Anda di halaman 1dari 59

KARYA TULIS ILMIAH

“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS


TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”

Disusun Oleh :

HENI ARLITA
NIM : 2017.49.024

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


TAHUN 2019/2020
“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS
TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan Sebagian Salah Satu Syarat Mendapat Gelar Ahli Madya Keperawatan Di
Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Disusun Oleh :
HENI ARLITA
NIM : 2017.49.024

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


TAHUN 2019/2020
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Heni Arlita


NIM : 2017.49.024
Tempat, tanggal lahir : Kediri ,16 Juli 1997
Institusi : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Bahwa Karya Tulis llmiah (KTI) yang Berjudul “Tindakan Keperawatan


Batuk Efektif Pada Kasus Tuberkulosis Paru (TBC) dengan Masalah
Keperawatan Bersihan Jalan nafas tidak Efektif” adalah bukan Karya Tulis
Ilmiah (KTI) orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dan bentuk
kutipan yang telah disebutkan sumbernya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya dan apabila
pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapatkan sanksi.

Kediri, 2020
Yang Menyatakan,

Heni Arlita
HALAMAN PERSETUJUAN

KARYA TULIS ILMIAH YANG BERJUDUL


“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS
TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”
DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
UNTUK DILAKSANAKAN UJI KARYA TULIS ILMIAH
DI HADAPAN TIM PENGUJI

Pada Tanggal :

Pembimbing I Pembimbing II

Hengky Irawan S.Pd,S.Kep.,Ns. ,M.Kes Sucipto, S.Kep.,Ns.,M.Kes


NIDN. 0711027601 NIDN. 0704027401

HALAMAN PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH YANG BERJUDUL
“TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS
TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF”

TELAH DIREVISI SESUAI REKOMENDASI UJI KARYA TULIS ILMIAH

Pada Tanggal :

Pembimbing I

Hengky Irawan S.Pd,S.Kep.,Ns. ,M.Kes


NIDN. 0711027601

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Karya Tulis Ilmiah, April 2020

HENI ARLITA

TINDAKAN KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF PADA KASUS


TUBERKULOSIS PARU (TBC) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF DI RUANG MELATI RSUD
PARE KEDIRI TAHUN 2020

ABSTRAK

Tuberculosis Paru (TB Paru) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberkulosis yang menyerang paru-paru sehingga pada bagian dalam
alveolus terdapat bintil-bintil atau peradangan pada dinding alveolus dan akan
mengecil. Peran perawat sebagai pemberi tindakan langsung kepada pasien yang
berperan penting dalam usaha perventif dan promotif bagi penderita TB paru. Salah
satu bentuk tindakan atau terapi dalam mengatasi bersihan jalan nafas tidak efektif
pada pasien TB Paru adalah terapi batuk efektif. Tujuan dari karya tulis ilmiah ini
adalah mengevaluasi terapi batuk efektif terhadap bersihan jalan nafas tidak efektif
pada pasien TB Paru di RSUD Pare Kediri. Metode dalam karya tulis ilmiah ini
adalah studi kasus. Karya tulis ilmiah ini dilakukan diruang melati RSUD Pare Kediri
yang berfokus pada tindakan batuk efektif pasien TB Paru yang mengalami masalah-
masalah bersihan jalan nafas. Dari hasil evaluasi kasus pada pasien TB Paru
didapatkan hasil yaitu ada pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran secret pada
pasien TB Paru. Hasil karya tulis ilmiah ini dapat menjadi masukan bagi perawat
untuk menjadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri di RSUD Pare Kediri
dan intervensi dalam penatalaksanaan terapi batuk efektif.

Kata Kunci : TB Paru , Terapi Batuk Efektif, Solusi

Nursing Study Program


ACADEMI NURSING DHARMA HUSADA KEDIRI

Scientific Papers, April 2020

HENI ARLITA

EFFECTIVE COUGHNESS TREATMENT IN THE LUNG TUBERCULOSIS


(TBC) WITH PROBLEM CLEAN NURSING BREATH CARE IN
EFFECTIVE IN THE RSUD PARE KEDIRI 2020

ABSTRACT

Pulmonary tuberculosis (pulmonary TB) is a disease caused by the bacterium


Mycobacterium tuberculosis which attacks the lungs so that inside the alveoli there
are nodules or inflammation in the walls of the alveoli and will shrink. The role of the
nurse as a provider of direct action to patients who play an important role in the
efforts of perventive and promotive for patients with pulmonary TB. One form of
action or therapy in overcoming ineffective airway clearance in pulmonary TB
patients is effective cough therapy. The purpose of this scientific paper is to evaluate
the effective cough therapy for ineffective airway clearance in pulmonary TB patients
in Pare Kediri Regional Hospital. The method in this scientific paper is a case study.
This scientific paper is carried out in the jasmine room of Pare Kediri Regional
Hospital which focuses on the effective coughing of pulmonary TB patients who
experience airway cleansing problems. From the results of the case evaluation in
pulmonary TB patients, the results show that there is an effect of effective coughing
on secret expenditure in pulmonary TB patients. The results of this scientific paper
can be input for nurses to make one of the independent nursing interventions in Pare
Kediri Regional Hospital and interventions in effective cough therapy management.

Keywords: Lung TB, Effective Cough Therapy.KTI, The Solution


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan
Hidayah-Nya, kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan dengan tepat
penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah yang berjudul : “Tindakan keperawatan
batuk efektif pada Tuberkulosis Paru (TBC) dengan masalah keperawatan bersihan
jalan nafas tidak efektif”.
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai prasyarat menyelesaikan
Pendidikan Diploma III Keperawatan Akper Dharma Husada Kediri. Dalam
penyusunan ini penulis banyak mendapatkan pengarahan, bimbingan, dukungan dan
sasaran dari berbagai pihak. Oleh karena itu mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Heny Kristanto S.Kp., M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Dharma
Husada Kediri yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan.
2. Bapak Hengky Irawan S.Pd,S.Kep.,Ns. ,M.Kes selaku pembimbing I yang telah
banyak meluangkan waktu, bimbingan, pengarahan, dan saran pengetahuan dalam
menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Bapak Sucipto, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku pembimbing 2 yang telah banyak
meluangkan waktu, bimbingan, pengarahan, dan saran pengetahuan dalam
menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Seluruh Dosen dan Tenaga Kependidikan Akademi Keperawatan Dharma Husada
Kediri yang telah membantu dalam menyelesaikan Proposal Karya Ilmiah ini.
5. Bagi klien
6. Pasien dan Keluarga pasien yang telah memberikan kesempatan untuk merawat dan
melakukan study kasus ini.
7. Kedua Orang Tua yang telah banyak memberikan dukungan berupa moral dan
material serta memberikan semangat demi terselesainya Proposal Karya Tulis Ilmiah
ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh
dari sempurna, masih banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang sangat penulis
harapkan.
Akhirnya penulis berharap semoga Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat
bagi penulis khususnya yang akan digunakan untuk penelitian yang akan dilakukan.

Kediri, 23 Desember 2019


Penulis

Heni Arlita
NIM : 201749024
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Standar Operasional Prosedur


Lampiran 2: Evaluasi Tindakan
Lampiran 3: Kriteria Pasien
Lampiran 4: Surat Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 5: Jadwal Penyusunan KTI
Lampiran 6 : Surat Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 7: Format Pengkajian
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) Paru merupakan salah satu penyakit infeksi saluran
pernafasan. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang menyerang parenkim
paru-paru. Penyakit ini dapat menyebar kebagian tubuh lain seperti meningen, ginjal,
tulang dan nodus limfe [ CITATION Irm12 \l 14345 ] . Reaksi infeksi membentuk
kavasitas dan merusak parenkim paru yang menyebabkan edema trekeat atau
faringeal dan meningkatnya produksi sekret sehingga memunculkan diagnosa
keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Bersihan jalan nafas tidak efektif
adalah ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas
untuk mempertahankan bersihan jalan nafas. Batuk berdahak yang dialami oleh
penderita TB Paru biasanya berlangsung selama 2-3 minggu [ CITATION Mus18 \l 14345
]
Menurut Kemenkes RI (2011) mengatakan di Indonesia sekarang berada pada
ranking kedua negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Pada tahun 2014
ditemukan jumlah kasus baru BTA positif sebanyak 176.677 kasus, menurun bila
dibandingkan kasus BTA positif pada tahun 2013 sebesar 196.310 kasus. Estimasi
prevelensi TB semua kasus adalah sebesar 272 per 100.000 penduduk dengan
estimasi 2 berjumlah 183 per 100.000 penduduk. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 25 per 100.000 kematian[ CITATION Mus18 \l 14345 ]. Berdasarkan data
yang diperoleh dari Profil Kesehatan Kota Kediri, pada tahun 2015 data yang berhasil
dikumpulkan yaitu kasus baru TB paru BTA (+) sebanyak 167 orang. Jumlah
keseluruhan kasus TB paru 273 kasus, BTA (+) yang diobati sejumlah 140 orang
(83%), sedangkan angka kesembuhan untuk kasus TB paru BTA (+) yang ditemukan
pada tahun 2015 adalah 109 orang (76%) [ CITATION Ris18 \l 14345 ]. Berdasarkan data
yang di ambil dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Januari – Juni 2018
melalui hasil rekam medis diperoleh 339 pasien TB Paru pada laki-laki dengan
kelompok usia 40-54 tahun , dan 269 pasien TB Paru pada Perempuan dengan
kelompok usia 45-55 tahun[ CITATION Muh18 \l 14345 ]. Hasil penelitian Nurul Laili
dari UPTD Puskesmas Puhjarak Kediri pada Juni Tahun 2018, didapatkan 11
responden mengalami keluhan kesulitan untuk mengeluarkan dahak,sehingga
dilakukan latihan batuk efektif. Dan didapatkan hasil 5 orang (46%) responden
mengalami batuk kurang efektif , 4 responden (36%) mengatakan dapat batuk dengan
efektif dan 2 responden (18%) tidak dapat melakukannya dengan baik. [ CITATION
Nur18 \l 14345 ]
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dan merupakan
penyakit yang dapat menular. Mekanisme penularan TB paru dimulai dengan
penderita Paru BTA (+) mengeluarkan dahak yang mengandung kuman TB ke
lingkungan udara sebagai aerosol (partikel yang sangat kecil). Partikel aerosol ini
terhirup melalui saluran pernafasan mulai dari hidung menuju paru-paru tepatnya ke
alveoli paru. Pada alveoli kuman TB paru mengalami pertumbuhan dan
perkembangbiakan yang akan mengakibatkan terjadinya destruksi paru. Bagian paru
yang telah rusak atau dihancurkan ini akan berupa jaringan /sel-sel mati yang oleh
karenanya akan diupayakan oleh paru untuk dikeluarkan dengan reflek batuk. Oleh
karena itu , pada umumnya penderita akan mengalami batuk karena TB adalah
produktif, artinya berdahak. Selain batuk , penderita TB paru akan mengalami tanda
dan gejala lain seperti demam,badan terasa lemas,tidak nafsu makan dan sesak nafas
disertai bunyi ronkhi basah atau kering. Suara ronki ini menujukan adanya halangan
pada saluran udara yang lebih besar oleh sekresi,sehingga muncul masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif. [ CITATION Mus18 \l 14345 ] Jika
masalah tersebut tidak ditangani dengan baik maka dapat mengalami komplikasi
seperti Hemomtisis berat ( Pendarahan dari saluran atas bawah) , Kolaps akibat
retraksi bronchial, bronkietasis dan Pneumotorax (Adanya udara didalam rongga
pleura), serta penyebaran infeksi keorgan lain seperti otak,tulang, persendian, ginjal
dan sebagainya[ CITATION Teg17 \l 14345 ].
Maka Intervensi untuk mencegah terjadinya bersihan jalan nafas tidak efektif
pada penderita TB paru dapat dengan melakukan minum air hangat dengan tepat agar
mudah mengeluarkan dahak, melakukan fisioterapi dada juga merupakan strategi
untuk mengeluarkan sekret dan juga dapat melakukan batuk secara efektif. Batuk
efektif merupakan tindakan untuk membersihkan dahak, apabila dilakukan dengan
baik dan benar dapat mempercepat pengeluaran dahak pada pasien gangguan
pernafasan , caranya dengan menarik nafas dalam beberapa kali,keluarkan perlahan
dan batukkan diakhir ekhalasi(penghembusan), kemudian auskultasi suara paru
setelah dilakukan penanganan untuk menentukkan hasilnya. Dari sekian banyak kasus
Tuberkulosis Paru dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif penanganan
yang diperlukan dengan cara mudah adalah melakukan batuk efektif untuk
memelihara kepatenan jalan napas. Sehingga penulis tertarik untuk mengambil judul
“Tindakan keperawatan batuk efektif pada Tuberkulosis Paru (TBC) dengan masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif”.[ CITATION Mus18 \l 14345 ]
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “
Bagaimana tindakan keperawatan batuk efektif pada Tuberkulosis Paru (TBC)
dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari dan melakukan tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan persiapan tindakan keperawatan batuk efektif pada dengan
masalah Tuberkulosis Paru keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
b. Mampu melakukan pelaksanaan tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak
efektif.
c. Mampu mengevaluasi hasil tindakan keperawatan batuk efektif pada
Tuberkulosis Paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak
efektif.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar
tentang keperawatan medikal bedah dengan Tindakan keperawatan batuk
efektif pada tuberkulosis paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan
nafas tidak efektif.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi profesi keperawatan
Memberikan wawasan pada perawat untuk dapat menerapkan tindakan
keperawatan untuk melakukan batuk efektif pada kasus Tuberkulosis Paru
dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
b. Bagi Institusi pendidikan
Dapat memberikan masukan mengenai indikasi tentang tindakan
keperawatan batuk efektif pada kasus Tuberkulosis Paru dengan masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
c. Bagi keluarga
Memberi pengetahuan dan keterampilan pada keluarga tentang tindakan
keperawatan batuk efektif pada pada kasus Tuberkulosis Paru dengan
masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif.
d. Bagi Klien
Hasil studi kasus ini dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan
serta wawasan dalam mengatasi atau mengurangi perawatan diri pada
pasien.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Tuberkulosis Paru


1. Pengertian
Tuberkulosis merupakan infeksi bakterikronik yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini merupakan penyakit yang menular
dan menyerang paru-paru dan hampir seluruh organ tubuh lainnya seperti
tulang belakang,kelenjar getah bening, kulit ,ginjal dan selaput otak. B
Bakteri ini dapat masuk melalui saluran pernafasan dan pencernaan dan
luka terbuka pada kulit. Tetapi paling banyak melalui droplet yang berasal
dari orang yang terinfeksi bakteri tersebut.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

2. Etilogi
Tubekulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil
mycobacterium tuberculosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk
batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Tergolong
dalam kuman Myobacterium tuberculosae complex adalah :
a. M. Tuberculosae
b. Varian Asian
c. Varian African I
d. Varian African II
e. M. Bovis
Sebagian kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang akan
membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut
bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia
dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan
dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena
kuman bersifat dormant, tertidur lama selama bertahun-tahun dan dapat
bangkit kembali menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Di dalam jaringan, kuman
hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag. Magrofag
yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak
mengandung lipid. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan
bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.
Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian
lainnya,sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit
tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran
pernafasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk ke dalam jaringan paru
melalui saluran nafas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadinya
infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat
dan terbentuklah primer kompleks (ranke), keduanya dinamakan tuberkulosis
primer yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami proses
penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh
mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis
yang kebanyakan didapatkan pada usia 1-3 tahun, sedangkan yang disebut
tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh
karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan
spesifik terhadap basil tersebut.
[ CITATION Mus18 \l 14345 ]

3. Patofisiologi
Tempat masuk kuman microbacterium tuberkulosis adalah saluran
pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit, kebanyakan
infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne) ,yaitu melalui inhalasi
droppet yang mengandung kuman-kuman basil turberkel yang berasal dari
orang yang terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi
terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung
tertahan disaluran hidung dan cabang besar bronkus yang tidak menyebabkan
penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus
atau paru-paru ,atau dibagian atas lobus bawah. Basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada
tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh tidak
membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit
diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi
dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh
dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat
juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam
sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening
regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan
sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit, yang dikelilingi
fosil. Reaksi ini bisa membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

4. Proses Penularan
Tuberkulosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet
nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif.
Setiap kali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei.
Penularan umumnya terjadi dalam ruangan, dimana droplet nuclei dapat
tinggal dalam waktu lebih lama. Dibawah sinar matahari langsung basil
tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruangan yang gelap dan lembab dapat
bertahan beberapa jam. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan
Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara
dan panjang waktu individu bernafas dalam udara yang terkontaminasi
tersebut di samping daya tahan tubuh bersangkutan.
Kemudian penularan melalui saluran pernafasan (paling sering),
M.tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan
dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang).
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

5. Klasifikasi Tuberculosis
a. Pembagian secara patologis :
1) Tuberculosis primer
2) Tuberculosis post primer
b. Pembagian secara aktivitas radiologi tuberculosis paru aktif, non aktif dan
quiescent (bentuk aktif yang mulai menyembuh )
c. Pembagian secara radiologis (luas lesi).
1) Tuberculosis minimal
Terdapat sebagian kecil infiltrat nonkavitas pada satu paru maupun
kedua paru, tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
2) Moderately advanced tuberculosis
Ada kavasitas dengan diameter tidak lebih dari 4cm. jumlah infiltrat
bayangan halus tidak lebih dari 1 bagian paru. Bila bayangan kasar
tidak lebih dari sepertiga bagian 1 paru.
3) Far advanced tuberculosis
Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada moderately
advanced tuberculosis.
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik ,radiologik
dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena
merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.
Sesuai dengan progam Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagi
berikut :
a. TB paru BTA Positif dengan kriteria :
1) Dengan atau tanpa gejala klinik
2) BTA positif : mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali
disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1
kali.
3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.

b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria :


1) Gejala klinik dan gambaran radiologik sesuai dengan TB Paru aktif.
2) BTA negatif , biarkan negatif tapi radiologik positif.
c. Bekas TB Paru dengan kriteria :
1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif.
2) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.
3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjuk kan
serial foto yang tidak berubah.
4) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

6. Manifestasi Klinik
Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit
yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang jiga
memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita
gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang
asimtomatik.
Gambaran klinik TB Paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala
respiratorik dan gejala sistemik :
a. Gejala respiratorik, meliputi :
1) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini. Gejala ini banyak ditemukan.
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan
untuk produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk
kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi
produktif (menghasilkan spuntum) ini terjadi lebih dari 3 minggu.
Keadaan yang lanjut adalah batuk darah (hemaptoe) karena terdapat
pembuluh darah yang pecah.

2) Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak
berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah atau darah
segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah terjadi karena
pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung
dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
Gejala klinis Hemaptoe:
Kita harus memastikan bahwa pendarahan dari nasofaring dengan
cara membedakan ciri-ciri sebagai berikut :
a) Batuk darah
 Darah yang dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
 Darah berbuih bercampur udara
 Darah segar berwarna merah muda
 Darah bersifat alkalis
 Anemia kadang-kadang terjadi
 Benzidin test negatif.
b) Muntah darah
 Darah dimuntahkan dengan rasa mual.
 Darah bercampur sisa makanan.
 Darah berwarna hitam karena bercampur dengan asam
lambung.
 Darah bersifat asam.
 Anemia sering terjadi
 Benzidin test positif

c) Epiktaksis
 Darah menetes dari hidung.
 Batuk pelan kadang keluar.
 Darah berwarna merah segar.
 Darah bersifat alkalis
 Anemia jarang terjadi.

3) Sesak nafas
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut,
dimana infiltrasinya sudah setengah bagian dari paru-paru.Gejala ini
ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-
hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothoraks ,anemia dan lain-
lain.

4) Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan.
Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.

b. Gejala sistemik, meliputi :


1) Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tapi kadang-kadang
panas bahkan dapat mencapai 40-41̊ C. Keadaan ini sangat dipengaruhi
daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman
tuberculosis yang masuk.
2) Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat
badan serta malaise ( Gejala melaise sering ditemukan berupa : tidak ada
nafsu makan, sakit kepala , meriang , nyeri otot, dll).
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan,
akan tetapi penampilan akut dengan batuk,panas, sesak nafas walaupun
jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

7. Komplikasi
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :
a. Hemomtisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan nafas.
b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
c. Bronkiektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d. Pneumotorax (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps
spontan karena kerusakan jaringan paru.
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak,tulang,persendian,ginjal dan
sebagainnya.
f. Insufiensi kardio pulmoner ( Cardio Pulmonary Insufficiency).
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

8. Penatalaksanaan Medis
a. Pencegahan Tuberkulosis Paru
1) Pemeriksaan kontak,yaitu pemeriksaan terhadap individu yang
bergaul erat dengan penderita tuberkulosis paru BTA positif.
Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin,klinis, dan radiologis. Bila tes
tuberkulin positif, maka pemeriksaan radiologis foto thoraks diulang
pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila masih negatif, diberikan BCG
vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi konversil hasil tes tuberkulin
dan diberikan kemoprofilaksis.
2) Mass chest X-ray ,yaitu pemeriksaan masal terhadap kelompok-
kelompok populasi tertentu misalnya :
a) Karyawan rumah sakitt/puskesmas/balai pengobatan
b) Penghuni rumah tahanan
c) Siswa siswi pesantren.

d) Vaksinasi BCG
e) Kemoprofilaksis dengan menggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-
12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi
bakteri yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis primer atau
utama ialah bayi yang menyusu pada ibu dengan BTA positif,
sedangkan kemoprofilaksis sekunder diperlukan bagi kelompok
berikut :
1) Bayi dibawah 5 tahun dengan hasil tes tuberkulin positif
karena risiko timbulnya TB milier dan miningitis TB.
2) Anak remaja dibawah 20 tahun dengan hasil tes tuberkulin
positif yang bergaul erat dengan penderita TB yang menular.
3) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin dari
negatif menjadi positif.
4) Penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat
imunosupresif jangka panjang.
5) Penderita diabetes melitus.
3) Komunikasi, informasi ,dan edukasi (KIE) tentang penyakit
tuberkulosis kepada masyarakat tingkat puskesmas, rumah sakit dan
lembaga lainnya.
[ CITATION Ari121 \l 14345 ]
b. Penanganan Medik
Tujuan pengobatan pada penderita TBC selain untuk
menyembuhkan/mengobati penderita juga mencegah kematian, mencegah
kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai
penularan. Untuk penatalaksanaan pengobatan tuberculosis paru, berikut
ini adalah beberapa hal yang penting untuk diketahui.
Mekanisme Kerja Obat anti-Tuberkulosis (OAT)

1) Aktivitas bakterisidal, untuk bakteri yang membelah cepat.


a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin ® dan
Streptomisin (S).
b) Intraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin dan
Isoniazid (INH).
2) Aktivitas sterilisasi, terhadap the persisters (bakteri semidormant)
a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin dan
Isoniazid.
b) Intraseluler, untuk slowly growing bacilli digunakan Rifampisin
dan Isoniazid. Untuk very slowly growing bacilli digunakan
Pirazinamid (Z).
3) Aktivitas bakteriostatis, obat-obatan yang mempunyai aktivitas
bakteriostatis terhadap bakteri tahan asam.
a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Etambutol (E),
asam para-amino salisilik (PAS) dan sikloserine.
b) Intraseluler, kemungkinan masih dapat dimusnahkan oleh
Isoniazid dalam keadaan telah terjadi resistensi sekunder.
Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu:
1) Tahap intensif (2-3 bulan)
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan
diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap
semua OAT, terutama rifampisin. Bila pengobatan tahan intensif
tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi
tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita
TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada akhir
pengobatan intensif.
2) Tahap lanjutan (4-7 bulan)
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
[ CITATION NsA13 \l 14345 ]

9. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada klien dengan TB Paru merupakan pemeriksaan fokus
yang terdiri dari :
a. Inspeksi
Pada klien TB Paru apabila terdapat komplikasi yang melibatkan
kerusakan luas pada parenkim paru biasanya klien terlihat mengalami
sesak nafas,peningkatan frekuensi nafas dan menggunakan otot bantu
nafas. Dan terdapat peningkatan produksi secret dan sekresi spuntum
yang purulen. [ CITATION Ari121 \l 14345 ]
b. Palpasi
1) Palpasi trakea
Adanya pergeseran trakea menunjukkan- meskipuntetapi tidak
spesifik-penyakit dari lobus atas paru. Pada Tb paru disertai adanya
efusi pleura masif dan pneumothoraks akan mendorong posisi trakea
ke arah berlawanan dari sisi sakit.
2) Gerakan dinding thorak anterior/ekskrusi pernapasan. TB paru tanpa
komplikasi pada saat dilakukan palpasi, gerakan dada saat bernapas
biasanya normal dan seimbang antara bagian kanan dan kiri. Adanya
penurunan gerakan dinding pernapasan biasanya ditemukan pada
klien TB paru dengan kerusakan parenkim paru yang luas.
3) Gertaran suara (fremitus vokal)
Getaran yang terasa ketika perawat meletakkan tangannya di dada
pasien saat pasien berbicara adalah bunyi yang dibangkitkan oleh
penjalaran dalam laring arah distal sepanjang pohon bronkial untuk
membuat dinding dada dalam gerakan resonan, terutama pada bunyi
konsonan. Kapasitas untuk merasakan bunyi pada dinding dada
disebut taktil fremitus. Adanya penurunan taktil fremitus pada pasien
dengan TB paru biasanya ditemukan pada pasien yang disertai
komplikasi efusi pleura masif, sehingga hantaran suara menurun
karena transmisi getaran suara harus melewati cairan yang
berakumulasi di rongga pleura [ CITATION Ari121 \l 14345 ].
c. Perkusi
Pada pasien dengan TB paru minimal tanpa komplikasi, biasanya akan
didapatkan bunyi resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada
pasien dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi pleura akan
di dapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sakit sesuai
banyaknya akumulasi cairan dirongga pleura. Apabila disertai
pneumothoraks, maka di dapatkan bunyi hiperresonan terutama jika
pneumothoraks ventil yang mendorong posisi paru ke sisi yang sehat.
[ CITATION Ari121 \l 14345 ]
d. Auskultasi
Pada pasiien dengan TB paru didapatkan bunyi napas tambahan (ronchi)
pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksa untuk
mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana di dapatkan bunyi
ronchi. Bunyi yang terdengar melalaui stetoskop ketika klien berbicara
disebut sebagai resonan vokal. Pasien dengan TB paru yang disertai
komplikasi seperti efusi pleura dan pneumothoraks akan didapatkan
penurunan resonan vokal pada sisi yang sakit. [ CITATION Ari121 \l 14345 ]
B. Konsep Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
1. Definisi Operasional Bersihan Jalan Tidak Efektif : Ketidakmampuan
membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan
nafas tetap paten.[ CITATION Tim17 \l 14345 ]
2. Penyebab
a. (Fisiologis)
1) Spasme jalan nafas
2) Hipersekresi jalan nafas
3) Disfungsi neuromuskuler
4) Benda asing dalam jalan nafas
5) Adanya jalan nafas buatan
6) Sekresi yang tertahan
7) Hiperplasia dinding jalan nafas
8) Proses infeksi
9) Respon alergi
10) Efek Agen farmakologis (mis. Anastesi)
b. (Situasional)
1) Merokok aktif
2) Merokok pasif
3) Terpajan polutan.[ CITATION Tim17 \l 14345 ]

3. Gejala dan Tanda Mayor


a. Subjektif
( Tidak tersedia)
b. Objektif
1) Batuk tidak efektif
2) Tidak mampu batuk
3) Spuntum berlebih
4) Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
5) Mekonium dijalan nafas ( pada neonatus).
4. Gejala dan Tanda Minor
a. Subjektif
1) Dispnea
2) Sulit bicara
3) Orthopnea
b. Objektif :
1) Gelisah
2) Sianosis bunyi napas menurun
3) Frekuensi nafas berubah
4) Pola nafas berubah

5. Kondisi Klinis Terkait


a. Gullian barre syndrome
b. Sklerosis multipel
c. Myasthenia gravis
d. Prosedur diagnostik (mis. Bronkoskopi, transesophageal echocardiography
(TEE))
e. Depresi sistem sarap pusat
f. Cedera kepala
g. Stroke
h. Kuadriplegia
i. Sindrom aspirasi mekonium
j. Infeksi saluran nafas

6. Luaran
a. Definisi : Kemampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas
untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten.[ CITATION SLK19 \l 14345 ]
b. Espektasi : Meningkat
c. Kriteria Hasil
Tabel 2.1 Kriteria Hasil Bersihan Jalan nafas tidak Efektif
Menurun Cukup Menurun Sedang Cukup Meningkat
meningkat
Batuk Efektif 1 2 3 4 5

Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


meningkat menurun
Produksi spuntum 1 2 3 4 5
Mengi 1 2 3 4 5

Wheezing 1 2 3 4 5

Mekonium (pada
neonatus) 1 2 3 4 5
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
Memburuk membaik
Dispnea 1 2 3 4 5

Ortopnea 1 2 3 4 5

Sulit bicara 1 2 3 4 5

Sianosis 1 2 3 4 5

Gelisah 1 2 3 4 5

Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik


Memburuk Membaik
Frekuensi nafas 1 2 3 4 5

Pola nafas 1 2 3 4 5

[ CITATION SLK19 \l 14345 ]


C. Konsep Tindakan Keperawatan
1. Batuk Efektif
Batuk merupakan mekanisme reflek yang sangat penting untuk menjaga
jalan nafas tetap ternuka (paten) dengan cara menyingkirkan lendir yang
menumpuk pada jalan nafas. Batuk diakibatkan oleh iritasi membran mukosa
dalam saluran pernapasan. Stimulus yang menghasilkan batuk dapat timbul
dari suatu proses infeksi atau iritan yang dibawa oleh udara seperti debu, asap,
gas ,dan kabut. Batuk adalah proteksi utama pasien terhadap akumulasi sekret
dalam bronki dan bronkiolus (Pranowo, 2012) (Hendi Setiawan, 2018)
Batuk efektif merupakan salah satu tindakan non farmakologi untuk
pasien dengan gangguan pernapasan akut dan kronik. Peran perawat dalam hal
ini sangatlah penting yaitu melatih pasien untuk melakukan batuk efektif yang
bertujuan untuk menambah pengetahuan pasien tentang pentingnya
pengeluaran dahak. Batuk efektif dapat diberikan pada pasien dengan cara
mengatur posisi yang benar agar dahak keluar dengan lancar (Sudoyo, 2006)
(Hendi Setiawan, 2018)
2. Indikasi : COPD ( Chronic Obstructive Pulmonary Disease )
3. Kontrra Indikasi : Pneumotoraks, Hemoptisis, gangguan sistem
Kardiovaskuler, Edema Paru ,Efusi Pleura.
4. Intervensi Keperawatan
a. Observasi :
1) Identifikasi kemampuan batuk
2) Monitor adanya retensi sputum
3) Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas
4) Monitor input dan output cairan (mis. Jumlah dan karakteristik).
[ CITATION Tim171 \l 14345 ]
b. Terapeutik :
1) Atur posisi semi fowler atau fowler
2) Pasang perlak dan bengkok dipangkuan pasien
3) Buang sekret pada tempat spuntum
c. Edukasi
1) Jelaskan tujuan prosedur batuk efektif
2) Anjurkan tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik ,ditahan
selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mecucu
(dibulatkan) selama 8 detik.
3) Anjurkan mengulangi tarik nafas dalam hingga 3 kali
4) Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang
ke3
d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran , jika perlu.

5. Evaluasi keperawatan
Adapun evaluasi tindakan yang diharapkan terhadap penyakit TBC Paru
berdasarkan diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif adalah mampu
melakukan pengaturan posisi, mampu melakukan batuk dengan baik dan
sekresi dahak meningkat . Sedangkan evaluasi hasil yang diharapkan yaitu
status pernapasan membaik (misalnya, mengi/wheezing menurun, dyspnea
membaik, ortopnea membaik, sianosis membaik, frekuensi nafas dan pola
nafas membaik), dan produksi sputum menurun.
Tabel 3.1 evaluasi keperawatan
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun meningkat
Batuk Efektif

Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


meningkat menurun
Produksi
spuntum
Mengi
Wheezing
Mekonium
(pada neonatus)

BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Tindakan Keperawatan (persiapan, pelaksanaan tindakan, evaluasi)
Tabel 3.1 Tabel persiapan

No Komponen Kasus 1 Kasus 2


1 Persiapan alat 1. Bantal 1. Bantal
penyangga penyangga
2. Air minum 2. Air minum
hangat hangat
3. Tissue 3. Tissue
4. Sarung tangan 4. Sarung tangan
bersih bersih
5. Handuk kecil 5. Handuk kecil
6. Stetoskop 6. Stetoskop
7. Spuntum pot 7. Kantong
plastik hitam
2 Persiapan pasien 1. Posisi semi 1. Posisi semi
fowler/fowler fowler/fowler
2. Pasang handuk 2. Pasang handuk
kecil didada kecil didada klien
klien 3. Berikan minum
3. Berikan hangat
minum air 4. Dilakukan sesuai
hangat tahapan
4. Dilakukan
sesuai tahapan

3 Persiapan lingkungan 1. Jaga privasi 1. Jaga privasi


klien klien
2. Ciptakan dan 2. Ciptakan dan
pertahankan pertahankan
lingkungan lingkungan
yang tenang yang tenang
dan nyaman dan nyaman
4 Persiapan perawat 1. Membaca 1. Membaca
catatan catatan
perawat/medis perawat/medis
klien klien
2. Membawa 2. Membawa
buku panduan buku panduan
tindakan tindakan

Perbedaan dari tabel 3.1

Dari hasil tabel 3.1 terdapat perbedaan antara lain pada persiapan peralatan
pada klien 1 dan 2 pasien menggunakan air minum hangat yang sudah
disiapkan keluarganya. Dan untuk alat tambahan terdapat pada klien 2 yaitu
kantong plastik hitam yang berfungsi untuk membuang tisu yang sudah terpakai
,karena pasien memilih untuk melakukannya dengan tisu.
Tabel 3.2 Tabel pelaksanaan tindakan

No Tahap Klien 1 Klien 2


1 Tahap 1. Memberi salam terapeutik 1. Memberi salam
orientasi : salam mulai dari terapeutik : salam
perawat, perkenalan nama mulai dari perawat,
dan panggilan perawat perkenalan nama dan
2. Evaluasi/Validasi : panggilan perawat
Menanyakan keluhan 2. Evaluasi/Validasi :
pasien saat ini dan mulai Menanyakan keluhan
kapan pasien dirawat di pasien saat ini dan
Rumah sakit mulai kapan pasien
3. Kontrak : dirawat di Rumah sakit
a. Menjelaskan tujuan 3. Kontrak :
dilakukan nya a. Menjelaskan
tindakan tujuan
b. Menjelaskan tahapan dilakukannya
dari tindakan. tindakan
c. Meminta persetujuan b. Menjelaskan
Pasien dan keluarga tahapan dari
d. Menanyakan tindakan
Kesiapan Pasien c. Meminta
persetujuan
Pasien dan
keluarga
d. Menanyakan
kesiapan Pasien
2 Tahap 1. Mencuci tangan 1. Mencuci tangan
kerja 2. Memakai sarung 2. Memakai sarung
tangan bersih tangan bersih
3. Berikan posisi 3. Berikan posisi
nyaman (semi nyaman
fowler/fowler) (semifowler/fowler)
4. Pasang handuk kecil 4. Pasang handuk kecil
di dada pasien pada dada pasien
5. Berikan air minum 5. Berikan air hangat
hangat yang sudah yang sudah disiapkan
disiapkan 6. Meminta klien untuk
6. Meminta klien untuk meletakkan kedua
meletakkan kedua telapak tangan diatas
telapak tangan diatas abdomen sisi bawah
abdomen sisi bawah iga.
iga 7. Anjurkan klien untuk
7. Anjurkan klien menarik nafas dalam
untuk menarik nafas perlahan-lahan
dalam perlahan- melalui hidung dan
lahan melalui hidung mengeluarkannya
dan melalui mulut
mengeluarkannya (dilakukan sebanyak
melalui mulut 3x)
(dilakukan sebanyak 8. Anjurkan pasien
3x) menahan nafas selama
8. Anjurkan pasien 2-3 detik setelah nafas
menahan nafas terakhir.
selama 2-3 detik 9. Anjurkan pasien
setelah nafas terakhir batuk dengan kuat
9. Anjurkan pasien menggunakan perut
batuk dengan kuat dan otot bantu
menggunakan perut pernafasan.
dan otot bantu 10.Siapkan tisu dan
pernafasan. kantong plastik hitam
10. Siapkan spuntum pot yang sudah
11. Anjurkan klien disediakan. Untuk
membuang spuntum membuang tisu yang
pada tempat yang dipakai untuk
sudah disediakan. dahaknya.
12. Lalu bersihkan 11.Kemudian buang ke
dengan tissue tempat sampah
13. Anjurkan Klien berwarna
untuk beristirahat kuning(infeksius)
sebentar 12.Lalu usap dengan
14. Kemudian anjurkan tissue jika terdapat
klien mengulangi kotoran
sesuai prosedur 13.Anjurkan pasien
lakukan 2-3 kali. beristirahat sebentar
15. Lakukan auskultasi 14.Kemudian anjurkan
dada klien untuk klien mengulangi
mendengar suara tindakan tersebut
nafas ( terdengar sesuai prosedur 2-3
ronkhi) kali.
16. Setelah prosedur 15.Lakukan auskultasi
selesai berikan air dada klien untuk
minum lagi. mendengar suara
17. Rapikan alat dan nafas (tedengar
pasien. ronkhi)
18. Lepaskan sarung 16.Setelah prosedur
tangan selesai berikan
19. Cuci tangan minum air hangat
lagi.
17.Rapikan alat dan
pasien.
18.Lepaskan sarung
tangan
19.Cuci tangan

Perbedaan dari tabel 3.2

Dari hasil tabel 3.2 pasien keduanya mau dan mampu melakukan
prosedur sesuai SOP . Namun terdapat perbedaan dengan peralatan yang
digunakan , pada klien 1 : Klien memilih meminum air hangat yang
sudah disediakan keluarga nya dan untuk tempat membuang spuntum ,
klien membuangnya di spuntum pot yang sudah dikasih desifektan
sebelumnya . Sedangkan untuk klien 2 pasien minum air hangat dan
pasien memilih menggunakan tisu yang sudah ditaruh didalam kantung
plastik hitam dan dibuang di tempat sampah berwarna kuning. Meskipun
terdapat perbedaan dari alat yang digunakan , tetapi kedua pasien mampu
melakukan prosedur dengan baik dan dapat batuk secara efektif ,
sehingga dahak yang keluarpun sudah meningkat.
Dijelaskan perbedaan evaluasi pada klien 1 dan 2

Hari 1 Hari 2 Hari 3


Klien 1 Klien 2 Klien 1 Klien 2 Klien 1 Klien 2
1. Klien 1. Klien mengatakan 1. Klien 1. Klien 1. Klien 1. Klien
mengatakan kesulitan untuk mengatakan mengatakan mengatakan mengatakan
kesulitan mengeluarkan kesulitan kesulitan untuk kesulitan untuk kesulitan untuk
mengeluarkan dahaknya. untuk mengeluarkan mengeluarkan mengeluarkan
dahak nya. 2. Klien mengatakan mengeluarkan dahaknya. dahaknya. dahaknya.
2. Klien dahaknya sangat dahaknya. 2. Klien 2. Klien 2. Klien
mengatakan tidak banyak, dan 2. Klien mengatakan mengatakan mengatakan dapat
tahu bagaimana merasa sesak mengatakan dapat dapat melakukan batuk
cara melakukan apabila sulit dapat melakukan melakukan efektif seperti
batuk efektif dikeluarkan. melakukan batuk efektif batuk efektif yang sudah
dengan benar. 3. Klien mengatakan batuk efektif yang sudah seperti yang diajarkan.
3. Klien tidak tahu seperti yang diajarkan sudah diajarkan. 3. Klien
mengatakan bagaimana cara sudah sebelumnya. 3. Klien mengatakan
sebelumnya melakukan batuk diajarkan 3. Pasien mengatakan sudah dapat
belum pernah di efektif dengan sebelumnya. mengatakan sudah dapat mengeluarkan
ajarkan benar dan belum 3. Pasien bahwa dahak mengeluarkan dahak dengan
bagaimana cara pernah di ajarkan mengatakan yang dahak dengan banyak dari
batuk efektif sebelumnya. bahwa dahak dikeluarkan banyak dari sebelumnya.
dengan benar. yang sudah banyak sebelumnya.
dikeluarkan dari
Hasil sebelum Hasil sebelum sudah lebih sebelumnya. Hasil sebelum
melakukan tindakan melakukan tindakan banyak dari Hasil sebelum dilakukan tindakan :
batuk efektif : batuk efektif : pada Hasil sebelum dilakukan Pasien kesulitan
Dahak sulit untuk Dahak sulit untuk sebelumnya. dilakukan tindakan tindakan : Pasien untuk bernafas ,
dikeluarkan, klien dikeluarkan ,pasien batuk efektif : kesulitan untuk dahak yang keluar
merasa sulit untuk terlihat kesulitan Hasil sebelum Klien merasa bernafas , dahak sedikit.
bernafas. untuk bernafas dan dilakukan kesulitan untuk yang keluar sedikit.
ingin segera tindakan batuk bernafas dan Hasil setelah
dilakukan tindakan efektif : Pasien kesulitan untuk Hasil setelah dilakukan tindakan
Hasil setelah batuk secara efektif. terlihat kesulitan mengeluarkan dilakukan tindakan batuk efektif : Klien
dilakukannya untuk dahaknya. batuk efektif : dapat melakukan nya
tindakan batuk Hasil setelah mengeluarkan Klien dapat dengan baik dan
efektif : Klien dapat dilakukannya dahaknya. melakukan nya dahak yang keluar
mengeluarkan tindakan batuk Hasil setelah dengan baik dan banyak sehingga
dahaknya dengan efektif : Klien dapat Hasil setelah dilakukan tindakan dahak yang keluar klien merasa lebih
mudah , pasien mengeluarkan dilakukan batuk batuk efektif : banyak sehingga baik.
merasa lebih baik dahaknya lebih efektif : Klien Klien dengan klien merasa lebih
dari sebelumnya. banyak, pasien dengan mudah mudah baik.
Pasien menjadi tahu merasa lebih baik mengeluarkan mengeluarkan
bagaimana cara dari sebelumnya. dahaknya. dahaknya dan dapat
melakukan batuk Dan pasien menjadi bernafas dengan
yang efektif. tahu bagaimana cara baik(lega).
melakukan batuk
dengan cara efektif.
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pembahasan
Bab ini akan membahas mengenai kesenjangan – kesenjangan antara
tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus serta opini terhadap kasus Tindakan
keperawatan dukungan perawatan bedah pada penderita TB Paru dengan
masalah keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif pada RSUD Pare
Kediri. Pada prinsipnya literature merupakan pengalaman dari satu
pengalaman yang nyata dan telah dilakukan penelitin serta diuji
kebenarannya. Namun demikian tidak menutup kemungkinan masih
ditemukan perbedaan antara teori dengan kenyataan yang ada dalam tindakan
keperawatan bedah tersebut.

Hal ini disebabkan karena setiap individu memiliki keunikan dan respon
yang berbeda terhadap masalah yang dihadapi. Karena itulah, penulis perlu
membahas kesenjangan maupun kesesuaian antara tinjauan kasus dengan
karya tulis ini. Untuk lebih jelasnya akan membahas masalah ini yang akan
disesuaikan dengan langkah – langkah dalam profesi keperawatan.

1. Persiapan
Klien 1 Klien 2
Klien duduk dengan posisi fowler Klien duduk dengan posisi fowler
dengan bantal penyangga yang dengan bantal penyangga yang
ditempatkan di punggung klien , ditempatkan dipunggung klien,
dengan dipakaikan handuk kecil dengan dipakaikan handuk kecil
dibawah dagu untuk dibawah dagu klien untuk
menghindarkan droplet muncrat menghindarkan droplet muncrat
kemana-mana, dan ciptakan kemana-mana, kemudian ciptakan
lingkungan yang tenang dan lingkungan yang tenang dan
nyaman ,perawat menyiapkan nyaman , perawat menyiapkan
peralatan yang sudah disediakan peralatan yang sudah disediakan
seperti tissu,spuntum pot ,stetoskop seperti tissue,kantong plastik hitam
dan air biasa yang sudah disiapkan. (untuk membuang kotoran dan
Tidak lupa perawat mencuci tangan pengganti spuntum pot), stetoskop
dan memakai sarung tangan. Dan dan air hangat. Tidak lupa perawat
siapkan buku catatan untuk mencuci tangan dan memakai
dokumentasi serta buku panduan sarung tangansebelum melakukan
tindakan yang akan dilakukan. tindakan, serta siapkan buku catatan
untuk dokumentasi dan buku
panduan tindakan yang dilakukan.

Pada table persiapan tindakan batuk efektif 3.1 didapatkan hasil bahwa pada
persiapan alat terdapat perbedaan antara kasus 1 dan 2. Hasil penelitian
menunjukan bahwa pada kasus 2 , klien meminta untuk diberikan kantong plastik
hitam, yang digunakan untuk membuang bekas tisu yang digunakan untuk
membuang dahaknnya. Menurut Laili (2018) Alat dan bahan yang digunakan
untuk tindakan batuk efektif adalah bantal penyangga, air minum hangat
,tissue,sarung tangan bersih, handuk kecil, spuntum pot, dan stetoskop.[ CITATION
Nur18 \l 14345 ], namun pada sumber lain di internet menurut Dr. Tania (2017)
mengekemukakan bahwa batuk efektif dapat dilakukan dengan hanya
menggunakan tisu dan langsung dibuang dikantong plastik atau tempat sampah,
karena batuk merupakan refleks yang terkadang sulit untuk dikontro. [ CITATION
Fin20 \l 14345 ] Serta sediakan tempat yang aman dan nyaman agar pasien tidak
dapat resiko cedera ketika dilakukan tindakan, kemudian persiapan perawat
memberi salam dan perkenalan diri mengidentifikasi identitas klien menjelaskan
tujuan tindakan yang akan dilakukan. [ CITATION Chr13 \l 14345 ].
Menurut peneliti perbedaan ini tidak menimbulkan perbedaan hasil jika pasien
batuk dan membuang dahaknya di spuntum pot ataupun di tisu. Karena yang
terpenting dalam keberhasilan tindakan adalah klien mau dan mampu ketika
dilakukan tindakan batuk efektif tersebut. Yang terpenting ketika dilakukan
tindakan tersebut pasien melakukannya dengan nyaman tanpa kelelahan. Pada
persiapan pasien, lingkungan , dan persiapan perawat. Ditemukan perbedaan
apersiapan alat saja pada kasus 2 yaitu terdapat tambahan kantong plastik untuk
membuang tisu yang telah dipergunakan. Namun untuk persiapan lingkungan dan
perawat tidak terdapat perbedaan antara kasus 1 dan 2.
Dengan dilakukan persiapan tindakan batuk efektif Klien mau dan mampu
melakukan dengan nyaman tanpa kelelahan,karena persiapan ini tidak begitu
menguras tenaga.

2. Tindakan
Tahap Orientasi memberi salam terapeutik mulai dari perkenalan oleh
perawat, dan mengevaluasi/validasi dengan menanyakan keadaan atau keluhan
klien, membuat kontrak dengan klien menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
serta persiapan dan meminta persetujuan dari klien dan keluarga untuk
dilakukannya tindakan. Dan terakhir mendemonstrasikan terlebih dahulu
bagaimana cara melakukan batuk efektif, agar klien dapat mengikuti arahan
dengan baik. Dari table 3.2 pelaksanaan tindakan, hasil dari penelitian
menunjukan adanya perbedaan pada tahap kerja yaitu pada kasus 1 ketika
dilakukan tindakan pasien bersedia membuang dahak didalam spuntum pot ,
namun pada kasus 2 pasien meminta membuangnya ke tisu dan langsung ditaruh
di wadah plastik berwarna hitam yang sudah disediakan. Menurut Yosef (2011)
sebagian besar penderita TB paru yang mengalami masalah bersihan jalan nafas
tidak efektif sebagian besar tidak mengetahui bagaimana cara batuk efektif dengan
benar yang di tandai dengan kesulitan mengeluarkan secret, merasa sesak nafas,
lemas, dan terdengar suara nafas seperti mengi. Kemandirian seseorang penderita
penyakit gangguan pernafasan seperti TB Paru untuk bisa melakukan batuk efektif
yaitu agar dapat mengeluarkan dahak sebanyak-banyaknya agar pasien merasa
lega dan sesak nafas, mengi dapat berkurang, sehingga klien dapat melakukan
kegiatan sehari-hari tanpa gangguan.

Tahap orientasi yaitu tahap dimana perawat memberikan salam terapeutik


untuk membina hubungan saling percaya, komunikasi yang terbuka dengan
menggali pikiran dan perasaan klien, serta mengidentifikasi masalah klien dan
untuk menentukan tindakan apa yang efektif dilakukan kepada klien. Selanjutnya
menjelaskan kepada klien tujuan dan kontrak yang saling menguntungkan dan
menjelaskan bahwa tindakan tidak akan membahayakan klien dan tindakan
dilakukan sesuai dengan SOP. [ CITATION Ris15 \l 14345 ]. Peran perawat dalam
mengawasi tindakan tersebut serta untuk mengetahui keberhasilan tindakan
dengan cara memantau perkembangan nya, dengan melihat seberapa banyak dahak
yang keluar, bunyi mengi menurun dan sesak nafas yang menurun.

Pemeliharaan bersihan jalan nafas sangat menentukan status kesehatan


individu secara sadar dan inisiatif pribadi untuk mencegah terjadinya penyakit
yang semakin parah. Sehingga dalam upaya pemeliharaan batuk efektif ini peran
perawat dan dukungan keluarga juga sangat diperlukan. Karena sebagian besar
penderita TB Paru tidak mengetahui bagaimana cara pengeluaran dahak dengan
benar sehingga meskipun dilakukan sekencang-kencangnya tanpa mengetahui tata
caranya, yang keluar bukan dahak melainkan cairan ludahnya. [ CITATION Eui12 \l
14345 ]

Dengan dilakukan adanya tahap orientasi ini perawat dengan klien dapat
membina hubungan saling percaya dan dapat melakukan tindakan pada saat tahap
kerja dengan sesuai tujuan dan prosedur. Ketika orientasi tidak berjalan sesuai
yang diinginkan ,sebaiknya perawat lebih mendekat kan diri ke pasien. Sehingga
pasien dapat kooperatif sesuai dengan tujuan dari tindakan.

3. Evaluasi
Pada hari pertama pada Klien 1 mendapatkan hasil ketika sebelum
melakukan tindakan batuk efektif : Dahak sulit untuk dikeluarkan, klien merasa
sulit untuk bernafas. Hasil setelah dilakukannya tindakan batuk efektif : Klien
dapat mengeluarkan dahaknya dengan mudah, pasien merasa lebih baik dari
sebelumnya. Pasien menjadi tahu bagaimana cara melakukan batuk yang efektif .
Klien 2 Hasil sebelum melakukan tindakan batuk efektif : Dahak sulit untuk
dikeluarkan ,pasien terlihat kesulitan untuk bernafas dan ingin segera dilakukan
tindakan batuk secara efektif.Hasil setelah dilakukannya tindakan batuk efektif :
Klien dapat mengeluarkan dahaknya lebih banyak, pasien merasa lebih baik dari
sebelumnya. Dan pasien menjadi tahu bagaimana cara melakukan batuk dengan
cara efektif. Hari kedua Klien 1 didapatkan Hasil sebelum dilakukan tindakan
batuk efektif : Pasien terlihat kesulitan untuk mengeluarkan dahaknya.Hasil
setelah dilakukan batuk efektif : Klien dengan mudah mengeluarkan dahaknya.
Klien 2 didapatkan Hasil sebelum dilakukan tindakan batuk efektif : Klien merasa
kesulitan untuk bernafas dan kesulitan untuk mengeluarkan dahaknya. Hasil
setelah dilakukan tindakan batuk efektif : Klien dengan mudah mengeluarkan
dahaknya dan dapat bernafas dengan baik(lega). Hari ke tiga dilakukan tindakan
pada Klien 1 didapatkan hasil sebelum dilakukan tindakan : Pasien kesulitan untuk
bernafas , dahak yang keluar sedikit. Hasil setelah dilakukan tindakan batuk efektif
: Klien dapat melakukan nya dengan baik dan dahak yang keluar banyak sehingga
klien merasa lebih baik.Dan pada Klien 2 didapatkan hasil sebelum dilakukan
tindakan : Pasien kesulitan untuk bernafas , dahak yang keluar sedikit. Hasil
setelah dilakukan tindakan batuk efektif : Klien dapat melakukan nya dengan baik
dan dahak yang keluar banyak sehingga klien merasa lebih baik.
Evaluasi bertujuan untuk melihat perbandingan diantara 2 klien yang
sudah dilakukan tindakan. Hasil dari rencana tindakan keperawatan kepada 2 klien
yang sudah sesuai dengan SOP yang sudah dibuat meliputi membantu pasien
memilih posisi yang mudah untuk bernafas, mengkaji dan mengawasi warna
secara rutin membran mukosa atau dahak yang dikeluarkan, membantu klien
mengeluarkan spuntum dengan mudah tanpa rasa lelah, auskultasi bunyi nafas dan
mencatat area penurunan bunyi udara atau suara tambahan terhadap dua Klien.
Dari hasil evaluasi ini dapat dijelaskan perbedaan hasil dari kedua Klien
yang sudah dilakukan tindakan batuk efektif. Meskipun memiliki perbedaan alat
dan cara bagaimana dilakukan nya tindakan ,namun tujuan dari tindakan tersebut
sama saja.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dari pembahasan dapat disimpulkan
sebagai berikut :

a. Persiapan yang dilakukan untuk melakukan tindakan batuk efektif bagi


penderita penyakit TB paru di Ruang Melati di RSUD Kabupaten
Kediri dapat membantu Klien melakukan tindakan tersebut secara
mandiri tanpa ada rasa lemas atau lelah serta tidak membahayakan .
b. Dengan dilakukan tahap terapeutik atau salam terapeutik untuk
membina hubungan saling percaya, komunikasi yang terbuka dengan
pasien dengan menggali pikiran dan perasaan klien, serta
mengidentifikasi masalah klien dan untuk menentukan tindakan apa
yang efektif untuk Klien.
c. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan tindakan yang akan
dilakukan kepada Klien dan Keluarga , agar mau dan mampu
melakukan tindakan secara efektif.
d. Memberikan penjelasan bahwa tindakan yang dilakukan tidak
membahayakan.
e. Terdapat perbedaan hasil dari tindakan yang sudah dilakukan terhadap
kedua Klien, mulai hari pertama sampai hari ketiga.
B. Saran
a. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan hasil studi kasus ini bisa dimanfaatkan untuk bahan acuan atau
sebagai referensi untuk studi kasus berikutnya.
b. Bagi lahan
Diharapkan berdasarkan hasil studi kasus tindakan batuk efektif diharapkan
untuk menambah tenaga kesehatan khususnya perawat yang salah satu
tugas pokok fungsinya adalah untuk memberikan tindakan dan mengontrol
kesehatan pada penderita Tuberkulosis Paru.
c. Bagi peneliti berikutnya
Diharapkan untuk peneliti berikutnya dapat mengembangkan cara batuk
efektif.
DAFTAR PUSTAKA

Euis, K. (2012). Pengaruh Tindakan Batuk Efektif pada Tuberculosis Paru. Hasil
Penelitian, 1-71.

Kemala, F. (2020). Etika Batuk Yang Benar Untuk Mencegah Penularan Penyakit.
Batuk dan Penyakit Pernafasan, 1-3.

Kholid , R., & Nila, D. w. (2013). Prosedur Praktik Keperawatan,Jilid 1. jakarta:


time.

Laili, N. (2018). Pelaksanaan Batuk Efektif pada Pasien Tuberkulosis Paru.


Penelitian, 44-48.

Mustafa, S. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Klien Tuberkulosis Dengan Masalah


Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif. 1-78.

Muttaqin, A. (2012). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.

Ns.Abd, W. S., & Imam , S. S. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem
Respirasi. Jakarta: CV.Trans Info Media.

Pramono, C. W. (2013). Efektifitas Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Spuntum.


Penelitian, 1-9.

Riskedes. (2018). Kementrian Kesehatan RI. 1-82.

Risqiana, N. (2015). Tahap-Tahap Komunikasi. Tahapan Komunikasi Terapeutik


Perawat dan Klien, 1-6.

Santosa, T. I. (2017). Asuhan Keperawatan Pada Pasien TB Paru dengan Ketidak


efektifan Bersihan Jalan Nafas. 1-50.

SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan
pengurus pusat persatuan indonesia.

Somantri, I. (2012). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


pernafasan. Makasar: Salemba Medika.
Subagya, M. D. (2018). Profil Tuberkulosis Paru di RSUD DR. SOETOMO.
Penelitian, 1-2.

Tim Pokja SDKI DPP. (2017). Standar Diagnose Keperawatan Indonesia Definisi
Dan Indikator Diagnostic. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2017). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan: Dewan Persatuan Perawat Indonesia.
Lampiran 1

LAMPIRAN PROSEDUR PELAKSANAAN

STANDAR
OPERASIONAL TINDAKAN BATUK EFEKTIF TIDAK
PROSEDUR DILAKUKAN DILAKU
KAN
PENGERTIAN Batuk merupakan mekanisme reflek
yang sangat penting untuk menjaga
jalan nafas tetap ternuka (paten) dengan
cara menyingkirkan lendir yang
menumpuk pada jalan nafas.
TUJUAN 1. Meningkatkan kemampuan batuk
efektif
2. Mengeluarkan dahak atau spuntum
secara spontan
3. Meningkatkan frekuensi nafas agar
tetap membaik
KEBIJAKAN 1. Pasien yang mengalami kesulitan
mengeluarkan sekret
2. Pasien yang mengalami
penyempitan jalan nafas
Perawat
1. Mempersiapkan diri
PERSIAPAN 2. Mmempersiapkan pengalaman dan
PASIEN DAN pengetahuan
PERAWAT Kien
1. Klien mau dan mampu melakukan

LINGKUNGAN 1. Jaga privasi pasien


PERALATAN 1. Bantal penyangga
2. Air minum hangat
3. Tissue
4. spuntum pot
5. Sarung tangan bersih
6. Bengkok
7. Perlak/handuk kecil
PROSEDUR 1. Mencuci tangan
PELAKSANAA 2. Memakai sarung tangan bersih
N 3. Berikan posisi nyaman
(semifowler/fowler)
4. Pasang perlak di pangkuan pasien
5. Pasang handuk kecil didada pasien
6. Berikan klien air minum hangat
7. Meminta klien untuk meletakkan
kedua telapak tangan di atas
abdomen sisi bawah iga
8. Anjurkan klien untuk menarik nafas
dalam perlaha-lahan melalui hidung
dan mengeluarkan melalui hidung
dan mengeluarkannya melalui
mulut (lakukan sebanyak 3 kali )
9. Anjurkan klien untuk menahan
nafas selama 2-3 detik setelah
napas dalam terakhir.
10. Anjurkan klien untuk batuk dengan
kuat menggunakan perut dan otot
bantu pernafasan
11. Siapkan spuntum pot, anjurkan
klien untuk membuang sputum pada
tempat yang disediakan ,bersihkan
mulut klien dengan tissue
12. Anjurkan klien istirahat sebentar
13. Anjurkan klien untuk mengulangi
prosedur 4 s.d 7 ( lakukan kurang
lebih 3x)
14. Bila prosedur telah selesai,berikan
minum hangat pada klien
15. Rapikan alat dan pasien
16. Lepaskan sarung tangan
17. Cuci tangan
18. Dokumentasi
(Jumlah,warna,kekentalan dan bau
sekret,nama perawat,tanggal dan
jam pelaksanaan prosedur)
[ CITATION Kho13 \l 14345 ].

Lampiran 2
EVALUASI TINDAKAN

A. Evaluasi Proses

Klien 1 Klien 2
No. Tindakan
1 2 3 1 2 3
a. Klien mampu mengatur posisi
semi fowler atau fowler
ditempat tidur
b. Klien mampu bernafas pelan
2-3 kali melalui hidung dan
kemudian mengeluarkan
melalui mulut (lewat mulut
,bibir seperti meniup)
c. Klien mampu minum air
hangat
d. Klien mampu menarik nafas
dalam dan ditahan 1-3 detik
kemudian membatukkannya
dengan kuat menggunakan
otot abdominal
e. Klien mampu membuang
spuntum pada spuntum pot
f. Klien mampu membersihkan
area mulut
Lampiran 3
KRITERIA PASIEN

1. Lama perawatan pasien TB paru minimal 2-3 hari.


2. Pasien memiliki gejala (Batuk,Demam,Sesak nafas).
3. Usia pasien lebih dari 40 tahun (max.70tahun).
4. Pasien tidak memiliki riwayat Hemaptoe (Batuk darah).
5. Pasien rutin mengkonsumsi obat.
6. Pasien mempunyai keluhan tidak dapat mengeluarkan seckret.

Lampiran 4
SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertandatangan dibawah ini:


Nama :
Umur/ Tgllahir : (L/P)
Alamat :
Telp :
Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya sendiri/ *sebagai orang tua/ *Suami/
*Anak/ *Walidari :
Nama :
Umur/ Tgl lahir : (L/P)
Dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk dilakukan Tindakan
Keperawatan Berupa ……………………………………………..Dari penjelasan
yang diberikan telah saya mengerti segala hal yang terhubung dengan penyaki
ttersebut. Serta tindakan Keperawatan yang akan dilakukan dan kemungkinan setelah
tindakan yang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan.

Kediri, Desember 2019


Pelaksana Yang Membuat pernyataan

HENI ARLITA ( )

Saksi/Keluarga

( )

Lampiran 5
JADWAL PENYUSUNAN KTI

NO. Tahapan / Kegiatan Jadwal


1 Sosialisasi tahapan kegiatan dan pedoman 29, November 2019
2 Penyusunan Proposal 02-14 Desember 2019
3 Ujian Proposal KTI 16-20 Desember 2019
4 Pengambilan Kasus KTI di Lapangan 23, Desember - 4 Januari
2020
5 Penyusunan Laporan KTI dan Proses Januari - Mei 2020
bimbingan penyusunan Laporan
6 Pengumpulan KTI Siap uji sidang 12, Mei 2020
7 Uji sidang KTI 14-20 Mei 2020
8 Revisi KTI 18-22 Mei 2020
9 Pengumpulan KTI Siap Jilid 22, Mei 2020

Lampiran 6

INFORMASI STUDI KASUS


Oleh :
HENI ARLITA

Saya adalah mahasiswa program Diploma III Akademi keperawatan Dharma


Husada Kediri. Studi kasus ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam
menyelesaikan tugas akhir program diploma III Akademi Keperawatan Dharma
Husada Kediri
Tujuan studi kasus ini adalah menerapkan Tindakan Keperawatan Batuk Efektif
pada Pasien Tuberkulosis Paru dengan Masalah Keperawatan Bersihan jalan Nafas
Tidak Efektif . Kami menjamin kerahasiaan pendapat dan identitas anda Informasi
yang anda berikan hanya akan dipergunakan untuk ilmu keperawatan dan tidak
dipergunakan untuk maksud lain. Partisipasi pasien dalam penelitian ini bersifat
volunter (bebas) tanpa adanya paksaan.

Kediri, Desember 2019

HENI ARLITA
NIM : 201749024