Anda di halaman 1dari 42

Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Untia Kota

Makassar melalui Usaha Kecil Menengah (UKM)


Pengolahan Ikan Bandeng

OLEH :
NURUL WAHYU_D0117545
SIPIL D

UNIVERSITAS SULAWESI BARAT


FAKULTAS TEKNIK
PRODI TEKNIK SIPIL
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena dengan


rahmat dan hidayah-Nya penulis masih diberi kesehatan dan kesempatan
untuk dapat menyelesaikan Laporan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis
Aset yang berjudul Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Untia
Kota Makassar melalui Usaha Kecil Menengah (UKM) Pengolahan
Ikan Bandeng.
Laporan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset ini disusun
sebagai tugas dalam mata kuliah KO-Kurikuler pada program studi
S-1 Universitas Sulawesi Barat.
Penuyusunan Laporan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset
ini tidak sepenuhnya mengandalkan gagasan penulis namun menyadari
bahwa pihak lain yang memberikan bantuan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Dalam penyusunan Laporan Pemberdayaan
Masyarakat Berbasis Aset ini, penulis menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak, antara lain :
1. Kedua orang tua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan
motivasi dan biaya selama berkuliah di Universitas Sulawesi
Barat
2. Ibu Sutriani.,ST,MT sebagai dosen pengampuh mata kuliah
KO-Kurikuler Program Studi S-1 Universitas Sulawesi Barat.

3. Kawan-kawan seperjuangan yang telah banyak memberi


bantuan dan masukan.
4. Semua pihak telah membantu dan mendukung dalam
penyusunan Laporan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset
ini.

ii
Penulis berharap semoga dengan terselesaikannya laporan
ini dapat menjadi titik tolak penulis untuk menjadi lebih maju dan
bersungguh -sungguh. Penulis juga berharap semoga Laporan
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset dapat menumbuhkan semangat,
menambah pengetahuan serta informasi bagi para pembacanya. Aamiin.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis memgaharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun dari setiap pembaca demi kesempurnaan
Laporan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset ini.

Makassar, 30 Mei 2020


Penulis

Nurul Wahyu

iii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..................................................................................................... ii

Daftar Isi ............................................................................................................... iv

Daftar Gambar .......................................................................................................v


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................3

1.3 Tujuan ....................................................................................................3

1.4 Lingkup Pembahasan .............................................................................3

BAB II TINJAUAN KHUSUS

2.1 Pemberdayaan/pengembangan Masayarakat Berbasis Aset ...................4

2.2 Usaha Kecil Menengah (UKM) ............................................................10

2.3 Pembudidayaan Ikan Bandeng..............................................................16

BAB III METODOLOGI

3.1 Waktu dan Lokasi .................................................................................30


3.2 Metode Penelitian ................................................................................30
3.3 Skema Kerja .........................................................................................31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Pengolahan Ikan Bandeng ....................................................32
4.2 Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Untia terhadap UKM
Pengolahan Ikan Bandeng ..........................................................................34
4.3 Kelebihan dan Kekurangan dari UKM Pengolahan Ikan Bandeng ......35
BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan dan Saran ..........................................................................36

5.2 Usulan/Rekomendasi Penulis ...............................................................36

Daftar Pustaka

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Skema kerja ......................................................................................31


Gambar 4.1 Persiapan alat dan bahan ...................................................................33
Gambar 4.2 Penyusunan ikan kedalam panci .......................................................33
Gambar 4.3 Pemberian garam dan kunyit ............................................................34
Gambar 4.4 Proses akhir pembuatan ikan pallu ce’la ..........................................34

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan Nasional adalah serangkaian usaha pembangunan yang
berkelanjutan meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk
mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945
yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,
mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial. Peran Pemerintah dalam menyelenggarakan
pembangunan berpedoman pada beberapa prinsip, diantaranya ; merupakan satu
kesatuan utuh dengan perencanaan pembangunan nasional, yang dilakukan
oleh Pemerintah Daerah bersama para pemangku kepentngan dengan
berdasarkan pada peran dan tanggung jawab masing-masing, mengintegrasikan
rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah, dan dilaksakanan
berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah sesuai
dinamika perkembangan daerah dan nasional.
Namun demikian dinamika yang terjadi sebagai aspek kehidupan
masyarakat seringkali menjadi penghambat lajunya pembangunan.
Optimalisasi segenap sumber daya dan potensi yang dimiliki sangat
dipentingkan dalam hal ini. Ketidaktahuan dan atau ketidakmampuan segenap
elemen penyelenggara pembangunan atas potensi yang ada, menjadi salah satu
titik lemah laju pembangunan. Pemerintah daerah pada umumnya dan
masyarakat pada khususnya dipandang penting untuk menggali dan mengkaji
setiap potensi yang dimilikinya. Ketidakmampuan dan ketidaktahuan
masyarakat mengakibatkan produktivitas mereka rendah. Kemampuan
masyarakat yang dapat dikembangkan tentunya banyak sekali seperti
kemampuan untuk berusaha, kemampuan untuk mencari informasi,
kemampuan untuk mengelola kegiatan, kemampuan dalam pertanian dan masih
banyak lagi sesuai dengan kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi oleh

1
masyarakat. Perilaku masyarakat yang perlu diubah tentunya perilaku yang
merugikan masyarakat atau yang menghambat peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Dari masalah diatas dapat disimpulkan bahwa perlu adanya kreativitas
usaha yang dilakukan masayarakat dan desa untuk meningkatkan taraf
kehidupan melalui sumber penghasilan yang tersedia didesa tersebut. Sehingga
perlu ada sosilisasi pemberdayaan masyarakat ditingkat desa maupun
kecamatan.
Pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan melalui : (1) Pengembangan
masyarakat, dan (2) Pengorganisasian masyarakat. Apa yang dikembangkan
dari masyarakat yaitu potensi atau kemampuannya dan sikap hidupnya.
Kemampuan masyarakat dapat meliputi antara lain kemampuan untuk bertani,
berternak, melakukan wirausaha, atau ketrampilan-ketrampilan membuat home
industry; dan masih banyak lagi kemampuan dan ketrampilan masyarakat yang
dapat dikembangkan.
Ikan bandeng (Chanos chanos) adalah ikan pangan populer di Asia
Tenggara. Ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada
dalam suku Chanidae (bersama enam genus tambahan yang dilaporkan pernah
ada namun sudah punah). Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal
sebagai ikan bolu, dan dalam bahasa Inggris (milkfish).
Mereka hidup di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan cenderung
berkawanan di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan terumbu koral. Ikan
bandeng (Chanos-chanos Forsskal) merupakan satu di antara ikan air payau
yang sudah lama berkembang di Indonesia. Sistem budidaya yang
dikembangkan beragam, mulai cara tradisional, semi-intensif maupun
intensif Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut selama 2–3 minggu,
lalu berpindah ke rawa-rawa bakau berair payau, dan kadang kala danau-
danau berair asin. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa
berkembang biak.
Ikan muda disebut nener (IPA : nənər ) dikumpulkan orang dari sungai-
sungai dan dibesarkan di tambak-tambak. Di sana mereka bisa diberi makanan

2
apa saja dan tumbuh dengan cepat. Setelah cukup besar (biasanya sekitar 25–
30 cm) bandeng dijual dalam keadaan segar atau sudah dibekukan. Bandeng
diolah dengan cara digoreng, dibakar, dikukus, dipindang, atau diasap.
Maka, penelitian yang berjudul “Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan
Untia melalui Usaha Kecil Menegah (UKM) Pengolahan Ikan Bandeng”
menjadikan awal peneliti untuk mempelajari dan melihat kondisi
pemberdayaan masyarakat yang ada di Kecamatan Untia tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari laporan ini adalah :
1.2.1 Bagaimana kondisi sosial, ekonomi,dan budaya masyarakat Untia?
1.2.2 Bagaimana pengolahan ikan bandeng?
1.2.3 Bagaimana pemberdayaan dan pengembangan masyarakat Untia terhadap
Usaha Kecil Menegah (UKM) pengolahan ikan bandeng?
1.2.4 Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari UKM pengolahan ikan
bandeng?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari laporan ini adalah :
1.3.1 Mengetahui kondisi sosial,ekonomi dan budaya pada masayarakat Untia
1.3.2 Mengetahui cara pengolahan ikan bandeng
1.3.3 Mengetahui pemberdayaan dan pemgembangan masyarakat Untia terhadap
UKM pengolahan ikan bandeng
1.3.4 Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari UKM pengolahan ikan bandeng

1.4 Lingkup Pembahasan


Adapun lingkup pembahasan dari laporan ini adalah :
1.4.1 Pemberdayaan masyarakat berbasis asset melalui Usaha Kecil Menengah
(UKM)
1.4.2 Pengolahan ikan bandeng di Kecamatan Untia

3
BAB II
TINJAUAN KHUSUS
2.1 Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset (Asset-Based Community
Development/ABCD)
Asset-based Community Development adalah pendekatan pengembangan
masyarakat. Yaitu, masyarakat diapresiasi sebagai jejaring potensi yang luar
biasa. Masyarakat telah lahir, hidup dan berkembang sehingga memiliki aset,
baik aset sosial, ekonomi maupun budaya. Bukan malah dianggap sebagai suatu
permasalahan. Pada intinya pemberdayaan masyarakat itu berbicara mengenai
cara bagaimana masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya
melalui peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat tersebut. Apabila
kita melihat proses pemberdayaan masyarakat, maka tidak hanya berbicara
mengenai peningkatan kemampuan atau kapasitas dari masyarakat tersebut.
Tetapi dalam hal ini penting juga melihat aset-aset yang ada di masyarakat.
Aset- aset yang ada di masyarakat juga penting untuk dikembangkan atau
dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
1. Pengertian Pengembangan Masyarakat Berdasarkan Literatur
a. Membangun komunitas di semua upaya ini terdiri memperkuat
kapasitas masyarakat untuk mengidentifikasi prioritas dan peluang dan
untuk mendorong dan mempertahankan perubahan lingkungan yang
positif (Chaskin 2001: 291)
b. Pengembangan masyarakat adalah bangunan aset yang meningkatkan
kualitas hidup antara penduduk rendah sampai masyarakat pendapatan
sedang, di mana masyarakat mengartikan sebagai lingkungan atau multi
lingkungan (Ferguson dan Dickens 1999: 5)
c. Pengembangan masyarakat didefinisikan sebagai upaya terencana untuk
menghasilkan aset yang meningkatkan kapasitas warga untuk
meningkatkan kualitas hidup (Green dan Haines 2007: vii)
d. Pengembangan masyarakat adalah pendekatan berbasis tempat :
menciptakan aset yang menguntungkan orang-orang di lingkungan

4
miskin, dengan membangun dan menekankan ke sumberdaya eksternal
(Vidal dan Keating 2004: 126)
Dalam definisi ini ada 3 Komponen Penting :
a. Fokus berbasis tempat
Masyarakat dapat dianggap sebagai lingkungan, kota, pinggiran kota,
dimana manusia hidup. Itu semua adalah tempat berupa lingkungan
fisik.
b. Membangun atau mengkreasikan aset
c. Peningkatan kualitas hidup.
Aspek pembangunan masyarakat:
a. Keuangan, ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan sosial. Aspek ini
digunakan untuk membangun sumber daya dan kelebihan yang dimiliki
dalam sebuah komunitas. Dengan ini dapat mempertahankan individu
yang ada di dalamnya dari waktu ke waktu.
b. Pendekatan, sementara berlaku universal, sangat relevan dengan
masyarakat yang tidak kaya. Tidak seperti masyarakat kaya yang tidak
hanya memiliki aset namun mengakui aset ini dan menggunakannya
dalam ekonomi formal, banyak masyarakat berpenghasilan tidak
rendah.
2. Pengembangan Masyarakat Bebasis Kebutuhan
a. Pendekatan konvensional atau tradisional adalah untuk mengidentifikasi
isu, masalah, dan kebutuhan masyarakat. Seperti, lingkungan
berpenghasilan rendah, rumah kosong, sampah dan masalah lain yang
tak terhitung. Dengan bertumbu pada masalah tersebut, masyarakat
cenderung memusatkan hanya pada apa yang kurang dalam masyarakat
tersebut. Bila masyarakat hanya fokus pada cara menyelesaikan masalah
yang mereka lihat, mereka dapat mengabaikan penyebab masalah
tersebut.
b. Beberapa masalah diidentifikasi, seperti pengangguran, masalah ini
cukup besar bagi masyarakat untuk menyelesaikannya sendiri. Dengan
menfokuskan pada penyebab dari permasalahan tersebut, pendekatan ini

5
dapat membentuk unreasonable expectation yang dapat menyebabkan
kekecewaan dan kegagalan seterusnya. Pada praktiknya pendekatan ini
dapat menyebabkan banyak masalah dan masyarakat kewalah sampai
pada akhirnya tidak ada yang dilakukan.
3. Pengembangan Masyarakat Bebasis Aset
Pengembangan masyarakat bebasis aset merupakan pendekatan
alternatif yang berkebalikan dari pendekatan konvensional. Konsepnya
adalah membangun kapasistas masyarakat untuk membangun dan
menguatkan aset yang dimiliki masyarakat. Sangat kontras pada pendekatan
konvensional yang fokus pada masalah dan kebutuhan, pendekatan ini fokus
pada penguatan aset yang dimiliki masyarakat.
a. Pengertian Aset
Aset didefinisikan sebagai saham kekayaan dalam rumah
tangga atau unit lainnya (sherraden 1991: 96). Definisi lain adalah
bahwa aset merupakan yang berguna atau berharga, berkualitas, orang
atau hal yang merujuk pada kelebihan atau sumber daya. Ada beberapa
aset komunitas yang perlu dipahami dalam perkembangan manusia,
yaitu:
1) Modal fisik
Modal ini merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup
suatu komunitas. Modal fisik terdiri dari jalan,
bangunan, infrastruktur dan sumber daya alam dalam masyarakat.
Modal fisik adalah modal yang tidak bergerak. Kualitas modal fisik
adalah derajat antara publik dan investor pribadi dengan investasi
publik seperti infrastruktur dan investasi pribadi seperti struktur
(resindensial, struktur, dan industri).
2) Modal Manusia
Modal ini didefinisikan sebagai kemampuan, bakat, dan
pengetahuan anggota masyarakat. Hal ini penting untuk disadari
karena bahwa tidak hanya orang dewasa yang merupakan bagian
dari persamaan modal manusia, tetapi anak-anak dan remaja juga

6
berkontribusi. Ini termasuk keterampilan menjual pada tenaga kerja,
keterampilan kepemimpinan, latar belakang pendidikan umum,
pengembangan seni dan apresiasi, kesehatan, keterampilan lainnya,
dan pengalaman. Modal manusia adalah modal berjalan.
3) Modal sosial
Mengacu pada hubungan sosial dalammasyarakat dan dapat
merujuk kepada kepercayaan, norma, dan jaringan sosial yang
didirikan. Modal sosial ini terdiri dari saham, hubungan aktif antar
masyarakat, kepercayaan, sikap saling pengertian, dan kerjasama.
Terdapat banyak bentuk modal sosial seperti formal dan informal,
kuat dan lemah, mengikat dan menjembatani. Modal sosial dibagi
bagi kembali pada berbagai macam bentuk seperti
- Modal finansial, adalah akses untuk pasar kredit dan sumber
dana.
- Modal politik, adalah kemampuan masyarakat untuk
memberikan pengaruh politi dapat berupa kebijakan.
- Modal budaya
b. Proses Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Aset
Beberapa professional yang memberdayakan masyarakat,
melakukan pendekatan untuk melakukan pengembangan masyarakat.
Ini adalah bagian kedua memperkenalkan garis besar dari pendekatan
ini dan menjabarkan langkah besarnya.
Proses pengembangan masyarakat :
1) Community organizing
Pengorganisasian masyarakat focus pada mengatur dalam
lingkungan atau masyarakat spesifik. Berbeda dari bentuk-bentuk
pengorganisasian yang lain karena fokus pada masyarakat setempat
daripada kepentingan masyarakat.
2) Visioning
Visi adalah salah satu metode dari sekian banyak, seperti
mencari masa depan, untuk membuat pandangan jarak jauh

7
masyarakat. Dilihat dari peta kebutuhan masyarakat
menggambarkan suatu pernyataan visi dari satu masyarakat. Istilah
tersebut populer pada tahun 1990-an. Dasar pemikiran ini adalah
untuk menyatukan berbagai individu, asosiasi dan lembaga dalam
masyarakat mendatang, seringkali melalui beberapa bentuk
konsensus, pernyataan tertulis visi- masa depan dan untuk
mempersiapkan rencana untuk menggerakkan masyarakat yang
menuju pada visi.
3) Planning
Selama fase perencanaan ada tiga tugas dalam menyiapkan
rencana tindakan yaitu mengumpulkan data dan analisis, pemetaan
aset, dan survey masyarakat. Pengumpulan data dan analisis penting
untuk memahami situasi saat ini, perubahan yang terjadi komunitas
dari waktu ke waktu, dan implikasi dari data yang dikumpulkan.
Pemetaan aset adalah latihan berlangsung. Tujuannya adalah untuk
mengenali keterampilan, pengetahuan, dan sumber daya dalam
masyarakat. Ini adalah langkah pertama yang baik di awal untuk
memahami aset masyarakat.
Survei masyarakat dapat berguna dalam mengidentifikasi masalah
pada tahap awal dari proses perencanaan dan atau memperbaiki ide-
ide atau kebijakan tertentu sebagai masyarakat mulai berpikir
tentang tujuan atau rencana aksinya. Sebuah survei masyarakat akan
memungkinkan berbagai organisasi dalam masyarakat untuk:
- Mengumpulkan informasi tentang sikap masyarakat dan
opini mengenai masalah tepat didefinisikan, masalah, atau
peluang.
- Bagaimana menentukan masyarakat peringkat masalah,
masalah, dan peluang dalam rangka kepentingan dan urgensi.
- Memberikan publik suara dalam menentukan kebijakan, tujuan,
dan prioritas.
- Tentukan dukungan publik untuk inisiatif

8
- Evaluasi program dan kebijakan saat ini
- Akhir spekulasi tentang "apa yang orang pikirkan" atau "apa
yang benar-benar orang inginkan".
4) Public participation
Menentukan masa depan masyarakat dan bagaimana masyarakat
akan mendapat poin A atau poin B merupakan usaha
penting.Partisipasi masyarakat yang efektif harus baik fungsional
untuk tujuan tertentu dan berarti bagi masyarakat. Partisipasi
fungsional ketika membantu menciptakan keputusan yang lebih baik
dan rencana masyarakat lebih bijaksana atau dokumen lain yang
dapat membantu organisasi, lembaga, dan individu memahami
bagaimana komunitas mereka bergerak maju. Partisipasi bermakna
ketika menciptakan kesempatan bagi publik untuk pekerjaan
yangberpengaruh atas keputusan dan merasakan rasa kepemilikan
terhadap produk. Partisipasi masyarakat juga akan berfungsi ketika
dapat membantu memutuskan keputusan yang lebih baik dan
rencana masyarakat yang lebih bijaksana atau beberapa dokumen
lain dapat membantu memahami organisasi, institusi, dan indiviudal
bagaimana masyarakat mereka dapat bergerak manggapai masa
depan.
5) Implementation and evaluation
Tindakan dalam pengembangan masyarakat adalah dimana
perubahan terjadi dan dimana masyarakat bisa melihat hasil yang
nyata. fase ini dalam proses pembangunan masyarakat, adalah titik
di mana memenuhi jalan. Ini adalah fase di mana individu,
kelompok, dan organisasi yang aktif daripada partisipasi pasif dalam
komunitas mereka.
c. Tantangan Dalam Proses Pengembangan Masyarakat
Sebuah peringatan penting untuk proses pengembangan masyarakat
adalah sulit, memakan waktu, dan mahal. Kesulitan dapat terjadi,
misalnya ketika terlalu banyak kepentingan yang beragam tidak dapat

9
atau tidak akan ditemukannya kesamaan tindakan tertentu atau bahkan
tidak dapat menemukan arah yang harus diambil suatu masyarakat.
Menciptakan sebuah faktor dimana keberagaman kepentingan bisa
didiskusikan yang dapat menjadikannya faktor penting dalam perbaikan
suatu masyarakat. Dalam usaha untuk menghancurkan halangan dan
rintangan, proses itu sendiri mungkin memakan waktu, yang bisa
menimbulkan rasa frustasi bagi individu atau kelompok yang suka
langsung mengambil tindakan. Hal ini sangat sulit untuk
mempertahankan ketertarikan dan komitmen untuk berusaha jika
peserta tidak bisa memusatkan diri pada kesuksesan.
Suatu harga dari suatu proses bergantung pada jumlah dan tipe
partisipasi masyarakat yang digunakan dalam perhitungan proses selain
jumlah dan jenis data yang disimpulkan dan dianalisis. Dengan
menciptakan suatu proses yang dapat dikelola, cocok untuk masyarakat,
dan cocok dengan anggaran yang dianggap penting; proses
pengembangan masyarakat bisa menjadi kepentingan dan lebih bernilai
dari produk-produknya.

2.2 Usaha Kecil Menengah (UKM)


Usaha Kecil Menengah atau yang sering disingkat UKM merupakan salah
satu bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga
dengan negara Indonesia. UKM ini sangat memiliki peranan penting dalam
lajunya perekonomian masyarakat. UKM ini juga sangat membantu negara atau
pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat UKM juga
banyak tercipta unit unit kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang
dapat mendukung pendapatan rumah tangga. Selain dari itu UKM juga memiliki
fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas
lebih besar. UKM ini perlu perhatian yang khusus dan di dukung oleh informasi
yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha kecil dan
menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar.
A. Pengertian UKM

10
Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah
yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling
banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Dan usaha yang berdiri sendiri.
B. Keragaman Pengertian UKM
1. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998
Pengertian Usaha Kecil Menengah: Kegiatan ekonomi rakyat yang
berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan
kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari
persaingan usaha yang tidak sehat.
2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
Pengertian Usaha Kecil Menengah: Berdasarkan kuantitas tenaga
kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah
tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan
entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.
3. Berdasarkan Keputuasan Menteri Keuangan Nomor
316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994
Pengertian Usaha Kecil Menengah: Didefinisikan sebagai
perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan usaha yang
mempunyai penjualan atau omset per tahun setinggi-tingginya Rp
600.000.000 atau asset atau aktiva setinggi-tingginya Rp 600.000.000
(di luar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari :
 Bidang usaha ( Fa, CV, PT, dan koperasi )
 Perorangan ( Pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak,
nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa )
4. Menurut UU No 20 Tahun 2008
Pengertian Usaha Kecil Menengah: Undang undang tersebut
membagi kedalam dua pengertian yakni:
Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut :

11
 Kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
 Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp
2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas
usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut :
 Kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00
(sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha.
 Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00
(dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp
50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
C. Definisi dan Kriteria UKM menurut Lembaga dan beberapa Negara Asing
Pada prinsipnya definisi dan kriteria UKM di negara-negara asing
didasarkan pada aspek-aspek sebagai berikut:
 Jumlah tenaga kerja
 Pendapatan
 Jumlah aset
D. Klasifikasi UKM
Dalam perspektif perkembangannya, UKM dapat diklasifikasikan
menjadi 4 (empat) kelompok yaitu :
1. Livelihood Activities: Merupakan UKM yang digunakan sebagai
kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal
sebagai sektor informal.
Contoh: pedagang kaki lima.
2. Micro Enterprise: Merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin
tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.

12
3. Small Dynamic Enterprise: merupakan UKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4. Fast Moving Enterprise, merupakam UKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar
(UB).
E. Undang-Undang dan Peraturan UKM
Beberapa UU dan Peraturan tentang UKM:
1. UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.
2. PP No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan.
3. PP No. 32 Tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha
Kecil.
4. Inpres No. 10 Tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah.
5. Keppres No. 127 Tahun 2001 tentang Bidang/Jenis Usaha Yang
Dicadangkan. Untuk Usaha Kecil dan Bidang/Jenis Usaha Yang
Terbuka Untuk Usaha Menengah atau Besar Dengan Syarat Kemitraan.
6. Keppres No. 56 Tahun 2002 tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil
dan Menengah.
7. Permenneg BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan
Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina
Lingkungan.
8. Permenneg BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan
Badan Usaha Milik Negara.
9. Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah.
F. Peranan UKM
Peranan UKM menjadi bagian yang diutamakan dalam setiap
perencanaan tahapan pembangunan yang dikelola oleh dua departemen:
1. Departeman Perindustrian dan Perdagangan
2. Deparetemen Koperasi dan UKM

13
Namun demikian usaha pengembangan yang dilaksanakan belum,
terlihat hasil yang memuaskan, kenyataanya kemajuan UKM masih
sangat kecil dibandingkan dengan usaha besar.
Kegiatan UKM meliputi berbagai kegiatan ekonomi, namun
sebagian besar berbentuk usaha kecil yang bergerak disektor pertanian.
UKM juga mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan
ekonomi nasional, oleh karna itu selain berperan dalam pertumbuhan
ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga juga berperan dalam
pendistribusian hasil hasil pembangunan. Kebijakan yang tepat untuk
mendukung UKM seperti:
 Perizinan
 Tekhnologi
 Struktur
 Manajeman
 Pelatihan
 Pembiayaan
G. Permasalahan yang dihadapi oleh UKM antara lain meliputi:
Faktor Internal:
1. Kurangnya permodalan-permodalan
Merupakan faktor utama yang diperlukan untuk mengembangkan suatu
unit usaha. Kurangnya permodalan UKM, karena pada umumnya usaha
kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang
sifatnya tertutup.
2. Sumber Daya Manusia yang terbatas
Keterbatasan SDM usaha kecil baik dari segi pendidikan formal maupun
pengetahuan dan keterampilannya sangat berpengaruh pada manajemen
pengelolaan usahanya, sehingga usaha tersebut sulit untuk berkembang
secara optimal.
3. Lemahnya Jaringan Usaha dan Kemampuan Penetrasi Usaha Kecil

14
Jaringan usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi rendah
maka produk yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan
mempunyai kualitas yang kurang kompetitif.
Faktor Eksternal:
1. Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif dengan kebijaksanaan
Pemerintahnuntuk menumbuhkembangkan Usaha Kecil dan Menengah
(UKM). Terlihat dari masih terjadinya persaingan yang kurang sehat
antara pengusaha-pengusaha kecil dan pengusaha besar.
2. Terbatasnya Sarana dan Prasarana Usaha
Kurangnya informasi yang berhubungan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi menyebabkan sarana dan prasarana yang
mereka miliki juga tidak cepat berkembang dan kurang mendukung
kemajuan usaha.
3. Terbatasnya akses pasar
Akses pasar akan menyebabkan produk yang dihasilkan tidak dapt
dipasarkan Secara kompetitif baik dipasar nasinal maupun iternasional.
H. Upaya untuk Pengembangan UKM
Perlu diupayakan hal-hal berikut:
1. Penciptaan iklim usaha yang kondusif
Mengusahakan keamanan berusaha dan ketentraman serta
penyederhanaan prosedur perizinan usaha, keringanan pajak dsb.
2. Perlindungan usaha jenis jenis tertentu
Terutama jenis usaha tradisional yang merupakan usaha golongan
ekonomi lemah, harus mendapatakan perlindungan dari pemerintah baik
melalui undang-undang maupun peraturan pemerintah.
3. Mengembangkan Promosi
Untuk lebih mempercepat kemitraan antara UKM dengan usaha-usaha
besar.
I. Peran Usaha Kecil dan Menengah
Peranan UKM dalam perekonomian tradisional di akui sangat besar.
Hal ini dapat dilihat dari kontribusi UKM terhadap lapangan kerja,

15
pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan sebagai
penggerak peningkatan ekspor manufaktur atau nonmigas. Terdapat
beberapa alasan pentingnya pengembangan UKM:
 Fleksibilitas dan adaptabilitas UKM dalam memperoleh bahan mentah
dan peralatan. Relevansi UKM dengan proses-proses desentralisasi
kegiatan ekonomi guna menunjangnya integritas kegiatan pada sektor
ekonomi yang lain. Potensi UKM dalam menciptakan dan memperluas
lapangan kerja.
 Peranan UKM dalmfi jangka panjang sebagai basis untuk mencapai
kemandirian pembangunan ekonomi karna UKM umumnya diusahakan
pengusaha dalam negeri dengan menggunakan kandungan impor yang
rendah.

2.3 Pembudidayaan Ikan Bandeng


Ikan bandeng (Chanos chanos Forskal ) merupakan salah satu jenis ikan air
payau yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Jenis Ikan ini sudah dikenal oleh
masyarakat luas karena merupakan salah satu sumber protein hewani yang
memiliki nilai gizi yang cukup tinggi serta ditunjang dengan rasanya yang enak
dan memiliki kandungan kolesterol yang rendah sehingga aman untuk
kesehatan. Pengolahan produk ikan bandeng yang semakin meningkat pada saat
ini, seperti bandeng presto yang semua tulang dan durinya menjadi lunak, yang
menyebabkan meningkatnya jumlah yang mengkonsumsi ikan bandeng,
sehingga permintaan pasar akan ikan bandeng akhir-akhir ini terus meningkat.
Kondisi ini memberikan peluang kepada pembudidaya untuk
mengembangkan usaha budidaya bandeng (Chanos chanos Forskal) di seluruh
wilayah Indonesia yang berpotensi sehingga dapat memenuhi ketersediaan
pasokan ikan bandeng. Untuk memenuhi kebutuhan ikan bandeng yang terus
meningkat dan berkesinambungan hanya dapat dilakukan melalui
pengembangan budidaya. Dengan terus berkembangnya teknologi pembenihan
ikan bandeng, memungkinkan teknologi pembesaran ikan bandeng dapat

16
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak menjadi kendala dalam
teknologi pembesarannya.
Klasifikasi Ikan Bandeng
Secara taksonomi bandeng dapat diklasifiksasikan sebagai berikut:
Class : Pisces
Sub Class : Teleostei
Ordo : Copterygii
Family : Chanidae
Genus : Chanos
Spesies : Chanos chanos Forskal
Morfologi Ikan Bandeng
Ikan bandeng di Indonesia dikenal juga dengan nama Bandang, Bolu,
Muloh, dan Agam, tetapi dalam perdagangan internasional ikan bandeng
dikenal dengan sebutan Milk fish.
Ikan bandeng memiliki ciri khas yaitu bentuk badan yang langsing
berbentuk torpedo, sirip ekor bercabang (tanda ikan perenang cepat), berwarna
keperak-perakan, mulut terletak di ujung kepala dengan rahang tanpa gigi,
lubang hidung terletak di depan mata, mata diselimuti selaput bening
(subcutaneous). Panjang badan di laut dapat mencapai 1 meter tetapi dalam
tambak panjangnya tidak lebih dari 50 cm. Hal ini disebabkan karena pengaruh
keterbatasan ruang gerak, dan karena sengaja dipanen sebelum menjadi dewasa.
Proses Pembesaran Ikan Bandeng
Dalam usaha pembesaran pada hakekatnya merupakan pengelolaan lanjutan
dari kegiatan penggelondongan yang dilakukan dengan menggunakan metode
budidaya dengan tujuan meningkatkan produksi tambak. Metode budidaya
yang dapat dilakukan antara lain yaitu metode budidaya bandeng secara
tradisional yang disempurnakan, metode progresif, metode modular, dan
metode penebaran berganda.
Dari keseluruhan metode tersebut inti kegiatan budidayanya sama yaitu
meliputi perbaikan dan persiapan tambak, penebaran ikan, perawatan selama

17
pemeliharaan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemberian pakan
tambahan, dan mempertahankan kualitas air agar tetap layak.
1. Pemilihan Lokasi
Lokasi tambak budidaya ikan bandeng yang dipilih mempunyai persyaratan
antara lain:
 Lahan mendapatkan air pasang surut air laut. Tinggi pasang surut yang
ideal adalah 1,5 – 2,5 m. Pada lokasi yang pasang surutnya lebih rendah
dibawah 1 meter maka pengelolaan air menggunakan pompa.
 Tersedia air tawar untuk mengatur kadar garam yang sesuai bagi
pertumbuhan ikan bandeng.
 Tekstur tanah yang ideal adalah liat berpasir, karena tanah ini dapat
menahan air dengan baik.
 Lokasi ideal terdapat sabuk hijau (green belt) yang ditumbuhi hutan
mangrove dengan panjang minimal 100 m dari garis pantai.
 Keadaan sosial ekonomi mendukung operasional budidaya seperti
keamanan yang kondusif.
2. Persiapan Tambak
Persiapan lahan adalah proses penyiapan lahan tambak mulai pengeringan
lahan sampai siap ditebar benih untuk pembesaran ikan bandeng. Persiapan
tambak sangat menentukan keberhasilan budidaya. Tahapan Persiapan
tambak adalah sebagai berikut:
a. Perbaikan sarana dan Prasarana
Memperbaiki secara menyeluruh mulai pintu air, pematang, caren,
saringan, saluran pemasukan, saluran pengeluaran dan peralatan lainnya
seperti pompa air, jala lingkar (untuk sampling pertumbuhan ikan).
b. Pengeringan Lahan
Lama pengeringan tergantung cuaca dan kondisi tanah. Tanah yang
mempunyai ketebalan lumpur dalam membutuhkan waktu lebih dari 3
minggu sedangkan tanah liat berpasir membutuhkan waktu cukup 10
hari. Tujuan pengeringan ini adalah mempercepat penguapan gas racun-

18
racun, memberantas hama penyakit, mempercepat proses penguraian
dan menaikan pH tanah.
c. Pengangkatan Lumpur
Endapan lumpur sisa pemeliharaan periode sebelumnya berwarna hitam
dan terletak ditengah tambak atau didekat pintu pengeluaran. Lumpur
ini banyak mengandung bahan organik dan gas-gas beracun seperti asam
sulfida sehingga lumpur ini perlu diangkat. Endapan lumpur diangkat
kepermukaan tanggul.
d. Pengapuran Tanah
Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH tanah serta membunuh
bakteri pathogen yang ada dan organisme hama. Kapur yang digunakan
untuk pekerjaan ini adalah kapur pertanian (CaCO3). Dosis yang
digunakan tergantung pada kondisi pH tanah. Semakin rendah pH tanah
maka kebutuhan kapur untuk pengapuran semakin banyak.
e. Pemupukan
Dalam pemeliharaan ikan bandeng penyediaan makanannya dapat
berupa makanan alami dan makanan buatan. Jenis makanan alami
ditambak dapat berupa klekap, lumut, plankton, dan organisme dasar
atau benthos. Namun demikian jarang sekali semua jenis tersebut dapat
hidup dan tumbuh dalam tempat dan waktu yang bersamaan. Hal ini
tergantung dari keadaan kualitas tanah dan air serta kedalaman air
ditambak.
Dalam penumbuhan pakan alami tersebut mempunyai tatacara yang
berbeda tergantung dari jenis pakan alami yang diinginkan. Sehubungan
dengan hal tersebut kebutuhan jenis pupuk yang digunakan untuk proses
penumbuhannya pun berbeda. Untuk penumbuhan klekap yang
merupakan kumpulan jasad renik yang disusun oleh algae biru, benthos,
diatom, bakteria, dan organisme renik hewani, diperlukan pupuk
organik seperti dedak halus, bungkil kelapa, kotoran sapi, kotoran
kerbau, dan kotoran ayam.

19
Jumlah pupuk yang digunakan tergantung dari kesuburan tanah tersebut,
pada umumnya dosis pupuk organik berupa dedak halus diperlukan 500-
1000 kg/ha, bungkil kelapa diperlukan 500-1000 kg/ha, kotoran
kerbau/sapi 1000-3000kg/ha, kotoran ayam jumlah pupuk organik yang
diperlukan 500 kg/ha.
Penggunaan pupuk anorganik dalam penumbuhan klekap terdiri dari
pupuk Urea dan TSP yang digunakan dengan perbandingan 2:1. Dosis
pupuk urea adalah 100 kg/ha dan TSP 50 kg/ha. Aplikasi pupuk
anorganik dilakukan setelah didahului oleh pemasukan air tahap
pertama setinggi 5-10 cm dan dikeringkan kembali. Pada pemasukan air
berikutnya dilakukan dengan ketinggian 10-15 cm yang selanjutnya
dilakukan penebaran pupuk anorganik sesuai dengan dosis tersebut.
Penggunaan pupuk organik dilakukan dengan cara diletakan pada
beberapa tempat dibagian tambak secara merata sebelum dilakukan
pemasukan air tahap pertama.
Untuk penumbuhan pakan alami jenis lumut yang komposisi utamanya
adalah alga hijau berfilamen diperlukan kedalaman air antara 40-60 cm.
Kisaran kadar garam yang diperlukan untuk penumbuhan lumut adalah
25 promil atau lebih. Jenis lumut yang umum tumbuh ditambak adalah
lumut sutera (Chaetomorpha sp), dan lumut perut ayam (Enteromorpha
sp). Jenis algae hijau filamen lainnya juga merupakan jenis lumut adalah
Cladophora sp. dan Vaucheria sp.
f. Pengisian Air Sebelum Tebar
Pada saat terjadi pasang naik cukup tinggi air dimasukan kedalam
tambak setelah melalui saringan di pintu air pemasukan (inlet).
Ketinggian air dipelataran tambak lebih kurang 10 cm. Kemudian pintu
air pemasukan ditutup dan air dalam tambak dibiarkan selama tiga hari,
dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar berada pada
kondisi baik untuk pertumbuhan pakan alami.
Pada saat pemasukan air berikutnya dilakukan penggunaan Saponin (tea
seed) untuk pemberantasan hama yang ada di dalam tambak dan untuk

20
merangsang pertumbuhan phytoplankton. Setelah diberi saponin,
tambak dibiarkan hingga 5-7 hari. Setelah diyakini bahwa berbagai
hama di dalam tambak telah mati, maka pengisian air kembali
dilakukan.

Pada tahap ini ketinggian air dipelataran cukup 10 cm dan dibiarkan


selama 3 hari untuk dilakukan pemupukan dasar. Kemudian setelah
pemupukan dilakukan penambahan air pada tambak dilakukan secara
bertahap sesuai dengan pertumbuhan pakan alami (klekap). Pada
ketinggian air 40 cm dari pelataran tambak maka air tambak
dipertahankan untuk persiapan penebaran benih ikan.
3. Persiapan Benih
Dalam persiapan benih ikan bandeng yang akan ditanam dalam
proses pembesaran terdapat beberapa tahapan kegiatan yang harus
dilakukan terlebih dahulu. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai
berikut.
a. Kegiatan Peneneran
Kegiatan peneneran adalah pemeliharaan benih ikan bandeng dari
ukuran nener hingga mencapai ukuran 5-7 cm. Ukuran benih ikan ini
sudah dapat digunakan pada kegiatan penggelondongan. Luas tambak
untuk kegiatan peneneran relatif lebih kecil dan biasa dikenal dengan
sebutan baby box. Perbandingan luas petak peneneran,
penggelondongan, dan pembesaran adalah 1:9:90. lama pemeliharaan
dipetak peneneran berkisar 30-45 hari tergantung pada kondisi pakan
alami dan ukuran ikan.
b. Kegiatan Penggelondongan
Kegiatan penggelondongan adalah lanjutan pemeliharan benih dari
ukuran gelondongan kecil (pre-fingerling) hingga mencapai ukuran
gelondongan. Kegiatan penggelondongan ini dilakukan kurang lebih
selama 30 hari atau pada saat ukuran berat ikan antara 3-5 gr/ekor.

21
Setelah kegiatan penggelondongan baru benih ikan bandeng dapat
dipelihara di petak pembesaran.
4. Penebaran Benih
Faktor-faktor penebaran benih yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut (Mudjiman, 1988):
a. Padat Tebar
Benih ikan bandeng yang ditebar dipetak pembesaran untuk
menghasilkan ikan ukuran konsumsi disesuaikan dengan metode
pembesaran ikan bandeng yang dilaksanakan. Untuk metode tradisional
yang disempurnakan padat tebarnya adalah 2-3 ekor/ m2.
Lama pemeliharaan pada pembesaran ikan bandeng dengan metode
tradisional yang disempurnakan adalah 4 bulan.
b. Waktu Penebaran
Penebaran benih bandeng harus segera dilaksanakan setelah petakan
tambak siap untuk pemeliharaan. Warna air tambak terlihat kehijauan
oleh plankton. Keterlambatan penebaran akan memberikan peluang
hama dan penyakit berkembang didalamnya.
Waktu penebaran dilakukan sore hari atau menjelang matahari
terbenam pukul 16.00-18.00 atau pagi hari sebelum matahari terbit
sampai pukul 07.30 karena pada waktu ini kondisi fluktuasi suhu tidak
mencolok, parameter air dan lingkungan tidak banyak berubah.
c. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian biota yang dipelihara dengan
lingkungan baru yang akan digunakan untuk budidaya ikan. Melalaui
proses adaptasi ini secara fisiologi dan kebiasaan hidupnya secara
perlahan-lahan disesuaikan dengan lingkungan barunya.
Dalam kegiatan aklimatisasi sebelumnya telah disediakan petakan
khusus yaitu petakan yang sangat sempit yang dibuat hanya untuk
sementara dalam kegiatan aklimatisasi atau penyesuaian benih pada
tambak. Ukuran petak ini disesuaikan dengan banyaknya benih yang
akan ditebarkan.

22
Petakan ini dibuat di dekat pintu air dan dibatasi oleh pematang yang
sempit (kecil). Diatas pematang dibangun atap yang terbuat dari gedek
bambu yang dilapisi dengan plastik atau dari daun kelapa (welit).
Kegunaan atap ini adalah sebagai pelindung bagi benih dari sengatan
sinar matahari yang kuat dan hujan, karena air hujan yang langsung
mengalir kepetak aklimatisasi dapat menyebabkan kematian pada benih.
Petak aklimatisasi ini diperlukan baik pada musim kemarau maupun
pada musim hujan.
5. Pemberian Pakan
Pakan merupakan komponen penting karena mempengaruhi
pertumbuhan ikan, lingkungan budidaya serta memiliki dampak fisiologis
dan ekonomis. Kelebihan pemberian pakan akan menyebabkan bahan
organik yang mengendap terlalu banyak sehingga akan menurunkan
kualitas air demikian juga kekurangan pakan akan menyebabkan
pertumbuhan ikan turun dan tubuhnya lemah sehingga daya tahan terhadap
penyakit menurun. Pakan disebarkan secara merata ke dalam tambak.
Jenis pakan yang diberikan adalah pakan buatan dan pakan alami.
Pakan buatan berbentuk pellet dengan berbagai ukuran yang disesuaikan
dengan ukuran (size) ikan. Kandungan nutrisi yang dibutuhkan dalam pakan
ikan bandeng (Chanos chanos Forskal) antara lain protein, karbohidrat,
lemak, asam lemak, vitamin serta mineral.
Pakan hidup adalah organisme hidup dalam tambak yang berfungsi
sebagai pakan ikan. Pada umumnya jenis pakan ini adalah plankton. Fungsi
plankton disamping sebagai pakan alami bagi ikan adalah penghasil oksigen
dalam air.
6. Monitoring Pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan dimaksudkan untuk mengetahui
pertumbuhan dalam petakan tambak secara individu, populasi dan biomas
yang dilakukan secara periodik. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dalam
pengambilan contoh (sampel) dan pemeriksaan ikan dengan dilakukan
penjalaan (Jala tebar). Untuk mengamati respon ikan terhadap pakan serta

23
kesehatan ikan dapat diamati menggunakan anco, sedangkan pengamatan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup dilakukan pengamatan langsung
berupa jumlah yang mati. Data yang terkumpul selanjutnya dapat digunakan
untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan.
Monitoring pertumbuhan ini digunakan untuk menentukan jumlah
pakan, infeksi hama penyakit serta waktu panen yang tepat. Pengambilan
sampel atau sampling dilakukan tidak hanya pada satu titik tambak, atau
hanya pada sisi tambak dimana ikan sering diberi pakan, tetapi harus
dilakukan pada lima titik tambak, yaitu bagian tengah tambak dan empat
titik yang lainnya yaitu empat sudut pada tambak. Hal ini bertujuan agar
sampling atau pengambilan sampel yang dilakukan dapat benar-benar
mewakili organisme yang dibudidayakan di tambak secara akurat.
7. Perawatan Tambak Selama pembesaran
Untuk keberhasilan usaha pembesaran bandeng maka perlu
dilakukan perawatan dengan baik selama pemeliharaan. Perawatan tersebut
meliputi pengaturan air, perawatan pintu dan pematang, pemupukan susulan
serta pemberian pakan tambahan.
a. Pengaturan Air
Selama pemeliharaan, kualitas dan kedalaman air harus diperhatikan,
sehingga benih dapat hidup dengan layak. Pergantian air yang teratur
mempunyai keuntungan dalam menjaga kualitas air tetap baik. Selain
itu, unsur hara dan organisme makanan benih ikan bandeng dapat
disuplai ke tambak. Bila air tambak tidak pernah atau jarang diganti,
akan menyebabkan terakumulasinya bahan beracun di tambak dan itu
sangat berbahaya bagi kehidupan benih. Pergantian air dilakukan secara
teratur bersamaan dengan adanya air pasang. Caranya adalah dengan
mengeluarkan setengah atau sepertiga bagian air tambak sebelum terjadi
air pasang, kemudian diganti dengan air pasang yang baru sampai
ketinggian air semula.
Pada saat setelah terjadi hujan, maka air di tambak perlu segera
diganti, karena air hujan akan mengencerkan salinitas. Hal ini dapat

24
membahayakan kehidupan ikan yang sedang dipelihara. Kemudian juga
untuk menjaga salinitasnya agar tetap stabil dan baik (payau) diperlukan
juga sumber air tawar, sumber air tawar bisa diperoleh dari air sungai.
b. Perawatan Pintu dan Pematang
Untuk menunjang keberhasilan pemeliharaan benih, pematang dan
pintu tambak harus selalu diperiksa dan dirawat dengan baik. Maksud
perawatan ini adalah untuk mencegah terjadinya kebocoran atau
rembesan air dari dalam tambak serta mencegah hilangnya benih.
Demikian pula saringan di pintu tambak harus dibersihkan dengan sikat,
untuk memudahkan dalam pertukaran air.
c. Pemupukan Susulan
Sebelum kondisi makanan alami di tambak menipis (habis), segera
dilakukan pemupukan susulan. Pemupukan ini dimaksudkan untuk
mensuplai unsur hara kedalam tambak, sehingga dapat menunjang
pertumbuhan makanan alami. Jumlah pupuk yang diberikan tergantung
dari kesuburan makanan alami yang ada. Sebagai patokan dapat
digunakan pupuk Urea dan TSP dengan dosis masing-masing 10 kg/ha.
Dapat juga ditambah dedak halus sebanyak 100 kg/ha. Selain sebagai
pupuk, dedak halus juga berfungsi sebagai makanan tambahan.
Mudjiman juga mengatakan bahwa pemupukan sebaiknya dilakukan
pada saat ada air pasang. Hal ini di maksudkan bila hasil pemupukan
berpengaruh kurang baik terhadap kualitas air (seperti terjadi blooming),
maka dengan segera dapat dilakukan pertukaran air. Pemupukan tidak
boleh dilakukan pada saat akan turun hujan, karena air hujan dapat
mengencerkan hasil pemupukan tersebut. Selain itu dalam melakukan
pemupukan, pelataran tidak boleh diinjak-injak, karena akan merusak
klekap yang tumbuh
d. Makanan Tambahan
Pemberian makanan tambahan dilakukan apabila keadaan makanan
alami sudah tidak dapat lagi menunjang pertumbuhan bandeng yang
dipelihara. Jenis makanan buatan yang digunakan adalah pelet. Jumlah

25
makanan yang diberikan kira-kira 5% dari berat total tubuh per hari.
Pemberian makanan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.
8. Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang sering mengganggu kegiatan budidaya ikan
bandeng adalah sebagai berikut:
a. Jenis-jenis hama berupa:
 Ikan pemangsa seperti Kakap, Kerong-kerong, Payus, Bulan-bulan
dan jenis ikan penyaing seperti Tilapia, dan Belanak.
 Ketam/kepiting, Belut, Tonang, yang merupakan hama yang sering
membuat lubang dan merusak pematang pada tambak.
 Ular air dan Burung seperti, Pucuk ikan, Bangau, dan lainnya,
sebagai pemangsa yang sering mengancam kehidupan ikan dalam
kegiatan budidaya di tambak.
Selain itu perlu diperhatikan pengontrolan tambak secara terus-menerus
yaitu mengurangi atau membasmi organisme pengganggu atau pemakan
bentik yang tumbuh di sekitar tambak. Larva chironomid, cacing
polychaete, dan siput yang merupakan sumber penyakit. Penggunaan
kapur dan urea pada saat persiapan tambak akan membasmi organisme
tersebut.
b. Metode Pengandalian Hama
Ada 2 metode pengendalian hama yaitu :
1. Secara fisik dan
2. Secara kimiawi
Secara fisik antara lain dengan cara :
 Pengeringan dasar tambak
 Pemasangan saringan pada pintu air
 Pemasangan perangkap
 Pemasangan tali-tali tidak berwarna (nylon) yang direntangkan di
atas tambak untuk mencegah burung pemangsa.
c. Cara Pemakaian Pestisida

26
1. Bungkil biji teh ditumbuk hingga halus (bubuk), kemudian
direndam dalam air selama semalam. Disebar merata ke dalam
tambak.
2. Bubuk rotenon dicampur dengan air secukupnya, kemudian disebar
merata ke dalam tambak.
3. Akar tuba ditumbuk hingga halus (bubuk), direndam dalam air
selama satu malam, kemudian diambil ekstraknya dan disebarkan
merata kedalam tambak.
4. Brestan dicampur air secukupnya, kemudian disebar merata ke
dalam tambak. Setelah aplikasi tambak harus direklamasi (genangi
tambak dengan air laut atau payau selama 1 malam, lalu kuras)
5. Sevin, dengan membuat umpan dari ikan rucah yang dilumuri
dengan bubuk sevin, kemudian ditaruh disekitar lubang kepiting
(pada saat pemeliharaan) atau disebar merata pada saat persiapan
tambak (tambak berair sekitar 10 cm) dan setelah aplikasi tambak
perlu dicuci.
d. Penyakit pada Bandeng
Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulan
gangguan pada ikan, sehingga dapat menimbulan kerugian dalam
bereproduksi. Timbulnya penyakit pada ikan disebabkan oleh
ketidakserasian antara 3 faktor, yaitu kondisi lingkungan, kondisi ikan
itu sendiri, dan organisme patogen.
Jenis penyakit yang pernah dilaporkan yang menyerang ikan bandeng
adalah:
1. Sisik atau kulit kotor penyakit ini disebabkan oleh Caligus Sp dan
Piscicolla Sp, gejalanya yaitu nafsu makan ikan berkurang, susunan
sisik rusak, ikan terlihat malas.
2. Sirip ekor patah dan rusak penyakit ini disebabkan oleh Fiorrot
disease

9. Pemanenan

27
Setelah ikan bandeng mencapai ukuran konsumsi, maka dilakukan
pemanenan. Panen dapat dilakukan secara bertahap (selektif) maupun
secara total.
a. Panen Bertahap
Panen bandeng secara bertahap dapat dilakukan dengan metode
menyerang air atau yang dikenal dengan sebutan ngerocok. Hal ini
sesuai dengan sifat bandeng yang selalu menentang arus (aliran air).
Caranya adalah pada saat surut air tambak dikeluarkan sebagian.
Kemudian pada saat terjadi pasang yang cukup tinggi, air baru
dimasukan ke tambak melalui pintu air yang ditutup dengan saringan
kasar, ikan bandeng akan segera menyongsong datangnya air baru
tersebut. Dengan demikian, ikan akan terkumpul dalam petak
penangkapan (catching pond). Selanjutnya ikan tersebut ditangkap
dengan menggunakan jaring.
b. Panen Total
Pada umumnya panen bandeng secara total dilakukan dengan cara
pengeringan tambak. Caranya adalah air dalam tambak dikeluarkan
secara perlahan-lahan sampai air yang ada didalam tambak hanya
mengisi bagian pada caren saja. Ikan bandeng akan berkumpul di caren
tersebut. Pemanenan dapat dilakukan dengan alat berupa jaring yang
ditarik (diseret) sepanjang caren. Dapat juga menggunakan kerai
bambu yang didorong sepanjang caren oleh beberapa orang. Dengan
kerai ini, ikan dikumpulkan disuatu tempat tertentu yang luasnya
terbatas (sempit). Selanjutnya dilakukan penangkapan dengan alat
tanggok (scoop net).
c. Pemasaran
Pemasaran merupakan lanjutan aktivitas pasca panen yang
menentukan harga. Tinggi rendahnya harga di tingkat petani
pembudidaya ikan bandeng seringkali merupakan manipulasi dari
pedagang pengumpul atau perantara untuk mendapatkan keuntungan
yang lebih besar.

28
Harga sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari konsumen dan
penawaran dari produsen yang efektif, pasok uang harga, barang
subtitusi, faktor musim, margin pemasaran, pola distribusi,
kebijaksanaan harga dan harga tingkat umum.

29
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Lokasi


1. Waktu pelaksanaan
Pemberdayaan masyarakat berbasis aset yang dikerjakan oleh penulis
dimulai pada hari Senin, 04 Mei 2020 yang berlokasikan di Kelurahan Untia
Kota Makassar. Kegiatan awal yang dilakukan berupa kunjungan langsung
ke Kelurahan dengan maksud untuk mengamati langsung dan mencocokkan
pendapat penulis dengan keadaan yang sebenarnya mengenai potensi atau
aset yang dimiliki di Kelurahan Untia.
2. Lokasi pelaksanaan
Lokasi pelaksanaan di Kelurahan Untia Kecamatan Biringkanaya
Kabupaten Makassar, yang berbatasan dengan Kelurahan Bulurokeng
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif analitis dengan
pendekatan kualitatif, karena penelitian ini bertujuan memperoleh pemaparan
yang objektif dan mengungkapkan gambaran masalah yang terjadi khususnya
pada pengelolaan potensi di Kelurahan Untia. Selain itu metode lainnya yang
digunakan yaitu penelitian sederhana yang bersifat parsitipatif. Penelitian ini
digunakan dengan wawancara secara terbuka, baik secara individu maupun
kolektif (seperti diskusi bersama).

30
3.3 Skema Kerja

Mulai

Memilih Lokasi/Kawasan

Lokasi yang dipilih adalah


Kelurahan Untia Kecamatan Biringkanaya
Kabupaten Makassar

Persiapan Melakukan survey

Melakukan survey metode deskriptif analitis


dengan pendekayan kualitatif dan bersifat
sederhana dengan melakukan wawancara
secara lansung atau terbuka.

Yang menjadi acuan penulis


Pengolahan
Ikan Bandeng Menjadi Ikan
Pallucela

Memberikan Solusi
permasalahan Pengembangan
Potensi di Kelurahan Untia

Selesai

Gambar 3.1 Skema kerja

31
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Pengolahan Ikan Bandeng


Pallu Ce’la adalah salah satu kuliner khas kampung Bugis-Makassar. Sesuai
arti katanya (“Pallu”=Masak, dan “Ce’la”=Garam), Jadi Pallu Ce’la merupakan
masakan ikan bercita rasa asin dengan aroma khas kunyit. Ikan Pallu Ce’la
biasanya terbuat dari ikan Cakalang, Layang, Bandeng, Sibula’/Tembang.
Kebanyakan warga makassar suka mengkonsumsi ikan tersebut, ada yang
langsung beli jadi (sudah dimasak) adapula yang membuat sendiri dirumah.
Ikan ini banyak dijual di pasar-pasar Tradisional.
Pallu Ce’la biasanya dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana saja serta
mudah atau gampang didapatkan, antara lain garam serta kunyitnya saja. Dalam
pembuatan ikan Pallu Ce’la, kita harus memasak ikan tersebut dicampur dengan
bahan-bahan tadi hingga airnya betul-betul meresap, sehingga rasa garam serta
aroma kunyit merata kedalam tubuh ikan.
Di Kelurahan Untia Kota Makassar banyak Ikan Bolu (Bandeng), maka
Penulias akan mengembangkan Potensi Ikan Bandeng untuk diolah menjadi
Ikan Pallu Ce’la.
1. Menyiapkan Alat dan Bahan, Yaitu :
a. Alat
- Kompor
- Panci Besar
- Alat pemotong / Pisau
- Baskom
- Bambu (Dipotong seukuran ikan Bandeng)
b. Bahan
- Ikan Bandeng
- Garam
- Kunyit

32
2. Proses pembuatan Ikan Pallu Ce’la
a. Siapkan semua bahan seperti : Ikan Bandeng, Garam dan Kunyit

Gambar 4.1 Persiapan alat dan bahan


b. Bersihkan ikan Bandeng, keluarkan isi perutnya dan biarkan sisiknya
c. Tusuk ikan bandeng dengan bambu yang sudah dipotong kecil kedalam
mulut ikan sampai ke ekornya
d. Masukkan ikan bandeng kedalam panci, susun rapi

Gambar 4.2 Penyusunan ikan kedalam panci

33
e. Setiap susun ikan bandeng didalam panci ditaburi garam dan kunyit,
lakukan hal yang sama setiap lapisan susunan ikan bandeng sampai
panci terisi penuh.

Gambar 4.3 Pemberian garam dan kunyit


f. Isi air bersih pada panci yang telah diisi ikan bandeng, isi sampai penuh
g. Masak ikan bandeng sampai mendidih
h. Selesai

Gambar 4.4 Proses akhir pembuatan ikan pallu ce’la

4.2 Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Untia terhadap UKM


Pengolahan Ikan Bandeng
Salah satu potensi di Kelurahan Untia utamanya di sektor Home Industri
yaitu pembuatan ikan Pallu Ce’la khas Makassar. Produksi ikan Pallu Ce’la ini
masih tergolong sederhana, karena dilakukan secara tradisional dan hanya
dikerjakan oleh ibu-ibu. Proses pembuatan / pengolahan ikan Pallu Ce’la
tergolong cukup lama, sehingga hanya sebagian kecil yang memproduksinya

34
dan itupun hanya dilakukan oleh ibu-ibu. Adapun harga ikan Pallu Ce’la yang
diberikan tiap Home Industri per ekor yaitu Rp. 5.000,-.

4.3 Kelebihan dan Kekurangan dari UKM Pengolahan Ikan Bandeng


a. Kelebihan
 Menciptakan lapangan kerja baru
 Langkah strategis dalam meningkatkan, memperkuat dan memperkokoh
dasar kehidupan perekonomian di Kelurahan Untia, khususnya melalui
penyedia lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan dan tingkat
kemiskinan
 Jenis usaha ini memiliki pangsa pasar yang sangat luas karena
menyentuh seluruh lapisan masyarakat dari masyarakat dengan tingkat
ekonomi paling rendah hingga masyrakat kelas atas
 Bahan-bahannya yang mudah didapat
b. Kekurangan
 Proses pembuatannya yang lama
 Tidak mudah untuk meraup keuntungan
 Proses pembuatan / pengolahan ikan Pallu Ce’la tergolong lama

35
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan dan Saran


Mengetahui pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja pengolah untuk unit
usaha kecil menengah skala tradisional yaitu unit usaha ikan Pallu Ce’la dengan
variabel orientasi pasar yaitu orientasi pelanggan dan orientasi pesaing.
Pengolah ikan Pallu Ce’la harus memperhatikan keinginan konsumen, karena
pengolah ikan masih ada yang kurang memperhatikan keinginan konsumen dan
cenderung hanya sebatas menawarkan produk mereka tanpa menggali
keinginan konsumen tentang kebutuhan dan keinginan mereka.

5.1 Usulan/Rekomendasi Penulis


Home industri perlu melibatkan anak muda dalam produksi ikan pallu ce’la,
karena anak muda zaman sekarang cenderung lebih paham tentang dunia digital
utamanya marketing online. Sehingga penjualan ikan pallu ce’la dapat
dilakukan secara online melalui sosial media atau market place, melalui market
online pemasaran tidak hanya internal (dalam Kelurahan) , tetapi juga eksternal
(luar Kelurahan). Sehingga penghasilan yang didapat pun lebih besar dari yang
sebelumnya.

36
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Pentingnya pemberdayaan sosial masyarakat di masa globalisasi. (online)


https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/pentingnya-pemberdayaan-sosial-
kemasyarakatan-di-masa-globalisasi-49 Diakses 30 Mei 2020
Anonim.Bandeng.(online)
https://id.wikipedia.org/wiki/Bandeng Diakses 30 Mei 2020

http://www.usaha-kecil.com/usaha_kecil_menengah.html

http://galeriukm.web.id/news/kriteria-usaha-mikro-kecil-dan-menengah-umkm

http://infoukm.wordpress.com/

http://galeriukm.web.id/news/kriteria-usaha-mikro-kecil-dan-menengah-umkm

pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/…/31013-3-478126269633.doc

http://seputartambak.blogspot.com/2016/06/panduan-cara-budidaya-bandeng-
lengkap-dari-awal-sampai-panen.html

37