Anda di halaman 1dari 31

SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR

1. TEMPAT DAN 1.1. Lingkup pekerjaan


URAIAN PEKERJAAN Pekerjaan yang dilaksanakan adalah : Pembangunan Rawat Jalan Puskesmas
Kretek
1.2. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan ini berlokasi di Kecamatan Kretek , Kabupaten Bantul
1.3. Tenaga dan Sarana Bekerja
Untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Barang/Jasa harus
menyediakan
a. Tenaga kerja/tenaga ahli yang cukup memadai disesuaikan dengan jenis
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b. Alat-alat bantu seperti : beton mollen, compactor tangan, vibrator,
pompa air, mesin las, alat-alat pengangkut dan peralatan lain yang
dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan.
c. Bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap
pekerjaan yang akan dilaksanakan agar pelaksanaan pekerjaan dapat
selesai tepat pada waktunya.
1.4. Cara pelaksanaan.
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), gambar
rencana, Berita Acara Penjelasan serta mengikuti petunjuk Konsultan
Pengawas dan Pengelola Teknis.
1.5. Pada akhir kerja Penyedia Barang/Jasa diharuskan membersihkan area
kegiatan dari segala kotoran akibat kegiatan pembangunan, termasuk sisa-
sisa material bangunan serta gundukan tanah, bekas galian dan lain
sebagainya.

2. PELAKSANAAN 2.1. Pekerjaan tersebut harus dilaksanakan sesuai :


PEKERJAAN a. Dokumen Lelang
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat
c. Gambar Kerja (Bestek)
d. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanvoelling)
e. Perubahan-perubahan dalam pelaksanaan (bila ada)
Yang telah disyahkan oleh Penanggung Jawab Kegiatan dan instansi yang
berwenang/unsur terkait.
2.2. Menurut syarat dan ketentuan sebagai berikut :
Standar Konstruksi dan Bangunan :
1. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 beserta perubahannya,
tentang usaha dan peran masyarakat jasa konstruksi.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 beserta perubahannya,
tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 beserta perubahannya,
tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi.
5. Peraturan Presiden No. 73 Tahun 2011, tentang Pembangunan Bangunan
Gedung Negara.
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14 Tahun 2020, tentang
standar dan pedoman pengadaan jasa kontruksi melalui
penyedia
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/2007, tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 28/PRT/M/2016, tentang Analisa
Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum.
9. Peraturan Bupati Bantul No. 111 Tahun 2017, tentang Standarisasi Harga
Barang dan Jasa.
10. SNI 2847-2013, tentang Persyaratan beton struktural untuk bangunan
gedung.
11. SNI 03-2491-2002, tentang Metode pengujian kuat tarik belah beton;
12. SNI 03-3816-2002, tentang Pendetailan penulangan beton.
13. SNI 1729-2015, tentang Spesifikasi untuk bangunan gedung baja
struktural.
14. SNI 1974-2011, tentang Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji
silinder.
15. SNI 2052-2014, tentang Baja tulangan beton.
16. SNI 1727-2013, tentang beban minimum untuk perancangan bangunan
gedung dan struktur lain.
17. SNI 04-0225-2000, tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000
(PUIL 2000).
18. SNI 7973-2013, tentang Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu.
19. SNI 1726-2012, tentang Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk
struktur bangunan gedung dan non gedung.
20. SNI 03-3816-2002, tentang Tata cara perhitungan struktur beton untuk
bangunan gedung.
21. Peraturan dan Ketentuan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah
setempat yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.
Apabila penjelasan dalam dokumen tidak sempurna (belum lengkap)
sebagaimana ketentuan dan syarat dalam peraturan di atas maka Penyedia
Jasa wajib mengikuti ketentuan peraturan-peraturan yang disebutkan di atas.
2.3. Pekerjaan tersebut harus diserahkan kepada PPK, dalam keadaan selesai
100 % (seratus Persen), sesuai dengan Dokumen Pengadaan Barang/Jasa,
Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak) dan Berita Acara Perubahan
Pekerjaan (bila ada) yang telah disahkan.

3. KUASA PENYEDIA 3.1. Di lokasi pekerjaan,. Penyedia Jasa Pemborongan wajib menunjuk seorang
JASA PEMBORONG AN
pelaksana yang mempunyai SKT pelaksana bangunan gedung,
DAN KEAMANAN
berpengalaman minimal 2 tahun
DILAPANGAN
3.2. Meskipun demikian tanggung jawab sepenuhnya tetap pada Penyedia Jasa
Pemborongan.
3.3. Apabila pelaksana yang ada kurang mampu atau tidak cukup cakap dalam
memimpin jalannya pelaksanaan pekerjaan, maka Penyedia Jasa Konsultan
Pengawas dan Direksi berhak mengusulkan untuk disediakan penggantinya.
3.4. Penyedia jasa Pemborongan bertanggung jawab penuh atas keamanan di
lokasi pekerjaan yang antara lain kehilangan, kebakaran, kecelakaan (baik
barang maupun jiwa).

4. JAMINAN 4.1. Penyedia Jasa Pemborongan wajib menyediakan obat-obatan sesuai dengan
KESELAMATAN KERJA ketentuan dan syarat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang
DAN KERJA LEMBUR selalu dalam keadaan siap digunakan di lapangan, untuk musibah yang
terjadi.
4.2. Pemborongan wajib menyediakan air minum yang bersih dan memenuhi
syarat kesehatan bagi semua petugas dan pekerja yang ada dibawah
tanggung jawabnya.
4.3. Penyedia Jasa Pomborongan wajib mengasuransikan sernua pekerja yang
terkait dan pekerja pada Asuransi Tenaga Kerja.
4.4. Jika terpaksa pekerjaan harus dilaksanakan diluar jam kerja (lembur), maka
pelaksana/ pemborong harus mengajukan permohonan tertulis kepada
pemberi tugas dan Pengawas, dengan disebutkan :
a. Alasan penambahan jam kerja (lembur).
b. Jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan (lembur).
c. Jumlah Pekerjaannya.
d. Waktu/ jam lembur.
Segala konsekwensi yang timbul akibat pekerjaan lembur menjadi tanggung
jawab pelaksana/ pemborong.
5. CUACA Pekerjaan harus dihentikan sementara apabila cuaca tidak mengijinkan atau sangat
mengganggu yang akan dapat mengakibatkan penurunan mutu suatu pekerjaan,
kecuali pelaksana/ pemborong sudah mempersiapkan sarana untuk
menanggulanginya

6. UKURAN POKOK 6.1. Ukuran pokok dicantumkan dalam gambar bestek, ukuran yang belum
DAN BATAS tercantum dalam gambar bestek dapat ditanyakan pada Pejabat Pembuat
DAERAH KERJA Komitmen.
6.2. Penyedia Jasa Pemborongan harus memeriksa kecocokan semua ukuran di
dalam gambar, apabila terjadi ketidakcocokan wajib segera memberitahukan
kepada Pengawas Perencana untuk minta pertimbangan. Apabila terjadi
kesalahan pelaksanaan di luar ijin atau pertimbangan, maka menjadi
tanggungjawab Penyedia Jasa Pemborongan.
6.3. Apabila dalam gambar Bestek tergambar, sedang pada Dokumen Pengadaan
Penyedia Barang/Jasa tidak tertulis, maka gambar bestek yang mengikat.
6.4. Apabila dalam Dokumen Pengadaan Penyedia Barang/Jasa tertulis
sedangkan didalam gambar bestek tidak tergambar, maka Dokumen
Pengadaan Penyedia Barang/Jasa yang mengikat.
6.5. Jika ada perbedaan pada gambar Bestek maka gambar yang mempunyai skala
lebih besar yang mengikat.
6.6. Batas daerah kerja adalah batas lahan yang ada.

7. PEKERJAAN 7.1. Pembersihan Lokasi dan Bongkaran .


PERSIAPAN Pelaksana/ pemborong harus membongkar bangunan yang ada pada masing –
masing sekolahan yang akan dibangun bangunan baru serta membersihkan
sekitar lokasi pekerjaan dan segala sesuatu yang mungkin akan mengganggu
pelaksanaan pekerjaan dan membuang bongkaran yang tidak terpakai sesuai
petunjuk Konsultan Pengawas.
7.2. Uitzet / Bouplank.
Sebelum memulai pekerjaan, Penyedia Jasa Pemborongan harus mengadakan
pengukuran-pengukuran lapangan untuk dapat menentukan patok utama bagi
pelaksanaan pekerjaan. Biaya pengukuran sepenuhnya menjadi tanggung
jawab Penyedia Jasa Pemborongan. ( ditambahkan persyaratan personil ,
misalnya surveyor dll)
7.3. Kantor Kerja Direksi Pelaksana di Lokasi Proyek.
Penyedia Jasa Pemborongan harus menyediakan sebuah kantor untuk
Direksi dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan dan peralatan yang cukup
seperti meja, kursi, white board, file direksi dan air minum untuk digunakan
sebagai tempat kerja konsultan.
Dalam kantor lapangan harus disediakan:
a. Buku Direksi
b. Buku Tamu
c. Buku catatan penerimaan bahan.
d. Buku catatan peralatan dan jumlah tenaga kerja setiap hari.
e. Buku catatan keadaan cuaca.
f. Lembar back up volume pekerjaan.
7.4. Dokumentasi.
Dokumentasi dilakukan terhadap kondisi lokasi sebelum dibangunan (0%),
masa pembangunan (50%) dan selesai pembangunan (100%).
Pendokumentasian ini merupakan perekaman bangunan tersebut secara
piktoral (gambar dan foto) dan verbal (uraian tertulis). Tujuannya untuk
mengetahui kondisi lokasi sebelum dibangun, masa pelaksanaan dan hasil
akhir pembangunan
7.5. Papan Nama pekerjaan
Penyedia Barang/Jasa harus memasang papan nama pekerjaan, dengan
ukuran 75 cm x 150 cm.
7.6. Ijin Bangunan
Penyelesaian Ijin Bangunan dilakukan Penyedia Jasa Pemborongan dengan
bantuan pemberi tugas secara administratif, konsekuensi biaya ijin bangunan
beserta pengurusannya menjadi beban Penyedia Jasa Pemborongan.
8. PEKERJAAN 8.1. Lingkup Pekerjaan
BONGKARAN Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi kelengkapan peralatan
konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material, perlengkapan dan
penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan ini. sesuai dengan gambar
rencana
8.2. Pembongkaran
a. Mengerjakan semua pekerjaan sesuai gambar rencana.
b. Semua bongkaran harus sudah diangkut/dibuang dari lokasi pekerjaan
selambat-lambatnya 1 x 12 jam sejak dilakukan penggalian.

9. PEKERJAAN GALIAN 9.1. Bahan


DAN URUGAN a) Tanah setempat (di tempat areal pekerjaan) atau tanah dari lokasi lain
yang memenuhi syarat bangunan.
b. Alat-alat pelaksanaan pekerjaan
Alat gali dan alat urug serta alat pemadat yang cukup memadai
9.2. Macam pekerjaan
a) Pekerjaan Pembersihan Lokasi
1) Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembersihan dan menyingkirkan
semua jenis tumbuhan.
2) Dalam hubungan ini juga harus dibongkar dan disingkirkan semua
akar-akar tumbuhan yang berada di bawah permukaan tanah,
sebelum Penyedia Jasa Pemborongan mulai bekerja di tanah lokasi.
b) Pekerjaan galian
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan menggali dengan ukuran luas dan
kedalaman tertentu, dengan persyaratan teknis tertentu pula sesuai
dengan kegunaannya.
Misalnya : galian untuk pondasi dan lain-lain sesuai dengan gambar
rencana.
c) Pekerjaan urugan, meliputi :
1) Urugan tanah dan pasir pada lubang yang tidak ditempati pondasi.
2) Urugan pasir dibawah pondasi dan lantai.
d) Pemadatan
Setiap pekerjaan urugan harus disertai pekerjaan pemadatan, hal ini
dimaksudkan untuk mengubah sifat tanah urug yang lepas/”loose”
menjadi padat/”dense”.
e) Pembuangan sisa tanah
Pekerjaan ini adalah membuang sisa tanah galian atau tanah yang
didatangkan dari luar ke lokasi di luar areal proyek atau bekas
bongkaran yang tidak terpakai, dengan ijin Konsultan Pengawas.
9.3. Syarat-syarat pelaksanaan
a) Pekerjaan pembersihan
1) Tanah yang akan ditempati bangunan harus benar-benar
dibersihkan dari segala kotoran, semua akar-akar dan sisa
barang/benda yang ada. Pembersihan ini untuk seluruh areal
bangunan.
2) Lapisan tanah paling atas/”top soil” harus dibersihkan dari luar
humus dan lain-lain, setebal 10 – 20 cm, pembersihan ini harus
dilaksanakan sampai 3 meter dari batas bangunan. Tanah hasil
pembersihan ini hanya boleh untuk mengurug halaman, yang
diatasnya tidak ada bangunan.
3) Bila kondisi tanah jelek atau labil, maka lapisan tanah ini harus
digali sampai kedalaman tertentu dan diganti dengan tanah
perbaikan berupa sirtu (pasir dan batu gunung).
b) Pekerjaan galian
1) Penyedia Jasa Pemborongan harus menentukan posisi/lokasi
tempat galian dengan tepat, kemudian sebelum digali harus
mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas dan Pengelola
Teknis, hal ini untuk menghindari terjadinya salah gali, sehingga
harus diurug yang memerlukan persyaratan tersendiri.
2) Semua pekerjaan penggalian harus didasarkan pada panjang, lebar,
kedalaman dan kemiringan “slope”nya sesuai gambar rencana dan
pertimbangan kemudahan pengerjaannya.
3) Pekerjaan galian harus dilaksanakan sampai mencapai tanah baik,
sebagai pedoman harus mengikuti kedalaman yang tertera dalam
gambar rencana.
4) Jika sebelum mencapai kedalaman seperti yang tertera dalam
gambar rencana, ternyata ditemui tanah keras atau batu kasar
ataupun halangan yang lain, maka Penyedia Jasa Pemborongan
harus meminta petunjuk Konsultan Pengawas dan Tim Bimbingan
Pelaksana Kegiatan.
5) Jika galian telah mencapai kedalaman sesuai dengan gambar
rencana, ternyata tanah dasar galian menunjukkan hal-hal yang
meragukan, maka Penyedia Jasa Pemborongan harus minta
petunjuk Konsultan Pengawas.
6) Penyedia Jasa Pemborongan harus selalu memonitor kedalaman
galian bersama Konsultan Pengawas, agar tidak terjadi kesalahan
dalam penentuan kedalaman galian.
7) Jika terjadi kesalahan penggalian melebihi kedalaman yang
ditentukan, maka Penyedia Jasa Pemborongan tidak diperkenankan
langsung mengurug selisih kedalaman tersebut dengan tanah,
tetapi untuk penyelesaiannya minta petunjuk Konsultan Pengawas.
8) Tanah bekas galian harus ditempatkan agak jauh dari lokasi galian.
9) Jika lubang galian tergenang air atau terdapat kotoran sebelum
pondasi dipasang, maka sebelum pemasangan pondasi lubang
galian tersebut harus dibersihkan dari sisa-sisa kotoran atau lapisan
lumpur yang melekat, sedang genangan air yang terdapat dalam
lubang galian harus dipompa keluar terlebih dahulu.
c) Pekerjaan urugan
1) Setiap tanah urugan harus dibersihkan dari tunas tumbuh-
tumbuhan dan segala macam sampah atau kotoran.
2) Urugan tanah harus dipadatkan dengan mesin pemadat
(compactor) dan tidak dibenarkan hanya menggunakan timbres.
3) Kekurangan atau kelebihan tanah harus ditambah atau disingkirkan
dari atau ke tempat-tempat yang akan ditentukan oleh Konsultan
Pengawas.
4) Urugan pasir.
• Urugan pasir harus dilaksanakan di bawah pondasi, bawah foot
plate dan dibawah lantai tebal sesuai gambar rencana.
• Sebelum rabat beton dikerjakan, lapisan pasir harus
dipadatkan dengan disiram air dan diratakan.
• Letak, tebal dan jenis pasir yang belum tercantum dalam RKS
ini disesuaikan dengan gambar rencana.

10. PEKERJAAN 10.1. Pekerjaan Pasangan


PASANGAN DAN a. Pasangan pondasi batu belah putih pada pondasi memanjang/staal,
PLESTERAN dipasang dengan spesi 1Pc : 6Ps
b. Pasangan batu bata dipasang dengan spesi 1Pc : 6Ps
10.2. Pekerjaan plesteran
a. Semua dinding dalam dan luar dipelester dengan spesi 1Pc : 6Ps
b. Pasangan pondasi yang muncul diatas permukaan tanah harus diplester
dengan spesi 1pc : 6ps dan diaci.
c. Pekerjaan sponengan dikerjakan dengan 1Pc : 3Ps.
10.3. Bahan
a. Batu belah putih
1) Bahan batu adalah sejenis batu yang keras, liat, berat dan
berwarna putih dan mempunyai muka lebih dari 3 muka
2) Bahan asal batu adalah batu besar yang kemudian dibelah-belah /
dipecah-pecah menjadi ukuran menurut tata cara pekerjaan yang
bersangkutan
3) Batu putih yang dipasang harus batu pecah/tidak gundul maksimal
diameter 20 cm harus bersih dari kotoran, tanah, asam dan garam.
4) Batu tidak boleh bulat, atau pipih dan mudah pecah serta tidak
berpori.
b. Bata merah
1) Bahan bata merah bermutu, matang, keras, ukuran-ukuran sama
rata dan saling tegak lurus, tidak retak-retak, tidak mengandung
batu dan tidak berlubang
2) Prosentase pecah pada batu bata merah untuk konstruksi pasangan
maksimum 10 %.
c. Portland cemen (Pc)
1) Semen Portland yang digunakan adalah semen jenis I dengan
standart SNI 2049-2004 Semen Portland .
2) Pc yang digunakan harus yang masih dalam keadaan baru
(penimbunan pc yang lebih dari 3 bulan, tidak boleh dipergunakan)
d. Pasir
1) Pasir yang digunakan adalah dari jenis pasir pasang, pasir spesi
untuk pasangan bata harus disaring dengan kasa 5 mm dipasang
miring 50 derajat dari bidang tanah.
2) Pasir harus bersih, kadar lumpur maximum 5% tidak mengandung
zat-zat organik dan angka kehalusan yang lolos ayakan 0,3 mm
minimal 15%.
3) Pasir untuk plesteran sebelum diaduk terlebih dahulu harus diayak
(maksimal 5 mm x 5 mm)
e. Air
1) Air yang digunakan harus bersih, tidak mengandung lumpur,
minyak, benda-benda terapung yang bisa dilihat secara visual dan
asam-asam zat organik dan sebagainya.
10.4. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Pasangan Batu belah putih
1) Pekerjaan ini berupa pemasangan batu belah putih sesuai dengan,
ukuran, bentuk, kemiringan dan kedudukan seperti yang tercantum
pada gambar rencana
2) Campuran bahan spesi yang digunakan seperti yang tertera pada
gembar rencana. Bahan-bahan adukan harus dicampur hingga
merata.
3) Pemasangan batu tidak boleh dijatuhkan dari atas tetapi ditata
sehingga secara teknis benar dan tidak berongga/spesi antar batu
terisi sempurna.
4) Pemecahan batu dengan bodem tidak boleh di dekat alur pondasi
(minimal 2 m’)
b. Pasangan Bata tembok/dinding
1) Bata harus direndam air hingga jenuh sebelum dipasang, batu bata
dipasang dengan adukan setebal 1,5 – 2,5 cm
2) Bata harus dipasang dengan baik, rata, horisontal, dikerjakan
dengan alat-alat pengukur datar ataupun tegak (lot, dan
sebagainya) sambungan sama rata, sudut persegi, naad tegak tidak
segaris (silang) permukaan baik dan rata, bergigi (tiap sambungan
saling menutup)
3) Pada hubungan-hubungan dengan tiap-tiap beton harus dipasang
stek dan pada ujung pasangan harus bergigi.
4) Bata tidak boleh dipasang pada waktu hujan lama atau hujan
besar. Adukan yang hanyut karena hujan harus disingkirkan.
5) Pada penghentian-penghentian pasangan harus dipakai
penghentian miring.
6) Tidak diperkenankan berdiri di atas pekerjaan bata sebelum
mengeras.
7) Pasangan bata tiap harinya tidak boleh naik melebihi 1 m / hari,
dan kolom praktis harus dicor besama pekerjaan pasangan bata
tiap 1 m.
8) Jika setelah pekerjaan pemasangan ternyata ada bata yang
menonjol atau tidak rata, maka bagian-bagian ini harus dibongkar
dan diperbaiki kembali atas biaya kontraktor, kecuali bila pengawas
mengijinkan penambalan-penambalan.
9) Pasangan bata harus dirawat/disirami dengan air sesuai dengan
persetujuan pengawas.
10) Bila ada pembuatan steiger werk / perancah tidak boleh menembus
tembok/ pasangan bata
c. Pekerjaan Pelesteran
1) Material pelesteran ini (kecuali PC) sebelum diaduk terlebih dahulu
harus diayak (maksimal 3mm x 3mm).
2) Plesteran dinding baru boleh dikerjakan setelah terlindung atap,
pipa listrik sudah terpasang seluruhnya.
3) Pekerjaan acian dilakukan dengan PC setipis mungkin, rata dan
rapi. Pekerjaan acian dilakukan dengan raskam kayu sehingga
permukaan rata dan halus.
4) Pelesteran harus selalu dibasahi / disiram merata hingga selalu
lembab sampai pasangan pelesteran menjadi kuat (tidak retak
rambut).
5) Acian yang sudah jadi harus dirawat atau dijaga proses
pengeringannya agar tidak mendadak pengeringannya, dengan
cara menyiram air sedikit demi sedikit.
6) Plesteran harus menggunakan jalur-jalur kepala vertikal selebar 
15 cm dengan jarak antara paling besar 100 cm satu sama lain,
jalur kepala ini harus benar-benar vertikal dan datar. Jalur kepala
ini merupakan patokan/pedoman untuk plesteran selanjutnya.
7) Bidang-bidang yang telah selesai diplester harus segera dikontrol
dengan mistar yang panjangnya tidak boleh kurang dari 200 cm.
8) Apabila terdapat cekungan, cembungan, ataupun plesteran tidak
vertikal (tegak) dan tidak siku, maka harus diperbaiki selambat-
lambatnya dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam.
9) Sebelum beton diplester harus dibersihkan terlebih dahulu
permukaannya kemudian dikasarkan dengan kaprotan 1PC:2Psr.
10) Pekerjaan acian dilakukan dengan PC setipis mungkin, rata dan
rapi. Pekerjaan acian dilakukan dengan raskam kayu sehingga
permukaan rata dan halus.
11) Diwajibkan kepada Penyedia Jasa, jika terdapat macam pelesteran
yang belum tercantum dalam RKS dan gambar yang dianggap
meragukan untuk dimintakan petunjuk dan penjelasannya kepada
Konsultan Pengawas atau Konsultan Perencana.

11. PEKERJAAN BETON 11.1. Umum


DAN BETON Bagian ini meliputi pengadaan dan pemasangan dari semua macam beton
BERTULANG biasa, beton bertulang dengan penulangannya, bekisting, finishing dan
pekerjaan lainnya sesuai gambar rencana.
11.2. Bahan
a. Semen Portland (PC)
1) Semen portland yang dipakai harus dari jenis I , dan sesuai dengan
SNI 2049-2004 Semen Portland
2) Semen harus sampai di tempat kerja dalam kondisi baik serta
dalam kantong-kantong semen asli dari pabrik.
3) Semen harus disimpan dalam gudang yang kedap air, berventilasi
baik, di atas lantai setinggi 30 cm. Kantong-kantong semen tidak
boleh ditumpuk lebih dari 10 lapis.
b. Agregat (pasir, split atau batu pecah).
1) Agregat halus dan kasar dipakai agregat alami atau buatan,
Agregat tidak boleh mengandung bahan yang dapat merusak beton
dan ketahanan tulangan terhadap karatan.
2) Agregat kasar berupa split yang diperoleh dari pemecah batu,
dipakai ukuran ¾ cm, agregat kasar harus harus keras dan tidak
berpori dan tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1%.
3) Batu pecah harus keras, padat dan tidak porus
4) Pasir yang digunakan adalah pasir sungai, berbutir tajam dan kasar
5) Pasir dan batu pecah tidak boleh bercampur dengan tanah liat,
Lumpur, debu, bahan organic dan bahan yang lain yang
mempunyai pengaruh buruk terhadap sifat beton
6) Kotoran yang terkandung dalam batu pecah maupun pasir
maksimal satu persen
7) Diusahakan agregat terhindar dari panas matahari secara langsung
8) Pasir laut tidak boleh digunakan
c. Pembesian/Penulangan
1) Mutu baja tulangan tersebut diatas dibuktikan dengan uji tarik di
laboratorium bahan yang ditunjuk. Jumlah sample uji tarik setiap
diameter minimum tiga
2) Jika ternyata baja tulangan yang didatangkan tidak memenuhi
persyaratan, baja tersebut tidak boleh digunakan dan segera
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan maksimal 2 x 24 jam.
3) Baja yang digunakan harus baru dan hanya boleh berkarat ringan
4) Karat ringan dalam baja harus dibersihkan dengan sikat baja
5) Baja tulangan deform yang didatangkan harus dalam keadaan lurus
(tidak diperkenankan baja bekas bengkok)
6) Besi penulangan beton harus disimpan dengan cara-cara
sedemikian rupa, sehingga bebas dari hubungan langsung dengan
tanah lembab maupun basah. Mutu baja tulangan yang dipakai fy
240 Mpa untuk beton non struktur (polos < dia12mm) dan fy 400
Mpa untuk beton struktur (Ulir >D13),
toleransi besi sesuai SNI 07-2052-2002 Baja Tulangan Beton.
No. Diameter (mm) Tolerasi (mm)
1. 6 ±3
2. 8≤ d ≤14 ±4
3. 16≤ d ≤25 ±5

d. Bekesting dan Perancah


1) Papan bekisting menggunakan multiplek tebal 9 mm.
2) Perancah dan bekesting harus kuat dan dapat menghasilkan bentuk
beton yang permukaan rata dan halus sesuai gambar rencana
3) Sambungan bekesting harus kuat dan rapat agar air campuran
tidak keluar dari bekesting
4) Perancah menggunakan scaffolding dan perlengkapannya
(pemasangan harus benar-benar kuat untuk menahan beban
diatasnya)
5) Perancah dan bekesting hanya boleh dibongkar setelah
mendapatkan ijin tertulis dari Konsultan Pengawas
6) Pembongkaran harus dibuktikan bahwa beton telah mampu secara
teknis dan mendapatkan ijin dari Konsultan Pengawas.
e. Campuran Beton
1) Campuran beton dibuat dengan perkiraan perbandingan volume,
dengan macam campuran 1PC:2Psr:3Kr untuk foot plat, sloof,
kolom, balok, plat lantai, kolom praktis, balok, tahu beton (acuan
selimut beton)
2) Kekentalan
Banyaknya air untuk campuran beton harus ditentukan sedemikian
rupa sehingga tercapai sifat mudah dikerjakan sesuai dengan
penggunaannya. Untuk mencegah terjadinya air pada campuran
beton berlebihan atau kurang, nilai slump harus berada dalam
batasan yang disyaratkan SNI 1972-2008 Tentang Cara Uji Slump
Beton. Pekerjaan Beton yang tidak memenuhi persyaratan slump
tidak boleh digunakan dalam pekerjaan.
f. Beton Ready mix.
Pemakaian adukan beton ready mix harus mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas. Kontraktor harus bertanggung jawab penuh
bahwa adukan yang disupply tersebut telah memenuhi syarat-syarat
dalam spesifikasi serta menjamin homogienitas dan kualitas yang
kontinyu (mernus) pada setiap kali didatangkan. Konsultan Pengawas
mempunyai wewenang pada setiap saat minta kepada kontraktor untuk
mengadakan percobaan mutu beton dan bilamana diragukan kualitasnya
maka Konsultan Pengawas akan menghentikan dan menolak suply beton
ready mix tersebut. Semua resiko dan biaya sebagai akibat dari hal-hal
tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor.
g. Kawat pengikat.
Kawat Pengikat Harus berukuran minimal 1 mm, kualitas baik dan tidak
berkarat
h. Air.
Air untuk campuran dan untuk pemeliharaan beton harus dari air bersih
dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton.
i. Lapisan Pelindung Beton/selimut beton/beton dekking
Untuk lapisan pelindung beton ditentukan sebagai berikut : kolom 3 cm,
balok 2,5 cm dan harus sepengetahuan Konsultan Pengawas. Campuran
untuk beton dekking 1pc:2ps sekurang-kurangnya berumur 7 hari.
j. Semua bahan yang dipergunakan harus mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas. Konsultan Pengawas berhak minta Pemeriksaan
Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik semua beton yang dicor atas
biaya Penyedia Jasa .
11.3. Macam Pekerjaan.
a. Untuk beton struktur menggunakan mutu beton f’c 19,3 MPa, jika
dipandang perlu untuk memperoleh mutu beton f’c 19,3 MPa yang
disyaratkan, direksi dapat memerintahkan Penyedia Barang/Jasa untuk
mengadakan percobaan pendahuluan guna menentukan rencana
campuran beton (mix design)
b. Semua pekerjaan beton bertulang pada bangunan ini dikerjakan atas
dasar perhitungan serta gambar-gambar yang dibuat oleh Konsultan
Perencana .
c. Ukuran penulangan/pembesian, bentuk dan letak sesuai gambar
rencana, apabila ada macam penulangan yang belum jelas dapat
dikonsultasikan dengan Konsultan Perencana/ Pengawas.
d. Pencoran beton
1) Pencoran beton hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas
2) Sebelum pencoran dilaksanakan semua peralatan harus tersedia
dalam jumlah cukup dan dalam keadaan baik.
3) Penyedia Barang/Jasa harus menyediakan slump apparatus, terdiri
dari : kerucut abram, tongkat penumpuk dan alas dari logam
4) Tinggi jatuh beton segar agar tidak menimbulkan segresi masksimal
2 m kecuali diberi “jendela” dan tremix
5) Pemberhentian pencoran harus mendapa persetujuan dari
Konsultan Pengawas
i. Bagian yang akan dicor harus bersih dari kotoran (potongan
kayu, serbuk gergajian dan kotoran lain)
ii. Sambungan cor beton harus diberi lem beton sekualitas SIKA
iii. Tidak diijinkan melakukan pencoran pada suhu diatas 32 0 C
e. Pemadatan
1) Pemadatan beton harus dilaksanakan dengan internal vibrator yang
digerakkan dengan motor atau listrik
2) Jarum penggetar di celupkan ke dalam beton secara vertical, dalam
keadaan khusus jarum penggetar boleh dimiringkan 45 0.
3) Harus dijaga agar jarum tidak menyentuh tulangan dan bekisting
4) Jarum penggetar tidak boleh digerakkan arah horizontal tebal
lapisan beton yang digetarkan tidak boleh lebih dari 500 mm
5) Jarum Penggetar harus ditarik dari adukan apabila adukan mulai
nampak mengkilat (setelah 30 detik)
f. Rawatan keras (curing)
1) Jika bekesting kolom dibongkar, kolom harus diselimuti dengan
goni basah dan ditutup dengan plastik.
g. Kontrol kualitas
1) Setiap campuran adukan beton yang akan dituangkan
konsistensinya harus diuji menggunakan “slump apparatus”
(kerucut abram)
2) Jika tinggi slump adukan lebih dari 100 mm adukan tersebut harus
ditambah dengan semen atau tidak digunakan.
3) Setiap 5 m3 adukan beton paling sedikit harus di buat dua buah
sample silinder beton, sample yang lain diuji pada umur 28 hari.
11.4. Syarat-syarat Pelaksanaan.
a. Pelaksanaan penakaran semen agregat harus dengan takaran yang
volume sama.
b. Banyaknya air untuk campuran beton harus ditentukan sedemikian rupa
sehingga tercapai sifat mudah dikerjakan sesuai dengan
penggunaannya, dalam hal ini apabila diperlukan akan diadakan
pengujian slump.
c. Mutu beton dan baja tulangan yang digunakan, yaitu :
1) Mutu beton : f’c 19,3 MPa untuk beton struktur
: f’c 19,3 MPa untuk beton non struktur
2) Mutu baja tulangan : fy 400 MPa untuk beton struktur (baja
tulangan menggunakan besi Deform/
ulir dan tidak boleh menggunakan besi
bekas tekuk)
fy 240 MPa untuk beton non struktur
d. Pengadukan, pengangkutan, pencoran, pemadatan terutama harus
diperhatikan
1) Pengadukan semua beton harus dilaksanakan dengan mesin
pengaduk beton (beton molen).
2) Pemadatan beton untuk konstruksi beton bertulang harus dengan
mesin penggetar (vibrator).
3) Pemasangan bekisting harus rapi dan kaku sehingga setelah
dibongkar mempunyai bidang yang rata dan hanya memerlukan
sedikit penghalusan.
4) Papan bekisting menggunakan multiplek tebal 9 mm .
5) Celah-celah antara papan harus cukup rapat sehingga pada
pencoran tidak ada air adukan yang keluar.
6) Sebelum pencoran, sisi dalam dari bekisting harus disiram dengan
air dan bebas dari kotoran-kotoran atau benda-benda lain yang
tidak diperlukan.
e. Sebelum pencoran dimulai, Konsultan Pengawas harus diberi tahu dan
diberi waktu yang cukup untuk melakukan pemeriksaan rangkaian baja
tulangan yang telah terpasang. Jika menurut pendapat Konsultan
Pengawas rangkaian baja tulangan tersebut tidak sesuai dengan gambar
rencana, pencoran beton tidak boleh dilaksanakan
f. Jika dipandang perlu untuk memperoleh struktural yang disyaratkan,
Konsultan Pengawas dapat memerintahkan kontraktor untuk
mengadakan percobaan pendahuluan guna menentukan rencana
campuran beton (mix design).
a. Selama pencoran, mutu beton atau mutu pelaksanaan harus diperiksa
secara kontinyu dengan benda uji. Dianjurkan disamping membuat
benda-benda uji untuk diperiksa pada 28 hari.
b. Benda-benda uji yang baru dicetak harus disimpan ditempat yang bebas
dari getaran, ditutup karung basah dan dilepas dari cetakannya setelah
keras.
c. Beton yang selesai dicor harus dilindungi dari hujan dan panas matahari
serta kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh gaya-gaya sentuhan
sebelum beton menjadi keras.
d. Perancah dan acuan tidak boleh dibuka kecuali sudah ada persetujuan
dari Konsultan Pengawas.
e. Waktu perawatan minimal untuk beton yang menggunakan semen dan
tanpa bahan pembantu adalah 14 (empat belas) hari. Selama waktu
perawatan, permukaan beton harus diusahakan tetap dalam keadaan
lembab dengan cara menutupi dengan karung-karung basah, atau
menggenanginya dengan air.

12. PENUTUP ATAP DAN 12.2. Pekerjaan Penutup Atap


PLAFON a. Bahan.
1) Jenis atap yang digunakan adalah :
- Genteng Glasur sekualitas ”Murando” dipasang pada Gedung
dan Teras
2) Dipasang pada rangka atap (usuk/reng) yang telah disesuaikan
dengan ukuran jaraknya.
3) Dilengkapi dengan alat-alat pengkait dan unsur-unsur penutup
atap lainnya yang nyata-nyata berkaitan.
4) Bahan-bahan tersebut harus diangkut dan digudangkan di
lapangan.
5) Bubungan yang digunakan sekualitas gentengnya.
b. Macam Pekerjaan yang dilaksanakan :
1) Meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja serta alat-alat yang
berhubungan dengan pekerjaan atap.
2) Memasang pekerjaan atap sesuai dengan gambar rencana.
3) Memasang bubungan atap sesuai dengan atapnya.
4) Menyediakan genteng-genteng cadangan sebesar 1%.
c. Syarat-syarat pelaksanaan :
1) Penutup atap yang dipasang harus satu merk dan seukuran
2) Sebelum genteng dipasang harus di cek dulu kekuatan
konstruksi atap dan bidang konstruksi atap sudah rata (baik)
3) Penyedia barang/jasa harus mengajukan contoh penutup atap
kepada Konsultan Pengawas, Pengelola Teknik Pekerjaan
sebelum mendatangkan penutup atap. Penutup atap yang
didatangkan harus sama dengan contoh penutup atap yang
disetujui.
4) Penutup atap boleh dipasang setelah mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas
5) Pemasangan penutup atap harus dijaga kerapiannya
12.1. Pekerjaan rangka Atap baja ringan
a. Subkon dan Dukungan Baja ringan
1) Dalam pengajuan penawaran harus mencamtumkan dukungan
bahan dan subkon baja ringan
2) Subkon sebelum pelaksanaan untuk mempresentasi
pembebanan dan mutu bahan
b. Bahan.
1) Persyaratan Bahan Rangka atap baja ringan
• Properti mekanis baja (Steel Mechanical Properties) :
- Baja Mutu Tinggi G550
- Teg Leleh Min. (Minimum Yield Strength) : 550 Mpa
- Modulus Elastisitas : 2,1 x 105 MPa
- Modulus Geser : 8 x 104 MPa
• Lapisan pelindung terhadap korosi (Protective Coating) :
- Lapisan pelindung seng dan aluminium (Zincalume/AZ)
dengan komposisi sebagai berikut:
▪ 55 % Aluminium (Al)
▪ 43,5 % Seng (Zinc)
▪ 1,5 % Silicon (Si)
- Ketebalan Pelapisan : 50 gr/m2 (AZ 50)
• Profil Material :
- Rangka Atap
Profil yang digunakan untuk rangka atap adalah profil lip-
channel.
C75.75 (tinggi profil 75 mm dan tebal dasar baja 0,75
mm), berat 0,97 Kg/M’
- Reng (batten)
Profil yang digunakan untuk reng adalah profil top hat ( U
terbalik).
TS. 41.055 (tinggi profil 41 mm dan tebal dasar baja 0,55
mm), berat 0,66 Kg/M’
- Talang jurai dalam (valley gutter)
Talang yang dimaksud disini adalah talang jurai dalam
dengan ketebalan dasar baja 0.45 dan telah dibentuk
menjadi talang lembah.
c. Macam Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pengiriman material ke site, perangkaian
(assembling) dan ereksi (erection), seluruh pekerjaan pemasangan
baja ringan seperti tercantum dalam gambar kerja meliputi :
1) Pekerjaan rangka atap (roof truss)
2) Pekerjaan reng (batten)
3) Pekerjaan jurai dalam (valley gutter)
d. Syarat-syarat pelaksanaan :
1) Persyaratan Design
(1) Design rangka atap harus didukung oleh analisis
perhitungan yang akurat serta memenuhi kaidah-kaidah
teknik yang benar dalam perancangan standard batas
desain struktur baja cetak dingin (Limit State Cold Formed
Steel Structure Design)
(2) Kontraktor wajib menyerahkan mill certificate (sertifikat
pabrik) dari material baja yang akan digunakan serta
dokumen data-data produk.
2) Persyaratan Pra-Konstruksi
(1) Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung
jawab terhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum
dalam gambar Kerja. Pada prinsipnya ukuran pada gambar
kerja adalah ukuran jadi/finish.
(2) Setiap bagian yang tidak memenuhi persyaratan yang
tertulis disini yang diakibatkan oleh kurang teliti dan
kelalaian kontraktor akan ditolak dan harus diganti
kewajiban yang sama juga berlaku untuk ketidakcocokan
kesalahan maupun kekurangan lain akibat Kontraktor tidak
teliti dan cermat dalam koordinasi dengan gambar
pelengkap dari Arsitek, Struktur, Mekanikal, dan Elektrikal.
Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambah dalam hal ini
harus dikerjakan atas biaya Kontraktor tidak dapat diklaim
sebagai biaya tambah.
(3) Perubahan bahan/detail karena alasan tertentu harus
diajukan ke Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana
untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis. Semua
perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan tanpa adanya
biaya tambahan yang mempengaruhi kontrak, kecuali untuk
perubahan yang mengakibatkan pekerjaan kurang akan
diperhitungkan sebagai pekerjaan tambah kurang.
(4) Sebaiknya sebanyak mungkin bahan untuk konstruksi baja
ringan difabrikasi di workshop, baik workshop permanen
atau workshop sementara. Kontraktor bertanggung jawab
atas semua kesalahan detail, fabrikasi dan ketetapan
pemasangan semua komponen struktur konstruksi baja
ringan.
3) Persyaratan Konstruksi
(1) Sambungan
Alat penyambung antar elemen rangka atap yang
digunakan untuk fabrikasi dan instalasi adalah baut
menakik sendiri (self drilling screw) dengan spesifikasi
sebagai berikut :
i. Kelas Ketahanan Korosi Minimum : Class 2 (Minimum
Corrosion Rating)
ii. Ukuran baut untuk struktur rangka atap (Truss
Fastener) adalah type 12-14x20. dengan ketentuan
sebagai berikut:
- Diameter ulir : 12 Gauge (5,5 mm)
- Jumlah ulir per inchi
(Threads per inch/TPI) : 14 TPI
- Panjang : 20 mm
- Ukuran kepala baut : 5/16” (8 mm hex.
socket)
- Material : AISI 1022 Heat treated
carbon steel
- Kuat geser rata-rata
(Shear, Average) : 8.8 kN
- Kuat tarik minimum
(Tensile, min) : 15.3 kN
- Kuat torsi minimum
(Torque, min) : 13.2 kNm
iii. Ukuran baut untuk struktur reng (batten fartener)
adalah type 10-16x16, dengan ketentuan sebagai
berikut:
- Diameter ulir : 10 Gauge (4,87 mm)
- Jumlah ulir per inchi
(Threads per inch/TPI) : 16 TPI
- Panjang : 16 mm
- Ukuran kepala baut : 5/16” (8 mm hex.
socket)
- Material : AISI 1022 Heat treated
carbon steel
- Kuat geser rata-rata
(Shear, Average) : 6.8 kN
- Kuat tarik minimum
(Tensile, min) : 11.9 kN
- Kuat torsi minimum
(Torque, min) : 8.4 kNm
iv. Pemasangan jumlah baut harus sesuai dengan detail
sambungan pada gambar kerja.
v. Pemasangan baut harus menggunakan alat bor listrik
560 watt dengan kemampuan putaran alat minimal
2000 rpm.
(2) Pemotongan material
i. Pekerjaan pemotongan material baja ringan harus
menggunakan peralatan yang sesuai, alat potong
listrik dan gunting, dan telah ditentukan oleh pabrik.
ii. Alat potong harus dalam kondisi baik.
iii. Pemotongan material harus mengikuti gambar kerja.
iv. Bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan
bersih.
12.3. Pekerjaan Plafon
a. Bahan.
1) Langit-langit dan dinding partisi dari bahan gypsum, produk setara
“Jayaboard, Knauf”, tebal 0.9 cm dipasang pada tempat yang
ditunjukkan dalam gambar kerja.
2) Rangka langit-langit menggunakan hollow galfanis ukuran
40x40x0,35 dipasang sesuai gambar kerja
3) Sebelum mengerjakan pekerjaan kontraktor harus mengajukan
contoh bahan untuk dimintakan persetujuan Konsultan Pengawas/
Pengelola teknis
b. Macam pekerjaan.
1) Memasang langit-langit sesuai bahan tersebut di atas pada
ruangan-ruangan yang dinyatakan pada gambar rencana
2) Memasang kerangka langit-langit hollow galvanis ukuran
40x40x0,35 sesuai gambar rencana
c. Syarat-syarat pelaksanaan.
1) Kontraktor sebelum melaksanakan pekerjaan ini harus mangajukan
subkontraktor yang berpengalaman di bidang ini.
2) Rangka yang terpasang harus benar-benar lurus dan datar
sehingga saat pemasangan gypsum tidak bergelombang, gridnya
harus lurus dan datar, garis vertikal dan horisontal harus saling
tegak lurus sesuai desain.
3) Pola pemasangan langit-langit tiap kesatuan ruang dibuat sesuai
gambar kerja.
4) Seluruh struktur kerangka harus kuat hubungannya ditahan dengan
baik oleh struktur rangka atap dan dinding.
5) Penggantung plafond harus sedemikian rupa sehingga diperoleh
bidang plafond yang rata, datar dan tidak melengkung
6) Penyedia barang jasa bertanggung jawab atas segala akibat yang
mungkin terjadi terhadap
- kemungkinan dibuatnya lubang-lubang untuk pemeriksaan
- Kemungkinan–kemungkinan pemasangan alat-alat
maintenance pada plafond luar bangunan
7) Harus ada koordinasi antara Penyedia barang/jasa dengan Sub
kontraktor-sub kontraktor serta persetujuan pemberi tugas melalui
Konsultan Pengawas
8) Apabila hasil pemasangan langit-langit terjadi lendutan-lendutan
atau kekurangan-kekurangan lain, kontraktor harus mengganti dan
memperbaiki bila diminta pembongkaran oleh pengawas /
Pengelola teknis.

13. PEKERJAAN KAYU 13.1. Bahan.


a. Kayu yang dipakai harus menggunakan kayu kualitas baik, tua,
kering dan tidak bercacat pecah-pecah serta tidak terdapat kayu
mudanya (spint)
b. Selama pelaksanaan, mutu dan kekeringan kayu harus dijaga dengan
menyimpannya ditempat kering, terlindung dari hujan dan panas
terutama kayu kosen dan rangka pintu yang telah disetel.
13.2. Macam pekerjaan dan jenis kayu :
a. Macam pekerjaan :
1) Memasang papan listplank, papan reuter sesuai gambar rencana
b. Konstruksi kayu menggunakan jenis kayu di bawah ini :
1) Kayu bengkirai atau Sekualitas
Kayu bengkirai digunakan untuk : listplank
c. Ukuran Kayu
1) Ukuran listplank 2/20
13.3. Syarat-syarat Pelaksanaan.
a. Semua pekerjaan kayu yang tampak harus diserut rata khususnya
kayu untuk listplank, dan lain-lain yang ditentukan dalam gambar
rencana.
b. Semua sambungan kayu memanjang, lubang dan pen harus dimeni.

14. PEKERJAAN LANTAI 14.1. Bahan


DAN PELAPISAN a. Keramik lantai sekualitas “MILAN, ASIATILE” ukuran 40 x 40, kualitas
DINDING KW 1, warna ditentukan kemudian, dipasang sesuai gambar rencana.
Keramik plint dinding sekualitas keramik lantai.
b. Keramik lantai sekualitas “PLATINUM, KIA”, ukuran 25 x 25 (motif dan
warna ditentukan kemudian), dipasang untuk lantai KM/WC.
c. Keramik dinding sekualitas “PLATINUM, KIA”, ukuran 25 x 40 (motif dan
warna ditentukan kemudian), dipasang untuk dinding KM/WC.
d. Penyedia Barang/Jasa diharuskan mengajukan contoh bahan-bahan
tersebut di atas secukupnya untuk mendapatkan persetujuan Konsultan
Pengawas, Konsultan Perencana dan Pengelola Teknik Pekerjaan atau
Pemberi Tugas. Hal ini harus dilakukan sebelum Penyedia Barang / Jasa
mendatangkan bahan-bahan tersebut dalam jumlah besar.
14.2. Macam Pekerjaan
a. Pekerjaan lantai keramik meliputi pemasangan secara rata dan rapi,
pemotongan keramik lantai serta paving block sesuai kebutuhan hingga
benar-benar sempurna.
b. Pekerjaan pelapisan dinding meliputi pemasangan keramik dinding yang
benar-benar rata dan rapi dengan perekat yang memenuhi syarat,
sesuai gambar rencana dan petunjuk Konsultan Pengawas.
14.3. Syarat pelaksanaan.
a. Persiapan
1) Sebelum pekerjaan lantai ruangan dikerjakan, Penyedia Barang /
Jasa harus mengadakan persiapan yang baik, terutama pemadatan
lantai dasar dan di atasnya diberi pasir urug dengan ketebalan
sesuai ketentuan dalam gambar rencana. Semua pekerjaan pipa
dan saluran di bawah lantai harus ditempatkan sesuai gambar
rencana dan sebelum lantai ruangan dipasang, harus diadakan
pemeriksaan yang teliti dan mendapatkan persetujuan Konsultan
Pengawas.
2) Pekerjaan finishing lantai baru boleh dilaksanakan setelah seluruh
pekerjaan plafond dan pemasangan lapisan-lapisan pada dinding
selesai dikerjakan.
3) Sebelum pekerjaan ini dilakukan, pemborong diwajibkan
mengadakan pengecekan terhadap peil lantai dan kemiringannya.
b. Pemasangan keramik.
1) Semua keramik lantai di pasang dengan menggunakan perekat 1
Pc : 4 Ps.
2) Di bawah lantai diberi urugan pasir dan rabat beton campuran
1pc:3ps:5Sp tebal sesuai gambar rencana, tebal adukan untuk
pemasangan lantai keramik kurang lebih 3 cm.
3) Setelah pasangan lantai keramik cukup kering dan telah disetujui/
diperiksa kerapian pemasangannya, maka celah antara keramik
satu dengan yang lain dikolot dengan cara disiram pertama dengan
pasta semen encer, sehingga kira-kira separoh tinggi/ tebal celah
terisi pasta semen, kemudian disiram kedua dengan pasta semen
agak kental hingga benar-benar semua celah terisi pasta semen.
4) Keramik dinding dipasang dengan perekat 1Pc : 2 Ps.
5) Permukaan keramik bagian bawah harus terisi penuh/padat dengan
adukan.
6) Pemotongan keramik harus dihindarkan, bila terpaksa harus
dilakukan dengan pemotong mesin dengan lebar kira-kira 1/2 kali
lebar keramiknya.
7) Pengisian / pengecoran naat dilakukan paling cepat 24 jam setelah
tegel dipasang.
8) Sewaktu pengisian naat ini tegel harus sudah benar-benar
melekat dengan kuat pada lantai .
9) Sebelum diisi, celah-celah naat ini harus dibersihkan terlebih
dahulu dari debu dan kotoran lain.
10) Usahakan agar permukaan tegel yang sudah terpasang tidak
terkena adukan/ air semen.
11) Kotoran semen dan lain-lain yang menempel dipermukaan tegel
pada waktu pengecoran naat harus segera dibersihkan sebelum
mengering/mengeras.
12) Bila pemasangan telah selesai seluruhnya, maka lantai harus di lap/
disapu sehingga bersih.
13) Permukaan lantai yang sudah terpasang, hasilnya harus rapi baik,
tidak miring tidak bergelombang, terpasang dengan kuat.
14) Bila masih diperlukan,tegel harus dibersihkan dengan lap basah
atau dengan bahan-bahan pembersih lunak yang ada dipasaran.
15) Untuk menghilangkan kotoran yang sukar dilepas, dapat digunakan
sikat baja atau bahan pembersih khusus, disesuaikan dengan jenis
kotoran.
16) Pada bagian-bagian yang memerlukan pemotongan harus
dilakukan dengan menggunakan mesin pemotong.

14.4. Pelaksana harus mengadakan dan harus menyerahkan contoh-contoh ubin


keramik yang dipakainya kepada pengawas untuk mendapat persetujuannya.

15. PEKERJAAN CAT- 15.1. Bahan.


CATAN. a. Pengertian cat disini meliputi emulsi, enamel, vernis, sealer cement
emulsion filler dan pelapis-pelapis lain yang dipakai sebagai cat dasar,
cat perantara dan cat akhir.
b. cat pigmen harus dimasukkan dalam kaleng, dimana tertera nama
perusahaan pembuat, petunjuk pemakaian, formula, warna, nomor seri
dan tanggal pembuatannya.
c. Semua cat yang akan dipakai harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas dan Konsultan Perencana, warna cat akan ditentukan
kemudian.
Jenis cat yang digunakan :
- Besi : sekualitas EMCOLUX
- Kayu : sekualitas EMCOLUX
- Dinding luar, dalam dan plafon : sekualitas CATYLAC, MOWILEX
d. Cat meni besi digunakan sincromat dan cat meni kayu digunkan merk
sekualitas “JAGO”.
e. Bahan pengencer digunakan dari produksi pabrik yang sama dengan
bahan yang diencerkan.
15.2. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Cat tembok.
1) Bidang yang akan dicat sebelumnya harus dibersihkan dengan cara
menggosok dengan memakai kain yang dibasahi air, kemudian dicat
paling sedikit dua kali sampai baik atau dengan cara yang telah
ditentukan oleh pabrik.
2) Pengecatan pada dinding dikerjakan tanpa plamur/dempul
b. Cat meni kayu
Bidang yang akan dicat meni harus bersih dan dalam keadaan kering.
Pengecatan harus merata dan tidak terlihat lagi serat-serat kayu yang
dicat, termasuk memeni sambungan-sambungan kayu.
c. Cat kayu
Menggunakan cara seperti petunjuk dari pabriknya atau sebelum
pekerjaan pengecatan dimulai, kayu harus kering dan digosok dengan
kertas ampelas sampai halus dan didempul pada tempat yang
berlubang, selanjutnya diplamur, sehingga permukaannya menjadi rata
dan licin, baru kemudian dicat sampai rata. Pengecatan dilakukan di
tempat yang bebas dari panas matahari langsung.
d. Cat meni besi
Segera setelah pekerjaan besi atau baja dibersihkan sampai kulit giling
dan permukaan korosi terbuang dan terlihat warna metalik, pengecatan
meni dilaksanakan sampai rata dan baik.
e. Cat besi
Semua pekerjaan yang telah dicat meni besi, baru boleh dicat besi,
setelah terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran yang menempel.
Pengecatan minimal dua kali. Pengecatan yang dilakukan di luar ketika
keadaan mendung atau hujan tidak diperkenankan.
f. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor wajib melakukan percobaan
yang akan dilaksanakan. Biaya percobaan ini ditanggung Kontraktor
Hasil percobaan tersebut harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas
/Perencana untuk mendapatkan persetujuan bagi pelaksanaan
pekerjaan.
g. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada
bekas yang menunjukkan tanda-tanda sapuan, roller maupun
semprotan. Tebal minimum dari tiap lapisan jadi/finished minimum sama
dengan syarat yang dispesifikasikan pabrik.
h. Apabila dari cat yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar
beracun atau membahayakan keselamatan manusia, maka Kontraktor
harus menyediakan peralatan pelindung misalnya masker, sarung
tangan dan sebagainya yang harus dipakai pada waktu pelaksanaan
pekerjaan
i. Tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan ini dalam keadaan cuaca
yang lembab hujan, berdebu terutama untuk pelaksanaan di dalam
ruangan bagi cat dengan bahan dasar beracun atau membahayakan
manusia, maka ruangan tersebut harus mempunyai ventilasi yang cukup
atau pergantian udara berlangsung lancar. Di dalam keadaan tertentu,
misalnya untuk ruangan tertutup, Kontraktor harus memakai kipas
angin/fan untuk memperlancar pergantian/aliran udara.
j. Peralatan seperti kuas, roller, sikat kawat, kape, pompa udara tekan/
vacuum, semprotan dan sebagainya harus tersedia dari kualitas/mutu
terbaik.
k. Khusus untuk semua cat dasar disapukan dengan kuas. Penyemprotan
hanya boleh dilakukan apabila disetujui Konsultan Pengawas
/Perencana.
l. Pemakaian ampelas, pencucian dengan air maupun pembersihan
dengan kain kering terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas/Perencana terkecuali disyaratkan lain
dalam spesifikasi ini.
m. Pelaksanaan pekerjaan ini khususnya pengecatan cat dasar untuk
komponen bahan/material metal, harus dilakukan sebelum komponen
tersebut terpasang.
n. Sebelum pelaksanaan, seluruh permukaan harus dibersihkan dari debu,
lemak, kotoran atau noda lain, bekas-bekas cat yang terkelupas bagi
permukaan yang pernah dicat dan dalam kondisi kering.
o. Pemakaian kuas hanya untuk permukaan di mana tidak mungkin
menggunakan roller.
p. Pekerjaan pengecatan semua dinding/permukaan pasangan batu dan
permukaan beton yang tampak/exposed seperti tercantum dalam
gambar kerja.
q. Semua pekerjaan kayu harus diberi meni kayu atau cat dasar. Terkecuali
untuk permukaan kayu yang dinyatakan ditampakkan serat kayunya
tidak diperkenankan diberi meni kayu/cat dasar
a. Semua pekerjaan kayu dalam Gambar Kerja yang ditampakkan harus
dicat finish seperti terurai di atas.
b. Sebelum pengecatan, semua pekerjaan kayu telah didempul dengan
baik dan rapi, sesuai persyaratan yang terurai dalam pekerjaan kayu.
c. Dinding bagian luar, dan dalam sebelum dicat terlebih dahulu diamplas
sampai rata kemudian baru dimulai dicat sampai rata minimal 3 (tiga)
kali dan atau sampai dapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
d. Semua pekerjaan kayu yang akan dicat terlebih dahulu harus dicat dasar
kemudian didempul lalu diplamur dan diamplas sampai rata. Pengecatan
dikerjakan 2 - 3 kali sampai rata untuk warna menurut petunjuk
Konsultan Pengawas.
e. Pelaksanaan pekerjaan cat harus sesuai dengan persyaratan yang
tercantum dalam :
1. SNI 03-2410-2002 Tata Cara Pengecatan dinding tembok dengan
cat emulsi
2. SNI 2407-2008 Tata Cara Pengecatan kayu untuk rumah dan
gedung.
15.3. Macam Pekerjaan.
Pekerjaan ini meliputi :
a. Cat dinding, cat beton, dan cat plafond.
b. Cat listplank
15.4. Semua cat yang dipakai harus mendapat persetujuan konsultan pengawas
sebelum dipakai didalam pekerjaan
16. PEKERJAAN
16.1. Bahan.
PENGGANTUNG DAN
a. Material penggantung dan pengunci menggunakan produk setara :
PENGUNCI
“DEKSON”
b. Semua alat-alat penggantung dan pengunci sebelum didatangkan dan
dipasang, diwajibkan diajukan contoh-contoh terlebih dahulu untuk
mendapatkan persetujuan dalam rapat evaluasi.
16.2. Macam Pekerjaan.
a. Pemasangan alat penggantung dan pengunci dilakukan meliputi seluruh
pemasangan pada daun pintu alumunium dan daun jendela alumunium,
yang ditunjukkan/diisyaratkan dalam detail gambar.
b. Mengadakan dan memasang kunci tanam pada pintu sesuai gambar
rencana
c. Floor hinge dipasang pada pintu kaca/aluminium yaang membuka 2 arah
ataun 180 0
d. Engsel nylon dipasang pada pintu-pintu yang membuka satu arah
e. Flas bolt dipasang pada pintu-pintu dobel.
f. Pull handles dipasang pada daun pintu kaca
16.3. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Engsel atas dipasang + 28 Cm (as) dari permukaan atas pintu. Engsel
bawah dipasang + 32 Cm (as) dari permukaan bawah pintu. Engsel
tengah dipasang di tengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
b. Untuk pintu toilet, engsel atas dan bawah dipasang + 28 Cm dari
permukaan pintu, engsel yang dipasang ditengah-tengah antara kedua
engsel tersebut.
c. Penarik pintu (door full) dipasang 90 Cm (as) dari permukaan lantai.
d. Pemasangan lock case, handle, back plate, serat door closer harus rapi,
lurus dan sesuai dengan letak posisi yang telah ditentukan oleh
Konsultan Pengawas. Apabila hal tersebut tidak tercapai, Pelaksana
Pekerjaan wajib memperbaiki tanpa tambahan biaya.
e. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus
dilakukan pengujian secara kasar dan halus.
f. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
g. Pelaksana Pekerjaan wajib membuat shop drawing (gambar detail
pelaksanaan) berdasarkan gambar Dokumen Kontrak yang telah
disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Di dalam shop drawing harus
jelas dicantumkan semua data yang diperlukan termasuk keterangan
produk, cara pemasangan atau detail-detail khusus yang belum tercakup
secara lengkap di dalam Gambar Dokumen Kontrak sesuai dengan
Standar Spesifikasi Pabrik.
i. Shop drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui oleh Pengawas
lapangan.
j. Semua pemasangan harus rapi, sehingga pintu-pintu & jendela dapat
ditutup dan dibuka dengan mudah, lancar dan ringan.

17. PEKERJAAN BESI, 17.1. Bahan.


KACA DAN a. Semua bahan yang dipakai disertai jaminan mutu dari pabrik
ALUMINIUM. (manufacture) atau sertifikat pengujian dari laboratorium pengujian
dari Laboratorium Penguji bahan yang disetujui Tim teknis serta
memenuhi standart Industri yang berlaku
b. Semua bahan yang dipakai harus disertai jaminan mutu dari pabrik
atau sertifikat pengujian dari laboratorium penguji bahan serta
memenuhi Standart Insdustri Indonesia (SII)
c. Semua bahan yang dipakai Penyedia Barang / Jasa diwajibkan
mengajukan contoh-contoh terlebih dahulu untuk mendapatkan
persetujuan dalam rapat evaluasi.
d. Pekerjaan besi stainlessteel
1) Bahan besi stainlessteel ukuran Ø 2 “ tebal 2 mm, Ø 2 “ tebal 1 mm
tidak boleh cacat, dimensi dan bentuk profil harus tepat.
2) Mutu bahan baut yang dipergunakan harus memenuhi syarat mutu
bahan standart pabrik minimal sama atau lebih besar dari mutu
besi baja yang disambung
e. Kusen dan daun pintu/jendela
1) Aluminium untuk kusen pintu, kusen jendela, daun pintu serta daun
jendela sekualitas “ALEXINDO” dari extanded aluminium tebal profil
minimum 1,3 mm dengan ketebalan warna minimum 18 micron
glass ukuran sesuai gambar rencana. Warna kusen dan daun yang
digunakan adalah natural
2) Bahan yang diproses pabrikan harus diseleksi terlebih dahulu
dengan seksama sesuai dengan bentuk toleransi, ukuran,
ketebalan, kesikuan, kelengkungan, pewarnaan yang disyaratkan
Direksi/Konsultan Pengawas.
3)Persyaratan kusen alumunium yang dikerjakan seperti yang
ditunjukkan dalam detail gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
4)Bahan yang akan diproses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu
sesuai dengan bentuk toleransi ukuran, ketebalan, kesikuan,
kelengkungan dan pewarnaan yang disyaratkan. Untuk
keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna
profil-profil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada
waktu fabrikasi unit-unit, jendela, pintu partisi dan lain-lain, profil
harus diseleksi lagi warnanya sehingga dalam tiap unit didapatkan
warna yang sama. Pekerjaan mesin potong, mesin punch, drill,
sedemikian sehingga diperoleh hasil yang telah dirangkai untuk
jendela bukaan dinding dan pintu mempunyai toleransi ukuran
untuk tinggi dan lebar 1 mm sedangkan untuk diagonal 2 mm.
4) Accessories
Sekrup dari stainless steel galvanized kepala tertanam, weather
strip dari vinyl, pengikat alat penggantung yang dihubungkan
dengan alumunium harus ditutup caulking dan sealant. Angkur-
angkur untuk rangka/kusen terbuat dari steel plate tebal 2-3 mm,
dengan lapisan seng tidak kurang dari (13) micron sehingga dapat
bergeser. Tidak boleh ada sekrup yang dilepas diluar. Untuk itu
harus digunakan rivets atau las.
5) Sealent sekualitas “General Electric” dipasang pada pertemuan
kusen aluminium dengan dinding / beton.
g. Kaca
1) Semua jenis kaca yang digunakan harus produksi pabrik yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
2) Kaca yang digunakan adalah kaca (jenis dan tebal) sesuai gambar
rencana kualitas baik dan rata, tidak bergelombang. Pemasangan
sesuai dengan gambar rencana.
3) Peralatan Pelengkap Pemasangan Kaca Semua peralatan pelengkap
untuk pemasangan kaca harus sesuai dengan rangka tempat
kedudukkannya, tepat ukuran serta dari mutu terbaik serta harus
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
4) Merk yang di setujui : Ashahimas, Panasap
17.2. Macam Pekerjaan.
a. Meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja serta alat-alat yang
berhubungan dengan rangka atap, pintu jendela aluminium dan
pekerjaan kaca
b. Pemasangan kusen alumunium pintu dan jendela sesuai gambar
rencana
c. Pemasangan daun pintu alumunium sesuai gambar rencana.
d Pemasangan kaca jendela sesuai gambar rencana.
17.3. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Pekerjaan aluminium
1) Pemborong harus mengajukan dahulu contoh-contoh bahan,
aluminium dan kaca, contoh-contoh konstruksi dan membuat shop
drawing bagi rencana kusen dan daun aluminium guna
mendapatkan persetujuan Konsultan Menejemen konstruksi
2) Bahan yang dipakai sebelum diproses fabrikasi diseleksi dahulu
sesuai dengan bentuk toleransi ukuran ketebalan yang
dipersyaratkan , kesikuan, kelengkungan, dan pewarnaan yang
dipersyaratkan kemudian dikerjakan dengan mesin potong, mesin
punch, drill, sehingga hasil yang telah dirangkai untuk jendela dan
pintu-pintu mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
▪ Ukuran tinggi dan lebar 1mm
▪ Ukuran diagonal 2 mm
3) Semua frame atau kusen baik untuk dinding, jendela dan pintu
dikerjakan secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan
kondisi lapangan agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
4) Pemotongan alumunium hendaknya dijauhkan dari material besi
pada permukaanya. Disarankan untuk mengerjakannya pada
tempat yang aman dengan hati-hati tanpa menyebabkan keruskan
pada permukaannya.
5) Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan
sekrup, rivet, stap dan harus cocok. Pengelasan harus rapih untuk
memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai gambar.
6) Angkur-angkur untuk rangka atau kusen alumunium terbuat dari
steel plate setebal 2-3 mm dan ditempatkan pada interval 300 mm.
7) Antara tembok/kolom/beton dan kusen aluminium harus diisi
dengan “seal” yang elastis, terutama untuk pintu dan jendela luar.
8) Pemasangan kaca-kaca terhadap kusen aluminium harus
menggunakan “seal” yang berupa alur karet.
9) Sambungan-sambungan vertikal maupun horisontal, sambungan
sudut maupun silang, demikian juga pengkombinasian profil-profil
aluminium harus dipasang sempurna, bila perlu dengan skrup-
sekrup pengaku.
10) Dalam keadaan ditutup atau dibuka kaca-kaca tidak boleh bergetar
yang menandakan kurang sempurnanya pemasangan “seal keliling”
11) Selain tidak boleh bergetar, pemasangan seal harus menjamin
bahwa tidak akan terjadi kebocoran yang diakibatkan oleh air hujan
maupun udara luar.
12) Pemborong wajib menjga kusen-kusen aluminium dan bidang-
bidang kaca yang sudah terpasang dari kotoran-kotoran seperti air
semen, cat, plesteran dan lain-lain, serta mengamankannya dari
benturan-benturan.
b. Pekerjaan Kaca
1) Pemeriksaan Keadaan Pekerjaan
Sebelum mulai pemasangan, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk
memeriksa keadaan lokasi pemasangan, baik dalam hal kesiapan
maupun ketelitian dan kecermatan pelaksanaan pekerjaan
pendahulunya.
2) Penyimpangan
Dalam hal terjadi penyimpangan pada pelaksanaan pekerjaan
pendahulunya, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk segera
melaporkan keadaan tersebut guna penyelesaian permasalahannya.
3) Pemotongan, Pengangkatan dan Pemasangan Kaca
Pemotongan kaca harus lurus, rapi dan halus, tepat ukuran,
selanjutnya dipasang pada lokasinya dengan jepitan yang sesuai,
terpasang kuat serta tepat dalam posisinya, baik dalam hal
ketegakan ataupun kemiringan sesuai dengan gambar rancana.
4) Pembersihan
Pada penyelesaian, pekerjaan harus dalam keadaan bersih dan
terpasang sesuai dengan mutu kerja yang disyaratkan.
5) Kaca harus dipotong menurut ukuran dengan kelonggaran cukup,
sehingga pada waktu kaca mengembang tidak pecah.
6) Kaca yang telah dipasang harus dapat tertanam rapi dan kokoh
pada rangka terutama pada sudut-sudutnya.
7) Kaca yang dipasang pada kusen dan kaca daun semua sudutnya
harus ditumpulkan dan sisi tepinya digosok hingga tidak tajam.

18. PEKERJAAN 18.1. PEKERJAAN ELEKTRIKAL


MEKANIKAL DAN 1. PERSYARATAN UMUM
ELEKTRIKAL a) Pekerjaan instalasi listrik ini harus dilaksanakan oleh instalatir yang
telah mempunyai surat pengakuan SPI dan SIKA Golongan C dari
PLN dan masih berlaku
b) Gambar spesifikasi dan risalah Aanwijzing merupakan suatu kesatuan
yang saling mengikat dan melengkapi. Kontraktor harus menjalin
hubungan yang baik dengan kontraktor lain dalam pekerjaan ini
sehingga didapat hubungan yang baik untuk secara bersama-sama
menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan jadwal dan spesifikasi
yang ditentukan.
c) Pada dasarnya untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik,
disamping Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini berlaku peraturan-
peraturan menurut :
i SNI 0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik
ii Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Dinas
Keselamatan Kerja Setempat.
iii Ketentuan yang dikelurakan Pabrik yang membuat mesin
perlengkapan dan material yang digunakan pada proyek ini
iv Peraturan/Persyaratan lainnya yang berlaku syah di Indonesia
v peraturan PLN setempat
d. Dalam hal pelaksanaan pemasangan instalasi listrik ini harus
dilaksanakan oleh instalasi listrik yang pertanggung jawaban tetap
menjadi beban kontraktor utama. Penunjukan instalatir listrik
sebelumnya harus mendapat persetujuan dari pemberi tugas.
e. Ijin dan pemeriksaan
Kontraktor bertanggungjawab penuh atas mutu instalasi dan
peralatan yang digunakan. Semua ijin-ijin dan pemeriksaan dari
Badan pemerintah yang berwenang adalah merupakan tanggungjwab
Kontraktor sepenuhnya
f. Koordinasi dengan pekerjaan lain
Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor wajib Croos cheking antara
gambar instalasi listrik dengan gambar/spesifikasi dari pekerjaan
yang lain yang berhubungan satu dengan yang lainnya agar didapat
mutu pekerjaan yang baik. Bila terdapat kelainan dari gambar-
gambar maupun spesifikasi dari pekerjaan lain kontraktor wajib
melaporkan kepada pengawas atau pemberi tugas
g. Pengawasan
kontraktor wajib dan bertanggung jawab atas semua pekerjaannya.
Kontraktor wajib menempatkan tenaga pengawas dan tenaga ahli
untuk mengawasi pekerjaannya sendiri. Penanggungjawab
pelaksanaan pekerjaan harus selalu berada di tempat pekerjaan dan
dapat mengambil keputusan penuh, demi kelancaran pekerjaan
2. RUANG LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjan listrik ini meliputi pengadaan, pemasangan instalasi dan daya
listrik, pengujian, pengesahan dari semua peralatan/material yang
disebutkan dalam spesifikasi ini atau pengadaan dan pemasangan
peralatan /material yang menunjang/ mendukung sehingga sistem
instalasi ini akan bekerja dengan baik.
Lingkup pekerjaan untuk proyek ini adalah sebagai berikut :
a. Pengadaan dan pemasangan instalasi penerangan dan tenaga
termasuk fixtures, kabel instalasi,saklar, stop kontak biasa, stop
kontak khusus untuk komputer.
b. pengadaan dan pemasangan instalasi pentahanan
c. Testing dan Copmisioning
d. Pekerjaan instalasi listrik ini dilaksanakan sampai menyala/
tersambung ke PLN dan semua peralatan berfungsi dengan baik.
3. BAHAN DAN MATERIAL
a. Semua material/bahan yang digunakan/dipasang harus dari jenis
material bekwalitas terbaik dalam keadaan baru (tidak dalam
keadaan rusak atau afkir), sesuai dengan mutu dan standart yang
berlaku, baik standart nasional maupun internasional. Instalatir
dalam hal ini kontraktor, bertanggungjawab penuh atas mutu dan
kwalitas material yang akan dipakai, setelah mendapat persetujuan
dari pengawas atau pemberi tugas
b. Sebelum dilakukan pemasangan-pemasangan, instalatir harus
menyerahkan contoh-contoh-contoh (sample) dari bahan-bahan yang
akan dipasang/digunakan kepada pengawas.
c. Daftar merk peralatan/material yang akan digunakan, katalog dan
brosur harus dilampirkan dalam dokumen tender, bila kemudian hari
ada kelainan antara daftar dengan pengadaannya maka kontraktor
wajib mengganti semua peralatan yang telah dipasang.
d. Bila ternyata peralatan tidak sesuai dengan daftar yang
diajukan/disetujui Pengawas atau yang memberi tugas, semua
penggantian merk/jenis dari peralatan yang telah disetujui dalam
daftar akan diadakan perhitungan biaya (minder) dari biaya kontrak
4. PERSYARATAN TEKNIS
a. Pengadaan dan pemasangan kabel didalam maupun diluar bangunan
1) Semua hantaran, baik yang ditarik dalam pipa, di usahakan
tidak tampak dari luar
2) semua tarikan kabel harus tidak ada sambungan.
3) Ukuran dari penghantar disesuaikan dengan gambar
4) Kabel atau hantaran dari merk supreme, kabel Metal atau
Kabelindo Untuk Kabel feder dan merk Prima untuk kabel
instalasi Lampu dan Stop Kontak.
5) Kabel antar panel diluar bangunan menggunakan NYF Gby
b. Pengadaan dan pemasangan instalasi penerangan dan stop kontak
biasa.
1) Semua kabel yang dipergunakan untuk instalasi listrik harus
memenuhi persyaratan PUIL/ LMK. Semua kabel/wiring harus
baru dan harus jelas ditandai mengenai ukurannya, jenis
kabelnya, nomor dan jenis pintalannya. Semua kabel dengan
penampang 6 mm² ke atas haruslah terbuat secara dipilin
(stranded). Instalasi ini tidak boleh memakai kabel dengan
penampang lebih kecil 2,5 mm² kecuali untuk pemakaian remote
control.
2). Untuk hantaran ke titik penerangan dan stop kontak dalam
bangunan, menggunakan kabel jenis NYM yang dilindungi
dengan pipa PVC high impact Ukuran pipa minimal 20 mm
dari klas high impact, merk “CLIPSAL”
3). Untuk hantaran ke titik penerangan dan stop kontak dalam
bangunan, menggunakan kabel jenis NYM yang dilindungi
dengan pipa PVC high impact Ukuran pipa minimal 20 mm
dari klas high impact, merk “CLIPSAL”
4). Pemasangan di bawah langit-langit.
i. Pemasangan pelindung kabel (conduit) yang berada
dalam kolom lantai beton dan dinding beton, harus
dilaksanakan sebelum pengecoran
ii. Pemahatan atau pembobokan harus dilakukan sebelum
dinding bersangkutan diplester/ditalud
5). Kotak-kotak sambung
i. Tempat-tempat sambungan/kotak-kotak sambungan dari
hantaran sedapat mungkin ditempatkan pada tempat
yang mudah dicapai oleh operator
ii. Kotak-kotak sambung harus digunakan dari jenis-jenis
Dora-doos yang berkwalitas baik cocok untuk keperluan
tersebut (merk EGA, MK, Clipsal)
iii. Pada ujung-ujung hantaran yang akan disambungkan
pada titik penerangan atau yang akan disambungkan
kepada peralatan atau titik penerangan harus dilengkapi
dengan kotak sambungan dengan ujung yang
mempunyai sambungan klem baut.
iv. Semua sambungan hantaran dengan hantaran harus
dilaksanakan dengan menggunakan klem baut dan harus
terlindungi dengan bahan isolasi dari sentuhan yang
mungkin timbul
v. Sambungan antar hantaran dengan menggunakan rel-rel
dari panel selama tidak menggunakan klem baut, pada
ujung hantaran harus dipasang sepatu-sepatu hantaran
yang berkapasitas sama dengan hantarannya dan disolder
penuh pada hantarannya.
d. Armatur, Bolamp
Jenis-jenis lampu dan Armature antara lain :
1) Downlight 18 watt inbow
2) Downlight 18 watt outbow
3) Downlight 8 watt inbow
Semua SL ex Philips. Jenis-jenis lampu tersebut dipasang sesuai
dengan gambar perencanaan
e. Saklar dan stop kontak
1). Jenis saklar adalah
i. Saklar tunggal
ii. Saklar ganda
Spesifikasi 250 V/6A dipasang inbow setinggi 150 cm dari lantai
setempat merk sekualitas “BROCO” warna putih
2) Stop kontak
Stop kontak biasa dengan fan, 250 V/6 A 3 kawat inbow. Stop
kontak biasa dipasang 150 cm dari lantai sekualitas “BROCO”
jenis stop kontak tersebut dipasang sesuai dengan gambar
perencanaan di lengkapi dengan kawat pentahanan (grounding)
f. Pengadaan dan Pemasangan Instalasi Pentahanan
1) Seluruh peralatan listrik yang mengandung unsur logam
termasuk armature harus dihubungkan kehantaran tanah.
Ukuran hantaran pentahanan masing-masing panel yang
berarus dengan batas minimal 16 mm2 sedang untuk
armature dari logam dan stop kontak minimal menggunakan
ukuran 2,5 mm2, atau sesuai gambar
2) Instalasi pentahanan ini harus dihubungkan dengan elektrode
pentahanan di panel utama dengan test tahanan sebaran
tanah yang diijinkan maximal 2  (ohm).
5. PENGUJIAN
a. Pengujian tahanan isolasi
Setelah pengujian tahanan dinyatakan baik Instalasi baru dapat diuji
dimasuki tegangan. Dalam pengujian tegangan yang perlu diuji ialah :
1) Keadaan instalasi lampu-lampu dan peralatan pengaman
selama 3x 24 jam (uji nyala 3 x 24 jam), Penggunaan daya
listrik untuk pengujian ini ditanggung oleh Kontraktor.
2) Saklar-saklar dapat berfungsi untuk mematikan dan
menghidupkan serta tidak terjadi panas berlebihan.
3) MCB dapat bekerja dengan baik dan tidak terjadi panas yang
berlebihan
4) Lampu-lampu, dapat menyala, stop kontak ada tegagan
listriknya.
5) KWH Meter dapat berfungsi, Ampere meter, volt meter, Cos
Phi Q meter berfungsi / terbaca
6) Kotak-kotak sambung melekat dengan erat tidak terjadi lost
kontak. Pengujian tersebut harus didata (disusun) dengan
baik minimum 24 jam dan dibuatkan berita Acaranya. Bila
pengujian tersebut dimasuki tegangan dan menggunakan
listrik dari PLN/milik proyek/ user kontraktor wajib dibebani
biaya pengganti pemakaian listrik setelah ada ijin dari proyek
/ user.

19. PEKERJAAN 19.1. Bahan.


SANITASI DAN LAIN- a. Pipa PVC sekualitas Wavin ukuran sesuai gambar rencana. dipasang di
LAIN semua system jaringan air bersih dan system jaringan air kotor.
b. Macam-macam sambungan.
Sambungan pipa dipilih bahan sesuai dengan jenis dan mutu yang
terbaik dan dari pabrik yang sama serta disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
c. Kloset Duduk sekulitas “American Standart, TOTO”, Klosed jongkok
sekulitas “TOTO”, serta penguras (floor drain) dari kuningan dipasang
pada KM/WC sesuai gambar rencana
d. Kran air sekualitas “SAN-EI”, dipasang pada KM/WC sesuai gambar
rencana.
e. Semua bahan yang dipakai harus baru dengan kualitas yang memenuhi
syarat.
19.2. Macam pekerjaan.
a. Menyediakan tenaga kerja, alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan
untuk membangun instalasi plumbing sesuai dengan gambar rencana,
Pemasangan pipa-pipa untuk saluran air bersih dan saluran air kotor
lengkap dengan alat pengontrol, sambungan-sambungan dan
kelengkapan lain.
b. Pipa PVC untuk saluran air bersih dan air kotor.
Pipa-pipa yang digunakan sesuai dengan gambar dan disambung
dengan sambungan menurut keperluan.
c. Membuat/memasang kelengkapan KM/WC (Klosed jongkok, floor drain,
penguras, jaringan air bersih maupun air kotor dll) sesuai gambar
rencana hingga dapat berfungsi sempurna.
d. Membuat sumur peresapan air kotor.
e. Membuat septicktank dan bak kontrol dengan pasangan bata 1pc : 2ps,
diplester 1pc : 2ps dan diaci sesuai gambar rencana
19.3. Syarat Pelaksanaan .
a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada Pengawas
lapangan beserta persyaratan/ ketentuan pabrik untuk mendapatkan
persetujuan. Bahan yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya
tambahan.
b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran/ penggantian bahan,
pengganti harus disetujui Pengawas lapangan berdasarkan contoh yang
diajukan Kontraktor.
c. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar-
gambar yang ada dan kondisi di lapangan, termasuk mempelajari
bentuk, pola, penempatan, pemasangan sparing-sparing, cara
pemasangan dan detail detail sesuai gambar.
d. Bila ada kelainan dalam hal ini apapun antara gambar dengan spesifikasi
dan sebagainya, maka Kontraktor harus segera melaporkan kepada
Pengawas lapangan.
e. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan disatu tempat bila ada
kelainan/ perbedaan di tempat itu sebelum kelainan tersebut
terselesaikan.
f. Selama pelaksanaan harus selalu diadakan pengujian/pemeriksaan
untuk kesempurnaan hasil pekerjaan dan fungsinya.
g. Kontraktor wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti bila ada
kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi,
atas biaya Kontraktor, selama kerusakan bukan disebabkan oleh
tindakan Pemilik.
h. Penyedia barang/jasa sebelum mengerjakan instalasi air bersih dan
kotor diwajibkan mengajukan gambar shop drawing untuk dimintakan
persutujuan direksi/Konsultan Pengawas.
i. Pemasangan pipa harus ditanam dalam tanah maupun dinding sesuai
kebutuhan secukupnya hingga aman terhadap benda-benda lain. Untuk
kedalaman pemasangan / penanaman pipa harus seijin Konsultan
Pengawas.
j. Semua sambungan pipa PVC harus dilem rata dan memakai shok yang
rapat
k. Kloset beserta kelengkapannya yang dipasang adalah yang telah
diseleksi dengan baik, tidak ada bagian yang gompal, retak atau cacat-
cacat lainnya dan telah disetujui Pengawas lapangan.
l. Kloset harus terpasang dengan kokoh letak dan ketinggian sesuai
gambar, waterpass. Semua noda-noda harus dibersihkan, sambungan-
sambungan pipa tidak ada kebocoran-kebocoran.
m. Penutupan bekas jalur pipa harus dikembalikan seperti semula dan
dalam keadaan sempurna.
n. Semua pekerjaan sanitasi dan sanitair termasuk pembuatan sumur
peresapan air hujan serta sumur peresapan air kotor, harus dikerjakan
sampai sempurna dan berfungsi dengan baik.

20. PERALATAN Penyedia harus menyediakan peralatan untuk pekerjaan utama


No. Jenis Kapasitas Jumlah Status
Peralatan Kepemilikan
1 Theodolith - 1 unit Milik sendiri/sewa
2 Stamper 60 kg/cm2 2 unit Milik sendiri/sewa
3 Scalfolding Minimal set Milik sendiri/sewa
100
4 Pompa Air 2 PK 2 unit Milik sendiri/sewa
5 Dump Truck 4 m3 3 unit Milik sendiri/sewa
7 Concret Mixer 500 ltr 2 unit Milik sendiri/sewa
21. RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI
1. Penyedia menyampaikan jenis pekerjaan dan identifikasi bahayanya. Penyusunan
dokumen mengacu kepada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2014
tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
No. Jenis Identifikasi Jenis Bahaya Pengendalian
Pekerjaan & Resiko K3 Resiko K3
1 2 3 4
1 Pekerjaan - kecelakaan pada waktu -
Persiapan pembuatan kantor
direksi
- terhirup debu
2 Pekerjaan - Kecelakaan kerja, -
Galian - Kebisingan
dan - Debu
Urugan - tertimpa/tertimbun
material
3 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Pasangan - Tertimpa material
dan - Iritasi kulit
Plesteran
4 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Beton - tertimpa material
- tertusuk/tergores besi
- Kebisingan
- Debu
5 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Pyan - terjatuh
- tertimpa material
- terpukul palu
- tertusuk paku
- Debu
6 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Lantai dan - Bau dan debu
Pelapis - tergores keramik
- tergores mesin
pemotong
- tertimpa material
7 Pekerjaan - Bau dan partikel debu -
Cat-catan - terjatuh
8 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Instalasi - Tersengat listrik
Listrik - terjatuh
9 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Sanitasi - tertimpa material
dan - tergores
Saniter keramik/mesin
pemotong keramik
10 Pekerjaan - Kecelakaan kerja -
Kusen - Tersayat
Aluminium pisau/pemotong
, - terjatuh
penggant - tertusuk
ung, logam/material
pengunci aluminium
dan besi
2. Penyedia wajib menunjuk seorang petugas K3 / ahli K3 yang bersertifikat K3
Konstruksi dan berpengalaman minimal 2 tahun
3. Penyedia wajib mengikuti dan menyediakan Skema Protokol Pencegahan Covid-19
Dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi di kutip dariInstruksi Menteri PUPR No C2
/1N/M/2020

22. PELAPORAN Segala admistrasi yang berkaitan dengan pekerjaan ini dilaksanakan oleh
petugas administrasi
JADWAL WAKTU PELAKSANAAN

BULAN I BULAN II BULAN III BULAN IV


N URAIAN PEKERJAAN K
o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E
0 1 2 3 4 5 6 7 8 T
I PERSIAPAN
1 Uitzet & bowplank 1,00 l
s
2 Papan nama pekerjaan 1,00 l
s
3Bongkaran Bangunan Lama (275 1,00 l
m2) s
4 Pembersihan lokasi 1,00 l
s
5 Administrasi dan dokumentasi 1,00 l
s
6 Biaya Sistem Manajemen Kesehatan 1,00 l
Keselamatan K s
I PEKERJAAN GALIAN DAN
I URUGAN
1 Galian tanah pondasi menerus 93,21 m
3
2 Urugan tanah kembali 79,59 m
3
3 Urugan pasir bawah pond. 6,27 m
menerus, tebal = 5 cm 3
Urugan
4 pasir bawah lantai ruangan, 15,02 m
tebal = 5 cm 3
5 Urugan tanah bawah lantai 196,70 m
dipadatkan 3
I PEKERJAAN PASANGAN DAN
I PLESTERAN
I
Pas.
1 pondasi menerus batu putih 1 80,66 m
:6 3
2 Pas. bata merah 1 : 6 442,98 m
2
3 Plest. Dinding 1 : 6 + Acian 885,96 m
2
4 Acian beton 9,98 m
2
5 Sponengan 268,32 m
I PEKERJAAN BETON
V BERTULANG
1Rabat beton bawah lantai ruangan t = 5 15,02 m
cm, Mutu bet 3
Sloof
2 15/20 (SL), Mutu beton f'c = 5,38 m
19,3 Mpa 3
3
Kolom 15/20 (K1), Mutu beton f'c 3,83 m
= 19,3 Mpa 3
4
Kolom 12/12 (K2), Mutu beton f'c 0,95 m
= 19,3 Mpa 3
Balok
5 Latei 12/15 (BL), Mutu beton 1,26 m
f'c = 19,3 Mpa 3
6Balok 15/20 (B1), Mutu beton f'c = 19,3 1,86 m
Mpa (el. +2.8 3
7Balok 15/25 (B2), Mutu beton f'c = 19,3 0,17 m
Mpa (el. +2.8 3
8 Balok Konsol, Mutu beton f'c = 0,15 m
19,3 Mpa (el. +2.85) 3
9Plat Atap R. Tunggu dan KM/Wc, 6,11 m
tebal = 10 cm, Mut 3
1Listplank 7/50, Mutu beton f'c = 0,91 m
0 19,3 Mpa 3
Balok
1 Ring 12/20 (BR), Mutu beton 3,47 m
1 f'c = 19,3 Mpa 3
1 Plat Meja, tebal = 10 cm, Mutu 0,14 m
2 beton f'c = 19,3 Mpa 3
V PEKERJAAN PENUTUP ATAP
DAN PLAFON
Rangka
1 atap baja ringan Main Truss 417,91 m
C75 Reng 0,45 2
2 Atap genteng glasur 417,91 m
2
3 Bubungan genteng glasur 57,85 m
Atap
4 Solar Tuff 3mm Gelap Rangka 42,29 m
Hollo 40x40x2 2
5 Plafond Gypsum board 227,75 m
2
6 Rangka Plafond Hollo Galvanis 227,75 m
2
7Talang galvalume rangka papan 7,30 m
kayu
8 Kalsiplank lebar 20 cm 58,70 m
V PEKERJAAN LANTAI
I
1Keramik lantai 40 x 40 termasuk 289,05 m
(Raam Kasar) 2
2 Keramik Meja 40 x 40 0,90 m
2
3 Keramik lantai 25 x 25 (KM/Wc) 11,40 m2
4 Keramik dinding 25 x 40 tinggi 24,00 m2
200cm (KM/Wc)
5 Pemasangan hospital plint 157,59 m
VII PEKERJAAN CAT-CATAN
1 Cat listplank 15,26 m2
2 Cat dinding dan kolom 895,94 m2
3 Cat plafond 288,87 m2
4 Kompound/Acian Plat dan Balok 61,12 m2
VII PEKERJAAN INSTALASI
I LISTRIK
1 Stop kontak dan instalasinya 25,00 titi
k
2 Stop kontak AC dan instalasinya 12,00 titi
k
3 Saklar tunggal dan instalasinya 14,00 titi
k
4 Saklar ganda dan instalasinya 3,00 titi
k
5 Lampu SL 18 Watt (downlight 24,00 bh
inbow)
6 Lampu SL 18 Watt (downlight 6,00 bh
outbow)
7 Exhaust Fan 10" termasuk Cassing 10,00 bh
8 Panel Penerangan (PP.1) lengkap 1,00 bh
terpasang sesuai
(Box Panel, MCCB 20A 3P = 1 bh, MCB 10A
1P = 10 bh)
9 Panel AC (PAC.1) lengkap terpasang 1,00 bh
sesuai gambar
(Box Panel, MCCB 20A 3P = 1 bh, MCB 10A
1P = 13 bh)
10 Kabel NYY 4x6 mm2 dari Panel MDP s/d PP 1,00 m'
R.Jalan
11 Kabel NYY 4x6 mm2 dari Panel PP R.Jalan 2,00 m'
s/d Pane
IX PEKERJAAN KACA, BESI DAN
ALUMINIUM
1 Pintu Teakwood Rangkap Rangka 8,00 uni
Almunium, Kusen t
2 Pintu Teakwood Rangkap Rangka 2,00 uni
Almunium, Kusen t
3 Pintu Teakwood Rangkap+Plat 1,00 uni
Almunium Rangka Al t
4 Pintu Slidding Teakwood Rangkap m uni
Rangka Almuniu 6,0 t
0
5 Jendela Kaca, Rangka Almunium 7,00 uni
(J.1) lengkap terpa t
6 Jendela Kaca, Rangka Almunium 3,00 uni
(J.2) lengkap terpa t
7 Jendela Kaca, Rangka Almunium 2,00 uni
(J.L) lengkap terpa t
8 Partisi Gypsum, Rangka Metastud 26,04 m2
(Sekat) dicat leng
9 Partisi Kaca Es, Rangka Almunium 9,60 m2
(Sekat) lengkap t
10 Bovent Kaca, Rangka Almunium 7,00 uni
(Bv) lengkap terpas t
11 Memasang Hand railling tepi dinding (pipa 48,85 m
stainlesste
X PEKERJAAN SANITASI DAN
SANITAIR
1 Klosed duduk + jetwasher lengkap 1,00 bh
terpasang (KD)
2 Klosed jongkok lengkap terpasang 1,00 bh
(KJ)
3 Wastafel lengkap terpasang (W) 7,00 bh
4 Bak Cuci Stainlessteel lengkap 1,00 bh
terpasang
5 Floor drain lengkap terpasang (FD) 2,00 bh
6 Bak kontrol pasangan bata 30x30 2,00 bh
tinggi 35 cm
7 Krant air lengkap terpasang (K) 3,00 bh
8 Pipa PVC tipe AW dia. 1" lengkap 64,00 m
terpasang
9 Pipa PVC tipe D dia. 4" lengkap 64,00 m
terpasang
10 Stop krant water tower 1,00 bh
11 Sumur peresapan lengkap 2,00 uni
terpasang (SPAH) t
12 Sumur peresapan lengkap 1,00 uni
terpasang (SPAK) t
13 Saluran bis beton dia 30cm 11,50 m
14 Waterproofing Atap Plat Lt 1 61,12 m2

23. PENUTUP Segala sesuatu yang belum tercantum dalam Dokumen Pengadaan ini akan dibahas kemudian