Anda di halaman 1dari 68

STRATEGI KONSERVASI SUMBERDAYA

AIR DALAM RANGKA PENCEGAHAN


BANJIR PADA KAWASAN PERKOTAAN
(STUDI KASUS DI KOTA KENDARI)

LA GANDRI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Strategi Konservasi


Sumberdaya Air dalam Rangka Pencegahan Banjir pada Kawasan Perkotaan
(Studi Kasus di Kota Kendari) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Januari 2018

La Gandri
NIM P052140601
RINGKASAN

LA GANDRI. Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka Pencegahan


Banjir pada Kawasan Perkotaan (Studi Kasus di Kota Kendari). Dibimbing oleh
M. YANUAR J. PURWANTO dan BAMBANG SULISTYANTARA.

Banjir di wilayah perkotaan merupakan bencana yang sering terjadi di


Indonesia termasuk Kota Kendari. Pesatnya laju urbanisasi dan tidak efektifnya
penerapan aturan pengendalian perkembangan kota mengakibatkan terjadinya
masalah lingkungan.Melonjaknya kebutuhan terhadap lahanyang mendorong
terjadinya konversi lahan yang sebelumnya bervegetasi menjadi lahan-lahan yang
kedap air merupakan kondisi yang tidak terhindarkan. Perluasan kawasan Kota
Kendari mendorong percepatan ekspansi ruang terbangun secara tak terkendali
dan berkurangnya kawasan hutan yang cepat. Berdasarkan data historis kejadian
banjir, Kota Kendari telah menjadi daerah langganan banjir. Kejadian banjir
dengan kerugian terbesar terjadi pada tahun 2013 dimana kerugian ekonomi
mencapaiangka miliaran rupiah.Aspek yang sangat penting dalam upaya memutus
terjadinya banjir berkepanjangan di Kota Kendari adalah tersedianya peta tingkat
bahaya banjir sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan prioritas strategi
konservasi sumberdaya air yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menentukan karakteristik kriteria pembentuk banjir, mengetahui sebaran bahaya
banjir serta menentukan alternatif terbaik strategi konservasi sumberdaya air
dalam rangka pencegahan banjir di Kota Kendari.
Penentuan tingkat bahaya banjir di Kota Kendari menggunakan model
MAFF-Japan melalui analisis spasial (overlay) dengan sistem skoring dan
pembobotan dari 6 parameter yang digunakan, yaitu: penggunaan lahan, curah
hujan, kelerengan, bentuk lahan, tanah dan geologi. Selanjutnya dalam penentuan
alternatif terbaik konservasi sumberdaya air dilakukan dengan pendekatan analisis
hirarki proses yaitu dengan merinci isu penting ke dalam komponen-komponen
penting, kemudian mengatur komponen tersebut ke dalam sebuah hirarki. Untuk
mendukung suatu upaya konservasi sumberdaya air, perlu diidentifikasi faktor-
faktor penyebab banjir sehingga dapat dirumuskan sebuah program tindakan
konservasi sumberdaya air yang efektif dalam mengurangi serta mencegah banjir.
Penggunaan lahan serta kelerengan merupakan dua faktor penting dalam suatu
kejadian banjir serta merupakan input utama dalam membangun model bahaya
banjir.
Hasil analisis terhadap tingkat bahaya banjir MAFF-Japan menggunakan
skor awal menunjukkan bahwa Kota Kendari terdiri dari wilayah yang rawan
banjir sebesar 13,62%, wilayah berpotensi banjir sebesar 52,43%, dan wilayah
aman 33,95 %. Hasil validasi lapangan dan kesesuaian dengan peta banjir yang
disusun oleh BAPPEDA, menunjukkan bahwa peta hasil analisis tingkat bahaya
dengan model MAFF-Japan memiliki akurasi yang cukup tinggi.
Prioritas utama dalam konservasi sumberdaya air dalam rangka pencegahan
banjir di Kota Kendari berdasarkan penilaian AHP adalah dengan melakukan
reboisasi. Alternatif Konservasi sumberdaya air berdasarkan kriteria penggunaan
lahan dan kelerengan yaitu dengan melakukan reboisasi sebagai prioritas utama
pada kawasan hutan dan disusul oleh RTH. Pada padang rumput/alang-alang,
RTH menjadi prioritas disusul oleh reboisasi, pada lahan semak belukar,
situ/kolam resapan menjadi prioritas yang disusul oleh RTH, pada kebun
campuran, embung lebih prioritas disusul oleh reboisasi, pada lahan Kantor
Gubernur dan Kampus UHO, LRB lebih prioritas yang disusul oleh pembuatan
sumur resapan, pada permukiman RTH menjadi prioritas yang disusul olehsumur
resapan, pada sawah embung lebih prioritas yang disusul oleh situ/kola resapan
serta sumur resapan, pada lahan tambak RTH lebih prioritas yang disusul oleh
terasering, pada tegalan/ladang LRB lebih prioritas disusul oleh embung, pada
hutan mangrove reboisasi menjadi prioritas yang disusul oleh RTH, pada jalan
green street lebih prioritas yang disusul oleh parit resapan dan RTH, pada lereng
0-2%, LBR lebih prioritas yang diikuti oleh pembuatan parit resapan, pada lereng
2-15% LRB lebih prioritas yang disusul oleh sumur resapan dan lereng 15-40%
dan >40% reboisasi lebih prioritas dan disusul oleh terasering.
Hasil analisis tingkat bahaya banjir berdasarkan model simulasi I dengan
menerapkan alternatif prioritas konservasi sumberdaya air menunjukkan bahwa
luas wilayah dengan zona aman meningkat menjadi 87,96% wilayah dengan zona
potensi banjir dan zona rawan banjir turun menjadi 11,83% dan 0,21%.
Sedangkan hasil analisis tingkat bahaya banjir berdasarkan model simulasi II
dengan menerapkan dua alternatif konservasi sumberdaya air bahwa luas wilayah
dengan zona aman meningkat menjadi 99,2%, wilayah dengan zona potensi banjir
dan zona rawan banjir turun menjadi 0,8% dan 0%. Berdasarkan kedua simulasi
tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa model simulasi II yaitu dengan
menerapkan dua alternatif konservasi sumberdaya air dipandang lebih baik dalam
rangka mencegah banjir di Kota Kendari

Keywords: strategi konservasi, bahaya banjir, MAFF-Japan, AHP


SUMMARY

LA GANDRI. Water Resources Conservation Strategy in Order of Flood


Prevention in Urban Areas (Case Study in Kendari City). Supervised by M.
YANUAR J. PURWANTO and BAMBANG SULISTYANTARA.

Flooding in urban areas is a frequent disaster in Indonesia including of


Kendari city. The rapid rate of urbanization and ineffective implementation of city
development control rules caused the environmental problems. The increasing of
requirement for land that encouraged the conversion of previously vegetated lands
into waterproof areas is an unavoidable condition. The expansion of the area in
Kendari City caused the acceleration of uncontrolled space expansion and the
rapid reduction of forest area. Based on historical data of flood events, Kendari
city has become a flood prone area. Flood incidents with the biggest losses occur
in 2013 where the economic losses reach billions of rupiah. A very important
aspect in the effort to break the occurrence of prolonged floods in Kendari City is
the availability of flood hazard maps so that it can be used as a basis to determine
the priority of appropriate water resources conservation strategies. The purpose of
this research is to determine the characteristics of flood forming criteria, to know
the distribution of flood hazard and to determine the best alternative of water
resources conservation strategy in order to prevent
The determination of hazard level in Kendari City by using MAFF-Japan
model through spatial analysis (overlay) with scoring system and weighting of 6
parameters used, that parameters was land use, rainfall, slope, landform, soil and
geology. Furthermore, in determining the best alternative conservation of water
resources is done by the process hierarchy analysis approach, which is by
detailing important issues into the important components, then set the component
into a hierarchy. To support a conservation effort of water resources, it is
necessary to identify the factors that cause flood so that it can be formulated an
effective program of water resources conservation action in reducing and
preventing flood. Land use and slopes are two important factors in a flood event
as well as a key input to generate a flood hazard model.
The results of the analysis on the flood hazard level of MAFF-Japan using
initial score indicate that Kendari City consists of flood-prone areas of 13.62%,
potentially flooded areas of 52.43%, and safe area 33.95%. Field validation results
and conformity with the flood map compiled by BAPPEDA, indicate that the
hazard level analysis result map with MAFF-Japan model has a high accuracy.
The main priority in the conservation of water resources in order to prevent
flooding in Kendari City based on the AHP assessment is to reforestation. The
alternative Conservation of water resources based on land use and slopes criteria
is reforesting as the main priority in forest area and followed by RTH. In
grassland, RTH is a priority followed by reforestation. In scrubland, situ / pool
recharge becomes a priority followed by RTH. In mixed gardens, embungs are
more priority followed by reforestation. On the land of the Governor's Office and
UHO Campus, LRB is more priority followed by the making of infiltration wells.
In the settlement, RTH becomes a priority followed by infiltration wells, in the
fields, the embungs are more priorities followed situ / pool recharge and
infiltration wells. In ponds, RTH is more a priority followed by terracing. On
moor/field, LRB is more priority followed by embung. in mangrove forests,
reforestation becomes a priority followed by RTH. On the road, green street is
more a priority followed by ditch absorption and green space. On slopes of 0-2%,
LBR is more priority followed by the manufacture of trenches absorption. Slopes
with a slope of 2-15%, LRB is more a priority followed by infiltration wells. and
slopes by 15-40% and > 40%, reforestation is more a priority and followed by
terracing.
The result of hazard flood level analysis based on first simulation model by
applying alternative priority of conservation of water resources shows that the
area with safe zone increased to 87,96%, areas with flood potential zones and
flood-prone zones decreased to 11,83% and 0.21%. While the results of hazard
flood level analysis based on simulation model II by applying two alternative
water resources conservation that the area with safe zone increased to 99,2%,
areas with flood potential zones and flood-prone zones fell to 0,8% and 0%. Based
on the two simulations mentioned above it can be concluded that the simulation
model II is by applying two conservation alternatives of water resources is
considered better in order to prevent flooding in Kendari

keywords : conservation strategies, flood hazard, MAFF-Japan, AHP


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2018
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis


ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
STRATEGI KONSERVASI SUMBERDAYA
AIR DALAM RANGKA PENCEGAHAN
BANJIR PADA KAWASAN PERKOTAAN
(STUDI KASUS DI KOTA KENDARI)

LA GANDRI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Yudi Setiawan, S.P., M.Sc.
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan juli 2016 ini ialah banjir,
dengan judul Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka Pencegahan
Banjir pada Kawasan Perkotaan (Studi Kasus di Kota Kendari).
Atas tersusunnya tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Dr. Ir. M. Yanuar J. Purwanto, MS, IPM. selaku Ketua Komisis Pembimbing dan
Bapak Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, M.Agr. selaku Anggota Pembimbing atas
bimbingan dan arahan yang telah diberikan. Ucapan terima kasih juga penulis
sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS selaku Ketua Program Studi
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB, yang senantiasa
memberikan dorongan semangat dan motivasi dalam menyelesaikan tesis ini.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna dan
dengan segala kerendahana hati menerima masukan, kritik dan saran agar tulisan
ini dapat disempurnakan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Selanjutnya
Penulis berharap semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya bagi Pemerintah, Masyarakat dan pihak lain yang membutuhkan terkait
upaya pencegahan banjir, perkembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, Januari 2018

La Gandri
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 4
Kerangka Pemikiran 4
2 TINJAUAN PUSTAKA 6
3 METODE 9
Tempat dan Waktu Penelitian 9
Bahan 10
Alat 10
Bagan Alir Penelitian 10
Prosedur Analisis Data 11
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 16
Karakteristik Wilayah Penelitian 16
Karakteristik Kriteria Pembentuk Bahaya Banjir di Kota Kendari 24
Analisis Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari 26
Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka Pencegahan Banjir 29
Aplikasi Pemodelan Bahaya Banjir dalam Rangka Pencegahan Banjir
melalui Penerapan Strategi Konservasi 33
5 SIMPULAN DAN SARAN 40
Simpulan 40
Saran 40
DAFTAR PUSTAKA 41
LAMPIRAN 46
RIWAYAT HIDUP 51
DAFTAR TABEL
1 Bahan Penelitian 10
2 Hasil Perhitungan Kelas Interval Daerah Bahaya Banjir 13
3 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan 13
4 Luas Wilayah Kecamatan Kota Kendari 16
5 Klasifikasi Penggunaan Lahan Kota Kendari Tahun 2013 18
6 Sebaran Jenis Tanah Kota Kendari 19
7 Sebaran Jenis Geologi Kota Kendari 21
8 Bentuk Lahan Kota Kendari 22
9 Sebaran Kemiringan Lereng Kota Kendari 23
10 Karakteristik Kriteria Pembentuk Bahay Banjir Kota Kendari 24
11 Hasil Perhitungan Kelas Interval daerah bahaya banjir 26
12 Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari 27
13 Alternatif Strategi Konservasi Sumberdaya air dalam rangka mencegah
Banjir di Kota Kendari 33
14 Pengurangan Skor Bahaya Banjir berdasarkan Penilaian Pakar 35
15 Konservasi Sumberdaya Air serta Simulasi Skor MAFF_Japa 33
16 Hasil Simulasi I Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan di Kota Kendari 37
17 Hasil Simulasi II Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan di Kota Kendari 38

DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka Pikir Penelitian 5
2 Peta Lokasi Penelitian 9
3 Diagram Alir Penelitian 11
4 Pohon Hirarki AHP 14
5 Peta Penggunaan Lahan Kota Kendari 19
6 Peta Sebaran Jenis Tanah Kota Kendari 20
7 Peta Sebaran Geologi Kota Kendari 21
8 Peta Bentuk Lahan Kota Kendari 22
9 Peta Kelerengan Kota Kendari 23
10 Peta Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari, model MAFF 27
11 Peta Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari, BAPPEDA 28
12 Peta simulasi I Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari 36
13 Peta Simulasi II Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari 38
14 Grafik Kondisi Eksisting, Simulasi I dan II Tingkat Bahaya Banjir Kota
Kendari 39
DAFTAR LAMPIRAN
1 Analisis AHP Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka
Pencegahan banjir di Kota Kendari 47
2 Kriteria Simulasi Tingkat Bahay Banjir MAFF-Japan 50
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Banjir perkotaan merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia


termasuk Kota Kendari. Dampak dari peristiwa banjir tersebut dapat
menyebabkan kerugian ekonomi maupun nilai sosial pada suatu wilayah. Kousky
dan Walls (2014) menyatakan bahwa peristiwa banjir adalah yang paling
bertanggung jawab terhadap kerugian ekonomi dan masalah sosial seperti korban
jiwa dan berbagai kerusakan properti. Sesuai hasil penelitian Kousky dan Walls
(2014) bahwa biaya ekonomi dari banjir telah meningkat selama beberapa dekade
terakhir, sebagian besar karena lebih banyak orang dan lokasi properti di daerah
berbahaya. Lebih lanjut, penelitian Haraguchi dan Lall (2015) menemukan bahwa
banjir yang berlarut-larut di Thailand mempengaruhi sektor industri utama, yaitu,
industri otomotif dan elektronik, dengan dampak buruk terhadap perekonomian
secara keseluruhan. Menurut Rustiadi et al. (2011) kerugian semacam ini dapat
terjadi tidak terlepas dari tidak bersinerginya antara ricardian rent, locational rent
dan environmental rent dalam penggunaan lahan yang umumnya
mengesampingkan fungsi-fungsi ekologis. Akibatnya masyarakat harus
menanggung kerugian yang disebabkan banjir.
Banyak pemicu terjadinya banjir perkotaan yang dapat diidentifikasi
diantaranya adalah intensitas curah hujan yang tinggi, perubahan penggunaan
lahan yang tidak terkendali akibat urbanisasi yang sangat cepat, sehingga
memberikan tekanan pada kemampuan daya dukung lingkungan perkotaan
khususnya kota-kota di Indonesia. Didukung oleh karakter perkotaan Indonesia
yang umumnya terletak di daerah rendah terutama pada wilayah dataran banjir,
baik di pinggir sungai maupun ditepi pantai maka akan semakin rawan terhadap
banjir. Pembangunan pemukiman pada wilayah-wilayah dataran banjir ini, secara
ekonomis cukup memberikan rangsangan keminatan bagi penghuninya. Disisi
lain, lokasi pemukiman yang cukup strategis serta secara ekonomis memiliki
resiko besar terhadap potensi terjadinya banjir. Kondisi ini disebabkan adanya
kantong-kantong air, atau lahan basah yang dialih fungsikan menjadi komplek-
komplek pemukiman (Adi, 2013).
Konversi lahan wilayah perkotaan terjadi secara masif menjadi kawasan
terbangun. Surya et al. (2014) menyatakan bahwa perubahan penggunaan lahan
yang paling besar pengaruhnya adalah perubahan dari hutan menjadi permukiman
dan industri. Hal ini diperkuat oleh Zain et al. (2006); Suwedi et al. (2006) dan
Syarief et al. (2010) bahwa wilayah tropika basah seperti Indonesia, sesuai model
MAFF-Japan, bahwa penggunaan lahan sesuai dengan kemampuan alamianya
seperti hutan dan pertanian memberikan kontribusi paling tinggi dalam
pencegahan banjir di kawasan perkotaan.
Kota Kendari terletak pada wilayah dataran banjir, baik di pinggir sungai
maupun ditepi pantai yang rawan terhadap terjadinya banjir. Sebagai kota
berkembang, konversi lahan menjadi lahan terbangun terjadi secara masif untuk
pembangunan infrastuktur seperti pembangunan jalan, pertamina, rumah sakit,
perumahan, perhotelan dan ruko. Penimbunan daerah rawa sehingga terjadi
2

pengurangan kawasan retensi yang sangat penting dalam proses hidrologi dan
tatanan ekosistemnya. Kondisi-kondisi seperti ini menjadi faktor yang
menyebabkan banjir. Namun demikian, menurut Wismoro (2013) bahwa terjadi
atau tidaknya banjir sangat tergantung dari faktor hancurmya retensi Daerah
Aliran Sungai (DAS) serta kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan
prasarana. Selain itu, tingginya konversi lahan menjadi lahan terbangun
menjadikan kawasan ini kedap air sehingga kapasitas infiltrasinya menjadi kecil.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Alwi et al. (2011) yang
menerangkan bahwa perluasan kawasan Kota Kendari mendorong percepatan
ekspansi ruang terbangun secara tak terkendali dan berkurangnya kawasan hutan
yang cepat.
Sebagai akibat dari tindakan tersebut, Kota Kendari menjadi wailayah
yang rentan terhadap banjir. Berdasarkan data historis kejadian banjir Kota
Kendari, pada tahun 2007 terjadi dua kali kejadian, tahun 2008 terjadi dua kali
keadian, tahun 2009 terjadi dua kali kejadian, tahun 2010 terjadi lima kali, tahun
2011 terjadi dua kali, tahun 2012, terjadi dua kali, tahun 2013, terjadi satu kali
(BPS Kota Kendari, 2014). Sedangkan kejadian banjir dengan kerugian terbesar
terjadi pada tahun 2013 dimana banjir menyebabkan sebesar 70% dari luas
wilayah terendam air (Basarnas Daerah, 2013). Selain itu, data kerugian akibat
banjir tersebut mencapai angka miliaran rupiah (BNPB daerah, 2013).
Wilayah rawan banjir yang ada di Kota Kendari, merupakan kawasan yang
berada pada kondisi kerendahan (bantaran kali) dengan akumulasi muara
pengaliran air dari kawasan punggungan yang lebih tinggi. Untuk daerah yang
berpotensi rawan banjir terdiri dari 9 Kecamatan dan tersebar pada 33 kelurahan
di Kota Kendari (Anonymous, 2012)
Perlindungan terhadap proses infiltrasi serta pengendalian limpasan perlu
diperkuat. Salah satu konsep sederhana yang efektif untuk mengurangi aliran
permukaan yang dapat menyebabkan banjir adalah sumur resapan (USAID
Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene, 2012). Menurut Herlambang et
al (2012) konservasi dengan kebijakan sumur resapan dapat meningkatan
kapasitas infiltrasi yang akan memberikan dampak berkurangnya limpasan
permukaan. Konsep lain pencegahan banjir menurut Pertiwi et al. (2011) juga
dapat dilakukan dengan penataan bantaran sungai yang dijadikan sebagai daerah
genangan. Lebih spesifik lagi, sebagai integrasi UU penata ruang, ketersediaan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan bagian penting dari struktur pembentuk
kota, karena RTH berperan sebagai penunjang fungsi ekologis dan perlindungan
tata air (Agustia dan Sulistyantara, 2016).
Dalam program usaha konservasi tanah dan air di suatu wilayah, maka
masalah banjir yang berkaitan dengan tingkat bahaya adalah salah satu aspek yang
sangat penting untuk diperhitungkan (Satriawan, 2010). Menurut Hamdani et al
(2010) bahwa analisis tutupan lahan dan pemahaman tentang topografi kawasan
diperlukan guna mengintegrasikan hasil analisis deskwork study menjadi sebuah
peta rawan banjir sebagai peta kerja yang dapat digunakan dalam rangka antisipasi
dan mistigasi bencana banjir. Selanjutnya, Sigit (2011) menguatkan bahwa dalam
sebuah usaha konservasi perlu untuk melihat bagaimana potensi peresapan air di
suatu kawasan berdasarkan variasi karakteristik fisik lahan yang memungkinkan
akan berpengaruh terhadap perbedaan potensi peresapan air.
3

Untuk menghasilkan output informasi secara cepat dan akurat maka perlu
ditunjang dengan teknik pengolahan data yang memadai. Saat ini aplikasi
teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) telah banyak gunakan dalam berbagai
bidang kajian kebencanaan dalam rangka optimalisasi analisis dan penyajian data
secara spasial. Sedangkan sebagai penunjang dalam pengambilan keputusan pada
banyak faktor sebagai upaya pemilihan alternatif konservasi dapat menggunakan
model Analytical Hierarchy Process. Penggunaan metode AHP ini pernah
dilakukan oleh Sudamara (2012) dalam upaya optimasi penanggulangan bencana
banjir di Kota Manado.

Perumusan Masalah

Kota kendari, berdasarkan sejarah dan letaknya di daerah rendah


merupakan daerah yang rawan banjir. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya
pemetaan kawasan rawan banjir dengan skala detail untuk mengetahui luasannya
secara pasti serta sebagai dasar untuk melakukan konservasi. Untuk mendukung
upaya konservasi tersebut maka perlu diketahui tingkat kepadatan vegetasi serta
kepadatan pemukiman yang ada di Kota Kendari sehingga dapat membantu dalam
menentukan lokasi perioritas melakukan kegiatan konservasi. Kegiatan ini juga
dapat membantu masyarakat dalam menentukan lokasi pemukiman yang aman
dari bahaya banjir.
Pemerintah telah banyak melakukan kegiatan pengendalian banjir namun
usaha tersebut belum menunjukan hasil yang maksimal dalam mencegah banjir.
Penentuan program konservasi yang tepat menjadi sangat utama dalam
mengendalikan rawan banjir di kawasan perkotaan seperti Kota Kendari. Oleh
sebab itu, Program konservasi yang akan dilakukan harus direncanakan dengan
sangat matang sehingga tidak berakhir sia-sia.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, dapat disusun pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik kriteria pembentuk bahaya banjir di Kota Kendari?
2. Bagaimana sebaran tingkat bahaya banjir di Kota Kendari?
3. Apakah alternatif terbaik strategi konservasi sumberdaya air dalam rangka
pencegahan banjir di Kota Kendari?

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi karakteristik kriteria pembentuk bahaya banjir di Kota
Kendari.
2. Menganalisis sebaran daerah rawan banjir di Kota Kendari.
3. Menentukan alternatif terbaik strategi konservasi sumberdaya air dalam
pencegahan banjir di Kota Kendari.
4

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:


1. Bahan rekomendasi bagi Pemerintah Kota Kendari dalam menentukan
kebijakan strategi konservasi sumberdaya air dalam rangka pencegahan banjir
di Kota Kendari
2. Pengembangan ilmu pengetahuan khususnya yang terkait dengan banjir
perkotaan

Kerangka Pemikiran

Banjir telah menimbulkan banyak permasalahan di sebagian wilayah


Indonesia terutama di daerah padat penduduk seperti di kawasan perkotaan.
Pertumbuhan penduduk yang pesat di wilayah perkotaan, termasuk Kota Kendari
memberikan dampak yang cukup signifikan dalam meningkatkan kebutuhan
ruang untuk menyediakan berbagai fasilitas dan saran pelayanan kota. Sejalan
dengan perkembangan dan kemajuan suatu daerah, Suwedi et al. (2006)
mengemukakan bahwa desakan terhadap perubahan ruang-ruang alami ke lahan
terbangun seperti pemukiman, perkantoran, pertokoan, jalan maupun dari ruang-
ruang alami ke bentuk lahan yang lain menjadi semakin tinggi. Perkembangan
kota yang demikian ini tidak dibarengi dengan perencanaan dan pengawasan
penggunaan lahan yang tepat. Menurut Sadtim (2011), hal ini mendorong
terjadinya pemanfaatan lahan terbuka menjadi lahan terbangun berupa
permukiman, perkantoran, industri, dan kegiatan lainnya, tidak lagi
memperhatikan keadaan lingkungan dengan memanfaatkan lahan sesuai dengan
keinginan pemiliknya.
Permasalahan ini menjadi ancaman keberlanjutan fungsi kawasan resapan
air untuk mempertahankan fungsinya dalam meresapkan air ke dalam tanah.
Sebagai akibatnya, perubahan tersebut menyebabkan semakin meningkatnya debit
air limpasan (run off) hingga melebihi kapasitas penampung sungai serta
mendorong semakin luasnya areal banjir yang terjadi di Kota Kendari. Pemetaan
yang tidak detail terhadap daerah rawan banjir di Kota Kendari memungkinkan
tidak efektifnya upaya konservasi yang dilakukan untuk mereduksi kerugian yang
diakibatkan oleh kejadian banjir tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan peta dengan
skala detail untuk perencanaan strategi pengelolaan yang lebih terfokus.
Secara lengkap model kerangka pikir teoritis dari rencana penelitian ini
disajikan pada Gambar 1.
5

Kondisi Biofisik dan


Lingkungan

Daerah Rawan Banjir

Identifikasi Spasial
Faktor yang Menyebabkan Rawan Banjir

Strategi Konservasi
Sumberdaya Air dalam
Rangka Pencegahan
banjir

Simulasi Pemetaan
Daerah Rawan Banjir

Rekomendasi Kebijakan Konservasi


Sumberdaya Air dalam Rangka
Pencegahan Banjir

Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian


6

2 TINJAUAN PUSTAKA

Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan (land use) merupakan perwujudan fisik obyek-obyek
yang menutupi lahan dan terkait dengan kegiatan manusia pada sebidang lahan
(Lilesand dan Kiefer 1987). Pendapat lain yang diperkenalkan oleh vink (1975)
bahwa penggunaan lahan adalah setiap bentuk campur tangan manusia terhadap
sumber daya lahan, baik yang bersifat permanen (tetap) atau rotasi (cyclic) yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan, baik material, maupun spritual. Penutupan
lahan (land cover) merupakan perwujudan fisik obyek – obyek yang menutupi
lahan tanpa ada kaitannya dengan kegiatan manusi (Lilesand dan Kiefer 1987).
Sistem penggunaan lahan dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar yaitu
penggunaan lahan pertanian dan non pertanian. Penggunaan lahan pertanian
anatar lain : tegalan, sawah, kebun, padang rumput, hutan produksi dan hutan
lindung. Penggunaan lahan non pertanian meliputi : penggunaan lahan perkotaaan
dan pedesaan, kawasan industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya (Arsyad
2010)

Banjir

Banjir adalah peristiwa meluapanya air sungai melebihi palung sungai (PP
No. 38 Tahun 2011). Banjir menurut Paimin dan Sukresno (2007) adalah debit
aliran air sungai yang secara relatif lebih besar dari biasanya/normal akibat hujan
yang turun di hulu atau di suatu tempat tertentu secara terus menerus, sehingga
tidak dapat ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan
menggenangi daerah sekitarnya. Lemahnya upaya pemeliharaan sistem juga
menjadi pemacu terjadinya banjir (Kustamar, 2013). Jadi, secara umum banjir
dapat dimengerti sebagai suatu produk (output) dari curah hujan (input) yang
tinggi serta mengalami proses hidrologi dalam sistem lahan, yang berupa luapan
air yang berlebih.
Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi
perilaku manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya telah
terjadi perubahan tata ruang secara massive, sehingga daya dukung lingkungan
menurun drastis. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri telah mengubah
keseimbangan fungsi lingkungan, bahkan kawasan retensi banjir (retarding basin)
yang disediakan alam berupa situ-situ telah juga dihabiskan (Anonimous, tt).
Apabila diklasifikasikan oleh tindakan manusia dan yang disebabkan oleh alam
maka penyebab banjir dapat disusun sebagai berikut (Kodoatie dan Sjarief, 2010);
1. Yang termasuk sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah
a. Perubahan tataguna lahan (land-use) di daerah aliran sungai (DAS)
b. Pembuangan sampah
c. Erosi dan sedimentasi
d. Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase
e. Perencanaan sistem pengendali banjir tidak tepat
f. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai
g. Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai
h. Penurunan tanah dan rob ( genangan akibat pasang air laut)
7

i. Drainase lahan
j. Bendungan dan bangunan air
k. Kerusakan bangunan pengendali banjir
2. Yang termasuk sebab-sebab alamiah dianataranya adalah
a. Curah hujan
b. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai
c. Kapasitas sungai
d. Pengaruh air pasang
e. Penurunan tanah dan rob
f. Kerusakan bangunan pengendali banjir (oleh bencana alam)
Perubahan tataguna lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan
dengan yang lainnya. Sebagai contoh, apabila suatu hutan yang berada dalam
suatu daerah aliran sungai diubah menjadi pemukiman, maka debit puncak sungai
akan meningkat antara 6 sampai 20 kali. Angka 6 dan 20 ini tergantung dari jenis
hutan dan jenis pemukiman (Kodotie dan Sjarief, 2008). Dalam penelitian
Satriawan (2010), penutupan lahan menentukan laju infiltrasi air hujan yang
secara langsung berpengaruh terhadap aliran permukaan (run-off). Semakin besar
aliran permukaan artinya infiltrasi rendah, akibatnya potensi banjir semakin besar.
Jenis-jenis penutupan lahan yang mempunyai pengaruh besar terhadap banjir
adalah pemukiman, sawah ataupun tambak.

Konservasi Sumberdaya Air

Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah
seefisien mungkin dan pengaturan waktu aliran yang tepat, sehingga tidak terjadi
banjir yang merusak pada musim hujan dan terdapat cukup air pada musim
kemarau (Subagyono et al., 2004). Konservasi pada prinsipnya adalah
penggunaan air yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin dan
pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat
cukup air pada waktu musim kemarau (Dariah et al., 2004).
Teknik atau metode konservasi tanah dan air dapat dibagi dalam tiga
golongan utama, yaitu, (1) teknik konservasi vegetatif (metode vegetatif) atau
sering disebut teknik konservasi (metode) biologi, (2) teknik konservasi mekanik
(metode mekanik), disebut juga teknik konservasi sipil teknis, dan (3) teknik
konservasi kimia (metode kimia) (Dariah et al., 2004). Agar efektif dan
berkelanjutan maka pengendalian banjir diusulkan berupa Konservasi Konstruktif
dan Vegetatif (Kustamar, 2013).

Analisis Hirarki Proses (AHP)

AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan


oleh Thomas L. Saaty. Pada dasarnya metode AHP ini memecah-mecah suatu
situasi yang kompleks, tak terstruktur, ke dalam bagian-bagian komponennya,
menata bagian atau variable ini dalam suatu susunan hirarki, memberikan nilai
numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variable dan
mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana
yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil
pada situasi tersebut. Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang
8

kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan,


hasil dan dengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot
atau prioritas. (Saaty, 1993).
Secara grafis, persoalan keputusan AHP dapat dikontruksikan sebagai
diagram bertingkat, yang dimulai dengan goal/sasaran, lalu kriteria level pertama,
subkriteria dan akhirnya alternatif (Marimin, 2004).
9

3 METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2016 sampai Desember 2017
di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi 10 Kecamatan, yaitu
Kecamatan Kendari, Kecamatan Kendari Barat, Kecamatan Mandonga,
Kecamatan Wua-Wua, Kecamatan Poasia, Kecamatan Kadia, Kecamatan Baruga,
Kecamatan Kambu, Kecamatan Abeli dan Kecamatan Puuwatu sebagaimana
ditunjukan oleh Gambar 2. Secara astronomis, Kota Kendari terletak diantara
0 0 0 0
3 54‟30” LS - 4 3‟11” LS dan 122 23‟ BT – 122 39‟ BT. Luas wilayah daratan
2
Kota Kendari 267,37 km (BPS Kota Kendari, 2014).

Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian


Sumber: BPS Kota Kendari, 2014
10

Bahan

Bahan yang digunakan dalam peneltian ini berupa peta dan citra satelit, serta
data responden. Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini disajikan pada
Tabel 1.

Tabel 1 Bahan penelitian


No Bahan dan alat Sumber Peta Kegunaan
1 Peta administrasi BAPPEDA Kota Mengetahui batas
Skala 1:50.000 Kendari administrasi lokasi
penelitian
2 Peta bentuk lahan BPDAS Sampara Mengetahui sebaran bentuk
Skala 1:50.000 lahan lokasi penelitian
3 Peta jenis tanah BAPPEDA Kota Mengetahui sebaran jenis
Skala 1:50.000 Kendari tanah lokasi penelitian
4 Peta geologi Skala BAPPEDA Kota Mengetahui kondisi geologi
1:50.000 Kendari lokasi penelitian
5 Peta Kemiringan Citra DEM-SRTM Mengetahui kelas lereng di
lereng Skala lokasi penelitian
1:50.000
6 Peta Penggunaan BAPPEDA Kota Mengetahui penggunaan
Lahan Tahun 2013 Kendari lahan di lokasi penelitian
Skala 1:50.000
7 Data Curah hujan BMKG Kota Kendari, Mengetahui sebaran curah
BWS Sulawesi IV hujan di lokasi penelitian
8 Kondisi Drainase Dinas PU Kota Untuk mengetahui
Kendari informasi kondisi drainase
Kota Kendari

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitiain ini yaitu perangkat keras komputer
yang dilengkapi dengan perangkat lunak ArcMap 10.2 untuk pengolahan peta,
Microsoft Excel, dan alat pengecekan lapangan berupa GPS untuk menentukan
koordinat titik sampel penelitian, serta kuisioner

Bagan Alir Penelitian

Secara lengkap bagan alir dari penelitian ini disajikan pada Gambar 3 yang
dimulai dengan tahap identifkasi karakteristik kriteria penyebab banjir hingga
memperoleh hasil simulasi peta rawan banjir sebagai aplikasi model MAFF-Japan
dalan mencegah banjir melalui penerapan strategi konservasi.
11

Model Tingkat Bahaya Banjir


(MAFF)

Overlay
Verifikasi
Lapangan
Peta Dasar
Argis 10.2

Peta Eksisting dan


modifikasi

Analitic Hirarchy Expert Choice


Procces

Strategi Konservasi Sumberdaya Air


dalam Rangka Pencegahan Banjir

Peta Simulasi I dan II Bahaya Banjir Aplikasi Model


dengan Program Konservasi
Gambar 3 Diagram alir penelitian

Prosedur Analisis Data

Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari hasil survey lapangan, diskusi, pengisian
kuisioner dan wawancara langsung di lokasi penelitian. Sampel yang diambil
secara acak pada masing-masing titik sampel serta didasarkan pada informasi dari
pemerintah serta masyarakat setempat. Sedangkan data sekunder diambil dari
instansi terkait.

1. Data Primer
a. Hasilwawancara, pengukuran, pengamatan, dan pengujian di lapangan
b. Hasil wawancara pakar
2. Data Sekunder;
a. Data curah hujan tahun 2013
b. Peta Administrasi Kota Kendari
c. Peta Geologi
12

d. Peta Bentuk Lahan


e. Peta Jenis Tanah
f. Peta Kelerengan
g. Peta Penggunaan Lahan

Karakteristik Kriteria Penyebab Banjir


Karakteristik kriteria penyebab banjir dilakukan dengan memodifikasi
kriteria tingkat bahaya banjir pada MAFF-japan berdasarkan literatur dan kondisi
lokasi penelitian. Output dari analisis ini berupa skor parameter dari setiap kriteria
penyebab banjir. Skor tersebut menjadi input pada model MAFF-Japan sebagai
model dalam menyusun peta rawan banjir di Kota Kendari

Analisis Tingkat bahaya banjir


Analisis tingkat bahaya banjir memerlukan peta curah hujan, peta
penggunaan lahan, peta tanah, peta geologi dan peta bentuk lahan. Zonasi tingkat
bahaya banjir dilakukan dengan simulasi Model Ministry of Agriculture Forestry
and Fishery (MAFF)-Japan dengan persamaan sebagai berikut:
TBB= CH+3(PL)+2 (L)+2 (JT)+G+BL (Zain et al., 2006) ..... (1)

keterangan:
TBB : Tingkat bahaya banjir
CH : Curah hujan (mm)
PL : Penggunaan lahan
L : Lereng
JT : Jenis tanah
BL : Bentuk Lahan
G : Tipe Geologi
Analisis data akan dilakukan menggunakan GIS yang terdiri dari 4 tahap
yaitu:
1. tahap overlay data spasial,
2. tahap editing data atribut,
3. tahap analisis tabuler, dan
4. presentase grafis hasil analisis
Penentuan tingkat rawan banjir dilakukan dengan membagi sama
banyaknya nilai-nilai kerawanan dengan jumlah kelas interval yang sama.
Analisis untuk menentukan tingkat bahaya banjir digunakan formula yang
dikemukakan oleh Dibyosaputro yang dikutip oleh Hermon et al. (2009) yaitu :

....................................(2)
dimana;
i = lebar interval
c = jumlah skor tertinggi
b = jumlah skor terendah
n = jumlah kelas yang diinginkan
Dari persamaan tersebut diatas, maka hasil perhitungan interval di konvers
menjadi tingkat kerawanan banjir seperti pada Tabel 2.
13

Tabel 2 Hasil Perhitungan Kelas Interval daerah bahaya banjir


Zona Kelas Interval Tingkat Kerawanan Banjir
I b - (b+i) Aman
II (b+i) – (b+2i) Potensi Banjir
III (b+2i) – c Rawan Banjir

Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka


Pencegahan Banjir di Kota Kendari
Strategi konservasi sumberdaya air dalam rangka pencegahan banjir akan
dilakukan dengan metode Analisis Hirarki Proses (AHP). Analisis data dilakukan
dengan cara kuantitatif dengan melakukan survai berupa kuesioner dan
wawancara dari Pakar serta diolah sesuai dengan metodenya dibantu dengan
program komputer Expert Choice. Pakar dipilih berdasarkan ilmu dan
pengalamannya di dalam konservasi sumberdaya air. Pada Penelitian ini dipilih
pakar yang berasal dari akademisi sebanyak 3 orang( Dosen Kehutanan, Dosen
Ilmu Tanah dan Dosen Teknik Sipil), Dinas PU Kota Kendari 1 orang, Dinas
Pertanian dan Kehutanan Kota Kendari 1 orang, BPDAS Sampara 1 orang dan
BWS Sulawesi IV 1 orang, sehingga keseluruhan pakar berjumlah 7 orang.
Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa tahapan, yaitu:
1. Menentukan tujuan, kriteria, dan alternatif keputusan.
Pada rencana penelitian ini, ada tiga kriteria yang akan digunakan yaitu
kriteria penggunaan lahan , kriteria curah hujan dan kriteria lereng. Kriteria
penggunaan lahan memiliki sub-kriterian; Lahan Terbangun, Sawah, Kebun
Campuran, Semak Belukar, Hutan, dan Lahan Kosong. Sub-kriterian curah
hujan terdiri dari curah hujan antara 2500 – 3000, 3000 – 3500, 3500 – 4000,
4000 – 4500, 4500 – 5000, >5000. Sedangkan sub kriteria lereng terdiri dari
lereng dengan kemiringan 0 – 2%, 2 – 15%, 15 – 40%, >40%. Masing-masing
kriteria mempunyai tingkat bobot yang berbeda yang diberikan melalui proses
comparative judgement yang disesuikan dengan pengaruhnya dalam mencegah
banjir pada model MAFF-japan. Pohon hirarki pada rencana penelitian ini
dapat dilihat pada Gambar 3.
2. Penilaian Kriteria dan alternatif.
Penilaian kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan
berpasangan. Skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan
pendapat yang ada pada suatu permasalahan. Skala penilaian perbandingan
berpasangan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan


Nilai Keterangan
1 Kriteria/Alternatif A sama penting dengan kriteria/Alternatif B
3 A sedikit lebih penting dari B
5 A jelas lebih penting dari B
7 A sangat jelas lebih penting dari B.
9 A Mutlak lebih penting dari B.
2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan
Sumber : Marimin, 2004
14

3. Membuat Peringkat keputusan ternormalisasi


Langkah untuk mendapatkan nilai dari matriks keputusan ternormalisasi
dilakukan dengan membagi nilai pada kolom 1 baris 1 dengan total dari kolom 1,
dan seterusnya.
4. Konsistensi Logis dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan vektor jumlah tertimbang
b. Menghitung vektor consistency
c. Menghitung nilai rata-rata vektor consistency
d. Menghitung consistency index
e. Menghitung consistency ratio

Strategi Konservasi Sumberdaya air dalam


rangka pencegahan banjir di Kota Kendari

Penggunaan Lahan Kelerengan


alang

pemerintahKantor
CampuranKebun
MangroveHutan

Tegalan/ladang
belukarSemak

UHOKampus
Permukiman
-Rumput/alangPadang

40%-15
Tambak
Sawah

15%-2
Hutan

>40%
2%-0
Jalan

ResapanParit

StreetGreen
Terasering

ResapanSitu/Kola

Reboisasi
Embung
ResapanSumur

BioporiResapanLuban
RTH

Pemerintah Masyarkat Pemanfaat Kawasan

Perencanaan Pelaksanaan Operasional dan Pemeliharaan

Gambar 4 Pohon Hirarki AHP


15

Aplikasi Pemodelan Bahaya Banjir dalam Rangka Pencegahan Banjir


melalui Penerapan Strategi Konservasi
Untuk menguji efektifitas model bahaya banjir dalam upaya pencegahan
banjir, maka pada peneltian ini dilakukan simulasi model MAFF-Japan dengan
menerapkan alternatif konservasi sumberdaya air yang telah dianalisis
berdasarkan pada penilaian AHP. Simulasi skor pemetaaan bahaya banjir baru
sebagai output dari strategi yang dipilih dari metode Analisis Hirarki Proses
dilakukan dengan sistem pakar. Untuk penentuan skor baru tingkat bahaya banjir
menggunakan model MAFF-Japan dilakukan dengan formula pada Lampiran 2.
16

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Wilayah Penelitian

Letak Geografis dan Luas Wilayah


Kota Kendari merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara sehingga
memiliki fungsi dan peranan yang sangat strategis sebagai pusat aktivitas ekonomi
dan pemerintahan. Wilayah Kota Kendari terletak di sebelah tenggara dataran
Pulau Sulawesi. Daratan ini mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau
pada mulut teluk yang dikenal sebagai Pulau Bungkutoko. Secara astronomis,
0 0 0
Kota Kendari berada posisi 122 26'33" BT – 122 39'14" BT dan 3 54'40" LS -
0
4 5'05" LS, dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe
Sebelah Timur : Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan dan
Laut Banda
Sebelah Selatan : Kecamatan Konda dan Ranomeeto, Kab. Konawe Selatan
Sebelah Barat : Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe Selatan
2
Luas wilayah daratan Kota Kendari adalah 267,37 Km atau 0,70% dari
luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara yang terbagi dalam 10 (sepuluh) wilayah
kecamatan yaitu : Kecamatan Kendari, Kecamatan Kendari Barat, Kecamatan
Mandonga, Kecamatan Puuwatu, Kecamatan Wua-wua, Kecamatan Baruga,
Kecamatan Kadia. Kecamatan Kambu, Kecamatan Poasia, dan Kecamatan Abeli
serta terbagi dalam 64 kelurahan. Kecamatan Baruga merupakan kecamatan
terluas dengan luas wilayah 48,00 km2 atau 17,95% dari total luas wilayah Kota
Kendari, sedangkan Kecamatan Kadia merupakan kecamatan terkecil dengan luas
wilayah 6,71 Km2 atau hanya 2,51% dari total luas Kota Kendari. Dari 64
kelurahan di Kota Kendari, 43,75 persen diantaranya berada di pesisir dan 56,25
persen bukan di pesisir. Untuk kelurahan bukan pesisir, lebih dari setengahnya
atau sebanyak 21 kelurahan berada di dataran, sisanya berada di lembah DAS dan
di lereng (BPS Kota Kendari, 2014). Tabel 4 menunjukan sebaran luas wilayah
Kota Kendari perkecamatan.

Tabel 4 Luas Wilayah Kecamatan Kota Kendari


No Nama Kecamatan Luas Area
2
Km %
1 Mandonga 20,77 7,77
2 Baruga 48,00 17,95
3 Puuwatu 39,72 14,86
4 Kadia 6,71 2,51
5 Wua-Wua 11,16 4,17
6 Poasia 37,74 14,12
7 Abeli 43,85 16,40
8 Kambu 24,63 9,21
9 Kendari 15,68 5,86
10 Kendari Barat 19,11 7,15
Luas Kota Kendari 267,37 100
Sumber: BPS Kota Kendari, 2014
17

Topografi
Topografi wilayah Kota Kendari pada dasarnya berfariasi antara datar dan
berbukit. Daerah datar terdapat di bagian Barat dan Selatan Teluk Kendari.
Kecamatan Kendari yang terletak di sebelah Utara teluk sebagian besar terdiri dari
perbukitan (Pegunungan Nipa-Nipa)dengan ketinggian ± 459 M dari permukaan
laut, sedangkan kearah Selatan tingkat kemiringan antara 4% - 30%, bagian Barat
Kecamatan Mandonga) dan Selatan (Kecamatan Poasia) terdiri dari daerah
perbukitan bergelombang rendah dengan kemiringan ke arah Teluk Kendari.
Dilihat berdasarkan ketinggian wilayah Kota Kendari di atas permukaan laut,
kecamatan Mandonga merupakan Wilayah tertinggi berada pada ketinggian 30
meter di atas permukaan laut. Selanjutnya wilayah kecamatan Abeli dan Kendari
Barat berada pada ketinggian 3 meter diatas permukaan laut.

Kondisi Infrastruktur Drainase.


Kondisi eksisting sistem drainase di Kota Kendari secara umum
menggambarkan bahwa kondisi sistem drainase di lokasi studi ini berada dalam
kondisi yang tidak optimal. Beberapa tempat/lokasi di Kota Kendari telah
memiliki fasilitas saluran drainase dan gorong-gorong namun di beberapa tempat
lain belum memiliki fasilitas tersebut. Lokasi-lokasi yang telah memiliki saluran,
banyak dalam kondisi rusak dan tak terawat. Banyak dijumpai saluran drainase
yang terisi oleh tanah dari longsoran halaman rumah warga atau dari bahu jalan.
Selain itu ada pula saluran drainase yang tertimbun oleh tumpukan sampah plastic
dan organik. Kondisi bangunan di-outlet saluran ke badan penerima air (sungai)
juga banyak yang rusak dan tidak terawat. Disamping kondisi fisik fasilitas sistem
drainase eksisting itu semua, dari survei awal kami pihak konsultan melihat dan
mengamati akan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga, merawat dan
mengapresiasi fasilitas prasarana drainase yang telah ada.
Secara umum, kondisi saluran drainase di Kota Kendari di rangkum dalam
beberapa point di bawah ini:
i. Luapan dan genangan limpasan permukaan (limpasan hujan) yang terjadi
hampir setiap kejadian hujan. Kondisi ini berpotensi, merusak atau
mempercepat kerusakan sarana dan prasarana kota serta memberikan
ketidaknyaman bagi warga dalam beraktivitas sehari-hari.
ii. Kapasitas saluran dan gorong-gorong yang ada sudah tidak memadai.
Kondisi ini, dapat disebabkan oleh desain yang tidak memadai atau karena
volume limpasan permukaan yang sudah jauh meningkat dibanding ketika
saluran drainase didesain/dibangun.
iii. Pertumbuhan dan perubahan fungsi kawasan, pembangunan kawasan
pemukiman baru, berkurangnya kawasan retensi dan resapan, dan
tidak/kurangnya upaya pengendalian limpasan di tingkat lokal, memberikan
andil signifikan terhadap pertambahan volume limpasan.
iv. Integrasi dan konsistensi sistem jaringan drainase yang belum memadai.
v. Adanya saluran-saluran drainase yang terputus dan tidak menjadi satu
kesatuan terintegrasi
vi. Sangat terbatasnya upaya pembangunan dan operasi dan pemeliharaan. Di
sisi lain, operasi dan pemeliharaan pada jaringan yang ada, tidak bisa
mengimbangi penurunan fungsi dan laju kerusakan jaringan drainase yang
ada.
18

vii. Rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat terkait dengan optimalisasi


fungsi saluran/sistem drainase. Terdapat di hampir setiap lokasi, saluran
drainase yang ada tidak dapat berfungsi dengan baik karena sedimentasi dan
sampah
Namun ada beberapa titik/daerah yang memiliki saluran drainase yang
relatif terawat yaitu sekitar Perkantoran Kota Kendari ( BAPPEDA, 2014).

Penggunaan Lahan
Penggunaan Lahan Kota Kendari terdiri dari kawasan hutan menjadi yang
paling dominan dengan luas 10.369 ha (38,57 %). Luasan tersebut tidak terlepas
dari adanya dua hutan lindung yang ada di Kota Kendari yakni Hutan Lindung
Nipa-Nipa dan Hutan Lindung Nanga-Nanga. Penggunaan lahan berupa
permukiman seluas 4.856 ha (18,06%) tersebar di wilayah Kota Kendari.
Umumnya permukiman berada di pusat-pusat kota seperti di Kecamatan
Mandonga, Wua-Wua,Kadia, Kambu, Poasia dan Baruga. Kebun Campuran di
Kota Kendari masih relatif luas yaitu 4.777 ha (17,77%). Penutupan lahan berupa
tegalan seluas 1.935 ha (7,2%), sawah 532 ha (1,98%), alang-alang 473 ha
(1,76%), padang rumput 751 ha (2,79%). Penggunaan lahan tambak seluas 394 ha
(1,46 %) serta hutan mangrove seluas 142 ha (0,53%) umumnya tersebar
disepanjang pesisir teluk kendari. Tabel 5 menyajikan klasifikasi penggunaan
lahan Kota Kendari tahun 2013.

Tabel 5 Klasifikasi Penggunaan lahan di Kota Kendari tahun 2013.


No Penggunaan Lahan Luas
ha %
1 Alang-Alang 473 1,76
2 Padang Rumput 751 2,79
3 Kampus UHO 86 0,32
4 Kantor Pemerintah 29 0,11
5 Sawah 532 1,98
6 Sungai 91 0,34
7 Tambak 394 1,46
8 Tegalan 1935 7,2
9 Hutan 10369 38,57
10 Jalan 416 1,54
11 Kebun Campuran 4777 17,77
12 Permukiman 4856 18,06
13 Semak Belukar 2035 7,57
14 Hutan Mangrove 142 0,53
Total 26886 100
19

Gambar 5 Penggunaan Lahan Kota Kendari


Sumber: BAPPEDA Kota Kendari

Jenis Tanah
Jenis tanah di Kota Kendari terbagi menjadi 5 jenis yaitu Brunizen,
Gleysol, Kambisol, Meditran, dan Orgonosol. Tabel 6 menyajikan data lengkap
sebaran jenis tanah di Kota Kendari.

Tabel 6 Sebaran Jenis Tanah Kota Kendari


No Jenis Tanah Luas
ha %
1 Brunizen_Kalkarik,Lithies_tropotens 115 0,43
2 Gleysol_Distrik,Typic_Tropequepts 2277 8,47
3 Gleysol_Eutrik,Typic_Trepaquepts 2270 8,44
4 Gleysol_Vertid,Typic_Trepaquepts 2343 8,71
5 Kambisol_Distrik,Typic_Etropets 8449 31,43
6 Kambisol_Eutrik,Typic_Etropets 7799 29,01
7 Kambisol_Gleik,Fluventic_Euttropets 1152 4,28
8 Meditran_Haplik,Ortik_Luvisopets 1931 7,18
9 Organosol_Henrik,Typic_Suifaquents 5.51 2,05
Total 26.887 100
Sumber: BAPPEDA, 2010
20

Gambar 6 Peta Sebaran Jenis Tanah Kota Kendari


Sumber: Bappeda Kota Kendari, 2010

Jenis Geologi
Adapun persebaran dan jenis geologi yang terdapat di Kota Kendari adalah
sebagai berikut :
1. Batu pasir Kuarsit tersebar di Kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga
sebagian utara sampai perbatasan dengan Kecamatan Soropia, tepatnya di
Kawasan Hutan Raya Murhum.
2. Endapan eluvium Pasir tersebar dipesisir pantai Teluk Kendari dan disekitar
sungai-sungai yang mengalir di Kota Kendari.
3. Batu Gamping Koral tersebar di Pulau Bungkutoko, pesisir pantai Kelurahan
Purirano dan Kelurahan Mata, serta Kecamatan Mandonga kearah Barat Laut,
yang dibatasi Jalan R. Soeprapto Jalan Imam Bonjol dan batas antara Kota
Kendari dengan Kecamatan Sampara.
4. Konglomerat dan Batu Pasir , tersebar disepanjang kiri kanan jalan poros
antara Kota Lama dengan Tugu Simpang tiga Mandonga, bagian tengah
Kecamatan Mandonga dan Bagian Barat Kecamatan Baruga serta bagian
tengah Kecamatan Poasia sampai kearah selatan, yaitu kawasan rencana
kompleks perkantoran 1.000 Ha kearah Pegunungan Nanga-Nanga.
5. Filit tersebar di arah tenggara Kecamatan Poasia tepatnya Kelurahan Talia,
Kelurahan Abeli, Kelurahan Anggalomelai, Kelurahan Tobimeita, Kelurahan
Benuanirae dan Kelurahan Anggoeya.
6. Konglomerat Batu Pasir tersebar di Kecamatan Poasia bagian timur yaitu di
Keluahan Petoaha, Kelurahan Sambuli dan Kelurahan Nambo serta sebagian
Kelurahan Tondonggeu.
21

7. Batu Gamping tersebar dibagian barat Kecamatan Mandonga sampai dengan


batas Kota Kendari dengan Kecamatan Sampara dan Kecamatan Ranomeeto.
(BAPPEDA Kota Kendari, 2012)

Tabel 7 Sebaran Jenis Geologi di Kota Kendari


No Geologi_KD LUAS
ha %
1 TMPI,Batu Gamping Kalkarenit 2165 8,05
2 Qps,Konglomerat dan Batu Pasir 8295 30,85
3 Qal,Endapan Aluvium Pasir 3655 13,6
4 Qpl,Batu Gamping Koral 2665 9,91
5 Batu Pasir 3563 13,25
6 TMPs,Konglomerat 2734 10,17
7 Filit,Batu Sabak 2361 8,78
8 TMS,Konglomerat 1449 5,39
Total 26887 100

Gambar 7 Peta Sebaran Geologi Kota Kendari


Sumber: Bappeda Kota Kendari, 2010

Bentuk Lahan
Kota Kendari memiliki 7 bentuk lahan yang di dominasi oleh dataran seluas
15.311 ha (56,95%). Selain itu, terdaat pegunungan seluas 7.596 ha (28,25%)
serta dataran aluvial seluas 2.794 ha (10,39%). Selebihnya bentuk lahan Kota
Kendari terdiri dari rawa pasang surut seluas 1,02%, perbukitan seluas 0,02%
22

serta jalur meander seluas 0,09%. Sebaran bentuk lahan Kota Kendari disajikan
pada Tabel 8 dan Gambar 8.

Tabel 8 Bentuk Lahan Kota Kendari


No. Bentuk Lahan LUAS
ha %
1 Rawa Pasang surut 273 1,02
2 Dataran 15.311 56,95
3 Perbukitan 7 0,02
4 Kipas dan Lahar 882 3,28
5 Pegunungan 7.596 28,25
6 Jalur Meander 24 0,09
7 Dataran Aluvial 2.794 10,39
Total 26.887 100

Gambar 8 Peta Bentuk Lahan Kota Kendari


Sumber: BPDAS Sampara, Kota Kendari

Kelerengan
Kota Kendari memiliki empat kelas Kemiringan Lereng yang didominasi
oleh lereng antara 2-15%. Gambar 9 memperlihatkan bahwa Kota Kendari
merupakan daerah datar hingga daerah terjal.
23

Gambar 9 Peta Kemiringan Lereng Kota Kendari

Kemiringan 0–2% tersebar di seluruh kecamatan Kota Kendari Seluas


5.134 Ha. Klasifikasi kemiringan ini yang paling dominan ada di Kecamatan
Baruga seluas 1.570 Ha. dan terkecil di Kecamatan Kendari seluas 50 Ha.
Kemiringan 2-15% tersebar di seluruh Kota Kendari dan mendominasi sebagian
besar kota kendari seluas 17.729 Ha. Kecamatan Puuwatu menjadi paling
dominan seluas 3.682 Ha. Sedangkan Kecamatan Kadia menjadi yang terkecil
yakni seluas 391 Ha. Kemiringan 15-40% juga tersebar hampir seluruh
Kecamatan di Kota Kendari kecuali Kec Kadia dan Wua-Wua dengan luas 3.941
Ha. Kemiringan ini tersebar paling dominan di Kecamatan Poasia seluas 1.182
Ha, sedangkan yang terkecil adalah kecamatan Kambu hanya seluas % Ha.
Kemiringan diatas 40% merupakan yang terkecil di Kota Kendari dengan luas
hanya sekitar 82 Ha yang sebagian besar tersebar di kecamatan Poasia seluas 47
Ha dan Kec. Abeli seluas 33 Ha, sedang sisanya hanya 2 Ha di Kec. Kendari
Barat. Tabel 9 menunjukkan kemiringan lereng Kota Kendari

Tabel 9 Sebaran Kemiringan Lereng Kota Kendari.


No Kemiringan Lereng Luas
ha %
1 0-2% 5134 19,1
2 2-15% 17729 65,94
3 15-40% 3941 14,66
4 > 40% 82 0,3
Total 26.886 100
24

Curah Hujan
Peta curah hujan tahun 2013 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan
wilayah Kota Kendari memiliki curah hujan > 2.500 mm/tahun. Data sebaran
curah hujan diperoleh dengan menginterpolasi data 6 (enam) stasiun curah hujan
yang ada di Kota Kendari dan sekitarnya. Sebaran curah hujan yang diperoleh
sejalan dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jaya (2015) yang
menyimpulkan bahwa curah hujan yang terjadi di Kota Kendari relatif seragam.

Karakteristik Kriteria Pembentuk Bahaya Banjir di Kota Kendari

Karakteristik kriteria pembentuk bahaya banjir berdasarkan studi literatur


dan kondisi lapangan ditunjukan pada Tabel 10.

Tabel 10 Karakteristik Kriteria Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari


Parameter Kriteria Skor
Curah Hujan (mm) >2500 5
Penggunaan Lahan Alang-Alang 4
(Tipe) Padang rumput 4
Semak Belukar 3
Hutan 1
Kebun Campuran 2
Kantor Gubernur 2
Perguruan Tinggi 2
Permukiman 4
Sawah 3
Tambak 5
Tegalan 3
Jalan 5
Sungai 5
Hutan Mangrove 3
Jenis Tanah Brunizen Kalkarik 1
Gleysol 4
Kambisol 3
Meditran Haplik 2
Orgonosol 3
Lereng 0–2% 5
2–15% 2
15– 40 % 1
>40 % 0
Tipe Geologi Batu Pasir, Quartit 4
Filit,Batu Sabak 5
Qal, Endapan Aluvium Pasir 1
Qpl, Batu Gamping Koral 4
TMS, Konglomerat 3
TMPI, Batu Gamping 4
Kalkarenit
25

Parameter Kriteria Skor


Bentuk Lahan Dataran 3
Dataran aluvial (dataran 5
Banjir)
Jalur Meander 5
Kipas dan lahar 3
Pegunungan 1
Perbukitan 2
Rawa pasut 5

Skor kriteria pembentuk bahaya banjir yang telah dianalisis sesuai studi
literatur, dilakukan verifikasi lapangan serta dimodifikasi dengan uji coba (fit and
proper) guna mendapatkan peta sebaran bahaya banjir yang sesuai dengan kondisi
eksiting banjir di Kota Kendari. Penggunaan lahan memberikan pengaruh yang
besar terhadap kerawanan banjir suatu daerah. Penggunaan lahan akan berperan
pada besarnya run off hasil dari hujan yang telah melebihi laju infiltrasi. Daerah
yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan relatif akan menahan laju run off karena
tertahan oleh akar dan batang pohon. Akar-akar pohon juga turut berperan dalam
besarnya kapasitas serapan air, sehingga kemungkinan banjir lebih kecil daripada
daerah yang tidak ditanami oleh vegetasi. Pada Penggunaan lahan padang rumput
dan alang-alang, sesuai dengan studi literatur banyak memberikan bobot 2 dan 3,
akan tetapi berdasarkan hasil verifikasi banjir Kota Kendari dan hasil uji coba (fit
and proper) untuk mendapatkan hasil yang sesuai maka pada model MAFF-Japan
diberi skor 4.
Pada Kasus banjir di Kota Kendari, penggunaan lahan hutan, Kebun
campuran kantor gubernur dan Kampus UHO dipandang relatif aman dari bahaya
banjir. Adanya ruang-ruang terbuka hijau menjadi pertimbangan dalam menentuk
skor bahaya banjir pada Kantor Gubernur dan Kampus UHO. Berbeda pada
penggunaan Lahan Permukiman, pada permukiman relatif tidak aman terhadap
bahaya banjir disebabkan tidak maksimalnya fungsi Ruang Terbuka Hijau yang
diganti fungsinya menjadi bagian-bagian yang kedap air serta tidak adanya
teknologi panen air hujan pada kawasan tersebut. Demikian juga pada jalan-jalan
di Kota Kendari dimana ruang-ruang terbukanya tidak berfungsi sebagai sarana
peresapan air serta pada saluran-saluran drainasenya digunakan sebagai tempat
pembuangan air hujan dari lahan-lahan terbangun sehingga dalam keadaan hujan
lebat menjadikan kawasan ini relatif mudah tergenang.
Pada Kriteria Kelerengan, kelerangan dengan persentase paling tinggi
(terjal) diberi skor paling aman sedangkan kelerangan dengan persentase kecil
diberi skor paling rawan terhadap banjir. Semakin besar persentase kelerengan
maka run off semakin tinggi. Aliran air yang berada pada lahan tersebut akan
diteruskan ke tempat yang lebih rendah dengan sangat cepat, dibandingkan lahan
yang kemiringannya rendah (landai). Sehingga kemungkinan terjadi
penggenangan atau banjir pada daerah yang persentase kemiringan lerengnya
tinggi semakin kecil. Teknik penskoran pada keleremgan mengikuti skor
MAFF_Japan.
Kriteria tanah dengan tekstur sangat halus memiliki peluang kejadian
banjir yang tinggi, sedangkan tekstur yang kasar memiliki peluang kejadian banjir
yang rendah. Hal ini disebabkan semakin halus tekstur tanah menyebabkan air
26

aliran permukaan yang berasal dari hujan maupun luapan sungai sulit untuk
meresap ke dalam tanah, sehingga terjadi penggenangan (Purnama, 2008). Jenis
tanah gleysol merupakan jenis tanah dengan skor paling tinggi yang dinilai rawan
terhadap banjir dikarenakan tekstur tanah yang jenuh terhadap air yang bersifat
hidromrfik atau tumbuh dan berkembangan atas pengaruh air yang secara terus
menerus. Berbeda dengan jenis tanah Kambisol, jenis tanah ini relatif tidak rawan
terhadap banjir karena merupakan jenis tanah yang tidak ada pengaruh air
terhadapnya sehingga sangat mudah menyerap air hujan (Jaya, 2015). Jenis Tanah
orgonosol terbentuk dari bahan induk organik yang diturunkan dari hutan hujan
rawa dan padang rumput dengan muka air tanah tinggi. Berada pada daerah yang
bertopografi datar dengan gundukan di dataran rendah. Vegetasi jenis tanah
orgnosol adalah hutan hujan rawa, padang rumput rawa, pakis dan lumut. Tanah
Mediteran merupakan bagian dari ordo Alfisol yang banyak terdapat di daerah
savana atau hutan, Bahan induk tanah mediteran adalah batu kapus kristalin,
batuan sedimenter mengandung kapu, batuan volkan basa sampai intermediate
(Rachim dan Arifin, 2011).

Analisis Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari


Metode analisis bahaya banjir yang dilakukan dalam penelitian ini seperti
yang telah dijelaskan pada metode penelitian, yaitu dilakukan melalui proses
overlay tertahap peta dasar dengan parameter yang telah diberi skor. Berdasarkan
hasil analisis skor tingkat bahaya banjir maka diperoleh jumlah skor tertinggi
adalah 48, sedangkan jumlah skor terendah adalah 18. Jumlah skor tersebut
menjadi dasar dalam menentukan kelas interval tingkat bahaya banjir.
Perhitungan interval masing-masing kelas tingkat bahaya banjir disajikan
pada Tabel 11 serta panjang interval berdasarkan rumus (2) diperoleh sebagai
berikut:

Dimana;
jumlah skor tertinggi (c) adalah 48, dan
jumlah skor terendah (b) adalah 18.

Tabel 11 Hasil Perhitungan Kelas Interval daerah bahaya banjir


Zona Kelas Interval Tingkat Kerawanan
Banjir
I 18 - 27,67 Aman
II 27,67 – 37,34 Potensi Banjir
III 37,34 - 47 Rawan Banjir

Hasil analisis terhadap tingkat bahaya banjir MAFF-Japan dengan


menggunakan skor awal pada setiap kriteria pembentuk banjir dengan panjang
kelas tingkat bahaya banjir (Tabel 11) menunjukkan bahwa Kota Kendari
didominasi oleh wilayah berpotensi banjir sebesar 52,43%, luas wilayah zona
aman 33,95 %, dan wilayah dalam zona rawan banjir sebesar 13,62%. Kecamatan
Kendari Barat menjadi wilayah terluas yang aman dari bahaya banjir yakni
80,03% dari luas kecamatan meskipun masih memiliki wilayah yang rawan banjir
27

sebesar 7,49% dari luas kecamatan. Sedangkan Kecamatan Kadia dan Kecamatan
Wua-Wua hampir tidak memiliki wilayah yang aman dari bahaya banjir.
Kecamatan Kadia menjadi kecamatan yang memiliki wilayah rawan banjir terluas
diantara kecamatan lainnya yakni 40,65% dari luas kecamatan. Sedangkan
Kecamatan Kendari memiliki wilayah rawan banjir yang relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kecamatan lainnya, yakni hanya seluas 1,44% dari luas
kecamatan. Sebaran tingkat bahaya banjir perkecamatan di Kota kendari dapat
dilihat pada Tabel 12 dan peta sebaran tingkat bahaya banjir di Kota Kendari
dapat dilihat pada Gambar 10
Berdasarkan analisis model MAFF-Japan, daerah rawan banjir Kota
Kendari tersebar di wilayah tepi Sungai Wanggu seperti Kecamatan Kadia,
Kecamatan Kambu, Kecamatan Wua-Wua dan Kecamatan Baruga. Penggunaan
lahan tambak, permukiman serta kelerengan antara 0-2% dan 2-15% menjadikan
kawasan-kawasan tersebut memiliki kelas rawan banjir yang cukup luas. Hasil
analisis menunjukan bahwa sekitar 42% banjir di Kota Kendari terjadi di kawasan
permukiman. Jaya (2015) menerangkan bahwa wilayah dengan tutupan lahan
permukiman dan tambak masyarakat di sekitar tepi Sungai mengakibatkan
wilayah ini sangat mudah terkena banjir.

Tabel 12 Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari


Kelas Rawan
Kecamatan Aman Potensi Banjir Rawan Luas
Banjir ha
ha % ha % ha %
Kec. Abeli 2.175 55,33 1.647 41,9 109 2,77 3.931
Kec. Baruga 388 8,01 3.382 69,82 1.074 22,17 4.844
Kec. Kadia 0 0 381 59,35 261 40,65 642
Kec. Kambu 387 17,28 1.151 51,38 702 31,34 2.240
Kec. Kendari 1.090 74,81 346 23,75 21 1,44 1.457
Kec. Kendari Barat 1.623 80,03 253 12,48 152 7,49 2.028
Kec. Mandonga 713 33,07 1.217 56,45 226 10,48 2.156
Kec. Poasia 2.292 53,83 1.326 31,14 640 15,03 4.258
Kec. Puuwatu 459 10,74 3.610 84,44 206 4,82 4.275
Kec. Wua-Wua 0 0 786 74,29 272 25,71 1.058
Total Kelas 9.127 14.099 3.663
Rawan (ha)
26.889
Total Kelas 33,95 52,43 13,62
Rawan (%)
28

Gambar 10 Peta Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari, model MAFF

Peta tingkat bahaya banjir yang ditunjukan oleh model MAFF memiliki
kesesuaian pola sebaran rawan banjir dengan peta genangan banjir yang
dikeluarkan oleh BAPPEDA Kota Kendari seperti yang ditunjukan oleh Gambar
11.

Gambar 11 Peta Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari, BAPPEDA


29

Validasi Model MAFF-Japan


Validasi model tingkat bahaya banjir MAFF-Japan di Kota Kendari
dilakukan dengan survey lapangan. Pengambilan koordinat titik sampel dilakukan
dengan teknik purposive sampling dengan mengambil 50 (lima puluh) titik terluar
daerah-daerah yang tergenang pada saat kejadian banjir. Dengan demikian peta
tingkat bahaya banjir Kota Kendari berdasarkan model MAFF-Japan dapat
digunakan.

Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka Pencegahan Banjir di


Kota Kendari

Analisis Hirarki Proses untuk Menentukan Strategi Konservasi Sumberdaya


Air dalam Rangka Pencegahan Banjir di Kota Kendari
AHP dengan goal konservasi sumberdaya air menghasilkan nilai bobot
kriteria penggunaan lahan lebih prioritas sebesar 79,9% dibandingkan dengan
kriteria kelerengan sebesar 20,1% seperti disajikan pada Lampiran 1. Hasil
analisis ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Purnama (2013)
dimana berdasarkan hasil simulasi perilaku model dinamis, menyimpulkan bahwa
dengan mengurangi laju konversi lahan menjadi permukiman, akan dapat
mempertahankan pengurangan imbuh air tanah dan mengurangi laju pengurangan
jumlah air tanah tersimpan secara signifikan. Demikan juga dengan pendapat
Subarna (2015), dari sudut pandang hidrologi, kualitas tutupan lahan sangat
berpengaruh terhadap rasio antar debit maximum dan minimum suatu DAS.
Semakin buruk kualitas tutupan lahan maka rasio ini akan semakin besar.
Dalam rangka pencegahan banjir di Kota Kendari, kerusakan pada lahan
hutan (bobot 29,2%) menjadi prioritas untuk ditangani mengingat peranannya yang
sangat penting terutama dalam pengaturan siklus hidrologi. Menurut Kusmana et
al. (2004), peranan penting tersebut terutama „efek spons” yang dapat meyekap air
hujan dan mengatur pengalirannya sehingga mengurangi kecenderungan banjir dan
menjaga aliran air di musim kemarau. Kerusakan kawasan hutan di lokasi
penelitian cukup memprihatinkan karena banyaknya areal hutan yang diubah
fungsinya oleh masyarakat serta maraknya penebangan kayu-kayu muda oleh
masyarakat yang dimanfaatkan sebagai kayu dolken. Alternatif konservasi
sumberdaya air yang paling utama untuk dilakukan berdasarkan penilaian AHP
pada kawasan hutan adalah dengan reboisasi dengan bobot 47,7%. Keberhasilan
program reboisasi dan rehabilitasi lahan akan dapat meningkatakan produktifitas
lahan dan kualitas lingkungan terutama dalam aspek fungsi hidrologi, fungsi
perlindungan tanah, stabilitas iklim mikro, penghasil O2 dan penyerap gas-gas
pencemar udara, potensi sumberdaya pulih yang dapat dipanen, pelestarian
sumberdaya plasma nutfah, perkembangbiakan ternak dan satwa liar,
pengembangan kepariwisataan dan rekreasi dan penyediaan fasilitas pendidikan
dan penelitian (Kusmana et al., 2004). Dalam upaya memaksimalkan fungsi
kawasan hutan tersebut berdasarkan penilaian AHP, RTH menjadi aternatif yang
cukup penting dengan bobot 13,7%. Menurut PermenPU nomor: 05/PRT/M/2008
bahwa untuk membatasi perkembangan perubahan penggunaan lahan hutan dan
membatasi aktivitas masyarakat, maka perlu diupayakan konservasi air berbasis
RTH Sabuk hijau. Selain itu, RTH dapat berperan sebagai tempat wisata bagi
30

masyarakat kota. Peran Pemerintah dalam konservasi air tersebut sangat


diharapkan mengingat manfaat hutan tersebut sebagai jantung kota.
Selain hutan, penggunaan lahan yang memiliki prioritas tinggi untuk
dikonservasi adalah kawasan permukiman (bobot 21,3%). Hal ini didasarkan pada
kondisi permukiman yang umumnya kedap air serta memiliki tingkat laju run off
yang sangat tinggi. Menurut Arafat (2008), pengembangan permukiman di
perkotaan yang demikian pesatnya, mengakibatkan makin berkurangnya daerah
resapan air hujan, karena meningkatnya luas daerah yang ditutupi oleh perkerasan
dan mengakibatkan waktu berkumpulnya air (time of concentration) jauh lebih
pendek, sehingga akumulasi air hujan yang terkumpul melampaui kapasitas
drainase yang ada. Dibalik itu, alternatif penangan banjir dan genangan pada
kawasan permukiman yang tersedia masih berupa drainase horizontal yang
membuang air hujan secara langsung dan secepat-cepatnya ke sungai. Oleh karena
itu, berdasarkan penilaian AHP serta secara tegas diatur dalam PermenPU nomor:
05/PRT/M/2008, penerapan Ruang Terbuka Hijau Privat sangat penting untuk
dilakukan. Guna memaksimalkan fungsi RTH privat dalam meresapkan air hujan,
maka perlu didukung dengan adanya lubang-lubang resapan biopori. Sedangkan
untuk menampung air hujan yang jatuh dari atap-atap permukiman maka perlu
diupayakan pembuatan sumur-sumur resapan yang dapat menampung air dalam
kapasitas besar sehingga volume run off dapat dikurangi dan air dapat meresap ke
dalam tanah (Saleh, 2011). Dalam menerapkan konservasi-konservasi air tersebut,
pemerintah dipandang memiliki peran yang vital dalam mengaplikasikannya.
Terlebih lagi kawasan permukiman selama ini sering dituding sebagai penyebab
utama terjadinya banjir. Hal ini sering ditunjukan dengan terjadinya air yang
meluap dari saluran drainase khususnya di permukiman, sehingga terjadi genangan
air bahkan terjadi banjir yang mengganggu aktivitas masyarakat (Arafat, 2008).

Penggunaan lahan yang juga potensial untuk dilakukan konservasi


sumberdaya air adalah kebun campuran mengingat kebun campuran memiliki
vegetasi yang tidak rapat. Menurut Nurmilah (2014), penggunaan lahan
bervegetasi tidak rapat seperti Kebun Campuran, kurang mampu meresapkan dan
menahan air yang lebih banyak. Hal ini diakibatkan oleh kandungan bahan organik
dan kemantapan agregat yang rendah serta agregasi yang lebih buruk. Kondisi
tersebut akan menyebabkan air hujan yang turun lebih banyak terbuang melalui run
off dibandingkan dengan air yang diserap dan diikat oleh tanah. Dampak akhir dari
keadaan tersebut akan menimbulkan bencana banjir pada musim penghujan dan
kekeringan pada musim kemarau. Oleh karena itu perlu dilakukan teknik pemanenan
air hujan dengan bangunan embung. Subagyono et al. (2004) menjelaskan bahwa
keuntungan dalam penerepan embung selain untuk menunjang usaha tani pada lahan
kering pada musim kemarau, juga dapat menyimpan air dalam jumlah yang melimpah
sehingga aliran permukaan, erosi dan bahaya banjir di daerah hilir dapat dikurangi.
Metode agroforestri sebagai upaya perapan vegetasi juga dapat dikembangkan pada
lahan kebun campuran guna menghambat laju run off sekaligus secara ekonomi
meliliki nilai tambah. Menurut Fauzi et al. (2015), penerapan sistem agroforestri
akan memantapkan bentukan ekosistem serta stabilitas sistem menjadi tinggi
tanpa atau sedikit ancaman degradasi lahan karena struktur agroforestri akan
mengikut kaidah struktur vegetasi hutan asli.
Pengembangan usaha pertanian lahan kering/ladang sering dihadapkan
pada permasalahan sumberdaya air, khususnya pemanfaatan air hujan. Model
31

pengelohan lahan pertanian/ladang umumnya belum menerapkan kaidah-kaidah


konservasi tanah dan air sehingga berpotensi kehilangan unsur hara serta sebagian
besar air hujan ditransfer menjadi aliran permukaan yang menyebabkan air tanah
yang tersimpan hanya dalam jumlah yang sedikit. Menurut Irianto (2000),
tingginya volume aliran permukaan ini menyebabkan cadangan air merosot tajam
saat tidak ada hujan, sehingga tanaman lebih cepat mengalami cekaman air (water
stress). Salah satu teknologi konservasi tanah dan air untuk meningkatkan
kemampuan tanah meresapkan air sekaligus mengendalikan aliran permukaan dan
erosi adalah sistem peresapan biopori, dengan membuat saluran peresapan biopori
dan lubang resapan biopori (Fordatkosu, 2013). Mudra dan Surbekti (2016)
menambahkan bahwa lubang resapan biopori merupakan dapat berperan dalam
penanganan genangan air di kawasan perkotaan. Selain itu, panen air hujan pada
lahan pertanian lahan kering/tegalan dapat lakukan dengan pembuatan embung.
Menurut Tarigan (2008), embung dapat bermanfaat untuk menampung limpasan
aliran permukaan pada musim hujan dan memanfaatkannya untuk usaha tani pada
saat musim kering. Sementara penggunaan lahan semak-belukar merupakan areal
yang sesuai untuk merencanakan kolam penampung air sebagai alternatif
penanggulangan genangan berbasis konservasi air (Suparmanto et al., 2011).
Pada fasilitas jalan raya, berdasarkan penilaian AHP (Lampiran 1), green
street menjadi alternatif utama konservasi sumberdaya air mengingat
kemampuannya dalam mengikat air dalam jumlah yang besar. Green Street adalah
istilah Kota Portland yang digunakan untuk memberi label fasilitas infiltrasi air
hujan yang merupakan bagian dari jalan raya. Intinya, Green Street Portland
adalah "bioswales" seperti yang didefinisikan oleh Badan Perlindungan
Lingkungan A.S. (EPA); Mereka adalah vegetasi yang ditanam dengan sengaja
yang dirancang untuk mengumpulkan, menyaring dan meratakan limpasan air
hujan (Churth, 2015). Bioretensi ini terdiri dari area yang digali kemudian diisi
ulang dengan rasio ruang kosong yang tinggi dengan lapisan bawah adalah kerikil
dan rekayasa tanah, memberikan karakteristik pertumbuhan yang baik dan tingkat
infiltrasi yang tinggi, dan ditanam dengan vegetasi berkayu dan/atau herba. Dalam
beberapa kasus, vegetasi ini dapat mencakup pohon. Limpasan air permukaan
yang diarahkan ke bioretensi akan merembes melalui media tanah dan batu yang
direkayasa, yang memberikan penyaringan sebelum infiltrasi ke tanah asli, atau
kembali melalui underdrain ke sistem drainase. Underdrain biasanya ditempatkan
di atas lapisan kerikil untuk menyalurkan air setelah penyimpanan ruang ksosng
kerikil penuh (Anonymous, 2013).
Pada penggunaan lahan hutan mangrove, sebagai langkah awal mencegah
semakin rusaknya mangrove yang ada, salah satu cara untuk pengelolaan
ekosistem mangrove adalah berdasarkan filosofi konservasi (Haryanto, 2013).
Adapun langkah kongkrit yang dilakukan untuk tujuan pengendalian lingkungan
fisik hutan mangrove menurut Waryono (2002) adalah dengan melakukan
kegiatan peningkatan pemulihan kualitas kawasan hijau melalui kegiatan
reboisasi, penghijauan, dan atau perkayaan jenis tetumbuhan yang sesuai. Selain
itu, seperti halnya ada lahan tambak, konservasi air pada hutan mangrove dapat
dilakukan dengan teknik silvofishery. Silvofishery merupakan teknik pertambakan
ikan dan udang yang dikombinasikan dengan tanaman kehutanan dalam hal ini
adalah vegetasi hutan mangrove (Binawati et al., 2015). Sebagai solusi dalam
32

penanaman mangrove di areal tambak dan bekas tambak, Kusmana et al. (2014)
memperkenalkan teknik guludan.
Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor :
47/Permentan/OT.140/10/2006, untuk penggunaan lahan padang rumput dapat
diterapkan sistem silvipastura yang memadukan antara tanaman kayu-kayuan dan
rumput. Teknik ini dapat berfungsi sebagai RTH sekaligus tetap memberi ruang
bagi ternak dalam mencari makan. Pada lahan-lahan yang tidak berperan sebagai
lahan peternakan dapat dilakukan reboisasi sehingga resapan air dapat
dimaksimalkan.
Pada penggunaan lahan kantor gubernur dan kampus, lebih prioritas untuk
memperbanyak lubang resapan biopori untuk membantu meresapkan air ke dalam
tanah serta mengurangi limpasan air. Serta pada bangunan-bangunan yang ada
dapat dibuat sumur-sumur resapan sehingga air yang jatuh dari atap dapat
tersimpan dan terinfiltrasi dalam jumlah banyak.
Pengolahan lahan sawah dapat mengakibatkan terjadi lapisan tipis yang
relatif kedap air pada dasar sawah, sehingga mengurangi infiltrasi air ke dalam
tanah (Fakhrudin dan Daruati, 2017). Permasalahan lain yang ada pada lahan
sawah di Kota Kendari adalah ketersedian air yang semakin langka, bahkan petani
harus menunggu musim hujan untuk bercocok tanam (wawancara). Menurut
Setiobudi dan Fagi (2009), permasalahan tersebut dapat terpecahkan dengan
pemanfaatan embung yang merupakan teknik panen air dengan menampung air
hujan dan aliran permukaan baik sementara maupun permanen yang sewaktu-
waktu dapat digunakan untuk mengairi tanaman pada waktu yang diperlukan.
Teknik panen air ini selain berfungsi menyediakan sumber air irigasi pada musim
kemarau juga dapat pula mengurangi banjir pada musim hujan. Selanjutnya
Suprapto et al. (2006), menambahkan bahwa untuk mengatasi kelangkaan air bagi
tanaman, dapat dilakukan teknik sumur usaha tani, yang berdiameter 1 meter
dengan kedalaman 6-8 meter yang dapat menampung air hujan.
Pada Kelerengan 0-2% dan 2-15% yang memiliki bobot yang sama yakni
32,5%, secara umum memiliki alternatif konservasi adalah dengan memperbanyak
lubang resapan biopori, parit resapan dan sumur resapan. Teknik lubang resapan
biopori (LRB) lebih tepat untuk diterapkan pada lahan datar serta pada tempat-
tempat yang merupakan lokasi dimana air tergenang (Anonymous, 2011). Dalam
pengimplementasikannya, peran pemerintah perlu diintegrasikan dengan peran
pemanfaat kawasan.
Pada lereng 15-40% dan >40%, berdasarkan penilaian AHP, secara umum
perlu dilakukan reboisasi serta pembuatan teras untuk menghambat aliran run off.
Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 47/Permentan/OT.140/10/2006,
dikemukakan bahwa teras dapat diterapkan pada lahan pertanian dengan
kemiringan 10-40%, juga pada lahan bukan pertanian dengan kemiringan >40%
yang akan berfungsi untuk memperlambat aliran permukaan, menampung dan
menyalurkan aliran pemukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak dan
meningkatkan laju infiltrasi.

Alternatif Terbaik Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam Rangka


Pencegahan Banjir di Kota Kendari
Strategi terbaik konservasi sumberdaya air dalam rangka pencegahan
banjir di Kota Kendari adalah dengan melakukan reboisasi, RTH serta Lubang
33

Resapan Biopori. Reboisasi merupakan salah satu kegiatan penting yang harus
dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Dalam
konteks keruangan, penghijauan sangat dibutuhkan terutama untuk kota-kota yang
sedang berkembang dan mengalami alih fungsi ruang untuk kawasan terbangun
(Kelvin dalam Rubiantoro, 2013).
Alternatif strategi konservasi sumberdaya air dalam rangka pencegahan
banjir di Kota Kendari berdasarkan penilaian AHP disajikan pada Tabel 13.
Untuk mencapai strategi-strategi tersebut, secara agregat peran penting
pemerintah sangat dominan pada beberapa parameter bahkan memiliki bobot
diatas 60% dibandingkan aktor lain. Didalam mengimplementasikan strategi-
strategi tersebut perlu menerapkan parameter-parameter prioritas, dimana peran
pemerintah perlu diintegrasikan dengan peran pemanfaat kawasan. Penelitian
yang dilakukan oleh Rubiantoro (2013) menjelaskan bahwa keterlibatan
masyarakat cukup penting didalam penghijauan. Dalam penghijauan, pengawasan
adalah rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan masyarakat dan pemerintah
dengan sungguh-sungguh.Tanpa pengawasan yang baik tujuan penghijauan sulit
dicapai. Peran serta masyarakat dalam pengawasan dapat dinilai dari pelaporan
masyarakat kepada aparat birokrasi yang berwenang dalam mengelola
penghijauan mengenai hal-hal yang seharusnya tidak terjadi di lapangan.

Tabel 13 Alternatif Strategi Konservasi Sumberdaya air dalam rangka mencegah


Banjir di Kota Kendari
No. Alternatif Bobot (%)
1 Reboisasi 15,2
2 RTH 15,0
3 Lubang Resapan Biopori 12,9
4 Sumur Resapan 12,8
5 Parit Resapan 10,2
6 Embung 9,6
7 Situ/Kolam Resapan 9,1
8 Terasering 7,9
9 Green street 7,3

Aplikasi Pemodelan Bahaya Banjir dalam Rangka Pencegahan Banjir


melalui Penerapan Strategi Konservasi
Pengujian efektifitas model bahaya banjir MAFF-Japan dalam upaya
pencegahan banjir di Kota Kendari disimulasikan dengan menerapkan alternatif
konservasi sumberdaya air yang telah dianalisis berdasarkan pada penilaian AHP.
Skenario penerapan konservasi sumberdaya air seperti penanaman tanaman
tutupan lahan/cover crops, penghutanan kembali pada lahan-lahan yang gundul,
pembuatan guludan, pembuatan teras, perbaikan irigasi, perbaikan drainase dan
pengaplikasian teknologi resapan air seperti pembuatan sumur resapan dan
teknologi lubang resapan biopori di sekitar areal permukiman akan menghasilkan
debit limpasan yang lebih kecil dibandingkan dengan skenario businnes as usual
tanpa upaya konservasi sumberdaya air, ini berarti bahwa upaya konservasi
sumberdaya air dapat menghambat laju aliran permukaan sehingga menurunkan
limpasan (run off) yang terjadi di lapisan tanah (Surya, 2015).
34

Proses simulasi pengurangan skor bahaya banjir MAFF-Japan dilakukan


dengan metode wawancara bersama pakar. Simulasi pengurangan skor bahaya
banjir berdasarkan model MAFF-Japan dengan penerapan konservasi sumberdaya
air hasil AHP dapat dirangkum seperti pada Tabel 14. Berdasarkan simulasi
pengurangan skor MAFF-Japan tersebut, maka diperoleh skor simulasi 1 dan 2
(Tabel 15) yang dapat memberikan proyeksi tentang bahaya banjir kota kendari
berdasarkan penerapan alternatif konservasi sumberdaya air sesuai penilaian AHP.

Tabel 14 Pengurangan Skor Bahaya Banjir berdasarkan Penilaian Pakar.


Alternatif Konservasi Pengurangan
Skor Skor
Parameter Kriteria (Berdasarkan AHP)
Awal (PAKAR)
1 2 1 1+2
Penggunaan Alang-Alang RTH Reboisasi 4 1,80 2,80
Lahan
Padang RTH Reboisasi 4 1,50 2,50
rumput
Semak Situ/Kolam RTH 3 1,53 2,30
Belukar Resapan
Hutan Reboisasi RTH 1 0,75 0,94
Kebun Camp. Embung Reboisasi 2 1,40 1,70
Kantor LRB Sumur 2 0,90 1,60
Gubernur resapan
Kampus LRB Sumur 2 0,90 1,50
UHO resapan
Permukiman RTH Sumur 4 2,15 3,00
resapan
Sawah Embung Sumur 3 1,50 2,35
resapan
Tambak RTH Terasering 5 1,80 2,20
Tegalan LRB Embung 3 1,70 2,50
Jalan Green Street RTH 5 2,40 3,70
Hutan Reboisasi RTH 3 1,60 2,40
Mangrove
Kelerengan 0–2 LRB Parit 5 2,90 4,00
resapan
2–15 LRB Sumur 2 1,20 1,80
resapan
15–40 Reboisasi Terasering 1 0,80 0,90
>40 Reboisasi Terasering 0 0 0

Berdasarkan penilaian Pakar dalam mengaplikasikan strategi konservasi


sumber air di dalam model MAFF-Japan seperti pada Tabel 15 maka diperoleh
skor simulasi tingkat bahaya banjir dimana pada Simulasi I dengan menerapkan 1
35

(satu) alternatif konservasi sumberdaya air dan pada Simulasi II dengan


menerapkan 2 (dua) alternatif konservasi sumberdaya air.

Tabel 15 Konservasi Sumberdaya Air serta Simulasi Skor MAFF_Japan


Parameter Kriteria Simulasi Skor
I II
Curah Hujan (mm) >2500 5 5
Penggunaan Lahan Alang-Alang 2,20 1,2
(Tipe) Padang rumput 2,50 1,5
Semak Belukar 1,47 0,7
Hutan 0,25 0,06
Kebun Campuran 0,60 0,3
Kantor Gubernur 1,10 0,4
Perguruan Tinggi 1,10 0,5
Permukiman 1,85 1
Sawah 1,50 0,65
Tambak 3,20 2,8
Tegalan 1,30 0,5
Jalan 2,60 1,3
Sungai 5 5
Hutan Mangrove 1,40 0,6
Jenis Tanah Brunizen Kalkarik 1 1
Gleysol 4 4
Kambisol 3 3
Meditran Haplik 2 2
Orgonosol 3 3
Kelerengan 0–2% 2,10 1
2–15% 0,80 0,2
15– 40 % 0,20 0,1
>40 % 0 0
Tipe Geologi Batu Pasir, Quartit 4 4
Filit,Batu Sabak 5 5
Qal, Endapan Aluvium Pasir 1 1
Qpl, Batu Gamping Koral 4 4
TMS, Konglomerat 3 3
TMPI, Batu Gamping 4 4
Kalkarenit
Bentuk Lahan Dataran 3 3
Dataran aluvial (dataran 5 5
Banjir)
Jalur Meander 5 5
Kipas dan lahar 3 3
Pegunungan 1 1
Perbukitan 2 2
Rawa pasut 5 5
36

Simulasi I Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan Dalam Upaya Pencegahan


Banjir Di Kota Kendari
Hasil analisis tingkat bahaya banjir berdasarkan simulasi I dengan
menerapkan alternatif paling prioritas konservasi sumberdaya air berdasarkan
penilaian AHP pada parameter penggunaan lahan dan kelerengan model MAFF-
Japan menunjukan bahwa terjadi perubahan luas zona tingkat bahaya banjir secara
signifikan.
Hasil simulasi I skor bahaya banjir MAFF-Japan diperoleh luas wilayah
dengan zona aman meningkat menjadi 87,96%, sedangkan wilayah dengan zona
potensi banjir dan zona rawan banjir turun menjadi 11,83% dan 0,21%. Kecamtan
Kendari menjadi wilayah yang memiliki potensi aman dari banjir terluas yakni
98,97 dari luas kecamatan. Penerapan alternatif strategi prioritas dalam
mengaplikasi model MAFF-Japan telah menunjukan dampak yang signifikan di
dalam mencegah banjir di Kota Kendari. Hal ini didukung dengan adanya
beberapa kecamatan yang relatif bebas dari banjir seperti Kecamatan Abeli,
Kendari, dan Kecamatan Puuwatu. Sebaran tingkat bahaya banjir dengan simulasi
I MAFF-Japan dalam upaya pencegahan banjir perkecamatan di Kota kendari
dapat dilihat pada Tabel 16 dan peta tingkat bahaya banjir dengan simulasi I
MAFF-Japan dalam upaya pencegahan banjir di Kota Kendari dapat dilihat pada
Gambar 12.

Gambar 12 Peta Simulasi I Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari


37

Tabel 16 Hasil Simulasi I Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan di Kota Kendari


Tingkat Bahaya Banjir
Kecamatan Aman Potensi Rawan Luas
Banjir Banjir
(ha) (%) (ha) (%) (ha) (%) (ha)
Kec. Abeli 3.749 95,37 182 4,63 0 0 3.931
Kec. Baruga 3.920 80,94 911 18,81 12 0,25 4.843
Kec. Kadia 397 61,74 240 37,33 6 0,93 643
Kec. Kambu 1.570 70,09 652 29,11 18 0,8 2.240
Kec. Kendari 1.442 98,97 15 1,03 0 0 1.457
Kec. Kendari Barat 1.876 92,46 149 7,34 4 0,2 2.029
Kec. Mandonga 1.970 91,37 177 8,21 9 0,42 2.156
Kec. Poasia 3.747 88,02 505 11,86 5 0,12 4.257
Kec. Puuwatu 4.122 96,44 152 3,56 0 0 4.274
Kec. Wua-Wua 859 81,19 198 18,71 1 0,1 1.058
Total Kelas 23.652 3.181 55
Rawan (ha)
26.888
Total Kelas 87,96 11,83 0,21
Rawan (%)

Simulasi II Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan Dalam Upaya Pencegahan


Banjir Di Kota Kendari
Hasil analisis tingkat bahaya banjir berdasarkan simulasi II dengan
menerapkan 2 alternatif prioritas konservasi sumberdaya air berdasarkan penilaian
AHP pada parameter penggunaan lahan dan kelerengan model MAFF-Japan
menunjukan aplikasi model MAFF-Japan sangat efektif digunakan pencegahan
banjir di Kota Kendari.
Luas wilayah dengan zona aman meningkat menjadi 99,2%, sedangkan
wilayah dengan zona potensi banjir turun menjadi 0,8%. Penerapan strategi
konservasi dengan 2 alternatif secara efektif menghilangkan ancaman bahaya
banjir di Kota Kendari. Sebaran tingkat bahaya banjir dengan simulasi II MAFF-
Japan dalam upaya pencegahan banjir perkecamatan di Kota kendari dapat dilihat
pada Tabel 21 dan peta tingkat bahaya banjir dengan simulasi II MAFF-Japan
dalam upaya pencegahan banjir di Kota Kendari dapat dilihat pada Gambar 13.
38

Gambar 13 Peta Simulasi II Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan di Kota

Kendari Tabel 17 Hasil Simulasi II Tingkat Bahaya Banjir MAFF-Japan di

Kota Kendari
Tingkat Bahaya Banjir
Kecamatan AMAN POTENSI RAWAN Luas
BANJIR BANJIR
(ha) (%) (ha) (%) (ha) (%) (ha)
Kec. Abeli 3.931 100 0 0 0 0 3.931
Kec. Baruga 4.821 99,55 22 0,45 0 0 4.843
Kec. Kadia 617 96,11 25 3,89 0 0 642
Kec. Kambu 2.179 97,32 60 2,68 0 0 2.239
Kec. Kendari 1.456 99,93 1 0,07 0 0 1.457
Kec. Kendari Barat 1.999 98,52 30 1,48 0 0 2.029
Kec. Mandonga 2.116 98,14 40 1,86 0 0 2.156
Kec. Poasia 4.224 99,2 34 0,8 0 0 4.258
Kec. Puuwatu 4.274 100 0 0 0 0 4.274
Kec. Wua-Wua 1.056 99,81 2 0,19 0 0 1.058
Total Kelas Rawan (ha) 26.673 214 0 26.887
Total Kelas Rawan (%) 99,2 0,8 0
39

Secara ringkas, perbandingan luas area kondisi eksisting, simulasi I


(dengan penerapan 1 alternatif prioritas), dan simulasi II (dengan penerapan 2
alternatif prioritas) berdasarkan sebaran tingkat bahaya banjir Kota Kendari
ditunjukan oleh grafik pada gambar 14. Dari grafik dapat dijelaskan bahwa terjadi
penurunan daerah rawan banjir dari kondisi eksisting yaitu 13,62% menjadi
0,21% dengan melakukan simulasi I (dengan penerapan 1 alternatif). Daerah
rawan banjir pada simulasi I tersebut tersebar pada areal sungai. Hal ini
disebabkan tidak adanya perlakukan strategi konservasi pada sungai karena
dipandang nilai bahayanya yang rendah. Akan tetapi, dengan menerapkan
simulasi II (dengan 2 alternatif) pada model bahaya banjir MAFF-Japan dapat
menurunkan bahkan menghilangan nilai kerawanan bajir pada badan sungai
tersebut sehingga dari grafik dapat dilihat bahwa Kota Kendari bebas dari daerah-
daerah yang rawan banjir dengan potensi aman dari banjir mencapai 99,2%.

Simulasi Tingkat Bahaya Banjir


Kota kendari
120
(%)

100

80
LUAS AREA

60

40
20

0
Eksisting Simulasi I Simulasi 2
Aman 33.95 87.96 99.2
Potensi Banjir 52.43 11.83 0.8
Rawan Banjir 13.62 0.21 0

Gambar 14 Grafik Kondisi Eksisting, Simulasi I dan II Tingkat Bahaya Banjir


Kota Kendari
40

5 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan


bahwa :
1. Model MAFF-japan pada penelitian ini dapat digunakan untuk memetakan
daerah banjir sekaligus alat untuk upaya mengurangi daerah banjir. Hasil
pemetaan banjir Kota Kendari Model MAFF sesuai dengan pola sebaran
genangan banjir yang dikeluarkan Pemkot Kendari
2. Daerah banjir Kota Kendari saat ini terbagi menjadi aman (33,95 %), potensi
banjir (52,43%) dan rawan banjir (13,62%). Daerah yang rawan banjir
tersebar luas di tepi sungai wanggu terutama di Kecamatan Kadia, Kecamatan
Wua-Wua, Kecamatan Kambu dan Kecamatan Baruga.
3. Strategi utama dalam konservasi sumberdaya air dalam rangka pencegahan
banjir di Kota Kendari adalah dengan melakukan Reboisasi, RTH, Lubang
resapan biopori. Penerapan strategi konservasi tersebut dapat mengurangi
daerah banjir kota kendari

Saran

1. Penelitian ini dapat dijadikan rujukan dalam perencanaan pembangunan


sehingga dalam pengolahan suatu lahan dapat disertakan dengan konservasi
sumberdaya air yang tersedia agar tidak berdampak pada semakin meluasnya
daerah yang rawan terhadap banjir dan menimbulkan kerugian yang lebih besar
lagi.
2. Penelitian ini perlu diterapkan dengan mengupayakan peran konkrit
pemerintah dan pemanfaat kawasan dalam kegiatan konservasi, khususnya
dalam hal Reboisasi, RTH, Lubang resapan biopori.
41

DAFTAR PUSTAKA

Adi, S. 2013. Characterization of Flash Flood Disaster in Indonesia. Jurnal Sains


dan Teknologi Indonesia Vol. 15(1): 42-51
Agustia, M., B. Sulistyantara, 2016. Pendugaan Manfaaf Ruang Terbuka Hijau
dalam Pengendalian Aliran Permukaan dengan Menggunakan Software
Citygreen (Studi Kasus: Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan
Selatan) (Skripsi). Bogor: Departemen Arsitektur Lanskap IPB
Alwi, La Ode, N. Sinukaban, S. Solahuddin, H. Pawitan. 2011. Kajian Dampak
Dinamika Penggunaan Lahan terhadap Erosi dan Kondisi Hidrologi DAS
Wanggu ds. Jurnal hidrolitan, Vol 2(2) : 74-86
Anonymous, 2011. Kajian teknis pembuatan lubang barokah (biopori) pada
lahan di kawasan Kecamatan wonosalam. Kerjasama antara Badan
perencanaan pembangunan daerah (bappeda) Kabupaten jombang dengan
pusat pengkajian, penelitian Dan pengembangan agribisnis (p4) Fakultas
pertanian universitas darul „ulum Jombang.
Anonymous. 2012. Buku Putih Sanitasi Kota Kendari 2012. Kendari: Pokja
Sanitasi dan Air Minum Kota Kendari
Anonymous, 2013. Green Streets Stormwater Management Plan. Melwaukee:
Wisconsin Coastal Management Program, City of Melwaukee Office of
Environmental Sustainability, National Oceanic and Atmospheric
Administration.
Anonymous. (tt). Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonsesia. Jakarta :
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Direktorat Pengairan dan Irigasi
Arafat, Y. 2008. Reduksi Beban Aliran Drainase Permukaan Menggunakan
Sumur Resapan. Jurnal SMARTek, Vol. 6( 3): 144 – 153
Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press
[BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kendari. 2010.
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kendari 2010-2030, Provinsi Sulawesi
Tenggara. Kendari: BAPPEDA Kota Kendari
_____. 2014. Perencanaan Umum Drainase Kota Kendari Tahun 2014. Kendari:
BAPPEDA Kota Kendari
[BASARNAS] Badan SAR Nasional Kota Kendari. 2013.
www.kendari.basarnas.go.id

Binawati, DK., A.A.S.A. Widyastuty, S. Widyastuti, I. Nurhayati. 2015.


Konservasi Hutan Mangrove untuk Meningkatkan Perekonomian
Masyarakat Kawasan Pesisir di Pulau Mengare Kec. Bungah Kab. Gresik
Propinsi Jawa Timur. PROSIDING SEMINAR NASIONAL “RESEARCH
MONTH” 2015 “Sinergi Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat untuk Menumbuhkan Kapasitas Inovasi di Bidang Teknologi,
Pertanian, Sosial dan Ekonomi”

[BNPB] Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah Kota Kendari. 2013.


http://www.bnpb.go.id
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Kendari. 2014. Kota Kendari Dalam Angka
2014. Badan Pusat Statistik Kota Kendari: Kendari
42

Crurch, SP. 2015. Exploring Green Streets and rain gardens as instances of small
scale nature and environmental learning tools. Landscape and Urban
Planning 134: 229–240
Dariah, A., Achmad Rachman, Undang Kurnia. 2004. Erosi dan Degradasi Lahan
Kering di Indonesia. balittanah.litbang.pertanian.go.id
Fakhrudin, M., D. Daruati. 2017. Zonasi Resapan Air Hujan sebagai Dasar
Konservasi Sumber Daya Air DAS Cimanuk. Limnotek Perairan Darat
Tropis di Indonesia Vol. 24(1) : 26-35
Fauzi, H., M. Aryadi, T. Satriadi. 2015. Manajemen Kebakaran Hutan dan Lahan
melalui Pembangunan Hutan Lindung Berbasis Agroforestri (Studi Pada
Lahan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Gunung Langkaras, Kabupaten Tanah
Laut, Kalimantan Selatan). Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2015.
Fordatkosu, SA. 2013. Aplikasi Teknologi Peresapan Biopori untuk
Meningkatkan Produksi Padi Gogo pada Pertanian Lahan Kering di
Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Skripsi). Bogor: IPB
Hamdani, A., M.Y.J. Purwanto, B. Kartiwa. 2013. Analisis Wilayah Rawan Banjir
dan Genangan DAS Citarum Hulu Berdasarkan Aplikasi Model
Hidrodinamik dan Sistem Informasi Geografis (Tesis). Bogor: Institut
Pertanian Bogor
Haraguchi, M., U. Lall. 2015. Flood risks and impacts: A case study of Thailand’s
floods in 2011 and research questions for supply chain decision making.
International Journal of Disaster Risk Reduction. Vol 14(3): 256-272
Haryanto, A. 2013. Efektifitas Rehabilitasi Mangrove di Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu (Tesis). Bogor: IPB
Herlambang, A, S. Yudo, N. Rahardjo, Setiyono, D. A. Erowati, A. Waluyo. 2012.
Pengembangan Teknologi Pemanenan Air Hujan untuk Pengairan Ruang
Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Jakarta: Kementrian Riset dan
Teknologi.
Hermon, D., S.R.P. Sitorus, Manuwoto, A.F.M. Zain, 2009. Dinamika
Permukiman dan Arahan Kebijakan Pengembangan Permukiman pada
Kawasan Rawan Longsor di Kota Padang Sumatera Barat (Disertasi).
Bogor: Institut Pertanian Bogor
Irianto, G. 2000. Panen Hujan dan Aliran Permukaan untuk Peningkatan
Produktivitas Pertanian Lahan Kering, Penanggulangan Banjir dan
Kekeringan (Rainfall-Runoff Harvesting for Improving Upland Agriculture
Productivity and Controlling Floods and Droughts). Benta Biologi Volume
5(1): 29-39
Jaya, FS. 2015. Analisis Perubahan Tutupan Lahan terhadap Kerawanan Banjir
di Daerah Aliran Sungai (DAS) Wanggu Hilir Kota Kendari (Tesis).
Kendari: UHO
Kodoatie, RJ., R. Sjarief. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu.
Yogyakarta: Penerbit Andi
_____. 2010. Tata Ruang Air. Yogyakarta: Penerbit Andi
Kousky, C., M. Walls. 2014. Floodplain conservation as a flood mitigation
strategy: Examining costs and benefits. Ecological Economics 104: 119–
128
Kusmana, C., Istomo, S. Wilarso, E.N. Dahlan, Onrizal. 2004. Upaya Rehabilitasi
Hutan dan Lahan dalam Pemulihan Kualitas Lingkungan. Karya Tulis
43

disampaikan pada Seminar Nasional Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan,


tanggal 4 Juni 2004 di klub Rasuna, Ahmad Bakrie Hall, Jakarta.
Kusmana, C., Istomo, T. Purwanegara. 2014. Teknik Guludan sebagai Solusi
Metode Penanaman Mangrove pada Lahan yang Tergenang Air yang Dalam.
Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 1 (3): 165-171
Kustamar. 2013. Strategi Pengendalian Banjir Berbasis Konservasi Sumber Daya
Air di Das Sungai Nangka, Lombok Timur (227A). Konferensi Nasional
Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7) Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta,
24-26 Oktober 2013
Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk.
Jakarta: PT. Grasindo.
Mudra, IW., S. Surbakti. 2016. Kajian Drainase Sistem Biopori di Kelurahan
Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang. Spectra Volume XIV(28): 19
– 28.
Nurmilah, A. 2014. Analisis Kemampuan Tanah dalam Memegang Air pada
Berbagai Penggunaan Lahan (Studi Kasus: Das Ciujung) (Skripsi). Bogor:
IPB
Paimin, Sukresno. 2007. Pemanfaatan Sistem Informasi geografi dalam Aplikasi
Model Hidrologi untuk Prediksi Debit (Q) dan Debit Puncak (QP).
Kerjasama IPB dan CIFOR, Prosiding Lokakarya "Sistem Informasi
Pengelolaan DAS: Inisiatif Pengembangan Infrastruktur Data" Bogor: 5
September 2007
Pertiwi, N., A. Sapei, M.Y.J. Purwanto, I. Astika. 2011. Analisis Ekohidrolik
dalam Pengendalian Banjir Studi Kasus di Sungai Lowe Kabupaten
Soppeng Sulawesi selatan. Jurnal Hidrosfir Indonesia Vol. 6 ( 2): 89-96
Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai
Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 47/Permentan/OT.140/10/2006 tentang
Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
Purnama, A. 2008. Pemetaan Kawasan Rawan Banjir di Daerah Aliran Sungai
Cisadane Menggunakan Sistim Informasi Geografi (Skripsi). Bogor: IPB
Purnama, S. 2013. Penggunaan Model Dinamik dalam Penentuan Prioritas
Konservasi Air Tanah di Kabupaten Bantul. J. Teknik Lingkungan Vol.
14(2): 115-120

Rachim, DA., M. Arifin. 2011. Klasifikasi Tanah di Indonesia. Bandung: Penerbit


Pustaka Reka Cipta
Rubianto, EA., R. Haryanto. 2013. Bentuk Keterlibatan Masyarakat dalam Upaya
Penghijauan pada Kawasan Hunian Padat di Kelurahan Serengan, Kota
Surakarta. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol. 9(4): 416-428
Rustiadi, E, S. Saefulhakim, D.R. Panjunu. 2011. Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah. Jakarta: Crestpent press dan Yayasan Pustaka
Obor Indonesia.

Saaty, TL. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin Proses Hirarki
Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks.
Jakarta : PT. Pustaka Binaman Pressindo
Sadtim. 2011. Pemanfaatan Lahan dan Potensi Banjir Perkotaan. Poli Rekayasa,
volume 7( 1): 39-45
44

Saleh, C. 2011. Kajian Penanggulangan Limpasan Permukaan dengan


Menggunakan Sumur Resapan (Studi Kasus di Daerah Perumnas Made
Kabupaten Lamongan. Media Teknik Sipil, Volume 9( 2) : 116 – 124
Satriawan, H. 2010. Evaluasi Tingkat Bahaya Banjir dan Erosi serta Strategi
Penanggulangannya di Kabupaten Nagan Raya. Lentera, Vol.10(1): 78-85
Setiobudi, D., A.M. Fagi. 2009. Pengelolaan Air Padi pada Sawah Irigasi:
Antisipasi Kelangkaan Air. http://balittanah.litbang.pertanian.go.id.
Sigit, AA. 2011. Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis untuk Pendugaan Potensi Peresapan Air DAS Wedi Kabupaten
Klaten-Boyolali. Forum Geografi, Vol. 25( 1): 27 – 40
Subagyono, K., U. Haryati, S.H. Tala‟ohu. 2004. Teknologi Konservasi Air pada
Pertanian Lahan Kering. balittanah.litbang.pertanian.go.id (diakses tanggal
10 januari 2016)
Subarna, D. 2015. Strategi Konservasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Berbasis Variabilitas Iklim di DAS Cisangkuy Citarum Hulu (Disertasi).
Bogor: IPB

Sudamara, Y. 2012. Optimasi Penanggulangan Bencana Banjir di Kota Manado


dengan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Jurnal Ilmiah Media
Engineering Vol.2 (4): 232-237
Suparmanto, J., M. Bisri, R.W. Sayekti. 2011. Evaluasi dan Alternatif
Penanggulangan Genangan Berbasis Konservasi Air di Kota Kupang DAS
Dendeng – Merdeka Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Teknik
Pengairan Vol 2( 2): 172-181.
Suprapto, T., Prasetyo, C. Setiani. 2006. Embung sebagai Alternatif Mencukupi
Kebutuhan Air Usaha Tani di Kabupaten Blora.
http://balittanah.litbang.pertanian.go.id.
Surya, RA., 2015. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk Penyediaan
Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten (Studi Kasus Kabupaten
Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara) (disertasi). Bogor (ID): IPB
Surya, RA., M.Y.J. Purwanto, A. Sapei, Widiatmaka. 2014. Tank Model to See
The Effect of Land Use Changes on Runoff, Infiltration and Groundwater in
Sub Watershed of Konaweha South East Sulawesi Indonesia. Journal of
Environment and Earth Science Vol.4(14): 107-117
Suwedi, N, Mukaryanti, A.F.M. Zain, D. Shiddiq. 2006. Simulasi Model Alokasi
Kebutuhan Ruang Kota/Wilayah Berdasarkan Keberlanjutan Fungsi
Konservasi Air dan Pencegah Banjir. Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 7(1):
52-62
Syarief, A., A.F.M. Zain, S. Hardjoamidjojo. 2010. Laju Perubahan tutupan
lahan terbangun pada daerah rawan genangan banjir di Kota padang
(Tesis). Bogor: IPB
Tarigan, SD. 2008. Efektifitas Embung untuk Irigasi Tanaman Hortikultura di
Cikakak Sukabumi (The Efectivity of Embung for Irigating Horticuture Plant
in Cikakak Sukabumi). Jurnal Tanah dan Lingkungan,Vol. 10 (1): 1-6 [USAID]
United States Agency International Development, [IUWASH] Indonesia Urban
Water Sanitation and Hygiene. 2012. Sumur Resapan Sebuah Adaptasi
Perubahan Iklim dan Konservasi Sumberdaya Air. Jakarta:
USAID, IUWASH
45

Waryono, T. 2002. Restorasi Ekologi Hutan Mangrove (Studi kasus DKI Jakarta).
Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Mangrove "Konservasi dan
Rehabilitasi Mangrove Sebagai Upaya Pemulihan Ekosistem Hutan Mangrove
DKI Jakarta; diselenggarakan di Hotel Borobudur 21 Oktober 2002.
Wismoro, A. 2013. Model Pemetaan Resiko Banjir Kota Yogyakarta dalam
Manajemen Mitigasi Resiko Bencana Banjir. Sekolah Tinggi Teknologi
Nasional, 14 Desember 2013, Seminar Nasional ke 8 Tahun 2013 :
Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi
Zain, AFM., Mukaryanti, D. Shidiq. 2006. Evaluasi kemampuan alami wilayah
dalam konservasi air dan pengendalian banjir. Jurnal Teknik Lingkungan
P3TL-BPPT vol 7(1): 26-34
46

LAMPIRAN
47

Lampiran 1. Analisis AHP Strategi Konservasi Sumberdaya Air dalam


Rangka Pencegahan banjir di Kota Kendari
Goal Kriteria Parameter Alternatif konservasi Bobot Aktor Bobot Peran aktor Bobot
1 Reboisasi 47,7 Perencanaaan 33,3
2 RTH 13,7 1 Pemerintah 60,2 Pelaksanaan 33,3
3 Embung 6,2 Operasional dan Pemeliharaan 33,3

Permukiman (21,3%) Hutan (29,2%)


4 Parit resapan 5,9 Perencanaaan 20
5 Green street 5,6 2 Pemanfaat kawasan 27,1 Pelaksanaan 20
6 Situ/Kolam resapan 5,3 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Terasering 5,3 Perencanaaan 20
8 Lubang resapan biopori 5,3 3 Masyarakat 10,9 Pelaksanaan 20
9 Sumur resapan 5 Operasional dan Pemeliharaan 60
1 RTH 26,2 Perencanaaan 33,3
2 Sumur resapan 25,2 1 Pemerintah 63,7 Pelaksanaan 33,3
3 Lubang resapan biopori 15,1 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Parit resapan 12,1 Perencanaaan 10,8
5 Green street 5,1 2 Pemanfaat kawasan 25,8 Pelaksanaan 27,3
6 Embung 4,6 Operasional dan Pemeliharaan 61,9
7 Situ/Kolam resapan 4,3 Perencanaaan 29,1
8 Terasering 3,8 3 Masyarakat 10,5 Pelaksanaan 29,1
Kebun Campuran(13,5%)
Penggunaan Lahan (79,9%)
Sumberdaya Air dalam rangka pencegahan banjir

9 Reboisasi 3,6 Operasional dan Pemeliharaan 41,9


1 Embung 17,9 Perencanaaan 33,3
2 Reboisasi 17,2 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 33,3
3 Situ/Kolam resapan 11,2 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Sumur resapan 11,1 Perencanaaan 20
5 Lubang resapan biopori 10,8 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 20
6 Parit resapan 10 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 RTH 9,7 Perencanaaan 20
8 Terasering 7,6 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 20
Tegalan/ Ladang(7,8%)

9 Green street 4,5 Operasional dan Pemeliharaan 60


1 Lubang resapan biopori 20,1 Perencanaaan 38,8
2 Embung 18,5 1 Pemerintah 63,7 Pelaksanaan 38,8
3 Terasering 16,4 Operasional dan Pemeliharaan 22,4
4 Sumur resapan 11 Perencanaaan 26,7
5 Situ/Kolam resapan 9,5 2 Pemanfaat kawasan 25,8 Pelaksanaan 26,7
6 Reboisasi 8,1 Operasional dan Pemeliharaan 46,4
7 RTH 7,5 Perencanaaan 14,6
9 Green street 4,6 3 Masyarakat 10,5 Pelaksanaan 23
8 Parit resapan 4,3 Operasional dan Pemeliharaan 62,4
Belukar (4,0%)
Strategi Konservasi

1 Situ/Kolam resapan 21,7 Perencanaaan 38


2 RTH 20,1 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 38
3 Reboisasi 14,2 Operasional dan Pemeliharaan 24
4 Parit resapan 10,2 Perencanaaan 16,3
5 Lubang resapan biopori 7,8 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 22
6 Sumur resapan 7,7 Operasional dan Pemeliharaan 61,8
Jalan (3,9%) Semak

7 Embung 6,9 Perencanaaan 24,5


8 Terasering 6,6 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 24,5
9 Green street 4,7 Operasional dan Pemeliharaan 51
1 Green street 29,7 Perencanaaan 33,3
2 Parit resapan 16,2 1 Pemerintah 71,4 Pelaksanaan 33,3
3 RTH 14,7 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Lubang resapan biopori 11,9 Perencanaaan 33,3
5 Reboisasi 6,2 2 Pemanfaat kawasan 14,3 Pelaksanaan 33,3
6 Sumur resapan 6 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
7 Situ/Kolam resapan 5,2 Perencanaaan 33,3
Hutan Mangrove (3,8%)

8 Terasering 5 3 Masyarakat 14,3 Pelaksanaan 33,3


9 Embung 5 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
1 Reboisasi 21,2 Perencanaaan 33,3
2 RTH 19,4 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 33,3
3 Situ/Kolam resapan 14,3 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Embung 9,6 Perencanaaan 20
5 Sumur resapan 9 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 20
6 Terasering 7,9 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Parit resapan 6,9 Perencanaaan 20
8 Lubang resapan biopori 6,1 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 20
9 Green street 5,6 Operasional dan Pemeliharaan 60
48

Lampiran 1 (Lanjutan)
Goal Kriteria Parameter Alternatif konservasi Bobot Aktor Bobot Peran aktor Bobot
1 RTH 26,6 Perencanaaan 33,3

Alang-Alang(3,8%) Padang rumput (3,8%)


2 Reboisasi 13,1 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 33,3
3 Lubang resapan biopori 11,6 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Sumur resapan 9,5 Perencanaaan 20
5 Embung 8,9 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 20
6 Situ/Kolam resapan 8,8 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Parit resapan 8,6 Perencanaaan 20
8 Terasering 7,5 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 20
9 Green street 5,4 Operasional dan Pemeliharaan 60
1 RTH 26,6 Perencanaaan 33,3
2 Reboisasi 13,1 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 33,3
3 Lubang resapan biopori 11,6 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Sumur resapan 9,5 Perencanaaan 20
5 Embung 8,9 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 20
6 Situ/Kolam resapan 8,8 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Parit resapan 8,6 Perencanaaan 20
8 Terasering 7,5 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 20
Sumberdaya Air dalam rangka pencegahan banjir

Kantor Gubernur (3,4%)


Penggunaan Lahan (79,9%)

9 Green street 5,4 Operasional dan Pemeliharaan 60


1 Lubang resapan biopori 19,1 Perencanaaan 38,8
2 Sumur resapan 16,5 1 Pemerintah 63,7 Pelaksanaan 38,8
3 Green street 14,4 Operasional dan Pemeliharaan 22,4
4 Parit resapan 13,7 Perencanaaan 26,8
5 RTH 12,5 2 Pemanfaat kawasan 25,8 Pelaksanaan 26,8
6 Situ/Kolam resapan 11,6 Operasional dan Pemeliharaan 46,4
7 Embung 5,8 Perencanaaan 33,3
8 Reboisasi 4,6 3 Masyarakat 10,5 Pelaksanaan 33,3
Kampus UHO (3,4%)

9 Terasering 3,8 Operasional dan Pemeliharaan 33,3


1 Lubang resapan biopori 23,2 Perencanaaan 33,3
2 Sumur resapan 16,5 1 Pemerintah 63,7 Pelaksanaan 33,3
3 Parit resapan 14,7 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Green street 11 Perencanaaan 20
5 RTH 10,4 2 Pemanfaat kawasan 25,8 Pelaksanaan 20
6 Situ/Kolam resapan 10 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Embung 5,5 Perencanaaan 33,3
8 Reboisasi 5 3 Masyarakat 10,5 Pelaksanaan 33,3
9 Terasering 3,7 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
Tambak (3,3%)
Strategi Konservasi

1 RTH 24,1 Perencanaaan 46


2 Terasering 14,6 1 Pemerintah 63,7 Pelaksanaan 31,9
3 Reboisasi 12,7 Operasional dan Pemeliharaan 22,1
4 Green street 9,7 Perencanaaan 13,5
5 Embung 8,8 2 Pemanfaat kawasan 25,8 Pelaksanaan 40,5
6 Situ/Kolam resapan 8,3 Operasional dan Pemeliharaan 46
7 Parit resapan 7,5 Perencanaaan 33,3
8 Lubang resapan biopori 7,2 3 Masyarakat 10,5 Pelaksanaan 33,3
Sawah (2,6%)

9 Sumur resapan 7,1 Operasional dan Pemeliharaan 33,3


1 Embung 24,1 Perencanaaan 33,3
2 Situ/Kolam resapan 19,3 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 33,3
3 Sumur resapan 15,8 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Lubang resapan biopori 9,5 Perencanaaan 20
5 Terasering 8,6 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 20
6 Parit resapan 7,5 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 reboisasi 5,4 Perencanaaan 20
8 RTH 5,2 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 20
0 – 2% (32,5%)
Kelerengan (20,1%)

9 Green street 4,7 Operasional dan Pemeliharaan 60


1 Lubang resapan biopori 18,8 Perencanaaan 33,3
2 Parit resapan 16,9 1 Pemerintah 42,9 Pelaksanaan 33,3
3 Sumur resapan 13,1 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 Green street 12,1 Perencanaaan 20
5 RTH 10,9 2 Pemanfaat kawasan 42,9 Pelaksanaan 20
6 Situ/Kolam resapan 9,5 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Reboisasi 7,3 Perencanaaan 33,3
8 Embung 6,8 3 Masyarakat 14,2 Pelaksanaan 33,3
9 Terasering 4,6 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
49
Bobot Aktor Bobot Peran aktor Bobot

Lampiran 1 (Lanjutan)
Goal Kriteria Parameter Alternatif konservasi
1 Lubang resapan biopori 20,1 Perencanaaan 33,3

(32,5%)
2 Sumur resapan 16 1 Pemerintah 52,7 Pelaksanaan 33,3
3 Parit resapan 13,4 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 RTH 11,6 Perencanaaan 20

2 – 15%
5 Situ/Kolam resapan 11,1 2 Pemanfaat kawasan 33,3 Pelaksanaan 20
6 Green street 9,3 Operasional dan Pemeliharaan 60
7 Reboisasi 7,3 Perencanaaan 33,3
5,9 3 Masyarakat 14 Pelaksanaan 33,3
Air

8 Embung
Kelerengan(20,1%)

15–40%(24,2%)

9 Terasering 5,4 Operasional dan Pemeliharaan 33,3


KonservasiSumberdaya

1 Reboisasi 20,9 Perencanaaan 33,3


2 Terasering 20,6 1 Pemerintah 63,7 Pelaksanaan 33,3
3 Embung 13,2 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
4 RTH 11,9 Perencanaaan 33,3
5 Situ/Kolam resapan 8,2 2 Pemanfaat kawasan 25,8 Pelaksanaan 33,3
6 Parit resapan 7,2 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
7 Lubang resapan biopori 6,3 Perencanaaan 33,3
6,2 3 Masyarakat 10,5 Pelaksanaan 33,3
Strateg

8 Sumur resapan
i

1 Reboisasi

9 Green street 5,5 Operasional dan Pemeliharaan 33,3


2 Terasering 29 Perencanaaan 33,3
24,2 1 Pemerintah 73,1 Pelaksanaan 33,3
14,6 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
>40% (10,8%)

3 RTH
3 Embung 7 Perencanaaan 33,3
6 Situ/Kolam resapan 5,3 2 Pemanfaat kawasan 18,8 Pelaksanaan 33,3
5 Parit resapan 5,2 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
7 Lubang resapan biopori 5 Perencanaaan 33,3
8 Sumur resapan 5 3 Masyarakat 8,1 Pelaksanaan 33,3
9 Green street 4,8 Operasional dan Pemeliharaan 33,3
50

Lampiran 2 Kriteria Simulasi Tingkat bahaya banjir MAFF-Japan


Alternatif Pengurangan Skor
Konservasi
Skor (Berdasarkan
Parameter Kriteria (Berdasarkan
Awal PAKAR)
AHP)
1 2 1 1+2
Penggunaan Alang-Alang
Lahan
Padang
rumput
Semak
Belukar
Hutan
Kebun
Campuran
Kantor
Gubernur
Perguruan
Tinggi
Permukiman
Sawah
Tambak
Tegalan/
Ladang
Jalan
Hutan
Mangrove
Kelerengan 0–2
2–15
15–40
>40

Keterangan : - Kolom 3 diisi dengan besarnya pengurangan dari skor awal setelah
pada masing-masing kriteria diterapkan alternatif konservasi 1
- Kolom 4 diisi dengan besarnya pengurangan dari skor awal setelah
pada masing-masing kriteria diterapkan alternatif konservasi 1 dan
2
51

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lambubalano, Kabupaten Muna Barat, Provinsi
Sulawesi Tenggara pada tanggal 10 Juni 1988 dari ayah bernama La Sikaemu,
S.Pd dan Ibu bernama Wa Ode Anda. Penulis adalah anak kedua dari empat
bersaudara. Penulis pertama kali mendapatkan pendidikan formal di SD Negeri
Ladole pada tahun 1994. Penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah
pertama di SLTP Negeri 1 Lawa pada tahun 2000. Tahun 2003 penulis masuk di
sebuah Sekolah Menengah Umum di Kabupaten Muna yaitu SMA Negeri 1 Lawa.
Setelah lulus dari pendidikan SMA penulis melanjutkan studi di Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo mengambil jurusan
Pendidikan Matematika dan lulus pada tahun 2012.
Selama mengikuti program S-2 (Magister), penulis menyusun karya ilmiah
berjudul “Pemodelan Bahaya Banjir Kawasan Perkotaan (Studi Kasus di Kota
Kendari” yang akan diterbitkan pada jurnal Teknik Pertanian Edisi Vol. 6 No. 3
Desember 2018. Karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program tesis S-2
penulis selama di Institut Pertanian Bogor.