Anda di halaman 1dari 24

ASKEP PADA PASIEN TERMINAL ILLNES (PALLIATIVE CARE)

PADA ODHA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan


HIV/AIDS

Disusn oleh :

kelompok 3

Ahmad Syaifudin SK117002

Dian Fazira K. SK117008

IfahDwiRahayu SK117014

NadyaYulistiana SK117022

RiniPuji A. SK117028

UswatunHasanah SK117034

Program Sarjana Studi Ilmu Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Maret 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat
Rahmat dan Karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan
judul“Askep Pada Pasien Terminal Illnes (Palliative Care) Pada Odha”
makalah ini merupakan makalah yang disiapkan untuk membantu kami dalam
pembelajaran.

Makalah ini disusun berdasarkan materi-materi yang kami cari dari


berbagai sumber. Ucapan terimakasihpun kami ucapkan kepada kelompok
kami yang telah bekerjasama untuk pembuatan makalah ini. Serta sumber-
sumber dari buku-buku yang ada diperpustakaan. Kami menyadari bahwa
makalah ini belum sempurna, masih banyak kekurangan yang harus kami
perbaiki, oleh karena itu kami meminta saran dan kritikannya yang
membangun dari pembaca semua untuk menyempurnakan makalah ini.

Kendal, 16 maret 2020


Penyusun

Kelompok 3

ii
DAFTAR ISI

Judul halaman ..............................................................................................i


Kata penngantar ...........................................................................................ii
Daftar isi .......................................................................................................iii
Bab I (Pendahuluan)
A. Latarbelakang ............................................................................1
B. Tujuan .......................................................................................1
BAB II (Studi Pustaka)
A. Paliatife Care ....................................................................................2
B. Asuhan Keperawatan pasien illnes pada ODHA .............................4
BAB IV (penutup)
A. Kesimpulan .....................................................................................14
Daftar Pusataka

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah


sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya
sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virusnya
Human Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus yang memperlemah
kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan
menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena
tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju
perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa
disembuhkan. HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara
lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan
tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina,
cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui
hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik
yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau
menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh
tersebut (Laksana, Agung saprasetya, dan Diyah Woro Dwi Lestari,
2010).
Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia.
Bahkan menurut UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah
membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981,
dan ini membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling
menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan
antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS
diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup pada
tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak.
Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV.Pada
tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3

1
juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan
jumlah terbesar sejak tahun 1981 ( UNAIDS, 2009).
Di Indonesia menurut laporan kasus kumulatif HIV/AIDS sampai
dengan 31 Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP & PL,
Kemenkes RI tanggal 29 Februari 2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS
sudah menembus angka 100.000. Jumlah kasus yang sudah dilaporkan
106.758 yang terdiri atas 76.979 HIV dan 29.879 AIDS dengan 5.430
kamatian. Angka ini tidak mengherankan karena di awal tahun 2000-an
kalangan ahli epidemiologi sudah membuat estimasi kasus HIV/AIDS di
Indonesia yaitu berkisar antara 80.000 – 130.000. Dan sekarang Indonesia
menjadi negara peringkat ketiga, setelah Cina dan India, yang percepatan
kasus HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia (UNAIDS, 2009).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang
asuhan keperawatan pada pasien terminal illness (palliative care)
ODHA.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien
terminal illnes (palliative care).
b. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa keperawatan
pasien terminal.
c. Mahasiswa mampu menentapkan tujuan dan kriteria hasil
pasien terminal.
d. Mahasiswa mampu menyusun rencana keperawatan pasien
terminal.

2
BAB II

STUDY PUSTAKA

A. Paliative care
1. Definisi
Palliative care adalah pendekatan yang bertujuan untuk
memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang mengahadapi
masalah berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa,
melalui pencegahan dan membantu meringankan penderitaan,
identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan
masalah lain baik fisik, psikososial, dan spiritual (WHO, 2011).
Palliative care merupakan pendekatan yang meningkatkan
kualitas hidup pasien dan keluarga mereka dalam menghadapi
masalah terkait dengan penyakit yang mengancam jiwa melalui
pencegahan-pencegahan sempurna dan pengobatan rasa sakit masalah
lain, fisik, psikososial dan spiritual (Kemenkes RI Nomor 812, 2007)
2. Tujuan
Tujuan dari perawatan Palliative care adalah untuk mengurangi
penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas
hidup, juga memberikan support kepada pasien dan keluarganya.
Meskipun pada akhirnya pasien meninggal, yang terpenting sebelum
meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual, tidak stress
menghadapi penyakit yang dideritanya.
Perawatan paliatif meliputi :
a. Menyediakan bantuan dari rasa sakit dan gejala menyedihkan
lainnya
b. Menegaskan hidup dan mempercepat atau menunda kematian
c. Mengintegrasikan aspek-aspek paikologis dan spiritual perawatan
pasien
d. Tidak mempercepat atau melambat kematian
e. Meredakan nyeri dan gejala fisik lain yang mengganggu

3
f. Menawarkan sistem pendukung untuk membantu keluarga
menghadapi penyakit pasien dan kehilangan mereka.
3. Prinsip
Menghormati atau menghargai martabat dan harga diri pasien dan
keluarga pasien, dukungan untuk caregiver, Palliative care
merupakan akses yang kompeten dan belas kasih, mengembangkan
profesional dan sosial support untuk perawatan Palliative care.
Melanjutkan serta mengembangkan perawatan Palliative care melalui
penelitian dan pendidikan (Ferrell & Coyle, 2007).

4. Model atau tempat perawatan Palliative care


a. Rumah sakit (Hospice hospital care) poliklinik, rawat singkat,
rawat inap
b. Rumah (Hospice home care)
c. Hospis (Hospice care)

5. Peran dan fungsi perawat pada asuhan keperawatan paliatif


a. Pelaksana perawat
Memberikan asuhan keperawatan, pendidikan kesehatan,
koordinator, advokasi, kolaborator, fasilitator, modifikasi
lingkungan
b. Pengelola
Manajer kasus, konsultan, koordinasi
c. Pendidik
d. Peneliti

6. Prinsip asuhan perawatan paliatif


a. Melaksanakan pengkajian dengan cermat, mendengarkan
keluhan dengan sungguh-sungguh
b. Menetapkan diagnosa
c. Merencanakan asuhan keperawatan
d. Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan

4
e. Mengevaluasi perkembangan pasien secara cermat.

Perawatan yang dilakukan secara aktif pada penderita penyakit


terminal yang tidak memiliki respon terhadap terapi kuratif. Perawatan
ini mencakup pasien dan melibatkan keluarganya (Aziz, Witjaksono &
Rasdjidi, 2008)

Pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan


keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam nyawa, dengan
cara meringankan penderitaan rasa sakit, melalui identifikasi dini,
pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lain
baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual (WHO, 2016)

B. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS


HIV/AIDS

1. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Nama : Tn. R
Umur : 40 tahun
No.Reg : 01268651
Ruang : Mawar
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruhpabrik
Status : menikah
Alamat : Kendal
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SD
MasukRumahSakit : 19 maret 2020
Tangal pengkajian : 21 maret 2020
Dx. Medis : HIV / AIDS
b. Keluhan utama

5
Saat masuk rumah sakit :klien dibawa kerumah sakit
dengan keluhan mudah sakit-
sakitan, demam, flu, pusing,
sakit kepala, nyeri dada.
Saat pengkajian :klien mengeluh sesak nafas dan
berkeringat pada malam hari.
c. Riwayat penyakit sekarang
Sejak 3 hari perawatan klien mengeluh nyeri dada dan sesak nafas.
Pada saat pengkajian klien mengatakan sesak nafas dan jantung
berdebar-debar.

d. Riwayat penyakit dahulu


Tn. R pernah mengalami nyeri dada selama 1 bulan dan terus-
menerus ketika tidur dan berkeringat pada malam hari. Tn. R
kecanduan rokok dan kecanduan obat-obatan terlarang sebelum
sakit-sakitan.

e. Riwayat kesehatan keluarga

Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapat anggota keluarga


yang mengalami kelainan, penyakit kronis, atau pun penyakit
yang sama dengan Tn.R

f. Riwayat psikososial
1) Persepsi klien terhadap masalah
Tn.R mengatakan bahwa penyakitnya ini merupakan masalah
yang mengkhawatirkan, sambil mengungkapkan itu wajahnya
terlihat lemah dan kesulitan ketika berbicara. Saat di Tanya
tentang penyakit, pengobatan, komplikasi Tn.R hanya
menggelengkan kepala. Tn.R hanya mengatakan pernah
kecanduan rokok ,kecanduan obat-obatan terlarang dan sering
sakit-sakitan. Sehingga, Tn.R merasa tidak berguna dan
merasa terisolasi. Keluarga pasien cemas dengan kondisi Tn.R

6
g. Pola kesehatan sehari hari selama dirumah dan rumahsakit
1) Pola nutrisi dan metabolisme
Di rumah : makan 3x/hari, habis satu porsi dengan
komposisi nasi sayur dan telur terkadang
tempe. Minum air putih 1000 cc/hari ditambah
kopi tiap pagi.
Di rumah sakit : saat pengkajian klien makan 2x/hari tidak
habis , minum air putih 300 cc/hari.

2) Pola eliminasi
a) Kebiasaan defekasi sehari-hari
di rumah : klien devekasi 9-10x/hari dengan
konsistensi cair, warna kuning kecoklatan.
di rumah sakit : saat pengkajian klien belum devikasi
karena pasien baru datang.
b) Kebiasaan Miksi
Di rumah : Tn.R miksi 3-4 x/hari (warna kuning,
bau khas, tidak ada kesulitan BAK, tidak terdapat darah
urin.
Di rumah sakit : klien BAK menggunakan bantuan
kateter.

3) Pola tidur dan istirahat


Di rumah : istirahat (tidur) 6 jam/hari mulai jam
22.00 WIB sampai 05.00 WIB
Di rumah sakit :klien tidur kurang dari 6 jam sehari,
mulai jam 01.00 sampai jam 04.00, karena terganggu dengan
sesak nafasnya.

4) Pola aktivitas

7
Di rumah : klien beraktifitas secara mandiri tanpa
bantuan orang lain.
Di rumah sakit : klien merasa mudah lelah, tidak kuat
untuk mengangkat beban berat maupun
sedang. Klien mendapatkan terapi
istirahat dan beberapa aktifitasnya
dibantu.
5) Pola reproduksi dan seksual : Tn.R usia 40 tahun memiliki 1
orang anak. Klien melakukan seksual tidak menggunakan alat
kontrasepsi.

h. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum : terlihat benjolan disekitar
leher.
Keadaan sakit : klien mudah sakit-sakitan,
demam, flu, pusing, sakit
kepala, nyeri dada, dan sering
berkeringat pada malam hari
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 88 x/ menit
Respirasi : 26 x/ menit
Suhu : 39 ◦c
Tinggi badan :170 cm
Berat badan :sebelum sakit BB : 75 kg
Saat sakit BB : 60 kg

2) Review of system (ros)


1) Kepala ; kepala tegak, bentuk kepala simetris, warna
rambut hitam, distribusi rambut merata, tidak terdapat luka
dan benjolan, terlihat ada ketombe dan bau, tidak terlihat
rambut rontok di tempat tidur Tn.H

8
• Mata : tidak terdapat luka, tidak ada masa,
nyeri tekan dan penurunan penglihatan,
konjungtiva anemis
• Hidung : tidak ada secret, tidak ada lesi,
• Mulut : terdapat lesi, gigi ada yang tanggal,
membrane mukosa kering serta terdapat stomatitis,
lidah ada bercak – bercak keputihan,
• Telingga : tidak ada nyeri tekan, tidak ada
kotoran, pendengaran masih normal.
2) Leher : trakea simetris, ada benjolan disekitar
leher, tidak terdapat luka.
3) Toraks : bentuk simetris, tidak terdapat masa,
menggunakan alat bantu sungkup.
4)
• Paru : bentuk dada simetris, tidak terdapat
retraksi interkosta, ekspansi kanan dan kiri sama,
perkusi paru didapat suara sonor di seluruh lapang
paru, batas paru hepar dan jantung redup,
• Jantung : ictus cordis terlihat di mid-clavicula line
sinistra ICS 5,
5) Ketiak dan payudara ; 2tidak di dapatkan pembesaran
kelenjar limfe dan tidak ada benjolan, putting dan areola
baik
6) Abdomen :bentuk simetris, ada nyeri tekan,tidak ada
benjolan,tidak ada tanda pembesaran hepar, tidak di dapati
asites, dan hasil perkusi di dapat suara timpani
7) Genetalia
• Penis : klien di sirkumsisi, gland penis terdapat
break, pada batang penis ada tanda jamur, tidak ada
tanda herpes, adalesi
• Skrotum :tidak ada lesi, tidak ada tanda jamur,
tidak ada tanda herpes

9
• Uretra : tidak terdapat kelainan, tidak ada lesi
8) Anus dan rectum : tidak ada abses, ada hemoroid, rectum
di dapati sedikit berlendir
9) Ekstremitas : kekuatan otot menurun, tidak terdapat
oedema, tidak ada fraktur, tidak tampak tanda atropi
10) Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat
kemrahan pada area, turgor buruk, terdapat tanda siniosis
11) Status neurologis :
a) Tingkat kesadaran : kompos mentis
b) Tanda – tanda rangsangan otak : pusing, suhu
tubuh 39̊c
c) Uji saraf kranial
NI : klien tidak dapat membau dengan baik
N II : klien dapat melihat dengan jelas
N III : klien dapat menggerakkan bola mata.
N IV : klien dapat melihat gerakkan tangan perawat
baik samping kiri kekanan.
NV : klien dapat menggerakkan rahang
N VI : klien dapat menggerakkan mata kesamping.
N VII : klien dapat merasakan pahit, manis, asam, dan
pedas.
N VIII : klien dapat mendengarkan dengan baik
N IX : klien dapat berbicara
NX : klien dapat mengangkat bahu
N XI : klien dapat berbicara dengan baik
N XII : klien dapat menggerakkan lidah dan dapat
berbicara dengan baik
d) Fungsi motorik
Tidak ada gerakkan yang tidak disadari, klien mampu
bergerak tanpa perintah.
e) Fungsi sensori

10
Klien tidak merasakan usapan kapas pada area
maksilaris, dapat merasakan benda tajam, tidak dapat
merasakan hangat, panas dan dingin.
f) Refleksi pantoligis
Reflex babinsky negative, reflex cadlok negative,
reflek Gordon negative.

i. Pemeriksaan penunjang
1) Hasil test enzimlinkeed sorbent assay (ELISA) :dari hasil tes
elisa yang dialakukan, menunjukan hasil bahwa Tn.R positive
di buktikan dengan antibody dalam serum mengikat antigen
virus murni di dalam enzyme-linked antihuman globulin.
2) Hasil test western blot: positive
3) P24 antigen test ; positive
4) Kultur HIV : positive,dengan kadar antigen P24 meningkat.

11
2. ANALISA DATA

No Data Etiologi Problem


1 DS : Hiperventiasi Ketidakefektifan
- Kien mengatakan mengeluh sesak nafas pola nafas
DO : (00032)
- Klien terpasang sungkup
- RR : 26X/ menit
- Jantung berdebar - debar

2 DS : Penyakit Hipertermia
- Klien mengatakan mengeluh demam (00007)
DO :
- Suhu kien 39 derajad celcius
- Badan teraba panas
- Terlihat kulit kemerahan

9
3 DS : Ancamanpada status terkini Ansietas Kematian
- Keluarga Klien mengatakan cemas dengan kondisi (00147)
Tn. R yang makin menurun
DO :
- Keluarga tampak cemas
- Keluarga tampak kesedihan yang mendalam
- Ketidakberdayaan keluarga
DS : Pola tidur tidak menyehatkan Gangguan pola tidur
- Klien terlihat lesu dan lelah (000198)
DO :
- Klien mengatakan sulit tidur karena terganggu dengan
sesak nafas
DS : Gangguan peran sosial Harga diri rendah kronik
- Klien merasa tidak berguna dan merasa terisolasi. (00224)
DO :
- Klien terlihat lemah dan mengisolasi diri.

10
DS : Kehilangan Cairan Aktif Defisiensi Volume cairan
- Klien merasa lemah tidak berdaya (00027)
- Klien mengatakan hanya minum 300cc air /hari
DO :
- Turgor kulit buruk, kulit kering, mukosa kulit terlihat
kekering
- Klien mengatakan buang air 9-10x/hari dengan
konsistensi cair
- TTV :
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 88 x/ menit
Respirasi : 26 x/ meni
Suhu : 39 ◦c

11
3. INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA KRITERIA HASIL INTERVENSI


Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan O: Pastikan kebutuhan oral atau tracheal suction.
pola nafas keperawatan selama 1 x 24 jam
N:Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction.
(00032) diharapkan klien dapat :
N:Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk
1. Frekuensi pernafasan
memfasilitasi suksion nasotrakeal
dipertahankan pada
dipertahankan pada 3 E: Informasikan pada klien dan keluarga tentang suction.
ditingkatkan ke 4
C: kolaborasikan dengan tim kesehatan lainnya dan keluarga
2. Irama pernafasan dipertahankan
3 ditingkatkan ke 4
3. Kedalaman inspirasi pada 4
ditingkatkan ke 5
4. Penggunaan nafas
dipertahankan pada 3 ditingkat
ke 4

12
Hipertermia Setelah dilakukan tindakan O : Monitor suhu dan warna kulit
(00007) keperawatan selama 1 x 24 jam
N : Tutup pasien dengan selimut atau pakaian pasien sesuai
diharapkan klien dapat :
kebutuhan
1. Berkeringat saat panas
E : Ajarkan dan dorong konsumsi cairan
dipertahankan pada 3 tingkatkan
ke 4 C : kolabrasi pada dokter dalam pemberian obat antipiretik
2. Penurunan suhu kulit sesuai kebutuhan pasien atau cairan IV.
dipertahankan pada 2
ditingkatkan ke 4
3. Sakit kepala dipertahankan pada
3 ditingkakan ke 4
4. Perubahan warna kulit
dipertahankan pada 4
ditingkatkan ke 5

13
Ansietas Kematian Setelah dilakukan tindakan keprawatan
(00147) selama 1x24 jm diharapkan klien
O : Berada disisi klien untuk meningkatka rasa aman dan
dapat:
mengurangi kecemasan
1. Perasaan gelisah dipertahankan N : Kaji untuk tanda verbal dan non verbal kecemasan
pada 2 ditingkatkan ke 3 E : Intrusikan klien untuk menggunkan teknik relaksasi
2. Berjalan mondar-mandir C : Atur penggunaan obat-obatan unuk mengurangi
dipertahankan pada kecemasan secara tepat
3ditingkatkan ke 4
3. Kesulitanberkosentrasi
diprtahankan 2 ditingkatkan ke
3
Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan keprawatan O : Monitor dan catat pola tidur pasien
berhubungan dengan pola tidur selama 1x24 jm diharapkan klien dapat
N : Tentukan pola tidurb atau aktivitas pasien
tidak menyehatkan (000198) :
1. Pola tidur dipertahankan pada 2 E : Jelaskan tentang pentingnya tidur yang baik dan
ditingkatkan ke 3 berkualitas sesuai kebutuhan

14
2. Kesulitan memulai tidur C : diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai teknik
dipertahankan pada untuk meningkatkan tiudr.
3ditingkatkan ke 4
3. Kualitas tidur dipertahankan 2
ditingkatkan ke 3
Harga diri rendah kronik Setelah dilakukan tindakan keprawatan O : Monitor pernyataan paisen terkait harga diri
berhuubungan dengan selama 1x24 jm diharapkan klien dapat
N : Tentukan kepercyaan diri pasien dalam hal penilaian diri
gangguan peran social (00224) :
1. Penerimaan terhadap E : Aajarkan pasien untuk menemukan penerimaan diri
keterbatasan diri dipertahankan
C : kolaborasi dengan keluarga untuk member dukungan
pada 2 ditingkatkan ke 3
positif terhadap pasien.
2. Komunikasi terbuka
dipertahankan pada
3ditingkatkan ke 4
3. Tingkat kepercayaan diri
dipertahankan pada 2
ditingkatkan ke 3

15
Defisiensi volume cairan Setelah dilakukan tindakan keprawatan O : Monitor status hidrasi pasien
berhubungan dengan selama 1x24 jm diharapkan klien dapat
N : Jaga intake akurat dan cairan output.
kehilangan cairan aktif :
1. Intake cairan dipertahankan E : Anjurkan pasien mengkonsumsi cairan sesuai kebutuhan
pada 2 ditingkatkan ke 3
C : Kolaborasi pemberian cairan IV sesuai yang ditentukan
2. Turgor kulit dipertahankan pada
3ditingkatkan ke 4
3. Membran mukosa lembab
dipertahankan pada 2
ditingkatkan ke 3

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Palliative care merupakan pendekatan yang meningkatkan kualitas
hidup pasien dan keluarga mereka dalam menghadapi masalah
terkait dengan penyakit yang mengancam jiwa melalui pencegahan-
pencegahan sempurna dan pengobatan rasa sakit masalah lain, fisik,
psikososial dan spiritual. Perawatan yang dilakukan secara aktif
pada penderita penyakit terminal yang tidak memiliki respon
terhadap terapi kuratif.

14
Daftar Pustaka

Aziz, Witjaksono & Rasdjidi.(2008). PaduanPelayananMedik: Model


InterdisiplinPenatalaksanaanKankerServiksdenganGangguanGinjal.
Jakarta: BukuKedokteran EGC.
Ferrell, B.R. & Coyle, N. (Eds) (2007). Textbook Of Palliative Nursing, 2nd
ed. New York, NY: Oxford University Press.
KEPMENKES RI NOMER: 812/ MENKES/SK/VII/2007 Tentang
Kebijakan Perawatan Palliative Mentri kesehatan Republik Indonesia.
Laksana, Agung Saprasetya Dwi, dan Diyah Woro Dwi Lestatari. 2010.
Faktor faktor resiko penularan HIV/AIDS pada laki laki dengan
orientasi seks heteroseksual dan homoseksual di purwokerto. Mandala of
health. Volume 4 nomor 2 mei 2010.

UNAIDS. 1999. From Principle To Pratice : Greater Involvement Of People


Living With Or Affect by HIV/AIDS (GIPA). Spritia : jakarta
Word Health Organization.(2016). Palliative
Care.Dapatdiaksesdarihttp://www.who.int/dibukapadatanggal 18 Maret
2020.