Anda di halaman 1dari 17

TUGAS RESUME

Disusun Oleh :

DASLI
DAB 116 123

Dosen :
FATMA SARIE,S.T.,M.T.
19720219 199702 2 001

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2020
Mekanika Batuan & Rekayasa tambang.

Ilmu Mekbat : ilmu Pengetahuan teoritik & terapan yg mempelajari


karakteristik,perilaku & respons massa batuan akibat perubahan keseimbangan medan gaya
disekitarnya,baik krn aktivitas manusia maupun alamiah.

Menurut US National Committee on Rock Mechanics(1964) & dimodifikasi (1974)


Mekbat mempelajari antara lain :
• Sifat fisik & mekanik serta karakteristik massa batuan.
• Berbagai teknik analisis tegangan & rengangan batuan.
• Prinsip yg menyatakan respons massa batuan thd beban.
• Metodologi yg logis utk penerapan teori & teknik mekanika utk solusi problem
fisik nyata dibidang rekayasa batuan.
Sifat massa batuan dialam & asumsi dasar:
1. Heterogen:
• Mineralogis :jenis mineral pembentuk batuan yg berbeda-beda.
• Butiran padatan :Ukuran&bentuk berbeda-beda.
• Void : ukuran,bentuk,&penyebaran berbeda-beda.
2. Anisotrop :
Memp sifat yg berbeda-beda pd arah yg berbeda.
3. Diskontinu :
Massa batuan selalu mgd unsur struk geologi yg mengakibatkannya tdk kontinu spt
krn kekar,sesar,retakan,fissure,bid perlapisan.Struk geologi ini cenderung
“memperlemah”kondisi massa batuan.

Bidang – bidang rekayasa disiplin mekbat berperan penting dlm :


1. rekayasa pertambangan : penentuan metode penggalian (rock cutting),pemboran
&peledakan batuan,stabilitas timbunan overburden,stabilitas timbunan overburden,stabilitas
terowongan & lombong(stoping).

2. Industri minyak bumi : pemboran 9oil drilling0, rock fracturing.


3. Rekayasa sipil : pondasi jembatan & gedung bertingkat,underground storage,tunnel
dangkal 7 dlm,longsoran lereng batu,pelabuhan,airport,bendungan dsb.
4. Lingkungan hidup ; rock fracturing kaitannya dgn migrasi polutan akibat limbah industri.

Interaksi fungsional dlm rekayasa pertambangan. Bertujuan utk mengembangkan suatu skedul
produksi & biaya yg berkesinambungan utk operasi penambangan.
Komponen & urutan program Mekbat utk pertambangan.
• Karakteristik Llokasi Penentuan sifat-2 hidromekanika dr massa batuan induk yg akan
disambung.
• Perumusan model tambang.Konseptualisasi data karakterisasi lokasi.
• Analisis Rancangan. Pemilihan & aplikasi metode matematika& Komputasional utk mengkaji
bbrp tataletak &strategi tambang.
• Pemantauan kinerja batuan ,pengukuran respons massa batuan akibat operasi penambangan.
• Analisis Retrospektif Kuantifikasi sifat massa batuan insitu & identifikasi bentuk respon
dominan dari struk tambang.

Pada gambar terlihat adanya multi pass loop:


- Thp karakteristik lokasi tdk pernahmenghasilkan data yg cukup komprenhensif yg dpt dipakai
utk merencanakan seluruh umur tambang.
- Rancangan tambang : adl proses evolutif dimana respons rekayasa dirumuskan utk
mencerminkan kinerja struk tambang pd kondisi.

Analisis Tegangan & Regangan.

1. Tegangan = stress (σ )
gaya luar yg mengenai bhn dibagi dgn luas penampang dari bhn yg kena gaya tsb.(kgf/cm²)
atau dampak dlm yg terjadi pada suatu benda akibat tekanan.

2. Regangan = strain (ε )
akibat stress (mrp fungsi kekuatan & tegangan.)
Strength (σ 1) : Gaya internal dr suatu bhn yg mempertahankan bhn tsb tetap pd bentuk
semula. (kgf/cm²)

Cat: Satuan international utk teg adl.Mpa.


1 Mpa =10kg/cm²~10bar=1kN/m².
σ = P/A kg/cm².
ε = ∆ l / l cm / cm takbersatuan.
∆ l=∆ l¹ + ∆ l².

Hub antara Teg dgn Regangan dinyatakan dlm Hk. Hooke :”Apabila dlm sebuah
benda padat dikenai tarikan atau tekan,mk akan terjadi pemanjangan atau pemendekan
yg besarnya sebanding dgn besar gaya tarikan atau tekanan,& panjang benda mula2,”. Atau
∆ l = (l/E) (Pl/A)
E : modulus elastisitas,Mpa
P/A = (∆ l/l). E
σ = ε .E E = σ / ε ,Mpa.
Karakteristik Batuan.

Sifat batuan dibagi 2 :


1. Sifat Fisik :
 Bobot Isi
 Berat jenis
 Porositas
 Absorbsi
 Void Ratio.
2. Sifat Mekanik :
 Kuat tekan
 Kuat tarik
 Modulus Elastisitas
 Poisson Ratio
 Sudut Geser Dalam
 Kohesi
 Kuat Geser.

Ditijau dr efeknya pengujian dibagi 2 :


 Non destructive Test : Pengujian tanpa merusak percontoh,mis : pengujian sifat fisik.
 Deastructive Test : Pengujian dgn merusak percontoh. Mis : pengujian kuat tekan kuat geser.

Sifat fisik batuan berkaitan dgn :


 Rancangan peledakan
 Perencanaan Penambangan
 Perhitungan beban & analisis tegangan
 Analisis kemantapan lereng

Penentuan sifat Fisik Batuan :


Wn = berat percontoh asli
Wo = berat percontoh kering
Ww = berat percontoh jenuh.
Wa = brt percth jenuh +air +bejana
Ws = brt percth jenuh dlm air Wa – Wb
Vtp:Vol percth tp pori = Wo-Ws
VT :Vol. percth total = Ww-Ws
1.Bobot Isi asli :
γ n=Wn/(Ww-Ws)

2.Bobot Isi kering :


γ d=Wo/(Ww-Ws)
3.Bobot Isi jenuh :
γ s= Ww/ (Ww-Ws)

4. Berat jenis Semua :


Wo / (Ww-Ws)
ρ ap =
γ w

5. Berat Jenis nyata :


Wo /(Wo-Ws)
ρ tr =
γ w

Wn – Wo
6. Kadar Asli Air = X100%
Wo

7.Kadar air jenuh :

Ww-Wo
X 100%
Wo

8.Derajat kejenuan :
Ww-Wo
X 100%
Ww-Wo

Ww-Wo
9. Porositas: n = X 100%

Ww-Ws

n
10. Void Ratio : e =
l–n

Structural geology atau struktur geologi


merupakan kenampakan yang dihasilkan
oleh gerak tektonik yang yang di pengaruhi oleh arus konveksi dar dalam bumi, sebagai hasil dari
deformasi
Deformasi merupakan perubahan struktur atau bentuk dari suatu objek yang disebabkan oleh
adanya gaya serta perubahan suhu, waktu serta komposisi objek

Untuk menyatakan struktur geologi, diperlukan posisi atau kedudukan garis atau bidang
setelah mengalami deformasi

posisi atau kedudukan bidang-bidang tersebut dinyatakan dalam jurus atau strike dan kemiringan atau
dip yang dipergunakan untuk menyatakan kedudukan semua bidag di alam.

 Jurus (Strike)
Jurus adalah arah grapis yang yang merupakan potongan antara bidang di alam dengan bidang
horizontal, dinyatakan terhadap arah Utara, searah jarum jam ke timur.
 Kemiringan (Dip)

Kemiringan adalah sudut yang terbentuk oleh perpotongan antara bidang pelapisan (bidang dari
struktur geologi) dengan bidang datar dan diukur pada penampang tegak yang tegak lurusnya

Jurus dan kemiringan diukur dengan mempergunakan kompas geologi. Kompas geologi
dilengkapi dengan water pas (round level) untuk membuat bidang horizontal dan klinometer (vernier
for vertical angles) untuk mengukur kemiringan bidang.
Keterangan
A –   B : Jurus (strike)  bidang ABCD diukur terhadap arah utara
α  : Kemiringan (dip) bidang ABCD diukur tegak lurus AB
β  : Kemiringan semu (apparent dip) 
A   –  O : Arah kemiringan (dip direction)

 KOMPRESI ( GAYA TEKAN )


Gaya yang cenderung menekan pada arah berlawanan pada suatu garis.
Gaya berupa kompresi dapat menghasilkan struktur berupa pelipatan, pensesaran dan
penunjaman.

 TENSI ( GAYA TARIK )


Gaya yang cenderung menarik pada arah yang berlawanan pada suatu garis. Gaya berupa
tensi dapat menghasilkan struktur berupa patahan.

 KOPEL ( GAYA GANDA )


 Terdiri dari 2 gaya yang sama dan bekerja pada arah yang berlawanan dalam bidang yang
sama, tetapi sepanjang satu garis.

 TORSI ( GAYA PUTAR )


 Gaya yang bekerja pada dua ujung benda dan berputar berlawanan arah atau memuntir.

 KEKAR (JOINT)
 Kekar merupakan struktur retakan / rekahan yang terbentuk pada batuan akibat suatu gaya
yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran.

Kekar terbentuk akibat dari gagalnya sebuah batuan untuk menahan elastisitasnya dari stress yang
mengenai suatu batuan. Karakteristik
umum yang ditemui pada kekar, ialah:
1. Pemotongan bidang perlapisan batuan
2. Biasanya terisi mineral lain/mineralisasi seperti kalsit, kuarsa, dan sebagainya. Oleh karena
sifatnya sebagai bidang retak, ia seringkali menjadi jalur perpindahan fluida. Kekar yang diisi
mineral disebut urat (vein), sedangkan yang tidak terisi mineral
1. disebut joint.
2. Dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan karakter retakan/rekahan, serta arah
3. gaya yang bekerja pada batuan tersebut.

Klasifikasi Kekar berdasarkan Bentuknya


 Bentuknya berpasangan dan arahnya sejajar satu sama lain.
 Kekar dengan bentuk tidak teratur, biasanya melengkung, bertemu atau bersilangan, bahkan
tidak memotong kekar lainnya.

Klasifikasi Kekar berdasarkan Ukuran/Dimensi


Master Joint
Memotong melalui sejumlah lapisan batuan atau bahkan satuan batuan dan mmepunyai ukuran hingga
ratusan meter.

Mayor Joint
Ukurannya lebih kecil dari master joint dan masih bisa untuk analisis struktur.

Minor Joint
Ukurannya dari beberapa meter hingga satu inchi. Kekar jenis ini tidak dapat digunakan untuk
analisis tektonik.

Mikro Joint
Ukurannya dari 1 inchi hingga 0.5 mm.

Klasifikasi Kekar Berdasarkan Proses Terjadinya (secara Tektonik)


Kekar Tarikan (Tensional Joint)
Kekar yang terbentuk dengan arah tegak lurus dari gaya yang cenderung untuk memindahkan batuan
(gaya tension). Hal ini terjadi akibat dari stress yang cenderung untuk membelah dengan cara
menekannya pada arah yang berlawanan, dan akhirnya kedua dindingnya akan saling menjauhi.
Kekar Gerus (Shear Joint)
Kekar gerus merupakan
kekar yang terbentuk oleh gaya kompresi. Biasanya berpasangan, pada breksi memotongf ragmen,
bidang kekar lurus dan rata. Batuan akan menjadi terkoyak atau menjadi rapuh.

Klasifikasi Kekar Berdasarkan Proses Terjadinya (secara Non-Tektonik)

Kekar Lembar (Sheet Joint)


Sekumpulan kekar yang kira-kira sejajar
dengan permukaan tanah, terutama pada batuan beku. Kekar ini terbentuk akibat penghilangan beban
batuan yang tererosi.

Kekar pengerutan (Srinkage Joint)

Disebabkan karena pendinginan


(pada batuan beku) atau pengeringan (pada batuan sedimen) yang biasanya
berbentuk polygonal yang memanjang.

SESAR (PATAHAN )

Sesar merupakan rekahan pada batuan yang mengalami pergerakan yang sejajar dengan bidangnya.
Blok di atas bidang sesar disebut hanging wall dan blok dibawah bidang sesar disebut foot wall.

Macam-macam sesar :

Sesar Normal / Sesar Turun (Extention Faulth)

Patahan dengan pergeseran vertikal dan yang bergeser turun ke bagian “hanging wall”.
Kemiringan bidang sesar biasanya cukup besar (> 45 derajat ).
Disini terjadi pemanjangan kulit bumi

Sesar Naik (Reverse Faulth)

Pergeseran vertikal dan yang bergeser naik bagian “hanging wall”. Kemiringan bidang sesar
umumnya kecil (<45 derajat).
Disini terjadi pemendekan kulit bumi.

Stabilitas Lereng

Proses dalam analisis stabilitas lereng


Mendeterminasi dan membandingkan tegangan geser yang terbentuk sepanjang permukaan bidang
gelincir terhadap kuat gesernya atau lebih dikenal dengan faktor keamanan (factor of safety).

Prinsip dasar stabilitas lereng

• Gravitasi selalu mengakibatkan gaya tarik material penyusun lereng menuju ke bawah
(hukum gravitasi)

• Friksi memberikan gaya perlawanan terhadap kecendurungan pergerakan akibat gravitasi

• Sudut lereng semakin besar, semakin besar pula kecenderungan material untuk bergerak ke
bawah.

Teori analisis stabilitas lereng

1. Kelongsoran lereng terjadi di sepanjang permukaan bidang longsor tertentu.

2. Massa tanah yang longsor dianggap berupa benda yang masif

3. Tahanan geser dari massa tanah pada setiap titik sepanjang bidang longsor tidak tergantung
dari orientasi permukaan longsoran.

4. Faktor aman didefinisikan dengan memperhatikan tegangan geser rata-rata sepanjang bidang
longsor yang potensial dan kuat geser tanah rata-rata sepanjang permukaan longsoran.

Analisa kestabilan lereng tak terbatas

Ditinjau dari 2 kondisi tanah :

 Tanah tak berkohesi

 Tanah berkohesi

1. Tanah tak berkohesi

• OA adalah kekuatan menahan dari tanah.

• OB sebagai komponen tegangan aktif yang bekerja.

• OB1 artinya lereng tidak stabil.

2. Tanah berkohesi

• Garis OB: tanah tidak dalam keadaan kritis dan lereng stabil

• Garis OF:garis ini memotong garis kekuatan menahan (garis DA) di titik F.

BATUAN BEKU
Batuan yang terjadi dari hasil pembekuan magma. Magma berada di dalam bumi, dalam
perjalanannya ke permukaan bumi, magma dapat membeku di berbagai tempat. Magma yang
membeku di dalam perut bumi, sekarang dapat terletak di permukaan bumi karena gaya-gaya endogen
(tektonik). Batuan tersebut dinamakan batuan beku dalam. Batuan yang membeku di luar (permukaan
bumi) disebut batuan beku luar. Sedangkan magma yang membeku di antara perut bumi dengan
permukaan disebut batuan beku gang (korok).

Keterangan:

1. Batuan leleran (batuan beku luar)

2. Batuan retas (batuan beku gang)

3. Batuan alam (batuan beku dalam)

Batuan Endapan
Batuan Endapan adalah batuan yang terbentuk karena proses pengendapan, proses kimia, dan proses
biologis. Salah satu sifatnya yang khas ialah adanya perlapisan. Batuan ini dapat berasal dari batuan
yang telah ada lebih dahulu, lalu adanya proses pelapukan oleh gaya eksogen (gaya yang berasal dari
luar). Akibatnya batuan tersebut akan lunak dan hancur, oleh media transport dihanyutkan /dibawa ke
tempat lain yang lebih rendah lalu diendapkan di tempat tersebut (proses mekanis/fisis).

Ada juga yang disebabkan oleh penguapan pada larutan sehingga lama kelamaan larutan yang ada
menjadi larutan yang mempunyai kadar garam yang tinggi dan terbentuk endapan garam atau melalui
proses kimia. Selain itu juga ada yang diakibatkan oleh adanya tumbuh-tumbuhan/binatang-binatang
yang cukup banyak terutama binatang-binatang laut, membentuk suatu koloni mati lalu mengeras
menjadi batuan endapan yaitu melalui proses biologis yang non klastik (tidak ada transportasi)
sedangkan yang sudah mengalami transportasi disebut biologi klastik.

Klasifikasi Batuan Endapan

Berdasarkan cara terjadinya dapat dibagi menjadi:


• Yang terbentuk secara mekanik
• Yang terbentuk secara kimiawi
• Yang terbentuk secara biologi (organik)

Pengendapan Secara Mekanik

Batuan ini terbentuk oleh batuan yang telah ada terlebih dahulu yang maengalami pelapukan, hancur
lalu dibawa oleh air, es, angin atau ombak dan diendapkan di tempat lain yang lebih rendah. Setelah
itu mengalami proses diagnesis menjadi batuan yang kompak. Pengandapan dapat terjadi dimana-
mana baik di daratan (tepi sungai ,rawa, danau ), pantai, dan di bawah permukaan laut.

Pengendapan Secara Kimiawi


Pembentukan endapan ini karena proses penguapan pada larutan sehingga menjadi jenuh dan yang
tertinggal kandungan garam.
Biasanya endapan ini tersusun dari Kristal- Kristal garam msalnya garam dapur, gips, dan
sebagainya.
Syarat – syarat yang diperlukan untuk pembentukan garam yang tebal:
• Iklim kering, penguapan tinggi
• Pada estuarium atau cekungan yang terpisah dari lautan.

Pengendapan Secara Organik

Batuan endapan yang terbentuk oleh adanya organisme baik berupa binatang maupun tumbuhan dapat
dibagi menjadi dua , yaitu secara klasik dan non klasik
• Non kalsik: yang terbentuk oleh organisme di tempat itu,jadi belum mengalami perpindahan
• Klasik: terbentuk dari batuan endapan organik yang telah mengalami transpoortasi .
Cirinya adalah berlapis, terdiri dari bahan – bahan organik.

Batuan Ubahan
Batuan Ubahan ialah batuan yang terbentuk oleh batuan yang sudah ada sebelumnya karena adanya
proses metamorfisme (perubahan akibat suhu dan tekanan yang tinggi yang terjadi di kerak bumi).
Perubahan ini akan menimbulkan struktur, tekstur, dan mineral-mineral yang baru.
Macam-macam proses pembentukan:
• Metamorfosis thermal (sentuh)
• Metamorfosis dinamo (tekan)
• Metamorfosis regional

Metamorfosis Thermal

Batuan metamorf thermal merupakan jenis batuan metamorf yang mengalami metamorfose
sebagai akibat dari adanya suhu yang sangat tinggi atau sebagai akibat dari adanya aktivitas magma.
Ada yang menyatakan pula bahwa batuan metamorf thermal ini adalah batuan yang terbentuk karena
adanya pengaruh intrusi magma pada suhu yang sangat tinggi. Adanya suhu yang sangat tinggi yang
berasal dari aktivitas magma ini menyebabkan terjadinya perubahan bentuk maupun perubahan warna
batuan. Suhu yang tinggi ini juga karena letaknya dekat dengan magma.

Metamorfosis Dinamo

Faktor tekanan yang mempunyai peran yang penting. Tekanan disini biasanya tekanan yang berarah
dan terjadi pada kerak bumi. Misalnya pada daerah yang mengalami gaya endogen (tektonik)
sehingga dapat menimbulkan tanah retak, patah (sesar), disini sering terbentuk batuan ubahan.

Metamorfosis Regional
Faktor suhu dan tekanan bekerja sama (di daerah dekat tumpukan lempeng). Perubahan yang
diakibatkan dapat merupakan daerah yang luas.
Ciri-ciri batuan ubahan:

Adanya foliasi (semacam perlapisan pada batuan endapan, tetapi yang mempunyai pelapisan
tersusun dari mineral_mineralnya)
Macam -macam foliasi:
1. Gersik atau banded: Foliasi yang ditunjukan oleh deretan mineral yang berbutir kasar,
umumnya berupa mineral feldspar (plagioklas), kwarsa.
2. Skistosik: Foliasi yang ditunjukan oleh susunan dari mineral-mineral pipih misalnya mika
(muskovit , boitit).
3. 3.Slaty cleavage: Kecendrungan berfoliasi terutama karena mineral-mineral yang berbutir
sangat halus sehingga mempunyai lempeng-lempeng yang teratur, sehingga mudah dibelah
searah dengan lempeng tersebut (misalnya lempung).

Batuan Vulkanik

Batuan Volkanik ialah batuan yang dihasilkan oleh kegiatan gunung api. Batuan ini
digolongkan ke dalam batuan beku dan sebagian batuan yang lain dapat digolongkan ke dalam batuan
endapan.

Batuan merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang dapat terdiri dari mineral sejenis ataupun dari
berbagai jenis mineral. Batuan tersebut kalau lapuk akan menjadi tanah (soil). Tanah di sini hanya
merupakan lapisan tipis dan terletak di bagian terluar dari batuan (pada permukaannya saja).

Mineral

Mineral ialah benda alam yang homogen yang memiliki sifat fisik maupun kimia tertentu.
Pada umumnya mineral bersifat padat akan tetapi dapat juga berwujud cair dan gas. Karena memiliki
sifat fisik, kimia tertentu sehingga dengan mengetahui sifat-sifat tersebut dapat untuk menentukan
(mendeterminasikan) nama mineral. Sifat fisik misalnya : warna, cerat, kilat, kekerasan, belahan,
pecahan, berat jenis, struktur dan sifat-sifat optik (dengan mikroskop). Sifat kimia misalnya unsur-
unsur atau senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Di alam terdapat kira-kira 3000 mineral.

Mineral Utama

Mineral Utama sebagai penyusun utama pembentuk batuan antara lain:

a. Kuarsa (Quartz)

b. Feldspar

c. Mika

d. Amfibol

e. Piroksen

f. Olivin

g. Kalsit

h. Grafit

Mineral Tambahan
Mineral-mineral yang berfungsi hanya sebagai tambahan saja di dalam batuan. Terbentuk dari
mineral utama karena adanya suatu proses, misalnya pelapukan /metamorphose. Contohnya mineral
klorit terbentuk dari metamorfosemineral biotit, amfibol, piroksen. Mineral ini berwarna hijau
mempunyai susunan kimia Mg5(AlFe)(OH)8(AlSi4O10).

Mineral Penyerta

Berfungsi hanya sebagai penyerta di dalam batuan. Magnetit susunan kimianya Fe 3O4,
berwarna hitam, bersifat magnetis. Hematit sebagai Fe 2O3 berwarna kemerahan. Limonit susunan
kimianya H2Fe2O4(H2O)3 berwarna kekuningan. Mineral-mineral tersebut di dalam pembentukannya
di alam dapat nernagai macam. Ada yang langsung dari pembekuan makma, ada yang terbentuk dari
mineral lain. Proses pembentukan mineral yang lain dapat melalui proses hydrothermal (larutan
panas), proses metamorfose, proses kimiawi (rekristalisasi), proses pelapukan (eksogen) ataupun
proses dari organisme. Mineral yang terbentuk dari pembentukan magma disebut mineral primer.