Anda di halaman 1dari 28

JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.

2, OKTOBER 2016

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL BERBAHAN BAKU SINGKONG DI


KABUPATEN GUNUNGKIDUL
(Studi Kasus Industri Di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong)

Arif Rahmat Hidayat¹, Istiti Purwandari, SP, MP², Ir. Listiyani, MP²
¹Mahasiswa Fakultas Pertanian INSTIPER
²Dosen Fakultas Pertanian INSTIPER

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil industri kecil krecek singkong
mengetahui kondisi SDM, Teknologi, Permodalan dan Pemasaran, serta untuk mengetahui Strategi
pengembangan industri krecek singkong di Kabupaten Gunungkidul. Populasi penelitian ini
berjumlah 13 pengusaha krecek dengan cara sensus. Variabel penelitian ini adalah SDM, teknologi,
permodalan, dan pemasaran. Metode pengumpulan datanya meliputi observasi, dokumentasi, dan
wawancara. Metode analisis menggunakan deskriptif persentase dan analisis SWOT. Berdasarkan
hasil penelitian bahwa profil industri kecil krecek singkong di desa Bedoyo Kabupaten
Gunungkidul ada 13 pengusaha krecek singkong. Usaha tersebut berdiri mulai dari 1992-2006.
Kondisi SDM pada industri kecil krecek singkong di Desa Bedoyo Kabupaten Gunungkidul buruk.
Kondisi teknologi dalam kondisi baik. Kondisi permodalan dalam kondisi buruk. Kondisi
pemasaran dalam kondisi kurang baik. Strategi pengembangan industri kecil krecek singkong di
Desa Bedoyo Kabupaten Gunungkidul terletak pada sel VIII yaitu pada posisi Diversifikasi
Konglomerat yang artinya lebih memfokuskan pada sinergi finansial dari pada sinergi pasar

Kata Kunci : Strategi Pengembangan, Industri Kecil Krecek, SDM, Teknologi, Permodalan,
Pemasaran

PENDAHULUAN memiliki keunggulan dan kelemahan.


Sistem tatanan dan mekanisme Sehingga pemerintah daerah akan mengetahui
pengelolaan pemerintah akan mengalami sektor mana yang akan dikembangkan untuk
perubahan, hal ini dikarenakan menjadi sektor basis yang akan membantu
dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 pengembangan sektorsektor lainnya sehingga
tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan akan meningkatkan pendapatan asli daerah
Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 dan neraca keuangan akan mengalami
tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan keseimbangan antara pemerintah daerah dan
Pemerintah Daerah. Perubahan itu menuntut pemerintah pusat.
pemerintah daerah untuk benar-benar Kabupaten Gunungkidul sebagai salah
menerapkan otonomi daerah bukan hanya satu daerah yang memilik berbagai jenis
sebagai slogan belaka tetapi nyata dan dapat industri besar, menengah, dan kecil.
dipertanggungjawabkan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian
Adanya UU tentang otonomi daerah Koperasi dan UKM Kabupaten Gunungkidul
tersebut, maka pemerintah daerah dituntut (2013) keberadaan industri ini memiliki
lebih mandiri dalam mengatur potensi sebagai penopang perekonomian
pemerintahannya seperti mengatur strategi daerah dan penyerapan tenaga kerja. Hal
pertumbuhan dan pembangunannya masing- tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Sebagai
masing, serta melihat sektor potensi yang berikut :

i
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Tabel 1. Jumlah Industri di Kabupaten Gunungkidul


Kecamatan Besar Sedang Kecil IRT Jumlah
Panggang 0 0 62 485 547
Purwosari 0 0 64 512 576
Paliyan 0 0 193 642 835
Saptosari 0 0 64 482 546
Tepus 0 0 112 740 825
Tanjungsari 0 0 147 625 772
Rongkop 1 1 82 402 486
Girisubo 0 0 135 429 564
Semanu 2 4 303 865 1174
Ponjong 3 4 513 1108 1628
Karangmojo 0 1 572 1546 2119
Wonosari 1 1 715 1569 2286
Playen 1 0 325 1031 1357
Patuk 0 0 329 764 1093
Gedangsari 0 0 175 708 883
Nglipar 0 0 328 1151 1479
Ngawen 0 0 576 1029 1605
Semin 0 3 825 1205 2078
Jumlah 8 14 5520 15338 20880
Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan ESDM Kabupaten Gunungkidul, 2013.

Berdasarkan data di atas industri-industri Gunungkidul. Sektor industri yang berbahan


tersebut dapat menopang perekonomian baku lokal dan perdagangan harus terus
daerah dan mampu menciptakan kesempatan dipacu agar mampu meningkatkan
kerja bagi para angkatan kerja. Peran serta kesejahteraan masyarakat yang saat ini sangat
industri kecil dan menengah sangat mengantungkan pada sektor pertanian yang
dibutuhkan dalam menggerakkan ekonomi belum cukup berperan dalam meningkatkan
kerakyatan. Bertitik tolak dari hal tersebut, pendapatan masyarakat.
maka pengembangan dan pemberdayaan Pada tahun 2013 jumlah pengusaha
koperasi, industri kecil dan menengah serta perusahaan industri sedang/besar di
pengembangan iklim usaha yang kondusif Kabupaten Gunungkidul tercatat 22
untuk mendukung kemitraan antar lembaga perusahaan menyerap tenaga kerja sekitar
mikro dapat dijadikan arah pembangunan 1.061 orang, industri kecil menengah dan
industri kecil dan menengah. Strategi untuk rumah tangga sebanyak 20.858 unit dengan
terus meningkatkan sektor industri dan jumlah tenaga kerja 65.976 orang. Data
perdagangan menjadi salah satu prioritas jumlah penyerapan tenga kerja melalui sektor
pembangunan pemerintah daerah Kabupaten industri dapat dilihat pada tabel 2
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Tabel 2. Jumlah Industri menurut Penyerapan Tenaga Kerja dan Klasifikasinya di Kabupaten
Gunungkidul, 2013.
Kecamatan Besar Sedang Kecil IRT Jumlah
Panggang 0 0 919 1171 2090
Purwosari 0 0 2051 1290 3341
Paliyan 0 0 1486 2069 3555
Saptosari 0 0 801 1247 2048
Tepus 0 0 722 2030 2752
Tanjungsari 0 0 994 2150 3144
Rongkop 53 32 821 1193 2099
Girisubo 0 0 708 1091 1799
Semanu 305 128 2291 1538 4262
Ponjong 165 135 2360 2070 4730
Karangmojo 0 0 2268 2212 4480
Wonosari 62 30 3370 3130 6592
Playen 0 0 2680 2178 4915
Patuk 0 0 2563 2017 4580
Gedangsari 0 0 813 1466 2279
Nglipar 0 0 2180 2058 4238
Ngawen 0 0 2420 2738 5203
Semin 0 0 1995 2841 4930
Jumlah 642 419 31442 34534 67037
Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan ESDM Kabupaten Gunungkidul

Pembangunan daerah dapat difokuskan kerja, dan mendorong pemerataan kesempatan


kepada dua sektor yaitu sektor perekonomian kerja berusaha.
dan sektor pertanian. Pembangunan pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan
diarahkan untuk meningkatkan produksi salah satu penghasil singkong di Indonesia.
pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan Hal itu bisa juga di lihat daridata luasan panen
dan kebutuhan industri dalam negri, dan hasil produksi singkong Provinsi Daerah
menigkatkan ekspor, meningkatkan Istimewa Yogyakarta dapat dilihat di tabel 3.
pendapatan petani, memperluas kesempatan
Tabel 3. Luas Panen dan Hasil Produksi Singkong Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun
2013
No Kabupaten Luas Panen Produksi Produktivitas
(Ha) (ton) (ton/Ha)
1 Kulon Progo 2.968 45.793 15,43
2 Bantul 1.925 34.865 18,11
3 Gunungkidul 53.257 931.425 17,49
4 Sleman 627 11.482 18,31
5 Yogyakarta - - -
Sumber : BPS Daerah Istimewa Yogyakarta 2013

Berdasarkan Tabel 3. tersebut dapat Yogyakarta. Salah satu industri hasil


diketahui bahwa luasan dan produksi pertanian di Kabupaten Gunungkidul yaitu
singkong yang tertinggi di Kabupaten pengolahan dari produk singkong mentah
Gunungkidul dibandingkan dengan wilayah menjadi makanan ringan berupa krecek
Kabupaten lainnya di Deerah Istimewa singkong. Krecek singkong merupakan
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

makanan ringan olahan singkong yang diolah resmikan pada November 2012 oleh Badingah
dalam dua tahapan pemasakan. Krecek selaku Bupati Gunungkidul yakni di Desa
singkong ini berbentuk irisan tipis, panjang, Bedoyo Kecamatan Ponjong.Industri krecek
berwarna putih, bertekstur seperti kerupuk singkong di sentra industri krecek singkong
yang digigit. Konsumen yang akan Desa Bedoyo ini merupakan industri kecil.
mengkonsumsi hanya perlu menggoreng Bahan baku pembuatan krecek singkong
krecek singkong. merupakan produk musiman, sehingga pada
Industri kecil adalah kegiatan ekonomi saat tidak musim akan sulit sekali
produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan mendapatkannya.
oleh perorangan atau badan usaha yang bukan Dalam menjalankan usaha, faktor- faktor
merupakan anak perusahaan atau cabang produksi akan mempengaruhi pertumbuhan
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau dan perkembangan usaha. Faktor- faktor
menjadi bagian baik langsung ataupun tidak produksi tersebut antara lain SDA, SDM,
langsung dari usaha menengah atau usaha Modal, Teknologi dll. Melihat prospek dan
besar yang memiliki kekayaan bersih lebih permasalahan yang ada pada industri kecil
dari Rp 50.000.000 sampai paling dengan keripik di atas, maka diperlukan strategi-
paling banyak Rp 500.000.000 tidak termasuk strategi untuk mengembangkan industri kecil
tanah dan gedung dan industri kecil memiliki keripik tersebut. Berdasarkan penjelasan latar
jumlah tenaga kerja antara 5 – 19 orang. belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
Desa Bedoyo berada di Kecamatan meneliti dengan judul “Strategi
Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Desa Pengembangan Industri Kecil Berbahan
Bedoyo menjadi sentra produksi krecek Baku Singkong Di Kabupaten
singkong, keberadaan krecek singkong ini Gunungkidul (Studi Kasus Industri Di
tersebar di daerah Gunungkidul dan memiliki Desa Bedoyo
daerah sentra produksi sendiri yang di

METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian dengan cara sensus yaitu berjumlah 13
Metode dasar yang digunakan dalam responden (unit usaha).
penelitian ini adalah metode deskriptif Sumber Dan Macam Data
analisis. Metode deskriptif analisis yaitu Dalam peneitian ini, peneliti
metode penelitian yang tertuju pada menggunakan data primer. Data primer
pemecahan masalah yang sudah ada pada berupa identitas responden, analisis usaha,
masa sekarang (Surakhmad, 1994). Penentuan dan faktor-faktor strategis diperoleh dengan
lokasi secara purposive yaitu sentra industri menggunakan alat bantu kuesioner. Sumber
krecek singkong di Desa Bedoyo Kecamatan data terdiri dari pelaku usaha krecek
Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Alasan singkong, ketua sentra industri krecek
pemilihan ini adalah Kecamatan Ponjong singkong, konsumen, pedagang pengumpul,
mempunyai produktivitas singkong yang dinas pemerintah, pemasok bahan baku, dan
terbesar di Kabupaten Gunungkidul. Adapun lembaga pembiayaan.
pemilihan satu desa yaitu Desa Bedoyo Selain menggunakan data primer,
karena terdapat sentra industri krecek peneliti juga menggunakan data sekunder
singkong. sebagai sumber data yang dapat membantu
Metode Penentuan Responden terlaksananya penelitian. Data sekunder
Penentuan responden untuk analisis usaha berupa data kondisi wilayah yang diperoleh
pada penelitian ini adalah pelaku usaha dari Badan Pusat Statistik dan Kantor
industri krecek singkong yang dilakukan Kecamatan Ponjong.
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Metode Pengumpulan Data melengkapi data dari wawancara dan


Untuk memperoleh data yang observasi.
dibutuhkan dalam penelitian ini, maka Konseptualisasi Dan Pengukuran Variabel
digunakan teknik pengambilan data sebagai Variabel penelitian adalah objek
berikut : penelitian yang menjadi titik perhatian suatu
1.Observasi penelitian (Suharsimi Arikonto,2006:118).
Merupakan teknik pengumpulan data, Sementara itu menurut Sugiyono (2007:2)
dimana peneliti melakukan pengamatan variabel dalam penelitian pada dasarnya
secara langsung ke objek penelitian untuk adalah sesuatu yang yang berbentuk apa saja
melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan yang ditetapkan oleh penelitian untuk
(Riduwan, 2004 : 104). dipelajari sehingga diperoleh informasi
2. Wawancara tentang hal tersebut. Variabel dalam
Teknik ini digunakan untuk penelitian ini adalah :
mengumpulkan data primer melalui 1. SDM (Tenaga Kerja)
wawancara langsung kepada responden Variabel SDM dalam penelitian ini
berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner) dengan indikator sebagai berikut :
yang telah dipersiapkan sebelumnya. 1) Jumlah Tenaga Kerja (Orang)
Wawancara adalah sebuah dialog yang 2) Alokasi Waktu (HKO)
dilakukan pewawancara (interview) untuk 3) Tingkat Pendidikan
memperoleh informasi dari terwawancara 2. Teknologi
(Suharsimi Arikunto, 2006:155). Variabel teknologi dalam penelitian ini
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian dengan indikator sebagai berikut :
ini adalah kuesioner berbentuk check list. 1) Teknologi yang digunakan
Dimana pada setiap item soal disediakan 4 2) Teknologi tepat guna
alternatif jawaban dengan skor masing- 3. Permodalan
masing sebagai berikut : Variabel permodalan dalam penelitian ini
1) Jawaban A dengan skor 4 dengan indikator sebagai berikut :
2) Jawaban B dengan skor 3 1) Nilai Modal Kerja
3) Jawaban C dengan skor 2 2) Modal Awal (Rp)
4) Jawaban D dengan skor 1 4. Pemasaran
3. Pencatatan/Dokumentasi Variabel pemasaran dalam penelitian ini
Teknik ini digunakan untuk dengan indikator sebagai berikut :
mengumpulkan data sekunder yaitu dengan 1) Omset (Rp)
mencatat data yang ada pada instansi 2) Daerah sasaran penjualan
pemerintah atau lembaga yang terkait dengan Profil indsutri dapat diketahui dari
penelitian ini. Pengumpulan data dengan Sumber Daya Manusia, Teknologi
dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan yang digunakan, permodalan, dan
data sekunder melalui dokumen-dokumen wilayah pemasaran.
tertulis. Pengumpulan data seperti ini oleh Metode Analisis Data
sebagian peneliti diyakini integritasnya 1. Analisis Deskriptif Persentase
karena mengambil dari berbagai sumber yang Metode ini digunakan untuk menjawab
relevan. Dokumen merupakan catatan permasalahan mengenai profil dan kondisi
peristiwa yang sudah berlalu yang dalam SDM, teknologi, pemasaran dan modal pada
penelitian ini, dokumen dimaksudkan untuk industri kecil krecek singkong di Desa
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten a. Menghitung skor maksimum dengan cara


Gunungkidul. mengalikan jumlah responden dengan
adapun rumus yang digunakan sebagai berikut skor maksimum
: b. Menghitung skor minimum dengan cara
𝑛 mengalikan jumlah responden dengan
% = × 100%
𝑁 skor minimum
keterangan : c. Menghitung persentase maksimum dengan
% : Tingkat keberhasilan yang dicapai cara jumlah skor maksimum dibagi jumlah
n : Nilai yang diperoleh (skor hasil) skor maksimum dikalikan 100%
N : Jumlah seluruh skor (skor ideal) d. Menghitung persentase minimum dengan
(Ali,1998:124) cara jumlah skor minimum dibagi dengan
Langkah- langkah menggunakan rumus jumlah skor maksimum dikalikan 100%
deskriptif persentase adalah sebagai berikut: e. Rentang persentase
f. Interval kelas persentase

Tabel 4. Kategori Deskriptif Persentase Responden


Persentase Kategori
75,01 ≤ 100% Baik
50,01% ≤ 75,00% Sedang
25,00% ≤ 50,00% Buruk

2. Analisis SWOT identifikasi opportunities (peluang) dan


Analisis SWOT digunakan untuk threat (ancaman).
mengetahui strategi apa yang akan Berikut ini langkah- langkah
digunakan setelah melihat kekuatan, selanjutnya setelah diperoleh analisis
kelemahan, peluang dan ancaman yang mengenai kekuatan, kelemahan, peluang
dimiliki industri. Analisis SWOT adalah dan ancaman pada sektor industri kecil
suatu alat manajemen untuk krecek singkong:
mengevaluasi internal dan eksternal 1. Identifikasi faktor- faktor internal
organisasi sehingga dapat memberikan dan eksternal
informasi mengenai isu- isu penting bagi Identifikasi faktor- faktor
organisasi/ dinas. Analisis SWOT internal dan eksternal ini diperoleh
dimulai dengan identifikasi aspek positif, dengan memanfaatkan seluruh hasil
yaitu strength (kekuatan) dan aspek analisis. Selanjutnya informasi yang
negatif, yaitu weakness (kelemahan) dari diperoleh diklasifikasikan. Hal ini
internel organisasi. Sedangkan dari dilihat pada format tabel berikut ini:
eksternal organisasi dilakukan
Tabel 5. Analisis Faktor Internal dan Eksternal
Faktor-Faktor Strategi Bobot Rating Bobot X
Internal dan Eksternal Rating
Kekuatan
Kelemahan
Peluang
Ancaman
Sumber : Fredy Rangkuti, 2006 hal 24-25
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Keterangan : terhadap kondisi sektor industri kecil krecek


Pemberian bobot masing- masing singkong. Pemberian nilai rating untuk faktor
skala mulai 1,0 (paling penting) sampai 0,0 kekuatan dan peluang yang bersifat positif
(paling tidak penting) berdasarkan semakin besar diberi rating 4 tetapi bila kecil
pengaruhnya. Semua bobot tersebut tidak diberi rating 1. Pemberian nilai rating
boleh melebihi skor total 1,00. Pemberian kelemahan dan ancaman yang bersifat negatif
rating untuk masing-masing faktor- faktor semakin besar diberi rating 1 tetapi bila kecil
dengan skala mulai dari empat sampai dengan diberi rating 4.
satu berdasarkan pengaruh faktor tersebut a. Matriks Internal Eksternal

Total Skor Faktor Strategi Internal


4.0 3.0 2.0 1.0

Tinggi I II III
3.0 Pertumbuhan Pertumbuhan Penciutan
Menengah
Total skor Faktor Eksternal 2.0
Rendah
IV V VI
1.0 Stabilitas Pertumbuhan Penciutan

Stabilitas

VII VIII IX
Pertumbuhan Pertumbuhan Likuidasi

Gambar 2. Gambar Internal Eksternal


Keterangan :
I : Strategi konsentrasi melalui integrasi vertikal
II : Strategi Konsentrasi melalui integrasi horizontal
III : Strategi turn around
IV : Strategi stabilitas
V : Strategi konsentrasi melalui integrasi horizontal atau stabilitas tidak ada
perubahan
VI : Strategi divestasi
VII : Strategi diversifikasi konsentrik
VIII : Strategi diversifikasi konglomerat
IX : Strategi likuiditas
Sumber : Fredy Rangkuti, (2006:25)

Untuk memperoleh penjelasan secara lebih di atas, berikut ini akan dijelaskan tindakan
detail mengenai kesembilan strategi yang dari masing-masing strategi tersebut.
terdapat pada sembilan sel IE matriks tersebut 1) Sel I: Konsentrasi melalui Integrasi
Vertikal
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Perumbuhan melalui konsentrasi dapat padaperusahaan yang memiliki kondisi


dilalui integrasi dengan carabackward competitive position sangat kuat
integration atau forward integration. Hal tetapinilai daya tarik industrinya rendah.
ini merupakan strategi utama untuk 7) Sel VIII Diversifikasi Konglomerat
perusahaan yang memiliki posisi Strategi pertumbuhan melalui kegiatan
kompetitif pasar yang kuat(high market bisnis yang tidak saling
share) dalam berdaya tarik tinggi. berhubungandapat dilakukan jika
2) Sel II dan V Konsentrasi melalui perusahaan menghadapi competitive
Integrasi Horizontal position yang tidakterlalu kuat dan nilai
Strategi pertumbuhan melalui integrasi daya tarik industrinya sangat rendah.
horizontal adalah kegiatan Tekanan strategiini lebih pada sinergi
yangmemperluas perusahaan dengan cara finansial daripada product market
membangun di lokasi yang lain synergy (seperti yangterdapat pada
danmeningkatkan produk serta jasa. diversifikasi).
3) Sel III Turnaround 8) Sel IX Bangkrut atau Likuiditas
Strategi ini tepat bagi perusahaan pada Likuiditasi adalah strategi yang
daya tarik industri tinggi ketikamasalah- dilakukan dengan menjual sebagian
masalah perusahaan mulai dirasakan tapi atauseluruh perusahaan atau produk
belum kritis. Strategi inidilakukan oleh perusahaan yang ada dengan
perusahaan dengan cara melakukan tujuanmendapatkan uang untuk
penghematan padaoperasional membayar seluruh obligasi perusahaan
perusahaan. dankemudian menyerahkan sisanya pada
4) Sel IV Stability pemegang saham.
Strategi berdiam diri mungkin tepat Setelah mengumpulkan informasi yang
untuk dijadikan sebagai strategisementara berpengaruh terhadap kelangsungan
yang memungkinkan bagi perusahaan pemberdayaan industri kecil krecek
untuk menggabungkansemua sumber singkong, tahap selanjutnya adalah
daya yang dimilikinya setelah mengalami memanfaatkan informasi tersebut
pertumbuhan yangcepat dari suatu kedalam rumusan strategi.
industri yang kemudian menghadapi Alat yang dipakai untuk menyusun
suatu masa depan yangtidak pasti. strategi adalah matrik SWOT. Matrik ini
5) Sel VI Divestasi menggambarkan secara jelas bagian
Merupakan strategi yang tepat bagi peluang dan ancaman eksternal yang
perusahaan yang berada pada dihadapi disesuaikan dengan kekuatan
posisikompetisi lemah dan dengan daya dan kelemahan yang dimiliki. Matrik ini
tarik industri menengah. dapat menghasilkan 4 sel kemungkinan
6) Sel VII Diversifikasi Konsentris alternative strategi sebagai berikut:
Strategi pertumbuhan melalui
diversifikasi umumnya dilakukan

Tabel.6. Matriks SWOT


Internal Strenghts Weakneses
Menentukan faktor-faktor Menentukan faktor-faktor
kekuatan intenal kelemahan internal
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Eksternal
Oppportunities Strategi S-O Strategi W-O
Menentukan faktor-faktor Menciptakan strategi yang Menciptakan strategi yang
peluang eksternal menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan
untuk memanfaatkan untuk memanfaatkan
peluang peluang
Threats Strategi S-T Strategi W-T
Menentukan faktor-faktor Menciptakan strategi yang Menciptakan strategi yang
ancaman eksternal menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan
untuk mengatasi ancaman dan menghindari ancaman
Sumber : Rangkuti, 2001.

Keterangan : komparatif. Dua elemen eksternal dan


Strenghts (S) : internal yang baik ini tidak boleh
Kekuatan, yaitu faktor- faktor kekuatan yang dilepaskan begitu saja, tetapi akan
dimiliki oleh perusahaan termasuk satuan menjadi isu utama pemberdayaan
bisnis di dalamnya adalah antara lain meskipun demikian proses
kompetensi khusus yang terdapat dalam pengkajiannya tidak boleh dilupakan
organisasi yang berakibat pada pemilikan adanya berbagai kendala dan ancaman
keunggulan komparatif oleh unit usaha di perubahan. Kodisi lingkungan yang
pasaran. terdapat di sekitarnya untuk digunakan
Weakness (W) : sebagai usaha dalam mempertahankan
Kelemahan, yaitu keterbatasan atau keunggulan komparatif tersebut. (Strategi
kekurangan dalam hal sumber, keterampilan SO : menggunakan kekuatan
dan kemampuan yang menjadi penghalang memanfaatkan peluang).
serius bagi penampilan kinerja organisasi 2. Strategi ST
yang memuaskan. Kotak ini merupakan kajian yang
Oppurtunity(O) : mempertemukan interaksi antara
Peluang, yaitu berbagai situasi lingkungan ancaman atau tantangan dari luar yang
yang menguntungkan diidentifikasikan untuk memperlunak
bagi suatu satuan ancaman atau tantangan tersebut, dan
bisnis. sedapat mungkin merubahnya menjadi
Threats (T) : sebuah peluang bagi pemberdayaan
Ancaman, Faktor-faktor lingkungan yang selanjutnya.( Strategi ST : menggunakan
tidak menguntungkan kekuatan untuk mengusir hambatan).
suatu satuan bisnis. 3. Strategi WO
(Siagian, 2005:172) Kotak ini merupakan kajian yang
1. Strategi SO menuntut adanya kepastian dari berbagai
Apabila didalam kajian terlihat peluang dan kekurangan yang ada.
peluang- peluang yang tersedia ternyata Peluang yang besar disini akan dihadapi
juga memiliki posisi internal yang kuat, oleh kurangnya kemampuan sector untuk
maka sektor tersebut juga memiliki posisi mengungkapnya. Pertumbuhan harus
internal yang kuat, maka sektor tersebut dilakukan dengan hati-hati untuk
dianggap memiliki keunggulan memilih dan untuk menerima peluang
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

tersebut, khususnya dikaitkan dengan ancaman dan tantangan dari luar dengan
potensi kawasan. ( Strategi WO : kelemahan yang terdapat didalam
menggunakan peluang untuk kawasan. Strategi yang harus ditempuh
menghindari kelemahan). adalah mengambil keputusan untuk
4. Strategi WT mengendalikan kerugian yang akan
Merupakan tempat untuk menggali dialami dengan sedikit membenahi
berbagai kelemahan yang akan dihadapi sumberdaya internal yang ada.
oleh sector dalam perkembangannya. Hal ( Strategi WT : meminimalkan
ini dapat dilihat dari pertemuan antara kelemahan dan mengusir hambatan).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Profil Industri Kecil Krecek Singkong di tahun 1992-2006. Sampai saat ini
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong terdapat 13 unit usaha.
Kabupaten Gunungkidul 2. Modal Awal Usaha
Industri kecil krecek singkong di Desa Modal Awal Usaha yang digunakan oleh
Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten para pemilik industri kecil krecek
Gunungkidul. Di Desa Bedoyo terdapat singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
sebanyak 13 unit industri. Dalam penelitian Ponjong Kabupaten Gunungkidul
ini yang diungkap dari profil usaha industri berkisar antara Rp 1.000.000 – Rp
kecil krecek singkong di Desa Bedoyo 4.000.000 dengan perincian sebagai
Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul berikut. Sebanyak 10 unit usaha
ialah menggunakan modal awal sebesar Rp
1. Tahun Berdiri 1.000.000. Untuk modal awal sebesar Rp
Tahun berdiri industri kecil krecek 2.000.000 ada sebanyak 2 unit. Dan
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan untuk modal awal sebesar Rp 4.000.000
Ponjong Kabupaten Gunungkidul antara sebanyak 1 unit usaha.
3. Jenis Kelamin Pengusaha
Tabel 9. Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Presentase (%)
Laki-laki 2 15,38
Perempuan 11 84,61
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Jenis kelamin pengusaha pada industri Bedoyo Kecamatan Ponjong


kecil krecek singkong di Desa Bedoyo Kabupaten Gunungkidul sangat
Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul beragam antara usia 40 tahun – 63
lebih banyak pengusaha perempuan yaitu tahun. Usia antara 40 tahun – 45
sebanyak 11 orang, sedangkan untuk tahun ada 3 orang. Usia antara 46
pengusaha laki-laki sebanyak 2 orang. tahun – 55 tahun sebanyak 8 orang
4. Umur Pengusaha dan usia antara 56 tahun – 63 tahun
Usia para pengusaha pada sebanyak 1 orang.
industri kecil krecek singkong di Desa 5. Tingkat Pendidikan
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Tabel 10 Tingkat Pendidikan Responden


Pendidikan Jumlah (Orang) Presentase (%)
SD 4 30,77
SLTP 5 38,46
SLTA 4 30,77
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Pengusaha pada industri kecil krecek tingkat pendidikan seseorang, maka semakin
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan tinggi pula pengetahuan serta pengalaman
Ponjong Kabupaten Gunungkidul yang tamat yang dimiliki, sehingga pendidikan
SD sebanyak 4 orang, sedangkan tamatan merupakan hal yang sangat penting bagi
SLTP sebanyak 5 orang dan sisanya sebanyak kehidupan.
4 orang adalah lulusan SLTA. Semakin tinggi 6. Status Kepemilikan Usaha
Tabel 11 Status Kepemiikan Usaha
Status Kepemilikan Jumlah (Orang) Presentase (%)
Pribadi 11 84,61
Keluarga 2 15,38
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Status kepemilikkan usaha pada industri krecek singkong Desa Bedoyo


kecil krecek singkong di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten
Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul Gunungkidul mulai dari lokal, luar
yaitu sebanyak 11 unit usaha merupakan kabupaten, luar provinsi.
usaha milik pribadi, sedangkan sebanyak 2 Kondisi SDM, Teknologi, Permodalan, dan
unit usaha merupakan milik keluarga. Pada Pemasaran Pada Industri Kecil Krecek
usaha milik keluarga tersebut merupakan Singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
usaha yang dimiliki oleh keluarga atau secara Ponjong Kabupaten Gunungkidul
bersama-sama dalam pengolahannya. 1. Sumber Daya Manusia (SDM)
7. Daerah Pemasaran Berdasarkan hasil penelitian dapat
Daerah Pemasaran yang diterangkan bahwa kondisi SDM pada
dimaksud dalam hal ini adalah daerah industri kecil krecek singkong di Desa
dimana produk akan dijual kepada Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten
konsumen. Daerah pemasaran produk Gunungkidul sebagai berikut:
Tabel 12. Deskripsi Jawaban Pada Variabel SDM
Interval Kriteria Frekuensi Persentase (%)
71,01 ≤ 84,00 Baik 1 7,69
58,01 ≤71,00 Sedang 2 15,38
45,00≤58,00 Rendah 11 84,66
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Berdasarkan tabel 12 diatas, sebanyak permerintah agar keberlangsungan kegiatan


84,66% responden menyatakan bahwa kondisi dan perkembangan industri kecil krecek
SDM dalam industri kecil krecek singkong di singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten Ponjong Kabupaten Gunungkidul bisa
Gunungkidul dalam kategori rendah dan berjalan dengan baik dan lancar. Kondisi
kemudian sebanyak 15,38% menyatakan SDM di industri kecil krecek juga dapat
bahwa kondisi SDM dalam kondisi sedang, dilihat dari :
dan sebanyak 7,69%. Hal tersebut perlu dapat a. Penggunaan Tenaga Kerja
perhatian baik dari pengusaha sendiri maupun
Tabel 13.Penggunaan Tenaga Kerja pada Industri kecil Krecek Singkong
No Penggunaan Jumlah Persentase(%)
Tenaga Kerja (Orang)
(Orang)
1 >5 2 15,38
2 4 4 30,77
3 3 4 30,77
4 2 3 23,07
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)
Dalam penggunaan tenaga kerja kerja 2 orang sebanyak 3 industri dan sisanya
pengusaha harus memperhatikan berapa sebanyak 2 industri menggunakan >5 orang
banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan . tenaga kerja.
Hal ini berkaitan dengan besarnya biaya b. Pendidikan Tenaga Kerja
produksi dan pendapatan pengusaha. Dari Berdasarkan hasil penelitian dapat
tabel 13 diketahui bahwa jumlah tenaga kerja diterangkan bahwa rata-rata tingkatan
yang banyak digunakan pada industri kecil pendidikan tenaga kerja pada industri
krecek singkong di Desa Bedoyo Kecamatan kecil krecek singkong di Desa Bedoyo
Ponjong Kabupaten Gunungkidul adalah Kecamatan Ponjong Kabupaten
sebanyak 3 – 4 orang tenga kerja yaitu Gunungkidul sebagai berikut :
berjumlah 8 industri, untuk penggunaan tenga
Tabel 14.Pendidikan Tenaga Kerja di Industri Kecil Krecek Singkong
No Pendidikan Tenaga Jumlah Persentase(%)
Kerja
1 SMA 15 34,88
2 SMP 23 53,48
3 SD 5 11,62
Total 43 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Dari tabel 14 diketahui bahwa pada tahun SMA, sebesar 53,48% berpendidikan SLTP,
2015 jumlah tenaga kerja pada industri kecil dan sebesar 11,62% berpendidikan SD.
krecek singkong di Desa Bedoyo Kecamatan Tingkat pendidikan ikut mempengaruhi
Ponjong Kabupaten Gunungkidul ada kualitas tenaga kerja.
sebanyak 43 orang. Rata-rata pendidikan c. Jam Kerja
tenaga kerja pada industri kecil krecek Berdasarkam hasil penelitian
singkong yaitu sebesar 34,88% berpendidikan dapat diterangkan bahwa rata-rata jam
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

kerja pada industri kecil krecek singkong Kabupaten Gunungkidul sebagai berikut :
di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong
Tabel 15.Jam Kerja di Industri Kecil Krecek Singkong
No Jam Kerja(Jam) Frekuensi Persentase(%)
1 8–9 2 15,38
2 6–7 2 15,38
3 Tidak Terikat Jam 9 69,23
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 15 dapat diketahui atau peraturan yang mengikat di industri


bahwa jam kerja paling banyak adalah krecek singkong
sebanyak 9 industri tidak terikat jam kerja, d. Hari Kerja
sedangkan industri yang menggunakan Berdasarkan hasil penelitian
jam kerja antara 8 – 9 jam sebanyak 2 dapat diterangkan bahwa rata-rata
industri, dan ssebanyak 2 industri hari kerja pada industri kecil krecek
menggunakan jam kerja antara 6 – 7 jam. singkong di Desa Bedoyo Kecamtan
Ada beberapa industri yang tidak terikat Ponjong Kabupaten Gunungkidul
jam kerja dikarenakan belum adanya SOP sebagai berikut :
Tabel 16. Hari kerja di Industri Krecek Singkong
No Hari Kerja Frekuensi Persentase(%)
(Hari)
1 7 1 7,69
2 6 8 61,53
3 5 2 15,38
4 Tidak 2 15,38
Menentu
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Dari tabel 16. dapat diketahui bahwa produktivitasnya. Pelatihan biasanya


hari kerja paling banyak adalah 6 hari diadakan oleh Disperindag
dalam 1 minggu sebanyak 8 industri, Kabupaten Gunungkidul dengan
sedangkan hari kerja yang 5 hari dan hari mengundang pengusaha krecek
kerja yang tidak menentu sebanyak 2 singkong yang sudah berpengalaman
industri, kemudian hanyak 1 industri hari selanjutnya pengusaha tersebut
kerjanyan 7 hari atau 1 minggu. Adanya memberikan pelatihan kepada tenaga
hari kerja yang tidak menentu disebabkan kerjanya dengan harapan tenaga
pembuatan krecek singkong tergantung kerjanya dapat lebih produktif dan
pada permintaan konsumen. efisien. Pelatihan yang diberikan
e. Pelatihan Tenaga Kerja berupa pelatihan manajemen yang
Pelatihan untuk tenaga kerja ditujukkan kepada pemilik
diberikan agar tenaga kerja memiliki usaha/industri dan pelatihan tentang
kemampuan yang lebih baik sehingga pengemasan produk.
diharapkan dapat meningkatkan
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

2. Teknologi singkong di Desa Bedoyo Kecamatan


Berdasarkan hasil penelitian Ponjong Kabupaten Gunungkidul
dapat diterangkan bahwa kondisi sebagai berikut :
teknologi pada industri kecil krecek
Tabel 17.Deskripsi Jawaban Pada Variabel Teknologi
Interval Kriteria Frekuensi Persentase
(%)
71,01 ≤ 84,00 Baik 2 15,38
58,01 ≤71,00 Sedang 10 76,92
45,00 ≤58,00 Buruk 1 7,69
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer (diolah tahun 2015)

Berdasarkan tabel 17. diatas dapat Hal ini menunjukkan bahwa keadaan
diterangkan bahwa sebanyak 15,38% tekonologi dalam keadaan pada industri
responden menyatakan bahwa kondisi kecil krecek singkong di Desa Bedoyo
teknologi dalam industri kecil krecek Kecamatan Ponjong Kabupaten
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan Gunungkidul sudah baik, karena alat yang
Ponjong Kabupaten Gunungkidul dalam digunakan merupakan alat tradisional.
keadaan baik sebanyak 15,38% dan Dikarenakan sesuai dengan kebutuhan
kemudian sebanyak 76,92% responden yang diperlukan oleh para pengusaha
menyatakan bahwa kondisi teknologi tersebut. Kondisi teknologi di Industri
dalam sedang, dan sebanyak 7,69% kecil krecek singkong juga dapat dilihat :
responden menyatakan kondisi teknologi a. Lama Produksi
dalam keadaan rendah.
Tabel 18.Lama Produksi pada Industri Kecil Krecek Singkong
No Lama Produksi Jumlah Persentase
(Hari) (Orang) (%)
1 5 4 30,77
2 4 9 69,23
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah ( tahun 2015)

Lama produksi yang keadaan cuaca. Dari keterangan


dimaksud yaitu waktu yang responden dapat diketahui bahwa
dibutuhkan dari proses awal mereka yang membutuhkan waktu
sampai menjadi barang siap jual. selama 4 hari ada sebanyak 12
Berdasarkan tabel 18 diatas dapat unit usaha, dan yang
diterangkan bahwa lama produksi membutuhkan waktu lebih dari 4
usaha krecek singkong berbeda- hari ada sebanyak 1 unit usaha.
berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh Yang membedakan lama produksi
ketersediaan bahan baku dan 4 hari dengan 5 hari terletak pada
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

proses penjemuran dan proses oleh cuaca dan kualitas bahan


penjemuran juga di pengaruhi baku.
b. Jenis Mesin

Tabel 19.Jenis Mesin pada Industri Kecil Krecek Singkong


No Jenis Frekuensi Persentase
Mesin (Orang) (%)
1 Tradisional 10 76,92
2 Tepat Guna 3 23,07
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Alat yang dimaksud disini adalah alat menggunakan alat tradisional yaitu
yang digunakan dalam memproduksi. Dari sebanyak 10 unit usaha dan sisanya
tabel 19 diatas diketahui bahwa jenis alat sebanyak 3 unit usaha sudah
yang digunakan pada industri kecil krecek menggunakan alat tepat guna.
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan c. Jenis Alat/Teknologi
Ponjong Kabupaten Gunungkidul masih
Tabel 20.Jenis Alat pada Industri Kecil Krecek Singkong
No Jenis Alat Frekuensi Persentase
(Unit) (Orang) (%)
1 >5 1 7,69
2 4 10 76,92
3 3 2 15,38
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 20 diatas dapat Alat tepat guna yang digunakan


diketahui bahwa responden yang memiliki dalam industri kecil antara lain: Spinner
jumah alat/mesin >5 unit sebanyak 1 unit (penyaring minyak), mesin press
usaha, dan yang menggunakan jumlah (pembungkus). Sedangkan masih banyak
alat/mesin 4 unit yaitu 10 unit usaha, dan yang menggunakan alat trade
sebanyak 2 unit usaha menggunakan alat sional dalam proses produksi seperti
dengan jumlah 3 unit. Hal tersebut masih memakai kompor tungku dalam
menunjukkan bahwa kepemilikkan alat memasak, memakai pemanas tradisional
dalam industri kecil krecek singkong di tradisional (lilin) dalam proses
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong pembungkusan.
Kabupaten Gunungkidul masih minim 3. Permodalan
terutama alat tepat guna. Penggunaan alat Berdasarkan hasil penelitian
tepat guna tepat guna dapat mempercepat dapat diterangkan bahwa kondisi
atau meningkatkan produktivitas dalam permodalan pada industri kecil
proses produksi. krecek singkong di Desa Bedoyo
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul sebagai berikut :

Tabel 21.Deskripsi Jawaban pada Variabel Permodalan


Interval Kriteria Frekuensi Persentase(%)
71,01 ≤ 84,00 Baik 1 7,69
58,01 ≤71,00 Sedang 6 46,15
45,00 ≤58,00 Rendah 6 46,15
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 21 diatas dapat permodalan sedang dan rendah. Hal ini
diterangkan bahwa kondisi permodalan menunjukkan bahwa rata-rata keadaan
pada industri kecil krecek singkong di permodalan pada industri kecil krecek
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
Kabupaten Gunungkidul berdasarkan Ponjong Kabupaten Gunungkidul masih
jawaban responden dengan kriteria kurang. Kondisi permodalan ini dapat
keadaan permodalan baik berjumlah 1 dilihat dari :
orang, dan keadaan permodalan sedang a. Nilai Investasi
sebanyak 6 orang menyatakan kondisi

Tabel 22.Nilai Investasi pada Industri Kecil Krecek Singkong


No Nilai Investasi Frekuensi Persentase
(Rp) (Orang) (%)
1 > 15 Juta 2 15,38
2 11 – 15 Juta 3 23,07
3 5 – 10 Juta 5 38,46
4 < 5 Juta 3 23,07
Jumlah 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Yang dimaksud nilai investasi disini unit usaha, nilai invetasi antara 11 – 15
yaitu jumlah modal dan keseluruhan juta sebanyak 3 unit usaha, nilai investasi
kekayaan yang dimiliki pada usaha kecil antara 5 – 10 juta ada sebanyak 5 unit
krecek singkong kecuali tanah dan rumah. usaha, sedangkan nilai investasi < 5 juta
Berdasarkan tabel 22 diatas dapat ada sebanyak 3 unit usaha. Hal ini sesuai
diketahui bahwa nilai investasi pada dengan kriteria industri kecil dengan nilai
industri kecil krecek singkong di Desa investasi antara 5 juta – 200 juta.
Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten b. Biaya Pembelian Bahan Baku
Gunungkidul senilai > 15 juta sebanyak 2

Tabel 23.Biaya Pembelian Bahan Baku pada Industri Kecil Krecek Singkong
No. Biaya (Rp) Frekuensi Persentase(
(Orang) %)
1 2.000.000 – 1.250.000 1 7,69
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

2 1.200.000 – 500.000 5 38,46


3 500.000 7 53,84
13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 23 diatas dapat unit usaha, sedangkan pembelian bahan


diketahui bahwa biaya pembelian bahan baku senilai <Rp 500.000 sebanyak 7 unit
baku tiap bulan pada industri kecil krecek usaha. Untuk rincian pembelian bahan
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan baku di sentra industri kecil krecek
Ponjong Kabupaten Gunungkidul antara singkong di Kabupaten Gunungkidul rata
Rp 3.000.000 – Rp 1.100.000 sebanyak 1 – rata per harinya adalah 150 kg – 250 kg
unit usaha, pembelian bahan baku antara dengan harga per kg Rp2400 – Rp2600,-.
Rp 1.000.000 – Rp 500.000 sebanyak 5 c. Biaya Upah Tenaga Kerja

Tabel 24.Upah Tenaga Kerja pada Industri Kecil Krecek


No Upah Frekuensi Persentase(
%)
1 >Rp 700.000 2 15,38
2 Rp 600.000-Rp 4 30,76
700.000
3 Rp 500.000- Rp 5 38,46
600.000
4 <Rp 500.000 2 15,38
Total 13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 24 diatas dapat antara Rp 600.000 – Rp 700.000 sebanyak


diketahui bahwa biaya upah tenaga kerja 4 unit usaha, upah antara Rp 500.000 – Rp
tiap bulan pada industri kecil krecek 600.000 sebanyak 5 unit usaha, dan upah
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan yang kuran dari Rp 500.000 ada sebanyak
Ponjong Kabupaten Gunungkidul lebih 2 unit usaha.
dari 700.000 sebanyak 2 unit usaha, upah d. ModalAwal

Tabel 25.Modal Awal pada Industri Kecil Krecek


No Sumber Modal Frekuensi Persentase
(%)
1 Sendiri 12 92.30
2 Sendiri dan 1 7.69
Pinjaman Keluarga
13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Modal yang digunakan pengusaha dari keluarga. Modal pinjaman


dalam menjalankan usahanya bisa berasal berdasarkan tabel 25 diketahui bahwa
dari modal pribadi, dan modal pinjaman sumber modal pada industri kecil krecek
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

singkong di Desa Bedoyo Kecamatan dan pinjaman dari keluarga ada sebanyak
Ponjong Kabupaten Gunungkidul yang 1 unit usaha.
berasal dari modal sendiri sebanyak 12 e. Bantuan Modal dari pemerintah
unit usaha, dan kemudian modal sendiri
Tabel 26.Bantuan Modal pada Industri Kecil Krecek
No Bantuan Modal Jumlah Persentase(%)
1 Ada 11 84.61
2 Tidak Ada 2 15.38
13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)
Bantuan modal diberikan oleh responden yang mengatakan ada bantuan
pemerintah atau dinas terkait agar permodalan dibagi 2 macam yaitu ada
pengusaha memiliki kemampuan bantuan permodalan dalam bentuk cuma-
menjalankan usaha dengan baik sehingga cuma sebanyak 4 unit usaha dan dalam
dapat meningkatkan perkembangan bentuk bantuan permodalan bunga ringan
usahanya. Dari tabel 26 diatas dapat sebanyak 9 unit usaha.
diketahui bahwa pada industri kecil 4. Pemasaran
krecek singkong di Desa Bedoyo Berdasarkan hasil penelitian
Kecamatan Ponjong Kabupaten yang dapat diterangkan bahwa
Gunungkidul sebanyak 11 unit usaha kondisi Pemasaran pada industri kecil
mengatakan ada bantuan permodalan dan krecek singkong di Desa Bedoyo
sebanyak 2 unit usaha mengatakan tidak Kecamatan Ponjong Kabupaten
ada bantuan permodalan. Adapun Gunungkidul sebagai berikut

Tabel 27.Deskripsi Jawaban Pada Variabel Pemasaran


Interval Kriteria Frekuens Persentas
i e(%)
71,01 ≤ 84,00 Baik 2 15,39
58,01 ≤ 71,00 Sedang 8 61,54
45,00 ≤ 58,00 Rendah 3 23,07
13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 27 diatas dapat Gunungkidul dalam keadaan rendah.


diketahui bahwa kondisi pemasaran Kondisi pemasaran sebagian besar pada
sebesar 15,39% pengusaha menyatakan industri kecil krecek singkong ini dalam
dalam kondisi baik, dan 61.54% keadaan kurang baik. Hal ini disebabkan
pengusaha menyatakan sedang, dan masih banyak masalah-masalah dalam
sebanyak 23,07% responden menyatakan pemasaran seperti belum punya
bahwa kondisi pemasaran pada industri tempat/kios untuk memasarkan
keci krecek singkong di Desa Bedoyo produknya. Kondisi pemasaran dapat
Kecamatan Ponjong Kabupaten dilihat dari :
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

a. Omset Usaha
Tabel 28.Omset Usaha pada Industri Kecil Krecek
No Omset (Juta) Jumlah Persentase(%)
1 Rp 16 – Rp 20 2 15.38
2 Rp 10 – Rp 15 6 46.15
3 < Rp 10 5 38.46
13 100
Sumber = Data Primer diolah (tahun 2015)

Berdasarkan tabel 28 diatas dapat Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong


diketahui bahwa omset perbulan pada Kabupaten Gunungkidul dijual pada
industri kecil krecek singkong di Desa tingkat harga rata-rata sama. Dalam
Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten industri kecil krecek singkong harga
Gunungkidul yaitu industri dengan omset yang di patok untuk 1 bungkus
perbulan Rp 16 juta – Rp 20 juta sebanyak produk krecek singkong Rp10.000,-.
2 unit usaha, industri dengan omset usaha meliputi rasa original, rasa bawang,
perbulan Rp 11 – Rp15 juta sebanyak 6 dan rasa pedas
unit usaha, dan omset usaha perbulan < Analisis SWOT untuk menentukan
Rp 10 juta ada sebanyak 5 unit usaha. Hal Strategi Pengembangan Industri Kecil
ini menunjukkan bahwa sebagian besar Krecek Singkong di Desa Bedoyo
omset perbulan antara Rp 11 juta – Rp 15 Kecamatan Ponjong Kabupaten
juta. Gunungkidul
b. Harga Jual Produk 1) Aspek Internal
Harga produk yang dihasilkan
pada industri kecil krecek singkong di

Tabel 29. Faktor-Faktor Strategi Internal


Faktor-faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor
Kekuatan :
1. Modal awal pendirian usaha mudah
2. Ketersediaan bahan baku relatif 0,25 4 1,00
mudah di dapat
3. Peralatan produksi bisa 0,15 3 0,45
menggunakan alat yang sederhana
4. Banyak unit produk yang terjual
sama dengan jumlah produk yang
diproduksi 0,05 1 0,05

0,15 2 0,30
Kelemahan :
1. Rendahnya kualitas SDM 0,25 1 0,25
2. Belum punya daerah pemasaran yang
tetap dan terbatasnya informasi
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

pemasaran 0,15 3 0,45


1,00 2,50

Pada tabel 29 skor tertinggi untuk Pada faktor kelemahan skor


faktor kekuatan dengan 1,00 yaitu modal tertinggi adalah rendahnya kualitas SDM
pendirian usaha mudah. Sedangkan untuk baik untuk pelaku usaha maupun tenaga
tingkat permodalan pada saat mendirikan kerja. Hal ini terlihat dari belum adanya
usaha relatif mudah yaitu masih tergolong sistem administrasi dalam bentuk
ringan sebesar Rp1.000.000 pembukuan dan masih tercampurnya uang
Untuk kekuatan yang lain dengan usaha dengan uang pribadi. Dalam tenaga
skor 0,45 yaitu banyaknya unit yang kerja, pembinaan masih dilakukan oleh
produk yang terjual sama dengan jumlah pelaku usaha sendiri dan hanya hal-hal
produk yang diproduksi. Hal ini di sederhana saja yang menyangkut proses
sebabkan dalam proses produksi sesuai produksi seperti pengemasan produk
dengan pesanan yang ada jadi barang 2) Aspek Eksternal
tidak menumpuk yang akan menyebabkan
produk menjadi rusak.

Tabel 30. Faktor-Faktor Strategi Eksternal


Faktor-faktor strategi Bobot Rating Skor
Eksternal

Peluang :
1. Tingkat ketersediaan 0,10 2 0,20
tenaga kerja di wilayah
sekitar banyak
2. Produk merupakan salah
satu makanan ciri khas
daerah 0,30 4 1,20

Ancaman :
1. Adanya pesaing dari luar 0,30 1 0,30
desa
2. Muncul banyaknya
keripik dengan inovasi 0,15 3 0,15
yang lain dan baru
1,00 1,85

Pada tabel 30 skor tertinggi untuk merupakan salah satu makanan


faktor peluang adalah produk ciri khas daerah dengan skor 1,20.
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Hal ini sesuai karena di Kecamtan Dari total skor yang


Ponjong Kabupaten Gunungkidul diperoleh, yaitu faktor strategi
terkenal sebagai sentra produksi internal 2,50 dan faktor strategi
krecek singkong. eksternal 1,85 menunjukkan titik
Pada faktor ancaman skor kordinat terletak pada daerah
tertinggi adalah 0,30 yaitu adanya pertumbuhan VIII seperti
pesaing dari luar desa. Banyak ditunjukkan pada gambar 3
para pembuat krecek dari luar Internal – Eksternal Matriks
daerah yang menjual harga lebih (Rangkuti, 2006:25), dalam kasus
murah sehingga akan ini berarti pemecahan masalah
mempengaruhi dalam pemesanan harus melalui diversifikasi
produk konglomerat.
3) Internal – Eksternal Matrik
Total Skor Faktor Strategi Internal
I II III
Pertumbuhan Pertumbuhan Penciutan
melalui Integrasi melalui Integrasi melalui “turn
Vertikal Horizontal around”

IV V VI
Stabilitas Pertumbuhan Penciutan
(Divestasi)
Stabilitas

VII VIII IX
Pertumbuhan Pertumbuhan Likuidasi
melalui melalui
Diversifikasi Diversifikasi
Konsentrik Konglomerat

Gambar 3 Internal – Eksternal Matriks


Keterangan : Sumber : Fredy Rangkuti, (2006:25)
I : Strategi konsentrasi melalui integrasi Dalam matriks di atas, skor yang
vertikal diperoleh dari faktor strategis internal
II : Strategi Konsentrasi melalui integrasi 2,50 dan faktor strategis eksternal 1,85
horizontal menunjukkan titik koordinat terletak pada
III : Strategi turn around daerah pertumbuhan VIII. Sehingga
IV : Strategi stabilitas strategi yang tepat untuk digunakan dalam
V : Strategi konsentrasi melalui integrasi pengembangan industri kecil krecek
horizontal atau stabilitas tidak ada singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
perubahan Ponjong Kabupaten Gunungkidul adalah
VI : Strategi divestasi strategi diversifikasi konglomerat. Yaitu
VII : Strategi diversifikasi konsentrik para pelaku usaha harus memenuhi
VIII : Strategi diversifikasi konglomerat kebutuhan bahan baku untuk produksi
IX : Strategi likuiditas atau memasarkan produk krecek singkong
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

yang lebih banyak sehingga bisa kosumen dan pengembangan kerja sama
memperoleh profit lebih baik . antar industri antar sesama industri
Peningkatan promosi dan daya tarik pengolahan.
produk sehingga membuat minat dari 4) Analisis Matriks SWOT

Tabel 31. Analisis Matriks SWOT


IFAS Strenghts Weakneses
1. Modal awal pendirian 1. Adanya pesaing
usaha mudah dari luar desa
2. Ketersediaan bahan 2. Muncul banyaknya
baku relatif mudah di keripik dengan
dapat inovasi yang lain
3. Peralatan produksi dan baru
bisa menggunakan alat
yang sederhana
4. Banyak unit produk
yang terjual sama
dengan jumlah produk
yang diproduksi
EFAS
Oppportunities Strategi S-O Strategi W-O
1. Tingkat 1. Pemanfaatan tenaga kerja dari 1. Pelatihan manajemen
ketersediaan wilayah sekitar untuk kepada
tenaga kerja meningkatkan produksi pemilik usaha yang
di wilayah 2. Pengoptimalan pengelolaan dilakukan
sekitar usaha secara berkelanjutan
banyak dengan menambah modal agar usaha
2. Produk sehingga berkembang.
merupakan salah barang yang dihasilkan lebih 2. Perhatian pemerintah
satu makanan maksimal. maupun
ciri khas daerah 3. Lebih memperkenalkan lagi lembaga lain dalam hal
bahwa pemberian bantuan alat
desa Bedoyo sebagai sentra produksi (teknologi
makanan tepat guna)
kecil khususnya krecek agar produktivitas
singkong. meningkat.
3. Mengembangkan
wadah kerja
sama antar pengusaha
yang
sudah ada agar bisa
memenuhi
pesanan pasar dan
mengetahui
informasi pasar.
4. Bantuan dalam
bentuk
perkuatan modal untuk
meningkatkan hasil
produksi.
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Threats Strategi S-T Strategi W-T


1. Adanya 1. Meningkatkan kegiatan 1.Menciptakan inovasi
pesaing dari promosi dalam
luar desa produk agar industri keripik pengemasan produk,
2. Muncul dikenal masyarkat secara umum penambahan jenis
banyaknya dan menjangkau pasar yang lebih produk agar
keripik dengan luas. memiliki daya tarik
inovasi yang 2. Mempertahankan ciri khas cita yang tinggi.
lain dan baru rasa produk dan meningkatkan 2. Mengadakan kerja
kualitas produk agar tetap sama dengan
mampu pedagang lain di luar
bersaing dengan produk lain. wilayah
agar proses
pendistribusian
lebih luas.

Pembahasan Gunungkidul mulai dari lokal kabupaten


1. Profil Industri Kecil Krecek Singkong Gunungkidul dan luar kabupaten
di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong Gunungkidul seperti Sleman, Yogyakarta,
Kabupaten Gunungkidul Bantul dan Kulonprogo.
Industri kecil krecek singkong di 2. Kondisi SDM, Teknologi, Permodalan,
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong Pada Industri Kecil Krecek Singkong
Kabupaten Gunungkidul mempunyai 13 di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong
unit usaha dan mulai meningkat sampai Kabupaten Gunungkidul
tahun 2006. Modal awal mendirikan SDM merupakan faktor
usaha kecil krecek singkong sangat terpenting dalam suatu keberlangsungan
beragam mulai antara Rp 1.000.000 – Rp usaha, Karena dengan SDM yang baik
4.000.000. Tetapi rata-rata para akan bisa mengatur serta mengendalikan
pengusaha mengawali usahanya dengan sumber-sumber daya lain yang ada
modal Rp 1.000.000 yaitu sebanyak 10 dengan baik pula. Berdasarkan tabel 12
unit. Sebagian pengusaha adalah sebanyak 84,66% responden menyatakan
perempuan yaitu sebanyak 10 orang. Hal bahwa kondisi SDM industri kecil krecek
ini dapat di maklumi karena usaha krecek singkong dalam kategori rendah. Hal ini
singkong ini indetik dengan perempuan menunjukkan bahwa masalah SDM pada
dalam proses produksinya yaitu memasak industri kecil krecek singkong di Desa
dan sebagian pengusaha menjadikan Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten
usahanya sebagai penambah keuangan Gunungkidul membutuhkan perhatian
keluarga.Umur pengusaha antara 40 yang khusus dan serius dari pemilik
tahun sampai 63 tahun dengan rata-rata usaha dan pemerintah.
pendidikan adalah lulusan SLTP. Kondisi yang menggambarakan
Status usaha kecil krecek singkong bahwa keadaan SDM pada industri kecil
di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong krecek singkong di Desa Bedoyo
Kabupaten Gunungkidul adalah milik Kecamatan Ponjong Kabupaten
pribadi. Daerah pemasaran industri kecil Gunungkidul tidak baik yaitu
krecek singkong di Desa Bedoyo keterbatasan tenaga terampil pada
Kecamatan Ponjong Kabupaten industri ini, hal ini bisa disebabkan oleh
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

pendidikan para tenaga kerja. Pendidikan yang masih digunakan pada saat proses
tenaga kerja industri kecil krecek yaitu pembungkusan. Penggunaan alat
SMP sebanyak 53,48%. Dimana tradisional seperti penggunaan tungku
pendidikan dapat meningkatkan mutu kompor juga memiliki kegunaan yaitu
suatu tenaga kerja yang akan berakibat hasil krecek menjadi lebih renyah dan
pada keberlangsungan usaha, karena penggunaan bahan bakar seperti kayu
sebesar apapun permintaan produk bila lebih murah dibanding dengan
tidak ada tenaga kerja yang bisa menggunakan gas yang tentu saja dapat
membuat produk yang diminta tersebut mengurangi ongkos produksi. Ada juga
maka tidak mungkin permintaan tersebut yang sudah menggunkaan alat tepat guna
terpenuhi. Hal ini menjadi sebab bahwa seperti alat press dan alat spiner.
pengusaha sering tidak bisa memenuhi Selain SDM dan teknologi, modal
pesanan pembelian dalam jumah banyak juga merupakan faktor penting dalam
sehingga kepercayaan serta kepuasan suatu usaha, berdasarkan hasil penelitian
pembeli. dan analisis data dapat diketahui bahwa
Penggunaan tenaga kerja pada kondisi permodalan pada industri kecil
industri kecil krecek singkong di Desa krecek singkong di Desa Bedoyo
Bedoyo Kecamatan Ponjong Kabupaten Kecamatan Ponjong Kabupaten
Gunungkidul mayoritas berjumlah 3 - 4 Gunungkidul sebagian besar dalam
orang. Adapula yang menggunkan tenaga keadaan kurang sedang atau rendah
kerja 5 orang. Hal ini sesuai dengan sebesar 46,15% (tabel 21). Hal ini
penggolongan industri menurut menunjukkan bahwa kondisi permodalan
penggunaan jumlah tenaga kerja pada dalam industri kecil krecek singkong di
industri kecil antara 5 – 19 orang. Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong
Adapun dalam industri kecil krecek Kabupaten Gunungkidul masih rendah.
singkong di Desa Bedoyo Kecamtan Walaupun modal bukan faktor satu-
Ponjong Kabupaten Gunungkidul , dalam satunya dalam menunjang perkembangan
seminggu bekerja selama 6 hari dan tidak usaha tetapi dengan adanyan modal yang
menentu . Ketidaktentuan ini karena memadai akan lebih memperlancar dalam
banyak tenaga kerja yang berangkat proses produksi dan keberlangsungan
sesuai banyak sedikitnya pesanan yang usaha sehingga akan berjalan lancar.
ada. Sedangkan lamanya kerja dalam 1 Modal yang diperoleh pengusaha
hari tidak terikat jam kerja. industri kecil pada industri kecil krecek
Kondisi teknologi pada industri singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
kecil krecek singkong di Desa Bedoyo Ponjong Kabupaten Gunungkidul dari
Kecamatan Ponjong Kabupaten modal sendiri . Keputusan pengusaha
Gunungkidul dapat diketahui bahwa untuk menggunakan modal pribadi di
sebagian besar kondisi teknologi yang karenakan pengusaha kecil pada industri
ada sudah memadai atau sedang dengan kecil krecek singkong memang
persentase 76,92% (tabel 17). Hal ini mengalami kesulitan dalam memperoleh
disebabkan alat yang digunakan sudah pinjaman modal dari luar selain itu modal
sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan yang dipinjamkan jumlahnya sedikit.
saat memproduksi krecek singkong Dari hasil penelitian diketahui bahwa
walaupun masih ada alat-alat tradisional bantuan modal yang diberikan pada
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

industri kecil keripik dibedakan menjadi maka mustahil usaha akan mengalami
3 macam, yaitu bantuan modal dengan perkembangan yang baik.
cuma-cuma, bantuan modal dengan Daerah pemasaran industri kecil
bunga yang sangat rendah, dan bantuan krecek singkong di Desa Bedoyo
modal dengan jangka pengembalian yang Kecamatan Ponjong Kabupaten
lama. Biasanya pengusaha yang Gunungkidul mulai dari Kabupaten
mendapatkan bantuan ialah pengusaha Gunungkidul sendiri seperti Wonosari,
yang masih baru membuka usahanya dan Rongkop, Playen, Karangmojo dan
aktif berhubungan dengan dinas terkait. Patuk. Luar Kabupaten Gunungkidul
Bentuk bantuan modal antara lain seperti Kabuapten Bantul, Sleman,
pemberian hibah uang, pinjaman uang Yogyakarta dan Kulon Progo. Bahkan
dengan bunga yang rendah dan jangka sampai luar provinsi seperti Jawa
waktu pengembalian lama,peralatan Tengah.
proses produksi seperti press, spiner dan Kendala dalam pemasaran yang
lain- lain. dihadapi oleh para pengusaha yaitu
Dari hasil penelitian diketahui belum memiliki kios/tempat yang tetap
bahwa nilai investasi pada industri kecil dalam menjual produknya sehingga
krecek singkong di Desa Bedoyo penjualan belum maksimal serta
Kecamatan Ponjong Kabupaten keterbatasan dalam pengantaran
Gunungkidul antara Rp 5.000.000 sampai ditambah barang mudah rusak dan juga
dengan Rp 15.000.000. Sebagian besar belum memiliki brand yang kuat.
memiliki investasi Rp 5.000.000 – Rp Metode yang diterapkan dalam
10.000.000 . Hal ini disebabkan pemilik pemasaran pada industri kecil krecek
industri bermacam-macam keadaan, singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
dalam arti masih ada yang baru merintis Panjang Kabupaten Gunungkidul masih
dana ada pula yang sudah lama. Sesuai bersifat sederhana yaitu dengan cara
dengan kriteria yang digunakan oleh menunggu calon pembeli datang ke
Departemen Perdagangan dan lokasi usaha. Oleh sebab itu proses
Perindustrian berdasarkan tingkat produksi menunggu adanya pesanan.
investasi yang dimiliki oleh industri kecil Sebagian besar yang membeli adalah
yaitu sebesar Rp 5.000.000 sampai pedagang kecil yang akan menjual
dengan Rp 200.000.000. barang tersebut dengan harga yang lebih
Kondisi lain yang dapat dilihat mahal dan menggunakan merk/brand
berdasarkan hasil penelitian dan analisis mereka sendiri.
data yaitu bahwa pemasaran yang ada 3. Strategi Pengembangan Industri
pada industri kecil krecek singkong di Kecil Krecek Singkong di Desa
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong Bedoyo Kecamatan Ponjong
Kabupaten Gunungkidul sebagian besar Kabupaten Gunungkidul
dalam kategori sedang sebesar 61,54% Dalam sebuah penyusunan
(tabel 27). Pemasaran merupakan faktor perencanaan harus dilakukan suatu
penting dalam perkembangan usaha, analisis, dalam hal ini analisis yang
karena sebaik apapun SDM, SDA dan dilakukan berupa analisis SWOT.
teknologi yang ada, dan sebesar apapun Analisis yang dilihat dari Strength
modal apabila pemasaran tidak berjalan, (kekuatan), Weakness (kelemahan),
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Opportunity (peluang), dan Threat Kecamatan Ponjong Kabupaten


(ancaman). Kekuatan dalam hal ini Gunungkidul yaitu :
adalah kekuatan yang dimiliki oleh 1. Strategi SO
pengusaha pada industri kecil krecek a) Pemanfaatan tenaga kerja dari
singkong di Desa Bedoyo Kecamatan wilayah sekitar untuk
Ponjong Kabuaten Gunungkidul meningkatkan produksi
sehingga bisa dimanfaatkan oleh b) Pengoptimalan pengelolaan
pengusaha tersebut, kelemahan dalam usaha dengan menambah modal
hal ini adalah kelemahan pengusaha sehingga barang yang
sehingga harus diminimalisir dan dihasilkan lebih maksimal
dihindari oleh pengusaha krecek c) Lebih memperkenalkan lagi
singkong, peluang dalam hal ini adalah bahwa Desa Bedoyo sebagai
peluang yang berasal dari faktor sentra industri produk krecek
eksternal atau dari luar perusahaan singkong.
sehingga bisa dimaksimalkan oleh 2. Strategi WO
pengusaha, sedangkan ancaman dalam a) Pelatihan manajemen kepada
hal ini yaitu ancaman yang berasal dari pemilik usaha yang dilakukan
luar sehingga bisa diantisipasi oleh oleh pemerintah daerah secara
pengusaha. berkelanjutan agar usaha
Berdasarkan analisis matrik berkembang
eksternal internal, strategi yang dapat b) Perhatian pemerintah maupun
dilakukan untuk memberdayakan lembaga lain dalam hal
industri kecil krecek singkong di Desa pemberian bantuan alat
Bedoyo Kecamatan Ponjong produksi (teknologi tepat guna)
Kabuapten Gunungkidul adalah agar produktivitas meningkat
dengan strategi konsentrasi melalui c) Mengembangkan wadah kerja
strategi diversifikasi konglomerat. sama antar pengushaa yang
Artinya strategi yang diterapkan sudah ada agar bisa memenuhi
strategi diversifikasi konglomerat, pesanan pasar dan mengetahui
pelaku usaha harus memenuhi informasi pasar
kebutuhan bahan baku untuk produksi d) Bantuan pemerintah dalam
atau memasarkan produk krecek bentuk perkuatan modal untuk
singkong yang lebih banyak sehingga meningkatkan hasil produksi
bisa memperoleh profit lebih baik . 3. Strategi ST
Peningkatan promosi dan daya tarik a) Meningkatkan kegiatan promosi
produk sehingga membuat minat dari produk agar industri krecek
kosumen dan pengembangan kerja singkong dikenal masyarakat
sama antar industri antar sesama secara umum dan menjangkau
industri pengolahan. pasar yang lebih luas
Berdasarkan analisis matrik b) Memperhatikan ciri khas cita
SWOT, maka dapat diajukan beberapa rasa produk dan meningkatkan
strategi pemberdayaan pada industri kualitas produk agar tetap
kecil krecek singkong di Desa Bedoyo mampu bersaing dengan produk
lain
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

4. Startegi WT 2. Secara keseluruhan berdasarkan hasil


a) Menciptakan inovasi dalam penelitian dan analisis data deskriptif
pengemasan produk, penambahan persentase, dapat diterangkan bahwa
jenis produk agar memiliki daya kondisi SDM pada industri kecil krecek
tarik yang tinggi singkong dalam kondisi rendah. Kondisi
b) Mengadakan kerja sama dengan teknologi dalam kondisi yang sedang.
pedagang lain di luar wilayah agar Kondisi permodalan dalam kondisi
proses pendistribusian lebih luas sedang. Kondisi pemasaran dalam
KESIMPULAN kondisi sedang.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan 3. Berdasarakan analisis SWOT, strategi
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : yang dapat dilakukan untuk
1. Profil industri kecil krecek singkong di memberdayakan industri kecil krecek
Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong singkong di Desa Bedoyo Kecamatan
Kabupaten Gunungkidul memiliki Ponjong Kabupaten Gunungkidul adalah
sebagian besar karyawan lulusan SMP. harus memenuhi kebutuhan bahan baku
Usaha tersebut memiliki modal terbatas untuk produksi atau memasarkan produk
dan penggunaan tekonologi masih krecek singkong yang lebih banyak
menggunakan alat tradisional. Daerah sehingga bisa memperoleh profit lebih
pemasaran industri kecil krecek singkong baik . Peningkatan promosi dan daya
di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong tarik produk sehingga membuat minat
Kabupaten Gunungkidul ini mulai dari dari kosumen dan pengembangan kerja
lokal kabupaten Gunungkidul dan luar sama antar industri antar sesama industri
Kabupaten Gunungkidul. pengolahan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009 . Singkong. Semarang. SKRIPSI UNES.
http://id.wikipedia.org. Diakses 7 Mei Semarang.
2015
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
_______. 2009 b. Prospek dan Arah Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Pengembangan Agribisnis. PT Rineka Cipta.Jakarta
http://sosek.com.Diakses tanggal 7
Mei 2015 Badan Pusat Statistik 2013. Daerah Istimewa
Yogyakarta Dalam Angka. BPS.
_______. 2012. Krecek Singkong. Diakses 12 Daerah Istimewa Yogyakarta
Mei 2015
Brooks, Ferno. 1992. Strategi BisnisDahara
Ali, Muhammad. 1998. Strategi Penelitian Prize. Semarang
Pendidikan. Jakarta: Angkasa
Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM.
Anoraga, Pandji dan Djoko Sudantoko,. 2002. 2012. Kelompok Industri Kecil,
Koperasi, Kewirausahaan, dan Jumlah Unit Usaha dan Jumlah
Usaha Kecil.PT Rineka Cipta. Jakarta Tenaga Kerja di Kabupaten
Gunungkidul. Disperinkopdan UKM.
Arifah, T. 2011. Strategi Pengembangan Gunungkidul
Industri Kecil Jamur Tiram di
Kecamatan Jambu Kabupaten
JURNAL MASEPI, VOL.1, NO.2, OKTOBER 2016

Fatmawati, L. N. 2009. Strategi Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.


Pengembangan Industri Kecil Tempe Bogor
di Kecamatan Pedan Kabupaten
Klaten.SKRIPSI FP UNS. Surakarta. Siagian, P. Sondang. 2005. Fungsi-Fungsi
Manajemen. Bumi Aksara. Jakarta
Hasan Alwi. 2005. Kamus Besar Bahasa
Indonesiai. Balai Pustaka. Jakarta Soekartawi. 1993. Analisis Usahatani. UI-
Press. Jakarta
Hetzel, S. and Tony, S. 2007. Melonjak dari
SWOT: Empat Pelajaran Setiap Soekarwati 2001. Agribisnis : Teori dan
Rencana Strategis Harus Tahu. AI Aplikasinya. PT. Raja Grafindo
Practitioner: International Journal of Persada. Jakarta
AI Praktek Is The
Best.www.innovationpartners.com Soleh, M. 2003. Perbaikan Mutu dan
Keamanan Pangan Produk Olahan Hasil
Irawan dan Suparmoko. M. 2002. Ekonomi Industri Kecil Melalui Analisa Bahaya
Pembangunan.BPFEYogyakarta. dan Penentuan Titik Kendali
Yogyakarta Dalam Buletin Teknologi dan
Informasi Pertanian Vol 6 Januari
Joharja, W. 2005. Analisis Kebijakan Industri 2003.
Kecil (IK) Tahu dan Tempe di Departemen Pertanian Badan
Propinsi DKI Jakarta. Tesis Magister Penelitian dan Pengembangan
Teknik dan Manajemen IndustriITB. Pertanian
Bandung (BPTP). Jawa Timur

Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Sriyadi. 1991. Bisnis Pengantar Ilmu
PT Prenhallindo. Jakarta. Ekonomi Perusahaan Modern.IKIP
PRESS. Semarang
Rangkuti, F 2002. Analisis Swot Teknik
Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Sri Mulyani. 1983. Psikologi Pendidikan.
Pustaka Utama. Jakarta IKIP Jakarta PRESS. Jakarta

Rangkuti, F. 2001. Analisis SWOT Teknik Sukirno, S 2002. Pengantar Ekonomi Mikro.
Membedah Kasus Bisnis. PT. Edisi 3 Cetakan 17. Raja Grafindo
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Persada. Jakarta

_________. 2006. Analisis SWOT Teknik Sugiyono.2005.Statistika Untuk Penelitian.


Membedah Kasus Bisnis. PT. CV Alfabeta. Bandung
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Surakhmad, W. 1994. Pengantar Penelitian
Riyanto, Bambang. 1999. Dasar - dasar Ilmiah Dasar, Metode dan Teknik. CV
Pembelanjaan Perusahaan. BPFE. Tarsito. Bandung
Yogyakarta
Suryono. 2000. Ekonomi Pembangunan
Seto, S. 2001. Pangan dan Gizi : Ilmu (Problematika dan Pendekatan).
Teknologi, Industri dan Perdagangan. Salemba Empat. Jakarta
Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi.