Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR KITOSAN LARUT AIR

(Water Soluble Chitosan) DARI CANGKANG RAJUNGAN TERHADAP LAJU KOROSI


PADA BESI DALAM LARUTAN HCl

Titin Putri Awaliah, Dina Asnawati, Saprini Hamdiani

Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Mataram


Jl. Majapahit No. 62 Mataram, 83125, Indonesia
Email: titinputry123@gmail.com

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh penambahan kitosan larut air (WSC) dari
cangkang rajungan terhadap laju korosi pada besi dalam larutan HCl. Kitosan dapat diisolasi dari
kitin yang terdapat pada cangkang rajungan yang dapat digunakan sebagai inhibitor untuk
menghambat laju korosi besi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui cara isolasi WSC dari
cangkang rajugan, mengetahui adanya pengaruh variasi konsentrasi WSC serta variasi temperatur,
dan pH terhadap laju korosi, dan untuk mempelajari faktor-faktor termodinamika (Ea, ΔH, ΔS, dan
ΔG0 ads) dalam proses inhibisi korosi dengan WSC. Metode yang digunakan adalah weight loss.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa laju korosi menurun seiring dengan bertambahnya
konsentrasi inhibitor yaitu 0, 100, 300, dan 500 ppm sebaliknya laju korosi meningkat seiring
dengan meningkatnya temperatur (303, 313 dan 323 K). Efisiensi inhibisi menurun seiring naiknya
temperatur dan meningkat pada tiap penambahan konsentrasi inhibitor. Efisiensi optimum terjadi
pada suhu 303 K dan konsentrasi 500 ppm yaitu sebesar 98,94 %, laju korosi meningkat dengan
menurunnya pH (3, 4 dan 5) sebaliknya efisiensi inhibisi menurun yaitu 75,08%. Pada studi
termodinamika nilai Ea, ΔH, ΔS, dan ΔG0Ads digunakan untuk mengetahui adsorpsi inhibitor pada
besi. Dari hasil penelitian diperoleh Ea 80 kJ/mol dan nilai ΔG0Ads -20 kJ/mol yang menunjukan
reaksi secara fisika (fisisorpsi). Kemudian nilai ΔH yang didapatkan pada penelitian ini positif
yang menandakan reaksi endoterm dan ΔS positif yang menunjukan reaksi spontan.
Kata Kunci: Limbah cangkang rajungan, kitosan, besi, korosi, inhibisi.

PENDAHULUAN
ini memiliki kekurangan yaitu jika pelapisan
Pada era industri kebutuhan akan logam cat tergores atau terkelupas maka korosi mulai
sebagai bahan dasar merupakan pilihan utama terjadi dan mulai menyebar dibawah cat yang
dalam pembangunan. Dibandingkan bahan masih utuh, dan cara lain yaitu penambahan zat
dasar yang lain seperti kayu ataupun bahan tertentu yang berfungsi sebagai inhibitor
polimer lain, sifat-sifat logam lebih unggul, korosi. Salah satu metode pengendalian korosi
seperti kekuatan, ketahanan, titik lebur, dan yang efektif untuk digunakan adalah inhibitor.
kelenturan. Besi merupakan suatu jenis logam Inhibitor berfungsi untuk memperlambat reaksi
yang sering digunakan sebagai bahan dasar di korosi yang bekerja dengan cara membentuk
berbagai sektor kehidupan dan industri, namun lapisan pelindung pada permukaan logam.
besi memiliki kelemahan dari segi kualitasnya Inhibitor digunakan untuk melindungi bagian
yaitu mengalami korosi yang bersifat merusak. dalam struktur dari serangan korosi yang
Menurut Yeni dkk (2012), Beberapa cara diakibatkan oleh fluida yang mengalir atau
terdahulu yang pernah dilakukan untuk tersimpan di dalamnya. Inhibitor biasanya
pengendalian dan perlindungan korosi antara ditambahkan sedikit dalam lingkungan asam,
lain dengan cara pemilihan material, pelapisan air pendingin, uap, maupun lingkungan lain.
permukaan logam dengan cat agar terpisah Keuntungan menggunakan inhibitor antara lain
dari medium korosif, membuat paduan logam menaikan umur struktur atau bahan, mencegah
yang cocok sehingga tahan korosi, namun cara berhentinya suatu proses produksi, mencegah
kecelakaan akibat korosi, menghindari Kitosan merupakan senyawa yang tidak
kontaminasi produk dan lain sebagainya larut dalam air, sedikit larut dalam HCl, HNO3,
(Nugroho, 2015). dan H3PO4 serta tidak larut dalam H2SO4. Saleh
Inhibitor korosi menurut bahan dkk, (2017) telah melaporkan bahwa
dasarnya terdiri dari inhibitor organik dan pengendalian korosi dengan inhibitor kitosan
anorganik. Inhibitor anorganik seperti nitrit, larut air pada baja lunak dalam HCl 1 M
kromat, fosfat, urea, fenilalanin, imidazolin, memiliki efisiensi inhibisi maksimum sebesar
dan senyawa-senyawa amina merupakan jenis 73,5%. Berdasarkan tingginya kandungan
bahan kimia berbahaya, mahal dan tidak ramah gugus amina primer pada kitosan, maka
lingkungan, sedangkan inhibitor organik yang kitosan dapat digunakan sebagai inhibitor
bisa didapatkan dari ekstrak tumbuhan seperti korosi karena gugus amina primer dapat
tanin, lignin, alkaloid dan basa nitrogen, berikatan dengan permukaan logam (Aghzzaf,
penggunaan inhibitor organik lebih 2012) akan tetapi pada lingkungan dengan pH
diunggulkan untuk mengurangi dampak negatif dibawah 7, kitosan menjadi tidak larut air
yang ditimbulkan dari inhibitor anorganik sehingga membatasi penggunaannya sebagai
(Irianty, 2013) Penggunaan inhibitor organik inhibitor dalam media berair. Oleh sebab itu
sudah banyak dilakukan, salah satunya disintesis WSC dari kitin ekstrak cangkang
penelitian yang dilakukan oleh Purnomo dkk, rajungan. Kelebihan dari WSC mempunyai
(2015) yaitu tentang ekstrak tanin kulit buah sifat yang penting yaitu larut dalam air,
kakao pada media air laut, ekstrak lignin kulit kapasitas pembentukan gel tinggi, dan
kopi sebagai inhibitor organik korosi besi oleh toksisitas rendah sehingga aplikasinya akan
Hasan dkk, (2015). Oleh karena faktor-faktor lebih luas (Xue dkk., 2009). Adapun
tersebut berbagai jenis inhibitor baru ini kelemahan dari inhibitor WSC adalah
diharapkan akan mampu mengurangi laju sumbernya yang terbatas di alam. Kinerja
korosi beberapa contoh lain yang dapat WSC sebagai inhibitor korosi dievaluasi
dimanfaatkan sebagai inhibitor yaitu dengan studi termodinamika dan isotermal
biopolimer kitosan yang bisa didapatkan dari adsorpsi WSC dipelajari untuk menentukan
berbagai macam hewan laut (Sagheetha dkk, mekanisme penghambatan korosi besi dalam
2015). HCl 1M. Variabel yang diteliti meliputi
Kitosan dapat disintesis dari kitin yang konsentrasi inhibitor kitosan, pengaruh
terdapat pada cangkang kepiting, kerang, temperatur, waktu perendaman dan pH
udang dan rajungan. Pada penelitian ini medium korosi terhadap laju korosi setelah
menggunakan limbah cangkang rajungan ditambahkan inhibitor. Efek inhibitor kitosan
sebagai bahan dasar pembuatan kitosan. tehadap laju korosi besi diteliti dengan
Limbah cangkang rajungan masih merupakan menggunakan motode SEM (Scanning
masalah yang perlu dicarikan upaya Electron Microscope).
pemanfaatannya, untuk memberikan nilai
tambah pada usaha pengolahan cangkang PROSEDUR PENELITIAN
rajungan dan menanggulangi masalah Preparasi Sampel Besi
pencemaran lingkungan yang ditimbulkan Besi kerangka beton berbentuk persegi
(Kaban, 2006). Alternatif untuk mengatasi panjang dengan ketebalan 0,5 cm dan lebar 1
limbah yang ada di lingkungan ini adalah cm dipotong masing-masing dengan ukuran
dengan cara memanfaatkan kulit cangkang panjang (p) 2,36 cm. Bagian ujung besi
rajungan menjadi kitosan. Kitosan merupakan dilubangi dengan bor agar dapat digantung
produk hasil N-deasetilasi dari kitin yang pada medium korosi sehingga seluruh
memiliki sifat toksisitas rendah, serta permukaannya dapat berinteraksi dengan
kemampuan adsorpsi yang bagus ( El- Haddad, medium korosi. Besi dibersihkan
2013). Kitosan memiliki gugus hidroksil (OH) permukaannnya dengan menggunakan amplas
dan gugus amina (NH2) yang dapat berikatan besi dan dibilas dengan aquades. Selanjutnya
secara elektrostatik maupun secara kovalen dibilas aseton, dikeringkan dalam oven dengan
koordinasi dengan besi. temperatur 333 K selama 15 menit. Sampel
didinginkan dan ditimbang beratnya
menggunakan neraca analitik dan dicatat dengan aquades untuk menghilangkan NaOH
sebagai berat awal. yang tersisa sampai pH netral. Padatan yang
diperoleh dikeringkan dalam oven 333 K
Isolasi Kitosan selama 8 jam kemudian didinginkan dalam
a. Demineralisasi desikator. Setelah itu sampel tersebut
Sebanyak 100 g serbuk limbah cangkang ditimbang. Kitosan yang diperoleh kemudian
rajungan yang sudah dihaluskan tersebut, dikarakterisasi dengan alat instrument FTIR
ditambah dengan larutan HCl 1,5 M sebanyak (Trisnawati dkk, 2013).
1000 mL dengan perbandingan 1:10 (b/v).
Campuran dipanaskan pada suhu 333-343 K d. Pembuatan kitosan larut air
selama 4 jam sambil dilakukan pengadukan Hasil yang diperoleh dari proses
dengan kecepatan 50 rpm kemudian dilakukan deprotenasi dilanjutkan dengan proses
dekantasi atau penyaringan. Padatan yang deasetilasi dengan menambahkan larutan
diperoleh dicuci dengan aquades untuk NaOH 60% ( perbandingan bobot kitin:
menghilangkan HCl yang tersisa sampai pH volume NaOH, 1: 10 (b/v)). Campuran diaduk
netral. Selanjutnya padatan dikeringkan pada dan dipanaskan pada suhu 373-383 K selama 1
oven dengan temperatur 333 K selama 8 jam jam dengan kecepatan pengadukan 50 rpm
kemudian didinginkan dalam desikator. kemudin dilakukan dekantasi atau
Setelah itu sampel tersebut ditimbang (Martati penyaringan. Padatan yang diperoleh dicuci
dkk, 2014). dengan aquades untuk menghilangkan NaOH
yang tersisa sampai pH netral. Padatan yang
b. Deproteinasi diperoleh dikeringkan dalam oven 333 K
Serbuk cangkang rajungan yang didapat selama 8 jam kemudian didinginkan dalam
dari hasil demineralisasi ditambahkan dengan desikator. Setelah itu sampel tersebut
larutan NaOH 3,5% dengan perbandingan 1:10 ditimbang. Kitosan yang diperoleh kemudian
(b/v) antara pelarut dengan sampel. Campuran dikarakterisasi dengan alat instrument FTIR
tersebut dipanaskan pada suhu 333-343 K (Trisnawati dkk, 2013).
selama 1 jam sambil dilakukan pengadukan
dengan kecepatan 50 rpm kemudian dilakukan e. Identifikasi Pengaruh Waktu
dekantasi atau penyaringan. Padatan yang Perendaman Terhadap Laju Korosi
diperoleh dicuci dengan aquades untuk Sampel Besi .
menghilangkan NaOH yang tersisa sampai pH Besi direndam dalam tabung reaksi yang
netral. Air hasil cucian diuji dengan indikator berisi 10 mL larutan HCl 1 M pada temperatur
pp, bila tidak terjadi perubahan warna merah ruang dengan variasi waktu 3, 5, 7 dan 9 jam.
muda (pink) maka sisa OH- yang terkandung Perubahan berat besi dan laju korosi optimum
sudah hilang. Padatan yang diperoleh ditentukan dengan metode kehilangan berat
dikeringkan dalam oven pada suhu 333 K sebagai acuan lama melakukan perendaman
selama 8 jam kemudian didinginkan dalam pada proses inhibisi.
desikator. Setelah itu sampel ditimbang. Kitin
yang diperoleh kemudian diuji dengan alat f. Uji inhibisi korosi besi
instrument FTIR ( Martati dkk, 2014). Besi direndam dalam tabung reaksi yang
berisi 10 mL larutan HCl 1 M dengan variasi
c. Deasetilasi konsentrasi WSC sebagai inhibitor 0, 100, 300,
Hasil yang diperoleh dari proses dan 500 ppm, HCl 1 M sebagai medium
deprotenasi dilanjutkan dengan proses korosi. Tabung reaksi tersebut kemudian
deasetilasi dengan menambahkan larutan dipanaskan dengan variasi temperatur 303,
NaOH 60% ( perbandingan bobot kitin: 313, dan 323 K menggunakan water bath
volume NaOH, 1: 10 (b/v)). Campuran diaduk dengan waktu optimum yang telah ditentukan
dan dipanaskan pada suhu 373-383 K selama 1 pada tahap 3.3.4. Besi hasil reaksi dibersihkan
jam dengan kecepatan pengadukan 50 rpm dan dicuci dengan aquades kemudian dibilas
kemudin dilakukan dekantasi atau dengan aseton. Besi yang telah dibersihkan
penyaringan. Padatan yang diperoleh dicuci dikeringkan dalam oven dengan temperatur
333 K selama 15 menit. Setelah kering, besi tersebut berikatan kovalen dengan kitin. Dalam
didinginkan kemudian ditimbang dengan proses ini cangkang rajungan direaksikan
neraca analitik dan hasil penimbangan dengan larutan natrium hidroksida,
dinyatakan sebagai berat akhir (Alaneme dan deproteinasi dapat juga dilakukan dengan
Olusegun, 2012). menggunakan KOH 1-2%.
Menurut Karmas (1982), penggunaan
g. Variasi pH medium korosi larutan NaOH dengan konsentrasi dan suhu
Besi direndam dalam tabung reaksi 10 mL yang tinggi maka proses penghilangan protein
larutan HCl 1 M. Larutan asam yang semakin efektif dan menyebabkan terjadinya
digunakan memiliki variasi pH 3, 4 dan 5. Besi proses deasetilasi. Proses pengadukan dan
direndam dengan variasi waktu optimum yang pemanasan bertujuan untuk mempercepat
telah ditentukan pada tahap 3.3.4 dan pengikatan ujung rantai protein dengan NaOH
konsentrasi optimum pada tahap 3.3.5.. Besi sehingga proses degradasi dan pengendapan
hasil reaksi dibersihkan dan dicuci dengan protein berlangsung sempurna (Austin, 1981).
aquades kemudian dibilas dengan aseton. Besi Dalam pencucian larutan NaOH akan
yang telah dibersihkan dikeringkan dalam oven masuk pada semua sisi pada cangkang
dengan temperatur 333 K selama 15 menit. rajungan untuk memutuskan ikatan antara kitin
Setelah kering, besi didinginkan kemudian dan protein. Ion Na+ yang terdapat pada NaOH
ditimbang dengan neraca analitik dan hasil akan mengikat ujung rantai protein menjadi
penimbangan dinyatakan sebagai berat akhir. Na-proteinat kemudian dipisahkan kembali
dengan menurunkan pH karena terjadi
HASIL DAN PEMBAHASAN pengendapan natrium (Purwatiningsih, 2009).
Proses demineralisasi Persamaan reaksi yang terjadi pada Gambar 1.
Proses demineralisasi bertujuan untuk
menghilangkan garam-garam anorganik atau
kandungan mineral yang terdapat pada kulit
rajungan. Kandungan mineral utamanya adalah
CaCO3 dan Ca(PO4)2 dalam jumlah sedikit,
mineral yang terkandung dalam kulit rajungan
lebih mudah dipisahkan dibandingkan dengan
protein karena terikat secara fisik. Mineral
dalam kulit rajungan dapat mencapai 30-40 %
tiap berat bahan kering (Hargono dkk., 2008).
Pada proses demineralisasi dilakukan Gambar 1 Reaksi antara protein dan basa
menggunakan larutan HCl 1,5 M tujuannya
untuk melarutkan kalsium dan menghilangkan Rendemen yang diperoleh dari proses
kandungan mineral yang ada pada cangkang deproteinasi sebesar 18,86 % berwarna cream
rajungan, proses pemisahan mineral dan berbentuk serbuk. Kitin yang diperoleh
ditunjukkan dengan terbentuknya gas CO2 selanjutnya dikarakterisasi menggunakan
berupa gelembung udara saat larutan HCl FTIR.
ditambahkan ke dalam sampel (Hendri, 2008).
Gelembung-gelembung CO2 yang dihasilkan
pada proses demineralisasi merupakan
indikator adanya reaksi antara HCl dengan
garam mineral.

Proses deproteinasi
Proses deproteinasi bertujuan untuk
memisahkan atau melepaskan ikatan-ikatan
protein dari kitin. Protein dalam cangkang Gambar 2 Spektrum FTIR kitin dari
rajungan mencapai sekitar 17,87% dari bahan cangkang rajungan
keringnya (Hargono dkk., 2008), protein
Tabel spektrum FTIR kitin cangkang rajungan

Dari hasil spektrum FTIR kitin pada Gambar


4.1, dapat dilihat pita serapan untuk gugus
hidroksil (OH) tumpang tindih dengan gugus N- Gambar 4 Spektrum FTIR hasil analisis
H yang terlihat peak yang melebar pada kitosan dari cangkang rajungan
bilangan gelombang 3446,62 cm-1, dengan dan kitosan murni
puncaknya berada pada bilangan gelombang
Tabel Spektrum FTIR kitosan cangkang
3496,31 cm-1. Terjadinya perbedaan serapan
rajungan
gugus hidroksil pada hasil penelitian ini
disebabkan masih adanya gugus asetil yang
terikat kuat pada struktur senyawa kitin.
Serapan lainnya yaitu pada 2923,24 cm-1
merupakan uluran C-H yang menyatu pada pita
uluran O-H sama seperti uluran N-H Vibrasi
ulur C=O pada 1651,00 cm-1. Sedangkan pada
1074,3 cm-1 menunjukkan vibrasi C-O-C dalam
cincin kitin dan memunculkan banyak puncak
karena hidroksida dari kitin mengandung ikatan
tunggal C=O. Vibrasi C-N (amida) pada Untuk memastikan terbentuknya kitosan
bilangan gelombang 1156,73 cm-1. dari kitin dilakukan analisis gugus fungsi
Proses deasetilasi rendemen dengan menggunakan FTIR. Dari
Deasetilasi merupakan proses transformasi spektrum yang dihasilkan terlihat adanya
kitin menjadi kitosan melalui proses hidrolisis. serapan pada bilangan gelombang 3446,77
Proses deasetilasi adalah penghilangan gugus cm-1 yang merupakan serapan dari gugus –OH
asetil (-COCH3) dengan menggunakan larutan yang tumpang tindih dengan serapan N-H.
NaOH 60% agar berubah menjadi gugus amina Serapan yang dihasilkan tersebut mengalami
(-NH2). Kitin mempunyai struktur kristalin yang pergeseran dari bilangan gelombang pada
panjang dengan ikatan hidrogen yang kuat kitin. Serapan pada bilangan gelombang
antara atom nitrogen dengan gugus karboksilat 2932,71 cm-1 mengindikasikan gugus C-H
(Muzzarelli, 1986). Pada proses deasetilasi dari alkana yaitu menunjukkan vibrasi ulur
dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH gugus –CH2-. Serapan khas kitosan pada 1
60% berfungsi membantu proses pemutusan cm-1 yang mengindikasikan adanya ikatan C-
(katalis) ikatan antara gugus asetil dengan atom N amina. Puncak serapan 1424,21 cm-1 (C-N
nitrogen sehingga berubah menjadi gugus amino amida) bergeser ke puncak serapan 1340, 21
(-NH2). Rendemen yang dihasilkan sebesar cm-1 yang merupakan serapan C-N amina. Pita
64,15% berwarna putih kream dan berbentuk serapan pada bilangan gelombang 1074,56
serbuk halus. Hasil yang diperoleh ini lebih cm-1 merupakan serapan dari vibrasi ulur
besar dari penelitian sebelumnya yaitu sebesar gugus –C-O. Transformasi kitin menjadi
14% (Sartika dkk., 2013). Spektrum hasil kitosan dapat ditandai dengan hilangnya atau
analisis kitosan dapat dilihat pada Gambar 3. berkurangnya serapan C=O (1651,00 cm-1)
pada hasil spektrum FTIR kitin (Syahmani
dan Sholahuddin, 2009).
bilangan gelombang (cm-1): gugus hidroksil ( O-
H) dan pada 3442,82; (ikatan C=O) pada
Tahap pembuatan kitosan larut air (water
1642,85 ; (ikatan N-H2) pada 1561,72 (ikatan C-
soluble chitosan)
NH2) pada 1414,46 dan (ikatan C-O) pada
Depolimerisasi kitosan menggunakan hidrogen
1046,02. Pada spektrum hasil FTIR WSC selain
peroksida (H2O2) telah banyak dipelajari sesuai
itu puncak yang muncul pada 1414,46
dengan kemudahan penggunaan dan
merupakan puncak formasi vibrasi C-N
ketersediannya serta ramah lingkungan karena
(Sakinah, 2017).
tidak meninggalkan residu yang berbahaya.
Laju depolimerisasi kitosan menggunakan H2O2 Pengaruh Waktu Terhadap Laju Korosi Besi
lebih kecil karena kestabilan H2O2. dalam Larutan HCl 1 M dengan Metode
Depolimerisasi kitosan menggunakan H2O2 Weight Loss (Kehilangan Berat)
menyebabkan pembentukan gugus-gugus Identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui
karboksil dan mempercepat deaminasi (Qin pengaruh waktu perendaman besi pada medium
dkk., 2002). korosi asam (HCl 1 M) terhadap berat besi yang
Anion HOO- sangat tidak stabil dan sangat hilang akibat terkorosi dan laju korosi. Sampel
mudah terdekomposisi menjadi radikal hidroksil besi direndam dengan variasi waktu 3, 5, 7 dan
yang sangat reaktif dapat dilihat pada 9 jam pada temperatur ruang. Pengaruh waktu
persamaan dibawah: perendaman terhadap kehilangan berat pada besi
HOO- → OH- + O• dapat dilihat pada Gambar 5.
H2O2 + HOO- → HO• + O2- + H2O
Radikal hidroksil adalah oksidator kuat.
0.2500
Aksi kimia utama HO• dengan suatu
weight loss (gram)

polisakarida adalah sangat cepat. Radikal HO• 0.2000


menarik satu atom H dan membentuk air 0.1500
sehingga akan membentuk produk oksidasi larut 0.1000
air dengan bobot molekul rendah. Tujuan 0.0500
penambahan hidrogen peroksida selain 0.0000
harganya yang relatif murah dan ramah 0 5 10
lingkungan. Anion hidroperoksida sangat tidak
waktu (jam)
stabil dan mudah terdekomposisi menjadi
hidroksil radikal, gugus hidroksil radikal Gambar 6 Pengaruh waktu perendaman
menyerang ikatan glikosidik pada kitosan dan terhadap kehilangan berat pada
memutus ikatan tersebut sehingga terbentuk besi
kitosan larut air. Hasil FTIR pembentukan
kitosan menjadi WSC dapat dilihat pada 3.5000
3.4000
rc ( g/cm2 jam)

Gambar 5.
3.3000
3.2000
3.1000
3.0000
0 waktu5(jam) 10

Gambar 7 Pengaruh waktu perendaman


terhadap laju korosi
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa
semakin lama waktu perendaman kehilangan
berat dari besi semakin besar. Hal ini
Gambar 5 Spektrum FTIR WSC dan kitosan disebabkan karena semakin lama waktu
dari cangkang rajungan perendaman maka besi akan semakin berkarat
Dari hasil analisis FTIR pembentukan sehingga menyebabkan berat besi akan
senyawa WSC yaitu pada serapan daerah semakin berkurang seiring dengan
bertambahnya waktu (Alaneme, 2012). Hal ini Pengaruh Variasi Konsentrasi WSC dan
berbanding terbalik dengan laju korosi sampel Temperatur Terhadap persentasi Efisiensi
besi yang semakin rendah seiring Inhibisi.
bertambahnya waktu perendaman seperti pada Diketahui bahwa efisiensi inhibisi
Gambar 7. Menurut Murabbi (2012), terjadinya meningkat dengan meningkatnya konsentrasi
penurunan laju korosi dikarenakan seiring WSC. Semakin besar konsentrasi WSC maka
dengan berjalannya waktu pada pengujian, kemampuannya membentuk lapisan inhibitor
hasil korosi yang tidak dapat larut membentuk semakin tinggi sehingga kemampuannya dalam
suatu selaput di permukaan spesimen dan menghambat laju korosi juga semakin tinggi.
dengan efektif menghindarkan elektrolit dari Akan tetapi pada pengaruh tempratur semakin
kontak lebih lanjut dengan logam, sehingga tinggi temperatur, efisiensi inhibisi dari WSC
sangat mengurangi laju korosi. Dari variasi- semkain menurun. Firmansyah (2011)
variasi waktu tersebut didapatkan waktu menyatakan bahwa penurunan efisiensi inhibisi
optimum atau laju korosi tertinggi adalah pada terjadi karena terjadinya proses serta terjadinya
waktu 3 jam. partial desorption inhibitor dari permukaan.
Dalam penelitian ini didapatkan persen efisiensi
Pengaruh Variasi Konsentrasi WSC dan terbesar yaitu 98,94% pada suhu 303 K dengan
Temperatur Terhadap Laju Korosi Besi konsentrasi kitosan 500 ppm. Pengaruh
8.0000
konsentrasi dan temperatur terhadap efisiensi
7.0000 inhibisi dapat dilihat pada Gambar 9.
6.0000
5.0000
rc ( g/cm2 jam)

4.0000 303 K
3.0000 313 K
2.0000
1.0000 323 K
0.0000
0 200 400 600

konsentrasi
Gambar 8 Pengaruh Variasi Konsentrasi dan
Temperatur Terhadap Laju Korosi
Dari Gambar 4.12 dapat dilihat bahwa Gambar 9 Pengaruh Variasi Konsentrasi dan
semakin besar konsentrasi WSC yang Temperatur Terhadap Efisiensi
ditambahkan maka akan semakin turun laju Inhibisi
korosinya, hal ini berarti kemampuan inhibisi
WSC meningkat dengan meningkatnya Pengaruh Variasi pH Media Korosi
konsentrasi. Kemampuan inhibitor Terhadap Laju Korosi Besi
menghambat laju korosi disebabkan adanya Pengaruh variasi pH media korosi dan
terbentuk lapisan tipis diatas permukaan besi konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi dapat
sehingga menghalangi ion-ion agresif dari dilihat pada Gambar 10. Semakin rendah pH
asam dan garam yang akan menyerang logam maka laju korosi semakin meningkat, namun
(Loto dkk., 2011). Namun sebaliknya laju semakin menurun dengan meningkatnya
korosi akan meningkat seiring dengan konsentrasi inhibitor.
meningkatnya temperatur. Hal ini disebabkan
karena temperatur berhubungan dengan
meningkatnya energi kinetik molekul yang
menyebabkan meningkatnya pembentukan
hidrogen dalam larutan asam sehingga laju
korosi besi meningkat (Oktafor dkk., 2010).
Gambar 10 pengaruh pH terhadap laju korosi Gambar 11 Model Isoterm Langmuir

Terlihat pada Gamabar 10 laju korosi Vasanth (2006), menyatakan bahwa


meningkat dengan menurunnya pH karena pH keadaan isoterm membantu menentukan
yang rendah merupakan penyebab utama kapasitas adsorptif suatu bahan dan dapat
terjadinya korosi. Hal ini sesuai dengan teori digunakan untuk mengevaluasi mekanismenya
yang menyatakan bahwa pH yang rendah dari kinerja sistem adsorpsi. Model adsorpsi
merupakan penyebab utama terjadinya korosi, isotermis yang sering digunakan untuk
selain itu larutan yang bersifat asam (pH mempelajari mekanisme adsorpsi yakni
rendah) menyebabkan reaksi antara besi dan Temkin, Langmuir dan Freundlich
larutan menjadi semakin besar (Irianty dkk, (Firmansyah, 2011).
2012). Terlihat pada Tabel laju korosi Persamaan adsorpsi isoterm Temkin
meningkat dan efisiensi inhibisi menurun yaitu berlaku pada permukaan yang heterogen dan
75,08% seiring dengan menurunnya pH. mempunyai sifat yang irreversible. Adsorpsi
Temkin merupakan penurunan dari adsorpsi
Tabel Pengaruh variasi pH terhadap laju korosi Langmuir dimana adsopsi Temkin berlaku
untuk permukaan heterogen sedangkan
Langmuir untuk permukaan yang homogen
(Widiastuti dkk, 2015). berbeda dengan
persamaan isoterm Temkin yang memiliki
nilai regresi yang hampir mendekati 1.
Sehingga untuk penentuan adsorpsi isoterm
Temkin digambarkan pada Gambar 12.

Penentuan Adsorbsi Isoterm


Persamaan isoterm Langmuir dapat
digunakan jika adsorpsi terjadi secara homogen
(daerah yang teradsorpsi merata) sehingga panas
adsorpsi inhibitor tidak bergantung pada
cakupannya (McCafferty, 2009). Hasil grafik
pada Gambar 11 menunjukkan nilai regresi
yang kecil. Menurut Ijuo dkk (2016), kesesuaian
jenis adsorpsi isoterm ditunjukkan dengan
keseluruhan nilai koefisien regresinya. Gambar 12 Model IsotermTemkin

Persamaan adsorpsi isoterm Freundlich


berlaku pada permukaan yang heterogen dan
tiap molekul mempunyai potensi penyerapan
yang berbeda-beda (Tchobanoglous dkk.,
2003). Isoterm Temkin dan Langmuir berbeda
dengan isoterm Freundlich yang memiliki nilai
regresi yang besar dan mendekati 1. Sehingga
untuk penentuan adsorpsi isoterm mengikuti
persamaan Freundlich. Persamaan adsorpsi meningkatnya temperatur karena laju
isoterm Freundlich digambarkan pada Gambar adsorpsi yang juga meningkat, namun
13. menurun kembali pada temperatur 313 dan
323 K yang menandakan bahwa telah terjadi
. kesetimbangan pada temperatur 303 K. Nilai
konstanta adsorpsi tersebut digunakan untuk
menentukan besar energi bebas adsorpsi yang
dapat menyatakan adsorpsi inhibitor terjadi
secara fisik (fisisorpsi) atau kimia
(kemisorpsi).

Studi Termodinamika Korosi


Gambar 13 Model Isoterm Freundlich Studi termodinamika digunakan untuk
mengetahui perubahan energi pada proses
Berdasarkan Gambar 13 terlihat
fisik dan kimia yang menyertai proses
perbandingan nilai R2 pada isoterm Freundlich,
inhibisi WSC terhadap reaksi korosi besi.
Langmuir dan Temkin. Model isoterm yang
Studi termodinamika dilakukan dengan
sesuai dengan data hasil penelitian diuji dengan
menentukan energi aktivasi, entropi, entalpi,
analisis regresi linear sederhana yaitu dengan
dan energi bebas adsorpsi. Penentuan
melihat data nilai koefisien korelasinya (R2).
parameter tersebut dapat digunakan untuk
Jika nilai R2 semakin mendekati 1 maka dapat
menjelaskan proses reaksi inhibisi yang
dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang
terjadi.
semakin besar dan keterkaitan antar variabel
semakin kuat (Apriyanti, dkk., 2018). Dalam
Energi Aktivasi (Ea)
penelitian ini, nilai R2 pada isotherm Freundlich
lebih mendekati 1 dibandingkan dengan R2 pada Ea dapat ditentukan dengan persamaan
isoterm Langmuir dan Temkin. Hal ini Arrhenius dari persamaan plot garis 1/T
menunjukkan bahwa pada penelitian ini dengan ln rc. Dimana laju korosi disimbolkan
digunakan isoterm Freundlich yang artinya, dengan rc (g/cm2 jam) dan temperatur
adsorpsi yang terjadi adalah secara fisisorpsi disimbolkan dengan T. Energi aktivasi yang
(penyerapan secara fisika) (Madina, 2017). didapatkan ditampilkan pada Gambar 14.
Berdasarkan model isoterm Freundlich
mengasumsikan bahwa inhibitor memiliki
permukaan yang heterogen dan tiap molekul
memiliki potensi penjerapan yang berbeda-beda
serta asumsi bahwa adsorpsi terjadi multilayer
pada permukaan inhibitor (Langenati, dkk.,
2012).
Selanjutnya dari persamaan Freundlich
ditentukan nilai Kads, yang ditampilkan pada
Tabel 4.6. Nilai konstanta adsorpsi digunakan
untuk menentukan besar energi bebas adsorpsi
Gambar 14 Plot Arrhenius untuk besi dalam
(ΔG0).
larutan HCl 1 M
Tabel Nilai Konstanta Adsorpsi Persamaan
Untuk mengetahui proses inhibisi WSC
Freundlich
terhadap besi maka perlu ditentukan energi
aktivasi. Tabel menunjukan nilai energi
aktivasi yang dihitung menggunakan
persamaan Arrhenius dari persamaan garis
Berdasarkan Tabel nilai konstanta pada Gambar 14.
adsorpsi Temkin meningkat terhadap
Tabel Nilai Energi Aktivasi pada Variasi 4.0000 0 ppm
Konsentrasi 100 ppm
2.0000 300 ppm

Log rc / T
500 ppm
0.0000
3.05 3.10 3.15 3.20 3.25 3.30 3.35
-2.0000

-4.0000

-6.0000
1/T x 10-3
Menurut Hasan (2015), Semakin besar Gambar 15 Entalpi dan Entropi
energi aktivasi maka reaksi akan semakin sulit
terjadi dan sebaliknya jika energi aktivasi Tabel Nilai Entalpi dan Entropi Berdasarkan
semakin rendah reaksi akan lebih mudah Variasi Konsentrasi
terjadi. Dari Tabel bisa diamati bahwa Konsentrasi WSC ∆H ∆S
semakin besar konsentrasi WSC yang (ppm) (kJ/mol) (kJ/mol )
ditambahkan energi aktivasinya semakin 100 46,9 190,0
besar. Nurhayati dkk.,(2006) menjelaskan, 300 103,3 375,5
dengan energi aktivasi yang besar maka secara
500 461,7 146,3
termodinamik akan mengalami proses korosi
lebih lambat. Meningkatnya harga Ea dengan
adanya WSC dapat diinterpretasikan sebagai Nilai entalpi bernilai positif pada Tabel
adsorpsi fisik inhibitor yang terjadi pada menunjukkan bahwa reaksi berjalan secara
permukaan. Disamping itu nilai Ea yang tinggi endoterm. Meningkatnya entalpi menunjukkan
menujukkan adanya rintangan energi yang bahwa semakin besar konsentrasi maka proses
semakin besar yang menghambat reaksi inhibisi meningkat dan reaksi korosi semakin
oksidasi yaitu proses korosi (Sudiarti, 2014). sulit terjadi. Sementara nilai entropi yang
bernilai positif mengindikasikan bahwa proses
Perubahan Entalpi (ΔH0) dan Perubahan inhibisi berjalan spontan (Hasan, 2015). Nilai
Entropi (ΔS0) ∆H yang lebih tinggi menunjukkan bahwa
proses korosi di dalam larutan yang
Perubahan entalpi berhubungan dengan mengandung WSC membutuhkan energi yang
transfer panas yang diserap atau ditransfer lebih besar untuk mencapai keadaan teraktivasi
sistem akibat reaksi fisik dan kimia. Entalpi atau kesetimbangan. Nilai ∆S yang semakin
bernilai positif mengindikasikan reaksi meningkat dengan konsentrasi WSC didalam
endoterm dan bernilai negatif untuk reaksi larutan, derajat keteraturan semakin meningkat,
eksoterm. Sementara entropi merupakan sehingga memperlambat proses korosi.
tingkat keacakan penyebaran energi pada
sistem. Olasehinde dkk (2012) menjelaskan Energi Bebas Adsorpsi (ΔG0ads)
Perubahan entropi negatif mengindikasikan Energi bebas merupakan faktor yang
reaksi tidak spontan dan perubahan entropi menentukan suatu korosi berlangsung spontan
bernilai positif mengindikasikan reaksi atau tidak (Plorentino, 2011). Hasil perhitungan
berlangsung spontan. Entalpi dan entropi dapat ∆G dari konstanta adsorpsi dari Temkin
dihitung dari plot persamaan pada Gambar 15 ditampilkan dalam Tabel sebagai berikut :
berikut: Tabel Energi Bebas Adsorpsi
Tempratur (K) 303 313 323
Energi Bebas Adsorpsi
-9,2 -9,4 -9,0
(kJ/mol)

Secara umum nilai energi bebas


adsorpsi dibawah -20 kJ/mol mengindikasikan
bahwa proses adsopsi yang terjadi adalah
interaksi fisisorpsi atau Van der wall. Jika Perbesaran 500x ( dengan WSC)
interaksi nilai energi bebas mencapai -40 kJ/
mol atau lebih maka interaksi adsorpsi adalah
kemisorpsi dimana terjadi tukar menukar
muatan dari molekul organik ke permukaan
logam membentuk ikatan koordinat atau
kemisorpsi (Firmansyah, 2011). Dari Tabel
bisa disimpulkan reaksi yang terjadi adalah
fisisorpsi karena nilai ∆G kurang dari -20
kJ/mol. Energi bebas adsorpsi bernilai positif
mengindikasikan bahwa peristiwa adsorpsi Gambar 4.20 Foto SEM permukaan besi
berlangsung tidak spontan dan bernilai negatif dalam HCl 1 M dengan penambahan
mengindikasikan reaksi spontan (Hasan, inhibitor WSC dan tanpa penambahan
2015). Dari Tabel 4.9 dapat diamati pada suhu inhibitor.
303, 313 dan 323 K reaksi berjalan spontan
karena nilai energi bebas yang didapatkan Terlihat bahwa foto permukaan besi dalam
bernilai negatif. larutan HCl 1 M tanpa penambahan inhibitor
WSC terbentuk produk korosi dan lubang-
Analisis Permukaan Besi Menggunakan lubang, tapi dengan adanya penambahan
SEM (Scanning Electron Microscope) inhibitor WSC meminimalkan produk korosi
Scanning Electron microscopy (SEM) dan lubang-lubang pada permukaan besi dan
merupakan mikroskop elektron yang banyak terbentuk lapis tipis. Hal ini menyebabkan laju
digunakan dalam ilmu pengetahuan material. korosi menurun dengan adanya penambahan
SEM banyak digunakan karena memiliki WSC dan mengurangi reaksi korosi.
kombinasi yang unik, mulai dari persiapan Terlihat adanya perbedaan banyaknya
spesimen yang simple dan mudah, kapabilitas retakan yang terdapat pada besi antara sebelum
tampilan yang bagus serta fleksibel (Giri, dan sesudah penambahanWSC. Hal ini
2016). Pembentukan lapisan pasif pada membuktikan bahwa inhibitor kitosan larut air
permukaan besi dalam larutan HCl 1M yang dapat teradsorpsi pada permukaan besi dan
dicelupkan selama 3 jam dengan dan tanpa membentuk lapis tipis.
penambahan inhibitor kitosan larut air (WSC)
dipelajari menggunakan foto SEM dapat KESIMPULAN
dilihat pada Gambar 16.
Kesimpulan
Perbesaran 500x (Tanpa inhibitor) Berdasarkan pembahasan dari hasil
penelitian yang telah dilakukan maka dapat
diambil Kesimpulan sebagai berikut :
1. Isolasi WSC dari limbah cangkang
rajungan terjadi melalui tahap
demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi.
Hasil deasetilasi yang diperoleh sebesar
18,64 gram. Derajat deasetilasi pada kitosan
hasil sintesis cangkang rajungan sebesar
40,21%.
2. Laju korosi besi menurun dan efisiensi
inhibisi meningkat dengan meningkatnya
konsentrasi WSC yang ditambahkan pada
medium korosi, sebaliknya laju korosi besi
meningkat dan efesiensi inhibisi menurun
pada pengaruh temperatur yang semakin
tinggi, dengan efisiensi terbesar pada suhu
303 K dengan konsentrasi WSC 500 ppm
dan laju korosi meningkat dan efisiensi inhibisi Hargono., Abdullah., dan Sumantri, I. 2008.
besi menurun pada pengaruh pH. Pembuatan Kitosan dari Limbah
Cangkang Udang serta Aplikasinya
3. Berdasarkan studi termodinamika korosi dalam Mereduksi Kolesterol Lemak
dilihat dari nilai Ea, ∆H, ∆S, dan ΔG°ads Kambing. Semarang : UNDIP
proses inhibisi korosi WSC mengikuti Irianty, R. S. 2012. Pengaruh Konsentrasi
proses adsorpsi fisik dan terjadi secara Inhibitor Ekstrak Daun Gambir dengan
spontan pada suhu 303, 313 dan 323 K. Pelaarut Etanol-Air Terhadap Laju
Saran Korosi Besi pada Air Laut. J. Ris. Kim.
Beberapa saran berikut dapat melengkapi Vol. 5. 2.
penelitian ini, yakni : Kaban, J. 2006. Pemanfaatan Chitosan dari
1. Studi lebih lanjut dapat dilakukan isolasi Kulit Udang sebagai Membran
dan identifikasi kitosan dari limbah atau Hemodialisa. Info Kesehatan
bahan baku lainnya untuk mengetahui Masyarakat Fakultas Kesehatan
struktur kitosan. Masyarakat Universitas Sumatera Utara
2. Dilakuan pengujian laju korosi dan X(1): 32-37.
efisensi inhibisi dengan menggunakan Karmas, E. 1982. Meat, Poultry and Sea Food
metode polarisasi potensial dinamik untuk Technology. New Jersey: USA.
membandingkan hasil dengan metode Loto, C. A.2011. Inhibition effect of Tea
weight loss. (Camellia Sinensis) extract on the
DAFTAR PUSTAKA corrosion of mild steel in dilute
sulphuric acid. Nigeria: Covenant
Alaneme, K. K.dan Olesegun, S. J. 2012. University.
Corrosion Inhibition Performance of Martati, E., Tri S., Yunianta., dan Ida, A. U.
Lignin Extract of Sun Flower 2014. Isolasi Khitin dari Cangkang
(TithoniaDiversifolia) on Medium Rajungan (Portunus Pelagicus) Kajian
Carbon Low Alloy Steel Immersed in Suhu dan Waktu Proses Deproteinasi. J
H2SO4 Solution. Leonardo Journal of Tek. Pert Vol 3 No 2: 129-137.
Sciences. Vol. 20 (1): 59-70. McCafferty, E. 2009. Introdution to
Austin, P. R. 1981. Chitin Solvent and Corrosion Science. Springer New York.
Solubility Parametre. The Departement Medium. Int. J. Electrochem. USA. Sci.
of Mechanical Manufacturing Vol. 9 (1): 830-846.
Aeronitical and Chemical Engineering. Yeni, R., Yerimadesi., dan Desy, K. 2012.
The Faculty of Engineering The Queens Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu
University of Belfast. Sebagai Inhibitor Korosi Baja ASSAB
El-Haddad, M. 2013. Chitosan as a Green 760 di Udara. Padang: Universitas
Inhibitor for Copper Corrosion in Negeri Padang.
Acidic Medium. International Journal of Nugroho, Adhi. 2011. Pengaruh Penambahan
Biological Macromolecules, 55, 142- Inhibitor Organik Ekstrak Ubi Ungu
149. terhadap Laju Korosi pada Material
Firmansyah, Dede. 2011. Studi Inhibisi Baja Low Carbon di Lingkungan NaCl
Korosi Baja Karbon Dalam Larutan 3,5 % (Skripsi). Depok, Universitas
Asam 1M HCl Oleh Ekstrak Daun Indonesia.
Sirsak (Annona Muricata). Depok :
Universitas Indonesia.