Anda di halaman 1dari 10

JOURNAL READING

CLUSTER HEADACHE

Disusun oleh :

SYIFA AULIA LUTHFIYANI 1610221189

Pembimbing :

dr. Lucie Melanie, Sp.S

Kepaniteraan Klinik Departemen Neurologi

RSUP PERSAHABATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”


JAKARTA

2018
LEMBAR PENGESAHAN

Referat ini diajukan oleh :

Syifa aulia luthfiyani 1610221189

Program Studi : Kepaniteraan Klinik

Judul : Cluster Headache

Disetujui,

dr. Lucie Melanie, SpS

Ditetapkan di : Jakarta, Departemen Neurologi RSUP Persahabatan

Tanggal presentasi : Januari 2018


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan journal reading yang berjudul
“Cluster Headache”. Journal reading ini disusun untuk melengkapi tugas
Kepaniteraan Klinik Deparetemen Neurologi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Persahabatan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Lucie Melanie, SpS sebagai
pembimbing yang telah membimbing dan membantu kami dalam melaksanakan
kepaniteraan dan dalam menyusun journal reading ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan baik pada isi maupun format
Journal Reading ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran saya terima dengan
tangan terbuka guna melengkapi dan menyempurnakan Journal reading ini.
Akhir kata, kami berharap Journal reading ini dapat berguna bagi rekan-rekan
serta semua pihak yang ingin mengetahui tentang “Cluster Headache”.

Jakarta, Januari 2018

Penulis
I. ABSTRAK
Cluster Headache menyebabkan nyeri unilateral pada
temporal atau periorbital, berlangsung 15 sampai 180 menit dan disertai
dengan gejala otonom pada hidung, mata, dan wajah. Sakit kepala sering
kambuh pada waktu yang sama setiap hari selama cluster periode, yang
bisa bertahan selama beberapa minggu sampai berbulan-bulan. Beberapa
pasien memiliki cluster headache kronis tanpa periode remisi.
Patofisiologi dari cluster headache tidak sepenuhnya dipahami, namun
mungkin berhubungan dengan genetik. Cluster headache lebih banyak
terjadi pada pria dan biasanya dimulai antara usia 20 dan 40 tahun.
Pengobatan berfokus pada menghindari pemicu, terapi fase akut/abortif,
profilaksis dan pengobatan jangka panjang pada pasien dengan cluster
headache kronis. Bukti mendukung penggunaan oksigen, sumatriptan dan
zolmitriptan sebagai penanganan cluster headache akut cukup efektiv.
Verapamil adalah terapi profilaksis lini pertama dan juga bisa digunakan
untuk mengobati cluster headache kronis. Perawatan yang lebih invasif,
termasuk stimulasi saraf dan operasi, bisa membantu dalam kasus
refrakter.
Kata kunci: Cluster headache, nyeri periorbital, sumatriptan, zolmitriptan,
verapamil, stimulasi saraf, verapamil, stimulasi saraf

II. LATAR BELAKANG


Sekitar satu dari 1.000 orang dewasa A.S. mengalami cluster
headache. Studi memperkirakan prevalensi cluster headache dalam satu
tahun sebanyak 53 per 100.000 orang dewasa.1 Usia onset biasanya 20
sampai 40 tahun. Rasio laki-laki terhadap perempuan secara keseluruhan
adalah 4.3, namun jauh lebih tinggi untuk cluster headache kronis
daripada bentuk episodik (Masing-masing 15 dan 3,8) .1 Cluster headache
episodic enam kali lebih umum daripada bentuk kronis.1 Cluster headache
memiliki dampak sosioekonomi yang besar dan morbiditas, hampir 80%
pasien melaporkan membatasi kegiatan sehari-hari.
III. MANIFESTASI KLINIS dan KLASIFIKASI
Karena lokasi dan gejala yang terkait, cluster headache
diklasifikasikan sebagai trigeminal autonomic cephalgia dalam kriteria
diagnostik terbaru dari International Headache Society (Tabel 1).2 Cluster
headache dibagi menjadi bentuk kronis dan episodik berdasarkan durasi
dan frekuensi episode. Pasien dengan bentuk kronis memiliki setidaknya
satu cluster periode yang berlangsung setidaknya satu tahun, tanpa remisi
atau remisi kurang dari satu bulan. Pasien dengan bentuk episodik
setidaknya memiliki dua cluster periode minimal satu minggu tapi kurang
dari satu tahun, dengan remisi setidaknya selama satu bulan. Selain nyeri
kepala unilateral yang berat, gejala diagnostik terkait atau gejala otonom
dapat mencakup injeksi konjungtiva ipsilateral, lakrimasi, kongesti nasal,
rhinorrhea, edema kelopak mata, dahi dan pembengkakan wajah, miosis,
atau ptosis. Kuesioner yang menggabungkan durasi sakit kepala kurang
dari 180 menit dan konjungtiva injeksi atau lakrimasi menunjukkan
sensitivitas 81,1% dan spesifisitas 100% untuk diagnosis cluster headache,
dan telah disarankan sebagai alat skrining yang efektif.5
Pemicu cluster headache meliputi vasodilator (seperti alkohol,
nitrogliserin) dan histamin. Paparan tembakau di masa kecil merupakan
faktor risiko perkembangan cluster headache.6 Neuroimaging belum
terbukti bermanfaat untuk diagnosis cluster headache, namun
diindikasikan pada pasien nyeri kepala disertai adanya tanda ‘Red Flags’
(seperti gejala yang menunjukkan massa pituitari) atau temuan abnormal
pada pemeriksaan neurologis.

Gambar 1. Kriteria Diagnosis cluster headache2


IV. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Patofisiologi cluster headache tidak sepenuhnya dipahami. Teori saat ini
melibatkan mekanisme seperti dilatasi pembuluh darah, stimulasi saraf trigeminal,
dan irama sirkadian. Pelepasan histamin, peningkatan sel mast, faktor genetik, dan
aktivasi sistem saraf otonom juga dapat berkontribusi. Cluster headache akut
telah terbukti melibatkan aktivasi substansia nigra hipotalamus posterior, dan
diwarisi sebagai kondisi dominan autosomal pada sekitar 5% pasien.2 Memiliki
ayah atau ibu dengan cluster headache meningkatkan risiko 14 sampai 39 kali
lipat.8 Satu studi menunjukkan hubungan antara cluster headache dan gen
HCRTR2.8 Gangguan irama circadian diperkirakan sebagai kontributor yang
mungkin karena sakit kepala sering terjadi saat tidur.

V. TERAPI
Penatalaksanaan cluster headache yang efektif memerlukan integrasi
beberapa strategi. Edukasi pasien, fokus pada terapi dan menghindari faktor
pemicu, seperti penghentian merokok, konseling alkohol, dan modifikasi gaya
hidup. Terapi abortif digunakan untuk mengurangi cluster headache akut. Terapi
profilaksis harus dimulai dan dilanjutkan kemudian dilakukan tappering off.
Pasien cluster headache kronis harus terus menerus diterapi. Terapi lebih invasif,
termasuk bedah intervensi, hanya digunakan saat pengobatan lainnya tidak efektif.
Terapi tambahan dan pengobatan alternatif tidak memberikan hasil memuaskan.

V.1 Pengobatan Akut atau Abortif


Triptans dan oksigen adalah terapi lini pertama untuk cluster headache9
(Gambar 2). Sebuah uji coba double blind, secara acak dan terkontrol
menunjukkan bahwa oksigen aliran tinggi yang dihirup (12 L per menit) lebih
efektif daripada plasebo dalam menghilangkan rasa sakit pada 15 menit. 11 Nyeri
hilang dilaporkan pada 78% pasien. Satu penelitian mengatakan oksigen
hiperbarik lebih baik dari pada, namun biaya dan ketersediaan terbatas. 12 Satu
penelitian, double-blind, menemukan bahwa dosis sumatriptan 6 mg subkutan
dapat menghilangkan rasa sakit pada 15 menit, dengan respon 75% pasien vs 32%
pada mereka yang menerima placebo.13 Dosis 12 mg tidak memberikan hasil yang
jauh lebih baik dari 6 mg, namun dikaitkan efek samping pemberian. 14 Study
multisenter, double-blind zolmitriptan menunjukkan perbaikan nyeri signifikan
pada 30 menit pada pasien yang diobati dibandingkan dengan mereka yang
menerima plasebo. Penelitian ini, plasebo 30% efektif, dibandingkan masing
dengan 50% dan 63,3% untuk zolmitriptan semprot hidung dalam dosis 5 mg dan
10 mg. Triptans dikontraindikasikan pada pasien dengan risiko vaskular, termasuk
penyakit jantung iskemik. Demikian pula, gelisah, mual, dan muntah mungkin
merupakan prediktor respons negatif untuk oksigen tambahan.15 Pilihan
pengobatan lainnya dengan bukti pendukung yang lebih lemah termasuk
intranasal lidocaine, octreotide, dan ergotamine. Satu review menyimpulkan
bahwa tidak cukup bukti untuk mendukung penggunaan dihydroergotamine,
ergotamin, somatostatin, dan prednison untuk perawatan cluster headache akut.9
Sakit kepala cluster biasanya resisten terhadap indometasin.

Gambar 2 Terapi abortif/akut 9,10

V.II PROFILAKSIS
Verapamil dengan dosis minimal 240 mg per hari adalah profilaksis lini
pertama untuk cluster headache (Gambar 3). Pemantauan elektrokardiografi
sangat penting karena berpotensi henti jantung. Satu percobaan terkontrol
dilaporkan signifikan secara statistik berkurangnya jumlah sakit kepala per hari
setelahnya dua minggu pengobatan.19 Studi lain yang membandingkan verapamil
dan lithium menunjukkan penurunan 50% pada jumlah sakit kepala di kelompok
verapamil.9
Steroid oral telah digunakan, namun efektivitasnya tidak didukung oleh
percobaan. Terapi peregangan transisional paling sering dilakukan dibutuhkan
untuk mengurangi terlalu banyak penggunaan triptan dan kebutuhan akan Oksigen
tambahan pada pasien yang sudah sering sakit kepala. Sebuah penelitian acak,
double-blind, placebo-controlled Suntikan steroid menunjukkan bahwa 85% dari
23 pasien bebas rasa sakit dalam 72 jam, dan 62% responden tetap bebas dari sakit
kepala selama empat sampai 26 bulan. dan menemukan itu.

Gambar 3. Terapi Profilaksis18

V.2 Pengobatan cluster headache Kronis


Verapamil dan lithium adalah pengobatan utama untuk sakit kepala
9,17
cluster kronis (Gambar 4). Sebuah doubleblind studi membandingkan
verapamil dan lithium melaporkan penurunan 50% indeks sakit kepala untuk
kelompok verapamil dan pengurangan 37% untuk lithium kelompok.9

Gambar 4. Terapi cluster headache Kronis20

V.3 Bedah dan Pilihan Invasif lainnya

Dalam penelitian terhadap 14 pasien, stimulasi saraf oksipital menghasilkan


peningkatan pada 71% peserta, dan 62% dari mereka yang menanggapi
pengobatan tersebut tetap bebas dari sakit kepala selama empat sampai 26 bulan. 17
Intensitas sakit kepala juga menurun, meskipun beberapa pasien memiliki
ketertinggalan setidaknya dua bulan. Pengobatan radiosurgis saraf trigeminal
adalah tidak dianjurkan untuk pasien dengan cluster kronis sakit kepala karena
minimnya manfaat dan tingkat tinggi gangguan saraf trigeminal baru.22

V.4 Terapi tambahan dan terapi alternatif


Sebuah tinjauan sistematis tentang terapi tambahan dan terapi alternatif untuk
sakit kepala nonmigrain termasuk penelitian akupunktur, manipulasi tulang
belakang, elektroterapi, fisioterapi, homeopati, dan gosok panas herbal. namun
tidak ada satupun penelitian ini secara khusus mengatasi cluster headache.23

VI. Populasi Khusus


Cluster Headache jarang terjadi selama kehamilan, tapi pengobatannya perlu
pertimbangan. Perawatan yang dapat diberikan pada wanita hamil termasuk
oksigen tambahan dan sumatriptan subkutan atau intranasal untuk perawatan akut,
dengan verapamil atau prednison atau prednisolon sebagai profilaksis terapi.
Gabapentin bisa dijadikan alternatif. Oksigen tambahan, sumatriptan, dan lidokain
adalah Terapi lini pertama untuk perawatan akut pada wanita yang sedang
menyusui; verapamil, steroid oral, dan lithium direkomendasikan obat
profilaksis.21

Gambar 5. Diagnosis Banding Cluster Headache