Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi menular yang di sebabkan oleh
infeksi menular oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Sumber penularan yaitu
pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya. Penyakit ini
apabila tidak segera diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan
komplikasi berbahaya hingga kematian (Kemenkes RI, 2015). Tuberkulosis adalah
penyakit infeksius terutama menyerang parebkim paru. TB paru adalah suatu penyakit
yang menular yang disebabkan oleh bacil Mycobacterium tuberculosis yang merupakan
salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah. Sebagian besar bakteri M.
tuberculosis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone dan selanjutnya mengalami
proses yang dikenal sebagai focus primer (Wijaya dan Putri, 2013).

Indonesia dengan penduduk yang banyak juga memiliki jumlah orang penderita
tuberculosis (TBC) yang besar, termasuk lima besar di dunia. Setiap tahun sekitar 850
ribu orang dengan TBC di Indonesia, dan 13 orang meninggal akibat TBC setiap jamnya
(Kemenkes RI, 2019). Tingginya masalah TBC di Indonesia disebabkan karena
penemuan kasus dan pengobatannya secara tuntas kalah cepat dengan penyebaran
penyakitnya. Sebelum datang datang ke pelayanan kesehatan yang tepat, banyak orang
mencari pengobatan diluar layanan kesehatan, termasuk mengobati sendiri.

Kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) di Jawa Tengah diperkirakan telah mencapai


100.000 jiwa, dan saat ini baru menemukan sekitar 50.000 kasus atau 50% dari perkiraan
jumlah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis itu. Penduduk Jawa
Tengah yang berjumlah sekitar 35 juta jiwa itu, setiap 1 juta penduduk ada sekitar 1.500
orang yang terserang. Penyebaran Tuberkulosis (TBC) di Jawa Tengah menyebar di
berbagai daerah baik perkotaan maupun pedesaan (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2019).
Berdasarkan Global Tuberkulosis Control tahun 2009 (data tahun 2007), data
menunjukkan angka prevalensi TB sebesar 244 per 100.000 penduduk (565.614 orang)
sedangkan data Case Fatality Rate (CFR)/kematian akibat TB adalah sebesar 39 per
100.000 penduduk (250 orang/hari). Pada tingkat provinsi, CDR tertinggi terdapat di
Provinsi Sulawesi utara (85,2%), diikuti DKI Jakarta (81%) dan Banten sebesar 77,7%
(Kemenkes, 2009). Data terbaru Kemenkes (2010), Jawa Tengah menempati urutan ke-
19 dari 33 provinsi untuk angka penemuan suspek TB di seluruh Indonesia.
Penemuan kasus TB dengan BTA Positif baru di Jawa Tengah tahun 2007
sebanyak 17.318 penderita (Case Detection Rate/CDR, 49,82%), dari penemuan jumlah
kasus tersebut mengalami penurunan sebesar 1,1% jika dibandingkan dengan penemuan
kasus tahun 2005 yang mencapai 50,92% (Dinkes Jawa tengah, 2007). Data terbaru tahun
2010 angka kejadian TB Paru di Provinsi Jawa Tengah sebesar 107/100.000 penduduk.
CDR per kabupaten/kota yang capaiannya dibawah rata-rata sebanyak 18
kabupatendengan CDR terendah berada di Kabupaten Boyolali. Angka kematian (CFR)
TB Paru sebesar 2,3% dibawah target Jawa Tengah yaitu 3%, kondisi ini disebabkan oleh
kesadaran penderita untuk minum obat secara teraturmengalami peningkatan dilihat dari
capaian kesembuhan sebesar 90,57% (Bapeda Jawa Tengah, 2013)
Penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kendal terbilang masih
cukup tinggi. Pada tahun 2018 telah menginfeksi sebanyak 4.385 jiwa di Kabupaten
Kendal. Hanya 1.197 jiwa yang melakukan pengobatan dan dinyatakan sembuh sebanyak
309 jiwa. Pada triwulam pertama tahun 2019 jumlah suspect (terduga( mengalami TBC
sebanyak 901 jiwa yang terdiri dari 410 pria dan 491 wanita (Dinkes Kabupaten Kendal,
2019).
Dari data-data tersebut maka diperlukan edukasi dengan melakukan pendidikan
kesehatan tentang pengetahuan, perilaku, sikap dan gaya hidup dalam mencegah
penularan Tuberkulosis ke masyarakat dari berbagai daerah perkotaan maupun perdesaan.
Pengetahuan masyarakat tentang TBC
Tokoh masyarakat dan kader kesehatan diketahui bahwa ada perbedaan konsep
sehat dan sakit di masyarakat, dimana pengertian sehat menurut sebagian besar
masyarakat adalah jika kondisi fisik seseorang tidak terganggu/stabil dan bisa
melaksanakan pekerjaaannya sehari-hari. Pengertian sakit menurut sebagian besar
informan adalah di mana kondisi fisik seseorang sudah parah dan tidak bisa lagi
melakukan aktifitas sehari hari.
Perilaku masyarakat berkaitan TBC
Sebagian masyarakat kurang peduli dengan gejala yang dialaminya dengan
membiarkan batuk yang lebih dari tiga minggu dan tidak menganggap hal tersebut
sebagai penyakit yang serius, sehingga tidak segera mencari upaya pengobatan.
Gaya hidup pasien TBC
gaya hidup tidak sehat yang memicu timbulnya faktor risiko penyakit tidak menular
masih sering ditemui yaitu
1. Banyaknya penderita yang masih merokok
2. kurang olah raga
3. pernah mengalami stres
4. pola tidur kurang baik
5. minuman keras (alkohol)
6. sering keluar dimalam hari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dapat dirumusan adalah
“Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang sikap dan gaya hidup dalam mencegah
penularan tuberculosis di Kecamatan Kendal”.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang sikap dan gaya hidup
dalam mencegah penularan tuberculosis di Kecamatan Kendal.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang tuberculosis
b. Untuk mengetahui sikap seperti apa untuk mencegah penularan tuberculosis
c. Untuk mengetahui gaya hidup untuk mencegah penularan tuberculosis
D. Manfaat
1. diharapkarapkan seluruh masyarakat di Kecematan Kendal dapat menerapkan sikap
dan gaya hidup dalam mencegah penularan tuberculosis
2. Penderita tuberculosis yang ada di wilayah Kendal berkurang
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Tuberculosis
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan karena
kuman TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. Mayoritas kuman TB menyerang paru,
akan tetapi kuman TB juga dapat menyerang organ Tubuh yang lainnya. Tuberkulosis
adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
Tuberculosis) (Werdhani, 2011)
Tuberkulosis atau TB adalah penyakit infektius yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
basil mikrobakterium tuberkulosis yang merupakan salah satu penyakit saluran
pernapasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkulosis masuk ke dalam
jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal
sebagai focus primer dari ghon (Hood Alsagaff, 1995: 73) (Wijaya, Andra Saferi, Skep
dan Yessie Mariza Putri, Skep.2013.Keperawatan Medikal Bedah Jilid
I.Yogyakarta:Nuha Medika)
Kuman Tuberkulosis ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan
terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Bakteri Tahan
Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh
kuman ini dapat dormant tertidur lama selama beberapa tahun.
B. Etiologi
Sumber penularan penyakit Tuberkulosis adalah penderita Tuberkulosis BTA
positif pada waktu batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di
udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman Tuberkulosis masuk ke
dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman Tuberkulosis tersebut dapat menyebar
dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang
penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi
derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil
pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak
menular. Seseorang terinfeksi Tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam
udara dan lamanya menghirup udara tersebut
C. Patofisiologi
Tempat masuk kuman Mycobacterium Tuberculosis adalah saluran pernafasan,
saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis (TBC)
terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman
basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Tuberkulosis adalah penyakit yang
dikendalikan oleh respon imunitas dengan melakukan reaksi inflamasi bakteri
dipindahkan melalui jalan nafas, basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus
biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil, gumpalan
yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkhus dan
tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat
tersebut dan memfagosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. Setelah
hari-hari pertama leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami
konsolidasi dan timbul gejala Pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh
dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga
berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembangbiak di dalam sel. Basil juga
menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar getah bening regional. Makrofag
yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga
membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini membutuhkan
waktu 10 – 20 hari. Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat
dan seperti keju, isi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Bagian ini disebut dengan lesi
primer. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya
yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan
granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan
membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Ghon dan gabungan terserangnya
kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Respon lain
yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas
kedalam bronkhus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan dari
dinding kavitas akan masuk kedalam percabangan trakheobronkial. Proses ini dapat
terulang kembali di bagian lain di paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring,
telinga tengah, atau usus. Lesi primer menjadi rongga-rongga serta jaringan nekrotik
yang sesudah mencair keluar bersama batuk. Bila lesi ini sampai menembus pleura maka
akan terjadi efusi pleura tuberkulosa.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme
yang lolos melalui kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil,
yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran
ini dikenal sebagai penyebaran limfo hematogen, yang biasanya sembuh sendiri.
Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan
Tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga
banyak organisme masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh.
Komplikasi yang dapat timbul akibat Tuberkulosis terjadi pada sistem pernafasan dan di
luar sistem pernafasan. Pada sistem pernafasan antara lain menimbulkan pneumothoraks,
efusi pleural, dan gagal nafas, sedang diluar sistem pernafasan menimbulkan
Tuberkulosis usus, Meningitis serosa, dan Tuberkulosis milier (Kowalak, 2011).

D. Tanda dan Gejala Tuberculosis


Tanda dan gejala yang sering terjadi pada Tuberkulosis adalah batuk yang tidak spesifik
tetapi progresif. Penyakit Tuberkulosis paru biasanya tidak tampak adanya tanda dan
gejala yang khas. Biasanya keluhan yang muncul adalah :
1. Demam terjadi lebih dari satu bulan, biasanya pada pagi hari.
2. Batuk, terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/
mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulent
(menghasilkan sputum)
3. Sesak nafas, terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru
4. Nyeri dada. Nyeri dada ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang
sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
5. Malaise ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot
dan keringat di waktu di malam hari

E. Penularan
Penyakit TB Paru dapat menyebar dari kuman yang berterbangan di udara dan ada
juga yang jatuh pada lantai sehingga dapat terhirup, baik kuman atau basil TB Paru akan
bersarang dan berkembang biak. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung
kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat
terinfeksi kalau droplet terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TB masuk
ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke
bagian tubuh lainnya melalui system peredaran darah, system saluran limfe, saluran nafas
atau penyebaran langsung kebagian-bagian tubuh lainnya. Salah satu faktor yang
mempengaruhi seseorang menjadi penderita TB Paru adalah daya tahan tubuh yang
rendah, diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS (Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis, 2011, 1). Tetapi tidak semua orang yang dimasuki basil
TB Paru pasti sakit TB paru karena daya tahan tubuh yang baik memungkinkan terhindar
dari sakit TB paru. Daya tahan tubuh yang kuat dapat terbentuk jika gizi makanan, gerak
badan dan istrahat yang cukup. Atau sejak bayi semua anak harus diberi imunisasi BCG
yang berfungsi untuk mencegah tertular TB Paru.
F. Pengetahuan masyarakat tentang TBC
Tokoh masyarakat dan kader kesehatan diketahui bahwa ada perbedaan konsep
sehat dan sakit di masyarakat, dimana pengertian sehat menurut sebagian besar
masyarakat adalah jika kondisi fisik seseorang tidak terganggu/stabil dan bisa
melaksanakan pekerjaaannya sehari-hari. Pengertian sakit menurut sebagian besar
informan adalah di mana kondisi fisik seseorang sudah parah dan tidak bisa lagi
melakukan aktifitas sehari hari. Dengan kata lain bahwa selagi mereka bisa melaksanakan
pekerjaannya sehari-hari, maka tidak dikatakan sakit. Sebagian masyarakat sudah
mengetahui dan menganggap penyakit TB Paru merupakan penyakit menular dan
berbahaya yang sangat memalukan, sehingga penyakit itu perlu untuk dirahasiakan.
Sedangkan sebagian masyarakat lainnya beranggapan bahwa penyakit TB Paru tidak
berbahaya dan merupakan penyakit bias. Karena kesibukannya mereka berlama-lama/
membiarkan saja batuk yang dirasakan. Selanjutnya penyakit TB Paru/TBC menurut
sebagian masyarakat adalah penyakit akibat guna-guna/kiriman dari perbuatan manusia
dan setan. Penyakit TB Paru didaerah ini disebut dengan batuk songkah atau batuk 100
hari dan ini biasanya karena keturunan. Penyakit inijuga disebut dengan manciok
angoknyo (batuk kering), tamakan , isak, dan penyakit kotor sebagai akibat dari
memakan sesuatu yang bukan haknya. Penyakit ini biasanya ditemukan kelompok
masyarakat yang secara ekonomi kemampuannya masih kurang. Gejala penyakit TB Paru
menurut sebagian masyarakat adalah batuk-batuk yang tidak sembuhsembuh lebih dari
tiga minggu, kadang-kadang sesak nafas, badan panas dingin pada malam hari, nafsu
makan berkurang, dan berat badan makin lama makin menurun. Masyarakat lainnya
menyatakan bahwa gejala penyakit TB Paru adalah batuk yang mengeluarkan darah dan
sesak nafas. Penyebab dari penyakit tersebut menurut persepsi sebagian masyarakat
adalah karena kuman yang ditularkan oleh penderita TB Paru, kiriman/guna-guna atau
magic (perbuatan manusia dan setan), dan karena faktor keturunan (dari orang tua). Hal
lain menurut informan yang juga dianggap menjadi penyebab penyakit TB Paru adalah
kebiasaan keluar malam (duduk di kedai) atau kena angin malam, merokok, minum kopi
dan alkhohol, lingkungan rumah yang kurang bersih, bekerja di lingkungan yang banyak
mengeluarkan debu, bekerja terlalu berat dan makan tidak teratur Cara penularan
penyakit TB Paru adalah melalui pernafasan dan percikan air ludah! percikan dahak dari
penderita. Lebih lanjut dikatakan bahwa biasanya penderita akan menghindar dari orang
lain, karena penyakitnya termasuk penyakit menular. Sebagian besar masyarakat
memiliki kepercayaan untuk kesembuhan penyakitnya pada tenaga kesehatan, karena
mereka berkeyakinan bahwa penyakit TB Paru dapat disembuhkan oleh tenaga
kesehatan. Namun sebagian kecil masyarakat lainnya memiliki kepercayaan kesembuhan
penyakitnya melalui jasa pengobat tradisional, dengan alasan bahwa ada beberapa gejala
penyakit yang hanya dapat disembuhkan oleh tenaga pengobat tradisional (penyakit
berkaitan dengan hal-hallkekuatan di luar medis).
G. Perilaku masyarakat berkaitan TBC
Sebagian masyarakat kurang peduli dengan gejala yang dialaminya dengan
membiarkan batuk yang lebih dari tiga minggu dan tidak menganggap hal tersebut
sebagai penyakit yang serius, sehingga tidak segera mencari upaya pengobatan. Dalam
hal ini biasanya mereka hanya dengan meminum obat yang dibeli di warung, dan jika
tidak sembuh dan cukup parah barulah mereka akan mencari pengobatan ke pelayanan
kesehatan atau pengobat tradisional. Sikap keluarga dan masyarakat sekitar tentang
penyakit TB Paru, menurut sebagian penderita biasa-biasa saja, di mana dalam pergaulan
sehari-hari baik bertetangga maupun pergaulan dengan teman sebaya tetap menunjukkan
hal yang wajar. Namun demikian, ada sebagian keluarga penderita yang melakukan
pemisahan pemakaian alat-alat untuk makan dan minum. Begitu juga dengan lingkungan
masyarakat/ pergaulan penderita ada juga yang berupaya menghindari penderita untuk
berkomunikasi.
H. Gaya hidup pasien TBC
gaya hidup tidak sehat yang memicu timbulnya faktor risiko penyakit tidak menular
masih sering ditemui yaitu
7. Banyaknya penderita yang masih merokok
8. kurang olah raga
9. pernah mengalami stres
10. pola tidur kurang baik
11. minuman keras (alkohol)
12. sering keluar dimalam hari.
I. Sikap Dan Gaya Hidup Untuk Mencegah Penularan Tuberculosis
1. pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki akan
memberikan kontribusi terhadap terbentuknya sikap yang baik.
2. Memberikan dukungan dan motivasi
3. Menganjurkan penderita tuberculosis untuk menutup mulut pada waktu bersin dan
batuk
4. Tidak meludah di sembarang tempat
5. Perilaku hidup bersih dan sehat
6. Bagi penderita tuberculosis menggunakan peralatan makan dan minum yang terpisah
7. Memperhatikan lingkungan rumah, cahaya dan ventilasi yang baik karena ventilasi
yang kurang baik meningkatkan kelembapan ruangan, pada kondisi ini pertumbuhan
bakteri akan meningkat yang ditambah dengan kurangnya cahaya matahari pada
ruangan.
J. Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan
adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok, atau individu dapat
memperoleh Pendidikan kesehatan yang lebih baik. Pendidikan Kesehatan tersebut pada
akhirnya diharapkan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku yang sehat (Infanti, 2011).
Pada prinsipnya upaya pencegahan dan pemb turantasan berkulosis dilakukan
dengan cara yaitu diantarannya: pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang
penyakit TBC, bahaya-bahanya, cara penularannya. Pencegahan dengan vaksinasi B.C.G
pada anak-anak umur 0–14 tahun, chemoprophylactic dengan I.N.H pada keluarga,
penderita atau orang-orang yang pernah kontak dengan penderita dan menghilangkan
sumber penularan dengan mencari dan mengobati semua penderita dalam masyarakat.
Adapun juga upaya pencegahan yaitu pencahayaan rumah yang baik, Menutup mulut saat
batuk, Tidak meludah di sembarang tempat, Menjaga kebersihan lingkungan dan alat
makan
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian
Studi ini menggunakan desain kuasi eksperimen yaitu dengan memberikan pendidikan
kesehatan tentang sikap dan gaya hidup untuk mencegah tuberculosis
B. Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kendal pada bulan Mei
hingga Juli 2020, dengan alasan :
1. Banyak kasus tb paru di Kecamatan Kendal
2. Tersediamya sampel yang mencukupi
3. Belum pernah dilakukan penelitian terkait
4. Dekat dengan domisili penulis
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah warga Kecamatan Kendal yaitu sebanyak 25 orang
2. Sampel
Untuk pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik purposive
sampling digunakan untuk memilih sampel yang berjumlah 25 orang yang ada di
Kecamatan Kendal
D. Analisa data
Sebelum data dianalisis maka dilakukan pengolahan data dengan langkah- langkah
sebagai berikut
1. Editing data (Penyuntingan Data)
Hasil memberikan pendidikan dikumpulkan melalui kuesioner perlu disunting (edit)
terlebih dahulu. Kalau ternyata masih ada data atau infomasi yang tidak lengkap,
dan tidak mungkin dilakukan wawancara ulang, maka kusioner tersebut dikeluarkan
(droup out).
2. Coding
Coding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari responden ke dalam
kategori yang telah ditetapkan. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara
memberikan tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.
3. Entry data (Memasukkan Data)
Yakni mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode atau kartu kode sesuai
dengan jawaban masing-masing pertanyaan.
4. Tabulating
Yakni membuat table-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau yang
diinginkan oleh peneliti.

Analisa data merupakan langkah selanjutnya dari data mentah untuk memperoleh
makna yang bermanfaat bagi pemecahan masalah peneelitian. Dalam tahap ini data
diolah dan dianalisis dengan teknik-teknik tertentu. Dalam pengolahan ini mencakup
tabulasi data dan perhitungan-perhitungan statistic, bila diperlukan uji statistik.
Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variable penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya
menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap-tiap variable. Analisis
univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi
pengetahuan, sikap, dan gaya hidup untuk mencegah tuberculosis di wilayah
kecamatan Kendal tahun 2020.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua
variable, yaitu variable independen terhadap variable dependen. Kegunaan
analisis bivariat untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara
dua variable.
c. Analisa Multivariat
Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh beberapa variabel
bebas secara bersama-sama terhadap variabel pencegahan penularan tuberculosis
sehingga diketahui variabel bebas yang paling dominan pengaruhnya