Anda di halaman 1dari 78

TPP-MESIN PERKAKAS 1

BAB I
PENERAPAN PERAWATAN TERENCANA
(PREVENTIVE AND CORECTIVE MAINTENANCE)

Konsep Dasar Perawatan Terencana


Pekerjaan pertama yang paling mendasar dalam perawatan adalah
membersihkan peralatan dari debu maupun kotoran-kotoran lain yang dianggap
tidak perlu. Debu ini akan menjadi inti bermulanya proses kondensasi dari uap air
yang berada di udara. Butir air yang terjadi pada debu tersembut lambat laun akan
merusak permukaan kerja dari peralatan tadi sehingga secara keseluruhan peralatan
tersebut akan menjadi rusak. Pekerjaan membersihkan ini pada umumnya diabaikan
orang karena dianggap tidak penting, dan dalam melakukan pekerjaan ini perlu
adanya petunjuk tentang:
 Bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut?
 Kapan pekerjaan tersebut dilakukan?
 Alat bantu apa saja yang diperlukan?
 Hal-hal apa saja yang harus dihindari dalam melakukan pekerjaan
tersebut?
Pekerjaan kedua adalah memeriksa bagian-bagian dari peralatan yang dianggap
perlu. Pemeriksaan terhadap unit instalasi perlu dilakukan secara teratur mengikuti
pola jadual tertentu. Jadual ini dibuat atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang
cukup mendalam antara lain:
1. Berdasarkan pengalaman yang lalu dalam suatu jenis perkerjaan
yang samadiperoleh informasi mengenai selang waktu atau frekuensi untuk
melakukan pemeriksaan seminimal mungkin dan seekonomis mungkin
tanpa menimbulkan resiko yang berupa kerusakan pada unit instalasi yang
bersangkutan.
2. Berdasarkan sifat operasinya yang dapat menimbulkan kerusakan
setelah unit instalasi beroperasi dalam selang waktu tertentu.
3. Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat unit instalasi yang
bersangkutan.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 2

Pekerjaan selanjutnya adalah memperbaiki bila terdapat kerusakan–kerusakan


pada bagian unit instalasi sedemikian rupa sehingga kondisi unit instalasi tersebut
dapat mencapai standar semula dengan usaha dan biaya yang wajar.
Dengan perkembangan teknologi secara pesat dalam bidang industri maka
perawatan terhadap peralatan produksi secara sadar dinilai sangat penting. Pada
permulaan tumbuhnya industri, perawatan terhadap peralatan biasanya baru
mendapat perhatian setelah peralatan tersebut mengalami kerusakan, karena tidak
pernah mendapat perhatian yang layak. Beberapa kerusakan pada peralatan
produksi tidak hanya berakibat terhentinya sebagian alat produksi tetapi seluruh
peralatan produksi lainnya juga akat ikut berhenti.
Dengan meningkatnya persaingan yang cukup ketat dalam bidang industri, jelas
perhatian akan ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut usaha-usaha untuk dapat
meningkatkan produktifitas, meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya operasi
produksi dengan segala cara yang memungkinkan. Dalam hal ini adalah mengarah
kepada peningkatan efektifitas perawatan peralatan dengan cara yang lebih ilmiah
yang dikenalkan dengan perawatan terencana (planned maintenance). Dalam
perawatan terencana suatu peralatan akan mendapat giliran perbaikan sesuai dengan
interval waktu atau disebut siklus perbaikan (repair cycle) yang telah ditentukan
sengan demikian kerusakan yang lebih besar dapat dihindari. Interval waktu
perbaikan ini dapat ditentukan berdasarkan beban dan derajat kerumitan (repair
complexity) dari peralatan yang bersangkutan.
Jadi dengan perawatan terencana ini (termasuk preventive dan corrective
maintenance) diharapkan dapat memperpanjang umur pakai dari peralatan 3 sampai
4 kali lebih panjang dan dapat mengurangi terjadinya kerusakan yang tidak
diharapkan. Disamping itu dengan perawatan terencana diharapkan pula dapat
menjamin ketelitian peralatan produksi sehingga kualitas dan kelangsungan
produksi dapat terpelihara dengan baik.

Derajat Kerumitan Perawatan (repair complexity)


Derajat/tingkat kerumitan perawatan (repair complexity) merupakan suatu
nilai/besaran relatif dari tingkat kerumitan perawatan suatu mesin. Repair
complexity dari berbagai mesin oleh H.P GARD (1976) sudah ditampilkan dalam
bentuk tabel (Lampiran 1). Derajat kerumitan perawatan ditujukan untuk

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 3

menentukan siklus perawatan (repair cycle), tipe produksi, bahan benda produksi
yang dikerjakan, giliran kerja perhari, yang biasanya 1 shift ( 8 jam kerja per hari).
Selain itu derajat kerumitan perawatan juga berfungsi untuk menentukan periode
antara dua masa dalam siklus dan dua masa bongkar total (over houl) dalam tahun.
Metode ini sangat berguna apabila tidak terdapat buku instruksi perawatan tentang
penentuan siklus perawatan.

Siklus Perawatan (repair cycle)


Metode perawatan terancana merupakan suatu bentuk pelaksanaan perawatan
yang terjadual. Oleh karena itu siklus perawatan menjadi penting keberadaannya.
Klasifikasi perawatan mesin dalam Preventive Maintenance, menurut HP.GARD
(1976) dapat dibagi menjadi 4 kategori (keadaan), yaitu;
1. Inspection (I)
2. Small Repair (S)
3. Medium Repair (M)
4. Overhaul (O)
Masing-masing tingkatan/kategori di atas (ISMO) mempunyai batasan-batasan
kerja secara umum untuk melaksanakan perawatan untuk pencegahan (preventive
maintenance) yaitu;
Inspection (I)
a. Memeriksa fungsi dari mekanisme kecepatan putar dan kecepatan
potong.
b. Memeriksa dan menyetel kopling gesek, kopling roda gigi, poros
utama dan bantalan, peluncur, rem, mur pembawa.
c. Membersihkan filter oli pelumas dan oli pendingin, sistem pengolian
dan penyalur oli, serta serbuk kotoran dan debu dari pengarah.
d. Mengencangkan mur-mur dan baut-baut pengikat, ganti bila perlu.
Small Repair (S)
a. Kerjakan semua kegiatan yang dilakukan pada inspection.
b. Membongkar 2-3 unit bagian peralatan yang kemungkinan besar
akan aus atau kotor dan membersihkannya, jika diperlukan lamak lagi kantong-
kantong oli, ganti bagian yang sudah rusak lalu rakit dan setel.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 4

c. Mengadakan perbaikan bila diperlukan atau yang telah dicatat pada


inspeksi.

Medium Repair (M)


a. Kerjakan semua kegiatan perawatan yang dilakukan di small repair,
ditambah dengan membongkar semua bagian yang kemungkinan akan aus dan
harus diganti atau diperbaiki.
b. Mengecat permukaan mesin yang sudah rusak.
c. Kalibrasi ulang dengan melakukan levelling pada mesin.
Overhaul (O)
a. Ulangi semua tindakan perawatan yang dilakukan pada medium repair, tetapi
pembongkaran yang menyangkut setiap unit, semua komponen yang sudah
rusak dan aus diganti dengan komponen baru.
b. Pemeriksaan pondasi mesin (pemasangan kedalaman pondasi) dan perbaiki jika
diperlukan.
c. Gerinda/lamak semua permukaan pengarah (guide surface).
d. Mengecat semua permukaan yang harus dicat dengan cat yang baru.

1.1 Waktu berhenti mesin selama perawatan preventif


Waktu pelaksanaan kegiatan perawatan preventif diatur seperti tabel berikut:
Tabel 1.1 Waktu berhenti mesin
Kategori Jumlah hari yang diijinkan per unit dari
perawatan preventif derajat kerumitan perawatan
Inspection (I) beberapa jam
Small Repair (S) 0,25
Medium Repair (M) 0,65
Overhaul (O) 1.00
Dari tabel di atas digunakan sebagai patokan agar kegiatan produksi bisa
berjalan lancar dan tidak terlalu lama dalam melakukan perawatan dan perbaikan.
Oleh karena bagian divisi maintenance harus bisa mempertimbangkan biaya,
persediaan suku cadang, perlengkapan peralatan (tools kit) dan jumlah tenaga kerja
untuk melakukan pekerjaan, sehingga target waktu tersebut tercapai.
Siklus perawatan dan periode antara dua keadaan yang berurutan ditunjukkan
dalam tabel 1.2.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 5

Tabel 1.2 Siklus Perawatan dengan metode ISMO

PERIODE ANTARA DUA PERIODE ANTARA DUA


SIKLUS PERAWATAN MASA PERAWATAN OVERHAUL
DERAJAT
(CYCLE REPAIR) DALAM BULAN (t) DALAM TAHUN (T)
KERUMITAN
PERAWATAN
(REPAIR
COMPLEXITY) M S I

O-I1-S1-I2-S2-I3-M1-I4-
2 6 9
0 s/d 30 S3-I5-S4-I6-M2-I7-S5-I8-
S6-I9-O

O-I1-I2-I3-S1-I4-I5-I6-S2-I7-I8-I9-
M1-I10-I11-I12-S3-I13-I14-I15-S4- 2 6 27
30 s/d 150
I16-I17-I18-M2-I19-I20-I21-S5-I22-
I23-I24-S6-I25-I26-I27-O

O-I1-I2-I3-S1-I4-I5-I6-S2-I7-I8-I9-
S3-I10-I11-I12-M1- 2 9 36
Diatas 150

5
Bengkel Perawatan Mesin Perkakas
TPP-MESIN PERKAKAS 6

Keterangan:
T : Lamanya waktu dari siklus perawatan yaitu ditunjukan oleh waktu antara
overhaul pertama dengan overhaul berikutnya atau O ke O.
t : Periode antara dua tingkatan yang berurutan dari kategori perawatan preventif
(ISMO), sebagaimana ditunjukan oleh tanda ( )
O-I1-S1-I2-S2-I3-M1-I4-S3-I5-S4-I6-M2-I7-S5-I8-S6-I8-O
Pada umumnya mesin dapat dilakukan perawatan preventif (metode ISMO) hingga
2-3 kali siklus perawatan (T), selebihnya dari segi biaya perawatan sudah tidak
ekonomis.
Contoh: Tentukan siklus perawatan dari sebuah mesin bubut senter mempunyai
ukuran (315 mm x 1000 mm) memproduksi suatu benda kerja dari bahan baja
carbon dan cor secara massal. Mesin tersebut bekerja selama 8 jam perhari.
Pembahasan: Diketahui repair complexity mesin bubut : 7 (lampiran 1), shift
kerja: 1, sehingga siklus perawatan dapat ditentukan sebagai berikut:

Repair Siklus perawatan t T


complexity siklus M S I (bulan) (tahun)
O-I1-S1-I2-S2-I3-M1-
0 s/d 30 I4-S3-I5-S4-I6-M2-I7- 2 6 9 6 9
S5-I8-S6-I9-O
Dengan demikian dapat disimpulkan bila dilakukan perawatan setiap 6 bulan
sekali sesuai dengan tingkatan siklus perawatan maka mesin bubut tersebut akan di
bongkar total (overhaul) setelah 9 tahun.

Klasifikasi peralatan produksi konvensional


Secara umum peralatan produksi dibagi menjadi 3 kategori utama, yaitu mesin
perkakas (machine tools), pesawat angkat (handling equipment) dan peralatan
pengecoran logam (foundry equipment). Untuk mesin perkakas dapat dibedakan
menjadi 3 bagian yang didasarkan atas bahan benda kerja yang diproduksi yaitu (1)
Mesin potong logam (metal cutting machines), (2) Mesin pengerjaan logam (metal
working machines), (3) Mesin pengerjaan kayu (wood working machines).
Pembagian kategori perkakas produksi ini secara mendetail dapat dilihat dalam
gambar 1.1.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 7

Gambar 1.1 Klasifikasi Peralatan Produksi


Production Equipment

Handling Equipment Machine Tools Foundry Equipment

Sand mixing mill


Cranes (bridge crane, jib crane,
Vibrating and rotary screens
suspension crane)
Sand reclamation machine
Mono-rail, chain pulley block,
Moulding machine
electric telphar, electric winch
Core making machine
Belt conveyor, roller conveyor,
Knock-out grid
elevator.
Cleaning drum
Electric/battery trolley, fork lifter
Shot blasting chamber
Pressure die casting
10.Centrifugal casting machines

Metal Cutting Metal Working Wood Working


Machine Machine Machine

Lathe Presses-mechanical (crank, Log sawing frame


Vertical boring machine screw, friction), Circular and band saw
Turret and capstan lathe hidraulic, pneumatic Four side planer, planer
Horizontal boring operated. and thicknesser, planer
machines Plate shears, cropping and and jointer
Drilling machines punching machines Spindle moulder or patern
Shaping,sloting, planing & plate bending ada milling machine
broaching machines straightening machines Corner locking machine
Milling & plano-milling forging hammer- Drilling and recessing
machines pneumatic or steam machine
hobbing & other gear operated Wood turning lathe
milling machines
grinding machines
miscellaneous machines
(rellieving lathe, metal
band saw, hack-
saw,circular saw,
tapping machine, thread
milling/rolling machine)

Dari gambar 1.1 terlihat bahwa mesin perkakas banyak macamnya, oleh
karenanya materi dalam buku ini selanjutnya dibatasi hanya 4 mesin perkakas
potong yaitu mesin bubut, frais, bor dan sekrap.

Nama Mesin Bentuk Mesin Proses

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 8

Mesin Bubut
(Lathe)

Mesin Frais
Horisontal
(Horizontal
milling machine)

Mesin Bor Meja


(Bench Drilling
Machine)

Mesin Sekrap
(Shaping
Machine)

Gambar 1.2 Jenis mesin perkakas yang dilakukan perawatan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 9

A. TUGAS I
Menentukan Repair Complexity Mesin Perkakas Potong

LEMBAR KERJA (JOB SHET)


Nama/Kelas :
Pokok Bahasan : Perencanaan perawatan terencana
Tanggal :
Waktu :
1. Identifikasi mesin-mesin perkakas (Metal cutting
machine) yang ada di bengkel produksi.
Rincian Tugas : 2. Catat spesifikasi umum mesin yang ada
3. Tentukan derajat kerumitan perawatan
(repair complexity) berdasarkan spesifikasi mesin
tersebut.
Lembar jawaban
Repair
Nama mesin Model Spesifikasi
Complexity

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 10

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 11

B. TUGAS II
Menentukan Siklus Perawatan (Cycle Repair) Mesin Perkakas Potong

LEMBAR KERJA (JOB SHET)


Nama/Kelas :
Pokok Bahasan : Perencanaan perawatan terencana
Tanggal :
Waktu :
1. Tentukan repair complexity (RC) mesin
yang ada.
2.
Tentukan siklus perawatan dari mesin
tersebut
3.
Hitung total kegiatan perawatan
Inspeksi, Small repair dan Medium
Rincian Tugas :
repair
4.
Asumsikan berapa shift mesin itu
beroperasi
5.
Tentukan waktu perawatan antara dua
tingkatan ISMO (t)
6. Tentukan waktu overhaul (T)
Lembar jawaban
Siklus perawatan t T
Nama mesin RC
siklus M S I (bulan) (tahun)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 12

BAB II
TEORI PELUMAS DAN PELUMASAN

2.1 Pelumas
Faktor utama yang paling sering mengakibatkan kerusakan mesin adalah
masalah pelumasan, yaitu jenis yang salah, tingkat viskositas yang salah, kapasitas
yang tidak sesuai, penggantian minyak pelumas yang tidak teratur, atau bahkan
sama sekali tidak pernah dilumasi. Dalam keadaan ini seperti ini pelumasan yang
tepat dapat berfungsi sebagai perawatan mencegah (preventive maintenance). Oleh
karena pentingnya pelumasan dalam perawatan mesin, maka penulis bahas terlebih
dahulu pengertian dasar yang berkaitan dengan pelumas dan pelumasan. Adapun
secara mendetail tentang ilmu ini dapat dipelajari lebih dalam pada ilmu tribologi
(the friction enginering). Berikut dijelaskan beberapa pengertian dasar, yaitu:
 Pelumas adalah suatu zat yang dapat dipakai sebagai pelapis film benda yang
saling bergesekan, zat tersebut dapat berupa: zat padat, cair, dan gas.
 Gesekan adalah suatu bentuk gaya yang berlawanan
dengan arah gerak benda yang besarnya tergantung dari kondisi atau kekasaran
permukaan dan beban normal. Adanya gesekan (friction) akan mengakibatkan
kehilangan energi dan mempercepat keausan benda.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 13

a. Fungsi Pelumas:
 Sebagai pelindung, pendingin, perapat dan
pembersih.
 Membentuk lapisan film diantara benda yang
saling bergerak stau sama lain sehingga dapat mencegah kontak/langsung pada
permukaan logam agar keausan bisa dikurangi.
 Meredam hentakan/getaran terutama pada
gear box.
 Media transfer panas dan tenaga.
b. Bahan dasar pelumas
 Lemak hewani dari biri-biri, ikan, babi.
 Lemak nabati dari buah kelapa, kelapa sawit,
jagung dan jarak
 Pelumas sintetis yaitu bahan hasil reaksi
kimia beberapa unsur yang dapat menghasilkan zat yang bersifat pelumas.
 Pelumas mineral diperoleh dari minyak bumi.

c. Bentuk Pelumas
 Pelumas cair (Oli)
Syarat pemilihaan oli yang baik adalah: viskositas sesuai, multigrade, tidak
mudah terbakar, tidak bereaksi dengan oksigen dan udara keliling. Pelumas cair
(oli) banyak digunakan untuk mesin tenaga karena lebih efektif sebagai pelicin,
pendingin, pembersih, perapat, dan pemindah tenaga (hidrolik)
 Pelumas setengah padat
(grease/gemuk lumas)
Bahan dasar dari grease/gemuk adalah pelumas cair yang telah diberi bahan
pengental, dengan kandungan oli 70% sampai 90%. Keuntungan dari penggunaan
pelumas setengah padat adalah merupakan penutup yang baik, biasanya lebih tahan
terhadap suhu tunggi, tidak tercecer dan penggantian tidak perlu sering. Sedangkan
kerugiannya adalah pendinginan kurang baik, friksi lebih besar, penanganan dan
pengaplikasian lebih rumit, dan perlindungan yang kurang merata. Syarat-syarat
performa grease adalah mampu melumasi dalam kondisi servis apapun, mempunyai
kualitas struktural dan konsistensi, harus mampu mancapai daerah kerja yang vital,

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 14

mempunyai daya tahan kimia serta mempunyai daya tahan kebocoran pada
temperatur servis maksimum.
Grease berdasarkan bahan pengental dibagi menjadi:
(1). Grease dasar sabun logam
(metallic soap base)
Gemuk lumas ini dibuat dengan mencampurkan sabun metal kedalam pelumas
cair, biasanya pelumas gemuk roda gigi. Sabun yang ditebarkan kedalam minyak
membentuk seart-serat kecil secara menyilang, yang menamgkap serta mencegah
terjadinya pengaliran pelumas dari serat-serat tersebut. Sifat-sifat grease
tergantung dari jenis sabun dan pelumas yang digunakan dalam pembuatan gemuk
lumas tersebut, diantaranya:
 Grease sabun Kalsium
Mempunyai sifat: stabilitas yang kurang baik, tidak cocok untuk penggunaan
dimana kenaikan suhu lebih dari 180oF, tahan kontak langsung dengan air, sangat
baik untuk: pelumas chasis, plan bearing (rpm rendah), pompa air dan mesin-mesin
pertanian.
 Grease sabun Sodium
Mempunyai sifat: titik tuang(300oF-350oF), berserabut (tekstur spongy) dan
berserat (fibros), berwarna kuning atau hijau, tidak tahan air, baik dipergunakan
pada bagian mesin yang beroperasi pada suhu tinggi, bearing dan untuk aplikasi
industripada umumnya.
 Grease sabun Barium
Mempunyai sifat: titik tuang diatas 350oF, mampu bekerja pada rentang suhu
yang besar tetapi suhu operasi dibawah 275oF, tidak cocok untuk suhu rendah dan
kecepatan tinggi, warna kuning kemerahan.
 Grease sabun Lithium
Mempunyai sifat: dapat digunakan dalam berbagai kondisi, tahan air, mampu
mengatasi suhu ekstrim (60 s/d 300oF), merupakan gabungan ciri-ciri terbaik dari
grease sabun sodium dan grease sabun kalium, stabilitas baik, daya tahan yang
tinggi terhadap geser, titik tuang (300-390)oF, dapat bekerja terus-menerus pada
suhu 300oF, warna merah kecoklatan dan bertekstur buttery.
 Grease sabun Aluminium

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 15

Mempunyai sifat: dapat dipergunakan untuk keperluan khusus, warna


transparan, titik tuang rendah (diatas 170oF), berubah tektur dan pecah pada sekitar
150oF, daya tahan gesek rendah, daya tahan oksidasi kurang, daya tahan terhadap
air baik, melekat dengan baik pada permukaan yang dilumasi.
 Grease sabun Stronsium dan Timbal
Jenis ini digunakan untuk keperluan khusus, baik digunakan pada suhu ruang
berbentuk fluida.
 Grease sabun Sodium Kalsium
Mempunyai sifat: daya tahan terhadap air dan suhu tinggi, tektur buttery, dapat
dipergunakan untuk pelumas bearing.
(2). Grease dengan pengental sabun
logam kompleks (metal based
complexes)
Selain penambahan dengan sabun-sabun logam, sering ditambahakan juga
bahan-bahan berbentuk garam-garam khusus. Jenis grease ini mempunyai sifat:
tahan terhadap temperatur tinggi, titik tuang tinggi, baik untuk daerah operasi
tekanan tinggi, tidak cukup stabil.
(3). Grease dengan pengental bukan
sabun
Jenis ini mempunyai keuntungan lebih ekonomis dan bekerja pada segala
situasi, tetapi mempunyai kelemahan yaitu melunak pada suhu sedang. Gemuk
pelumas ini diolah dengan menebarkan bahan pengental seperti tanah liat dengan
proses khusus atau sejenis silica gel kedalam minyak sintetis. Pengental bukan
sabun yang terbaik contohnya pengental common mineral (bentonit) yang
mempunyai sifat sebagai berikut: daya tahan terhadap air cukup baik, tahan
terhadap gaya geser, mempunyai daya tahan terhdap fase pemisah, kuat bersatu
dengan oli, sulit untuk diberi bahan additive.
Untuk meningkatkan sifat-sifat dan kemampuan dari kerja grease pada
penggunaan tertentu, maka ditambahkan beberapa additive diantaranya anti
oksidan, anti karat, extreme pressure. Selain itu terdapat pula additive yang
berbentuk padat, seperti graphite dan molibdenum disulphide, yang sering

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 16

dipergunakan untuk memperkuat sifat-sifat gemuk pelumas pada permukaan yang


licin dengan beban operasi yang terus-menerus.
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada proses greasing: (1) jangan terlalu
banyak memberikan grease, (2) jangan memcampur, (3) gunakan gun dan
kontainer hanya untuk satu jenis grease saja, (4) kontainer, grease gun, dan fitting
harus diberi label dengan nomor identifikasi, (5) hindari pencemaran dengan selalu
menggunakan alat-alat bersih.
 Pelumas padat
Secara umum yang banyak dikenal adalah pelumas dalam bentuk cair (oli) dan
grease (gemuk), tetapi sebenarnya ada yang berbentuk padat dan gas/udara.
Kelebihan pelumas padat ini adalah dapat bekerja pada suhu operasi 250 – 300oC
dan dibawah –60oC. Pada suhu tersebut pemakaian oli atau gemuk tidak
memungkinkan lagi. Pelumas padat dalam bentuk bedak, partikelnya berukuran 0,5
µm hingga beberapa µm.
Pelumas padat terdiri atas dua jenis yaitu:
 Graphite
Graphite adalah jenis karbon dengan struktur halus. Mempunyai sifat: gaya
gesek antara lapisan partikel sangat rendah, adhesi dengan logam baik, suhu operasi
350-700oC.
 Molibdenum Disulphide(MoS2)
Molibdenum Disulphide mempunyai sifat sebagai berikut: struktur sangat
halus/tipis, koefisien gesek lebih rendah dari graphite (0,05 dan 0,1), adhesi dengan
logam baik, suhu operasi dibawah 400oC dan terendah –180oC, pada suhu 400oC
akan beroksidasi menjadi MoS3 yang bersifat bukan pelumas.
Pelumas padat berbentuk powder atau sebagai suspensi dalam oli atau cairan
yang mudah menguap dan apabila cairan menguap, film pelumas tetap tertinggal.
Kelompok pelumas zat padat lamelar: grafit, boraks, mika dan iodida tertentu.
Pelumas padat mempunyai ciri-ciri sebgai berikut: (1) harganya mahal, (2)
penggantian tidak secepat pelumasan konvensional, (3) merupakan alternatif selain
oli dan gemuk pelumas, (4) tidak cocok untuk mesin pemroses makanan, (5) suhu
kerja tinggi, (6) cocok untuk semua bahan bearing, (7) tahan terhadap beberapa
fluida seperti: air ledeng, xylene, dioxane, trichloroethylene dan oli turbin.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 17

Pelumas padat direkomendasikan untuk digunakan apabila: ada masalah


dengan galling dan seizing, daerah pelumasan yang tidak terjangkau/terabaikan
dalam perawatan rutin, pengoperasian tidak kontinu, suhu tinggi atau rendah yang
tidak dapat diatasi oleh oli, korosi tidak dapat dihindari, kontaminasi tidak dapat
dihindari dan daerah operasi daerah berdebu. Contoh aplikasi pelumas padat yaitu
pada: cetakan logam, bagian berulir, slevee bearing, saklar kontak dan relay, alat
penyuling minyak, katub flens.
 Pelumas gas
Jenis pelumas gas digunakan untuk melumasi tempat-tempat yang tidak
mungkin dilumasi, karena mempunyai putaran kurang lebih 100.000 rpm. Biasanya
diaplikasikan pada peralatan pembangkit energi nuklir dan beberapa instalasi turbin
gas.

d. Sifat fisik dan kimia pelumas


 Warna
Sebagai pedoman ada dua bahan dasar yang menyebabkan terjadinya perbedaan
warna, yaitu parafine: kehijau-hijauan dan Naftenic : kebiru-biruan.
Beberapa pelumas bila terkena sinar (refleksi sinar) akan menampilkan warna hijau.
Pada umunya pelumas berwarna mulai dari bening hingga gelap. Semakin tinggi
titik didihnya semakin gelap warnanya. Hal ini dikarenakan adanya ikatan fraksi
berat seperti aspal akan cenderung berkumpul pada fraksi yang ttik didihnya tinggi.
Tidak tertutup kemungkinan pelumas diberi warna oleh pabriknya untuk
membedakan satu dengan yang lainnya.
 Oksidasi (oxidation stability)
Semua produk minyak bumi dapat bereaksi secara kimia dengan udara.
Sebenarnya oksidasi pada pelumas berlangsung sangat lambat pada suhu ruang,
tetapi semakin cepat bila suhu naik. Semakin lembab udara semakin besar
kandungan oksigennya sehingga mempercepat oksidasi. Katalisator terjadinya
oksidasi dapat berupa baja, aluminium dan tembaga. Hasil oksidasi yang tidak larut
berupa lumpur akan menyumbat lubang-lubang saluran. Sedangkan yang larut
bersifat asam, tetap terbawa oleh pelumas dan mempercepat korosi dan terak yang
menempel dengan kuat pada permukaan logam. Oleh karena itu hampir semua

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 18

pelumas diberi oxidation inhibitor. Aditif ini mengikat langsung oksigen sebelum
kontak dengan hidrokarbon pada minyak pelumas.
 Keasaman (acid)
Pada umumnya proses penyulingan pelumas sifat asam tidak bisa dinetralisir
secara sepenuhnya. Adanya sedikit asam ini sebenarnya tidak berpengaruh secara
fisik maupun kimiawi. Asam yang dikandung tersebut akan menjadi aktif apabila
bereaksi dengan asam hasil oksidasi. Keasaman pada pelumas diukur dengan suatu
besaran angka yang disebut TAN (Total Acid Number), minyak pelumas yang
terlalu asam (TAN tinggi) tidak boleh dipergunakan, karena akan mengakibatkan
sifat korosif pada logam.
 Kebasaan (base)
Sifat basa yang dimiliki pelumas menunjukkan bahwa pelumas tersebut
mengandung aditif terutama jenis detergent dan dispersant. Tingkat kebasaan dari
pelumas diketahui dari kandungan TBN (Total Base Number). Angka TBN pelumas
bekas akan lebih rendah dari pelumas yang baru, karena sebagian basa telah
digunakan untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk ataupun yang telah dipakai
untuk menghancurkan kotoran.
 Emulsifikasi
Air dan minyak sulit untuk bercampur, tetapi dengan adanya kontaminan (debu
dari luar dan partikel logam dari mesin itu sendiri) dapat mengakibatkan emulsi air
dalam pelumas atau sebaliknya (demulsif). Pelumas yang terkontaminasi akan
terkondensasi kemudian membentuk endapan berupa lumpur. Pada mesin perkakas
potong digunakan cutting oil yang mempunyai daya emulsifikasi yang kuat
sehingga larut dalam air, seperti dromus B.

 Kandungan Sulfur
Sulfur dibutuhkan pada minyak pemotongan. Tetapi harus masih dalam batas
nonkorosif. Untuk menjamin hal itu maka pada penyimpanan dan penggunaan,
harus selalu pada batas suhu konstan. Bila tidak demikian maka sulfur akan bersifat
reaktif. Ikatan sulfur berupa sulfat (hidrogen sulfida dan polisulfida)
kencendurangannya bersifat korosif. Disamping itu apabila oli sudah terkontaminasi
apabila bercampur dengan air atau oksigen bisa membuat larutan asam sulfat yang
sangat keras.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 19

 Titik Nyala (flash point)


Suhu dimana cairan berubah menjadi uap dan akan terbakar dalam sekejab,
bila dikenai sumber api. Nyala api terjadi sejauh percikan api diberikan, bila sumber
api diambil maka nyala tersebut akan segera padam
 Titik api
Suhu dimana pelumas/cairan berubah menjadi uap dan akan terbakar terus
menerus, bila dikenai sumber api. Apabila suhu ini dilampaui, maka uap tersebut
akan terbakar sendiri walau tidak dikenai sumber api.
 Titik kabut
Suhu dimana kristalisasi mulai terbentuk setelah sebelumnya muncul kabut. Jika
suhu turun lagi maka pelumas akan beku.
 Titik tuang (Pour point)
Suhu terendah dimana pelumas masih dapat mengalir/dituang.
 Kerapatan relatif (Specific Gravity).
Specific Gravity (SG) merupakan perbandingan berat minyak pelumas dengan
air yang mempunyai volume sama pada suhu tertentu. Dari rumusan diketahui
bahwa SG berhubungan dengan berat jenis maupun massa jenis. Pada umumya SG
dari minyak pelumas pada suhu 60oF adalah 0,85-0,90. Kerapatan relatif (SG) dari
suatu minyak pelumas pada suhu (oF) tertentu dapat dicari dengan menggunakan
rumus:

SGt = SG60 – c(t-60)


Dimana, SGt = Kerapatan relatif pelumas pada suhu t (oF)
SG60 = Kerapatan relatif pelumas pada suhu 60oF
c = 0,00036, yaitu nilai rata-rata normal koefisien muai minyak per0F
t = Suhu dimana nilai SG minyak dicari (oF)

 Kekentalan (Viscosity)
Kekentalan/viskositas adalah besarnya tahanan aliran yang dimiliki fluida.
Sehingga semakin tinggi viskositas suatu minyak pelumas maka akan semakin
besar daya perlawanan pengaliran. Viskositas akan berubah sejalan dengan
perubahan suhu sehingga metode pengukuran viskositas bermacam-macam, antara
lain:

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 20

 Viskositas dinamis, satuan: Pa/s, kg/m.s (1


g/cm.s = 1 Poise)
 Viskositas kinematis, satuan: m2/s ( 1 cm2/s =
1 Stokes)
 Derajat Engler (oE), suhu ukur standar: 20oC,
50oC dan 100oC
 Second Saybolt Universal (SSU), suhu ukur
standar: 100oF, 130oF dan 210oF
 Second Redwood I (RI) atau Redwood
Standard atau Redwood commercial, suhu
ukur standar: 70oF, 100oF dan 140oF
 Second Redwood II (RII) atau Redwood
Admiralty, suhu ukur standar: 210oF
 Second DIN 4
 Second Cawan Ford
 Society of Automotive Engineering (SAE)
 American Petroleum Institute (API)
Karakteristik viskositas dan perbandingan dari viskositas kinematis untuk
beberapa satuan pengukuran kekentalan dapat dilihat pada lampiran 2.

 Indek kekentalan (Viscosity Index)


Viscosity index (IV) merupakan besarnya angka indeks atau skala yang
menunjukan kecenderungan perubahan kekentalan minyak pelumas terhadap
perubahan suhu. Standar temperatur yang dipakai untuk mengukur VI adalah pada
suhu 100oF dan 210oF dan pada umumnya menggunakan viskositas kinematis.
Minyak pelumas yang mempunyai VI tinggi tidak banyak mengalami perubahan
kekentalan akibat perubahan suhu, atau sebaliknya.

e. Standarisasi pelumas
Metode klasifikasi pelumas yang dipakai didunia ada beberapa yaitu:
1. SAE (The Society of
Automotive
Engineering)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 21

2. API (American
Petroleum Institute)
3. ASTM (American
Standard of Testing
and Material)
4. BS 4232 (British
Standard)
5. DIN 51519
(Deuthsche Industry
Norm)
6. ISO 3448 (Industrial
Standard of
Organization)
 Standarisasi Pelumas Kendaraan
Kekentalan pelumas kendaraan berdasarkan penggolongan angka SAE
dibedakan:
• SAE J300 : khusus untuk pelumas mesin
• SAE J306 : khusus untuk roda gigi dan transmisi
Tabel 2.1 Arti simbol pada pelumas kendaraan
Simbol Keterangan

Tingkat kekentalan menurut SAE nomor 20, dipakai untuk


SAE 20
kendaraan yang tinggal didaerah tropis saja.

Tingkat kekentalan menurut SAE nomor 40, dipakai untuk


SAE 40 W
kendaraan yang tinggal didaerah dingin saja.

Dapat dipergunakan pada musim dingin sesuai dengan SAE


nomor 20 dan pada musim panas sesuai dengan SAE nomor
SAE 20W-40 40. sehingga pergantian musim tidak perlu ganti minyak
pelumas. Pelumas ini disebut juga oli dengan dua indek(
multigrade oil)

 Standarisasi Pelumas Industri


Kekentalan pelumas khusus untuk industri ini diklasifikasikan menurut ISO.
Kegunaan dari sistem ISO ini adalah untuk menyeragamkan tingkat kekentalan
(Viscosity Grade/VG) dalam kinematic viscosity pada 40oC, supaya memudahkan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 22

dalam memilih kekentalan pelumas industri yang cocok dalam penggunaanya.


Sistem ISO VG ini tidak berlaku untuk pelumas mesin dan roda gigi transmisi
kendaraan.
Untuk nilai konversi viskositas minyak pelumas kendaraan dengan minyak
pelumas industri dapat dilihat di lampiran 3.
2.2 Bahan Tambahan (Additive)
a. Tujuan penambahan Additive pada pelumas
 Melindungi/memperbaiki mutu pelumas terhadap perubahan-perubahan sifat
kimiawi atatu penurunan mutu suatu pelumas.
 Melindungi kerusakan mesin terhadap produk-produk hasil pembakaran
(deposit)
 Memperbaiki sifat fisis pelumas atu untuk memberikan sifat baru terhadap suatu
pelumas yang sesuai dengan penggunaannya.
b. Unsur penyusun Additive
Additive terdiri atas unsur-unsur kimia seperti; barium, calcium, phosporus,
sulfur, clorine, zinc, lead, molybdenum, silicone, fats, polymer dan soaplike
compounds
c. Jenis additive pada pelumas
 Oxidation Inhibitor
 Corrosion Inhibitor
 Rush Inhibitor
 Detergent dispersant
 Viscosity Index Improver
 Antiwear Agent
 Anti Foam Agent
 Extreme Pressure
2.3 Pelumasan
a. Pengertian pelumasan
Pelumasan adalah suatu cara/prosedur/metode untuk mengurangi gesekan antara
dua permukaan benda yang saling bergesekan dengan menambahkan suatu zat
pelumas diantara permukaan tersebut. Pelumasan merupakan salah satu cara untuk
merawat mesin-mesin perkakas agar dapat berfungsi sebagimana mestinya.
b. Tujuan pelumasan
Tujuan dilakukan pelumasan adalah sebagai berikut :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 23

 Mengurangi semaksimal mungkin gesekan yang


terjadi diantara bagian-bagian yang bergerak.
 Mengusahakan agar keausan terjadi seminal mungkin
 Mendinginkan bagian-bagian mesin yang panas
akibat gesekan
 Menghalangi masuknya debu
 Mencegah terjadinya korosi

c. Cara pemberian pelumas


Metode pemberian pelumas pada komponen ada beberapa cara yaitu:
1. Manual dengan kuas
Pelumasan secara sederhana dengan
tangan memakai lap atau kuas

2. Tabung semprot
Pelumasan dengan menggunakan tabung
pelumas bertekanan atau semprot

3. Pistol gemuk atau


oli
Pelumasan dengan menggunakan pistol
untuk nipel gemuk atau oli

4. Mangkuk gemuk
Metode pelumasan gemuk ini ada yang
menggunakan jenis tutup berulir dan
jenis pegas tekan yang diputar secara
periodik untuk mendorong gemuk
melalui lubang.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 24

5. Tetes
Pelumasan secara teratur akan menetes
melalui pipa yang dapat disetel
tekanannya terjadi karena gravitasi atau
pengaruh getaran mesin.

6. Sumbu
Pelumasan dengan menggunakan sumbu
sebagai media untuk mengalir oli dari
bak atas

7. Sumbu dari bawah


Pelumasan yang menggunakan prinsip
kapilaritas seperti pada lampu tempel
minyak tanah

8. Celup (bak oli)


Komponen yang dilumasi terendam
sebagian dan membawa oli keatas
sekaligus melumasi komponen lain yang
bersinggungan dengannya

9. Pelumasan sendiri
Pelumasan yang diberikan pada saat alat
tersebut dibuat/dirakit. Umur pelumas
sama dengan umur alat, seperti
pelumasan pada bantalan.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 25

10. Pompa mekanik


Pelumasan disemprotkan melalui pipa-
pipa kecil ke komponen dengan
memanfaatkan tekanan periodik dari
pipa.

11. Kabut
Pengabutan pelumas digunakan untuk
alat-alat pneumatik, untuk melumasi
komponen yang dilalui udara berteka-
nan
12. Percikan
Komponen yang didesain sedemikian
rupa yang berfungsi untuk memercikan
pelumas yang berada diatasnya.

13. Sirkulasi
Cara ini memakai pompa oli untuk
mengalirkan pelumas secara merata dan
terus menerus. Pelumas secara efektif
menyerap panas dan membawa deposit
kedalam tangki

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 26

TUGAS

LEMBAR KERJA (JOB SHET)


Nama/Kelas :
Pokok Bahasan : Teori Pelumas dan Pelumasan
Tanggal :
Waktu :
1. Apa fungsi pelumas?
2. Sebutkan dan berikan contoh bentuk pelumas yang
anda ketahui?
3. Apa yang dimaksud TAN dan TBN?
4. Suatu minyak pelumas x mempunyai ρ = 870 gr/cm3
Pertanyaan : yang diukur pada suhu 60oF, hitunglah Spesific
Gravity (SG) pelumas x tersebut jika dia beroperasi
pada suhu 150oC?
5. Konversikan nilai kekentalan pelumas Shell Tellus 27
yang mempunyai kekentalan 3,0 oE kedalam satuan
cSt, SSU dan RI !
Lembar jawaban

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 27

BAB III
PELUMASAN MESIN PERKAKAS

3.1 Metode Umum Pelumasan Mesin Perkakas


Pada dasarnya metode yang digunakan untuk melakukan pelumasan mesin
perkakas, adalah menerapkan prinsip dasar “pelumasan terencana” yaitu:
a.Apa yang harus dilumasi?
b.Bagaimana melumasinya?
c.Kapan dilumasi?
d.Pelumas mana yang digunakan?
Oleh karena itu perlu dilakukan metode pelumasan terencana untuk melakukan
pelumasan pada mesin-mesin perkakas (lampiran 4). Pelumasan terencana dengan
metode kontrolnya, pada umumnya mudah diterapkan dan menghasilkan
keuntungan lebih nyata dibandingkan dengan kegiatan perawatan lainnya.
a. Langkah umum dalam melakukan pelumasan:
Pelajari dahulu buku pedoman mesin perkakas yang ada (mesin bubut, frais
dan sebagainya), kalau tidak ada jangan paksakan dengan buku pedoman
mesin yang lain. Usahakan memakai buku pedoman sesuai dengan nama
mesinnya.
1. Mempersiapkan titik-titik pelumasan antara lain :
 Diagram pelumasan
 Petunjuk pelumasan
 Pelumasan mingguan
 Pelumasan nipel
 Pelumasan setiap 2000 jam
 Pelumasan terbuka
 Pelumasan tambahan
 Membersihkan nipel
 Pengetapan dan pengisian serta pembersihan gelas penduga.
2. Pengetahuan tentang keselamatan kerja dalam proses penanganan
pelumas dan pelumasan
3. Jenis pelumas yang dibutuhkan dan persamaannya yang ada

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 28

4. Jenis peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pelumasan


5. Urutan pelumasan yang dilakukan.
6. Mengontrol hasil pelumasan setelah dilakukan penanganan
Untuk memudahkan pemberian pelumasan pada mesin perkakas, biasanya
disekitar titik-titik pelumasan diberikan tanda berupa simbol dan kode warna
pelumasan.
b. Simbol untuk waktu pelumasan
Berikut diberikan tabel bentuk simbol untuk waktu pelumasan.
Tabel 3.1 Simbol waktu pelumasan
Simbol Waktu pelumasan Simbol Waktu pelumasan

Setiap hari Setiap bulan

Gelas penduga Setiap 3 bulan

3 hari sekali Setiap tahun

Setiap minggu

c. Kode Warna
Bentuk simbol yang sudah ada tadi, selanjutnya ditandai dengan warna yang
menunjukkan jenis pelumas yang digunakan. Dibawah ini diberikan contoh daftar
pengelompokkan pelumas berdasarkan kode warna beserta penggunaan dan
viskositasnya.
Tabel 3.2 Daftar jenis pelumas berdasar kode warna
Viskositas
Kode warna Nama Penggunaan
(oE)
Putih Tellus 11 - Poros ulir pada
perkakas potong

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 29

Coklat Shell Tellus 15 1,70 Oli spindel


Mobil oil velocity 6 1,55
Esso mentor 28 1,67
BP Energol HLP-D 10 1,50
Agip OSO 15 1,40

Hijau Shell Tellus 27 3,0 Pelumas umum


Mobil DTE 24 3,0 Pelindung karat
Esso Teresso 43 2,8 Oli eretan
BP Energol HL 65 2,9
Agip OSO 35 3,0

Merah Shell Tellus 4,8 Oli Hidrolik


Mobil DTE 25 4,8
Esso Nuto H 46 4,8
BP Energol HLP ISO 4,8
Biru Shell Tonna 33 5,3 Oli roda gigi
Mobil Oil Vectra no.2 5,0
Esso Febis K-53 5,3
BP Energol HP 20xC 5,2
Agip Exidia 5 5,0

Hitam Shell Tellus 69 10,0 Minyak pemotongan


Mobil DTE 28 9,6
Esso Teresso 75 10,0
BP Energol HP 60 10,2
Agip OSO 105 9,8

kuning Shell Alvania Grease 2 - Gemuk pelumas


Mobil Plex 47
Esso Andak B
BP Energol RBB 2
Agip GR MU 2

Orange Oli campur air - Emulsi


BP Energol HP 60 dan air Oli campur air
contoh: (dromus)
- Gerinda (1:50)
- Umum (1:20)
Violet - - Penggunaan khusus

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 30

3.2 Pelumasan Mesin Bubut


Hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja pada saat melakukan
pelumasan mesin bubut:
 Melumasi roda gigi pengganti mesin harus dimatikan.
 Melumasi kepala tetap dalam pengujian tidak ada percikan yang berarti.
 Hindarkan pelumasan yang berlebihan.
 Melumasi roda gigi dengan gemuk, pengetesannya dalam keadaan tertutup.
 Pilihlah posisi pelumasan yang enak (sesuai).
 Perhatikan jenis minyak pelumas yang harus dipakai jangan mencampur
adukan SAE 40 dengan SAE 90.
 Bersihkan percikan atau tumpahan pelumas disekitar mesin.
 Mengembalikan peralatan pelumas pada tempat semula.
a. Lembar titik-titik pelumasan
Lembar penyiapan titik-titik pelumasan mesin bubut
No U R A I AN YA TIDAK CATATAN
1 Mempelajari diagram pelumasan
2 Mempelajari petunjuk pelumasan
3 Mengelompokkan bagian yang dilumasi harian
4 Mengelompokkan bagian yang dilumasi 3 harian
5 Mengelompokkan bagian yang dilumasi
mingguan
6 Mengelompokkan bagian yang dilumasi
bulanan
7 Mengelompokkan bagian yang dilumasi 3
bulanan
8 Mengelompokkan bagian yang dilumasi tahunan
9 Menentukan bagian yang dilumasi terbuka
10 Menentukan bagian yang dilumasi hanya dengan
menambahkan oli baru
11 Menentukan bagian pelumasan nipel
12 Membersihkan nipel-nipel tempat memasukkan
pelumas
13 Mengeluarkan oli lama pada eretan/apron
14 Mencuci bagian yang dilumasi dengan minyak
tanah/oli pencuci pada eretan
15 Membersihkan bagian-bagian yang dilumasi
terbuka
16 Membersihkan bagian permukaan gigi pengganti
/kuadran
17 Mengeluarkan oli lama pada roda gigi kepala
tetap
18 Mengeluarkan oli lama pada roda gigi kecepatan
19 Mengeluarkan oli lama pada roda gigi ingsutan
20 Mencuci bak pelumas pada roda gigi kecepatan,
kepala tetap, ingsutan
b. Titik-titik pelumasan pada mesin bubut

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 31

Gambar 3.1 Titik-titik pelumasan mesin bubut

c. Urutan Pelumasan mesin bubut

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 32

1. Kepala tetap
2. Bantalan poros kepala tetap
3. Roda gigi kecepatan
4. Eretan (apron)
5. Roda gigi ingsutan
6. Bantalan batang ulir pembawa
7. As gigi pengganti
8. Badan luncuran sadel utama
9. Luncuran melintang dan rumah pahat
10. Kepala lepas
11. Batang ulir, rak dan meja
d. Mengontrol hasil pelumasan sistem percik/rendam
1. Tutup bak pelumas
2. Jalankan mesin pelan-pelan hingga maksimal agar permukaan oli
benar-benar datar. Hal ini disebabkan minyak pelumas dipaksakan bergerak
dan bersikulasi sehingga rongga-rongga kecil akan terisi. Karena permukaan
minyak pelumas akan turun dengan sendirinya.
3. Diamkan 10 menit, agar permukaan oli kelihatan. Kontrol lagi gelas
penduga, apabila permukaan oli dibawah standart maka tambahkan minyak
pelumas yang sama sampai batas permukaan yang distandartkan. Ulangi
lagi seperti yang diatas agar betul-betul tercapai batas pelumasannya.
4. Pelumasan bantalan dengan sistem nipel yang beradadidalam dan
tidak mungkin untuk dikeluarkan, sulit untuk mengecek dengan penglihatan.
5. Untuk hal diatas dapat kita putar-putar poros yang baru saja
dilumasi, apabila dirasa berat tambahkan minyakpelumassampil porosnya
diputar. Minyak pelumas sudah bekerja apabila diputar terasa ringan.

3.3 Pelumasan Mesin Frais


a. Hal umum dalam pelumasan frais

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 33

Metode pelumasan yang dilakukan pada mesin frais sebenarnya hampir sama
dengan mesin-mesin perkakas yang lain. Secara umum mesin harus selalu dilumasi
dan selalu dalam keadaan bersih sebelum dan sesudah operasi. Bagian mesin yang
selalu akan digunakan sebagai lintasan luncur dan selalu berputar harus selalu
dilumasi sebelum mesin dioperasikan. Pada nipel (tempat memasukkan
grease/pelumas) harus terlebih dahulu dibersihkan sebelum melakukan penambahan
grease atau minyak pelumas lainnya. Semua pekerjaan pelumasan harus sesuai
dengan petunjuk/instruksi manual book yang diberikan oleh produsen mesin.
Operator mesin hendaknya secara teratur ikut memeriksa ketinggian minyak
pelumas pada gelas penduga, untuk melihat apakah oli pelumas cukup atau kurang.
Kekurangan oli pelumas dapat mengakibatkan kerusakan pada mesin. Penggantian
oli pelumas mesin tidak dapat dipastikan sama untuk semua mesin, karena banyak
tergantung dari jenis mesin, beban kerjanya, jenis bahan pembuat mesin dan faktor
lainnya. Berikut contoh pelumasan yang dilakukan pada mesin frais model
Schaublin 53 N.

Pelumasan
Mesin Model Jumlah Penggantian
Bak oli Jenis oli
(Liter) (bln)
- Poros ulir Tonna 33 2,3 12
vertikal
- Bak roda Tellus 27 2,5
Schaublin gigi
frais
53 N - Spindel Tonna 33 3,0
pemakanan
- Poros ulir Tonna 33 0,5
memanjang

Pada tabel di atas tampak bahwa pelumas yang digunakan adalah jenis oli
dengan merk tertentu. Sebenarnya jenis pelumas bisa diganti dengan pelumas yang
lainnya asalkan terlebih dahulu diketahui sifat-sifat minyak pelumas pengganti.
Sifat minyak pengganti harus ekivalen dengan minyak pelumas yang disarankan
oleh pabrik pembuat mesin.
Diagram pelumasan Frais
Berikut diagram pelumasan pada mesin frais universal model Aciera F3.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 34

Gambar 3.2 Diagram pelumasan mesin frais Aciera F3

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 35

TUGAS
Merencanakan dan Melaksanakan Pelumasan
Untuk Mesin Bubut dan Mesin Frais

LEMBAR KERJA (JOB SHET)


Nama/Kelas :
Pokok Bahasan : Pelumasan mesin perkakas
Tanggal :
Waktu :
1. Menggambar diagram pelumasan
2. Membuat simbol-simbol pelumasan
3. Mencatat minyak pelumas/gemuk yang digunakan
4. Mengisi kartu mesin yang disediakan
Tugas :
5. Membuat grafik/jadual pelumasan dan mengganti-kan
minyak pelumas
6. Membuat daftar peralatan/suku cadang yang perlu
diganti atau diperbaiki.
Lembar jawaban

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 36

BAB IV
PENGUKURAN KERATAAN (LEVELLING) MESIN

4.1 Levelling Mesin Bubut


1. Penyelarasan terhadap bed dan carriage
Macam Pengujian Penyimpangan Hasil
No Skema yang diijinkan pengujian
(mm)
a. Kelurusan pada a. DC≤ 500
arah 0,01 convex
longitudinal 500DC≤ 1000
0,02 convex
1000<DC≤ 2000
B1 0,03 convex

b. Pada arah b. 0,04/1000


transversal

Spirit level

Carriage
Meja

Gambar 3.1 Levelling Meja

Kelurusan pada arah longitudinal


Arah Maju Arah Mundur Rata-rata
Posisi
Kiri Kanan Kiri Kanan
0-1
1-2
2-3
3-4
4-5
5-6
6-7
7-8

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 37

Alat ukur dan alat bantu yang dipergunakan :

Kesimpulan :

2. Kelurusan Gerakan Carriage


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)
DC<500
0,015
500<DC<1000
0,02
Pada bidang 1000<DC<2000
B2 horisontal 0,025

Alat ukur dan alat bantu yang digunakan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 38

Pembacaan(mm) Penyesuaian Kesalahan


Jarak Rata- Rata bila titik mula terhadap
Posisi
(mm) Kekanan Kekiri (µm) dan akhir nol garis nol
(µm) (µm)
0 0
1 50
2 100
3 150
4 200
5 250
6 300
7 350
8 400
9 450
10 500

Grafik B 2:

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 39

3. Kesejajaran gerak pindah tailstock relatif terhadap gerak pindah carriage


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)
a. Pada a. 0,03
bidang
horisontal

b. Pada b. 0,03
B3 bidang
vertikal

Alat ukur dan alat bantu yang digunakan :

Jarak Pembacaan Jarak Pembacaan Jarak Pembacaan


Posisi Posisi Posisi
(mm) Hor Ver (mm) Hor Ver (mm) Hor Ver
0 0 7 70 140
1 10 8 80 150
2 20 9 90 160
3 30 10 100 170
4 40 11 110 180
5 50 12 120 190
6 60 13 130 200

Grafik B 3:

Kesimpulan :

4. Ketelitian Spindel Utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 40

Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)
a. Kesalahan a. 0,01
aksial

b. Kemiringan b. 0,02
B4 bidang termasuk
muka kesalahan
aksial

Dial
Indikator

Poros
Pemb
antu

Gambar 3.2 Levelling spindel utama

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

5. Eksentrisitas Spindel Utama


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

Eksentrisitas 0,01
dari pada
B5 "spindel nose"

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

6. Simpang putar (run-out) sumbu spindel utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 41

No Skema Macam Penyimpangan Hasil


Pengujian yang diijinkan pengujian
(mm)
a. Didekat a. 0,01
spindel
nose

B6 b. Pada jarak b. 0,02 untuk


300 mm 300 mm
dari spindel
nose

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

7. Kesejajaran sumbu spindel utama terhadap gerak carriage dalam arah


longitudinal
Penyimpangan
Macam
No Skema yang diijinkan Hasil pengujian
Pengujian (mm)

a. Pada arah a. 0,015/300


horizontal kedapan
B7

b. Pada arah b. 0,02/300


vertikal keatas

Horizontal Vertikal
Rata-2 Rata-
Jarak Penyimpangan Jarak Penyimpangan
Posisi mm Posisi 2
mm
00 1800 mm 00 1800 mm
0 0 0 0
1 50 1 50
2 100 2 100
3 150 3 150
4 200 4 200
5 250 5 250
6 300 6 300

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 42

Grafik B 7:

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

8. Simpang Putar (Run-Out) Penyenter (Centre)


Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)

Kesalahan putar 0,015 Total


dari center spindel penyimpanga
n=
B8 nose penyimpanga
n terbesar
dibagi cos α

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 43

9. Kesejajaran sumbu peluncur (sleeve) luar tailstock terhadap gerakan


carriage.
Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

a. Pada bidang a. 0,015/100


horizontal kedapan
B9

b. Pada bidang b. 0,02/200


vertikal keatas

Horizontal Vertikal
Jarak Penyimpangan Jarak Penyimpangan
Posisi Posisi
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 10 1 10
2 20 2 20
3 30 3 30
4 40 4 40
5 50 5 50
6 60 6 60
7 70 7 70
8 80 8 80
9 90 9 90

Grafik B 9 :

Alat ukur dan alat bantu :


Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 44

10. Kesejajaran lubang konis peluncur tail-stock terhadap gerakan carriage


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

a. Pada bidang a. 0,02/300


horizontal kedepan
B10
b. Pada bidang b. 0,02/200
vertikal keatas

Horizontal Vertikal
Jarak Penyimpangan Jarak Penyimpangan
Posisi Posisi
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 25 1 25
2 50 2 50
3 75 3 75
4 100 4 100
5 125 5 125
6 150 6 150

Grafik B 10:

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 45

11. Senter headstock dan senter tailstock


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

Perbedaan 0,04/300
tinggi antara tailstock
B11 kedua center lebih tinggi
dari pada
headstock

Jarak Penyimpangan Jarak Penyimpangan


Posisi Posisi
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 7 175
1 25 8 200
2 50 9 225
3 75 10 250
4 100 11 300
5 125 12 325
6 150 13 350

Grafik B 11:

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 46

12. Kesejajaran gerak peluncur atas terhadap sumbu spindel utama


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

Arah 0,04/300 Pengukuran


B12 Longitudinal dilakukan
pada bidang
vertikal

Jarak Penyimpangan
Posisi
(mm) (mm)
0 0
1 25
2 50
3 75
4 100
5 125
6 150
7 175
8 200
9 225
10 250

Grafik B 12:

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 47

4.2 Levelling Mesin Bor Meja


1. Kelurusan Tiang / Colum
Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

D1 Kelurusan Tiang 0,04/300


/colum

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

2. Kedataran Meja Kerja


No Skema Macam Penyimpangan Hasil
Pengujian yang diijinkan pengujian
(mm)

a. Horizontal a. 0,05/300
D2

b. Vertical b. 0,08/300

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 48

3. Landasan
Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

a. Horizontal a. 0,05/300
D3

b. Vertical b. 0,08/300

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

4. Kesejajaran lubang pemegang chuck


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
Pengujian (mm) pengujian

Kesejajaran
D4 chuck terhadap 0,03/300
colum

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 49

5. Eksentrisitas spindel utama

No Skema Macam Penyimpangan Hasil


Pengujian yang diijinkan pengujian
(mm)

D5 Eksentrisitas dari 0,01


pada spindel

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 50

4.3 Levelling Mesin Frais (Milling)


1. Penyelarasan terhadap meja kerja
Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

a. Pada arah a. 0,04/1000


longitudinal
F0
b. Pada arah b. 0,04/1000
transversal
Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

2. Kelurusan gerak vertikal lutut


Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
(mm) pengujian
a Pada arah a. 0,025/300
vertikal
simetris dengan
mesin
F1
b. Pada arah tegak b.0,025/300
lurus vertikal
simetris dengan
mesin
a. Pada arah Vertikal b. Pada arah TegakLurus
Jarak Penyimpangan Jarak Penyimpangan
Posisi Posisi
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 50 1 50
2 100 2 100
3 150 3 150
4 200 4 200
5 250 5 250
6 300 6 300

Alat Ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 51

Grafik F1:

3. Ketegak Lurusan Permukaan Meja Terhadap Kolom Pembimbing


Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)
a Pada arah a. 0,025/300
vertikal dengan
simetris α≤ 90
F2 dengan mesin

b. Pada arah
tegak lurus b.0,025/300
vertikal
simetris
dengan mesin

Catatan : Pengambilan data Lutut dalam keadaan terkunci

a. Pada arah Vertikal b. Pada arah TegakLurus


Posisi Jarak Penyimpangan Posisi Jarak Penyimpangan
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 50 1 50
2 100 2 100
3 150 3 150
4 200 4 200
5 250 5 250
6 300 6 300
4. Ketegak lurusan permukaan meja terhadapgerak vertikal spindel utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 52

Skema Penyimpangan
Hasil
No Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)
a Pada arah a. 0,025/300
vertikal dengan
simetris α≤ 90
F3 dengan mesin

b. Pada arah tegak b. 0,025/300


lurus vertikal
simetris
dengan mesin

a. Pada arah Vertikal b. Pada arah TegakLurus


Posisi Jarak Penyimpangan Posisi Jarak Penyimpangan
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 20 1 20
2 40 2 40
3 60 3 60
4 80 4 80
5 100 5 100
6 120 6 120

Grafik F 3

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

5. Kedataran permukaan meja

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 53

Penyimpangan
Macam
No Skema yang diijinkan Hasil pengujian
Pengujian (mm)
0,05 Catatan:
Toleransi Pengujian ini
F4 Kedataran lokal 0,02 tidak
Untuk dilakukan
panjang
pengukuran
300

6. Kesejajaran Gerak Meja Kerja


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)
a. Pada arah a. 0,025/300
longitudinal
F5
b. Pada arah b. 0,025/300
transversal Penyimpangan
max. 0,05

a. Transversal b. Longitudinal
Jarak Penyimpangan Jarak Penyimpangan
Posisi Posisi
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 20 1 20
2 40 2 40
3 60 3 60
4 80 4 80
5 100 5 100
6 120 6 120

Grafik F5

Alat Ukur dan Alat Bantu :


Kesimpulan:

7. Ketelitian spindel utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 54

Penyimpangan
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan Hasil pengujian
(mm)
a. Simpang putar a. 0,01
spindel utama
F6 bagian luar
b. Kesalahan b. 0,01
aksial
c. Kemiringan c. 0,02
bidang muka
Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

8. Simpang putar (run out) sumbu spindel utama


No Skema Macam Pengujian Penyimpangan Hasil
yang diijinkan pengujian
(mm)
a. Didekat mulut a. 0,01
spindel
F7
b. Pada jarak 300 b. 0,02
mm dari mulut
spindel

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

9. Kesejajaran sumbu spindel

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 55

Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

Kesejajaran : 0,025/300
F8 Sumbu spindel kebawah
relatif terhadap
permukaan meja

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

10. Ketegak Lurusan Sumbu Spindel Terhadap Permukaan Meja


Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)
a Pada arah a. 0,025/300
vertikal dengan
simetris α≤ 90
F9 dengan mesin
b. Pada arah tegak b. 0,025/300
lurus vertikal
simetris
dengan mesin
Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

11. Kesejajaran sumbu spindel relatif terhadap gerak transversal meja


No Skema Macam Penyimpangan Hasil
yang diijinkan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 56

Pengujian (mm) pengujian


a Pada arah a.0,025/300
vertikal
F10 b.0,025/300
b. Pada arah
horisontal

a. Pada arah Vertikal b. Pada arah Horisontal


Posisi Jarak Penyimpangan Posisi Jarak Penyimpangan
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 50 1 50
2 100 2 100
3 150 3 150
4 200 4 200
5 250 5 250
6 300 6 300

Grafik F10

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 57

12. Kelurusan Alur " T" (tee slot)


Penyimpangan
Macam Hasil
No Skema yang diijinkan
pengujian
Pengujian (mm)

Kelurusan celah 0,01/500


F11 alur Tee dari Penyimpangan
meja kerja Max.0,03

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

13. Ketegak lurusan sumbu spindel


Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
(mm) pengujian

F12 Sumbu spindel 0,02/300


tegak lurus
terhadap alur T
dari meja

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

4.4 Levelling Mesin Sekrap

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 58

1. Ketegak Lurusan Permukaan Meja TerhadapGerak Horizantal Spindel


Utama
Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)
a Pada arah a.0,025/300
vertikal dengan
simetris α≤ 90
dengan mesin
S1
b. Pada arah tegak b.0,025/300
lurus vertikal
simetris
dengan mesin

a. Pada arah Vertikal b. Pada arah TegakLurus


Posisi Jarak Penyimpangan Posisi Jarak Penyimpangan
(mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0
1 20 1 20
2 40 2 40
3 60 3 60
4 80 4 80
5 100 5 100
6 120 6 120

Grafik S1

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

2. Kedataran permukaan meja

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 59

Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)
0,05
Toleransi
lokal 0,02
S2 Kedataran Untuk
panjang
pengukuran
300
Grafik S2

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

3. Kesejajaran sumbu spindel


Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
(mm) pengujian
Kesejajaran : 0,025/300
S3 Sumbu spindel kebawah
relatif terhadap
permukaan meja

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

4. Ketegak lurusan sumbu spindel

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 60

Penyimpangan
Hasil
No Skema Macam Pengujian yang diijinkan
pengujian
(mm)

Sumbu spindel 0,02/300


tegak lurus
S4 terhadap alur T
dari meja

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 61

BAB V
PERAWATAN KECIL (SMALL REPAIR)
PADA MESIN PERKAKAS

5.1 Mesin Bubut


a. Bagian utama mesin bubut
1. Meja Mesin (Bed)
2. Kepala tetap (Head Stock)
3. Gear Box (Rumah gigi percepatan)
4. Pembawa/eretan (Carriage)
5. Kepala lepas (Tail stock)

Headstock
Tail stock

Meja

Gear box
Carriage

Gambar 5.1 Bagian mesin bubut

b. Perawatan bagian utama mesin bubut


1. Meja
Meja tidak akan rusak atau cacat apabila tidak tebentur benda keras dan tajam,
tetapi meja perlu dirawat agar tidak berkarat karena adanya debu dan geram benda
kerja.
Prosedur perawatan meja bubut (lathe bed) adalah sebagai berikut:
1. Bersihkan meja dari kotoran maupun debu
2. Bersihkan meja dari sisa-sisa pendingin benda kerja (dromus)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 62

3. Bersihkan meja dari sisa-sisa geram


4. Jika terlihat meja berkarat, gunakan kertas gosok water proff 400
untuk menghilangkannya
5. Setelah hilang karatnya dan dibersihkan lakukan langkah ke 6
6. Beri solar atau minyak pelumas pada meja agar tidak berkarat

2. Kepala Tetap (Head Stock)


Fungsi dari kepala tetap adalah untuk memegang benda kerja, dimana tiga
rahang akan mencekam benda kerja. Tiga rahang dapat bergerak maju mundur
karena ada ulir didalamnya. Geram atau kotoran banyak yang masuk didalam ulir
sehingga gerakan tiga rahang agak sulit. Selain itu baut pengikat antara kepala tetap
dengan main spindle sering dol, oleh karena itu perlu perawatan sebagai perikut :

Chuck Spindel utama

Gambar 5.2
Headstock

(a) Langkah-langkah perawatan:


1. Bersihkan kepala tetap dari kotoran / geram yang ada.
2. Periksa kekuatan baut–baut pengikatnya.
3. Dengarkan suara, dan getaran yang timbul jika dirasa tidak wajar perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut/perawatan sedang.
(b) Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan:
1. Matikan panel listrik.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 63

2. Tekan tombol emergency dan kunci pada posisi off.


3. Lepaskan tiga rahang dengan memutar kearah berlawanan jarum jam
hexagon holl pada kepala tetap

Pemutar Chuck

Tiga Rahang

Chuck

Gambar 5.3 Pelepasan tiga rahang


4. Kendorkan baut pengikat antara bagian kepala tetap depan dan belakang
5. Kendorkan baut pengikat ulir
6. Pindahkan ke meja kerja bangku
7. Lepaskan baut pengikat yang telah kendor
8. Lepaskan mur pengikat
9. Pisahkan bagian-bagian kepala tetap dengan memukulnya dengan palu
plastik.
10. Bersihkan bagian-bagian yang telah terpisah dan periksa jika ada bagian
yang cacat atau rusak
11. Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari proses pembongkaran
12. Yang perlu diperhatikan adalah dalam memasang tiga rahang perhatikan
nomor rahang dan nomor rumah harus sama.
13. Masukkan satu persatu sambil diputar ulirnya
14. Pasang kembali kepala tetap pada spindle utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 64

15. Cek kekuatan baut-baut pengikat


16. Diuji coba dengan memutar bolak-balik hexagon holl apakah tiga
rahang bergerak dengan halus dan tidak ada selisih
17. Jika ok bearti komponen siap untuk dipakai.

3. Gear box
Pada mesin bubut ada 2 gear box, yaitu gear box pada spindle utama sebagai
pengatur kecepatan dan gear box pada eretan. Keduanya pendinginnannya sama
menggunakan sistim celup.

Gigi Percepatan

Tuas pemidah

Tuas Pemindah
Tuas Pemindah

Gambar 5.4 Gear Box

(a). Perawatan
Gear box jarang rusak jika perawatan / pemberian pelumas secara berkala
dilaksanakan, tetapi jika penggantian, pengecekan pelumas tidak pernah dilakukan
gear box akan cepat rusak.
Langkah-langkah perawatan:
1. Cek volume pelumas gear box dengan melihat dari gelas
penduga.
2. Jika kurang dari setengah ketinggian gelas penduga maka
perlu ditambah minyak pelumasnya.
3. Cek dulu keadaan pelumas, apakah sudah berbuih, kotor
atau tercampur dengan air.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 65

4. Sebelum melakukan langkah c matikan mesin dan buka


penutup.
5. Jika perlu diganti pelumas, buka baut tap oli dibawah gelas
penduga, jika hanya menambah buka baut penutup diatasnya.
(b) Langkah-langkah pembongkaran pemasangan:
1. Matikan panel, dan kunci dalam keadaan off
2. Keluarkan minyak pelumas, hati-hati jika tumpah dilantai
segera bersihkan
3. Buka tutup transmisi (gear box) dengan melepas baut
pengikat menggunakan kunci L
4. Lepas sabuk beralur, hati-hati melepasnya jangan sampai
sobek atau kecelakaan bagi operator
5. Lepas pen pada tuas pemindah kecepatan, ingat pen dalam
bentuk tirus
6. Tarik dan lepas poros pemindah kecepatan
7. Lepas baut spindle utama
8. Lepas pasak countershaft
9. Lepas baut pada cover dan tarik countershaft keluar
10. Keluarkan spindle utama dengan cara memukulnya dari
belakang dengan menggunakan palu plastik.
11. Letakkan sesuai dengan urutannya dimeja bangku kerja
12. Periksa bagian-bagian transmisi (sabuk beralur, spline,
roda gigi, poros, tuas penggungkit dan bantalan)
13. Pasang kembali dengan urutan kebalikan pembongkaran
14. Setelah terpasang semua, periksa pemindahan kecepatan
roda gigi, jika tidak ada masalah lanjutkan ke langkah 15 tetapi jika pemindahan
terasa berat perlu diperiksa kembali rangkaian, posisi dari transmisi.
15. Isi dengan minyak pelumas yang sesuai
16. Diuji coba apakah getaran terlalu tinggi, timbul suara yang
tinggi dan apakah ada tumpahan minyak pelumas. Jika terjadi itu perlu diperiksa
kembali tetapi jika tidak berarti mesin siap untuk dipakai.
4. Pembawa (Carriage)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 66

Berfungsi membawa toll post untuk melakukan pemakanan atau penyayatan.


Yang perlu diperhatikan adalah spindle-spindelnya, poros berulir otomatis dan
pelumas pada gearbox pembawa.

Toolpost

Carriage

Gambar 5.5 Carriage


(a) Langkah-langkah perawatan
Yang perlu dirawat pada bagian ini adalah :
 Kebersihan dari poros pembawa, jangan
sampai berkarat atau banyak kotoran/geram yang menempel padanya
 Periksa pen otomatis, jika putus segera
diganti karena jika putus tidak bisa digunakan untuk operasi otomatis
 Cek dari kaca penduga volume pelumas
pada gearbox, jika kurang tambahkan.
 Periksa kebersihan dari poros berulir, jika
karat atu kurang greas bersihkan dan tambahkan
(b). Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan
1. Matikan panel listrik
2. Matikan power mesin dan kunci pada posisi off
3. Siapakan peralatan yang digunakan
4. Keluarkan minyak pelumas dari gearbox, hati-hati
jangan sampai tumpah di lantai jika tumpah segera bersihkan.
5. Lepaskan tollpost dari eretan melintang dengan cara
memutar cone knob sampai lepas baru tollpost ditarik keatas.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 67

6. Lepaskan baut pengikat lead screw mount dan


lepaskan lead screw dengan memutar kearah kiri sampai keluar
7. Lepas baut pengunci wedge gib dan tarik keluar
sambil mendorong top slide keluar
8. Lepas pen pengunci bottom slid
9. Dengan memutar-mutar top slide kendorkan mur
pengikat clamping ring.
10. Setelah cukup kendor tarik keluar bottom slid dan
letakkan dimeja kerja
11. Lepaskan baut-baut pengikat eretan melintang
dengan meja
12. Lepaskan baut pengikat bearing block dan tarik
keluar jika sulit pukullah dengan palu plastik, sambil menahan eretan melintang
13. Tarik eretan melintang kesamping sampai lepas dari
porosnya dan bawa ke meja kerja
14. Lepaskan poros berulir, poros kecepatan dan poros
penahan hati-hati dengan pin, pegas dan ringnya.
15. Periksa gigi-gigi pada gearbox, bagian-bagian eretan,
bearing dan slide apakah ada kerusakaan atau kotoran.
16. Periksa kedataran permukaan eretan dan slide
17. Periksa poros ulir slide
18. Bersihkan dan beri pelumas sebelum dipasang
kembali
19. Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari urutan
pembongkaran
20. Setelah terpasang semua periksa kekencangan baut-
baut pengikatnya dan stel gerakan daripada eretan dan toolpost
21. Isi gear box dengan minyak pelumas yang
disarankan dan periksa volumenya
22. Beri greas pada poros ulirnya dan oli pada poros
kecepatan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 68

23. Dicoba gerakan dari pada eretan melintang dan slide


jika dirasakan telalu berat lakukan penyetelan ulang.

5. Kepala lepas (Tail Stock)


Fungsi dari pada kepala lepas adalah untuk memegang benda kerja (dua center),
meletakkan pencekam mata bor, center drill (proses pengeboran di mesin bubut).
Sedang kerusakan sering terjadi poros berulir terlepas dari rumah ulirnya,
micrometer dial tidak berfungsi, hilangnya clamp dan rusaknya bearing.

Tailstock

Pemegang

Handle

Gambar 5.6 Tail Stock

(a) Langkah-langkah perawatan


1. Bersihkan kepala lepas dari kotoran
2. Beri greas pada batang ulirnya
(b) Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan
1. Siapkan peralatan yang dibutuhkan
2. Kendorkan hexagonal screw dengan memutar lever
3. Geser dan angkat kepala lepas dari bed dan bawa ke meja
kerja
4. Lepaskan hexagonal screw dan lepaskan pembawa
(wedge) dan plate pencekam (clamp plate)
5. Lepaskan clamp piece
6. Lepaskan mur pengunci pemutar (handwhell)
7. Lepaskan ring, handel pemutar, micrometer (pengukur),
bushing, ring pegas dan pasak
8. Tarik tail stock jika sulit pukul dengan palu plastic

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 69

9. Lepaskan bearing
10. Lepaskan bushing
11. Lepaskan poros berulir dari tail stock
12. Lepaskan baut-baut pengunci
13. Lepaskan mur pengunci landasan kepala lepas
14. Dengan sedikit pukulan dengan palu plastik akan terpisah
antara landasan dan kepala lepas.
15. Bersihkan semua bagian-bagian dari kepala lepas
16. Atur penempatannya dan periksa bagian-bagiannya, jika
ada yang rusak diganti atau diperbaiki bila dapat diperbaiki
17. Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari proses
pembongkaran
18. Jika telah terpasang semua bawa ke mesin dan pasang
19. Ujicoba dengan memutar handel keluar masuk jika
dirasakan tidak ada masalah berarti siap untuk dioperasikan
20. Jika dalam ujicoba terasa berat maka perlu dibongkar
kembali.

5.2Mesin Bor Meja


a. Bagian Utama Mesin Bor
1. Motor listrik
2. Pully dan sabuk
3. Roda penerus
4. Roda Pemutar
5. Tuas

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 70

6. Chuck / pemegang mata bor


7. Colum mesin
8. Meja mesin
9. Alas meja

Cover Transmisi
Power Belt

Chuck

Meja
Colum

Gambar 5.7 Mesin bor meja

2. Perawatan Mesin Bor Meja


(a) Langkah-langkah perawatan
Dalam perawatan mesin bor ini, jika beban yang diberikan tidak terlalu besar
atau melebihi kapasitas mesin maka motor listrik mesin bor akan awet. Untuk
konstruksi mesinnya sendiri perawatan yang perlu dilakukan adalah :
1. Sebelum dan setelah bekerja bersihkan lingkungan kerjanya.
2. Pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi sabuk dan pully.
3. Pemberian pelumas terhadap bagian-bagian yang berputar kecuali sabuk dan
pully

(b) Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan


1. Matikan panel listrik
2. Putuskan hubungan listrik
3. Buka tutup sabuk dan pully
4. Buka tombol listrik
5. Lepas sabuk V
6. Lepas pulley dengan tracker

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 71

7. Lepas stopper
8. Lepas kolom transmisi dengan cara memukulnya dari atas dengan palu plastic
9. Ambil poros penerus transmisi
10. Susun di meja kerja
11. Periksa dengan teliti komponen-komponen yang ada
12. Lakukan pembersihan dan pemberian greas jika perlu
13. Pemasangan kembali komponen dengan urutan kebalikan dari pembongkaran
14. Ujicoba, jika dirasa kurang sesuai lakukan pembongkaran kembali

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 72

5.3 Mesin Frais (Milling)


a. Bagian utama mesin frais
Mesin frais terdiri dari :
1. Spindel vertical-horizontal
2. Kolom/tiang
3. Meja mesin
Spindel

Arbor
Power

Colum Meja
Gambar 5.8 Bagian Utama Mesin Frais
b. Perawatan Mesin Frais
(1) Langkah-langkah perawatan mesin frais
Spindel ini merupakan transmisi yang menghubungkan putaran dari motor ke
arbor/pahat potong, dimana transmisinya berupa roda gigi.
Jadi perawatannya selain memeriksa kondisi sabuk dan pulley dari motor juga
memeriksa pelumas yang ada pada spindle. Pelumas berupa greas, jangan sampai
kurang atau kotor karena dan langkah-langkah perawatannya adalah:
1. Periksa kondisi sabuk, sobek, retak-retak kering atau masih bagus
2. Periksa kondisi pulley
3. Beri pelumas/greas secukupnya pada spindle
4. Jaga tiang agar tidak berkarat
5. Bersihkan meja dari kotoran / sisa-sisa geram dan pendingin benda kerja
6. Beri minyak pelumas cair pada kolom dan meja agar tidak berkarat
(b) Langkah–langkah pembongkaran/pemasangan mesin frais
1. Matikan panel listrik
2. Posisi kunci off dan saklar pada posisi nol
3. Buka tutup atas dan bawah penutup sabuk dan pulley

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 73

Tutup

Pulley

Belt

Gambar 5.9 Melepas belt


4. Lepas belt, hati-hati jangan sampai sobek dan terjepit
5. Lepas baut pengikat spindle utama
6. Geser dan angkat spindle letakkan di meja kerja
7. Lepas baut pada pemegang arbor
8. Tarik spindle kebelakang, jika sulit pukul sedikit dengan palu plastic
9. Periksa kondisi roda gigi dan greas yang ada
10. Periksa putaran, dengan memutar kekiri dan kekanan apakah putaran terasa
halus ataukah ada beban
11. Jika grease perlu diganti, bersihkan dulu dan cuci dengan solar keringkan baru
dikasih grease yang baru
12. Langkah pemasangan kebalikan dari langkah-langkah pembongkaran, dan yang
perlu diperhatikan adalah ketepatan menempatkan lubang baut pada spindle
jangan dipaksakan jika sulit tanyakan instruktur
13. Jika spindle telah terangkai semuanya, angkat dan letakkan diatas mesin
14. Hati-hati memasangnya perhatikan alurnya, jika belum tepat jangan dipaksakan
15. Kencangkan baut pengikatnya
16. Tepatkan kepala spindle tegak lurus, perhatikan tanda-tandanya baru
dikencankan baut pengikatnya.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 74

17. Dalam memasang sabuk perhatikan kelurusan sabuk, nomor pulley harus sama
18. Setelah terpasang semua ujicoba secara manual yaitu putar pulley dengan
tangan dan perhatikan suara dan rasakan putarannya apakah terasa ada beban
atau tidak
19. Jika dirasakan tidak ada masalah, dapat diujicobakan dengan mengoperasikan
mesin. Perhatikan getaran yang ada dan suara mesin yang khas.

5.4 Mesin Sekrap


a. Bagian utama mesin sekrap
1. Tool holder
2. Ragum mesin
3. Meja mesin
4. Penahan meja
5. Motor penggerak
6. Saklar utama
7. Tuas penggerak

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 75

Gambar 5.10 Komponen utama mesin Sekrap


b. Perawatan Mesin sekrap
(a) Langkah-langkah perawatan mesin frais
Prinsip kerja mesin sekrap adalah pahat potong bergerak maju sambil
memotong benda kerja dan bergerak mundur tanpa memotong benda kerja, dengan
kedalam potong yang dapat diatur melalui tuas pengatur kedalaman yang umumnya
dilakukan secara manual sedang tebal pemakanan dapat dilakukan secara manual
atau otomatis
Perawatannya:
1. Bersihkan mesin dari debu dan kotoran
2. Periksa keadaan pelumas, jika kurang ditambah dan bila saluran bocor
diperbaiki dahulu
3. Beri greas pada nipel-nipelnya
4. Periksa sabuk/transmisi beltnya
5. Periksa baut-baut pengikatnya, sudah kencang atau belum
(b) Langkah-langkah pembongkaran/pemasangan:
1. Matikan panel listrik
2. Putar saklar pada posisi off
3. Buka penutup transmisi sabuk

Sabuk Datar
Beralur

Penutup
Gambar 5.11 Penutup Transmisi

4. Lepas sabuk dari pulley

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 76

5. Buka baut penutup mesin


6. Periksa volume dan kondisi minyak pelumas
7. Periksa baut-baut pengikat apakah sudah kencang
8. Langkah pemasangan kebalikan dari langkah pembongkaran
9. Ujicoba mesin

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 77

TUGAS
Small Repair Mesin Perkakas

LEMBAR KERJA (JOB SHET)


Nama/Kelas :
Pokok Bahasan : Perawatan Kecil (Small Repair) pada Mesin Perkakas
Tanggal :
Waktu :
1. Sebutkan bagian utama mesin
…… beserta prinsip kerjanya.
2. Tentukan kegiatan small
repair pada masing-masing komponen utama mesin
…..tersebut.
3. Buatlah spesifikasi kerja
untuk kegiatan small repair yang anda lakukan.
4. Sebutkan peralatan yang
dipergunakan untuk melakukan small repair.
5. Lakukan pembongkaran
sesuai dengan prosedur yang benar.
Tugas : 6. Identifikasi dan analisa
kerusakan yang terjadi pada saat melakukan small
repair.
7. Lakukan perawatan,
perbaikan dan penggantian jika diperlukan sesuai
dengan spesifikasi kerja kegiatan small repair.
8. Rakit kembali dan setel ulang
bagian mesin yang sudah dilakukan perawatan
9. Catat urutan pembongkaran
dan perakitan pada small repair.
10. Buatlah gambar exploded dari
bagian mesin yang dismall repair.
Lembar jawaban

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas


TPP-MESIN PERKAKAS 78

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas