medic RSUD Ratu Zalecha Martapura tahun 2017, pada bulan Mei
sampai bulan Oktober terdapat 441 pasien (27,63%) dari 1596 pasien dengan
diagnose TBC. Dari hasil penelitian Asni Hasaini pada tahun 2018 didapatkan
10 orang (100%) klien dengan TBC

1
2

mengalami keluhan batuk dan sulit untuk mengeluarkan dahak, serta


kesulitan dalam bernapas dan 8 orang (80%) mengatakan tidak paham dan
belum pernah melakukan tehnik untuk mengeluarkan dahak, hanya sering
dilakukan tindakan penguapan, sedangkan 2 orang (20%) mengatakan dalam
mengeluarkan dahak menggunakan tehnik fisioterapi dada yang diajarkan
perawat dan cara tersebut membantu mereka dalam mengeluarkan dahak di
pagi hari (Asni Hasaini, 2018).
Bersihan jalan nafas tidak efekif mengakibatkan pengeluaran dahak
yang tidak lancar sehingga dapat mengalami kesulitan bernapas pada paru-
paru dan mengakibatkan timbulnyna sianosis, kelelahan, apatis serta merasa
lemah. Dalam tahap selanjutnya akan mengalami penyempitan jalan nafas
sehingga terjadi perlengketan jalan nafas dan terjadi obstruksi jalan nafas.
Untuk itu perlu bantuan untuk mengeluarkan dahak yang lengket sehingga
bersihan jalan nafas kembali efektif (Nugroho, 2011). Pada klien TBC bila
penanganannya kurang baik, maka klien akan mengalami komplikasi seperti,
Hemoptisis (pendarahan dari saluran nafas bawah), Kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial, Bronkiektasis (peleburan bronkus setempat), Pneumotorak,
dan penyebaran infeksi ke organ lain (Rahim, 2008). Selain itu, kesulitan
bernapas akan menghambat pemenuhan suplai oksigen dalam tubuh dan
mengalami kematian sel, hipoksemia serta penurunan kesadaran sehingga
dapat mengakibatkan kematian apabila tidak ditangani (Sari, 2016). Upaya
yang dapat dilakukan untuk menangani bersihan jalan nafas tidak efektif
dengan cara memberikan tindakan fisioterapi dada untuk membantu klien
mengeluarkan dahak, karena tindakan ini dimana klien dapat menghemat
energi sehingga klien tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak
secara maksimal (Apriyadi, 2013).
Orang yang mengalami penyakit kronik terus menyebarkan
mycobacterium tuberculosis ke lingkungan, kemungkinan menginfeksi orang
lain (Priscillia LeMone, 2012). Gejala paling ringan menyebabkan sekret
akan terkumpul pada jalan napas, saat klien tidak mampu untuk
mengeluarkan sekret maka menimbulkan masalah (Yuliati Alie, Rodiyah,
2013). Tindakan fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang
3

sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut
maupun kronis (Ii, Teoritis, & Paru, 2011). Oleh karena itu penulis
mengangkat tindakan tersebut untuk mengurangi sesak nafas, nyeri dada
karena terlalu sering batuk, penurunan ekspansi thoraks, dan jalan nafas yang
terganggu diakibatkan oleh sekresi yang berlebihan, sehingga mampu
meningkatkan kemampuan fungsional dan pasien akan merasa lebih rileks
(Prijonegoro, 2016). Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik
untuk mengeksplorasi lebih dalam tentang “Tindakan Keperawatan
Fisioterapi Dada Dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Pada
Klien TBC” (Tohamy, 2015).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merumuskan masalah yaitu :
Bagaimana Tindakan Keperawatan Fisioterapi Dada dengan Masalah
Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif pada Klien TBC?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan
mempraktikan Bagaimana tindakan keperawatan fisioterapi dada dengan
masalah pada bersihan jalan nafas tidak efektif pada klien tbc.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan persiapan tindakan fisioterapi dada dengan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada klien TBC
b. Mampu melakukan perencanaan tindakan fisioterapi dada dengan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada klien TBC
c. Mampu mengevaluasi pengaruh tindakan fisioterapi dada dengan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada klien TBC
4

D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Menambah pengetahuan ilmu keperawatan mengenai tindakan fisioterapi
dada dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada klien TBC,
sehingga dapat memperkaya ilmu keperawatan secara umum.
2. Secara Praktis
a. Bagi profesi keperawatan
Memberikan wawasan pada tenaga keperawatan DIII maupun S1
untuk menetapkan tindakan fisioterapi dada dengan masalah bersihan
jalan nafas tidak efektif pada klien TBC.
b. Bagi pasien dan keluarga
Studi kasus ini diharapkan supaya klien dan keluarga memahami
tentang perawatan penderita TBC dengan masalah bersihan jalan
nafas tidak efektif.
c. Bagi pendidik keperawatan
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai
gambaran penerapan teori penanganan terhadap klien TBC dengan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif.
d. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai sumber referensi dan bahan perbandingan bagi peneliti
selanjutnya dalam melakukan penelitian yang serupa tentang tindakan
fisioterapi dada dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada
klien TBC.
e. Bagi penulis
Sebagai panduan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan dalam
dunia kerja khususnya dalam tindakan fisioterapi dada dengan
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif pada klien TBC.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis : TBC


1. Definisi TBC
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksisu kronik dan berulang
yang biasanya mengenai paru, meskipun semua organ dapat terkena.
Disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Priscilla, 2012)
Tuberculosis paru merupakan infeksi bakteri kronik yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan ditandai oleh
pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh
hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated hypersensitivity).
Penyakit ini biasanya terletak di paru, tetapi dapat mengenai organ lain
(Harrison, 2015).

2. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari TBC yaitu adanya batuk >4 minggu dengan
atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam ,nyeri dada, batuk darah
dan sesak napas (Padila, 2013). Secara rinci tanda dan gejala dari TBC
dibagi menjadi 2, yaitu gejala sistemik dan respiratorik.
a. Gejala sistemik TBC yaitu:
1) Demam
Demam merupakan gejala utama dari TBC yang sering muncul
pada sore dan malam hari disertai dengan keringat mirip demam
influenza yang segera mereda tergantung dari daya tahan tubuh
individu. Serangan demam terjadi setelah tiga sampai sembilan
bulan. Demam seperti influenza terjadi hilang timbul dan dapat
mencapai suhu tinggi yaitu 40℃-41℃ (Manurung, 2008).
2) Malaise
Malaise adalah rasa tidak enak badan, pegal-pegal, penurunan
nafsu makan, penurunan berat badan, sakit di daerah kepala,

5
6

mudah lelah, dan jika terjadi pada wanita kadang-kadang akan


mengalami gangguan pada siklus haid (Manurung, 2008).
b. Gejala respiratorik TBC yaitu:
1) Batuk
Batuk terjadi jika penyakit sudah melibatkan bronkus. Pada awal
gejala batuk terjadi akibat iritasi bronkus, selanjutnya akan
mengalami peradangan sehingga batuk akan menjadi produktif
atau menghasilkan sputum. Batuk produktif berguna untuk
memudahkan pengeluaran produk-produk ekskresi akibat
peradangan. Sputum yang dikeluarkan dapat bersifat encer dan air
(mukoid) atau kental dan kuning atau hijau (purulen) (Manurung,
2008).
2) Batuk darah
Batuk darah atau hemoptisis adalah batuk yang terjadi akibat
pecahnya pembuluh darah. Derajat keparahan batuk darah
tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah
(Manurung, 2008).
3) Sesak napas
Sesak napas dapat ditemukan jika penyakitnya berkelanjutan
dengan kerusakan paru yang meluas. Pada awal TBC gejala sesak
napas tidak pernah ditemukan (Manurung, 2008).
4) Nyeri dada
Nyeri dada dapat timbul apabila daerah yang diserang yaitu
system persarafan yang terdapat di plura. Gejala nyeri dada ini
dapat bersifat local atau pluritik (Manurung, 2008). Bersifat lokal
apabila nyeri yang dirasakan pada tempat dimana proses patologi
terjadi, tetapi dapat beralih ke daerah yang lain seperti leher,
punggung dan abdomen. Bersifat pleuritik apabila nyeri yang
dirasakan akibat iritasi pleura parietalis yang terasa tajam seperti
ditusuk-tusuk dengan pisau (Smeltzer & Bare, 2013).
7

3. Penatalaksanaan
a. Pencegahan TBC
1) Pencegahan Penyakit TBC
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkitnya
TBC. Pencegahan-pencegahan berikut dapat dikerjakan oleh
penderita, masyarakat, maupun petugas kesehatan. Berikut adalah
bentuk-bentuk pencegahan, diantaranya yaitu:
a) Bagi penderita, pencegahan penularan yang dapat dilakukan
dengan menutup mulut saat batuk, dan membuang dahak tidak
disembarang tempat.
b) Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan
meningkatkan kesehatan bayi yaitu dengan memberikan BCG.
c) Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan
memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi
gejala, bahaya, dan akibat yang ditimbulkannya terhadap
kehidupan masyarakat pada umumnya.
d) Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian
dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang terinfeksi atau
dengan memberikan pengobatan khusus bagi penderita TBC ini.
Pengobatan dengan cara menginap di rumah sakit hanya
dilakukan bagi penderita dengan kategori berat dan memerlukan
pengembangan program pengobatannya, sehingga tidak
dikehendaki pengobatan jalan.
e) Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan
melaksanakan desinfeksi, seperti cuci tangan kebersihan rumah,
perhatian khusus terhadap muntahan, atau ludah anggota
keluarga yang terjangkit penyakit ini (piring, tempat tidur, dan
pakaian), dan menyediakan ventilasi rumah dan sinar matahari
yang cukup.
f) Melakukan imunisasi orang-orang yang melakukan kontak
langsung dengan penderita, seperti keluarga, perawat, dokter,
8

petugas kesehatan, dan orang lain yang terindikasi, dengan cara


memberikan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang positif
tertular.
g) Melakukan penyelidikan terhadap orang-orang kontak. Perlu
dilakukannya tes tuberculin bagi seluruh anggota keluarga.
Apabila cara ini menunjukkan hasil negatif, perlu diulang untuk
pemeriksaan lanjutan tiap bulan selama 3 bulan dan perlu
penyelidikan yang intensif.
h) Dilakukan pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif
perlu pengobatan yang tepat, yaitu obat-obat kombinasi yang
telah ditetapkan oleh dokter untuk diminum dengan tekun dan
teratur selama 6-12 bulan. Perlu diwaspadai dengan adanya
kekebalan terhadap obat-obatan, dengan pemeriksaan
penyelidikan oleh dokter (Naga, 2012).
b. Penanganan Medik
Tujuan pengobatan pada penderita TBC selain untuk
menyembuhkan/mengobati penderita juga mencegah kematian,
mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta
memutuskan mata rantai penularan. Untuk penatalaksanaan
pengobatan tuberculosis paru, berikut ini adalah beberapa hal yang
penting untuk diketahui.
Mekanisme Kerja Obat anti-Tuberkulosis (OAT)
1) Aktivitas bakterisidal, untuk bakteri yang membelah cepat.
a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin ®
dan Streptomisin (S).
b) Intraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin dan
Isoniazid (INH).
2) Aktivitas sterilisasi, terhadap the persisters (bakteri semidormant)
a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin dan
Isoniazid.
9

b) Intraseluler, untuk slowly growing bacilli digunakan


Rifampisin dan Isoniazid. Untuk very slowly growing bacilli
digunakan Pirazinamid (Z).
3) Aktivitas bakteriostatis, obat-obatan yang mempunyai aktivitas
bakteriostatis terhadap bakteri tahan asam.
a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Etambutol (E),
asam para-amino salisilik (PAS) dan sikloserine.
b) Intraseluler, kemungkinan masih dapat dimusnahkan oleh
Isoniazid dalam keadaan telah terjadi resistensi sekunder.
Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu:
1) Tahap intensif (2-3 bulan)
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan
diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap
semua OAT, terutama rifampisin. Bila pengobatan tahan intensif
tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi
tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar
penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada
akhir pengobatan intensif (Wahid & Suprapto, 2013).
2) Tahap lanjutan (4-7 bulan)
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit,
namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan (Wahid & Suprapto, 2013).
4. Pemeriksaan Fisik
Sistem Pernapasan :
a. Inspeksi : adanya tanda-tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan
nafas yang tertinggal, suara nafas melemah.
b. Palpasi :
1) Palpasi trakea
Adanya pergeseran trakea menunjukkan- meskipuntetapi tidak
spesifik-penyakit dari lobus atas paru. Pada Tb paru disertai
10

adanya efusi pleura masif dan pneumothoraks akan mendorong


posisi trakea ke arah berlawanan dari sisi sakit.
2) Gerakan dinding thorak anterior/ekskrusi pernapasan. TB paru
tanpa komplikasi pada saat dilakukan palpasi, gerakan dada saat
bernapas biasanya normal dan seimbang antara bagian kanan dan
kiri. Adanya penurunan gerakan dinding pernapasan biasanya
ditemukan pada klien TB paru dengan kerusakan parenkim paru
yang luas.
3) Gertaran suara (fremitus vokal)
Getaran yang terasa ketika perawat meletakkan tangannya di dada
pasien saat pasien berbicara adalah bunyi yang dibangkitkan oleh
penjalaran dalam laring arah distal sepanjang pohon bronkial
untuk membuat dinding dada dalam gerakan resonan, terutama
pada bunyi konsonan. Kapasitas untuk merasakan bunyi pada
dinding dada disebut taktil fremitus. Adanya penurunan taktil
fremitus pada pasien dengan TB paru biasanya ditemukan pada
pasien yang disertai komplikasi efusi pleura masif, sehingga
hantaran suara menurun karena transmisi getaran suara harus
melewati cairan yang berakumulasi di rongga pleura (Muttaqin,
2008).
c. Perkusi
Pada pasien dengan TB paru minimal tanpa komplikasi, biasanya akan
didapatkan bunyi resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada
pasien dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi pleura
akan di dapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sakit sesuai
banyaknya akumulasi cairan dirongga pleura. Apabila disertai
pneumothoraks, maka di dapatkan bunyi hiperresonan terutama jika
pneumothoraks ventil yang mendorong posisi paru ke sisi yang sehat
(Muttaqin, 2008).
d. Auskultasi
Pada pasiien dengan TB paru didapatkan bunyi napas tambahan
(ronchi) pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksa untuk
11

mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana di dapatkan


bunyi ronchi. Bunyi yang terdengar melalaui stetoskop ketika klien
berbicara disebut sebagai resonan vokal. Pasien dengan TB paru yang
disertai komplikasi seperti efusi pleura dan pneumothoraks akan
didapatkan penurunan resonan vokal pada sisi yang sakit (Muttaqin,
2008).
B. Konsep Masalah Keperawatan : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
1. Definisi
Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas
untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten (SDKI, 2016)
Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan
seseorang untuk membersihkan sekret atau penyumbatan pada sirkulasi
udara yang melalui batang tenggorokan ke organ paru-paru untuk dapat
mempertahankan jalan napas tetap paten (PPNI, 2016).
Bersihan jalan napas tidak efektif pada TBC adalah
ketidakmampuan seseorang yang sudah terinfeksi Mycobacterium
tuberkulosis untuk dapat membersihkan sekret pada saluran pernapasan
bawah sehingga sputum akibat proses inflamasi atau peradangan akan
menumpuk dan susah untuk dikeluarkan (Price & Wilson, 2014).

2. Penyebab
Penyebab sumbatan jalan nafas yang sering kita jumpai pada klien
TBC adalah darah dan sputum. Adanya darah maupun sputum di jalan
nafas atas yang tidak dapat ditelan atau dibatukkan oleh penderita dapat
menyumbat jalan nafas dan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen.
Selain itu sumbatan jalan nafas bisa juga dikarenakan dasar lidah. Dasar
lidah sering menyumbat jalan nafas pada penderita koma, karena pada
penderita koma otot lidah dan leher lemas sehingga tidak mampu
mengangkat dasar lidah dari dinding belakang farings. Hal ini sering
terjadi bila kepala penderita dalam posisi fleksi (Brunner & Suddarth,
2002).
12

Penderita yang mendapat anestesi atau tidak, dapat terjadi


laringospasme dan ini biasanya terjadi oleh karena rangsangan jalan nafas
atas pada penderita stupor atau koma yang dangkal. Sumbatan  jalan nafas
dapat juga terjadi pada jalan nafas bagian bawah, dan ini terjadi sebagai
akibat bronkospasme, sembab mukosa, sekresi bronkus, masuknya isi
lambung atau benda asing ke dalam paru (Rieja, 2010).

3. Batasan Karakteristik
a. Tidak ada batuk
b. Suara napas tambahan
c. Perubahan pola napas
d. xSianosis
e. Kesulitan verbalisasi
f. Penurunan bunyi napas
g. Dispnea
h. Sputum dalam jumlah yang berlebihan
i. Batuk yang tidak efektif
j. Ortopnea
k. Gelisah mata terbuka lebar
(NANDA 2018-2020)

4. Gejala dan Tanda Mayor


a. Subjektif
Saat ditanya klien mengatakan merasa sesak nafas
b. Objektif
1) Batuk tidak efektif
2) Tidak mampu batuk
3) Sputum berlebih
4) Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
5) Mekonium di jalan napas (pada neonatus )
(SDKI, 2016)
13

5. Gejala dan Tanda Minor


a. Subjektif
1) Dispnea
2) Sulit bicara
3) Ortopnea
b. Objektif
1) Gelisah
2) Sianosis
3) Bunyi napas menurun
4) Frekuensi napas berubah
5) Pola napas berubah
(SDKI, 2016)

6. Kondisi Klinis Terkait


a. Gullian barre syndrome
b. Sklerosis multipel
c. Myasthenia gravis
d. Prosedur diagnostik (mis. Bronkoskopi, transesophageal
echocardiography
e. Depresi sistem saraf pusat
f. Cedera kepala
g. Stroke
h. Kuadriplegia
i. Sindrom aspirasi mekonium
j. Infeksi saluran napas
(SDKI, 2016)

7. Luaran Utama
Cukup Cukup
Menurun Sedang Meningkat
menurun meningkat
Batuk
1 2 3 4 5
efektif

Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


14

meningkat menurun
Produksi
1 2 3 4 5
sputum
Mengi 1 2 3 4 5
Wheezing 1 2 3 4 5
Mekonium 1 2 3 4 5

Cukup
Cukup
Memburuk memburu sedang Membaik
membaik
k
Dispnea 1 2 3 4 5
Ortopnea 1 2 3 4 5
Sulit bicara 1 2 3 4 5
Sianosis 1 2 3 4 5
Gelisah 1 2 3 4 5

Cukup
Cukup
Memburuk memburu Sedang Membaik
sedang
k
Frekuensi
1 2 3 4 5
napas
Pola napas 1 2 3 4 5
(SLKI, 2018)

C. Konsep Tindakan Keperawatan : Fisioterapi Dada


1. Definisi
Memobilisasi sekresi jalan nafas melalui perkusi, getaran, dan
drainase postural (SIKI, 2018)
Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk
mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam.
Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar,
panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya
disesuaikan dengan batas toleransi penderitasehingga didapatkan efek
pengobatan (Krausen, 1985; dalam Helmi,2005). Fisioterapi dada adalah
salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita
penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis (Badget, 1984;
dalam Helmi, 2005).
15

2. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x 24 jam, diharapkan
bersihan jalan napas meningkat dengan kriteria hasil :
a. Batuk efektif meningkat
b. Produksi sputum menurun
c. Mengi menurun
d. Wheezing menurun
e. Dispnea membaik
f. Ortopnea
g. Sulit bicara membaik
h. Sianosis membaik
i. Gelisah membaik
j. Frekuensi napas membaik
k. Pola napas membaik

3. Intervensi Keperawatan
a. Observasi
1) Identifikasi indikasi dilakukan fisioterapi dada (mis. hipersekresi
sputum, sputum kental dan tertahan, tirah baring lama)
2) Identifikasi kontraindikasi fisioterapi dada (mis. Eksaserbasi
PPOK akut, pneumonia tanpa produksi sputum berlebih, kankker
paru-paru)
3) Monitor status pernapasan (mis. Kecepatan, irama, suara napas,
dan kedalaman napas)
4) Periksa segmen paru yang mengandung sekresi berlebihan
5) Monitor jumlah dan karakter sputum
6) Monitor toleransi selama dan setelah prosedur
b. Terapeutik
1) Posisikan klien sesuai dengan area paru yang mengalami
penumpukan sputum
2) Gunakan bantal untuk membantu pengaturan posisi
16

3) Lakukan perkusi dengan posisi telapak tangan ditelungkupkan


selama 3-5 menit
4) Lakukan vibrasi dengan posisi telapak tangan rata bersamaan
ekspirasi melalui mulut
5) Lakukan fisioterapi dada setidaknya dua jam setelah makan
6) Hindari perkusi pada tulang belakang, ginjal, payudara wanita,
insisi, dan tulang rusuk yang patah
c. Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur fisioterapi dada
2) Anjurkan batuk segera setelah prosedur selesai
3) Ajarkan inspirasi perlahan dan dalam melalui hidung selama
proses fisioterapi
(SIKI, 2018)

D. Prosedur Pelaksanaan Fisioterapi Dada


STANDARD
OPERASIONAL FISIOTERAPI DADA
PROSEDUR
PENGERTIAN Tindakan untuk melepaskan sekret dari saluran nafas bagian
bawah
TUJUAN 1. Status pernapasan membaik (mis. kecepatan, irama, suara
napas, dan kedalaman napas)
2. Jumlah sputum dapat berkurang
KEBIJAKAN Klien dengan akumulasi sekret pada saluran nafas bagian
bawah
PETUGAS Perawat
PERALATAN 1. Kertas tissue
2. Bengkok
3. Perlak/alas
4. Sputum pot berisi desinfektan
5. Air minum hangat
PROSEDUR A. Tahap Pra Interaksi
PELAKSANAAN 1. Mengecek program terapi
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam dan sapa nama pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
C. Tahap Kerja
17

1. Menjaga privacy pasien


2. Mengatur posisi klien sesuai dengan area paru yang
mengalami penumpukan sputum
3. Gunakan bantal untuk membantu pengaturan posisi
4. Lakukan perkusi dengan posisi telapak tangan
ditangkupkan selama 3-5 menit
5. Lakukan vibrasi dengan posisi telapak tangan rata
bersamaan ekspirasi melalui mulut
6. Lakukan fisioterapi dada setidaknya dua jam setelah
makan
7. Hindari perkusi pada tulang belakang, ginjal, payudara
wanita, insisi, dan tulang rusuk yang patah
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan (monitor status
pernapasan dan jumlah sputum)
2. Berpamitan dengan klien
3. Membereskan alat
4. Mencuci tangan
5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
(SIKI, 2018)

E. Konsep Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana
tindakan, dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi
memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi selama
tahap pengkajian, analisa, perencanaan dan pelaksanaan tindakan.
Evaluasi yang digunakan mencakup dua bagian yaitu evaluasi
proses/tindakan (formatting) dan evaluasi hasil (sumatif). Evaluasi proses
adalah yang dilaksanakan secara terus-menerus terhadap tindakan yang telah
dilakukan, sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi tindakan secara
keseluruhan untuk menilai keberhasilan tindakan yang dilakukan dan
menggambarkan perkembangan dalam mencapai sasaran yang telah
ditentukan.
Adapun evaluasi tindakan yang diharapkan terhadap penyakit TBC
berdasarkan diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif adalah mampu
melakukan pengaturan posisi, mampu melakukan perkusi dan vibrasi dengan
baik dan benar, mampu melakukan fisioterapi dada. Sedangkan evaluasi hasil
yang diharapkan yaitu status pernapasan membaik (misalnya,
18

mengi/wheezing menurun, dyspnea membaik, ortopnea membaik, sianosis


membaik, frekuensi nafas dan pola nafas membaik), dan produksi sputum
menurun.

BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Laporan Hasil
1. Deskripsi Gambaran Tempat Study Kasus
Study kasus ini saya lakukan di sebuah rumah sakit di pare yaitu
RSUD Kabupaten Kediri. Saya mulai melakukan penelitian ini pada
tanggal 30 Desember 2019 s/d 03 January 2020 dengan judul “Tindakan
Keperawatan Fisioterapi Dada Dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas
Tidak Efektif Pada Klien TBC”.
Study kasus ini tepatnya dilaksanakan di salah satu ruangan yang
terdapat di RSUD Kabupaten Kediri yaitu Ruang Melati. Ruang Melati
dibagi menjadi 2 ruangan, yaitu ruang pertama untuk pasien dengan
penyakit dalam seperti DM dan ruang kedua untuk pasien dengan
penyakit menular seperti TBC. Disini saya melakukan penilitian di ruang
kedua.
2. Deskripsi Study Kasus
Deskripsi kasus penelitian merupakan gambaran singkat tentang
kondisi pasien. Berikut gambaran singkat masing-masing kasus :
Tabel 3.1 Deskripsi Kasus

Deskripsi Kasus 1 Deskripsi Kasus2


Tn.A usia 38 tahun, saat Ny.J usia 68 tahun, saat pertama
19

dilakukan pengkajian pasien kali dilakukan pengkajian pasien


mengatakan satu tahun yang lalu tidak menjawab dan cenderung
sudah pernah menjalani mengalihkan perhatian apabila
pengobatan TBC selama 6 bulan diajak berbicara sedangkan tidak
dan tiba-tiba sekarang muncul ada keluarga yang menjaganya
tanda dan gejala yaitu apabila waktu itu. Keesokan harinya saat
dibuat gerak pasien selalu ada keluarga yang menjaga, saya
merasa sesak, batuk terus- menyempatkan melakukan
menerus selama lebih dari 2 pengkajian. Keluarga
minggu. Kemudian 6 hari yang mengatakan keluhan yang
lalu keluarga mengantarkan dialami pasien yaitu merasa
Tn.A ke rumah sakit terdekat sesak di bagian paru dan batuk 2
untuk melakukan rontgen dada minggu yg lalu. Pasien juga
dan setelah hasilnya sudah menderita penyakit GGK dan
keluar, pasien dirujuk ke RSUD selama di rumah sakit sedang
Kabupaten Kediri untuk menjalani pengobatan untuk
dilakukan perawatan lebih penyakit TBC nya. Namun
lanjut. Pada saat pengkajian dalam 3 hari ini pengobatan
pasien tampak terbaring lemah tersebut dihentikan sementara,
dengan memakai masker O2. karena pasien sedang menjalani
pemeriksaan Hemodialisa 1x
dalam seminggu.

Perbedaan pada Tabel 3.1 Deskripsi Kasus


 Keluhan utama
Kasus 1 : Pada kasus 1 pasien mengeluh apabila dibuat gerak
selalu sesak, dan ketika sesak selalu batuk
Kasus 2 : Pada kasus 2 pasien mengeluh sesak, pusing dan
batuk
 Riwayat penyakit sekarang
Kasus 1 : Pasien ini merupakan pasien TBC
Kasus 2 : Pasien ini merupakan pasien TBC dengan GGK
3. Hasil Study Kasus
a. Persiapan Tindakan
Tabel 3.2 Persiapan Tindakan Fisioterapi Dada

Dilakukan
Aspek yang Dinilai
Kasus Hasil Kasus Hasil
ya tidak ya tidak
1 2
20

Persiapan alat
 Kertas tissue √ √
 Bengkok √ √
 Perlak/alas √ √
 Sputum pot berisi √ √
desinfektan
 Air minum hangat √ √

Persiapan pasien
 Beri penjelasan kepada √ √
klien mengenai apa
yang akan dilakukan
 Meminta persetujuan √ √
kien
 Memposisikan klien
senyaman mungkin √ √

Persiapan lingkungan
 Menjaga privasi klien √ √
(menutup korden)
 Menyalakan lampu √ √
apabila ruangan gelap
Persiapan perawat
 Cuci tangan 6 langkah √ √
 Memakai APD √ √

Evaluasi
 Melakukan evaluasi √ √
tindakan (monitor
status pernapasan dan
jumlah sputum)
 Berpamitan dengan √ √
klien
 Membereskan alat √ √
 Mencuci tangan √ √
 Mencatat kegiatan √ √
dalam lembar catatan
keperawatan

Perbedaan dari tabel 3.2


Dari hasil tabel 3.2 perbedaan persiapan tindakan fisioterapi
dada pada dua kasus tersebut yaitu, pada kasus 1 pasien bisa duduk
tegak tanpa bantuan, sedangkan pada kasus 2 pasien memerlukan
bantuan untuk duduk.
b. Pelaksanaan Tindakan
21

Table 3.3 Pelaksanaan Tindakan Fisioterapi Dada

No. Tahap Klien 1 Klien 2


ya tidak ya tidak
1. Tahap Orientasi
 Memberikan salam dan sapa nama √ √
pasien
 Menjelaskan tujuan dan prosedur √ √
pelaksanaan
 Menanyakan persetujuan/kesiapan √ √
pasien

2. Tahap Kerja
 Menjaga privacy pasien √ √
 Mengatur posisi klien sesuai dengan √ √
area paru yang mengalami
penumpukan sputum
 Gunakan bantal untuk membantu √ √
pengaturan posisi
 Lakukan perkusi dengan posisi √ √
telapak tangan ditangkupkan selama
3-5 menit
 Lakukan vibrasi dengan posisi
telapak tangan rata bersamaan √ √
ekspirasi melalui mulut
 Lakukan fisioterapi dada setidaknya √ √
dua jam setelah makan
 Hindari perkusi pada tulang
√ √
belakang, ginjal, payudara wanita,
insisi, dan tulang rusuk yang patah

Perbedaan tabel 3.3


Dari hasil tabel 3.3 pelaksanaan tindakan fisioterapi dada pada
klien 1 dan klien 2 telah dilakukan sesuai dengan SOP yang terlampir.
c. Evaluasi
1) Evaluasi Proses
Tabel 3.4 Evaluasi Proses
a) Klien 1
Cukup Cukup
Kriteria Hasil Menurun Menurun Sedang Meningkat Meningkat
22

Produksi sputum 
Mengi 
Wheezing 
Dyspnea 
Ortopnea 
Sulit bicara 
Sianosis 
Gelisah 
Frekuensi napas 
Pola napas 

b) Klien 2

Cukup Cukup
Kriteria Hasil Menurun Menurun Sedang Meningkat Meningkat

Produksi sputum 
Mengi 
Wheezing 
Dyspnea 
Ortopnea 
Sulit bicara 
Sianosis 
Gelisah 
Frekuensi napas 
Pola napas 

Perbedaan tabel 3.4


Dari hasil tabel 3.4 perbedaan evaluasi proses pada klien 1 dan 2
yaitu pada klien 1 produksi sputum yang dikeluarkan masih agak banyak,
sedangkan pada klien 2 produksi sputum sudah berkurang.
2) Evaluasi Hasil
Tabel 3.5 Evaluasi Hasil
23

NO Data yang dievaluasi Klien 1 Klien 2


1. Status pernapasan pada Sesak yang dialami Sesak yang dialami
klien klien cukup klien masih sedang
menurun
2. Produksi sputum pada Frekuensi : banyak Frekuensi : sedikit
klien
Konsistensi : kental Konsistensi : kental
Warna : kuning Warna : kuning
kehijauan kemerahan
24

Perbedaan tabel 3.5


Dari hasil tabel 3.5 perbedaan evaluasi hasil tantara klien 1
dan 2 yaitu pada klien 1 status pernapasan cukup menurun,
sedangkan pada klien 2 status pernapasan belum meurun.
25

DAFTAR PUSTAKA
Teoritis, A. L., & Paru, T. (2011). Kombinasi Fisioterapi Dada..., Sefriatin,
Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015. 11–54.

Magee, R. V., Magee, R. V., Crowder, R., Winters, D. E., Beerbower, E., …
Gorski, P. C. (2017). ABA Journal, 102(4), 24–25.

Tuberculosis, P., Rsud, D. I., & Prijonegoro, S. (2016). UPAYA PENANGANAN


GANGGUAN BERSIHAN JALAN NAFAS PADA PASIEN TUBERCULOSIS
DI RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO.

NANDA International. 2018 - 2020. Nursing Diagnoses : Definitions &


Classification. Jakarta : EGC

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Fundamental of nursing: concept, process,


and practice, 4/E. (Terj. Yasmin Asih, et al). Jakarta: EGC.

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Alih
Bahasa: Agung Waluyo,dkk. Jakarta: EGC.

Nugroho, T. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, dan Penyakit


Dalam. Yogyakarta. Nuha Medika

Kusyati Eni Ns, dkk. 2006. Ketrampilan Dan Prosedur Laboratorium


Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnostik Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Price, SA, Wilson, LM. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Volume 2 Ed/6. Hartanto H, Susi N, Wulansari P, Mahanani DA, editor.
Jakarta: EGC; 2005. BAB 53, Penyakit Serebrovaskular; hal. 1106-1129

Wold Health Organization (WHO). Global Tuberculosis Report 2014. Switzerland


26