Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS DAN MANAJEMEN BENCANA TANAH LONGSOR

DI KABUPATEN SUKABUMI
JAWA BARAT

Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Ajar


Disaster Management

Dosen: Dr. Tri Wahyuni., dr., Sp. BTKV

Disusun oleh :

Azhar Zulkarnain Alamsyah


220120190024

PEMINATAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)


PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2020
BAB I
PENDAHULUAN

Kejadian bencana alam banyak terjadi dan cenderung meningkat dari tahun
ketahun. Peningkatan ini terjadi di dunia termasuk di Indonesia. Longsor, banjir,
kekeringan, tsunami, gempa bumi, dan badai merupakan bencana alam yang dapat
menimbulkan dampak kerugian yang besar bagi kehidupan manusia. Indonesia
merupakan wilayah yang secara geologis, geomorfologis, meteorologis, klimatologis,
dan sosial ekonomi sangat rawan terhadap bencana (Sudibyakto, 2009).
Longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan
rombakan, tanah, atau material lainnya yang bergerak kebawah atau keluar lereng
(Nandi, 2007). Longsor umunya disebabkan oleh faktor alam antara lain kondisi
geologi, curah hujan, topografi, jenis penggunaan lahan, jenis tanah, getaran atau gempa
bumi dapat mempengaruhi stabilitas lereng yang dapat mengakibatkan terjadinya
longsor. Pemanfaatan lahan yang berlebihan seperti pembukaan lahan baru dan
pemotongan lereng untuk pembuatan jalan dan permukiman serta pemanfaatan lahan
yang tidak memperhatikan kaidah konservasi telah menyebabkan beban pada lereng
semakin berat, sehingga mengakibatkan terjadinya longsor.
Indonesia yang sebagian besar wilayahnya memiliki topografi berupa
pegunungan dengan derajat kemiringan lereng yang tinggi, menyebabkan bencana
longsor menjadi bencana yang sering terjadi di Indonesia. Berdasarkan data kejadian
longsor dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2011, dari tahun
2000 – 2011 tercatat telah telah terjadi bencana longsor di seluruh provinsi di Indonesia
sebanyak 1.287 kejadian yang menyebabkan 1.421 orang meninggal dan 5.966 rumah
rusak. Terdapat 11 kabupaten di Jawa Barat yang masuk kategori rawan longsor tinggi,
yakni Kabupaten Garut, Cianjur, Bandung, Bogor, Majalengka, Tasikmalaya, Cirebon,
Ciamis, Kuningan, Purwakarta, Sukabumi, Kota Cimahi, dan Sumedang (BNPB Jabar,
2011).
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merupakan daerah dengan potensi bencana
alam khususnya untuk bencana tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, dan
puting beliung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi
mencatat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir atau sejak tahun2009 hingga 2018 ada

1
132 bencana longsor yang terjadi di daerah itu. Bencana didominasi oleh pergerakan
tanah dengan 132 kejadian longsor, bencana lainnya yang terjadi di Kabupaten
Sukabumi dari tahun 2009 hingga 2018 yakni angin puting beliung 49 kali, gempa
bumi 5 kali kejadian, kekeringan 5 kalikejadian, gelombang pasang atau abrasi 2 kali
kejadian dan kebakaran hutan serta lahan 1 kali kejadian. Peristiwa longsor di
kabupaten Sukabumi yang terjadi umumnya dipengaruhi oleh kondisi fisik lahan yang
bersifat alami, yaitu kemiringan lereng, jenis batuan, jenis tanah, curah hujan,
penggunaan lahan, dan beda tinggi karena potensi longsor di Kabupaten Sukabumi
dalam kategori sedang-tinggi (BPBD Kab. Sukabumi, 2018).
BPBD Kab. Sukabumi(2018) menjelaskan bahwa dampak longsor yang terjadi
setiap tahun di Kabupaten Sukabumi, antara lain mengakibatkan kerusakan sarana dan
infrastruktur, kerugian materil bahkan dapat menimbulkan korban jiwa, seperti longsor
yang terjadi pada hari senin tanggal 31 Desember 2018 bencana longsor yang terjadi di
Kampung Garehong, Dusun Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten
Sukabumi tercatat lebih dari 30 rumah tertimbun longsor dan 33 orang dinyatakan
tewas, dari dampak tersebut penyebab lainnya yaitu diakibatkan penduduk yang sudah
diinformasikan untuk berpindah, namun sulit untuk dapat diterima oleh masyarakat
setempat (BPBD Kabupaten Sukabumi, 2018).
Dampak tidak langsung pun akan terjadi seperti menghambat kegiatan
pembangunan dan aktivitas ekonomi pada daerah bencana dan sekitarnya, dimana risiko
tersebut akan ditanggung oleh masyarakat yang terkena bencana. Mengingat potensi
tanah longsor yang tinggi dengan adanya risiko yang ditimbulkan dari bahaya longsor
tersebut, serta belum tersedianya data terkait risiko tanah longsor di kabupaten ini.
Maka penting bagi kita untuk melakukan kesiapan dan pencegahan terhadap bencana
longsor. Studi analisis kerawanan longsor di Kabupaten Sukabumiperlu dilakukan
untuk mengetahui bagaimana sebaran risiko tanah longsor di setiap daerah yang ada di
wilayah ini, serta bagaimana upaya-upaya untuk menghadapi bencana longsor tersebut.
Dengan ketersediaan data dan informasi diharapkan dapat dimanfaatkan oleh
pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait untuk penanggulangan bencana longsor.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TANAH LONGSOR
Undang-Undang RI No.24 Tahun 2007, menyatakan bencana adalah
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam
dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis.
Bencana adalah peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang
mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia serta
memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga
memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar (Depkes RI, 2007).
Tanah Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda
daerah tropis basah. Kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan massa tidak
hanya kerusakan secara langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan
pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan tetapi juga kerusakan secara
tidak langsung yang melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas
ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya (Hardiyatmo, 2006).BNPB (2007),
mendefinisikan longsor sebagai salah satu jenis gerakan massa tanah atau
batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari
terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut.
Menurut Nandi (2007) mengklasifikasikan longsor menjadi enam jenis
yaitu longsor translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, rayapan tanah dan
runtuhan batu serta aliran batu rombakan.Longsor terjadi sebagai akibat
perubahan-perubahan, baik secara mendadak atau bertahap pada komposisi,
struktur, hidrologi, atau vegetasi pada suatu lereng yang mempengaruhi daya
pendorong dan daya penahan pada lereng tersebut.
Menurut Sadisun (2005) faktor-faktor penyebab tanah longsor adalah
kondisi morfologi (sudut, lereng, relief), kondisi geologi (jenis batuan/tanah,

3
karakteristik batuan/tanah, proses pelapukan, bidang-bidang diskotinuitas seperti
perlapisan dan kekar, permeabilitas batuan/tanah, kegempaan dan vulkanisme),
kondisi klimatologi seperti curah hujan, kondisi lingkungan /tata guna lahan
(hidrologi dan vegetasi) dan aktivitas manusia (penggemburan tanah untuk
pertanian dan perladangan dan irigasi).

B. DAMPAK TANAH LONGSOR


Bencana tanah longsor mempunyai dampak terhadap kesehatan
diantaranya terjadinya krisis kesehatan, yang menimbulkan :
1. Korban massal; bencana yang terjadi dapat mengakibatkan korban
meninggaldunia, patah tulang, luka-luka, trauma dan kecacatan dalam
jumlah besar.
2. Pengungsian; pengungsian ini dapat terjadi sebagai akibat dari rusaknya
rumah-rumah mereka atau adanya bahaya yang dapat terjadi jika tetap
berada dilokasi kejadian. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat resiko dari suatu
wilayah atau daerah dimana terjadinya bencana (Depkes RI, 2007).
Menurut Nandi (2007) banyak yang ditimbulkan akibat terjadinya
longsor baik dampak terhadap kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan
maupun dampaknya terhadap keseimbangan lingkungan. Terjadinya bencana
longsor memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan, khususnya
manusia. Adapun dampak yang ditimbulkan adalah sebagai berikut :
1. bencana longsor banyak menelan korban jiwa,
2. terjadinya kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, gedung
perkantoran, sarana peribadatan, perumahan penduduk dan sebagainya,
3. menghambat proses aktivitas manusia dan merugikan baik masyarakat yang
terdapat di sekitar bencana maupun pemerintah.

C. PENGURANGAN RESIKO
Pemerintahan daerah dalam perspektif penyelenggaraan upaya
pengurangan resiko bencana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Ini relevan, apabila
dikaitkan dengan fungsi pemerintah yaitu memberikan perlindungan kepada

4
masyarakat, termasuk didalamnya melakukan upaya dampak terhadap resiko
bencana. Hal ini merupakan amanat 2 (dua) aturan perundang-undangan yaitu
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Sebagaimana investasi tentu tidak dapat dinikmati hasilnya segera/
bersifat instan tetapi dirasakan pada masa yang akan datang yaitu dapat
melindungi atau mengamankan aset daerah dan aset negara yang sulit dihitung
nilainya. Menyadari akan hal tersebut, maka pemahaman kesadaran, kepedulian
dan tanggung jawab akan pentingnya upaya Pengurangan Resiko Bencana
(PRB) hendaknya dari waktu ke waktu harus selalu ditingkatkan, agar tidak
berdampak merugikan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat.

D. KESIAPSIAGAAN TENAGA KESEHATAN SETEMPAT DALAM


UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA LONGSOR
1. Puskesmas
Puskesmas mempunyai peran memberikan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat khususnya bagi korban bencana alam sehingga
memberikan pelayanan kesehatan dengan baik. Penanganan bencana bidang
kesehatan pada prinsipnya tidak dibentuk sarana prasarana secara khusus,
tetapi menggunakan sarana prasarana yang telah ada, hanya intensitas
kerjanya ditingkatkan dengan memberdayakan semua sumber daya
pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat dan unsur swasta sesuai
dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dipuskesmas
sehubungan dengan penanganan masalah bencana di tingkat kecamatan
yaitu dalam 3 fase diantaranya : Pra Bencana, Saat Bencana dan Pasca
Bencana.
2. Peran Perawat
Peran perawat dalam fase pre-impact
a. Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan
dalam penanggulangan ancaman bencana.

5
b. Perawat ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintahan, organisasi
lingkungan, palang merah nasional, maupun lembaga-lembaga
pemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan
menghadapi ancaman bencana.
c. Perawat terlibat dalam program promosi kesehatan untuk meningkatkan
kesiapan masyarakat dalam mengahadapi bencana.
Peran perawat dalam fase impact
a. Bertindak cepat
b. Don’t promise. Perawat seharusnya tidak menjanjikan apapun dengan
pasti dengan maksud memberikan harapan yang besar pada korban
yang selamat.
c. Berkonsentrasi penuh pada apa yang dilakukan
d. Kordinasi dan menciptakan kepemimpinan
e. Untuk jangka panjang, bersama-sama pihak yang tarkait dapat
mendiskusikan dan merancang
f. master plan of revitalizing, biasanya untuk jangka waktu 30 bulan
pertama.
Peran perawat dalam fase post impact
a. Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, fisikologi
korban.
b. Stress fisikologi yang terjadi dapat terus berkembang hingga terjadi
post traumatic stress disorder (PTSD) yang merupakan sindrom dengan
3 kriteria utama. Pertama, gejala trauma pasti dapat dikenali. Kedua,
individu tersebut mengalami gejala ulang traumanya melalui flashback,
mimpi, ataupun peristiwa-peristiwa yang memacuhnya. Ketiga,
individu akan menunjukan gangguan fisik. Selain itu, individu dengan
PTSD dapat mengalami penurunan konsentrasi, perasaan bersalah dan
gangguan memori.
c. Tim kesehatan bersama masyarakat dan profesi lain yang terkait bekerja
sama dengan unsure lintas sektor menangani maslah keehatan
masyarakat paska gawat darurat serta mempercepat fase pemulihan
(recovery) menuju keadaan sehat dan aman.

6
BAB III
DISASTER PLAN&
ANALISA KASUS PENANGANAN TANAH LONGSOR
DI KABUPATEN SUKABUMI

1. Daerah bencana
Kabupaten
Sukabumi terletak
antara 106º49
samapi 107º Bujur
Timur 60º57 -
70º25 Lintang
selatan dgn batas
wilayah
administrasi
sebagai berikut :
sebelah Utara
dengan Kab.
Bogor, sebelah
Selatan dgn
samudera
Indonesia, sebelah Barat dgn Kab. Lebak, disebelah timur dgn Kab.
Cianjur.Kabupaten Sukabumi terletak antara 106 derajat 49 sampai 107
derajat Bujur Timur dan 60 derajat 57 sampai 70 derajat 25 Lintang
Selatan dengan batas wilayah administratif sebagai berikut : disebelah
Utara dengan Kabupaten Bogor, disebelah Selatan dengan Samudera
Indonesia, disebelah Barat dengan Kabupaten Lebak, disebelah Timur
dengan Kabupaten Cianjur. Batas wilayah tersebut 40 % berbatasan
dengan lautan dan 60% merupakan daratan.Wilayah Kabupaten
Sukabumi memiliki areal yang cukup luas yaitu ± 419.970 ha. Pada
Tahun 1993 Tata Guna Tanah di wilayah ini, adalah sebagai berikut :

7
Pekarangan/perkampungan 18.814 Ha (4,48 %), sawah 62.083 Ha (14,78
%), Tegalan 103.443 Ha (24,63 %), perkebunan 95.378 Ha (22, 71%) ,
Danau/Kolam 1. 486 Ha (0, 35 %) , Hutan 135. 004 Ha (32,15 %), dan
penggunaan lainnya 3.762 Ha (0,90 %).
Kondisi wilayah Kabupaten Sukabumi mempunyai potensi wilayah
lahan kering yang luas, saat ini sebagaian besar merupakan wilayah
perkebunan, tegalan dan hutan. Kabupaten Sukabumi mempunyai iklim
tropik dengan tipe iklim B (Oldeman) dengan curah hujan rata-rata tahunan
sebesar 2.805 mm dan hari hujan 144 hari. Suhu udara berkisar antara 20 -
30 derjat C dengan kelembaban udara 85 - 89 persen. Curah hujan antara
3.000 - 4.000 mm/tahun terdapat di daerah utara, sedangkan curah hujan
ant4ra 2.000 - 3.000 mm/tahun terdapat dibagian tengah sampai selatan
Kabupaten Sukabumi.
Wilayah Kabupaten Sukabumi mempunyai bentuk lahan yang
bervariasi dari datar sampai gunung adalah : datar (lereng 0-2%) sekitar 9,4
%; berombak sampai bergelombang (lereng 2-15%) sekitar 22% ;
bergelombang sampai berbukit (lereng 15 - 40%) sekitar 42,7%; dan
berbukit sampai bergunung (lereng > 40 %) sekitar 25,9 %. Ketinggian dari
permukaan laut Wilayah Kabupaten Sukabumi bervariasi antara 0 - 2.958 m.
Daerah datar umumnya terdapat pada daerah pantai dan daerah kaki gunung
yang sebagian besar merupakan daerah pesawahan. Sedangkan daerah
bagian selatan merupakan daerah berbukit-bukit dengan ketinggian berkisar
antara 300 - 1.000 m dari permukaan laut. Jenis tanah yang tersebar di
Kabupaten Sukabumi sebagian besar didominasi oleh tanah Latosal dan
Podsolik yang terutama tersebar pada wilayah bagian selatan dengan tingkat
kesuburan yang rendah. Sedangkan jenis tanah Andosol dan Regosol
umumnya terdapat di daerah pegunungan terutama daerah Gunung Salak dan
Gununggede, dan pada daerah pantai dan tanah Aluvial umumnya terdapat di
daerah lembah dan daerah sungai. Kabupaten Sukabumi pada tahun 2007
2.391.736 jiwa yang teridiri dari 1.192.038 orang laki-laki dan 1.199.698
orang perempuan. dengan laju pertumbuhan penduduk 2,37 % dan kepadatan
penduduk 579,39 orang per km persegi. Kepadatan penduduk menurut

8
kecamatan cukup berpariasi. Kepadatana penduduk terendah terdapat di
Kecamatan Ciemas (183 jiwa per km2) dan tertinggi di Kecamatan
Sukabumi (2.447 jiwa per km). Pemukiman padat penduduk umumnya
terdapat di pusat-pusat kecamatan yang berkarakteristik perkotaan dan
disepanjang jalan raya.Waktu terjadi bencanasetiap tahun hampir terjadi
bencana di Kabupaten Sukabumi, namun yang kami lansir pada tahun ini
diantaranya tanggal31 Desember 2018 (Profil Kabupaten Sukabumi, 2017).
2. Penyebab terjadi bencana
Penyebab dan gejala umum tanah longsor di Kabupaten Sukabumi
ditandai dengan munculnya retakan-retakandilereng yang sejajar dengan
arah tebing, biasanya terjadi setelah hujan,munculnya mata air baru secara
tiba-tiba dan tebing rapuh serta kerikil mulaiberjatuhan.Penyebab terjadinya
bencana longsor lainya adalah :
a. Curah Hujan
Hal ini, menunjukkan bahwa semakin tinggi curah hujan dan semakin
besar kemiringan lereng, serta terdapat pengunaan lahan sawah atau
tegalan, dengan jenis batuan vulkanik maka potensi terjadinya longsor
akan semakin besar.
b. Tanah yang kurang Padat dan Tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat
dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dari sudut lereng lebih dari 220. tanah
jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila
terjadi hujan.
c. Penggundulan hutan
Tanah longsor di Sukabumi umumnya banyak terjadi di daerah yang
relative gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.
d. Getaran yang terjadi oleh gempa bumi
e. Batuan yang kurang kuat
f. Pengikisan erosi
g. Longsoran lama
3. Masalah yang mucul akibat bencana

9
Ada beberapa dampak akibat bencana tanah longsor di Kabupaten
Sukabumi diantaranya yaitu :
a. Aspek kehidupan diantaranya : Bencana longsor banyak menelan
korban jiwa, terjadinya kerusakan infrastruktur publik seperti jalan,
jembatan
dan sebagainya. Kerusakan bangunan-bangunan seperti gedung
perkantoran desa dan perumahan penduduk serta sarana peribadatan.
Menghambat proses aktivitas manusia dan merugikan baik masyarakat
yang terdapat disekitar bencana maupun pemerintah.
b. Aspek lingkungan diantaranya : terjadinya kerusakan lahan, hilangnya
vegetasi penutup lahan terganggunya keseimbangan ekosistem, Lahan
menjadi kritis sehingga cadangan air bawah tanah menipis, dan
terjadinya tanah longsor dapat menutup lahan yang lain seperti sawah,
kebun dan lahan produktif lainnya.
c. Aspek pemerintahan, antara lain berupa kerusakan atau hilangnya
dokumen, arsip, peralatan, perlengkapan kantor dan terganggunya
jalannya pemerintahan pada daerah Kabupaten Sukabumi.
d. Aspekekonomi,antara lainberupahilangnya
matapencaharian(masyarakat tidak dapat bekerja),tidak
berfungsinyapasar yang ada di daerah tanah longsor,kerusakan
atauhilangnya hartabenda, ternak sehingga menyebabkanterganggunya
perekonomianmasyarakat.
4. Jumlah Penduduk Yang Terancam
Sekitar32 KK (101 jiwa)
5. Jumlah Korban
a. Meninggal : 32 Jiwa Balita : 18 Jiwa
b. Hilang : 1 Jiwa
c. Luka Berat : 3 Jiwa
d. Pengungsi : 64 jiwa KK : 32 KK (101 Jiwa)
e. Jumlah kelompok rentan pada pengungsi : 3 Kelompok
1) Bayi : 8 Jiwa
2) Balita : 10 Jiwa

10
3) Ibu hamil : 7 jiwa
4) Ibu menyusui : 15 jiwa
5) Lansia : 19 jiwa
f. Jumlah korban yang dirujuk ke :
1) Puskesmas : 15 Jiwa
2) Rumah sakit : 3 Jiwa
6. Sarana kesehatan yang rusak
a. Fasilitas Kesehatan : Akses ke Puskesmas lumpuh
b. Sumber Air bersih 1 buah proses distribusinya yang lambat
c. Sarana sanitasi dan kesehatan lingkungan
1) Sarana tempat penampungan air : 4 tempat
2) Kapasitas penampungan pengungsi : 4 tempat
3) Kapasitas penyediaan air bersih : 4 tempat
4) Sarana MCK : semua tidak bisa
digunakan
5) Tempat pembungan sampah : 1 tempat karena pusat
pembuangan sampah tertimbun longsor
7. Fasilitas umum
a. Akses ke lokasi kejadian bencana
jalan terputus hingga 17 kilometer, 1 jembatan mengalami nasib
serupa, Sulit untuk menggunakan mobildan Jalur komunikasi masih
dapat digunakan yaitu HP, telepon
b. Keadaaan jaringan listrik terputus di daerah longsor
c. terdapat 34 unit rumah yang mengalami kerusakan sedang hingga
parah. Serta satu sekolah, 2 mesjid, tiga unit saluran irigasi,
seluruhnya mengalami kerusakan.

A. PENANGANAN BENCANA
1. Pra-Bencana :
a. Membuat peta geomedik daerah rawan bencana.
b. Membuat jalur evakuasi.
c. Mengadakan pelatihan.

11
d. Inventarisasi sumber daya sesuai dengan potensi bahaya yang mungkin
terjadi.
e. Menerima dan menindaklanjuti informasi peringatan dini (Early
Warning System) untuk kesiapsiagaan bidang kesehatan.
f. Membentuk tim kesehatan lapangan yang tergabung dalam Satgas.

2. Saat Bencana :
a. Menuju lokasi bencana dengan membawa peralatan yang diperlukan
untuk melaksanakan triase dan memberikan pertolongan pertama.
b. Mengirimkan tenaga dan perbekalan kesehatan serta ambulans/alat
transportasi lainnya ke lokasi bencana dan tempat penampungan
pengungsi.
c. Membantu melaksanakan perawatan dan evakuasi korban serta
pelayanan kesehataan pengungsi.
d. Melaporkan kepada Kadinkes Kabupaten/Kota tentang terjadinya
bencana.
e. Melakukan Initial Rapid Health Assessment (Penilaian Cepat Masalah
Kesehatan Awal).
f. Menyerahkan tanggung jawab pada Kadinkes Kabupaten/Kota apabila
telah tiba di lokasi bencana.
g. Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayah kecamatan, maka
sebagai penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
3. Pasca Bencana :
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar di penampungan dengan
mendirikan Pos Kesehatan lapangan.
b. Melaksanakan pemeriksaan kualitas air bersih dan pengawasan sanitasi
lingkungan.
c. Melaksanakan surveilans penyakit menular dan gizi buruk yang
mungkin timbul.

12
d. Segera melapor ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bila terjadi KLB
penyakit menular dan gizi buruk.
e. Memfasilitasi relawan, kader dan petugas pemerintah tingkat kecamatan
dalam memberikan KIE kepada masyarakat luas, bimbingan kepada
kelompok yang berpotensi mengalami gangguan stress pasca trauma,
memberikan konseling pada individu yang berpotensi mengalami
gangguan stress pasca trauma.
f. Merujuk penderita yang tidak dapat ditangani dengan konseling awal
dan membutuhkan konseling lanjut, psikoterapi atau penanganan lebih
spesifik.

B. PERMASALAHAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA


1. Kesulitan dalam akses dan mobilisasi pemberian bantuan logistik yang
mencakup sandang pangan dan papan
2. Bantuan dalam skala besar dibutuhkan SDM yang lebih banyak terutama
tenaga kesehatan perawat
3. Hambatan bantuan medis dan tenaga kesehatan (yang timbul dari masalah
sanitasi)
4. Pencarian dan penyelamatan SAR
5. Sulit dalam berkoordinasi
6. Evakuasi korban

13
BAB IV
PENUTUP

A. SIMPULAN
Tanah longsor adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,
ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari
terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor
terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah./batuan penyusun lereng. Tanah
longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.
yang terjadi karena pergerakan masa batuanatau tanah dengan berbagai tipe dan
jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. 
Kegiatan penanganan siaga bencana memang berbeda dibandingkan
pertolongan medis dalam keadaan normal lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi
perhatian penting. Berikut beberapa tindakan yang bisa dilakukan oleh perawat
dalam situasi tanggap bencana longsor :
1. Pengobatan dan pemulihan kesehatan fisik.
2. Pemberian bantuan
3. Pemulihan kesehatan mental
4. Pemberdayaan masyarakat

B. SARAN
Bencana tanah longsor bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, namun kita
harus mengetahui jenis-jenis bencana, sebab-sebab yang menimbulkan bencana dan
akibat-akibat yang ditimbulkannya. Saran kami agar sampaikan kepada semua
pihak untuk mengantisipasi dan penanggulangan bencana agar tidak menimbulkan

14
kerusakan lingkungan hidup, korban meninggal dan kerugian harta benda yang
besar.
1. Kepada Pemerintah agar meningkatkan management antisipasi dan
penanggulangan bencana. 
2. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam penyelamatan dan pelestarian
lingkungan, karena sebagian bencana yang terjadi diakibatkan oleh kerusakan
lingkungan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2007). Undang-Undang Republik


Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Jakarta (ID):
BNPB.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BNPB). (2018). Kejadian Bencana Tanah
Longsor di Kabupaten Sukabumi
Profil Kabupaten Sukabumi. (2017). Letak Geografis Kabupaten Sukabumi
United Nation Disaster Risk Organization (UNISDR). (2009). Terminology on Disaster
Risk Reduction. Bangkok.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Pedoman Teknis Penanggulangan


Krisis Kesehatan Akibat Bencana, Panduan bagi Petugas Kesehatan Yang
Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan akibat Bencana di Indonesia.
Jakarta.

Nandi (2007). Longsor. Handout Jurusan Pendidikan geografi FPIPS-UPI

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 Tentang Pedoman Organisasi
Dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

SukabumiUpdate (2018). https://sukabumiupdate.com/detail/sukabumi/peristiwa/63136-


1745-WIB-Setahun-Silam-33-Warga-Gerehong-Cisolok-Sukabumi-Tewas-
Tertimbun-Longsor diakses pada tanggal 30 Mei 2020

Ramli, S. (2010). Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja OHSAS 18001.
Jakarta : Dian Rakyat.

Reni Kusumo Tejo (2016). Analisis Risiko tanah Longsor di Kabupaten Sukabumi.
Institut Pertanian Bogor
Sadisun, I. (2006). Usaha Pemahaman terhadap Stabilitas Lereng dan Longsoran
Sebagai Langkah Awal dalam Mitigasi Bencana Longsoran.Workshop
Penanganan Bencana Gerakan Tanah. Bandung.
Santamaria, Barbara. (1995). Community Health Nursing Theory&Practice. New
Jersey: Pearson Education.
Sudibyakto (2009). Pengembangan Sistem Perencanaan Manajemen Risiko Bencana di
Indonesia. Jurnal Kebencanaan Indonesia Volume 2 Nomor 1. Yogyakarta.
PSBA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (BNPB) tahun 2011

Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.


Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah