Anda di halaman 1dari 5

NAMA : EKA FIONY SINAGA

NIM : 111 811 450

KELAS : MA 18 D1

MATA KULIAH : MANAJEMEN SYARIAH

DOSEN : MUHAMAD SYAHWILDAN, SE.,MM

SOAL:

1. Untuk mencukupi kebutuhan dana jangka panjang, perusahaan dapat memilih sukuk sebagai
salah satu alternatif pendanaan. Dalam banyak hal, sukuk memiliki perbedaan dan persamaan
dengan instrumen keuangan konvensional yang telah ada (saham dan obligasi).
a) Jelaskan perbedaan dan persamaan antara sukuk dengan saham dan obligasi

konvensional!

b) Sebutkan dan jelaskan beberapa jenis sukuk berdasarkan akad dan berikan

penilaian (argumentasi) terhadap dapat tidaknya jenis sukuk tersebut

diperdagangkan di pasar sekunder!


 Sukuk berbasis akad Ijarah (Ijarah Based Sukuk), yang terdiri dari lima jenis sukuk;
 Sukuk berbasis akad jual beli (Sale Based Sukuk), yang terdiri dari tiga jenis sukuk; dan
 Sukuk berbasis akad kerjasama (Participation Based Sukuk), yang terdiri dari enam jenis sukuk.

c) Dalam beberapa jenis sukuk ijarah, issuer menawarkan tingkat kupon (ijarah fee)

dalam rate yang variabel dan menggunakan interest (misal: LIBOR, SIBOR)

sebagai benchmark penetapan imbal hasil. Apakah hal demikian diperbolehkan

oleh syariat? Jelaskan!

2. Misalkan A, B, dan C bersyirkah untuk membentuk usaha bersama. Pada awal pembentukan
syirkah, A menyetor Rp 500 juta, B menyetor Rp 700 juta, dan C menyetor Rp 350 juta. Nisbah
bagi hasil yang mereka (A, B, dan C) sepakati adalah 30:40:30. Setelah 3 tahun, saat ini aset yang
mereka miliki sebesar Rp 11 miliar dengan imbal hasil riil sebesar 45%. Untuk mengembangkan
usahanya, mereka bermaksud menambah modal usaha agar asetnya menjadi sebesar Rp 13
miliar. Secara individu, mereka tidak mampu menambah modal dari uang mereka sendiri.
Alternatif solusinya adalah mengajak D masuk dalam syirkah tersebut. Dengan bertambahnya
modal, imbal hasil yang diharapkan naik menjadi 50% dan bertambahnya kapasitas usaha.
a) Jika D adalah investor rasional dan berharap memperoleh imbal hasil 50% dari

modal yang dia tanamkan, maka berapa nisbah bagi hasil yang diminta kepada A,

B, dan C?

b) Jika disepakati bahwa nisbah bagi hasil antara D dengan A, B, dan C, maka berapa

ekspektasi imbal hasil yang bisa diharapkan oleh D atas modelnya?


3. Dalam keuangan konvensional, konsep risk free rate memiliki peranan penting dalam
penetapan pricing berbagai instrumen keuangan. Menurut saudara, bagaimana ilmu keuangan
Islam memandang konsep risk free rate?
4. Apakah risk free rate masih dapat/boleh digunakan oleh bank syariah dalam menentukan
tingkat imbal hasil dari pembiayaan yang disalurkan? Jelaskan!
5. Apa yang saudara ketahui mengenai metode Cash Recovery Rate?
6. Apakah metode CRR dapat digunakan sebagai reference rate bagi bank syariah dalam
menentukan tingkat imbal hasil dari berbagai akad pembiayaan? Jelaskan!
7. Gambarkan risk management life cycle dan jelaskan bagaimana masingmasing cycle saling
mempengaruhi, dan bagaimana sifat dari cycle tersebut?

8. Sebutkan fakta-fakta yang menjadi alasan bahwa Islamic corporate governance itu harus
dilakukan
oleh Bank
Syariah!
Fakta:
Fraud, pengelolaan yang tidak sesuai ketentuan, problem
pembiayaan karena proses yang tidak sesuai ketentuan,
perbedaan pandangan dan pembaharuan, marjin, konsep
berbagi resiko, nasabah merasa tidak mendapat informasi yang
jelas, keluhan bahkan sengketa nasabah merasa diberlakukan
tidak adil dan tidak sesuai prinsip syariah, penerapan sistem
perhitungan marjin atau bagi hasil atau jasa syariah yang
dianggap sama saja dengan konvensional, penerapan prilaku
syariah yang belum sesuai harapan stakeholder.
9. Jelaskan pula prinsip atau cakupan dari Islamic Corporate Governance? Mengetahui lingkungan
bisnis lembaga keuangan syariah dapat mempermudah kita untuk melakukan proses auditing,
mengapa demikian?

10. Sebutkan instrument keuangan syariah yang harus diketahui oleh auditor!
a) akad investasi (mudharabah dan musyarakah)
b) akad jual beli (istishna dan ijarah)
c) akad lainnya ( Sharf= perjanjian jual beli suatu valuta dengan
valuta lainnya. Dan Qardul Hasan= pinjaman yang tidak
mempersyaratkan imbalan

1. Apa Saja Perbedaan Obligasi dengan Sukuk?

EtalaseBisnis.com, Perbedaan Obligasi dengan Sukuk – Pernahkah Anda mendengar istilah sukuk?
Dilansir dari Bareksa.com, yang membahas mengenai perbedaan obligasi dan sukuk, sukuk disebut
juga obligasi syariah. Sukuk merupakan surat berharga yang diterbitkan serta mempresentasikan
adanya kepemilikan investor atas asset yang menjadi dasar penerbitan sukuk itu sendiri ( underlying
asset), tanpa harus melupakan prinsip- prinsip syariah.

Sukuk atau obligasi syariah memiliki keseluruhan proses serta pemanfaatan yang berlandaskan
hukum islami (syariah). Sukuk ini hanya diperbolehkan untuk hal-hal yang tidak bertentangan
dengan prinsip syariah. Sukuk harus digunakan untuk hal-hal yang halal.
Pengertian dari sukuk berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional No. 32/DSN-MUI/IX/2002, sukuk
merupakan obligasi syariah berharga jangka panjang dengan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten
kepada pemegang obligasi syariah. Emiten wajib membayar dana kembali pada saat jatuh tempo.
Lalu apa perbedaan obligasi syariah (sukuk) dengan obligasi konvensional?

Baca juga : 13 Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Sukuk dengan Obligasi

Perbedaan Obligasi Dan Sukuk

Sebelum kita membahas tentang perbedaan obligasi dan sukuk, sebaiknya kita mengenali terlebih
dulu karakter obligasi syariah (sukuk) yang berbeda dengan obligasi konvensional seperti berikut:

Pada sukuk, lebih menekankan pada pendapatan obligasi syariah yang berdasarkan kepada tingkat
rasio nisbah yang besarannya telah disepakati oleh pihak investor dan emiten

Sukuk memiliki mekanisme yang diawasi oleh para wali amanat atau Dewan Pengawas Syariah
(MUI), sejak penerbitan obligasi hingga akhir masa penerbitan sukuk tersebut

Industri yang dikelola emiten, dengan hasil pendapatan perusahaan penerbit sukuk, harus terhindar
dari unsur haram dalam syariah

Sementara itu, obligasi konvensional pada umumnya merupakan obligasi yang menyatakan utang
dari pihak penerbit pada pihak investor, dimana penerbitan obligasi konvensional membutuhkan
underlying asset. Penerbitan obligasi ini juga tidak menggunakan prinsip-prinsip syariah, sehingga
tidak ada batasan syariah yang terkait dengan penggunaan dana hasil dari diterbitkanya obligasi.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini perbedaan lainya dari obligasi konvensional dengan obligasi syariah
yang wajib kita ketahui:

Beda dalam aktivitas bisnis penerbit surat berharga, pada sukuk proses penerbitanya harus sesuai
prinsip syariah, meskipun bisa diterbitkan oleh penerbit non syariah. Sementara obligasi
konvensional tidak ada batasan syariah

Beda sifat instrumenya, sukuk hanya merupakan sertifikat bukti kepemilikan atas suatu asset,
sedangkan obligasi merupakan instrumen pernyataan ulang

Berbeda jangka waktu, sukuk memiliki jangka waktu pendek ke panjang, sementara obligasi jangka
waktunya menengah ke panjang
Berbeda underlying asset, sukuk memerlukan underlying asset, sementara obligasi tidak perlu

Berbeda pihak terkait, sukuk melibatkan beberapa pihak seperti investor, SPV dan Obligor
sedangkan obligasi melibatkan issuer dan investor

Berbeda basis investor, pada sukuk berbasis syariah dan konvensional, pada obligasi berbasis bebas

Berbeda penggunaan dana, sukuk penggunaan dananya juga harus sesuai syariah, sementara
obligasi penggunaan dananya secara konvensional

Beda perdagangan di pasar sekunder, pada sukuk penjualan kepemilikan asset menjadi dasar
penerbitan, sedangkan pada obligasi mencerminkan penjualan atas surat utang

Beda Biaya administratif, Sukuk memiliki biaya admin yang sama dengan obligasi konvensional,
namun dengan tambahan biaya untuk upah dewan syariah. Sedangkan obligasi tanpa biaya dewan
syariah

Pada pungutan OJK, Sukuk dipungut 0.05% dari nilai emisi atau maksimal Rp. 150 juta. Sedangkan
obligasi, dipungut sebesar 0.05% dari nilai emisi dengan maksimal Rp. 750 juta

Berbeda dokumentasinya, Sukuk akan membutuhkan dokumentasi tambahan yang memaparkan


transaksi pembiayaan syariah. Obligasi tentunya relatif lebih ringkas

Kini, setelah mengetahui perbedaan dari sukuk dan obligasi, serta mengenal prinsip dasar dalam
sukuk itu sendiri, Anda bisa memulai untuk menjadikan sukuk sebagai instrument investasi saham
syariah terbaik. Dengan mengetahui perbedaan sukuk dan obligasi, tentunya Anda akan lebih bijak
dalam memilih instrumen investasi yang cocok bagi Anda.