Anda di halaman 1dari 12

Nama: Muhammad Ilham

Kelas: X IPA 2

RESUME BIOLOGI
BAB 1 Plantae
Kingdom Plantae
Kingdom plantae meliputi organisme multiseluler yang sel-selnya telah terdiferensiasi,
bersifat eukariotik dan memiliki dinding sel selulosa hampir seluruh anggota tumbuhan
memliki klorofil dalam selnya sehingga bersifat autotrof (dapat membuat makanan
sendiri). Tumbuhan dibedakan menjadi 2 yaitu tumbuhan berspora dan tumbuhan berbiji.

A.    Tumbuhan lumut
Lumut (Bryophytes) berasal dari bahasa yunani Bryon yang berarti tumbuhan
lumut. Pada umumnya, lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastid yang
menghasilkan klorofil a dan klorofil b. jadi lumut bersifat autotrof. Tubuh lumut dapat
dibedakan antara sporofit dan gametofitnya.
 Ciri-ciri umum dari lumut
 Sel-sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa.
 Daun lumut umumnya setebal satu lapis sel kecuali ibu tulang daun.
 Pertumbuhan lumut hanya membesar tidak memanjang.
 Rhizoid tampak seperti benang-benang.

Lumut termasuk dari divisi Bryophyta yang terbagi yang dibagi menjadi tiga kelas
yaitu lumut daun (Bryophyta), lumut hati (Hepaticophyta) dan lumut tanduk
(Anthocerotophyta).
1.      Lumut daun (Bryophyta)
Lumut daun merupakan lumut yang paling banyak dikenal. Bryophyta mempunyai struktur
seperti akar yang disebut Rhizoid, struktur seperti batang dan struktur seperti daun.
- Ciri-ciri Bryophta
 Hidup di tempat lembab,
 Memiliki rhizoid,
 Autotrof,
 Reproduksinya secara seksual (membentuk gamet) dan aseksual (membentuk spora)

2.      Lumut hati (Hepaticophyta)


Lumut hati mencakup tumbuhan tak berpembuluh. Lumut hati tersusun atas struktur
berbentuk hati pipih, yang disebut dengan talus, yang tidak terdiferensiasi. menjadi akar,
batang, dan daun.Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada
hati.
- Ciri-Ciri Hepaticophyta
 Memiliki talus,
 Tubuhnya terbagi dualobus sama seperti hati,
 Reproduksinya secara aseksual (gemma)

3.      Lumut tanduk (Anthocerotophyta)


Lumut tanduk mempunyai gametofit mirip dengan gametofit lumut hati, perbedaanya
hanya terletak pada sporofitnya. Sporofit lumut tanduk mempunyai kapsul memanjang yang
tumbuh seperti tanduk dari gametofir. Masing-masing mempunyai kloroplas tunggal yang
berukuran besar dari pada kebanyakan lumut.
- Ciri-Ciri Anthocerotophyta
 Merupakan tumbuhan sporofit memanjang seperti tanduk,
 Mempunyai kloroplas tunggal yang berukuran besar
 Reproduuksinya secara seksual yakni dengan cara pembentukan gamet,
 Habitatnya didaerah lembab

B.     Tumbuhan paku
Tumbuhan paku termasuk golongan tumbuhan yang telah berkormus dan merupakan
kelompok tumbuhan berpem-buluh yang paling sederhana.
  Ciri-ciri tumbuhan paku meliputi:
 Akar paku bersifat seperti akar serabut berupa rizoma
  Batang pada sebagian jenis paku tidak tanpakkarena terdapat didalam tanah
berupa  rimpang, mungkin menjalar atau sedikit tegak
 Daun selalu melingkar dan menggulung pada usia muda
 Habitat tumbuhan paku didarat
 Reproduksi aseksualnya dengan stolon yang menghasil-kan gemma atau tunas

Tumbuhan paku dibagi menjadi empat divisi, yaitu Psilotophytinae, Lycopodiinae,


Equisitinae, dan Filicinae.
1. Psilophitinae (Paku purba)
Psilophyta merupakan tumbuhan paku sederhana dan hanya mempunyai dua generasi.
- Ciri-Ciri Psilophytinae
 Hidupnya didaerah tropis dan subtropis,
 Memiliki rhizoiid,
 Reproduksinya secara aseksual (gemma) dan seksual (pembentukan sel kelamin),
 Tidak mempunyai  jaringan pengangkut

3. Lycopodiinae (Paku kawat)


- Ciri-Ciri Lycopodiinae
 Merupakan tumbuhan epifit,
 Hidupnya didaerah sub tropiis,
 Dapat bersimbiosis dengan jamur, reproduksinya dengan cara seksual (fertilisasi)
aseksual (spora),
 Termasuk kedalam paku jenis homospora

4. Equisitinae (Paku ekor kuda)


- Ciri-Ciri Equisitinae
 Merupakan tumbuhan jenis homospora,
 Hidup ditempat yang basah,
 Memiliki organ yang lengkap (akar, daun, batang)
 Reproduksinya dengan cara seksual (fertilisasi) dan aseksual (spora)

4. Filicinae (Paku sejati)


- Ciri-Ciri Filicinae
 Merupakan tumbuhan jenis homospora,
 Hidup ditempat yang basah,
 Memiliiki organ yang lengkap (akar, daun, batang)
 Reproduksinya dengan cara seksual (fertilisasi) dan aseksual (spora)

C.     Tumbuhan berbiji (Spermatophyta)


Spermatophyta meliputi Angiospermae dan Gymnospermae. Tumbuhan biji
mempunyai jaringan pembuluh yang rumit. Jaringan ini merupakan saluran untuk
mengangkut air, mineral, makanan dan bahan-bahan lain. Pada hakikatnya tumbuhan biji
memiliki pigmen hijau yang penting untuk fotosintesis, yaitu proses dasar pembuatan
makanan pada tumbuh-tumbuhan.
Spermatophyta meliputi Angiospermae dan Gymnospermae.

1.      Gymnospermae (biji terbuka)


1.      Cycadinae
Cycadinae (pakis) hidup didae-rah tropis dan sub-tropics. Struktur reproduksi
tumbuhan ini mirip dengan tumbuhan pinophyta, tetapi bersifat diesis, yang artinya struktur
reproduksi jantan dan betina berada pada tumbuhan yang berbeda, contoh spesiesnya Cycas
rumphii.

2..    Ginkgoinae
Ginkgoinae hanya mempunyai satu spesies didunia ini, yaitu Ginkgo biloba.
Tumbuhan ini berupa pohon, biasanya tingginya mencapai 15-20 meter dan bercabang
banyak. Dimusim gugur daun tumbuhan ini akan berubah warna menjadi kekuningan.

3. Gnetotinae
Gnetotinae memiliki pembuluh kayu untuk mengatur air pada bagian xilemnya.
- Ciri-ciri gnetotinae
 Berhabitus pohon,
 Berdaun tunggal dan berhadapan,
 Pertulangan daun menyirip,
 Dieoceus,
 Bakal biji tanpa arkegonia

4. Coniferinae
Tumbuhan pinophyta juga sering disebut sebagai conifer. Sebagian besar Coniferinae
memiliki daun berbentuk jarum. Tumbuhan ini juga  bersifat monoesis, dimana struktur rep-
roduksi jantan dan betinanya berada pada satu tumbuhan. Biji dari Coniferinae berkembang
didalam rujung. Contohnya Pinus merkusii.

2. Angiospermae (biji tertutup)


Angiospermae merupakan golongan tumbuhan yang memiliki tingkat perkembangan
lebih tinggi diban-dingkan golongan tumbuhan lain. Berdasarkan jumlah daun kotiledon yang
dimilikinya, angiospermae dapat dibedakan menjadi 2 kelas yaitu:
1. Kelas Monocotyledonae
Memiliki biji dengan lembaga yang hanya memiliki satu daun lembaga.
- Ciri-ciri
 Memiliki kotiledon tunggal
 Daun bertulang sejajar
 Batang tidak tumbuh membesar, dan tidak bercabang
 Bunga berkelipatan tiga

2. Kelas Dicotyledonae
Memiliki biji dengan lembaga yang memiliki dua daun lembaga.
- Ciri-ciri
 Memiliki kotiledon ganda,
 Tulang daun menjari atau  menyirip
 Berkambium
 Bunga berkelipatan empat atau lima

E. Peran Tumbuhan Lumut, Tumbuhan Paku, dan Tumbuhan Baerbiji dalam


Kehidupan
1. Peran tumbuhan lumut
1) Spagnum yaitu komponen pembentuk tanah gambut, pengganti kapas dan sebagai
bahan bakar.
2) Lumut hati yang merupakan indikator daerah yg lembab dan dimanfaatkan obat
penyakit hati (hepatitis).
3) Lumut dengan algae menempa liken (lumut kerak) sebagai tumbuhan pionir bagi
lokasi yang gersang.
4) Di hutan bantalan lumut berfungsi menyerap air hujan dan salju yg mencair, maka
mengurangi bisa saja adanya banjir dan kekeringan di masa panas.
5) Lumut gambut di rawa dijadikan juga sebagai pupuk penyubur tanah.

2. Peran tumbuhan paku


1) Sebagai tanaman hias, seperti Adiantum cuneatum (suplir)
2) Sebagai bahan penghasil obat-obatan, contohnya Asipidium filix-mas
3) Sebagai sayuran, seperti Marsilea crenata (semanggi)
4) Sebagai pupuk hijau, conhnya Azolla pinnata bersimbiosis bersama anabaena azollae
(gangang biru)
5) Juga Sebagai pelindung tanaman di persemaian, contohnya Gleichenia linearis

3. Peran tumbuhan berbiji:


1) Sebagai sumber pangan, mulai biji-bijian hingga umbi-umbian.
2) Kayu tumbuhan berbiji biasa dijadikan bahan bangunan, bahan kertas, dan perabotan
rumah tangga.
3) Daun dan buahnya sebagai sumber gizi (sumber vitamin, mineral, dan zat gizi utama
yang lain).
4) Sebagai penahan dan pengatur laju air permukaan dan di bawah permukaan tanah.
5) Penghasil dan penyuplai oksigen bagi pernapasan makhluk hidup.

BAB 2 Animalia
A. Ciri Ciri Umum Animalia

1) Makhluk Hidup Multiseluler (Memiliki banyak sel)


2) Bersifat Heterotrof (tidak dapat membuat makanan sendiri)
3) Merupakan organisme eukariotik
4) Memiliki sel otot untuk penggerak dan sel saraf untuk rangsangan
5) Reproduksi Umumnya Seksual, namun beberapa filum juga menggunakan reproduksi
aseksual
6) Tidak memiliki dinding sel, plastida dan klorofil
7) Bergerak aktif

B. Klasifikasi Hewan Invertebrata dan Peranannya bagi kehidupan

Kingdom animalia terdiri dari elompok Invertebrata yaitu kelompok hewan yang
tidak mempunyai tulang belakang, dan kelompok Vertebrata yang memiliki tulang
belakang.

1. Ciri ciri Klasifikasi Invertebrata

Kelompok Invertebrata terbagi atas beberapa filum yaitu Porifera, Coelenterata,


Plathyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Arthropoda dan Echinodermata.
a. Filum Porifera (Hewan berpori/Spons)

 Hewan multiseluler dengan tubuh berpori, jaringan yang belum terbentuk, memiliki
rangka serta saluran air.
 Bersifat heterotrof dengan memperoleh makanan di air yang masuk ke dalam tubuh
melalui pori.
 Hidup di laut, melekat pada batu atau benda lainnya.
 Reproduksi secara aseksual dengan pembentukan tunas, gemmule (tunas internal) dan
regenerasi. Reproduksi secara seksual dengan pembentukan gamet.
 Porifera digolongkan menjadi tiga kelas berdasarkan penyusun rangka, yaitu
Hexactinellida, Demospongiae dan Calcaera.

b. Filum Coelenterata (Hewan Berongga)

 Hewan multiseluler diploblastik yang tubuhnya telah terbentuk jaringan, berbentuk


polip atau medusa dengan tentakel berpenyengat, memiliki rongga pencernaan,
system saraf sederhana dan tidak memiliki system ekskresi.
 Bersifat heterotrof dan menggunakan tentakel untuk menangkap mangsa.
 Habitat terdapat di laut
 Reproduksi secara aseksual dengan pembentukan tunas oleh polip dan reproduksi
secara seksual dengan pembentukan gamet oleh medusa atau polip.
 Berdasarkan bentuk dominan dalam siklus hidup dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu
Hydrozoa, Scyphozoa dan Anthozoa.

c. Filum Platyhelminthes (Cacing Pipih)

 Hewan triploblastik aselomata dengan tubuh simetri bilateral berbentuk pipih,


memiliki system saraf, system pencernaan dengan satu lubang, tidak memiliki system
sirkulasi, respirasi dan ekskresi.
 Hidup bebas di laut, air tawar, tempat lembab atau parasit padahewan serta manusia.
 Bersifat hemafrodit, reproduksi seksual secara sendiri atau silang, reproduksi aseksual
dengan fragmentasi yang diikuti regenerasi.
 Klasifikasi dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria,Trematoda dan Cestoda.

e. Filum Annelida (Cacing Gelang)

 Hewan triploblastik selomata, tubuh simetri bilateral bersegmen, memiliki otot,


system pencernaan lengkap, system sirkulasi, system saraf tangga tali yaitu sistem
saraf yang terdiri dari ganglia otak di depan tubuh dekat dengan faring dan tali saraf
yang menembus segmen tubuh serta memiliki system ekskresi. Tidak memiliki
system respirasi, bersifat hemafrodit atau gonokoris (alat kelamin jantan dan betina
terpisah pada individu yang berbeda).
 Hidup bebas di dasar laut, perairan tawar, tanah dan tempat yang lembab atau parasit
padavertebrata.
 Reproduksi secara seksual atau aseksual.
 Dibedakan atas 3 kelas yaitu, Polychaeta, Oligochaeta dan Hirudinea.

f. Filum Mollusca (Hewan Lunak)

 Hewan triploblastik selomata dengan simetri bilateral, bertubuh lunak, hidup bebas di
laut, air tawar maupun darat.
 Tubuh terdiri dari kaki, massa visceral dan mantel. Bercangkang, system pencernaan
yang lengkap, system sirkulasi terbuka dan tertutup. System saraf terdiri atas ganglion
dan serabut saraf. Respirasi dengan insang atau rongga mantel. Ekskresi dengan
nefridia, bereproduksi seksual secara internal atau eksternal dan bersifat dioseus (alat
kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda) atau monoseus (alat
kelamin jantan dan betina pada satu individu).
 Dibedakan menjadi 3 kelas yaitu, Gastropoda, Pelecypoda dan Cephalopoda.

g. Echinodermata (Hewan Berkulit Duri)

 Hewan triploblastik selomata dengan simetri bilateral, permukaan tubuh berduri,


hidup bebas di dasar laut.
 Duri tumpul atau runcing, memiliki system ambulakral, system saraf berupa cincin
pusat saraf yang bercabang, system pencernaan yang lengkap dan tidak memiliki
system ekskresi.
 Respirasi menggunakan insang, system sirkulasi dengan cairan rongga tubuh. Bersifat
dioseus dan reproduksi seksual secara eksternal dan dapat beregenerasi.
 Dibedakan menjadi 5 kelas yaitu, Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea,
Holothuroidea dan Crinoidea.

h. Filum Arthropoda (Hewan Kaki Beruas)

 Hewan triploblastik selomata dengan simetri bilateral, memiliki kaki dan tubuh
beruas, hidup di berbagai habitat secara bebas, parasit, komensal atau simbiotik.
 Tubuh terdiri dari kaput (kepala), toraks (dada) dan abdomen (perut). Eksoskeleton
(rangka luar), jumlah anggota tubuh beragam, system indra berkembang baik, system
saraf tangga tali (sistem saraf yang terdiri dari ganglia otak di depan tubuh dekat
dengan faring, dan tali saraf yang menembus segmen tubuh), system pencernaan
lengkap, ekskresi melalui tubula malphigi (suatu saluran sebagai system ekskresi pada
arthropoda) atau dibantu dengan kelenjar ekskresi tertentu.
 Respirasi menggunakan insang, trakea atau paru-paru yang berbuku. System sirkulasi
terbuka. Bersifat dioseus (alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang
berbeda) dan reproduksi seksual secara internal dan mengalami ekdisis (peristiwa
terlepasnya kutikula) sebagian bermetamorfosis.
 Dibedakan menjadi 4 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki yaitu Arachnoidea,
Myriapoda, Crustacea dan Insecta

2. Peran Hewan Invertebrata Bagi Kehidupan


a. Bahan obat-obatan tradisional, seperti madu yang dihasilkan oleh lebah madu. Contoh
serangga penghasil madu yaitu Apis cerana, Apis mellifera, dan Apis indica.
b. Bahan pembuat benang sutra, yaitu kokon yang dihasilkan ulat sutra (Bombyx mori).
c. Membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan, terutama golongan kupu-
kupu dan lebah.
d. Predator terhadap hama-hama tanaman pertanian.
e. Membantu dalam penguraian sampah-sampah organik.

C. Klasifikasi Hewan Vertebrata dan Peranannya bagi Kehidupan

1. Ciri Ciri dan Klasifikasi Vertebrata

a. Kelas Pisces

Kelas pisces merupakan kelompok hewan yang hidup di air. Bagian luar tubuh ikan
dilindungi oleh eksoskeleton berupa sisik. Pisces dapat bernapas di dalam air berkat insang
yang ada pada tubuhnya. Pisces adalah hewan poikiloterm (hewan berdarah dingin) yang
dapat menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air tempat hidupnya. Ordo dari pisces
yaitu, Agnatha, Chondricthyes dan Ostheichthyes.

b. Kelas Amphibia

Amfibi merupakan kelompok hewan yang dapat hidup di air maupun di darat. Contoh
hewan amfibi yaitu, katak, kodok, salamander. Amfibi bernapas dengan paru-paru dan
kulitnya. Jenis amfibi yang hidup di darat harus menemukan air untuk dapat bertelur. Larva
amfibi disebut kecebong. Kecebong mirip dengan ikan kecil dan hidup di air. Pada masa ini
kecebong bernapas dengan insang. Amfibi merupakan hewan poikiloterm (berdarah
dingin). Ordo dari Amfibi yaitu: Anura, Caudata, Gymnophiona.

c. Kelas Reptilia

Reptil merupakan vertebrata pertama yang dapat beradaptasi di daerah kering. Reptil
bersifat autotomi yaitu dapat memutuskan bagian tubuh tertentu jika dalam keadaan
bahaya. Contoh, ular, buaya, alligator, kadal, kura-kura. Ordo dari reptile yaitu: Squamata,
Crocodilia, Chelonia dan Rynchochepalia.

d. Kelas Aves

Nama lain dari Aves yaitu Burung. Memiliki bulu yang menutupi seluruh permukaan
tubuh. Bulu burung terbagi atas filoplumae (sebagai sensoris), plumulae (sebagai isolator)
dan plumae (untuk terbang). Burung merupakan hewan Homoiterm (berdarah
panas). Burung memiliki Saccus pneumaticus (kantung hawa) yang berfungsi sebagai
respirasi saat terbang, mengatur berat badan saat terbang .

e. Kelas Mammalia
Kelas Mammalia merupakan kelas yang memiliki mammae gland (kelenjar susu) dan
rambut yang menutupi permukaan tubuh. Mammalia terbagi atas Mammalia bertelur (ex:
platypus), Mammalia berkantung (ex:Kanguru, Koala) dan Mammalia berplasenta yang
bersifat vivipar (melahirkan) Contoh :kucing, anjing, harimau, hyena dll. Klasifikasi
Mammalia terdiri dari 15 ordo

3. Peranan Vertebrata Bagi Kehidupan

a. Sebagai bahan pangan, sumber protein hewani.


Misalnya yaitu berbagai jenis daging ikan air laut serta air tawar, ayam, bebek, sapi
kambing dan lain sebagainya, telur ayam dan bebek serta susu sapi dan kambing dan
lain sebagainya.

b. Sebagai bahan sandang.


Misalnya yaitu kulit domba dan kulit sapi serta kulit buaya dapat dibuat baju, tas dan
sepatu.

c. Sebagai obat.
Misalnya yaitu daging kelekawar yang dipercaya sebagai obat asma, empedu ular
serta daging penyu yang konon katanya bisa untuk obat berbagai penyakit.

d. Sebagai peliharaan
Misalnya yaitu ikan mas koki, burung love bird, rusa dan lain sebagainya

e. Sebagai bahan kerajinan


Misalnya yaitu tanduk rusa, tanduk sapi, tanduk kerbau dan lain sebagainya yang
dapat dibuat hiasan dinding serta perhiasan.

BAB 3 Ekosistem

A. Komponen Ekosistem dan Satuan Satuan Makhluk Hidup Penyusun Ekosistem


1. Komponen Komponen Penyusun Ekosistem
Komponen ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu:
a.      Komponen Abiotik
Misalnya suhu, air, garam, cahaya matahari, tanah, batu, iklim dan lain-lain
b.      Komponen Biotik
Komponen biotik dibagi menjadi 3, yaitu sebagai berikut.
1) Produsen
Organisme yang menyusun senyawa organik atau membuat makanan sendiri dengan
bantuan cahaya matahari.
2) Konsumen
 Konsumen I: konsumen yang memakan produsen (herbivora)
 Konsumen II: konsumen yang memakan konsumen I (karnivora)
 Konsumen III: konsumen yang memakan konsumen II (karnivora besar)
3) Dekomposer dan Detritivor
 Dekomposer : menguraikan sisa organisme atau bahan organik yang diperlukan.
 Detritivor : memakan hancuran jaringan hewan atau tumbuhan (partikel organik)
2. Satuan Satuan Makhluk Hidup Penyusun Ekosistem
Meliputi: individu, populasi, komunitas, ekosistem, bioma, dan biosfer.
3. Interaksi Antarkomponen Ekosistem
a. Interaksi Antara Komponen Biotik dengan Abiotik
1) Keberadaan Tumbuhan Sangat Memengaruhi Kondisi Tanah
2) Kandungan Air Sangat Memengaruhi Kehidupam Tumbuhan

b. Interaksi Antarkomponen Biotik


1) Kompetisi
Kompetisi adalah jenis interaksi antarorganisme yang saling bersaing untuk bertahan
hidup. Misalnya bersaing untuk mendapatkan makanan
2) Predasi
Predasi adalah jenis interaksi makan dan dimakan suatu sesies memangsa spesies
yang lain, misalnya harimau memakan rusa
3) Simbiosis
a) Simbiosis Mutualisme, yaitu merupakan hubungan/interaksi antara dua
organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua pihak
b) Simbiosis Komensalisme, yaitu merupakan hubungan antara dua jenis
organisme yang berbeda spesies di mana salah satu spesies diuntungkan,
sedangkan spesies yang lain tidak dirugikan/diuntungkan.
c) Simbiosis Parasitisme, yaitu hubungan antar organisme yang berbeda spesies
di mana akibat dari hubungan tersebut terdapat pihak yang dirugikan (inang)
dan pihak yang diuntungkan (parasit).
d) Simbiosis Amensalisme, yaitu hubungan yang terjadi pada dua organisme
berbeda spesies yang saling berinteraksi, satu spesies dirugikan sedngkan yang
lain tidak dirugikan.

B. Pola Pola Interaksi dalam Ekosistem


1. Rantai Makanan dan Jaring Jaring Makanan
Rantai makanan adalah jalur makan dan dimakan dari organisme pada suatu trofik ke
tingkat trofik berikutnya yang membentuk urutan dan arah tertentu. Dalam rantai makanan,
organisme autotrof (sebagai mata rantai 1) dimakan oleh herbivora yang merupakan
konsumen tinkat pertama. Konsumen tingkat 1 kemudian akan dimakan oleh karnivora yang
merupakan konsumen tingkat 2. Selajutnya konsumen tingkat 2 dimakan konsumen tingkat 3.
Demikian seterusnya sampai terakhir.

2. Piramida Ekologi
Piramida ekologi adalah suatu diagram piramida yang dapat menggambarkan
hubungan antara tingkat trofik satu dengan tingkat trofik lain, secara kuantitatif pada suatu
ekosistem. Berikut ini jenis jenis piramida ekologi.
a. Piramida Jumlah
Piramida jumlah adalah suatu piramida yang menggambarkan jumlah individu pada
setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem.
b. Piramida Biomassa
Piramida Biomassa yaitu suatu piramida yang menggambarkan berkurangnya transfer
energi pada setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem
c. Piramida Energi
Piramida ini menggambarkan hilangnya energi pada saat perpindahan energi makanan
di setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem.

3. Daur Biogeokimia
Daur biogekimia atau daur organik anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia
yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus
daur biogeokimia adalah sebagai berikut.
a. Siklus Daur Nitrogen
b. Siklus Daur Air
c. Siklus Daur Oksigen dan Karbon Dioksida
d. Siklus Daur Sulfur
e. Siklus Daur Fosfor

4. Aliran Energi
Aliran energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk
energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, ke konsumen primer
(herbivora), ke konsumen tingkat tinggi (karnivora), sampai ke saproba, aliran energi juga
dapat diartikan perpindahan energi dari satu tingkatan trofik ke tingkatan berikutnya. 

BAB 4 Perubahan Lingkungan dan Dampaknya bagi Kehidupan

A. Perubahan Keseimbangan Lingkungan


1. Konsep Keseimbangan Lingkungan
Lingkungan dikatakan seimbang jika antara komponen biotik dan abiotik berada
dalam komposisi yang proporsional dan stabil.

2. Penyebab Perubahan Lingkungan


a. Perubahan Lingkungan Akibat Faktor Alam, contohnya gempa bumi, gunung meletus,
tsunami, angin puting beliung, dsb.
b. Perubahan Lingkungan Akibat Faktor Manusia, contohnya pembukaan lahan,
eksploitasi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan, dsb

3. Pencemaran Lingkungan
a. Pencemaran Air. Dapat berupa limbah rumah tangga, limbah industri, dsb
b. Pencemaran Udara. Contohnya senyawa CO dan CO2 yg dihasilkan oleh
pembakaran tidak sempurna dari mesin mobil dan mesin bakar lainnya.
c. Pencemaran Tanah. Pencemaran ini dapat diakibatkan oleh aktivitas rumah tangga yg
menghasilkan limbah domestik, dsb

B. Pengelolaan Lingkungan
1. Usaha Usaha Mencegah Kerusakan Hutan
a. Melakukan reboisasi dilahan yang rusak
b. Pemberantasan Illegal Logging oleh GNRHL
c. Memberlakukan sistem tebang pilih terhadap pohon yg memenuhi syarat
d. Penanaman pohon pengganti atas pohon yg ditebang dan dipelihara baik

2. Usaha Usaha Mencegah Pencemaran Lingkungan


a. Usaha untuk mencegah pencemaran air sebagai berikut
1) Membuat penampungan limbah rumah tangga yg berupatangki resapan
2) Tidak menggunakan pestisida dengan berlebihan
3) Melakukan pengolahan limbah dengan benar
b. Usaha untuk mencegah pencemaran udara sebagai berikut
1) memperbanyak tanaman hijau di daerah polusi udara tinggi
2) melakukan penyaringan asap sebelum asap dibuang ke udara dengan cara
memasang bahan penyerap polutan atau saringan
3) Menjalankan prgram pengendalian pencemaran yang disebut program langit biru
c. Usaha untuk mencegah pencemaran tanah sebagai berikut
1) Melakukan bioremediasi
2) Mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan industri

3. Pengelolaan Limbah
Limbah dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut.
a. Limbah Organik
b. Limbah Anorganik
c. Limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun)

Berikut metode pengelolaan limbah berdasarkan wujudnya.


a. Metode Konvensional
1) Pengolahan limbah secara fisik
Limbah dipisahkan dari bahan bahan polutan yg mengapung dengan cara
penyaringan.
2) Pengolahan limbah secara kimia
Zat logam dan beracun dipisahkan dengan cara menambahkan bahan kimia, hal ini
dilakukan untuk mengendapkan polutan.
3) Pengolah limbah secara biologis
Limbah yang dapat diolah secara biologis akan diolah menggunakan metode
lumpur aktif. Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan mikroorganisme ke
dalam limbah untuk mengurai polutan pada limbah.
b. Metode Ramah Lingkungan
1) Reuse (Memakai ulang)
2) Reduce (Mengurang pemakaian)
3) Recycle (Mendaur ulang)
4) Replace (Mengganti)
5) Repair (Memperbaiki)