Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA STRESS

Makalah ini disusun untuk memenuhi

tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa II

Kelompok VI

1. Sri Mulyani (SK117032)


2. Tri Kusumawati (SK117033)
3. Uswatun Hasanah (SK117034)
4. Rani Wulandari (SK117035)
5. Ana Yesika Endang L (SK118006)
6. Nurul Faizah (SK118059)

Program Studi Ilmu Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
2020
KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “Makalah Asuhan
Keperawatan Stress” ini dengan baik. Makalah ini tidak dapat selesai tanpa
dukungan moral dan materi yang diberikan dari berbagai pihak, maka
penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Allah SWT. Yang telah meridhoi pembuatan makalah dengan baik.

2. Dr. Sih Ayu Watini, SpKj. Mkes dan tim selaku dosen pengampu
Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa II
3. Orang tua penulis yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
4. Teman- teman penulis yang telah memberikan bantuan kepada
penulis.
5. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan
makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari


sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari rekan-
rekan pembaca sangat dibutuhkan demi penyempurnaan makalah ini.

Kendal, 17 April 2020

Kelompok 6
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................i

KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................3
1.3 Tujuan..................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Askep Stress ........................................................................................................5


2.1.1 Definsi .......................................................................................................5
2.1.2 Etiologi ......................................................................................................6
2.1.3 Manifestasi klinis .......................................................................................7
2.1.4 Penatalaksanaan terapi...............................................................................9
2.1.5 Pemeriksaan penunjang ............................................................................10
2.1.6 Asuhan Keperawatan.................................................................................11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulaan ........................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Stres adalah perasaan terbebani ketika suatu masalah tidak
bisa ditanggung oleh seseorang. Secara alamiah tubuh merespon
dengan cara memberi alarm waspada, yaitu hormon mulai
dikeluarkan sehingga menyebabkan jantung berdegup kencang,
respiratory rate naik, dan terjadi peningkatan energi. Hal ini
dinamakan respon fight atau flight. Beberapa macam stres bersifat
normal dan bermanfaat bagi tubuh manusia. Stres dapat
meningkatkan kinerja seseorang dalam bekerja. Sebagai contoh,
stres dapat membantu seseorang dalam memenangkan lomba atau
menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tepat waktu. Tapi apabila
stres terjadi terlalu lama dan berat, stres dapat berdampak buruk
bagi kelangsungan hidup manusia. Seperti terjadinya gejala sakit
kepala, sakit perut, sakit punggung, dan susah tidur. Stres juga
bisa menurunkan sistem imun seseorang, sehingga seseorang
tersebut mudah sekali terjangkit suatu penyakit. Jika seseorang
sudah tidak sehat, maka stres membuat keadaan tubuh lebih
buruk. Stres dapat membuat seseorang tersebut gelisah, mudah
marah, dan tegang. Hubungan kerja atau pertemanan seseorang
bisa terancam karena stres. Penurunan kualitas kerja atau aktivitas
sekolah dapat ditemukan pada pegawai dan pelajar yang
mengidap stres. Salah satu akibat stres yang paling sering yaitu
hipertensi. (Healthwise, 2009)
.
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi stress?
2. Apa etiologi stress ?
3. Apa manifestasi klinis stress?
4. Apa penatalaksanaan terapi stress?
5. Apa pemeriksaan penunjang stress?
6. Bagaimana asuhan keperawatan stress?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi stress
2. Untuk mengetahui etiologi stress
3. Untuk mengathui manifestasi klinis stress
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan terapi stress
5. Untuk mengatahui pemeriksaan penunjang stress
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan stress
BAB II
KONSEP
A. Definisi Stress
Clonninger (1996, dalam Safaria, 2009) menyatakan stres
adalah keadaan yang membuat tegang yang terjadi ketika
seseorang mendapatkan masalah atau tantangan dan belum
mempunyai jalan keluarnya atau banyak pikiran yang
mengganggu seseorang terhadap sesuatu yang akan dilakukannya.
Kendall dan Hammen (1998) mengemukakan stress terjadi pada
individu ketika terdapat ketidakseimbangan antara situasi yang
menuntut dengan perasaan individu atas kemampuannya untuk
bertemu dengan tuntutan-tuntutan tersebut. Situasi yang menuntut
tersebut dipandang sebagai beban atau melebihi kemampuan
individu untuk mengatasinya. Stres adalah segala masalah atau
tuntutan penyesuaian diri yang dapat mengganggu keseimbangan
seseorang (Maramis, 2005).
Dari pernyataan ini faktor penting yang ditekankan adalah
adaptasi agar keseimbangan selalu terjaga di dalam diri kita.Selye
(1946, 1976) mengemukakan stres adalah respon tubuh yang
bersifat non spesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan. Ini
berarti bahwa setiap pemenuhan kebutuhan biasanya dibarengi
dengan adanya ketegangan atau stres. Pendapat lain dikemukakan
oleh Kartono dan Gulo (2000) yang mengemukakan empat
definisi stress sebagai berikut :
1. Sebagai suatu stimulus yang menegangkan daya
psikologis dan fisiologis organisme.
2. Sejenis frusturasi dengan aktivitas terarah pada
pencapaian tujuan telah terganggu, tapi tidak terhalangi,
yang disertai perasaan khawatir dalam pencapaian tujuan
tersebut.
3. Kekuatan yang diterapkan pada suatu system berupa
tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada diri dan
pribadi.
4. Suatu kondisi ketegangan fisik atau psikologis yang
disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan
kecemasan.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa stress
itu adalah ketegangan, setiap ketegangan yang dirasakan oleh
seseorang akan mengganggu dan dapat menimbulkan reaksi
fisiologis, emosi, kognitif, maupun perilaku. Stress tidak bias
dihindari sepenuhnya, tapi dapat dikurangi dengan mengabaikan
hal-hal yang tidak begitu penting. Setiap hari kita mengalami
berbagai macam stimulasi yang menimbulkan stress, diantaranya
kemacetan, lingkungan yang panas, polusi udara, kebisingan,
tekanan waktu dan lainnya. Dengan mengetahui sumber-sumber
stress dalam kehidupan, kita akan lebih mampu mengelola
keadaan yang menekan-menegangkan tersebut secara efektif.
B. Etiologi
Stres diakibatkan oleh adanya perubahan-perubahan nilai
budaya, perubahan system kemasyarakatan, tugas atau pekerjaan
serta akibat ketegangan antara idealisme dan realita. Baik nyata
maupun imajinasi, persepsi seseorang terhadap stres sebenarnya
berasal dari perasaan takut atau marah. Perasaan ini dapat
diekspresikan dalam sikap tidak sabar, frustasi, iri, tidak ramah,
depresi, bimbang, cemas, rasa bersalah, khawatir atau apati.
Selain itu perasaan ini juga dapat muncul dalam bentuk sikap
yang pesimis, tidak puas, produktivitas rendah dan sering absen.
Emosi, sikap dan perilaku kita yang terpengaruh stres dapat
menyebabkan masalah kesehatan yang serius dan tergantung
reaksi individu tersebut terhadap stress (Suliswati, 2005).
Stres dapat berasal dari dalam tubuh dan luar tubuh. Sumber stres
dapat berupa biologi, fisik, kimia, psikologi dan spiritual:
1. Stresor biologik, dapat berupa: mikroba, bakteri, virus dan
jasad renik lainnya, hewan, binatang, bermacam tumbuhan
dan makhluk hidup lainnya yang dapat mempengaruhi
kesehatan.
2. Stresor fisik, dapat berupa: perubahan iklim, alam, suhu,
cuaca, geografi, yang mengikuti letak tempat tinggal,
domisili, demografi, berupa jumlah anggota dalam keluarga,
nutrisi, radiasi, kepadatan penduduk, imigrasi dan
kebisingan.
3. Stresor kimia, dapat berupa: obat-obatan, pengobatan,
pemakaian alkohol, pencemaran lingkungan, bahan kosmetik
dan bahan pengawet.
4. Stresor sosial psikologi, dapat berupa: prasangka,
ketidakpuasan terhadap diri sendiri terhadap suatu hal
yang dialami, kekejaman, konflik peran, percaya diri yang
rendah, perubahan ekonomi, emosi yang negatif dan
kehamilan.
5. Stresor spiritual, dapat berupa: adanya persepsi negatif
terhadap nilai-nilai ke-Tuhanan (Rasmun, 2004).
C. Manifestasi Klinis
Adapun tanda gejala yang timbul dari stress adalah sebagai
berikut:
1. Ketidak efektifan koping
a. Data mayor
1) Pernyataan ketidak mampuan untuk mengatasi atau
meminta bantuan.
2) Penggunaan mekanisme pertahanan yang tidak sesuai
3) Ketidak mampuan memenuhi peran yang diharapkan
4) Perilaku deskriptif terhadap diri sendiri atau orang
lain.
b. Data minor
1) Rasa khawatir kronis, ansietas
2) Melaporkan kesulitan menghadapi stress kehidupan
3) Ketidak efektifan partisipasi social
4) Manipulasi verbal
5) Ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
6) Pola respons nonasertif
7) Perubahan dalam pola komunikasi yang biasa.
2. Ansietas
a. Mayor
Dimanifestasikan oleh gejala dari tiga kategori : fisiologi,
emosional, dan kognitif. Gejala bervariasi sesuai dengan
tingkat ansietas.
3. Stress berlebihan
a. Fisiologis
1) Sakit kepala
2) Dispepsia
3) Kesulitan tidur
4) Kurang istirahat
5) Letih
b. Emosional
1) Menangis
2) Gelisah
3) Gugup
4) Lelah
5) Merah
6) Tidak sabar
7) Mudah kesewa
8) Merasa sakit
c. Kognitif
1) Penurunan memori
2) Cepat lupa
3) Sulit membuat keputusan
4) Kekhawatiran konstan
5) Penurunan rasa humor
6) Kesulitan berfikir jernih
d. Perilaku
1) Isolasi
2) Penurunan intimasi
3) Merokok berlebihan
4) Intoleransi
5) Makan berlebihan
6) Antipati atau menunjukkan sikap permusuhan.
D. Penatalaksanaan terapi
Stres adalah bagian dari kehidupan dan stres tidak dapat dihindari
tetapi dapat dikurangi dengan cara berespons. Cara yang paling
terbaik adalah menghadapi stres dengan respons rileks dan
penilaian yang positif. Menurut Weiss (2010) berbagai metode
pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meredakan
stress diantaranya:
1. Upaya sendiri
Di dalam upaya-upaya yang dapat dilakukan sendiri
termasuk upaya-upaya yang pada umumnya dapat
dilakukan oleh individu tersebut sendiri, misalnya upaya-
upaya dimana stres dihadapi secara awam hingga upaya-
upaya yang sebetulnya bersifat psikoterapeutik. Di sini
dimaksudkan antara lain memperbanyak stress coping skills.
Tergantung dari kekuatan kepribadian serta pengalaman
belajar dan aset yang dimiliki oleh individu tersebut stres
dapat dihadapi. Contoh adalah stres yang mirip dengan yang
pernah dialami sebelumnya dapat dihadapi dengan
menggunakan strategi yang sebelumnya berhasil. Orang
dengan aset fisik yang besar, kuat dan garang akan
menggunakan aset ini untuk menghalau stresor-stresor yang
datang mengganggu.
a. Menangis atau berteriak
Penelitian menemukan bahwa menangis membantu
mengurangi stres, karena air mata dapat
menyingkirkan iritan, zat kimia yang secara klinis
berhubungan dengan stres. Berteriak menimbulkan
efek yang sama, walaupun tidak menyingkirkan iritan
dari sistem saraf jika tidak disertai menangis.
Tindakan berteriak dapat melepaskan stres dengan
memberi saluran pelepasan ketegangan. Berteriak
tanpa ditujukan kepada orang tertentu, dan dilakukan
di dalam privasi kamar sendiri atau di mobil atau
tempat pengasingan diri ditempat terpencil lainnya
dapat membuat tenang dan memberikan kesempatan
bagi pikiran untuk menyelesaikan masalah secara
rasional.
b. Latihan fisik dan meregankan tubuh
Latihan fisik bahkan sekedar latihan peregangan
tubuh berhasil baik karena menghasilkan sensasi
tubuh yang mengarahkan diri ke dalam otak sendiri
sebagai rasa nyaman. Bentuk latihan yang paling
sederhana adalah dengan kedua kaki sedikit terbuka,
bungkukkan badan dan sentuh jari kaki atau usahakan
sedekat mungkin, sambil mempertahankan lutut tetap
lurus sementara tangan menggapai ke bawah. Dalam
latihan tersebut, jika dapat menyentuh jari kaki
dengan mudah, sentuhlah lantai diantara kedua kaki
dengan telapak tangan rata di atas lantai. Lakukan
latihan ini tiga kali. Latihan ini meregangkan,
mengendurkan,dan merilekkan otot pada punggung
sebelah bawah, pada bahu dan tungkai.
c. Dansa
Dansa cepat dalam bentuk apapun, walaupun bukan
program kebugaran dapat melegakan dan meredakan
stres untuk sementara waktu.
d. Musik dan bacaan
Alternatif yang jauh lebih baik daripada minuman
atau menggunakan narkoba ataupun obat dengan
resep dokter seperti valium, adalah dengan
mendengarkan musik yang menenangkan. Gabungkan
mendengarkan musik dan membaca buku sewaktu
istirahat atau makan siang, setel musik yang membuat
rileks dan bacalah sebuah buku.
e. Meditasi dan self hypnosys
Meditasi entah bersifat keagamaan atau sekuler dapat
menyingkirkan stres yang dirasakan dengan
memfokuskan pikiran pada sesuatu yang tidak
menimbulkan stres, pada gagasan yang mendatangkan
ilham atau doa atau suara memohon seperti mantra.
Hipnosis, baik yang disebabkan oleh diri sendiri, yang
disebut denganself hypnosys atau disebabkan oleh
seorang ahli adalah bentuk relaksasi pertolongan
pertama yang paling radikal yang dapat digunakan
untuk memperoleh kendali mental atas stres.
2. Upaya sekeliling
Di sini dimaksudkan adanya dukungan sosial dan
sumber sumber dan masyarakat (social support dan social
resource).Tidak semua stresor dapat dibawa untuk
mendapatkan pertolongan kepada masyarakat, sebab ada
kondisi-kondisi tertentu dimana hal ini malah diberi sanksi
oleh masyarakat, serta kedudukan kita di dalam masyarakat
tersebut. Kita berpaling kepada sekeliling apabila jenis
stresor yang kita hadapi terlalu berat atau merupakan
transisi dari suatu keadaan yang normal.
Permintaan bantuan dan sekeliling biasanya menurun
dengan bertambahnya usia (Gunn, Veroff & Feld 1960).
Biasanya pertolongan diminta bila ada kebutuhan akan
kenyamanan, reassurance dan nasehat-nasehat. Mula-mula
yang dicari adalah keluarga dan teman-teman dan bila
dibutuhkan lebih lanjut biasanya individu akan berpaling
kepada organisasi sosial (social resource/network), dimana
organisasi medik menduduki nomor satu dalam urutan. Di
sini dipermasalahkan kembali adanya perbedaan nilai-mlai
dan sikap terhadap permasalahan, dan pertolongan yang
bersifat amatir hendaknya dapat menyingkinkan adanya
perbedaan tersebut. Pertolongan yang diberikan sangat
bergantung dari pengetahuan dan ketrampilan serta sikap
dapat menerima dari pemberi pertolongan.
Upaya sekeliling tergantung dan orang-orang yang ada
di seputar individu tersebut, dan anggota keluarga batih
hingga anggota keluarga besar serta lingkungan yang lebih
luas. Lingkungan kecil dimulai dan keluanga batih. Peran
pasangan dalam hal ini besar artinya sebagai pemben
dukungan. Isteri dan anak anak yang penuh pengertian serta
selalu dapat mengimbangi kesulitan yang dihadapi
suaminya dapat memberikan efek bumper kepada kondisi
stres suaminya. Ia merasa diterima di lingkungan rumahnya
dalam keadaan apapun, ia merasa cukup berbahagia.
Stres yang datang di sini baik berupa kesulitan maupun
penyakit atau musibah lainnya akan dihadapi bersama,
sehingga kurang terasa menekan. Penyelesaian masalah
juga dilakukan dengan urun rembuk, pengambilan alih
beban dan upaya bersama. Di sini terjadi penggabungan aset
yang dimiliki baik oleh individu maupun oleh isteni dan
anak-anaknya. Di sini ada keterbatasannya karena aset yang
dimiliki isteri dan anak-anak tidak selalu dapat menjangkau
permasalahan, misalnya stresor di bidang bisnis. Harga din
individu yang terkena stres dapat ditingkatkan kembali
lewat berbagai sikap keluaga yang mendukung.
E. Pemeriksaan penunjang
Modalitas dignostik adalah macam-macam pemeriksaan
diagnostik yang disediakan untuk mendeteksi fungsi otak.
Modalitas diagnostik ini sangat diperlukan untuk kegiatan
diagnosis dini, rujukan dini serta skrining. Selain itu modalitas
diagnostik juga membantu tenaga kesehatan dalam
mengembangkan kemampuan untuk memastikan gejala sedini
mungkin, beberapa prosedur diagnostik yang dapat dilakukan,
yaitu:
1. Elektroensefalogram (EEG)
Elektroensefalogram (EEG) digunakan untuk mengukur
aktivitas elektrik otak, mengidentifikasi disritmia, asimetris
atau penekanan irama otak. EEG juga digunakan untuk
mendiagnosis epilepsi, neoplasma, stroke, penyakit
degenartif dan metabolisme.
2. Computerized EEG maping
Computerize EEG maping digunakan untuk mengukur
aktivitas otak.
3. Computerizes Axial Tomography (CT Scan)
CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk
mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang
tengkorak dan otak, mengukur struktur otak untuk
mendeteksi lesi, abses, daerah infark atau aneurisma. CT
Scan juga dapat mengidentifikasi perbedaan anatomi pasien
skizofrenia, gangguan mental organik dan gangguan bipolar.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Magnetic Resonance Imaging (MRI) ialah gambaran
pencitraan bagian badan yang diambil dengan menggunakan
daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut.
Berbeda dengan "CT Scan", MRI tidak menggunakan radiasi
sinar-x dan cocok untuk mendeteksi jaringan lunak, misalnya
kista ataupun tumor yang masih sedikit, tetapi pencitraan
dengan MRI lebih mahal daripada menggunakan CT Scan.
MRI digunakan untuk mengukur anatomi dan status biokimia
otak, mendeteksi edema otak, iskemia, infeksi, neoplasma,
trauma , dan lain-lain.
5. Positron Emission Tomography (PET)
Positron Emission Tomography, yang dikenal dengan
sebutan penggambaran PET adalah pemeriksaan diagnostik
dengan cara visualisasi fungsi tubuh menggunakan
radioisotop yang memancarkan positron. Positron adalah
partikel tipis yang diemisikan dari unsur radioaktif mengalir
pada pasien, yang dikembangkan dengan teknik radioaktif
untuk menganalisa berbagai penyakit dalam kedokteran
nuklir menggunakan instrumen tomographic untuk
menggambarkan sebagian organ tubuh dan memfungsikannya
dengan menyisipkan radio isotop ke dalam sistem vaskuler
dan kemudian mencari konsentrasi dari pengusut dalam
berbagai organ tubuh. PET digunakan untuk mengukur fungsi
otak secara spesifik.
F. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Perawat dapat mengumpulkan data dengan cara observasi,
wawancara, dan pemeriksaan. Data yang didapat dapat
dikelompokkan menjadi :
a. Data fisiologi
1) Peningkatan tekanan darah
2) Ketegangan otot meningkat
3) Peningkatan denyut nadi dan frekuensi nafas
4) Keringat dingin pada telapak tangan
5) Tangan dan kaki dingin
6) Sakit kepala
7) Sakit perut (gangguan percernaan)
8) Suara nada tinggi dan cepat
9) Nafsu makan berubah
10) Frekuensi miksi (proses pengeluaran urine
melalui uretra) bertambah
11) Sukar tidur atau sering terbangun
12) Dilatasi pupil
13) Gula darah meninkat.
b. Data psikososial
1) Cemas dan ragu-ragu
2) Depresi
3) Bosan
4) Penggunaa obat dan zat meningkat
5) Pola makan berubah
6) Perubahan pola tidur dan kegiatan
7) Kelelahan mental
8) Perasaan tida mampu
9) Harga diri kurang dan hilang
10) Mudah tersinggung dan cepat marah
11) Motivasi hilang
12) Menangis
13) Produktivitas dan kualitas kerja menurun
14) Cenderung melakukan kesalahan atau daya
nilai buruk
15) Pelupa dan sering blocking
16) Sering melamun
17) Tidak konsentrasi pada tugas
18) Minat hilang
2. Diagnosa keperawatan
a. Ketidak efektifan koping
b. Ansietas
c. Stress berlebih
3. Intervensi

No Diagnosa NOC NIC


.
1. Ketida efektifan koping Setelah dilakukan asuhan keperawatan NIC
Definisi :Ketidak mampuan selama waktu yang telah ditentukan Pengambilan keputusan
untuk membentuk penilaian diharapkan : a. Menginformasikan pasien alternative
valid tentang stressor, ketidak NOC atau solusi lain penanganan
adekuatan pilihan respon yang a. Pengambilan keputusan
b. Memfasilitasi pasien untuk membuat
dilakukan dan/atau
b. Dukungan sosial keputusan
ketidakmampuan untuk
menggunakan sumber daya Kriteria hasil c. Bantu pasien mengidentifikasi
yang tersedia a. Mengidentifikasi pola koping yang keuntungan, kerugian dan keadaan
efektif
d. Bantu pasien untuk mengidentifikasi
b. Mengungkapkan secara verbal bermacam macam nilai kehidupan
tentang koping yang efektif
e. Bantu pasien identifikasi strategi positif
c. Mengatakan penurunan stress untuk mengatur pola nilai yang dimiliki
d. Klien mengatakan telah menerima Coping enhancement
tentang keadaannya f. Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi
gambaran perubahan yang realistis
e. Mampu mengidentifikasi strategi
tentang koping g. Gunakan pendekatan tenang dan
meyakinkan

h. Hindari pengambilan keputusan pada saat


pasien berada dalam stress berat

i. Berikan informasi actual yang terkait


dengan diagnosis, terapi dan prognosis

2. Ansietas Setelah dilakukan asuhan keperawatan NIC


Definisi : Perasaan tidak dengan waktu yang sudah ditentukan penurunan kecemasan
nyaman atau kekawatiran yang diharapkan: a. Gunakan pendekatan yang menenangkan
samar disertai respon autonom NOC
b. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
( sumber sering kali tidak a. Kontrol kecemasan
pelaku pasien
spesifik atau tidak diketahui
oleh individu ) ; perasaan takut b. Level kecemasan c. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
yang disebabkan oleh dirasakan selama prosedur
c. Koping
antisipasi terhadap bahaya. Hal
d. Pahami prespektif pasien terhadap situasi
ini merupakan isyarat Kriteria Hasil :
stress
kewaspadaan yang a. Klien mampu mengidentifikasi dan
memperingatkan individu akan mengungkapkan gejala cemas e. Temani pasien untuk memberikan
akan adanya bahaya dan keamanan dan mengurangi takut
b. Mengidentifikasi, mengungkapkan
kemampuan individu untuk
dan menunjukkan tehnik untuk f. Dorong keluarga untuk menemani anak
bertindak menghadapi
mengontrol cemas
ancaman g. Lakukan back/ neck rub
c. Vital sign dalam batas normal
h. Dengarkan dengan penuh perhatian
d. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
i. Identifikasi tingkat kecemasan
tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya j. Bantu pasien mengenal situasi yang
kecemasan menimbulkan kecemasan

k. Dorong pasien untuk mengungkapkan


perasaan, ketakutan, persepsi

l. Instruksikan pasien menggunakan teknik


relaksasi

m. Berikan obat untuk mengurangi


kecemasan

3. Stress berlebihan Setelah dilakukan asuhan keperawatan NIC


Definisi : Keadaan ketika selama waktu yang telah ditentukan Penurunan ansietas, modifikasi perilaku,
seorang individu atau diharapkan : peningkatan latihan fisik
kelompok mengalami jumlah NOC Intervensi
dan jenis permintaan/tuntutan Kesejahteraan, Keyakinan Kesehatan, a. Bantu Individu untuk menilai stressor
yang sangat membebani dan Tingkat Ansietas, Koping, Pengetahuan: mereka saat ini sebagai stressor ekstrinsik
berlebihan yang memerlukan Sumber Kesehatan (tidak dapat dikontrol) atau intrinsic
tindakan. Kriteria Hasil : (sebagian dapat dikontrol)
a. Mengidentifikasi stressor yang dapat b. Ajarkan individu cara mengatasi siklus
dikendalikan dan yang tidak dapat stresnya dalam sebuah kemacetan lalu lintas
dikendalikan dan cara mengatasi peningkatan denyut
jantung dan frekuensi pernapasan serta
Mengidentifikasi satu perilaku untuk
perasaan marah yang kuat (Edelman &
mengurangi atau menghilangkan, guna
Mandle 2006)
meningkatkan keberhasilan
b. Minta Individu untuk mendaftar satu
penatalaksanaan stress
atau dua perubahan yang ia inginkan pada
minggu berikutnya

c. Jika terjadi gangguan tidur, lihat


gangguan pola tidur

d. Jika kebutuhan spiritual yang


diidentifikasi kurang, lihat diagnosis distress
spiritual

e. Bantu untuk menetapkan tujuam yang


realistic untuk mencapai gaya hidup yang
lebih seimbang dan meningkatkan kesehatan

f. Berikan pendidikan kesehatan dan


rujuk jika perlu
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
stress itu adalah ketegangan, setiap ketegangan yang
dirasakan oleh seseorang akan mengganggu dan dapat
menimbulkan reaksi fisiologis, emosi, kognitif, maupun perilaku.
Stress tidak bias dihindari sepenuhnya, tapi dapat dikurangi
dengan mengabaikan hal-hal yang tidak begitu penting. Setiap
hari kita mengalami berbagai macam stimulasi yang
menimbulkan stress, diantaranya kemacetan, lingkungan yang
panas, polusi udara, kebisingan, tekanan waktu dan lainnya.
Dengan mengetahui sumber-sumber stress dalam kehidupan, kita
akan lebih mampu mengelola keadaan yang menekan-
menegangkan tersebut secara efektif.
Daftar Pustaka
Lynda Juall Carpenito-Moyet. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Edisi 13.Jakarta : EGC
Carpenito, Lynda Juall, dan Moyet. 2012. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan.Jakarta: EGC
Candra. 2012. Manajemen Stres. Denpasar : Poltekkes Denpasar jurusan
Keperawatan

NANDA. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018 –


2020. Jakarta : EGC

Nursing Intervensions Classification (NIC). (6th ed). (2013). St. Louis


Missouri: Mosby Elsevier Inc.

Nursing Outcomes Classification (NOC). (5th ed). (2013). St. Louis


Missouri: Mosby Elsevier Inc