Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA ANAK JALANAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi

tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa II

Kelompok VI

1. Sri Mulyani (SK117032)


2. Tri Kusumawati (SK117033)
3. Uswatun Hasanah (SK117034)
4. Rani Wulandari (SK117035)
5. Ana Yesika Endang L (SK118006)
6. Nurul Faizah (SK118059)

Program Studi Ilmu Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
2020
KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “Makalah Manajemen
Stress” ini dengan baik. Makalah ini tidak dapat selesai tanpa dukungan
moral dan materi yang diberikan dari berbagai pihak, maka penulis
mengucapkan terimakasih kepada:

1. Allah SWT. Yang telah meridhoi pembuatan makalah dengan baik.

2. Dr. Sih Ayu Watini, SpKj. Mkes dan tim selaku dosen pengampu
Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa II
3. Orang tua penulis yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
4. Teman- teman penulis yang telah memberikan bantuan kepada
penulis.
5. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan
makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari


sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari rekan-
rekan pembaca sangat dibutuhkan demi penyempurnaan makalah ini.

Kendal, 03 April 2020

Kelompok 6
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................i

KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................3
1.3 Tujuan..................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Askep Anak Jalanan ............................................................................................5


2.1.1 Definsi .......................................................................................................5
2.1.2 Etiologi ......................................................................................................6
2.1.3 Manifestasi klinis .......................................................................................7
2.1.4 Penatalaksanaan ........................................................................................8
2.1.5 Pemeriksaan penunjang.............................................................................9
2.1.6 Asuhan keperawatan .................................................................................10

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulaan ........................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan kesehatan mental dan psikiatrik adalah suatu
bidang spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori
perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri
secara terapeutik sebagai kiatnya (ANA). Semuanya didasarkan
pada diagnosis dan intervensi dari adanya respons individu akan
masalah kesehatan mental yang actual maupun potensial.
Pelayanan yang menyeluruh difokuskan pada pencegahan
penyakit mental, menjaga kesehatan, pengelolaan atau merujuk
dari masalah kesehatan fisik dan mental, diagnosis dan intervensi
dari gangguan mental dan akibatnya, dan rehabilitasi.
Keperawatan jiwa / mental diharapkan mampu mengkaji secara
komprehensif, menggunakan ketrampilan memecahkan masalah
secara efektif dengan pengambilan keputusan klinik yang
komplek (advokasi), melakukan kolaborasi dengan profesi lain,
peka terhadap issue yang mencakup dilema etik, pekerjaan yang
menyenangkan, tanggung jawab fiskal. Kesehatan Jiwa adalah
Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan
hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Keperawatan jiwa bukan hanya berfokus pada individu
dengan gangguan jiwa melainkan juga terhadap individu dengan
masalah psikososial dan kejiwaan. Salah satu individu dengan
masalah psikososial adalah anak jalanan dan gelandangan.
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi anak jalanan ?
2. Apa etiologi anak jalanan ?
3. Apa manifestasi klinis anak jalanan?
4. Apa penatalaksanaan anak jalanan ?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak jalanan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi anak jalanan
2. Untuk mengetahui etiologi ana jalanan
3. Untuk mengathui manifestasi klinis anak jalanan
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan anak jalanan
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak jalanan
BAB II
KONSEP
A. Definisi
1. Definisi gelandangan
Gelandangan sebagai entitas sosial merupakan orang-orang
yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma
kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak
mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah
tertentu dan hidup mengembara di tempat umum (PP No. 31
tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan
Pengemis).
2. Definisi anak jalanan
Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah
istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai
kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan
dengan keluarganya. Menurut Departmen Sosial RI (1999),
pengertian tentang anak jalanan adalah anak-anak di bawah usia
18 tahun yang karena berbagai faktor, seperti ekonomi, konflik
keluarga hingga faktor budaya yang membuat mereka turun ke
jalanan.
UNICEF memberikan batasan tentang anak jalanan, yaitu
Street Child are those who have abandoned their homes, school
and immediate communities before they are sixteen years of
age, and have drifted into a nomadic streat life. Berdasarkan hal
tersebut, maka anak jalanan adalah anak-anak berumur di bawah
16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah, dan
lingkungan masyarakat terdekantnya, larut dalam kehidupan
berpindah-pindah di jalan raya.
3. Definisi anak jalanan dan gelandangan psikotik
Gelandangan psikotik adalah penderita gangguan jiwa
kronis yang keluyuran di jalan-jalan umum, sehingga dapat
mengganggu ketertiban umum dan merusak keindahan
lingkungan.

B. Etiologi
Di Indonesia penyebab meningkatnya anak jalanan dipicu oleh
krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Pada era tersebut selain
masyarakat mengalami perubahan secara ekonomi, juga menjadi
masa transisi pemerintahan yang menyebabkan begitu banyak
permasalahan sosial muncul. Secara langsung dampak krisis
ekonomi memang terkait erat dengan terjadinya peningkatan jumlah
anak jalanan di beberapa kota besar di Indonesia. Hal ini akhirnya
memberikan ide-ide menyimpang pada lingkungan sosial anak untuk
mengekploitasi mereka secara ekonomi, salah satunya dengan
melakukan aktivitas di jalanan.
Abu Huraerah (2006:78) menyebutkan beberapa penyebab
munculnya anak jalanan, antara lain:
1. Orang tua mendorong anak bekerja dengan alasan untuk
membantu ekonomi keluarga.
2. Kasus kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak oleh orang
tua semakin meningkat sehingga anak lari ke jalanan.
3. Anak terancam putus sekolah karena orang tua tidak mampu
membayar uang sekolah.
4. Makin banyak anak yang hidup di jalanannkarena biaya
kontrak rumah mahal/meningkat.
5. Timbulnya persaingan dengan pekerja dewasa di jalanan,
sehingga anak terpuruk melakukan pekerjaan berisiko tinggi
terhadap keselamatannya dan eksploitasi anak oleh orang
dewasa di jalanan.
6. Anak menjadi lebih lama di jalanan sehingga timbul masalah
baru.
7. Anak jalanan jadi korban pemerasan, dan eksploitasi seksual
terhadap anak jalanan perempuan.
Dengan situasi tersebut semestinya keluarga menjadi benteng
utama untuk melindungi anak anak mereka dari eksploitasi ekonomi.
Namun faktanya berbeda, justru anak-anak dijadikan ”alat” bagi
keluarganya untuk membantu mencari makan. Orang tua sengaja
membiarkan anakanaknya mengemis, mengamen, berjualan, dan
melakukan aktivitas lainnya di jalanan. Pembiaran ini dilakukan agar
mereka memeroleh keuntungan yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi keluarga yang
tergolong miskin, membuat dan memaksa anak jalanan untuk tetap
“survive” dengan hidup di jalanan. Dapat dikatakan bahwa
keberadaan mereka di jalanan adalah bukan kehendak mereka, tetapi
keadaan dan faktor lingkungan luar termasuk keluarga yang
mendominasi seorang anak menjadi anak jalanan.
C. Manifestasi klinis
1. Orang dengan tubuh yang kotor sekali,
2. Rambutnya seperti sapu ijuk
3. Pakaiannya compang-camping dengan membawa bungkusan
besar yang berisi macam-macam barang
4. Bertingkah laku aneh seperti tertawa sendiri
5. Sukar diajak berkomunikasi
6. Pribadi tidak stabil
7. Tidak memiliki kelompok

D. Penatalaksanaan
Anak jalanan pada umumnya berusia 6 hingga 18 tahun.
Diantara mereka ada yang bekerja dan ada yang tidak, ada yang
mempunyai hubungan dengan keluarga dan ada yang tidak sama
sekali. Masing-masing mereka itu memiliki strategi khusus untuk
bertahan hidup. Anak jalanan itu mobilitasnya tinggi, mereka sering
berpindah. Mereka berada di ruas jalan, seperti simpang jalan, hotel,
terminal, stasiun, tempat ramai.
Anak jalanan pada umumnya berasal dari keluarga yang tidak
memiliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian. Pada umumnya
orang tua anak jalanan berpendidikan rendah. Sebagai akibat dari
kesalahan keluarga dalam mendidik anak, maka anak jalanan tidak
jarang mengganggu ketentraman dan keselamatan orang lain dan
dirinya sendiri. Anak jalanan ada yang putus komunikasi dengan
keluarganya, ada yang ditinggalkan oleh keluarganya, ada yang
melarikan diri dari keluarganya, dan ada pula yang orang tuanya
meninggal dunia atau di hukum.
Anak jalanan waktunya habis untuk bekerja, akibat kelelahan
sehingga sulit belajar dan akhirnya tinggal kelas atau putus sekolah.
Mereka yang putus sekolah kehilangan hak belajarnya dan pada
giliranya kehilangan kesempatan pekerjaan yang layak. Anak jalanan
yang tidur di tempat umum sering mengalami pelecehan seksual dari
lawan atau sesama jenis kelamin. Mereka berpeluang melakukan
tindakan negatif seperti: mencopet, berjudi, mabuk, merokok, atau
bergaul dengan pelacur. Anak jalanan yang mengontrak kamar
dengan sesama anak jalanan, biasanya mereka merasa bebas untuk
melakukan apa saja dan cuek kepada tetangga. Makin lama anak
berada di jalanan dalam menginternalisasi nilai-nilai jalanan, yaitu
siapa saja yang kuat dialah yang menang. Anak jalanan yang tidak
berkelompok mendapatkan penganiayaan.
Departemen sosial mendejaskan bahwa penanganan anak jalanan
dilakukan dengan metode dan teknik pemberian pelayanan yang
meliputi:
1. Street base
Street based merupakan pendekatan di jalanan untuk
menjangkau dan mendampingi anak di jalanan. Tujuannya
yaitu mengenal, mendampingi anak, mempertahankan relasi
dan komunikasi, dari melakukan kegiatan seperti: konseling,
diskusi, permainan, literacy dan lain-lain. Pendampingan di
jalanan terus dilakukan untuk memantau anak binaan dan
mengenal anak jalanan yang baru. Street based berorientasi
pada menangkal pengaruh-pengaruh negatif dan membekali
mereka nilai-nilai dan wawasan positif.
2. Community based
Community based adalah pendekatan yang melibatkan
keluarga dan masyarakat tempat tinggal anak jalanan.
Pemberdayaan keluarga dan sosialisasi masyarakat,
dilaksanakan dengan pendekatan ini yang bertujuan
mencegah anak turun ke jalanan dan mendorong penyediaan
sarana pemenuhan kebutuhan anak. Community based
mengarah pada upaya membangkitkan kesadaran, tanggung
jawab dan partisipasi anggota keluarga dan masyarakat
dalam mengatasi anak jalanan.
3. Bimbingan sosial
Metode bimbingan sosial untuk membentuk kembali sikap
dan perilaku anak jalanan sesuai dengan norma, melalui
penjelasan dan pembentukan kembali nilai bagi anak, melalui
bimbingan sikap dan perilaku sehari-hari dan bimbingan
kasus untuk mengatasi maslaah kritis.
4. Pemberdayaan
Metode pemberdayaan dilakukan untuk meningkatkan
kapasitas anak jalanan dalam memenuhi kebutuhannya
sendiri. Kegiatannya berupa pendidikan, keterampilan,
pemberian modal, alih kerja dan sebagainya.
E. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
a. Faktor predisposisi
1) Genetik
2) Neurobiologis : penurunan volume otak dan perubahan
sistem neurotransmiter.
3) Teori virus dan infeksi
b. Faktor presipitasi
1) Biologis
2) Sosial kutural
3) Psikologis
c. Penilaian terhadap stressor

Respon Adaptif Respon Maladaptif


- Berfikir logis - Pemikiran - Gangguan
- Persepsi akurat sesekali pemikiran
- Emosi konsisten - Terdistorsi - Waham/halusinas
dengan - Ilusi i
pengalaman - Reaksi - Kesulitan
emosi pengolahan
- Perilaku sesuai berlebih - Emosi
- Berhubungan Dan tidak - Perilaku kacau
sosial bereaksi dan isolasi social
- Perilaku
aneh
- Penarikan
tidak bisa
berhubung
an sosial
d. Sumber koping
1) Disonasi kognitif ( gangguan jiwa aktif )
2) Pencapaian wawasan
3) Kognitif yang konstan
4) Bergerak menuju prestasi kerja

e. Mekanisme koping
1) Regresi( berhubungan dengan masalah dalam proses
informasi dan pengeluaran sejumlah besar tenaga dalam
upaya mengelola anxietas)
2) Proyeksi ( upaya untuk menjelaskan presepsi yang
membingungkan dengan menetapkan tanggung jawab
kepada orang lain)
3) Menarik diri
4) Pengingkaran

2. Diagnosa keperawatan
1) Harga Diri Rendah
2) Resiko perilaku kekerasan
3) Defisit Perawatan Diri

3. Interfensi
a. Diagnosa keperawatan : Harga diri rendah
1) Tujuan umum : Klien tidak terjadi gangguan interaksi
sosial, bisa berhubungan dengan orang lain dan
lingkungan.
2) Interfensi:
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya
dengan tindakan :
i. Bina hubungan saling percaya : salam
terapeutik, perkenalan diri,
ii. Jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan
yang tenang,
iii. Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan
topik pembicaraan)
iv. Beri kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaannya
v. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
vi. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah
seseorang yang berharga dan bertanggung
jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki dengan tindakan :
i. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
ii. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap
bertemu klien,
iii. Utamakan memberi pujian yang realistis
iv. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki
c) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat
digunakan dengan tindakan:
i. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
ii. Diskusikan pula kemampuan yang dapat
dilanjutkan setelah pulang ke rumah
d) Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dengan
tindakan:
i. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
ii. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi
kondisi klien
iii. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang
boleh klien lakukan
b. Diagnosa keperawatan : Resiko perilaku kekerasan/Perilaku
kekerasan
1) Tujuan umum : Klien terhindar dari mencederai diri,
orang lain dan lingkungan
2) Intervensi :
a) Klien dapat membina hubungan saling peraya
dengan tindakan:
i. Bina hubungan saling percaya : salam
terapeutik, empati, sebut nama perawat dan
jelaskan tujuan interaksi.
ii. Panggil klien dengan nama panggilan yang
disukai.
iii. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak
menantang.
b) Klien dapat mengidentifikasi tindakan kekerasan
dengan tindakan:
i. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
ii. Bantu klien mengungkapkan perasaan
jengkel / kesal.
iii. Dengarkan ungkapan rasa marah dan
perasaan bermusuhan klien dengan sikap
tenang.
c) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku
kekerasa dengan tindakan:
i. Anjurkan klien mengungkapkan yang
dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
ii. Observasi tanda perilaku kekerasan.
iii. Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel
/ kesal yang dialami klien
d) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
yang biasa dilakukan dengan tindakan:

i. Anjurkan mengungkapkan perilaku


kekerasan yang biasa dilakukan.
ii. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku
kekerasan yang biasa dilakukan.
iii. Tanyakan "apakah dengan cara yang
dilakukan masalahnya selesai?"
e) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
dengan tindakan:

i. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang


dilakukan.
ii. Bersama klien menyimpulkan akibat dari
cara yang digunakan.
iii. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara
baru yang sehat.
f) Klien dapat mengidentifikasi seara konstruktif dalam
berespon terhadap kemarahan dengan tindakan:
i. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang
sehat.
ii. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik :
tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah
raga, memukul bantal / kasur.
iii. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang
marah atau kesal / tersinggung
iv. Secara spiritual : berdo'a, sembahyang,
memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
c. Diagnosa keperawatan : Defisit perawatan diri
1) Tujuan umum : Pasien tidak mengalami defisit
perawatan diri kebersihan diri, berdandan, makan,
BAB/BAK.
2) Intervensi :
a) Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan
diri
i. Menjelasan pentingnya menjaga
kebersihan diri.
ii. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga
kebersihan diri
iii. Menjelaskan cara-cara melakukan
kebersihan diri
iv. Melatih pasien mempraktekkan cara
menjaga kebersihan diri
b) Melatih pasien berdandan/berhias
i. Untuk pasien laki-laki latihan meliputi :
Berpakaian, Menyisir rambut, Bercukur
ii. Untuk pasien perempuan latihan
meliputi : Berpakaian, Menyisir,
Berukur.
c) Melatih pasien makan secara mandiri
i. Menjelaskan cara mempersiapkan
makan
ii. Menjelaskan cara makan yang tertib
iii. Menjelaskan cara merapihkan peralatan
makan setelah makan
iv. Praktek makan sesuai dengan tahapan
makan yang baik
d) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan
kemampuan dengan tindakan:
i. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah
direncanakan
ii. Beri pujian atas keberhasilan klien
iii. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
e) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang
ada dengan tindakan:
i. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang cara merawat klien
ii. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien
dirawat
iii. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di
rumah
iv. Beri reinforcement positif atas keterlibatan
keluarga
f) Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara
mandiri
i. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
ii. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah
BAB dan BAK
iii. Menjelaskan cara membersihkan tempat
BAB dan BAK
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah
umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan
ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan
keluarganya. Menurut Departmen Sosial RI (1999), pengertian
tentang anak jalanan adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun yang
karena berbagai faktor, seperti ekonomi, konflik keluarga hingga
faktor budaya yang membuat mereka turun ke jalanan.
Gelandangan psikotik adalah penderita gangguan jiwa kronis yang
keluyuran di jalan-jalan umum, sehingga dapat mengganggu
ketertiban umum dan merusak keindahan lingkungan.
Daftar Pustaka

Abu Huraerah. (2006). Kekerasan Terhadap Anak, Nuansa: Bandung.

Departemen Sosial RI. (1999). Pedoman Perlindungan Anak. Jakarta :


Direktorat