Anda di halaman 1dari 7

A.

Deskripsi Bencana
1. Daerah bencana

Kota Kendari memiliki luas ± 295,89 km² atau 0,70 persen dari luas daratan Provinsi
Sulawesi Tenggara, merupakan dataran yang berbukit dan dilewati oleh sungai-sungai yang
bermuara ke Teluk Kendari sehingga teluk ini kaya akan hasil lautnya.

Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian
besar terdapat di daratan, mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau, yaitu Pulau
Bungkutoko, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara
3º54’30” - 4º3’11” Lintang Selatan dan 122º23’ - 122º39’ Bujur Timur.

Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan:

 Sebelah Utara: Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe


 Sebelah Timur: Laut Banda
 Sebelah Selatan: Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe
Selatan
 Sebelah Barat: Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan dan Kecamatan
Sampara, Kabupaten Konawe

Sekitar bulan April, arus angin selalu tidak menentu dengan curah hujan yang tidak merata.
Musim ini dikenal sebagai musim pancaroba atau peralihan antara musim hujan dan musim
kemarau. Pada bulan Mei sampai dengan bulan Agustus, angin bertiup dari arah timur berasal
dari benua Australia yang kurang mengandung uap air. Hal ini mengakibatkan kurangnya
curah hujan di daerah ini, sehingga terjadi musim kemarau.

Pada bulan November sampai dengan bulan Maret, angin bertiup banyak mengandung uap air
yang berasal dari benua Asia dan Samudera Pasifik, setelah melewati beberapa lautan. Pada
bulan-bulan tersebut di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya biasanya terjadi musim hujan.
Menurut data yang ada memberikan indikasi bahwa di Kota Kendari tahun 2005 terjadi 205
hari hujan dengan curah hujan 2.850 mm.

Menurut data yang diperoleh dari Pangkalan Udara Wolter Monginsidi Kendari, selama tahun
2005 suhu udara maksimum 32,83 °C dan minimum 19,58 °C atau dengan rata-rata 26,20 °C.
Tekanan Udara rata-rata 1.010,5 millibar dengan kelembaban udara rata-rata 87,67 persen.
Kecepatan angin di Kota Kendari selama tahun 2005 pada umumnya berjalan normal,
mencapai 12,75 m/detik.

Topografi wilayah Kota Kendari pada dasarnya berfariasi antara datar dan berbukit. Daerah
datar terdapat di bagian Barat dan Selatan Teluk Kendari. Kecamatan Kendari yang terletak
di sebelah Utara teluk sebagian besar terdiri dari perbukitan (Pegunungan Nipa-Nipa)dengan
ketinggian ± 459 M dari permukaan laut, sedangkan kearah Selatan tingkat kemiringan antara
4% - 30%, bagian Barat Kecamatan Mandonga) dan Selatan (Kecamatan Poasia) terdiri dari
daerah perbukitan bergelombang rendah dengan kemiringan ke arah Teluk Kendari. Dilihat
berdasarkan ketinggian wilayah Kota Kendari di atas permukaan laut, kecamatan Mandonga
merupakan Wilayah tertinggi berada pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut.
Selanjutnya wilayah kecamatan Abeli dan Kendari Barat berada pada ketinggian 3 meter
diatas permukaan laut.

Sebagai akibat dari tindakan tersebut, Kota Kendari menjadi wailayah yang rentan terhadap
banjir. Berdasarkan data historis kejadian banjir Kota Kendari, pada tahun 2007 terjadi dua
kali kejadian, tahun 2008 terjadi dua kali keadian, tahun 2009 terjadi dua kali kejadian, tahun
2010 terjadi lima kali, tahun 2011 terjadi dua kali, tahun 2012, terjadi dua kali, tahun 2013,
terjadi satu kali (BPS Kota Kendari, 2014). Sedangkan kejadian banjir dengan kerugian
terbesar terjadi pada tahun 2013 dimana banjir menyebabkan sebesar 70% dari luas wilayah
terendam air (Basarnas Daerah, 2013). Selain itu, data kerugian akibat banjir tersebut
mencapai angka miliaran rupiah (BNPB daerah, 2013).
Wilayah rawan banjir yang ada di Kota Kendari, merupakan kawasan yang berada pada
kondisi kerendahan (bantaran kali) dengan akumulasi muara pengaliran air dari kawasan
punggungan yang lebih tinggi. Untuk daerah yang berpotensi rawan banjir terdiri dari 9
Kecamatan dan tersebar pada 33 kelurahan di Kota Kendari (Anonymous, 2012)

2. Penyebab terjadinya bencana


Kota Kendari terletak pada wilayah dataran banjir, baik di pinggir sungai maupun ditepi
pantai yang rawan terhadap terjadinya banjir. Sebagai kota berkembang, konversi lahan
menjadi lahan terbangun terjadi secara masif untuk pembangunan infrastuktur seperti
pembangunan jalan, pertamina, rumah sakit, perumahan, perhotelan dan ruko. Penimbunan
daerah rawa sehingga terjadi pengurangan kawasan retensi yang sangat penting dalam proses
hidrologi dan tatanan ekosistem. Kondisi-kondisi seperti ini menjadi faktor yang
menyebabkan banjir. Selain itu faktor-faktor yang menyebabkan banjir di wilayah kota
Kendari adalah :
a. Curah hujan
Peta curah hujan tahun 2013 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan wilayah Kota
Kendari memiliki curah hujan > 2.500 mm/tahun. Data sebaran curah hujan diperoleh
dengan menginterpolasi data 6 (enam) stasiun curah hujan yang ada di Kota Kendari dan
sekitarnya. Sebaran curah hujan yang diperoleh sejalan dengan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Jaya (2015) yang menyimpulkan bahwa curah hujan yang terjadi di Kota
Kendari relatif seragam.
b. Kurangnya penyerapan
Kota Kendari dimana ruang-ruang terbukanya tidak berfungsi sebagai sarana peresapan
air serta pada saluran-saluran drainasenya digunakan sebagai tempat pembuangan air
hujan dari lahan-lahan terbangun sehingga dalam keadaan hujan lebat menjadikan
kawasan ini relatif mudah tergenang.
c. Penebangan hutan dan penambangan Pasir
Penebangan hutan yang terus-menerus dilakukan untuk membangun infrakstruktur
menyumbang besar terhadap kejadian benjir di Kota Kendari, selain itu penambangan
pasir yang dilakukan oleh warga sekitar bantaran kali dan sungan yang menyebabkan
semakin dangkalnya perairan sungai hingga menyebabkan banjir bahkan dengan
intensitas hujan yang cukup rendah.
3. Masalah yang muncul akibat bencana banjir
Dampak yang diakibatkan oleh bencana banjir ini adalah
a. Kesulitan air bersih
Keterbatasan air bersih pasti ditemukan dalam kondisi banjir begini, baik untuk minum atau
untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Air isi ulang sangat dibutuhkan untuk air minum dan
mandi.
b. Menimbulkan kerugian ekonomi
Banjir mengakibatkan kerusakan rumah dan isi barang dalam rumah, bahkan kehilangan
barang-barang berharga lainnya. Selain itu, para korban juga akan sulit untuk bekerja selama
banjir terjadi. Musibah ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat korban dari sisi
ekonomi. Untuk beberapa daerah yang terdampak besar terhadap banjir ini akan berdampak
juga kepada penghambatan laju perputaran roda ekonomi suatu daerah karena masyarakat
setempat sangat bergantung dengan hasil alam di daerah tersebut.
c. Menimbulkan masalah kesehatan
Air kotor, kekurangan air bersih, dan banyaknya genangan air sudah dipastikan
menimbulkan masalah kesehatan. Dan berikutnya akan menimbulkan penyebaran wabah
penyakit. Penyakit yang timbul pada kawasan yang terkena banjir ini rentan menyerang
anak-anak dan kaum lanjut usia. Hal ini terjadi karena Perilaku Hidup Sehat dan Bersih
(PHBS) tidak dilaksanakan dengan baik dan benar seperti melakukan cuci tangan setelah
kontak dengan air banjir (khususnya sebelum makan), tidak membiarkan anak-anak bermain
dengan air banjir dan mainan yang sudah terkontaminasi air banjir. Di Indonesia, penyakit
demam berdarah adalah penyakit yang paling diwaspadai ketika musim hujan tiba atau
pasca banjir. Sementara untuk penyakit yang disebabkan oleh binatang pengerat,
leptospirosis merupakan penyakit yang paling banyak ditemui. Bakteri leptospira banyak
ditemukan pada tikus. Penyebaran pada manusia terjadi bila urine tikus yang mengandung
leptospira mengkontaminasi air dan makanan serta mengenai kulit manusia.
d. Melumpuhkan aktifitas masyarakat
Banjir yang cukup besar dapat menenggelamkan rumah penduduk dan mengharuskan
masyarakat korban untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pakaian seadanya dan
tidak adanya tempat tinggal membuat masyarakat menjadi sulit untuk melakukan aktifitas
seperti biasa. Bencana banjir juga membuat kesulitan dalam akses dan transportasi. Selain
itu dapat merusak fasilitas sosial dan fasilitas umum yang dapat membantu kegiatan
pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
e. Menimbulkan korban jiwa
f. Korban jiwa juga dapat ditemukan dalam kondisi bencana banjir. Baik karena terseret arus
banjir atau karena luapan air yang tidak dapat diprediksi. Sangat memungkinkan hal itu
terjadi jika banjir yang terjadi menimbulkan kerusakan permukiman masyarakat dan
lingkungannya. Selain itu, korban jiwa juga berasal dari korban banjir yang terkena penyakit
seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, tidak sedikit juga korban jiwa ini terjadi
karena penggunaan listrik atau peralatan elektronik di rumah yang sedang kebanjiran atau
terkena sengatan listrik yang berasal dari tiang listrik yang tidak dipadamkan sebelumnya
oleh PLN. https://pemkomedan.go.id/artikel-18051-beberapa-dampak-banjir-bagi-
masyarakat.html
4. Jumlah Penduduk yang terancam
Berdasarkan data BNPB sebanyak 88 KK (200 Jiwa)
5. Jumlah Korban
 Meninggal :1
 Hilang : 0
 Luka Berat :0
 Pengungsi : 200 jiwa
 Jumlah Korban yang dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit : 1
6. Jumlah Kelompok rentan dalam pengungsi

Ibu Hamil : 16 jiwa


Ibu menyusui : 93 Jiwa
Balita : 93 Jiwa
Lansia : 119 Jiwa
( Data Daerah Sampara Sulawesi Tenggara) https://mediakendari.com/akibat-banjir-
sejumlah-fasilitas-umum-di-kecamatan-sampara-rusak/49094/
7. Sarana Kesehatan yang rusak
Puskesmas terendam : 4
Puskesmas Pembantu : 4
Gudang Farmasi :1
8. Fasilitas umum
 Jembatan putus : 3
 Jalan trans Sulawesi Tenggara-Sulawesi Tengah putus

B. Penanganan Bencana
a. Pra Bencana
Pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan level medium
1. Pencegahan (Prevention)
Pencegahan merupakan upaya yang dilakukn untuk mencegah terjadinya
bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya). Yang dilakukan pada
mekanisme pra banjir yakni :
 Melakukan reboisasi terhadap hutan disekitar daerah yang terkena
dampak banjir.
 Melakukan kajian ulang terhadap daerah-daerah yang akan dilakukan
pembangunan infrastruktur
2. Mitigasi Bencana (Mitigation)
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana (UU24/2007) atau upaya yang dilakukan untuk
meminimalkan dampak yang ditimbulkan bencana. Hal dilakukan adalah :
 Melakukan penutupan tambang-tambang yang berpotensi
menimbulkan banjir
 Melakukan edukasi terhadap masyarakat (dilakukannya Sekolah
tanggap bencana di bawah kementerian sosial Kendari dan difasilitasi
oleh TAGANA)
 Membuat bendungan di daerah-daerah kali dan sungan yang
mengalami dampak banjir
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakaukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna (UU 24/2007). Yang dengan melakukan :
 Menyiapkan sarana komunikasi
 Membangun pos komando
 Penyiapan lokasi evakuasi
 Membuat rencana kontinjensi
 Mengadakan sosialisasi peraturan/pedoman penanggulangan bencana
 Melakukan pesangan rambu-rambu evakuasi
4. Peringatan dini (Early Warning)
Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera
mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada
suatu tempat oleh lembaga berwenang (UU 24/2007), atau upaya yang
memberikan tanda peringan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi.
Pemberian peringatan dini harus :
 Menjangkau masyarakat
 Segera
 Tegas tidak membingungkan
 Bersifat resmi

Hal ini biasa dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan sepert RT/RW untuk
menyampaikan peringatan dini melalui pengeras suara

b. Bencana
Bencana adalah periode penanggulangan bencana saat kejadian/krisis, tanggap
darurat menjadi kegiatan paling penting.
Yang harus dilakukan saat kejadian bencana banjir terjadi adalah :
1. Tanggap darurat (Response)
Tanggap darurat adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian
bencana untuk menanggulangi dampak yang ditimbilkan. Yang dilakukan
adalah :
 Melakukan evakusasi terhadap masyarakat
 Penyelamatab berupa korban dan harta benda
 Membangun tenda pengungsian/Shelter
 Membangun dapur darurat

2. Bentuan darurat (relief)


Bentuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal
sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih. Yang dilakukan yakni :
 Dibangunnya tenda berskla besar/pleton untuk para pengungsi
 Fasilitas kesehtan terdekat memfasilitasi pengungsi yang mengalami
dampak
 Pendisitribusian air bersih dan pangan di fasilitasi oleh permerinta
(Dibawah Dinas Sosial)

c. Pascabencana
Pascabencana adalah pemulihan dan rekonstruksi yang menjadi proses terpenting
setelah bencana. Dengan kegiatan manajemennya :
1. Pemulihan (recovery)
 Proses pemulihan darurat kondisi masyarakat yang terkenan bencana
dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan
semula
 Upaya yang dilkukan adalah memperbaiki prasarana dan pelayanan
dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar, puskesmas, dan lain-lain
2. Rehabilitasi (Rehabilitation)
Rehabilitasi adalah langkah upaya yang diambil setelah kejadian bencana
untuk membantu masyarakat memperbaiki rumhanya, fasilitas umum dan
faslitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian
3. Rekonstruksi (Reconstruction)
Rekonstruksi merupakan program jangka menengah dan jangka panjang guna
perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan
masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik lagi dari sebelumnya
C. PERMASALAHAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA
1. Kurangnya koordinasi antara pihak-pihak yang turut andil dalam bencana
2. Kurangnya SDM yang memiliki keahlian dalam bidang bencana dan kesehatan
3. Pendistribusian yang kurang dari segi kauntitas.
4. Kurangnya dana untuk melakukan sosialiasi kepada masyarakat terhadap bahaya
bencana
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Banjir perkotaan merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia termasuk Kota
Kendari. Dampak dari peristiwa banjir tersebut dapat menyebabkan kerugian ekonomi
maupun nilai sosial pada suatu wilayah.
Dengan melihat manajemen bencana sebagai sebuah kepentingan masyarakat, kita
berharap berkurangnya korban jiwa dan kerugian harta benda. Hal ini terpenting dari
managemen bencana ini adalah adanya suatu langkah konkret dalam mengendalikan
bencana sehingga korban yang tidak kita harapkan dapat terselamatkan dengan cepat
dan tepat dan upaya untuk peulihan pascabencana dapat dilakukan secepatnya
Hal dapat dilakukan perawat adalah melakukan pemulihan secara fisik dan juga
mental kepada masyarakat yang terdampak bencana, melakukan planning terhadap
sistem tanggap bencana dimasyarakat, melakukan kesiapsiagaan jika terjadi KLB,
serta melakukan salah satu tujuan perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat.

B. Saran
Tanggap darurat sampai saat ini memang penting dilakukan dan memang dibutuhkan
oleh masyarakat terdampak bencana. Namun tidak cukup hanya berhenti disini
semata. Ada bencana, ada proses pertolongan, kemudian selesai.
Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menyiapkan masyarakat untuk lebih
cerdas dalam menghadapi bencana, mengurangi dampak resiko yang akan
dihadapinya, serta mengelola pengetahuan menjadi kesadaran kolektif di dalam
masyarakat sehingga tahan/tangguh dalam menghadapi bencana yang menimpa