Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FARMAKOGNOSI II

DERAJAT KEHALUSAN SERBUK SIMPLISIA

DISUSUN OLEH :

1. WA ODE WISNA ANTO UKO (18 3145 201 113)

2. ILHAM (18 3145 201 127)

3. MARIANA NGILAMELE (18 3145 201 128)

4. YULIANTI (18 3145 201 138)

5. RISKA FAJRINA SHARI (18 3145 201 140)

6. IRA HANIFA TUARITA (18 3145 201 144)

PRODI S1 FARMASI
FAKULTAS FARMASI, ADMINISTRASI RUMAH SAKIT DAN
INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR
2020
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................i

DAFTAR ISI .....................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1

1.2 Tujuan ...........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Instrumen Penghalus Simplisia......................................................................3

2.2 Teori Penetapan Derajat Kehalusan Serbuk Simplisia..................................5

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
makalah tugas Farmakognosi Jurusan Farmasi Semester IV. Makalah tentang “
Instrumen Penghalus dan Derajat Kehalusan Simplisia“ disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah farmakognosi. Banyak. Penyusun menyadari bahwa laporan ini
dapat selesai berkat bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini
penyusun mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini yang tidak dapat penulis sebutkan semuanya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah, masih


banyak kekurangan yang ada, maka untuk itu penulis mengharapkan saran serta kritik
yang bersifat membangun. Sehingga penyusun dapat lebih baik lagi dalam pembuatan
karya berikutnya.

Makassar, 6 April 2020

Penulis
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat tradisional Indonesia telah berabad-abad lamanya dipergunakan secara luas


oleh masyarakat Indonesia, meskipun masih banayak bahan baku standar yang
belum memiliki persyaratan resmi. Obat tradisional pada umumnya menggunakan
bahan-bahan alam yang lebih dikenal sebagai simplisia. Simplisia ialah bahan
alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.

Pemanfaatan tanaman obat sebagai obat tradusional merupakan suatau produk


pelayanan kesehatan yang strategis karena berdampak positif terhadap tingkat
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Tanaman obat dapat memberikan nilai tambah apabila diolah lebih lanjut menjadi
berbagai jenis produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam
produk seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental, ekstrak
kering, instan, sirup, permen, kapsul maupun tablet.

Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku obat yang
mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah dikeringkan.
Permintaan bahanbaku simplisia sebagai bahan baku obat-obatan semakin
meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu, efek samping
penggunaan tanaman obat untuk mengobati suatu penyakit lebih kecil dibandingkan
obat sintetis.

Proses pembuatan simplisia diperlukan beberapa tahapan yaitu pengumpulan bahan


baku, sortasi basah, pencuciab, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan
dan penyimpanan. Agar simplisia memiliki mutu dan ketahanan kualitas yang baik,
selain proses pengumpulan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan
dan sortasi kering, juga perlu diperhatikan proses pengepakan dan penyimpanan
karena sangat berpengaruh pada kandungan kadar zat aktif dalam simplisia, maka
dibutuhkan suatu instrument yang sesuai standar yang digunakan.

1.2 Tujuan

 Untuk mengetahui instrumen yang digunakan.


 Untuk mengetahui derajat kehalusan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Arti dan makna ukuran partikel

Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu
pengeringan tidak lebih dari 60oC (BPOM, 2014).

Serbuk adalah sediaan obat tradisional berupa butiran homogen dengan deraiat
halus yang cocok; bahan bakunya berupa simplisia sediaan galenik, atau
campurannya (DepKes RI, 1994). Serbuk Simplisia adalah sediaan Obat
Tradisional berupa butiran homogen dengan derajat halus yang sesuai, terbuat dari
simplisia atau campuran dengan Ekstrak yang cara penggunaannya diseduh dengan
air panas (BPOM, 2014).

2.2 Instrumen Penghalus Simplisia

 Blender

Blender adalah alat elektronik berupa wadah dilengkapi pisau berputar yang


digunakan untuk mengaduk, mencampur, menggiling, atau melunakkan bahan
makanan dan bisa juga untuk menghaluskan simplisia. Pisau berbentuk seperti
sebuah baling-baling pendek yang dipasang pada bagian bawah wadah. Pisau ini
diputar dengan cepat dengan tenaga dari sebuah motor sehingga alat ini dengan
segera dapat mencampur, mencincang, dan melumatkan bahan-bahan yang
dimasukkan ke dalamnya. Blender juga umumnya dilengkapi pengatur kecepatan
berputarnya pisau di dalam wadah.
 Ayakan

Ayakan (saringan) adalah alat yang digunakan untuk memisahkan bagian yang


tidak diinginkan berdasarkan ukurannya, dari dalam bahan curah dan bubuk yang
memiliki ukuran partikel kecil dan bahan adonan atau campuran dari cairannya.
Ayakan terbuat dari logam, polimer, serat tanaman dan kayu.
Pengayakan dilakukan dengan menaruh bahan curah di atas ayakan sambil
menggoyang-goyangkan ayakan. Partikel yang berukuran lebih kecil dari
nomor meshakan jatuh, sedangkan yang berukuran lebih besar akan tetap berada di
atas ayakan. Tergantung tujuannya, partikel yang berukuran besar dapat digerus
kembali agar lebih kecil atau dibuang karena tidak dibutuhkan.
 Hammer Mill
Diantara alat penggiling standar yang luas digunakan adalah jenis alat standar
yang dikenal dengan nama alat penggiling palu (Hammer Mill). Alat ini merupakan
mesin yang kokoh untuk memecah bongkahan bahan yang rapuh dengan prinsip
menggunakan pemalu yang berputar 3600 . Penggiling palu ini terdiri dari suaturotar
pada mana terkait 4 pendulum penghancur.
Selain itu, ada pula penggiling pisau yang beroperasi dengan cara memotong
bahan yang dimasukkan ke dalam ruang penampung, dimana pisau pisau dapat
bergerak secara vertical atau horizontal. Penggiling ini sangat sesuai untuk
menggiling daun, kulit (cortex) dan akar yang selanjutnya dalam diekstraksi secara
maserasi dan perkolasi.
Penggiling lain untuk tanaman obat adalah dengan melewatkan bahan melalui
sesuatu system yang mempunyai suatu piringan bergeligi yang apat beroperasi baik
secara horizontal maupun vertical. Penggiling jenis ini sangat sesuai untuk
menggiling biji biji yang keras ataupun bahan yang sebelumnya sudah dipotong.

2.2 Teori Penetapan Derajat Kehalusan Serbuk Simplisia

Menurut Materia Medika pengayak dibuat dari kawat logam atau bahan lain
yang cocok dengan penampang melintang yang sama diseluruh bagian. Jenis
pengayak dinyatakan dengan nomor yang menunjukkan jumlah lubang tiap cm
dihitung searah dengan panjang kawat.

Derajat halus serbuk dinyatakan dengan nomor pengayak. Jika derajat halus


suatu serbuk dinyatakan dengan 1 nomor, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat
melalui pengayak dengan nomor tersebut. Jika derajat halus suatu serbuk
dinyatakan dengan 2 nomor, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat dapat melalui
pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak
dengan nomor tertinggi.

Menurut Farmakope Indonesia dalam penetapan derajat halus serbuk simplisia


nabati dan simplisia hewani, tidak ada bagian dari obat yang dibuang selama
penggilingan atau pengayakan, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing
monografi.

2.3 Metode Penetapan Keseragaman Derajat Halus

- Untuk penetapan keseragaman derajat halus serbuk obat dan bahan kimia, cara
yang boleh dilakukan dengan menggunakan pengayak baku yang memenihu
persyaratan. Hindari penggoyangan lebih lama, yang akan menyebabkan
peningkatan derajat halus serbuk selama penetapan.
- Untuk serbuk sangat kasar, kasar dan setengah kasar
Masukkan 25-100 g serbuk uji pada pengayak baku yang sesuai yang
mempunyai panci penampung dan tutup yang sesuai. Goyang pengayak dengan
arah putaran horizontal dan ketukkan secara vertikal pada permukaan keras
selama tidak kurang dari 20 menit atau sampai pengayakan praktis sempurna.
Timbang seksama jumlah yang tertinggal pada pengayak dan dalam panci
penampung.
- Untuk serbuk halus atau sangat halus.
Lakukan penetapan seperti pada serbuk kasar kecuali contoh tidak lebih dari 25
g dan pengayak yang digunakan digoyang selama tidak kurang 30 menit atau
sampai pengayakan praktis sempurna.
- Untuk serbuk berminyak atau serbuk lain yang cenderung menggumpal dan
dapat menyumbat lubang, sikat pengayak secara berkala hati-hati selama
penetapan. Hancurkan gumpalan yang terbentuk selama pengayakan. Derajat
halus serbuk obat dan bahan kimia dapat juga ditetapkan dengan cara
melewatkan pada pengayak yang dapat digoyang secara mekanik yang
memberikan gerakan berputar dan ketukan seperti pada pengayak yang
menggunakan tangan; tetapi dengan gerakan mekanik yang seragam, mengikuti
petunjuk dari pabrik pembuat pengayak.

Tabel 1 Klasifikasi Serbuk Berdasarkan Derajat Halus


Simplisia Nabati dan Simplisia
Bahan Kimia
Hewani
Klasifikasi Batas derajat
Nomor Nomor Batas derajat halus2
Serbuk halus2
Nominal Nominal
Nomor Nomor
Serbuk 1 % Serbuk 1 %
Pengayak Pengayak
Sangat Kasar 8 20 60
Kasar 20 40 60 20 60 40
Setengah Kasar 40 40 80 40 60 60
Halus 60 40 100 80 60 120
Sangat Halus 80 100 80 120 100 120
Keterangan :

1. Semua partikel serbuk melewati pengayak dengan nomor nominal tertentu.


2. Batas persentase yang melewati pengayak dengan ukuran yang telah ditentukan.

Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu atau dua nomor. Jika derajat halus
serbuk dinyatakan satu nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak
dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan dua nomor, berarti semua serbuk
dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui
pengayak dengan nomor tertinggi.

Sebagai contoh serbuk 22/60, dimaksudkan bahwa serbuk dapat melalui


pengayak nomor 22 seluruhnya, dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak nomor
60.

Nomor pengayak menunjukkan jumlah-jumlah lubang tiap 2,54 cm dihitung


searah dengan panjang kawat. Pengayak dibuat dari kawat logam atau bahan lain
yang cocok dengan penampang melintang yang sama di seluruh bagian.

Dalam beberapa hal digunakan juga istilah umum untuk menyatakan kehalusan
serbuk yang disesuaikan dengan nomor pengayak sebagai berikut:
1.    Serbuk sangat kasar adalah serbuk (5/8)

2.    Serbuk kasar adalah serbuk (10/40)

3.    Serbuk agak kasar adalah serbuk (22/60)

4.    Serbuk agak halus adalah serbuk (44/85)

5.    Serbuk halus adalah serbuk (85)

6.    Serbuk sangat halus adalah serbuk {120/200(300)}


DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:Departemen Kesehatan RI

Anonim.1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI Cetakan Keenam. Jakarta: Direktorat


Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan

http://www.scribd.com/doc/240013152/CPOTB#scribd

https://id.wikipedia.org/wiki/Ayakan

https://id.wikipedia.org/wiki/Blender