Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PROFESI PENDIDIKAN
“Guru Profesional Sebagai Fasilitator Dan
Komunikator”

OLEH :
KELOMPOK VII
WINDA DWI PUTRI

MEGAWATI

MUSPIRA

RUANGAN BIOLOGI 18 C2
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BULUKUMBA

2019
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT,karena atas
segala rahmat serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini
dengan sebaik-baiknya. Sholawat serta salam saya sampaikan kepada
junjungan kita,nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan
bagi kita semua di muka bumi ini. Makalah tentang “Guru Profesional
Sebagai Fasilitator Dan Komunikator”. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan.
Dalam penulisan makalah ini saya menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi saya dan
bagi semua nya, semoga apa yang saya bahas disini dapat dijadikan tambahan
ilmu pengetahuan teman – teman semua. Terima kasih. 

Bantaeng,November 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 2

C. Tujuan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN 3

A. Guru Profesional Sebagai Fasilitator 3

B. Guru Profesional Sebagai Komunitator 9

BAB III PENUTUP 20

A. Kesimpulan 20

B. Saran 20

DAFTAR PUSTAKA 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru merupakan tokoh penting dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.
Guru juga salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar.
Seorang guru ikut berperan serta dalam usaha membentuk sumber daya
manusia yang berpotensial. Guru merupakan ujung tombak maju mundurnya
dunia pendidikan, secara langsung menggeluti dunia pendidikan secara praktis
dilapangan. Terutama berkaitan dengan pembelajaran sekaligus berinteraksi
dengan kemajuan pembelajaran para siswa dalam menyampaikan materi
pelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka guru harus memiliki
berbagai karakteristik guru professional.
Indonesia sangat membutuhkan guru profesinal yang mampu untuk
mendidik anak bangsa menjadi penerus bangsa yang memiliki kualitas.
Apabila seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik
akan sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan adanya guru
yang profesional dan berkualitas maka akan mampu mencetak anak bangsa
yang berkualitas pula.
Selain seorang guru harus profesional, seorang guru juga mempunyai
tugas lain yaitu sebagai fasilitator dan komunikator untuk mendidik, mengajar
dan melatih anak didiknya. Seorang guru juga harus mempunyai wawasan dan
pengetahuan yang luas, dan konsep keilmuan yang berhubungan dengan guru
peofesional.
Berhubungan dengan tugas guru profesional tersebut perlu disusun
makalah yang bisa menjadi acuan seorang guru bisa memenuhi tugasnya
sebagai guru profesional, maka dari itu saya membuat sebuah makalah yang
berjudul “Guru Profesional sebagai Fasilitator dan Komunitator”.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Guru Profesional sebagai Fasilitator?
2. Apa yang dimaksud dengan Guru Profesional sebagai Komunikator?
C. Tujuan
Dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan
untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Guru Profesional sebagai Fasilitator
2. Guru Profesional sebagai Komunikator
BAB II
PEMBAHASAN
A. Guru Profesional sebagai Fasilitator
Fasilitator adalah istilah Inggris yang telah di Indonesia kan. Fasilitator
bermakna bahwa guru juga harus berfungsi sebagai pemberi fasilitas atau
melakukan fasilitasi. Guru menjadi jembatan yang baik di depan para
siswanya. Dalam fungsinya ini guru lebih banyak melakukan sharing belajar,
atau bisa disebut belajar bersama. Ketika guru menyampaikan kompetensi
dasar sebuah mata pelajaran, ia tidak akan mengeksplorasi pelajaran itu, ia
hanya memancing pengetahuan yang ia yakin telah diketahui oleh para
siswanya. Kumpulan- kumpulan pengetahuan itu ketika dicakupkan akan
menjadi sistematika pengetahuan yang luar biasa.
Dalam hal ini murid tidak dipandang sebagai semata objek pembelajaran,
tetapi ia adalah subjek pembelajaran itu sendiri, dan bahkan guru harus siap
terbuka untuk mengalami pembelajaran bersama.
Guru sebagai Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan
melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya. Guru
Sebagai Fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang
memungkinkan kemudahan kegitan belajar anak didik, menciptakan
lingkungan belajar yang menyenangkan.
Salah satu fungsi dan tugas guru adalah sebagai seorang fasilitator. Untuk
memenuhi kriteria sebagai fasilitator, ada pendapat yang menyebutkan
batasan-batasan yang harus dimiliki guru tersebut. Batasan-batasan tersebut
dijelaskan pada poin-poin berikut.
Menurut E.Mulyasa (2008) ada tujuh sikap yang harus dimiliki guru,
seperti yang diidentifikasi Rogers (dalam Knowles, 1984) berikut.
1. Tidak berlebih mempertahankan pendapat dan keyakinannya atau kurang
terbuka.
2. Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan
perasaannya.
3. Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif dan kreatif,
bahkan yang sulit sekalipun.
4. Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta
didik seperti halnya terhadap bahan pelajaran.
5. Dapat menerima komentar balik (feedback), baik yang bersifat positif
maupun negatif, dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif
terhadap diri dan perilakunya.
6. Toleran terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses
pembelajaran.
7. Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tahu
prestasi yang dicapainya.
Selain sikap di atas, setidaknya ada sembilan resep untuk diperhatikan dan
diamalkan seorang guru agar pembelajaran berhasil membedakan kapasitas
intelektual anak didik. Berikut resepnya.
1. Kurangi metode ceramah.
2. Berikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik.
3. Kelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya.
4. Perkaya bahan dari berbagai sumber aktual dan menarik.
5. Hubungi spesialis bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan.
6. Gunakan prosedur yang bervariasi dalam penilaian.
7. Pahami perkembangan peserta didik.
8. Kembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap peserta didik
bekerja dengan kemampuan masing-masing pada tiap pembelajaran.
9. Libatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan seoptimal mungkin.
Sementara itu, untuk guru yang berhasil mengajar berdasarkan
perbedaan tersebut, biasanya memahami peserta didik melalui aktifitasnya.
Adapun aktifitas/kegiatan tersebut diantaranya sebagai berikut.
a) Mengobservasi peserta didik dalam berbagai situasi, baik di kelas
maupun di luar kelas.
b) Menyediakan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan peserta didik,
sebelum, selama
c) dan setelah pembelajaran.
d) Mencatat dan mengecek seluruh pekerjaan peserta didik, dan
memberikan tanggapan yang membangun.
e) Mempelajari catatan peserta didik yang adequate (memadai).
f) Membuat tugas dan latihan untuk kelompok.
g) Memberikan kesempatan khusus bagi peserta didik yang memiliki
kemampuan yang berbeda.
h) Memberikan penilaian secara adil dan transparan.
Agar dapat memenuhi kriteria-kriteria di atas, guru dituntut untuk
memiliki berbagai kompetensi, diantaranya sebagai berikut.
1. Menguasai dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan
kompetensi lain dengan baik.
2. Menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu
profesi.
3. Memahami pengalaman, kemampuan dan prestasi peserta didik.
4. Menggunakan metode yang bervariasi dalam mengajar dan membentuk
kompetensi peserta didik.
5. Mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti
dalam kaitannya dengan pembentukan kompetensi.
6. Mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir.
7. Menyiapkan proses pembelajaran.
8. Mendorong peserta didik untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
9. Menghubungkan pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang akan
dikembangkan.
10. Kondisi seperti ini menuntut seorang guru untuk senantiasa belajar
meningkatkan kemampuan, siap dan mampu menjadi pembelajar
sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk belajar dari
peserta didiknya.
11. Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak
diterapkan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa (andragogi),
khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal. Namun sejalan
dengan perubahan makna pengajaran yang lebih menekankan pada
aktivitas siswa, belakangan ini di Indonesia istilah fasilitator pun mulai
diadopsi dalam lingkungan pendidikan formal di sekolah, yakni
berkenaan dengan peran guru pada saat melaksanakan interaksi belajar
mengajar.

Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru


berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan
proses pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi
terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat
“top-down” ke hubungan kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat “top-
down”, guru seringkali diposisikan sebagai “atasan” yang cenderung
bersifat otoriter, sarat komando, instruksi bergaya birokrat, bahkan
pawang, sebagaimana disinyalir oleh Y.B. Mangunwijaya (Sindhunata,
2001). Sementara, siswa lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus
selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh
guru.

Berbeda dengan pola hubungan “top-down”, hubungan kemitraan


antara guru dengan siswa, guru bertindak sebagai pendamping belajar para
siswanya dengan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan.
Oleh karena itu, agar guru dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator,
guru dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar yang dikembangkan dalam
pendidikan kemitraan, yaitu bahwa siswa akan belajar dengan baik
apabila:

a) Siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam setiap aktivitas


pembelajaran
b) Apa yang dipelajari bermanfaat dan praktis (usable).
c) Siswa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh
pengetahuan dan keterampilannya dalam waktu yang cukup.
d) Pembelajaran dapat mempertimbangkan dan disesuaikan dengan
pengalaman-pengalaman sebelumnya dan daya pikir siswa.
e) Terbina saling pengertian, baik antara guru dengan siswa maupun
siswa dengan siswa.

Di samping itu, guru sebaiknya dapat memperhatikan karakteristik-


karakteristik siswa yang akan menentukan keberhasilan belajar siswa,
diantaranya:

a) Setiap siswa memiliki pengalaman dan potensi belajar yang berbeda-


beda.
b) Setiap siswa memiliki tendensi untuk menentukan kehidupannnya
sendiri.
c) Siswa lebih memberikan perhatian pada hal-hal menarik bagi dia dan
menjadi kebutuhannnya.
d) Apabila diminta menilai kemampuan diri sendiri, biasanya cenderung
akan menilai lebih rendah dari kemampuan sebenarnya.
e) Siswa lebih menyenangi hal-hal yang bersifat kongkrit dan praktis.
f) Siswa lebih suka menerima saran-saran daripada diceramahi.
g) Siswa lebih menyukai pemberian penghargaan (reward) dari pada
hukuman (punishment).

Selain dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar dan memperhatikan


karakteristik individual, juga guru dapat memperhatikan asas-asas
pembelajaran sebagai berikut:

1. Kemitraan, siswa tidak dianggap sebagai bawahan melainkan


diperlakukan sebagai mitra kerjanya
2. Pengalaman nyata, materi pembelajaran disesuaikan dengan
pengalaman dan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.
3. Kebersamaan, pembelajaran dilaksanakan melalui kelompok dan
kolaboratif.
4. Partisipasi, setiap siswa dilibatkan dalam proses pengambilan
keputusan sehingga mereka merasa bertanggung jawab atas
pelaksanaan keputusan tersebut, sekaligus juga bertanggung atas
setiap kegiatan belajar yang dilaksanakannya.
5. Keswadayaan, mendorong tumbuhnya swadaya (self supporting)
secara optimal atas setiap aktivitas belajar yang dilaksanakannya.
6. Manfaat, materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan
dapat memberikan manfaat untuk memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi siswa pada masa sekarang mau pun masa yang akan
datang.
7. Lokalitas, materi pembelajaran dikemas dalam bentuk yang paling
sesuai dengan potensi dan permasalahan di wilayah (lingkungan)
tertentu (locally specific), yang mungkin akan berbeda satu tempat
dengan tempat lainnya.

Pada bagian lain, Wina Senjaya (2008) jua mengemukakan bahwa


agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru
perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai
media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa untuk
mewujudkan dirinya sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan
sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan
pembelajaran, dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber
belajar bagi para siswanya.

Teknik Fasilitator

Dalam melaksanakan tugas menjadi fasilitator, maka terdapat tiga


teknik dasar yang perlu dipelajari:

1. Pencairan suasana .
Maksud pencairan suasana adalah agar suasana diskusi kelompok
menjadi tenang, nyaman, santai dan tidak tegang, gerah atau beku.
Maka fasilitator harus memperlihatkan raut wajah yang ramah dan
banyak senyum, serta dalam memberikan contoh atau celetukan yang
lucu tetap dalam suasana terkendali.
2. Ceramah
Ceramah adalah penyampaian materi kepada peserta kelompok agar
pesan dan kesan yang benar dapat dipahami oleh peserta. Untuk
memudahkan digunakan alat bantu berupa buku, materi, papan
tulis/alat tulis, waktu untuk ceramah disesuaikan dengan banyaknya
materi yang akan dibahas.
3. Permainan
Permainan adalah cara mudah bagi peserta kelompok untuk
mengulang dan mengingat kembali materi yang telah disampaikan agar
kita yakin bahwa isi dari materi telah dimengerti sepenuhknya oleh
peserta kelompok.
B. Guru Profesional sebagai Komunitator
Komunikasi dalam bahasa Inggris adalah communication, berasal dari kata
commonicatio atau dari kata comunis yang berarti “sama” atau “sama
maknanya”. Komunikasi berarti penyampaian informasi, gagasan, pikiran,
perasaan, keahlian dari komunikator kepada komunikan untuk mempengaruhi
pikiran komunikan dan mendapatkan tanggapan balik sebagai feedback bagi
komunikator. Sehingga komunikator dapat mengukur berhasil atau tidaknya
pesan yang di sampaikan kepada komunikan.
Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebagai seorang
komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan
non-verbal. Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancang untuk disajikan
dalam beberapa kali pertemuan, dan diterapkan sesuai dengan standar
kompetensi, kompetensi dasar, indikator, media, dan dalam alokasi waktu
yang sesuai dengan beban dan muatan materi. Guru sebagai komunikator
dituntut mempunyai keterampilan berkomunikasi yang baik agar proses
pembelajaran berjalan dengan maksimal dan memberikan kesan yang baik
kepada siswa.
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas di dalam kelas semata tetapi
dirancang untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik
materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih
komunikatif. Di dalam kelas guru menjelaskan, siswa bertanya, menyimak,
sebaliknya guru mendapatkan informasi dari para siswanya, dan menjawab
pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama, kedua belah pihak
(komunikator-komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada
siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru
melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang
telah dikomunikasikan.
Guru merupakan sumber utama dalam menentukan kesuksesan belajar
siswa. Paham atau tidaknya siswa tergantung bagaimana guru menjelaskan.
Menarik atau tidaknya pembelajaran juga tergantung guru dalam mendesain
pembelajaran dan mengkondisikan suasana. Di dalam komunikasi
pembelajaran, tatap muka seorang guru mempunyai peran yang sangat penting
di dalam kelas yaitu peran mengoptimalkan kegiatan belajar.
Ada tiga kemampuan yang harus dimiliki guru agar kegiatan belajar dapat
terlaksana dengan baik yaitu:
1. Kemampuan merencanakan kegiatan
2. Kemampuan melaksanakan kegiatan, dan
3. kemampuan mengadakan komunikasi
Ketiga kemampuan ini sama pentingnya, karena setiap guru tidak hanya
mampu merencanakan sesuai rancangan, tetapi harus terampil melaksanakan
kegiatan belajar dan terampil menciptakan iklim yang komunikatif dalam
kegiatan pembelajaran.
Adapun usaha guru dalam membantu mengembangkan sikap positif pada
siswa misalnya dengan menekankan kelebihan-kelebihan siswa bukan
kelemahannya, menghindari kecenderungan untuk membandingkan siswa
dengan siswa lain dan pemberian insentif yang tepat atas keberhasilan yang
diraih siswa. Kemampuan guru untuk bersikap luwes dan terbuka dalam
kegiatan pembelajaran bisa dengan menunjukkan sikap terbuka terhadap
pendapat siswa dan orang lain, sikap responsif, simpatik, menunjukkan sikap
ramah, penuh pengertian dan sabar. Dengan terjalinnya keterbukaan, masing-
masing pihak merasa bebas bertindak, saling menjaga kejujuran dan saling
berguna bagi pihak lain sehingga merasakan adanya wahana tempat
bertemunya kebutuhan mereka untuk dipenuhi secara bersama-sama.
Kemampuan guru untuk tampil secara bergairah dan bersungguh-sungguh
berkaitan dengan penyampaian materi di kelas yang menampilkan kesan
tentang penguasaan materi yang menyenangkan. Karena sesuatu yang
energik, antusias, dan bersemangat memiliki relevansi dengan hasil belajar.
Perilaku guru yang seperti itu dalam proses belajar mengajar akan menjadi
dinamis, mempertinggi komunikasi antar guru dengan siswa, menarik
perhatian siswa dan menolong penerimaan materi pelajaran.
Kemampuan guru untuk mengelola interaksi siswa dalam kegiatan
pembelajaran berhubungan dengan komunikasi antara siswa, usaha guru
dalam menangani kesulitan siswa dan siswa yang mengganggu serta
mempertahankan tingkah laku siswa yang baik. Agar semua siswa dapat
berpartisipasi dan berinteraksi secara optimal, guru mengelola interaksi tidak
hanya searah saja yaitu dari guru ke siswa atau dua arah dari guru ke siswa
dan sebaliknya, melainkan diupayakan adanya interaksi multi arah yaitu dari
guru ke siswa, dari siswa ke guru dan dari siswa ke siswa. Jadi semua
kemampuan guru di atas mengarah pada penciptaan iklim komunikatif yang
merupakan wahana atau sarana bagi tercapainya tujuan pembelajaran yang
optimal.
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan
siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat
atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what
effect?). (Lasswell 1960).
Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah membantu siswa
mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi
daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim
yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas
(siswa).
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur
manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran. Guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar
bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang
dimiliki, guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program
pembelajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah
guru tinggalkan adalah, bagaimana memahami kedudukan metode sebagai
salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan
belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang
aneh, tapi nyata, dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang guru
(Jamarah, 2006:72).
Dalam penggunaan metode terkadang guru harus menyesuaikan dengan
kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengeruhi penggunaan metode.
Sebelum memilih metode, guru harus menentukan tujuan yang ingin dicapai
pada materi ini. Dengan begitu, mudahlah bagi guru menentukan metode
bagaimana yang dipilih guna menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Dengan
demikian, setiap warga dituntut untuk terampil berbahasa. Bila setiap warga
sudah terampil berbahasa, maka komunikasi antarwarga akan berlangsung
dengan baik.
Komunikasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses penyampaian
maksud pembicara kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu.
Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide,
pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu
peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa
kata, kalimat, paragraf (komikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan), ejaan
dan tanda baca dalam bahasa tulis, serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada,
irama, tekanan, tempo) dalam bahasa lisan.
Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai
maksud dan penerima maksud. Agar komunikasi terjalin dengan baik, maka
kedua pihak juga harus bisa bekerjasama dengan baik. Kerjasama yang baik
itu dapat diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain
memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi, situasi, tempat, isi
pembicaraan, dan media yang digunakan.
Selama ini kecenderungan komunikasi siswa dengan menggunakan
performansi pergelaran musik karya seni kurang diperhatikan oleh siswa
dikarenakan minimnya metode pembelajaran guru yang ditekankan pada
kemampuan apresiasi siswa dengan menggunakan hasil karya yang baik dan
benar. Hal ini diperburuk dengan semakin banyaknya tayangan televisi yang
menggunakan bahasa desain komunikasi visual seperti iklan, yaitu
penampilan seni yang sering digunakan dalam promosi. Dampak yang paling
parah adalah penayangan dalam volume tinggi daya apresiasi siswa rendah
sehingga kompetensi dasar berapresiasi umumnya rendah pula.
Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan
terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu
keterampilan tertentu. Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu
diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang
pertama dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih
keterampilannya. Bila situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya sehingga
menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih
disempurnakan.
Ada keterampilan yang dapat disempurnakan dalam jangka waktu yang
pendek dan ada yang membutuhkan waktu cukup lama. Perlu diperhatikan
latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada siswa tanpa pengertian, jadi
latihan itu didahului dengan pengertian dasar.
Dari definisi metode mengajar di atas, maka metode Drill adalah suatu
cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar
siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang
dipelajari. Dengan demikian, terbentuklah pengetahuan-siap atau
ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk di pergunakan oleh yang
bersangkutan.
Roestiyah NK. (1989: 125) mengatakan bahwa metode Drill biasanya
digunakan untuk tujuan agar siswa:
1. Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalkan kata-kata,
menulis, mempergunakan alat.
2. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi,
menjumlahkan.
3. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan
yang lain.
Hal-hal tersebut di atas dapat berhasil apabila siswa juga mengerti konteks
keseluruhan dari akibat Drill kegunaan bagi dirinya. Pakar pendidikan,
Hover, mengatakan bahwa:
1. Pembelajaran itu sebenarnya efektif bagi masing masing siswa
2. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses mengatasi masalah
sehingga siswa ditegaskan agar dapat mencari hubungan akan sesuatu
hal dengan drill sehingga ia dapat mencapai standar minimumnya
sendiri untuk objek yang ia teliti dan guru hanya berperan sebagai
fasilitator.
Drill sangat efektif karena dapat dikerjakan individu atau berkelompok,
maupun kelompok besar dalam skala satu kelas. Jadi secara umum teknik
mengajar Drill ini biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa:
a. Memiliki ketrampilan motoris/gerak; seperti menghafalkan kata-kata,
menulis, mempergunakan alat/membuat suatu benda; melaksanakan
gerak dalam olah raga;
b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi,
menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam hitung mencongak.
Mengenal benda/bentuk dalam pelajaran matematika, ilmu pasti, ilmu
kimia, tanda baca dan sebagainya.
Perkembangan bahasa di tingkat pemula (bayi) dapat dianggap
semacam persiapan berbicara.
1. Pada bulan-bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam
hal ini tangisan bayi dianggap sebagai pernyataan rasa tidak
senang.
2. Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut
maksud yang hendak dinyatakannya.
3. Selanjutnya ia mengeluarkan bunyi (suara-suara) yang banyak
ragamnya. tetapi bunyi-bunyi itu belum mempunyai arti , hanya
untuk melatih pernapasan saja.
4. Menjelang usia pertengahan di tahu pertama, ia meniru suara-
suara yang didengarkannya, kemudian mengulangi suara
tersebut, tetapi bukan karna dia sudah mengerti apa yang
dikatakan kepadanya.

Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara: pertama, alat-
alat bicaranya belum sempurna. Kedua, untuk dapat berbicara, ia
memerlukan kemampuan berpikir yang belum dimiliki oleh anak bayi.
Kemampuan berbicara dapat dikembangkan melalui belajar dan
berkomunikasi dengan orang lain secara timbal balik.

Ditingkat pemula (bayi) tidak ada perbedaan perkembangan bahasa


antara anak yang tuli dengan anak yang biasa. Anak tuli juga
menyatakan perasaan tak senang dengan cara menangis. sedangkan
rasa senangnya dinyatakan dengan berbagai macam suara raban, tetapi
tingkat perkembangan bahasa yang selanjutnya tidak dialami olehnya.
Ia tidak mampu mengulangi suara-suara rabannya dan suara orang lain.
Jika ia nanti sudah besar, ia akan menjadi bisu.

Pada mulanya motif anak mempelajari bahasa adalah agar dapat


memenuhi:
1. Keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya,
diri sendiri, dan kawan-kawannya ini terlihat pada anak usia 2
setengah – 3 tahun.
2. Memberi perintah dan menyatakan kemauannya.
3. Pergaulan sosial dengan orang lain.
4. Menyatakan pendapat dan ide-idenya.

Dengan menghadapi berbagai problematika yang ada dalam proses


pembelajaran khususnya dalam menghafalkan kata-kata maka perlu
pemikiran yang tepat agar dalam proses pembelajaran itu sendiri
dapat berjalan dengan efektif. Disamping hal tersebut perlu
dilakukan pengujian atas kebenaran yang menyangkut penggunaan
metode yang tepat seperti latihan-latihan dalam penerapan sistem
pembelajaran tersebut.

Ada perbedaan besar antara kedua contoh di atas. Komunikasi


ampuh dapat dilakukan dengan mudah dan disengaja. Cara guru
menyampaikan sesuatu sama pentingnya dengan perkataan guru
bahkan lebih penting. Ketika guru mengajar, memberikan petunjuk,
menata konteks, atau memberikan umpan balik, ingatlah empat
prinsip berikut.

1. Munculkan kesan
2. Arahkan fokus.
3. Persuasif (bersifat mengajak).
4. Spesifik (bersifat tepat sasaran).

Teknik Komunikasi
1. Komunikasi Nonverbal
Tubuh dan suara adalah kurir yang membawakan pesan
Anda. Dengan menggunakan ekspresi wajah, gerak tubuh, suara,
dan postur secara efektif, Anda dapat menyampaikan pesan
kongruen yang memperkuat komunikasi. Pesan yang kongruen
adalah pesan yang memiliki perkataan, ekspresi wajah, gerak
tubuh, dan postur yang selaras. Wajah mengatakan hal yang sama
dengan perkataan tubuh dan pikiran otak (DePorter dkk., 2010:
167).
a. Kontak Mata
Kontak mata sering dilakukan untuk membangun dan
membina jalinan tingkat tinggi. Pandanglah siswa-siswa
Anda, tetapi tidak lebih dari tiga detik untuk setiap orang.
Jangan memandang ke atas kepala siswa. Usahakanlah
sungguh-sungguh untuk berkomunikasi dengan setiap siswa
selama pelajaran dengan menggunakan mata.
b. Ekspresi Wajah
Wajah adalah alat komunikasi yang kuat. Pesan nonverbal
yang disampaikan melalui alis terangkat, sunggingan
senyum, dahi berkerut, anggukan kepala, mata melebar, dan
mulut terbuka setara dengan ribuan kata. Gunakan wajah
Anda dengan kentara untuk menyampaikan pesan . Latihlah
senyuman dan gunakanlah bahkan pada saat Anda sedang
menyusun pikiran dalam hati ketika di depan kelas.
c. Nada Suara
Nada, perubahan, dan kualitas pola suara dapat menyatakan
kegembiraan, kekecewaan, keraguan, kepastian, dan
ketidakpastian serta emosi-emosi lainnya. Volume
menangkap indra pendengaran dengan cepat. Suara lirih
biasanya menandakan hal penting, misalnya rahasia atau hal
kunci. Suara lantang menandakan semangat, komando, dan
perhatian.
d. Gerak Tubuh
Gerakan tangan, lengan, dan tubuh yang alamiah dan
terarah akan memberi penekanan pada pesan, menandai
pernyataan kunci, dan menangkap perhatian pelajar kinestetik
dengan menyediakan gerakan hidup bagi suara.
e. Sosok (Postur)
Perasaan dan pikiran muncul dalam postur. Jika unit
pelajaran yang guru sampaikan tidak menarik, para siswa
akan tahu. Sebaliknya apa yang membuat guru bersemangat
dan bergairah  akan diterjemahkan dalam postur. Seberapa
sering guru menunjukkan sikap mental alamiah dari
keingintahuan, keterbukaan, dan penemuan saat mengajar?
Bangkitkan kesadaran tentang apa yang dikatakan oleh postur
(DePorter, 2010: 167—172).
2. Paket Presentasi Efektif
a. Penemu
Untuk membangkitkan rasa ingin tahu, ketakjuban,
kegairahan, dan rasa ingin menemukan, sampaikan isi dengan
menggunakan ciri-ciri berikut.
1) Berdirilah dengan ringan.
2) Condongkan tubuh sedikit ke depan.
3) Bergeraklah menyamping di depan kelas.
4) Jaga kesan penemuan dan pesona.
5) Gunakan predikat visual, auditorial, dan kinestetik.
6) Gunakan “mari kita” dan “kita” untuk mencakup
keseluruhan.
b. Pemimpin
Presiden Soekarno dan Kennedy memberi motivasi dan
inspirasi, berbicara dari lubuk hati terdalam. Sumber nilai-
nilai dan kepercayaan mengalir keluar melalui gerak tubuh,
postur, pola bahasa tertentu. Tipe ini disebut tipe pemimpin.
Untuk mengilhami dan memotivasi siswa mencapai
prestasi lebih tinggi lakukan dengan ciri-ciri berikut.
1) Berdiri tegap, kedua kaki terpisah selebar bahu.
2) Meletakkan satu kaki di depan yang lain.
3) Menghadap sedikit ke arah satu sisi pendengar
bergiliran.
4) Bernafas penuh.
5) Menjaga kontak mata.
6) Gunakan terutama predikat visual dan kinestetik
(DePorter, 2010: 174—175).
c. Pengarah
Paket Pengarah menambahkan semangat dan ketelitian
pada pemberian petunjuk. Dalam mode pengarah, siswa
dimobilisasi menuju tindakan, segaris, dan jelas mengenai
tugas mereka. Gunakan lima unsur ini saat merancang dan
menyampaikan petunjuk.
1. Kapan
2. Siapa
3. Arahan
4. Periksa
5. Tindakan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru profesional adalah kemampuan seorang guru untuk melaksanakan
tugas pokoknya sebagai seorang pendidik dan pengajar yang meliputi
kemampuan dalam merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil
pembelajaran. Prinsipnya adalah setiap guru harus dilatih secara periodik di
dalam menjalankan tugasnya[2]. Guru profesional juga harus memiliki
keahlian, tanggung jawab, rasa sosial yang tinggi dan piawai dalam
melaksanakan profesinyaKarakter guru profesional itu diantaranya,
mempunyai pengetahuan yang tinggi pada mata pelajaran spesialisnya,
berpengalaman dalam mengajar, selalu ceria dan santai dalam membawakan
pelajaran, ucapannya jelas dan antusias.
Sebagai fasilitator, seorang guru yang profesional harus bertugas
menyediakan kemudahan-kemudahan belajar bagi siswa, seperti memberikan
informasi tentang cara belajar yang efektif, menyediakan buku sumber yang
cocok, memberikan pengarahan dalam pemecahan masalah dan
pengembangan diri peserta didik.
Sedangkan sebagai komunikator, guru yang profesional mempunyai tugas
mengomunikasikan murid dengan berbagai sumber belajar. Pekerjaannya
antara lain memberikan informasi tentang buku sumber yang digunakan,
tempat belajar yang kondusif, bahkan mungkin sampai menginformasikan
narasumber lain yang ditugasi jika diperlukan, agar peserta didik tidak hanya
menjadikan guru sebagai sumber tunggal dalam proses belajar mengajar.
B. Saran
Penulis sangat menyadari jika dalam makalah sederhana ini masih banyak
kekurangan. Karena itu, penulis membuka diri untuk menerima kritik yang
membangun guna tersempurnanya makalah ini.
Daftar Pustaka
Sindhunata. 2001. Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman,
Yogyakarta : Kanisius
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Proyek P2MPD. 2000. Fasilitator dalam Pendidikan Kemitraan (Materi
IV-4-1). Jakarta.

http://mellyasilaban.blogspot.com/2014/05/guru-profesional-sebagai-
fasilitator.html di akses pada hari minggu 02 november 2014
]
http://andinijanuarizki.blogspot.com/2013/06/guru-profesional-sebagai-
komunikator_27.html di akses pada hari minggu 02 november 2014

Anda mungkin juga menyukai